Anda di halaman 1dari 16

Kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia

1. Kerajaan Kutai

Kerajaan Hindu pertama di Indonesia. Terletak di Tepi Sungai Mahakam,


Kalimantan Timur. Di Kutai ditemukan prasasti berupa "yupa" yaitu tugu batu
yang digunakan dalam upacara kurban. Yupa ini bertuliskan huruf Pallawa dan
Bahasa Sankserta, diperkirakan berasal dari tahun 400 M. Dalam Yupa diterangkan
mengenai silsilah raja-raja Kutai. Raja Kutai yang pertama adalah Kudungga(nama
ini diperkirakan asli orang Indonesia). Kudungga mempunyai putra yang bernama
Aswawarman, nama ini diperkirakan berasal dari India sehingga Aswawarman
dianggap sebagai "wangsakarta" atau pembentuk keluarga/dinasti. Selain itu ia
juga dijuluki "Ansuman" atau dewa matahari. Aswawarman mempunyai putra
bernama Mulawarman. Mulawarman adalah raja yang terbesar/terkenal di Kutai.
Kutai adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia, yang diperkirakan muncul
pada abad 5 M atau± 400 M, keberadaan kerajaan tersebut diketahui berdasarkan
sumber berita yang ditemukan yaitu berupa prasasti yang berbentuk Yupa/tiang
batu berjumlah 7 buah. Prasasti Yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan
bahasa sansekerta tersebut, dapat disimpulkantentang keberadaan kerajaan Kutai
dalam berbagai aspek kebudayaan yaitu antara lain politik,sosial, ekonomi, dan
budaya.

2. Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Hindu ini terletak di dekat sungai Citarum, Jawa Barat. Kerajaan ini di
perkirakan berdiri tahun 450 M. Raja yang paling terkenal adalah Purnawarman. Ia
adalah raja yang sangat baik terhadap rakyat, hal ini dibuktikan dengan pembuatan
irigasi atau sungai untuk mengairi sawah dan mencegah banjir, sungai ini diberi
nama sungai "Gomati". Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara
antara lain Prasasti Tugu, Munjul, Kebon Kopi, Pasir Awi, Jambu,Ciaruteun, dan
Muara Cianten.

3. Kerajaan Kaling

Keterangan mengenai kerajaan ini diperoleh dari prasasti Tuk mas. Berdasarkan
prasasti ini diperkirakan Kerajaan Kaling berada di sekitar Purwodadi dan Blora.
Raja yang terkenal adalah Ratu Sima. Ia dikenal sebagai Ratu yang tegas, jujur,
dan bijaksana.

