Anda di halaman 1dari 102

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

ELEKTRONIKA

Oleh :
Kelompok 2
NAMA MAHASISWA NIM
1. Ahmad Wahyu Tri Utama 141910201030
2. Dwi Sukma Aji 141910201031
3. Drajat Kurniawan 141910201033
4. Joni Pranata 141910201034
5. Rizqi Afif 141910201036

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2015
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


MATAPRAKTIKUM ELEKTRONIKA

Diajukan sebagai prasyarat telah melaksanakan Praktikum dan Asistensi

Matapraktikum Elektronika

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER

Jember, 11 Desember 2015


Dosen Pembina Matapraktikum PLP Laboratorium Elektronika Terapan

Sumardi, S.T., M.T. Kurniawan Hidayat, S.T.


NIP. 19670113 199802 1 001 NRP. 760014681

iii
LEMBAR ASISTENSI

LAPORAN AKHIR
MATAPRAKTIKUM ELEKTRONIKA

Diajukan sebagai prasyarat telah melaksanakan Praktikum dan Asistensi

Matapraktikum Elektronika

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER

Jember, 11 Desember 2015

Nama Asisten Tanda Tangan Nilai


1. Sujarwo
NIM.121910201118
2. Linda Atmawati
NIM.121910201017
3. Miftah Farid
NIM.121910201085
4. Sofyan Ahmadi
NIM.131910201002
5. Abdur Rokhim
NIM.131910201010
6. Riski Suryadi A.
NIM.131910201084
7. Mirza Kurnia
NIM.131910201097
8. Fathor Rohman
NIM.131910201105

iv
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala
rahmat, nikmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan
ini dengan baik. Adapun laporan ini disusun sebagai prasyarat telah menempuh
matapraktikum Elektronika.
Dalam usaha menyelesaikan laporan ini, penulis menyadari sepenuhnya akan
keterbatasan waktu dan pengetahuan, sehingga tanpa bantuan dan bimbingan dari semua
pihak tidaklah mungkin berhasil dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak Sumardi S.T., M.T. selaku Dosen Pembina Matapraktikum yang telah
memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis.
2. Bapak Kurniawan Hidayat S.T. selaku PLP Laboratorium Elektronika dan Terapan
yang telah memberikan arahan kepada penulis.
3. Sujarwo, Linda Atmawati, Miftah Farid, Sofyan Ahmadi, Abdur Rokhim, Riski
Suryadi A., Mirza Kurnia dan Fathor Rohman selaku asisten Laboratorium
Elektronika dan Terapan yang telah banyak memberikan arahan-arahan serta
bimbingan kepada penulis.
4. Rekan satu kelompok penulis yang telah banyak memberi dorongan, semangat dan
motivasi kepada penulis.
5. Dan kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu dan telah
banyak membantu dalam penyusunan laporan ini.
Mengingat keterbatasan kemampuan yang penulis miliki, maka penulis menyadari
bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, walaupun demikian penulis
berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca umumnya dan bagi
penulis khususnya.

Jember, 5 Desember 2015

Penulis

v
DAFTAR ISI

1. Halaman Sampul.................................................................................................. i
2. Halaman Judul ..................................................................................................... ii
3. Lembar Pengesahan
4. Lembar Asistensi ................................................................................................. iii
5. Kata Pengantar ..................................................................................................... iv
6. Daftar Isi .............................................................................................................. v
7. Laporan Hasil Praktikum
a. Praktikum 1. Bias Maju dan Bias Mundur .................................................... 1
b. Praktikum 2. Rangkaian Clipper Clampper .................................................. 13
c. Praktikum 3. Full Wave dan Half Wave ........................................................ 32
d. Praktikum 4. Transistor Bipolar .................................................................... 53
e. Praktikum 5. Bias Basis Transistor NPN ....................................................... 68
f. Praktikum 6. Penguat Transistor Kelas A...................................................... 82
g. Praktikum 7. Field Effect Transistor .............................................................. 97
8. Daftar Pustaka...................................................................................................... 110

vi
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM 1
BIAS MAJU DAN BIAS MUNDUR

Oleh :
Kelompok 2
NAMA MAHASISWA NIM
1. Ahmad Wahyu Tri Utama 141910201030
2. Dwi Sukma Aji 141910201031
3. Drajat Kurniawan 141910201033
4. Joni Pranata 141910201034
5. Rizqi Afif 141910201036

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2015

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Mahasiswa mengerti dan mengetahui bagaimana prinsip kerja dari dioda.
2. Mahasiswa mengetahui diode bias maju dan mundur.

1.2 Latar Belakang


Arus atau tegangan tersebut harus benar-benar rata tidak boleh berdenyut-denyut agar
tidak menimbulkan gangguan bagi peralatan yang dicatu. Ketika suatu sambungan dibentuk
dari bahan semikonduktor tipe-P dan tipe-N, perangkat yang dihasilkan disebut diode.
Komponen ini memberikan resistansi sangat rendah terhadap aliran arus pada satu arah dan
resistansi yang sangat tinggi terhadap aliran arus pada arah yang berlawanan. Karakteristik
ini memungkinkan dioda untuk memberikan tanggapan yang berbeda sesuai arah arus yang
mengalir di dalamnya.
Dioda sebagai salah satu komponen aktif juga sangat populer digunakan dalam
rangkaian elektronika, karena bentuknya sederhana dan penggunaannya sangat luas. Ada
beberapa macam rangkaian dioda, diantaranya : penyearah setengah gelombang (Half-Wave
Rectifier), penyearah gelombang penuh (Full-Wave Rectifier), rangkaian pemotong
(Clipper), rangkaian penjepit (Clamper) maupun pengganda tegangan (Voltage Multiplier).
Dioda memiliki fungsi yang unik yaitu hanya dapat mengalirkan arus satu arah saja. Struktur
dioda tidak lain adalah sambungan semikonduktor P dan N. Satu sisi adalah semikonduktor
dengan tipe P dan satu sisinya yang lain adalah tipe N. Dengan struktur demikian arus hanya
akan dapat mengalir dari sisi P menuju sisi N.
Dioda-dioda seringkali dikelompokkan menjadi jenis sinyal dan jenis rectifiernya
sesuai dengan bidang aplikasi utamanya. Diode sinyal membutuhkan karakteristik bias maju
yang jatuh tegangan maju yang rendah. Diode sinyal membutuhkan karakteristik bias maju
yang konsisten dengan jatuh tegangan maju yang rendah.
Dioda rectifier harus dapat menangani tegangan balik yang tinggi dan tegangan maju
yang besar. Dalam praktikum ini, kita akan mengukur tegangan dari sebuah dioda yaitu
dioda IN 4007 dan menggambarkan kurva yang dihasilkan dan membandingkannya apakah
sama dengan kurva yang kita pelajari di teori.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori


Sebuah dioda dibangun dari 2 macam semikonduktor ekstrinsik (yaitu tipe N dan tipe
P). Kedua macam tipe semikonduktor tersebut digabungkan dengan teknik tertentu sehingga
menjadi komponen elektronika yang sering disebut sebagai dioda. Dari namanya “di“
menunjukkan dua dan elektroda. Gambar dua daerah semikonduktor pada dioda dan simbol
dioda pada gambar dibawah ini:

Gambar 1 Simbol dan Skema Dioda


Satu sisi dari dioda disebut anoda, yang lain katoda. Katoda ada pada ujung depan
dari segitiga. Komponen dioda sering berbentuk silinder kecil dan biasa diberi lingkaran
pada katoda untuk menunjukkan posisi garis dalam lambang.
Ketika anoda mendapatkan voltase yang lebih positif dari pada katoda, maka arus
bisa mengalir dengan bebas. Dalam situasi ini dikatakan dioda dibias maju (forward bias).
Kalau voltase dibalikkan, berarti katoda positif terhadap anoda, arus tidak bisa mengalir
kecuali suatu arus yang sangat kecil. Dalam situasi ini dikatakan dioda dibias mundur
(reverse bias).
Arus yang mengalir ketika dioda dibias mundur disebut arus balik atau arus bocor
dari dioda dan arus itu begitu kecil sehingga dalam kebanyakan rangkaian bisa diabaikan.
Supaya arus bisa mengalir ke arah maju, voltase harus sebesar ≈ 0,7 V pada dioda Silikon
dan ≈ 0,3 V pada dioda Germanium.
Dioda banyak jenisnya antara lain : dioda penyearah, Light Emitting Diode, Photo
Diode, Dioda Zener, Dioda Varactor dan Dioda Scotchy. Yang masing-masing mempunyai
karakteristik tertentu.

3
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Gambar Rangkaian


a. Bias Maju

Gambar 2 Rangkaian Bias Maju


b. Bias Mundur

Gambar 3 Rangkaian Bias Mundur

4
3.2 Alat dan Bahan
1. Power supply 1 buah
2. Resistor 1 buah
3. AVOmeter 2 buah
4. Jumper secukupnya

3.3 Prosedur Kerja


A. Menentukan karakteristik dioda bias maju :
1. Merakit rangkaian dioda dibias maju pada project board seperti gambar.
2. Menghubungkan catu daya DC dengan rangkaian yang telah dirakit.
3. Mengatur tegangan masukan seperti tabel.
4. Mengukur nilai VD dan ID.
5. Mencatat hasil pengukuran.
6. Membuat grafik tegangan VD fungsi dari arus ID dari dioda yang dibias maju.
B. Menentukan karakteristik dioda bias mundur :
1. Merakit rangkaian dioda dibias mundur pada project board seperti dalam gambar.
2. Menghubungkan catu daya DC dengan rangkaian yang telah dirakit.
3. Mengatur tegangan masukan dengan nilai seperti Tabel.
4. Mengukur nilai VD dan ID.
5. Mencatat hasil pengukuran.
6. Membuat grafik tegangan VD fungsi dari arus ID dari dioda yang dibias mundur

5
BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Data Hasil Percobaan


4.1.1 Bias Maju
No. VD (V) ID (mA)
1 0,0 0
2 0,1 0
3 0,2 0
4 0,3 0
5 0,4 0,1
6 0,5 0,25
7 0,6 0,35
8 0,7 0,60

4.2.2 Bias Mundur


No. VD (V) ID (mA)
1 0 0
2 -0,2 0
3 -0,4 0
4 -0,6 0
5 -0,8 0
6 -1,0 0
7 -1,2 0
8 -1,4 0
9 -1,6 0
10 -1,8 0
11 -2,0 0

6
4.2 Analisa Pembahasan
Pada praktikum Rangkaian Elektronika ini, kami melakukan pengukuran tegangan
dan arus pada dioda yang dirangkai secara forward bias dan reverse bias. Sekilas pengertian
tentang dioda, diode merupakan komponen elektronika aktif yang pada umumnya bersifat
semikonduktor, yang memperbolehkan arus listrik mengalir ke satu arah (kondisi forward
bias) dan menghambat arus dari sebaliknya (kondisi reverse bias). Terdapat 2 jenis bahan
dalam pembuatan diode, yaitu bahan Germanium dan Silikon di mana 2 bahan tersebut
memiliki karakteristik masing-masing. Pada diode Germanium, supaya arus bias mengalir
maju, tegangan pada diode harus lebih dari atau sama dengan sebesar 0,3V. Sedangkan pada
diode Silikon, supaya arus bias mengalir maju, tegangan pada diode harus lebih dari atau
sama dengan 0,7V. Dioda sedang dibias maju atau dalam kondisi forward bias apabila anoda
mendapat tegangan yang lebih positif dari katoda, sehingga arus bias mengalir dengan bebas.
Jika kondisinya dibalik (katoda lebih positif dari anoda), maka arus tidak bias mengalir
kecuali arus yang sangat kecil. Dalam kondisi ini, diode dikatakan sedang atau dalam kondisi
reverse bias.
Dalam praktikum ini, kami memerlukan alat dan bahan sebagai berikut. Satu buah
power supply, 1 buah resistor berukuran atau bernilai sebesar 330Ω, 2 buah AVOmeter, 1
buah diode, dan kabel jumper sederhana. Adapun fungsi dari masing-masing alat dan bahan
di atas yaitu, power supply sebagai penyedia sumber tegangan dan arus pada rangkaian.
Resistor berfungsi sebagai penghambat pada rangkaian, AVOmeter digunakan sebagai alat
ukur tegangan, dan yang satu lainnya digunakan untuk mengukur arus yang mengalir dari
diode. Diode sebagai objek pengukuran dalam praktikum, dan kabel jumper sebagai
penghubung atau media untuk merangkai komponen sesuai rangkaian yang diberikan.
Langkah pertama yaitu merangkai rangkaian yang akan di coba yaitu bias maju
terlebih dahulu. Kemudian kita nyalakan power supply dan pasang voltmeter pada keluaran
power supply untuk melihat tegangan yang dibutuhkan. Hubungkan catu daya DC pada
rangkaian. Pengambilan data yang pertama untuk bias maju sebesar 0 Volt. Lalu
amperemeter disusun secara seri pada rangkaian bias maju. Kemudian lihat nilai yang
muncul. Amperemeter diatur pada skala 2,5 mA dan voltmeter pada skala 0,5 Volt.
Kemudian kita amati amperemeter dan didapatkan hasil tidak ada persimpangan jarum atau
dengan kata lain nilai arusnya 0 mA. Pengambilan data yang kedua untuk bias maju sebesar
0,1 Volt. Caranya sama seperti sebelumnya yaitu atur tegangan power supply sebesar 0,1

