Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum Puskesmas I Cilongok


1. Keadaan Geografi
Puskesmas I Cilongok berada pada ketinggian 225 meter dari permukan laut,
dengan wilayah kerja yang berbatasan dengan:
Sebelah utara : Karesidenan Pekalongan
Sebelah selatan : Wilayah kerja Puskesmas II Cilongok
Sebelah timur : Wilayah kerja Puskesmas II Cilongok dan Karanglewas
Sebelah barat : Wilayah kerja Puskesmas II Ajibarang dan Pekuncen
Wilayah kerja Puskesmas I Cilongok meliputi sebelas desa yang berada di
Kecamatan Cilongok, yaitu desa Cilongok, Cikidang, Pernasidi, Rancamaya,
Panembangan, Karanglo, Kalisari, Karangtengah, Sambirata, Gununglurah, Sokawera.
Sebagian besar wilayah kerja terdiri dari dataran tinggi (73,5%) dan hanya sebagian
kecil dataran rendah (26,5%). Sedangkan luas penggunaan lahan di wilayah kerja
Puskesmas I Cilongok terbanyak dalam bentuk tanah sawah (25%) dan tanah hutan
(25%).
2. Keadaan Demografis
Pertumbuhan Penduduk
Jumlah penduduk di wilayah Puskesmas I Cilongok adalah sebanyak 68.818 jiwa
yang terdiri dari 34.153 jiwa laki – laki dan 34.665 jiwa perempuan yang tergabung
dalam 20.034 KK. Jumlah penduduk tertinggi yang tercatat adalah di desa
Karangtengah yaitu sebanyak 10.134 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terendah
adalah di desa Cikidang sebanyak 3289 jiwa. Rata-rata jiwa per rumah tangga adalah
sebesar 3 jiwa / rumah tangga.
Kepadatan Penduduk
Rata – rata kepadatan penduduk di wilayah Puskesmas I Cilongok adalah sebesar
1.108 jiwa/ km2. Desa yang paling padat penduduknya adalah desa Cilongok dengan
tingkat kepadatan sebesar 2454 jiwa/ km2, sedangkan desa dengan tingkat kepadatan
terendah adalah desa Karangtengah dengan tingkat kepadatan sebesar 588 jiwa/ km2.
Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur
Jumlah penduduk terbesar di wilayah kerja Puskesmas I Cilongok adalah antara
umur 45 - 49 tahun sebanyak 8.356 jiwa.Sedangkan golongan usia dengan jumlah
terendah adalah usia >75 tahun sebanyak 245 jiwa.
3. Keadaan Sosial Ekonomi
Tingkat Pendidikan
Penduduk di wilayah kerja Puskesmas I Cilongok baik laki – laki maupun
perempuan berusia 10 tahun keatas yang memiliki tingkat pendidikan Perguruan tinggi
atau sederajat adalah sejumlah 939 jiwa atau sekitar 2,2 % dan Tamat SMA atau
sederajat sebesar 5.854 jiwa atau sekitar 15,7 %. Jumlah ini masih relatif rendah
dibandingkan penduduk yang hanya lulus SD yaitu sebesar 22.642 jiwa atau 23 %.
Tingkat pendidikan sebagian besar penduduk di Wilayah Puskesmas I Cilongok ini,
akan juga berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan masyarakat, khususnya tentang
kesehatan.
Mata Pencaharian
Mata pencaharian sebagian besar penduduk di wilayah Puskesmas I Cilongok
adalah sebagai buruh tani yaitu sebesar 9,51 %, sebagai pengusaha hanya sebesar 3,56
% sedangkan yangberpenghasilan sebagai PNS sebesar 1 % atau ABRI hanya sebesar
0,1 %.
Sarana penunjang laju perekonomian di wilayah Puskesmas Cilongok antara lain
adalah adanya pasar tradisional, warung / Toko, Badan kredit, Lumbung Desa dan
Koperasi Unit Desa.Sarana transportasi umum yang mendukung aktifitas penduduk di
wilayah kerja Puskesmas I Cilongok antara lain adalah Angkutan Perdesaan
(Angkudes), Angkutan Bis dalam propinsi serta antar propinsi juga ojek.
Fasilitas tempat sarana peribadatan di wilayah kerja Puskesmas I Cilongok antara
lain adalah Mushola dan Masjid yang sebagian besar pendiriannya merupakan swadana
Masyarakat.Sedangkan fasilitas pendukung bagi peningkatan taraf pendidikan
penduduk di wilayah Puskesmas I Cilongok adalah adanya Sarana Kelompok Bermain
(KB)/ PAUD Pendidikan Anak Usia Dini , Taman Kanak Kanak (TK), Sekolah Dasar
(SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Angka Kejadian Penyakit


