Anda di halaman 1dari 13

dr.

Mekko Pebin
20170309045

Soal Pertanyaan Essay:

1. Tolong disebutkan dan dijelaskan tentang konsep utama Patient Centered


Care
2. Sebutkan dan jelaskan elemen-elemen asuhan pasien terintegrasi
3. Jelaskan tentang core concept dari patient centered care baik dari perspektif
PPA maupun perspektif pasien
4. Jelaskan tentang konsep DPJP dan Case Manager dalam asuhan pasien
5. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang Clinical Leadership

Jawaban Essay:

1. Konsep Utama Patient Centered Care


Menurut Institute of Medicine Patient centered Care adalah asuhan yang
menghormati dan responsive terhadap pilihan, kebutuhan dan nilai-nilai pribadi
pasien, serta memastikan bahwa nilai-nilai pasien menjadi panduan bagi semua
keputusan klinis.
Menurut Australian Commision on Safety and Quality in Health care
(ACSQHC) patient centered care adalah suatu pendekatan inovatif terhadap
perencanaan, pemberian, dan evaluasi atas pelayanan kesehatan yang didasarkan pada
kemitraan yang saling menguntungkan antara pemberi layanan kesehatan, pasien dan
keluarga. Patient centered care diterapkan kepada pasien dari segala kelompok usia,
dan bisa dipraktekkan dalam setiap bentuk pelayanan kesehatan.
Ada empat Konsep inti yang ada dalam konsep PCC ( patient centered
care) yaitu : martabat dan respek, berbagi informasi, partisispasi, dan kolaborasi.
a. Martabat dan Respek Dalam aspek ini, sikap seorang tenaga kesehatan
mendengarkan, peduli dan menghormati pilihan pasien. Pengetahuan, nilai-
nilai yang dianut, dan background Pasien Perawat Fisioterapi Analis Dokter
apoteker Lainnya Ahli Gizi budaya pasien ikut berperan penting selama
perawatan pasien dan menentukan outcome pelayanan kesehatan kepada

1
dr. Mekko Pebin
20170309045

pasien. Kultur (kebudayaan) adalah determinan paling fundamental dari


keinginan dan perilaku seseorang. Seorang anak memeperoleh serangkaian
nilai, persepsi, preferensi dan perilaku melalui keluarganya. Aspek
nmartabat dan respek dalam konsep patient centered care adalah perilaku
seorang perawat yang mencerminkan sikap caring saat melaksanakan
pelayanan kesehatan. Perilaku caring mengandung 3 hal yang tidak dapat
dipisahkan yaitu perhatian, tanggung jawab, dan dilakukan dengan ikhlas.
Perilaku caring memiliki inti yang sama yaitu sikap peduli, menghargai dan
menghormati orang lain,member perhatian, dan mempelajari kesukaan
seseorang serta cara berpikir dan bertindak
b. Berbagi Informasi Komunikasi dalam menginformasikan sesuatu kepada
konsumen layaknya dilakukan dengan efektif. Tanpa komunikasi yang
efektif di berbagai pihak, pola hubungan yang kita sebut organisasi tidak
akan melayani kebutuhan seorang konsumen dengan baik. Dalam hal ini,
mengkomunikasikan dan menginformasikan secara lengkap mengenai
kondisi pasien dan hal- hal yang berkaitan dengan pasien, maupun program
perawatan dan intervensi yang akan diberikan kepada pasien. Memberikan
Informasi secara lengkap dapat membantu dalam perawatan pasien,
meningkatkan pengetahuan pasien dan pembuatan keputusan.
c. Partisipasi Pasien dan keluarga dilibatkan dan di-support untuk ikut serta
dalam perawatan dan pembuatan keputusan. Partsipasi adalah hal yang dapat
mendorong peran serta pasien dalam penyelenggaraan pelayanan
keperawatan dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan, dan harapan
pasien. Keterlibatan atau partisipasi adalah status motivasi yang
menggerakkan serta mengarahkan proses kognitif dan perilaku konsumen
pada saatn mereka mengambil keputusan.
d. Kolaborasi Tenaga kesehatan mengajak pasien dan keluarga pasien dalam
membuat kebijaksanaan, perencanaan dan pengembangan program,
implementasi dan evaluasi program yang akan didapatkan oleh pasien.
Planetree, pemimpin patient centered care yang diakui secara internasional

