Anda di halaman 1dari 21

40

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Tempat Penelitian

a. Data Geografis dan Demografi

Berdasarkan letak geografis, Desa Raharja berada di sebelah barat

Sungai Citanduy yang menjadi perbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah,

secara administratif memilki luas wilayah ± 317,990 hektar, dan

ketinggian wilayah sekitar 7 mdpl (meter di atas permukaan laut). Kondisi

cuaca dan klimatologi di Desa Raharja memiliki suhu rata-rata harian 28-

32° C. Berada di wilayah administrasi Pemerintahan Kecamatan

Purwaharja Kota Banjar. Secara administrasi, Desa Raharja dibatasi oleh :

1) Sebelah Utara : Desa Panulisan Kecamatan Dayeuhluhur

2) Sebelah Selatan : Kelurahan Karangpanimbal Kec. Purwaharja

3) Sebelah Barat : Kelurahan Purwaharja Kec. Purwaharja

4) Sebelah Timur : Desa Sinartanjung Kecamatan Pataruman

Cakupan wilayah Desa Raharja terdiri dari 4 dusun, yang

diantaranya :

1) Dusun Randegan I terdiri dari 2 RW dan 8 RT

2) Dusun Randegan II terdiri dari 2 RW dan 11 RT


41

Secara umun kondisi tofografi Desa Raharja adalah dataran.

Tingkat keramaiannya cukup dan jalur transportasi dominan warga

kendaraan roda dua dan roda empat.

Desa Raharja memiliki akses ke pusat pemerintahan Kota Banjar

sekitar 25 Km atau dengan waktu tempuh 25-20 menit perjalanan,

sementara akses jangkauan ke pusat Kecamatan Purwaharja sangat baik

karena Desa Raharja sendiri merupakan jalur utama provinsi jawa barat.

Sarana layananan transportasi umum yang melalui Desa Raharja

telah memadai, jangkauan layanan transportasi umum menuju Desa

Raharja dari pusat pemerintahan Kota Banjar dapat dijangkau melalui

terminal banjar dengan jarak tempuh sekitar 25 Km atau dengan waktu

tempuh 30 menit dengan kondisi Jalan yang dilalui adalah kelas jalan

provinsi jalur sehingga termasuk jalur ramai dilalui dan nyaman untuk

segala jenis kendaraan.

b. Penduduk

Jumlah penduduk Desa Hegarsari seluruhnya berjumlah 14.121 jiwa

yang meliputi penduduk laki-laki sebanyak 7.053 jiwa dan perempuan

berjumlah 7.068 jiwa, dimana penduduk di Lingkungan Tanjung Sukur

RW 16 RT 02 berjumlah 233 jiwa dengan 81 KK (Kepala Keluarga)

dengan 65 jumlah rumah.


42

2. Analisa Univarat

a. Karakteristik Usia Responden

Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan di dapat data

karakteristik usia responden di Desa Hegarsari Lingkungan Tanjung

Sukur RW 16 RT 02 Kecamatan Pataruman 1 Kota Banjar seperti dapat

dilihat pada tabel 4.1 berikut ini:

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Usia Responden
di Lingkungan Tanjung Sukur RW 16 RT 02 Tahun 2017

No Kelompok Usia F %
1 17-26 Th 6 10,7
2 27-36 Th 28 50,0
3 37-46 Th 12 21,4
4 47-56 Th 6 10,7
5 >56 Th 4 7,1
Jumlah 56 100
Sumber: Data Primer

Berdasarkan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa

responden mayoritas berada pada kelompok usia 27-36 Tahun sebanyak

28 orang (50,0%), kemudian usia antara 36-46 tahun yaitu sebanyak 12

orang (21,4%), usia 47-56 tahun yaitu sebanyak 6 orang (10,7%) dan

Usia lebih dari 56 tahun 4 orang (7,1%) dan sisanya berada pada

kisaran usia 17-26 Tahun yaitu sebanyak 6 orang (10,7%).

b. Karakteristik Jenis Kelamin Responden

Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan di dapat data

karakteristik jenis kelamin responden di Lingkungan Tanjung Sukur

RW 16 RT 02 seperti dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut ini:


43

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Karakteristik Jenis Kelamin Responden
di Lingkungan Tanjung Sukur RW 16 RT 02 Tahun 2017

