Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN HASIL SGD 4 LBM 2 BLOK 17

Kegagalan Perawatan Saluran Akar


dan Perawatan Ulang

Nama Anggota SGD 4 :

1. Paulus Yohanes 112100157


2. RR Monika Rahardian 112100164
3. Thuba Fithriana 112100171
4. Annisa Dayu Sinatria 31101200243
5. Amalia Nurul Fahmi 31101200246
6. Cindy Azalea Harosa P 31101200250
7. Seplisya Dwi Astria 31101200263
8. Silma Nurul Azkia 31101200275
9. Saras Ayu Wedhayanti 31101200277
10. Rizki Intan Wahyu U 31101200288
11. Rizal Prakoso Setyo 31101200293
12. Adlina Fildzah M 31101200297
13. Selvia Rachmawati 31101200312

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2013 / 2014

1
DAFTAR ISI

Cover.................................................................................................................1

Daftar isi............................................................................................................2

Kata pengantar..................................................................................................3

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar belakang.................................................................................4

1.2 Identifikasi masalah.........................................................................4

Bab II Pembahasan

Pembahasan................................................................................................6

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan...........................................................................................13

3.2 Kritik dan saran.....................................................................................14

Daftar Pustaka..................................................................................................15

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kami semua, sehingga kami bisa menyelesaikan laporan hasil SGD 4 LBM 2
Blok 17 “Kegagalan Perawatan Saluran Akar dan Perawatan Ulang”. Laporan ini disusun untuk
memenuhi tugas SGD yang telah dilaksanakan. Meskipun banyak hambatan dan rintangan yang kami
alami dalam proses pengerjaannya, tapi kami berhasil menyelesaikannya dengan baik.

Keberadaan makalah ini sungguh sangat membahagiakan, karena selama ini


mahasiswa kedokteran gigi dapat belajar mengenai topik atau subjek yang memang harus
dipelajari. Selain itu kita sebagai mahasiswa kedokteran gigi juga sudah seharusnya mengenal
dan memahamikaries gigi pada anak.

Tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah
membantu kami dalam mengerjakan laporan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah bersusah payah membantu baik langsung
maupun tidak langsung dalam pembuatan laporan ini.

Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada masyarakat dari hasil laporan
ini. Karena itu kami berharap semoga laporan ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi
kita bersama. Pada bagian akhir, kami akan mengulas tentang berbagai pendapat dari orang-
orang yang ahli di bidangnya, karena itu kami harapkan hal ini juga dapat berguna bagi kita
bersama. Semoga laporan yang kami buat ini dapat membuat kita mencapai kehidupan yang
lebih baik lagi. Amin.
Jazakumullhahi khoiro jaza’

Semarang, 11 Desember 2014

Penyusun

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diketahui bahwa banyaknya mahasiswa yang belum memahami benar


mengenai ” Kegagalan Perawatan Saluran Akar dan Perawatan Ulang” dan
kesulitan dalam mencari sumber belajar yang tepat dan dapat dipercaya. Dalam
kenyataannya menunjukkan bahwa tidak banyak mahasiswa yang mau bersusah
payah untuk mencari jawaban ataupun sumber-sumber belajar secara terperinci dan
jelas. Oleh karena itu perlu diupayakan suatu pembelajaran yang dapat
meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami dan mendapatkan sumber
belajar mengenai “Kegagalan Perawatan Saluran Akar dan Perawatan Ulang” yang
baik agar dapat menyelesaikan soal pembelajaran.

Upaya meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menemukan sumber


belajar merupakan suatu upaya yang paling logis dan realistis. Dosen ataupun
Tutor sebagai salah satu faktor penting dalam upaya peningkatan keberhasilan
pendidikan di Universitas, khususnya dalam peningkatan aktivitas dan hasil
belajar, harus berperan aktif serta dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat
untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Dosen perlu juga memperhatikan
penggunaan media pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi sehingga
akan sangat membantu mahasiswa dalam menyelesaikan masalah dan memahami
materi atau konsep “Kegagalan Perawatan Saluran Akar dan Perawatan Ulang” yang
diberikan oleh dosen pembimbing.