2
dr. Mekko Pebin
20170309045

telah menunjukkan langkah besar dalam memajukan konsepnya. Model


perawatan planetree adalah pendekata holistic berpusat pada pasien yang
mempromosikan penyembuhan mental, emosional, spiritual, social, dan
fisik, sebagian dengan memberdayakan pasien dan keluarga melalui
pertukaran informasi.
Salah satu model desain dari patient centered care adalah Planetree model
yang mempunyai konsep :
1. Pasien memiliki hak untuk membuka dan komunikasi yang jujur dalam
kepedulian dan kehangatan lingkungannya.
2. Para pasien,keluarga dan staf professional mempunyai peran yng vital
dalam tim.
3. Pasien bukan unit yang diisolasikan namun anggota dari
keluarga,komunitas dan sebuah budaya.
4. Pasien adalah seorang individu dengan hak, tanggungjawab, dan pilihan
tentang gaya hidup.
5. Sebuah lingkungan yang mendukung, ramah dan peduli adalah komponen
penting yang memberikan kesehtan berkualitas tinggi.
6. Lingkungan fisik sangat penting untuk proses penyembuhan dan harus
dirancang untuk mempromosikan penyembuhan dan pembelajaran, serta
pasien dan keluarga berpartisipasi dalam perawatan.

2. Penjelasan elemen-elemen Asuhan Pasien Terintegrasi

Elemen dalam asuhan pasien terintegrasi, meliputi:


1. DJPJ (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan)
DPJP adalah ketua TIM PPA (Clinical Leader) berperan sebagai “motor”
integrasi asuhan. DPJP berfungsi dalam:
 Merencanakan dan mengarahkan kerangka pokok asuhan
 Koordinasi asuhan pasien dengan seluruh PPA
 Kolaborasi semua PPA terkait

3
dr. Mekko Pebin
20170309045

 Sintesis semua SOAP terkait


 Interpretasi asesmen
 Review rencana semua PPA lainnya, buat catatan/notasi di CPPT,
sehingga terlaksana asuhan pasien terintegrasi serta kontinuitas
asuhannya memenuhi kebutuhan pasiennya.
 Verifikasi (telah melakukan review) paraf.
 Komunikasi dengan Case Manager agar terjaga kontinuitas pelayanan
pasien memenuhi kebutuhan pasiennya
2. Profesional Pemberi Asuhan (PPA) adalah Tim Interdisiplin
 Pasien dan keluarga didorong dan didukung untuk berpartisipasi dlm
asuhan,pengambilan keputusan dan pilihan mereka
 Profesional Pemberi Asuhan (PPA) mendengarkan, menghormati dan
menghargai pandangan serta pilihan pasien dan keluarga.
 Pengetahuan, nilai-nilai, kepercayaan, latar belakang kultural pasien
dan keluarga dimasukkan dalam perencanaan pelayanan dan
pemberian pelayanan kesehatan
 Profesional Pemberi Asuhan (PPA) mengkomunikasikan dan berbagi
informasi secara lengkap pasien dan keluarga.
 Pasien dan keluarga menerima informasi tepat waktu, lengkap, dan
akurat
 Informasi dan edukasi diberikan berdasarkan kebutuhan pasien dan
dilakukan konfirmasi apakah pasien dan keluarga sudah mengerti
 Pasien dan keluarga didorong dan didukung untuk berpartisipasi
dalam asuhan, pengambilan keputusan dan pilihan

3. Manajer Pelayanan Pasien (MPP) / case manager


 Menjaga kontinuitas pelayanan selama pasien tinggal di rumah sakit

4
dr. Mekko Pebin
20170309045

 Skrining Pasien yg butuh manajemen pelayanan : resiko tinggi , biaya


tinggi , Potensi komplein tinggi, Penyakit kronis , pembiayaan yg
komplek , Kasus komplek/rumit dll.
 Melakukan asesmen utilitas, mengumpulkan informasi dan data klinis,
psiko sosial,sosio ekonomi dll.
 Membuat rencana pelayanan yaitu berkolaborasi dengan DPJP•, PPA
lain , untuk asuhan selanjutnya .
 Fasilitasi untuk inter aksi dengan DPJP, PPA, bag Administrasi,
perwakilan Pembayar ,unit kerja lain .dll.
 Advokasi termasuk proses pemulangan yg aman , dan ke pemangku
jabatan lain dll.
 Dokumentasi dalam format pemberian edukasi dan informasi

