Anda di halaman 1dari 19

Tugas Makalah

UPAYA KESEHATAN BERSUMBER DAYA

MASYARAKAT

Oleh:

Aulia Alvianti Akbar 04054821719008

Elisabeth Gerda Sitompul 04054821719016

Nova Pebi Putri 04054821719121

Karisya Tri Andini 04054821719122

Indah Meita Said 04084821719196

Pembimbing:

Mariana, SKM, M.Kes

BAGIAN ILMU KESEHATAN KOMUNITAS DAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYAPALEMBANG
HALAMAN PENGESAHAN

Tugas Makalah

Judul

UPAYA KESEHATAN BERSUMBER DAYA

MASYARAKAT

Oleh:

Aulia Alvianti Akbar 04054821719008

Elisabeth Gerda Sitompul 04054821719016

Nova Pebi Putri 04054821719121

Karisya Tri Andini 04054821719122

Indah Meita Said 04084821719196

Telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Komunitas dan Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 11 Desember 2017-19
Febuari 2018.

Palembang, Desember 2017

Pembimbing,

Mariana, SKM, M.Kes

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah dengan judul “Upaya Kesehatana Bersumber Daya
Masyarakat” tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada Mariana, SKM, M.Kes selaku pembimbing yang telah membantu dalam penyelesaian
tugas makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan semua
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan tugas ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat diharapkan. Akhir kata, semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Palembang, Desember 2017

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN ...............................................................................ii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... iii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 3

BAB III KESIMPULAN...................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 15

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Puskesmas sebagai penanggungjawab penyelenggara upaya kesehatan tidak
hanya berfungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan strata satu tetapi juga sebagai
pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat sehingga Puskesmas dapat
memberdayakan setiap masyarakat agar berperan aktif dalam penyelenggaraan upaya
kesehatan.
Partisipasi atau peran serta masyarakat jelas dirasakan keberadaan dan perannya
dalam segala bidang pembangunan. Di bidang kesehatan, wujud nyata peran serta
masyarakat berupa Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang jenisnya
bermacam-macam. Jenis UKBM ini bervariasi sesuai kebutuhan dan perkembangan
masyarakat.
Dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan Pasal 5 “Setiap orang
berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan
perseorangan, keluarga dan lingkungannya”.
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan masyarakat,
berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumberdaya yang ada
termasuk yang ada di masyarakat. Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM
yang paling dikenal di masyarakat.
Menurut WHO peran serta masyarakat merupakan prasyarat utama unutk
keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan. Yang dimaksud dengan peran serta
masyarakat disini adalah suatu proses individu, keluarga atau kelompok masyarakat
dalam ikut bertanggungjawab atas kesehatan dan kesejahteraan demi keluarga dan
masyarakat, serta peningkatan kemampuannya untuk berkomunikasi dalam
pembangunan melalui penghayatan keadaan dan masalah dengan lebih baik sehingga
masyarakat termotivasi untuk memecahkan masalahnya dan secara khusus menjadi
upaya peningkatan peran serta masyarakat yang diwujudkan dalam program
pembangunan kesehatanmasyarakat kota dan desa melalui pendekatan Primary Health
Care.

v
1.2 Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai peran serta masyarakat
dan upaya kesehatan berbasis masyararakat di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

1.3 Batasan Masalah


Makalah ini membahas mengenai peran serta masyarakat dan upaya kesehatan
berbasis masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

1.4 Metode Penulisan


Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk dari berbagai
literatur,laporan tahunan dan tengah semester Puskesmas Andalas, serta diskusi
dengan pemegang Program Promosi Kesehatan Puskesmas Andalas.

vi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Peran Serta Masyarakat


2.1.1 Definisi
Peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan adalah keadaan dimana
individu, keluarga maupun masyarakat umum ikut serta bertanggung jawab terhadap
kesehatan diri, keluarga, ataupun kesehatan masyarakat lingkungannya serta wahana
pemberdayaan masyarakat yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola
oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat dengan bimbingan dari petugas Puskesmas,
lintas sektor dan lembaga terkait.