4. Kerajaan Sriwijaya
Keterangan mengenai kerajaan sriwijaya diperoleh dari berita perjalanan I-Tsing,
seorang pendeta Budha dari Cina. Sriwijaya merupakan kerajaan Budha yang
berada di Sumatra Selatan. Selain dari I-Tsing, keterangan mengenai Sriwijaya
juga diperoleh dari Prasasti-prasasti antara lain : Prasasti kedukan bukit yang berisi
tentang perjalanan suci Sang Dapunta Hyang, Prasasti Kota Kapur yang berisi
permintaan kepada para dewa untuk menjaga kesatuan Sriwijaya, Prasasti Telaga
Batu yang berisi kutukan terhadap mereka yang berbuat kejahatan, prasasti Talang
tuo dan prasasti Karang Berahi. Sriwijaya adalah nama kerajaan yang tentu sudah
tidak asing bagi Anda, karena Sriwijaya adalahsalah satu kerajaan maritim terbesar
di Indonesia bahkan di Asia Tenggara pada waktu itu (abad 7 -15 M).Jika Anda
ingin mengetahui perkembangan Sriwijaya hingga mencapai puncak
kebesarannyasebagai kerajaan Maritim, maka Anda harus mengetahui terlebih
dahulu sumber-sumber sejarahyang membuktikan keberadaan kerajaan
tersebut.Sumber-sumber sejarah kerajaan Sriwijaya selain berasal dari dalam juga
berasal dari luar sepertidari Cina, India, Arab, Persia. Sumber-sumber dari dalam
negeri
Sumber dari dalam negeri berupa prasasti yang berjumlah 6 buah yang
menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa, serta telah menggunakan
angka tahun Saka.
a.Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Kedukan Bukit, di tepi sungai Talang
dekatPalembang, berangka tahun 605 Saka atau 683 M. Isi prasasti tersebut
menceritakan perjalanansuci/Sidayatra yang dilakukan Dapunta Hyang, berangkat
dari Minangatamwan dengan membawa tentara sebanyak 20.000 orang. Dari
perjalanan tersebut berhasil menaklukkan beberapa daerah.
b.Prasasti Talang Tuo ditemukan di sebelah barat kota Palembang berangka tahun
606 Saka /684 M. Prasasti ini menceritakan pembuatan Taman Sriksetra untuk
kemakmuran semuamakhluk dan terdapat doa-doa yang bersifat Budha Mahayana.
cPrasasti Telaga Batu ditemukan di Telaga Batu dekat Palembang berangka tahun
683 M.
d.Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota Kapur pulau Bangka berangka tahun 608
Saka / 686M
e.Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi tidak berangka tahun.
f. Prasasti Palas Pasemah ditemukan di Lampung Selatan tidak berangka
tahunKeempat Prasasti yang disebut terakhir yaitu Prasasti Telaga Batu, Kota
Kapur, Karang bukit, danPalas Pasemah menjelaskan isi yang sama yaitu berupa
kutukan terhadap siapa saja yang tidak tunduk kepada raja Sriwijaya.

5. Kerajaan Mataram Kuno


Keterangan mengenai kerajaan ini diperoleh berdasarkan prasasti Gunung Wukir,
Magelang. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Sanjaya dan Raja Sanna (Sanjaya
adalah keponakan Sanna. Kerajaan Mataram diperintah oleh raja-raja dari Dinasti
Sanjaya (yang menganut agama Hindu ) dan raja-raja dari Dinasti Syailendra (yang
menganut Agama Budha). Setelah Raja Sanjaya meninggal, Mataram diperintah
oleh Rakai Panangkaran. Setelah Panangkaran yang berkuasa adalah
Samaratungga, pada masa kekuasaan Samaratungga dibangun Candi Borobudur.
Pengganti Samaratungga adalah menantunya yaitu Rakai Pikatan (suami dari
Pramodhawardani). Kerajaan Mataram mencapai Puncak kejayaan pada masa
kepemimpinan Raja Balitung. Pada tahun 929 M, pusat kerajaan Mataram
dipindahkan ke Watugaluh (JawaTimur) oleh Empu Sindok. Hal ini dilakukan
untuk menghindari ancaman bahaya letusan gunung berapi. Pengganti Empu
Sindok adalah Dharmawangsa. Ketika kepemimpinannya terjadi peristiwa "Pralaya
Medang" yaitu penyerbuan Mataram oleh Wura Wari (bawahan Darmawangsa
yang dihasut oleh Sriwijaya). Pengganti Dharmawangsa sekaligus raja terakhir
Mataram adalah Airlangga. Airlangga adalah menantu Dharmawangsa.
Berakhirnya kerajaan mataram karena Airlangga membagi kerajaan menjadi dua
untuk menghindari perebutan kekuasaan antara putra Darmawangsa dan putra
Airlangga, Mapanji Garasakan. Mataram dibagi menjadi dua yaitu Jenggala atau
singosari yang beribu kota di kahuripan dan Panjalu atau Kediri yang beribu kota
di Daha.
Kerajaan Mataram Kuno atau disebut dengan Bhumi Mataram. Pada awalnya
terletak di JawaTengah. Daerah Mataram dikelilingi oleh banyak pegunungan dan
di tengahnya banyak mengalir sungai besar diantaranya sungai Progo, Bogowonto,
Elo, dan Bengawan Solo. Keadaan tanahnyasubur sehingga pertumbuhan
penduduknya cukup pesat.

