Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

SIKATRIKS KORNEA

DISUSUN OLEH :
Wisnu Narendratama (030.11.311)

PEMBIMBING :
dr. R Adri Subandiro, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MATA


RSUD DR. SOESELO SLAWI
PERIODE 11 DESEMBER 2017 – 12 JANUARI 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
Lembar Pengesahan
REFERAT
"SIKATRIKS KORNEA"

Penyusun:
Wisnu Narendratama (030.11.311)

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program


Pendidikan Profesi Kedokteran Bagian Ilmu Kesehatan Mata
RSUD dr. Soeselo Slawi Kab. Tegal

Periode 11 Desember 2017 – 12 Januari 2018


Menyetujui,

Slawi, Desember 2017


Pembimbing

dr. R Adri Subandiro, Sp.M

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur atas berkat rahmat Allah SWT, karena atas izin-Nya
penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Sikatriks Kornea. Salawat dan
salam juga dihaturkan kepada Rasulullah SAW.
Referat ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran
Universitas Trisakti di RSUD dr. Soeselo Slawi periode 11 Desember 2017 – 12
Januari 2018.
Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada dr. R Adri Subandiro,
Sp.M selaku pembimbing referat dan seluruh pihak yang telah membantu penulis
dalam pembuatan referat ini.
Penulis sangat berharap semoga referat ini dapat bermanfaat bagi para
pembacanya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan referat
ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca.

Slawi, Desember 2017

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ...............................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................1


BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................3
2.1 Anatomi ..............................................................................................3
2.2 Fisiologi ..............................................................................................7
2.3 Sikatriks Kornea .................................................................................8
2.3.1 Definisi.......................................................................................8
2.3.2 Epidemiologi ..............................................................................8
2.3.3 Etiologi.......................................................................................8
2.3.4 Klasifikasi ..................................................................................8
2.3.5 Patofisiologi .............................................................................10
2.3.6 Diagnosis .................................................................................11
2.3.7 Tatalaksana ..............................................................................12
2.3.8 Pencegahan ..............................................................................12
2.3.9 Komplikasi ...............................................................................13
2.3.10 Prognosis ................................................................................13
BAB III KESIMPULAN ......................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................15

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Anatomi Bola Mata ................................................................................3


Gambar 2. Lapisan – Lapisan Kornea Mata.............................................................4
Gambar 3. Mekanisme Pompa Endotel ....................................................................7
Gambar 4. Nebula ....................................................................................................9
Gambar 5. Makula....................................................................................................9
Gambar 6. Leukoma ...............................................................................................10
Gambar 7. Alur Patofisiologi Sikatriks Kornea .....................................................11

v
BAB I
PENDAHULUAN

Setiap orang memperoleh hak untuk penglihatan yang optimal pada tahun
2020 dengan mengeliminasi kebutaan yang dapat dicegah. Pada tahun 2000 di
Indonesia telah dicanangkan program WHO Vision 2020, the right to sight. Dalam
rangka mewujud-kannya diperlukan data gangguan mata, salah satunya yang
mengenai kornea berupa parut kornea (Sikatriks Kornea).1,6
Sikatrik kornea dapat menimbulkan gangguan penglihatan mulai dari kabur
sampai dengan kebutaan. Sikatrik kornea dapat berbentuk ringan (nebula), sedang
(makula) dan berat (leukoma). Gangguan kornea merupakan penyebab kebutaan
kedua didunia setelah katarak. Sikatrik kornea lebih sering disebabkan oleh infeksi,
xeropthalmia dan trauma.1
Prevalensi sikatrik kornea pada kedua mata tertinggi di Provinsi Sumbar
(2,5%), terendah di Provinsi di Sumut, Kepulauan Riau, Provinsi DKI Jakarta,
Papua Barat dan Papua (0,3%). Prevalensi sikatrik kornea pada salah salah satu
mata tertinggi di Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Sulawesi Tengah (0,9%),
terendah di Provinsi DKI Jakarta dan Kepulauan Riau (0,1%). Prevalensi sikatrik
kornea pada dua mata maupun satu mata terendah dijumpai pada kelompok umur
20-29 tahun (0,1%) sedangkan prevalensi tertinggi ditemui pada kelompok umur ≥
75 tahun (8.7%).2
Sikatrik kornea dua mata dan sikatrik kornea satu mata berdasar gender
hampir sama prevalensinya, sedangkan menurut pekerjaan tertinggi pada petani
(1,8%) dan terendah pada pekerja di sektor swasta (0,4%); lebih tinggi pada
kelompok yang tidak bersekolah (4,1%) dan terendah pada kelompok pendidikan
tamat SLTA (0,4%); lebih tinggi di pedesaan baik dua mata (1,2%) maupun satu
mata(0,6%) dibanding perkotaan. Prevalensi sikatrik kornea dua mata (1,1%) lebih
tinggi ditemui pada tingkat pengeluran rumah tangga yang rendah sedangkan
sikatrik kornea pada satu mata (0,4%) persentasenya lebih rendah pada tingkat
pengeluaran rumah tangga yang tinggi. Gangguan penglihatan berat (10,4%) dan
dengan kebutaan (9,8%).2

