Anda di halaman 1dari 15

TANAM PAKSA

Pengertian Tanam Paksa dan Sejarah Tanam Paksa


Tanam Paksa atau biasa disebut Cultuurstelsel merupakan sistem yang bertujuan dan
bermanfaat bagi belanda, Tanam Paksa adalah Peraturan Mempekerjakan seseorang dengan
paksa yang sangat merugikan pekerja, dan tampa diberi gaji dan tampa istirahat. Sistem
Tanam Paksa telah menjadi sejarah bagi Rakyat indonesia untuk itu mari kita membahasan
Tanam Paksa dari proses-proses tanam paksa dan penyebab dari kemunculan tanam paksa
yang sangat merugikan Pekerja indonesia serta mengapa indonesia sulit untuk melepaskan
diri dari sistem tanam paksa yang memiliki ketentuan-ketentuan pokok dalam sistem tersebut
sehingga Tanam Paksa tersebut terus berlangsung dan apakah tidak ada yang merasa kasihan
dan bahkan menentang sistem tanam paksa itu Untuk itu mari kita lihat Sejarah Sistem
Tanam Paksa yang dimulai pada tahun 1816 pemerintahan kolonia belanda kembali
berkuasa di Indonesia. Pada awalnya sebagai pemegang jabatan gubernur jenderal Hindia
belanda adalah Baron van der Dapellen. Ia mencoba menerapkan politik liberal ada masa
kekuasaannya. Namun, kebijakan itu mengalami kegagalan. penyebabnya, antara lain sebagai
berikut,

a.Kebijakan politik liberal tidak sesuai dengan sistem feodal di indonesia terutama di jawa
b.Struktur birokrasi feodal yang panjang dan berbelit menyebabkan pemerintah tidak dapat
berhubungan langsung dengan rakyat:
c.Kas negara makin kosong akibat Perang Diponegoro yang tidak kunjung selesai:
d.Kesulitan keuangan makin membesar setelah Belgia sebagai salah satu sumber dana
melepaskan diri dari Belanda pada tahun 1830:
e.Ekspor Belanda kalah bersaing dengan Ingris.

Belajar dan kegagalan itu, pada tahun 1830 Belanda melantik Johannes van den Bosch
menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Johannes van den Bosch kemudian
melaksanakan politik konservatif meniru gaya pemerintahan Daendels dan Raffles yaitu
dengan mengeksploitasi tenaga kerja penduduk pribumi. Program kerja Van den Bosch itu
lebih dikenal dengan nama Sistem Tanam Paksa atau Cuhuurstelsel.

Tujuan utama Sistem Tanam Paksa


tersebut adalah mempero1eh pendapatan yang besar dengan mewajibkan menanam tanaman
dagang yang laku dan dibutuhkan di pasaran Eropa. seperti tebu, nila, teh, kopi, tembakau,
kayu manis, dan kapas.
Ketentuan pokok Sistem Tanam Paksa, antara lain sebagai berikut :

a. Para petani yang mempunyai tanah diminta menyediakan seperlima tanahnya untuk
ditanami tanaman perdagangan yang sudah ditentukan.
b. Bagian tanah yang digunakan untuk menanam tanaman wajib tersebut dibebaskan dari
pembayaran pajak.
c. Hasil dari penanaman tanaman perdagangan itu harus diserahkan kepada pemerintah
Belanda. Setiap kelebihan hasil panen dan nilai pajaknya akan dibayarkan kembali sisanya.
d. Tenaga dan waktu untuk menggarap tanaman perdagangan tidak melebihi dari tenaga dan
waktu dalam menanam padi.
e. Kegagalan panen tanaman wajib menjadi tanggung jawab pemerintah
f. Bagi mereka yang tidak memiliki tanah, wajib bekerja selama 66 hari dalam setahunnya di
perkebunan milik pemerintah.
g. Penggarapan tanah untuk tanaman wajib akan diawasi langsung oleh penguasa pribumi.
Pegawai Belanda secara umum mengawasi jalanna penggarapan dan pengangkutannya.

Dalam pelaksanaannya peraturan yang telah ditetapkan seringkali tidak dipatuhi. Berbagai
penyimpangan terjadi, seperti

 Sawah dan ladang rakyat terbengkalai karena perhatian dipusatkan pada penanaman
tanaman wajib.
 Rakyat yang tidak memiliki tanah harus bekerja melebihi waktu yang ditentukan.
 Luas lahan untuk penanaman tanaman wajib melebihi dari seperlima lahan garapan.
 Lahan yang disediakan untukpenanaman tanaman wajib tetap dikenakan pajaktanah.
 Kelebihan hasil panen dan jumlah pajak yang hams dibayar tidak dikembalikan.
 Kegagalan panen tanaman wajib tetap menjadi tanggung jawab petani.

Berbagai penyimpangan terhadap pelaksanaan Sistem Tanam Paksa itu telah


mengakibatkan penderitaan yang sangat besar bagi rakyat pedesaan di Pulau Jawa. Timbul
bahaya kelaparan dan wabah penyakit di mana-mana. sehingga angka kematian makin besar.
Bahya kelaparan menimbulkan korban jiwa yang mengerikan terjadi di daerah Cirebon
(1843), Demak (1849), dan Grobogan (1850). Hal ini mengakibatkan jumlah penduduk di
daerah-daerah tersebut turun drastis. Di samping itu, juga terjadi penyakit busung lapar
(hongerodeem). Sistem Tanam Paksa yang mengakibatkan penderitaan menimbulkan reaksi
bangsa Indonesia dengan mengadakan perlawanan , seperti yang dilakukan para petani tebu
di pasuruan pada tahn 1833. Meskipun Sistem Tanam Paksa sangat menguntungkan
pemerintah Belanda, orang-orang Belanda sendiri banyak yang menentangnya. Penentangan
itu dilakukan baik secara perseorangan maupun dalam parlemen. Para penentang sistem
Tanam Paksa tersebut, antara lain sebagai berikut.

