Anda di halaman 1dari 2

8/2/2017 Nelayan KLU Kalah Saing di Pemasaran - Portal Berita Harian Radar Lombok

Nelayan KLU Kalah Saing di Pemasaran


Penulis Radar Lombok - 5 November 2016

PESISIR: Anak para nelayan yang sedang menunggu kepulang orang tuanya melaut (HERY/RADAR LOMBOK)

TANJUNG-Lombok Utara memiliki 16 kawasan desa pesisir yang tersebar sepanjang di


daerah tersebut. Namun, nelayan yang berasal dari Kabupaten Lombok Utara (KLU) ini
kalah saing pada saat pemasaran dengan investor dan pengusaha besar. Dengan kondisi
seperti ini membuat masyarakat pesisir dicap sebagai masyarakat penyumbang
kemiskinan, kampung perkumuhan, dan potensi kriminilitas penyeludupan narkotika.

Untuk menghilangkan persepsi dengan meningkatkan taraf perekonomian yang lebih baik
serta permainan pasar. Para nelayan membutuhkan keberadaan pusat pemasaran seperti
pembuatan Tempat Pemasaran Ikan (TPI) yang terpusat di Lombok Utara. Sehingga
proses transaksi pembelian ikan bisa dilakukan langsung di tempat. “Kita memiliki
sebanyak 16 desa pesisir. Memang pesisir selama ini dianggap menyumbang kemiskinan
dan perkumuhan, banyak potensi kriminalitas penyeludukan nakrotika, maka selama ini
kami berupaya memberdayakan masyarakat pesisir baik bidang pengawasan, peningkatan
ekonomi, kelestarian pesisir dan laut serta memberikan pelatihan pembuatan produk
olahan ikan,” terang Sekretaris Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan dan
Perikanan (DPPKKP) Lombok Utara, Wahyu kepada Radar Lombok, Jumat (4/11).

https://www.radarlombok.co.id/nelayan-klu-kalah-saing-pemasaran.html 1/2
8/2/2017 Nelayan KLU Kalah Saing di Pemasaran - Portal Berita Harian Radar Lombok

Menurutnya, ada beberapa persoalan yang dihadapi para nelayan yaitu hampir semuanya
nelayan menggunakan armada tradisional yang tidak bisa membuat penangkapan lebih
besar. Tetapi kalaupun melakukan pembaharuan armada, yang perlu menjadi perhatian
biaya operasional ditanggung nelayan dengan mengembangkan managemen, kemitraan
investor, pengusaha dan nelayan. “Nanti kasihan akan banyak menanggung,” tandasnya.

Penyebabnya belum terintegrasi antara nelayan dan pasar, nelayan selalu berhadapan
dengan sistem pasar cukup rumit. Karena, biasanya pembeli akan mengambil dengan
harga murah, tidak memiliki nilai tawar tinggi. “Kalau bantuan tetap diberikan baik
peralatan dan pengetahuan, tapi belum mampu meningkatkan harga jual dari hasil
tangkapannya,” katanya.

Terkait volume penangkapan mengacu angka proyeksi 60 ton ikan per tahun oleh nelayan.
Dari jumlah ikan itu tidak semuanya memiliki nilai ekonomi sehingga dibeli murah. Sampai
saat ini menjadi persoalan ada di pemasarannya. Misalkan mana ikan-ikan bagus diambil
pengusaha (penendak) dengan harga murah, lalu para pengusaha ini menjual ke tempat
restoran, pengusaha bakar dengan harga lebih tinggi. Oleh karena itu, saat ini yang sangat
dibutuhkan para nelayan adanya TPI. Pihaknya saat ini tengah melihat hasil tangkapan para
nelayan dengan kouta keberadaan TPI. “Dari 16 kawasan harus diadakan 2 TPI, sehingga
bisa dimanfaatkan secara berkelompok. Karena, berbeda dengan lokasi TPI di kota-kota
besar yang memiliki kouta lebih sesuai armadanya,” harapnya.

Dalam memberikan pengetahuan lebih lanjutnya, saat ini pemerintah membuka peluang
kepada anak-anak nelayan untuk melanjutkan studi jurusan perikanan atau kelautan
dengan biaya gratis. “Ini yang perlu didorong supaya anak-anak nelayan kedepan bisa
menjadi pengusah ikan atau lebih baik daripada orang tuanya,” pungkasnya. (flo)

https://www.radarlombok.co.id/nelayan-klu-kalah-saing-pemasaran.html 2/2