1
Saat ini sikatrik kornea terjadi disebabkan oleh trauma berupa trauma tajam,
tumpul dan kimia. Selain itu infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan
protozoa yang tidak tertangani dengan baik cenderung menjadi ulkus kornea dan
juga komplikasi dari penggunaan obat-obat mata secara tradisional. Infeksi tidak
tertangani dengan baik dapat terjadi ulkus kornea, ulkus dapat mencapai sampai
kelapisan stroma kornea akibat dari penyembuhannya terbentuk sikatrik kornea
berupa kekeruhan kornea sehingga tajam penglihatan dapat menurun. Penurunan
tajam penglihatan sangat ditentukan oleh letak, luas, serta kepadatan jaringan
sikatrik yang terjadi, irregularitas permukaan kornea dan cekungan yang terjadi.3
Bila sikatrik kornea telah mengganggu penglihatan tidak ada pengobatan
yang dapat dilakukan kecuali keratoplasti atau pencangkokan kornea, hal ini juga
tidak mudah karena membutuhkan waktu sebab donor kornea masih sulit didapat
terutama di Indonesia.3,6

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Kornea


Kornea (Latin, cornum = seperti tanduk) membentuk bagian anterior bola
mata merupakan jaringan transparan dan avaskular, mempunyai peranan dalam
refraksi cahaya. Indeks refraksi korna adalah 1,377 dan kekuatan refraksi sebesar
+43.00 Dioptri, merupakan 70% dari kekuatan refraksi mata.3
Permukaan anterior kornea berbentuk agak elips dengan diameter horizontal
rata-rata 11,5 - 11,7 mm dan 10,5 - 10,6 mm pada diameter vertikal sedangkan
permukaan posterior berbentuk sirkuler dengan diameter 11,7 mm. Pada orang
dewasa ketebalan kornea bervariasi dengan rata-rata 0,65 – 1 mm di bagian perifer
dan 0,55 mm di bagian tengah. Hal ini disebabkan adanya perbedaan kurvatur
antara permukaan anterior dan posterior kornea. Radius kurvatur anterior kornea
kira-kira 7,8 mm sedangkan radius kurvatur permukaan posterior rata-rata 6,5 – 6,8
mm. Kornea menjadi lebih datar pada bagian perifer, namun pendataran tersebut
tidak simetris. Bagian nasal dan superior lebih datar dibanding bagian temporal dan
inferior. Luas permukaan luar kornea kira-kira 1,3 cm2 atau 1/14 dari total area bola
mata.3

Gambar 1. Anatomi Bola Mata.3

3
Histologi Kornea
Secara histologis kornea terdiri atas 5 lapisan, yaitu:
1. Epitel
2. Membran Bowman
3. Stroma
4. Membran Descemet
5. Endotelium3

Gambar 2. Lapisan – Lapisan Kornea Mata.


