Anda di halaman 1dari 37

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Umum

Dewasa ini teknologi terus berkembang seiring kemajuan jaman. Teknologi di


bidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat, termasuk teknologi
dalam bidang geoteknik. Sudah jamak diketahui bersama bahwa untuk mempercepat
dalam perhitungan dan meminimalisir kesalahan pada saat menghitung kestabilan
dinding penahan tanah dengan menggunakan program bantu Geo5. Geo5 merupakan
sederetan program yang dibuat untuk memecahkan berbagai macam permasalahan
geoteknik. Tujuan dari perencanaan dinding penahan tanah dengan menggunakan
program Geo5 adalah merencanakan dimensi dan stabilitas dinding penahan tanah
terhadap bahaya pergeseran, penggulingan dan keruntuhan daya dukung tnahdengan
metode manual.

Kemudian diolah dengan menggunakan program Geo5. Penggunaan program


Geo5 untuk mencari nilai keamanan dari stabilitas dinding penahan tanah. Untuk
menghindari adanya perluasan pembahasan, maka dipakai batasan masalah dalam
perencanaan ini, yaitu perencanaan ini dilakukan di Jalan Piyungan – Batas Gunung
Kidul, penelitian ini menggunakan dinding penahan tanah jenis dinding penahan beton
bertulang dengan balok kantilever (Reinforced concrete cantilever walls) yang
menggunakan struktur dari beton, kontrol stabilitas dinding penahan tanah terhadap
gaya pergeseran, penggulingan, serta terhadap keruntuhan kapasitas dukung tanah
yang menggunakan persamaan Vesic (1975).

Pondasi dapat didefenisikan sebagai bangunan yang berada dalam tanah yaitu
bagian yang berdekatan dengan elemen bagian bawah tanah serta bangunan.
Sedangkan teknik pondasi atau rekayasa pondasi dapat didefenisikan sebagai ilmu
pengetahuan dan seni yang memakai prinsip mekanika tanah dan konstruksi secara
sama – sama.
Ada dua jenis pondasi yakni :
- Pondasi dangkal.
- Pondasi dalam.

Yang termasuk pondasi dangkal yakni pondasi telapak,pondasi menerus ,pondasi


lingkaran dan pondasi tembok penahan.
Dalam hal ini kita akan bahas tentang pondasi dangkal khususnya pondasi
tembok penahan tanah. Tembok penahan tanah dapat didefenisikan sebagai suatu
bangunan yang dibangun dengan tujuan untuk mencegah keruntuhan tanah yang
curam atau lereng yang dibangun ditempat dimana kemantapan tidak dapat dijamin
oleh lereng tanah itu sendiri.

Faktor yang mempengaruhi pondasi yaitu :


- Bangunan itu sendiri.
- Kondisi tanah yang ditempati.

Dalam pengerjaan pondasi tembok penahan tanah factor yang bsrpsngaruh yakni
kondisi tanah yang ditempati,bila dilakukan pengerjaan tanah seperti penanggulangan
atau pemotongan tanah.

Konstruksi dinding penahan merupakan salah satu jenis konstruksi sipil yang
berfungsi untuk menahan gaya tekanan aktif lateral suatu tanah maupun air. Oleh
karena itu suatu konstruksi dinding penahan haruslah direncanakan dan dirancang agar
aman terhadap gaya-gaya yang berpotensi menyebabkan kegagalan struktur. Pada
prinsipnya dinding penahan menerima gaya-gaya berupa momen guling, gaya berat
sendiri, gaya lateral tanah/air aktif -pasif, gaya gelincir/sliding dan gaya angkat(uplift).
Dengan demikian kestabilan suatu konstruksi dinding penahan harus dirancang agar
dapat menahan gaya-gaya tersebut.

2
B. Rumusan masalah.

Dalam pembahasan ini masalah yang akan dibahas adalah pengertian, fungsi,
penggunaan, dan gambar tentang :

a. Tembok penahan pasangan batu


b. Tembok penahan type grafitasi
c. Tembok penahan type semi grafitasi
d. Tembok penahan type menyandar
e. Tembok penahan type balok kantilever
f. Tembok penahan type yang diperkuat dengan penopang
g. Tembok penahan type topangan
h. Tembok penahan type kotak
i. Tembok penahan dengan metode penguatan tanah
j. Tembok penahan bentuk Y terbalik.

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dinding Penahan Tanah

Dinding penahan tanah merupakan jenis struktur di bidang geoteknik yang


berfungsi untuk menahan massa tanah dimana terdapat perbedaan kontur ataupun
elevasi yang berbeda. Jenis struktur semacam ini biasa terbuat dari material kayu,
batu, beton, ataupun baja. Adapun yang menggabungkan struktur penahan tanah
dengan material geosyntetic untuk menaikan stabilitas ataupun kekuatan tanah.
Berdasarkan klasifikasinya struktur penahan tanah pada umumnya dapat
dibagi menjadi beberapa jenis yaitu :
a. Gravity wall

Gravity wall adalah jenis struktur penahan tanah yang memanfaatkan berat
sendiri struktur untuk menahan beban tanah dari kegagalan bearing capacity,
overturning, maupun sliding
b. Cantilever wall

Cantilever wall adalah jenis struktur penahan tanah yang biasa terbuat dari
material beton bertulang dan memiliki plat pada dasar struktur (key base
slab)
c. Counterford wall

Counterford wall adalah jenis struktur penahan tanah yang memiliki siar
penyangga pada bagian belakang struktur tersebut yang berfungsi untuk
menyeimbangkan struktur akibat beban tanah
d. Butressed Wall

4
Butressed wall adalah jenis struktur penahan tanah yang memiliki prinsip
kerja yang sama dengan counterford wall dimana terdapat siar penyangga
namun di bagian depan struktur

(Sumber : Earth
Retaining Wall Structures
Manual, 2010)

Gambar 2.1. Struktur Penahan Tanah

Dinding penahan tanah pada dasarnya berfungsi untuk menahan tekanan


tanah lateral yang dapat disebabkan oleh tanah urug atau tanah asli yang labil. Jenis
struktur ini biasa banyak diaplikasikan pada dunia teknik sipil terutama untuk
proyek-proyek seperti irigasi, pelabuhan, jalan raya, bendungan, dinding basement,
pangkal jembatan, dan lain-lainnya. Berikut adalah detail aplikasi yang umum
digunakan dengan struktur dinding penahan tanah :
a. Jalan raya atau jalan kereta api yang ditinggikan atau direndahkan sesuai

dengan elevasi rencana

b. Jalan raya atau jalan kereta api yang dibangun di daerah lereng

c. Dinding penahan tanah sebagai batas pinggiran kanal

d. Dinding penahan yang digunakan untuk menahan atau mengurai banjir akibat

sungai yang disebut flood walls

e. Dinding penahan tanah yang biasa digunakan pada struktur jembatan yang

disebut abutment

f. Dinding penahan sebagai tempat untuk menyimpan material-material tertentu

5
(Sumber : Hungtington, 1961)
Gambar 2.2. Aplikasi Struktur Penahan Tanah

2.2 Tegangan Tanah Lateral

Tekanan tanah lateral merupakan gaya yang dikarenakan ada gerakan


dorongan tanah terhadap struktur penahan tanah dalam arah horizontal atau
lateral. Oleh sebab itu jenis struktur yang menerima gaya lateral harus didesign
sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada sehingga struktur tidak mengalami
kegagalan.
Faktor-faktor yang mepengaruhi tegangan tanah lateral antara lain :
a. Besarnya nilai koefisien tegangan lateral dalam keadaan diam (Ko), aktif (Ka),

dan pasif (Kp)

b. Besarnya nilai kohesi pada tanah

c. Besarnya pembebanan yang mempengaruhi struktur.

