Anda di halaman 1dari 19

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Sanitasi Lingkungan

a. Pengertian Sanitasi Lingkungan

Sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitik

beratkan pada penguasaan terhadap berbagai faktor lingkungan yang

mempengaruhi derajat kesehatann (Azwar, 2004).

Sanitasi lingkungan hakikanya adalah suatu kondisi lingkungan

yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya

status kesehataan yang optimum pula (Notoatmodjo, 2009).

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat dirumuskan bahwa

sanitasi merupakan usaha kesehatan mmasyarakat yang menitik

beratkan pada penguasaan pada berbagai faktor lingkungan

berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang

optimum (Notoatmodjo, 2009).

b. Pengertian Lingkungan

Lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan

sekitar mahluk hidup yang optimum sehingga berpengaruh positif

terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum (Notoatmodjo,

2009).
9

c. Ruang Lingkup Sanitasi Lingkungan

Notoatmodjo (2009) menjelaskan bahwa ruang lingkup sanitasi

lingkungan, meliputi :

1) Penyediaan air bersih

Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan lebih

cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan

makanan. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain

untuk minum, masak, mandi, mencuci, dan sebagainaya. Menurut

perhitungan WHO di negara-negara maju tiap orang memerlukan air

antara 20-60 liter per hari. Sedangkan dinegara berkembang, termasuk

Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter perhari.

(WHO, 2009).

Air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan-persyaratan

kesehatan baik syarat fisik, syarat bakteriologi maupun syarat kimia.

Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk

minum, mandi, masak, mencuci dan sebagainya (Notoatmadjo, 2007).

Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting

adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan

minum (termasuk untuk memasak) air harus mempunyai persyaratan

khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit. Penggunaan air

bersih mempunyai dampak pada kebersihan makanan dan minuman


10

serta higiene perseorangan. Penggunaan air bersih berpengaruh baik

terhadap kesehatan.

Notoatmodjo (2009), meyatakan bahwa agar air minum tidak

menimbulkan penyakit, maka air tersebut hendaknya diusahakan

memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan. Persyaratan kesehatan

tersebut aalah :

a) Syarat fisik

Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak

berwarna), tidak berasa, suhu udara dibawah suhu diluarnya,

sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Cara

mengenal air yang memenuhi syarat fisik ini tidak sukar karena

akan mudah terlihat oleh mata telanjang.

b) Syarat Bakteriologis

Air untuk keperluan minum yang sehat harus terbebas dari segala

bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah

air minum terkotaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan

memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari

pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4 bakter E. Coli maka

air terseut sudah memenuhi syarat kesehatan

c) Syarat Kimia

Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu di

dalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan


11

salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan

fisiologi pada manusia.

Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air ideal antara

lain sebagai berikut :

Tabel 2.1
Bahan-bahan atau zat kimia dalam Air

Jenis Bahan Kadar yang dibenarkan (mg/liter)


Fluor (F) 1-1,5
Chlor (Cl) 250
Arsen (As) 0,05
Tembaga (Cu) 1,0
Besi (Fe) 0,3
Zat Organik 10
Ph (keasaman) 6,5-9,0
Karbondioksida (CO2) 0
Sumber: Notoatmodjo, 2007

Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan

maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur dalam

dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga

persyaratan tersebut diatas, asalkan tidak tercemar oleh kotoran

terutama kotoran manusia dan binatang. Mata air atau sumur yang

ada dipedesaan harus mendapatkan pengawsan dan perlindungan

agar tidak dicemari oleh penduduk yang menggunakan air itu.

2) Kepemilikan Jamban

Bertambahnya penduduk yang tidak seimbang dengan area

permukiman timbul masalah yang disebabkan oleh pembuangan

kotoran manusia yang meningkat. Penyebaran peyakit yang bersumber

pada kotoran manusia (feces) dapat melalui beragai macam jalan atau

cara. Hal ini dapat diilustrasikan sebagai berikut :


12

Air
Tinj
a
Tanga
n
Makanan
Tinj
Tinj minuman
sayur-sayuran a
a
Lala
t
Tinj
a
Tanah

(Sumber: Notoatmodjo, 2007)

Gambar 2.1
Skema Penyebaran Penyakit
Dari skema tersebut nampak jelas bahwa peranan tinja dalam

penyebaran penyakit sangat besar di samping dapat langsung

mengkontaminasi makanan, minuman, air, tanah, serangga, (lalat,

kecoa, dan sebagainya), dan bagian-bagian tubuh dapat terkontamnasi

oleh tinja tersebut. Benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh tinja

dan seseorang yang sudah menderita suatu penyakit tertentu

merupakan penyebab penyakit untuk orang lain.

Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan tinja disertai dengan

cepatnya pertambahan penduduk, akan mempercepat penyebaran

penyakit-penyakit yang ditularkan lewat tinja. Penyakit yang

disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tipus, disentri, kolera,

bermacam-macam cacing (cacing gelang, cacing kremi, cacing


13

tambang, cacing pita), schistosomiasis, dan sebagainya

(Notoadjmodjo, 2009).

Jamban adalah bangunan untuk tempat buang air besar dan

buang air keil. Buang air besar dan buang air kecil harus didalam

jamban, jangan disungai atau disembarang tempat karena dapat

menimbulkan penyakit. Syarat-syarat jamban sehat adalah sebagai

berikut (Notoadjmodjo, 2009) :

a) Jamban harus punya dinding atau pintu agar orang yang berada

didalamnya tidak terlihat

b) Jamban sebaiknya mempunyai atap untuk perlindungan terhadap

hujan dan panas, cahaya dapat masuk ke dalam jamban karena

cahaya matahari berguna untuk mematikan kuman

c) Lantai terbuat dari bahan yang tidak tembus air seperti semen

atau papan yang disusun rapat. Lantai ini perlu agar air kotor

tidak meresap ke dalam tanah dan lantai mudah dibersihkan.

d) Jamban harus mempunyai ventilasi yang cukup untuk

pertukaran udara agar udara di dalam jamban tetap segar.

e) Lubang penampungan kotoran letaknya antara 10-15 meter dari

sumber air bersih agar sumber air tidak tercemar, didalam

jamban harus tersedia air bersih dan sabun untuk membersihkn

diri. Untuk jamban model cemplung lubang jamban mempunyai

tutup yang rapat agar lalat, kecoa, dan serangga lain tidak dapat

keluar masuk tempat penampungan kotoran.


14

f) Lubang saluran air kotor pada lantai letaknya lebih rendah

dari pada lubang jamban.

g) Jamban sebaiknya tidak dibuat ditempat yang digenangi air.

Untuk daerah rawa atau daerah yang sering banjir letak lantai

jamban harus lebih tinggi daripada permukaan air yang tinggi

pada waktu banjir, jamban sebaiknya diberi lampu untuk

penerangan.

h) Lubang penampang kotoran harus mempunyai pipa saluran

udara yang cukup tinggi agar gas yang timbul dapat disalurkan

keluar.

Model dan bentuk jamban yang memenuhi syarat kesehatan

antara lain: jamban model angsa dapat dibangun didalam rumah

secara tersendiri atau digabung dengan kamar mandi. Model ini

disebut model leher angsa karena saluran kotorannya bengkok

seperti leher angsa. Bila disiram dengan air, kotoran akan terdorong

ke lubang penampungan tetapi masih ada sisa air yang tertinggal

didalam saluran yang bengkok tersebut. Air yang tertinggal ini

menutup saluran kotoran sehingga bau yang berasal dari lubang tidak

dapat keluar. Air ini juga berfungsi mencegah keluar masuknya lalat

dan serangga lain ke dalam lubang penampungan kotoran.

Jamban model cemplung adalah jamban yang paling

sederhana. Jamban dibangun langsung diatas lubang penampungan


15

kotoran. Lubang penampungan kotoran digali sedalam 2 sampai 3

meter dengan lingkaran tengah kira-kira 80 cm (Suharto, 2009).

Menurut Depkes RI (2009) pemeliharaan jamban harus

dilakukan dengan baik, yaitu:

a) Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering

b) Disekeliling jamban hendaknya selalu bersih dan kering

c) Tidak ada sampah berserakan, rumah jamban dalam keadaan

baik

d) Lantai selalu bersih tdak ada kotoran yang terlihat, lalat dan

kecoa tidak ada, tersedia alat pembersih.

e) Bila ada bagian yang rusak segara diperbaiki atau diganti.