Prasasti-prasasti yang menjelaskan tentang keberadaan kerajaan Mataram Kuno /


lama tersebutyaitu antara lain:
a. Prasasti Canggal ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Canggal
berangka tahun 732 M dalam bentuk Candrasangkala.
b.Prasasti Kalasan, ditemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka tahun 778 M,
ditulisdalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta. Isinya
menceritakan pendirian bangunan suci untuk dewi Tara dan biara untuk pendeta
oleh raja Panangkaran atas permintaankeluarga Syaelendra dan Panangkaran juga
menghadiahkan desa Kalasan untuk para Sanggha(umat Budha).
c.Prasasti Mantyasih ditemukan di Mantyasih Kedu, Jateng berangka tahun 907 M
yangmenggunakan bahasa Jawa Kuno. Isi dari prasasti tersebut adalah daftar
silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality yaitu Raja Sanjaya, Rakai
Panangkaran, RakaiPanunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan,
Rakai Kayuwangi, RakaiWatuhumalang, dan Rakai Watukura Dyah
Balitung.Untuk itu prasasti Mantyasih/Kedu ini juga disebut dengan prasasti
Belitung. d.Prasasti Klurak ditemukan di desa Prambanan berangka tahun 782 M
ditulis dalam huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta isinya menceritakan
pembuatan arca Manjusri oleh Raja Indrayang bergelar Sri Sanggrama dananjaya
Menurut para ahli bahwa yang dimaksud dengan arca Manjusri adalah Candi Sewu
yang terletak di Komplek Prambanan dan nama raja Indra tersebut juga ditemukan
pada Prasasti Ligor Dan Prasasti Nalanda peninggalan kerajaan Sriwijaya.
Sumber berupa Candi
Selain prasasti yang menjadi sumber sejarah adanya kerajaan Mataram ada juga
banyak bangunan- bangunan candi di Jawa Tengah, yang manjadi bukti
peninggalan kerajaan Mataram yaitu seperti Candi-candi pegunungan Dieng, Candi
Gedung Songo, yang terletak di Jawa Tengah Utara.Selanjutnya di Jawa Tengah
bagian selatan ditemukan candi antara lain Candi Borobudur, CandiMendut, Candi
Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sambi Sari, dan masih banyak candi-candi yang
lain

6.Kerajaan Singasari

Pusat Kerajaan Singosari terletak di Malang, Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan
oleh Ken Arok, setelah berhasil membunuh Bupati tumapel Tunggul Ametung.
Ken Arok menjadi raja pertama Singasari dan berhasil memperistri Ken Dedes,
istri Tunggul Ametung. Ken Arok bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang
Amurwabumi. Pada tahun 1227 Ken Arok dibunuh oleh Anusapati (anak dari
Tunggul Ametung). Pemerintahan Anusapati tidak berjalan lama karena ia dibunuh
oleh Tohjaya (anak dari Ken Arok). Tidak lama kemudian Ranggawuni (anak dari
Anusapati menuntut kekuasaan dari Tohjaya, tetapi Tohjaya menolak dan
mengirimkan pasukan melawan Ranggawuni, dalam pertempuran tersebut Tohjaya
melarikan diri dan akhirnya meninggal di daerah Katang Lumbung. Ranggawuni
naik tahta dengan gelar Sri Jaya Wisnu Wardana. Setelah meninggal ia digantikan
putranya yaitu Kertanegara. Keruntuhan kerajaan Singasari
adalah karena mendapat serangan Jayakatwang dari Kediri.

7. Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit berada di sekitar Delta sungai Brantas, Mojokerto. Raja


Majapahit yang pertama adalah Raden Wijaya dengan gelar Kertarajasa
Jayawardhana. Setelah Raden Wijaya meninggal, Majapahit diperintah oleh
Jayanegara.Dalam masa pemerintahannya timbul beberapa pemberontakan antara
lain, pemberontakan Nambi, Semi, Ranggalawe, Lembu Sora dan Kuti.
Pemberontakan Kuti adalah yang dianggap paling berbahaya karena berhasil
menduduki ibukota Majapahit dan Jayanegara terpaksa mengungsi ke daerah
Badander. Akhirnya pemberontakan Kuti berhasil dipadamkan oleh Gajah Mada,
dan berkat jasanya ia di angkat menjadi patih Kahuripan. Pengganti Jayanegara
adalah Tribuwanatunggadewi. Ketika pemerintahannya timbul pemberontakan
Sadeng, pemberontakan ini juga berhasil ditumpas oleh Gajah Mada sehingga ia di
angkat menjadi Mahapatih Majapahit. Pada waktu pelantikan ia mengucapkan
sumpah yang dikenal dengan "Sumpah Palapa". Isi sumpahnya adalah tidak akan
merasakan palapa (istirahat) sebelum menyatukan nusantara di bawah
Majapahit. Setelah Tribuwanatunggadewi meninggal ia digantikan putranya yaitu
Hayam Wuruk. Majapahit mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan
Hayam Wuruk, di dampingi mahapatih Gadjah Mada. Keruntuhan Majapahit
antara lain akibat tidak ada tokoh yang cakap dan berwibawa sesudah wafatnya
Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Terjadi Perang paregrek (perang saudara) antara
Bhre Wirabumi dan Wikramawardhana, Banyak negeri bawahan Majapahit yang
berusaha melepaskan diri, dan Berkembangnya agama Islam di pesisir Pantai Utara
Jawa.

9. Kerajaan Kendiri

Kediri, adalah salah satu dari dua kerajaan pecahan Kahuripan pada tahun 1049
(satu lainnya adalah Janggala), yang dipecah oleh Airlangga untuk dua puteranya.
Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua kerajaan untuk menghindari
perselisihan dua puteranya, dan ia sendiri turun tahta menjadi pertapa. Wilayah
Kerajaan Kediri adalah bagian selatan Kerajaan Kahuripan. Sesungguhnya kota
Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Daha merupakan singkatan dari
Dahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan
yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat
Calon Arang bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak
lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.
Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya
karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri
Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota
baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan
kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.
Menurut Nagarakretagama, sebelum dibelah menjadi dua, nama kerajaan yang
dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu, yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan
Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota
lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.
Pada mulanya, nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai dari pada
nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh
raja-raja Kadiri. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam
kronik Cina berjudul Ling wai tai ta (1178).
Perkembangan Kerajaan Kendiri
Masa-masa awal Kerajaan Panjalu atau Kadiri tidak banyak diketahui. Prasasti
Turun Hyang II (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan
adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga.
Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting
tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri
Samarawijaya yang sudah diketahui, sedangkan urutan raja-raja sesudah Sri
Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang
ditemukan.
Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan
Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang
(1135), yaitu Panjalu Jayati, atau Panjalu Menang.
Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa
kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di
Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.
Hal ini diperkuat kronik Cina berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun
1178, bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Cina secara berurutan adalah
Arab, Jawa, dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah,
di Jawa ada Kerajaan Panjalu, sedangkan Sumatra dikuasai Kerajaan Sriwijaya.
Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai
peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih
banyak informasi tentang kerajaan tersebut.
Karya Sastra Kerajaan Kendiri
Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Panjalu-Kadiri. Pada
tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu
Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa
atas Korawa, sebagai kiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala.
Selain itu, Mpu Panuluh juga menulis Kakawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya.
Terdapat pula pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu
Dharmaja yang menulis Kakawin Smaradahana. Kemudian pada zaman
pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis
Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana
Runtuhnya Kerajaan Kendiri
Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, dan dikisahkan
dalam Pararaton dan Nagarakretagama.
Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana yang
kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok
juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri.
Perang antara Kediri dan Tumapel terjadi dekat desa Ganter. Pasukan Ken Arok
berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa
Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau
Singhasari.
Setelah Ken Arok mengangkat Kertajaya, Kadiri menjadi suatu wilayah dibawah
kekuasaan Singhasari. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai
bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama
Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.
Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang dipimpin oleh Kertanegara,
karena dendam masa lalu dimana leluhurnya Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok.
Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang membangun kembali
Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan satu tahun dikarenakan serangan gabungan
yang dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden
Wijaya.
Raja-raja yang terkenal dari kerajaan Kediri antara lain :
a. Raja pertama Kediri adalah Raja Kameswara (1115 - 1130 M) mempergunakan
lancana Candrakapale yaitu tengkorak yang bertaring pada masa pemerintahannya
banyak dihasilkan karya-karya sastra, bahkan kiasan hidupnya dikenal dalam
Cerita Panji.