1. Epitel
Tebalnya 50 μm , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal
sering terlihat mitosis sel dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel
sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat
dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom
dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa
yang merupakan barrier.3
Terdapat dua fungsi utama epitel: (1) membentuk barier antara dunia luar
dengan stroma kornea dan (2) membentuk permukaan refraksi yang mulus pada

4
kornea dalam interaksinya dengan tear film. Barier dibentuk ketika sel-sel epitel
bergerak dari lapisan basal ke permukaan kornea, secara progresif berdiferensiasi
hingga sel-sel superfisial membentuk dua lapisan sel tipis yang melingkar yang
dihubungkan oleh tight junction (zonula okluden), merupakan membran yang
bersifat semipermiabel dan resistensi tinggi. Barier ini mencegah masuknya cairan
dari tear film ke stroma dan juga melindungi struktur kornea dan intraokuler dari
infeksi oleh patogen. Mikrovili pada hampir seluruh permukaan superfisial sel-sel
epitel dilindungi oleh glikokaliks sehingga dapat berinteraksi dengan lapisan musin
tear film agar permukaan kornea tetap licin. Berbagai proses metabolik, biokemikal
dan fisikal tampaknya mempunyai tujuan primer mempertahankan keadaan lapisan
sel epitel yang berfungsi sebagai barier dan agar permukaan kornea tetap licin.
Permukaan kornea yang licin berperan penting dalam terbentuknya penglihatan
yang jelas.3
2. Membrana Bowman
Membrana Bowman merupakan lapisan superfisial pada stroma, yang
berfungsi sebagai barier terhadap stroma. Kepadatan lapisan Bowman menghalangi
penyebaran infeksi ke dalam stroma yang lebih dalam. Lapisan ini tidak dapat
beregenerasi sehingga bila terjadi trauma akan diganti dengan jaringan parut.3
3. Stroma
Stroma tersusun atas matriks ekstraselular seperti kolagen dan
proteoglikan. Matriks ekstraselular ini memegang peranan penting dalam struktur
dan fungsi kornea. Stroma terdiri atas kolagen yang diproduksi oleh keratosit dan
lamella kolagen. Karena ukuran dan bentuknya seragam menghasilkan keteraturan
yang membuat kornea menjadi transparan. Serat-serat kolagen tersusun seperti
lattice (kisi¬-kisi), pola ini berfungsi untuk mengurangi hamburan cahaya.3
Transparansi juga tergantung kandungan air pada stroma yaitu 70%.
Proteoglikan yang merupakan substansi dasar stroma, memberi sifat hidrofilik pada
stroma. Hidrasi sangat dikontrol oleh barier epitel dan endotel serta pompa endotel.3
4. Membrana Descemet
Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma
kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya. Membrana

5
Descemet bersifat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40
μm. Membran ini lebih resisten terhadap trauma dan penyakit, dari pada bagian lain
dari kornea.3
5. Endotel
Lapisan ini merupakan lapisan kornea yang paling dalam, tersusun dari
epitel selapis gepeng atau kuboid rendah. Berasal dari mesotelium, bentuk
heksagonal, besar 20-40 μm. Endotel melekat pada membran descement melalui
hemidosom dan zonula okluden. Sel-sel ini mensintesa protein yang mungkin
diperlukan untuk memelihara membran Descement. Sel-sel ini mempunyai banyak
vesikel dan dinding selnya mempunyai pompa Natrium yang akan mengeluarkan
kelebihan ion-ion natrium ke dalam kamera okuli anterior. Ion0ion klorida dan air
akan mengikuti secara pasif. Kelebihan cairan di stroma akan diserap oleh endotel
sehingga stroma dipertahankan dalam keadaan sedikit dehidrasi, suatu faktor yang
diperlukan untuk mempertahankan kualitas refraksi kornea. Dua faktor yang
berkontribusi dalam mencegah edema stroma dan mempertahankan kandungan air
tetap pada 70% adalah fungsi barier dan pompa endotel. Fungsi barier endotel
diperankan oleh adanya tight junction diantara sel-sel endotel.3