7
Volt, kemudian di amati pergerakan jarum pada amperemeter untuk melihat berapa besar
arus yang mengalir. Data yang didapatkan untuk tegangan 0,1 Volt yaitu sebesar 0 mA
karena tidak ada persimpangan sama sekali.
Pengambilan data yang ketiga sebesar 0,2 Volt. Caranya sama seperti sebelumnya
yaitu atur tegangan power supply sebesar 0,1 Volt, kemudian di amati pergerakan jarum
pada amperemeter untuk melihat berapa besar arus yang mengalir. Data yang didapatkan
untuk tegangan 0,2 Volt yaitu sebesar 0 mA karena tidak ada persimpangan sama sekali.
Pengambilan data yang keempat sebesar 0,3 Volt, kemudian di amati pergerakan jarum pada
amperemeter untuk melihat berapa besar arus yang mengalir. Data yang didapatkan untuk
tegangan 0,3 Volt yaitu sebesar 0 mA karena tidak ada persimpangan sama sekali.
Pengambilan data yang kelima sebesar 0,4 Volt. Caranya sama seperti sebelumnya
yaitu atur tegangan power supply sebesar 0,4 Volt, kemudian di amati pergerakan jarum
pada amperemeter untuk melihat berapa besar arus yang mengalir. Data yang didapatkan
untuk tegangan 0,4 Volt yaitu sebesar 0,1 mA karena ada persimpangan. Pengambilan data
yang keenam sebesar 0,5 Volt, kemudian di amati pergerakan jarum pada amperemeter untuk
melihat berapa besar arus yang mengalir. Data yang didapatkan untuk tegangan 0,5 Volt
yaitu sebesar 0,25 mA karena ada persimpangan. Pengambilan data yang ketujuh sebesar 0,6
Volt, kemudian di amati pergerakan jarum pada amperemeter untuk melihat berapa besar
arus yang mengalir. Data yang didapatkan untuk tegangan 0,6 Volt yaitu sebesar 0,35 mA
karena ada persimpangan. Pengambilan data yang kedelapan sebesar 0,7 Volt, kemudian di
amati pergerakan jarum pada amperemeter untuk melihat berapa besar arus yang mengalir.
Data yang didapatkan untuk tegangan 0,7 Volt yaitu sebesar 0,60 mA karena ada
persimpangan.
Percobaan yang kedua yaitu rangkaian dioda dibias mundur, pada sumber tegangan
dibalik antara positif dan negatif atau diubah posisi diodanya. Pengambilan data
menggunakan tegangan sebesar 0 Volt hingga (-2,0) Volt dengan langkah yang sama seperti
pada percobaan pertama. Setelah dilakukan pengambilan data dengan semua tegangan
ternyata tidak terjadi penyimpangan jarum pada amperemeter. Hal ini terjadi karena sumber
tegangan positif bertemu dengan katoda maka dianggap saklar terbuka sehingga arus tidak
dapat melewati amperemeter dan menimbulkan tidak adanya penyimpangan jarum.
Dari beberapa data yang didapatkan dari kedua percobaan tersebut maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa untuk rangkaian dibias maju ketika tegangan 0 Volt hingga 0,3 Volt, arus

8
yang didapatkan sebesar 0 mA. Hal ini dikarenakan dioda yang digunakan adalah dioda
berbahan silikon dengan minimum tegangan 0,7 Volt tetapi pada saat diberi tegangan 0,4 –
0,7 Volt sudah mengalirkan arus, ini dikarenakan ada pembawa minoritas yang
menyebabkan timbulnya arus yang kecil. Pada rangkaian dioda dibias mundur dengan nilai
tegangan minus didapatkan hasil arus 0 mA. Peristiwa ini terjadi karena kutub positif sumber
tegangan bertemu dengan dioda bagian katoda, hal ini sering di ibaratkan sebagai saklar
terbuka.

9
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum Rangkaian Elektronika tentang bias maju dan bias mundur yang kami
lakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Semakin dekat nilai tegangan dengan nilai tegangan kaki maka nilai arusnya akan
semakin besar. Pada rangkaian dibias maju, seperti pada tegangan 0,4 V dengan nilai
tegangan kaki 0,7 V didapatkan arus sebesar 0,1 mA.
2. Nilai tegangan kaki telah terpenuhi maka nilai arusnya mengalir secara derastis. Terbukti
sebelum tegangan kaki, dioda dengan tegangan 0,6 V arusnya 0,35 mA tetapi setelah
tegangan 0,7 arusnya sebesar 0,60 mA.
3. Dari data peningkatan arus pada rangkaian dibias maju dapat diketahui bahwa dioda yang
digunakan adalah dioda silikon karena ketika tegangan dioda 0,7 V nilai arusnya
meningkat secara derastis sebesar 0,60 mA.
4. Arus bernilai sebanding dengan tegangan sumber yang digunakan. Terbukti pada
tegangan 0,4 V arusnya bernilai 0,1 mA.
5. Dalam kondisi reverse bias, pada dioda belum ada arus yang mengalir biarpun tegangan
pada dioda 2 V. Hal ini karena nilai breakdown voltage belum tercapai dan dioda
dianggap pada posisi terbuka.

10
LAMPIRAN
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM 2
RANGKAIAN CLIPPER DAN CLAMPPER

Oleh :
Kelompok 2
NAMA MAHASISWA NIM
1. Ahmad Wahyu Tri Utama 141910201030
2. Dwi Sukma Aji 141910201031
3. Drajat Kurniawan 141910201033
4. Joni Pranata 141910201034
5. Rizqi Afif 141910201036

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengaplikasi dioda pada rangkaian clipper.
2. Mahasiswa mampu mengaplikasi dioda pada rangkaian clampper.

1.2 Latar Belakang


Penggunaan elektronika pada saat ini sudah sangat luas dan maju dengan begitu
pesatnya seiring dengan munculnya beragam inovasi yang terus-menerus dan tiada hentinya.
Penggunaan komponen elektronika secara luas telah mencakup ke segala bidang kehidupan
manusia yang semakin canggih dan semakin mudah dalam penggunaan komponen
elektronika tersebut. Misalnya saja penggunaan dioda yang digunakan untuk alat-alat
elektronika, misalnya untuk alat ukur osiloskop, komponen-komponen tersebut sangat sering
kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari karena merupakan komponen utama dalam
rangkaian alat elektronika.
Untuk itu kita akan membahas tentang komponen-komponen yang ada didalam suatu
dioda, misalnya clipper, clamper. Tidak hanya ini disini akan dibahas mengenai pengertian
secara terperinci dari komponen-komponen dalam dioda tersebut. Lalu mengenai klasifikasi
dari komponen yang terdapat pada clipper, clamper, beserta cara kerjanya juga akan di
bahas lebih mendalam lagi. Serta penerapan komponen-komponen dioda tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Di dalam suatu rangkaian elektronika juga terdapat dua komponen
yaitu komponen aktif dan komponen pasif. Komponen aktif merupakan komponen yang
dapat bekerja apabila ada catu daya dulu, contohnya: transistor dan dioda. Sedangkan
komponen pasif merupakan komponen yang dapat bekerja tanpa ada catu daya, contohnya:
resistor, potensio, kapasitor dan induktor. Dioda dan transistor adalah komponen elektronika
yang sering digunakan dalam berbagai aplikasi rangkaian dan dioda biasanya digunakan
sebagai rangkaian rectifier,rangkaian clipper, dan rangkaian clamper. Selain berfungsi untuk
menyimpan arus, transistor dapat digunakan pada rangkaian saklar. Dari komponen-
komponen tersebut terdapat berbagai fungsi dan kegunaan pada rangkaian elektronika.

14
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori


Rangkaian dioda pemotong (Clipper) juga dikenal sebagai Pembatas tegangan
(voltage limiter). Rangkaian ini digunakan untuk membatasi tegangan sinyal input pada
suatu level tegangan tertentu. Rangkaian ini berguna untuk pembentukan sinyal dan juga
untuk melindungi rangkaian dari sinyal-sinyal yang tidak diinginkan. Beberapa aplikasi dari
pembatas tegangan adalah noise limiter dan audio limiter. Rangkaian pembatas tegangan ada
2 jenis berdasarkan pada level tegangan yang dibatasi. Pembatas tegangan yang membatasi
tegangan sinyal input pada bagian positifnya disebut pembatas tegangan positif (positive
limiter) sedangkan yang membatasi tegangan sinyal input pada bagian negatifnya disebut
pembatas tegangan negatif (negative limiter). Contoh sederhana dari rangkaian clipper
adalah penyearah setengah gelombang. Rangkaian ini memotong atau menghilangkan
sebagian sinyal masukan di atas atau di bawah level nol.

Gambar 1 Rangkaian clipper dan grafik keluarannya

15
 Pada setengah cycle positif dari input Vi , dioda menjadi reverse bias (open),
tegangan Vo = 0
 Pada setengah cycle negatif dari input Vi , dioda menjadi forward bias (close),
tegangan Vo = Vi dst.
Rangkaian clamper adalah rangkaian yang akan melempar sinyal ke level DC yang
berbeda. Clamper tersusun atas kapasitor, dioda, dan komponen resistif. Sumber DC juga
dapat ditambahkan untuk memperoleh pergeseran tegangan tambahan. Nilai R dan C harus
dipilih sedemikian rupa agar konstanta waktu τ=RC cukup besar. Hal ini berguna agar
kapasitor tidak membuang tegangan (discharge) pada saat dioda mengalami perioda non
konduksi (OFF).
Penjepit DC ini mempunyai 2 jenis, yaitu penjepit DC positif dan penjepit DC
negatif. Kedua jenis penjepit DC ini dibedakan dengan posisi pemasangan dioda pada
rangkaian penjepit dimana arah panah dioda menunjukkan pergeseran sinyal keluarannya.
Pada clamper ini terdapat rangkaian clamping yang dipergunakan untuk menjaga nilai
tertinggi dari suatu sinyal agar tetap berharga sama. Secara umum, pada saat melewati
amplifier signal acuan DC tersebut akan berayun maka diperlukan rangkaian clamper untuk
mengembalikan sinyal DC aslinya kembali.

Gambar 2 Rangkaian Clampper dan grafik keluarannya

16
 Pada setengah cycle (+), dioda D forward bias (short) kapasitor diisi muatan,
sehingga tegangan kapasitor = 5 V, tegangan Vo = 0 Volt.
 Pada setengah cycle (-), dioda D reverse bias (open) kapasitor membuang muatan
melalui resistor, kapasitor memerlukan waktu =10 ms untuk membuang
muatannya.
 Pada setengah cycle (-) hanya tersedia waktu T/2 = 0,5 ms untuk membuang
muatan, karena itu dikatakan kapasitor sukar membuang muatan 0,5 ms, yang
dapat singkat itu. Jadi tegangan kapasitor praktis 5 Volt, maka Vo= -10- 5 = -15
Volt.

17
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Gambar Rangkaian

Gambar 3 Rangkaian Clipper

Gambar 4 Rangkain Clamper

18
Alat dan Bahan
1. Oscilloscope 1 buah
2. Jumper secukupnya
3. Resistor 1 buah
4. Dioda 1 buah
5. AVOmeter 1 buah
6. Audio Generator 1 buah
7. Kapasitor 1 buah

3.2 Prosedur Kerja


a. Rangkaian Clipper:
1. Merangkai rangkaian sesuai dengan gambar.
2. Memberikan input tegangan pada rangkaian
3. Meletakkan probe 1 di Vin dan probe 2 di Vout
4. Mengukur besarnya tegangan keluaran dan besarnya arus keluaran
B. Rangkaian Clampper:
1. Merangkai rangkaian sesuai dengan gambar.
2. Memberikan input tegangan pada rangkaian
3. Meletakkan probe 1 di Vin dan probe 2 di Vout
4. Mengukur besarnya tegangan keluaran dan besarnya arus keluaran

19
BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Data Hasil Percobaan


4.1.1 Rangkaian Clipper
Vin T/div V/div Vout
No (V) (ms) (V) t l (V)
1 1 2 0,5 0 0 0
2 2 2 1 0,2 4,2 0,2
3 4 2 1 0,8 4,2 0,8
4 6 2 1 1 4,2 1

4.2.2 Rangkaian Clampper


Vin T/div V/div Vout
No (V) (ms) (V) t l (V)
1 1 2 0,5 1 4 0,5
2 2 2 0,5 2 4 1
3 4 2 0,5 4 4 2
4 6 2 1 3 4 3