2.1.2 Dasar Hukum Peran Serta Masyarakat


Peran serta masyarakat memiliki arti penting dalam pembangunan pada
umumnya dan penbangunan kesehatan pada khususnya. Hal ini terbukti dengan
dicantumkannya peran serta masyarakat dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang
kesehatan.
Pasal 5
Setiap orang berkewajiban untuk ikut sertadalam memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan perseorangan, keluarga, dan lingkungannya.
Pasal 8
Pemerintah bertugas menggerakkan peran serta masyarakat dalam
menyelenggarakan pembiayaan kesehatan, dengan memperhatikan fungsi social
sehingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang kutang mampu tetap terjamin.
Pasal 71

1. Masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan serta dalam penyelenggaraan


upaya kesehatan beserta sumber daya masyarakat.
2. Pemerintah membina, mendorong dan menggerakkan swadaya masyarakat yang
bergerak di bidang kesehatan agar dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna.
3. Ketentuan mengenai syarat dan tatacara peran serta masyarakat di bidang
kesehatan ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

vii
2.1.3 Tujuan Peran Serta Masyarakat
Tujuan program peran serta masyarakat adalah
1. Meningkatkan peran, kemandirian, dan kerjasama dengan lembaga-lembaga non
pemerintah yang memiliki visi sesuai
2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas jejaring kelembagaan dan organisasi non
pemerintah dan masyarakat
3. Memperkuat peran aktif masyarakat dalam setiap tahap dan proses pembangunan
melalui peningktan jaringan kemitraan dengan masyarakat

2.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Peran Serta Masyarakat


1. Manfaat kegiatan yang dilakukan
Jika kegiatan yang dilakukan memberikan manfaat yang nyata dan jelas bagi
masyarakat maka kesediaan masyarakat unutk berperan serta menjadi lebih besar.
2. Adanya kesempatan
Kesediaan juga dipengaruhi oleh adanya kesempatan atau ajakan untuk berperan
serta dan masyarakat melihat memang ada hal-hal yang berguna dalam kegiatan
yang akan dilakukan.
3. Memiliki keterampilan
Jika kegiatan yang dilaksanakan membutuhkan keterampilan tertentu dan orang
yang mempunyai keterampilan sesuai dengan keterampilan tersebut maka orang
tersebut akan tertarik untuk berperan serta.
4. Rasa memiliki
Rasa memiliki akan tumbuh jika sejak awal kegiatan masyarakat sudah
diikutsertakan, jika rasa memiliki ini bisa ditumbuhkembangkan dengan baik,
maka peran serta masyarakat dapat di lestarikan.
5. Faktor tokoh masyarakat
Jika dalam kegiatan yang diselenggarakan masyarakat melihat bahwa tokoh-
tokoh masyarakat atau pemimpin kader yang disegani ikut serta, maka mereka
akan tertarik pula untuk berperan serta.

2.1.5 Lingkup Peran Serta Masyarakat


Ruang lingkup peran serta masyarakat (PSM) menjadi sangat luas bahkan tidak

viii
terbatas. Namun demikian, untuk memudahkan dalam pembinaan, lingkup PSM dapat
dikelompokkan menjadi :
1. Upaya Kesehatana Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan
oleh masyarakat umum.
2. Upaya Kesehatan Tradisional (UKESTRA)
3. Upaya Kesehatan Kerja (UKK)
4. Upaya Kesehatan Dasar Swasta (UKDS)
5. Kemitaraan LSM dan dunia usaha.
6. Dan sehat/jaminan pemeliharaan kesehatan Masyarakat (JPKM)
7. Peran wanita pembangunan kesehatan
8. Peran generasi muda dalam pembangunan keseahatan
9. Kader kesehatan.

