Anda di halaman 1dari 8

ERA BIOTEKNOLOGI MODEREN DAN PERANANNYA DALAM KEHIDUPAN

Makhluk hidup memiliki tatanan stuktural dan fungsional yang sangat efisien dan
efektif da1am melangsungkan tugas-tugas untuk menunjang dan memapankan preses hidup.
Dalam skala kecil, sel sebagai unit stuktural dan fungsional terkecil kehidupan sudah mampu
memperlihatkan ciri-ciri sebagai makhluk hidup. Dalam skala besar yaitu populasi, komunitas,
dan bosfer. Masing- masing individu makhluk hidup menunjukkan kemampuan mandiri saling
tergantung secara menguntungkan karena adanya perimbangan satu terhadap yang lain
seperti yang telah diatur oleh alam. Dalam hal ini makhluk hidup secara inheren memiliki sifat
-sifat self regulation (mengatur diri sendiri), self perugulation (berkembang biak sendiri), self
contained (memecahkan masalah sendiri ) dalam melangsungkan proses hidup bersama.

Organisme hidup dalam lingkungan yang selalu berubah, mereka mampu


mengimbangi perubahan lingkungan dengan menggunakan strategi variabilitas (keragaman)
genetika. Charles Darwin menterjemahkan proses perimbangan tersebut sebagai perjuangan
untuk hidup dan kelangsungan hidup makhluk yang paling sesuai.
Dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada tiga dasawarsa terakhir, landasan
kemampuan proses dan kelangsungan hidup dipahami melalui pendekatan hirarki Organisasi
Materi, yang menunjukan bahwa pada hirarki paling dasar terdapat lebih banyak kesamaan
antara jenis makhluk hidup dan makin keatas menunjukkan lebih banyak keanekaragaman.
Dengan pemahaman ini didapat peluang besar untuk memanfaatkan kesamaan guna
mengembagkan rekayasa gen melalui teknik rekomendasi DNA. Dengan teknik ini, DNA suatu
makhluk hidup dapat dipindahkan ke makhluk yang lain jenis, bahkan yang sangat jauh
hubungan kekerabatannya.

Makhluk rekombinan kemudian memiliki kemampuan baru dalam meiangsungkan


proses hidup daD bersaing dengan makhluk hidup lain. Teknik rekombinasi DNA merupakan
tulang punggung pengembangan bioteknologi baru. Dengan dernikian bioteknologi adalah
teknologi yang memanfaatkan makhluk hidup (agen hayati) yang telah direkayasa untuk
menghasilkan barang dan jasa memenuhi kesejahteraan manusia. Pengembangan dan
perkembangan bioteknologi telah amat jauh dewasa ini, dan manusia sebagai pelaku
penerapan ilmu seakan akan tidak mempunyai batas dalam memanfaatkan makhluk hidup
untuk memenuhi kebutuhannya.