20
4.2 Analisa Pembahasan
Dalam praktikum Elektronika dengan judul Rangkaian Clipper dan Clampper ini.
Kita melakukan percobaan dengan membuat suatu rangkaian clipper dan clampper untuk
mengetahui bagaimana perubahan bentuk sinyal output clipper dan clampper. Tujuan dari
praktikum ini agar mahasiswa dapat memahami prinsip kerja dari rangkaian clipper dan
clampper.
Sebelum kita melakukan praktikum ini kita harus memahami tentang rangkaian
clipper dan clampper, prinsip kerja dari rangkaian clipper dan clampper dan karakteristik
rangkaian clipper dan clampper. Disini saya akan sedikit menjelaskan tentang rangkaian
clipper dan clampper. Rangkaian clipper merupakan rangkaian pemotong sinyal yang
berfungsi memotong atau menghilangkan sebagian sinyal masukan yang berada dibawah
atau diatas level tertentu. Rangkaian ini berguna untuk pembentukan sinyal dan juga
untuk melindungi rangkaian dari sinyal-sinyal yang tidak diinginkan. Beberapa aplikasi
dari pembatas tegangan adalah noise limiter dan audio limiter. Rangkaian pembatas
tegangan ada 2 jenis berdasarkan pada level tegangan yang dibatasi. Pembatas tegangan
yang membatasi tegangan sinyal input pada bagian positifnya disebut pembatas tegangan
positif (positive limiter) sedangkan yang membatasi tegangan sinyal input pada bagian
negatifnya disebut pembatas tegangan negatif (negative limiter). Contoh sederhana dari
rangkaian ini yaitu penyearah setengah gelombang. Rangkaian clipper sederhana terdiri
dari dioda dan resistor. Rangkaian clampper adalah rangkaian penggeser sinyal yang
digunakan untuk menggeser suatu sinyal ke level DC yang lain. Rangkaian clampper
terdiri dari dioda, resistor, kapasitor dan terkadang juga menggunakan baterai. Nilai R
dan C dalam rangkaian clampper harus dipilih sedemikian rupa sehingga nilai konstanta
waktu RC cukup besar agar tidak terjadi pergeseran muatan yang cukup berarti saat dioda
tidak menghantar. Pada clampper ini terdapat rangkaian clamping yang dipergunakan
untuk menjaga nilai tertinggi dari suatu sinyal agar tetap berharga sama. Secara umum,
pada saat melewati amplifier sinyal acuan DC tersebut akan berayun maka diperlukan
rangkaian clampper untuk mengembalikan sinyal DC aslinya kembali.
Langkah pertama siapkan alat dan bahan. Bahan yang kita gunakan antara lain
yaitu oscilloscope, project board, jumper, satu buah resistor 1 kΩ, satu buah dioda, satu
buah kapasitor, AVOmeter, power supply dan audio generator. Kemudian merangkai
rangkaian clipper seperti gambar yang telah ditentukan. Dioda dan resistor dirangkai pada
project board, sedangkan jumper digunakan untuk menghubungkan oscilloscope, audio

21
generator dan power supply dihubungkan dengan rangkaian yang ada pada project board
menggunakan jumper.
Tegangan pada power supply diatur sebesar 0,5 V. Hambatan resistor sebesar 1
kΩ dan tegangan pada audio generator sebesar 50 V. Setelah rangkaian clipper telah
selesai maka dilakukan kalibrasi pada oscilloscope. Percobaan dapat dilakukan dengan
mengatur tegangan masukan sesuai dengan tabel data yang telah ditentukan yaitu sebesar
1V, 2V, 4V, dan 6V. T/div dan V/div disesuaikan agar sinyal yang ditampilkan pada
layar oscilloscope mudah menentukan tinggi dan lebarnya gelombang untuk dijadikan
sebagai data. Saat tegangan input sebesar 1V, kemudian T/div dan V/div sebesar 2 ms
dan 0,5 V maka menghasilkan sinyal output dengan tinggi 0 dan lebar 0 sehingga
tegangan keluarannya sebesar 0V. Saat tegangan input sebesar 2V, kemudian T/div dan
V/div sebesar 2 ms dan 1 V maka menghasilkan sinyal output dengan tinggi 0,2 dan lebar
4,2 sehingga tegangan keluarannya sebesar 0,2V. Saat tegangan input sebesar 4V,
kemudian T/div dan V/div sebesar 2 ms dan 1 V maka menghasilkan sinyal output
dengan tinggi 0,8 dan lebar 4,2 sehingga tegangan keluarannya sebesar 0,8 V. Dan saat
tegangan input sebesar 6V, kemudian T/div dan V/div sebesar 2 ms dan 1 V maka
menghasilkan sinyal output dengan tinggi 1 dan lebar 4,2 sehingga tegangan keluarannya
sebesar 1 V.
Percobaan berikut, alat dan bahan dirakit menjadi rangkaian clampper seperti
gambar yang telah ditentukan. Pada percobaan kali ini dengan menggunakan alat dan
bahan tambahan yaitu satu buah kapasitor untuk menggeser sinyal yang diaplikasikan
pada rangkaian clampper. Sebelum melakukan percobaan terlebih dahulu melakukan
kalibrasi pada oscilloscope. Percobaan kali ini dilakukan dengan mengatur tegangan
masukan sesuai dengan tabel data. Pada percobaan ini, untuk semua tegangan input
menggunakan T/div sebesar 2 ms. Saat tegangan input sebesar 1 V, digunakan V/div
sebesar 0,5 V sehingga menghasilkan sinyal output dengan tinggi 1 dan lebar 4 dan sinyal
keluarannya yaitu sebesar 0,5 V. Saat tegangan input sebesar 2 V, digunakan V/div
sebesar 0,5 V sehingga menghasilkan sinyal output dengan tinggi 2 dan lebar 4 dan sinyal
keluarannya yaitu sebesar 1 V. Saat tegangan input sebesar 4 V, digunakan V/div sebesar
0,5 V sehingga menghasilkan sinyal output dengan tinggi 4 dan lebar 4 dan sinyal
keluarannya yaitu sebesar 2 V. Saat tegangan input sebesar 6 V, digunakan V/div sebesar
1 V sehingga menghasilkan sinyal output dengan tinggi 3 dan lebar 4 dan sinyal
keluarannya yaitu sebesar 3 V.

22
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan pada rangkaian clampper
T/div dan lebar sinyal tidak mempengaruhi nilai tegangan sinyal output. Tegangan output
berbanding lurus dengan tegangan input, tinggi sinyal dan V/div sedangkan pada
rangkaian clipper T/div dan lebar sinyal juga tidak mempengaruhi tegangan output. V/div
dan tinggi sinyal berbanding lurus dengan tegangan output.

23
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan tentang rangkaian clipper dan rangkaian clampper,
kami memperoleh beberapa kesimpulan antara lain :
1. Pada rangkaian clipper maupun clampper, semakin besar tegangan input, V/div dan
tinggi sinyal output maka tegangan output juga semakin besar. Contohnya pada
rangkaian clipper saat tegangan input 4V, V/div nya 1 dan tinggi 0,8 memiliki
tegangan output 0,8 V sedangkan saat tegangan 6V,V/div nya 1 dan tinggi 1 memiliki
tegangan output sebesar 1 V.
2. Pada percobaan rangkaian clampper, lebar sinyal output tetap yaitu 4 untuk semua
tegangan input. Sedangkan pada rangkaian clipper lebar sinyal output tidak tetap. Pada
tegangan input 1V, 2V, 4V dan 6V lebar sinyal output masing-masing berbeda. Hal ini
dikarenakan pada rangkaian clipper mengalami perpotongan.
3. Perubahan tegangan input pada rangkaian clampper tidak mempengaruhi lebar peak to
peak sinyal output. Pada saat tenganan input sebesar 1V, 2V, 4V dan 6V lebar peak to
peak sinyal output tetap yaitu sebesar 4.
4. T/div dan lebar sinyal output tidak mempengaruhi tegangan output rangkaian clipper
maupun clampper. T/div dan lebar sinyal output tidak digunakan dalam perhitungan
tegangan output. Karna rumus yang digunakan dalam perhitungan tegangan output
adalah hasil kali antara tinggi dan V/div.
5. Bentuk sinyal output yang dihasilkan oleh rangkaian clipper tersebut menampilkan
bagian sinyal positif dan memotong bagian sinyal negatif. Hal ini dibuktikan pada
gambar sinyal output rangakaian clipper saat tegangan input sebesar 4V. Dapat
dikatakan bahwa rangkaian tersebut merupakan rangkaian clipper negatif.

24
LAMPIRAN
Lampiran
Gambar Sinyal Oscilloscope
a. Rangkaian Clipper
Clipper 1

V in = 1 V
V/div = 0,5 V
T/div = 2 ms

Clipper 2

V in = 2 V
V/div = 1 V
T/div = 2 ms

Clipper 3

V in = 4 V
V/div = 1 V
T/div = 2 ms
Clipper 4

V in = 6 V
V/div = 1 V
T/div = 2 ms

b. Rangkaian Clipper
Clampper 1

V in = 1 V
V/div = 0,5 V
T/div = 2 ms

Clampper 2

V in = 2 V
V/div = 0,5 V
T/div = 2 ms
Clampper 3
V in = 4 V
V/div = 0,5 V
T/div = 2 ms

Clampper 4

V in = 6 V
V/div = 1 V
T/div = 2 ms
Perhitungan
a. Rangkaian Clipper
 Untuk Vin = 1 V

Vout = t . = 0 .0,5 = 0V

 Untuk Vin = 2 V

Vout = t . = 0,2 .1 = 0,2 V

 Untuk Vin = 4 V

Vout = t . = 0,8 .1 = 0,8 V

 Untuk Vin = 6 V
Vout = t . = 1 .1 = 1 V

b. Rangkaian Clampper
 Untuk Vin = 1 V
Vout = t . = 1 .0,5 = 0,5 V

 Untuk Vin = 2 V

Vout = t . = 2 .0,5 = 2 V

 Untuk Vin = 4 V

Vout = t . = 4 .0,5 = 2 V

 Untuk Vin = 6 V
Vout = t . =3.1=3V
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM 3
FULL WAVE DAN HALF WAVE

Oleh :
Kelompok 2
NAMA MAHASISWA NIM
1. Ahmad Wahyu Tri Utama 141910201030
2. Dwi Sukma Aji 141910201031
3. Drajat Kurniawan 141910201033
4. Joni Pranata 141910201034
5. Rizqi Afif 141910201036

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2015
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengaplikasikan dioda sebagai penyearah setengah gelombang.
2. Mahasiswa mampu mengaplikasikan dioda sebagai penyearah gelombang penuh.

1.2 Latar Belakang


Praktikum dasar elektronika mengenai aplikasi dioda ini ditujukan untuk
mengetahui cara menggunakan dioda untuk mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah.
Mula-mula ditunjukkan rangkaian penyearah dengan satu dioda, yang menghasilkan
penyearah setengah gelombang dan kemudian ditunjukkan rangkaian penyearah dengan 4
dioda, yang menghasilkan penyearah gelombang penuh. Penyearah gelombang (rectifier)
adalah bagian dari power supply / catu daya yang berfungsi untuk mengubah sinyal tegangan
AC (Alternating Current) menjadi tegangan DC (Direct Current). Komponen utama dalam
penyearah gelombang adalah diode yang di konfigurasikan secara forward bias. Dalam
sebuah power supply tegangan rendah, sebelum tegangan AC tersebut di ubah menjadi
tegangan DC maka tegangan AC tersebut perlu di turunkan menggunakan transformator
stepdown. Ada 3 bagian utama dalam penyearah gelombang pada suatu power supply yaitu,
penurun tegangan (transformer), penyearah gelombang / rectifier (dioda) dan filter
(kapasitor).

33
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori


Penyearah setengah gelombang adalah merupakan suatu rangkaian yang merubah
tegangan AC menjadi tegangan DC, yang hasil penyearah hanya pada bagian positif, yaitu
setengah panjang gelombang pertama, diode akan mengalirkan arus (forward bias). Pada saat
arus bolak – balik mengalir negatif pada setengah panjang gelombang berikutnya,
berlawanan dengan arah diode, diode tidak melewatkan arus (reverse bias). Ini sebabnya
tegangan pada RL merupakan pembentuk sinyal setengah gelombang.
Penyearah gelombang penuh dilaksanakan dengan menggunakan susunan empat buah
diode berbentuk “jembatan”. Pada setengah gelombang pertama (arus bolak), tegangan
relatif positif dapat mengalirkan arus melewati diode – diode D2, tahanan RL, dan diode D3.
Arus bolak tidak melewati D1 dan D4, karena terhadap diode – diode tersebut tegangan
relatif negatif. Sebaliknya, pada setengah gelombang berikutnya (arus balik), tegangan relatif
positif dapat mengalirkan arus melewati diode – diode D4, tahanan RL, dan diode D1. Arus
balik tersebut tidak melewati D3 dan D2, karena terhadap diode – diode tersebut
tegangannya relatif negatif. Kedua arus searah hasil penyearah tersebut bergiliran melewati
tahanan RL. Sehingga arus searah total IRL merupakan hasil penyearah gelombang penuh.

Gambar 1 Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang dan Grafik Outputnya.

Gambar 2 Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh dan Grafik Outputnya.

34
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Gambar Rangkaian


a. Penyearah Setengah Gelombang:

Gambar 3 Rangkaian Penyearah Setengah Gelombang


b. Penyearah Gelombang Penuh:

Gambar 4 Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh

35
3.2 Alat dan Bahan
1. Oscilloscope
2. Jumper
3. Resistor
4. Dioda
5. Trafo
6. AVOmeter
7. Power supply
8. Project board

36
3.3 Prosedur kerja
A. Penyearah setengah gelombang :
1. Merangkai rangkaian penyearah setengah gelombang sesuai dengan gambar yang
telah ditentukan.
2. Memberikan input tegangan pada rangkaian.
3. Meletakkan probe 1 di Vin dan probe 2 di RL.
4. Mengukur besarnya tegangan keluaran dan besarnya arus keluaran.
B. Penyearah gelombang penuh :
1. Merangkai rangkaian penyearah gelombang penuh sesuai dengan gambar yang telah
ditentukan.
2. Memberikan input tegangan pada rangkaian.
3. Meletakkan probe 1 pada anoda D1 dan probe 2 di VRL.
4. Mengukur besarnya tegangan keluaran dan besarnya arus keluaran.

