Anda di halaman 1dari 11

Idea Nursing Journal Vol. II No.

1
ISSN : 2087-2879

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI


Nursing Care with Hypertension in The Elderly
Ibrahim
Bagian Keilmuan dan Keperawatan Jiwa dan Komunitas, PSIK-FK Universitas Syiah Kuala
Mental Health and Community Health Nursing Department, School of Nursing, Faculty of Medicine,
Syiah Kuala University
E-mail:Ibrahim.laweung@yahoo.com

ABSTRAK
Hipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskuler yang banyak dijumpai di masyarakat.
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten, di mana tekanan sistoliknya di atas 140
mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik
160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. Saat ini, angka kematian karena hipertensi di Indonesia sangat
tinggi. Angka prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan riskesdas (riset kesehatan dasar) 2007 mencapai
30 persen dari populasi. Hipertensi dibedakan menjadi 2, yaitu hipertensi essensial dan hipertensi sekunder.
Penyebab hipertensi pada lanjut usia dikarenakan terjadinya perubahan-perubahan pada; katup jantung
menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur
20 tahun, sehingga kontraksi dan volumenya pun ikut menurun. manifestasi klinis pasien hipertensi
diantaranya: Mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, kelelahan, gelisah, mual dan muntah, epistaksis,
kesadaran menurun. Pemeriksaan Penunjang pada hipertensi antara lain: pemeriksaan laboratorium, CT Scan,
EKG, IU, dan Photo dada. Tujuan terapi antihipertensi adalah pengurangan morbiditas dan mortalitas
penyakit kardiovaskular dan ginjal. Hal ini dapat dilakukan dengan terapi non-farmakologis dan
farmakologis. Pasien hipertensi biasanya meninggal dunia lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontrol
dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital. Usia, ras, jenis kelamin, kebiasaan
mengkonsumsi alkohol, hiperkolesterole-mia, intoleransi glukosa dan berat badan, semuanya mempengaruhi
prognosis dari penyakit hipertensi esensial pada lansia. Asuhan keperawatan yang dapat dilaksanakan pada
pasien hipertensi mencakup pengkajian pada riwayat atau adanya faktor-faktor resiko, penegakan diagnosa,
perencanaan dan intervensi, serta evaluasi dan dokumentasi yang tepat .

Kata Kunci: Hipertensi, lansia, terapi hipertensi, asuhan keperawatan.

ABSTRACT
Hypertension is a disease of the cardiovascular system is often found in the community. Hypertension is
defined as persistent blood pressure, where the systolic pressure above 140 mmHg and diastolic pressure
above 90 mmHg. In the elderly population, hypertension was defined as systolic pressure of 160 mmHg and a
diastolic pressure of 90 mmHg. Currently, the number of deaths due to hypertension in Indonesia is very
high. The prevalence of hypertension in Indonesia based RISKESDAS (basic medical research) in 2007 up to
30 percent of the population. Hypertension is divided into two, namely essential and secondary hypertension.
The cause of hypertension in the elderly due to the changes in; heart valves thicken and become stiff, the
heart's ability to pump blood decreased 1% per year after age 20, so the contraction and the volume is
decreased. Clinical manifestations of hypertensive patients include: Complaining of headaches, dizziness,
weakness, fatigue, anxiety, nausea and vomiting, epitasis, and decreased consciousness. Diagnostic test in
hypertension includes: laboratory tests, CT-Scan, ECG, IU, and chest x-ray. The goal of antihypertensive
therapy is the reduction of morbidity and mortality of cardiovascular and renal disease. This can be done
with non-pharmacologic therapy and pharmacological. Hypertensive patients usually die faster if the disease
is not controlled, and has caused complications to some vital organs. Age, race, gender, alcohol
consumption habits, hypercholesterolemia, glucose intolerance and weight, all influence the prognosis of
essential hypertension in the elderly. Nursing care can be carried out in hypertensive patients include an
assessment on the history or presence of risk factors, diagnosis enforcement, planning and intervention, and
evaluation and proper documentation.

