Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Dewasa ini epidemi penyakit tidak menular muncul menjadi penyebab
kematian terbesar di Indonesia, sedangkan epidemi penyakit menular juga belum
tuntas, selain itu semakin banyak pula ditemukan penyakit infeksi baru dan
timbulnya kembali penyakit infeksi yang sudah lama menghilang, Sehingga
Indonesia memiliki beban kesehatan ganda yang berat. Berdasarkan studi
epidemiologi terbaru, Indonesia telah memasuki epidemi DM. Perubahan gaya
hidup dan urbanisasi nampaknya merupakan penyebab penting masalah ini, dan
terus menerus meningkat pada milenium baru ini (Perkeni, 2011).
Diabetes mellitus (DM) sendiri merupakan salah satu jenis penyakit metabolik
yang selalu mengalami peningkat setiap tahun di negara-negara seluruh dunia.
Berdasarkan perolehan data Internatonal Diabetes Federatiaon (IDF) tingkat
prevalensi global penderita DM pada tahun 2012 sebesar 8,4 % dari populasi
penduduk dunia, dan mengalami peningkatan menjadi 382 kasus pada tahun 2013.
IDF memperkirakan pada tahun 2035 jumlah insiden DM akan mengalami
peningkatan menjadi 55% (592 juta) di antara usia penderita DM 40-59 tahun
(IDF, 2013).
Hal yang sama menurut World Health Organization (WHO), penderita
Diabetes Mellitus diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun.
penderita DM pada tahun 2000 adalah 135 juta dan diperkirakan akan menjadi 366
juta orang di tahun 2025. Kawasan Asia diperkirakan mempunyai populasi
penderita DM terbesar di dunia. Berdasarkan penelitian Departemen Kesehatan
tahun 2001, untuk jenis penyakit DM di Indonesia menempati urutan keempat di
dunia setelah India,China dan Amerika Serikat. Tercatat 7,5% penduduk di Pulau
Jawa dan Bali, baik pria maupun wanita menderita DM (Hardjosubroto, 2007).
Seiring dengan pola pertambahan penduduk, pada 2005 di Indonesia ada 171
juta penduduk berusia di atas 15 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM maka
terdapat kira-kira 24 juta penderita DM. Kasus DM yang ditemukan di Provinsi
Jawa Tengah khususnya sebanyak 151.075. Rata-rata kejadian kasus DM pertahun
di Jawa Tengah adalah 4.316,42 kasus (Dinas Kesehatan Prop. Jawa Tengah,
2005).
Insidensi DM di Banyumas menurut laporan Dinas Kesehatan (2006)
menduduki urutan pertama dalam kasus penyakit tidak menular di puskesmas dan
rumah sakit yang mencapai nilai 21.363 kasus. Insidensi tertinggi terjadi pada
puskesmas Purwokerto Barat ditemukan 2058 kasus DM, sedangkan di
Purwokerto Selatan sebanyak 1912 kasus DM. Prevalensi yang signifikan pada
tingkat kenaikan jumlah klien menunjukkan bahwa angka penderita semakin naik
setiap tahunnya. Terlebih lagi para penderita DM ini bukan hanya golongan
masyarakat tingkat menengah ke atas, mereka yang dikatakan ekonomi lemah pun
mulai terjangkit kelainan metabolik ini (Dinas Kesehatan Kabupaten, 2006).
Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular ini sendiri menjadi masalah
serius dalam pembangunan, karena dapat mengancam pertumbuhan ekonomi
nasional. Untuk itu dikembangkan model pengendalian PTM berbasis masyarakat
melalui Posbindu PTM. Posbindu PTM merupakan bentuk peran serta masyarakat
dalam upaya pengendalian faktor risiko secara mandiri dan berkesinambungan.
Pengembangan Posbindu PTM dapat dipadukan dengan upaya yang telah
terselenggara di masyarakat. Melalui Posbindu PTM, dapat sesegeranya dilakukan
pencegahan faktor risiko PTM sehingga kejadian PTM di masyarakat dapat
ditekan (Riskesdas,2007).
Dewasa ini Program Posbindu tidak bisa lepas dari Program Pengelolaan
Penyakit Kronis (Prolanis) dimana Prolanis merupakan sistem pelayanan
kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang
melibatkan Peserta, Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka
pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit
kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan
kesehatan yang efektif dan efisien. Tujuan-nya adalah untuk mendorong peserta
penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal dengan indikator
75% peserta terdaftar yang berkunjung ke Faskes Tingkat Pertama memiliki hasil
“baik” pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi
sesuai Panduan Klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi
penyakit (BPJS Kesehatan, 2016).
Diketahuai bahwasanya penyakit DM sering menimbulkan berbagai macam
komplikasi berupa stroke, gagal ginjal, jantung, nefropati, kebutaan dan bahkan
harus menjalani amputasi jika anggota badan menderita luka gangren (Annisa,
2004). Oleh sebab itu, pengobatan DM memerlukan peran serta aktif penderitanya.
Pengetahuan penderita tentang factor risiko sangat penting untuk dapat menjadi
dasar menetapkan tindakan meminimalkan angka kejadian penyakit DM yang
semakin meluas pada sosial ekonomi rendah, usia muda maupun pekerja kasar.
Untuk merancang pendekatan agar tercapai keberhasilan dalam pengobatan
makaperlu diketahui bagaimana persepsi penderita akan penyebab penyakit dan
dampak yang dirasakan akibat penyakit tersebut.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan data survey pendahuluan yang didapatkan, kami bermaksud
mengadakan studi mengenai hubungan tingkat pengetahuan warga terhadap angka
kejadian DM di Kecamatan Cilongok dengan melakukan screening awal pada
penderita DM melalui program Posbindu dan melakukan pemantau
perkembangan pasien DM yang telah mendapatkan intervensi melalui Prolanis
dalam upaya pengobatan DM.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Mengetahuai pengaruh program penatalaksanaan DM terhadap
pengendalian kadar gula darah pasien DM.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengaruh program prolanis terhadap pengendalian kadar gula
darah pasien DM.
b. Mengetahui pengaruh program Posbindu dengan Prolanis terhadap
pengendalian kadar gula darah pasien DM.
D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
Menambah ilmu pengetahuan khususnya di bidang kesehatan dalam kasus
Diabetes Mellitus dan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian
selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Puskesmas
Studi ini diharapkan dapat memberikan data prevalensi Diabetes Melitus
dan menjadi rekomendasi bagi PKM dalam tatalaksana DM di wilayah
kerja Puskesmas.
b. Bagi Penderita DM
Studi ini diharapkan dapat memberikan informasi dan meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang DM.
c. Bagi Peneliti
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengaplikasikan ilmu
yang diperoleh, selama melaksanakan program internsip di Puskesmas I
Cilongok.