37
BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Data Hasil Percobaan


4.1.1 Tabel Penyearah Setengah Gelombang
Vdc Vdc Idc Idc
Vin T/ V/ E% E%
No t l Teori Prak Teori Prak
(V) div div Vdc Idc
(V) (V) (A) (A)
1 8 5 2 1,8 4 3,6 3,6 0% 0,01 0,01 0%
2 12 5 2 1,8 4 5,4 5,6 3,6% 0,016 0,017 1,5%
3 16 5 2 1,8 4 7,2 7,6 5,5% 0,021 0,023 9,5%
4 22,5 5 5 1,8 4 10,1 11 8,6% 0,030 0,033 10%

4.2.2 Tabel Penyearah Gelombang Penuh


Vdc Vdc Idc Idc
Vin T/ V/ E% E%
No t l Teori Prak Teori Prak
(V) div div Vdc Idc
(V) (V) (A) (A)
1 8 5 2 1,4 4 7,2 2,8 61,6% 0,021 0,008 61,9%
2 12 5 2 2,3 4 10,8 4,6 57,4% 0,032 0,013 59,3%
3 16 5 2 3,3 4 14,4 6,6 54,2% 0,043 0,02 53,4%
4 22,5 5 5 2 4 20,25 10 50,65% 0,061 0,030 50,8%

38
4.2 Analisa Pembahasan
Penyearah setengah gelombang (halfwave) adalah merupakan suatu rangkaian yang
merubah tegangan AC menjadi tegangan DC, yang hasil penyearah hanya pada bagian
positif, yaitu setengah panjang gelombang. Pada saat arus bolak-balik mengalir positif pada
setengah panjang gelombang pertama, dioda akan mengalirkan arus (forward bias). Pada
saat arus bolak-balik mengalir negatif pada setengah panjang gelombang berikutnya,
berlawanan dengan arah dioda, dioda tidak melewatkan arus (reverse bias). Penyearah
gelombang penuh (fullwave) juga mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC. Pada
penyearah gelombang penuh ini menggunakan dua atau empat buah dioda.
Praktikum elektronika kali ini membahas tentang penyearah setengah gelombang dan
penyearah gelombang penuh. Praktikum ini bertujuan untuk mengaplikasikan diode sebagai
penyearah setengah gelombang dan untuk mengaplikasikan diode sebagai penyearah
gelombang penuh. Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum ini antara lain adalah
oscilloscope, jumper, resistor, diode, project board dan trafo. Setelah semua alat dan bahan
sudah terkumpul, percobaan pertama kami melakukan percobaan pada rangkaian penyearah
setengah gelombang. Pertama-tama kami melakukan kalibrasi terhadap oscilloscope
terlebih dahulu. Setelah itu, kami mengukur besarnya tegangan input yang digunakan
dengan cara menghubungkan jumper ke trafo dan ke oscilloscope. Setelah itu kami
mendapatkan data tegangan input yang pertama sebesar 8 volt, yang kedua sebesar 12 volt,
yang ketiga sebesar 16 volt dan yang keempat sebesar 22,5 volt. Kemudian jumper 1
dihubungkan denga trafo dan jumper yang kedua dihubungkan dengan rangkaian setengah
gelombang untuk mengukur besarnya tegangan output dan besarnya arus output. Pada saat
tegangan input sebesar 8 volt dengan time/div 5 ms, volt/div 2 volt menghasilkan tegangan
output dengan tinggi 1,8 kotak serta lebar 4 kotak maka tegangan output sebesar 3,6 volt.
Pada saat tegangan input sebesar 12 volt dengan time/div 5 ms, volt/div 2 volt
menghasilkan tegangan output dengan tinggi 2,8 kotak serta lebar 4 kotak maka tegangan
output sebesar 5,6 volt. Pada saat tegangan input sebesar 16 volt dengan time/div 5 ms,
volt/div 2 volt menghasilkan tegangan output dengan tinggi 3,8 kotak serta lebar 4 kotak
maka tegangan output sebesar 7,6 volt. Pada saat tegangan input sebesar 22,5 volt dengan
time/div 5 ms, volt/div 5 volt menghasilkan tegangan output dengan tinggi 2,2 kotak serta
lebar 4 kotak maka tegangan output sebesar 11 volt. Selain itu kami juga melakukan
perhitungan nilai V output (Vdc) secara teori dengan menggunakan rumus yang disediakan.

39
Pada saat tegangan input 8 volt, nilai Vdc secara teori adalah sebesar 3,6 volt. Pada saat
tegangan input 12 volt, nilai Vdc secara teori adalah sebesar 5,4 volt. Pada saat tegangan
input sebesar 16 volt, nilai Vdc secara teori adalah sebesar 7,2 volt. Pada saat tegangan
input sebesar 22,5 volt, nilai Vdc secara teori adalah sebesar 10,1 volt. Setelah data Vdc
secara praktikum maupun teori sudah lengkap maka selanjutnya kami menghitung nilai dari
error persen untuk membuktikan kebenaran dari praktikum yang sudah dilaksanakan. Nilai
error persen dari Vdc secara berurutan adalah 0% ; 3,6% ; 5,5% dan 8,6%. Kemudian kami
juga melakukan perhitungan nilai Idc secara teori dan juga praktikum. Nilai Idc secara teori
secara berurutan adalah 0,01 A ; 0,016 A ; 0,021 A dan 0,030 A. nilai Idc secara praktikum
secara berurutan adalah 0,01 A ; 0,017 A ; 0,023 A dan 0,033 A. Setelah itu kami
menghitung nilai error persen pada Idc, nilainya antara lain adalah 0% ; 1,5% ; 9,5% dan
10%.
Percobaan selanjutnya adalah pada penyearah gelombang penuh (fullwave). Berbeda
dengan penyearah setengah gelombang (halfwave) yang hanya menggunakan sebuah dioda
saja, pada penyearah gelombang penuh (fullwave) menggunakan empat buah dioda. Dengan
langkah yang sama seperti pada halfwave, maka kita dapatkan nilai tegangan input antara
lain 8 volt, 12 volt, 16 volt dan 22,5 volt. Selanjutnya, jumper dihubungkan ke trafo dan
pada rangkaian penyearah gelombang penuh untuk mendapatkan nilai dari V output. Pada
saat tegangan input 8 volt dengan time/div 5 ms, volt/div 2 volt menghasilkan tegangan
output dengan tinggi 1,4 kotak dan lebar 4 kotak, maka nilai tegangan output sebesar 2,8
volt. Pada saat tegangan input 12 volt dengan time/div 5 ms, volt/div 2 volt menghasilkan
tegangan output dengan tinggi 2,3 kotak dan lebar 4 kotak, maka nilai tegangan output
sebesar 4,6 volt. Pada saat tegangan input 16 volt dengan time/div 5 ms, volt/div 2 volt
menghasilkan tegangan output dengan tinggi 3,3 kotak dan lebar 4 kotak, maka nilai
tegangan output sebesar 6,6 volt. Pada saat tegangan input 22,5 volt dengan time/div 5 ms,
volt/div 5 volt menghasilkan tegangan output dengan tinggi 2 kotak dan lebar 4 kotak,
maka nilai tegangan output sebesar 10 volt. Setelah itu kami melakukan perhitungan nilai V
output (Vdc) secara teori dengan menggunakan rumus. Pada saat tegangan input 8 volt,
nilai Vdc secara teori adalah sebesar 7,2 volt. Pada saat tegangan input 12 volt, nilai Vdc
secara teori adalah sebesar 10,8 volt. Pada saat tegangan input sebesar 16 volt, nilai Vdc
secara teori adalah sebesar 14,4 volt. Pada saat tegangan input sebesar 22,5 volt, nilai Vdc
secara teori adalah sebesar 20,25 volt. Setelah data Vdc secara praktikum maupun teori

40
sudah lengkap maka selanjutnya kami menghitung nilai dari error persen untuk
membuktikan kebenaran dari praktikum yang sudah dilaksanakan. Nilai error persen dari
Vdc secara berurutan adalah 61,1% ; 57,4% ; 54,2% dan 50,65%. Kemudian kami juga
melakukan perhitungan nilai Idc secara teori dan juga praktikum. Nilai Idc secara teori
secara berurutan adalah 0,021 A ; 0,032 A ; 0,043 A dan 0,061 A. Nilai Idc secara
praktikum secara berurutan adalah 0,008 A ; 0,013 A ; 0,02 A dan 0,030 A. Setelah itu
kami menghitung nilai error persen pada Idc, nilainya antara lain adalah 61,9% ; 59,3% ;
53,4% dan 50,8%.
Dari percobaan serta data diatas dapat diketahui bahwa semakin tinggi V input maka
gelombang yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Dapat diketahui juga bahwa semakin
tinggi gelombang maka Vdc praktikum juga semakin tinggi.

41
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari yang kami lakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Semakin tinggi V input, maka gelombang yang dihasilkan juga semakin tinggi. Misalnya,
pada rangkaian halfwave saat V input 8 V tinggi gelombangnya 1,8 kotak, sedangkan saat
input 12 V tinggi gelombangnya 2,8 kotak.
2. Semakin tinggi gelombang, maka nilai dari Vdc semakin besar. Misalnya, pada halfwave
dengan V input 8 V tinggi gelombangnya 1,8 kotak dengan Vdc 3,6 V, sedangkan saat V
input 12 V tinggi gelombangnya 2,8 kotak dengan Vdc 5,6 V
3. Semakin tinggi nilai Vdc, maka nilai Idc juga semakin tinggi. Misalnya, pada halfwave
saat Vdc sebesar 5,6 V nilai Idc sebesar 0,017 A, sedangkan saat Vdc sebesar 7,6 V nilai
Idc sebesar 0,023 A.
4. Tegangan input nilainya lebih besar daripada tegangan output. Hal ini disebabkan pada
saat terjadi reverse bias maka setengah dari sinyalnya terpotong.
5. Pada praktikum kali ini pada saat fullwave nilai dari error persennya semakin tinggi. Hal
ini disebabkan karena alat yang digunakan terjadi masalah.

42
LAMPIRAN
Lampiran
Gambar Sinyal Oscilloscope
a. Half Wave
 V input = 8 V

 V input = 12 V

 V input = 16 V
 V input = 22,5 V

b. Fullwave
 V input = 8 V

 V input = 12 V
 V input = 16 V

 V input = 22,5 V
Perhitungan
a. Rangkaian Halfwave
Pada saat Vin 8 V
 Teori

Vdc = = = 3,6 V

Idc = = = 0,01 A

 Praktikum
Vdc = = = 3,6 V

Idc = = = 0,01 A

Pada saat Vin 12 V


 Teori

Vdc = = = 5,4 V

Idc = = = 0,016 A

 Praktikum
Vdc = = = 5,6 V

Idc = = = 0,017 A

Pada saat Vin 16 V


 Teori

Vdc = = = 7,2 V

Idc = = = 0,021 A

 Praktikum
Vdc = = = 7,6 V

Idc = = = 0,023 A

Pada saat Vin 22,5 V


 Teori

Vdc = = = 10,1 V

Idc = = = 0,030 A
 Praktikum
Vdc = = = 11 V

Idc = = = 0,033 A

b. Fullwave
Pada saat Vin 8 V
 Teori

Vdc = = = 7,2 V

Idc = = = 0,021 A

 Praktikum
Vdc = = = 2,8 V

Idc = = = 0,008 A

Pada saat Vin 12 V


 Teori

Vdc = = = 10,8 V

Idc = = = 0,032 A

 Praktikum
Vdc = = = 4,6 V

Idc = = = 0,013 A

Pada saat Vin 16 V


 Teori

Vdc = = = 14,4 V

Idc = = = 0,043 A

 Praktikum
Vdc = = = 6,6 V

Idc = = = 0,02 A

Pada saatVin 22,5 V


 Teori

Vdc = = = 20,25 V

Idc = = = 0,061 A

 Praktikum
Vdc = = = 10 V

Idc = = = 0,030 A

c. Perhitungan Error Persen (E%)


 Half wave
Pada saat Vin 8 V

E% Vdc = = = 0%

E% Idc = = = 0%

Pada saat Vin 12 V

E% Vdc = = = 3,6%

E% Idc = = = 1,5%

Pada saat Vin 16 V

E% Vdc = = = 5,5%

E% Idc = = = 9,5%

Pada saat Vin 22,5 V

E% Vdc = = = 8,6%

E% Idc = = = 10%

 Full wave
Pada saat Vin 8 V

E% Vdc = = = 61,1%

E% Idc = = = 61,9%

Pada saat Vin 12 V


E% Vdc = = = 57,4%

E% Idc = = = 59,3%

Pada saat Vin 16 V

E% Vdc = = = 54,2%

E% Idc = = = 53,4%

Pada saat Vin 22,5 V

E% Vdc = = = 50,65%

E% Idc = = = 50,8%
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM 4
TRANSISTOR BIPOLAR

Oleh :
Kelompok 2
NAMA MAHASISWA NIM
1. Ahmad Wahyu Tri Utama 141910201030
2. Dwi Sukma Aji 141910201031
3. Drajat Kurniawan 141910201033
4. Joni Pranata 141910201034
5. Rizqi Afif 141910201036

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2015
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Mahasiswa dapat memahami faktor penguatan common base transistor bipolar.
2. Mahasiswa dapat memahami karakteristik common base transistor bipolar.