2.1.6 Prinsip Penggerakan Peran Serta Masyarakat


Kesehatan merupakan kebutuahan setiap orang. Oleh karena itu kesehatan seharusnya
tercermin dalam kegiatan setiap insan. Peran serta masyarakat dibidang kesehatan di
arahkan melalui tiga macam utama, sebagai berikut.
a. Kepemimpinan
b. Pengorganisasian
c. Pendanaan
Dengan demikian, tujuan akhir yang hendak dicapai dalam peningkatan peran serta
masyarakat di bidang kesehatan adalah sebagai berikut.
1. Setiap pemimpin kelompok masyarakat baik formal maupun imformal
mempunyai wawasan kesuma (kesehatan untuk semua).
2. Setiap kelompok masyarakat baik ditingkat kewilayahan maupun organisasi,
mempunyai bentuk UKBM yang merupakan wujud partisipasi mereka dalam
menanggulangi masalah kesehatan yang mereka hadapi, dengan kualitas yang
baik.
3. Setiap kelompok masyarakat mengembangkan dana sehat menggunakn pola yang
sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat, dengan kualitas yang memadai.
Dana sehat pola PKMD untuk masyarakat perdesaan, dana sehat pola KUD untuk
masyarakat anggota KUD, dana sehat pada UKS untuk para murid sekolah dan
lain-lain

ix
2.1.7 Manajemen Pembinaan Peran Serta Masyarakat
Peran serta masyarakat di bidang kesehatan mempunyai kekhususan seabagai berikut :
1. Meskipun kesehatan berdampingan dengan kedoktoran, implementasi program
kesehatan masyarakatnya berbeda jauh dengan dunia kedokteran. Keseahtan
masyarakat sangat erat kaitannya dengan aspek sosial budaya masyarakat yang
bersangkutan.
2. Bidang gerak serta masyarakat amat luas dan sangat bervariasi sehingga tidak
mungkin menerapkan suatu harusan yang sifatnya mutlak.

2.1.8 Tingkatan Peran Serta


Mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat bukan pekerjaan mudah.
Partisipasi masyarakat memerlukan kemampuan, kesempatan, dan motivasi. Berbagai
tingkatan partisipasi atau peran serta masyarakat antara lain:
1. Peran serta karena perintah atau karena terpaksa.
2. Peran serta karena imbalan, baik dalam bentuk imbalan materi atau imbalan
kedudukan.
3. Peran serta karena rasa ingin memiliki.
4. Peran serta karena kesadaran, tanpa adanya paksaan atau harapan dapat imbalan.
5. Peran serta karena tuntutan akan hak dan tanggung jawab

2.1.9 Wujud Peran Serta Masyarakat


Peran serta masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk:
1. Tenaga, seseorang berperan serta dalam kegiatan kelompok dengan
menyumbangkan tenaganya, misalnya menyiapkan tempat, peralatan, dan
sebagainya.
2. Materi, seseorang berperan serta dalam kegiatan kelompok dengan
menyumbangkan materi yang diperlukan dalam kegiatan kelompok tersebut,
misalnya uang, pinjaman tempat, dan sebagainya (Depkes RI, 1990)

2.1.10 Peran Kader Masyarakat sebagai Wujud Peran Serta Masyarakat


Kader posyandu adalah warga masyarakat yang terlibat dalam seksi 7 dan
seksi LKMD (Tim penggerak PKK) yang tegabung dalam Pokja IV yang membidangi
x
masalah kesehatan dan KB dan aktif dalam kegiatan posyandu. Kader gizi adalah
anggota masyarakat yang bekerja sevara sukarela dan mampu melaksanakan upaya
peningkatan gizi keluarga (UPGK) serta mampu menggerakkan masyarakat untuk ikut
serta dalam kegiatan UPGK.
Masih banyak conton-contoh lain tentang macam atau jenis kader di
masyarakat, seperti kader UKS (disekolah), kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik),
dan lain-lain.

2.2 Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)


2.2.1 Definisi
Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM) adalah wahana
pemberdayaan masyarakat yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola
oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat dengan bimbingan dari petuga puskesmas,
lintas sektor dan lembaga terkait.

2.1.2 Tujuan Terbentuknya UKBM


1. Meningkatnya jumlah dan mutu UKBM
2. Meningkatnya kemampuan pemimpin/Toma dalam merintis dan mengembangkan
UKBM
3. Meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam
penyelenggaraan UKBM
4. Meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam
menggali, menghimpun dan mengelola pendanaan masyarakat utk
menumbuhkembangkan UKBM.

