STRATEGI PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT MELALUI

LEMBAGA AMIL ZAKAT NASIONAL
(Studi Kasus BAZNAS Kota Yogyakarta)

SKRIPSI

DIAJUKAN KEPADA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
SEBAGAI SALAH SATU SYARAT MEMPEROLEH GELAR SARJANA
STRATA SATU DALAM EKONOMI ISLAM

OLEH:

QONI’ATUR ROHMATILLAH
NIM. 13810032

DOSEN PEMBIMBING:

JAUHAR FARADIS, S.H.I., M.A
NIP: 19840523 201101 1 008

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017
ABSTRAK

Pemberdayaan ekonomi masyarakat berupa zakat, infaq dan shadaqah (ZIS)
menjadi instrumen yang sangat solutif terhadap perekonomian masyarakat. Selain
itu ZIS memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya pengentasan
kemiskinan. Hal ini dikarenakan ZIS merupakan sarana penyucian jiwa dan harta,
cara pemanfaatannya didasarkan pada fungsi sosialnya bagi kepentingan
masyarakat yang menyentuh kalangan miskin maupun kaya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pemberdayaan ekonomi
masyarakat melalui lembaga amil zakat nasional kota Yogyakarta. Pendekatan
penelitian ini adalah penelitian kualitatif-kuantitatif dengan sumber data yang
digunakan adalah data primer. Populasi penelitian yaitu mustahik yang tergabung
dalam program pemberdayaan ekonomi dengan sample penelitian menggunakan
teknik random sampling sebanyak 55 mustahik.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis SWOT
dan Uji Wilcoxon Signed Rank Test. Teknik analisis kualitatif menggunakan
Analisis SWOT, analisis ini digunakan untuk melihat kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman lembaga. Selain itu, Analisis SWOT digunakan untuk
menetapkan strategi yang cocok demi kelangsungan hidup lembaga. Sedangkan
analisis Kuantitatif menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank Test. Uji Wilcoxon
digunakan untuk mengetahui perbedaan pendapatan dan modal, sebelum dan
sesudah adanya program pemberdayaan.
Hasil penelitian Analisis SWOT menunjukkan bahwa Baznas Kota
Yogyakarta menempati kuadran II (diversifikasi). Hasil penelitian Uji Wilcoxon
menunjukkan bahwa program pemberdayaan ekonomi masyarakat mempunyai
perbedaan pendapatan dan modal mustahik sebelum dan sesudah adanya
pemberdayaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa program pemberdayaan
ekonomi masyarakat ini terbukti mampu meningkatkan ekonomi mustahik.

Kata Kunci : Strategi, Pemberdayaan, Pendapatan, dan Modal.

ii
ABSTRACT

The economic empowerment of the community in the form of zakat, infaq
and sadaqah (ZIS) was the instrument that very solution-based on the economy of
the community. In addition ZIS has a very strategic role in poverty alleviation
efforts. This is because the ZIS is a means of purification of the soul and
possessions, to utilization based on its social function in the public interest that
touches the rich and poor alike.
This study aims to determine the economic empowerment strategy through
amil zakat institutions nationwide city of Yogyakarta. This research approach is
qualitative-quantitative research with the source of the data used is primary data.
The study population is mustahik incorporated in the economic empowerment
program with research samples using the technique of random sampling as much
as 55 mustahik.
The analytical method used in this research is SWOT analysis and
Wilcoxon Signed Rank Test. Qualitative analysis techniques using SWOT
analysis, this analysis is used to look at the strengths, weaknesses, opportunities,
and threats institutions. In addition, the SWOT analysis is used to establish a
suitable strategy for the survival of the institution. While quantitative analysis
using the Wilcoxon Signed Rank Test. Wilcoxon test used to determine differences
in income and capital, before and after the program's empowerment.
SWOT analysis of research results show that Baznas Yogyakarta occupies
the second quadrant (diversification). Wilcoxon test research results indicate that
the economic empowerment program has differences of income and capital
mustahik before and after their empowerment. It concluded that economic
empowerment program has been proven to improve the economy mustahik.

Keywords: Strategy, Empowerment, Revenue and Capital.

iii
fm Unh'ersil8l1tlam Negerl Sunan Kalljlgl ¥ogYlkarta FM-U INSK-OM-OS-OJ/RO
010
SURAT PERSETUJUAN SKRlPSI

Hal : Skripsi Saudari Qoniaturrahmatillah

Kepada
Yth_ Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
UIN Sunan Kalijaga
Di Yogyakarta.

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Setelah membaca, meneliti, memberikan petunjuk dan mengoreksi serta menyarankan
perbaikan seperlunya, maka kami berpendapat bahwa skripsi saudari :

Nama : Qoniaturrahmatillah
N IM : 13810032
Judul Skripsi :"STRATEGI I'EM BERDAYAAN EKO OMI MASYARAKAT
MELALU[ LEMBAGA AMIL ZAKAT NASIO AL (Studi
Kaslls BAZNAS Kota Yogyakarta)"

Sudah dapat diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis [slam program . tudi
Ekonomi Syari ' ah Universitas Is lam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai sa lah satu
syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu dalanl Jlmu Ekol1ol11i ,lslam.

Dengan ini kami mengharapkan agar skri psi saudari terscb ut dapat segera
dimunaqosyahkan . Untuk itu kami tlcapkan terima kasih .

Wassalalllu 'alaikulII WI". Wb.

Yogyakarta, 27 Ja nuari 2017

iv
KEMENTERJAN AGAMA
UNlVER ITA I LAM NEGERJ AN KALIJAGA
FAKULTASEKONOMI DA 81 NI I LAM
.............. , Jl M.~d"""Tdp..I(f17.f)55QI21.!liIU1" "... COl'7~}.5I6ln \CI&)....... n. 55lI1

PENCE AHAN SKRrP. vrtJC AKHlR
omor : B·523IUn.02lDEB/PP.05.3 I 02l2017

Tugns akhir dengan judul:

" lralegi Pemberdayaan EkoDomi MasYllrakal Melalui umbagllAmil Zakal
asiODaJ (Studl Kasu! DuDas Kola Yogyakarta)"

Yang dipersiapkan dan disusun oleh:
8ma : Qoni'olur Rohmalillah
1M : 13810032
Telah dimunaqnsyahkan pada : 09 Februari 2017
ilai Munaqnsyah : AlB
Dinyalakan !elah dilerima oleh Fakultas Ekonomi dan Disni Islam Universitas
Islam 'egeri unan Kalij.go Yogyakarui.

TIM M UNAQA YAH:

Penguji I Penguji II

SuD .... ih. S.E.. M.Si.
MP. 19740911 1999032001

Yogyakarta. I7 Februari 20 I 7
UIN unan Kalijaga
Fakultas Ekonomi dan Bi nis Islam

Dr. R. vafig Mabm.d.h HaDali. M.Ag.
NIP. 19670518 199703 I 003

v
S RAT PERNYAT AA K EAS LIA

Assalamu 'alaikllln Wr, Wb,

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:

Nama : Qon i'atur Rohmatillah

NlM : 13810032

JurusanIProdi : Ekonomi Syariah I Ekonomi da n Bisnis Islam

Menyatakan bahWll skripsi yang berjudul "Strategi Pemberdayaan Ekono mi

Masyarakat Melalui Lembaga A mil Zakat Nasional (Studi Kasus Baznas

Kota Yogyakarta)" adalah benar-benar merupakan hasol karya penul.s sendiri ,

bukan duplikasi atau pun saduran dan karya orang lai n, kec uali pada bagian yang

telah dirujuk da n disebut dalam bady nOie atau dallar pustaka. Apabila di lain

waktu terbul,:ti adanya penyimpangan dalam karya ini, maka tanggung jawab

sepenuhnya ada pada penulis.

Oemikian surat pemyataan ini saya buat agar dapat dimakl umi, dan dipergunakan

sebagaimana periunya

Wa.ualamu 'alG/kum Wr. Wb.

Yogyakarta, 27 Januari 2017

Penyusun,

Ooni'atur Rohmatillah
1M. 13810032

VI
l RAT PERN\'i\T \"i PER ETllJllA:'I PllBUKA r
T l 'GA KJIIR lIi\Tl K KEI'E:'I T1;"GAr. AKADEMIK

cbagal t /l'lIm akadcl11lk Um,crsll,ls Islam Negen Sunan KallJaga YQgyakana,
saya yang bcrtanda Langan dl bawah 101 :

Nama Qom 'Olur Rohmalillah
1M 1381 0032
Program IUdl Ekonoml )8nuh
Fakuha~ Ekonoml dan Bl s m ~ 1 ~ lam

Jcm, Karya SknpSI

Oeml pengcmbangan IImu pengelahlk,n, menyeluJUI unluk mcmbenkan kcpada
Um'erSlla I lam Negen Sunon KahJaga Yog~a"ana lIak Beba Ro~ alll

onekskluslf (lIon-(!xdll,' /I'('royu/(1' rre~rl1!I" ) alas "ar)a Ilml3h saya yang
berJudul

" 'trall'g i Pcmbl,rdu) ,Hln Ekonomi Masyarllkat \Iclalui Lc mbaga mil
Zakat , asional (, ludi Kasu B Z AS Kota Yogyakarta)"

be~erta perangkal yang ada tJlka dlpcrlukan ). Ocngan lIak Bcb~ Royall! 011

Lkskluslf 101 , U m'cr~ltas I lam egeri unan KahJaga Yogyakarta berhak
mcnyllnpan, mcngalih media fom1alkan , mengelola dalam bellluk pang"alan data
(elala!>a,,,,), merO\\UI , dan mempubhkasll..an tugas akllll "aya sclama leLap
mencamumkan nama sayn cbagal penuh~ penclpta dan scbagm pemlhk hal.. clpta

D~mll..lBn pem)aLaanll1l 5a)3 bUa! dengan scbenamya

Dlbuat dl Yogyakana
Pada langgal 27 Januari 2017
Yang mcn)atakan

(Qolll -alUr Rohmatillah)

VII
HALAMAN MOTTO

ُ‫االال تْبه اىعيٌ اال ثعتخ ظبّجيل عِ ٍجَىعهب ثجيب‬

ُ‫ذمبء وحسص واصطجس و ثيغخ وازشبد اظتبذ وطىه شٍب‬

“Ingatlah, tidak akan kalian mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 syarat.

Yaitu: Cerdas, semangat, sabar, ada biaya, didikan guru dan waktu yang

lama”.

(Nadhom Kitab Alala)

‫ىيط اىجَبه ثبْثىاة تصيْْب‬

‫اُّ اىجَبه جَبه اىعيٌ و ْالدة‬

“Bukankah kecantikan itu dengan pakaian yang menghias kita,

sesungguhnya kecantikan itu ialah kecantikan dengan ilmu dan

kesopanan”

viii
HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini ku persembahkan kepada:

Orang Tua Tercinta

(Ayahanda H. Mukhlis Sya‟bana dan Ibunda Hj. Nur Hamidah)

Adikku tersayang Thoyib Habibulloh

Almamater Tercinta UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

ix
KATA PENGANTAR

ٌ‫ثعٌ هللا اىسحَِ اىسحي‬

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena
dengan rahmat dan hidayahNya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
penulisan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada
baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga dan shabatNya yang telah memberikan
petunjuk jalan yang diridhai Allah SWT.
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna,
baik penyusunan, penulisan, maupun isinya. Hal tersebut dikarenakan
keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan yang penulis miliki. Oleh
karena itu, saran dan masukannya sangat penulis harapkan.
Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada
berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Utamanya penulis haturkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Yudian Wahyudi Ph.D. selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2. Bapak Dr. H. Syafiq Mahmadah Hanafi, S.Ag., M.Ag. selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
3. Ibu Sunaryati, S.E., M.Si. selaku Ketua Program Studi Ekonomi Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga.
4. Bapak Muhammad Ghafur Wibowo, S.E., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing
Akademik. Terimakasih atas bimbingan, nasihat, dan dukungannya dari awal
semester hingga sekarang dalam membantu mengarahkan studi secara
akademik.
5. Bapak Jauhar Faradis, S.H.I., M.A. selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Saya
ucapkan terimakasih banyak atas waktu, masukan, dan saran-saran, serta
menambah koreksi dan perbaikan sistem penulisan.
6. Segenap dosen Prodi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
yang telah banyak sekali memberikan dan mengajarkan ilmu yang berarti
kepada peneliti.

x
7. Seluruh staff Tata Usaha yang telah membantu mengurusi surat izin
penelitian dan urusan kelengkapan administrasi peneliti dari awal semester
hingga berakhir studi peneliti.
8. Seluruh Amil dan Pegawai Baznas Kota Yogyakarta yang mengizinkan
penulis untuk meneliti di lembaga Baznas, serta sangat membantu penulis
dalam perolehan data, dan dokumen-dokumen lainnya.
9. Orang tua tercinta, Bapak H. Mukhlis Sya‟bana dan Ibu Hj. Nur Hamidah,
yang selalu sabar mendidik, memotivasi, menasehati, mendukung secara
materi dan non materi, dan yang tiada hentinya mendoakan putrinya walau
tanpa diminta, serta buat Adikku Thoyib Habibulloh yang secara tidak
langsung mengajari saya agar menjadi contoh dan media fastabiqul khoirot
untuknya.
10. Abah DR. KH. Ahmad Fatah.,S,Ag., dan Ibu Nyai Hj. Nisrin Nikmah selaku
pengasuh Pondok Pesantren Sunni Darussalam yang selalu menyirami ilmu
rohani kepada penulis.
11. Sahabat-sahabat Alumni PP. RaudhatulUlum, PP. Al-Munawwir dan PP.
Sunni Darussalam, yang selalu menyemangati penulis baik secara langsung
maupun via media sosial.
12. Keluarga besar Ekonomi Syariah angkatan 2013 khususnya kelas ES-A yang
tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih atas kebersamaan,
kebahagiaan, yang terukir selama masa-masa perkuliahan.
13. Sahabat-sahabatku Dina, Muna, Upik, Auni, Aini, Lutfiah, dan Nikmah yang
selalu membuat indah hari-hariku.
14. Keluarga KKN 90 Kelompok 106 Jurug, Giriwungu, Panggang, Gunung
Kidul (Anggit, Resni, Nurul, Erika, Cacak, Jeje, Andi, Budi, dan Andri)
semoga tali silaturahmi kita tetap terjaga hingga akhir hayat.
15. Ikatan Keluarga Alumni Raudhatul Ulum Sakatiga Yogyakarta, yang telah
banyak membantu penulis dalam perjuangan masuk UIN Sunan Kalijaga dan
membimbing penulis di masa Orientasi Mahasiswa serta tempat kembali
ketika rindu Sumatera.

xi
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Transliterasi kata-kata Arab yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini
berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 158/1987 dan
0543b/U/1987.

A. Konsonan Tunggal

Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama
‫ا‬ Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan
‫ة‬ Bā‟ B Be
‫د‬ Tā‟ T Te
‫ث‬ Ṡā‟ ṡ es (dengan titik di atas)
‫ج‬ Jīm J Je
‫ح‬ Ḥā‟ ḥ ha (dengan titik di bawah)
‫خ‬ Khā‟ kh ka dan ha
‫د‬ Dāl d De
‫ذ‬ Żāl ż zet (dengan titik di atas)
‫ز‬ Rā‟ r Er
‫ش‬ Zāi z zet
‫ض‬ Sīn s Es
‫غ‬ Syīn sy es dan ye
‫ص‬ Ṣād ṣ es (dengan titik di bawah)
‫ض‬ Ḍād ḍ de (dengan titik di bawah)
‫ط‬ Ṭā‟ ṭ te (dengan titik di bawah)
‫ظ‬ Ẓā‟ ẓ zet (dengan titik di bawah)
‫ع‬ „Ain ʻ koma terbalik di atas
‫غ‬ Gain g Ge
‫ف‬ Fāʼ f Ef
‫ق‬ Qāf q Qi
‫ك‬ Kāf k Ka

xiii
‫ه‬ Lām l El
ً Mīm m Em
ُ Nūn n En
‫و‬ Wāwu w W
‫هـ‬ Hā‟ h Ha
‫ء‬ Hamzah ˋ Apostrof
ٌ Yāʼ y Ye

B. Konsonan Rangkap karena Syaddah ditulis Rangkap

‫ٍـتعدّدح‬ Ditulis Muta‘addidah

‫عدّح‬ Ditulis ‘iddah

C. Tᾱ’ marbūṭah

Semua tᾱ’ marbūṭahditulis dengan h, baik berada pada akhir kata tunggal
ataupun berada di tengah penggabungan kata (kata yang diikuti oleh kata sandang
“al”). Ketentuan ini tidak diperlukan bagi kata-kata Arab yang sudah terserap
dalam bahasa Indonesia, seperti shalat, zakat, dan sebagainya kecuali dikehendaki
kata aslinya.

‫حنَخ‬ Ditulis Ḥikmah

‫عيّـخ‬ Ditulis ‘illah

‫مساٍخ األوىيبء‬ Ditulis Karᾱmah al-auliyᾱ’

xiv
D. Vokal Pendek dan Penerapannya

----َ--- Fatḥah Ditulis A
----َ--- Kasrah Ditulis i
----َ--- Ḍammah Ditulis u

‫فعو‬ Fatḥah Ditulis fa‘ala

‫ذمس‬ Kasrah Ditulis żukira

‫يرهت‬ Ḍammah Ditulis yażhabu

E. Vokal Panjang

1. Fatḥah + alif Ditulis ᾱ
‫جبهيـيّخ‬ Ditulis jᾱhiliyyah
2. Fatḥah + yā‟ mati Ditulis ᾱ
ً‫تـْع‬ Ditulis tansᾱ
3. Kasrah + yā‟ mati Ditulis ī
ٌ‫مسيـ‬ Ditulis karīm
4. Ḍammah + wāwu mati Ditulis ū
‫فسوض‬ Ditulis furūḍ