Menurut data dari buku Profil KesehatanPuskesmas I Cilongok tahun 2013,
diketahui jumlah kasus penyakit menular yaitu TB paru dengan BTA positif sebanyak
63 kasus, Demam Berdarah Dengue sebanyak 17 kasus, Diare sebanyak 821 kasus,
Pneumonia sebanyak 140 kasus, HIV dan AFP nihil. Sedangkan penyakit tidak menular
atau degenerative seperti Diabetes Melitus, Dislipidemia, Hipertensi belum ada
datanya.

B. POSBINDU
1. Definisi, Sasaran dan Pelaku Kegiatan
Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) menurut Depkes RI (2002) adalah pusat
bimbingan pelayanan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh
masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapai
masyarakat yang sehat dan sejahtera
Posbindu adalah suatu bentuk pelayanan untuk mendeteksi dan mengendalikan
secara dini keberadaan faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) yang melibatkan
peran serta masyarakat melalui upaya promotif dan preventif. PTM tertentu yg
dikendalikan dalam pelayanan posbindu adalah Hipertensi, penyakit jantung koroner,
Diabetes, kanker, Penyakit paru obstruktif kronis, osteoporosis, asam urat, asma, stroke,
obesitas (kegemukan), batu ginjal, serta gangguan akibat kecelakaan dan tindak
kekerasan.
Sasaran posbindu PTM adalah seluruh masyarakat baik laki-laki atau perempuan
usia diatas 15 tahun yang memiliki atau tidak memilki faktor resiko, masyarakat yang
sehat dan penyandang PTM. Di puskesmas I Cilongok, telah berjalan 5 POSBINDU
(Desa Panembangan, Karang Lo, Karang Tengah, Cikidang dan Gunung Lurah) yang
telah memiliki jadwal tetap setiap bulannya.
Posbindu dibentuk oleh masyarakat bersama organisasi profesi, institusi pemerintah
atau swasta, atau lembaga swadaya masyarakat. Posbindu dilaksanakan berdasar pada
azas gotong royong untuk sehat dan sejahtera, yang diorganisir oleh ketua, dibantu
sekretaris dan bendahara serta kader kesehatan yang bersedia menyelenggarakan
posbindu PTM, yang dilatih secara khusus, dibina atau difasilitasi untuk melakukan
pemantauan faktor risiko PTM di masing - masing kelompok atau organisasinya.
Kriteria Kader Posbindu PTM antara lain berpendidikan minimal SLTA, mau dan
mampu melakukan kegiatan berkaitan dengan Posbindu PTM. Pada teknis
pelaksanaannya, Posbindu di Puskesmas I Cilongok terdapat 6 meja yaitu:
- Meja 1 untuk pendaftaran
- Meja 2 untuk pengukuran BB, TB serta IMT
- Meja 3 untuk pemeriksaan (tekanan darah, gula darah, Hb, asam urat, kolesterol
dll). Pemeriksaan laboratorium sederhana seperti gula darah, kolesterol, asam urat
dilakukan setiap 1 bulan bagi penderita, setiap 3 bulan bagi peserta yang berisiko,
sedangkan bagi peserta lainnya dilakukan setiap 6 bulan;
- Meja 4 untuk konseling kesehatan, gizi dan kesejahteraan;
- Meja 5 untuk informasi dan kegiatan sosial.
- Meja 6 untuk pengobatan sederhana.
Alur tidak lanjut dan rujukan kegiatan Posbindu :