b. Raja Jayabaya adalah Jayabaya memerintah tahun 1130 - 1160 mempergunakan


lancana Narasingha yaitu setengah manusia setengah singa pada masa
pemerintahannya Kediri mencapai puncak kebesarannya dan juga banyak
dihasilkan karya sastra terutama ramalannya tentang Indonesia antara lain akan
datangnya Ratu Adil. Tahun 1181 pemerintahan raja Sri Gandra terdapat sesuatu
yang menarik pada masa, yaitu untuk pertama kalinya didapatkan orang-orang
terkemuka mempergunakan nama-nama binatang sebagai namanya yaitu seperti
Kebo Salawah, Manjangan Puguh, Macan Putih, Gajah Kuning, dsb.

c. Raja terakhir Kediri adalah Kertajaya, (1185-1222). Kertajaya dikenal sebagai


raja yang kejam, bahkan meminta rakyat untuk menyembahnya. Ini ditentang oleh
para Brahmana. Sementara itu, di Tumapel (wilayah bawahan Kediri di daerah
Malang) terjadi gejolak politik: Ken Arok membunuh penguasa Tumapel Tunggul
Ametung dan mendirikan Kerajaan Singhasari. Ken Arok kemudian memanfaatkan
situasi politik di Kediri, ia Beraliansi dengan Brahmana, dan lalu menghancurkan
Kediri. Dengan meninggalnya Kertajaya, Kediri menjadi wilayah Kerajaan
Singhasari.
10. Kerajaan medang kemulan

Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan
Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada
abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan
ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di
Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak
Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.
Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas
bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh
Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.
Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut
dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang
memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna,
negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan
ibunya, yaitu Sannaha saudara perempuan Sanna.
Sanna juga dikenal dengan nama sena atau Bratasenawa, yang merupakan raja
Kerajaan Galuh yang ketiga (709 - 716 M).Bratasenawa alias Sanna atau Sena
digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu sanna) dalam tahun
716 M.Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja
Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah
tarumanegara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat
baik sanna. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya
menjadi menantunya. Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat
menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan
Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat sanna). Hasratnya dilaksanakan
setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya. Akhirnya
Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan
Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat). Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi
tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan
Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan
Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan,
sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru
Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.
Kisah hidup Sanjaya secara panjang lebar terdapat dalam Carita Parahyangan yang
baru ditulis ratusan tahun setelah kematiannya, yaitu sekitar abad ke-16.
Raja-raja yang pernah memerintahi kerajaan medang kemulan antara lain :
- Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang
- Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendra
- Rakai Panunggalan alias Dharanindra
- Rakai Warak alias Samaragrawira
- Rakai Garung alias Samaratungga
- Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
- Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
- Rakai Watuhumalang
- Rakai Watukura Dyah Balitung
- Mpu Daksa
- Rakai Layang Dyah Tulodong
- Rakai Sumba Dyah Wawa
- Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
- Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
- Makuthawangsawardhana
- Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Medang berakhir

B. Kerajaan-kerajaan islam di Indonesia

a.Kerajaan Perlak

Perlak adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia. Perlak adalah sebuah


kerajaan dengan masa pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri
pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan
Kerajaan Samudra Pasai. Sejak berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan
Samudrar Pasai, terdapat 19 orang raja yang memerintah. Raja yang pertama
ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225 – 249 H / 840 –
964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada tanggal 1 Muhharam
225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak. Setelah pengangkatan
ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.

b. Kerajaan Samudera Pasai


Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik Al-saleh dan sekaligus sebagai raja
pertama pada abad ke-13. Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak
di daerah Lhok Semawe sekarang (pantai timur Aceh).Sebagai sebuah kerajaan,
raja silih berganti memerintah di Samudra Pasai. Raja-raja yang pernah
memerintah Samudra Pasai adalah seperti berikut.