F. Vokal Rangkap

1. Fatḥah + yā‟ mati Ditulis ai
ٌ‫ثـيْن‬ Ditulis bainakum

2. Ḍammah + wāwu mati Ditulis au
‫قىه‬ Ditulis qaul

xv
G. Vokal Pendek yang Berurutan dalam Satu Kata Dipisahkan dengan
Apostrof

ٌ‫ْا ْاّت‬ Ditulis a’antum

‫اعدّد‬ Ditulis u‘iddat

ٌ‫ىئِ شنستـ‬ Ditulis la’insyakartum

H. Kata Sandang Alif + Lam

1. Bila diikuti huruf Qamariyyah maka ditulis dengan menggunakan huruf
awal “al”

ُ‫اىقسأ‬ Ditulis Al-Qur’ᾱn

‫اىقيبض‬ Ditulis Al-Qiyᾱs

2. Bila diikuti huruf Syamsiyyah ditulis sesuai dengan huruf pertama
Syamsiyyah tersebut

‫عَبء‬
ّ ‫اى‬ Ditulis As-Samᾱ

‫اىشَّط‬ Ditulis Asy-Syams

I. Penulisan Kata-kata dalam Rangkaian Kalimat

Ditulis menurut penulisannya
‫ذوي اىفسوض‬ Ditulis Zɑwial-furūḍ

‫عّْخ‬
ّ ‫ْاهو اى‬ Ditulis Ahlas-sunnah

xvi
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i
ABSTRAK ................................................................................................................ii
ABSTRACT ..............................................................................................................iii
HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................................iv
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................v
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ...................................................................vi
PERSETUJUAN PUBLIKASI ................................................................................vii
MOTTO ....................................................................................................................viii
HALAMAN PERSEMBAHAN ..............................................................................ix
KATA PENGANTAR ..............................................................................................x
PEDOMAN TRANSLITERASI .............................................................................xiii
DAFTAR ISI .............................................................................................................xvii
DAFTAR TABEL ....................................................................................................xix
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................xx
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 5
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................................ 6
1.4 Sistematika Pembahasan .......................................................................... 7
BAB II KERANGKA TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Pengertian ZIS .......................................................................................... 9
2.2 Mengenal Fundraising.............................................................................. 12
2.3 Strategi ..................................................................................................... 13
2.3.1 Pengertian Strategi .................................................................... 13
2.3.2 Fungsi dan Tingkatan Strategi .................................................. 14
2.4 Pemberdayaan .......................................................................................... 16
2.5 Pendapatan ............................................................................................... 21
2.6 Modal ....................................................................................................... 23
2.7 Penelitian Terdahulu ................................................................................ 24
2.8 Kerangka Penelitian ................................................................................. 26
2.9 Hipotesis ................................................................................................... 27
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Populasi .................................................................................................... 30
3.2 Sampel ...................................................................................................... 30
3.3 Variabel Penelitian ................................................................................... 31
3.4 Lokasi Penelitian ...................................................................................... 32
3.5 Jenis Penelitian ......................................................................................... 32
3.5.1 Penelitian Lapangan .................................................................. 32
3.5.2 Metode Analisis Data ................................................................ 34
BAB IV GAMBARAN UMUM DAN HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum ..................................................................................... 41
4.1.1 Sejarah Baznas Kota Yogyakarta .............................................. 41
4.1.2 Kegiatan/Program Baznas Kota Yogyakarta ............................ 43
4.1.3 Struktur Organisasi ................................................................... 53

xvii
4.1.4 Dasar Hukum ............................................................................ 54
4.1.5 Tujuan dan Fungsi ..................................................................... 55
4.1.6 Sistem Kerja .............................................................................. 58
4.2 Analisis dan Hasil Pembahasan ............................................................... 59
4.2.1 Analisis SWOT K dan SWOT 4 Kuadran................................. 59
4.2.1.1 Analisis SWOT Klasik ............................................... 59
4.2.1.2 Analisis SWOT 4 Kuadran......................................... 61
4.2.1.3 Pembahasan Analisis SWOT ..................................... 69
4.2.2 Hasil Analisis Uji Wilcoxon Signed Rank Test ........................ 72
4.2.2.1 Analisis Deskriptif ..................................................... 72
4.2.2.2 Analisis Data .............................................................. 76
4.2.2.3 Pembahasan Hasil Uji Wilcoxon ............................... 79
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan .............................................................................................. 82
5.2 Saran ......................................................................................................... 83
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 84
LAMPIRAN

xviii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Data Kemiskinan DIY ................................................................................ 1
Tabel 3.1 Analisis SWOT Klasik ............................................................................... 36
Tabel 4.1 Perbedaan Perolehan ZIS antara UPZ dan Non UPZ ................................ 52
Tabel 4.2 Analisis SWOT Klasik Baznas Kota YK................................................... 59
Tabel 4.3 Hasil Analisis SWOT Baznas Kota YK ..................................................... 60
Tabel 4.4 Nilai Total Tertimbang Baznas Kota YK .................................................. 66
Tabel 4.5 Selisih Nilai Tertimbang Baznas Kota YK ................................................ 67
Tabel 4.6 Kelompok Mustahik................................................................................... 72
Tabel 4.7 Jenis Kelamin ............................................................................................ 72
Tabel 4.8 Umur .......................................................................................................... 73
Tabel 4.9 Pendidikan Terakhir ................................................................................... 74
Tabel 4.10 Jenis Usaha............................................................................................... 74
Tabel 4.11 Descriptive Statistics Pendapatan ............................................................ 76
Tabel 4.12 Rank Pendapatan ................................................................................ .... 76
Tabel 4.13 Test Statistics Pendapatan ................................................................... .... 77
Tabel 4.14 Descriptive Statistics Modal .............................................................. .... 77
Tabel 4.15 Ranks Modal ...................................................................................... .... 78
Tabel 4.16 Test Statistics Modal .............................................................................. 78

xix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Posisi BAZNAS Kota YK dalam Matriks SWOT 4K ........................... 68

xx
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Yogyakarta sebagai kota budaya dan pendidikan senantiasa melakukan

pembangunan disegala bidang sebagai wujud dari pemenuhan kewajiban terhadap

masyarakat Yogyakarta, yaitu melindungi masyarakat dengan segala

kepentingannya, menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk

memperlancar pelaksanaan pemerintahan, memberikan pelayanan kepada

masyarakat. Dalam rangka memenuhi kewajiban tersebut, Provinsi D.I

Yogyakarta melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pemberdayaan

masyarakat sebagai kewajiban pemerintahan.

Tabel 1.1 menunjukkan angka kemiskinan Kota Yogyakarta, dimana

setiap tahunnya mengalami penurunan jumlah angka kemiskinan, namun

mengalami kenaikan jumlah kemiskinan pada tahun 2015.

Tabel 1.1 Data Kemiskinan D.I Yogyakarta 2011-2015

Jumlah Penduduk Miskin dan Garis Kemiskinan
menurut Kabupaten/Kota di D.I. Yogyakarta
Kab/Kota Garis Kemiskinan Penduduk Miskin
2011 2013 2014 2015 2011 2013 2014 2015
D.I.Y 257909 270110 303843 321056 564.30 562.10 541.90 532.59
Yogyakarta 314311 340324 253602 366520 37.70 37.60 35.60 36.6
Sleman 267107 288048 297170 306961 117.30 116.80 110.80 110.44
G.kidul 220479 238438 238056 243847 157.10 156.50 152.40 148.39
Bantul 264546 284923 292639 301986 159.40 158.80 156.50 153.49
Kulonprog
240301 256575 259945 265575 92.80 92.40 86.50 84.67
o
Sumber: BPS D.I Yogyakarta

1
2

Walaupun Kota Yogyakarta memiliki jumlah penduduk miskin yang

rendah dibandingkan kabupaten lain di D.I Yogyakarta, kemiskinan di Kota

Yogyakarta harus bisa ditanggulangi, sehingga tercipta pemerataan kesejahteraan

masyarakat di Kota Yogyakarta.

Di tengah problematika perekonomian ini, zakat muncul menjadi

instrumen yang solutif. Zakat sebagai instrumen pembangunan perekonomian dan

pengentasan kemiskinan umat daerah. Memiliki banyak keunggulan dibandingkan

instrumen fiskal konvensional yang kini telah ada (Sakti, 2007:192).

Zakat memiliki peranan yang sangat strategis dalam upaya pengentasan

kemiskinan atau pembangunan ekonomi. Hal tersebut berbeda dengan sumber

keuangan untuk pembangunan yang lain, zakat tidak memiliki dampak balik

apapun kecuali ridha dan mengharap pahala dari Allah semata. Namun demikian,

bukan berarti mekanisme zakat tidak ada sistem kontrolnya. Nilai strategis zakat

dapat dilihat melalui, pertama, zakat merupakan panggilan agama. Ia merupakan

cerminan dari keimanan seseorang. Kedua, sumber keuangan zakat tidak akan

pernah berhenti. Artinya seorang membayar zakat, tidak akan pernah habis dan

yang telah membayar setiap tahun atau periode waktu yang lain akan terus

membayar. Ketiga, zakat secara empirik dapat menghapuskan kesenjangan sosial

dan sebaliknya dapat menciptakan redistribusi aset dan pemerataan pembangunan

(Ridwan, 2005: 189-190).

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) adalah lembaga nonstruktural

yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang No 23 Tahun 2011 tentang

Pengelolaan Zakat. Pembentukan BAZNAS pertama kali ditetapkan dengan

Keputusan Presiden No 8 Tahun 2001 tentang Badan Amil Zakat Nasional sesuai
3

amanat Undang-Undang No 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang

berlaku saat itu. Setelah perubahan regulasi BAZNAS berstatus sebagai lembaga

pemerintah nonstruktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada

Presiden melalui Menteri Agama (banas.jogjakota.go.id)

Setiap lembaga zakat mempunyai trik dan strategi masing-masing dalam

pemberdayaan dan pendistribusiannya. Strategi yang digunakan disetiap lembaga

zakat berbeda-beda namun tujuannya tidak jauh berbeda yakni untuk

mensejahterakan masyarakat. Strategi-strategi yang diluncurkan beberapa

lembaga zakat nampaknya mempunyai andil yang sangat besar. Banyak

masyarakat yang terbantu dengan adanya program-program yang telah di

canangkan tersebut. Selain itu, banyak pula di kalangan masyarakat yang merasa

mendapatkan motivasi sehingga bekerja lebih giatdan baik guna mencapai

keselarasan hidup yang lebih baik. Karena pada dasarnya manusia tidak selalu

bertumpu pada orang lain. Kita semua wajib mencoba dan berusaha. Orang yang

kuat untuk bekerja namun tidak menggunakannya untuk bekerja maka sama

halnya ia tidak mensyukuri apa yang Allah berikan berupa kekuatan dan

kesehatan jasmani. Penggunaan strategi yang baik sangat perlu. Dengan strategi

yang baik, maka pencapaian tujuan pemberdayaan zakat akan mendapatkan hasil

yakni kesejahteraan yang meningkat dan kesempatan dalam meminimalkan

kemiskinan (kesenjangan) semakin besar.

Kebijakan Badan Amil Zakat Daerah Kota Yogyakarta tahun 2010-2015

diarahkan pada tiga hal pokok, yakni: 1) Meningkatkan kesadaran muzakki,

mushadiq dan munfiq dalam menunaikan zakat infaq; 2) meningkatkan pelayanan
4

amil terhadap muzakki, munfiq, mushadiq dan mustahiq; 3) meningkatkan hasil

guna dan daya guna zakat infaq bagi kesejahteraan masyarakat.

Adapun strategi untuk merealisasikan ketiga kebijakan tersebut dalam

tahun 2015 dituangkan dalam lima program Badan Amil Zakat Daerah Kota

Yogyakarta dengan kegiatan prioritas masing-masing yaitu:

1. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas

2. Program Bimbingan Muzakki Munfiq

3. Program Pengumpulan Fundraising/pengumpulan

4. Program Pentasyarufan/Pendistribusian

5. Program Pendayagunaan dan Pemberdayaan

Dari berbagai program yang dicanangkan BAZNAS diatas penulis ingin

sekali meneliti sejauh mana upaya BAZNAS dalam pemberdayaan dana zakat

tersebut. Tidak semua program yang dicanangkan Baznas Kota Yogyakarta

penulis teliti, hal ini karena mengingat luasnya pemberdayaan yang dijalankan

Baznas Kota Yogyakarta, sehingga peneliti bermaksud berfokus pada

pemberdayaan ekonomi masyarakatnya.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dijalankan Baznas meliputi

beberapa kelompok yang tergolong delapan asnaf, yakni :

1. Difabel

2. Mualaf

3. Ustadz/ustadzah Tpa

4. PAH (Penyuluh Agama Honorer)

5. PAIF (Penyuluh Agama Fungsional)

6. BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia)
5

Menurut peneliti, hal ini sangat menarik untuk diteliti karena

pemberdayaan mustahik yang delapan asnaf dimasukkan dalam kelompok-

kelompok majlis tertentu, sehingga pemberdayaan semakin efektif dan tepat

sasaran.

Selain itu peneliti menggunakan metode penelitian yang belum pernah

digunakan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Adapun penulis menggunakan alat

analisis SWOT Klasik dan SWOT 4 Kuadran dan Uji Wilcoxon Signed Rank Test.

Hal ini dimaksudkan agar penelitian yang diteliti menghasilkan jawaban yang

lebih konkrit.

Dilihat dari uraian permasalahan diatas maka penulis membuat atau

mengajukan skripsi dengan judul “STRATEGI PEMBERDAYAAN EKONOMI

MASYARAKAT MELALUI LEMBAGA AMIL ZAKAT NASIONAL (Studi

Kasus BAZNAS Kota Yogyakarta)”.

1.2. Rumusan Masalah

Dari penjelasan yang telah diuraikan di atas yang menggambarkan begitu

pentingnya peran zakat dan strategi (cara) dalam mengatur bagaimana agar

kesejahteraan dapat tercapai dengan baik dan kontinue. Maka perlu eksistensi

program-program yang sekiranya diterima di masyarakat kurang mampu. Strategi

yang digunakan haruslah disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat

tersebut. Pengambilan keputusan strategi tidak bisa asal-asalan. Akan tetapi perlu

diperhitungkan dan difikirkan bersama-sama, agar pencapaian hasil bisa maksimal

dan menguntungkan orang banyak terutama masyarakat kurang mampu.

Dari uraian tersebut, maka penulis merumuskan masalah agar lebih

spesifik dan tegas yaitu sebagai berikut:
6

1. Bagaimana analisis strategi pemberdayaan yang dilakukan Baznas dalam

peningkatan ekonomi masyarakat?

2. Apakah ada perbedaan pendapatan antara sebelum dan sesudah adanya

program pemberdayaan ekonomi masyarakat?

3. Apakah ada perbedaan modal antara sebelum dan sesudah adanya program

pemberdayaan ekonomi masyarakat?

1.3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilakukan

BAZNAS Kota Yogyakarta;

2. Mengetahui perbedaan pendapatan mustahik antara sebelum dan sesudah

adanya program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

3. Mengetahui perbedaan modal mustahik antara sebelum dan sesudah adanya

program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi

beberapa pihak diantaranya:

1. Manfaat Akademisi

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah kepustakaan

dan bahan referensi bagi penelitian selanjutnya.

2. Bagi Pemerintah Kabupaten/Kota

Menjadi bahan masukan dan informasi terkait pemberdayaan ekonomi

masyarakat melalui ZIS.
7

3. Bagi Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan tentang strategi pemberdayaan

zakat, serta sebagai bagian dari persyaratan tugas akhir untuk memperoleh

gelar Strata Satu (S1).

1.4. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan ini bertujuan untuk menggambarkan alur

pemikiran penulisan dari awal hingga akhir. Adapun rancangan pembahasan

dalam penelitian ini dibagi menjadi lima bab yang terbagi dalam sub bab yaitu:

BAB I Pendahuluan. Bab ini memuat penjelasan yang bersifat umum,

yaitu latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta

sistematika pembahasan. Dalam bab ini secara umum pembahasan berisi tentang

harapan supaya pembaca dapat menemukan latar belakang atau alasan teoritis dari

sumber bacaan terpercaya dan keadaan realitas objek penelitian. Demikian bab ini

menjadi dasar atau acuan metodologis dari bab-bab selanjutnya.

BAB II Landasan Teori. Bab ini membahas tentang penelitian terdahulu,

tinjauan pustaka mengenai variabel-variabel yang diteliti, dan pengembangan

hipotesis. Secara garis besar bab ini memuat tentang hubungan variabel dependen

dan independen sehingga dapat ditarik hipotesis. Dengan kata lain, bab ini berisi

teori-teori tentang pengaruh strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat yang

dilakukan oleh Baznas Kota Yogyakarta.

BAB III Metodologi Penelitian. Bab ini berisi penjelasan mengenai

gambaran umum objek penelitian, populasi dan sampel penelitian, metode

pengumpulan data, serta teknik yang digunakan dalam analisis data penelitian.
8

BAB IV Gambaran Umum Baznas Kota Yogyakarta dan Hasil Penelitian.

Bab ini menjelaskan tentang gambaran umum Baznas Kota Yogyakarta, deskripsi

objek penelitian, hasil analisis serta pembahasan secara mendalam mengenai hasil

dan temuan beserta implikasinya.

BAB V Penutup. Bab ini memuat tentang kesimpulan hasil penelitian,

saran serta implikasinya untuk berbagai pihak. Bab ini berisi inti dari hasil

penelitian yang dikerucutkan.
BAB II

LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1 Pengertian Zakat, Infaq dan Shadaqah

Zakat menurut lughoh (bahasa), berarti nama’ = kesuburan, thaharah =

kesucian, barakah = keberkatan dan berarti juga tazkiyah tathhier = mensucikan.

Syara’ memakai kalimat tersebut dengan kedua pengertian ini (Asy-Syiddiqi,

1952: 24).

Pertama, dinamakan dengan istilah zakat disini karena memang pada

dasarnya zakat tersebut yang menjadi sebab yang diharapkan dapat memupuk

pahala sehingga mampu menyuburkan pahala. Maka dari itulah dinamakan

“zakat” yakni harta yang dikeluarkan. Kedua, dinamakan zakat karena arti dari

zakat sendiri yaitu menyucikan jiwa dari kekikiran dan kedosaan.

Zakat adalah suatu ibadah yang berkaitan dengan harta benda yang

disepakati (Maaliyah Ijtima’iyyah) yang memiliki peran sangat penting dan

strategis. Selain itu zakat mempunyai peran yang sangat erat hubungannya dengan

kehidupan dan masyarakat kecil. Zakat ini merupakan salah satu ibadah pokok,

bahkan zakat disebutkan dalam rukun-rukun Islam yang 5. Hal ini menunjukkan

bahwa zakat sangat penting dalam kehidupan perekonomian masyarakat Islam

(Nawawi, 2010:1).

Dalam kaitan dengan pemberian zakat yang sifatnya produksi terdapat

beberapa pendapat yang sangat menarik sebagaimana dikemukakan oleh Yusuf

Al-Qardhawi dalam fiqh zakat bahwa pemerintah Islam memperbolehkan atas

pembangunan-pembangunan pabrik dan perusahaan, yang sumber pendanaannya

9
10

berasal dari zakat untuk kemudian hasil dari kepemilikan dan keuntungan

ditujukan kepada fakir miskin, sehingga dari sana kebutuhan-kebutuhan fakir

miskin sedikit teratasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa zakat adalah sebagai salah satu tambahan

bagi pemasukan atau bagi pemasukan baru. Hal ini akan menyebabkan adanya

peningkatan pada permintaan terhadap barang. Sedangkan pada sektor produksi

akan menyebabkan bertambahnya produktivitas, sehingga perusahaan-perusahaan

yang telah ada semakin bergerak maju, bahkan memunculkan berdirinya

perusahaan-perusahaan baru untuk menghadapi permintaan tersebut.

Di lain pihak modal yang masuk ke perusahaan tersebut semakin

bertambah banyak. Setiap suatu barang sangat penting dan merupakan kebutuhan

yang mendasar, setiap itu pula permintaan tidak akan berubah. Hal inilah yang

menyebabkan terus menerusnya produktivitas perusahaan dan terjaminnya modal-

modal yang diinvestasikan (Al-Ba’ly, 2006: 126).

Infaq berasal dari kata anfaqa-yunfiqu yang berarti mengeluarkan sesuatu

(harta) untuk kepentingan sesuatu (Qardhawi, 1993: 19).

Cakupan infaq sangatlah luas, karena berinfaq berarti menjalankan harta

sesuai dengan tuntunan agama Islam, bersedekah dan berzakat bisa disebut infaq.

Namun masyarakat Indonesia sering menggunakan istilah-istilah infaq ini untuk

kegiatan sosial berupa pembangunan-pembangunan yayasan Islam: Masjid,

asrama, maupun madarasah serta yayasan yang bergerak dalam bidang keagamaan

lainnya. Dalam masyarakat Islam, telah menjadi kebiasaan bahwa infaq

mempunyai konotasi lebih tertuju pada sedekah sunnah yang diberikan untuk
11

kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan. Misalnya membangun

pondok pesantren, mushollah, masjid, dll.

Jika zakat ada nisabnya, infaq tidak mengenal nishab. Infaq dikeluarkan

oleh setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah

(Qardhawi.1993).

Surat Al-Imron : 134

‫يحب‬
ّ ‫ض ّراء والكاظميه الغيظ والعافيه عه النّاس وهللا‬ ّ ‫الّذيه ينفقون فى ال‬
ّ ‫س ّراء وال‬

‫المحسنيه‬

Allah ta’ala menceritakan sifat ahli surga. Dia berfirman, “Orang-orang

yang menginfakkan hartanya, baik diwaktu lapang maupun sempit” yakni pada

saat sulit dan lapang, saat giat dan malas, saat sehat dan sakit, dan dalam segala

hal dan keadaan. Allah ta’ala berfirman “Orang-orang yang menginfakkan

hartanya pada malam dan siang hari, secara rahasia maupun terang-terangan.”

Maksud ayat ini adalah bahwa mereka tidak dilalaikan oleh perkara apapun untuk

menaati Allah Ta’ala dan berinfak untuk memperoleh ridha-Nya (Tafsir Ibn Katsir

oleh Ar-Rifa’i, 2012: 441).