Pompa endotel
Stroma kornea memiliki konsentrasi Na+ 134 mEq/L sedangkan humor
aquous 143 mEq/L. Perbedaan osmolaritas tersebut menyebabkan air berpindah
dari stroma ke humor aquous melalui osmosis. Mekanisme ini diatur oleh pompa
metabolik aktif sel-sel endotel. Pompa metabolik ini dikontrol oleh Na+ / K+
ATPase yang terletak di lateral membrane. Dalam menjalankan fungsinya pompa
endotel tergantung pada oksigen, glukosa, metabolisme karbohidrat dan adenosine
triphosphatase. Keseimbangan antara fungsi barier dan pompa endotel akan
mempertahankan keadaan deturgesensi kornea.3

6
Gambar 3. Mekanisme Pompa Endotel3
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf
siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid,
masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan
selubung Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara.
Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3
bulan.4
Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour
aquous, dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari
atmosfir. Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam,
avaskularitasnya dan deturgensinya.4
2.2 Fisiologi Kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui
berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang
uniform, avaskuler dan deturgenes. Deturgenes, atau keadaan dehidrasi relative
jaringan kornea dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh
fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam
mekanisme dehidrasi dan cidera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat
daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema kornea
dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya cedera pada epitel hanya menyebabkan

7
edema lokal stroma kornea sesaat yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu telah
beregenerasi. Penguapan air dari film air mata prakornea akan mengkibatkan film
air mata akan menjadi hipertonik; proses itu dan penguapan langsung adalah faktor-
faktor yang menarik air dari stroma kornea superfisialis untuk mempertahankan
keadaan dehidrasi.4
2.3 Sikatriks Kornea
2.3.1 Definisi
Sikatriks kornea adalah terbentuknya jaringan parut pada kornea oleh
berbagai sebab. Dapat disebabkan oleh trauma, bekas luka, maupun sebab-sebab
lainnya.1
2.3.2 Epidemiologi
Di Indonesia prevalensi sikatrik kornea pada kedua mata ditemui 1,0%
sedangkan pada salah satu mata 0,5%. Prevalensi sikatrik kornea pada kedua mata
tertinggi di Provinsi Sumatera Barat (2,5%), terendah di Sumut, Kepulauan Riau,
Provinsi DKI Jakarta, Papua Barat dan Papua (0,3%).2,6
2.3.3 Etiologi
Kondisi medis berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab luka
kornea. Abrasi kornea Laserasi kornea Burns Herpes simpleks Neurotrophic
keratitis Syphilis Kornea cedera Cedera mata Bisa disebabkan oleh luka pada
kornea (abrasi, laserasi, luka bakar, atau penyakit), tergantung pada tingkat jaringan
parut, visus dapat berkisar dari blur ke kebutaan total walaupun sangat menyakitkan
atau penyembuhan transparan (tidak meninggalkan bekas luka). Lecet yang lebih
dalam dan ulcerations / luka mengakibatkan hilangnya jaringan kornea, yang
diganti oleh jaringan parut. Sikatrik dari penyakit (biasanya peradangan) biasanya
merupakan hasil dari proliferasi pembuluh darah baru ke dalam kornea jelas, untuk
membantu dalam proses penyembuhan. Penyakit yang menyebabkan vaskularisasi
termasuk herpes simpleks, sifilis, dan keratitis.1
2.3.4 Klasifikasi
Penyembuhan luka pada kornea berupa jaringan parut, baik akibat radang,
maupun trauma:

8
1. Nebula
• Penyembuhan akibat keratitis superfisialis.
• Kerusakan kornea pada m.Bowman sampai 1/3 stroma.
• Pada pemeriksaan, terlihat kabut di kornea, hanya dapat dilihat di kamar
gelap dengan Slit-lamp dan bantuan kaca pembesar.