3) Pembuangan air limbah

Sesuai zat yang terkandung didalam air limbah ini, maka air

limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan berbagai

gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain :

a) Menjadi transmisi atau media penyebab berbagai penyakit

b) Menjadi media berkembang biaknya mikroorganisme patogen

c) Menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk

d) Menimbulkan bau yang tidak enak

e) Sumber pencemaran air

f) Mengurangi produktivitas manusia


16

Untuk mencegah atau mengurangi akibat-akibat buruk tersebut

diatas diperlukan pengolahan limbah dengan baik, yaitu dengan cara :

a) Pengenceran

b) Kolam oksidasi

c) Irigasi

4) Pembuangan sampah

Sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak

dipakai lagi oleh manusia atau benda padat yang sudah tidak dipakai

lagi dalam suatu kegiatan manusia. Sampah erat kaitanya dengan

kesehatan manusia, karena dari sampah-sampah tersebut akan hidup

berbagai mikroorganisme penyebab bakteri. Oleh karena itu, sampah

harus dikelola dengan baik sampai sekecil mungkin tidak menggangu

atau mengancam kesehatan masyarakat. Cara-cara pengelolaan

sampah anara lain :

a) Pengumpulan dan pengangkutan sampah

b) Pemusnahan dan pengolahan sapah

(1) Ditanam

(2) Dibakar

(3) Dijadikan pupuk

2. Penyakit Diare
17

a. Definisi

Diare adalah penyakit yang ditandai bertambahnya frekuensi

defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi

tinja (menjadi cair), dengan atau tanpa darah atau lendir (Suraatmaja,

2007).

Menurut WHO (2008), diare didefinisikan sebagai berak cair tiga

kali atau lebih dalam sehari semalam. Berdasarkan waktu serangannya

terbagi menjadi dua, yaitu diare akut (< 2 minggu) dan diare kronik (≥ 2

minggu) (Widoyono, 2008).

b. Klasifikasi diare

Menurut Depkes RI (2000), jenis diare dibagi menjadi empat yaitu:

1) Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari

(umumnya kurang dari 7 hari). Akibat diare akut adalah dehidrasi,

sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi

penderita diare.

2) Disentri, yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat

disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat,

kemungkinan terjadinya komplikasi pada mukosa.

3) Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara

terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan

dan gangguan metabolisme.

4) Diare dengan masalah lain, yaitu anak yang menderita diare (diare

akut dan diare persisten), mungkin juga disertai dengan penyakit lain,

seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.


18

Menurut Suraatmaja (2007), jenis diare dibagi menjadi dua yaitu:

1) Diare akut, yaitu diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan

anak yang sebelumnya sehat.

2) Diare kronik, yaitu diare yang berlanjut sampai dua minggu atau lebih

dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah

selama masa diare tersebut.

c. Etiologi diare

Menurut Widoyono (2008), penyebab diare dapat dikelompokan menjadi:

1) Virus: Rotavirus.

2) Bakteri: Escherichia coli, Shigella sp dan Vibrio cholerae.

3) Parasit: Entamoeba histolytica, Giardia lamblia dan

Cryptosporidium.

4) Makanan (makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak

lemak, sayuran mentah dan kurang matang).

5) Malabsorpsi: karbohidrat, lemak, dan protein.

6) Alergi: makanan, susu sapi.

7) Imunodefisiensi.

d. Gejala diare

Menurut Widjaja (2002), gejala diare pada balita yaitu:

1) Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. Suhu badannya pun

meninggi.

2) Tinja bayi encer, berlendir, atau berdarah.

3) Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu.


19

4) Anusnya lecet.

5) Gangguan gizi akibat asupan makanan yang kurang.

6) Muntah sebelum atau sesudah diare.

7) Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah).

8) Dehidrasi.

e. Epidemiologi diare

Epidemiologi penyakit diare, adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2009).