Penemuan DNA Gen terdapat dalam kromosom sebuah sel, setiap kromosom
mengandung sebuah molekul DNA yang sangat panjang dengan jutaan rantai basa yang
mengkode banyak gen disepanjang rantainya. Struktur kimia DNA seperti sebuah rangkaian
surat-surat yang berisi pesan-pesan genetika. Surat-surat itu hanya memiliki empat huruf
menurut abjad genetik (Adenin/A, Guanin/G, Timin/T, Cytosin/C) yang disebut basa. DNA
mudah diekstrasi dari gel-gel, dan kemajuan biologi molekuler sekarang memudahkan
ilmuwan mengambil gen-gen individu DNA suatu spesies yang menyusun konstruksi
molekuler mereka. DNA tersebut disebut DNA rekombinan yang dapat disimpan dalam
laboratorium. Gen-gen yang diiisolasikan dengan metode demikian disebut gen yangdiklon.
Pada pertengahan tahun 1940-an para peneliti menemukan bahwa gen bekerja mengarahkan
sintesa protein.
Hasil pengarnatan ini menimbulkan pertanyaan filosofis yang menarik : Jika gen
mengarahkan sintesa protein ,bisakah mereka itu adalah protein itu sendiri ? Jadi menjelang
pertengahan tahun 1940-an arab penelitian tentang bahan genetis mulai beralih dari protein
ke DNA. Lalu pada awal tahun 1950-an Erwin Chargaff mencatat adanya beberapa
keteraturan dalam komposisi dasar DNA pada berbagai spesies makhluk. Ini menjadi
pendorong bagi para ilmuwan untuk merasakan betapa pentingnya mengamati stuktur bahan
itu. Terutama terungkap bahwa persentase adenin selalu sama dengan timin, dan persentase
guanin selalu sama dengan cytosin. Meskipun demikian perbandingan persentase guanin
selalu sama dengan cytosin. Meskipun demikian perbandingan pasangan adenin-timin
dengan pasangan guanin-cytosin bervariasi sekali antara berbagai spesies. Pengamatan
belakangan membantah hipotesa bahwa DNA terdiri dari unit berulang empat macam
nukleotida yang monoton. Jika benar demikian lalu keempat basa adenin, Cytosin, guanin dan
timin haruslah hadir dalam jum1ah yang sama. Berarti ini jelas tidak seperti yang ditemukan
oleh Chargaff. Peneliti ini memberi pandangan bahwa struktur DNA memiliki variasi yang
dibutuhkan darinya sebagai simpanan infolmasi genetis.

Pada awal 1950-an juga, James D Watson dan Francis Crick yan bekerjasama pada
Medical Reserch Council’s Laboratory of Molekul Biologi di Cambridge, Inggris, berusaha
untuk memecahkan struktur tiga dimensi molekul DNA dengan metode kristalogi sinar X.
Pada percobaan ini mula-mula mengalami kegagalan untuk menetapkan struktur DNA
sebelum dibantu oleh foto pembiasan sinar X yang dibuat oleh Rosalind Franklin di Maurice
Wilkin’s Laboratory di Combridge. Dengan menggunakan informasi dati foro pembiasan itu
dan juga dari rumus yang ditemukan Chargaff, Watson dan Crick menyimpulkan bahwa
molekul DNA terdiri dari dua untaian nukleotida yang berpilin bersama membentuk ikatan
ranggkap ( double helix) ( Gambar 1 ). Tiap untaian atau mata rantai adalah nukleoda, yang
tulang punggungnya berupa deoksiribosa dan fosfat yang berselang seling. Biasanya menjulur
dari tulang punggung itu.

Tulang punggung dua untaian itu berada disebelah luar double helix yang diteorikan
Watson-Crick, dan bahasanya berada disebelah dalam. Basa satu untaian membentuk ikatan
hidrogen yang lemah dengan basa untaian pasangannya dengan cara yang sangat khusus.
Sesuai dengan rumus Chargaff, adenin selalu berikatan dengan timin (A-T), sedang cytosin
selalu berikatan dengan guanin (C-G). Rancang bangun molekuler DNA yang berpilin rangkap
menjadi tempat untuk memelihara kelangsungan informasi genetis serta mampu
mewariskannya kepada generasi berikutnya. Molekul besar menyimpan banyak infonnasi
dalam urutan nukleotidanya. Selain itu urutan nukleotida dati satu untaian menentukan
urutan nukleotida pasangannya.

Era Bioteknologi

Peranan mikrobiologi akan memberi warna, wawasan dan cakrawala barnubagi kehidupan
bioteknologi modem. Bahan baku biomassa yang ada merupakan “renwable frontier” dapat
diolah oleh bioteknologi tradisional maupun modem sehingga menjadi produk baru yang
sangat berharga. Produk-produk bioteknologi sangat erat dengan perkembangan
bioteknologi pada jamannya. Adapun era biteknologi tersebut adalah :
1. Era Pra Pasteur ( sebelum 1865 )

Perbaikan teknik fermentasi oleh mikroorganisme misalnya minuman beralkohol.