Keywords: Hypertension, elderly, hypertensive therapy, nursing care

60
Idea Nursing Journal Ibrahim

PENDAHULUAN insiden hipertensi pada orang dewasa adalah


Istilah hipertensi diambil dari bahasa sekitar 29-31%, yang berarti terdapat 58-65
Inggris hypertension yang berasal dari juta penderita hipertensi di Amerika, dan
bahasa Latin “hyper” dan “tension. terjadi peningkatan 15 juta dari data
“Hyper” berarti super atau luar biasa dan NHANES tahun 1988-1991. Hipertensi
“tension” berarti tekanan atau tegangan. esensial mulai terjadi seiring bertambahnya
Hypertension akhirnya menjadi istilah umur. Pada populasi umum, pria lebih
kedokteran yang populer untuk menyebut banyak yang menderita penyakit ini dari
penyakit tekanan darah tinggi. Tekanan pada wanita (39% pria dan 31% wanita).
darah adalah tenaga yang dipakai oleh darah Prevalensi hipertensi primer pada wanita
yang dipompakan dari jantung untuk sebesar 22%-39% yang dimulai dari umur
melawan tahanan pembuluh darah, jika 50 sampai lebih dari 80 tahun, sedangkan
tekanan darah seseorang meningkat dengan pada wanita berumur kurang dari 85 tahun
tajam dan kemudian menetap tinggi, orang prevalensinya sebesar 22% dan meningkat
tersebut dapat dikatakan mempunyai sampai 52% pada wanita berumur lebih dari
tekanan darah tinggi atau hipertensi 85 tahun. Dari 25% pria dan 18% wanita
(Gunawan, 2001). penderita hipertensi, tidak menyadari bahwa
mereka mengidap hipertensi. Bagi mereka
Hipertensi adalah peningkatan
yang menyadari, 82%nya menjalani
abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg
pengobatan terhadap penyakitnya.
atau lebih dan tekanan diatolik 120 mmHg.
Sedangkan dari semua penderita hipertensi,
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai
hanya 46% yang mempunyai hipertensi
tekanan darah persisten, di mana tekanan
terkontrol. Untuk kedua jenis kelamin,
sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik
perbandingan hipertensi terkontrol menurun
di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia,
seiring bertambahnya umur, sedangkan
hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
perbandingan hipertensi yang tidak
sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90
terkontrol yang menjalani pengobatan
mmHg. Menurut WHO 1996, batasan
bertambah seiring bertambahnya umur.
tekanan darah normal orang dewasa adalah
Untuk pria, perbandingan penderita yang
maksimum 140/90 mmHg. Apabila tekanan
sadar menderita hipertensi (diobati atau
darah seseorang di atas angka tersebut pada
tidak diobati) juga menurun seiring
beberapa kali pengukuran di waktu yang
bertambahnya umur.
berbeda, orang tersebut bisa dikatakan
menderita hipertensi. Penderita hipertensi
memiliki resiko lebih besar untuk KLASIFIKASI HIPERTENSI
mendapatkan serangan jantung dan stroke Menurut Darmajo & Hadimartono
(Suwarsa, 2006). (1999), hipertensi pada usia lanjut dibedakan
Selain itu terdapat kondisi yang menjadi; hipertensi di mana tekanan sistolik
dinamakan White Coat Hypertension. sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan
Bentuk hipertensi ini adalah meningkatnya tekanan diastolik sama atau lebih besar dari
tekanan darah yang terjadi selama 90 mmHg, dan hipertensi sistolik terisolasi
kunjungan ke dokter, namun tidak di rumah. di mana tekanan sistolik lebih besar dari 160
Hipertensi ini merupakan faktor pada kira- mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah
kira 20% pasien dengan hipertensi ringan dari 90 mmHg. Sedangkan berdasarkan
(Guibert R & Franco ED, 1999). penyebab hipertensi dapat dibedakan
menjadi dua golongan, yaitu: Hipertensi
EPIDEMIOLOGI essensial (hipertensi primer) dan hipertensi
Berdasarkan data Global Burden of sekunder.
Disease (GBD) 2000, 50% dari penyakit Hipertensi primer atau esensial atau
kardiovaskuler disebabkan oleh hipertensi. pula hipertensi idiopatik adalah hipertensi
Data dari The National Health and Nutrition yang tidak diketahui penyebabnya.
Examination Survey (NHANES) Hipertensi jenis ini merupakan 90% kasus
menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, hipertensi yang banyak terjadi di