4. Clinical Pathway terintegrasi


Clinical pathway digunakan sebagai pedoman dalam memberikan asuhan
klinis dan bermanfaat dalam upaya untuk memastikan adanya integrasi dan
koordinasi yang efektif dari pelayanan .
 Pelayanan terpadu/terintegrasi dan berfokus pasien
 Melibatkan semua profesional pemberi asuhan (dokter, perawat, bidan,
farmasis,nutrisionis, fisioterapis, dan sebagainya)
 Mencatat seluruh kegiatan asuhan (rekam medis)
 Penyimpangan kegiatan asuhan dicatat sebagai varians

5. Rencana pulang terintegrasi (integrated discharge planning)


Discharge planning merupakan komponen dari sistem perawatan
berkelanjutan, pengkajian dilakukan terhadap:
 Data pasien
 Ketika melakukan pengkajian kepada pasien, keluarga harus menjadi
bagian dari unit perawatan

5
dr. Mekko Pebin
20170309045

 Keluarga harus dilibatkan agar transisi perawatan dari Rumah Sakit ke


rumah dapat efektif
 Pasien dan keluarga di informasikan jenis obat dan manfaat masing
masing obat, dosis, waktu pemberian serta efek samping yang
mungkin timbul serta upaya penanganannya
 Pasien dan keluarga harus menjaga keteraturan minum obat
 Pasien dan keluarga harus meminum obat sesuai aturan

6. Asuhan gizi terintegrasi


Pasien yang pada asesmen berada pada risiko nutrisi, akan mendapat
terapi gizi. DPJP, beserta para PPA (Perawat, Bidan, Ahli Gizi, dan
sebagainya) bekerjasama dalam merencanakan, memberikan dan memonitor
terapi gizi. Respon pasien terhadap terapi gizi dicatat dalam CPPT dan
didokumenkan dalam rekam medis pasien.

3. Core Concept dari Patient Centered Care baik dari perspektif PPA maupun
perspektif pasien
Patient Centered Care (PCC) pada perspektif pasien adalah pasien sebagai
pusat, Professional Pemberi Asuhan (PPA) diposisikan mengelilingi atau melayani
pasien dan semua Professional Pemberi Asuhan (PPA) tersebut berkolaborasi dalam
fungsi yang setara, sehingga disebut “Interdisciplinary team” (kompetensi
kewenangan yang memadai) dengan kolaborasi interprofesional. Dokter adalah Team
Leader / Coach” pasien memperoleh asuhan yang terbaik dan bermanfaat bagi
pasien.
Sementara pada perspektif Professional Pemberi Asuhan (PPA), meliputi:
1. Interdisciplinary Team, meliputi:
• Profesional Pemberi Asuhan diposisikan mengelilingi pasien
• Kompetensi yang memadai
• Berkontribusi setara dalam fungsi profesinya

6
dr. Mekko Pebin
20170309045

• Tugas mandiri, kolaboratif , delegatif , bekerja sebagai satu kesatuan


memberikan asuhan yang terintegrasi
2. Interprofessionality, meliputi:
• Kolaborasi Interprofesional
• Edukasi Interprofesional
• Kompetensi Praktik Kolaborasi Interprofesional
3. DPJP sebagai Clinical Leader
• DPJP melakukan koordinasi, kolaborasi, sintesis, interpretasi, review dan
• mengintegrasikan asuhan pasien
4. Personalized Care & BPIS (Bila Pasien Itu Saya)
• Keputusan klinis selalu diproses berdasarkan juga nilai-nilai pasien
• Setiap dokter memperlakukan pasiennya sebagaimana dirinya sendiri ingin
diperlakukan

Gambar 1. Model Patient Centered Care (PCC)

4.Penjelasan tentang konsep DPJP dan Case Manager dalam asuhan pasien

a. Konsep DPJP dalam mengimplementasikan asuhan pasien


Asuhan Pasien adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien
oleh praktisi para Professional Pemberi Asuhan (PPA) yang multi profesi: Dokter,
Perawat, AhliGizi, Fisioterapis, Radiografer, Analis Laboratorium, Apoteker/Petugas
Farmasi, Pekerja Sosial, dsb.