Gambar 4. Nebula.
2. Makula
• Penyembuhan akibat ulkus kornea.
• Kerusakan kornea pada 1/3 stroma sampai 2/3 ketebalan stroma.
• Pada pemeriksaan, putih di kornea, dapat dilihat di kamar gelap dengan slit-
lamp tanpa bantuan kaca pembesar.

Gambar 5. Makula.
3. Leukoma
• Penyembuhan akibat ulkus kornea.
• Kerusakan kornea lebih dari 2/3 ketebalan stroma.
• Kornea tampak putih, dari jauh sudah kelihatan.

9
Gambar 6. Leukoma.
Apabila ulkus kornea sampai ke endotel akan mengakibatkan perforasi, dengan
tanda :
 Iris prolaps
 COA dangkal
 TIO menurun
Kemudian sembuh menjadi leukoma adheren (leukoma disertai sinekia anterior).4
2.3.5 Patofisiologi
Selama stadium awal, epitel dan stroma di area yang terinfeksi atau terkena
trauma akan membengkak dan nekrosis. Sel inflamasi akut (terutama neutrofil)
akan mengelilingi ulkus awal ini dan menyebabkan nekrosis lamella stroma. Pada
beberapa inflamasi yang lebih berat, ulkus yang dalam dan abses stroma yang lebih
dalam dapat bergabung sehingga menyebabkan kornea menipis dan mengelupaskan
stroma yang terinfeksi.3
Sejalan dengan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, respon imun
seluler dan humoral digabung dengan terapi antibacterial maka akan terjadi
hambatan replikasi bakteri. Mengikuti proses ini akan terjadi fagositosis organism
dan penyerapan debris tanpa destruksi selanjutnya dari kolagen stroma. Selama
stase ini, garis batas terlihat pada epitel ulkus dan infiltrate stroma berkonsolidasi
dan tepinya tumpul. Vaskularisasi kornea bisa terjadi jika keratitis menjadi kronis.
Pada stase penyembuhan, epithelium berganti mulai dari area tengah ulserasi dan
stroma yang nekrosis diganti dengan jaringan parut yang diproduksi fibroblast.
Fibroblast adalah bentuk lain dari histiosit dan keratosit. Daerah kornea yang
menipis diganti dengan jaringan fibrous. Pertumbuhan pembuluh darah baru

10
langsung di area ulserasi akan mendistribusikan komponen imun seluler dan
humoral untuk penyembuhan lebih lanjut. Lapisan Bowman tidak beregenerasi
tetapi diganti dengan jaringan fibrous. Epitel baru akan mengganti dasar yang
ireguler dan vaskularisasi sedikit demi sedikit menghilang.3
Pada beberapa ulkus yang berat, keratolisis stroma dapat berkembang
menjadi perforasi kornea. Pembuluh darah uvea dapat berperan pada perforasi yang
nantinya akan menyebabkan sikatrik kornea. Sikatrik yang terjadi setelah keratitis
sembuh dapat tipis atau tebal. Sikatrikyang tipis sekali yang hanya dapat dilihat
dengan slit lamp disebut nebula. Sedangkan sikatrik yang agak tebal dan dapat kita
lihat menggunakan senterdisebut makula. Sikatrik yang tebal sekali disebut
leukoma. Nebula difuse,yang terdapat pada daerah pupil lebih mengganggu
daripada leukoma yang kecil yang tidak menutupi daerah pupil.Hal ini disebabkan
karena leukoma menghambat semua cahaya yang masuk,sedangkan nebula
membias secara ireguler, sehingga cahaya yang jatuh di retinajuga terpencar dan
gambaran akan menjadi kabur sekali.3

Sampai ke
Agen penyebab Cedera kornea Mulai dari epitel
lapisan endotel

Kerusakan
Inflamasi Nyeri kornea Sikatrik kornea
(ulserasi)

Gambar 7. Alur Patofisiologi Sikatriks Kornea.