2. Era Pasteur (1865-1940)

Pengembangan industri fermentasi pembuatan etanol, butanol dan asam


organik, perlakuan air buangan

3. Era Antibiotika ( 1940-1960)

Pembuatan penisilin yang mulai digunakan pada saat pendaratan tentara Amerika di
Normandi selama perang dunia II, vaksin virus, teknologi kultur sel hewan.

4. Era Pasca Antibiotika ( 1960-1975 )

Asam -asam amino elusidasi s1ruktur DNA, protein sel tunggal, enzim
untuk deterjen, gasohol, biogas, teknologi rekombinan DNA.

5. Era boiteknologi modem ( 1975- sekarang )

Rekayasa genetika, zat antibodi monokronal, hormon insulin, hormon


pertumbuhan ikan tuna. Dengan munculnya teknologi DNA rekombinan dan teknik-teknik
pembantu seperti penyusunan DNA, maka kita sekarang dapat memeriksa pada tingkatan
molekuler rangkaian-rangkaian genetika yang terlibat dalam pengendalian ekspresi gen. Cara
pendekatan klasik dalam genetika adalah pembuatan mutasi in vivo secara acak pada seluruh
genom, lalu mengisolasikan mereka dengan memperlihatkan fenitif–fenotif khusus.
Kemudian muatan ini dianalisi untuk menentukan gen mana yang telah berubah. Suatu
metode yang hampir terbentuk sesungguhnya adalah “metode genetika berubah”. Suatu
metode yang hampir terbentuk sesunggunya adalah “metode genetika mundur (reverse
genetics)” yaitu untuk membuat mutasimutasi spesifik dalam suatu sigmen DNA in vitro, dan
menganalisa pengaruh dari perubahan-perubahan ini pada organisme in vivo setelah
mengintroduksi kembali gen muatannya.

Berekspresinya dengan gen yang dipindahkan kedalam gel atau jaringan yang sesuai
adalah semacam prasarat untuk berbagai bentuk penerapan teknik DNA rekombinan dalam
bioteknologi. Terutama berlaku sebagai usaha untuk mengobati penyakit genetis manusia
dengan pengobatan gen dan juga untuk usaha yang bertujuan untuk meningkatkan mutu
tanaman panen. Selama 15 tahun belakangan ini para pakar genetika mempelajari bagaimana
mengeluarkan sebuah gen tunggal dari suatu species yang lain. Inilah yang disebut rekayasa
genetika yang merupakan pelaksanaan dari bioteknologi modem.
Organisme –organisme hasil rekayasa genetika yang pertama adalah bakteri bersel kembar
yang telah disisipi gen-gen manusia yang dapat menghasilkan produkproduk benilai. Tumbuh-
tumbuhan dan hewan -hewan hasil rekayasa genetika segera menyusul bakteri tersebut dan
membuka pintu seluruh bidang pertanian lebar-lebar bagi penerapan bioteknologi modem.
Teknik Rekayasa Genetika

Banyak percobaan membuktikan bahwa dengan rekayasa genetika frakmen DNA manapun
dapat disambungkan atau disisipkan ke genom species lain, bahwa species yang jauh
hubungan kekerabatannya. Rakayasa genetika merupakan teknik yang paling mutakhir dalam
bioteknologi. Rekayasa Genetika atau teknik DNA rekombinan dapat didefenisikan sebagai :

”Pembetukan rekombinan baru dari material yang dapat diturunkan dengan cara penyisipan
DNA dari luar kedalam suatu wahana (vektor), sehingga memungkinkan penggabungan dan
kelanjutan berkembang dalam host yang baru.” Proses ini
juga dikenal sebagai ” Gen Kloning “atau klon gen, sebab organisme yang secara genetik
terbentuk adalah identik dan membawa seluruh potongan DNA yang telah disisipkan,
disamping itu memperbanyak molekul yang baru dibentuk. Salah satu contoh rekayasa
genetikayang sudah berhasil adalah penyisipan/pemindahan DNA pembuat insulin pada
manusia kedalarn plasmida bakteri Echerichia coli.