Infaq dapat digunakan untuk mengeluarkan sebagian kecil harta untuk

kemaslahatan umum dan berarti sesuatu kewajiban yang dikeluarkan atas

keputusan “manusia” (Inoed, 2005:13).

Shadaqah atau sedekah berasal dari kata “Shadaqa” yang berarti benar.

Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya.

Menurut terminologi syari’at, pengertian sedekah sama dengan pengertian infaq,

termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya (Hafidhuddin, 1998: 15).
12

Para fuqaha sepakat bahwa hukum dari shadaqah adalah sunnah. Namun

shadaqah yang hukumnya sunnah bisa menjadi shadaqah yang hukumnya haram,

menjadi haram apabila kita sudah mengetahui perilaku orang yang hendak kita

beri berkelakuan buruk atau hendak mempergunakannya dalam hal maksiat.

Shadaqah bisa menjadi wajib apabila seseorang bertemu seseorang yang kelaparan

dan sangat mengancam kesehatannya bahkan nyawanya sedangkan orang pertama

tadi mempunyai bekal makanan yang banyak melebihi dari keperluan dia saat itu,

maka orang pertama ini wajib memberinya shadaqah makanan. Hukum shadaqah

menjadi wajib pula apabila seseorang bernadzar untuk mengeluarkan shadaqah

kepada seseorang atau lembaga (Mursyid, 2006: 10). Barang yang hendak

dishadaqahkan hendaknya barang yang baik dan bermanfaat, dan kira-kira calon

penerima shadaqah menyukai barang tersebut.

Dari masa kemasa, zakat, infaq, dan shadaqah, sudah banyak terbukti

mempunyai andil yang baik dalam pertumbuhan dan pengembangan umat Islam.

Hal ini bisa dilihat dari keberadaan masjid raya, musholla-musholla baik di kota

maupun di desa. Selain itu, pesantren, panti asuhan, poliklinik dll. Semua

pendanaan tersebut tidak semua berasal dari bantuan pemerintah, akan tetapi juga

berasal dari dana umat berupa ZIS, wakaf dan hibah (Mursyid, 2006: 1).

2.2 Mengenal Fundraising

Istilah fundraising didalam bahasa Inggris berarti pengumpulan uang.

Muncul pertanyaan dari benak kita, mengapa pengumpulan uang perlu? Karena

pengumpulan uang ini sangat penting dan diperlukan untuk membiayai program

kerja dan operasional yayasan.
13

Tanpa adanya fundraising maka upaya pendistribusian uang zakat tidak

tercapai. Fundraising ini biasanya dilakukan dilembaga-lembaga atau organsasi

nirlaba. Dalam organisasi perusahaan atau lembaga, sangat dibutuhkan tim yang

handal guna menjaga keberlangsungan hidup perusahaan atau lembaga tersebut.

Tim tersebut akan dikumpulkan dalam satu manajemen agar terciptanya

pengawasan dan mampu menggerakan secara terorganisir. Adapun tujuan pokok

dari fundraising ini yaitu penggalangan dana untuk jangka waktu yang panjang.

Selain itu, fundraising juga sangat penting dalam kegiatan penghijauan sebuah

organisasi agar tetap eksis dalam perputaran dunia global saat ini.

Tentu tugas tersebut tidaklah mudah, sangat dibutuhkan waktu yang cukup

lama dan pengorbanan untuk menemukan rencana strategi. Strategi yang

digunakan juga yang mudah agar pelaksanaannya bisa optimal. Tugas OPZ dalam

mengemban fundraising tidaklah ringan, ia dituntut untuk teliti, jeli, kepekaan dan

rutinitas yang luar biasa (Mursyid, 2006: 16).

Untuk menggairahkan organisasi, kita bisa menerapkan manajemen

modern. Kita juga bisa menggunakan manajemen sederhana yang dipelopori oleh

James Stoner, sebagai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan

pengawasan (Sudirman, 2007: 79).

2.3 Strategi

2.3.1 Pengertian strategi

Pengertian strategi bermacam-macam. Menurut Chandler (1962),

strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan (lembaga) dalam

kaitannya tujuan jangka panjang, program tindak lanjut serta prioritas alokasi

sumber daya (Umar, 2010).
14

Strategi adalah siasat untuk mencapai suatu tujuan dengan sedikit

pengorbanan. Pemberdayaan ummat adalah pengembangan kemampuan

masyarakat sehingga dapat menyelesaikan masalah dan dapat mengambil

keputusan secara bebas dan mandiri.

Secara skematis komponen manajemen strategi adalah sebagai berikut:

1. Lingkungan bisnis

2. Profil perusahaan

3. Strategi bisnis

4. Visi – misi perusahaan. (Muhammad, 2013)

Menyusun strategi berarti mencari jalan bagaimana mencapai hasil

yang ditargetkan sesuai dengan visi dan misi didalam situasi organisasi dan

prospek yang dihadapi. Strategi adalah jalan untuk mencapai tujuan tertentu

atau untuk mencapai target keuangan dengan posisi startegis. Strategi pada

dasarnya terdiri dari dua hal. Pertama, tindakan manajemen yang terukur dan

bertujuan (intended strategy) dan, kedua, reaksi atas perkembangan yang

tidak diantisipasi sebelumnya dan tekanan persaingan seperti peraturan

pemerintah, masuknya pendatang baru, dan perubahan taktik pesaing

(Hariadi, 2003).

2.3.2 Fungsi dan Tingkatan Strategi

1. Fungsi strategi

a. Strategi sebagai rencana (plan)

Strategi menjadi arah tindakan pedoman yang digunakan untuk

menghadapi tantangan lingkungan tertentu. Bertitik tolak dari

kesadaran kekuatannya.
15

b. Strategi sebagai pola (pattern)

Sebagai pola dari suatu rangkaian tindakan untuk menghadapi

tantangan/ancaman atau manfaat peluang yang terdapat dilingkungan

(Matondang, 1997).

c. Strategi sebagai kedudukan (position)

Penempatan perusahaan dilingkungan makro. Strategi menjadi

media yang menjembatani perusahaan dengan lingkungannya.

d. Strategi sebagai perspektif

Strategi menjadi perwujudan cara melihat dan pemahaman

lingkungan. Disusun bertitik tolak dari tata nilai budaya kerja dan

wawasan koalisi dominan itu.

2. Tingkatan Strategi

Strategi terdapat pada berbagai tingkatan dalam sebuah organisasi.

Tingkatan strategi dapat dibagi atas 3 bagian, yaitu:

a. Strategi korporat

Suatu pernyataan maksud sebuah perusahaan, arah

pertumbuhannya dan tujuan jangka panjangnya. Tujuan korporat

perusahaan terpusat pada sebuah pertanyaan kunci: bisnis apa yang

harus digeluti perusahaan? Strategi korporasi akan menentukan

apakah bentuk kegiatan bisnis dari organisasi tersebut, perlukah satu

perusahaan diintegrasikan dengan perusahaan lain atau harus berdiri

sendiri-sendiri dan bagaimana bisnis tersebut berhubungan dengan

masyarakat.

b. Strategi bisnis
16

Pernyataan rinci definisi, misi, tujuan, unit bisnis dan ancang-

ancang yang akan digunakan untuk mencapai tujuan jangka panjang

perusahaan. Isu utama strategi dalam level ini ialah berkenaan dengan

persaingan disuatu pasar oleh setiap unit bisnis, misalnya apa saja

keuntungan terhadap pesaing, apa peluang yang dapat dimanfaatkan,

bagaimana perusahaan harus mengalokasikan sumber dayanya untuk

mencapai posisi kompetitif yang diinginkan.

c. Strategi operasional/fungsional

Suatu perencanaan rinci tujuan jangka pendek dan metode yang

akan digunakan oleh suatu bidang operasional untuk mencapai tujuan

jangka pendek unit bisnisnya. Isu utama strategi pada level ini

berkenaan dengan bagaimana masing-masing bagian dari organisasi

dapat dirangkai secara bersama-sama membentuk strategic

architecture yang secara efektif mampu menghasilkan arah strategi

(Simarsan.2013).

2.4 Pemberdayaan

Pengertian pemberdayaan dapat disamakan dengan istilah pengembangan

(emvowerment) atau dapat pula disamakan dengan istilah pembangunan

(development) (Machendrawati dan Syafe’i, Bandung. 2001).

Pemberdayaan adalah terjemahan dari empowerment, sedang

memberdayakan adalah terjemahan dari empower. Menurut Merriam Webster dan

Oxford English Dictionary dalam Hutomo 2000: 1, kata empower mengandung

dua pengertian, yaitu:
17

1. to give power atau authority to atau memberi kekuasaan, mengalihkan

kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain;

2. to give ability to atau enable atau usaha untuk memberi kemampuan atau

keperdayaan.1

Istilah pemberdayaan menurut Mc. Ardle (1989) yang dikutip oleh Hery

Hikmat, adalah sebagai proses pengambilan keputusan oleh orang-orang yang

secara konsekuen melaksanakan keputusan tersebut (Hikmat, 2004: 3).

Dalam tinjauan historis, istilah pengembangan masyarakat diadopsi dari

bahasa Inggris, dimana kantor pemerintah kolonial Inggris mengeluarkan suatu

memoranda yang berisikan tentang cara untuk meningkatkan kehidupan

masyarakat didaerah koloni (Bangsa Inggris), yang disebut dengan nama

Pengembangan Masyarakat. Memoranda tersebut berisikan tiga kebijakan yang

dikeluarkan pada tahun 1944, yaitu:

1. Meningkatkan kondisi kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

2. Peningkatan tarif hidup ekonomi masyarakat.

3. Pengembangan institusi dan kekuatan politik (Adi, 2003:197-198).

Menurut Ginandjar Kartasasmita (1996), pemberdayaan ekonomi rakyat

adalah “Upaya yang merupakan pengerahan sumber daya untuk mengembangkan

potensi ekonomi rakyat untuk meningkatkan produktivitas rakyat sehingga, baik

sumber daya manusia maupun sumber daya alam disekitar keberadaan rakyat,

dapat ditingkatkan produktivitasnya”. Dari berbagai pandangan mengenai konsep

pemberdayaan, maka dapat disimpulkan, bahwa pemberdayaan ekonomi

masyarakat adalah penguatan pemilikan faktor-faktor produksi, penguatan

1
http://www.pendidikanekonomi.com
18

penguasaan distribusi dan pemasaran, penguatan masyarakat untuk mendapatkan

gaji/upah yang memadai, dan penguatan masyarakat untuk memperoleh informasi,

pengetahuan dan ketrampilan, yang harus dilakukan secara multi aspek, baik dari

aspek masyarakatnya sendiri, maupun aspek kebijakannya.

Pendekatan community development berbasis zakat bertujuan untuk

menginternalisasikan tujuan zakat bagi perubahan kaum dhuafa. Pemberdayaan

ekonomi yang berbasis ZIS memiliki tujuan lebih luas bukan sekedar aspek materi

melainkan ada tujuan lain, yakni sebagai berikut:

a. Memperteguh keimanan

Memperteguh keimanan merupakan landasan paling utama dari

pendayagunaan zakat bukan hanya pembangunan aspek ekonomi saja.

Pembangunan sumber daya manusia memiliki pengaruh yang sangat penting

terhadap pembangunan berbagai aspek. Karena kekuatan sumber daya

manusia akan memberikan motivasi kuat bagi seseorang untuk berusaha

merubah atau meningkatkan kehidupan dalam segala aspek. Nilai keimanan

berupa sifat sabar, tawakal dan keinginan kuat untuk berusaha merupakan

energi yang mampu membangkitkan semangat kaum dhuafa.

b. Meningkatkan kualitas hidup

Kualitas hidup terdiri beberapa aspek yaitu dari aspek ekonomi

sehingga keluar dari perangkap kemiskinan. Begitu pula aspek kesehatan agar

menjadi manusia yang sehat dan kuat terhindar dari berbagai penyakit. Tak

kalah penting dari aspek ekonomi dan kesehatan yaitu bidang pendidikan.

Dengan keunggulan dalam pendidikan dapat melahirkan manusia yang unggul

keluar dari ketertinggalan dan kebodohan.
19

c. Menumbuhkan jiwa enterpreneurship agar dapat mandiri

Kemandirian merupakan sesuatu yang sangat penting bahkan lebih

bernilai dari materi. Menumbuhkan kemandirian berwirausaha dalam jiwa

seseorang untuk akan lebih baik mendorong keberhasilan sehingga

tercapainya tujuan yang dicita-citakannya (Bariyah, 2012).

Dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat, pola pemberdayaan

yang tepat sasaran sangat diperlukan, bentuk yang tepat adalah dengan

memberikan kesempatan kepada kelompok miskin untuk merencanakan dan

melaksanakan program pembangunan yang telah mereka tentukan. Disamping itu

masyarakat juga diberikan kekuasaan untuk mengelola dananya sendiri, baik yang

berasal dari pemerintah maupun pihak amil zakat, inilah yang membedakan antara

partisipasi masyarakat dengan pemberdayaan masyarakat.

Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk

individu dan masyarakat menjadi mandiri, kemandirian tersebut meliputi

kemandirian berfikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan

tersebut. Pemberdayaan masyarakat hendaknya mengarah pada pembentukan

kognitif masyarakat yang lebih baik, untuk mencapai kemandirian tersebut

diperlukan sebuah proses atau pola dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Pola pemberdayaan ekonomi masyarakat ini memiliki ciri-ciri atau unsur-

unsur sebagai berikut:

1. Mempunyai tujuan yang hendak dicapai.

2. Mempunyai wadah kegiatan yang terorganisir.

3. Aktivitas yang dilakukan terencana serta harus sesuai dengan kebutuhan dan

sumber daya setempat.
20

4. Ada perubahan sikap pada masyarakat sasaran selama tahap-tahap

pemberdayaan.

5. Menekankan pada peningkatan partisipasi masyarakat dalam ekonomi

terutama dalam wirausaha.

6. Ada keharusan membantu seluruh lapisan masyarakat khususnya masyarakat

lapisan bawah. Jika tidak, maka solidaritas dan kerja sama sulit dicapai.

Guna mencapai perubahan yang lebih baik maka tahapan siklikal

pemberdayaan haruslah melewati beberapa tahap yaitu:

a. Tahap pengenalan masyarakat dan identifikasi kebutuhan wirausaha.

b. Tahap pengenalan permasalahan dan identifikasi kebutuhan wirausaha.

c. Tahap penyadaran masyarakat akan pentingnya pengusaha.

d. Tahap implementasi rencana kegiatan.

e. Tahap evaluasi implementasi rencana kegiatan.

f. Tahap perluasan pemberdayaan masyarakat (Badriyah dkk.2005).

Adapun indikator keberhasilan program yang dipakai untuk mengukur

pelaksanaan program-program dari sebuah pemberdayaan masyarakat adalah

sebagai berikut:

a. Berkurangnya jumlah penduduk miskin

b. Berkembangnya usaha dan peningkatan pendapatan yang dilakukan oleh

penduduk miskin dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

c. Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan

kesejahteraan keluarga miskin dilingkungan.

d. Meningkatnya kemandirian kelompok yang ditandai dengan semakin

berkembangnya usaha produktif anggota dan kelompok, semakin kuatnya
21

permodalan kelompok, makin rapi sistem administrasi kelompok, serta

semakin luasnya interaksi kelompok dengan kelompok lain didalam

masyarakat.

e. Meningkatnya kapasitas masyarakat dan pemerataan pendapatan yang

ditandai oleh peningkatan pendapatan keluarga miskin yang mampu

memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan sosial dasarnya.

Dari indikator diatas, yang disebut dengan masyarakat itu berdaya, jika

masyarakat mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dan mampu mensejahterakan

masyarakat sekitarnya (Sumodiningrat.1999).

Hal pokok yang harus dimiliki oleh masyarakat dalam upaya peningkatan

pemberdayaan yaitu: peningkatan taraf pendidikan, dan derajat kesehatan, serta

akses kedalam sumber-sumber kemajuan ekonomi sperti modal, teknologi,

informasi, lapangan kerja, dan pasar (Cholisin, 2011:3).

2.5 Pendapatan

Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik berupa uang maupun barang

yang berasal dari pihak lain maupun dari industri yang dinilai atas dasar jumlah

uang dari harta yang berlalu saat itu (Suroto, 1992:23). Pendapatan seseorang

yang diterima harus dapat digunakan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya

agar mampu meningkatkan kesejahteraan. Setiap orang akan dapat mencukupi

kesejahteraannya apabila mampu memenuhi kebutuhannya dengan baik, yakni

pengeluarannya disesuaikan dengan besarnya pemasukan.

Pendapatan atau penghasilan keluarga adalah segala bentuk balas karya

yang diperoleh sebagai imbalan atau balas jasa atas sumbangan seseorang.
22

Pendapatan keluarga dapat mempengaruhi partisipasi atau alokasi waktu kerja dari

seseorang. Sumber pendapatan masyarakat terdiri dari:

a. Di sektor formal berupa gaji, upah yang diperoleh secara tetap.

b. Di sektor informal berupa penghasilan dagang, tukang, buruh, dan lain-

lain.

c. Di sektor subsisten merupakan hasil usaha sendiri berupa tanaman,

ternak, kiriman dan pemberian orang lain.

Pendapatan sektor informal adalah segala penghasilan yang berupa uang

maupun barang yang diterima, biasanya sebagai balas jasa/kontra prestasi dari

sektor informal. Menurut Mubyarto (1990: 94) pendapatan ini berupa:

a. Pendapatan dari usaha, meliputi: hasil bersih dari hasil usaha sendiri,

komisi dan penjualan.

b. Pendapatan dan investasi.

c. Pendapatan dari keuntungan sosial.

Menurut Gilarso (1992: 62) pendapatan keluarga dapat bersumber dari:

a. Usaha sendiri (wiraswasta) misalnya, berdagang, mengerjakan sawah,

dan menjalankan perusahaan sendiri.

b. Bekerja pada orang lain, misalnya, bekerja di kantor/perusahaan sebagai

pegawai/karyawan (baik swasta maupun pemerintah).

c. Hasil dari milik, misalnya mempunyai sawah disewakan, punya rumah

disewakan, punya uang dipinjamkan, uang pensiun bagi mereka yang

sudah lanjut usia dan dulu bekerja pada pemerintah/instansi lain.

d. Sumbangan/hadiah, misalnya sokongan dari family, warisan, hadiah,

tabungan, dan lainnya.
23

e. Pinjaman/hutang, ini merupakan uang masuk tetapi pada suatu saat

harus dilunasi/dikembalikan.

2.6 Modal

Semakin berkembangnya dunia usaha serta semakin canggihnya

penggunaan alat-alat dalam dunia kerja, maka permasalahan yang timbul dan

harus dihadapi oleh perusahaan semakin komplek dan membutuhkan pemikiran

yang serius. Salah satu permasalahan dalam dunia usaha adalah masalah faktor

produksi modal yang mempunyai peranan sangat penting dalam mempertahankan

kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Menurut Riyanto (2001: 17-18) dalam

bukunya Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, modal mempunyai pengertian

yang bermacam-macam antara lain:

a. Secara klasik modal mempunyai arti sebagai hasil produksi yang

digunakan untuk memproduksi lebih lanjut.

b. Dalam arti sempit, modal diartikan hanyalah dalam artian uang,

sedangkan dalam arti luas modal meliputi baik modal dalam bentuk

uang maupun dalam bentuk barang misalnya mesin, barang-barang

dagangan dan lain sebagainya.

c. Modal dapat juga diartikan sebagai kolektivitas dari barang-barang

modal yang terdapat dalam neraca sebelah debit, sedangkan yang

dimaksud dengan barang-barang modal ialah semua barang yang ada

dalam rumah tangga perusahaan dalam fungsi produktifnya untuk

membentuk pendapatan.

Sedangkan menurut Munawir (2001: 19) modal merupakan hak atau

bagian yang dimiliki oleh perusahaan yang ditunjuk dalam pos modal (modal
24

saham), surplus dan laba yang ditahan atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki

oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya.

Modal adalah hal yang sangat krusial dalam pembangunan sebuah usaha

dan juga pengembangannya. Oleh karena itu, seorang pengusaha yang potensial

harus diberikan bantuan yang besar sehingga ia bisa mendapatkan kesempatan

untuk bersaing dengan lebih kompetitif.

