Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawatan saluran akar adalah perawatan yang dilakukan dengan
mengangkat jaringan pulpa yang telah terinfeksi dari kamar pulpa dan
saluran akar, kemudian diisi padat oleh bahan pengisi saluran akar agar
tidak terjadi kelainan lebih lanjut atau infeksi ulang. Tujuannya adalah
untuk mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rahang, sehingga
fungsi dan bentuk lengkung gigi tetap baik.
Perawatan saluran akar membutuhkan ketelatenan sehingga seringkali
membutuhkan lebih dari 1 kunjungan, bervariasi tergantung kasusnya.
Tahapan PSA adalah sebagai berikut:
- Tahap 1
Mahkota gigi di-bur untuk mendapatkan jalan masuk ke kamar pulpa.
Semua tambalan dan jaringan rusak pada gigi (karies) dibuang.
- Tahap 2
Pulpa dikeluarkan dari kamar pulpa dan saluran akar. Suatu instrumen
kecil yang disebut “file” digunakan untuk membersihkan saluran akar.
Gigi ditutup dengan tambalan sementara untuk melindungi kamar pulpa
dan saluran akar agar tetap bersih. Tambalan sementara akan dibongkar
pada kunjungan selanjutnya.
- Tahap 3
Saluran akar diisi dan dibuat kedap dengan suatu bahan yang mencegah
bakteri masuk. Kamar pulpa sampai dengan permukaan mahkota gigi
ditutup dengan tambalan sementara.
- Tahap 4
Tambalan sementara dibongkar dan diganti dengan tambalan tetap atau
dibuatkan “crown” (sarung gigi).
- Tahap 5
Saluran akar, tambalan tetap, atau “crown” dievaluasi untuk melihat ada /
tidaknya masalah. Setelah PSA selesai, gigi akan disuplai nutrisinya oleh
tulang dan gusi di sekitarnya.
Dalam masa Perawatan Saluran Akar (PSA) gigi, adakalanya gigi
mengalami rasa sakit, bisa karena saraf pulpa belum seluruhnya mati, bisa
juga karena pembersihan yang belum selesai. Bila gigi mempunyai akar
yang bengkok, maka tingkat kesulitan pembersihan saluran akar lebih
tinggi daripada saluran akar yang normal lurus. Belum lagi bila saluran
akar utama mempunyai cabang-cabang. Oleh karena itu PSA kadang bisa
gagal karena faktor-faktor di atas.
Pulpa dalam gigi sewaktu-waktu dapat terkena infeksi atau radang.
Pemicu hal ini antara lain lubang yang sudah dalam, proses lubang yang
berlanjut di bawah tambalan, kebiasaan mengerot-ngerot saat tidur
(bruxisme), perokok (menurut penelitian lebih sering menderita masalah
pada gigi yang membutuhkan penanganan berupa PSA), peradangan gusi
parah, tindakan penambalan yang berulang-ulang pada gigi, “crack” atau
keretakan pada gigi, serta trauma (misalnya gigi terbentur karena
kecelakaan).
Walaupun secara visual tidak terdapat kerusakan (misalkan pada “crack”
yang halus), namun hal-hal di atas dapat menghancurkan lapisan
pelindung pulpa sehingga bakteri dapat masuk. Bakteri kemudian dapat
keluar dari ujung akar dan menimbulkan infeksi pada tulang dan gusi di
sekitar akar gigi. Bila pulpa yang telah terinfeksi tidak diobati maka dapat
menimbulkan sakit dan akan terbentuk nanah.
PSA dibutuhkan karena dapat membuang pulpa dan bakteri yang
menyebabkan infeksi, sehingga tulang di sekitar gigi dapat sehat kembali
dan sakit gigi pun hilang. Gejala-gejala gigi yang membutuhkan
perawatan yaitu: sakit sepanjang waktu, selalu sensitif terhadap panas
atau dingin, sakit saat mengunyah atau bila disentuh, gigi goyang, gusi
bengkak, diskolorasi (perubahan warna) gigi, pipi bengkak dan adanya
jerawat kecil berwarna putih di gusi yang mengeluarkan nanah.
Bagaimana pun, terkadang ada juga kasus yang tidak terdapat gejala-
gejala tersebut sama sekali.
Bila satu atau lebih gejala tersebut terjadi pada anda, bisa jadi anda
membutuhkan perawatan saluran akar. Pencabutan belum tentu
menyelesaikan masalah. Bila gigi yang sakit dicabut, gigi-gigi di
sebelahnya akan bergeser sehingga mengganggu gigitan dan
pengunyahan. Gigi yang hilang bisa saja diganti dengan gigi palsu, tapi
rasanya tidak akan bisa senyaman gigi asli, khususnya saat dipakai
menggigit dan mengunyah makanan.