No Jenis Kelamin F %
1 Laki-laki 32 57,1
2 Perempuan 24 42,9
Jumlah 56 100
Sumber: Data Primer

Berdasarkan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa

responden paling banyak adalah berjenis kelamin perempuan yaitu

sebanyak 32 orang (57,1%) dan sebanyak 24 orang responden berjenis

kelamin laki-laki (42,9%).

c. Karakteristik Pendidikan Responden

Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan di dapat data

karakteristik tingkat pendidikan responden di Lingkungan Tanjung

Sukur RW 16 RT 02 Kecamatan Pataruman 1 Kota Banjar seperti dapat

dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Karakteristik Tingkat Pendidikan
Responden di Lingkungan Tanjung Sukur RW 16 RT 02 Tahun
2017

No Tingkat Pendidikan F %
1 Tidak Tamat SD 4 7,1
2 Tamat SD/ Sederajat 21 37,5
3 SMP/ Sederajat 17 30,4
4 SMA/ Sederajat 7 12,5
5 Pendidikan Tinggi 7 12,5
Jumlah 56 100
Sumber: Data Primer

Berdasarkan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa

responden paling banyak memiliki tingkat pendidikan tamatan sekolah


44

dasar yaitu sebanyak 21 orang (37,5%), lulusan SMP/ Sederajat

sebanyak 17 orang (30,4%), Lulusan SMA/ Sederajat dan lulusan

pendidikan tinggi masing-masing sebnayak 7 orang (12,5%) dan

sisanya sebanyak 4 orang (7,1 %) adalah tidak tamat SD.

d. Karakteristik Pekerjaan Responden

Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan di dapat data

karakteristik pekerjaan responden di Lingkungan Tanjung Sukur RW 16

RT 02 Kecamatan Pataruman 1 Kota Banjar seperti dapat dilihat pada

tabel 4.4 berikut ini:

Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Karakteristik Pekerjaan Responden di
Lingkungan Tanjung Sukur RW 16 RT 02 Tahun 2017

No Pekerjaan F %
1 Petani 7 12,5
2 Pedagang 16 28,6
3 Wiraswasta 12 21,4
4 PNS/ Karyawan swasta 6 10,7
5 Lainnya 15 26,8
Jumlah 56 100
Sumber: Data Primer

Berdasarkan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa

responden paling banyak memiliki pekerjaan sebagai pedangang yaitu

sebanyak 16 orang (28,6%), lainnya sebanyak 15 orang (26,8%),

wiraswasta sebanyak 12 orang (21,4%), Petani sebanyak 7 orang

(12,5%) dan sisanya PNS/ Karyawan swasta yaitu sebanyak 6 orang

(10,7%).
45

e. Penyediaan Air Bersih di Desa Raharja

Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan di dapat data

penyediaan air bersih di Desa Raharja Kecamatan Purwaharja Kota

Banjar seperti dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini:

Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Penyediaan Air Bersih di Desa Raharja
Tahun 2016

NO PENYEDIAAN AIR F %
BERSIH
1 Tidak memenuhi syarat 34 36,2
2 Memenuhi syarat 60 63,8
Jumlah 94 100
Sumber : Data Primer

Data pada tabel 4.6 diatas menunjukan bahwa dalam

penyediaan air bersih di Desa Raharja adalah sebagian besar memenuhi

syarat yaitu 60 KK (63,8%) dan sisanya sebanyak 34 KK (36,2%)

berkategori tidak memenuhi syarat.

f. Kepemilikan Jamban

Berdasarkan data hasil penelitian dapat diketahui bahwa

kepemilikan jamban di Desa Raharja dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut

ini :

Tabel 4.7
Distribusi fekuensi Kepemilikan Jamban di Desa Raharja
Tahun 2016

NO Kepemilikan Jamban F %
1 Tdak memenuhi syarat 33 35,1
2 Memenuhi syarat 61 64,9
Jumlah 94 100
Sumber : Data Primer
46

Data pada tabel 4.7 diatas menunjukan bahwa dalam

kepemilikan jamban di Desa Raharja paling banyak memenuhi syarat

yaitu sebanyak 64,9% (61 KK) dan yang tidak memenuhi syarat

sebanyak 35,1% (33 KK).

g. Tempat Pembuangan Sampah

Berdasarkan pada data hasil penelitian di dapat data tempat

pembuangan sampah di Desa Raharja sebagaimana dapat dilihat pada

tabel 4.8 berikut in:

Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Tempat Pebuangan Sampah di Desa Raharja
Tahun 2016

NO PEMBUANGAN SAMPAH F %
1 Tidak memenuhi syarat 24 25,5
2 Memenuhi syarat 70 74,5
Jumlah 94 100
Sumber : Data Primer

Data pada tabel diatas menunjukan bahwa tempat pembuangan

sampah di Desa Raharja paling banyak memenuhi syarat yaitu sebanyak

74,5% (70 KK) dan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 25,5% (24

KK).

h. Sanitasi Lingkungan

Data sanitasi lingkungan didapat dari nilai kumulatif hasil

jawaban responden dari seluruh jawaban pada kuesioner penyediaan air


47

bersih, kepemilikan jamban dan tempat pembuangan sampah, maka

didapat data sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4.9 Berikut:

Tabel 4.9
Distribusi Frekuensi Sanitasi Lingkungan di Desa Raharja
Tahun 2016

NO Sanitasi Lingkungan F %
1 Tidak memenuhi syarat 65 69,1
2 Memenuhi syarat 29 30,9
Jumlah 94 100
Sumber : Data Primer

Data pada tabel diatas menunjukan bahwa sanitasi lingkungan

di Desa Raharja paling banyak tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak

69,1% (65 KK) dan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 30,9% (29

KK).

i. Kejadian Diare

Berdasarkan pada data hasil penelitian didapat bahwa kejadian

Diare di Desa Raharja sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut

ini:

Tabel 4.10
Distribusi fekuensi Kejadian Diare di Desa Raharja
Tahun 2016
No Kejadin Diare F %
1 Ya 21 22,3
2 Tidak Diare 73 77,7
Jumlah 94 100
Sumber : Data Primer

Data pada tabel diatas menunjukan bahwa yang mengalami

kejadian kejadian diare di Desa Raharja adalah sebanyak 21 orang KK

(22,3%) dan sisanya sebanyak 73 orang KK (77,7%) tidak diare.


48

3. Analisa Bivarat

a. Hubungan Antara Penyediaan Air Bersih Dengan Kejadian Diare

Hubungan antara penyediaan air bersih dengan kejadian diare di

Desa Raharja sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut ini :

Tabel 4.11
Hubungan Antara Penyediaan Air Bersih Dengan Kejadian
Diare di Desa Raharja
Tahun 2016

Penyediaan Air Kejadiaan Diare Total p-


Bersih Ya Tidak value
F % f % f %
Memenuhi syarat 9 9,6 51 54,2 60 63,8 0,023
Tidak memenuhi 12 12,8 22 23,4 34 36,2
syarat
Jumlah 21 22,4 73 77,6 94 100,0
Sumber: Data Olahan, 2016

Data pada tabel diatas menunjukan bahwa penyediaan air bersih

yang memenuhi syarat terdapat kejadiaan diare sebanyak 9 orang KK

(9,6%) dan tidak diare sebanyak 51 orang KK (54,2%). Selanjutnya

penyediaan air bersih tidak memenuhi syarat terdapat kejadian diare

sebanyak 12 orang KK (12,8%) dan yang tidak diare sebanyak 22 orang

KK (23,4%). Hasil analisis bivarat dengan menggunakan uji stastistik

chi square didapatkan nilai p-value sebanyak 0,023 maka nlai p-value

lebih kecil dari alpha 0,05. Maka keputusanya adalah menerima H1 dan

menolak H0, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara

penyediaan air bersih dengan kejadiaan diare di Desa Raharja

Kecamatan Purwaharja Kota Banjar.

b. Hubungan Kepemilikan Jamban dengan Kejadian Diare


49

Hubungan antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare di

Desa Raharja sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut ini :

Tabel 4.12
Hubungan Antara Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian
Diare di Desa Raharja
Tahun 2016

Kepemilikan Kejadian Diare Total p-value


Jamban Ya Tidak
F % f % f %
Memenuhi syarat 7 7,5 54 57,4 61 64,9 0.001
Tidak memenuhi 14 14,9 19 20,2 33 35,1
syarat
Jumlah 21 22,4 73 77,6 94 100
Sumber: Data Olahan, 2016

Data pada tabel diatas menunjukan bahwa kepemilikan Jamban

yang mencapai cakupan memenuhi syarat terdapat kejadiaan diare

sebanyak 7 orang (7,5%), dan tidak diare sebanyak 54 orang (57,4%).