2.7 Penelitian Terdahulu

Agar dapat memecahkan masalah dan mencapai tujuan bersama

sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, maka perlu dilakukan telaah pustaka

guna mendukung hasil penelitian agar memperoleh hasil yang baik dan maksimal

sebagaiamana yang diharapkan. Penulis menyajikan berbagai sumber dan

referensi dari berbagai skripsi, tesis maupun jurnal. Adapun referensi tersebut

adalah sebagai berikut:

Menurut penelitian yang ditulis oleh Saefulloh (2012:11-12) menyatakan

bahwa pengelolaan zakat yang dikembangkan oleh LAZ Rumah Zakat Kota

Semarang dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umat melalui pemberdayaan

masyarakat, LAZ Rumah Zakat Kota Semarang menggunakan model Eco Care

dengan sistem koperasi syari’ah (mozaik), dimana zakat produktif didistribusikan

secara sistematis, intensif, dan berkesinambungan. Dalam model Mozaik ini,

mustahik diberi dana zakat yang sifatnya bergulir artinya mustahik tidak diberi

dana zakat berupa modal secara cuma-cuma akan tetapi mustahik diberi dana

zakat setelah mustahik sampai sudah mampu mandiri dana zakat itu dikembalikan

ke mozaik lagi dan dari mozaik tersebut digulirkan ke mustahik yang lainnya lagi,

dan seterusnya.
25

Syaipuddin Elman (2015) dalam penelitiannya mengenai “Strategi

Penyaluran Dana Zakat Baznas melalui Program Pemberdayaan Ekonomi”

mengungkapkan bahwa dampak penyaluran dana zakat mengalami peningkatan

kebutuhan ekonomi bagi bagi keluarga, yakni mengalami perkembangan sebesar

10% dari jumlah mustahik 9.374 mustahik.

Nur Addini Rahma (2015) dalam penelitiannya mengenai “Pemebrdayaan

Ekonomi Umat Melalui Penyaluran Zakat Produktif” mengemukakan bahwa

keberadaan BAZ dan LAZ memberikan manfaat yang sangat besar, bahkan

mampu menambah modal mustahik.

Annisa Hartiwi Wulandari (2010) dalam penelitiannya mengenai “Strategi

Pendayagunaan Dana Zakat melalui Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Studi

Kasus Rumah Zakat)” mengemukakan bahwa bantuan modal bertujuan untuk

pengembangan usaha, motivasi moril dimaksudkan penerangan tentang fungsi,

hak dan kewajiban manusia dalam hidupnya, seperti beriman, beribadah, bekerja,

berikhtiar. Pelatihan usaha serta untuk memberdayakan mustahik agar mandiri.

Taufik Nur Hidayat (2010) dalam penelitiannya mengenai “Pengelolaan

Dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah untuk Pemberdayaan Ekonomi Umat (Studi

Kasus LAZ Taj Quro di Kabupaten Gunung Kidul) mengemukakan bahwa ada

faktor pendukung dan pengahambat dalam pelaksanaan pemberdayaan ekonomi

umat. Faktor pendukung yaitu adanya kegiatan pengajian setiap malam kamis

sehingga terjalin komunikasi serta interaksi untuk membahas masalah yang

timbul, serta adanya pelaporan kegiatan dengan sistem manajemen terbuka.

Sedangkan faktor penghambatnya adalah kecilnya sumber pendapatan dana ZIS

sehingga penyaluran dana ZIS sedikit terhambat dan cakupannya sangat kecil.
26

Rosadi (2015) dalam penelitiannya mengenai “Pemberdayaan Ekonomi

Mustahik Berbasis Zakat Produktif Oleh DPU-DT di Yogyakarta”

mengemukakan bahwa pemberdayaan tersebut mampu meningkatkan penghasilan

keluarga, bertambahnya skill dan mampu menumbuhkan karakter yang lebih baik.

Dari beberapa telaah pustaka di atas, dapat ditentukan bahwa penelitian ini

berbeda dengan penelitian terdahulu yakni terletak pada upaya atau strategi

pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui ZIS yang dijalankan oleh lembaga

amil zakat, selain itu penulis menggunakan alat analisis Wilcoxon Signed Rank

Test dan kualitatif (SWOT), melihat telaah pustaka diatas belum ada penelitian

terkait pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam hal zakat dengan menggunakan

Alat Analisis Uji Wilcoxon Signed Rank Test dan SWOT.

2.8 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut dikatakan masyarakat telah

berdaya dari sisi ekonominya atau variabel Y diukur menggunakan dua faktor

yaitu pendapatan dan modal. Dua faktor tersebut digunakan untuk mengukur

seberapa besar pengaruh ZIS terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat,
27

sehingga dengan adanya faktor tersebut dapat diketahui apakah ZIS mampu

mempengaruhi pendapatan dan modal mustahik.

2.9 Hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan yang akan diuji kebenarannya dengan fakta

yang ada. Berdasarkan pemikiran yang bersifat teoritis dan mengacu pada studi

empiris yang pernah dilakukan. Penelitian ini mengasumsikan bahwa semakin

besarnya dana ZIS yang digunakan untuk pemberdayaan maka perekonomian

masyarakatpun akan semakin baik.

1. Hubungan antara progam pemberdayaan ekonomi dan pendapatan

Menurut ilmu ekonomi pendapatan merupakan nilai maksimum yang

dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan

keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula.

Soekartiwi (2002: 132) menjelaskan pendapatan akan mempengaruhi

banyaknya barang yang dikonsumsikan, bahwa sering kali dijumpai dengan

bertambahnya pendapatan, maka barang yang dikonsumsikan bukan saja

bertambah, tapi juga kualitas barang tersebut ikut menjadi perhatian.

Program pemberdayaan ekonomi mustahik berupa ZIS yang diberikan

kepada mustahik diharapkan mampu menambah modal sehingga akan

berpengaruh terhadap pendapatan mustahik.

Didukung oleh penelitian terdahulu oleh Syaipuddin Elman (2015),

bahwa ZIS memberikan dampak positif signifikan, bahkan naik 10% dari

tahun sebelumnya.
28

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Nurmita (2016:56)

menyatakan bahwa pengaruh kontrak pembiayaan berpengaruh positif dan

signifikan terhadap pendapatan.

Ha 1 : Ada perbedaan pendatapan antara sebelum dan sesudah adanya

program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

2. Hubungan antara program pemberdayaan ekonomi dan modal

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam Listyawan

Ardi Nugraha (2011;9) “modal usaha adalah uang yang dipakai sebagai pokok

(induk) untuk berdagang, melepas uang, dan sebagainya, harta benda (uang,

barang, dan sebagainya) yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan

sesuatu yang menambah kekayaan”.

Penelitian oleh Michell (2013:32) menyatakan bahwa perekonomian

secara umum pemanfaatan modal yang tepat akan mendorong peningkatan

produksi. Meningkatnya jumlah modal yang digunakan akan meningkatkan

pendapatan. Oleh karena itu, modal merupakan alat pendorong yang kuat

untuk meningkatkan hasil produksi yang akhirnya akan dapat menentukan

pendapatan usaha.

Program pemberdayaan ekonomi mustahik yang digunakan sebagai

modal usaha mustahik diharapkan mampu menambah modal mustahik

sehingga mempengaruhi pendapatan mustahik.

Didukung oleh penelitain terdahulu dalam skripsi Nur Addini Rahmah

(2015) bahwa pengelolaan ZIS memberikan banyak manfaat terutama pada

modal mustahik.
29

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Nurmita (2016:55)

menyatakan bahwa kontrak pembiayaan berpengaruh signifikan atas

perubahan pendapatan nasabah antara sebelum dan sesudah pembiayaan.

Ha 2 : Ada perbedaan modal antara sebelum dan sesudah adanya

program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
BAB III

METODE PENELITIAN

Metodologi penelitian merupakan strategi mutlak yang harus digunakan

dalam sebuah penelitian. Dalam penulisan skripsi ini, penulis ingin mengetahui

sejauh mana kontribusi dan manfaat pemberdayaan ekonomi masyarakat yang

dilakukan oleh BAZNAS Kota Yogyakarta bagi kesejahteraan masyarakat. Oleh

karena itu, dalam penulisan skripsi ini menggunakan langkah-langkah sebagai

berikut:

3.1. Populasi

Menurut Suharsimi (2006: 130), populasi adalah keseluruhan subjek

penelitian. Populasi dalam penelitian adalah semua mustahik yang menerima

program pemberdayaan ekonomi masyarakat Baznas Kota Yogyakarta.

3.2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi,

2006) sampel dalam penelitian ini menggunakan metode insidental random

sampling yaitu merupakan teknik penentuan sampel berdasarkan

kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila

dipandang orang yang ditemui itu cocok sebagi sumber data (Sugiono, 2007).

Untuk mengetahui besarnya ukuran sampel yang akan digunakan dalam

penelitian ini, digunakan rumus pendekatan slovin (Umar, 2003) sebagai berikut:

n=

Dimana:

30
31

n : ukuran sampel

N : ukuran populasi

e : persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel

yang masih ditolelir (ditetapkan 10%)

n =

= ( )( )

=

= 54,2

Dari data mengenai perhitungan sampel diatas terdapat 54,2 sampel jadi

responden dalam penelitian ini adalah 54,2 sampel akan tetapi peneliti bulatkan

menjadi 55 sampel atau responden.

3.3. Variabel Penelitian

Hal yang perlu dilakukan sebelum mengumpulkan data yaitu menentukan

variabel dengan jelas. Variabel merupakan objek atau yang menjadi titik perhatian

suatu penelitian. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel

independen dan variabel dependen.

Variabel independen yaitu variabel bebas (X) adalah variabel yang

mempengaruhi variabel dependen atau variabel terikat. Variabel independen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah program pemberdayaan ekonomi

masyarakat, sedangkan variabel dependen atau variabel terikat (Y) adalah variabel

yang besar kecilnya tergantung pada nilai variabel bebas. Dalam penelitian ini
32

variabel dependen yang digunakan adalah mustahik sebagai penerima ZIS

program pemberdayaan ekonomi oleh Baznas Kota Yogyakarta. Adapun

indikatornya yakni tingkat pendapatan dan modal.

3.4. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di BAZNAS Kota Yogyakarta yang beralamatkan

di Lantai Dasar Masjid Diponegoro Jl. Kenari No.56 Balaikota Yogyakarta.

Adapun alasan penulis memilih penelitian di BAZNAS yaitu: BAZNAS Kota

Yogyakarta merupakan Lembaga Zakat Nasional resmi dan didukung oleh

perundang-undangan.

3.5. Jenis Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan Penelitian Kualitatif-

Kuantitatif.

3.5.1. Penelitian Lapangan

1. Observasi

Yaitu penulis mendatangi kantor BAZNAS Kota Yogyakarta tersebut

guna memperoleh data yang konkret tentang hal-hal yang menjadi objek

penelitian.

2. Wawancara

Wawancara ini dilakukan penulis agar memperoleh data yang objektif

mengenai pemberdayaan zakat sebagai tujuan kesejahteraan masyarakat

kurang mampu dengan cara mengajukan berbagai pertanyaan secara

langsung kepada terwawancara tentang segala sesuatu yang berkaitan

langsung dengan penulisan.

3. Dokumentasi
33

Yaitu penulis mengumpulkan, membaca, dan mempelajari berbagai

bentuk data tertulis (buku dan buletin) yang terdapat di kantor BAZNAS

Kota Yogyakarta, perpustakaan atau instansi lain yang dapat dijadikan

analisa dalam penelitian ini yang berhubungan dengan strategi

pemberdayaan zakat guna tercipta kesejahteraan masyarakat kurang

mampu.

4. Jenis Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh penulis

(pelaksanaan dari sumber primer dalam hal ini adalah wawancara

langsung dengan dewan pengurus BAZNAS Kota Yogyakarta dan

menyebar kuisioner ke beberapa nasabah BAZNAS Kota

Yogyakarta).

b. Data Sekunder

Data sekunder ini berupa data yang tersusun dalam bentuk dokumen-

dokumen. Yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini adalah

buku-buku, buletin dan bahan informasi lainnya yang memiliki

relevansi dengan masalah sebagai bahan penunjang penelitian.

c. Analisis Data

Kelanjutan dari mengelola data, penulis melakukan analisis dengan

menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif

dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT Klasik dan SWOT 4

Kuadran. Metode ini digunakan untuk mengetahui keunggulan

komparatif yang dimiliki oleh suatu produk. Selain itu untuk
34

menentukan strategi pengembangan yang cocok dan sesuai dalam

meningkatkan kualitas BAZNAS Kota Yogyakarta. Sedangkan

analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis pengaruh strategi

pemberdayaan guna pencapaian ekonomi masyarakat. Pengolahan

data dilakukan dengan menggunakan IBM SPSS 21, metode yang

digunakan untuk menganalisis sebelum dan sesudah pemberdayaan

yaitu Uji Wolcoxon Signed Rank Test.

Adapun teknik penulisan skripsi ini menggunakan buku

pedoman yang disusun oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN

Sunan Kalijaga Yogyakarta.

3.5.2. Metode Analisis Data

1. Analisis SWOT-K dan SWOT-4K

Analisis SWOT-K (Klasik) adalah sebuah alat pencocokan yang

penting yang membantu para manajer mengembangkan empat jenis

strategi: Strategi SO (kekuatan-peluang), Strategi WO (kelemahan-

peluang), Strategi ST (kekuatan-ancaman), dan Strategi WT (kelemahan-

ancaman) (Fred R. David, 2009: 327).

Strategi SO memanfaatkan kekuatan internal lembaga dalam

mendapatkan donatur/muzakki. Internal perusahaan sangat erat kaitannya

dengan eksternal lembaga. Maka dari itu, kekuatan internal lembaga

sangat perlu dijaga dan perlu peningkatan kualiatas internal. Secara

umum, lembaga akan menjalankan strategi WO, ST atau WT untuk

mencapai situasi dimana mereka dapat melaksanakan Strategi SO. Jika

lembaga mempunyai kelemahan besar, maka lembaga akan berjuang
35

untuk mengatasinya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Tatkala sebuah

lembaga dihadapkan pada ancaman yang besar, maka lembaga akan

berusaha untuk menghindarinya dan berkonsentrasi pada peluang.

Strategi WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal

dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. Pengumpulan dana

yang dilakukan oleh amil zakat harus dilakukan dengan teliti dan hati-

hati, selanjutnya menthasyarufkan kepada mustahik yang tepat, guna

pencapaian penthasyarufan yang tepat sasaran. Hal ini merupakan salah

satu cara meminimalkan kelemahan.

Strategi ST menggunakan kekuatan sebuah lembaga untuk

menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal. Hal ini bukan

berarati bahwa suatu organisasi yang kuat harus selalu menghadapi

ancaman secara langsung didalam lingkungan eksternal.

Strategi WT merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk

mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal dan

kelemahan internal benar-benar dalam posisi membahayakan.

2. Tahapan Penyusunan Matriks

Untuk mewujudkan matriks SWOT-K tersebut diperlukan

pelaksanaan tahapan berikut ini (David dkk, dalam Suwarsono

Muhammad, 2013).

a. Manajemen sendiri maupun bersama konsultan melakukan

identifikasi dan inventori terhadap kekuatan dan kelemahan yang

sekarang dimiliki oleh lembaga (unit usaha strategis). Di samping itu
36

manajemen juga perlu melakukan perbandingan dengan keunggulan

dan kelemahan yang dimiliki oleh pesaing.

b. Manajemen mendeteksi lingkungan bisnis makro dan mikro (pesaing)

yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan atau

lembaga, kini dan masa yang akan datang.

c. Manajemen mencoba merumuskan pilihan strategi yang mungkin

dapat diimplementasikan dengan cara melakukan refleksi atas

berbagai kemungkinan kombinasi dari indikator kekuatan (S),

kelemahan (W), peluang (O), dan ancaman (T) yang telah ditemukan

pada dua langkah sebelumnya. Tersedia empat macam strategi yakni:

SO (maksi-maksi), WO (mini-maksi), ST (maksi-mini), dan WT

(mini-mini). Pada tahapan ini juga terdapat kecenderungan untuk

sebanyak mungkin menemukan rumusan strategi, yang jika dicermati

lebih dalam biasanya justru berisi strategi yang tidak memiliki

kemungkinan untuk diterapkan. Manajemen hendaknya menyadari

kecenderungan tersebut dan oleh karena itu harus dihindari. Jika

berhasil dirumuskan dengan pas, manajemen dapat

mengimplementasikan keempat jenis strategi tersebut secara

simultan, tidak hanya memilih salah satu.

Tabel 3.1
Analisis SWOT Klasik:
Kekuatan Kelemahan
Lembaga Lembaga
Peluang Bisnis Strategi S – O Strategi W-O

Ancaman Bisnis Strategi S – T Strategi W – T
37

Selain SWOT Klasik ada pula SWOT 4 Kuadran. Secara umum tidak

ada perbedaan yang berarti dibanding dengan tahapan penyusunan matriks

SWOT-K. Perbedaan pokoknya hanya terletak pada pemberian bobot, nilai,

dan nilai tertimbang pada masing-masing indikator (butir) variabel

lingkungan eksternal dan internal.

Adapun langkah-langkah penyusunan matriks SWOT 4 Kuadran yaitu

sebagai berikut:

1. Manajemen perlu membuat daftar indikator (butir) dari variabel

lingkungan eksternal dan internal yang diperkirakan mempengaruhi masa

depan lembaga.

2. Memberikan bobot (weight) pada masing-masing indikator (butir) dengan

cara membandingkan peran satu indikator tertentu dengan indikator

lainnya. Perlu dilihat tingkat pentingnya pengaruh langsung dan tidak

langsung satu indikator tertentu dibanding indikator yang lain dari

kategori variabel kekuatan perusahaan dan peluang pada pencapaian

tujuan perusahaan pada periode penyusunan rencana strategis. Dengan

kata lain, pemberian bobot lebih banyak berkaitan dengan perbandingan

besar kecilnya peran antar indikator. Proses pengujian yang sama yakni

perbandingan satu indikator dengan indikator yang lain dilakukan untuk

kategori variabel kelemahan perusahaan dan ancaman bisnis dengan

melihat besar kecilnya hambatan yang mungkin ditimbulkan.

3. Manajemen memberikan penilaian terhadap besar kecilnya sumbangan

atau hambatan yang diberikan oleh masing-masing indikator terhadap

pencapaian tujuan lembaga, khususnya untuk satu periode penyusunan
38

secara startegis. Berbeda dengan pemberian bobot yang lebih memberikan

tekanan pada perbandingan peran antar indikator, penilaian ini lebih

langsung menunjuk pada sumbangan atau hambatan yang hendak

diberikan oleh masing-masing indikator pada pencapaian kinerja

lembaga. Penilaian pada masing-masing indikator biasanya dilakukan

dengan memberikan skor 1 sampai 5 untuk kategori variabel kekuatan

lembaga dan peluang bisnis, karena kedua kategori variabel tersebut

memiliki hubungan positif dengan kinerja lembaga. Penilaian diberikan

dengan angka negatif -1 sampai -5 untuk kategori variabel kelemahan

lembaga dan ancaman bisnis, karena kedua kategori variabel tersebut

memiliki hubungan negatif dengan pencapaian kinerja perusahaan.

Penilaian juga boleh diberikan dengan angka positif, akan tetapi

diberlakukan sebagai pengurang ketika menentukan posisi kuadran

lembaga. Sekalipun demikian tidak ada keharusan untuk menggunakan

skor 1 sampai 5. Manajemen dipersilahkan untuk merumuskan sendiri

skala penilaian yang hendak digunakan, misalnya bisa dari 1 sampai 10.

4. Manajemen menghitung nilai tertimbang dari masing-masing indikator

dalam satu kategori variabel dan menjumlahkannya. Nilai tertimbang

merupakan hasil perkalian antar bobot dan nilai masing-masing indikator.

Setelah nilai tersebut tertimbang masing-masing indikator ditemukan,

nilai tertimbang tersebut dijumlahkan.