1.2 Rumusan Masalah


1. terdapat pelebaran ligamen di mesial dan distal?
1. macam2 klasifikasi fraktur?
2. etiologi fraktur?
3. penyebab dari bengkak pada skeneraio?
4. penatalaksanaan dari kasus?
5. kontraindikasi dan indikasi perawatan?
6. mekanisme perubahan warna pada skeneraio?
7. mengapa setelah minum obat sakit masih tetap muncul?
8. tanda2 kegagalan dan keberhasilan perawtan?
9. pemeriksaan yg dilakukan untuk mendiagnosa kasus fraktur?
10.diagnosa pada skenario?
11.macam2 triad endodontik?
12.definisi, pemeriksaan dan komplikasi, perawatan kegawatdaruratan
endodotik?
13.kenapa pemeriksaan perkusi dan palpasi sakit padahal gigi non vital?
14.patofisiologi gigi bisa non vital pada skenario?
15.interpretasi rontgen?
16.mengapa dipilih rontgen periapikal?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apakah semua pembuatan mahkota dan jembatan harus
dilakukan pulpektomi.
2. Untuk mengetahui macam-macam perawatan endodontik beserta indikasi dan
kontraindikasinya.
3. Untuk mengetahui prosedur perawatan endodontik konvensional.
4. Untuk mengetahui teknik dari perawatan saluran akar.
5. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan kegagalan dari perawatan
saluran akar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada perawatan saluran akar, setelah jaringan pulpa di keluarkan akan terdapat
luka yang kemudian dibersihkan dan didesinfeksi dengan instrumentasi dan
irigasi. Luka ini tidak akan tertutup epitelium, seperti luka pada bagian tubuh
lain karena itu mudah terkena infeksi ulang. Untuk mencegah penetrasi
mikroorganisme dan toksin dari luar melalui ruang pulpa ke tubuh, ruang ini
harus ditutup dibagian koronal dan apikal, hal ini untuk mencegah infeksi dan
juga untuk memblokir lubang masuk ke periapikal bagi organisme. Selain itu
untuk mencegah infeksi ulang dari ruang pulpa oleh mikroorganisme dari
rongga mulut. Seluruh ruang pulpa harus diisi, jadi memblokir tubula dentin dan
saluran asesori (Harty, 1992).
Perawatan saluran akar merupakan salah satu jenis perawatan yang bertujuan
mempertahankan gigi agar tetap dapat berfungsi. Tahap perawatan saluran akar
antara lain : preparasi saluran akar yang meliputi pembersihan dan pembentukan
(biomekanis), disinfeksi, dan pengisian saluran akar. Keberhasilan perawatan
saluran ini dipengaruhi oleh preparasi dan pengisian saluran akar yang baik,
terutama pada bagian sepertiga apikal. Tindakan preparasi yang kurang bersih
akan mengalami kegagalan perawatan, bahkan kegagalan perawatan 60%
diakibatkan pengisian yang kurang baik. Pengisian saluran akar dilakukan untuk
mencegah masuknya mikro-organisme ke dalam saluran akar melalui koronal,
mencegah multiplikasi mikroorganisme yang tertinggal, mencegah masuknya
cairan jaringan ke dalam pulpa melalui foramen apikal karena dapat sebagai
media bakteri, dan menciptakan lingkungan biologis yang sesuai untuk proses
penyembuhan jaringan. Hasil pengisian saluran akar yang kurang baik tidak
hanya disebabkan teknik preparasi dan teknik pengisian yang kurang baik,
tetapi juga disebabkan oleh kualitas bahan pengisi saluran akar. Pasta saluran
akar merupakan bahan pengisi yang digunakan untuk mengisi ruangan antara
bahan pengisi (semi solid atau solid) dengan dinding saluran akar serta bagian-
bagian yang sulit terisi atau tidak teratur (Walton & Torabinejad, 1996).
Setelah dilakukan pembersihan, perbaikan bentuk dan desinfeksi, saluran akar
akan diisi. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan
tindakan pengisian saluran akar yaitu gigi bebas dari rasa sakit, saluran akar
bersih dan kering, tidak terdapat nanah, tidak terdapat bau busuk (Tarigan,
1994).
Sebelum pengisian saluran akar, dilakukan preparasi saluran akar. Preparasi
saluran akar biomekanikal dalam perawatan endodonti bertujuan untuk
membersihkan dan membentuk saluran dalam mempersiapkan pengisian yang
hermetis dengan bahan dan teknik pengisian yang sesuai. Bila preparasi saluran
akar tidak dilakukan, maka perawatan endodontik akan gagal. Oleh karena itu,
preparasi saluran akar biomekanikal harus dilakukan sebaik mungkin, sesuai
dengan bentuk saluran akar (Harty, 1992).
Dengan adanya bentuk gigi yang berbeda, anatomi rongga pulpa dari setiap gigi
juga tidak sama, sehingga teknik preparasi saluran akar pada gigi yang satu
akan berbeda dengan gigi yang lain. Jadi dalam melakukan preparasi saluran
akar pada gigi yang mempunyai bentuk anatomi saluran yang berbeda,
diperlukan beberapa teknik preparasi saluran akar yang sesuai yaitu : teknik
preparasi konvensional, telescope, flaring, step-back (Tarigan, 1994; Rodneey,
dkk, 1994).
Saluran akar harus dikeringkan setelah irigasi yang terakhir, terutama sebelum
pengisian saluran akar. Cairan dapat diaspirasi dengan meletakkan ujung spuit
pada dinding saluran akar. pengeringan menyeluruh dapat dilakukan dengan
menggunakan paper point yang tediri dari berbagai macam ukuran. Secara
klinis perlu disadari bahwa paper point bekerja seperti kertas penyerap dan
harus diberi waktu dalam saluran akar agar dapat bekerja efektif. Paper point
dapat dipegang dengan pinset dan diukur sesuai dengan panjang kerja sehingga
ujungnya tidak terdorong secara tidak sengaja melalui foramen apikal. Paper
point dimasukkan secara perlahan sehingga mengurangi terdorongnya cairan
irigasi ke dalam jaringan apikal. Kecelakaan seperti ini dapat menyebabkan
pasien merasa sakit pada terapi endodontik (Harty, 1992).
Saluran akar segera diisi setelah pengeringan. Pada kasus pulpektomi vital,
pengisian saluran segera dilakukan setelah preparasi dan pembersihan, hal ini
dapat mengurangi resiko kontaminasi saluran akar, waktu yang diperlukan
untuk perawatan dan menghasilkan tingkat keberhasilan yang tinggi (Harty,
1992).
Ada berbagai macam teknik pengisian saluran akar, yang dapat dibagi menjadi
teknik sementasi cone, teknik guttapercha hangat, teknik preparasi dentin. Hasil
penelitian belum dapat membuktikan keunggulan teknik tersebut walaupun
memang ada beberapa teknik yang kemungkinan kebocorannya lebih besar dari
yang lain (Harty, 1992).
Pada umumnya bahan pengisi saluran akar digolongkan dalam golongan padat,
pasta, dan semen. Yang termasuk golongan padat ialah poin gutaperca, poin
perak, poin titan, poin emas. Golongan pasta; bahan ini tidak mengeras dalam
saluran akar misalnya jodoform pasta (Walkhoff). Golongan semen; bahan ini
setelah beberapa waktu dalam saluran akar akan mengeras (Tarigan, 1994).
Pasta dan semen dapat dibagi dalam lima kelompok; berbahan dasar zinc okside
eugenol, resin komposit, gutta perca, bahan adhesif dentin, bahan yang
ditambah obat- obatan (Harty, 1992).
Tidak ada bahan pengisi saluran akar yang mempunyai sifat yang ideal. Tetapi
paling tidak memenuhi beberapa kriteria yaitu mudah dimasukkan kedalam
saluran akar, harus dapat menutup saluran lateral atau apikal, tidak boleh
menyusut sesudah dimasukkan kedalam saluran akar gigi. Tidak dapat ditembus
oleh air atau kelembaban, bakteriostatik, radiopague, tidak mewarnai struktur
gigi, tidak mengiritasi jaringan apikal, steril atau dapat dengan mudah
disterilkan, tidak larut dalam cairan jaringan, bukan penghantar panas, pada
waktu dimasukkan harus dalam keadaan pekat atau semi solid dan sesudahnya
menjadi keras (Tarigan, 1994; Walton & Torabinejad, 1996).
Seperti halnya seluruh perawatan gigi, penggabungan beberapa faktor
mempengaruhi hasil suatu perawatan endodontik. Faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan perawatan saluran akar adalah
faktor patologi, factor penderita, faktor anatomi, faktor perawatan dan
kecelakaan prosedur perawatan (Ingle, 1985; Cohen & Burn, 1994; Walton &
Torabinejab, 1996).