Sedangkan untuk koefisien tegangan tanah lateral dapat dibagi menjadi 3


jenis yaitu sebagai berikut :

6
2.2.1. Koefisien Tanah Lateral dalam Keadaan Diam (Ko)

Koefisien tanah lateral dimana tanah dalam keadaan diam (at rest) sehingga
tidak terjadi pergerakan pada struktur penahan tanah. Massa tanah berada dalam
kondisi elastic equilibrium

(Sumber : Principles of Geotechnical Engineering, Braja M.Das, 5th , 2002)


Gambar 2.3. Tekanan Tanah Lateral At Rest

Pada Gambar 2.3. terlihat suatu massa tanah yang ditahan oleh struktur penahan
tanah AB dengan tinggi H. Dinding penahan AB berada dalam keadaan diam,
sedangkan untuk massa tanah dalam keadaan keseimbangan elastic (elastic
equilibrium). Koefisien tekanan tanah lateral dalam keadaan diam dapat dituliskan
berdasarkan hubungan empiris yang dikenalkan oleh Jaky (1944) ebagai berikut :
𝐾0 = 1 − 𝑆𝑖𝑛 𝜑
2.2.2. Koefisien Tanah Lateral Aktif (Ka)

Koefisien tanah lateral dimana tanah bergerak mendorong searah dengan


pergerakan tanah. Massa tanah telah berada dalam kondisi plastic equilibrium.

7
(Sumber : Principles of Geotechnical Engineering, Braja M.Das, 5th , 2002)
Gambar 2.4. Tekanan Tanah Lateral Aktif

2.2.3. Koefisien Tanah Lateral Pasif (Kp)

Koefisien tanah lateral dimana tanah bergerak mendorong berlawanan arah


dengan pergerakan tanah. Massa tanah telah berada dalam kondisi plastic
equilibrium
Terdapat beberapa teori yang biasa digunakan untuk menganalisa besarnya
tegangan lateral tanah diantaranya teori Rankine (1857) dan teori Coulomb (1776).
Perbedaan dari kedua teori ini berada pada prinsip-prinsip yang digunakan dalam
analisa.

(Sumber : Principles of Geotechnical Engineering, Braja M.Das, 5th , 2002)

8
Gambar 2.5. Tekanan Tanah Lateral Pasif

Berikut adalah beberapa teori yang telah dikembangkan dan digunakan


dalam menentukan besarnya nilai tegangan tanah lateral :

2.2.4. Teori Rankine (1857)

Menurut teori Rankine, beberapa anggapan yang digunakan dalam analisis


tekanan tanah adalah sebagai berikut :
1. Tanah adalah bahan yang isotropis, homogen, dan tak berkohesi sehingga friksi

antara struktur dengan tanah diabaikan.

2. Tegangan lateral tanah hanya dibatasi pada dinding vertical 900 (rigid body).

3. Kegagalan yang terjadi merupakan sliding wedge yang diasumsikan sebagai

kegagalan planar

4. Tekanan tanah lateral bervariasi secara linear dengan kedalaman dan tekanan

pada ketinggian 1⁄3 dari dasar dinding

5. Resultan gaya yang dihasilkan sejajar dengan permukaan backfill

Teori dari Rankine tentang koefisien tekanan tanah aktif dan pasif pada
permukaan tanah datar dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut:
𝜃′
𝐾𝑎 = 𝑡𝑎𝑛2 (45 − )
2
𝜃′
𝐾𝑝 = 𝑡𝑎𝑛2 (45 + )
2
𝜎′ℎ𝑎 = 𝜎′𝑣 . 𝐾𝑎 − 2 𝑐 ′ √𝐾𝑎
𝜎′ℎ𝑝 = 𝜎′𝑣 . 𝐾𝑝 + 2 𝑐 ′ √𝐾𝑝
dimana :
Ka : Koefisien tekanan tanah aktif 𝜎′ℎ𝑎 : Tegangan tanah lateral aktif
Kp : Koefisien tekanan tanah pasif 𝜎′ℎ𝑝 : Tegangan tanah lateral pasif
c’ : Kohesi
𝜎′𝑣 : Tegangan vertical efektif
φ’ : Sudut geser dalam tanah
Sedangkan nilai koefisien tanah aktif (Ka) dan pasif (Kp) untuk permukaan
backfill yang miring mengunakan rumus berikut :
𝑐𝑜𝑠𝛽 − √𝑐𝑜𝑠 2 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑′
𝐾𝑎 = 𝑐𝑜𝑠 𝛽 .
𝑐𝑜𝑠𝛽 + √𝑐𝑜𝑠 2 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑′
𝑐𝑜𝑠𝛽 + √𝑐𝑜𝑠 2 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑′
𝐾𝑝 = 𝑐𝑜𝑠 𝛽 .
𝑐𝑜𝑠𝛽 − √𝑐𝑜𝑠 2 𝛽 − 𝑐𝑜𝑠 2 𝜑′
𝜎′ℎ𝑎 = 𝜎′𝑣 . 𝐾𝑎 − 2 𝑐 ′ √𝐾𝑎

9
𝜎′ℎ𝑝 = 𝜎′𝑣 . 𝐾𝑝 + 2 𝑐 ′ √𝐾𝑝
dimana :
Ka : Koefisien tekanan tanah aktif φ’ : Sudut geser dalam tanah
Kp : Koefisien tekanan tanah pasif 𝛽 : Sudut kemiringan backfill

2.2.5. Teori Coulomb (1776)

Menurut teori Coulomb, beberapa anggapan yang digunakan dalam analisis


tekanan tanah adalah sebagai berikut :
1. Terjadi friksi antara struktur dengan tanah.

2. Tegangan lateral tanah tidakdibatasi pada dinding vertical

3. Kegagalan yang terjadi merupakan sliding wedge yang diasumsikan sebagai

kegagalan planar

4. Tekanan tanah lateral bervariasi secara linear dengan kedalaman dan tekanan

pada ketinggian dari dasar dinding

5. Resultan gaya yang dihasilkan sejajar dengan permukaan backfill

Teori dari Coulomb mengenai koefisien tekanan tanah aktif (Ka) dan tekanan
tanah pasif (Kp) dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut :
𝑠𝑖𝑛2 (𝛽 + 𝜃 ′ )
𝐾𝑎 = 2
sin(𝜃 ′ + 𝛿) . sin(𝜃 ′ − 𝛼)
𝑠𝑖𝑛2 𝛽 . sin(𝛽 − 𝛿) [1 + √ ]
sin(𝛽 − 𝛿). sin( 𝛼 + 𝛽)
𝑠𝑖𝑛2 (𝑐 − 𝜃 ′ )
𝐾𝑝 = 2
sin(𝜃 ′
+ 𝛿) . sin(𝜃 ′
+ 𝛼)
𝑠𝑖𝑛2 𝛽 . sin(𝛽 + 𝛿) [1 − √ ]
sin(𝛽 + 𝛿). sin( 𝛼 + 𝛽)

𝜎′ℎ𝑎 = 𝜎′𝑣 . 𝐾𝑎 − 2 𝑐 ′ √𝐾𝑎


𝜎′ℎ𝑝 = 𝜎′𝑣 . 𝐾𝑝 + 2 𝑐 ′ √𝐾𝑝
dimana :
Ka : Koefisien tekanan tanah aktif
Kp : Koefisien tekanan tanah pasif
φ’ : Sudut geser dalam tanah
c’ : Kohesi
𝛼 : Sudut kemiringan backfill
𝛽 : Sudut kemiringan dinding penahan
𝛿 : Sudut kemiringan tegak lurus tegangan

10
𝜎′ℎ𝑎 : Tegangan tanah lateral aktif
𝜎′ℎ𝑝 : Tegangan tanah lateral pasif

Gambar 2.6. Model Tegangan Coulomb dengan Backfill

2.2.6. Hubungan Pergerakan Dinding dengan Koefisien Tanah Lateral

Hubungan antara pergerakan dinding penahan tanah dengan koefisien


tekanan tanah lateral dapat dlihat sebagai berikut :

(Sumber : Principles of Foundation Engineering, Braja M.Das, Fourth Edition)


Gambar 2.7. Variasi Pergerakan Tekanan Lateral dengan Pergerakan Dinding

Dari Gambar 2.7. menunjukan dinding penahan tanah dalam kondisi tekanan
tanah pasif dapat bergerak lebih jauh sebelum mencapai mengalami kegagalan.
Sedangkan dalam kondisi aktif, apabila tanah menerima gaya lateral yang sama maka
akan lebih cepat mengalami kegagalan dibanding pada kondisi pasif. Hal ini
disebabkan pergerakan dinding penahan tanah dalam kondisi aktif tidak dapat