a. Edward Douwes Dekker (1820—1 887)


E. Douwes Dekker adalah seorang residen di Lebak, Serang, Jawa Barat. Ia sangat sedih
menyaksikan buruknya nasib bangsa Indonesia akibat Sistem Tanam Paksa. Ia menulis buku
berjudul Max Havelar yang terbit pada tahun 1860. Dalam buku tersebut, ia memakai nama
samaran “Multatuli”. Isi buku tersebut melukiskan penderitaan rakyat Indonesia akibat
pelaksanaan Sistem Tanam Paksa. Tulisan Douwes Dekker menyebabkan orang Belanda
menjadi terbuka melihat keburukan Sistem Tanam Paksa dan menghendaki agar Sistem
Tanam Paksa dihapuskan.
b. Baron van Hdevel (1812—1879)
Semula Baron van Hoevel tinggal di Jakarta. Kemudian pulang ke Negeri Belanda
menjadi anggota parlemen. Selama tinggal di Indonesia, ia mengetahui banyak tentang
penderitaan bangsa Indonesia akibat Sistem Tanam Paksa. Baron van Hoevel bersama dengan
Fransen van de Putte menentang Sistem Tanam Paksa. Fransen van de Putte menulis buku
berjudul Suiker Contracten (kontrak kontrak gula). Kedua tokoh ini berjuang keras untuk
menghapuskan Sistem Tanam Paksa melalui parlemen BeIanda

Sekian Artikel Tentang Pengertian Tanam Paksa dan Sejarah Tanam Paksa Semoga
Bermanfaat.

Sistem Tanam Paksa dan Dampak terhadap Masyarakat Pedesaan

October 2, 2014 in Artikel

SISTEM TANAM PAKSA DAN DAMPAKNYA TERHADAP MASYARAKAT


PEDESAAN

Oleh : Guntur Arie Wibowo*

Abstrak

Peristiwa naiknya Gubernur Jenderal van den Bosch pada tanggal 16 Januari 1830
menggantikan Gubernur Jenderal van der Capellen menandai kebangkitan kekuasaan kaum
konservatif di Parlemen Belanda. Pada pemerintahan baru ini, van den Bosch menerapkan
aturan yang disebut dengan Cultuurstelsel (Cultivation System) yang berarti sistem tanam
paksa yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami tanaman
komoditi ekspor. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh pendapatan sebanyak-
banyaknya dalam waktu yang relatif singkat. Sistem tanam paksa ini merupakan era paling
eksploitatif dalam pemerintahan Hindia Belanda dimana sistem ini lebih keras dan kejam
karena dalam prakteknya banyak sekali penyimpangan yang justru dilakukan oleh penguasa
lokal akibat adanya Cultuur Procenten.

Sistem Tanam Paksa yang memaksa rakyat menanam tanaman tertentu sekaligus
menjualnya dengan herga yang ditetapkan pemerintah Belanda ternyata menjadi aset
penting karena mampu mencukupi dan menciptakan kemakmuran negeri Belanda, bahkan
Bosch mendapat gelar Graaf dari pemerintahannya atas keberhasilannya di tahun 1839.
Namun disisi lain hal ini mengakibatkan rakyat banyak yang menderita dan sengsara.
Akhirnya pemerintah Belanda bereaksi dengan munculnya pertentangan antara golongan
liberal dan humanis dan di tahun 1870 secara resmi sistem tanam paksa dihapus dengan
munculnya Undang-Undang Land Reform (Agraria). Walaupun pada dasarnya sistem tanam
paksa sangat menyengsarakan rakyat, ternyata memiliki hal positif diantaranya terbukanya
lapangan pekerjaan, mengenal tanaman baru dan teknik penanamannya.

Kata Kunci: Cultuurstelsel, Hindia Belanda, Tanam Paksa,

Pendahuluan
Pada tahun 1830 Gubernur Belanda Jendral Van den Bosch memperkenalkan Cultuurstelsel
atau sistem tanam paksa, karena menurutnya akan memberi harapan yang lebih baik untuk
negeri induk. Sistem tanam paksa yang diusulkan Van den Bosch merupakan gabungan
antara sistem Priyangan dan sistem pajak tanah. Hakikat dari Cultuurstelsel adalah bahwa
penduduk, sebagai ganti membayar pajak tanah sekaligus harus menyediakan hasil bumi yang
nilainya sama dengan sejumlah tanah itu yang berupa hasil bumi untuk diekspor seperti yang
diinginkan oleh pemerintah.
Ketentuan pelaksanaan tanam paksa dimuat dalam Lembaran Negara tahun 1834 No. 22.
Dalam ketentuan tersebut dinyatakan bahwa penyerahan tanah atas dasar persetujuan
penduduk, dengan pembebasan pajak bumi pada bagian tanah yang terkena tanam wajib.
Apabila nilai hasilnya melebihi nilai pajak bumi maka kelebihannya diberikan kepada rakyat,
tetapi apabila nilainya lebih rendah, rakyat tidak menerima apapun. Kegagalan panen yang
terbukti bukan karena kelalaian rakyat menjadi resiko pemerintah.