2.1.3 Tingkat Perkembangan UKBM


Pada umumnya, UKBM dibagi berdasarkan tingkat perkembangannya menjadi 4
strata, yaitu:
1. Pratama, yaitu UKBM yang baru dibentuk.
2. Madya, yaitu UKBM yang sudah berjalan teratur tetapi cakupannya masih
rendah.
3. Purnama, yaitu UKBM yang sudah berjalan teratur tetapi cakupannya sudah
tinggi.

xi
4. Mandiri, yaitu UKBM yang sudah berjalan teratur, cakupannya tinggi dan >50%
masyarakatnya telah menjadi anggota dana sehat.

2.1.5 Sasaran UKBM


Sasaran UKBM, yaitu:
1. Individu atau tokoh masyarakat berpengaruh
2. Keluarga
3. Kelompok masyarakat: generasi muda, kelompok wanita, angkatan kerja, dan
lain-lain.
4. Organisai masyarakat: organisai profesi, LSM, dan lain-lain.
5. Masyarakat umum: desa, kota dan pemukiman khusus.

2.2.3 Jenis-jenis UKBM


2.2.3.1 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
Posyandu adalah salah saru bentuk UKBM yang dikelola dan diselenggarakan
dari, oleh, dan untuk masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan,
guna memberdayakan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar
unutk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Posyandu meliputi lima program prioritas yaitu: KB, KIA, Imunisasi, dan
penanggulangan diare, terbukti mempunyai daya ungkit besar terhadap penurunan
angka kematoan bayi. Sebagai salah satu tempat pelayanan kesehatan masyarakat
yang langsung bersentuhan dengan masyarakat level bawah, sebainya posyandu
digiatkan kembali seperti pada masa orde baru karena terbukti ampuh mendeteksi
permasalahan gizi, busung lapar dan masalah kesehatan lainnya meyangkut kesehatan
ibu dan anak akan mudah dihindari jika posyandu kembali diprogramkan secara
menyeluruh.
 Prinsip dasar posyandu:
a) Pos pelayanan terpadu merupakan usaha masyarakat dimana terdapat
perpaduan antara pelayanan professional dan non professional (oleh
masyarakat).
b) Adanya kerjasama lintas program yang baik (KIA, KB, gizi. Imunisasi,
penangulangan diare) maupun lintas sektoral
c) Kelembagaan masyarakat (pos desa, kelompok tumbang/pos tumbang, pos
imunisasi, pos kesehatan, dan lain-lain).
xii
d) Mempunyai sasaran penduduk yang sama (bayi 0-1 tahun, anak balita 1-5
tahun, ibu hamil, PUS).
e) Pendekatan yang dibutuhkan adalah pengembangan dan PKMD/PHC

 Kegiatan posyandu lebih di kenal dengan sistem lima meja yang, meliputi :
a) Meja 1 : Pendaftaran
b) Meja 2 : Penimbangan
c) Meja 3 : Pengisian Kartu Menuju Sehat
d) Meja 4 : Penyuluhan Kesehatan pembarian oralit Vitamin A ,dan tablet besi
e) Meja 5 : Pelayanan kesehatan yang meliputi imunisasi, pemeriksaan
kesehatan dan pengobatan,serta pelayanan keluarga berencana.

 Klasifikasi Posyandu
Posyandu diklafikasikan menjadi empat tingkatan, yaitu:
a) Posyandu Pratama (Warna Merah)
Pelaksanaan masih belum mantap, kegiatan belum bias rutin tiap bulan dan
kader aktifnya terbatas. Frekuensi penimbangan masih kurang dari delapan
kali dalam satu tahun. Posyandu pratama dinilai gawat. Intervensi nya antara
lain:pelatihan kader, penyegaran kader, dan penambahan jumlah kader.
b) Posyandu Madya (Warna Kuning)
Dapat melaksanakan kegiatan lebih dari delapan kali setiap tahun, jumlah
kader kurang lebih 5 orang, cakupan program utama yaitu KB, KIA, Gizi,
Imunisasi masih rendah yaitu kurang dari 50%. Ini berarti kelestarian kegiatan
posyandu sudah lebih baik tetapi masih rendah cakupan nya, untuk itu perlu di
lakukan penggerakan masyarakat secara intensif, serta penambahan program
yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.
c) Posyandu Purnama (Warna Hijau)
Dapat melaksankan kegiatan lebih dari delapan kali setiap tahun, jumlah kader
lima orang atau lebih, cakupan lima program utamanya lebih dari 50%. Sudah
ada program tambahan, bahkan mungkin sudah ada dana sehat yang masih
sederhana.
d) Posyandu Mandiri (Warna Biru)