1. Faktor Patologis
Keberadaan lesi di jaringan pulpa dan lesi di periapikal mempengaruhi tingkat
keberhasilan perawatan saluran akar. Beberapa penelitian menunjukan bahwa
tidak mungkin menentukan secara klinis besarnya jaringan vital yang tersisa
dalam saluran akar dan derajat keterlibatan jaringan peripikal. Faktor patologi
yang dapat mempengaruhi hasil perawatan saluran akar adalah (Ingle, 1985;
Walton & Torabinejad, 1996) :
1. Keadaan patologis jaringan pulpa.
Beberapa peneliti melaporkan tidak ada perbedaan yang berarti dalam
keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar yang melibatkan jaringan
pulpa vital dengan pulpa nekrosis. Peneliti lain menemukan bahwa kasus
dengan pulpa nekrosis memiliki prognosis yang lebih baik bila tidak terdapat
lesi periapikal.
2. Keadaan patologis periapikal
Adanya granuloma atau kista di periapikal dapat mempengaruhi hasil perawatan
saluran akar. Secara umum dipercaya bahwa kista apikalis menghasilkan
prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan lesi granulomatosa. Teori ini
belum dapat dibuktikan karena secara radiografis belum dapat dibedakan
dengan jelas ke dua lesi ini dan pemeriksaan histologi kista periapikal sulit
dilakukan.
3. Keadaan periodontal
Kerusakan jaringan periodontal merupakan faktor yang dapat mempengaruhi
prognosis perawatan saluran akar. Bila ada hubungan antara rongga mulut
dengan daerah periapikal melalui suatu poket periodontal, akan mencegah
terjadinya proses penyembuhan jaringan lunak di periapikal. Toksin yang
dihasilkan oleh plak dentobakterial dapat menambah bertahannya reaksi
inflamasi.
4. Resorpsi internal dan eksternal
Kesuksesan perawatan saluran akar bergantung pada kemampuan menghentikan
perkembangan resorpsi. Resorpsi internal sebagian besar prognosisnya buruk
karena sulit menentukan gambaran radiografis, apakah resorpsi internal telah
menyebabkan perforasi. Bermacam-macam cara pengisian saluran akar yang
teresorpsi agar mendapatkan pengisian yang hermetis.

2. Faktor Penderita
Faktor penderita yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu
perawatan saluran akar adalah sebagai berikut (Ingle, 1985; Cohen & Burns,
1994; Walton &Torabinejad, 1996) :
1. Motivasi Penderita
Pasien yang merasa kurang penting memelihara kesehatan mulut dan
melalaikannya, mempunyai risiko perawatan yang buruk. Ketidaksenangan
yang mungkin timbul selama perawatan akan menyebabkan mereka memilih
untuk diekstraksi (Sommer, 1961).
2. Usia Penderita
Usia penderita tidak merupakan faktor yang berarti bagi kemungkinan
keberhasilan atau kegagalan perawatan saluran akar. Pasien yang lebih tua
usianya mengalami penyembuhan yang sama cepatnya dengan pasien yang
muda. Tetapi penting diketahui bahwa perawatan lebih sulit dilakukan pada
orang tua karena giginya telah banyak mengalami kalsifikasi. Hali ini
mengakibatkan prognosis yang buruk, tingkat perawatan bergantung pada
kasusnya (Ingle, 1985).
3. Keadaan kesehatan umum
Pasien yang memiliki kesehatan umum buruk secara umum memiliki risiko
yang buruk terhadap perawatan saluran akar, ketahanan terhadap infeksi di
bawah normal. Oleh karena itu keadaan penyakit sistemik, misalnya penyakit
jantung, diabetes atau hepatitis, dapat menjelaskan kegagalan perawatan saluran
akar di luar kontrol ahli endodontis (Sommer, dkk, 1961; Cohen & Burns,
1994).