2. Tujuan dan Manfaat


Tujuan diadakannya Posbindu adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan. Jadi
dengan adanya Posbindu diharapkan adanya kesadaran dari usia lanjut untuk membina
kesehatannya serta meningkatkan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam
mengatasi kesehatan usia lanjut. Fungsi dan tugas pokok Posbindu yaitu membina
lansia supaya tetap bisa beraktivitas, namun sesuai kondisi usianya agar tetap sehat,
produktif dan mandiri selama mungkin serta melakukan upaya rujukan bagi yang
membutuhkan (Depkes, 2007). Menurut Effendy (1998), tujuan pokok dari pelayanan
Posbindu adalah:
- Memperlambat angka kematian kelompok masyarakat lansia
- Meningkatkan pelayanan kesehatan kelompok masyarakat lansia
- Meningkatkan kemampuan kelompok masyarakat lansia untuk mengembangkan
kegiatan kesehatan dari kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan hidup
sehat
- Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan pada kelompok masyarakat lansia
dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan pada penduduk
berdasarkan letak geografis
- Meningkatkan pembinaan dan bimbingan peran serta kelompok masyarakat lansia
dalam rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat.
Dengan meningkatnya derajat kesehatan dan mutu kehidupan diharapkan dapat
tercipta active ageing, yaitu masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat.
Pada tahap Posbindu ini, kita dapat mendeteksi pasien – pasien baru penyakit tidak
menular (penyakit kronis) terutama Diabetes Mellitus tipe 2 dan Hipertensi yang bisa
diikutkan program pengelolaan penyakit kronis atau PROLANIS (Kemenkes, 2012).
C. PROLANIS
1. Definisi
PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) adalah suatu sistem pelayanan
kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang
melibatkan Peserta, Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka
pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan, KIS dan Askes yang menderita
penyakit kronis terutama penyakit diabetes mellitus dan hipertensi untuk mencapai
kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.
2. Tujuan
Mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal
dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke Faskes Tingkat Pertama
memiliki hasil “baik” pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM Tipe 2 dan
Hipertensi sesuai Panduan Klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya
komplikasi penyakit
3. Sasaran
Seluruh Peserta BPJS Kesehatan, Kartu Indonesia Sehat dan Askes penyandang
penyakit kronis (Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi)
4. Bentuk Pelaksanaan
Aktifitas dalam Prolanis meliputi aktifitas konsultasi medis/edukasi, Home Visit,
Reminder, aktifitas klub dan pemantauan status kesehatan.
5. Penanggung Jawab
Penanggung jawab adalah Kantor Cabang BPJS Kesehatan bagian Manajemen
Pelayanan Primer.
6. Langkah Pelaksanaan
Persiapan pelaksanaan PROLANIS:
a. Melakukan identifikasi data peserta sasaran berdasarkan hasil skrining riwayat
kesehatan dan atau hasil diagnosa DM dan HT (pada Faskes Tingkat Pertama
maupun RS)
b. Menentukan target sasaran
c. Melakukan pemetaan Faskes Dokter Keluarga/ Puskesmas berdasarkan distribusi
target sasaran peserta
d. Menyelenggarakan sosialisasi Prolanis kepada Faskes Pengelola
e. Melakukan pemetaan jejaring Faskes Pengelola (Apotek, Laboratorium)
f. Permintaan pernyataan kesediaan jejaring Faskes untuk melayani peserta
PROLANIS
g. Melakukan sosialisasi PROLANIS kepada peserta (instansi, pertemuan kelompok
pasien kronis di RS, dan lain-lain)
h. Penawaran kesediaan terhadap peserta penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 dan
Hipertensi untuk bergabung dalam PROLANIS
i. Melakukan verifikasi terhadap kesesuaian data diagnosa dengan form kesediaan
yang diberikan oleh calon peserta Prolanis
j. Mendistribusikan buku pemantauan status kesehatan kepada peserta terdaftar
PROLANIS
k. Melakukan rekapitulasi data peserta terdaftar
l. Melakukan entri data peserta dan pemberian flag peserta PROLANIS
m. Melakukan distribusi data peserta Prolanis sesuai Faskes Pengelola
n. Bersama dengan Faskes melakukan rekapitulasi data pemeriksaan status kesehatan
peserta, meliputi pemeriksaan GDP, GDPP, Tekanan Darah, IMT, HbA1C. Bagi
peserta yang belum pernah dilakukan pemeriksaan, harus segera dilakukan
pemeriksaan
o. Melakukan rekapitulasi data hasil pencatatan status kesehatan awal peserta per
Faskes Pengelola (data merupakan luaran Aplikasi P-Care)
p. Melakukan Monitoring aktifitas PROLANIS pada masing-masing Faskes Pengelola
q. Menyusun umpan balik kinerja Faskes PROLANIS
r. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/ Kantor Pusat
Gambar 2.1 Skema Pengelolaan Penyakit Kronis Bagi Peserta BPJS Kesehatan
Aktifitas PROLANIS antara lain:
a. Konsultasi Medis Peserta Prolanis : jadwal konsultasi disepakati bersama antara
peserta dengan Faskes Pengelola
b. Edukasi Kelompok Peserta Prolanis
Edukasi Klub Risti (Klub Prolanis) adalah kegiatan untuk meningkatkan
pengetahuan kesehatan dalam upaya memulihkan penyakit dan mencegah
timbulnya kembali penyakit serta meningkatkan status kesehatan bagi peserta
PROLANIS.
Sasaran terbentuknya kelompok peserta (Klub) PROLANIS minimal 1 Faskes
Pengelola 1 Klub. Pengelompokan diutamakan berdasarkan kondisi kesehatan
Peserta dan kebutuhan edukasi.
c. Reminder melalui SMS Gateway
Reminder adalah kegiatan untuk memotivasi peserta untuk melakukan kunjungan
rutin kepada Faskes Pengelola melalui pengingatan jadwal konsultasi ke Faskes
Pengelola tersebut. Sasarannya adalah tersampaikannya reminder jadwal konsultasi
peserta ke masing-masing Faskes Pengelola.
d. Home Visit
Home Visit adalah kegiatan pelayanan kunjungan ke rumah Peserta PROLANIS
untuk pemberian informasi/edukasi kesehatan diri dan lingkungan bagi peserta
PROLANIS dan keluarga. Sasarannya adalah peserta PROLANIS dengan kriteria :
- Peserta baru terdaftar
- Peserta tidak hadir terapi di Dokter Praktek Perorangan/Klinik/Puskesmas 3
bulan berturut - turut
- Peserta dengan GDP/GDPP di bawah standar 3 bulan berturut-turut (PPDM)
- Peserta dengan Tekanan Darah tidak terkontrol 3 bulan berturut-turut (PPHT)
- Peserta pasca opname
7. Hal – hal yang Perlu Mendapat Perhatian
a. Pengisian formulir kesediaan bergabung dalam PROLANIS oleh calon peserta
PROLANIS. Peserta PROLANIS harus sudah mendapat penjelasan tentang
program dan telah menyatakan kesediaannya untuk bergabung.
b. Validasi kesesuaian diagnosa medis calon peserta. Peserta PROLANIS adalah
peserta BPJS yang dinyatakan telah terdiagnosa DM Tipe 2 dan atau Hipertensi
oleh Dokter Spesialis di Faskes Tingkat Lanjutan.
c. Peserta yang telah terdaftar dalam PROLANIS harus dilakukan proses entri data
dan pemberian flag peserta didalam aplikasi Kepesertaan. Demikian pula dengan
Peserta yang keluar dari program.
d. Pencatatan dan pelaporan menggunakan aplikasi Pelayanan Primer (P-Care).
(Panduan Praktis PROLANIS, 2014)