61
Idea Nursing Journal Vol. II No. 1

masyarakat. Hipertensi ini merupakan proses seseorang bertambah, tekanan darah pun
kompleks dari beberapa organ utama dan akan meningkat. Anda tidak dapat
sistem, meliputi jantung, pembuluh darah, mengharapkan bahwa tekanan darah anda
saraf, hormon dan ginjal. Hipertensi saat muda akan sama ketika anda
sekunder adalah naiknya tekanan darah yang bertambah tua. Namun anda dapat
diakibatkan oleh suatu sebab. Hipertensi mengendalikan agar jangan melewati batas
jenis ini terjadi pada 5% kasus yang terjadi atas yang normal. Jenis kelamin; laki - laki
di masyarakat. Selain itu ada beberapa jenis lebih mudah terkena hipertensi dari pada
hipertensi dengan ciri khas khusus. Isolated perempuan. Ras; ras kulit hitam lebih
Systolic Hypertension adalah hipertensi yang banyak terkena hipertensi daripada ras kulit
terjadi ketika tekanan sistolik lebih dari 140 putih. 3) Kebiasaan Hidup: Konsumsi garam
mmHg namun tekanan diastolik dalam batas tinggi (lebih dari 30 gram); garam dapat
normal. Keadaan ini berhubungan dengan meningkatkan tekanan darah dengan cepat
arteriosclerosis (pengerasan dinding arteri). pada beberapa orang, khususnya bagi
Pregnancy Induced Hypertension adalah penderita diabetes, penderita hipertensi
kondisi naiknya tekanan darah yang terjadi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka
selama kehamilan, dimana naiknya tekanan yang berkulit hitam. Makan berlebihan
darah sistolik dan diastolik lebih dari 15 (kegemukan); orang yang memiliki berat
mmHg (Guibert R dan Franco ED, 1999). badan di atas 30 persen berat badan
ideal, memiliki kemungkinan lebih besar
ETIOLOGI menderita tekanan darah tinggi.
Penyebab hipertensi pada lanjut usia Kandungan lemak yang berlebih dalam
dikarenakan terjadinya perubahan- darah Anda, dapat menyebabkan timbunan
perubahan pada; elastisitas dinding aorta kolesterol pada dinding pembuluh
menurun, katup jantung menebal dan darah.
menjadi kaku, kemampuan jantung
memompa darah menurun 1% setiap tahun Hal ini dapat membuat pembuluh
sesudah berumur 20 tahun, sehingga darah menyempit dan akibatnya tekanan
kontraksi dan volumenya pun ikut menurun, darah akan meningkat. Stres; stres dan
kehilangan elastisitas pembuluh darah kondisi emosi yang tidak stabil juga
karena kurang efektifitas pembuluh darah dapat memicu tekanan darah tinggi.
perifer untuk oksigen, meningkatnya Merokok; merokok juga dapat
resistensi pembuluh darah perifer (Brunner meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi.
& Suddarth, 2000). Kebiasan merokok dapat meningkatkan
Meskipun hipertensi primer belum risiko diabetes, serangan jantung dan stroke.
diketahui pasti penyebabnya, namun Karena itu, kebiasaan merokok yang terus
beberapa data penelitian telah menemukan dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah
beberapa faktor yang sering menyebabkan tinggi, merupakan kombinasi yang sangat
hipertensi, yaitu: 1) Faktor Keturunan: Jika berbahaya yang akan memicu penyakit-
seseorang memiliki orang-tua atau saudara penyakit yang berkaitan dengan jantung
yang memiliki tekanan darah tinggi, maka dan darah. Alkohol; konsumsi alkohol
kemungkinan ia menderita tekanan darah secara berlebihan juga menyebabkan
tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan tekanan darah tinggi. Minum obat - obatan
bahwa masalah tekanan darah tinggi lebih (aphidrine, prednison, epinefrin).
tinggi pada kembar identik daripada yang Sedangkan penyebab hipertensi sekunder
kembar tidak identik. Sebuah penelitian adalah; lesi pada arteri renalis, displasia
menunjukkan bahwa ada bukti gen yang fibrovaskular, kerusakan ginjal/kelainan
diturunkan untuk masalah tekanan darah ginjal, kelainan endokrin, kerusakan
tinggi. Faktor genetik tampaknya bersifat saraf, sleep-apnea, drug - induced atau
mulifaktorial akibat defek pada beberapa drug-related hypertension, penyakit ginjal
gen yang berperan pada pengaturan tekanan kronik, aldosteronisme primer, penyakit
darah. 2) Ciri Perseorangan: Usia; renovaskular, terapi steroid jangka lama
penelitian menunjukkan bahwa seraya usia dan sindrom Cushing, feokromositoma,