Dalam prakteknya sistem tanam paksa ini sering tidak sesuai dengan ketentuan.
Banyak penyimpangan yang terjadi di lapangan misalnya penyediaan tanah yang menurut
ketentuan adalah dengan persetujuan, namun dalam prakteknya adalah paksaan. Tanah yang
diharuskan untuk ditanami tanaman wajib sering melebihi seperlima bagian, demikian pula
pengerahan tenaga kerja yang seharusnya 52 hari dalam setahun, tetapi kenyataannya lebih
dari itu. Sementara itu, bagian upah yang seharusnya diterima bagian penduduk seringkali
tidak sampai kepada penduduk. Penyebab penyimpangan tersebut adalah adanya pemberian
Cultuurprocenten yaitu pemberian premi kepada petugas apabila hasil yang dicapai melebihi
target produksi yang telah ditentukan pada setiap desa. Pemberian premi yang dimaksudkan
agar para petugas itu bekerja dengan baik, ternyata telah disalahgunakan demi mengejar
premi yang sebanyak-banyaknya (Mubyarto dkk, 1992: 33-34).

Pengertian Cultuurstelsel
Cultuurstelsel merupakan pembangunan ekonomi yang dilaksanakan oleh pihak Belanda
antara tahun 1830 hingga pertengahan abad ke-19. Sistem tanam paksa yang diterapkan pada
zaman itu pada dasarnya adalah suatu penghidupan kembali sistem eksploitasi dari zaman
VOC yang berupa pengerahan wajib dan sistem pajak tanah. Oleh karena itu ciri pokok
tanam paksa terletak pada keharusan untuk membayar pajak dalam bentuk barang, yaitu
berupa hasil pertanian mereka, bukan dalam bentuk uang (Noer Fauzi, 1999 : 29).
Menurut G. Moedjanto (1988: 17-18), Cultuurstelsel adalah istilah resmi pengganti cara
produksi yang tradisional dengan cara produksi yang rasional. Tanam paksa adalah usaha
pemerintah yang dalam pelaksanaannya menggunakan cara-cara paksa. Cultuurstelsel adalah
sistem eksploitasi yang ditandai dengan :

a. Cultuurstelsel merupakan kegiatan negara di bidang ekonomi


b. Pemerintah Belanda dengan alat-alatnya ikut campur dalam masalah produksi
c. Aktif mengurus kegiatan sampai ke pedalaman
d. Penggunaan uang sebagai alat tukar makin merata sampai ke pelosok

Menurut ketentuan Lembaran Negara (Staatsblad) tahun 1834 No. 22 ketentuan pelaksanaan
sistem tanam paksa adalah sebagai berikut :

a. Persetujuan akan diadakan dengan penduduk di mana penduduk akan menyediakan


sebagian dari tanahnya untuk penanaman tanaman perdagangan yang dapat dijual di
pasaran Eropa.
b. Bagian dari tanah pertanian yang disediakan penduduk untuk tujuan ini tidak diperbolehkan
melebihi seperlima dari tanah pertanian yang dimiliki oleh penduduk desa
c. Pekerjaan yang diperlukan untuk menanam tanaman perdagangan tidak boleh melebihi
pekerjaan yang diperlukan untuk menanam padi.
d. Bagian tanah yang disediakan untuk menanam tanaman perdagangan dibebaskan dari
pembayaran pajak tanah
e. Tanaman perdagangan yang dihasilkan di tanah yang disediakan wajib diserahkan kepada
pemerintah Hindia Belanda; jika nilai hasil tanaman perdagangan yang ditaksir itu melebihi
pajak tanah yang harus dibayar rakyat, maka selisih positifnya harus diserahkan kepada
rakyat.
f. Panen tanaman perdagangan yang gagal harus dibebankan kepada pemerintah, sedikitnya
jika kegagalan itu tidak disebabkan oleh kelalaian rakyat.
g. Penduduk desa akan mengerjakan tanah di bawah pengwasan kepala-kepala, sedangkan
pegawai-pegawai Eropa hanya akan membatasi diri pada pengawasan pembajakan tanah,
panen, dan pengangkutan tanaman agar bisa berjalan dengan baik dan tepat pada waktunya
(Noer Fauzi, 1999: 320).

Ketentuan-ketentuan di atas memang kelihatannya tidak terlampau menekan rakyat


walaupun pada prinsipnya orang dapat mengajukan keberatan mengenai unsur paksaan yang
terdapat dalam sistem tanam paksa seringkali jauh menyimpang dari ketentuan pokok,
sehingga rakyat banyak dirugikan.

Penyelewengan dalam pelaksanaan tanam paksa mengakibatkan kemerosotan sosial ekonomi


penduduk. Melihat keadaan ini golongan liberal menentang kebijaksanaan politik golongan
konservatif yang sangat menyengsarakan rakyat.

Latar Belakang Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa.

1. Perkembangan Politik

Akibat perang Napoleon hutang dalam negeri Belanda dan pembayaran bunga atas
hutangnya itu membumbung tinggi. Keadaan makin buruk ketika Uni Belanda-Belgia yang
dibentuk oleh hasil Kongres Wina pada tahun 1815 runtuh dalam revolusi Belgia pada tahun
1830. Usaha Belanda untuk menaklukan kembali Belgia pada tahun 1831-1832 menemui
kegagalan, dan pada tahun 1839 Belanda mengakui kemerdekaan Belgia. Dengan demikian
Belanda telah kehilangan sebagian dari wilayah negaranya.

Selama perang Jawa berlangsung, pihak Belanda memikirkan berbagai rencana untuk
Jawa. Semuanya mempunyai sasaran umum yaitu bagaimana dapat memperoleh hasil daerah
tropis dalam jumlah dan harga yang tepat, sehingga akan diperoleh keuntungan. Pada tahun
1829 Van den Bosch menyampaikan usulan-usulan kepada raja Belanda yang kelak akan
disebut Cultuurstelsel. Raja menyetujui usulan-usulan tersebut, dan pada bulan Januari 1830
Van den Bosch tiba di Jawa sebagai gubernur jenderal yang baru.