3. Faktor Perawatan
Faktor perawatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu
perawatan saluran akar bergantung kepada :
1. Perbedaan operator
Dalam perawatan saluran akar dibutuhkan pengetahuan dan aplikasi ilmu
biologi serta pelatihan, kecakapan dan kemampuan dalam manipulasi dan
menggunakan instrumen-instrumen yang dirancang khusus. Prosedur-prosedur
khusus dalam perawatan saluran akar digunakan untuk memperoleh
keberhasilan perawatan. Menjadi kewajiban bagi dokter gigi untuk menganalisa
pengetahuan serta kemampuan dalam merawat gigi secara benar dan efektif
(Healey, 1960; Walton &Torabinejad, 1996).

2. Teknik-teknik perawatan
Banyak teknik instrumentasi dan pengisian saluran akar yang tersedia bagi
dokter gigi, namun keuntungan klinis secara individual dari masing-masing
ukuran keberhasilan secara umum belum dapat ditetapkan. Suatu penelitian
menunjukan bahwa teknik yang menghasilkan penutupan apikal yang buruk,
akan menghasilkan prognosis yang buruk pula (Walton & Torabinejad, 1996).
3. Perluasan preparasi atau pengisian saluran akar.
Belum ada penetapan panjang kerja dan tingkat pengisian saluran akar yang
ideal dan pasti. Tingkat yang disarankan ialah 0,5 mm, 1 mm atau 1-2 mm lebih
pendek dari akar radiografis dan disesuaikan dengan usia penderita. Tingkat
keberhasilan yang rendah biasanya berhubungan dengan pengisian yang
berlebih, mungkin disebabkan iritasi oleh bahan-bahan dan penutupan apikal
yang buruk. Dengan tetap melakukan pengisian saluran akar yang lebih pendek
dari apeks radiografis, akan mengurangi kemungkinan kerusakan jaringan
periapikal yang lebih jauh (Walton & Torabinejad, 1996).

4. Faktor Anatomi Gigi


Faktor anatomi gigi dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu
perawatan saluran akar dengan mempertimbangkan :
1. Bentuk saluran akar
Adanya pengbengkokan, penyumbatan,saluran akar yang sempit, atau bentuk
abnormal lainnya akan berpengaruh terhadap derajat kesulitan perawatan
saluran akar yang dilakukan yang memberi efek langsung terhadap prognosis
(Walton & Torabinejad, 1996).
2. Kelompok gigi
Ada yang berpendapat bahwa perawatan saluran akar pada gigi tunggal
mempunyai hasil yang lebih baik dari pada yang berakar jamak. Hal ini
disebabkan karena ada hubungannya dengan interpretasi dan visualisasi daerah
apikal pada gambaran radiografi. Tulang kortikal gigi-gigi anterior lebih tipis
dibandingkan dengan gigi-gigi posterior sehingga lesi resorpsi pada apeks gigi
anterior terlihat lebih jelas. Selain itu, superimposisi struktur radioopak daerah
periapikal untuk gigi-gigi anterior terjadi lebih sedikit, sehingga interpretasi
radiografinya mudah dilakukan. Radiografi standar lebih mudah didapat pada
gigi anterior, sehingga perubahan periapikal lebih mudah diobservasi
dibandingkan dengan gambaran radiologi gigi posterior (Walton & Torabinejad,
1989).
3. Saluran lateral atau saluran tambahan
Hubungan pulpa dengan ligamen periodontal tidak terbatas melalui bagian
apikal saja, tetapi juga melalui saluran tambahan yang dapat ditemukan pada
setiap permukaan akar. Sebagian besar ditemukan pada setengah apikal akar dan
daerah percabangan akar gigi molar yang umumnya berjalan langsung dari
saluran akar ke ligamen periodontal (Ingle, 1985).
Preparasi dan pengisian saluran akar tanpa memperhitungkan adanya saluran
tambahan, sering menimbulkan rasa sakit yang hebat sesudah perawatan dan
menjurus ke arah kegagalan perawatan akhir (Guttman, 1988).
5. Kecelakaan Prosedural
Kecelakaan pada perawatan saluran akar dapat memberi pengaruh pada hasil
akhir perawatan saluran akar, misalnya :
1. Terbentuknya ledge (birai) atau perforasi lateral.
Birai adalah suatu daerah artifikasi yang tidak beraturan pada permukaan
dinding saluran akar yang merintangi penempatan instrumen untuk mencapai
ujung saluran (Guttman, et all, 1992). Birai terbentuk karena penggunaan
instrumen yang terlalu besar, tidak sesuai dengan urutan; penempatan
instrument yang kurang dari panjang kerja atau penggunaan instrumen yang
lurus serta tidak fleksibel di dalam saluran akar yang bengkok (Grossman, 1988,
Weine, 1996).
Birai dan ferforasi lateral dapat memberikan pengaruh yang merugikan pada
prognosis selama kejadian ini menghalangi pembersihan, pembentukan dan
pengisian saluran akar yang memadai (Walton & Torabinejad, 1966).

2. Instrumen patah
Patahnya instrumen yang terjadi pada waktu melakukan perawatan saluran akar
akan mempengaruhi prognosis keberhasilan dan kegagalan perawatan.
Prognosisnya bergantung pada seberapa banyak saluran sebelah apikal patahan
yang masih belum dibersihkan dan belum diobturasi serta seberapa banyak
patahannya. Prognosis yang baik jika patahan instrumen yang besar dan terjadi
ditahap akhir preparasi serta mendekati panjang kerja. Prognosis yang lebih
buruk jika saluran akar belum dibersihkan dan patahannya terjadi dekat apeks
atau diluar foramen apikalis pada tahap awal preparasi (Grossman, 1988;
Walton & Torabinejad, 1996).
4. Fraktur akar vertikal
Fraktur akar vertikal dapat disebabkan oleh kekuatan kondensasi aplikasi yang
berlebihan pada waktu mengisi saluran akar atau pada waktu penempatan pasak.
Adanya fraktur akar vertikal memiliki prognosis yang buruk terhadap hasil
perawatan karena menyebabkan iritasi terhadap ligamen periodontal (Walton
&Torabinejad, 1996).