1.2 Latar Belakang


Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit
pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai
fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus
masukannya (BJT) atau tegangan masukannya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang
sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Transistor through-hole (dibandingkan dengan
pita ukur sentimeter). Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor
(E) dan Kolektor (C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai
untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar daripada arus input Basis, yaitu pada
keluaran tegangan dan arus output Kolektor. Transistor merupakan komponen yang sangat
penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam
amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil
(stabilisator) dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor
digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai
sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori dan fungsi rangkaian-
rangkaian lainnya.

54
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori


Transistor adalah suatu komponen aktif semikonduktor yang bekerjanya
menggunakan pengolahan aliran arus elektron. Transistor terdiri dari tiga elemen yaitu basis
B, kolektor C, dan emitor E. Transistor mempunyai dua junction, pertama batas pertama
pertemuan antara emitor-basis dan yang kedua pertemuan antar basis-kolektor.
Transistor ada 2 jenis : 1. Jenis NPN 2. Jenis PNP

Transistor NPN emitornya di-dop sangat banyak, kerjanya adalah menginjeksikan


elektron ke dalam basis. Basis di-dop sangat sedikit, ia melakukan sebagian besar elektron
yang diinjeksikan emitor ke dalamnya menuju kolektor. Sedangkan banyaknya doping pada
kolektor adalah di antara banyaknya doping pada emitor dan basis. Kolektor merupakan yang
terbesar dari ketiga daerah tersebut, ia harus menghamburkan lebih banyak panas dari emitor
atau basis.
Hampir pada semua transistor, dari elektron yang diinjeksikan ke dalam basis, kurang
dari 5%nya berkombinasi dengan hole basis untuk menghasilkan IB. Oleh karena itu dc

(disebut juga penguatan arus DC) hampir semuanya selalu lebih besar dari 20. Dan biasanya

berkisar antara 50 sampai 200. Tepatnya dc dapat dicari dari rumus dc= .

Ragam atau mode kerja transistor tergantung pada terminal umum antara rangkaian
masukan dan keluaran dari transistor, transistor dapat bekerja menurut salah satu dari tiga
ragam berikut ini :
1. Ragam basis umum (common basis CB) dalam hal ini terminal emitor umum baik ke
rangkaian masukan ataupun keluaran, ragam ini juga dinamakan konfigurasi basis
dikebumikan.
2. Ragam emitor umum (common emitorCE) dalam hal ini terminal emitor umum baik
kedalam rangkaian masukan ataupun keluaran, ragam ini juga dinamakan ragam umum,
common emitor atau konfigurasi emitor dikebumikan dari transistor.
55
3. Ragam kolektor umum (common kolektor CC) jika terminal kolektor dari transistor dibuat
umum baik ke dalam rangkaian masukan ataupun keluaran, ragam ini juga dinamakan
ragam kolektor umum atau konfigurasi kolektor dikebumikan.
Berbagai komponen arus yang dialirkan kalau hubungan emmitor basis atau JEB
dicatu maju dan hubungan kolektor basis atau JCB dicatu balik.

56
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Gambar Rangkaian


A. Karakteristik input:

Gambar 1 Karakteristik input


B. Karakteristik output:

Gambar 2 Karakteristik output

3.2 Alat dan Bahan


1. Multimeter
2. Power supply
3. Project board
4. Transistor
5. Resistor
6. Jumper

57
3.3 Prosedur kerja
A. Karakteristik Input :
1. Merangkai rangkaian seperti pada gambar rangkaian yang sudah ditentukan.
2. Menghubungkan rangkaian seperti pada gambar.
3. Mengatur VCC sehingga VCB = 0 V.
4. Mengubah IE dengan mengatur VEE sesuai tabel dan mencatat hasil pada tabel yang
sudah ditentukan.
5. Mengubah VCB = 1 V, mengulang mengukur VBE untuk perbedaan harga dari IE.
Mengulangi mengukur harga VCB sesuai tabel. Mencatat harga – harga VBE pada tabel
dengan perubahan IE.
B. Karakteristik Output :
1. Merangkai rangkaian seperti pada gambar rangkaian yang sudah ditentukan.
2. Menghubungkan rangkaian seperti pada gambar.
3. Mengatur IE dengan mengubah tegangan VEE.
4. Mengubah VBC sesuai dengan tabel yang ada.
5. Mengukur IC untuk tiap – tiap harga VCB dan mencatat hasil yang didapat.
6. Mengulangi pengukuran untuk harga IE yang lain sesuai dengan tabel yang ada dan
merubah harga VCB (saat IE konstan) catat harga IC pada tabel.

58
BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Data Hasil Percobaan


4.1.1 Karakteristik input
IE (mA) 0,2 0,6 1 2 3 4 6
VCB (V) VBE (V)
0 0,65 1 1,2 1,8 2 2,2 3
1 0,65 1 1,2 1,8 2 2,2 3
2 0,65 1 1,2 1,8 2 2,2 3
3 0,65 1 1,2 1,8 2 2,2 3
4 0,65 1 1,2 1,8 2 2,2 3
5 0,65 1 1,2 1,8 2 2,2 3
6 0,65 1 1,2 1,8 2 2,2 3
7 0,65 1 1,2 1,8 2 2,2 3

4.2.2 Karakteristik output

VCB (V) 0 1 2 3 4 5 8
IE (mA) IC (mA)
0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2
0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6
1 1 1 1 1 1 1 1
2 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9
3 3 3 3 3 3 3 3
4 4 4 4 4 4 4 4
5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5
6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6 4,6

59
4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini ialah membahas mengenai Transistor Bipolar. Transistor
adalah suatu komponen aktif semikonduktor yang bekerjanya menggunakan pengolahan
aliran arus elektron. Transistor terdiri dari 3 elemen yaitu basis, kolektor, dan emitior.
Transistor mempunyai dua Junction, pertama batas pertemuan antara emitor-basis dan yang
kedua ialah batas pertemuan antara basis-kolektor. Transistor NPN emitornya di-Dop sangat
banyak, kerjanya adalah menginjeksikan elektron kedalam basis. Basis di-Dop sangat sedikit,
melakukan sebagian besar elektron yang diinjeksikan emitor kedalamnya menuju kolektor.
Sedangkan banyaknya doping pada kolektor adalah diantara banyaknya doping pada emitor
dan basis. Kolektor merupakan yang terbesar dari ketiga daerah tersebut, ia harus
menghamburkan lebih banyak dari emitor atau basis.
Hampir pada semua transistor dari elektron yang diinjeksikan kedalam basis, kurang
dari 5%-nya berkombinasi dengan hole basis untuk menghasilkan IB. Oleh karena itu dc

(disebut juga penguatan arus DC) hampir semuanya selalu lebih besar dari 20. Dan biasanya
berkisar antara 50 sampai 200.
Adapun tujuan dari praktikum yang akan dilakukan, yaitu diharapakan praktikan
dapat memahami faktor penguatan Common Base transistor bipolar. Selain itu juga ada
tujuan lain dilakukannya ptaktikum ini, yaitu diharapkan praktikan dapat mengetahui
karakteristik Common Base transistor bipolar. Kemudian pada praktikum ini juga tidak lupa
dengan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat dan bahan yang digunakan dalam
rangkaian praktikum ialah multimeter, power supply, project board, transistor, resistor, dan
jumper. Kemudian pada alat dan bahan yang sudah tersedia akan dirangkaian dua rangkaian
yang mana rangkaian tersebut ialah ragkaian karakteristik input dan rangkaian karakteristik
output. Pada rangkaian digunakan dua resistor sebesar 330 Ω. Kemudian juga digunakan
diode dengan tipe 2N222. Pada setiap rangkaian input maupun output ialah sama.
Pada prosedur percobaannya untuk karakteristik input, pertama yaitu menghubungkan
rangkaian seperti pada gambar rangkaian. Atur VCC sehingga VCB = 0 V. Kemudian
mengubah IE dengan mengatur VEE sesuai tabel dan catat hasilnya. Kemudian ubah VCB = 1
V dan ulang mengukur VBE untuk perbedaan harga dari IE. Untuk karakteristik outputnya
hampir sama yaitu mengatur IE dengan mengubah tegangan VEE. Kemudian mengubah VBC
sesuai dengan nilai yang digunakan. Kemudian ukur IC untuk tiap-tiap perubahan niali VBC.
Kemudian ulangi langkah tadi untuk mencari perubahan nilai pada IE.

60
Pada percobaan yang pertama yaitu tentang mengenai karakteristik input. Sebelum
melakukan merangkai semua komponen yang sudah ada, harus memahami gambar
rangkaiannya, setelah itu baru merangkai semua komponennya. Pada percobaan yang
pertama ini yaitu mencari nilai VBE. Untuk mendapatkan nilai VBE menggunakan IE dan
juga VCB, namun untuk VCB sesuai dengan percobaan yang dilakukan dan tidak
mempengaruhi nilai dari VBE. Jadi sebesar apapun nilai masukan dari VCB yang digunakan,
maka nilai dari VBE tidak akan berubah. Sesuatu hal yang dapat mempengaruhi nilai dari
VBE yaitu IE. Pada percobaan ini untuk nilai IE sebesar 0,2 mA dan didapatkan nilai VBE
sebesar 0,65 volt. Setelah itu dilanjutkan melakukan percobaan yaitu dengan nilai IE sebesar
0,6 mA dan nilai dari VBE yang di dapatkan yaitu sebesar 1 volt.
Selanjutnya yaitu pada nilai dari IE sebesar 1 mA, dan didapatkan nilai VBE sebesar
1,2 volt. Selanjutnya pada nilai dari IE sebesar 2 mA dan di dapatkan nilai dari VBE sebesar
1,7 volt. Selanjutnya pada nilai dari IE sebesar 3 mA, dan di dapatkan nilai VBE sebesar 1,8
volt. Selanjutnya yaitu pada nilai IE sebesar 4 mA dan di dapatkan nilai VBE sebesar 2 volt.
Dan yang terakhir pada nilai IE sebesar 6 mA dan ddi dapatkan nilai VBE sebesar 2,5 volt.
Setelah melakukan percobaan yang pertama dilanjutkan pada percobaan yang kedua
yaitu tentang mengenai karakteristik output. Pada percobaan yang kedua kali ini merangkai
kembali komponen, hal tersebut dikarenakan rangkaian pada percobaan yang kedua kali ini
berbeda dengan percobaan yang pertama. Pada percobaan yang kedua kali ini yaitu mencari
nilai dari IC. Untuk mendapatkan nilai dari IC dapat menggunakan VCB dan IE. Namun
pada percobaan yang kedua ini sama halnya dengan percobaan yang pertama, nilai VCB
tidak dapat mempengaruhi nilai dari IC. Hal ini yang akan dapat mempengaruhi nilai dari IC
pada percobaan kali yaitu nilai dari IE.
Pada percobaan yang kedua kali untuk nilai IE sebesar 0,2 mA dan di dapatkan nilai
IC sebesar 0,2 mA. Selanjutnya pada nilai IE sebesar 0,6 mA dan di dapatkan nilai IC
sebesar 0,55 mA. Selanjutnya saat nilai IE sebesar 1 mA dan di dapatkan nilai IC sebesar 0,9
mA. Selanjutnya untuk nilai IE dinaikkan menjadi 2 mA, nilai dari IC yang akan di dapatkan
yaitu sebesar 1,95 mA. Selanjutnya untuk nilai IC sebesar 3 mA dan di dapatkan nilai IC
sebesar 2,6 mA. Selanjutnya yaitu pada saat nilai IE sebesar 4 mA dan di dapatkan nilai IC
sebesar 4 mA. Kemudian dilanjutkan dengan nilai IE sebesar 5 mA, dari nilai IE tersebut di
dapatkan nilai IC sebesar 4,9 mA. Dan untuk nilai IE yang terakhir yaitu sebesar 6 mA,di
dapatkan nilai IC sebesar 5,5 mA.

61
Dari percobaan tersebut di dapatkan beberapa kesimpulan dari praktikum yang telah
dilakukan yaitu semakin besar nilai IE yang di dapatkan, maka nilai VBE pada karakteristik
input akan semakin besar dan nilai IC akan semakin besar pada karakteristik output.

62
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari yang kami lakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada saat karakteristik input, semakin besar nilai IE yang digunakan maka nilai VBE yang
di dapatkan akan semakin besar. Pada saat nilai IE 0,6 mA di dapatkan nilai VBE sebesar
0,65 volt sedangkan pada saat nilai IE sebesar 1 mA di dapatkan nilai VBE sebesar 1,2
volt.
2. Pada saat karakteristik output, semakin besar nilai IE yang digunakan maka nilai IC yang
di dapatkan semakin besar. Pada saat nilai IE sebesar 2 mA di dapatkan nilai IC sebesar
1,95 mA sedangkan pada saat nilai 3 mA di dapatkan nilai IC sebesar 2,6 mA.
3. Pada karakteristik input, nilai VCB tidak dapat mempengaruhi nilai VBE. Pada saat nilai
VCB sebesar 1 volt di dapatkan nilai VBE saat IE 0,2 mA dan 0,6 mA nilainya sama
yaitu sebesar 0,65 volt dan 1 volt.
4. Pada saat karakteristik output, nilai VCB tidak akan mempengaruhi nilai IC. Pada saat
nilai VCB semakin besar nilai IC selalu bernilai tetap. VCB bernilai 1 volt dan 2 volt nilai
IC bernilai 0,2 mA saat IE bernilai 0,2 mA.
5. Pada saat pengambilan data, hasil data percobaan satu kelompok dengan kelompok lain
berbeda dikarenakan salah saat pembacaan nilai data ataupun ada kerusakan pada alat
yang digunakan disaat percobaan.