Pemikiran Van den Bosch mengenai Cultuurstelsel tersebut tidak pernah dirumuskan
secara eksplisit, tetapi tampaknya sistem itu didasarkan pada suatu prinsip umum yang
sederhana. Desa-desa di Jawa menghutang pajak tanah (land-rent) kepada pemerintah, yang
biasanya diperhitungkan sebesar 40 % dari hasil panen utama desa itu (beras). Dalam
kenyataannya, taksiran yang sesungguhnya seringkali di bawah angka ini dan pemungutan
pajak tersebut seringkali sulit dilaksanakan karena tidak cukup tersedianya sumber-sumber
daya administrasi (Ricklefs, 1989: 183).

Sistem tanam paksa pada dasarnya merupakan penyatuan antara sistem penyerahan
wajib dan sistem pajak tanah. Pajak yang dibayarkan oleh rakyat bukan dalam bentuk uang,
tetapi berupa hasil tanaman pertanian. Dengan demikian pemerintah dapat mengumpulkan
produksi tanaman ekspor yang diperlukan dan kemudian dipasarkan di pasaran dunia
(Mubyarto dkk, 1992: 20).

Jenis tanaman yang terkena sistem tanam paksa terutama adalah kopi, tebu, dan nila
(indigo). Sedangkan tanaman lain yaitu tembakau, lada, teh, dan kayu manis ditanam dalam
skala kecil. Komoditi tersebut ditanam pada 1/5 bagian tanah penduduk, kecuali kopi yang
ditanam di tanah-tanah yang belum digarap. Wilayah tanam paksa terutama di Jawa,
khususnya di daerah gubernemen, dengan pengecualian daerah Batavia, Bogor, daerah tanah
partikelir dan daerah Vorstenlanden. Di daerah Vorstenlanden ada aturan khusus yaitu
dengan sistem sewa (Sartono K dan Djoko Suryo, 1991: 57).

2. Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa


Sistem tanam paksa ini memuat ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan yang telah ditetapkan
oleh pemerintah Belanda. Aturan-aturan tersebut dalam pelaksanaannya jauh menyimpang
dari ketentuan sehingga mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat Jawa pada khususnya
dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Pokok-pokok sistem tanam paksa menurut Indisch
Staatsblad No. 22 tahun 1834 adalah sebagai berikut :

a. Akan diadakan perjanjian-perjanjian dengan rakyat, di mana rakyat akan menyerahkan


sebagian dari tanah pertaniannya (sawah) untuk ditanami tanaman yang hasilnya nanti
cocok bagi pasaran di Eropa.
b. Tanah yang diserahkan itu adalah seperlima dari luas tanah pertanian suatu desa.
c. Waktu yang dibutuhkan untuk tanaman tersebut sampai memberi hasil tidak boleh lama
daripada penanaman padi.
d. Tanah yang diserahkan itu, bebas dari pajak tanah.
e. Hasil semua tanaman tadi harus diserahkan kepada pemerintah, jika ternyata hasil taksiran
dari hasil tanaman itu, lebih tinggi dari jumlah yang dibayar pemerintah maka selisihnya
akan dikembalikan kepada rakyat.
f. Kalau ada gangguan alam hingga panen menjadi rusak, maka kerugian ditanggung oleh
pemerintah.
g. Rakyat bekerja di bawah pengawasan para kepala, pengawasan oleh para pegawai Eropa
hanya terbatas pada kontrol terhadap pekerjaan panen dan transpor agar di jalankan pada
waktu dengan baik.
h. Dalam beberapa hal umpamanya mengenai gula, maka pekerjaan dapat dibagi sedemikian
rupa sehingga sebagian dari rakyat dapat mengerjakan penanaman sampai masak, sebagian
hanya memanen, sebagian lagi mengurus pengangkutan sampai pabrik dan selebihnya
bekerja di pabrik. Tetapi yang terakhir ini hanya dikerjakan kalau memang kekurangan
tenaga kuli bebas.
i. Dalam hal dimana Cultuurstelsel mengalami kesulitan dalam pelaksanaan, harus tetap
berpegang pada pembebasan pajak tanah dan sebagai patokan bahwa petani telah
menjalankan tugasnya jika dia telah memelihara tanaman sampai dapat dipanen. Panenan
dan pengerjaan hasil-hasil tersebut harus dijalankan dengan perjanjian baru atau cara-cara
yang ditetapkan sebelumnya (Sartono K dan Djoko Suryo, 1991: 56).

Sistem tanam paksa jika dilaksanakan sesuai dengan ketentuannya, sebenarnya tidak
terlalu merugikan rakyat, tetapi dalam prakteknya semua ketentuan-ketentuan itu dilanggar
dan diselewengkan oleh pelaksana-pelaksananya. Penyelewengan-penyelewengan yang
dilakukan oleh pemerintah dalam sistem tanam paksa terhadap rakyat adalah :

