Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peta kerja adalah suatu alat yang mengambarkan kegiatan kerja secara sistematis
dan jelas, (biasanya kerja produksi). Lewat pete-peta ini kita bisa melihat semua
langkah atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja dari mulai masuk ke
pabrik (berbentuk bahan baku) kemudian mengambarkan semua langkah yang
dialaminya, seperti transportasi, operasi mesin, pemeriksaan dan perakitan,sampai
akhirnya menjadi produk jadi, baik produk lengkap, atau merupakan bagian dari
produk lengkap. (Sutalaksana, 2006)

Adapula defenisi peta kerja lainnya yaitu merupakan gambaran sistematis dan
logis dalam menganalisis proses kerja dari tahap awal sampai akhir. Dengan peta
ini juga didapatkan informasi-informasi yang diperlukan untuk memperbaiki
metode kerja, seperti benda kerja yang harus dibuat, operasi untuk menyelesaikan
kerja, kapasitas mesin atau kapasitas kerja lainnya, dan urutan prosedur kerja yang
dialami oleh suatu benda kerja. (Sritomo, 1992)

Apabila kita melakukan studi yang saksama terhadap suatu pekerja, maka
pekerjaan kita dalam usaha untuk memperbaiki metode kerja dari suatu proses
produksi akan lebih mudah dilaksanakan. Perbaikan yang mungkin dilakukan,
antara lain, kita bisa menghilangkan operasi-operasi yang tidak perlu,
menggabungkan suatu operasi dengan operasi lainnya, menemukan suatu urutan-
urutan kerja, menentukan mesin yang lebih ekonomis, dan menghilangkan waktu
menunggu antaroperasi. Pada dasarnya semua perbaikan tersebut ditujukan untuk
mengurangi biaya produksi secara keseluruhan. Dengan demikian, peta ini
merupakan alat yang baik untuk menganalisa suatu pekerjaan sehingga
mempermudah dalam perencanaanperbaikan kerja.. (Sutalkasana, 2006)

1
1.2 Tujuan

1. Mengetahui dan memahami cara perbuatan serta penggunaan peta kerja


dalam memperbaiki suatu metoda kerja.
2. Mampu membuat peta kerja ysng benar dan informative serta dapat
mengusulkan peta kerja yang lebih efektif dan efisien.
3. Mampu menggunakan peta-peta kerja sebagai alat analisis untuk perbaikan
suatu stasiun kerja.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Motion Study and Time

Motion study and time study adalah suatu studi tentang gerakan-gerakan yang
dilakukan oleh pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannnya. Dengan studi ini
ingin diperoleh gerakan-gerakan standard utnuk penyelesaian suatu pekerjaan,
yaitu rangkaian gerakan-gerakan yang efktif dan efisien.
(Sritomo W , 1995 : 107)
Motion study and time study adalah sebuah pembelajaran sistematis dari
sistem kerja dengan tujuan :
1. Mengembangkan sistem dan metode yang lebih baik.
Pada umumnya penentuan sistem dan metode yang digunakan dalam
sebuah industri sangat bergantung kepada tujuannya, misalnya dalam
sebuah manufaktur memproduksi barang, sebuah bank melayani transaksi
dengan nasabah, penjualan susu sapi dari peternakan, dan sebagainya.
Setelah itu, dilakukan pendekatan-pendekatan peningkatan produktivitas
dengan cara problem-solving dan sebagainya. menstandardisasi sistem dan
standar tersebut.
2. Menentukan standar waktu.
Motion study digunakan untuk mengukur standar waktu normal yang
diperlukan operator terlatih dan berpengalaman pada kecepatan normal.
Standar waktu tersebut seringkali digunakan untuk perencanaan dan
penjadwalan kerja sampai perkiraan biaya produksi, termasuk biaya buruh.
3. Melatih operator.
Agar seluruh perencanaan berjalan dengan baik, operator perlu
mendapatkan pelatihan. Hal ini biasanya diakomodir oleh atasan dan
pejabat teratas perusahaan. Akan tetapi, belakangan marak lembaga
profesional yang bergerak dalam hal training seperti ini. Seiring dengan
berkembangnya teknologi yang memaksa pemakaiain alat-alat industri