Ada empat prinsip pengkloningan gen yaitu :

1. Penyiapan gen.

Gen bakteri yang dikloning pada umumnya didapat dari penyiapan total DNA kromosom
(kloning “penembakan”) dengan cara membelah DNA dengan endonuklese yang terbatas
sehingga menghasilkan bagian masing- masing 4 kilobase (kb) dengan ujung yang “lengket.”

2. Penyisipan kedalam vektor

Vektor adalah replika yang akan memungkinkan gen untuk ditempatkan disel induk (host cell)
dan melibatkan plasmid pada bakteri induk. Plasmid adalah molekul DNA berbentuk lingkaran
kecil yang terdapat didalam bakteri disamping kromosom utama plasmid mengandung unsur-
unsur genetik yang tidak terikat pada kromosom utarna. Vekto plasmid harus memiliki
tempat untuk endonuklease terbatas biasa dan faktor antibiotik sehingga memungkinkan
untuk memilih perubahan yang diinginkan.

Pemasangan DNA yang akan dikloning kedalam vektor plasmid disebut legasi dan enzim yang
berperan dalam pemasangan ini adalah enzim yang dipakai dimurnikan dari E. Coli yang telah
diinfeksi dengan T4. Didalam sel enzim ini berfungsi dalam perbaikan tiap skontinuitas yang
mungkin timbul pada salah satu untai pada molekul untai ganda. Selain itu, dalam tabung
percobaan, ligase DNA yang dimurnikan juga akan menyambungkan kedua ujung molekul
yang sama.

3. Perubahan sel induk (Host Cell)

Campuran plesmid yang diperkenalkan kepada sel bakteri diperlukan secara khusus sehingga
sel mengambil DNA dalam proses perubahan sel induk. Setelah DNA disisipkan didalam sel
bakteri maka,DNA yang sudah disisipkan tersebut akan dimasukkan lagi kedalam sel hidup
misalnya kedalam sel bakteri kemudian ditumbuhkan kedalam media tertentu. Didalam
media, sel bakteri ini akan tumbuh dan berkembang biak menghasilkan klon dan klon ini akan
menghasilkan insulin.

4. Mendeteksi gen yang sudah klon.

Ada tiga cara mendeteksi gen yang sudah diklon :

a. Pengujian berdasarkan informasi urutan asam amino protein yang di sandi.


b. Pengujian aktifitas biologis produk gen
c. Menggtmakan antibodi khusus terhadap produk gen.

Klon yang tepet dapat dideteksi dengan menggunakan “probe” untuk goo itu sendiri. Probe
terdiri satu segmen pendek DNA yang diberi label radioaktif, dan memiliki urutan basa
nukleotida yang sesuai dengan urutan asam amino yang diketahui dati satu segmen protein.
Cara lain membuat klon ialah jika protein yan disandi gen dihasilkan dalam sel yang diklon, ia
dapat dideteksi dengan menggunakan uji antibodi khusus bagi protein yang disandi atau
dengan cara menguji aktifitas biologi protein dalam sel.