11
bergerak sejauh saat pada kondisi pasif. Berikut adalah jarak pergerakan dinding
penahan tanah sebagai fungsi dari ketinggian yang diperlukan untuk mencapai
kondisi keruntuhan minimal aktif maupun pasif :

Tabel 2.1. Hubungan ketinggian dengan pergeseran horizontal pada kondisi aktif

Pergerakan arah horizontal untuk


Tipe Tanah
mencapai kondisi aktif

Pasir Padat 0.001 H – 0.002 H


Pasir Lepas 0.002 H – 0.004 H
Tanah Lempung Kaku 0.010 H – 0.020 H
Tanah Lempung Lunak 0.020 H – 0.050 H

Tabel 2.2. Hubungan ketinggian dengan pergeseran horizontal pada kondisi pasif

Pergerakan arah horizontal untuk


Tipe Tanah
mencapai kondisi pasif
Pasir Padat 0.005 H
Pasir Lepas 0.010 H
Tanah Lempung Kaku 0.001 H
Tanah Lempung Lunak 0.050 H
dimana :

H : Ketinggian dinding penahan

2.3 Jenis-Jenis Beban Eksternal pada Struktur

Dalam melakukan suatu analisis, desain ataupun pemodelan pada struktur


perlu diketahui besarnya beban dan pengaruh pembebanan tersebut pada struktur.
Berdasarkan jenisnya, maka beban dapat dibedakan menjadi 2 garis besar yaitu :
a. Beban statis merupakan beban yang bekerja pada struktur secara tetap dan

memilki sifat steady-states.

b. Beban dinamis merupakan beban yang bekerja pada struktur secara tiba-tiba dan

pada umumnya tidak memiliki sifat steady-states dengan lokasi yang berbeda-

beda pada struktur.

Beban-beban yang bekerja pada struktur dapat diklasifikasikan berdasarkan


beberapa kategori, antara lain :
a. Beban mati (dead loads)

12
Semua beban yang bersifat tetap terhadap struktur dimana didalamnya
termasuk berat struktur itu sendiri.
b. Beban hidup (live loads)

Beban yang sifatnya dapat berpindah-pindah (beban berjalan) ataupun


segala beban yang sifatnya sementara.
c. Beban gempa (earthquake loads)

Beban pada struktur yang disebabkan adanya pergerakan tanah, dimana


dapat dikarenakan gempa bumi (tektonik ataupun vulkanik) sehingga
mempengaruhi struktur. Beban gempa ini merupakan jenis pembebanan
terhadap fungsi waktu, sehingga respons yang terjadi pada struktur sangat
tergantung pada lamanya beban gempa tersebut terjadi.

d. Beban angin (wind loads)

Beban pada struktur yang disebabkan adanya hambatan aliran angin oleh
struktur, sehingga energi kinetik angin berubah menjadi tekanan energy
potensial yang dapat mempengaruhi struktur.
e. Lain-lain (others loads)

Beban-beban lain yang dapat terjadi karena faktor-faktor tertentu seperti


letak geografis, iklim, dll. Beberapa contoh dari beban ini adalah beban salju
ataupun beban hujan pada beberapa negara.

2.4 Tegangan Tanah Lateral saat Gempa

Beban gempa merupakan salah satu jenis pembebanan yang dapat


mempengaruhi struktur penahan tanah terutama untuk struktur galian dalam. Hal ini
disebabkan adanya penambahan nilai tegangan lateral pada saat terjadinnya gempa
sehingga disebut tegangan lateral total. Tegangan total ini terdiri dari tegangan
lateral tanah mula-mula (sebelum terjadi gempa) dan tegangan lateral tanah yang
disebabkan oleh gempa
Beberapa pendekatan telah dikembangkan untuk memecahkan
permasalahan-permasalahan yang disebabkan saat terjadi gempa. Beberapa
pendekatan itu di antaranya :
1. Metode analisis kondisi batas (Limit state analyses) merupakan metode

dimana gerakan relatif dinding penahan tanah dan tanah timbunan cukup

besar hingga dapat mempengaruhi batas kuat geser tanah (batas keruntuhan)

13
2. Metode pendekatan elastic merupakan metode dimana pergerakan tanah

dengan dinding penahan dibatasi dengan asumsi bahwa deformasi yang

diizinkan hanya dalam batasan elastic linier. Pada metode ini tanah

dimodelkan sebagai material elastic linier

3. Metode Intermediate merupakan metode dimana tanah tidak dimodelkan

sebagai material elastic ataupun batas runtuh, tetapi dimodelkan dalam

kondisi aktual non-linier hysteretic

2.4.1. Metode Mononobe-Okabe (1924)

Metode yang dikembangkan berdasarkan metode limit state analyses adalah


metode Mononobe-Okabe (Mononobe dan Matsuo, 1929), (Okabe,1924). Studi
pengaruh gempa terhadap tegangan lateral pada struktur penahan tanah pertama-
tama dilakukan di Jepang oleh Okabe (1924) dan Mononobe-Matsuo (1929) .Pada
metode ini diasumsikan dimana sebuah bidang segitiga tanah (soil wedge) dibatasi
dengan sebuah dinding penahan yang kaku. Adapun beberapa hal yang harus
diperhatikan pada metode ini, antara lain :
- Metode Mononobe-Okabe mengacu pada teori tegangan lateral tanah yang

dikembangkan oleh Coulomb (1776)

- Merupakan metode pseudo-static

- Berlaku untuk struktur penahan tanah yang dapat mengalami pergerakan yang

cukup besar hingga batas keruntuhan (yielding wall)

Berikut adalah analisa perhitungan tegangan lateral tanah pada saat gempa
menurut metode Mononobe-Okabe:
𝑃𝐸 = 𝑃𝐴𝐸 − 𝑃𝐴
1
𝑃𝐴𝐸 = . 𝛾 . 𝐻 2 (1 − 𝐾𝑣 ) 𝐾𝐴𝐸
2
𝑠𝑖𝑛2 (𝜑 + 𝛽 − 𝛹)
𝐾𝐴𝐸 = 2
sin(𝜑 + 𝛿) . sin(𝜑 − 𝛹 − 𝛼)
cos 𝛹 . 𝑠𝑖𝑛2 𝛽 . sin(𝛽 − 𝛹 − 𝛿) [1 + √ ]
sin(𝛽 − 𝛿 − 𝛹) . sin(𝛼 + 𝛽)

14
𝐾ℎ
𝛹 = 𝑡𝑎𝑛−1 [ ]
1 − 𝐾𝑣
𝑎ℎ
𝐾ℎ =
𝑔
𝑎𝑣
𝐾𝑣 =
𝑔
dimana :
𝑃𝐴𝐸 : Total tegangan lateral aktif
𝑃𝐴 : Tegangan lateral aktif Coulomb
𝑃𝐸 : Tegangan lateral aktif gempa
H : Tinggi struktur penahan tanah
Kh : Koefisien gempa horizontal
Kv : Koefisien gempa vertical
𝛾 : Berat jenis tanah
g : gravitasi
𝑎ℎ : Percepatan gempa horizontal
𝑎𝑣 : Percepatan gempa vertical

15
2.4.2. Metode Seed and Whitman (1970)

Metode yang juga dikembangkan berdasarkan metode limit state analyses, dimana
pada metode ini analisa perhitungan tegangan lateral saat gempa adalah sebagai berikut :
1
𝑃𝐴 = 𝛾 𝐻 2 𝐾𝑎
2
3 𝑎ℎ,𝑚𝑎𝑥
𝑃𝐸 = 𝛾 𝐻2
8 𝑔
𝑃𝐴𝐸 = 𝑃𝐴 + 𝑃𝐸
dimana :
𝑃𝐴𝐸 : Total tegangan lateral aktif
𝑃𝐴 : Tegangan lateral aktif Coulomb
𝑃𝐸 : Tegangan lateral aktif saat gempa
H : Tinggi struktur penahan tanah
𝛾 : Berat jenis tanah
g : gravitasi
𝑎ℎ : Percepatan gempa pada tanah arah horizontal
2.4.3. Metode Wood (1973)