a. Menurut ketentuan pemakaian sebagian tanah rakyat harus atas dasar kerelaan tanpa unsur
paksaan atau unsur ketakutan. Dalam pelaksanaannya didasarkan atas unsur paksaan di
mana pemerintah menyalahgunakan kekuasaan tradisional dari para bupati dan kepala desa.
Pegawai pemerintah kolonial cenderung memperlakukan desa dengan tenaga beserta
tanahnya secara keseluruhan untuk mempermudah pekerjaan pegawai pemerintah Belanda.
Pegawai pemerintah kolonial tidak mengadakan persetujuan secara terpisah dengan para
petani tetapi hanya menetapkan target yang harus dicapai masing-masing desa.
b. Bagian yang ditanami untuk tanaman paksa melebihi 1/5 bahkan sering mencapai separuh
atau lebih, kadang-kadang seluruh tanah desa itu atau luas tanah yang diusahakan untuk
pemerintah tidak ada batasnya. Meskipun tanah yang dipakai sering melebihi 1/5 namun
secara keseluruhan, seluruh jumlah yang disediakan untuk tanam paksa meliputi 5 % dari
seluruh tanah pertanian. Banyak tenaga kerja yang dikerahkan untuk penanaman paksa di
bidang-bidang tanah yang relatif terbatas.
c. Pada umumnya petani dipaksa bekerja jauh lebih lama daripada waktu untuk mengurus
tanaman petani sendiri. Tekanan atas rakyat berbeda dari satu tempat ke tempat lain dan
dari tanaman satu ke tanaman yang lain. Budidaya tanaman produksi (tebu dan nila)
membutuhkan waktu 18 bulan sehingga tidak ada kesempatan untuk menanam padi.
d. Tanah yang dipakai untuk tanaman paksa memang bebas dari pajak, namun petani harus
menanggung dua macam beban yaitu menanam tanaman ekspor dan membayar pajak
tanah. Penerimaan pemerintah dari pajak tanah terus meningkat. Ini disebabkan tanah yang
dipakai untuk tanam paksa secara keseluruhan relatif sedikit, tenaga yang dikerahkan
banyak. Dan petani masih ditarik pajak secara intensif.
e. Selisih antara pajak yang harus dibayar dengan nilai yang ditaksir dari hasil yang diserahkan,
menurut peraturan harus dibayarkan kepada rakyat, akan tetapi dalam kenyataannya hanya
sedikit sekali yang dibayarkan. Rakyat sama sekali tidak memperoleh keuntungan dari
ketentuan tentang penyerahan selisih positif antara nilai tanaman ekspor dan pajak tanah
kepada rakyat. Kelemahan ketentuan ini terletak dalam kata-kata ”nilai yang ditaksir”.
Taksiran nilai tanaman dagangan yang dihasilkan rakyat dilakukan oleh pegawai pemerintah
kolonial, sehingga tafsirannya jauh di bawah nilai tukar dalam pasaran bebas.
f. Kegagalan panen ditanggung oleh petani sendiri, rakyat melakukan pekerjaan rodi baik
untuk pemerintah kolonial maupun untuk kepentingan-kepentingan rakyat sendiri (Mulyoto,
1999: 9).

Dampak Sistem Tanam Paksa Terhadap Masyarakat Pedesaan.

1. Tanah dan Tenaga Kerja

Pelaksanaan sistem tanam paksa telah mempengaruhi dua unsur pokok kehidupan
agraris pedesaan Jawa, yaitu tanah dan tenaga kerja. Sistem tanam paksa pertama-tama
mencampuri sistem pemilikan tanah penduduk pedesaan, karena para petani diharuskan
menyerahkan tanahnya untuk penanaman tanaman ekspor. Tuntutan akan kebutuhan tanah
pertanian untuk penanaman tanaman ekspor yang dilakukan dengan ikatan desa telah
mempengaruhi pergeseran sistem pemilikan dan penguasaan tanah. Ini terjadi karena
berbagai hal, baik karena adanya pertukaran atau pembagian tanah-tanah pertanian untuk
pemerataan pembagian kewajiban menyediakan tanah dan kerja kepada pemerintah, maupun
karena kecenderungan perusahaan pemilikan tanah perseorangan menjadi tanah komunal
desa.

Selain tanah, sistem tanam paksa membutuhkan pengerahan tenaga kerja rakyat
secara besar-besaran untuk penggarapan lahan, penanaman, pemanenan, pengangkutan dan
pengolahan di pusat-pusat pengelolaan atau pabrik. Pengerahan tenaga kerja yang dibutuhkan
itu dilakukan dengan menggunakan ikatan organisasi desa. Oleh karena itu, sistem tanam
paksa menyentuh unsur tenaga kerja dari kehidupan masyarakat agraris pedesaan Jawa.
Dalam prakteknya, semua kerja yang dibutuhkan dilakukan dengan sistem kerja paksa
(Sartono K dan Djoko Suryo, 1991: 67).

2. Politik Ekonomi Uang

Pelaksanaan sistem tanam paksa juga besar artinya dalam mengenalkan ekonomi uang
ke dalam lingkungan kehidupan pedesaan agraris. Kehidupan perekonomian desa yang
semula masih tradisional dan subsisten, secara berangsur-angsur berkenalan dengan ekonomi
uang, yakni melalui proses komersialisasi produksi pertanian dan pasaran kerja. Pengenalan
penanaman tanaman ekspor dan penyerapan tenaga kerja bebas yang berlangsung sejak
sistem tanam paksa, pada dasarnya telah menjadi pintu masuknya peredaran uang ke daerah
pedesaan secara luas, yang besar pengaruhnya dalam membawa pergeseran perekonomian
desa ke arah kehidupan ekonomi pasar.

Peredaran uang itu masuk antara lain melalui sistem pembayaran upah tanaman kepada
petani penanam (plantloon), pembayaran ”uang penggalak tanaman” (cultuurprocenten)
kepada para pejabat, pembayaran upah kerja bebas, dan dalam perkembangan terakhir
pembayaran sewa tanah pada petani.

3. Kelaparan

Bahaya kelaparan melanda daerah Jawa Tengah pada tahun 1849 sampai 1850,
terutama terjadi di residen Semarang. Pada tahun 1850, residen Semarang penduduknya
berkurang 9% sebagai akibat dari kematian dan pengungsian penduduk menuju daerah lain.
Sebab yang mendasari terjadinya kelaparan adalah (1) Kesewenang-wenangan pemerintah
dan penyalahgunaan para kepala pribumi, (2) Beberapa tanaman pemerintah yang wajib
dilaksanakan oleh penduduk seperti kopi, tembakau, tebu, dan nila, (3) Perluasan tanaman
nila secara besar-besaran.