7
dr. Mekko Pebin
20170309045

Proses asuhan pasien bersifat dinamis dan melibatkan semua PPA tersebut
diatas, sehingga pengintegrasian dan koordinasi aktivitas asuhan pasien menjadi
tujuan agar menghasilkan proses asuhan yang efisien, penggunaan yang lebih efektif
sumber daya manusia dan sumber daya lain, dengan kemungkinan hasil asuhan
pasien yang lebih baik, dimana Dokter (DPJP) bertindak sebagai Team Leader.
Dalam semua fase pelayanan, ada staf yang kompeten sebagai orang yang
bertanggungjawab terhadap pelayanan pasien, dan staf yang kompeten inilah yang
disebut Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP), yang bertanggung
jawab menyiapkan dokumentasi rencana pelayanan pasien. Rencana asuhan untuk
tiap pasien direview dan di verifikasi oleh DPJP dengan mencatat kemajuannya.
DPJP mengatur pelayanan pasien selama seluruh waktu rawat inap, dalam
rangka meningkatkan kontinuitas pelayanan, pengintegrasian asuhan dari para PPA,
serta menjamin kualitas pelayanan dan hasil yang diharapkan. Ada kebijakan rumah
sakit yang mengatur proses transfer tanggung jawab pasien dari satu ke orang lain,
pada masa libur, hari besar dan lain-lain. Dalam kebijakan ditetapkan dokter
konsulen, dokter on call, atau dokter pengganti yang bertanggung jawab.(lihat
Panduan Pelaksanaan DPJP).

b. Konsep Case manajer dalam mengimplementasikan asuhan pasien


Manajer Pelayanan Pasien (case manager) adalah profesional
dalam RS yang bekerja secara kolaboratif dengan PPA, memastikan bahwa pasien
dirawat serta ditransisikan ke tingkat asuhan yang tepat, dalam perencanaan asuhan
yang efektif dan menerima pengobatan yang ditentukan, serta didukung pelayanan
dan perencanaan yang dibutuhkan selama maupun sesudah perawatan RS.
Untuk mempertahankan kontinuitas pelayanan selama pasien tinggal di
rumah sakit, staf yang bertanggungjawab secara umum terhadap koordinasi dan
kesinambungan pelayanan pasien atau pada fase pelayanan
tertentu teridentifikasi dengan jelas.
Staf yang dimaksud adalah Manajer Pelayanan Pasien (case
manager) yang dapat seorang dokter atau tenaga keperawatan yang kompeten. Nama

8
dr. Mekko Pebin
20170309045

staf (manajer pelayanan pasien) ini tercantum didalam rekam medis pasien atau
dengan cara lain dikenalkan kepada semua staf rumah sakit, serta sangat diperlukan
apalagi bagi pasien-pasien tertentu yang kompleks dan pasien lain yang ditentukan
rumah sakit. Manajer Pelayanan Pasien perlu bekerjasama dan berkomunikasi dengan
pemberi pelayanan kesehatan yang lain. Fungsi Manajer Pelayanan Pasien diuraikan
secara rinci dalam Panduan Pelaksanaan Manajer Pelayanan Pasien (MPP).

5. Penjelasan tentang Clinical Leadership (kepemimpinan Klinis)


Menurut Institute of Clinical Leadership menyatakan bahwa ada tujuh
kompetensi dokter dalam kepemimpinan klinis. Ketujuh kompetensi tersebut adalah:
1. Keterlibatan dalam semua sejawat klinis dalam menjaga dan meningkatan
keselamatan.
2. Berkontribusi dalam diskusi dan pengambilan keputusan terkait peningkatan
mutu dan luaran pelayanan.
3. Mengangkat isu dan bertindak nyata dalam kepedulian terhadap keselamatan
pasien.
4. Mendemonstrasikan kerja sama tim dan kepemimpinan yang efektif.
5. Mendukung lingkungan kerja yang bebas dari diskriminasi, perundungan
(bullying), dan pelecehan.
6. Berkontribusi pada pendidikan dokter dan profesi klinis lain termasuk
menjadi teladan (role model) dalam arti positif.
7. Mempergunakan sumber daya untuk kebaikan pasien dan masyarakat.