Metode yang dikembangkan berdasarkan metode pendekatan elastic adalah metode yang
diusulkan oleh Wood dengan menyajikan analisis solusi tepat (exact solution) respon
dinamis tanah pada dinding kaku. Pada metode ini tanah dimodelkan sebagai material
homogen elastic linier yang berada diantara dua dinding kaku, dan dasar kaku. Besarnnya
nilai Fp didapatkan dari Gambar 2.8. dengan mengunakan nilai poisson ratio (υ) terhadap
perbandingan panjang basement dan tinggi basement (L/H)

(Sumber : Lateral Earth Pressure Static & Seismic Pseudo Static Analysis, Gouw, 2010)

16
Gambar 2.8. Faktor Resultan Gaya pada Dinding Kaku

Berikut adalah analisa perhitungan tegangan tanah lateral pada saat gempa menurut
metode Wood :
𝑎ℎ 𝑚𝑎𝑥
𝑃𝐸 = 𝐹𝑝 . . 𝛾 . 𝐻2
𝑔

dimana :
𝐹𝑝 : Faktor tekanan dinamis
L : Panjang struktur basement
H : Tinggi struktur basement
𝛾 : Berat jenis tanah
g : gravitasi
𝑎ℎ : Percepatan gempa horizontal
υ : Poisson ratio tanah

2.5 Beban Gempa Rencana

Menurut RSNI-03-1726-201X, beban gempa rencana adalah peluang dilampauinya


beban rencana dalam waktu umur bangunan 50 tahun adalah 2%, dan gempa yang
menyebabkannya dengan periode ulang 2475 tahun.

2.5.1. Peraturan Gempa RSNI-03-1726-201X

RSNI-03-1726-201X – Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur


Bangunan Gedung dan Non Gedung, merupakan hasil revisi dari SNI 03-1726-2002 oleh Tim
Revisi Peta Gepa Indonesia 2010. Pada Peta Gempa Indonesia 2010 pembagian wilayah
gempa mengalami perubahan yang signifikan jika dibandingkan dengan Peta Gempa
Indonesia 2002.

Berikut adalah cara mendesain respons spektra berdasarkan RSNI-03-1726-201X :


1. Menentukan nilai Ss dan S1

Nilai Ss dan S1 didapat dari Peta Gempa Indonesia 2010, dimana


Ss adalah parameter percepatan respons spektral MCE (Maximum Credible Earthquake)
dari Peta Gempa Indonesia 2010 pada perioda pendek (0,2 detik) dengan redaman 5%
S1 adalah parameter percepatan respons spektral MCE (Maximum Credible Earthquake)
dari Peta Gempa Indonesia 2010 pada perioda pendek (1 detik) dengan redaman 5%
2. Menentukan kategori resiko bangunan dan faktor keutamaan (Ie)

Untuk menentukan kategori resiko bangunan dan faktor keutamaan dapat dilihat pada
tabel berikut :

Tabel 2.3. Kategori Resiko Bangunan Gedung untuk Beban Gempa

17
Kategori
Jenis Pemanfaatan
Resiko
Gedung dan struktur lainnya yang memiliki resiko rendah terhadap jiwa
I
manusia pada saat terjadi kegagalan
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam katerogi resiko
II
I,III,IV
Gedung dan struktur lainnya yang memiliki resiko tinggi terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan
Gedung dan struktur lainnya, tidak termasuk kedalam kategori resiko IV, yang
memiliki potensi untuk menyebabkan dampak ekonomi yang besar dan/atau
gangguan massal terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari bila terjadi
kegagalan
Gedung dan struktur lainnya yang tidak termasuk dalam kategori resiko IV,
(termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas manufaktur, proses,
penanganan, penyimpanan, penggunaan atau tempat pembuangan bahan III
bakar berbahaya, bahan kimia berbahaya, limbah berbahaya , atau bahan
yang mudah meledak) yang mengandung bahan beracun atau peledak di
mana jumlah kandungan bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh
instansi yang berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi masyarakat
jika terjadi kebocoran.

Gedung dan struktur lainnya yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang penting,
termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk :
 Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
 Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki fasilitas bedah
dan unit gawat darurat
 Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi serta garasi
kendaraan darurat
 Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai, dan tempat
perlindungan darurat lainnya
 Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan fasilitas lainnya
untuk tanggap darurat
 Pusat pembangkit energi dan fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan
pada saat keadaan darurat
 Struktur tambahan (termasuk, tidak dibatasi untuk, menara
telekomunikasi, tangki penyimpanan bahan bakar, menara pendingin,
struktur stasiun listrik , tangki air pemadam kebakaran atau struktur IV
rumah atau struktur pendukung air atau material atau peralatan
pemadam kebakaran ) disyaratkan dalam kategori resiko IV untuk
beroperasi pada saat keadaan darurat
 Menara
 Fasilitas penampungan air dan struktur pompa yang dibutuhkan untuk
meningkatkan tekanan air pada saat memadamkan kebakaran
 Gedung dan struktur lainnya yang memiliki fungsi yang penting terhadap
sistem pertahanan nasional.
Gedung dan struktur lain, yang kegagalannya dapat menimbulkan bahaya
bagi masyarakat
Gedung dan struktur lainnya (termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas
manufaktur, proses, penanganan, penyimpanan, penggunaan atau tempat
penyimpanan bahan bakar berbahaya, bahan kimia berbahaya, limbah
berbahaya) yang mengandung bahan yang sangat beracun di mana jumlah
kandungan bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh instansi yang

18
berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi masyarakat bila terjadi
kebocoran.
Gedung dan struktur lainnya yang mengandung bahan yang beracun, sangat
beracun atau mudah meledak dapat dimasukkan dalam kategori resiko yang
lebih rendah jika dapat dibuktikan dengan memuaskan dan berkuatan hukum
melalui kajian bahaya bahwa kebocoran bahan beracun dan mudah meledak
tersebut tidak akan mengancam kehidupan masyarakat. Penurunan kategori
resiko ini tidak diijinkan jika gedung atau struktur lainnya tersebut juga
merupakan fasilitas yang penting.
Gedung dan struktur lainnya yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi
struktur bangunan lain yang masuk kedalam kategori resiko IV.
Sumber : RSNI-03-1726-201X - Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan
Gedung dan Non Gedung, 2011

Tabel 2.4. Faktor Keutamaan Gempa dan Angin

Kategori Faktor Keutamaan Faktor Keutamaan


Resiko Gempa, Ie Angin, IW
I atau II 1,00 1,00
III 1,25 1,00
IV 1,50 1,00

3. Menentukan koefisien situs Fa dan Fv

Untuk menentukan koefisien situs Fa dan Fv dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.5. Klasifikasi Situs

Kelas Situs vs (m/detik) N atau N ch su (kPa)


SA (Batuan Keras) > 1500 N/A N/A
SB (Batuan) 750 sampai 1500 N/A N/A
SC (Tanah Keras,
Sangat Padat, dan 350 sampai 750 > 50 ≥ 100
Batuan Lunak)
SD (Tanah Sedang) 175 sampai 350 15 sampai 50 50 sampai 100
SE (Tanah Lunak) < 175 < 15 < 50
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3 m tanah
dengan karateristik sebagai
berikut :
1. Indeks plastisitas, PI > 20,
2. Kadar air, w > 40 persen, dan
3. Kuat geser niralir su < 25 kPa
SF (Tanah Khusus, Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu atau lebih dari
yang membutuhkan karakteristik berikut:
investigasi  Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat beban gempa
geoteknik spesifik seperti mudah likuifaksi, lempung sangat sensitif, tanah
dan analisis respons tersementasi lemah
spesifik situ yang  Lempung sangat organik dan/atau gambut (ketebalan H > 3 m)
mengikuti Pasal  Lempung berplastisitas sangat tinggi (ketebalan H > 7,5 m
6.9.1) dengan Indeks Plasitisitas PI > 75)

19
 Lapisan lempung lunak/medium kaku dengan ketebalan H > 35
m dengan su < 50 kPa

Sumber : RSNI-03-1726-201X - Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan


Gedung dan Non Gedung, 2011

dimana :
N = tahanan penetrasi standar rata-rata dalam lapisan 30 m paling atas.
N ch = tahanan penetrasi standar rata-rata tanah non kohesif dalam lapisan 30
m paling atas.
su = kuat geser niralir.
su = kuat geser niralir rata-rata di dalam lapisan 30 m paling atas.

vs = kecepatan rambat gelombang geser rata-rata pada regangan geser


yang kecil, di dalam lapisan 30 m paling atas.