Selanjutnya kepemilikan jamban tidak memenuhi syarat terdapat

kejadian diare sebanyak 14 orang (14,9%) dan yang tidak diare

sebanyak 19 orang (20,2%). Hasil analisis bivarat dengan menggunakan

uji stastistik chi square didapatkan nilai p-value sebanyak 0,001 maka

nlai p-value lebih kecil dari alpha 0,05. Jadi, diketahui bahwa

menerima H1 dan menolak H0, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada

hubungan antara kepeilikan jamban dengan kejadiaan diare di Desa

Raharja Kecamatan Purwaharja Kota Banjar.

c. Hubungan antara Tempat Pembuangan Sampah dengan Kejadian

Diare
50

Hubungan antara pembuangan sampah dengan kejadian Diare di

Desa Raharja sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut ini :

Tabel 4.13
Hubungan Antara Tempat Pembuangan Sampah Dengan Kejadian
Diare di Desa Raharja
Tahun 2016

Pembuangan Kejadiaan Diare Total p-


Sampah Ya Tidak value
f % F % f %
Memenuhi syarat 15 16,0 55 58,5 70 74,5 0.717
Tidak memenuhi 6 6,4 18 19,1 24 25,5
syarat
Jumlah 21 22,4 73 77,6 94 100.0
Sumber: Data Olahan, 2016

Data pada tabel diatas menunjukan bahwa tempat pembuangan

sampah yang memenuhi syarat terdapat kejadiaan diare sebanyak 15

orang (16,0%), dan tidak diare sebanyak 55 orang (58,5%). Selanjutnya

tempat pembanan sampah tidak memenuhi syarat terdapat kejadian

diare sebanyak 6 orang (6,4%) dan yang tidak diare sebanyak 18 orang

(19,1%). Hasil analisis bivariat dengan uji stastistik chi square

didapatkan nilai p-value sebanyak 0,717 maka nlai p-value lebih besar

dari alpha 0,05. Maka keputusanya adalah menerima Ho dan menolak

H1, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara

pembuangan sampah dengan diare di Desa Raharja Kecamatan

Purwaharja Kota Banjar.

d. Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare

Hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian diare di

Desa Raharja sebagaimana dapat dilihat pada tabel 4.14 berikut ini :
51

Tabel 4.14
Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian
Diare di Desa Raharja
Tahun 2016

Sanitasi Lingkungan Kejadiaan Diare Total p-


Ya Tidak value
f % f % f %
Memenuhi syarat 1 1,1 28 29,8 29 30,9 0,003
Tidak memenuhi 20 21,3 45 47,9 65 69,1
syarat
Jumlah 21 22,3 73 77,7 94 100.0
Sumber: Data Olahan, 2016

Berdasarkan data pada tabel 4.14 diatas dapat diketahui pada

sanitasi lingkungan yang memenuhi syarat terdapat kejadian diare

sebanyak 1 orang (1,1%) dan tidak diare sebanyak 28 orang (29,8%).

Selanjutnya, pada sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat

terdapat kejadian diare sebanyak 20 orang (21,3%) dan tidak diare

sebanyak 45 orang (47,9%). Hasil analisa bivariate dengan

menggunakan analisi Uji Chi Square didapatkan nilai P-Value sebesar

0,003 yang mana berarti menerima H1 dan menolak H0. Selain itu, nilai

P-value 0,003. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara

sanitasi lingkungan dengan kejadian diare di Desa Raharja Kecamatan

Purwaharja Kota Banjar.

B. Pembahasan

1. Penyediaan Air Bersih

Air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan-persyaratan

kesehatan baik syarat fisik, syarat bakteriologi maupun syarat kimia.

Kebutuhan manusia akan air bersih sangat kompleks antara lain untuk
52

minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan

sebagainya (Notoatmodjo, 2007).

Penyediaan air bersih di Desa Raharja adalah sebagian besar

memenuhi syarat yaitu 60 KK (63,8%) dan sisanya sebanyak 34 KK

(36,2%) berkategori tidak memenuhi syarat. Adanya penyediaan air bersih

yang tidak memenuhi syarat menunjukan bahwa kesadaran masyarakat

akan pentingnya air bersih yang sehat masih belum sesuai dengan harapan.