1.2 Identifikasi Masalah


1. Penyebab bau yang keluar dari gigi
2. Faktor yang menyebabkan kegagalan PSA
3. Penyebab pengisian yang tidak hermetis
4. Tata cara rontgen pada gigi akar ganda, SLOB
5. Tanda-tanda kegagalan Perawatan PSA
6. Indikasi dan Kontraindikasi Retraetment
7. Restorasi yang tepat untuk skenario
8. Kapan kita menggunakan onlay,inlay,crown dan amalgam,overlay?

4
9. Penyebab Kebocoran
10. Gambaran rontgen radiopaq dan diffuse radiolusenpada skenario
11. Penyebab gigi goyang derajat 1
12. Penyebab nyeri pada skenario
13. Penatalaksanaan dan bagaimana jika dilakukan PSA ulang
14. Perbedaan prinsip stepback dengan crown down
15. Prognosa pada kasus skenario
16. Diagnosa pada kasus di skenario
17. penyebab tambalan bocor dan berubah warna
18. Kelebihan dan Kekurangan Bahan Medikamentosa

5
BAB II

PEMBAHASAN

1. Penyebab bau yang keluar dari gigi


 Karena adanya fistula,dan fistula adalah jalan keluar dari pus
 Gigi nekrosis dan menyebabkan keluarnya H2S dan amonia sehingga
menyebabkan bau

2. Faktor yang menyebabkan kegagalan PSA

Ada 3 penyebab kegagalan PSA

 Pra Perawatan
 Diagnosa yang salah
 seleksi kasus yang buruk,
 dalam mengakan prognosis buruk
 dilihat dalam kondisi periodontal dan periapikal
 Saat diagnosis dan seleksi kasus buruk dan dokter tetap melakukan
perawatan.
 ketrampilan operator yang kurang
 mikroorganisme yang infeksi intraradikuler
 kesehatan umum pasien yang buruk( jantung,DM tidak terkontrol)

 Perawatan
 pembuatan akses yang tidak sesuai
 karena tahap pembersihan yang tidak benar dan harus sesuai dengan triad
endodontik
 instrumentasi yang melewati apeks sehingga serpihan dentin dan bakteri
terdorong, saat pengisian saluran akar overfilling dan underfilling(tidak
mencapai panjang kerja)
 tidak hermetis dalam pengisian,instrument patah
 pada pembukaan kamar pulpa yang terlalu kecil.
 Pasca perawatan
 Kesalahan dari restorasi misal karena tambalan yang tidak adekuat
 kesalahan dalam pemilihan bahan
 restorasi pasca perawatan harus punya kekuatan yang baik dan kerapatan
yang baik
 restorasi yang tidak adekuat

6
 faktor anatomis gigi: karena saluran akar lateral yang tidak terdeteksi
sehingga waktu irigasi tidak ikut teririgasi sehingga bakteri tetap
akumulasi dan menyebabkan infeksi skunder
 bahan kalsium hidroksida bertemu dengan eugenol akan menyabakan
ikatan iogenik dan akan menyebabkan kebocoran tepi tambalan,dikasus
skenario juga

3. Penyebab pengisian yang tidak hermetis

 Faktor anatomis yang banyak


 Rontgen dibutuhkan gigi dibuat 3 dimensi (metode dekalsifikasi root
filling)
 Saluran lateralis yang belum jadi berpengaruh pada pengisian
 Lalainya pemberian lapisan semen pada cone tambahan
 Gagal masuknya cone tambahan pada panjang kerja dan bisa menyababkan
cairan dari luar masuk dan meyebabkan iritasi
 Masterconae tidak sesuai perhitungan
 Asosoris cone yang dimasukan tidak sesuai dengan spreader cone nya

4. Tata cara rontgen pada gigi akar ganda, SLOB

SLOB teknik pemgambilan rontgen yang mempunyai akar lebih dari satu
 Tujuannya untuk melihat saluranj akar yang overlapping
 Tata cara: pemotretan pertama dengan standar lalu dengan menggeser kearah
mesial atau distal.