62
Idea Nursing Journal Ibrahim

koarktasio aorta, dan penyakit thyroid atau pembuluh perifer bertanggung jawab
parathyroid (Brunner & Suddarth, 2000). terhadap perubahan tekanan darah usia
lanjut. Perubahan itu antara lain
PATOFISIOLOGI aterosklerosis hilangnya elastisitas jaringan
Dalam Buku Ajar Keperawatan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot
Medikal Bedah Brunner & Suddarth (2000) polos pembuluh darah. Akibatnya akan
menjelaskan patofisiologi hipertensi terdapat mengurangi kemampuan aorta dan arteri
pada, mekanisme yang mengatur atau besar dalam mengakomodasi volume darah
mengontrol kontriksi dan relaksasi yang dipompa oleh jantung (volume
pembuluh darah terletak di pusat vasonator. secukupnya) dan curah jantung pun ikut
Pada medula otak, dari pusat vasomotor menurun, sedangkan tahanan perifer
inilah bermula jaras saraf simpatis, yang meningkat (Darmojo & Hadimartono, 1999).
berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna, medula spinalis ganglia MANIFESTASI KLINIS
simpatis di toraks dan abdomen. Pada hipertensi tanda dan gejala
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dibedakan menjadi: 1) Tidak Bergejala:
dalam bentuk impuls yang bergerak ke maksudnya tidak ada gejala spesifik yang
bawah melalui sistem saraf simpatis ke dapat dihubungkan dengan peningkatan
ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron pre tekanan darah, selain penentuan tekanan
ganglion melepaskan asetilkolin, yang akan arteri oleh dokter yang memeriksa, jika
merangsang serabut saraf pasca ganglion ke kelainan arteri tidak diukur, maka
pembuluh darah. Berbagai faktor seperti hipertensi arterial tidak akan pernah
kecemasan dan ketakutan dapat terdiagnosa. 2) Gejala yang lazim: gejala
mempengaruhi respon pembuluh darah yang lazim menyertai hipertensi adalah nyeri
terhadap rangsangan vasokontriksi. Individu kepala, kelelahan. Namun hal ini menjadi
dengan hipertensi sangat sensitif terhadap gejala yang terlazim pula pada kebanyakan
norepinefrin, meski tidak diketahui dengan pasien yang mencari pertolongan medis.
jelas mengapa bisa terjadi hal tersebut. Menurut Rokhlaeni (2001), manifestasi
Pada saat yang bersamaan, sistem klinis pasien hipertensi diantaranya:
saraf simpatis merangsang pembuluh darah mengeluh sakit kepala, pusing, lemas,
sebagai respon rangsang emosi, kelenjar kelelahan, gelisah, mual dan muntah,
adrenal juga terangsang. Hal ini epistaksis, kesadaran menurun. Gejala
mengakibatkan tambahan aktifitas lainnya yang sering ditemukan: marah,
vasokontriksi. Medula adrenal mensekresi telinga berdengung, rasa berat di tengkuk,
epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. sukar tidur, mata berkunang-kunang.
Korteks adrenal mensekresi kortisol dan
steroid lainnya untuk memperkuat respon PEMERIKSAAN PENUNJANG
vasokontriktor pembuluh darah. 1) Pemeriksaan Laboratorium; Hb/Ht:
Vasokontriksi mengakibatkan penurunan untuk mengkaji hubungan dari sel-sel
aliran ke ginjal dan memicu pelepasan renin. terhadap volume cairan(viskositas) dan
Pelepasan renin inilah yang merangsang dapat mengindikasikan faktor resiko seperti:
pembentukan angiotensin I yang akan hipokoagulabilitas, anemia. BUN/ kreatinin:
diubah menjadi angiotensin II, suatu memberikan informasi tentang
vasokontriktor kuat yang nantinya akan perfusi/fungsi ginjal. Glukosa: Hiperglikemi
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks (DM adalah pencetus hipertensi)
adrenal. Hormon aldosteron ini dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar
menyebabkan retensi natrium dan air oleh ketokolamin. Urinalisa: darah, protein,
tubulus ginjal, sehingga terjadi peningkatan glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal
volume intra vaskular. Semua faktor ini dan ada DM. 2) CT Scan: mengkaji adanya
dapat mencetus terjadinya hipertensi. tumor cerebral, encelopati. 3) EKG: dapat
Pada keadaan gerontologis dengan menunjukan pola regangan, di mana luas,
perubahan struktural dan fungsional sistem peninggian gelombang P adalah salah satu

