Anda di halaman 1dari 4

TES KORAN (KRAEPLIN / PAULI)

SEJARAH

Psikiater Emil Kraepelin pada akhir abad 19 menciptakan alat tes Kraepelin yang digunakan sebagai alat
untuk mendiagnosis gangguan otak, yaitu Alzheimer dan demensia. Tes ini sangat sederhana, siapapun
yang bisa menghitung bisa mengikuti tes ini. Tak lama kemudian pada tahun 1938 Prof. Dr Richard Pauli
bersama Dr. Wilhelm Arnold dan Prof. Dr Vanmethod memperbaharui tes Kraeplin sebelumnya sehingga
bisa memperbaiki "metode cek" yang sangat menguntungkan dan dapat dipercaya. Metode ini
ditingkatkan sedemikian rupa oleh Prof. Dr Pauli sehingga memungkinkan untuk mendapatkan data
tentang kepribadian.

CARA MENGERJAKAN

Dalam mengerjakan tes kraepelin anda diminta untuk melakukan hitungan sederhana, yaitu
menjumlahkan deretan angka-angka dalam kurun waktu 60 menit. Jumlah angka yang dihitung sangat
banyak seperti lembaran koran. Untuk mengerjakan tes ini dibutuhkan konsentrasi, ketelitian, stabilitas
emosi dan daya tahan yang prima.

Sebenarnya cara yang digunakan untuk mengerjakan tes kraepelin hampir sama dengan mengerjakan tes
pauli. Jika dalam mengerjakan tes pauli peserta melakukan penjumlahan dari atas kebawah dengan
instruksi “GARIS” yang berarti sebuah garis dimana anda sedang mengerjakan hitungan lalu kembali
berhitung seperti biasa dibawah garis tersebut.Sedangkan Tes Kraepelin peserta melakukan perhitungan
dari bawah ke atas dengan instruksi “PINDAH” yang berarti peserta mengerjakan kembali hitungan
dnegan berpindah ke kolom sebelah dan memulai menghitung dari bawah kembali dan seterusnya.

TUJUAN UTAMA UJI Pauli, Kraepelin

Tes ini bertujuan untuk mengukur karakter seseorang dalam aspek-aspek tertentu, sesuai dengan visi dan
kebutuhan lembaga atau rekrutmen perusahaan sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Aspek yang
dinilai antara lain :
Aspek ketekunan (daya tahan tubuh). Pada saat tes ini akan menguji bagaimana seseorang yang tangguh
menyelesaikan masalah kompleks dan ambigu, dalam waktu yang terbatas, dan bagaimana tingkat
stabilitasnya. (Konsistensi)

Aspek Motivasi. Tes ini akan mengukur kesediaan dan motivasi seseorang saat melakukan hal-hal rumit
yang spesifik untuk tes ini diilustrasikan dalam bentuk angka dan perhitungan jumlah pola, baik operasi
bilangan dasar.

Aspek Emosi. Tes ini mengukur kemampuan seseorang untuk meredam dan mengendalikan diri saat
ditekan untuk bekerja secara bertahap dan rumit. (Stabilitas emosional)

Aspek Penyesuaian. Tes ini dapat digunakan untuk mengukur kecepatan seseorang dalam menyesuaikan
atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang mungkin benar-benar baru. (Adaptasi)

CONTOH PENGERJAAN TES KRAEPLIN


CARA PENILAIAN TES KRAEPLIN

Hasil perhitungan kamu akan dibuat dalam bentuk GRAFIK. Tapi apakah grafik yang naik berarti bagus
atau yang justru yang datar lebih baik ?

KESALAHAN FATAL

banyak peserta tes adalah ketika tahu cara penilaian maka tes ini DIKERJAKAN DENGAN DI SETTING agar
grafik hasil hitungan berakhir rata atau naik. HRD dengan mudah mengetahui hal ini, sehingga saya tidak
menyarankan Anda mengatur sedemikian rupa jumlah hitungan Anda.

LALU BAGAIMANA SEBAIKNYA ?

Ada kriteria penilaian yang terlewat yaitu JUMLAH HITUNGAN & KETEPATAN. Jadi tidak hanya sekedar
grafik yang cenderung rata atau naik saja yang menjadi penilaian, tetapi juga banyaknya jumlah hitungan
kamu dan jumlah hitungan yang benar.
STRATEGI TERBAIK untuk mengerjakan TES KRAEPLIN adalah…

1. Menghitung sebanyak-banyaknya dan tepat sejak awal tes dimulai


2. Konsisten dengan jumlah hitungan tersebut sampai akhir
3. Hindari terganggu oleh keadaan sekitar selama tes berlangsung (contoh: melihat pekerjaan orang
lain, melihat keadaan sekitar saat tes)
4. Hindari terganggu oleh pikiran dan perasaan sendiri (contoh: rasa lelahnya jari menulis, lelahnya
mata, lelahnya leher atau bahkan rasa lapar kamu)
5. FOKUS, FOKUS, FOKUS selama tes berlangsung

“Untuk berhasil dalam tes ini, latihlah dirumah sebanyak mungkin perhitungan-
perhtiungan sederhana”