Enzim-enzim yang memanipulasi DNA ada empat yaitu :

1. Enzim Nuklease ( yang memotong asam nukleat )


2. Enzim Ligase ( yang menyambung asam nukleat menjadi satu )
3. Enzim Polimerase ( yang membuat copy dati molekul DNA)
4. Enzim Modifikasi ( yang menghilangkan gugus kimia )

Dengan ringkas rekayasa genetik dapat dibuat sebagai berikut :

1. DNA yang diambil dari sel penkreas, dipotong dengan enzim endonuklease
rastriksi
2. Isolasi DNA plasmid, lalu DNA plasmid dipotong enzim endonuklease
3. Kemudian DNA yang sudah dipotong, disisipkan kedalam DNA plasmid yang juga sudah
dipotong. Penyisipan ini dibantu oleh enzim ligase DNA.
4. Setelah disisipkan maka plasmid dimasukkan kedalam sel bakteri, dan
ditumbuhkan dalam media tertentu, agar dapat tumbuh dan berkembang biak
serta menghasikan klon yang menghasilkan insulin.

Peranan bioteknologi Dalam masyarakat

Menjelang akhir abad ke-20 sebagian besar masyarakat dunia menanti bioteknologi dengan
penuh harapan untuk memecahkan berbagai masalah umat manusia dibumi. Namun
sebagian masyarakat memandang bahwa memasuki era bioteknologi sama saja memasuki
hutan belantara ketidak pastian tentang dampak yang akan terjadi kemudian hari.
Perkembangan bioteknologi sekarang ini akan menimbulkan dampak serius pada demensi
etika dan budaya. Rekayasa genetika menimbulkan masalah- masalah etika serius yang
berhubungan dengan pengubahan, manipulasi, penetapan paten dan pemilikan bentuk-
bentuk kehidupan. Berbagai perkembangan dibidang kesehatan juga akan membawa
implikasi mendalam pada nilai-nilai budaya.
Infrastruktur teknologi dan desakan ekonomi akibat bioteknologi membawa dampak besar
pada struktur sosial ekonomi serta pada nilai-nilai budaya, sementara masyarakat luas tidak
mendapat informasi dan diasingkan dari pengambilan keputusan tentang ara, batas-batas
tujuan dan dampak bioteknologi.

Dalam sistem ekologi Semua organisme yang ada dibumi telah melampaui proses evolusi
selama jutaan tahun akibat keberadaan mereka kini telah mencapai suatu posisi
keseimbangan yang optimal. interaksi antara suatu organisme dengan lingkungannya baik
lingkungan biotik maupun abiotik telah mempunyai bentuk khas masing-masing
keanekaragaman jenis hubungan ini mempengaruhi bentuk ekosistem kita dibumi. Jadi
jelaslah terlihat adanya keterkaitan antara masingmasing organisme musnah, keseimbangan
sistem akan terganggu dampak yang akan ditimbulkan bioteknologi dalam sistem ekologi
antara lain terjadinya pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan
sehingga penambahan atau pengurangan komponen-komponen ekositem bukan merupakan
hal yang dianggap ringan. Contoh dampak pemasukan organisme baru kelingkungan alami
adalah pemanfaatan gen anti beku yang terdapat pada suatu jenis ikan yang dapat ditransfer
keikan yang tidak tahan suhu dingin. Akibatnya yang biasa tidak didapati pada musim dingan
sekarang dapat sangat leluasa berkembang biak dan menempati perairan yang dingin. Jadi
akibat adanya kejadian ini dapat menimbulkan pemusnahan suatu species ikan tertentu,
sehingga keseimbangan ekosistem akan terganggu.

Bioteknologi Aplikasi dalam Farmakologi

Salah satu penggunaan yang terbesar di bioteknologi adalah untuk tujuan pengobatan.
Aplikasi bioteknologi modern terus menemukan menjanjikan penggunaan baru di bidang
obat dan perawatan kesehatan. Beberapa daerah terbesar aplikasi di bidang obat meliputi
pharmacogenomics, produksi obat, pengujian genetik dan terapi genetik. Keempat utama
aplikasi bioteknologi membawa pendekatan baru dan kesempatan untuk perbaikan di dunia
aplikasi obat.