63
Idea Nursing Journal Vol. II No. 1

tanda dini penyakit jantung hipertensi. 4) IU: bulan sebelum mempertimbangkan


mengidentifikasikan penyebab hipertensi pemberian terapi farmakologis. Pada
seperti: batu ginjal, perbaikan ginjal. 5) Poto hipertensi berat, perubahan gaya hidup dan
dada: menunjukkan destruksi kalsifikasi terapi farmakologi harus dijalani secara
pada area katup, pembesaran jantung (Sobel, bersama-sama. Pola makan makanan tinggi
et al, 1999). kalium dan kalsium serta rendah natrium
juga merupakan metode terapi non-
PENATALAKSANAAN MEDIS farmakologis pada lansia penderita
Tujuan terapi antihipertensi adalah hipertensi ringan.
pengurangan morbiditas dan mortalitas 2) Penatalaksanaan Farmakologis:
penyakit kardiovaskular dan ginjal. Karena secara garis besar terdapat beberapa hal
sebagian besar pasien dengan hipertensi, yang perlu diperhatikan dalam pemberian
terutama yang berumur sedikitnya 50 tahun, atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
mendapatkan tekanan darah diastolik yang mempunyai efektivitas yang tinggi,
normal bila tekanan sisitolik normal dapat mempunyai toksitas dan efek samping yang
diwujudkan, maka tujuan utama terapi ringan atau minimal, memungkinkan
hipertensi adalah mempertahankan tekanan penggunaan obat secara oral, tidak
sistolik dalam batas normal. menimbulkan intoleransi, harga obat relatif
Mempertahankan tekanan darah sistolik dan murah sehingga terjangkau oleh klien, dan
diastolik kurang dari 140/90 mmHg memungkinkan penggunaan jangka panjang.
berhubungan dengan menurunnya Saat ini, pemberian terapi farmakologis
komplikasi penyakit kardiovaskular. Pada menunjukkan penurunan morbiditas dan
pasien dengan hipertensi yang disertai mortalitas pada lansia penderita hipertensi.
diabetes dan penyakit ginjal, target tekanan Berdasarkan penelitian terbaru pada obat-
darahnya adalah 130/80 mmHg. obat antihipertensi yang tersedia sekarang
Penatalaksanaan medis menurut Sobel ini angiotensin converting enzyme inhibitor
(1999), yaitu: (ACE inhibitor), angiotensin-receptor
1) Penatalaksanaan Non blocker (ARBs), calcium channel blocker,
Farmakologis: adopsis gaya hidup sehat oleh diuretik tipe Tiazid, beta-blocker, semua
semua individu penting dalam pencegahan menurunkan komplikasi penyakit hipertensi.
meningkatnya tekanan darah dan bagian Diuretik tiazid merupakan terapi dasar
yang tidak terpisahkan dari terapi pasien antihipertensi pada sebagian besar
dengan hipertensi. Terdapat banyak pilihan penelitian. Pada penelitian-penelitian
terapi non-farmakologis dalam menangani tersebut, termasuk Antihypertensive And
hipertensi pada lansia, terutama bagi mereka Lipid Lowering Treatment To Prevent Heart
dengan peningkatan tekanan darah yang Attack Trial, diuretik lebih baik dalam
ringan. Bukti saat ini menunjukkan bahwa mencegah komplikasi kardiovaskular akibat
perubahan gaya hidup cukup efektif dalam penyakit hipertensi. Pengecualian datang
menangani hipertensi ringan pada lansia. dari Australian National Blood Pressure
Beberapa cara berikut membantu Trial, yang melaporkan hasil yang sedikit
menurunkan tekanan darah pada lansia: lebih baik pada pria kulit putih yang
mengurangi berat badan yang berlebihan, memulai terapi hipertensi dengan ACE
mengurangi atau bahkan menghentikan inhibitor dari pada mereka yang memulai
konsumsi alkohol, mengurangi intake garam dengan diuretik. Diuretik menambah
pada makanan, dan melakukan olah raga keampuhan obat-obat hipertensi, berguna
ringan secara teratur. Cara lain yang secara untuk mengontrol tekanan darah dan lebih
independen mengurangi resiko penyakit terjangkau dari pada obat-obat antihipertensi
arteri terutama adalah berhenti merokok. lain. Diuretik seharusnya dipakai sebagai
Pada pasien dengan hipertensi ringan sampai pengobatan awal terapi hipertensi untuk
sedang (tekanan diastolik 90-105 mmHg dan semua pasien, baik secara sendiri maupun
atau sistolik 160-180mmHg) terapi non- kombinasi dengan 1 dari golongan obat
farmakologi dapat dicoba selama 3 sampai 6 antihipertensi lain (ACE inhibitor, ARBs, β-