Sebab, air untuk keperluan minum (termasuk untuk memasak) harus

mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan

penyakit. Penggunaan air bersih mempunyai dampak pada kebersihan

makanan dan minuman serta higiene perseorangan. Penggunaan air bersih

berpengaruh baik terhadap kesehatan.

2. Kepemilikan Jamban

Jamban adalah bangunan untuk tempat buang air besar dan buang

air kecil. Buang air besar dan buang air kecil harus didalam jamban,

jangan di sungai atau di sembarang tempat karena dapat menimbulka

penyakit. Hasil penelitian menunjukan bahwa kepemilikan jamban di Desa

Raharja paling banyak memenuhi syarat yaitu sebanyak 64,9% (61 KK)

dan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 35,1% (33 KK).

Adanya kepemilikan jamban yang tidak memenuhi syarat

menunjukan kurangnya perhatian penduduk Desa Raharja terhadap

penyebaran penyakit melalui tinja. Peranan tinja dalam penyebaran

penyakit sangat besar. Disamping dapat langsung mengontaminasi


53

makanan, minuman, sayuran, air, tanah, serangga (lalat, kecoa,dan

sebagainya), dan bagian-bagian tubuh dapat terkontaminasi oleh tinja

tersebut. Benda-benda yang telah terkontaminasi oleh tinja dari seseorang

yang sudah menderita suatu penyakit tertentu merupakan penyebab

penyakit bagi orang lain. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut

diharapkan penduduk mempunyai jamban meskipun sederhana tetapi

memenuhi syarat kesehatan.

3. Pembuangan Sampah

Sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak

dipakai lagi dalam suatu kegiatan manusia. Hasil penelitian menunjukan

bahwa tempat pembuangan sampah di Desa Raharja paling banyak

memenuhi syarat yaitu sebanyak 74,5% (70 KK) dan yang tidak

memenuhi syarat sebanyak 25,5% (24 KK).

Adanya tempat pembuangan sampah yang tidak memenuhi

persyaratan menunjukan bahwa sampah tidak di kelola dengan baik. Ini

juga menunjukan bahwa kepedulian masyarakat akan pentingnya

membuang sampah pada tempatnya masih sangat rendah. Oleh karena itu,

sampah harus dikelola dengan baik, sampai sekecil mungkin tidak

menggangu atau mengancam kesehatan masyarakat. Cara-cara

pengelolaan sampah antara lain: pengumpulan dan pengangkutan sampah,

pemusnahan dan pengelolaan sampah (ditanam, dibakar dan dijadikan

pupuk).

4. Sanitasi Lingkungan
54

Sanitasi lingkungan hakikatnya adalah suatu kondisi lingkungan

yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status

kesehataan yang optimum pula (Notoatmodjo, 2005).

Sanitasi lingkungan di Desa Raharja paling tidak memenuhi syarat

yaitu sebanyak 69,1% (65 KK) dan yang tidak memenuhi syarat sebanyak

30,9% (29 KK). Dengan kenyataan bahwa masih adanya sanitasi

lingkungan rumah yang masih tidak memenuhi standar tersebut maka

dimungkinkan Desa Raharja dapat terjadi acaman pencemaran lingkungan

yang cukup tinggi baik itu pencemaran tanah, air maupun udara. Apabila

ancaman pencemaran lingkungan tinggi maka ancaman kemungkinan

penyebaran penyakit melalui lingkungan juga sangat besar, sehingga tidak

menutup kemungkinan apabila sanitasi lingkungan ini tidak diperbaiki

maka akan terjadi pula kejadian luar biasa (KLB).

5. Kejadian Diare

Diare adalah penyakit yang ditandai bertambahnya frekuensi

defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi

tinja (menjadi cair), dengan atau tanpa darah atau lendir (Suraatmaja,

2007).