Tabel 2.6. Koefisien Situs, Fa

Parameter Respons Spektral Percepatan Gempa MCER


Kelas
Terpetakan Pada Perioda Pendek, T = 0,2 detik, SS
Situs
SS ≤ 0,25 SS = 0,5 SS = 0,75 SS = 1 SS ≥ 1,25
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,2 1,2 1,1 1,0 1,0
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0
SE 2,5 1,7 1,2 0,9 0,9
SF SS b

Sumber : RSNI-03-1726-201X - Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan


Gedung dan Non Gedung, 2011
catatan :
a. Untuk nilai-nilai antara Ss dapat mengunakan interpolasi linier

b. Ss = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik secara spesifik dan analisis

respon situs spesifik

20
Tabel 2.7. Koefisien Situs, Fv

Parameter Respons Spektral Percepatan Gempa MCER


Kelas
Terpetakan Pada Perioda Pendek, T = 1 detik, S1
Situs
S1 ≤ 0,1 S1 = 0,2 S1 = 0,3 S1 = 0,4 S1 ≥ 0,5
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,7 1,6 1,5 1,4 1,3
SD 2,4 2,0 1,8 1,6 1,5
SE 3,5 3,2 2,8 2,4 2,4
SF SS b

Sumber : RSNI-03-1726-201X - Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan


Gedung dan Non Gedung, 2011
catatan :
a. Untuk nilai-nilai antara S1 dapat mengunakan interpolasi linier

b. Ss = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik secara spesifik dan analisis

respon situs spesifik

4. Menghitung parameter pecepatan spektral desain

2
𝑆𝐷𝑆 = . 𝐹𝑎 . 𝑆𝑠
3
2
𝑆𝐷1 = 3 . 𝐹𝑣 . 𝑆1
dimana:
SDS = parameter percepatan respons spektral pada perioda pendek (0,2 detik)
dengan redaman 5%
SD1 = parameter percepatan respons spektral pada perioda 1 detik dengan
redaman 5%
Ss = parameter percepatan respons spektral MCE (Maximum Credible
Earthquake) dari Peta Gempa Indonesia 2010 pada perioda pendek (0,2
detik) dengan redaman 5%
S1 = parameter percepatan respons spektral MCE (Maximum Credible
Earthquake) dari Peta Gempa Indonesia 2010 pada perioda 1 detik dengan
redaman 5%
Fa = koefisien situs untuk perioda pendek (0,2 detik)
Fv = koefisien situs untuk perioda 1 detik

5. Menentukan Kategori Desain Seismik (KDS)

Untuk menentukan Kaegori Desain Seismik (KDS) dapat dilihat pada tabel parameter
respon percepatan berikut :

21
Tabel 2.8. Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respon Percepatan pada

Periode Pendek (SDS)

SDS
Kategori
SDS <
Resiko
0,167 0,167 ≤ SDS < 0,33 0,33 ≤ SDS < 0,50 0,50 ≤ SDS
I A B C D
II A B C D
III A B C D
IV A C D D
Sumber : RSNI-03-1726-201X - Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan
Gedung dan Non Gedung, 2011

Tabel 2.9. Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respons Perepatan pada

Periode 1 detik (Ss)

SD1
Kategori
SD1 < 0,067 ≤ SD1 < 0,133 ≤ SD1 <
Resiko
0,067 0,133 0,20 0,20 ≤ SD1
I A B C D
II A B C D
III A B C D
IV A C D D
Sumber : RSNI-03-1726-201X - Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan
Gedung dan Non Gedung, 2011
6. Spektrum Respons Desain

a. Untuk periode yang lebih kecil dari To, spectrum respons percepatan desain Sa, diambil

berdasarkan persamaan berikut :

𝑇
𝑆𝑎 = 𝑆𝐷𝑆 [0,4 + 0,6 . ]
𝑇𝑜
𝑆𝐷1
𝑇𝑜 = 0,2 .
𝑆𝐷𝑆

dimana :
Sa = spektrum respons percepatan desain.
SDS = parameter percepatan respons spektral pada perioda pendek (0,2
detik) dengan redaman 5%.
SD1 = parameter percepatan respons spektral pada perioda pendek 1
detik redaman 5%.
T = perioda fundamental bangunanuntuk

22
b. Untuk periode lebih besar dari ata sama dengan nilai To dan lebih kecil dari atau sama

dengan Ts, spectrum respons percepatan desain Sa = SDS

c. Untuk periode lebih besar dari Ts, spectrum respons percepatan desain Sa, diambil

berdasarkan persamaan berikut :

𝑆𝐷1
𝑆𝑎 =
𝑇
𝑆𝐷1
𝑇𝑠 =
𝑆𝐷𝑆

Gambar 2.9. Spektrum Respons Desain RSNI-03-1726-201X

2.6 Metode Elemen Hingga

Metode elemen hingga (finite element method) adalah suatu metode perhitungan
berdasarkan konsep diskretisasi, yaitu membagi sebuah elemen kontinu menjadi elemen-
elemen yang lebih kecil. Dengan cara seperti ini, sebuah sistem yang mempunyai derajat
kebebasan yang tidak terhingga dapat didekatkan dengan sejumlah elemen yang mempunyai
derajat kebebasan tertentu. Jadi dapat dikatakan metode elemen hingga ini adalah suatu
analisa pendekatan. Untuk mendapatkan hasil yang cukup akurat, maka elemen kontinu
harus dibagi menjadi elemen-elemen hingga yang kecil sehingga setiap elemen bias bekerja
secara simultan. Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui deformasi ataupun tegangan
yang terjadi pada suatu elemen yang disebabkan oleh distribusi beban atau gaya.

2.6.1. Program PLAXIS

Plaxis adalah sebuah paket program dalam dunia teknik sipil yang dibuat berdasarkan
metode elemen hingga dan telah dikembangkan sedemikian rupa, sehingga dapat digunakan
untuk melakukan analisa deformasi, penurunan, ataupun stabilitas dalam bidang Geoteknik.
Tahap pemodelan dalam program PLAXIS sendiri dapat dilakukan secara grafis, sehingga
memungkinkan pembuatan suatu model elemen hingga yang cukup kompleks menjadi lebih

23
cepat dan mudah. Sedangkan untuk semua tools dan komponen di dalam program PLAXIS
juga sudah dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mendukung hasil komputasi yang
mendetail. Untuk tahap perhitungan dalam program PLAXIS sendiri, dilakukan secara
otomatis dengan berdasarkan kepada prosedur numerik. Pada bagian output program
PLAXIS, users dapat menampilkan data-data yang diperlukan bilamana diperlukan untuk
mendesain suatu proyek. Terdapat pula menu curve yang dapat digunakan untuk membuat
kurva dengan meninjau pada poin tertentu yang dikenal dengan nodal.
Perkembangan program PLAXIS dimulai pada tahun 1987 di Universitas Delft
(Technical University of Delft) atas inisiatif dari Departemen Tenaga Kerja dan Pengelolaan
Sumber Daya Air Belanda (Dutch Department of Public Works and Water Management).
Tujuan awal dari program PLAXIS adalah untuk menganalisa tanggul-tanggul yang dibangun
pada tanah lunak di dataran rendah wilayah Holland. Kemudian program PLAXIS
dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat menganalisa dan menyelesaikan masalah-masalah
yang lebih kompleks dalam seluruh aspek perencanaan Geoteknik lainnya.
Pada program PLAXIS, model struktur Geoteknik dapat dimodelkan dengan 2 cara
yaitu regangan bidang (plane strain) dan axi-simetri. Model rengangan bidang (plane strain)
biasa digunakan untuk model geometri dengan penampang melintang yang cukup seragam,
dengan kondisi tegangan dan kondisi pembebanan yang terjadi cukup panjang dalam arah
tegak lurus terhadap penampang. Perpindahan dan regangan dalam arah tegak lurus
terhadap bidang penampang diasumsikan tidak terjadi atau bernilai nol. Walaupun
diasumsikan tidak terjadi,tegangan normal pada arah tegak lurus terhadap bidang
penampang tetap diperhitungkan sepenuhnya dalam analisa.
Sedangkan untuk model axi-simetri biasa digunakan untuk struktur Geoteknik yang
berbentuk lingkaran dengan bidang penampang radial yang cukup seragam dan kondisi
pembebanan mengelilingi sumbu aksial. Untuk deformasi dan kondisi tegangan diasumsikan
tersebar rata mengelilingi arah radial. Dalam model axi-simetri koordinat (x) menyatakan
radius, sedangkan untuk koordinat (y) menyatakan sumbu simetris dalam arah aksial.