7
Metode SLOB di perluakan 2 kalin radiografi, merubah berkas dalam arah
vertikal atau horizontal,yang pertama vertikal sudutnya lurus yang kedua
sudutnya lebih ke arah ke distal,
Yang vertikal : pertama dengan cone lurus, lalu cone lebih naik dilakukan
2 kali pemotretan.
Sekali tembak ada dengan sudut 10 drajat dari sumbu gigi

 Prinsip : balok atau lengan harus berlawanan dengan tubehead saat di


pindahkan harus ada perubahan angulasi vertikal atau horizontal

5. Tanda-tanda kegagalan Perawatan PSA

 Dilihat secara klinis : tekan terasa sakit,nyeri spontan maupun rangsangan


nyeri,terdapat pembengkakan dan terdapat fistula
 Radiografis : terlihat gambaran radiolusen dari pengisiaan,dari resorbsi
interna,dari pulpanya ,jika ada lesi lesi itu membesar atau tetap
menetap,pelebaran peridontium
 Histologis: adanya mikroabses,jaringan pulpa mengalami degeneratif

6. Indikasi dan Kontraindikasi Retraetment

Indikasi:
Kelainan di periapikal
Terjadinya Coronal leakege
Didukung jaringan penyangga yang kuat
Lesi periodontal yang menetap pada PSA yang pertama ada keluhan,dan lesi tidak
mengecil
Nyeri menetap
Tanda tanda klinis pembengkakan
Akar harus masih bisa dilakukan perawatan
Ada sinus tract

Kontraindikasi:
Daerah bifurkasi terdapat karies
Keadaan umum memburuk (DM yang tidak terkontrol)
Keadaan periodontal yang tidak baik (sudah terlalu beuruk,pelebaran sudah aparah
dan kegoyangan
Resorbsi akar yang luas
Terjadinya fraktur(fraktur vertikal karena susah di treatment)
Resiko terjadinya perforasi

pada skenario yang dilakukan pertama adalah scalling,open dari kavitas tidak perlu
dibuka semua

8
7. Restorasi yang tepat untuk skenario
Bisa menggunakan onlay karena jika pakai RK tidak terlalu kuat

8. Penggunaan onlay,inlay,crown dan amalgam,overlay

1. Inlay
Inlay adalah restorasi yang digunakan pada gigi yang di preparasi pada
bagian Oklusal Distal (OD), Oklusal Mesial (OM) atau Mesio Oklusal Distal
(MOD). Inlay sudah jarang digunakan untuk kavitas sederhana dan umumnya
hanya digunakan untuk gigi-gigi yang berkebutuhan khusus, seperti gigi yang
sudah lemah karena karies dan cenderung fraktur bila tidak dilindungi atau
bila retensi sulit dibuat. Berikut ini merupakan macam klas pada inlay

2. Onlay
Onlay adalah restorasi pada gigi yang morfologi oklusalnya
mengalami perubahan karena restorasi sebeltorasi inumnya, karies, atau
penggunaan fisik. Restorasi ini meliputi seluruh yang meliputi seluruh daerah
oklusal yang meliputi cusp-cusp gigi

3. Mahkota/ crown
Restorasi gigi yg menutupi atau mengelilingi seluruh permukaan gigi yg
telah dipreparasi. Restorasi ini dibuat untuk gigi yang mengalami kerusakan
sehingga tidak bisa ditambal lagi tetapi gigi tersebut masih vital. Restorasi ini
biasanya digunakan pada gigi premolar dan molar rahang bawah karena
karies yang luas atau tambalan yang rusak

4. Amalgam
merupakan campuran atau beberapa logma atau alloy, kurang baik di gunakan
pasca perawatan endodontik kareena retensi nya secara mekanik sehingga
membutuhkan jaringan gigi yang banyak sehingga kurang untuk restorasi
perawatan akhir perawatan endodontik
indikasi : pada karies yang tinggi ,kasus koronal lekeage butuh bahan yang
kompatibel dan kuat dan harus punya koefisien yg thermal (resin kumposit
tergantung dari lutting agent

9. Penyebab Kebocoran
Pemilihan yang salah dalam Restorasi dan tidak Hermetis

10. Gambaran rontgen radiopaq dan diffuse radiolusenpada skenario


Ada hunungan dengan dengan Gutap yang terlalu tinggi dan kebocoran dari
restorasi,dari bahan Restorasi, Diffuse radiolusen: karena abses