5. Menentukan posisi lembaga dalam salah satu kuadran dari empat kuadran

yang dimiliki oleh matriks SWOT-4K dan sekaligus menentukan strategi

bersaing yang seyogyanya dilaksanakan berdasarkan posisi yang dimiliki
39

tersebut. Untuk keperluan itu dihitung terlebih dahulu selisih nilai

tertimbang antara variabel kekuatan dan kelemahan perusahaan serta

sekaligus selisih nilai tertimbang antara peluang dan ancaman bisnis.

Jika selisih kedua nilai tersebut positif, maka posisi lembaga berada

dikuadran I dan lembaga disarankan menggunakan strategi pertumbuhan. Jika

nilai tertimbang peluang lebih besar daripada ancaman bisnis dan disaat yang

sama nilai tertimbang kekuatan lebih kecil daripada kelemahan lembaga,

maka posisi lembaga berada dikuadran II dan oleh karena itu manajemen

disarankan menggunakan strategi stabilisasi. Jika selisih kedua nilai tersebut

negatif, maka posisi lembaga berada dikuadran III dan oleh karena itu

lembaga diharapkan memilih strategi penyelamatan. Jika nilai tertimbang

peluang lebih kecil daripada ancaman bisnis dan disaat yang sama nilai

tertimbang kekuatan lebih besar daripada kelemahan lembaga, maka posisi

lembaga berada dikuadran IV dan perusahaan seyogyanya

mengimplemenatsikan strategi disersifikasi.

2. Uji Wilcoxon Signed Rank Test

Wilcoxon signed rank test merupakan uji non parametrik yang digunakan

untuk menganalisis data berpasangan karena adanya dua perlakuan yang

berbeda.1

Asumsi-asumsi pengujian wilcoxon signed rank test yaitu:

a. Menggunakan data berpasangan dan berasal dari populasi yang sama,

uji ini sama dengan tujuan uji t berpasangan.

1
http://www.statistikian.com
40

b. Setiap pasangan dipilih secara acak dan independent. Maksudnya ini

dalam pengambilan sampel tidak subjektif atau asal ambil, akan ettapi

pengambilan sampelnya secara acak.

c. Skala pengukuran minimal ordinal, dan tidak butuh asumsi normalitas.

Inilah yang membedakan dengan uji t berpasangan. Ada dua keadaan

dalam menggunakan uji wilcoxon: pertama, ketika data yang

digunakan ordinal maka pakai wilcoxon. Kedua, ketika datanya

interval atau rasio maka pastikan apakah normal atau tidak. Apabila

data normal maka uji yang harus dipakai yaitu uji t berpasangan, akan

tetapi jika data tidak normal maka memakai uji wilcoxon. Untuk

mengetahui apakah data kita normal atau tidak, maka kita bisa

mengujinya terlebih dahulu dengan menggunakan uji normalitas.

Ho diterima apabila t > α

Ho ditolak apabila < t α

Suatu hipotesa bisa dilakukan dengan melihat nilai signifikansi hasil

pengujian lebih kecil dari tingkat signifikansi ( ) 0,05. Secara prinsip dapat

ditulis dengan (Sugianti, 2004:144)

Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima.

Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak.
BAB IV

GAMBARAN UMUM DAN HASIL ANALISIS

4.1. Gambaran Umum

4.1.1 Sejarah Baznas Kota Yogyakarta

BAZIS atau Pengelola Badan Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah

merupakan nama lembaga zakat yang kemudian dirubah menjadi BAZNAS.

BAZIS ini berdiri sebelum tahun 1996. Kepengurusan pada periode 1996-1999

adalah berdasarkan Surat Keputusan Walikotamadya Yogyakarta

No.177/KD/Tahun 1996 dengan program kerja menghimpun pengumpulan dana

infaq sukarela dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kotamadya

Yogyakarta. Sedangkan untuk penyaluran dana infaq tersebut masih sangat

terbatas dan diprioritaskan untuk pembangunan ataupun rehab tempat ibadah,

baik masjid maupun mushola.

Pada perkembangan berikutnya, setelah habis masa kepengurusan BAZIS

maka diterbitkannyalah SK baru tentang pembentukan pengurus BAZIS masa

bakti 1999-2003 dengan SK Walikotamadya Yogyakarta No.309/KD/Tahun

1999.

Demi upaya peningkatan pemberdayaan ZIS dan pentasyarufannya, maka

diterbitkanlah surat edaran Walikotamadya No.451.12/1546 Tanggal 16 Juli

1999 tentang Penunaian dan Pengumpulan Zakat, Infaq, dan Shadaqah bagi PNS

di lingkungan Kotamadya Yogyakarta.

Dengan adanya surat edaran tersebut, maka semakin membantu dalam

menumbuhkan kesadaran para PNS untuk menitipkan sebagian

zakat/infaq/shadaqahnya kepada BAZIS Kotamadya Yogyakarta, sehingga

41
42

jumlah dana yang masuk semakin bertambah, dan mampu memperluasan

pemberdayaan.

Pentasyarufan yang dilakukan oleh pengurus BAZIS-pun semakin

diperluas sesuai dengan ketentuan dan sasaran. Selain untuk tempat ibadah, ZIS

juga disalurkan kepada fakir miskin, lembaga keagamaan/lembaga sosial,

pengembangan Agama Islam/pendidikan, juga diberikan kepada ibnu sabil.

Pada tanggal 01 Juli 2005 yakni pada periode 2005-2008 diterbitkan

Surat Keputusan tentang pembentukan Pengurus Badan Amil Zakat (BAZ) Kota

Yogyakarta No.274/kep/2005, dengan susunan pengurus dan uraian mengenai

pembagian tugas sebagaimana mestinya, hal tersebut sesuai dengan Undang-

Undang No.38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat, bahwa sangat diperlukan

adanya penyesuaian baik pengelola organisasi maupun struktur susunan

pengurus dan program kerjanya.

Dalam kepengurusan periode ini, dimulainya usaha dalam memperluas

sasaran penghimpunan dana BAZ. Adapun muzakki/munfiq/mushadiq tidak

hanya diperuntukkan kepada PNS di lingkungan Kota Yogyakarta, akan tetapi

diupayakan dapat menjangkau para karyawan swasta di lingkungan Kota

Yogyakarta, sesuai dengan amanah undang-undang No.38 tahun 1999 tentang

pengelolaan zakat.

Perkembangan BAZ ini mengalami kevakuman (tidak maksimal) dan

tidak mampu menjalankan program yang telah diamanahkan, sehingga Walikota

Yogyakarta memutuskan untuk menghentikan lembaga ini. Lembaga ini sempat

tidak berfungsi selama kurun waktu 4 tahun. Dana ZIS juga tidak ada yang

masuk ke BAZ Kota Yogyakarta.
43

Berbagai macam pertimbangan telah dimusyawarahkan, kemudian

diputuskan kembali untuk memulai menjalankan BAZ kembali pada akhir tahun

2009. Walikota Yogyakarta juga kembali mengeluarkan surat keputusan

Pendirian Badan Amil Zakat Daerah Kota Yogyakarta yang berdiri sampai saat

ini.

Undang-undang terbaru No.23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat,

maka BAZDA Kota Yogyakarta dirubah menjadi BAZNAS Kota Yogyakarta.1

4.1.2 Kegiatan/Program Baznas Kota Yogyakarta

Pada tahun 2016, diterbitkan surat keputusan oleh ketua BAZNAS Kota

Yogyakarta No.5 Tahun 2016 tentang Standar Operasional Prosedur Pelayanan

Penthasyarufan dan Pendayagunaan 2016 M/1437 H. Adapun tugas dan fungsi

setiap bidang adalah sebagai berikut:

1. Bidang Penghimpunan

a. Tugas dan Fungsi Bidang Pengumpulan

Bidang Penghimpunan memiliki tugas utama sesuai dengan

peraturan BAZNAS No.03 Tahun 2014 adalah merencanakan,

mengarahkan serta mengevaluasi target penghimpunan dana

Zakat, Infaq, dan Shadaqah serta memastikan strategi yang

digunakan sudah tepat dalam upaya pencapaian sasaran atau

belum. Sedangkan fungsi dari Bidang Penghimpunan ini adalah

sebagai berikut:

a) Pelaksanaan pengelolaan dan pengembangkan data

muzakki;

1
Baznas.jogjakota.go.id
44

b) Pelaksanaan kampanye zakat;

c) Pelaksanaan dan pengendalian pengumpulan zakat;

d) Pelaksanaan pelayanan muzakki;

e) Pelaksanaan evaluasi pengelolaan pengumpulan zakat;

f) Penyusunan pelaporan dan pertanggungjawaban

pengumpulan zakat;

g) Pelaksanaan penerimaan dan tindak lanjut komplain atas

layanan muzakki;

h) Koordinasi pelaksanaan pengumpulan zakat tingkat Kota

Yogyakarta.

b. Uraian Tugas

1. Membuat perencanaan kegiatan dan anggaran bidang

pengumpulan.

2. Tercapainya target pengumpulan Zakat, Infaq, Shadaqah

serta dana sosial keagamaan lainnya.

3. Melakukan kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya

pengumpulan potensi ZIS di Kota Yogyakarta.

4. Bertanggung jawab dalam proses pengumpulan dana

Zakat, Infaq, dan Shadaqah.

5. Melakukan penilaian dan evaluasi mingguan terhadap

kemajuan kegiatan pengumpulan.

c. Sistem dan Prosedur

a. Penghimpunan Melalui Pelayanan Kantor
45

Pelayanan pembayaran ZIS melalui pembayaran

langsung di kantor BAZNAS Kota Yogyakarta:

1. Petugas melayani muzakki, munfiq, dan mushadiq

dengan pelayanan yang ramah sesuai budaya

senyum, sapa, dan salam.

2. Petugas menghitung kemudian mencatat ZIS di

buku khusus bukti penerimaan. Selanjutnya

menyerahkannya kepada muzakki, munfiq, dan

mushadiq sebagai bukti penerimaan kantor.

3. Sebelum donatur meninggalkan kantor, petugas

mendo’akan dengan redaksi do’a yang telah tertera

di meja pelayanan.

4. Setelah pelayanan selesai, petugas penerimaan

menyerahkan donasi kepada bagian keuangan untuk

selanjutnya diadministrasikan.

Adapun alur pelayanan adalah sebagai berikut:

Muzakki/munfi Petugas Penerbit Bagian
q/mushadiq Pelayanan tanda terima keuangan

Input pada SIMBA
Pelaporan
(Sistem Informasi
BAZNAS)

b. Pengumpulan Dana ZIS Melalui Unit Pengumpulan

Zakat (UPZ)
46

Pelayanan pembayaran ZIS melalui UPZ:

1. Pembentukan UPZ terdiri dari UPZ Instansi

/Lembaga/Perusahaan/Sekolah/Masjid/Kewilahan.

2. BAZNAS membentuk UPZ dengan susunan

pengurus yang terdiri dari ketua, sekretaris,

bendahara, dan anggota.

3. Pengurus UPZ bertanggung jawab atas

pengadministrasian data muzakki/munfiq/mushadiq

dan jumlah ZIS.

4. Pembayaran melalui UPZ menggunakan metode

payroll system(sistem penggajian) dengan cara

dipotong langsung sesuai dengan ikrar masing-

masing donatur di unit kerja

5. Pengurus UPZ mentransfer atau menyetor langsung

dana ZIS maksimal pada tanggal 5 setiap bulannya.

6. Bidang pengumpulan melakukan monitoring dan

evaluasi efektivitas dari masing-masing UPZ.

7. Alur pelayanan pembayaran ZIS melalui UPZ:

Muzakki/munfi Petugas Bagian Penerbitan
q/mushadiq konter keuangan tanda terima
pelayanan

Input data pada
Laporan
SIMBA

c. Penghimpunan ZIS Melalui Transfer Perbankan
47

1. Bidang pengumpulan menyebarkan nomor rekening

BAZNAS Kota Yogyakarta kepada

muzakki/munfiq/mushadiq.

2. Muzakki/munfiq/mushadiq melakukan pembayaran

ZIS langsung melalui rekening BAZNAS Kota

Yogyakarta.

3. Alur pelayanan pembayaran ZIS via perbankan:

Muzakki/munfiq Transfer via Monitoring Bagian
/mushadiq bank pada rekening keuangan
\ koran

laporan Input pada
SIMBA

d. Penghimpunan Dana ZIS Model Jemput Bola

1. Muzakki/munfiq/mushadiq yang ingin membayar

ZIS melalui model jemput bola ini terlebih dahulu

memberitahukan melalui call centre BAZNAS Kota

Yogyakarta.

2. Model jemput bola diperuntukkan bagi donasi

minimal sebesar Rp. 200.000,-

3. Bidang pengumpulan melakukan jemput bola ke

alamat muzakki/munfiq/mushadiq.

4. Alur pelayanan pembayaran ZIS melalui model

jemput bola:
48

Muzakki/munfiq Call Bidang Jemput
/mushadiq centre penghimpunan bola

Input
laporan Bagian Tanda
pada
keuangan terima
SIMBA

e. Penghimpunan Dana Infaq melalui Program ODOT

(One Day One Thousand)

1. Bagian pengumpulan membuat kaleng ODOT.

2. Membagikan kepada para munfiq.

3. Mengadministrasikan database munfiq secara

tersendiri.

4. Melakukan monitoring program ODOT setiap

bulannya.

5. Alur penghimpunan ODOT:

Munfiq Bidang Tanda Bagian
pengumpulan terima keuangan

Input pada
Laporan
SIMBA
49

f. Penghimpunan Melalui Sharing Program

1. Bagian pengumpulan membuat program kegiatan

bersama bidang penthasyarufan dalam bentuk

proposal kerjasama dengan instansi lain.

2. Bidang pengumpulan melakukan penawaran

kerjasama dengan pihak ketiga dalam rangka

sharing program yang akan dilakukan.

3. Pelaporan kerjasama program dengan pihak ketiga.

4. Alur penghimpunan melalui sharing program:

Donatur Bidang Tanda Bagian
Pengumpulan terima keuangan

laporan Input pada
simba

2. Bidang Penthasyarufan dan Pendayagunaan

a. Tugas dan Fungsi

1. Tugas

Bidang penthasyarufan dan pendayagunaan

memiliki tugas pendistribusian dan pendayagunaan

zakat. Hal tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan

BAZNAS No.3 Tahun 2014 pasal 39.

2. Fungsi
50

Bidang penthasyarufan dan pendayagunaan

menyelenggarakan fungsi sesuai tugas sebagaimana

yang telah dimaksudkan pada pasal 39 Peraturan

BAZNAS No.3 Tahun 2014.

Adapun fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai

berikut:

a. Penyusunan strategis penthasyarufan dan

pendayagunaan zakat.

b. Pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan dana

mustahik.

c. Pelaksanaan dan pengendalian penthasyarufan dan

pendayagunaan zakat.

d. Pelaksanaan evaluasi pengelolaan penthasyarufan

dan pendayagunaan zakat.

e. Penyusunan pelaporan dan pertanggungjawaban

penthasyarufan dan pendayagunaan zakat.

f. Koordinasi pelaksanaan penthasyarufan dan

pendayagunaan zakat tingkat Kota Yogyakarta.

b. Uraian Tugas

1. Menyusun SOP penthasyarufan dan

pendayagunaan.

2. Membuat program kerja penthasyarufan dan

pendayagunaan.

3. Menetapkan persyaratan dan kriteria mustahik.
51

4. Melakukan seleksi dan persetujuan mustahik.

5. Menetapkan relawan zakat dan pendamping

program pemberdayaan.

6. Mensupervisi dan evaluasi pelaksanaan

penthasyarufan dan pendayagunaan.

7. Membuat agenda penthasyarufan dalam satu tahun.

8. Mengelola dan mengembangkan data mustahik.

9. Melakukan koordinasi dengan mustahik.

10. Melaksanakan koordinasi dengan relawan zakat

dan pendamping program pemberdayaan.

11. Melaksanakan penthasyarufan ZIS sesuai program.

12. Melaksanakan monitoring dan dokumentasi

pelaksanaan penthasyarufan dan pendayagunaan.

Penjelasan diatas menyimpulkan bahwa strategi yang dipakai

dalam pengumpulan/fundraising ada 6 cara, yaitu :

1. Penghimpunan melalui pelayanan kantor.

2. Pengumpulan dana ZIS melalui Unit Pengumpulan Zakat

(UPZ).

3. Penghimpunan ZIS melalui transfer perbankan.

4. Penghimpunan ZIS melalui model jemput bola.

5. Penghimpunan dana Infaq melalui kotak program ODOT (One

day one thousand)

6. Penghimpunan melalui sharing program.
52

Dari 6 cara diatas, bahwa UPZ merupakan satu-satunya

pengumpulan yang memiliki kekuatan besar, yakni memiliki UU zakat,

dukungan dari pemerintah dll. Dapat dilihat bahwa perolehan UPZ yang

berasal dari kalangan PNS sangat besar pendapatannya.2

Tabel 4.1

Perbedaan perolehan ZIS antara UPZ dan Non UPZ (Jemput Bola)

Hingga Desember 2016

UPZ Jemput Bola

3.860.227.634 469.803.483

Sumber: Laporan Keuangan Baznas Kota Yogyakarta

Tabel diatas menunjukkan bahwa pengumpulan ZIS dari UPZ

sangat besar perolehannya dibandingkan dengan pengumpulan melalui

program atau strategi lain.

2
Arsip dokumen Baznas Kota Yogyakarta
53

4.1.3 Struktur Organisasi Baznas Kota Yogyakarta

PEMBINA: PENASEHAT:
WALIKOTA KEMENAG KOTA
YOGYAKARTA YOGYAKARTA

PIMPINAN BAZNAS:
AUDIT SYARI’AH:
1)Dr.Muhammad, M.Ag, KEMENAG KOTA
2)DRS.H.Syamsul Azhari, YOGYAKARTA
3)DR. Adi Soeprapto, S.Sos.,M.Si,

4)Marsudi Endang Sri Rejeki, SE.,M.Si,
5)Drs.Firdaus Muttaqie

SATUAN AUDIT
INTERNAL: Dwi Lestari
Styaningsih, SE PELAKSANA BAZNAS:
Dra. Rr. Titik Sulastri
H. Misbahrudin, S,Ag

BIDANG BIDANG BAGIAN BIDANG
PUNGUTAN: PENTHASYARUFAN & PERENCANAAN ADMINISTRASI
Deni Riani, SEI PENDAYAGUNAAN: KEUANGAN DAN UMUM &SDM:
Muhaimin, S.Si PELAPORAN: Noorlia M. Fuad
Dharmawati, SE
54

4.1.4 Dasar Hukum

Secara kelembagaan Badan Amil Zakat Nasional Kota Yogyakarta

dibentuk berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Kementerian Agama RI Nomor DJ.II/568 Tahun 2014 tentang pembentukan

Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten/Kota se-Indonesia. Sedangkan untuk

kepengurusan dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Walikota Yogyakarta

Nomor 323 Tahun 2015 Tentang Pengangkatan Pimpinan dan Pelaksana

BAZNAS Kota Yogyakarta Masa Bakti 2015-2020. Dasar hukum peraturan

perundangan BAZNAS Kota Yogyakarta meliputi:

a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat

b. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014 tentang Penjelasan

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011.

c. Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Kementerian Agama RI Nomor DJ.II/568 Tahun 2014 tentang

pembentukan Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten/Kota se-

Indonesia.

d. Peraturan BAZNAS No. 01 Tahun 2014 tentang Pengajuan

Pertimbangan Pimpinan BAZNAS Provinsi/Kabupaten/Kota.

e. Peraturan BAZNAS No. 03 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata

Kerja BAZNAS Provinsi/Kabupaten/Kota.

f. Peraturan BAZNAS No. 04 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan

RKAT BAZNAS Provinsi/Kabupaten/Kota.
55

g. Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor 323 Tahun 2015 Tentang

Pengangkatan Pimpinan dan Pelaksana BAZNAS Kota Yogyakarta

Masa Bakti 2015-2020.

4.1.5 Tujuan Dan Fungsi Baznas Kota Yogyakarta

VISI

Terwujudnya lembaga yang amanah, profesional, dn transparan yang

dipercaya masyarakat, mempunyai kemampuan dan integritas untuk

mengembangkan zakat infaq.