Untuk meraih ketujuh kompetensi tersebut, dokter dapat belajar dari Clinical
Leadership Competency Framework yang diterbitkan oleh NHS Leadership
Academy. Dalam dokumen tersebut, terdapat lima domain kompetensi, yaitu
menunjukkan kualitas diri, bekerja dengan orang lain, mengelola pelayanan,
meningkatkan mutu pelayanan, dan menentukan tujuan. Masing-masing domain akan
dijelaskan di bawah ini.

9
dr. Mekko Pebin
20170309045

Menunjukkan Kualitas Diri


Hal pertama yang bisa dilakukan dokter dalam kepempimpinan klinis adalah
menunjukkan kualitas diri. Kualitas diri ditunjukkan dengan empat cara, yaitu
menyadari nilai-nilai yang dianut, prinsip dan asumsi, dan dengan kemampuan
belajar dari pengalaman.
Kedua, kualitas diri ditunjukkan dengan pengelolaan diri yang baik bersamaan
dengan pengenalan terhadap kebutuhan dan prioritas orang lain, utamanya pasien.
Ketiga, kualitas diri ditunjukkan dengan pengembangan diri yang
berkelanjutan. Ini dapat ditunjukkan dengan mengikuti program kerja yang diadakan
oleh subkomite dalam komite medis maupun menunjukkan sendiri pengembangan
profesional dalam bentuk yang lain.
Keempat, kualitas diri ditunjukkan dengan integritas yang secara umum
berarti terbuka, jujur, dan etis. Seseorang, termasuk juga dokter, tidak dapat dinilai
lepas dari konteks budaya. Prinsip ini juga berlaku di rumah sakit, terutama nilai-nilai
yang dianut. Rumah sakit satu dengan yang lain dapat mempunyai nilai-nilai yang
berbeda. Rumah sakit daerah di satu tempat dapat mempunyai nilai yang berbeda
dengan tempat lain dalam aspek komunikasi misalnya.

Bekerja dengan Orang Lain


Profil sebagai manajer dalam five-star doctor memungkinkan dokter
berperan sebagai pemain yang baik dalam tim. Semakin kita sadar dalam dunia yang
makin berkembang ini, dokter semakin harus terlibat dalam tim untuk bekerja,
terutama di rumah sakit. Sesuai dengan spesialisasi, terdapat perbedaan banyaknya
orang yang bekerja sama dengan dokter. Seorang dokter jaga IGD akan bekerja sama
dengan perawat, radiografer, petugas pendaftaran rawat inap, pengemudi ambulans,
dan lain-lain. Seorang ahli bedah mungkin tidak akan bekerja sama langsung dengan
pengemudi ambulans, namun interaksinya diperkaya dengan dokter anestesi, perawat
kamar bedah dengan berbagai spesialisasinya, dan tentu perawat pengendali infeksi.
Walau demikian, ada empat elemen kompetensi yang harus dikuasai. Keempat
elemen tersebut adalah mengembangkan jaringan, membangun dan mempertahankan

10
dr. Mekko Pebin
20170309045

hubungan, mendorong kontribusi, dan bekerja dalam tim. Dalam sebuah instalasi
gawat darurat, di mana kerja tim sangat penting, keempat elemen tersebut mutlak
dikuasai oleh dokter yang berkedudukan sebagai kepala instalasi. Dalam waktu yang
sama, dokter tersebut harus dapat bermain sebagai anggota tim namun juga
menunjukkan pengaruh yang cukup untuk mendorong kontribusi masing-masing
anggota tim lain. Mendengarkan sudut pandang profesi klinis lain yang bekerja sama
dengan dokter dapat membuka berbagai peluang.