D. Diabetes Mellitus
1. Definisi dan Etiologi
Diabetes Mellitus adalah suatu kelompok penyakit metabolic yang ditandai oleh
hiperglikemia akibat defek pada kerja insulin (resistensi insulin) di hati (peningkatan
produksi glukosa hepatic dan di jaringan perifer (otot dan lemak); sekresi insulin oleh
sel beta pancreas atau keduanya. (American Diabetes Association (ADA), 2010)
Pada resistensi insulin, sel beta langerhans masih bias mengkompensasi dengan
meningkatkan sekresi insulin sehingga terjadi hiperinsulinemia. Makin lama sel beta
langerhans menurun kerjanya sehingga produksi insulin menurun sehingga terjadi
hiperglikemia awal. Ketika produksi insulin semakin menurun menyebabkan glukosa
puasa meningkat karena hepar memecah glukosa sehingga terjadi hiperglikemia fase
lanjut yang memperberat gangguan sekresi insulin. Pada tahap ini, terjadi
glukotoksisitas dan Lipotoksisitas karena resistensi insulin juga peningkatan lipolisis.
2. Epidemiologi
Pada tahun 2013, penderita diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai 8,5 juta
orang dengan rentang usia 20-79 tahun (dikutip dari Federasi Diabetes Internasional).
Tetapi kurang dari setengah dari mereka yang menyadari kondisinya. Jadi pada
umumnya diabetes merupakan penyakit yang banyak menyerang orang Indonesia.
Pada tahun 2011, orang dewasa yang mengidap diabetes di Asia Tenggara
diperkirakan mencapai 71,4 juta jiwa atau sekitar 8,3% dari total populasi dewasa di
wilayah ini. Dengan kondisi seperti ini, seharusnya deteksi dini bagi para penderita
diabetes perlu dilakukan secara terintegrasi.
3. Faktor Resiko dan Komplikasi
Menurut Zahtamal, Fifi Chandra, Suyanto, dan Tuti Restuastuti (2007) serta Depkes
RI (2008), faktor-faktor risiko DM dibagi menjadi factor risiko yang dapat dimodifikasi
dan tidak dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain:
a. Riwayat keluarga dengan diabetes melitus
b. Usia
Risiko untuk menderita prediabetes meningkat seiring meningkatnya usia
c. Riwayat pernah menderita diabetes gestasional dan melahirkan bayi dengan berat
badan≥4,5 kg
d. Riwayat BBL rendah, <2500 gr
e. Etnis
Sedangkan factor risiko yang dapat dimodifikasi adalah sebagai berikut:
a. Berat badan lebih yaitu BB > 120% BB idamanatau IMT > 23 kg/m 2 dan rasio
lingkar pinggang-pinggul untuk laki-laki 0,9 dan perempuan 0,8.
b. Kurang aktivitas fisik
c. Hipertensi (≥140/90 mmHg pada dewasa)
d. Dislipidemia, yaitu Kolesterol HDL ≤ 35 mg/dl dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dl
e. Memiliki riwayat penyakit kardiovaskular
f. Diet yang tidak sehat, yaitu tinggi gula dan rendah serat
g. Orang dengan IFG (impaired fasting glucose) dan IGT (impaired glucose tolerance)
h. Kepribadian tipe A
i. Pengetahuan yang kurang baik tentang penyakit DM