(1) Sultan Malik Al-saleh berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan
berusaha mengembangkan kerajaannya antara lain melalui perdagangan dan
memperkuat angkatan perang. Samudra Pasai berkembang menjadi negara maritim
yang kuat di Selat Malaka.

(2) Sultan Muhammad (Sultan Malik al Tahir I) yang memerintah sejak 1297-
1326. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan
Kerajaan Samudra Pasai.

(3) Sultan Malik al Tahir II (1326 – 1348 M). Raja yang bernama asli Ahmad ini
sangat teguh memegang ajaran Islam dan aktif menyiarkan Islam ke negeri-negeri
sekitarnya. Akibatnya, Samudra Pasai berkembang sebagai pusat penyebaran
Islam. Pada masa pemerintahannya, Samudra Pasai memiliki armada laut yang
kuat sehingga para pedagang merasa aman singgah dan berdagang di sekitar
Samudra Pasai. Namun, setelah muncul Kerajaan Malaka, Samudra Pasai mulai
memudar. Pada tahun 1522 Samudra Pasai diduduki oleh Portugis. Keberadaan
Samudra Pasai sebagai kerajaan maritim digantikan oleh Kerajaan Aceh yang
muncul kemudian.

c. Kerajaan Aceh

Kerajaan Islam berikutnya di Sumatra ialah Kerajaan Aceh. Kerajaan


yang didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-
1528), menjadi penting karena mundurnya Kerajaan Samudera Pasai dan
berkembangnya Kerajaan Malaka.Para pedagang kemudian lebih sering
datang ke Aceh.Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh ada di Kutaraja (Banda
Acah sekarang). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem:
pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan
pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan
tengku atau teungku.

Sebagai sebuah kerajaan, Aceh mengalami masa maju dan mundur.


Aceh mengalami kemajuan pesat pada masa pemerintahan Sultan Iskandar
Muda (1607- 1636). Pada masa pemerintahannya, Aceh mencapai zaman
keemasan. Aceh bahkan dapat menguasai Johor, Pahang, Kedah, Perak di
Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan, dan Nias. Di samping itu,
Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata pemerintahan yang
disebut Adat Mahkota Alam.

Setelah Sultan Iskandar Muda, tidak ada lagi sultan yang mampu
mengendalikan Aceh. Aceh mengalami kemunduran di bawah pimpinan
Sultan Iskandar Thani (1636- 1641). Dia kemudian digantikan oleh
permaisurinya, Putri Sri Alam Permaisuri (1641- 1675). Sejarah mencatat
Aceh makin hari makin lemah akibat pertikaian antara golongan teuku dan
teungku, serta antara golongan aliran syiah dan sunnah sal jama’ah.
Akhirnya, Belanda berhasil menguasai Aceh pada tahun 1904.

e. Kerajaan Banten

Kerajaan yang terletak di barat Pulau Jawa ini pada awalnya


merupakan bagian dari Kerajaan Demak. Banten direbut oleh pasukan
Demak di bawah pimpinan Fatahillah. Fatahillah adalah menantu dari Syarif
Hidayatullah. Syarif Hidayatullah adalah salah seorang wali yang diberi
kekuasaan oleh Kerajaan Demak untuk memerintah di Cirebon. Syarif
Hidayatullah memiliki 2 putra laki-laki, pangeran Pasarean dan Pangeran
Sabakingkin. Pangeran Pasareaan berkuasa di Cirebon. Pada tahun 1522,
Pangeran Saba Kingkin yang kemudian lebih dikenal dengan nama
Hasanuddin diangkat menjadi Raja Banten.

f. Kerajaan Cirebon

Kerajaan yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa


Tengah didirikan oleh salah seorang anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati
dengan gelar Syarif Hidayatullah.