64
Idea Nursing Journal Ibrahim

Blocker, CCB), karena memberikan manfaat hipertensi pertama kali, maka semakin buruk
pada beberapa penelitian. Namun jika obat perjalanan penyakitnya apalagi bila tidak
ini tidak ditoleransi secara baik atau ditangani. Di Amerika Serikat, ras kulit
merupakan kontraindikasi, sedangkan obat hitam mempunyai angka morbiditas dan
dari golongan lain tidak, maka pemberian mortalitas empat kali lebih besar dari pada
obat dari golongan lain tersebut harus ras kulit putih. Prevalensi hipertensi pada
dilakukan. wanita pre-menopause tampaknya lebih
Sebagian besar pasien hipertensi sedikit dari pada laki-laki dan wanita yang
memerlukan dua atau lebih obat-obat telah menopause. Adanya faktor resiko
antihipertensi lain untuk mencapai target independen (seperti hiperkolesterolemia,
tekanan darah yang diingini. Tambahan obat intoleransi glukosa dan kebiasaan merokok)
kedua dari golongan lain seharusnya dimulai yang mempercepat proses aterosklerosis
jika penggunaan obat tunggal pada dosis meningkatkan angka mortalitas hipertensi
yang adekuat gagal mencapai target tekanan dengan tidak memperhatikan usia, ras dan
darah yang diingini. Bila tekanan darah di jenis kelamin (Anonim, 2009).
atas 20/10 mmHg dari target, pertimbangkan
untuk memulai terapi dengan dua obat, baik ASUHAN KEPERAWATAN
pada sebagai resep yang terpisah maupun
Menurut Hidayat (2009) asuhan
pada dosis kombinasi tetap. Pemberian obat
keperawatan pada lansia dengan hipertensi
antihipertensi dengan dua obat dapat
meliputi: Pengkajian: 1) Riwayat atau
mencapai target tekanan darah yang diingini
adanya faktor-faktor resiko, antara lain:
dalam waktu yang singkat, namun mesti
kegemukan, riwayat keluarga positif,
diperhatikan adanya hipotensi ortostatik,
peningkatan kadar lipid serum, merokok
seperti pada pasien diabetes mellitus,
sigaret berat, penyakit ginjal, terapi hormon
disfungsi otonom, dan beberapa kelompok
kronis, gagal jantung, kehamilan. 2)
usia tua.
Aktivitas/ Istirahat, gejala: kelemahan, letih,
nafas pendek, gaya hidup monoton. Tanda:
KOMPLIKASI frekuensi jantung meningkat, perubahan
Pasien hipertensi biasanya meninggal irama jantung, takipnea. 3) Sirkulasi, gejala:
dunia lebih cepat apabila penyakitnya tidak riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit
terkontrol dan telah menimbulkan jantung koroner/katup dan penyakit
komplikasi ke beberapa organ vital. Sebab cebrocaskuler, episode palpitasi. Tanda:
kematian yang sering terjadi adalah penyakit kenaikan TD, nadi denyutan jelas dari
jantung dengan atau tanpa disertai stroke karotis, jugularis, radialis, takikardi, murmur
dan gagal ginjal. Dengan pendekatan per stenosis valvular, distensi vena jugularis,
organ sistem, dapat diketahui komplikasi kulit pucat, sianosis, suhu dingin
yang mungkin terjadi akibat hipertensi, yaitu (vasokontriksi perifer) pengisian kapiler
antara lain Jantung; infark miokard, angina mungkin lambat/ bertunda. 4) Integritas
pectoris, gagal jantung kongestif. Sistem Ego, gejala: riwayat perubahan kepribadian,
Saraf Pusat; stroke, hipertensive ansietas, faktor stress multiple (hubungan,
encephalopathy. Ginjal; penyakit ginjal keuangan, yang berkaitan dengan
kronik. Mata; hipertensive retinopathy. pekerjaan). Tanda: letupan suasana hati,
pembuluh darah perifer; peripheral vascular gelisah, penyempitan continue
disease (Anonim, 2009). perhatian,tangisan meledak, otot muka
tegang, pernafasan menghela, peningkatan
PROGNOSIS pola bicara. 5) Eliminasi, gejala: gangguan
Usia, ras, jenis kelamin, kebiasaan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau
mengkonsumsi alkohol, hiperkolesterolemia, riwayat penyakit ginjal pada masa yang
intoleransi glukosa dan berat badan, lalu). 6) Makanan/cairan, gejala: makanan
semuanya mempengaruhi prognosis dari yang disukai yang mencakup makanan
penyakit hipertensi esensial pada lansia. tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual,
Semakin muda seseorang terdiagnosis muntah dan perubahan BB akhir - akhir ini

65
Idea Nursing Journal Vol. II No. 1

(meningkat/turun) dan riwayat penggunaan pernafasan/penggunaan otot aksesori


diuretik. Tanda: berat badan normal atau pernafasan bunyi nafas tambahan.
obesitas, adanya edema, glikosuria. (krakties/mengi), sianosis. 10) Keamanan,
7) Neurosensori, gejala: keluhan pening gejala: gangguan koordinasi/cara berjalan,
pening/pusing, berdenyut, sakit kepala, sub hipotensi postural.
oksipital (terjadi saat bangun dan Diagnosa. 1) Resiko tinggi terhadap
menghilangkan secara spontan setelah penurunan curah jantung berhubungan
beberapa jam), gangguan penglihatan dengan peningkatan afterload,
(diplobia, penglihatan kabur,epistakis). vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi
Tanda: status mental, perubahan ventrikular. 2) Intoleransi aktivitas
keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, efek, berhubungan dengan kelemahan umum,
proses pikir, penurunan kekuatan ketidakseimbangan antara suplai dan
genggaman tangan. 8) kebutuhan O2. 3) Gangguan rasa nyaman:
Nyeri/ketidaknyamanan, gejala: angina nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan
(penyakit arteri koroner/ keterlibatan peningkatan tekanan vaskuler serebral. 4)
jantung), sakit kepala. 9) Pernafasan, gejala: Potensial perubahan perfusi jaringan:
dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja serebral, ginjal, jantung berhubungan
takipnea, ortopnea, dispnea, batuk dengan gangguan sirkulasi (Doengoes,
dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat 2000).
merokok. Tanda: distres
Intervensi. Berdasarkan Doengoes (2000):
Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
Resiko tinggi terhadap Afterload tidak Klien berpartisipasi o Pantau TD, ukur pada kedua
penurunan curah meningkat, tidak dalam aktivitas yang tangan, gunakan manset dan
jantung berhubungan terjadi menurunkan tekanan tehnik yang tepat.
dengan peningkatan vasokonstriksi, darah / beban kerja o Catat keberadaan, kualitas
afterload, tidak terjadi jantung , denyutan sentral dan perifer.
vasokonstriksi, iskemia iskemia miokard. mempertahankan TD o Auskultasi tonus jantung dan
miokard, hipertropi dalam rentang bunyi napas.
ventrikular. individu yang dapat o Amati warna kulit,
diterima, kelembaban, suhu dan masa
memperlihatkan pengisian kapiler.
norma dan frekuensi o Catat edema umum.
jantung stabil dalam o Berikan lingkungan tenang,
rentang normal nyaman, kurangi aktivitas.
pasien. o Pertahankan pembatasan
aktivitas seperti istirahat
ditempat tidur/kursi.
o Bantu melakukan aktivitas
perawatan diri sesuai
kebutuhan.
o Lakukan tindakan yang
nyaman spt pijatan
punggung dan leher.
o Anjurkan tehnik relaksasi,
panduan imajinasi, aktivitas
pengalihan.
o Pantau respon terhadap obat
untuk mengontrol tekanan
darah.
o Berikan pembatasan cairan
dan diet natrium sesuai
indikasi.
o Kolaborasi untuk pemberian