Pharmacogenomics adalah dampak bahwa warisan genetik individu memiliki pada cara tubuh
mereka menanggapi obat-obatan dan obat-obatan. Hal ini pada dasarnya studi tentang
genetika dan obat-obatan. Bioteknologi menawarkan kemungkinan baru dalam desain dan
produksi obat-obatan dan bagaimana mereka dapat disesuaikan untuk setiap individu dan
makeup genetik mereka.

Manfaat aplikasi bioteknologi di pharmacogenomics meliputi: pengembangan obat kustom,


metode yang akurat untuk menentukan dosis yang tepat obat, perbaikan dalam penemuan
obat baru dan mendapatkan obat tersebut disetujui, dan vaksinasi yang lebih baik dan lebih
aman.
Biopharmaceuticals mengacu pada molekul protein yang besar biasanya bersembunyi target
mekanisme penyakit. Bioteknologi modern telah membuat langkah besar dalam mencoba
mencari pengobatan untuk penyakit seperti hepatitis, arthritis kanker, dan penyakit jantung.
Bioteknologi telah meningkatkan cara obat dan obat yang dikembangkan dan digunakan, dan
telah membuka pintu untuk sebuah metode baru seluruh mengembangkan pengobatan
dengan mempelajari sifat genetik.
Pengujian genetika adalah salah satu aplikasi lebih kontroversial bioteknologi dan mencakup
dua tipe utama: satu metode melibatkan penggunaan probe DNA dengan urutan yang sama
dengan urutan bermutasi dan metode lainnya yang melibatkan ilmuwan atau peneliti
melakukan tes genetika dengan membandingkan urutan DNA pasien terhadap urutan DNA
orang sehat. Aplikasi bioteknologi dalam pengujian genetik memungkinkan untuk
menentukan jenis kelamin, skrining pembawa, skrining diagnosis pralahir, skrining baru lahir
dan pengujian bahkan forensik dan identitas.

Bioteknologi digunakan dalam terapi gen untuk mengobati dan mungkin menyembuhkan
penyakit yang diperoleh dan genetik seperti AIDS dan kanker. Ia bekerja dengan
menggunakan gen normal dan melengkapi atau menggantikan gen yang rusak. Ada dua
implementasi dasar dari terapi gen: ex vivo yang dilakukan di luar tubuh, dan in vivo yang
dilakukan dalam tubuh.

Bioteknologi telah datang jauh dengan aplikasi obat di bidang kesehatan dan terus
ditingkatkan sebagai penelitian lebih selesai.

Rekayasa genetika dan kloning mungkin adalah aplikasi bioteknologi yang paling terkenal
untuk masyarakat umum. Namun, bidang bioteknologi mencakup lebih dari manipulasi
genetika, termasuk aplikasi dalam bioremediasi, pertanian, dan rekayasa serta kesehatan dan
obat-obatan.
Kunci belakang bioteknologi adalah kombinasi dari ilmu biologi dan fisik dalam penemuan
informasi baru dan solusi baru terhadap isu-isu biologis dan lingkungan. Dalam kesehatan
manusia dan obat-obatan, dua bidang yang berhubungan dengan pharmacogenomics dan
pengembangan obat dan produksi baik berhutang banyak pada munculnya aplikasi
bioteknologi baru dan teknik.

Pharmacogenomics
Pharmacogenomics (juga pharmacogenetics disebut) adalah bidang yang relatif baru studi
yang berkaitan dengan bagaimana faktor genetik mempengaruhi dan mempengaruhi cara
orang menanggapi obat-obatan. Diharapkan bahwa jenis studi ini akan membantu ilmuwan
banyak jenis mengoptimalkan obat, dan mungkin bahkan satu hari membuat program
pengobatan individual sepenuhnya didasarkan pada genetika individu.
Menggunakan jenis pendekatan berarti para ilmuwan mungkin dapat membuat obat-obatan
tailor-made dengan potensi peningkatan dan efisiensi, dan penurunan toksisitas dan efek
samping. Manfaat lain yang mungkin termasuk peningkatan kemampuan untuk menghitung
dosis obat yang tepat, perbaikan dalam proses penemuan obat dan pengembangan, dan
vaksin lebih aman.