Komplikasi-komplikasi kronik pada organ-organ tubuh, misalnya :


a. Gagal ginjal ringan sampai berat
b. Mata kabur disebabkan adanya katarak atau kerusakan retina
c. Gangguan pada syaraf tepi yang ditandai dengan gejala kesemutan, baal – baal pada
anggota tubuh.
d. Gangguan syaraf pusat yang dapat menimbulkan gangguan peredaran darah otak
sehingga memudahan terjadinya stroke
e. Gangguan pada jantung berupa penyakit jantung koroner
f. Gangguan pada hati berupa perlemakan hati dan sirosis hati
g. Gangguan pada pembuluh darah berupa penyakit hipertensi dan penebalan dinding
pembuluh darah (arterosklerosis)
h. Gangguan pada syaraf dan pembuluh darah dapat menimbulkan impotensi
i. Paru – paru mudah terserang penyakit tuberkulosis

4. Diagnosis dan Gejala


Gejala khas Diabetes adalah poliuri, polidipsi, polifagi dan penurunan berat badan
tanpa sebab yang jelas. Gejala tidak khas lainnya seperti lemas, kesemutan, luka sulit
sembuh, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi, pruritus vulva.
Kriteria diagnosis Diabetes menurut Perkeni dan ADA 2010 adalah sebagai berikut;
- Gejala klasik DM + glukosa plasma sewaktu >= 200 mg/dL atau
- Gejala klasik DM + glukosa plasma puasa >= 126 mg/dL, A1C >= 6,5%, puasa
diartikan pasien tidak mendapatkan kalori tambahan sedikitnya 8 jam, atau
- Glukosa plasma 2 jam pada TTGO >= 200 mg/dL.