Syarif Hidayatullah membawa kemajuan bagi Cirebon. Ketika Demak


mengirimkan pasukannya di bawah Fatahilah (Faletehan) untuk menyerang
Portugis di Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah memberikan bantuan
sepenuhnya. Bahkan pada tahun 1524, Fatahillah diambil menantu oleh
Syarif Hidayatullah. Setelah Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari
Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah meminta Fatahillah untuk menjadi Bupati
di Jayakarta.

Syarif Hidayatullah kemudian digantikan oleh putranya yang bernama


Pangeran Pasarean.

g. Kerajaan Gowa-Tallo

Gowa dan Tallo. Kedua kerajaan ini kemudian bersatu. Raja Gowa,
Daeng Manrabia, menjadi raja bergelar Sultan Alauddin dan Raja Tallo,
Karaeng Mantoaya, menjadi perdana menteri bergelar Sultan Abdullah.
Karena pusat pemerintahannya terdapat di Makassar, Kerajaan Gowa dan
Tallo sering disebut sebagai Kerajaan Makassar.

Karena posisinya yang strategis di antara wilayah barat dan timur


Nusantara, Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi bandar utama untuk
memasuki Indonesia Timur yang kaya rempah-rempah. Kerajaan Makassar
memiliki pelaut-pelaut yang tangguh terutama dari daerah Bugis. Mereka
inilah yang memperkuat barisan pertahanan laut Makassar.

Raja yang terkenal dari kerajaan ini ialah Sultan Hasanuddin (1653-
1669).Hasanuddin berhasil memperluas wilayah kekuasaan Makassar baik
ke atas sampai ke Sumbawa dan sebagian Flores di selatan.Karena
merupakan bandar utama untuk memasuki Indonesia Timur, Hasanuddin
bercita-cita menjadikan Makassar sebagai pusat kegiatan perdagangan di
Indonesia bagian Timur. Hal ini merupakan ancaman bagi Belanda sehingga
sering terjadi pertempuran dan perampokan terhadap armada Belanda.
Belanda kemudian menyerang Makassar dengan bantuan Aru Palaka, raja
Bone. Belanda berhasil memaksa Hasanuddin, Si Ayam Jantan dari Timur
itu menyepakati Perjanjian Bongaya pada tahun 1667. Isi perjanjian itu
ialah: Belanda mendapat monopoli dagang di Makassar, Belanda boleh
mendirikan benteng di Makassar, Makassar harus melepaskan jajahannya,
dan Aru Palaka harus diakui sebagai Raja Bone.

h. Kerajaan Ternate dan Tidore

Ternate merupakan kerajaan Islam di timur yang berdiri pada abad ke-
13 dengan raja Zainal Abidin (1486-1500). Zainal Abidin adalah murid dari
Sunan Giri di Kerajaan Demak. Kerajaan Tidore berdiri di pulau lainnya
dengan Sultan Mansur sebagai raja.Kerajaan yang terletak di Indonesia
Timur menjadi incaran para pedagang karena Maluku kaya akan rempah-
rempah. Kerajaan Ternate cepat berkembang berkat hasil rempah-rempah
terutama cengkih.

Ternate dan Tidore hidup berdampingan secara damai. Namun,


kedamaian itu tidak berlangsung selamanya. Setelah Portugis dan Spanyol
datang ke Maluku, kedua kerajaan berhasil diadu domba. Akibatnya, antara
kedua kerajaan tersebut terjadi persaingan. Portugis yang masuk Maluku
pada tahun 1512 menjadikan Ternate sebagai sekutunya dengan membangun
benteng Sao Paulo. Spanyol yang masuk Maluku pada tahun 1521
menjadikan Tidore sebagai sekutunya.