xiii
Kegiatan teratur, cakupan lima program utama sudah baik, ada program
tambahan, dan dana sehat telah menjangkau lebih dari 50% KK. Dana sehat
menggunakan prinsip Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)
serta mampu berswasembada.

2.2.3.2 Kelurahan Siaga / Pos Kesehatan Kelurahan (Poskeskel)


Poskeskel merupakan unit kesehatan dibawah Puskesmas yang dibangun
berdasarkan swadaya masyarakat. Dikepalai oleh bidan/dokter/perawat setempat
(berdomisili di lokasi Poskeskel). Poskeskel melayani kesehatan masyarakat secara
umum sebagai perpanjangan dari Puskesmas. Poskeskel akan membawahi beberapa
Posyandu di lingkungannya.

2.2.3.3 Tanaman Obat Keluarga (TOGA)


Tanaman Obat Keluarga (TOGA) adalah sebidang tanah di halaman atau ladang
yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang berkhasiat sebagai obat. Dikaitkan
dengan peran serta masyarakat, TOGA merupakan wujud partisipasi mereka dalam
bidang peningkatan kesehatan dan pengobatan sederhana dengan memanfaatkan obat
tradisional.
 Fungsi TOGA adalah:
1. Menghasilkan tanaman yang dapat dipergunakan untuk menjaga dan
meningkatkan kesehatan dan mengobati gejala atau keluhan dari beberapa
penyakit yang ringan
2. Memperbaiki gizi masyarakat
3. Upaya pelestarian dan memperindah lingkungan
4. Menambah penghasilan keluarga.

2.2.3.4 Upaya Kesehatan Kerja (UKK)


Upaya Kesehatan Kerja adalah bentuk operasionil PHC di lingkungan pekerja,
merupakan wadah dari serangkaian upaya pemeliharaan kesehatan pekerja yang
terencana, teratur dan berkesinambungan yang di selenggarakan oleh masyarakat
pekerja atau kelompok kerja yang memiliki jenis kegiatan usaha yang sama dan
bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja.
UKK menjadi semakin penting pada industrilisasi sekarang ini. Pertumbuhan
industri yang pesat membuat tenaga kerja formal semakin banyak, yang biasanya tetap
xiv
diiringi oleh banyaknya tenaga kerja informal. Salah satu wujud UKK adalah
dibentuknya Pos Upaya kesehatan Kerja (Pos UKK) di sektor informal dan
pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di sektor formal.