3.2.3. Indikasi umum perawatan endodonsia :


1. Gigi dengan kelainan yang telah mengenai jaringan pulpa dan periapikal
2. Sebagai pencegahan untuk menghindari infeksi jaringan periapikal
3. Untuk rencana pembuatan mahkota pasak
4. Sebagai penyangga / abunment gigi tiruan
5. Kesehatan umum pasien baik
6. Oral hygiene pasien baik
7. Masih didukung jaringan penyangga gigi yang baik
8. Pasien bersedia untuk dilakukan perawatan
9. Operator mampu.

3.2.4. Kontraindikasi perawatan endodonsia :


1. Gigi yang tidak dapat direstorasi lagi
2. Tidak didukung jaringan penyangga gigi yang cukup
3. Gigi yang tidak strategis, tidak mempunyai nilai estetik dan fungsional.
Misalnya gigi yang lokasinya jauh di luar lengkung.
4. Fraktur vertikal
5. Resorpsi yang luas baik internal maupun eksternal
6. Gigi dengan saluran akar yang tidak dapat dipreparasi; akar terlalu bengkok,
saluran akar banyak dan berbelit-belit.
7. Jarak interoklusal terlalu pendek sehingga akan menyulitkan dalam
instrumentasi.
8. Kesehatan umum pasien buruk
9. Pasien tidak bersedia untuk dilakukan perawatan
10. Operator tidak mampu.
3.3 PERAWATAN ENDODONTIK KONVENSIONAL
Tujuan dasar dari perawatan endodontik pada anak mirip dengan pasien dewasa,
yaitu untuk meringankan rasa sakit dan mengontrol sepsis dari pulpa dan
jaringan periapikal sekitarnya serta mengembalikan keadaan gigi yang sakit
agar dapat diterima secara biologis oleh jaringan sekitarnya. Ini berarti bahwa
tidak terdapat lagi simtom, dapat berfungsi dengan baik dan tidak ada tanda-
tanda patologis yang lain. Faktor pertimbangan khusus diperlukan pada saat
memutuskan rencana perawatan yang sesuai untuk gigi geligi sulung yaitu
untuk mempertahankan panjang lengkung
3.4.11.7 Metode Inverted cone
- Digunakan terbatas pada gigi dengan saluran kecil, berkelok-kelok, yang tidak
dapat diisi dengan kerucut guttap perca secara lepas

3.4.11.8 Metode Role Gutta perca


- Untuk mengisi saluran kecil bahan tersebut yang bengkok

3.4.11.9 Pengambilan Guttap Point dengan GGD


a. Menentukan panjang GGD :
1. Panjang kerja (PK) – panjang mahkota = panjang akar
2. Panjang 1/3 apikal = panjang akar : 3
3. Panjang GGD = PK – panjang 1/3 apikal
4. GGD dimasukkan dalam contra angle handpiece low speed
b. Membuka tumpatan sementara, cotton pellet diambil.
c. Pemakaian GGD secara berurutan, dimulai dari ukuran besar sampai sesuai
besarnya saluran akar.
d. GGD yang telah disiapkan dimasukkan dalam saluran akar (letak GGD harus
lurus / sejajar dengan sumbu gigi) kemudian airmotor digerakkan sampai guttap
point terpotong dan seterusnya hingga mencapai panjang kerja GGD yang telah
ditentukan.
e. Serpihan guttap point dibersihkan dari saluran akar dengan hembusan udara.
f. Rongga saluran akar yang kosong diisi dengan kapas steril, kemudian
ditumpat sementara.

3.5 PENYEBAB KEGAGALAN PERAWATAN SALURAN AKAR


Secara umum penyebab kegagalan dapat didaftar secara kasar dari yang
frekuensinya paling sering sampai ke yang paling jarang, yaitu kesalahan dalam
diagnosis dan rencana perawatan; kebocoran tambalan di mahkota; kurangnya
pengetahuan anatomi pulpa; debridement yang tidak memadai; kesalahan
selama perawatan; kesalahan dalam obturasi; proteksi tambalan yang tidak
cukup; dan fraktur akar vertikal.
Berbagai prosedur yang terkait dengan perawatan saluran akar dibagi menjadi
tiga tahap yaitu tahap praperawatan, selama perawatan dan pasca perawatan.
Mengingat kegagalan perawatan saluran akar terkait dengan tiap-tiap tahap
tersebut, maka penyebab kegagalannya pun diklasifikasi sesuai dengan tahap-
tahap itu.

3.5.1. Faktor Kegagalan Tahap Pra-perawatan


Kegagalan perawatan saluran akar pada tahap praperawatan sering disebabkan
oleh :
1. Diagnosis yang keliru
a. Diagnosis yang tidak tepat, biasanya berasal dari kurangnya atau salahnya
interpretasi informasi, baik informasi klinis maupun radiografis. Radiograf
merupakan alat bantu utama dalam penilaian konfigurasi anatomik sistem
saluran akar perawatan.
b. Tidak teridentifikasinya penyimpangan berbagai sistem saluran akar pada
radiograf sering menjadi penyebab kegagalan perawatan saluran akar. Fraktur
dentin akar atau didiagnosis keliru. Inflamasi kronis yang timbul akan
menyebabkan defek periodontal, defek ini sering baru terlihat di kemudian hari.
c. Dalam mendiagnosis suatu penyakit sangat diperlukan ketelitian dan
pemahaman dokter gigi akan gejala-gejala suatu penyakit. Karena keterbatasan
pengetahuan, peralatan ataupun karena kelalaian dokter gigi, tidak jarang terjadi
kesalahan dalam mendiagnosis penyakit yang dapat mengakibatkan timbulnya
masalah dalam proses penyembuhan.
2. Kesalahan dalam perencanaan perawatan
Sebagian rencana perawatan adalah mengidentifikasi kasus-kasus mana yang
cenderung akan mengalami kegagalan walaupun baiknya perawatan yang
dilakukan.
3. Seleksi kasus yang buruk
Seleksi kasus menentukan apakah perawatan dapat dilakukan atau tidak.
Sejumlah kegagalan yang disebabkan oleh seleksi kasus yang buruk akan
menimbulkan kekliruan dalam menilai kerjasama pasien serta kesukaran yang
mungkin timbul selama perawatan.
4. Merawat gigi dengan prognosis yang buruk.