63
LAMPIRAN
Lampiran
1. Kurva Karakteristik Input

3,5
3
2,5
2
IE

1,5
1
0,5
0
0,65 1 1,2 1,8 2 2,2 3
VBE

2. Kurva Karakteristik Output

5
4,5 IE= 6
4 IE= 5
3,5 IE= 4
3
IE= 3
2,5
IC

2 IE= 2
1,5 IE= 1
1 IE= 0,6
0,5 IE= 0,3
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8
VCB
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM 5
BIAS BASIS TRANSISTOR NPN

Oleh :
Kelompok 2
NAMA MAHASISWA NIM
1. Ahmad Wahyu Tri Utama 141910201030
2. Dwi Sukma Aji 141910201031
3. Drajat Kurniawan 141910201033
4. Joni Pranata 141910201034
5. Rizqi Afif 141910201036

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2015
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami prinsip kerja transistor.
2. Mahasiswa mampu mengaplikasi transistor.

1.2 Latar Belakang


Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit
pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai
fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus
masukannya (BJT) atau tegangan masukannya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang
sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Transistor through-hole (dibandingkan dengan
pita ukur sentimeter). Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal, yaitu Basis (B), Emitor
(E) dan Kolektor (C). Tegangan yang di satu terminalnya misalnya Emitor dapat dipakai
untuk mengatur arus dan tegangan yang lebih besar daripada arus input Basis, yaitu pada
keluaran tegangan dan arus output Kolektor. Transistor merupakan komponen yang sangat
penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam
amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil
(stabilisator) dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor
digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai
sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori dan fungsi rangkaian-
rangkaian lainnya.

69
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori


Transistor hubungan merupakan versi benda padat dari trioda tabung hampa.
Transistor terdiri dari semikonduktor kristal tunggal yaitu germanium atau silikon, yang
mana lapisan tipis jenis P, diselipkan diantara dua lapisan jenis N. Struktur yang terbentuk
disebut transistor NPN dan juga sebaliknya. Bagian tengah dari transistor disebut basis,
sedangkan dua ujungnya dinamakan emitor dan kolektor. Hubungan antara emitor dan basis
dinamakan emitor basis (JEB) dan hubungan antara kolektor basis disebut hubungan emitor
basis (JCB). Seluruh bahan semikonduktor ditutup rapat kedap terhadap kelembaban didalam
paket (kemasan logam) atau plastik dengan sambungan logam menonjol keluar untuk
sambungan ke emitor basis dan kolektor.
Dalam transistor hubungan baik pembawa mayoritas maupun minoritas ikut serta
dalam proses karena itu transistor hubungan dinamakan alat bipolar. Dalam operasi normal
transistor, hubungan emitor basis dicatu maju sedangkan hubungan kolektor basis dicatu
balik. Tanda panah pada terminal emitor menunjukkan arah aliran arus kalau hubungan
emitor basis dicatu maju. Jadi arus masuk ke transistor melalui terminal emitor dalam
transistor PNP, sedangkan dalam transistor NPN arus keluar transistor lewat terminal emitor.
Dalam kedua jenis transistor tersebut, arus – arus emitor, basis, dan kolektor, berturut – turut
diberi tanda dengan simbol IC, IB, dan IE, yang diambil positif kalau arus mengalir dalam
transistor. Penurunan tegangan dari emitor ke basis, kolektor ke basis, dan kolektor ke emitor
ditunjukkan berturut – turut oleh simbol VEB, VCB, dan VCE. Tegangan – tegangan ini
diambil positif kalau terminal yang ditunjukkan oleh subkrib pertama positif dibandingkan
dengan terminal yang ditunjukkan oleh subkrip kedua. Dalam keadaan normal, karena
hubungan emitor basis dicatu maju, IE negatif untuk transistor NPN dan positif untuk
transistor PNP terhadap acuan yang dipilih. Kalau hubungan kolektor basis dicatu balik,
tegangan VCB positif untuk transistor NPN dan negatif untuk transistor PNP terhadap acuan.

70
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Gambar Rangkaian


A. Karakteristik Input:

Gambar 1 Rangkaian Karakteristik Input


B. Karakteristik Output:

Gambar 2 Rangkaian Karakteristik Output

3.2 Alat dan Bahan


1. Power supply
2. Voltmeter
3. Amperemeter
4. Resistor
5. Project board
6. Jumper
7. Transistor NPN

71
3.3 Prosedur kerja
1 Merakit rangkaian transistor common basis pada project board.
2 Menghubungkan catu daya DC dengan rangkaian yang telah dirakit.
3 Mengatur tegangan masukan dengan nilai seperti tabel.
4 Mengukur nilai IB dan VBE.
5 Mencatat hasil pengukuran
6 Membuat grafik tegangan VBE dan arus IB fungsi dari transistor arus common basis.

72
BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Data Hasil Percobaan


4.1.1 Karakteristik Input

VCC (V) 0 1 2 4 6 8 10
VBB (V) IB (mA)
2 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5 4,5
3 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5
4 10,5 10,5 10,5 10,5 10,5 10,5 10,5
5 13,0 13,0 13,0 13,0 13,0 13,0 13,0
6 16,5 16,5 16,5 16,5 16,5 16,5 16,5
7 18 18 18 18 18 18 18

4.2.2 Karakteristik Output


IB (mA) 0 10 20 30 40 50
VCC (V) IC (mA)
2 0 6 6 6 6 6
3 0 9 9 9 9 9
4 0 11,5 11,5 11,5 11,5 11,5
5 0 14,5 14,5 14,5 14,5 14,5
6 0 17,5 17,5 17,5 17,5 17,5
7 0 25 25 25 25 25

73
4.2 Analisa Pembahasan
Pada praktikum kali ini ialah membahas mengenai bias basis transistor NPN.
Transistor hubungan merupakan versi benda padat dari trioda tabung hampa. Transistor
terdiri dari semikonduktor kristal tunggal yaitu germanium atau silikon, yang mana lapisan
tipis jenis P, diselipkan di antara dua lapisan jenis N. Struktur yang terbentuk disebut
transistor NPN dan juga sebaliknya. Bagian tengah dari transistor disebut basis, sedangkan dua
ujungnya dinamakan emitor dan kolektor. Hubungan antara emitor dan basis dinamakan
emitor basis (JEB) dan hubungan antara kolektor basis disebut hubungan emitor basis (JCB).
Seluruh bahan semikonduktor ditutup rapat kedap terhadap kelembaban didalam paket
(kemasan logam) atau plastik dengan sambungan logam menonjol keluar untuk sambungan
ke emitor basis dan kolektor.
Dalam transistor hubungan baik pembawa mayoritas maupun minoritas ikut serta
dalam proses karena itu transistor hubungan dinamakan alat bipolar. Dalam operasi normal
transistor, hubungan emitor basis dicatu maju sedangkan hubungan kolektor basis dicatu
balik. Tanda panah pada terminal emitor menunjukkan arah aliran arus kalau hubungan
emitor basis dicatu maju. Jadi arus masuk ke transistor melalui terminal emitor dalam
transistor PNP, sedangkan dalam transistor NPN arus keluar transistor lewat terminal emitor.
Dalam kedua jenis transistor tersebut, arus – arus emitor, basis, dan kolektor, berturut – turut
diberi tanda dengan simbol IC, IB, dan IE, yang diambil positif kalau arus mengalir dalam
transistor. Penurunan tegangan dari emitor ke basis, kolektor ke basis, dan kolektor ke emitor
ditunjukkan berturut – turut oleh simbol VEB, VCB, dan VCE. Tegangan – tegangan ini diambil
positif kalau terminal yang ditunjukkan oleh subkrib pertama positif dibandingkan dengan
terminal yang ditunjukkan oleh subkrip kedua. Dalam keadaan normal, karena hubungan
emitor basis dicatu maju, IE negatif untuk transistor NPN dan positif untuk transistor PNP
terhadap acuan yang dipilih. Kalau hubungan kolektor basis dicatu balik, tegangan VCB
positif untuk transistor NPN dan negatif untuk transistor PNP terhadap acuan.
Percobaan ini yaitu bertujuan untuk memahami prinsip kerja transistor dan juga
mampu mengaplikasikan transistor untuk mencapai tujuan tersebut, dalam percobaan kali ini
membutuhkan alat dan bahan agar dapat membuat rangkaian seperti di dalam modul. Alat dan
bahan yang akan digunakan dalam percobaan kali ini yaitu voltmeter, amperemeter, dioda,
resistor, project board, power sipply dan jumper. Setelah semua alat dan bahan sudah siap,
selanjutnya yaitu melakukan percobaan. Pada percobaan kali ini yaitu akan melakukan dua
74
kali percobaan. Pada percobaan yang pertama yaitu akan melakukan mengenai karakteristik
input dan percobaan yang kedua yaitu mengenai tentang karakteristik output.
Setelah itu melakukan percobaan yang pertama yaitu mengenai karakteristik input.
Sebelum melakukan percobaan, harus merangkai terlebih dahulu rangkaian yang akan
digunakan dalam percobaan. Rangkai semua komponen seperti yang di tunjukkan di dalam
modul. Pada percobaan kali ini yaitu untuk mencari nilai IB. Untuk mendapatkan hasil nilai
IB menggunakan VBB dan VCC. Namun pada VCC sesuai dengan percobaan yang akan
dilakukan tidak mempengaruhi nilai IB, jadi sebesar apapun nilai VCC yang digunakan, maka
nilai IB tidak akan berubah sedikitpun.
Selanjutnya untuk nilai VBB sebesar 2 volt, didapatkan nilai IB sebesar 3,75 mA.
Setelah itu untuk nilai VBB sebesar 3 volt didapatkan nilai IB sebesar 6,5 mA. Setelah itu
dilanjutkan percobaan dengan nilai VBB sebesar 4 volt dan nilai IB yang didapatkan yaitu
sebesar 9 mA. Setelah itu untuk nilai VBB sebesar 5 volt didapatkan nilai IB sebesar 15,5
mA. Dan yang terakhir untuk nilai VBB sebesar 7 Volt didapatkan nilai IB sebesar 16,75 mA.
Setelah itu dilanjutkan pada percobaan yang kedua yaitu mengenai karakteristik
output. Untuk percobaan yang kedua kali ini menggunakan rangkaian yang di rangkai ulang
karena pada percobaan yang pertama berbeda rangkaiannya dengan rangkaian pada
percobaan yang pertama. Sebelum melakukan percobaan yang kedua, kita harus melakukan
merangkai semua komponen seperti yang ada di dalam modul. Pada percobaan yang kedua
kali ini yaitu mencari nilai IC. Tetapi sama seperti percobaan yang pertama, salah satu dari
kedua input ada yang tidak berpengaruh terhadap nilai IC yang didapatkan. Pada percobaan
yang kedua kali ini nilai IB tidak akan mempengaruhi nilai IC, tetapi yang dapat
mempengaruhi nilai IC yaitu nilai input VCC.
Ketika nilai VCC sebesar 2 volt didapatkan nilai IC sebesar 0 mA, untuk nilai IB
sebesar 0 mA. Sedangkan untuk nilai IB diatas nol didapatkan nilai IC sebesar 6 mA. Untuk
semua nilai masukan VCC bernilai 0 mA. Kemudian pada saat nilai VCC sebesar 3 volt di
dapatkan nilai IC sebesar 9 mA. Setelah itu untuk nilai VCC sebesar 4 volt didapatkan nilai
IC sebesar 11,5 mA. Selanjutnya untuk nilai VCC sebesar 5 volt di dapatkan nilai IC sebesar
14,5 mA. Untuk nilai VCC sebesar 6 di dapatkan nilai IC sebesar 17,5 mA. Dan yang terakhir
untuk nilai VCC sebesar 7 volt, di dapatkan nilai IC sebesar 25 mA.
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan di dapatkan kesimpulan bahwa pada saat
karakteristik input, semakin besar nilai VBB yang digunakan maka nilai IB yang akan di
75
dapatkan akan semakin besar. Dan pada saat karakteristik output, semakin besar nilai VCC
yang digunakan maka nilai IC yang akan di dapatkan akan semakin besar.

76
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari yang kami lakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada karakteristik input, semakin besar nilai VBB yang digunakan maka nilai IB yang
didapatkan akan semakin besar. Pada saat nilai VBB 3 volt di dapatkan nilai IB sebesar
6,5 mA dan pada saat nilai VBB 4 volt di dapatkan nilai IB sebesar 9 mA.
2. Pada saat karakteristik output, semakin besar nilai VCC yang digunakan maka nilai IC
yang di dapatkan akan semakin besar kecuali pada saat nilai IB sebesar 0 mA. Pada saat
nilai VCC sebesar 3 volt di dapatkan nilai IC sebesar 9 mA dan pada saat nilai VCC
sebesar 4 volt di dapatkan nilai IC sebesar 11,5 mA.
3. Pada saat karakteristik input, nilai VCC tidak dapat mempengaruhi nilai dari IB. Pada saat
VBB bernilai 3 volt, nilai VCC sebesar 1 volt nilai IB sebesar 6,5 mA dan pada saat
ketika nilai VCC sebesar 2 volt nilai IB sebesar 6,5 mA.
4. Pada saat karakteristik output, nilai IB tidak dapat mempengaruhi nilai IC. Pada saat VCC
sebesar 4 volt, nilai IB sebesar 10 mA, IB bernilai sebesar 11,5 mA dan ketika nilai IB 20
mA , IB bernilai sebesar 11,5 mA.
5. Pada karakteristik input, nilai IB terbesar terdapat pada nilai VBB sebesar 7 volt. Pada
saat nilai IB yang di dapatkan terbesar ketika nilai VBB sebesar 7 volt yaitu sebesar 16,75
mA.