66
Idea Nursing Journal Ibrahim

obat-obatan sesuai indikasi.

Intoleransi aktivitas Aktivitas pasien Klien dapat o Kaji toleransi pasien


berhubungan dengan terpenuhi. berpartisipasi dalam terhadap aktivitas dengan
kelemahan umum, aktivitas yang di menggunkan parameter:
ketidakseimbangan inginkan / frekuensi nadi 20 per menit
antara suplai dan diperlukan,melaporka diatas frekwensi istirahat,
kebutuhan O2. n peningkatan dalam catat peningkatanTD,
toleransi aktivitas dipsnea, atau nyeridada,
yang dapat diukur. kelelahan berat dan
kelemahan,
berkeringat,pusig atau
pingsan. (Parameter
menunjukan respon
fisiologis pasienterhadap
stress, aktivitas dan indicator
derajat pengaruh kelebihan
kerja/ jantung).
o Kaji kesiapan untuk
meningkatkan aktivitas
contoh : penurunan
kelemahan / kelelahan, TD
stabil, frekwensi nadi,
peningkatan perhatian
padaaktivitas dan perawatan
diri. (Stabilitas fisiologis
pada istirahatpenting untuk
memajukan tingkat aktivitas
individual).
o Dorong memajukan aktivitas
/ toleransi perawatan diri.
(Konsumsioksigen
miokardia selama berbagai
aktivitas dapat
meningkatkan jumlah
oksigen yang ada. Kemajuan
aktivitas bertahap mencegah
peningkatantiba-tiba pada
kerja jantung).
o Berikan bantuan sesuai
kebutuhan dan anjurkan
penggunaan kursi mandi,
menyikat gigi / rambut
dengan duduk dan
sebagainya. (teknik
penghematan energi
menurunkan penggunaan
energi dan sehingga
membantu keseimbangan
suplai dan kebutuhan
oksigen).
o Dorong pasien untuk
partisifasi dalam memilih
periode aktivitas.(Seperti
jadwal meningkatkan
toleransi terhadap kemajuan
aktivitas dan mencegah

67
Idea Nursing Journal Vol. II No. 1

kelemahan).

Gangguan rasa Tekanan vaskuler Pasien o Pertahankan tirah baring,


nyaman: nyeri (sakit serebral tidak mengungkapkan lingkungan yang tenang,
kepala) berhubungan meningkat. tidak adanya sakit sedikit penerangan
dengan peningkatan kepala dan tampak o Minimalkan gangguan
tekanan vaskuler nyaman. lingkungan dan rangsangan.
serebral. o Batasi aktivitas.
o Hindari merokok atau
menggunkan penggunaan
nikotin.
o Beri obat analgesia dan
sedasi sesuai pesanan.
o Beri tindakan yang
menyenangkan sesuai
indikasi seperti kompres es,
posisi nyaman, tehnik
relaksasi, bimbingan
imajinasi, hindari konstipasi

Potensial perubahan Sirkulasi tubuh TD dalam batas yang o Pertahankan tirah baring;
perfusi jaringan: tidak terganggu. dapat diterima, tidak tinggikan kepala tempat
serebral, ginjal, jantung ada keluhan sakit tidur.
berhubungan dengan kepala, pusing, nilai- o Kaji tekanan darah saat
gangguan sirkulasi. nilai laboratorium masuk pada kedua lengan;
dalam batas normal. tidur, duduk dengan
pemantau tekanan arteri jika
tersedia.
o Pertahankan cairan dan obat-
obatan sesuai pesanan.
o Amati adanya hipotensi
mendadak.
o Ukur masukan dan
pengeluaran.
o Pantau elektrolit, BUN,
kreatinin sesuai pesanan.
o Ambulasi sesuai
kemampuan; hindari
kelelahan.