Dengan berkuasanya kedua bangsa Eropa itu di Tidore dan Ternate,


terjadi pertikaian terus-menerus. Hal itu terjadi karena kedua bangsa itu
sama-sama ingin memonopoli hasil bumi dari kedua kerajaan tersebut. Di
lain pihak, ternyata bangsa Eropa itu bukan hanya berdagang tetapi juga
berusaha menyebarkan ajaran agama mereka. Penyebaran agama ini
mendapat tantangan dari Raja Ternate, Sultan Khairun (1550-1570). Ketika
diajak berunding oleh Belanda di benteng Sao Paulo, Sultan Khairun
dibunuh oleh Portugis.

i.Berdirinya Kerajaan Demak


Pendiri dari Kerajaan Demak yakni Raden Patah, sekaligus menjadi raja pertama Demak pada
tahun 1500-1518 M. Raden Patah merupakan putra dari Brawijaya V dan Putri Champa dari
Tiongkok. Raden Patah secara diam-diam pergi ke Jawa yang tepatnya di Surabaya dan berguru
kepada Sunan Ampel. Kemudian Sunan Ampel memerintahkan kepada Raden Patah supaya
pindah ke Jawa tengah untuk membuka hutan Glagah Wangi atau Bintara lalu mendirikan
pesantren. Lambat laun, banyak yang menjadi santri di pesantren tersebut dan pada akhirnya,
Demak berkembang pesat. Raden Patah dikukuhkan menjadi Adipati Demak oleh ayahnya,
Brawijaya V dan mengganti nama Demak menjadi Bintara yang akhirnya disebut Demak
Bintara.

Suatu ketika, Majapahit mengalami kelemahan dengan adanya pemberontakan dan perebutan
kekuasaan antar keluarga kerajaan. Melihat situasi tersebut, Raden Patah justru
memanfaatkannya untuk melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit. Dibantu para Bupati, Raden
Patah akhirnya menyerang Majapahit pada pemerintahanBrawijaya VI. Kemudian berdirilah
Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dibawah kepemimpinan Raden
Patah sebagai raja pertama.

Kejayaan Kerajaan Demak


Demak mengalami masa kejayaan pada pemerintahan Sultan Trenggono (1521-1526), yakni raja
ketiga setelah Pati Unus. Sultan Trenggono merupakan anak dari Raden Patah yang tidak lain
adik Pati Unus. Pada masa pemerintahannya, Demak menguasai Sunda Kelapa dari Pajajaran
serta menghalau para tentara Portugis yang mendarat disana (1527), Tuban (1527), Surabaya dan
Pasuruan (1527), Madiun (1529), Malang (1945), dan dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir
di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Kemudian pada tahun 1546 Sultan Trenggono
meninggal dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan.

Runtuhnya Kerajaan Demak


Wafatnya Sultan Trenggono menimbulkan konflik perebutan kekuasaan antar saudara. Pengganti
Sultan Trenggono, Pangeran Sido Lapen yang merupakan saudara Sultan Trenggono dibunuh
oleh Pangeran Prawoto yang tidak lain adalah anak dari Sultan Trenggono. Kemudian anak dari
Pangeran Sido Lapen, Arya Penangsang membunuh Pangeran Prawoto dan mengambil alih
kekuasaan. Tidak hanya berhenti disitu, Arya Panangsang akhirnya dibunuh oleh anak angkat
Joko Tingkir, yaitu Sutawijaya. Pada akhirnya, tahun 1568 M tahta Kerajaan Demak jatuh
ditangan Joko Tingkir. Kemudian ibukota Demak dipindah ke Pajang.

Peninggalan Kerajaan Demak


1. Masjid Agung Demak
2. Makam Sunan Kalijaga
3. Pintu Bledeg dibuat oleh Ki Ageng Selo
4. Bedug dan kentongan karya Wali Songo
5. Soko Tatal dan Soko Guru (tiang Masjid Agung Demak)
6. Piring Campa dari Putri Campa ( Ibu Raden Patah)

Demikian penjelasan tentang Sejarah Kerajaan Demak yang dapat anda baca. Apabila terdapat
kesalahan dalam penulisan di atas mohon saran perbaikannya.