3.5.2. Faktor Kegagalan Selama Perawatan


Banyak kegagalan perawatan saluran akar yang disebabkan oleh kesalahan-
kesalahan dalam prosedur perawatan, kesalahan dapat terjadi pada saat
pembukaan kamar pulpa, saat melakukan preparasi saluran akar dan saat
pengisian saluran akar.
- Kesalahan Pembukaan Kamar Pulpa
Tujuan utama pembukaan kamar pulpa adalah untuk mendapatkan jalan
langsung ke foramen apikal tanpa adanya hambatan serta untuk memudahkan
penglihatan pada semua orofis saluran akar. Pembukaan kamar pulpa untuk
setiap gigi mempunyai desain yang berbeda, suatu pembukaan yang dilakukan
dengan baik akan menghilangkan kesulitan-kesulitan teknis yang dijumpai
dalam perawatan saluran akar.
Kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi selama melakukan pembukaan kamar
pulpa adalah :
1. Perforasi Permukaan akar
Perforasi dapat terjadi ke arah proksimal atau labial. Perforasi disebabkan
karena preparasi pembukaan dilakukan dengan sudut yang tidak mengarah ke
kamar pulpa. Hal ini terjadi karena waktu melakukan preparasi akses, ditemui
kesulitan menemukan lokasi kamar pulpa walaupun dari gambaran foto
Rontgen jelas.
2. Perusakan dasar kamar pulpa
Bor yang memotong dasar kamar pulpa dapat menyebabkan terjadinya perforasi
pada furkasi. Selai itu, pemakaian bor fisur yang berujung datar akan membuat
dasar kamar pulpa menadi datar sehingga merusak bentuk corong alamiah orifis
yang akan menyulitkan pemasukan instrumen, paper point serta bahan pengisian
ke dalam saluran akar.
3. Preparasi saluran melalui tanduk pulpa
Preparasi yang terlalu dangkal akan menyebabkan saluran akar dicapai melalui
tanduk pulpa, selain itu akan menyulitkan pembersihan kamar pulpa dan saluran
akar dengan baik.
4. Membuat pembukaan proksimal
Pembukaan yang dilakukan melalui karies yang ada proksimal akan
menyebabkan instrumen yang dipakai untuk saluran akar harus dibengkokkan,
akibatnya preparasi saluran akar tidak tepat dan instrumen dapat patah dalam
saluran akar.
5. Membuat pembukaan yang terlalu kecil
Pembukaan yang terlalu kecil akan mengakibatkan terperangkapnya jaringan
pulpa terutama yang berada dibawah tanduk pulpa, juga akan menyulitkan
pencarian orifis sehingga saluran akar tidak dapat ditemukan.
6. Preparasi pembukaan melebar ke arah dasar kamar pulpa
Pada preparasi yang melebar ke arah dasar kamar pulpa akan mengakibatkan
melemahnya kemampuan menerima daya kunyah sehingga dapat melepaskan
tambalan sementara dan akhirnya terjadi kebocoran.
- Kesalahan Selama Preparasi Saluran Akar
Tahap preparasi saluran akar mencakup proses pembersihan (cleaning) dan
pembentukan (shaping). Pada tahap ini dapat terjadi kegagalan perawatan
saluran akar yang disebabkan oleh :
1. Instrumentasi berlebih (over instrumentasi)
Instrumen menembus ke luar melalui foramen apikal sehingga dapat
menyebabakan terjadinya inflamasi periapikal. Instrumentasi yang melewati
konstriksi apikal dapat mentransfer mikroorganisme dan mendorong bubuk
dentin dari saluran akar ke jaringan periapikal sehingga dapat memperburuk
hasil perawatan.
2. Instrumentasi kurang (underinstrumentasi)
Instrumen tidak mencapai panjang kerja yang benar sehingga pembersihan
saluran akar tidak sempurna, masih meninggalkan jaringan nekrotik di dalam
saluran akar.
3. Preparasi berlebihan
Yang dimaksud dengan preparasi berlebihan adalah pengambilan jaringan gigi
yang berlebih dalam arah mesio-distal dan buko-lingual. Hal ini dapat terjadi
dibagian koronal atau pertengahan saluran sehingga melemahkan akar dan dapat
menyebabkan fraktur akarselama berlangsungnya kondensasi.