3
modern dan permesinan, pekerja yang dibutuhkan dalam industri skala
besar semakin sedikit. Saat ini, yang lebih dibutuhkan adalah operator yang
dapat menjalankan berbagai peralatan dan mesin-mesin industri sehingga
upah yang harus dibayarkan kepada pekerja dapat ditekan seiring semakin
sedikitnya pekerja yang dibutuhkan. Hal ini dapat dicapai dengan
memberikan pelatihan-pelatihan agar standar yang diharapkan dapat
tercapai sehingga efektivitas dan efisiensi kerja dapat diperoleh.
4. Definisi micromotion study
Motion study pertama kali dipublikasikan pada pertemuan American
Society of Mechanical Engineering tahun 1912 oleh Gilbreth. Penjelasan
singkat tentang hal ini adalah :micromotion study adalah mempelajari
elemen dasar atau subdivisi berdasarkan gambar gerakan kamera, alat
penghitung waktu yang secara akurat dapat menghitung interval waktu
pada gambar film.
Metode ini menggunakan peralatan videotape berkecepatan tinggi untuk
menganalisa gerakan yang sangat cepat dan sedikit. Tugasnya adalah
menganalisa gerakan tersebut kemudin mengulang secara perlahan di dalam
laboratorium, sehingga didapatkan waktu yang dibutuhkan untuk tiap-tiap
gerakan.

2.2 Prinsip-Prinsip Ekonomi Gerakan (Motion Economy)


Dalam menganalisa dan mengevaluasi metoda kerja yang lebih efisien, maka
perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip ekonomi gerakan (the principles of
motiom economy). Prinsip ekonomi gerakan ini bisa dipergunakan untuk
menganalisa gerakan-gerakan kerja setempat yang terjadi dalam sebuah
stasiun kerja dan bisa juga untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung
secara menyeluruh dari satu stasiun ke stasiun kerja yang lain.
Beberapa prinsip-prinsip ekonomi gerakan :
 ELIMINASI KEGIATAN :
 Eliminasi semua kegiatan/aktifitas yang memungkinkan, langkah-
langkah atau gerakan-gerakan (dalam hal ini banyak berkaitan
dengan aplikasi anggota badan, kaki, lengan, tangan, dll).

4
 Eliminasi kondisi yang tak beraturan dalam setiap kegiatan.
Letakan segala fasilitas kerja dan material/komponen pada lokasi
yang tetap (hal ini akan bisa menyebabkan gerakan-gerakan kerja
yang otomatis).
 Eliminasi penggunaan tangan (baik satu atau keduanya) sebagai
“holding device”, karena hal ini merupakan aktifitas tidak
produktif yang menyebabkan kerja dua tangan tidak seimbang.
 Eliminasi gerakan-gerakan yang tidak semestinya, abnormal, dll.
Hindari pula gerakan-gerakan yang membahayakan dan melanggar
prinsip-prinsip keselamatan atau kesehatan kerja.
 Eliminasi penggunaan tenaga otot untuk melaksanakan kegiatan
statis atau fixed position. Demikian pula sebisa mungkin untuk
menggunakan tenaga mesin (mekanisasi) seperti power tools,
power feeds, material handling, equipment, dll, untuk
menggantikan tenaga otot.
 Eliminasi waktu kosong (idle time) atau waktu menunggu (delay
time ) dengan membuat perencanaan/penjadwalan kerja yang
sebaik-baiknya. Idle/delay time bisa ditolerir bilamana hal tersebut
diperuntukan secara terencana guna melepaskan lelah.