Setelah terlatih sebagai kader UKK, ada 13 (tiga belas) tugas pokok dan fungsi
(tupoksi) yang harus dijalankannya secara optimal, antara lain :
1. Pertemuan Tingkat Pekerja (ptp) : mengadakan sosialisasi upaya kesehatan kerja di
tempat kerja, merencanakan pelaksanaan survey mawas diri dan musyawarah
masyarakat pekerja
2. Survey Mawas Diri (SMD) : pengenalan, pengumpulan, pengkajian masalah
kesehatan pekerja untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat pekerja mengenai
kesehatan kerja
3. Musyawarah Masyarakat Pekerja (MMP) : mengenal masalah kesehatan dan
keselamatan kerja, dengan pekerja, keluarga pekerja, petugas puskesmas, aparat
pemerintah
4. Membentuk Pos UKK : menentukan pengurus pos UKK, jadwal kegiatan, rencana
kerja tahunan, target, pembiayaan, lokasi dekat dengan tempat kerja
5. Perencanaan UKK : menentukan masalah kesehatan kerja berdasarkan hasil SMD,
menentukan prioritas masalah, perkiraan biaya, jadwal, rencana, dan target kegiatan
6. Penyuluhan UKK : materi tentang gizi, PHBS, kebersihan lingkungan, potensi,
risiko bahaya, penggunaan APD (alat pelindung diri), pengolahan limbah, penyakit
dan kecelakaan akibat kerja
7. Pemeriksaan Kesehatan, p3k dan p3p : membantu petugas kesehatan, pemeriksaan
ksehatan umum, pengadaan dan pengelolaan kartu kunjungan, formulir status
kesehatan pekerja, membuat daftar penyakit akibat kerja, pemberian obat bebas pada
penyakit ringan
8. Upaya Rujukan : merujuk segera pasien kecelakaan, dan penyakit berat yang tidak
bisa tertangani.
9. Pencatatan Pelaporan : membuat laporan hasil pelaksanaan kegiatan pelayanan
10. Kerjasama Lintas Sektoral : pertemuan berkala dengan anggota pos UKK,
pertemuan ruitn teratur dengan petugas, kunjungan rumah kepada pekerja, membantu
kesulitan pekerja
11. Mengelola Sumber Keuangan UKK : mengatur sumber pemasukan dan
pengeluaran pos UKK
12. Membantu Pemberdayaan Ekonomi Pekerja : integrasi kegiatan ekonomi yang
menguntungkan, pembentukan dan pengelolaan dana simpan pinjam (koperasi),
pemberiaan kredit modal usaha, penyediaan alat kesehatan kerja.

xv
13. Membina Kemampuan Diri : meningkatkan pengetahuan melalui pelatihan dan
penataran, pertemuan rutin anggota UKK, kunjungan lapangan, melaksanakan
kegiatan secara kontinyu

2.2.3.5 Pos kesehatan Persantren (Poskestren)


Poskestren merupakan wujud partisipasi masyarakat pondok pesantren dalam
bidang kesehatan secara berkala.Kegiatan dari poskestren adalah :
1. Pos obat pondok pesantren
2. Santri husada (kader kesehatan di kalangan santri)
3. Pusat informasi kesehatan, berupa perpustakaan kerohanian dan ceramah
kesehatan secara berkala, bekerja sama dengan puskesmas setempat.
4. Upaya kesehatan lingkungan di sector pondok pesantren.

2.2.3.6 Pos Binaan Terpadu (Posbindu)


Posbindu berbeda dengan posyandu, karena posbindu dikhususkan unutk
pembinaan pada orang tua, baik yang akan memasuki masa lansia maupun yang
sudah memasuki masa lansia.
Program posbindu ini diperuntukkan untuk usia 45 tahun ke atas dengan
pembagian 45 tahun sampai 59 tahun adalah usia pralansia, 60 sampai 70 tahun usia
lansia, dan 70 tahun keatas adalah lansia yang beresiko. Posbindu ini diharapkan bagi
usia pralansia adalah untuk mempersiapkan dalam memasuki usia lansianya agar
tetapproduktif, mandiri dan bisa berperan aktif.
 Kegiatan yang dilaksanakan di posbindu diantaranya:
1. Pendataan Sasaran, masyarakat yang berusia diatas 18 tahun
2. Pemeriksaan Kesehatan
3. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan, maka setiap satu bulan sekali
diadakan pemeriksaan kesehatan meliputi pemeriksaan tekanan darah,
penimbangan berat badan, dan pemberian obat-obatan yang diperlukan.
4. Penyuluhan, dilaksanakan setiap 1 bulan sekali.
5. Olah raga atau kesehatan jasmani
6. Olahraga yang dilakukan di posbindu yaitu senam lansia, jalan kaki.
7. Pemberian makanan tambahan
8. Pemeriksaan laboratorium darah pada pasien yang beresiko.

xvi
9. Pembinaan pada keluarga lansia unutk meningkatkan kemampuannya
mengatasi masalah kesehatan lansia.