2.3.6 Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium.
Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya
riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang
bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simplek yang sering
kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien

11
seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi,
virus terutama keratitis herpes simplek.4
Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya nebula,
makula, leukoma.
Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti:
 Ketajaman penglihatan
 Tes refraksi
 Tes air mata
 Pemeriksaan slit-lamp
 Keratometri (pengukuran kornea)
 Respon reflek pupil
2.3.7 Tatalaksana
Ketika jaringan parut kornea cukup padat untuk mempengaruhi penglihatan,
sebuah transplantasi kornea ditunjukkan. Prosedur ini 90% berhasil karena laju
penolakan minimal (karena kurangnya pasokan darah pada kornea). Implikasi:
Pengobatan terbaik adalah pencegahan (penyakit dan cedera). Edukasi kebutuhan
akan bervariasi, tergantung kondisi individu (luas dan Iocation jaringan parut
kornea). Indikasi Keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan,
kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta
memenuhi beberapa kriteria yaitu :
1. Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita
2. Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.
3. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.1,3,5
2.3.8 Pencegahan
Pencegahan terhadap ulkus tetap dapat dilakukan dengan segera
berkonsultasi kepada ahli mata setiap kali ada keluhan pada mata. Sering kali luka
yang tampak kecil pada kornea dapat mengawali timbulnya ulkus kembali dan
mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata.
 Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata
 Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup
sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan basah

12
Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan merawat
lensa tersebut.5
2.3.9 Komplikasi
Komplikasi yang paling sering timbul berupa kebutaan parsial atau komplit.
2.3.10 Prognosis
Ad Vitam : Dubia ad Bonam
Ad Functionam : Dubia ad Malam
Ad Sanationam : Dubia ad Malam

13
BAB III

KESIMPULAN

Sikatriks kornea adalah terbentuknya jaringan parut pada kornea oleh


berbagai sebab. Dapat disebabkan oleh trauma, bekas luka, maupun sebab-sebab
lainnya. Sikatrik kornea dapat menimbulkan gangguan penglihatan mulai dari
kabur sampai dengan kebutaan. Sikatrik kornea dapat berbentuk ringan (nebula),
sedang (makula) dan berat (leukoma). Gangguan kornea merupakan penyebab
kebutaan kedua didunia setelah katarak. Sikatrik kornea lebih sering disebabkan
oleh infeksi, xeropthalmia dan trauma.
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium.
Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya
riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea.
Indikasi Keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan,
kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta
memenuhi beberapa kriteria untuk dilakukan Keratoplasti.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Edelhauser HF. The cornea and the sclera, chapter 4 in Adlers Physiology of
The eye Clinical'Aplication. 10 th ed. St.louis, Missouri, Mosby, 2005 : 47-103

2. Erry. Distribusi dan Karakteristik Sikatrik Kornea di Indonesia, Riskesdas


2007. Media Litbang Kesehatan Volume 22 Nomor 1, Maret Tahun 2012. P30-
7.
3. American Academy of Ophthalmology. External Disease and Cornea. Section
8. San Francisco; 2008-2009: 179-84.

4. Eva PR, Biswell R. Cornea In Vaughn D, Asbury T, eds. General Ophtalmology


17th ed. USA Appleton Lange; 2008. p. 126-49
5. Watsky MA, Olsen TW., Cornea and Sclera, In: Duane’s Clinical
Ophthalmology, (two volume, chapter four), Lippincott Williams & Wilkins.
USA : 2003
6. World Health Organization, Blindness: Vision 2020- Control of Major Blinding
Disease and Disorders, The Global Initiative for the Elimination of Avoidable
Blinness, feb 2000, in: http://www.who
int/mediacentre/factsheets/ts214/en/print.ht ml.

15

Anda mungkin juga menyukai