9
11. Penyebab gigi goyang derajat 1

Karena Abses

Mekanisme :
Abses menekan dari Ligamen Periodontal sehingga menyebabkan kogoyangan,dari
bakteri masukinvasi bakteripembuluh darahjaringan apikalmemfagosit
sel bakterimenghapus jejas dan menimbulkan penimbunan pus dan
mendorong ligamen kogoyangan

12. Penyebab nyeri pada skenario

Karena Abses pulpa nekrosismenyebabkan kondisi anaerobbakteri tambah


banyak mulai menginvasi syaraf dan menimbulkan sakit
Pelebaran dari Periodontalnya dan terjadi infeksi

13. Penatalaksanaan dan bagaimana jika dilakukan PSA ulang

Scallingopen aksesinstrument bisa masuk ke saluran akar tanpa


terhalangirigasi karena dahulu udah pernah psa diambil gutap irigasi 
dilakukan pengukuran mengukur panjang kerja

14. Perbedaan prinsip stepback dengan crown down

 Stepback
 Digunakan pada saluran akar lurus atau sempit
 Trauma apikal lebih kecil
 Preparasi dimulai sepertiga apikal
 Dimulai dari instrumen yang kecil
 Bisa mendorong debris ke arah apikal
 Terjadi perubahan atau pemendekan panjang kerja
 Sudah lama digunakan
 Untuk menghindari penyempitan apikal dan saluran yang melengkung
 Dengan bahan Stainless steel
 Preparasi dimulai dari apikal ke korona gerekan pull and push

 CrownDown
 Preparasi dari sepertiga koronal
 Dimulai dari instrumen besar
 Menggunakan alat putar keuntungannya: reparasi lebih lebar, saluran lebih
baik dan lebih mudah obturasi
 Menghilangkan jaringan apikal

10
 Dengan menggunakan Niken Titanium
 Sepertiga tengah sepertiga Korona  apikal  sepertiga apikal
(memutar tanapa tekanan) diganti kelebih kecil instrumennya

15. Prognosa pada kasus skenario


Baik ,karena jika pengisian yang hermetis baik tetapi jika pengisian yang tidak
hermetis maka buruk
Prognosa:keadaan sistemik, IntraOral,Jaringan periodontal

16. Diagnosa pada kasus di skenario


Nekrosis Pulpa disertai dengan Abses Apikal Kronis

17. Penyebab tambalan bocor dan berubah warna

Tambalan bocor karena tidak adekuat,salah pemilihan bahan tambalan


Jika menggunakan eugenol bisa mempengaruhi warna komposit
Tambalan bocor dan berubah warna (tergantung filler yang dipakai)

18. Kelebihan dan Kekurangan Bahan Medikamentosa

1. Eugenol
Bahan ini adalah zesens (essence) kimiawi minyak cengkeh dan mempuyai
hubungan dengan fenol. Agak lebih mengiritasi dari minyak cengkeh dan
keduanya golongan anodyne. Eugenol menghalangi impuls saraf interdental.
Biasanya digunakan unuk perawatan pulpektomi. Bagian dari sealer
(endomethasone-eugenol) dan bahan canpuran tumpatan sementara. (Zn Oksid-
eugenol).

2. ChKM (Chlorphenol kamfer menthol)


Terdiri dari 2 bagian para-klorophenol dan 3 bagian kamfer. Daya disinfektan
dan sifat mengiritasi lebih kecil daripada formocresol. Mempunyai spektrum
antibakteri luas dan efektif terhadap jamur.
Bahan utamanya; para-klorophenol. Mampu memunaskan berbagai
mikroorganisme dalam saluran akar.
Kamfer sebagai sarana pengencer serta mengurangi efek mengiritasi dari para-
klorophenol murni. Selain itu juga memperpanjang efek antimikrobial
Menthol mengurangi sifat iritasi chlorphenol dan mengurasi rasa sakit.

3. Cresatin
Dikenal juga sebagai metakresilasetat. Bahan ini merupakan cairan jernih, stabil,
berminyak dan tidak mudah menguap. Mempunyai sifat antiseptik dan
mengurangi rasa sakit. Efek antimikrobial lebih kecil dari formocresol dan
ChKM, sifat mengiritasi jaringan periapikal lebih kecil daripada ChKM. Sifat
anodyne cresatin terhadap jarigan vital baik sekali, sehingga sering dipakai
sebagai bahan dressing pasca pulpektomi.