2.2.4 Bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM)


Bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang lain adalah sebagai berikut
1. Suatu karya bhakti Hasuda (SBH) merupakan bentuk partisipasi generasi muda
khususnya pramuka dalam bidang kesehatan.
2. Upaya Kesehatan Gizi Masyarakat Desa (UKGMD), merupaka wujud peran serat
masyarakat dalam bidang kesehatan gigi dan mulut.
3. Pemberantasan Penyakit Menular melalui pendekatan pembangunan kesehatan
masyarakat desa(P2M-PKMD) merupakan bentuk peran serta masyarakat dalam
penangulangan penyakit menular yang banyk di derita penduduk setempat.
4. Desa percontohan kesehatan lingkungan (DPKL), merupakan wujud peran serta
masyarakat dalam program menyediakan air bersih dan perbaikan lingkungan
pemukiman. Melalui kegiatan ini diharapkan cukupan penyediaan air bersih dan
rumah sehat menjadi semakin tinggi.
5. Pos kesehatan pondok pesantren (Poskestren), merupakan wujud partisipasi
masyarkat pondok pesantren dalam bidang kesehatan. Biasanya dalam poskestren
ini muncul kegiatan, antara lain pos obat pondok pesantren (POP), santri hasada (
kader kesehatan di kalangan santri), pusat informasi kesehatan di pondok
pesantren, dan upaya kesehatan lingkungan di sekitar pesantren.
6. Karang Werda, merupakan wujud peran serta masyarakat dalam upayakesehatan
usia lanjut, misalnya pos pembina terpadu lansia (posbindu lansia atau posyandu
usila).
7. Dan masih banyak lagi bentuk UKBM yang lain

xvii
BAB III
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencapai tingkat kesehatan
masyarakat yang lebih baik.Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
merupakan wujud nyata dari peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan.
Indikator utama meningkatnya peran serta masyarakat adalah dengan makin
banyaknya UKBM yang berkualitas dan memadai pada wilayah kerja Puskesmas
Andalas. Namun untuk mengoptimalkan hal tersebut di Puskesmas Andalas masih
ditemukan berbagai kendala, diantaranya:
1. Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat masih terbatas kegiatannya
karena dana sehat dan donator tetap belum berjalan sesuai harapan.
2. Tidak tersedianya bangunan dan obat-obatan primer untuk kelurahan siaga
3. Belum semua bidan siaga di kelurahan siaga yang telah dibina dan mengikuti
pelatihan bidan siaga
4. Tidak berjalannya program UKBM yang lain karena keterbatasan dana dan
sarana, termasuk tenaga kerja.
5. Masih terdapat banyak pos UKK yang belum terbina.

xviii
DAFTAR PUSTAKA

Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat. ARRIF: Pedoman Manajemen Peran Serta
Masyarakat. Padang: Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat; 2006.
Pusat Promosi Kesehatan . Desa dan Kelurahan Siaga Aktif. Suplemen. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia; 2011. http://www.promosikesehatan.com diakses
tanggal 14 Desember pukul 15.30.
Pramudho Kodrat. Pengembangan UKBM Melalui Poskesdes.
http://buk.depkes.go.id/index.php diakses tanggal 14 Desember pukul 15.30.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
http://www.depkes.go.id/downloads/UU_No._36_Th_2009_ttg_Kesehatan.pdf.
diakses tanggal 14 Desember pukul 15.30.
Sembiring Nasap. Posyandu Sebagai Saran Peran Serta Masyarakat dalam Usaha
Peningkatan Kesehatan Masyarakat.
http://library.usu.ac.id/download/fkm/biostatistik-nasap.pdf. diakses tanggal 14
Desember pukul 15.30.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 828/MENKES/SK/IX/2008 tentang Petunjuk
Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.
www.hukor.depkes.go.id. diakses tanggal 14 Desember pukul 15.30.
Indikator Kinerja SPM Kota Padang tahun 2010.
http://dinkeskotapadang1.files.wordpress.com/2010/03/data-spm-2010.pdf. diakses
tanggal 14 Desember pukul 15.30.

xix

Anda mungkin juga menyukai