4. Preparasi yang kurang


Preparasi yang kurang adalah kegagalan dalam pengambilan jaringan pulpa,
kikiran dentin dan mikroorganisme dari sistem saluran akar. Saluran dibentuk
sempurna sehingga pengisian kurang hermetis.
5. Terbentuknya birai (ledge) dan perforasi
Terbentuknya birai atau perforasi laterala dapat menghalangi proses
pembersihan, pembentukan dan pengisian saluran akar yang sempurna. Adanya
birai atau perforasi lateral akan meninggalkan bahan iritasi dan atau akan
menambah buruk keadaan pada ligamen perodontal sehingga prognosisnya
menjadi buruk.
6. Instrumen patah dalam saluran akar
Instrumen patah dalam saluran menyebabkan kesulitan tahap perawatan saluran
akar selanjutnya. Prognosisnya buruk bila saluran akar disebelah apical patahan
yang belum dibersihkan masih panjang atau fragmen patahan keluar dari
foramen apikal.
7. Kesalahan pada waktu irigasi saluran akar
Bila bahan irigasi yang dipakai bersifat toksik, dapat menyebabkan iritasi pada
jaringan periapikal. Cara penyemprotan bahan irigasi terlalu keras atau
memasukkan jarumnya terlalu dalam dapat mendorong bubuk dentin dan
mikroorganisme keluar dari foramen apikal, sehingga dapat mengiritasi jaringan
periapikal.
8. Kesalahan dalam sterilisasi saluran akar
Mikroorganisme masih tersisa di dalam tubuli dentin, saluran lateral atau
ramifikasi saluran akar karena obat-obat disinfeksi yang digunakan kurang
efektif, sehingga dapat menyebabkan terjadinya reinfeksi.
- Kesalahan Saat Pengisian Saluran Akar
Kegagalan perawatan saluran akar dapat disebabkan karena kesalahan-
kesalahan yang terjadi saat pengisian saluran akar, yaitu :
1. Pengisian yang tidak sempurna
Pengisian yang berlebih (overfilling), pengisian yang kurang (underfilling) atau
pengisian yang tidak hermetis, dapat memicu terjadinya inflamasi jaringan
periapikal, saluran akar dapat terkontaminasi bakteri dari periapikal sehingga
terjadi reinfeksi.
2. Pengisian saluran akar dilakukan pada saat yang tidak tepat.
Pengisian saluran akar dilakukan pada keadaan belum steril, masih terdapat
eksudat yang persisten atau masih terdapat sisa jaringan yang terinfeksi.
3. Pengisian saluran akar dilakukan pada keadaan tidak steril.
Keadaan rongga mulut maupun alat-alat yang digunakan pada waktu dilakukan
pengisian saluran akar, tidak steril.

3.5.3. Faktor Penyebab Kegagalan Pasca Perawatan


Kejadian pasca perawatan dapat menyebabkan kegagalan perawatan secara
langsung atau tidak langsung, misalnya.
1. Restorasi yang kurang baik atau desain restorasi yang buruk.
Restorasi yang baik akan melindungi sisa gigi dan mencegah kebocoran dari
rongga mulut kedalam sistem saluran akar. Restorasi pasca perawatan saluran
akar yang kurang baik akan menyebabkan terbukanya semen dan menyebabkan
terkontaminasinya kamar pulpa dan saluran akar oleh saliva dan bakteri,
sehingga mengakibatkan kegagalan perawatan saluran akar.
2. Trauma dan fraktur
Kesalahan preparasi pada waktu pembuatan pasak dapat menyebabkan
kegagalan perawatan. Pengambilan dentin saluran akar yang terlalu banyak
akan melemahkan akar gigi, sehingga dapat menyebabkan terjadinya fraktur
vertikal.
3. Terkenanya jaringan periodontal
Kegagalan bisa disebabkan karena non endodontik, walaupun perawatan saluran
akar dilakukan dengan baik. Hal ini dapat disebabkan karena efek merusak dari
perawatan ortodontik atau penyakit periodontium.

3.5.4. Tanda-Tanda Kegagalan Perawatan Saluran Akar


Di samping kurangnya konsensus mengenai kriteria untuk menilai keberhasilan
atau kegagalan, rentang waktu yang diperlukan bagi tindak lanjut pasca
perawatan yang memadai juga masih kontroversial. Periode yang dianjurkan
berkisar 6 bulan sampai 4 tahun. Keberhasilan yang nyata dalam kurun waktu
satu tahun bukan keberhasilan yang langgeng karena kegagalan mungkin terjadi
setiap saat. Penentuan berhasil atau tidaknya suatu perawatan diambil dari
pemeriksaan klinis dan radigrafis dan histologis (mikroskopis). Hanya temuan
klinis dan radiografis yang dapat dievaluasi dengan mudah oleh dokter gigi,
pemeriksaan histologis pada umumnya digunakan sebagai alat penelitian.

3.5.4.1. Tanda-tanda Kegagalan secara Klinis


Kegagalan perawatan saluran akar yang dilihat secara klinis yang lazim dinilai
adalah tanda gejala klinis, yaitu :
1. Rasa nyeri baik secara spontan maupun bila kena rangsang.
2. Perkusi dan tekanan terasa peka.
3. Palpasi mukosa sekitar gigi terasa peka.
4. Pembengkakan pada mukosa sekitar gigi dan nyeri bila ditekan.
5. Adanya fistula pada daerah apikal.

3.5.4.2. Tanda-tanda Kegagalan secara Radiografis


Kemungkinan kesalahan dalam interprestasi radiografis adalah faktor penting
yang dapat merumitkan keadaan. Konsistensi dalam jenis film dan waktu
pengambilan, angulasi tabung sinar dan film, kondisi penilaian radiograf yang
sama merupakan hal-hal yang penting untuk diperhatikan. Biasa perorangan
juga akan mempengaruhi interpretasi radiografis. Perubahan radiologis
cenderung bervariasi menurut orang yang memeriksanya sehingga pendapat
yang dihasilkan pun berbeda. Tanda-tanda kegagalan perawatan saluran akar
secara radiografis adalah adanya :
1. Perluasan daerah radiolusen di dalam ruang pulpa (internal resorption).
2. Pelebaran jaringan periodontium.
3. Perluasan gambaran radiolusen di daerah periapikal.

3.5.4.3. Tanda-tanda Kegagalan secara Histologis (Mikroskopis)


Karena kurangnya penelitian histologis yang terkendali dengan baik, ada
ketidakpastian mengenai derajat korelasi antara temuan histologis dengan
gambaran radiologisnya. Pemeriksaan histologis rutin jaringan periapikal pasien
jarang dilakukan. Tanda-tanda kegagalan secara histologis adalah :
1. Adanya sel-sel radang akut dan kronik di dalam jaringan pulpa dan
periapikal.
2. Ada mikro abses.
3. Jaringan pulpa mengalami degeneratif sampai nekrotik.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
4.1.1 Pembuatan Mahkota dan Jembatan
Pembuatan gigi tiruan jembatan dan mahkota tidak harus melalui pulpektomi.
Pulpektomi dilakukan apabila pulpa gigi dari gigi yang akan dipreparasi terkena
infeksi. Bila gigi dalam keadaan vital (pulpa belum terkena) maka pulpektomi
tidak perlu dilakukan.