1) Penyebaran Kuman

Kuman yang menyebabkan diare biasanya menyebar melalui fecal

oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja

dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku

yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan

meningkatkan risiko terjadinya diare, antara lain tidak memberikan

ASI (Air Susu Ibu) secara penuh 4/6 bulan pada pertama kehidupan,

menggunakan botol susu, menyimpan makanan masak pada suhu

kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan

dengan sabun sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja

anak atau sebelum makan atau menyuapi anak, dan tidak membuang

tinja dengan benar.

2) Faktor Penjamu

Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare.

Beberapa faktor pada penjamu yang dapat meningkatkan beberapa

penyakit dan lamanya diare yaitu tidak memberikan ASI sampai dua
20

tahun, kurang gizi, campak, immunodefisiensi, dan secara

proporsional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita.

3) Faktor lingkungan dan perilaku.

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis

lingkungan. Dua faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan

pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku

manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar

kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat

pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan

kejadian diare.

f. Distribusi penyakit diare

Distribusi penyakit diare berdasarkan orang (umur) sekitar 80%

kematian diare tersebut terjadi pada anak di bawah usia 2 tahun. Data

organisasi kesehatan dunia pada tahun 2004 menunjukkan bahwa dari

sekitar 125 juta anak usia 0-11 bulan, dan 450 juta anak usia 1-4 tahun

yang tinggal di negara berkembang, total episode diare pada balita sekitar

1,4 milyar kali per tahun. Jumlah tersebut menunjukan bahwa total

kejadian diare pada bayi usia di bawah 0-11 bulan sebanyak 475 juta dan

anak usia 1-4 tahun sekitar 925 juta kali per tahun (Amiruddin, 2007).

g. Penularan diare

Penyakit diare sebagian besar disebabkan oleh kuman seperti virus

dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui jalur fekal oral yang terjadi

karena:
21

1) Melalui air yang sudah tercemar, baik tercemar dari sumbernya,

tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-rumah, atau tercemar

pada saat disimpan di rumah. Pencemaran ini terjadi bila tempat

penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar

menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.

2) Melalui tinja yang terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi,

mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut

dihinggapi oleh binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap

dimakanan, maka makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang

memakannya (Widoyono, 2008). Sedangkan menurut (Depkes RI,

2009) kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral

antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan

atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku yang

dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan

risiko terjadinya diare, yaitu: tidak memberikan ASI (Air Susu Ibu)

secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol

susu, menyimpan makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air

minum yang tercemar, tidak mencuci tangan dengan sabun sesudah

buang air besar, tidak mencuci tangan sesudah membuang tinja anak,

tidak mencuci tangan sebelum atau sesudah menyuapi anak dan tidak

membuang tinja termasuk tinja bayi dengan benar.

h. Penanggulangan diare

Menurut Depkes RI (2009), penanggulangan diare antara lain:


22

1) Pengamatan intensif dan pelaksanaan SKD (Sistem Kewaspadaan

Dini) Pengamatan yang dilakukan untuk memperoleh data tentang

jumlah penderita dan kematian serta penderita baru yang belum

dilaporkan dengan melakukan pengumpulan data secara harian pada

daerah fokus dan daerah sekitarnya yang diperkirakan mempunyai

risiko tinggi terjangkitnya penyakit diare. Sedangkan pelaksanaan

SKD merupakan salah satu kegiatan dari surveilance epidemiologi

yang kegunaanya untuk mewaspadai gejala akan timbulnya KLB

(Kejadian Luar Biasa) diare.

2) Penemuan kasus secara aktif Tindakan untuk menghindari terjadinya

kematian di lapangan karena diare pada saat KLB di mana sebagian

besar penderita berada di masyarakat.

3) Pembentukan pusat rehidrasi Tempat untuk menampung penderita

diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan pada keadaan

tertentu misalnya lokasi KLB jauh dari puskesmas atau rumah sakit.

4) Penyediaan logistik saat KLB Tersedianya segala sesuatu yang

dibutuhkan oleh penderita pada saat terjadinya KLB diare.

5) Penyelidikan terjadinya KLB Kegiatan yang bertujuan untuk

pemutusan mata rantai penularan dan pengamatan intensif baik

terhadap penderita maupun terhadap faktor risiko.

6) Pemutusan rantai penularan penyebab KLB Upaya pemutusan rantai

penularan penyakit diare pada saat KLB diare meliputi peningkatan

kualitas kesehatan lingkungan dan penyuluhan kesehatan.