Salah satu daerah yang paling relevan secara klinis sedang dalam penelitian ini adalah
bagaimana narkoba dapat berinteraksi dengan metabolisme manusia yang unik untuk
menghasilkan reaksi yang sangat berbeda. Untuk sebagian besar, terkenal dan baik-ciri kerja
obat dalam cara yang sama dalam mayoritas penduduk.
Dalam persentase kecil orang, namun, beberapa obat dapat dimetabolisme dengan cara yang
sama sekali berbeda, menghasilkan apa yang disebut reaksi obat merugikan. Reaksi tidak
terduga menyebabkan lebih dari 100.000 orang tewas dan lebih dari dua juta masalah serius
di Amerika Serikat saja, setiap tahunnya. Menariknya, penelitian telah menunjukkan bahwa
obat-obatan yang menyebabkan reaksi obat yang merugikan cenderung menjadi orang yang
dimetabolisme dalam tubuh dengan enzim dengan polimorfisme (berarti bahwa versi genetik
berbeda dari enzim yang sama ada).

Pharmacogenomics bisa, karena itu, akan digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang


yang mungkin memiliki reaksi obat yang merugikan, dan juga mungkin untuk mengidentifikasi
mengapa efek samping obat terjadi dan memodifikasi sehingga mereka dimetabolisme
berbeda (sehingga mencegah reaksi negatif).

Pengembangan Obat dan Produksi

Daerah terkait pengembangan obat dan produksi juga aplikasi bioteknologi penting. Obat
Produksi banyak tradisional, mencoba-dan-teruji dan vaksin telah dibuat jauh lebih efisien
dengan penerapan teknik bioteknologi bahwa kedua mempercepat produksi dan mampu
meningkatkan hasil.

Salah satu contoh dari hal ini adalah penggunaan bakteri untuk menghasilkan sejumlah besar
insulin sintetis untuk pengobatan penderita diabetes tipe 1. Sebelumnya, insulin diekstrak
dari pankreas sapi dan babi dibunuh untuk daging. Namun, pengembangan rekayasa genetika
bakteri Escherichia coli-yang bisa menghasilkan insulin manusia dalam jumlah besar sangat
efektif menunjukkan bahwa teknik bioteknologi dapat berhasil meningkatkan hasil obat untuk
penyakit manusia.

Meskipun bakteri dan ragi yang paling sering digunakan untuk menghasilkan jumlah besar
biopharmaceuticals (molekul biologi yang digunakan dalam pengobatan atau pencegahan
penyakit), sebuah aplikasi bioteknologi yang relatif baru adalah penggunaan tanaman untuk
menghasilkan molekul tersebut.

Teknik, yang telah disebut “pharming,” melibatkan penyisipan gen mengkode protein medis
yang berguna menjadi tanaman (atau hewan) yang tidak akan dinyatakan menghasilkan
mereka. Tumbuh dan panen tanaman tanaman kemudian memungkinkan untuk ekstraksi
protein, yang dapat dimurnikan dan digunakan. Teknologi ini juga dikenal sebagai transgenik,
karena melibatkan penyisipan gen dari satu spesies ke dalam genom lain.
Seperti banyak aplikasi bioteknologi genetik, ada beberapa kontroversi seputar
pengembangan tanaman transgenik dan hewan. Penentang ketakutan praktek yang
berbahaya materi genetik transgenik entah bagaimana mungkin menemukan jalan ke
pasokan pangan. Namun, pendukung teknik tersebut mengatakan bahwa mengendalikan
aliran bahan genetik dan mencegah kontaminasi mudah mungkin, dan bahwa permintaan
global untuk biofarmasi bisa dipenuhi dari hanya beberapa hektar spesies tanaman tunggal.