Penjelasan atas beberapa kata dalam Visi tersebut adalah sebagai

berikut:

a. Pusat zakat; koordinator seluruh UPZ dan LAZ di Kota Yogyakarta.

b. Kompeten; mampu menjalankan amanahnya secara profesional sesuai

syariah serta berbasis teknologi informasi untuk melakukan integrasi

data muzaki, mustahik, program penghimpunan, program

pentasharufan, pelaporan dan publikasi.

c. Terpercaya; menjadi lembaga zakat yang dapat dipercaya dalam

pengelolaan ZIS.

d. Tanggap : responsif, proaktif terhadap permasalahan umat.

e. Berzakat : berzakat melalui amil sesuai syariah.

f. Mandiri : menjadikan mustahiq yang mampu hidup secara layak.

g. Yogyakarta berkah; kesejahteraan dan keberkahan hidup bagi muzaki

dan mustahik di Kota Yogyakarta.
56

MISI

Untuk mewujudkan Visi tersebut dapat ditempuh melalui 5 (lima)

Misi sebagai berikut:

1. Mewujudkan BAZNAS Kota Yogyakarta yang kompeten dalam

mengelola ZIS.

2. Mewujudkan BAZNAS Kota Yogyakarta yang terpercaya dan

menjadi pilihan umat.

3. Mewujudkan BAZNAS Kota Yogyakarta yang tanggap terhadap

permasalahan umat.

4. Mewujudkan BAZNAS Kota Yogyakarta yang mampu mengubah

mustahik menjadi muzaki.

5. Mewujudkan BAZNAS Kota Yogyakarta yang memberi kemaslahatan

bagi umat.

NILAI

Nilai-nilai yang ditetapkan dan harus dijunjung tinggi oleh seluruh

pihak yang terlibat dengan BAZNAS Kota Yogyakarta adalah:

a. Takwa; semua hal yang dilakukan dalam rangka mengabdi kepada

Allah dan akan mempertanggungjawabkan kepada Allah.

b. Shiddiq; merupakan lembaga yang akuntabel (dapat memberikan

pertanggungjawaban atas kinerja yang dilakukan) kepada publik

sesuai dengan standar pelayanan dan tolok ukur yang diakui.

c. Fathonah; merupakan lembaga yang mampu membangun kapasitas

pelayanannya berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dalam

pengelolaan dan inovasi pelayanan.
57

d. Amanah; merupakan lembaga yang mendasarkan pengelolaannya

pada aspek kejujuran dan integritas secara kelembagaan maupun

personal para amilnya.

e. Tabligh; merupakan lembaga yang mampu mengajak dan membangun

seluruh potensi bangsa untuk bersama-sama meningkatkan

kesejahteraan mustahik sebagai wujud rahmatan lil’alamiin.

Azas pengelolaan

1. Amanah

Pengelolaan (pemungutan, pengadministrasian dan pentasharufan) ZIS

dilakukan sesuai tuntunan syar’i dan peraturan perundangan.

2. Profesional

Pengelolaan ZIS dilakukan sesuai dengan prinsip – prinsip tata kelola

yang benar.

3. Transparan

Masyarakat dapat mengetahui ketentuan dan informasi pengelolaan

ZIS dengan cepat dan mudah.

Tujuan dan Sasaran

1. Tujuan

a) Meningkatkan fungsi dan peran pranata keagamaan dalam upaya

mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

b) Meningkatkan pelayanan dalam menunaikan ZIS sesuai

ketentuan syar’i.

c) Meningkatkan hasil guna dan daya guna ZIS.
58

2. Sasaran

a) Meningkatnya kesadaran muzakki, munfiq dan mushaddiq

dalam menunaikan ZIS.

b) Meningkatnya pelayanan amil terhadap muzakki, munfiq,

mushaddiq dan mustahik.

4.1.6 Sistem Kerja

BAZNAS merupakan satu diantara sedikit lembaga nonstruktural yang

memberi kontribusi kepada negara dibidang pembangunan kesejahteraan

masyarakat dan penanggulangan kemiskinan melalui pengelolaan dana zakat.

BAZNAS mendapat bantuan pembiayaan dari APBN sesuai ketentuan

perundang-undangan, namun manfaat yang diberikan BAZNAS kepada negara

dan bangsa jauh lebih besar. Dikaitkan dengan amanat UUD 1945 pasal 34

bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”, maka

peran BAZNAS sangat menunjang tugas negara.

BAZNAS berperan sebagai penyedia bantuan jaminan sosial bagi fakir

miskin di tanah air kita. Kehadiran lembaga ini menopang tugas negara dalam

mensejahterakan masyarakat, sehingga sewajarnya disokong oleh pemerintah.

Peran dan kontribusi BAZNAS kepada masyarakat, khususnya umat Islam,

tidak hanya dalam ukuran yang bersifat kuantitatif, tetapi juga ukuran yang

bersifat kualitatif, terutama peran BAZNAS dalam menyebarluaskan nilai-nilai

zakat ditengah masyarakat. Yaitu nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada

Allah SWT, etos kerja, etika kerja dalam mencari rezeki yang halal dan baik,

serta nilai-nilai zakat yang terkait dengan pembangunan karakter manusia

(character building) sebagai insan yang harus memberi manfaat bagi sesama.
59

Zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya yang dihimpun

BAZNAS, disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerima (mustahik)

sesuai ketentuan syariat Islam. Penyaluran zakat diperuntukkan untuk 8

(delapan) asnaf, yaitu fakir, miskin, amilin, muallaf, gharimin, riqab, fisabilillah

dan ibnu sabil. Penyaluran dana umat yang dikelola oleh BAZNAS dilakukan

dalam bentuk pendistribusian (konsumtif) dan pendayagunaan (produktif).

Selain menyantuni, BAZNAS menanamkan semangat berusaha dan kemandirian

kepada kaum miskin dan dhuafa yang masih bisa bekerja agar tidak selamanya

bergantung dari dana zakat.3

4.2 Analisis dan Hasil Pembahasan

4.2.1 Analisis SWOT Klasik dan SWOT 4 Kuadran.

4.2.1.1 Analisis SWOT Klasik

Baznas Kota Yogyakarta memiliki kekuatan, peluang, kelemahan dan

ancaman yang dirumuskan dalam Analisis SWOT Klasik, yakni sebagai

berikut:

Tabel 4.2
Analisis SWOT Klasik Baznas Kota Yogyakarta

KEKUATAN PELUANG
 BAZNAS sebagai pengelola  Potensi Muzakki
resmi.  Regulasi yang mendukung.
 Mitra penyelenggara  Tumbuhnya kesadaran
pemerintah. masyarakat dalam menunaikan
 Sistem informasi yang ZIS.
menunjang.  Tumbuhnya majelis ta’lim
 Didukung oleh peraturan
perundangan.
 Dukungan pemerintah.
KELEMAHAN ANCAMAN
 Rendahnya kesadaran umat  Rendahnya kepercayaan
dalam menunaikan ZIS masyarakat terhadap lembaga
melalui Baznas Kota pemerintah.

3
ibid
60

Yogyakarta.  Keberadaan lembaga pengelola
 Belum memiliki sarana dan ZIS di luar Baznas.
prasarana yang memadai.  Minimnya kepedulian masyarakat
 Tingkat kesejahteraan amil dalam menjalankan syari’at
rendah. agama khususnya penunaian ZIS.
 Belum memiliki program
unggulan.
Sumber: Baznas Kota Yogyakarta

Analisis SWOT diatas kemudian dikombinasikan agar tercipta strategi

pertumbuhan lembaga baik internal dan eksternal. Adapun hasil Analisis

SWOT Klasik tertera dalam tabel dibawah ini:

Tabel 4.3
Hasil Analisis SWOT Klasik Baznas Kota Yogyakarta
Strengths (S) Weaknesses (W)
 Mitra penyelenggara  Rendahnya kesadaran
pemerintah. umat dalam
 Sistem informasi yang menunaikan ZIS
menunjang. melalui Baznas Kota
 Didukung oleh peraturan Yogyakarta.
perundangan.  Belum memiliki
 Dukungan pemerintah. sarana dan prasarana
yang memadai.
 Tingkat kesejahteraan
amil yang rendah.
Belum memiliki
program unggulan.
Opportunities (O) Strategi (SO) Strategi (WO)
 Potensi muzaki  Pengelola resmi  Menumbuhkan
 Regulasi yang memanfaatkan potensi kesadaran muzakki
mendukung. muzaki dan pertumbuhan untuk membayar ZIS.
 Tumbuhnya kesadaran kelas menengah.  Sarana yang belum
masyarakat dalam  Memanfaatkan dukungan memadai segera
menunaikan ZIS. pemerintah. ditindak lanjuti agar
 Tumbuhnya majelis  Dukungan yang sangat tercipta sarana yang
ta’lim. kuat oleh pemerintah lebih baik.
mampu menarik minat  Memberi pelatihan
muzakki. khusus bagi amil
 Peraturan undang- guna tercapainya
undang mampu program unggulan
menguatkan dan
mendukung
pertumbuhan majelis.
61

Threaths (T) Strategi (ST) Strategi (WT)
 Rendahnya kepercayaan  Baznas harus lebih  Mengadakan
masyarakat terhadap transparan guna menarik sosialisasi tentang
lembaga pemerintah. kepercayaan masyarakat. keunggulan Baznas
 Keberadaan lembaga  Mengadakan kajian- Kota Yogyakarta.
pengelola ZIS di luar kajian di majelis-majelis  Proses ZIS yang
Baznas. tentang keutamaan harus transparan.
 Minimnya kepedulian membayar ZIS.  Menaikan potensi dan
masyarakat dalam  Dukungan pemerintah prestasi yang
menjalankan agama menjadi kunci Baznas diperoleh Baznas
khususnya penunaian sebagai lembaga ZIS Kota Yogyakarta.
ZIS. yang berbeda dengan  Pemberdayaan amil
lembaga ZIS lainnya. lebih ditingkatkan.

4.2.1.2 Analisis SWOT 4 Kuadran

1. Kekuatan

1) Baznas sebagai pengelola resmi

Yakni Baznas merupakan suatu lembaga zakat yang didirikan

berdasarkan UU.

2) Mitra penyelenggara pemerintah

Penyelenggara pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota

terdiri atas kepala daerah dan DPRD dibantu oleh Perangkat

Daerah. Dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah

daerah berpedoman pada asas penyelenggaraan pemerintah negara

yang terdiri atas kepastian hukum, tertib penyelenggara negara,

kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas,

akuntabilitas, efisiensi , efektivitas, dan keadilan.

Hal ini senada dengan asas pengelolaan Baznas Kota Yogyakarta,

yaitu Amanah Profesional dan Transparan.

3) Sistem informasi yang menunjang.
62

Persaingan yang ketat di era modern menuntut suatu perusahaan

ataupun lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga swasta untuk

dapat memilih strategi yang terbaik agar tujuan perusahaan atau

lembaga dapat tercapai dan kelangsungan perusahaan dapat

berjalan dengan baik. Banyak alternatif strategi yang fungsinya

sebagai penunjang keunggulan strategis salah satunya yaitu sistem

informasi. Pada tingkat manajerial yang lebih tinggi, yaitu tingkat

perencanaan strategis, sistem informasi dapat digunakan untuk

mengubah arah sebuah perusahaan dalam mendapatkan keunggulan

strategisnya.

Sistem informasi memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah

organisasi. Menurut O’Brien (2009), sistem informasi memiliki

peran dalam menunjangn kegiatan bisnis operasional, menunjang

manajemen dalam pengambilan keputusan, dan menunjang

keunggulan strategi kompetetif organisasi. Menurut Robert A.

Leitchdalam Agungsr.staff.gunadarma.ac.id ; sistem informasi

adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang

mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian,

mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari

suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan

laporan-laporan yang diperlukan.

Baznas Kota Yogyakarta memiliki sistem informasi yang diberi

nama SIMBA (Sistem Informasi Baznas), Simba berfungsi sebagai

alat informasi yang menyampaikan hal-hal terkait keuangan,
63

muzakki, munfiq, dll. Baznas yang memiliki sifat transparan

memang nyata adanya, hal ini bisa dipastikan dalam Simba.

4) Didukung oleh peraturan perundangan.

a. Undang-undang No.23 th 2011

b. Peraturan Pemerintah No.14 Tahun 2014

c. Instruksi Presiden RI No.3 Tahun 2014

d. Peraturan Menteri Agama RI No. 52 Tahun 2014 tentang Syarat

dan Tata Cara Perhitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah Serta

Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha Produktif.

e. Edaran Gubernur DIY No. 451 Tahun 2009 tentang gerakan

ZIS.

f. Keputusan Walikota Yogyakarta No. 323 Tahun 2015 tentang

Pengangkatan pimpinan dan Pelaksanaan Baznas Kota

Yogyakarta periode 2015-2020.

g. Instruksi Walikota Yogyakarta Nomor 1/INSTR/2016 Tentang

Optimalisasi Pengumpulan Zakat Di Satuan Kerja Perangkat

Daerah Pemerintah Kota Yogyakarta, Sekolah/Madrasah, Badan

Usaha Milik Daerah dan Perusahaan Swasta Melalui Badan

Amil Zakat Nasional Kota Yogyakarta.

Pemerintah kota Yogyakarta sangat erat kaitannya dengan

keberlangsuangan ZIS yang disalurkan kepada para mustahik.

Adapun kontribusi pemerintah Kota Yogyakarta yaitu dengan

mengeluarkan surat edaran yang berasal dari

Gubernur/kesultanan dan walikota, sehingga dasar yang dipakai
64

dalam penthasyarufan ZIS ini jelas dan para Muzakki yang

berasal dari PNS Kota Yogyakarta patuh akan perintah

pemerintah pusat DIY tersebut.

Surat edaran yang dikeluarkan oleh Gubernur/kesultanan DIY

dan Walikota Yogyakarta yang ditujukan kepada para PNS Kota

Yogyakarta untuk membayarkan ZIS ini lah yang menjadi

penguat penthasyarufan ZIS Baznas Kota Yogyakarta.

5) Dukungan pemerintah.

Dukungan pemerintah disini selain UU yaitu peran pemerintah kota

Yogyakarta dalam membayarkan ZIS di Baznas Kota Yogyakarta

2. Kelemahan

1) Rendahnya kesadaran umat dalam menunaikan ZIS melalui Baznas

Kota Yogyakarta.

Banyak masyarakat yang memiliki perekonomian diatas standar

kemiskinan yang masih enggan menyalurkan zakatnya di Lembaga

Baznas Kota Yogyakarta, menurut Si A, menyalurkan langsung

kepada tetangga yang membutuhkan jauh lebih mudah dan tidak

sulit.

2) Belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai.

Adapun sarana prasarana yang ada sangat sederhana, dan ruang

kantorpun dirasa sangat sempit. Akan tetapi, seiring berjalannya

waktu, sarana prasarana semakin membaik, hal ini dapat dilihat

bahwa Baznas Kota Yogyakarta sudah memiliki mobil khusus dan

memiliki usaha foto copy.
65

3) Tingkat kesejahteraan amil yang rendah. Belum memiliki program

unggulan.

Kesejahteraan amil memang sangat kurang. Salah satunya yaitu

tenaga amil yang sangat sedikit. Alternatif lainnya yakni dengan

merekrut relawan.

3. Peluang

1) Potensi muzakki

Muzakki yang sangat berpengaruh yakni muzakki yang berasal dari

kalangan PNS se-Kota Yogyakarta, dimana PNS muslim ini

dituntut untuk membayar ZIS dengan sistem potong gaji karyawan.

2) Regulasi yang mendukung

Adapun regulasi yang mendukung yaitu: UU, Peraturan

Pemerintah, Fatwa MUI, dll.

3) Tumbuhnya kesadaran masyarakat menunaikan ZIS.

Salah satu penyebab tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam

menunaikan ZIS yaitu karena adanya pengaruh dari majelis ta’lim

dan sosialisasi zakat.

4) Tumbuhnya majelis ta’lim.

Majelis ta’lim merupakan salah satu media bersosialisasi yang

solutif. Dengan adanya majelis ta’lim, masyarakat muslim akan

tergugah dengan panggilan sosialnya. Semakin memahami akan

indahnya ajaran agama, maka ia memiliki kekuatan hati untuk

selalu mengerjakan hal-hal yang baik. Terutama dalam menunaikan

rukun Iman yang ke 4.
66

4. Ancaman

1) Rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah.

Hal ini dituturkan oleh salah seorang nasabah, bahwa terkait

registrasi pemerintahan dianggap berbelit-belit dan menyusahkan.

2) Keberadaan lembaga pengelola ZIS diluar Baznas.

Selain membantu dan perluasan pemberdayaan ekonomi

masyarakat oleh lembaga zakat, keberadaan lembaga pengelola ZIS

yang semakin banyak membuat ancaman tersendiri pada lembaga

yang lain pula.

3) Minimnya kepedulian masyarakat dalam menjalankan agama

khususnya penunaian ZIS.

Hal ini dapat dilihat dari lingkungan sekitar, karena lingkungan

mampu mempengaruhi jiwa sosial dan keagamaan.

Tabel 4.4
Nilai Total Tertimbang BAZNAS Kota Yogyakarta

Nilai
Kategori Variabel dan Indikator Bobot Nilai Tertimbang
Kekuatan Lembaga
Baznas sebagai pengelola resmi 0,30 4 1,2
Mitra penyelenggara pemerintah 0,20 3 0,6
Sistem informasi yang menunjang 0,10 2 0,2
Didukung oleh peraturan perundangan 0,30 4 1,2
Dukungan pemerintah Kota Yogyakarta 0,10 3 0,6
TOTAL 3,8

Kelemahan Lembaga
Rendahnya kesadaran ummat dalam
menunaikan ZIS melalui Baznas. 0,30 4 1,2
Belum memiliki sarana dan prasarana
yang memadai 0,20 3 0,6
Tingkat kesejahteraan amil yang rendah 0,30 4 1,2
Belum memiliki program unggulan 0,20 3 0,6
67

TOTAL 3,6

Peluang Lembaga
Potensi muzakki 0,40 5 2
Regulasi yang mendukung. 0,30 4 1,2
Tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam
menunaikan ZIS. 0,10 2 0,2
Tumbuhnya majelis ta'lim 0,20 3 0.6
TOTAL 4

Ancaman
Rendahnya kepercayaan masyarakat
terhadap lembaga pemerintah 0,30 4 1,2
Keberadaan lembaga pengelola ZIS di
luar Baznas. 0,40 5 2
Minimnya kepedulian masyarakat dalam
menjalankan agama khususnya
penunaian ZIS. 0,30 4 1,2
TOTAL 4,4
Sumber: Baznas Kota Yogyakarta

Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal dan eksternal telah

didapatkan hasil total faktor internal kekuatan sebesar 3,8 kelemahan

sebesar 3,6. Dan faktor eksternal peluang sebesar 4 dan ancaman sebesar

4,4.

Tabel. 4.5

Selisih Nilai Tertimbang Baznas Kota Yogyakarta

Nilai tertimbang kekuatan Baznas Kota 3,8
Yogyakarta
Nilai tertimbang kelemahan Baznas Kota 3,6
Yogyakarta
Selisih positif 0,2

Nilai tertimbang peluang Baznas Kota 4
Yogyakarta
68

Nilai tertimbang ancaman Baznas Kota 4,4
Yogyakarta
Selisih Negatif -0,4

Dari analsisis diatas dapat disimpulkan bahwa posisi Baznas Kota

Yogyakarta terletak pada kuadran II yaitu diversifikasi, yakni perolehan

nilai tertimbang kekuatan lebih besar daripada nilai tertimbang peluang

dengan selisih positif 0,2 yaitu kekuatan sebesar 3,8 dan peluang sebesar

3,6. Dan disaat yang sama nilai tertimbang ancaman lebih besar

dibandingkan nilai tertimbang peluang dengan selisih negatif -0,4 yaitu

ancaman sebesar 4,4 dan peluang 4.