77
LAMPIRAN
Lampiran
1. Kurva Karakteristik Input

20
18
16
14
12
10
IB

8
6
4
2
0
0 1 2 3 4 5 6 7
VBB

2. Kurva Karakteristik Output

30

25

20

15
IC

10

0
0 1 2 3 4 5 6 7
VCC
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM 6
PENGUAT TRANSISTOR KELAS A

Oleh :
Kelompok 2
NAMA MAHASISWA NIM
1. Ahmad Wahyu Tri Utama 141910201030
2. Dwi Sukma Aji 141910201031
3. Drajat Kurniawan 141910201033
4. Joni Pranata 141910201034
5. Rizqi Afif 141910201036

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2015
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui cara kerja dan prinsip kerja dari transistor.
2. Mahasiswa mampu menganalisa penguatan pada transistor kelas A.

1.2 Latar Belakang


Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit
pemutus dan penyambung (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai
fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus
masukannya (BJT) atau tegangan masukannya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang
sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Salah satu fungsinya adalah transistor sebagai
penguat sinyal AC. Selain sebagai penguat arus, transistor juga bisa digunakan sebagai
penguat tegangan pada sinyal AC. Untuk pemakaian transistor sebagai penguat sinyal
digunakan beberapa macam teknik pembiasan basis transistor. Dalam bekerja sebagai
penguat sinyal AC, transistor dikelompokkan menjadi beberapa jenis penguat yaitu: penguat
kelas A, penguat kelas B, penguat kelas AB, dan kelas C.

83
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori


Apabila sebuah transistor mempunyai titik aktif di tengah-tengah dari garis beban
DC, suatu sinyal AC yang kecil mengakibatkan transistor bekerja di daerah aktif dalam
seluruh siklusnya. Apabila isyarat membesar, transistor terus bekerja di daerah aktif selama
waktu mencapai puncak-puncaknya sepanjang garis beban titik jenuh tidak terpotong. Untuk
membedakan cara operasi ini dari jenis-jenis lainnya, operasi tersebut disebut dari kelas A.
Operasi kelas A berarti dimana tidak terjadi pengguntingan di kedua ujung dari sinyal AC.
Apabila pengguntingan terjadi, operasi tersebut tidak lagi disebut dari operasi kelas A.
Setiap daripada penguat terdiri dari dua macam beban yaitu beban DC dan beban AC.
Dan ini kita berarti mengenal dua jenis garis beban yaitu garis beban DC dan garis beban
AC. Kita dapat menurunkan garis beban DC dengan menganalisis rangkaian ekivalen DC.
Dan untuk memperoleh garis beban kita juga harus menganalisis rangkaian ekivalen AC.
Dalam sebuah penguat linier, sebuah transistor bekerja sebagai sebuah sumber arus selama
sinyal AC kecil. Akan tetapi apabila isyarat besar transistor dapat didesak ke keadaan jenuh
atau keadaan cut off dimana transistor tidak lagi berperilaku sebagai sumber arus.
Complience dari sebuah sumber adalah jangkauan dari tegangan operasi dari sumber
tersebut. Misalkan apabila sebuah sumber arus dapat bekerja antara suatu tegangan minimum
5 V dan sebuah tegangan maksimum 25 V, maka sumber tersebut mempunyai kebutuhan
sebesar 20 V. Kepatuhan DC dari sebuah penguat transistor adalah jangkauan tegangan
operasi DC dari kolektor.

84
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Gambar Rangkaian

Gambar 1 Rangkaian Penguatan Transistor kelas A

3.2 Alat dan Bahan


1. Multimeter
2. Oscilloscope
3. Power supply
4. Function generator
5. Jumper
6. Transistor 2n2222
7. Resistor 330 Ω dan 10 KΩ
8. Kapasitor 470 dan 1 .

85
3.3 Prosedur kerja
1 Merangkai rangkaian seperti pada gambar yang sudah ditentukan.
2 Mengukur VCE, VB, IC, IE, dengan Vin = 0.

3 Menghitung IC (sat) dengan rumus IC (sat) = .

4 Mengukur Vout (VCE) saat Vin 10 mV – 2 V.

5 Menghitung penguat dengan rumus P = .

6 Membuat tabel dari hasil praktikum.


7 Membuat kesimpulan.

86
BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Data Hasil Percobaan


4.1.1 Penguatan 0,5 kali
Vin Cin Cout V/div T/div
No T L Vout (V)
(V) (μF) (μF) (V) (ms)
1 0,5 470 1 1 1 0,25 2 0,25
2 1 470 1 1 1 0,5 2 0,5
3 1,5 470 1 1 1 0,75 2 0,75
4 2 470 1 1 1 1 2 1
5 2,5 470 1 1 1 1,25 2 1,25
6 3 470 1 2 1 0,75 2 1,5
7 3,5 470 1 2 1 0,875 2 1,75
8 4 470 1 2 1 2 2 2

4.2.2 Penguatan 1 kali


Cin Cout V/div T/div
No Vin (V) T L Vout (V)
(μF) (μF) (V) (ms)
1 0,5 1 470 1 1 0,5 2 0,5
2 1 1 470 1 1 1 2 1
3 1,5 1 470 1 1 1,5 2 1,5
4 2 1 470 1 1 2 2 2
5 2,5 1 470 1 1 2,5 2 2,5
6 3 1 470 2 1 2 2 3
7 3,5 1 470 2 1 2,1 2 3,5
8 4 1 470 2 1 2,2 2 4

87
4.2 Analisa Pembahasan
Pada percobaan kali ini, akan melakukan percobaan mengenai penguatan
transistor kelas A. Pada dasarnya harus mengetahui terlebih dahulu maksud dari
penguatan transistor kelas A, penguatan kelas A merupakan penguat dengan titik kerja
yang berada di tengah garis beban transistor, arti dari berada di tengah ini adalah
tegangan kerja transistor (VB) adalah setengah VCE. Prinsip kerja penguat transistor
kelas A adalah menguatkan seluruh daur masukan sehingga keluarannya merupakan
salinan asli yang terbesar amplitudonya. Dalam penguat kelas A, unsur penguatnya diberi
tegangan sedemikian sehingga rangkaian itu selalu menghantarkan dan di operasikan
pada bagian yang linear pada lingkungan karakteristik penguat. Setiap daripada penguat
terdiri dari dua macam beban yaitu beban DC dan beban AC. Dan ini kita berarti
mengenal dua jenis garis beban yaitu garis beban DC dan garis beban AC. Kita dapat
menurunkan garis beban DC dengan menganalisis rangkaian ekivalen DC. Dan untuk
memperoleh garis beban kita juga harus menganalisis rangkaian ekivalen AC. Dalam
sebuah penguat linier, sebuah transistor bekerja sebagai sebuah sumber arus selama
sinyal AC kecil. Akan tetapi apabila isyarat besar transistor dapat didesak ke keadaan
jenuh atau keadaan cut off di mana transistor tidak lagi berperilaku sebagai sumber arus.
Complience dari sebuah sumber adalah jangkauan dari tegangan operasi dari sumber
tersebut. Misalkan apabila sebuah sumber arus dapat bekerja antara suatu tegangan
minimum 5 V dan sebuah tegangan maksimum 25 V, maka sumber tersebut mempunyai
kebutuhan sebesar 20 V. Kepatuhan DC dari sebuah penguat transistor adalah jangkauan
tegangan operasi DC dari kolektor.
Pada percobaan kali ini yaitu bertujuan untuk memahami prinsip kerja dari
transistor dan juga mampu menganalisa penguatan pada transistor kelas A. Untuk
mencapai tujuan tersebut, membutuhkan alat dan bahan agar dapat melakukan percobaan
dan membuat rangkaian seperti yang ditunjukkan di dalam modul. Alat dan bahan yang
akan digunakan pada percobaan kali ini yaitu multimeter, oscilloscope, power supply,
funnction generator, jumper, transistor, resistor dan kapasitor setelah semua alat dan
bahan telah disiapkan, selanjutnya yaitu merangkai rangkaian. Pada percobaan kali ini
yaitu akan melakukan dua percobaan. Pada percobaan yang pertama mengenai penguatan
setengah kali dan percobaan yang kedua yaitu penguatan satu kali.
Pada percobaan yang pertama yaitu mengenai pengautan setengah kali.
Sebelum melakukan percobaan, yaitu harus merangkai terlebih dahulu semua komponen
seperti gambar yang ada di dalam modul. Pada percobaan kali ini yaitu mencari nilai
Vout, nilai Vout tersebut dapat dilihat pada gambar sinyal yang terdapat pada osilloscope.
88
Nilai input yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu sebesar 0,5 Volt, 1 Volt, 1,5
Volt, 2 Volt, 2,5 Volt, 3 Volt dan 4 Volt.
Pada percobaan kali ini yaitu menggunakan kapasitor input sebesar 1 μF dan
kapasitor output sebesar 470 μF. Selanjutnya pada nilai tegangan input sebesar 0,5 Volt
kami dapatkan nilai tegangan output sebesar 0,25 Volt. Kemudian pada tegangan input
sebesar 1 Volt didapatkan nilai tegangan output sebesar 0,5 Volt. Selanjutnya pada
tegangan input sebesar 1,5 Volt didapatkan nilai tegangan output sebesar 0,75 Volt.
Selanjutnya pada tegangan input sebesar 2 Volt didapatkan nilai tegangan output sebesar
1 Volt. Selanjutnya pada tegangan input sebesar 2,5 Volt didapatkan nilai tegangan
output sebesar 1,25 Volt. Selanjutnya pada tegangan input sebesar 3 Volt didapatkan nilai
tegangan output sebesar 1,5 Volt. Selanjutnya pada tegangan input sebesar 3,5 Volt
didapatkan nilai tegangan output sebesar 1,75 Volt. Selanjutnya pada tegangan input
sebesar 4 Volt didapatkan nilai tegangan output sebesar 2 Volt.
Selanjutnya yaitu melakukan percobaan yang kedua yaitu mengenai penguatan
satu kali. Nilai tegangan input yang digunakan pada percobaan kali ini sama dengan nilai
tegangan input yang pertama. Pada tegangan input sebesar 0,5 Volt didapatkan nilai
tegangan output sebesar 0,5 Volt. Pada nilai tegangan input sebesar 1 Volt didapatkan
nilai tegangan output sebesar 1 Volt. Pada nilai tegangan input sebesar 1,5 Volt
didapatkan nilai tegangan output sebesar 1,5 Volt. Pada nilai tegangan input sebesar 2
Volt didapatkan nilai tegangan output sebesar 2 Volt. Pada nilai tegangan input sebesar
2,5 Volt didapatkan nilai tegangan output sebesar 2,5 Volt. Pada nilai tegangan input
sebesar 3 Volt didapatkan nilai tegangan output sebesar 3 Volt. Pada nilai tegangan input
sebesar 3,5 Volt didapatkan nilai tegangan output sebesar 3,5 Volt. Dan yang terakhir
untuk nilai tegangan input sebesar 4 Volt didapatkan nilai tegangan output sebesar 4 Volt.
Dari hasil percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada penguatan satu
kali gelombang sinyal yang terbentuk mengikuti sinyal input yang digunakan, semakin
besar maka nilai outputnya yang didapatkan akan semakin besar juga. Pada penguatan
setengah kali nilai yang dihasilkan pada Vout setengah kali dari nilai Vin. Begitu juga
pada penguatan satu kali, diketahui nilai Vin akan sama dengan nilai Vout karena
penguatan sebanyak satu kali.

89
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari yang kami lakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada saat penguatan 0,5 x, tegangan output yang dihasilkan setengah kali tegangan
input yang digunakan. Pada saat tegangan sebesar 1,5 Volt menghasilkan tegangan
output sebesar 0,75 Volt dan Pada saat tegangan sebesar 2 Volt menghasilkan
tegangan output sebesar 1 Volt.
2. Pada saat penguatan 1x, tegangan output yang dihasilkan sama dengan tegangan input
yang digunakan. Pada saat tegangan sebesar 2 Volt menghasilkan tegangan output
sebesar 2 Volt dan Pada saat tegangan sebesar 2,5 Volt menghasilkan tegangan output
sebesar 1,5 Volt.
3. Pada saat penguatan 0,5x, gelombang sinyal output yang terbentuk memiliki
amplitudo setengah dari amplitudo gelombang sinyal input. Data tersebut dapat dilihat
pada lampiran gambar gelombang sinyal penguatan 0,5 x.
4. Pada saat penguatan 1 x, gelombang sinyal output yang terbentuk memiliki amplitudo
sama dengan amplitudo gelombang sinyal input. Data tersebut dapat dilihat pada
lampiran gambar gelombang sinyal penguatan 1 x.
5. Semakin besar nilai tegangan input yang digunakan, maka nilai tegangan output yang
dihasilkan akan semakin besar. Data tersebut dapat dilihat di dalam data hasil
percobaan mengenai penguatan 0,5x maupun penguatan 1x.