 KOMBINASI GERAKAN ATAU AKTIFITAS KERJA :


 Gantikan/kombinasikan gerakan-gerakan kerja yang berlangsung
pendek atau terputus-putus dan cendrung berubah-ubah arahnya
dengan sebuah gerakan yang kontinyu, tidak patah-patah serta
cendrung membentuk sebuah kurva.
 Kombinasikan beberapa aktifitas fungsi yang mampu ditangani
oleh sebuah peralatan kerja dengan membuat desain yang bersifat
“multipurpose”.
 Distribusikan kegiatan dengan membuat keseimbangan kerja antara
kedua tangan. Pola gerakan kerja yang simultan dan simetris akan
memberikan gerakan yang paling efektif. Bilamana kegiatan

5
dilaksanakan secara kelompok diupayakan supaya terjadi beban
kerja yang merata diantara anggota kelompok.

 PENYEDERHANAAN KEGIATAN :
 Laksanakan setiap aktifitas/kegiatan kerja dengan prinsip
kebutuhan energi otot yang digunakan minimal.
 Kurangi kegiatan mencari-cari obyek kerja (peralatan kerja,
materia, dll.) dengan meletakannya pada tempat yang tidak
berubah-ubah.
 Letakan fasilitas kerja berada dalam jangkauan tangan yang
normal. Hal ini akan menyebabkan gerakan tangan akan berada
pada jarak yang sependek-pendeknya.
 Sesuaikan letak dari handles, pedals, levers, buttons, dll dengan
memperhatikan dimensi tubuh manusia (antropometri) dan
kekuatan otot yang dibutuhkan.

2.3 Gerakan Fundamental (Therblig’s)


Perancangan kerja manual didasarkan pada prinsip pengetahuan gerakan dan
ekonomi gerakan yang diperkenalkan oleh Frank. B Gilbret. Ada 17 gerakan
dasar dalam perancangan kerja yang disebut Therbligh yang meliputi:
1. Mencari (Search)
Merupakan gerakan dasar yang dilakukan pekerja untuk menemukan
lokasi obyek. Yang bekerja adalah mata. Gerakan ini dimulai pada saat
mata bergerak mencari obyek dan berakhir bila obyek sudah ditemukan.
2. Memilih (Select)
Merupakan gerakan untuk menemukan suatu obyek yang tercampur. Yang
bekerja adalah tangan dan mata. Gerakan ini dimulai pada saat tangan dan
mata mulai memilih, dan berakhir bila obyek sudah ditemukan. Gerakan
ini merupakan gerakan yang tidak efektif, sehingga sedapat mungkin
elemen gerakan ini harus dihindarkan.

6
3. Memegang (Grasp)
Merupakan gerakan untuk memegang obyek, biasanya didahului oleh
gerakan menjangkau dan dilanjutkan oleh gerakan membawa.
4. Menjangkau (Reach)
Adalah gerakan tangan data berpindah tempat tanpa beban, baik gerakan
mendekati maupun menjauhi obyek. Gerakan ini dimulai pada saat tangan
mulai berpindah dan berakhir bila tangan sudah berhenti. Waktu yang
diperlukan tergantung pada jarak pergerakan tangan dan tipe
menjangkaunya.
5. Membawa (Move)
Merupakan gerak perpindahan tangan dalam keadaan terbebani. Gerakan
ini biasanya didahului oleh gerakan memegang dan dilanjutkan dengan
gerakan melepas atau pengarahan. Gerakan ini dimulai pada saat tangan
mulai berpindah dan berakhir bila tangan sudah berhenti. Waktu yang
diperlukan tergantung pada jarak pergerakan tangan dan tipe
membawanya.
6. Memegang untuk Memakai (Hold)
Adalah memegang tanpa menggerakkan obyek yang dipegang tersebut.
7. Melepas (Release-load)
Terjadi bila seorang pekerja melepaskan obyek yang dipegangnya.
Gerakan ini dimulai pada saat pekerja mulai melepaskan tangannya dan
berakhir bila seluruh jarinya sudah tidak menyentuh obyek.
8. Pengarahan (Position)
Merupakan gerakan mengarahkan suatu obyek pada lokasi tertentu.
Gerakan ini biasanya didahului oleh gerakan mengangkut dan biasanya
diikuti oleh gerakan merakit (assembling). Gerakan ini dimulai sejak
tangan mengendalikan obyek dan berakhir pada saat gerakan merakit atau
memakai dimulai.
9. Pengarahan Sementara (Pre-position)
Merupakan elemen gerak mengarahkan obyek pada suatu tempat
sementara. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk memudahkan
pemegangan apabila obyek tersebut akan dipakai kembali.