Evaluasi. 1) Mempertahankan perfusi alkohol, menepati jadwal kunjungan klinik atau


jaringan yang adekuat: tekanan darah dalam dokter. 3) Bebas dari komplikasi: tidak terjadi
rentang yang dapat diterima dengan ketajaman penurunan penglihatan, dasar mata
pengobatan terapi diet dan perubahan gaya tidak memperlihatkan perdarahan retina,
hidup, tidak menunjukkan gejala angina, kecepatan dan irama denyut nadi dan
palpitasi atau penurunan penglihatan, kadar kecepatan napas dalam batas normal, tidak
BUN dan kreatinin serum stabil, dan teraba terjadi dispnu atau edema, menjaga haluaran
denyut nadi perifer. 2) Mematuhi program urin sesuai dengan masukan cairan,
asuhan dini: minum obat sesuai resep dan pemeriksaan fungsi ginjal dalam batas normal,
melaporkan setiap ada efek samping, tidak memperlihatkan defisik motorik, bicara
mematuhi aturan diet sesuai yang dianjurkan: atau sensorik, dan tidak mengalami sakit
pengurangan natrium, kolesterol dan kalori, kepala, pusing atau perubahan cara berjalan
berlatih secara teratur dan cukup, mengukur (Tucker, et al, 1999).
tekanan darahnya sendiri secara teratur, Dokumentasi. Catat keberadaan,
berhenti mengkonsumsi tembakau, kafein dan kualitas denyutan sentral dan perifer, catat

68
Idea Nursing Journal Ibrahim

edema umum, pantau respon terhadap obat Brunner & Suddarth.(2002). Buku Ajar:
untuk mengontrol tekanan darah, ukur Keperawatan Medikal Bedah Volume 2.
masukan dan pengeluaran, dan pantau Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
elektrolit, BUN, kreatinin (Tucker, et al, 1999). EGC.
Doengoes, Marilynn E. (2000). Rencana
KESIMPULAN Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
1) Penyakit hipertensi merupakan Perencanaan dan Pendokumentasian
suatu masalah kesehatan masyarakat yang Perawatan Pasien. Jakarta: Penerbit
mana dapat dihadapi baik itu di beberapa Buku Kedokteran EGC.
negara yang ada di dunia maupun di Indonesia.
2) Faktor-faktor yang dapat Gunawan, Lany. (2001). Hipertensi: Tekanan
menyebabkan hipertensi itu adalah dari Darah Tinggi. Yogyakarta: Penerbit
kebiasaan atau gaya hidup masyarakat yaitu Kanisius.
faktor herediter yang didapat pada keluarga,
faktor usia, jenis kelamin, konsumsi garam Guiber R & Franco ED. (1999). Journal of
yang berlebihan, kurang berolahraga, dan Hypertension. Research Profile on
obesitas. Biomed Experts.
3) Pelaksanaan program
penanggulangan yang dilakukan oleh Hidayat. (Mai 2009). Askep Hipertensi.
Departemen Kesehatan yang bekerjasama Diakses pada tanggal 17 September
mendukung kampanye “120/180” yang 2010, dari http://hidayat2.wordpress.com
dilakukan RS Jantung dan Pembuluh Darah /2009/05/12/askep-hipertensi/.
Harapan Kita, Yayasan Jantung Indonesia,
Indonesia Society of Hypertension (INA-SH) Sobel, Barry J, et all. (1999). Hipertensi:
dan Novartis Indonesia dengan tema “Jagalah Pedoman Klinis Diagnosis dan Terapi.
Tekanan Darah Anda pada Batas yang Aman”. Jakarta: Penerbit Hipokrates.

SARAN Tucker, S.M, et all .(1999). Standar Perawatan


1) Menggalakkannya kampanye Pasien: Proses Keperawatan, Diagnosis
“120/80” dengan tema “Jagalah Tekanan dan Evaluasi Edisi V. Jakarta: Penerbit
Darah Anda pada Batas yang Aman” dapat Buku Kedokteran EGC
memacu dalam peningkatan kesadaran
masyarakat akan bahaya penyakit hipertensi. R. Boedhi Darmojo, H. Hadimartono. (1999).
2) Perlunya upaya penyuluhan agar dari Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan
case-finding maupun pendidikan kesehatan dan Usia Lanjut). Jakarta : Balai Penerbit
penatalaksanaan pengobatannya yang belum
terjangkau masih sangat terbatas Untuk Suwarsa. (2006). Kiat Sehat Bagi Lansia.
penderita datang berobat untuk pertama Bandung: MQS Publishing.
kalinya datang terlambat dimana sebagian
besar penderita hipertensi tidak mempunyai
keluhan agar sedini msungkin diberi
pengobatan.

KEPUSTAKAAN

Anonim. (September 2009). Penderita


Hipertensi Rawan Lupa. Diakses pada
tanggal 18 September 2010, dari
http://www.waspada.co.id/index.php?opt
ion=com_content&view=article&id=542
6zpenderita-hipertensi-rawan-
lupa&catid=28&Itemid=48.

69
Idea Nursing Journal Vol. II No. 1

70