Hasil penelitian menunjukan bahwa yang mengalami kejadian diare

di Desa Raharja sebanyak 21 orang KK (22,3%) dan sisanya sebanyak 73

orang KK (77,7%) tidak diare. Adanya penduduk yang terkena diare

menunjukan bahwa lingkungan di Desa Raharja masih kotor, untuk itu

diperlukan peran serta masyarakat dalam mejaga sanitasi lingkungan sebab


55

sumber utama dari penyakit ini adalah lingkungan yang kotor dan tidak

sehat (Vebrina, 2007). Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya diare,

petugas harus sering turun kelapangan untuk mengumpulkan informasi

terkait dengan masalah diare dan segera mengambil langkah antisipasi

dengan melibatkan masyarakat setempat. Kemudian tim epidemiologi

Puskesmas harus berjalan dengan baik dan optimal untuk mengantisipasi

terjadinya KLB Diare.

6. Hubungan Penyediaan Air Bersih dengan Kejadian Diare

Penyediaan air bersih yang memenuhi syarat terdapat kejadiaan

diare sebanyak 9 orang KK (9,6%) dan tidak diare sebanyak 51 orang KK

(54,2%). Selanjutnya penyediaan air bersih tidak memenuhi syarat terdapat

kejadian diare sebanyak 12 orang KK (12,8%) dan yang tidak diare

sebanyak 22 orang KK (23,4%). Hasil analisis bivarat dengan

menggunakan uji stastistik chi square didapatkan nilai p-value sebanyak

0,023 maka nlai p-value lebih kecil dari alpha 0,05. Maka keputusanya

adalah menerima H1 dan menolak H0, sehingga dapat disimpulkan bahwa

ada hubungan antara penyediaan air bersih dengan kejadiaan diare di Desa

Raharja Kecamatan Purwaharja Kota Banjar.

Terdapatnya hubungan antara penyediaan air bersih dengan

kejadiaan Diare menunjukan bahwa diare dapat terjadi jika penduduk

menggunakan air yang tidak bersih. Dengan demikian untuk menghindari

kejadian diare, disarankan agar menggunakan air bersih. Hal tersebut

sesuai dengan Notoatmodjo (2002, 153) bahwa agar air minum tidak
56

menyebabkan penyakit, maka air tersebut hendaknya diusahakan

memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan. Persyaratan kesehatan

tersebut adalah syarat fisik, bakteriologis maupun kimiawinya. Persyaratan

fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tidak bewarna), tidak

berasa, suhu dibawah suhu diluarnya, sehingga dapat digunakaan dalam

kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi syarat fisik ini

tidak sukar. Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala

bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air

minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah memeriksa sampel

(contoh) air tersebut. Dan bila dalam pemeriksaan 100 cc air terdapat

kuran dari 4 bakteri E.Coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat

kesehatan. Air minum sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam

jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia

di dalam air akan menyebabkan gangguan fsikologis pada manusia.

7. Hubungan Antara Kepemilikan Jamban Dengan Kejadiaan Diare

Kepemilikan Jamban yang mencapai cakupan memenuhi syarat

terdapat kejadiaan diare sebanyak 7 orang (7,5%), dan tidak diare

sebanyak 54 orang (57,4%). Selanjutnya kepemilikan jamban tidak

memenuhi syarat terdapat kejadian diare sebanyak 14 orang (14,9%) dan

yang tidak diare sebanyak 19 orang (20,2%). Hasil analisis bivarat

dengan menggunakan uji stastistik chi square didapatkan nilai p-value

sebanyak 0,001 maka nlai p-value lebih kecil dari alpha 0,05. Jadi,
57

diketahui bahwa menerima H1 dan menolak H0, sehingga dapat

disimpulkan bahwa ada hubungan antara kepemilikan jamban dengan

kejadiaan diare di Desa Raharja Kecamatan Purwaharja Kota Banjar.

Terdapatnya hubungan antara kepemilikan jamban dengan kejadian

diare menunjukan jamban keluarga berperan dalam mencegah penyakit.

Untuk itu, penduduk di Desa Raharja agar memiliki jamban keluarga

meskipun sederhana tetapi memenuhi syarat kesehatan. Sebab, peranan

tinja dalam penyebaran penyakit sangat besar. Disamping dapat

langsung mengontaminasi makanan, minuman, sayuran, air, tanah,

serangga (lalat, kecoa,dan sebagainya), dan bagian-bagian tubuh dapat

terkontaminasi oleh tinja tersebut. Benda-benda yang telah

terkontaminasi oleh tinja dari seseorang yang sudah menderita suatu

penyakit tertentu merupakan penyebab penyakit bagi orang lain.