Gambar 4.1

Posisi Baznas Kota Yogyakarta dalam matriks SWOT-4K

Peluang

Stabilisasi Pertumbuhan

kelemahan kekuatan

Bertahan Hidup Diversifikasi

Ancaman
69

4.2.1.3 Pembahasan Analisis SWOT Klasik dan SWOT 4 Kuadran

1. Bagaimana analisis strategi pemberdayaan yang dilakukan Baznas

dalam peningkatan ekonomi masyarakat?

Penerapan strategi dilakukan berdasarkan hasil analisis lingkungan

eksternal dan internal lembaga dengan menggunakan analisis SWOT

Klasik dan SWOT 4 Kuadran.Hasil SWOT Klasik menunjukkan

bahwa:

Strategi (SO) adalah sebagai berikut:

a. Pengelola resmi memanfaatkan potensi muzakki dan pertumbuhan

kelas menengah.

b. Memanfaatkan dukungan pemerintah baik berupa Perundang-

undangan maupun surat edaran oleh pemerintah.

c. Menjalankan dengan baik undang-undang agar mampu

menguatkan dan mendukung pertumbuhan majelis.

Strategi (WO) :

a. Menumbuhkan kesadaran muzakki untuk membayar ZIS.

b. Melengkapi sarana dan prasarana.

c. Memberi pelatihan khusus bagi amil guna tercapainya program

unggulan.

Strategi (ST):

a. Baznas harus lebih transparan guna menjaga kepercayaan

masyarakat.

b. Mengadakan kajian atau sosialisasi di majelis ta’lim tentang

keutamaan membayar ZIS.
70

c. Dukungan pemerintah menjadi kunci Baznas sebagai lembaga

ZIS yang berbeda dengan lembaga ZIS lainnya.

Strategi (WT):

a. Mengadakan sosialisasi atau pengenalan tentang Baznas Kota

Yogyakarta.

b. Proses ZIS yang harus tetap transparan.

c. Menaikan potensi dan prestasi yang diperoleh Baznas.

d. Pemberdayaan amil lebih ditingkankan.

Dari analisis SWOT Klasik diatas dapat diambil kesimpulan bahwa

Lembaga BAZNAS Kota Yogyakarta perlu mengadakan sosialisasi

atau pengenalan lembaga kepada masyarakat, dan memanfaatkan

dukungan masyarakat.

Analisis SWOT Kuadran berupa bobot dan nilai yang diperoleh

dari manajer/staff Baznas Kota Yogyakarta yang mencakup kekuatan,

kelemahan, peluang dan ancaman, yaitu menghasilkan nilai

tertimbang kekuatan sebesar 3,8, kelemahan sebesar 3,6, peluang 4

dan ancaman sebesar 4,4. Dengan kata lain, Baznas Kota Yogyakarta

memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kelemahan, dan disaat

yang sama pula ancaman Baznas Kota Yogyakarta lebih besar

dibandingkan peluangnya.

Oleh karena itu, strategi yang perlu diterapkan di Baznas Kota

Yogyakarta adalah strategi disertivikasi baik diversivikasi konsentrik

maupun konglomerasi. Lembaga sesungguhnya memiliki keunggulan

bersaing yang memadai, akan tetapi ancaman lembaga lain lebih
71

banyak. Oleh karena itu, lembaga perlu melakukan terobosan dengan

keunggulan yang dimiliki untuk memasuki era baru dengan strategi

lama maupun strategi baru. Lembaga tidak perlu ragu-ragu untuk

meninggalkan strategi lama, karena hanya menyisakan sedikit

peluang, bahkan justru menyediakan ancaman.

4.2.2 Hasil Analisis Uji Wilcoxon Signed Rank Test

4.2.2.1 Analisis Deskriptif

Dalam penelitian ini, populasi yang menjadi sampel atau obyek

penelitian adalah 118 mustahik penerima bantuan program

pemberdayaan ekonomi masyarakat oleh Baznas Kota Yogyakarta.

Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu sebesar 55 sampel mustahik

yang dihitung dengan menggunakan metode random sampling. Pada

saat kuisioner dibagikan seluruh mustahik menyerahkan semua

kuisionernya, sehingga dalam penelitian ini sempurna 55 responden

yang dijadikan objek dalam penelitian ini. Dibawah ini merupakan

uraian dari profil responden.

1. Asal Kelompok

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dari 6 kelompok

terdistribusi pada seluruh kelompok, yakni kelompok : PAH, PAIF,

DIFABEL, BKPRMI, Ustadz TPA, dan Mualaf. Tabel 4.6

menunjukkan distribusi frekuensi kelompok yang menjadi sampel

dalam penelitian ini.
72

Tabel 4.6
Tabel Kelompok Mustahik

Kelompok Frekuensi Prosentase (%)
Mualaf 15 27%
Difabel 13 245
PAH 6 11%
PAIF 5 9%
BKPRMI 3 5%
Ustadz Tpa 9 16%
Jamaah 4 7%
TOTAL 55 100%

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa asal mustahik terbanyak dari

kelompok Mualaf, yaitu sebesar 15 responden (27%) menunjukkan

dan jumlah paling sedikit yaitu dari kelompok BKPRMI yaitu sebesar

3 responden (5%).

2. Jenis kelamin

Dari hasil pengumpulan kuisioner sebanyak 55 responden,

distribusi frekuensi jenis kelamin ditunjukkan pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7
Tabel Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Prosentase (%)
Laki-laki 27 49%
Perempuan 28 51%
TOTAL 55 100%

Tabel diatas menunjukkan hasil responden dengan jenis kelamin

terbanyak dari Perempuan, akan tetapi perbedaan antara responden

laki-laki dengan responden perempuan tidak jauh berbeda, yakni

hanya selisih 1. Adapaun perempuan sebanyak 28 responden (51%)

dan laki-laki 57 responden (49%).
73

3. Umur

Distribusi responden menurut umur dibagi dalam klarifikasi

dengan range 5 (lima) seperti ditunjukkan Tabel 4.8 dengan rata-rata

responden adalah >=50 tahun.

Tabel 4.8
Tabel Umur Responden
Umur Frekuensi Prosentase (%)
25-29 2 3,6%
30-34 12 22%
35-39 8 15%
40-44 11 20%
45-49 8 15%
>=50 14 25%
TOTAL 55 100%

Berdasarkan tabel diatas, responden berdasarkan umur dibagi

menjadi 6 kategori, dimana responden yang memiliki umur 25-29

sebanyak 2 orang (3,6%), 30-34 sebanyak 12 orang (22%), 35-39

sebanyak 8 orang (15%), 40-44 sebanyak 11 orang (20%), 45-49

sebanyak 8 orang (15%), dan >=50 sebanyak 14 orang (25%).

Responden dalam penelitian ini didominasi oleh responden yang

berumur lebih dari 50 tahun. Hal ini berarti mustahik penerima

bantuan memang berasal dari kalangan orang tua yang patut

diberdayakan kesejahteraannya.

5. Pendidikan Terakhir

Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, Tabel 4.9 menunjukkan

distribusi frekuensi tingkat pendidikan dari responden.
74

Tabel 4.9
Tabel Pendidikan Terakhir

Pendidikan Terakhir Frekuensi Prosentase (%)
SD 6 11%
SMP 7 13%
SMA 23 42%
Perguruan Tinggi 17 31%
Lain-lain 2 4%
TOTAL 55 100%

Dari tabel diatas profil mustahik berdasarkan tingkat pendidikan

dibagi menjadi 5 kategori, dimana responden yang memiliki tingkat

pendidikan SD sebanyak 6 orang (11%), SMP sebanyak 7 orang

(13%), SMA sebanyak 23 orang (42%), Perguruan Tinggi sebanyak

17 orang (31%), dan lain lain sebanyak 2 orang (4%). Responden

dalam penelitian ini didominasi oleh responden yang tingkat

pendidikan terakhirnya SMA. Hal ini menunjukkan bahwa para

mustahik berasal dari tingkat pendidikan yang rendah.

6. Jenis Usaha

Berdasarkan jenis usaha yang dimiliki oleh anggota kelompok

penerima bantuan program pemberdayaan ekonomi produktif

masyarakat ditunjukkan pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10
Tabel Jenis Usaha

Jenis Usaha Frekuensi Prosentase
Jajanan Pasar 7 13%
Dagang dan Pijat 9 16%
Warung Kelontong 10 18%
Warung Makan 4 7%
Loundry 2 4%
75

Angkringan 2 4%
Penjahit 3 5%
Depot Air Minum 2 4%
Susu Murni 1 2%
Penjual Kaos 1 2%
Gas LPG 1 2%
Arang Bambo Aktif 1 2%
Peternak Kambing 1 2%
Catering 1 2%
Bensin Ecer 1 2%
Daging Ayam 1 2%
Pembuat Mainan 1 2%
Foto Copy 1 2%
Jual Pulsa 3 5%
Pembalut Avail 1 2%
Les Private 1 2%
Pedagang Sandal 1 2%
Total 55 100%

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa jenis usaha responden

mustahik dalam penelitian ini yaitu usaha mikro. Adapun mayoritas

usaha yang ditekuni para mustahik yaitu usaha warung kelontong

sebanyak 10 orang (18%), dagang dan pijat sebanyak 9 orang (16%),

jajanan pasar 7 orang (13%), warung makan 4 orang (7%), dan lain-

lain. Hal ini menunjukkan bahwa responden dapat memanfaatkan

bantuan ZIS dengan sebaik-baiknya yakni untuk kelancaran usaha.

4.2.2.2 Analisis Data

Untuk mengetahui dampak dari adanya program pemberdayaan

ekonomi masyarakat terhadap pendapatan dan modal digunakan uji

Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil uji Wilcoxon antara sebelum dan

sesudah adanya program ditunjukkan pada tabel berikut ini.
76

Tabel 4.11
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Min Max

55 1154727,27 1194003,311 100000 5700000
PendapatanSebelum
55 1586090,91 1436430,018 80000 7500000
PendapatanSesudah

Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa pendapatan mustahik

mengalami peningkatan setelah adanya program pemberdayaan

ekonomi masyarakat melalui Baznas Kota Yogyakarta. Dimana mean

atau rata-rata nilai pendapatan sesudah pemberdayaan sebesar

1586090,91 lebih besar daripada nilai pendapatan sebelum

pemberdayaan sebesar 1154727,27.

Tabel 4.12
Ranks
N Mean Sum of
Rank Ranks
Negative 3a 20,33 61,00
Ranks
PendapatanSesudah - Positive Ranks 52b 28,44 1479,00
PendapatanSebelum
Ties 0c
Total 55
a. PendapatanSesudah < PendapatanSebelum
b. PendapatanSesudah > PendapatanSebelum
c. PendapatanSesudah = PendapatanSebelum
Sumber: Data diolah IBM SPSS 21

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan sesudah

adanya pemberdayaan memiliki nilai positive ranks yang berarti nilai

pendapatan sesudah adanya pemberdayaan lebih tinggi dari nilai

pendapatan sebelum adanya pemberdayaan (pendapatan setelah >

pendapatan sebelum atau Sum Of Ranks 1479,00 > 61,00).
77

Tabel 4.13
Test Statisticsa
PendapatanSesudah
-
PendapatanSebelum
Z -5,950b
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000

a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui nilai Z yang didapat

sebesar -5.950 dengan p value (Asymp. Sig 2 tailed) sebesar 0,000.

Karena sig pada pendapatan <0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha

diterima, yang artinya rata-rata pendapatan sebelum dan sesudah

adanya program pemberdayaan ekonomi masyarakat terdapat

perbedaaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bantuan ZIS

dapat mempengaruhi tingkat pendapatan mustahik.

Kesimpulan dalam hipotesis ini adalah bantuan ZIS berpengaruh

signifikan atas perubahan pendapatan mustahik sebelum dan sesudah

bantuan ZIS.

Tabel 4.14
Descriptive Statistics
N Mean Std. Minimu Maximum
Deviation m
55 1779090,91 2335052,758 100000 12000000
ModalSebelum
55 4589495,45 2983562,538 1000000 17000000
ModalSesudah

Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa modal mustahik

mengalami peningkatan setelah adanya program pemberdayaan
78

ekonomi masyarakat melalui Baznas Kota Yogyakarta. Dimana mean

atau rata-rata nilai modal sesudah pemberdayaan sebesar 4589495,45

lebih besar daripada nilai modal sebelum pemberdayaan sebesar

1779090,91.

Tabel 4.15
Ranks
N Mean Sum of
Rank Ranks
Negative 0a ,00 ,00
Ranks
ModalSesudah - Positive Ranks 54b 27,50 1485,00
ModalSebelum
Ties 1c
Total 55
a. ModalSesudah < ModalSebelum
b. ModalSesudah > ModalSebelum
c. ModalSesudah = ModalSebelum
Sumber: Data diolah IBM SPSS 21

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa modal sesudah adanya

pemberdayaan memiliki nilai positive ranks yang berarti nilai modal

sesudah adanya pemberdayaan lebih tinggi dari nilai modal sebelum

adanya pemberdayaan (modal setelah > modal sebelum atau sum of

ranks 1485,00 > 0,00).

Tabel 4.16
Test Statisticsa
ModalSesudah -
ModalSebelum

Z -6,407b
,000
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.
79

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai Z yang didapat sebesar -

6,407 dengan p value (Asymp. Sig 2 tailed) sebesar 0,000. Karena

nilai sig modal <0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima,

yang artinya rata-rata modal sebelum dan sesudah adanya program

pemberdayaan ekonomi masyarakat terdapat perbedaan. Dengan

demikian dapat dinyatakan bahwa bantuan ZIS mampu mempengaruhi

tingkat modal mustahik Baznas Kota Yogyakarta.

Kesimpulan dari pengujian hipotesis ini adalah bantuan ZIS

berpengaruh signifikan terhadap tingkat modal mustahik penerima

bantuan ZIS.

4.2.2.3 Pembahasan Hasil Penelitian Uji Wilcoxon Signed Rank Test

1. Apakah ada perbedaan pendapatan antara sebelum dan sesudah

adanya program pemberdayaan ekonomi masyarakat?

Hipotesis pertama menyatakan bahwa terdapat perbedaan

pendapatan antara sebelum dan sesudah adanya program

pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan hasil

penelitian menunjukkan nilai Z adalah –5,950 dengan sig 0,000.

Karena sig pada pendapatan <0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha

diterima, yang artinya rata-rata pendapatan sebelum dan sesudah

adanya program bantuan ZIS terdapat perbedaan. Dengan demikian

dapat dinyatakan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat

mempengaruhi perubahan pendapatan mustahik di Baznas Kota

Yogyakarta.
80

Hasil penelitian ini didukung teori Sumodiningrat (1999) bahwa

pemerataan pendapatan yang ditandai oleh peningkatan pendapatan

keluarga miskin mampu memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan

sosialnya. Hal ini berarti, program pemberdayaan masyarakat oleh

Baznas Kota Yogyakarta sangat mempengaruhi pendapatan mustahik.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian terdahulu oleh

Saipuddin Elman (2015), bahwa ZIS memberikan dampak positif

signifikan, bahkan naik 10% dari tahun sebelumnya.

2. Apakah ada perbedaan modal antara sebelum dan sesudah adanya

program pemberdayaan ekonomi masyarakat?

Hipotesis kedua menyatakan bahwa terdapat perbedaan modal

antara sebelum dan sesudah adanya program pemberdayaan ekonomi

masyarakat . Hal ini dibuktikan bahwa nilai Z yang didapat sebesar -

6,407 dengan p value (Asymp. Sig 2 tailed) sebesar 0,000. Karena

nilai sig modal <0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima,

yang artinya rata-rata modal sebelum dan sesudah adanya bantuan ZIS

terdapat perbedaan. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa

bantuan ZIS mampu mempengaruhi tingkat modal mustahik Baznas

Kota Yogyakarta.

Hasil pemberdayaan ekonomi masyarakat terhadap modal mustahik

mengalami peningkatan sehingga modal diharapkan mampu

meningkatkan pendapatan mustahik, hal ini sesuai dengan pandangan

Fauzin (2011:30) menyatakan bahwa pendapatan suatu usaha
81

tegantung dari modal yang dimiliki. Jika modalnya besar maka hasil

produksinya tinggi, sehingga pendapatan yang didapat juga tinggi.

Begitu pula sebaliknya jika modal kecil maka hasil produksi rendah,

sehingga pendapatan yang diperoleh juga rendah.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian terdahulu oleh

skripsi Nur Addini Rahmah (2015), bahwa pengelolaan ZIS

memberikan banyak manfaat terutama pada modal mustahik.

Dengan demikian, pemberdayaan ZIS melalui program

pemberdayaan ekonomi masyarakat oleh Baznas Kota Yogyakarta

sangat berperan penting terhadap keberlangsungan perekonomian

mustahik.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut:

1. Baznas Kota Yogyakarta menduduki kuadran II atau diversifikasi yang

berarti kekuatan yang dimiliki Baznas Kota Yogyakarta lebih besar

dibandingkan kelemahannya, dan pada saat yang sama pula ancaman yang

dihadapi Baznas Kota Yogyakarta lebih besar dibandingkan peluangnya.

2. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test Pendapatan menunjukkan bahwa

nilai Z sebesar -5.950 dengan p value (Asymp. Sig 2 tailed) sebesar 0,000

< 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, yang artinya rata-rata

pendapatan sebelum dan sesudah adanya program pemberdayaan ekonomi

masyarakat melalui Baznas Kota Yogyakarta terdapat perbedaan. Dengan

demikian maka bantuan ZIS dapat mempengaruhi tingkat pendapatan

mustahik.

3. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test modal menunjukkan bahwa nilai Z

sebesar -6,407 dengan p value (Asymp. Sig 2 tailed) sebesar 0,000 < 0,05

maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, yang artinya rata-rata modal

sebelum dan sesudah adanya program pemberdayaan ekonomi masyarakat

terdapat perbedaan. Dengan demikian maka program pemberdayaan

ekonomi masyarakat dapat mempengaruhi tingkat modal mustahik.

82
83

5.2 Saran

1. Dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat kurang mampu (mustahik)

hendaknya Baznas mengecek biodata mustahik, tujuannya ialah agar tidak

ada manipulasi data yang dilakukan oleh mustahik. Selain itu, mustahik

hendaknya membuat laporan keuangan (atas uang yang diperoleh dari

bantuan ZIS).

2. Baznas Kota Yogyakarta secara konsisten hendaknya terus menerapkan

sikap transparan atas dana ZIS, karena kepercayaan masyarakat sangat

diutamakan.

3. Baznas Kota Yogykarta hendaknya rutin mengadakan kajian-kajian

tentang ZIS yang diselenggarakan di majelis-majelis guna perluasan

muzakki, selain itu juga sebagai bukti bahwa Baznas Kota Yogyakarta

sangat erat kekeluargaannya terhadap masyarakat.
84

DAFTAR PUSTAKA

As-Siddiqi, Hasbi,.1959.

Ar-rifa’i, Muhammad Nasib. 2012. Ringkasan Tafsir Ibn Katsir. Jakarta: Gema
Insani. Cet.2

Bariyah, Oneng Nurul., 2012. “Quality Management zakat prinsip dan praktek
Pemberdayaan Ekonomi”. Wahana Kardofa FAI UMU.

Badriyah, Lili dkk., 2005. “Zakat dan Wirausaha”. Jakarta: CED.

Cholisin. 2011. Pemberdayaan masyarakat. Artikel. Sleman: Staff Pengajar FIS
UNY.

David, Fred R, 2009. “Manajemen Strategis”, Jakarta: Salemba Empat, buku 1
edisi 12.

Ghazali, Imam. 2011. “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM
SPSS 19”. Edisi ke-5. Semarang: Badan Penerbit Diponegoro.

Gilarso, T. 1992. “Pengantar Ekonomi Bagian Makro”. Yogyakarta: Kanisius.

Fauzin, Agus. 2011. Pengaruh Pembiayaan BMT Terhadap Peningkatan Kinerja
Nasabah (Studi Kasus di BMT Sunan Kalijaga). Skripsi. Yogyakarta: UIN
Sunan Kalijaga.

Hafidhuddin, Didin., 2009. “Agar Harta Berkah dan Bertambah”. Jakarta:Gema
Insani.

, Didin. 1998.”Panduan Praktis Tentang Zakat, Infaq, Sedekah”.
Jakarta: Gema Insani.