7
10. Memeriksa (Inspection)
Merupakan gerakan memeriksa obyek untuk mengetahui apakah obyek
telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Biasanya pemeriksaan dilakukan
dengan membandingkan obye dengan suatu standar tertentu.
11. Merakit (Assembling)
Adalah gerakan untuk menggabungkan satu obyek dengan obyek lain
sehingga menjadi satu kesatuan. Gerakan ini dimulai bila obyek sudah siap
dipasang (biasanya setelah diarahkan) dan berakhir bila obyek tersebut
sudah tergabung secara sempurna.
12. Lepas Rakit (Desassembing)
Adalah gerakan untuk memisahkan satu obyek dari satu kesatuan. Gerakan
ini dimulai pada saat pemegangan obyek telah selesai dan dilanjutkan
dengan usaha memisahkan obyek dan berakhir bila kedua obyek telah
terpisah secara sempurna.
13. Memakai (Use)
Bila satu tangan atau kedua-duanya dipakai untuk menggunakan alas
14. Kelambatan yang tak terhindarkan (Unavoidable Delay)
Adalah kelambatan yang diakibatkan oleh hal-hal yang terjadi di luar
kemampuan pekerja.
15. Kelambatan yang tak terhindarkan (Avoidable Delay)
Adalah kelambatan yang disebabkan oleh hal yang ditimbulkan sepanjang
waktu kerja oleh pekerjanya baik disengaja maupun tidak disengaja.
16. Merencanakan (Plan)
Merupakan proses mental, dimana operator berpikir untuk menentukan
tindakan yang akan diambil selanjutnya.

17. Istirahat untuk Menghilangkan Lelah (Rest to Overcome Fatigue)


Waktu untuk memulihkan lagi kondisi badan dari rasa lelah sebagai akibat
dari kerja yang berbeda-beda, tidak karena jenis pekerjaanya tetapi juga
oleh individu itu sendiri.

8
Sedangkan prinsisp ekonomi gerakan adalah meminimalkan gerakan tubuh
pada saat bekerja berdasarkan bahan baku dan peralatan yang digunakan.
Serta keterbatasan manusia sendiri. Hal ini sangat terkait dengan tata letak
tempat kerja dan peralatan kerja. Dalam perancangan kerja manual perlu
dilakukan pengaturan fungsi kerja anggota badan lain seperti kaki atau
keseimbangan beban tangan kiri dan kanan. Proses ini biasanya dilakukan
dengan menggunakan Peta Kerja tangan Kiri dan kanan.(Modul Praktikum
PSKE, 2009)

Pengukuran kerja adalah suatu aktivitas untuk menentukan waktu yang


dibutuhkan oleh seorang operator yang memiliki skill rata-rata dan terlatih
baik dalam melaksanakan sebuah kegiatan kerja dalam kondisi dan tempo
kerja yang normal.

2.4 Peta Kerja

I. Lambang-Lambang Yang Digunakan

Menurut catatan sejarah peta-peta kerja yang ada sekarang ini dikembangkan
oleh Gilberth, dan pada saat itu Gilberth mengusulkan 40 buah lambang yang
bisa dipakai. Namun pada tahun berikutnya lambang tersebut hanya tinggal 4
macam saja. Penyederhanaan ini memudahkan pembuatan suatu peta kerja,
disamping setiap notasi mempunyai fleksibilitas yang tinggi karena setiap
lambing mempunyai kandungan arti yang sangat luas. Dalam tahun
1947 American Society of Mechanical Eingineers (ASME) membuat standar
lambang-lambang yang terdiri dari 5 macam lambang modifikasi dari yang
telah dikembangkan sebelumnya oleh Gilberth. Lambang-lambang standar
dari ASME inilah yang akan digunakan dalam pembahasan-pembahasan.
Berikut ini adalah gambar-gambar beserta dengan penjelasannya:

9
II. Macam-Macam Peta Kerja

Pada dasarnya peta kerja dibagi kedalam dua kelompok, berdasarkan jenis
kegiatannya dan berikut ini adalah pembagian kelompok peta kerja
berdasarkan kegiatannya:

 Peta kerja yang digunakan untuk menganalisa kegiatan kerja


keseluruhan. Suatu kegiatan disebut kegiatan kerja apabila kegiatan
tersebut melibatkan sebagian besar atau semua fasilitas yang diperlukan
untuk untukmembuat produk yang bersangkutan, yang termasuk
kelompok kegiaan keseluruhan antara lain:

10
a. Peta Proses Operasi

b. Peta Aliran Proses

c. Peta Proses Kelompok Kerja

d. Diagram Alir

 Peta kerja yang digunakan untuk menganalisis kegiatan kerja setempat,


yaitu apabila kegiatan tersebut terjadi dalam suatu stasiun kerja yang
biasanya hanya melibatkan orang dan fasilitas dalam jumlah terbatas,
yang termasuk kelompok kegiatankerja setempat antara lain:

a. Peta pekerja, dan mesin

b. Peta tangan kanan – tangan kiri

III. Kelompok Kegiatan Kerja Keseluruhan

Pada peta kelompok kegiatan kerja keseluruhan terdiri dari empat jenis
peta. Di bawah ini penjelasan tentang 4 jenis peta dalam peta kelompok
kegiatan kerja keseluruhan.

Peta proses operasi adalah peta kerja yang mengambarkan urutan yang
terjadi dalam masalah penyelesaiaan suatu pekerjaan dari awal sampai
menjadi produk akhir. Dengan adanya informasi-informasi yang bisa dicatat
melalui peta proses operasi, dapat diperoleh beberapa manfaat diantaranya:

1. Bisa mengetahui kebutuhan akan mesin dan penganggarannya.


2. Bisa memperkirakan keburuhan akan bahanbaku(dengan
memperhitungkan efisiensi ditiap operasi/pemeriksaan).
3. Sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik.
4. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yang sdang
dipakai.
5. Sebagai alat untuk latihan kerja.

11
Menggambar peta proses operasi dengan baik, ada beberapa prinsip yang
perlu di ikuti sebagai berikut:

1. Pertama-tama pada baris paling atas dinyatakan kepalanya Peta Proses


Operasi yang diikuti oleh identifikasi lain seperti: nama obyek, nama
pembuat peta, tanggal dipetakan, nomor peta dan nomor gambar.
2. Material yang akan diproses diletakan diatas garis horizontal, yang
menunjukan bahwa material tersebut masuk ke dalam proses.
3. Penomoran terhadap suatu kegiatan operasi diberikan secara berurutan
sesuaidengan urutan operasi yang dibutuhkan untuk pembuatan produk
tersebut atau sesuai dengan proses yang terjadi.
4. Penomoran terhadap suatu kegiatan pemeriksaan diberikan secara
tersendiri dan prinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan
operasi.

Peta aliran proses adalah suatu diagram yang menunjukan urutan-urutan dari
operasi, pemeriksaan, transportasi, menuggu, dan penyimpanan yang terjadi
selama satu proses atau prosedur berlangsung. Dan peta aliran proses ini
dibagi kedalam beberapa kelompok antara lain yaitu:

1. Peta aliran proses tipe bahan yaitu peta yang mengambarkan kejadian
yang dialami bahan dalam suatu proses atau prosedur operasi.
2. Peta aliran proses tipe orang pada dasarnya dibagi menjadi 2 bagian,
yaitu:

 Peta aliran proses pekerja yang mengambarkan aliran kerja seorang


operator.
 Peta aliran proses pekerja yang mengambarkan aliran kerja
sekelompok manusia. (Sutalkasana, 2006)

Peta proses kelompok kerja pada dasarnya merupakan adaptasi dari peta
pekerja dan mesin, peta kelompok kerja ini akan menunjukan hubungan
antara siklus menganggur dan dan siklus waktu operasi dari mesin atau

12
proses dan waktu menganggur serta waktu kerja persiklus dari pekerja –
pekerja yang akan melayani mesin atau proses tersebut. (Sritomo, 1992)

Diagram alir merupakan satu gambaran menurut skala, dari susun lantai dan
gedung.. Menunjukan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi dalam peta
aliran proses.

IV. Kelompok Kegiatan Kerja Setempat

Peta kerja kelompok kegiatan kerja setempat terdiri dari peta pekerja dan
mesin serta peta tangan kanan dan tangan kiri. Penjelasan dari kedua peta
tersebut sebagai berikut:

 Peta Pekerja dan Mesin

Peta pekerja dan mesin dapat dikatakan merupakan suatu grafik yang
menggambarkan koordinasi antara waktu bekerja dan waktu
menganggur dari kombinasi antara pekerja dan mesin. Dengan demikian
peta ini merupakan alat yang baik digunakan untuk mengurangi, waktu
menganggur. Informasi paling penting yang diperoleh melalui peta
pekerja dan mesin ialah hubungan yang jelas antara waktu kerja operator
dan waktu operasi mesin yang ditanganinya. Dengan informasi ini, maka
kita mempunyai data yang baik untuk melakukan penyelidikan,
penganalisaan, dan perbaikan suatu pusat kerja, sedemikian rupa
sehingga efektifitas penggunaan pekerjaan dan atau mesin bisa
ditingkatkan, dan tentunya keseimbangan kerja antara pekerja dan mesin
bisa lebih diperbaiki. (Sutalkasana, 2006)

 Peta Tangan Kanan dan Tangan Kiri

Peta tangan kanan-tangan kiri merupakan gambaran semua gerakan saat


bekerja dan wktu menganggur yang dilakukan oleh tangan kiri dan
tangan kanan. Serta menunjukan perbandingan tugas yang dibebankan

13
pada tangan kri dan tangan kanan. Adapun prinsip-prinsip yang
digunakan dalam peta tangan kanan-tangan kiri adalah sebagai berikut:

1. Berbeda dengan peta yang lain untuk membuat peta tangan kanan-tangan
kri lembaran kertas dibagi dalam tiga bagian yaitu kepala, bagian yang
memuat bagian dari sistem kerja, dan bagian-bagian badan.
2. Pada bagian kepala, dibaris paling atas ditulis PETA TANGAN
KANAN-TANGAN KIRI setelah itu menyertakan identifikasi-
dentifikasi lainnya seperti: nama pekerjaan, nama depertemen, cara peta,
dll.
3. Pada bagian yang memuat bagan digambarkan sketsa dari sistem
kerja yang memperlihatkan skala.
4. Bagian “badan” dibagi kedalam dua pihak, yaitu pihak sebelah kiri
kertas digunakan untuk mengambarkan kegiatan yang dilakukan oleh
tangan kiri an sebaiknya.
5. Langkah selanjutnya,diperhatikan urutan-urutan gerakan yang
dilaksanakan oleh operator. Kemudian operator-operator tersebut
diuraikan menjadi elemen-elemen gerakan. Biasanya dibagi dalam
delapan elemen.