(Sumber : Manual PLAXIS)


Gambar 2.10. Model Plane

strain dan Axi-simetri dalam Plaxis

Elemen tanah dalam program PLAXIS dimodelkan sebagai elemen segitiga, dimana
elemen segitiga ini dibagi menjadi dua jenis yaitu elemen segitiga dengan 6 titik nodal dan
elemen segitiga dengan 15 titik nodal. Metode yang digunakan dalam elemen segitiga dengan
6 titik nodal adalah metode interpolasi ordo dua untuk menghitung perpindahan dan integrasi
numerik dengan mengunakan tiga titik Gauss (titik tegangan). Sedangkan untuk elemen
segitiga dengan 15 titik nodal adalah metode interpolasi dengan ordo empat dan integrasi
numerik dengan mengunakan 12 titik Gauss. Oleh sebab itu analisa elemen hingga dalam

24
program PLAXIS akan memberikan hasil yang lebih akurat dengan mengunakan segitiga
dengan 15 titik nodal dibandingkan dengan analisa dengan hanya 6 titik nodal. Akan tetapi
proses perhitungan dengan 15 titik nodal ini akan lebih lambat karena banyaknya jumlah
perhitungan yang dilakukan dibandingkan hanya dengan mengunakan 6 titik nodal.

(Sumber : Manual Plaxis)


Gambar 2.11. Letak Titik Nodal dan Titik Tegangan pada Elemen Tanah

Dalam model analisa regangan bidang (plane-strain), gaya yang disebabkan adanya
perpindahan dinyatakan dalam gaya persatuan lebar dalam arah tegak urus penampang.
Sedangkan dalam model analisa axi-simetri, gaya yang dihasilkan merupakan gaya yang
bekerja pada bidang batas yang membentuk busur lingkaran sebesar 1 radian yang saling
berhadapan.

2.6.2. Analisa Undrained

Dalam memodelkan elemen tanah di program elemen hingga terutama PLAXIS, biasa
dapat dilakukan dalam kondisi drained dan kondisi undrained. Hal ini dipengaruhi oleh
kecepatan air untuk masuk/keluar dari tanah pada waktu tertentu saat tanah tersebut
diberikan beban. Sehingga kondisi drained dan undrained dalam program elemen hingga
tergantung pada pemodelan yang dilakukan pada saat tanah diberikan beban.
Kondisi undrained adalah kondisi dimana tidak ada pergerakan atau aliran air pori dari
tanah dan tidak ada perubahan volume tanah. Pada keadaan ini, beban luar yang bekerja akan
menimbulkan tegangan air pori berlebih di dalam tanah karena pembebanan dilakukan dalam
waktu yang relatif cepat. Sedangkan yang dimaksudkan untuk kondisi drained adalah kondisi
dimana air terdapat pergerakan/aliran air pori dari tanah. Pada keadaan ini beban luar yang
bekerja tidak menimbulkan tegangan air pori berlebih karena pembebanan yang dilakukan
dalam waktu yang relatif lambat. Oleh sebab itu air masih tetap dapat bergerak masuk atau
keluar dari tanah. Secara sederhana kondisi drained dan undrained dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Kondisi drained

- Tanah ber-permeabilitas tinggi

- Beban luar bekerja dalam waktu relatif lambat

- Perilaku jangka pendek tanah tidak kritis

25
- Perilaku jangka panjang kritis

2. Kondisi undrained

- Tanah ber-permeabilitas rendah

- Beban luar bekerja dalam waktu relatif cepat

- Perilaku jangka pendek tanah kritis

- Perilaku jangka panjang tidak kritis

Untuk mengetahui kapan kondisi drained dan undrained harus dianalisa, dapat
dilakukan sebagai berikut (Vermeer & Meir, 1998):
𝑘 . 𝐸𝑜𝑒𝑑
𝑇= 𝑡
𝛾𝑤 . 𝐷2
T < 0.1 (U = 35%), maka kondisi undrained
T > 0.4 (U = 70%), maka kondisi drained
dimana :
k = Permeabilitas tanah
Eoed = Modulus oedometer
γw = Berat isi tanah
D = Panjang jarak aliran air pori
t = Waktu konstruksi
Tv = Time factor
Secara umum analisa undrained dilakukan dalam parameter tegangan total, sehingga
parameter kuat geser yang digunakan adalah sebagai berikut :
- Kuat geser undrained ( C = Cu = Su, φ = 0 )

- Kekakuan Undrained ( E = Eu, υu = 0.5 )

Namun dalam analisa pada program elemen hingga terutama PLAXIS, pemodelan kondisi
undrained tidak sesederhana pemodelan dalam kondisi drained. Dalam PLAXIS, kondisi
undrained dapat dimodelkan dalam 3 parameter input dengan hasil yang berbeda-beda yang
dikenal dengan istilah analisa Undrained A, Undrained B, Undrained C. Berikut adalah detail
dan perbedaan dari tiap analisa :
1. Undrained A (Method A)

Perhitungan dengan analisa Undrained A dilakukan dalam analisa tegangan efektif,


dimana digunakan parameter kuat geser efektif dan parameter kekakuan efektif. Pada
analisa ini dapat dihasilkan nilai tegangan air pori yang terjadi. Namun tepat atau
tidaknya perhitungan tergantung pada model dan parameter tanah. Sedangkan untuk
kuat geser undrained (Su), bukan merupakan parameter input melainkan merupakan

26
hasil dari model konstitutif yang akan digunakan. Kuat geser undrained ini harus
diperiksa dengan data hasil sesungguhnya.
Berikut adalah detail parameter yang digunakan dalam Undrained A :
- Jenis Analisa : Effective Stresses Analysis

- Tipe material : Undrained (Undrained A)

- Kuat geser tanah efektif : c’ , φ’ , ψ’

- Kekakuan tanah efektif : E50’ , v’

2. Undrained B (Method B)

Perhitungan dengan analisa Undrained B dilakukan dalam analisa tegangan efektif,


dimana digunakan parameter kekakuan efektif dan parameter kuat geser undrained. Pada
analisa ini dapat dihasilkan nilai tegangan air pori yang terjadi. Namun hasil yang diberikan
sangat tidak akurat sehingga pada umumnya tidakd apat digunakan. Sedangkan untuk
kuat geser undrained (Cu = Su) merupakan parameter input. Sehingga analisa ini tidak akan
memberikan kesalahan perhitungan dalam kestabilan undrained. Berikut adalah detail
parameter yang digunakan dalam Undrained B :
- Jenis Analisa : Effective Stresses Analysis

- Tipe material : Undrained (Undrained B)

- Kuat geser tanah efektif : c = cu , φ = 0 , ψ = 0

- Kekakuan tanah efektif : E50’ , v’

3. Undrained C (Method C)

Perhitungan dengan analisa Undrained C dilakukan dalam analisa tegangan total,


dimana digunakan parameter kekakuan undrained dan parameter kuat geser undrained.
Pada analisa ini tidak dapat dihasilkan nilai tegangan air pori, sehingga hasil analisa
tegangan efektif harus diinterpretasikan sebagai tegangan total. Sedangkan untuk kuat
geser undrained (Cu = Su) merupakan parameter input. Sehingga analisa ini tidak akan
memberikan kesalahan perhitungan dalam kestabilan undrained. Berikut adalah detail
parameter yang digunakan dalam Undrained C :
- Jenis Analisa : Total Stresses Analysis

- Tipe material : Drained / non-porous (Undrained C)

- Kuat geser tanah efektif : c = cu , φ = 0 , ψ = 0

27
- Kekakuan tanah efektif : Eu , v = 0.495

2.7 Korelasi Empiris Antar Parameter

Untuk mendapatkan data parameter tanah yang diperlukan dalam desain suatu
struktur Geoteknik, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu : pengujian langsung di
lapangan, pengujian di laboratorium, ataupun dengan mengunakan korelasi empiris antar
parameter yang telah direkomendasikan oleh para tenaga ahli. Pada umumnya, parameter
tanah diperoleh dari hasil pengujian di lapangan dan laboratorium. Sedangkan untuk korelasi
empiris antar parameter biasanya digunakan apabila data yang diperlukan untuk desain tidak
tersedia dari hasil pengujian langsung dilapangan ataupun laboratorium. Selain itu dapat juga
digunakan untuk verifikasi hasil data dengan data lainnya. Berikut adalah beberapa korelasi
empiris yang telah direkomendasikan oleh para ahli :
1. Korelasi antara modulus Young (Eu) dengan Kohesi (Cu)

Ducan dan Buchignani (1976) memberikan hubungan antara modulus Young


dengan nilai kohesi tanah pada kondisi undrained dalam sebuah grafik fungsi dari
indeks platisitas (PI) terhadap overconsolidation ratio (OCR).