Kurangnya perhatian terhadap pengolahan tinja disertai dengan

cepatnya pertambahan penduduk, akan mempercepat penyebaran

penyakit-penyakit yang ditularkan lewat tinja. Penyakit yang dapat

disebarkan melalui tinja manusia antara lain: tipus, diare, disentri, kolera,

bermacam-macam cacing (cacing gelang, cacing kremi, cacing

tambang,cacing pita), schistosomiasis, dan sebagainya (Notoadmodjo,

2007).

8. Hubungan Antara Pembuangan Sampah Dengan Kejadian Diare


58

Tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat terdapat

kejadiaan diare sebanyak 15 orang (16,0%), dan tidak diare sebanyak 55

orang (58,5%). Selanjutnya tempat pembanan sampah tidak memenuhi

syarat terdapat kejadian diare sebanyak 6 orang (6,4%) dan yang tidak

diare sebanyak 18 orang (19,1%). Hasil analisis bivarat dengan

menggunakan uji stastistik chi square didapatkan nilai p-value sebanyak

0,717 maka nlai p-value lebih besar dari alpha 0,05. Maka keputusanya

adalah menerima Ho dan menolak H1, sehingga dapat disimpulkan bahwa

tidak ada hubungan antara pembuangan sampah dengan diare di Desa

Raharja Kecamatan Purwaharja Kota Banjar

Secara teoritis sampah erat kaitanya dengan kesehatan manusia,

karena dari sampah-sampah tersebut akan hidup berbagai mikroorganisme

bakteri penyebab penyakit. Namun, dari hasil penelitian ini didapatkan

kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara pembuangan sampah dengan

kejadian diare, ini dimungkinkan karena data hasil penelitian pembuangan

sampah di Desa Raharja 74,5% telah memenuhi syarat kesehatan dan

hanya 25,5% saja yang tidak memenuhi syarat. Artinya kemungkinan

kontaminasi bakteri E.coli dari sampah rumah tangga melalui lalat/ secara

langsung pada makanan dan bahan makanan yang dikonsumsi masyarakat

sangat kecil. Sehingga, peluang pembuangan sampah dapat menyebabkan

kejadian diare dari penelitian ini tidak dapat dibuktikan.

9. Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare


59

Sanitasi lingkungan yang memenuhi syarat terdapat kejadian

diare sebanyak 1 orang (1,1%) dan tidak diare sebanyak 28 orang (29,8%).

Selanjutnya, pada sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat

terdapat kejadian diare sebanyak 20 orang (21,3%) dan tidak diare

sebanyak 45 orang (47,9%). Hasil analisa bivariate dengan menggunakan

analisi Uji Chi Square didapatkan nilai P-Value sebesar 0,003 yang mana

berarti menerima H1 dan menolak H0. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada

hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian diare di Desa

Raharja Kecamatan Purwaharja Kota Banjar.

Dengan kenyataan bahwa masih adanya sanitasi lingkungan

rumah di Desa Raharja yang masih tidak memenuhi syarat tersebut maka

dimungkinkan Desa Raharja dapat terjadi ancaman pencemaran

lingkungan yang cukup tinggi baik itu pencemaran tanah, air maupun

udara. Apabila sanitasi lingkungan tidak memenuhi syarat maka

kemungkinan penyebaran penyakit melalui lingkungan juga sangat besar,

sehingga tidak menutup kemungkinan apabila sanitasi lingkungan ini tidak

diperbaiki maka akan terjadinya kejadian penyakit diare dalam jumlah

cukup banyak.

Penelitian ini menunjukan bahwa variabel sanitasi lingkungan

yaitu penyediaan air bersih dan jamban keluarga sangat berpengaruh

terhadap kejadian diare. Ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh

Notoatmodjo (2009), meyatakan bahwa agar air bersih tidak menimbulkan

penyakit, maka air tersebut hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-


60

persyaratan kesehatan baik fisik, bakteriologis maupun kimiawinya. Selain

itu, Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan tinja disertai dengan

cepatnya pertambahan penduduk, akan mempercepat penyebaran penyakit-

penyakit yang ditularkan lewat tinja. Penyakit yang disebarkan oleh tinja

manusia antara lain: tipus, diare, disentri, kolera, bermacam-macam cacing

(cacing gelang, cacing kremi, cacing tambang, cacing pita),

schistosomiasis, dan sebagainya (Notoadjmodjo, 2009).