Tanaman nila ini menuntut lebih banyak tenaga pengerjaan serta memberikan upah
sedikit dan lebih merugikan jika dibanding dengan tanaman lain. Melihat kenyataan ini, maka
pemerintah melakukan penggantian tanaman nila dengan tanaman tebu. Tanaman nila bagi
penduduk menimbulkan keberatan besar dan berpengaruh pada harga padi yang sangat
mahal. Selain disebabkan oleh pelaksanaan sistem tanam paksa, ada juga sebab lain seperti
kegagalan panen, berjangkitnya wabah penyakit dsb.

Kekurangan bahan makanan secara mengerikan sempat terjadi di Demak dan Grobogan
sebagai akibat kegagalan panen karena panen yang ada diserang oleh hama belalang dan
berbagai praktek pemerasan, dimana tentang hal ini pihak pemerintah Belanda sendiri tidak
pernah memikirkan terhadap akibat-akibat yang mengkhawatirkannya. Di daerah Demak,
kesengsaraan terjadi karena terlalu tingginya pemungutan pajak tanah dan pelaksanaan dinas-
dinas wajib untuk pembuatan benteng yang terlalu memberatkan.

4. Penyakit

Penyakit tampaknya juga berhubungan dengan tempat tinggal dan makanan serta
minuman atau kebiasan-kebiasaan lain dalam kehidupan sosial budaya orang-orang desa. Di
kabupaten Demak, Grobogan, dan Semarang kelaparan menyebabkan banyak kematian.
Selama panen gagal dan kelaparan, banyak penduduk-penduduk daerah ini yang menikmati
makan hanya sekali sehari ditambah dengan makanan tambahan kecl seperti jagung,
singkong, ubi. Oleh karena itu kegagalan panen dan kelaparan di Semarang sering diikuti
oleh penyakit. Pengabaian terhadap masalah kebersihan juga menyebabkan penduduk mudah
terserang penyakit. Perubahan-perubahan yang terjadi pada tanah-tanah daratan juga
mempengaruhi penyakit, khususnya perluasan pekerjaan-pekerjaan irigasi, pembukaan
sawah-sawah baru, dan perbaikan komunikasi dan transportasi.

Menghadapi situasi yang demikian, tidak ada pemecahan atas permasalahan yang timbul
ini, selain dengan cara-cara tradisional dan keyakinan. Penduduk di Jawa pada umumnya
meyakini dua penyebab utama timbulnya penyakit yakni fisikal dan spiritual. Yang pertama
menyangkut penyakit yang timbul dari sebab-sebab nyata seperti sakit perut, luka dsb.
Penyakit ini biasanya diobati dengan ramuan obat lokal yang dibuat dari tanaman yang
tumbuh di halaman rumah orang desa. Sedang yang kedua, disebabkan oleh kekuatan
supranatural seperti ilmu hitam. Dalam hal ini pasien dibawa ke dukun untuk mendapat
pertolongan.

Kebijakan kesehatan pemerintah Belanda di Jawa abad ke-19 hanya berorientasi kepada
orang Eropa dan kolonial. Penekanan dan pelayanan kesehatan lebih ditujukan untuk
melindungi kesehatan orang-orang Eropa, baik sipil maupun militer daripada untuk penduduk
pribumi. Fasilitas-fasilitas kesehatan lebih banyak dikonsentrasikan di kota-kota pusat
administratif Belanda seperti Batavia, Semarang dan Surabaya. Penduduk di luar kota berada
di luar kepentingan dan bahkan pelayanan pengobatan untuk pribumi pun sangat terbatas,
karena halangan warna kulit dan biaya.

5. Teknologi Baru
Secara tidak langsung pelaksanaan sistem tanam paksa, pada dasarnya telah
mengenalkan teknologi baru, terutama dalam pengenalan biji-biji tanaman perdagangan,
seperti tebu, indigo dan tembakau, beserta cara penanamannya, meskipun pengenalan
teknologi pertanian baru yang terjadi pada masa itu belum dapat merangsang perubahan dan
pertumbuhan perekonomian rakyat pedesaan pada umumnya.

Simpulan

Sistem tanam paksa dilatarbelakangi oleh kondisi keuangan Belanda yang mengalami
kebangkrutan akibat biaya yang tinggi biaya yang tinggi dalam berbagai peperangan, baik
yang terjadi di negeri Belanda sendiri, seperti perang Napoleon dan perang Belgia maupun
yang terjadi di Hindia Belanda seperti perang Diponegoro dan Perang Paderi. Kondsi
perdagangan dan industri perkapalan Belanda mengalami kemunduran setelah hancurnya
VOC. Keseluruhan proses tersebut membuat Belanda harus menetapkan kebijakan politik dan
ekonomi yang dikenal dengan sistem Cultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa) yang
diperkenalkan oleh Van De Bosch.

Dampak sistem tanam paksa bagi Belanda sangat menguntungkan, karena selain dapat
memberi hasil bagi pemerintah, juga dapat memajukan perdagangan dan pelayaran Belanda.
Sebaliknya, bagi masyarakat pedesaan, sistem tanam paksa telah menyebabkan pergeseran
pola pemilikan dan penguasaan tanah, pengerahan tenaga kerja secara besar-besaran,
kelaparan, penyakit, yang kesemuanya menyebabkan penurunan jumlah penduduk. Di lain
pihak, sistem tanam paksa ternyata telah mengenalkan sistem ekonomi uang dan jenis-jenis
tanaman baru serta cara penanamannya.

KERJA PAKSA

Kerja Rodi memiliki arti kerja tanpa upah, tanpa istirahat demi membangun sebuah benteng
dan jalan raya, tanpa membantah apa yang telah diperintahkan oleh tentara Belanda, dan
menuruti apa yang diperintahkannya. Setelah lebih kurang 200 tahun berkuasa, akhirnya
VOC (Kompeni) mengalami kemunduran dan kebangkrutan. Hal ini disebabkan banyak
biaya perang yang dikeluarkan untuk mengatasi perlawanan penduduk, terjadinya korupsi di
antara pegawai-pegawainya, dan timbulnya persaingan dengan kongsi-kongsi dagang yang
lain.

Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
(Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Bab I Pasal 1 ayat 2).

Kompeni pandai menggunakan rodi ini untuk kepentingan sendiri. Rodi digunakan untuk
segala macam keperluan seperti mendirikan pabrik, jalan untuk penganngkutan barang dan
sebagainya, untuk pekerjaan lainnya bagi kepentingan pegawai kompeni.
Faktor-faktor itulah, akhirnya pada tanggal 31 Desember 1799, secara resmi VOC
dibubarkan. Kekuasaan VOC kemudian diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda. Hal ini
secara tidak langsung memengaruhi koloni Belanda di Indonesia. Perubahan politik yang
terjadi di Belanda, merupakan pengaruh revolusi yang dikendalikan oleh Prancis. Dalam
revolusi tersebut, kekuasaan raja Willem V runtuh, dan berdirilah Republik Bataaf. Tidak
lama kemudian Republik Bataaf juga dibubarkan dan Belanda dijadikan kerajaan di bawah
pengaruh Prancis, sebagai rajanya adalah Louis Napoleon.

Pada tanggal 1 Januari 1808 Louis Napoleon kemudian mengirim Herman Willem Daendels
sebagai gubernur jenderal dengan tugas utama mempertahankan pulauJawa dari ancaman
Inggris. Juga diberi tugas mengatur pemerintahan di Indonesia. Pada tanggal 15 Januari 1808
Daendels menerima kekuasaan dari Gubernur Jenderal Weise. Daendels dibebani tugas
mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, karena Inggis telah menguasai daerah
kekuasaan VOC di Sumatra, Ambon, dan Banda. Sebagai gubernur jenderal, langkah-langkah
yang ditempuh Daendels, antara lain: Meningkatkan jumlah tentara dengan jalan mengambil
dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Membangun pabrik senjata di Semarang dan
Surabaya. Membangun pangkalan armada di Anyer dan Ujung Kulon. Membangun jalan raya
dari Anyer hingga Panarukan, sepanjang ± 1.100 km. Membangun benteng-benteng
pertahanan.

Illustrasi Kerja Rodi

Dalam rangka mewujudkan langkah-langkah tersebut Daendels menerapkan sistem kerja


paksa (rodi). Selain menerapkan kerja paksa Daendels melakukan berbagai usaha untuk
mengumpulkan dana dalam menghadapi Inggris. Langkah tersebut antara lain: Mengadakan
penyerahan hasil bumi (contingenten). Memaksa rakyat-rakyat menjual hasil buminya kepada
pemerintah Belanda dengan harga murah (verplichte leverantie). Melaksanakan (Preanger
Stelsel), yaitu kewajiban yang dibebankan kepada rakyat Priangan untuk menanam kopi.
Menjual tanah-tanah negara kepada pihak swasta asing seperti kepada Han Ti Ko seorang
pengusaha Cina. Kebijakan yang diambil Daendels sangat berkaitan dengan tugas utamanya
yaitu untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan pasukan Inggris.Berikut ini
kebijakan- kebijakan yang diberlakukan Daendels terhadap kehidupan rakyat. Semua
pegawai pemerintah menerima gaji tetap dan mereka dilarang melakukan kegiatan
perdagangan. Melarang penyewaan desa, kecuali untuk memproduksi gula, garam, dan
sarang burung. Menerapkan sistem kerja paksa (rodi) dan membangun ketentaraan dengan
melatih orangorang pribumi. Membangun pelabuhan- pelabuhan dan membuat kapal perang
berukuran kecil.

Cultuurstelsel (harafiah: Sistem Kultivasi atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai
Sistem Budi Daya) yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa,
adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada
tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk
ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan
dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen
diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus
bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi
semacam pajak.

Pada praktiknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti karena seluruh wilayah pertanian
wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Belanda.
Wilayah yang digunakan untuk praktik cultuurstelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang
tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja selama setahun penuh di lahan pertanian.

Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktik ekonomi Hindia Belanda. Sistem
tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada
sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada
zaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman
tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset
tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan
kolonialis liberal Hindia Belanda pada 1835 hingga 1940.

Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den Bosch
selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839.
Cultuurstelsel kemudian dihentikan setelah muncul berbagai kritik dengan dikeluarkannya
Undang Undang Agraria 1870 dan UU Gula 1870, yang mengawali era liberalisasi ekonomi
dalam sejarah penjajahan Indonesia.

Rodi merupakan kerja paksa yang dilakukan oleh rakyat untuk kepentingan pihak
penguasa atau pihak lain dengan tanpa pemberian upah, dilakukan di luar batas
perikemanusiaan. Pada kerajaan-kerajaan di Jawa, rodi itu dilakukan untuk kepentingan raja
dan anggota keluarganya, para pembesar, para kepala dan pegawai serta kepentingan umum
seperti pembuatan dan pemeliharaan jalan, jembatan dan sebagainya.

Pada tahun 1830 pada saat pemerintah penjajah hampir bangkrut setelah terlibat perang Jawa
terbesar (Perang Diponegoro, 1825-1830), Gubernur Jenderal Judo mendapat izin khusus
melaksanakan sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) dengan tujuan utama mengisi kas
pemerintahan jajahan yang kosong, atau menutup defisit anggaran pemerintah penjajahan.