11
4. Cresophene
Terdiri dari: chlorphenol, hexachlorophene, thymol, dan dexamethasone,
yaitu sebagai anti-phlogisticum. Pemakaian terutama pada gigi dengan permulaan
periodontitis, apikalis akuta yang dapat terjadi misalnya pada peristiwa
overinstrumentasi.

5. Formocresol
Kombinasi formalin dan kresol dalam perbandingan 1:2 atau 1:1, Formalin
adalah disinfektan kuat yang bergabung dengan albumin membentuk suatu
substansi yang tidak dapat dilarutkan, tidak dapat menjadi busuk . Pada beberapa
pengujian mampu menimbulkan efek nekrosis dan inflamasi persisten pada
jaringan vital. Selain itu juga bisa menimbulkan respon imun berantara-sel.
Dianjurkan digunakan dalam konsentrasi rendah.

6. Glutardehide
Minyak tanpa warna yang larut dalam air. Seperti formalin obat ini disinfektan
kuat dan fiksatif. Dianjurkan digunakan dalam konsentrasi rendah (2%) sebagai
obat intrasaluran. Pada penelitian ditemukan sedikit atau tidak ada reaksi
inflamasi pada pemeriksaan histologik.

7. TKF (Trikresol formalin)


Adalah campuran ortho, metha, dan para-cresol dengan formalin. Bersifat
merangsang jaringan periapikal dan menyebabkan jaringan menjadi nekrosis.

8. CaOH
Kompound ini juga telah digunakan sebagai medikamen saluran akar. Studi
singkat oleh Grosman dan Stevens menemukan kalsium hidroksida tidak seefektif
klorofenol berkamfer. Pengaruh antiseptiknya mungkin berhubungan dengan pH
yang tinggi dan pengaruhnya melumerkan jaringan pulpa nekrotik. Tronstad dkk,
menunjukkan bahwa CaOH menyebebkan kenaikan signifikan pH dentin
sirkumpulpal bila kompoun diletakkan pada saluran akar. Pasta CaOH paling baik
digunakan pada perawatan antar kunjungan dengan penundaan yang lama karena
bahan ini tetap manjur selama berada di dalam saluran akar.

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari hasil kegiatan SGD 4 LBM 2 di blok 17 mengenai “Kegagalan Perawatan


Saluran Akar dan Perawatan Ulang” , didapatkan kesimpulan yang dijelaskan
melalui peta konsep sebagai berikut :

PSA

Keberhasilan Kegagalan

Retreatment

Indikasi Kontraindikasi

Prognosis

13
3.2 Kritik dan Saran

 Carilah sumber belajar dari manapun dan media apa saja yang ada disekitar
lingkunganmu.

 Terapkan bagaimana cara mendapatkan sumber belajar yang akurat.

 Jangan pernah berpedoman hanya dengan 1 sumber.

14
Daftar Pustaka

Walton RE. Torabinejad M. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia, Ed. 3. Jakarta: EGC. 2008. p. 20-2

Bergenholtz G. Bindslev PH. Reit C. Texbook of Endodontology. 2nd ed. United Kingdom: Willey-
Blackwell. 2010. p. 17

Grossman LI. Oliet S. Rio CED. Ilmu Endodontik dalam Praktik. Ed.11. Jakarta: EGC. 1995. p. 40-8

http://books.google.co.id/books?id=mO6Z07lHQO4C&pg=PA185&lpg=PA185&dq=rontgen
+same+lingual+opposite+buccal&source=bl&ots=F-
2dnCkRXS&sig=Cyh6S6QjfpNv3XJxftUTTvFu8DQ&hl=id&sa=X&ei=mEmAVM_BI8aeu
gSm1ICIAQ&redir_esc=y#v=onepage&q=rontgen%20same%20lingual%20opposite%20buc
cal&f=false

Makalah Restorasi Logam Konservasi Gigi. Drg.Ateen Nurea

https://www.academia.edu/6483544/Teknik_Preparasi_Saluran_Akar

unmas-library.ac.id/wp-content/uploads/2014/06/SKRIPSI3.pdf

15