Hariadi, Bambang, 2003. Strategi manajemen, Strategi memenangkan perang
bisnis . Malang: Bayumedia.

Hikmat, Harry. 2004. “Strategi Pemberdayaan Masyarakat”. Bandung:
Humainiora Utama Press, cet. Ke-2.
85

Inoed, Amiruddin dkk. 2005. “Anatomi Fiqh Zakat: Potret dan Pemahaman
Badan Amil Zakat Sumatera Selatan”.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Khasanah, Umratul”Manajemen Zakat Modern”, UIN Maliki Press.
Malang:2010.

Machendrawati, Nanih dan Agus Ahmad., 2001. “Pengembangan Masyarakat
Islam Dari Ideologi Sampai Tradisi”. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Majid, Abdul.2002.”Tantangan Ekonomi dan Harapan Umat Islam di Era
Globalisasi”. Bandung: Pustaka Setia.

Matondang. 1997. Kepemimpinan, Budaya Organisasi dan Manajemen Strategik.
Bandung: Pustaka Setia.

Mubyarto, 1989. “Pengantar Ekonomi Pertanian”. Edisi Ketiga. Jakarta: LP3ES.

Muhammad, Suwarsono. 2013., Manajemen Strategik Konsep dan Alat Analisis.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Mufraini, Arief. 2006. “Akuntansi dan Manajemen Zakat”. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.

Munawir, S. 2001. “Analisa Laporan Keuangan”. Yogyakarta: Liberty.

Mursyid, 2006.“Mekanisme Pengumpulan Zakat, Infaq dan Shadaqah (Menurut
Hukum Syara’ dan Undang-undang)”, Yogyakarta: Magistra Insania
Press.

Nawawi, Ismail. 2010. “Zakat Dalam Perspektif Fiqh Sosial dan Ekonomi”.
Surabaya: Putra Media Nusantara.

Nursandy, RindaMichell. (2013). Faktor-faktor yang mempengaruhi Pendapatan
Pengusaha TapeDidesa Sumber Tengah Kecamatan Binakal Kabupaten
Bondowoso. Skripsi. Jember: Universitas Jember.

Purwanto, April.,2009. ”Manajemen Fundraising bagi Organsasi Pengelola
Zakat”, Yogyakarta: Teras.
86

Qardawi, Yusuf., 2013. “Shadaqah (Cara Islam Mengentaskan Kemiskinan)”.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rahmah, Nur Addini. 2015. “Pemberdayaan Ekonomi Umat Melalui Penyaluran
Zakat Produktif”. Skripsi. Jakarta: UIN SYAHID.

Rianto, Bambang. 2001. “Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan Edisi 4”.
Yogyakarta: BPFE.

Ridwan, Muhammad. 2005. “Manajemen Baitul Maal Wa Tamwil (BMT).
Yogyakarta: UII Press. Cet.2

Rukminto, Isbandi Adi. 2003. “Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan
Intervensi Komunitas”. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI. Cet Ke-1

Sakti, Ali. 2007. “Analisis Teori Islam Jawaban atas Kekacauan Ekonomi
Modern”. Jakarta: Paradigma dan Aqsa Publishing.

Simarsan, Thomas., 2013. Sisem pengendalian manajemen: konsep, aplikasi dan
pengukuran kinerja. Jakarta: Indeks.

Sudirman, 2007., “Zakat Dalam Pusaran Drus Modernitas”. Malang: UIN
Malang Press.

Sugiono, 2002., “Metode Penelitian Administrasi”. Bandung: Alfabeta.

Sumodiningrat, Gunawan., 1999. Pemberdayaan Masyarakat dan Jaringan
Pengaman Sosial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Suroto, 1992. “Strategi Pembangunan dan Perencanaan Kesempatan Kerja”.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Umar, Husein. 2010. Desain Penelitian Manajemen Strategik. Jakarta: PT Raja
Grafindo

Zaki, Ahmad Badawi., 1982. “Mu’jamMusthalahatual-Ulumal-Ijtima’iyah”.
Beirut MaktabahLubnan New Impression.

agungsr.staff.gunadarma.ac.id
87

http://baznas.jogjakota.go.id/

http://www.pendidikanekonomi.com/2012/12/pemberdayaan-ekonomimasyarakat.
html

http://www.smartbisnis.co.id/

http://www.statistikian.com

Arsip atau Dokumen Baznas Kota Yogyakarta
Lampiran 1

Surat Al-Imron : 134 Artinya: (Yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik
diwaktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkahkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat
kebajikan.

I
Lampiran 2

KUISIONER PENELITIAN

Assalamualaikum wr.wb

Dengan Hormat,

Sehubungan dengan penelitian yang saya lakukan guna penyusunan skripsi yang

berjudul “Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Lembaga Amil Zakat

Nasional (Studi Kasus BAZNAS Kota Yogyakarta), maka dengan kerendahan hati saya

mohon bapak/ibu/saudara/i untuk mengisi kuisioner dibawah ini. Bantuan serta

partisipasi bapak/ibu/saudara/i akan sangat berarti bagi saya dan semoga akan

bermanfaat untuk menambah wawasan kita semua, serta akan menjadi amal kebaikan

dan diterima oleh Allah SWT.

Data yang bapak/ibu/saudara/i akan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan

untuk kepentingan akademis penelitian saya dan juga melengkapi dokumen-dokumen

kelembagaan baznas.atas abntuan dan partisipasinya, saya ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum wr.wb.

Salam,

Qoni’atur Rohmatillah

II
Petunjuk Pengisian Kuisioner

Berikut ini adalah petunjuk mengisi kuisioner:

1. Bacalah semua pertanyaan dengan seksama dan baik.
2. Berilah tanda (x) atau dan nominal pada kolom yang tersedia dalam
menjawab pertanyaan.
3. Dalam menjawab pertanyaan kuisioner ini tidak ada jawaban yang dianggap
salah.

I. Identitas Responden

1. Nama :

2. Umur :

3. Jenis usaha :

4. Pendidikan Terakhir :

5. Jenis Kelompok :

6. Berapa pendapatan bapak/ibu/saudara/i sebelum mendapat bantuan

pemberdayaan ekonomi dari Baznas Kota Yogyakarta? Rp. ................./bulan.

7. Berapa pendapatan bapak/ibu/saudara/i setelah mendapat bantuan

pemberdayaan ekonomi dari Baznas Kota Yogyakarta? Rp. ................./bulan.

8. Berapa modal bapak/ibu/saudara/i sebelum mendapat bantuan pemberdayaan

ekonomi dari Baznas Kota Yogyakarta? Rp. ..................................../bulan.

9. Berapa modal bapak/ibu/saudara/i setelah mendapat bantuan pemberdayaan

ekonomi dari Baznas Kota Yogyakarta? Rp. ..................................../bulan.

10. Apakah bapak/ibu/saudara/i merasa terbantu dengan adanya program

pemberdayaan ekonomi masayarakat ini ?

III
11. Apakah dana bantuan yang diberikan oleh BAZNAS Kota Yogyakarta telah

mencukupi kebutuhan?

12. Apakah BAZNAS Kota Yogyakarta sangat transparan dalam penyaluran ZIS
(zakat, infaq, shodaqoh)?
13. Apakah pengelolaan yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Yogyakarta sudah

sangat baik?

14. Apakah zakat yang disalurkan melalui BAZNAS Kota Yogyakarta, sangat
cepat disalurkan pada mustahik?
15. Apakah syarat untuk menjadi anggota mustahik Baznas Kota Yogyakarta

mudah?

16. Apakah bantuan yang diberikan oleh Baznas Kota Yogyakarta sangat
mempengaruhi perekonomian bapak/ibu/saudara/i?

Terimakasih atas partisipasi bapak/ibu/saudara/i, semoga data yang diberikan bisa

bermanfaat bagi saya dan bagi lembaga Baznas Kota Yogyakarta.

Wassalamualaikumwrb

IV
Lampiran 3

Rekapitulasi data mustahik

Jenis Pendidikan Kelompok Dana
No. Umur Jenis Usaha Pendapatan Modal
Kelamin Terakhir Mustahik Pemberdayaan
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1. P 42 SMA Membuat Jajanan Pasar PAIF 1.985.000 1.500.000 2.185.000 200.000 2. 100.000
Perguruan
P 31 Dhea Snack Ustadz Tpa 5.000.000 200.000 350.000 1.000.000 6.000.000
2. Tinggi
Perguruan
L 30 Dagang, Pijat, TPA ITMI 5.000.000 800.000 1.000.000 100.000 5.100.000
3. Tinggi
4. L 58 SMA Warung Kelontong Mualaf 2.250.000 1.000.000 1.500.000 8.000.000 10.250.000
5. P 41 SMA Warung Makan Jama'ah 5.150.000 550.000 650.000 400.000 6.650.000
6. P 46 SD Warung Kelontong Mualaf 2.071.250 1.000.000 1.500.000 2.000.000 4.071.250
7. L 45 SMA Loundry Ustadz Tpa 2.500.000 200.000 3.000.000 500.000 3.000.000
8. L 55 SMA Warung Kelontong PAH 5.000.000 700.000 7.500.000 2.500.000 7.500.000
Es Krim bantalan, Choki-
L 25 SMA Ustadz Tpa 977.000 500.000 700.000 100.000 1.077.000
9. Choki
10. P 43 SMP Warung Angkringan Mualaf 2.071.000 200.000 400.000 500.000 2.571.000
Perguruan
P 35 Penjahit Ustadz Tpa 5.000.000 500.000 700.000 2.000.000 7.000.000
11. Tinggi
Perguruan Depot santri Kosipa Muadz
L 47 Ustadz Tpa 1.000.000 500.000 600.000 350.000 1.350.000
12. Tinggi Bin Jabal
Perguruan
L 44 Susu Murni Ustadz Tpa 1.000.000 400.000 500.000 200.000 1.200.000
13. Tinggi
14. P 46 SMA Cemilan dan Sembako Ustadz Tpa 1.500.000 120.000 200.000 2.000.000 3.500.000
15. P 32 SMA Penjual Kaos Mualaf 2.500.000 200.000 600.000 1.000.000 3.500.000

V
16. L 34 Warung Kelontong Mualaf 2.500.000 200.000 500.000 500.000 3.000.000
17. P 51 SD Penjual Gas LPG 3 Kg Mualaf 2.500.000 500.000 750.000 1.500.000 4.000.000
Perguruan
P 58 Konveksi Mualaf 3.000.000 300.000 600.000 500.000
18. Tinggi 3.500.000
19. L 39 SMA Penjahit Tas dan Baju Jama'ah 5.450.000 500.000 750.000 1.700.000 7.150.000
Perguruan
L 30 Arang Bambo Aktif Ustadz Tpa 5.000.000 3.000.000 3.500.000 3.000.000 8.000.000
20. Tinggi
21. L 44 SMA Peternakan Kambing Mualaf 2.000.000 500.000 750.000 500.000 2.500.000
22. P 43 SMA Catering Mualaf 5.000.000 640.000 1.120.000 300.000 5.300.000
23. P 59 SD Bensin Eceran Mualaf 1.500.000 750.000 1.000.000 1.000.000 2.500.000
24. P 56 SMA Jualan Kripik Mualaf 2.000.000 900.000 1.400.000 1.500.000 3.500.000
25. P 50 SMP Menjahit Mualaf 4.000.000 500.000 1.000.000 1.000.000 5.000.000
Perguruan
P 59 Air Isi Ulang Mualaf 5.000.000 500.000 1.200.000 5.000.000 10.000.000
26. Tinggi
27. L 46 SMP Warung Makan Jama'ah 5.875.000 1.700.000 1.900.000 500.000 6.375.000
28. L 58 SD Sembako Jama'ah 5.125.000 2.000.000 2.500.000 700.000 5.825.000
Perguruan
P 50 Jajanan dan Snack Mualaf 2.137.000 1.500.000 1.700.000 5.000.000 7. 137.000
29. Tinggi
Perguruan
L 30 Pengembangan Panti Pijat Difabel 2.700.000 700.000 800.000 4.000.000 6.700.000
30. Tinggi
31. L 56 SMA Usaha Daging Ayam PAIF 2.500.000 1.500.000 1.700.000 700.000 3.200.000
Perguruan
P 44 wiraswasta Mualaf 2.500.000 1.000.000 1.300.000 10.000.000 12.500.000
32. Tinggi
Perguruan Pembuatan Media
P 27 Ustadz Tpa 1.000.000 700.000 800.000 500.000 1.000.000
33. Tinggi Permainan
34. L 32 SMA Foto Copy PAH 5.000.000 1.500.000 1.750.000 12.000.000 17.000.000
Perguruan
P 40 Jualan Pulsa YAKATUNIS 700.000
35. Tinggi 2.700.000 600.000 2.650.000 5.350.000
36. L 36 SMP Pijat Al Hikmah 2.500.000 800.000 700.000 200.000 2.700.000

VI
Perguruan
P 36 Pijat Al Hikmah
37. Tinggi 5.000.000 100.000 80.000 2.300.000 5.000.000
38. L 38 O Pijat Al Hikmah 2.500.000 3.500.000 3.700.000 200.000 2.700.000
Ternak Kambing dan Counter
L 34 SMA ITMI
39. Pulsa 2.500.000 2.000.000 2.500.000 500.000 3.000.000
40. P 43 SMA BKPRMI 1.000.000 900.000 1.500.000 2.000.000 3.000.000
Perguruan
P 37 Pembalut Avail YAKATUNIS
41. Tinggi 2.700.000 500.000 1.000.000 3.000.000 3.000.000
Perguruan
P 32 Les Privat YAKATUNIS
42. Tinggi 2.700.000 700.000 1.500.000 500.000 3. 200.000
43. P 50 SMA Loundry BKPRMI 1.000.000 350.000 900.000 1.500.000 2.500.000
44. P 44 SMA Dagang BKPRMI 1.000.000 300.000 600.000 1.000.000 2.000.000
45. p 45 SD Dagang PAIF 1.500.000 300.000 600.000 500.000 2.000.000
46. L 50 SD Pijat Al Hikmah 2.500.000 2.400.000 3.000.000 1.000.000 3.500.000
47. L 33 SMA Pijat Al Hikmah 2.500.000 2.100.000 2.400.000 1.500.000 4.000.000
48. L 43 SMA Angkringan PAH 2.000.000 1.500.000 2.000.000 500.000 2.500.000
49. L 31 SMA Pedagang Sandal ITMI 1.000.000 500.000 750.000 1.000.000 2.000.000
Perguruan
L 33 Jualan Pulsa ITMI
50. Tinggi 1.100.000 5.700.000 6.000.000 1.500.000 2.600.000
51. L 39 SMA Counter Pulsa PAH 3.000.000 5.000.000 600.000 400.000 3.400.000
52. L 49 SMP Jajanan dan Snack PAH 5.000.000 2.000.000 3.000.000 1.000.000 6.000.000
53. P 47 SMP Jajanan dan Snack PAH 1.816.000 500.000 1.200.000 350.000 2.166.000
54. L 38 SMA Warung Bakso PAIF 5.000.000 4.000.000 5.000.000 2.500.000 7.250.000
55. P 50 SMP Warung Makan PAIF 2.500.000 2.500.000 3.100.000 3.000.000 5.500.000

VII
Lampiran 4

Hasil Perhitungan Dengan SPSS Windows 20

Tabel 4.6

Responden berdasarkan Kelompok

Kelompok Frekuensi Prosentase
Mualaf 15 27
Difabel 13 24
PAH 6 11
PAIF 5 9
BKPRMI 3 5
Ustadz TPA 9 16
Jamaah 4 7
Total 55 100

Tabel 4.7

Responden berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Prosentase
Laki-laki 27 49
Perempuan 28 51
Total 55 100

Tabel 4.8

Responden berdasarkan umur

Umur Frekuensi Prosentase
25-29 2 3,6
30-34 12 22
35-39 8 15

VIII
40-44 11 20
45-49 8 15
>=50 14 25
Total 55 100

Tabel 4.9

Responden berdasarkan tingkat pendidikan

Pendidikan Frekuensi Prosentase
SD 6 11
SMP 7 13
SMA 23 42
Perguruan
Tinggi 17 31
Lain-lain 2 4
Total 55 100

Tabel 4.10

Responden berdasarkan jenis usaha

Jenis Usaha Frekuensi Prosentase
Jajanan Pasar 7 13
Dagang dan Pijat 9 16
Warung Kelontong 10 18
Warung Makan 4 7
Loundry 2 4
Angkringan 2 4
Penjahit 3 5
Depot Air Minum 2 4
Susu Murni 1 2
Penjual Kaos 1 2
Gas LPG 1 2
Arang Bambo Aktif 1 2
Peternak Kambing 1 2
Catering 1 2

IX
Bensin Ecer 1 2
Daging Ayam 1 2
Pembuat Mainan 1 2
Foto Copy 1 2
Jual Pulsa 3 5
Pembalut Avail 1 2
Les Private 1 2
Pedagang Sandal 1 2
Total 55 100

X
Lampiran 5

Pendapatan

Descriptive Statistics
N Mean Std. Minimu Maximu
Deviation m m
PendapatanSebelu 55 1154727,2 1194003,31 100000 5700000
m 7 1
PendapatanSesuda 55 1586090,9 1436430,01 80000 7500000
h 1 8

Ranks
N Mean Sum of
Rank Ranks
Negative 3a 20,33 61,00
Ranks
PendapatanSesudah - Positive Ranks 52b 28,44 1479,00
PendapatanSebelum
Ties 0c
Total 55
a. PendapatanSesudah < PendapatanSebelum
b. PendapatanSesudah > PendapatanSebelum
c. PendapatanSesudah = PendapatanSebelum

Test Statistics
PendapatanSesudah
-
PendapatanSebelum
Z -5,950b
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000

a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.

XI
Modal

Descriptive Statistics
N Mean Std. Minimu Maximum
Deviation m
ModalSebelu 55 1779090,91 2335052,758 100000 12000000
m
ModalSesuda 55 4589495,45 2983562,538 1000000 17000000
h

Ranks
N Mean Sum of
Rank Ranks
Negative 0a ,00 ,00
Ranks
ModalSesudah - Positive Ranks 54b 27,50 1485,00
ModalSebelum
Ties 1c
Total 55
a. ModalSesudah < ModalSebelum
b. ModalSesudah > ModalSebelum
c. ModalSesudah = ModalSebelum

Test Statisticsa
ModalSesudah -
ModalSebelum

Z -6,407b
,000
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Wilcoxon Signed Ranks Test
b. Based on negative ranks.

XII
Lampiran 6

Keterangan gambar: Wawancara dan pengisian kuisioner dengan responden kelompok

Difabel, dan keranjang dagangan. Lokasi : Teras kos-kosan bapak responden.

Keterangan Gambar: Seorang Ibu dari kelompok Mualaf sedang mengisi kuisioner.
Lokasi : halaman depan rumah ibu.

XIII
Lampiran 7

CURRICULUM VITAE

Data Pribadi
Nama :Qoni’atur Rohmatillah
Tempat, Tanggal, Lahir :Lampung Utara, 18 November 1995
Jenis Kelamin :Perempuan
Agama :Islam
Warga Negara :WNI
Email :qoniaturrahmatillah95@gmail.com
Alamat :Ds. Karya Mulya Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas
Sumatera Selatan

Riwayat Pendidikan
2001-2007 :SD N Karya Mulya, Megang Sakti, Musi Rawas, SumSel.
2007-2010 :SMP N Rejosari, Megang Sakti, Musi Rawas, SumSel.
2010-2013 :MA Raudhatul Ulum, Sakatiga, Inderalaya, Ogan Ilir,
SumSel.
2013-2017 :Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

XIV
Pengalaman Organisasi
2011-2013 :Pengurus OP3RU (Organisasi Pelajar Pondok Pesantren
Raudhatul Ulum) Sakatiga, Inderalaya, Ogan Ilir, SumSel.
2015-2016 :Sekretaris II KMNU UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2015-2016 :Pengurus Bagian Pendidikan dan Keagamaan PP. Sunni
Darussalam Tempelsari, Maguoharjo, Depok, Sleman,
Yogyakarta.
2016-2017 :Lurah Putri PP. Sunni Darussalam Tempelsari,
Maguoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

XV