90
LAMPIRAN
Lampiran
Perhitungan
a. Penguatan 0,5 kali

1. AV =

2. AV =

3. AV =

4. AV =

5. AV =

6. AV =

7. AV =

8. AV =

b. Penguatan 1 kali
1. AV =

2. AV =

3. AV =

4. AV =

5. AV =

6. AV =

7. AV =

8. AV =
Gambar Sinyal Oscilloscope
a. Tabel penguatan 0,5 kali
No Vin Cin Cout V/div T/div Vout
1 1 µF 470 µF 1V 1 ms

2 1 µF 470 µF 1V 1 ms

3 1 µF 470 µF 1V 1 ms

4 1 µF 470 µF 1V 1 ms

5 1 µF 470 µF 1V 1 ms

6 1 µF 470 µF 2V 1 ms

7 1 µF 470 µF 2V 1 ms

8 1 µF 470 µF 2V 1 ms
b. Tabel penguatan 1 kali
No Vin Cin Cout V/div T/div Vout
1 470 µF 1 µF 1V 1 ms

2 470 µF 1 µF 1V 1 ms

3 470 µF 1 µF 1V 1 ms

4 470 µF 1 µF 1V 1 ms

5 470 µF 1 µF 1V 1 ms

6 470 µF 1 µF 2V 1 ms

7 470 µF 1 µF 2V 1 ms

8 470 µF 1 µF 2V 1 ms
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM 7
FIELD EFFECT TRANSISTOR

Oleh :
Kelompok 2
NAMA MAHASISWA NIM
1. Ahmad Wahyu Tri Utama 141910201030
2. Dwi Sukma Aji 141910201031
3. Drajat Kurniawan 141910201033
4. Joni Pranata 141910201034
5. Rizqi Afif 141910201036

LABORATORIUM ELEKTRONIKA DAN TERAPAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2015
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Mahasiswa dapat memahami prinsip kerja JFET dan MOSFET.
2. Mahasiswa mampu mengamati dan memahami DC bias pada JFET dan MOSFET.
3. Mahasiswa mampu mengamati dan memahami prinsip kerja JFET dan E-MOSFET
sebagai penguat.

1.2 Latar Belakang


Transistor efek-medan semikonduktor logam-oksida (MOSFET) adalah salah satu
jenis transistor efek medan. Prinsip dasar perangkat ini pertama kali diusulkan oleh Julius
Edgar Lilienfeld pada tahun 1925 . MOSFET mencakup kanal dari bahan semikonduktor
tipe-N dan tipe-P, dan disebut NMOSFET atau PMOSFET (juga biasa nMOS, pMOS). Ini
adalah transistor yang paling umum pada sirkuit digital maupun analog, namun transistor
sambungan dwikutub pada satu waktu lebih umum. Transistor adalah alat semikonduktor
yang dipakai sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung (switching),
stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau sebagai fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi
semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus masukannya (BJT) atau tegangan
masukannya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber
listriknya.

98
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori


FET (Field Effect Transistor) merupakan komponen aktif elektronika yang biasa
dipergunakan sebagai penguat dan juga sebagai rangkaian switching. FET merupakan jenis
transistor yang memakai efek medan listrik dalam aplikasinya sebagai amplifier ataupun
sebagai switching dan merupakan komponen unipolar. Berdasarkan konstruksinya, ada
beberapa jenis FET, diantaranya JFET (Junction- FET) dan MOSFET (Metal Oxide
Semicondudtor - FET), dimana MOSFET sendiri terbagi lagi ke dalam dua jenis, yaitu
depletion-type dan enhancement-type. Kedua tipe atau jenis MOSFET ini ditentukan saat
akan melakukan fabrikasi. Seperti jenis transistor pada umumnya, ada juga beberapa jenis
JFET maupun MOSFET (depletion-type) berdasarkan substratnya, yaitu n-channel JFET
atau D-MOSFET (p-substrate) dan p-channel JFET atau D-MOSFET (n-substrate).

Gambar 1 Struktur JFET (a) n-channel (b) p-channel

Gambar 2 Struktur Enhancement-Type MOSFET

99
Gambar 3 Simbol – simbol FET

100
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Gambar Rangkaian

Gambar 4 Rangkaian E-MOSFET

3.2 Alat dan Bahan


1. Multimeter analog
2. Project board
3. Jumper
4. Power supply
5. Resistor 1 KΩ dan 10 KΩ
6. E-MOSFET IRF540N

101
3.3 Prosedur kerja
1 Merangkai rangkaian seperti pada gambar yang telah ditentukan.
2 Mengukur VGS, VDS, ID, dengan Vin = -3 V – 0 V.
3 Mengukur Vout (VDS) saat Vin -3 mV – 0 V.
4 Membuat tabel dari hasil praktikum.
5 Membuat kesimpulan.

102
BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Data Hasil Percobaan


No VGS (V) VDS (V) IG (mA) ID (mA)
1 0 0 0 0
2 1 0 0 0
3 2 0 0 0
4 3 0 0 0
5 4 4 0 4,5
6 5 5 0 4,8
7 6 6 0 5
8 7 7 0 6

103
4.2 Analisa Pembahasan
Pada percobaan kali ini ialah membahas mengenai FIELD EFFECT TRANSISTOR.
FET (Field Effect Transistor) merupakan komponen aktif elektronika yang biasa
dipergunakan sebagai penguat dan juga sebagai rangkaian switching. FET merupakan jenis
transistor yang memakai efek medan listrik dalam aplikasinya sebagai amplifier ataupun
sebagai switching dan merupakan komponen unipolar.
Berdasarkan konstruksinya, ada beberapa jenis FET, diantaranya JFET (Junction-
FET) dan MOSFET (Metal Oxide Semicondudtor - FET), di mana MOSFET sendiri terbagi
lagi ke dalam dua jenis, yaitu depletion-type dan enhancement-type. Kedua tipe atau jenis
MOSFET ini ditentukan saat akan melakukan fabrikasi.
Seperti jenis transistor pada umumnya, ada juga beberapa jenis JFET maupun
MOSFET (depletion-type) berdasarkan substratnya, yaitu n-channel JFET atau D-MOSFET
(p-substrate) dan p-channel JFET atau D-MOSFET (n-substrate).
Pada percobaan kali ini yaitu bertujuan mahasiswa dapat memahami prinsip kerja
JFET dan MOSFET, mahasiswa mampu mengamati dan memahami DC bias pada JFET dan
MOSFET, mahasiswa mampu mengamati dan memahami prinsip kerja JFET dan E-
MOSFET sebagai penguat. Untuk mencapai tujuan tersebut, membutuhkan alat dan bahan
agar dalam percobaan kali ini dapat melakukan percobaan dan membuat rangkaian seperti
yang di tunjukkan di dalam modul. Pada percobaan kali ini alat dan bahan yang akan
digunakan yaitu resistor sebesar 1 k, resistor sebesar 10 k, multimeter, bread board,
jumper,MOSFET type IRF 540 dan power supply. Setelah semua alat dan bahan lengkap dan
disiapka, selanjutnya yaitu merangkai semua komponen yang telah disiapkan. Semua
komponen yang sudah disiapkan di rangkai seperti di dalam modul. Pada percobaan kali ini
yaituada satu percobaan yang akan memenuhi tujuannya, untuk memahami prinsip kerja J-
FET dan MOSFET.
Pada pecobaan kali ini, setelah semua komponen di rangkai yaitu melakukan
percobaannya. Pada percobaan kali ini menggunakan tegangan masukan dari power supply
sebanyak 8. Tegangan masukan yang digunakan yaitu sebesar 0 volt, 1 volt, 2 volt, 3 volt, 4
volt, 5 volt, 6 volt dan 7 volt. Setelah memasukkan data tegangan tersebut didapatkan nilai
VDS, nilai IG dan nilai ID.
Pada percobaan kali ini, nilai tegangan masukan yang pertama yaitu sebesar 0 volt,
sehingga di dapatkan nilai VDS sebesar 0 volt, nilai IG sebesar 0 mA dan nilai ID sebesar 0

104
mA. Nilai masukan tegangan masukan yang kedua yaitu sebesar 1 volt, sehingga di dapatkan
nilai VDS sebesar 0 volt, nilai IG sebesa 0 mA dan nilai ID sebesar 0 mA. Selanjutnya nilai
tegangan masukan yang ketiga yaitu sebesar 2 volt, sehingga di dapatkan nilai VDS sebesar
0 volt, nilai IG sebesar 0 mA dan nilai ID sebesar 0 mA. Setelah itu, pada saat tegangan
masukan yang keempat sebesar 3 volt, sehingga di dapatkan nilai VDS sebesar 0 volt, nilai
IG sebesar 0 mA dan nilai ID sebesar 0 mA. Pada saat menggunakan nilai tegangan masukan
sebesar 4 volt, yaitu nilai tegangan masukan yang kelima, sehingga di dapatkan nilai VDS
sebesar 4 volt, nilai IG sebesar 0 mA dan nilai ID sebesar 4,5 mA. Setelah itu dilanjutkan
pada nilai masukan tegangan yang keenam yaitu sebesar 5 volt, sehingga di dapatkan nilai
VDS sebesar 5 volt, nilai IG sebesar 0 mA dan nilai ID sebesar 4,8 mA. Stelah itu
menggunakan nilai tegangan masukan yang ketujuh yaitu sebesar 6 volt, sehingga di
dapatkan nilai VDS sebesar 6 volt, nilai IG sebesar 0 mA dan nilai ID sebesar 5 mA. Dan
pada yang terakhir atauyang kedelapan menggunakan nilai masukan tegangan sebesar 7 volt,
sehingga di dapatkan nilai VDS sebesar 7 volt, nilai IG sebesar 0 mA dan nilai ID sebesar 6
mA.
Dari percobaan yang telah dilakukan dan didapatkan beberapa data maka dapat
diketahui bahwa nilai ID terbesar didapatkan yaitu sebesar 6 mA pada saat nilai VGS 8 Volt.
Nilai tegangan dari VDS dan nilai arus dari ID dapat terlihat pada saat tegangan VGS lebih
dari atau sama dengan 4 Volt. Hal tersebut dikarenakan padasaat nilai tegangan kurang dari
atau sama dengan 3 Volt lapisan deplesi masih menutup sehingga nilai arus maupun
tegangan tidak bisa mengalir dari MOSFET bagian Drain menuju Source. MOSFET pada
dasarnya hampir sama seperti transistor bipolar yang dapat mengalirkan arus dan tegangan
melalui gate , akan tetapi ada batas minimumnya.

105
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari yang kami lakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada saat nilai VGS semakin besar maka nilai IG akan selalu tetap atau bernilai 0 mA.
Dapat di lihat dari data hasil percobaan.
2. Ketika nilai VGS semakin besar maka nilai VDS akan semakin besar pada saat nilai
masukan lebih dari 4 volt. Dapat di lihat dari data hasil percobaan.
3. Ketika nilai VGS semakin besar maka nilai ID akan semakin besar ketika nilai
tegangan masukan tersebut minimal 4 volt. Dapat di lihat dari data hasil percobaan.
4. Nilai VDS sama dengan nilai ID saat semakin membesar, ketika nilai VDS semakin
besar maka niulai ID akan semakin besar. Dapat di lihat dari data hasil percobaan.
5. Semakin besar nilai VGS maka nilai ID juga semakin besar. Saat VGS 4 Volt, maka
nilai ID 4,5 mA dan saat nilai VGS 8 Volt, maka nilai ID sebesar 6 mA.

106
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

http://wikipedia.wiki.org/dioda-sebagai-penyearah/ [diakses pada tanggal 7 Oktober 2015]


http://belajarelektro.com/rangkaian-dioda-sederhana/ [diakses pada tanggal 8 Oktober 2015]
http://wikipedia.org/rangkaian-clipper-positif/ [ diakses pada tanggal 15 Oktober 2015 ]
http://academia.edu/clipper-clamper/ [diakses pada tanggal 15 Oktober 2015]
http://ayobelajarelektro.com/rangkaian-rangkaian-penyearah-gelombang/ [diakses pada
tanggal 23 Oktober 2015]
http://wikipedia.org/rangkaian-fullwave-halfwave/ [diakses pada tanggal 23 Oktober 2015]
http://wikipedia.org/transistor-bipolar [diakses pada tanggal 1 november 2015]
http://duniaelektronika.web.id/pengertian-common-base-pada-transistor/ [diakses pada
tanggal 1 november 2015]
http://wikipedia.wiki.org/bias-basis-transistor/ [diakses pada tanggal 8 November 2015]
http://academia.edu/transistor-NPN/ [diakses pada tanggal 9 November 2015]
http://wikipedia.org/penguatan-transistor/ [diakses pada tanggal 17 November 2015]
http://gurubesar.web.id/penguat-transistor-kelas-a/ [diakses pada tanggal 17 November 2015]
http://hasanbasri93.blogspot.co.id/2014/01/pengertian-field-effect-transistor-dan.html
[diakses pada tanggal 3 Desember 2015]
http://wikipedia.org/pengertian-mosfet/ [diakses pada tanggal 3 Desember 2015]