Sistem tanam paksa berangkat dari asumsi bahwa desa-desa di Jawa berutang sewa tanah
kepada pemerintah, yang biasanya diperhitungkan senilai 40% dari hasil panen utama desa
yang bersangkutan. Van den Bosch ingin setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya untuk
ditanam komoditi ekspor ke Eropa (kopi, tebu, dan nila). Penduduk dipaksa untuk
menggunakan sebagian tanah garapan (minimal seperlima luas, 20%) dan menyisihkan
sebagian hari kerja untuk bekerja bagi pemerintah.

Dengan mengikuti tanam paksa, desa akan mampu melunasi utang pajak tanahnya. Bila
pendapatan desa dari penjualan komoditi ekspor itu lebih banyak daripada pajak tanah yang
mesti dibayar, desa itu akan menerima kelebihannya. Jika kurang, desa tersebut mesti
membayar kekurangan tadi dari sumber-sumber lain.

Sistem tanam paksa diperkenalkan secara perlahan sejak tahun 1830 sampai tahun 1835.
Menjelang tahun 1840 sistem ini telah sepenuhnya berjalan di Jawa. Pemerintah kolonial
memobilisasi lahan pertanian, kerbau, sapi, dan tenaga kerja yang serba gratis. Komoditas
kopi, teh, tembakau, tebu, yang permintaannya di pasar dunia sedang membubung,
dibudidayakan.

Bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda, sistem ini berhasil luar biasa. Karena antara 1831-
1871 Batavia tidak hanya bisa membangun sendiri, melainkan punya hasil bersih 823 juta
gulden untuk kas di Kerajaan Belanda. Umumnya, lebih dari 30 persen anggaran belanja
kerajaan berasal kiriman dari Batavia. Pada 1860-an, 72% penerimaan Kerajaan Belanda
disumbang dari Oost Indische atau Hindia Belanda. Langsung atau tidak langsung, Batavia
menjadi sumber modal. Misalnya, membiayai kereta api nasional Belanda yang serba mewah.
Kas kerajaan Belanda pun mengalami surplus.

Badan operasi sistem tanam paksa Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM) merupakan
reinkarnasi VOC yang telah bangkrut. Akibat tanam paksa ini, produksi beras semakin
berkurang, dan harganya pun melambung. Pada tahun 1843, muncul bencana kelaparan di
Cirebon, Jawa Barat. Kelaparan juga melanda Jawa Tengah, tahun 1850.

Masa Penjajahan Belanda: Kerja Paksa dan Tanam Paksa


Kerja Paksa dan Penarikan Pajak

 Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte (Kaisar Perancis) berhasil menaklukkan Belanda.
Kemudian mengubah bentuk pemerintahan dari Republik menjadi kerajaan.
 Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jendral Belanda di
Indonesia, tujuannya mempersiapkan diri menghadapi serangan Inggris.
 Daendels membuat jalan raya yang sangat panjang (terbentang dari Anyer Banten sampai
Panarukan Jawa Timur), tujuannya adalah untuk mempercepat pergerakan pasukan Belanda
bila terjadi peperangan.
 Daendeles memerintahkan rakyat Indonesia bekerja paksa tanpa upah untuk membuat jalan
raya. Kerja paksa itu disebut kerja rodi.
 Rakyat Indonesia sangat menderita, banyak korban akibat kerja paksa.
 Salah seorang yang menentang kerja paksa itu adalah Pangeran Kusumadinata dari
Sumedang.
 Kekejaman Daendeles didengar Napoleon, dan tahun 1811 Daendelles dipanggil ke Belanda
digantikan Jansen.

Tanam Paksa (Cultuurstelsel)

 Tahun 1830, Johannes van den Bosch diangkat sebagai Gubernur Jendral menggantikan Van
Der Capellen. Diberi tugas mencari uang guna mengisi kas negara Belanda yang kosong
akibat perang.
 Van den Bosch memberlakukan tanam paksa atau cultuur stelse, yaitu mengerahkan
tenaga rakyat untuk menanam tanaman yang hasilnya dapat dijual di pasaran dunia. Seperti:
kopi, teh, tembakau, tebu dan lain-lain.
 Pelaksanaan tanam paksa tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Pihak Belanda
bertindak sewenang-wenang, hasil tanaman rakyat dibayar dengan harga sangat murah.
 Tanam paksa juga menimbulkan penderitaan bagi rakyat. Tidak sedikit rakyat yang mati
kelaparan. Tapi sebaliknya Belanda sangat beruntung karena kas negara terisi kembali.

 Aturan tanam paksa antara lain:

1. Penduduk desa diwajibkan menyediakan 1/5 tanahnya untuk ditanami tanaman yang laku di
pasaran Eropa
2. Tanah yang dipakai untuk tanaman yang diwajibkan ini dibebaskan dari pajak.
3. Hasil tanam wajib itu harus diserahkan kepada Pemerintah Belanda.
4. Kerusakan-kerusakan yang tidak dapat dicegah oleh petani menjadi tanggungan
pemerintah.
5. Pekerjaan yang dilakukan untuk menanam tanaman wajib tidak boleh melebihi pekerjaan
yang diperlukan untuk menanam padi.
6. Yang bukan petani harus bekerja 66 hari setahun bagi Pemerintah Belanda.
 Penentang Tanam Paksa: orang Belanda yang menentang tanam paksa adalah Douwes
Dekker dan Pendeta Van Houvel.

 Douwes Dekker adalah mantan asisten residen Lebak, mengecam tanam paksa melalui
bukunya yang berjudul Max Havelaar. Dalam bukunya Douwes Dekker memakai nama
samaran Multatuli. Dalam bukunya diceritakan tentang penderitaan rakyat Indonesia akibat
tanam paksa, selama 31 tahun bangsa Indonesia mengalami keterbelakangan dan
kebodohan.
 Douwes Dekker mendesak pemerintah Belanda agar tanam paksa dihapuskan dan akhirnya
setelah melalui perdebatan di parelemen Belanda tanam paksa dihapuskan secara bertahap.