Gambar 2.12. Korelasi Antara Modulus Young (Eu) dan Kohesi Tanah Undrained

Korelasi antara modulus elastisitas dengan nilai kohesi tanah dalam kondisi undrained
juga diberikan oleh Termaat, Vermeer, dan Vergeer (1985) dalam bentuk grafik
korelasi pada Gambar 2.13. Adapun persamaan garis dari korelasi ini sebagai berikut :
15000 . 𝐶𝑢
𝐸𝑢50 =
𝑃𝐼 %
dimana :
𝐸𝑢50 = Modulus young undrained
Cu = Kohesi undrained
PI = Indeks plastisitas

28
Gambar 2.13. Korelasi Antara Modulus Young dan Kohesi Tanah Undrained berdasarkan

Nilai Indeks Platisitas (PI)

Pada tanah lempung dengan indeks plastisitas yang tinggi (PI > 30 atau tanah
organic), maka berlaku :
Eu = 100 ~ 500 Su
Sedangkan untuk tanah lempung dengan indeks platisitas rendah ( PI < 30 atau
lempung kaku), maka berlaku :
Eu = 500 ~ 1500 Su
2. Hubungan antara konsistensi tanah dengan kohesi tanah undrained (Cu)

Hamilton (1987) memberikan hubungan interval nilai kohesi tanah undrained


berdasarkan konsistensi tanah. Adapun hubungan nilai kohesi tanah undrained (C u)
sebagai berikut :

(Sumber :
Stabilenka Design Guide)

29
Gambar 2.14. Interval Nilai Kohesi Tanah Lempung dalam Kondisi Undrained Berdasarkan

Konsistensi Tanah (Hamilton; 1987)

3. Nilai kisaran parameter tanah lempung dalam kondisi undrained

Berikut adalah nilai kisaran parameter tanah lempung terutama untuk nilai kohesi
(Cu) dalam kondisi undrained :

Tabel 2.10. Interval Nilai Kohesi Tanah Lempung dalam kondisi undrained

Cohesive Soil
N-SPT <4 4-6 6 - 15 16 – 30 31 - 50
State Very Soft Soft Medium Stiff Hard
Cohesion (Cu) 0 – 10 10 - 25 25 - 45 45 – 95 > 100
Unit Weight (γ) 14 – 18 16 - 18 16 - 18 16 – 20 20 - 23
(Sumber : Soil Mechanics, William T, Whitman, Robert V, 1962)
4. Nilai kisaran parameter pasir berdasarkan konsistensi tanah

Berikut adalah nilai kisaran parameter tanah pasir terutama untuk nilai sudut geser
dalam (φ) :

Tabel 2.11. Interval Nilai Sudut Geser Dalam (φ) Tanah Pasir

Cohesionless Soil
N-SPT 0 - 10 11 - 30 31-50 > 50
State Loose Medium Dense Very Dense
Angle of Friction (φ) 25 - 32 28 - 36 30 - 40 > 35
Unit Weight (γ) 12 - 16 14 - 18 16 - 20 18 - 23
(Sumber : Soil Mechanics, William T, Whitman, Robert V, 1962)
5. Korelasi nilai Cu dengan c’

Hubungan antara nilai kohesi tanah lempung dalam kondisi undrained (Cu) dan
dalam kondisi efektif dapat dijelaskan sebagai berikut :
1 + 𝐾0
𝐶𝑢 = 𝑆𝑖𝑛 𝜑 ′ (𝑐 ′ . 𝑐𝑜𝑡 𝜑 ′ + ( ) 𝜎𝑣′ )
2

dimana :
Cu = Kohesi tanah dalam kondisi undrained
𝜑 = Sudut geser dalam
Ko = Koefisien tanah at rest

𝜎𝑣 = Tegangan vertical efektif
c’ = Kohesi tanah dalam kondisi efektif
6. Korelasi beberapa jenis tanah dengan modulus elastisitas

30
Berikut adalah korelasi nilai kekakuan tanah dalam kondisi undrained dan drained
berdasarkan konsistensi tanah :

Gambar 2.15. Interval Nilai Kekakuan Tanah Berdasarkan Konsistensi Tanah

31
BAB 3
PEMBAHASAN

A. Maksud dan Tujuan Pondasi


Yang dimaksud dengan pondasi adalah bangunan yang dapat menahan berbagai macam
beban, baik horizontal maupun vertikal dalam kondisi stabil. Adapun tujuannya yaitu untuk
menahan beban-beban yang terjadi sehingga menghasilkan kestabilan konstruksi.

B. Klasifikasi Pondasi
Adapun klasifikasi pondasi dalam konstruksi yaitu sebagai berikut :
a. Pondasi dengan biasanya disebut pondasi telapak, ada yang menerus lokal atau
setempat.
b. Pondasi dalam contohnya pondasi sumuran
c. Bentuk pondasi yang lain adalah konstruksi tembok penahan yaitu yang menahan tanah,
diperkirakan dari keruntuhan, kelonsoran total akibat gaya geser tanah. Kedua hal
tersebut sangat menentukan daya dukung tanah dasarnya.
d. Pondasi khusus yaitu pondasi yang tidak tercakup terhadap yang disebut di atas

C. Pengertian Dan Penggunaan Dinding Penahan Tanah


Dinding penahan tanah adalah suatu konstruksi penahan agar tanah tidak longsor.
Konstruksi ini digunakan untuk suatu tebing yang agak tegak. Dinding penahan yang
digunakan bila suatu jalan dibangun berbatasan dengan sungai, danau, atau tanah payau.
Bahan yang digunakan di belakang dinding penahan disebut tanah urugan (back filk). Tanah
urugan ini sebaiknya dipilih dari bahan lolos air atau tanah berbutir seperti pasir, kerikil atau
batu pecah. Tanah lempung sangat tidak disarankan untuk digunakan sebagai tanah urugan.
1. Jenis Dinding Penahan Tanah
Menurut bahan konstruksi, dinding penahan dibagi atas dua yaitu dari pasangan batu dan beton
pracetak. Berdasarkan bentuk konstruksinya dan caranya menahan tanah, dinding penahan
dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :
a. Tembok penahan pasangan bata
Tembok penahan ini digunakan terutama untuk mencegah terhadap keruntuhan tanah, dan
lebih lanjut lagi digunakan apabila tanah asli dibelakang tembok cukup baik dan tekanan tanah
dianggap kecil. Hal ini temasuk kategori dimana kemiringan lebih curam dari 1 : 1 dan
dibedakan dari pasangan batu dengan kemiringan muka tanah lebih kecil. Terdapat dua macam

32
tembok penahan yaitu penembokan kering (dry masonry) dan penembokan basah (Water
masonry).

b. Tembok Penahan Beton Tipe Gravitasi


Tembok penahan macam gaya berat bertujuan untuk memperoleh ketahanan terhadap
tekanan tanah dengan beratnya sendiri. Karena bentuknya yang sederhana dan juga
pelaksanaan yang mudah, Jenis ini menggantungkan seluruh kestabilan pada berat dinding itu
sendiri karena bentuknya sederhana dan pelaksanaannya mudah, maka diperlukan konstruksi
bangunan yang tidak tinggi. Bahannya dapat dibuat dari pasangan batu atau beton tanpa
tulangan, kecuali pada permukaan luar untuk mencegah retak-retak akibat perubah suhu.