23

i. Pencegahan diare

Menurut Depkes RI (2009), penyakit diare dapat dicegah melalui

promosi kesehatan antara lain:

1) Meningkatkan penggunaan ASI (Air Susu Ibu).

2) Memperbaiki praktek pemberian makanan pendamping ASI.

3) Penggunaan air bersih yang cukup.

4) Kebiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

5) Penggunaan jamban yang benar.

6) Pembuangan kotoran yang tepat termasuk tinja anak-anak dan bayi

yang benar.

7) Memberikan imunisasi campak.

3. Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Diare

Kondisi kesehatan masyarakat maupun kesehatan individu

merupakan suatu permasalahan yang sangat komplek dan dipengaruhi

banyak faktor baik itu faktor lingkungan, faktor hereditas/ keturunan,

faktor prilaku dan faktor pelayanan kesehatan. Menurut model segitiga

epidemiologi, suatu penyakit timbul akibat interaksi satu sama lain yaitu

antara faktor lingkungan, agent dan host. Faktor yang secara langsung

maupun tidak langsung dapat menjadi penentu pendorong terjadinya diare.

Seseorang yang daya tahan tubuhnya kurang, maka akan mudah terserang

penyakit. Faktor kesehatan lingkungan merupakan faktor yang paling

besar mempengaruhi tingkat kesehatan, diare merupakan penyakit berbasis


24

lingkungan yang sebagian besar penularannya melalui air, sehingga untuk

penanggulangan diare diperlukan upaya perbaikan sanitasi lingkungan

(Zubir, 2006).

Penyakit yang merupakan penyakit berbasis lingkungan antara lain

diare, kolera, campak, tifus, malaria, demam berdarah dan influensa.

Artinya, penyakit-penyakit tersebut dalam penularannya sangat besar

diengaruhi oleh permasalahan kesehatan lingkungan, terutama sanitasi

lingkungan yang buruk. Masalah-masalah pada sanitasi lingkungan antara

lain kepemilikan jamban keluarga yang sesuai standar kesehatan,

penyediaan air bersih, perumahan, pembuangan sampah dan pembuangan

air limbah (Notoatmodjo, 2006).

B. Kerangka Konsep dan Kerangka Kerja

1. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara

konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang

dilakukan. Penyusunan kerangka konsep membantu peneliti untuk

membuat hipotesis, menguji hubungan tertentu dan membantu

menghubungkan hasil penemuan dengan teori yang telah ada

(Notoatmodjo, 2010).

Bakteri E. coli

Makanan & Minuman


25

Jamban Keluarga

Sarana Air Bersih

Sanitasi
Lingkungan Tempat Pembuangan Orang Kejadian
Sampah Diare

Perumahan

Sistem Pembuangan Air


Limbah

Prilaku

Keterangan:

: Tidak Diteliti

: Diteliti

Gambar 2.2
Kerangka Konsep
Sumber: Notoatmodjo, 2004 dan Vibriana, 2007

2. Kerangka Kerja

Kerangka operasioanal/ kerangka kerja adalah pentahapan

(langkah-langkah dalam aktivitas ilmiah) mulai dari penatapan populasi,

sampel dan seterusnya, yaitu kegiatan sejak awal penelitian akan


Ada
dilaksanakan (Nursalam, 2005). Kerangka kerja dalam penelitian yang
Hubungan
Sanitasi Lingkungan
akan penyusun lakukan dapat dilihat pada gambar 2.3 berikut ini:
Penyediaan Air Bersih Kejadian
Kepemilikan Jamban
Pembuangan sampah Diare

Tidak ada
hubungan
26

Gambar 2.3
Kerangka Kerja Penelitian

C. Hipotesis Penelitian

Menurut sugiono (2012), hipotesis merupakan salah satu jawaban

sementara terhadap rumusan penelitian. Berdasarkan pengertian tersebut

maka yang menjadi hipotesis penelitian ini adalah: “ada hubungan antara

sanitasi lingkungan dengan kejadian diare di Desa Hegarsari Lingkungan

Tanjung Sukur RW 16 RT 02 Kecamatan Pataruman 1 Kota Banjar”.