Gambar 2.2 Skema Diagnosis Diabetes Melitus

Gambar 2.3 Terjadinya Progesifitas dari Resistensi Insulin pada Diabetes Melitus tipe 2
5. Penatalaksanaan
Pada penatalaksanaan Diabetes Melitus terkenal dengan 4 pilar DM, yaitu;
- Edukasi
Dibutuhkan kerjasama anatara dokter, perawat, pasien dan educator. Disini
pasien diberikan pengertian dan penjelasan tentang penyakit, terapi, gaya hidup dan
lain – lain.
- Pengaturan diet/makan
Pengaturan makanan disini dilihat dari jumlah, jenis, jadwal sehingga perlu
konsultasi dengan ahli gizi dalam menyusun menu.
Kebutuhan kalori orang berbaring di rumah sakit dan orang yang
bekerja/olahraga sangat berbeda. Pengertian diet yang salah adalah mengurangi
makanan, padahal sebenarnya diet pada penderita DM harus disesuaikan dengan
kebutuhan penderita sesuai dengan umur, berat badan, aktifitas fisik, penyakit-
penyakit yang ada, kehamilan dan lain – lain.
Kebutuhan kalori basal 25 – 30 kal/kg BB; pemberian takaran makanan kepada
penderita diabetes mellitus terutama ditujukan agar berat badan tetap ideal,
sehingga kebutuhan kalori basal bisa ditambah atau dikurangi sesuai dengan
aktifitas dan keadaan penderita . Untuk orang berusia lanjut , jumlah kalori bisa
dikurangi 5 – 20 %. Untuk penderita-penderita kegemukan, kalori yang diperlukan
harus dikurangi 20 % – 30 % . Sedang untuk penderita yang kurus, kalori basal
harus ditambah 20% – 30 %.
Untuk menentukan kebutuhan kalori tiap penderita diabetes secara tepat,
memang diperlukan perhitungan dan waktu agak lama , sehingga ia perlu tinggal di
rumah sakit atau klinik untuk mempermudah penentuan diet standar.

Standar I 1100 kalori


II 1300 kalori
III 1500 kalori
IV 1700 kalori
V 1900 kalori
VI 2100 kalori
VII 2300 kalori
VIII 2500 kalori

Standar I – III untuk orang gemuk


Standar IV – V untuk orang berat badan ideal
Standar VI – VII untuk orang kurus
(DR. Dr. Mardi Santoso, DTMH, SpPD, K-EMD, FINASIM, FACE, 2015)
- Latihan jasmani atau olahraga
Olahraga yang dilakukan harus bersifat, continous (dilakukan terus menerus),
rhythmic (dilakukan secara berirama dan teratur), interval (latihan dilakukan selang
seling, kadang cepat kadang lambat tanpa henti), progresif (latihan dilakukan secara
bertahap dengan beban latihan ditingkatkan secara perlahan-lahan), endurance
(latihan ketahanan untuk meningkatkan kesegaran jantung dan pembuluh darah
penderita). Frekuensinya dalam seminggu sebaiknya dilakukan secara teratur 3-5
kali perminggu dengan intensitas ringan dan sedang (60-70% maximum heart rate)
durasi 30-60 menit dengan jenis latihan aerobic untuk meningkatkan kemampuan
kardiorespirasi seperti jalan, jogging, berenang dan bersepeda.
- Farmakologi atau obat – obatan
Terapi farmakologis terdiri dari obat oral (OHO) dan bentuk suntikan yaitu
insulin. Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 5 golongan:
a. Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue): sulfonylurea dan glinid.
b. Peningkat sensitivitas terhadap insulin: metformin dan tiazolidindion. First line
terapi untuk DM tipe 2 dengan obesitas.
c. Penghambat glukosilase alfa : menghambat disakaridase di usus halus dan
memperlambat penghancuran karbohidrat komplek.
d. Penghambat DPP IV: meningkatkan aktivitas incretin
e. Insulin