c. Tembok Penahan Tipe Semi Gravitasi


Jenis ini mempunyai fungsi sama dengan dinding gravitasi, hanya bagian bawah diperluas.
Penampang dinding dapat direduksi.

d. Tembok penahan dengan sisi belakang tegak


Jenis ini dapat dibuat dari beton tanpa tulangan atau dengan tulangan. Dinding penahan
dengan tulangan lebih ekonomis terutama untuk dinding yang relatif tinggi.

e. Tembok penahan dengan sisi belakang miring


Jenis ini terbuat dari tanpa beton tulangan dan cukup baik digunakan dinding yang tinggi.

f. Tembok penahan dengan kensel


Jenis ini terbuat dari beton bertulang dan secara statis merupakan konstruksi yang kokoh
dengan keseimbangan momen yang baik, tanah dasar yang baik. Diatas kesel dapat diletakkan
instalasi-instalasi bawah tanah, seperti pipa air minum, air limbah, jaringan telepon atau listrik.

g. Tembok penahan beton dengan sandaran


Tembok penahan dengan sandaran sebenarnya juga termasuk dalam kategori tembok
penahan gravitasi tetapi cukup berbeda dalam fungsinya. Tembok penahan gravitasi harus
berdiri pada alas bawahnya meskipun tidak ada tanah timbunan dibelakang tembok itu, oleh
karena itu berat tembok haruslah besar, dan tergantung dari kebutuhan besarnya kapasitas daya

33
dukung tanah pondasi. Jenis ini dapat dibuat dari susunan batu atau beton. Tembok penahan
ini digunakan bila tanah asli dibelakang cukup baik dan tekanan tanahnya relatif kecil.

h. Tembok penahan beton bertulang dengan balok kantilever (q)


Tembok penahan dengan balok kantilever tersusun dari suatu tembok memanjang dan suatu
pelat lantai. Masing-masing berlaku sebagai balok kantilever dan kemantapan dari tembok,
didapatkan dengan berat badannya sendiri dan berat tanah di atas tumit pelat lantai. Bila
dinding tinggi, maka tekanan tanah yang bekerja pada dinding cenderung untuk
menggulingkan dinding, untuk itu agar ekonomis sebaiknya digunakan dinding kontilever.
Dinding ini mempunyai bagian pada dasarnya memanjang di bawah tanah urugan dan berat
tanah diatas kaki tersebut dapat membantu mencegah tergulingnya dinding. Karena tembok
jenis ini relatif mudah dilaksanakan, maka jenis ini juga dipakai dalam jangkauan luas.

i. Tembok penahan beton bertulang dengan penyokong di sisi dalam


Dinding penahan jenis ini, hampir sama dengan cantilever, tetapi pada jarak tertentu
didukung oleh plat-plat vertikal yang diletakkan di belakang dinding. Jenis ini digunakan pada
dinding yang tingginya lebih dari 8 meter.
Tembok penahan dengan tembok penyokong berfungsi sama seperti penahan dengan penahan,
tetapi tembok penyokong yang berhubungan dengan penahan di tempatkan pada sisi yang
berlawanan dengan sisi dimana tekanan tanah bekerja. Berat tanah di atas bagian tumit pelat
lantai tidak digunakan untuk menjamin kemantapan, maka dibutuhkan lebar pelat lantai yang
besar dan akibatnya jenis ini tidak dipakai lebih dari yang dibutuhkan kecuali dalam hal dimana
kondisi khusus yang tak memungkinkan membangun pelat lantaidibelakang tembok penahan
dapat teratasi.

j. Dinding penyokong dari luar


Dinding jenis ini hampir sama dengan dinding counteryort, hanya pada jenis ini penyokong
ditempatkan di depan dinding.

k. Dinding penahan khusus


Jenis ini adalah tembok penahan Khusus yang tidak termasuk dalam tembok penahan yang
lainnya. Jenis ini dibagi menjadi tembok penahan macak rak, tembok penahan tipe kotak,
tembok penahan terbuat di pabrik, tembok penahan yang menggunakan jangkar, tembok
penahan dengan penguatan tanah dan tembok penahan berbentuk Y terbalik.

34
 Dinding penahan yang tersusun dari balok-balok beton pracetak misalnya dinding
krib.
 Dinding penahan dari bronjong
 Dinding penahan tipe kotak
 Dinding penahan bentuk y terbalik
 Dinding penahan dengan pelebar arah dan konsel.

2. Pemilihan Macam Dinding


Pemilihan macam dinding penahan tanah tergantung dari pertimbangan teknik dan ekonomi,
yang perlu diperhatikan adalah sifat-sifat tanah asli, kondisi tanah urugan, kondisi lingkungan
setempat dan kondisi lapangan. Sebagai pegangan dapat digunakan ketentuan-ketentuan
sebagai berikut :
a. Dinding penahan dari pasangan batu dan dinding penahan gravitasi dapat digunakan
untuk ketinggian 3 – 6 meter.
b. Dinding penahan dengan balok kantilever digunakan untuk ketinggian 3 – 8 meter.
c. Dinding penahan dengan plat penopang digunakan untuk ketinggian 8 – 15 meter.

35
BAB 4
PENUTUP

Dalam penutup dari makalah yang ringkas ini, kami selaku penulis hanya dapat melampirkan
kesimpulan dan saran-saran sebagai pelengkap dari isi makalah kami ini.

A. Kesimpulan.

Yang dimaksud dengan pondasi adalah bangunan yang dapat menahan berbagai macam
beban, baik horizontal maupun vertikal dalam kondisi stabil. Adapun tujuannya yaitu untuk
menahan beban-beban yang terjadi sehingga menghasilkan kestabilan konstruksi.
Adapun klasifikasi pondasi dalam konstruksi yaitu sebagai berikut :

a. Pondasi dengan biasanya disebut pondasi telapak, ada yang menerus lokal atau
setempat.
b. Pondasi dalam contohnya pondasi sumuran
c. Bentuk pondasi yang lain adalah konstruksi tembok penahan yaitu yang menahan tanah,
diperkirakan dari keruntuhan, kelonsoran total akibat gaya geser tanah. Kedua hal
tersebut sangat menentukan daya dukung tanah dasarnya.
d. Pondasi khusus yaitu pondasi yang tidak tercakup terhadap yang disebut di atas.

Konstruksi tembok penahan tanah harus memenuhi 2 keadaan:


1. Syarat stabilitas,yaitu aman terhadap guling akibat momen guling,aman terhadap geser
gaya akibat gaya-gaya horizontal dan memenuhi persyaratan daya dukung tanah
dibawahnya.
2. Faktor keamanan,harus dipenuhi dengan batasan tertentu untuk kondisi stabilitas diatas.

Tembok penahan tanah dapat dibagi:


a. Tembok Gravitasi.
- Stabilitasnya tergantung dari berat sendiri konstruksi dan tanah isian.
- Bahan-bahannya: pasangan batu kali,beton tumbuk, dan lain-lain.

36
- Umumnya tidak memerlukan pembesian.

b. Tembok Semigravitasi.
- Memerlukan pembesian vertikal pada sisi dalam.
- Bahan –bahannya:beton tumbuk,dan lain-lain.
- Struktur lebih langsing dari pada tembok gravitasi

c. Tembok Kantilver.
- Memerlukan pembesian pada semua penampang untuk menahan momen dan gaya
geser.
- Bahan-bahannya: beton bertulang.
- Sturuktur lebih langsing dari tembok semi gravitasi.

B. Saran-saran

Adapun saran-saran yang akan kami sampaikan selaku penulis antara lain :
a. Dalam pembuatan sebuah makalah, sebaiknya dipersentasekan agar kami selaku
mahasiswa sekaligus penulis makalah mampu memahami lebih dalam tentang isi dari
makalah tersebut dan dibimbing langsung oleh dosen yang bersangkutan.
b. Dalam membuat makalah, dosen yang bersangkutan juga harus meneliti lebih lanjut
apakah isi makalah yang dibuat oleh mahasiswa itu benar mengambil referensi dari
buku yang sesuai dengan isi makalah tersebut atau tidak, hal ini juga dilampirkan oleh
penulis dalam sebuah saran agar mahasiswa tersebut tidak menjadi sebuah keluaran
alumni yang bodoh.

37