Mengelola Pelayanan
Pelayanan rumah sakit bukanlah pelayanan yang bersifat statis. Pelayanan
rumah sakit dewasa ini sangat dinamis, cepat berubah, dan konsisten pada perbaikan.
Dokter yang bekerja di rumah sakit adalah bagian tidak terpisahkan dari dinamika
perubahan pelayanan rumah sakit ini. Pengelolaan pelayanan, dengan demikian,
adalah bagian dari urusan dokter juga. Pengelolaan pelayanan yang dimaksud
bukanlah manajemen klinis pada pasien. Pelayanan yang dimaksud adalah produk
rumah sakit yang ditawarkan kepada pelanggan. Pelayanan ini bisa berupa pelayanan
generik rumah sakit seperti misalnya pelayanan instalasi gawat darurat, ataupun
pelayanan khusus yang menjadi unggulan rumah sakit. Sebagian besar dokter purna
waktu dalam ranah klinis di Indonesia selalu memisahkan dengan nyata antara
pekerjaan klinis dan pekerjaan yang disebut pekerjaan “struktural” atau “manajerial”.
Jarang sekali dokter yang ingin disebut “klinisi murni” atau “fungsional murni” ini
menyadari bahwa pengelolaan pasien sehari-hari yang dilakukannya sebenarnya
adalah manajemen juga. Sekali seorang dokter masuk untuk berkarya di sebuah
rumah sakit, saat itu juga manajemen rumah sakit menjadi urusannya juga karena
kelangsungan pengelolaan pasiennya ditentukan oleh kualitas manajemen di dalam
rumah sakit tersebut. Para dokter dapat berkontribusi mengelola pelayanan dengan
cara turut serta dalam perencanaan, pengelolaan sumber daya, pengelolaan staf, dan
pengelolaan kinerja.

11
dr. Mekko Pebin
20170309045

Meningkatkan Mutu Pelayanan


Para dokter dapat meningkatkan mutu pelayanan lewat empat cara, yaitu
memastikan keselamatan pasien, evaluasi secara kritis, mendorong perbaikan dan
inovasi, dan menjadi fasilitator dalam transformasi. Secara ringkas, dalam hal
meningkatkan mutu pelayanan ini seorang dokter perlu memahami terlebih dahulu
mengenai keselamatan pasien dan peningkatan mutu. Isu keselamatan pasien
sebenarnya belum terlalu tua. Telah dikenal luas bahwa gerakan keselamatan pasien
berawal dari laporan Institute of Medicine yang diterbitkan tahun 2000 melalui buku
berjudul “To Err is Human: Building a Safer Health System.” Dalam buku ini
ditegaskan perlunya ada sistem yang dibangun untuk membuat orang sulit berbuat
salah dan mudah untuk melakukan pekerjaan dengan benar. Secara luas, gerakan
keselamatan pasien saat ini disebut sebagai sebuah sistem yang memungkinkan
asuhan pada pasien dilakukan secara aman. Isu-isu yang berkaitan dengan
keselamatan pasien akan dibahas pada tulisan yang lain.

Menentukan Tujuan
Pada bagian akhir domain kompetensi kepemimpinan klinis ini, masih ada
empat hal penting dalam menetapkan tujuan untuk perubahan. Dalam pengambilan
keputusan, dokter harus ikut berperan. Kerap dijumpai keputusan yang diambil
manajer maupun pemimpin di rumah sakit tidak berorientasi pada misi rumah sakit
namun cenderung mengatasi masalah untuk tujuan jangka pendek.
Perlu diingat, misi rumah sakit adalah panduan utama dalam keberpihakan
pengambilan keputusan. Untuk itulah misi rumah sakit penting dipahami oleh dokter
yang berkarya di rumah sakit. Nilai-nilai inti dan prioritas organisasi perlu
dikembangkan dalam diri dokter sehingga pengambilan keputusan benar-benar
berorientasi pada misi rumah sakit. Walaupun tidak ada cara yang seragam dalam
mencapai hal ini, prinsip pengambilan keputusan tersebut harus tetap dijaga.

12
dr. Mekko Pebin
20170309045

Referensi:

1. Materi Persentasi Kuliah dr. Djoni Dharmajaya, SpB, MARS (Konsep dasar
dalam penyusunan CP, Pemahaman Pelayanan fokus pasien, Asuhan Pasien
Terintegrasi, Clinical Governance, standar Pelayanan Kedokteran sebagai
acuan CP, Konsep Case Management)
2. Shaller, D. (2007). Patient-centered care: What does it take?(pp. 1-26). New
York: Commonwealth Fund
3. Zain. 2007. Implementasi Case Management System di Rumah Sakit.
Yogyakarta: UGM
4. Care, P. C. 2010. Patient-Centered Care. Ontario Medical review, 34.
5. Tjandra. 2010. Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Jakarta: UIP
6. Sabarguna. 2011. Buku Pegangan Mahasiswa Manajemen Administrasi Rumah
Sakit. Jakarta: UIP
7. Artikel Dokter dan Kepemimpinan Klinis oleh dr. Robertus Arian
Datusanantyo

13