4.1.2 Macam-Macam Perawatan Endodontik


4.1.2.1. ENDO KONVENSIONAL
1. PULP CAPPING
a. DIREK
b. INDIREK
2. PULPOTOMI
3. PERAWATAN S.A
a. PULPEKTOMI
b. ENDOINTRAKANAL
4. APEKSIFIKASI
4.1.2.2. ENDO BEDAH
1. KURETASE APEKS
2. RESEKSI APEKS
3. INTENTIONAL REPLANT
4. HEMISEKSI
5. IMPLAN ENDODONTIK

4.1.2.3 Indikasi umum perawatan endodonsia :


1. Gigi dengan kelainan yang telah mengenai jaringan pulpa dan periapikal
2. Sebagai pencegahan untuk menghindari infeksi jaringan periapikal
3. Untuk rencana pembuatan mahkota pasak
4. Sebagai penyangga / abunment gigi tiruan
5. Kesehatan umum pasien baik
6. Oral hygiene pasien baik
7. Masih didukung jaringan penyangga gigi yang baik
8. Pasien bersedia untuk dilakukan perawatan
9. Operator mampu.

4.1.2.4. Kontraindikasi perawatan endodonsia :


1. Gigi yang tidak dapat direstorasi lagi
2. Tidak didukung jaringan penyangga gigi yang cukup
3. Gigi yang tidak strategis, tidak mempunyai nilai estetik dan fungsional.
Misalnya gigi yang lokasinya jauh di luar lengkung.
4. Fraktur vertikal
5. Resorpsi yang luas baik internal maupun eksternal
6. Gigi dengan saluran akar yang tidak dapat dipreparasi; akar terlalu bengkok,
saluran akar banyak dan berbelit-belit.
7. Jarak interoklusal terlalu pendek sehingga akan menyulitkan dalam
instrumentasi.
8. Kesehatan umum pasien buruk
9. Pasien tidak bersedia untuk dilakukan perawatan
10. Operator tidak mampu.

4.1.3 Prosedur Perawatan Endodontik Konvensional


4.1.3.1 Pulp Capping
Langkah-langkah Pulp Capping :
1. Siapkan peralatan dan bahan.
2. Isolasi gigi.
3. Preparasi kavitas.
5. Ekskavasi karies yang dalam
6. Berikan kalsium hidroksida.

4.1.4 Teknik Perawatan Saluran Akar


Tahap-tahap perawatan endotektomi :
- Membuat foto untuk diagnose dan rencana perawatan
- Menyiapkan file, paper point
- Melakukan devitalisasi untuk gigi yang masih vital
- Untuk gigi non vital dilakukan pre sterilisasi
- Open bur, mengambil atap pulpa, mencari orifice : preparasi cavity entrance
- DWF ; tentukan panjang kerja
- Preparasi saluran akar dengan file, irigasi, foto preparasi : teknik
konvensional, teknik step back, teknik crown down
- Sterilisasi memakai paper point, obat, kapas steril, tumpatan sementara.
Sterilisasi ulang, sampai paper point kering dan tidak berbau
- Tes perbenihan
- Pengisian pasta Zn Oxide Eugenol : teknik single cone, teknik kondensasi
lateral, teknik kondensasi vertikal
- Foto pengisian
- Basis Zn PO4
- Control 2 minggu kemudian, apabila tidak ada keluhan, dapat ditumpat tetap.

4.1.5 Faktor yang Menyebabkan Kegagalan Perawatan Saluran Akar


1. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu
perawatan saluran akar adalah faktor patologi, faktor penderita, faktor
perawatan, faktor anatomi gigi dan faktor kecelakaan prosedural.
2. Macam-macam penyebab terjadinya kegagalan suatu perawatan saluran akar
adalah kesalahan yang terjadi pada tahap praperawatan, kesalahan selama
perawatan dan kegagalan pascaperawatan.
3. Tanda-tanda kegagalan perawatan saluran akar yang mudah ditentukan oleh
dokter gigi adalah dengan cara pemeriksaan klinis dan radiologis, cara
histologis jarang dilakukan.
4. Kegagalan perawatan saluran akar sebagian besar disebabkan oleh faktor
kesalahan selama perawatan dan pengisian saluran akar yang tidak sempurna.

Konsep mapping

fraktur

subjektif
pemerikksaaan objektif
rontgen
indikasi
perawatan kegagalan dan keberhasilan perawatan

DAFTAR PUSTAKA

Bence, R. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik, terjemahan Sundoro. Jakarta : Penerbit Universitas
Indonesia.
Cohen, S. and Burns, R.C. 1994. Pathway of the pulp. 6 th ed. St. Louis : Mosby.
Guttman, J.L. 1992. Problem Solving in Endodontics, Prevention, identification and management. 2
nd ed., St louis : mosby Year Book.
Grossman, L.I., Oliet, S. and Del Rio, C.E., 1988. Endodontics Practice. 11 th ed. Philadelphia : Lea &
febiger.
Harty. FJ. alih bahasa Lilian Yuono. 1992. Endodontik Klinis. Jakarta : Hipokrates.
Ingle, J.L. & Bakland, L.K. 1985. Endodontics. 3 rd ed. Philadelphia : Lea & Febiger.
Mardewi, S. K.S.A. 2003. Endodontologi, Kumpulan naskah. Cetakan I. Jakarta : Hafizh.
Tarigan, R. 1994. Perawatan Pulpa Gigi (endodonti). Cetakan I, Jakarta : Widya Medika.
Walton, R. and Torabinejad, M., 1996. Principles and Practice of Endodontics. 2nd ed. Philadelphia :
W.B. Saunders Co.
Weine, F.S. 1996. Endodontics Theraphy. 5 th ed. St. Louis : Mosby Year Book. Inc