14
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Pengumpulan Data


 Komponen utama tamiya assy
No. Komponen Gambar Jumlah
1 Chassis 1
2 Ban 4
3 Velg 4
4 Axle 2
5 Cover Axle Shaft 1
6 Engine 1
7 Cover Engine 1
8 Bemper 1
9 Penutup Baterai 1
10 Body 1
11 Kunci Body 1
Tabel 1. Komponen Utama Tamiya Assy
(sumber: Pengolahan Data)

 Komponen pendukung tamiya assy


No. Komponen Gambar Jumlah
1 Aksesoris FR 2
2 Aksesoris RR 2
3 Bolt 4
4 Washer 4
5 Screw 1
6 Pin Shaft Gear No. 3 1
7 Gear No. 3 (Blue) 1
8 Cover Gear 1
9 Propeller Shaft 1
10 Gear No. 1 (Green) 1
11 Gear No. 2 (Orange) 2
12 Bearing FR/RR, LH/RH 4
Tabel 2. Komponen Pendukung Tamiya Assy
(sumber: Pengolahan Data)

15
 Observation sheet

Gambar 1. Observation Sheet Operator 1 – 4


(sumber: Pengolahan Data)

16
4.2 Pengolahan Data

 Operation Process Chart

Gambar 2.Operation Process Chart

(sumber: Pengolahan Data)

 Flow Diagram

Gambar 3. Flow Diagram


(sumber: Pengolahan Data)

17
 Peta Aliran Proses

Gambar 4. Peta Aliran Proses


(sumber: Pengolahan Data)
 Assembling Process Chart

Gambar 5. Assembling Process Chart


(sumber: Pengolahan Data)

18
 Peta Regu Kerja

Gambar 6. Peta Regu Kerja


(sumber: Pengolahan Data)

 Peta Tangan Kanan – Tangan Kiri

Gambar 7. Peta Tangan Kanan – Tangan Kiri

(sumber: Pengolahan Data)

19
BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Dari pengolahan data diatas merupakan usulan peta-peta kerja dari praktikum
sebelumnya. Cara perhitungan yang dilakukan menggunakan satuan yang sama
dengan yang sebelumnya yaitu satuan sekon. Kelompok kegiatan operasi yang
dilakukan sebagai berikut :

 Operation Process Chart


Kegiatan operasi dilakukan sebanyak 39 kali dengan waktu 3800 sekon,
operasi gabungan sebanyak 14 kali dengan waktu 2041 sekon, total
kegiatan operasi sebanyak 53 kali dengan waktu 5841 sekon.
 Assembling Process Chart
Kegiatan operasi dilakukan sebanyak 7 kali dengan waktu 53 sekon,
operasi gabungan sebanyak 2 kali dengan waktu 46 sekon, total kegiatan
operasi sebanyak 9 kali dengan total waktu 99 sekon.
 Peta Proses Regu Kerja
Pada peta proses regu kerja kegiatan yang dilakukan oleh 4 pekerja.
Operasi yang dilakukan oleh pekerja 1 terdapat 2 kali dengan waktu 14
detik dan delay 7 kali dengan waktu 79 detik. Operasi pekerja 2 dilakukan
sebanyak 1 kali dengan waktu 11 detik dan delay sebanyak 8 kali dengan
waktu 82 detik. Operasi 3 dilakukan sebanyak 4 kali dengan waktu 47
detik dan delay 5 kali dalam waktu 46 detik. Operasi pekerja 4 dilakukan
sebanyak 2 kali dengan waktu 27 detik dan delay sebanyak 7 kali dengan
waktu 66 detik, total waktu kegiatan yaitu 9 kali dengan waktu 93 detik.
 Peta Aliran Proses
Peta aliran proses menggambarkan lebih jelas dan berhubungan dengan
Operation Process Chart bahwa kegiatan operasi dalam merakit tamiya
assy adalah jumlah kegiatan operasi 39 kali dengan waktu 3800 sekon,
proses pemeriksaan 14 kali dengan waktu 2041 sekon, transportasi 5 kali
dengan waktu 380 sekon, tidak ada proses menunggu, dan storage 1
dengan waktu 60 sekon.

20
 Peta Tangan Kanan dan Peta Tangan Kiri
Waktu siklus 187 sekon , jumlah produk setiap siklus 1 buah, dan waktu
untuk membuat satu produk 187 sekon.

21
BAB VI

KESIMPULAN SARAN DAN

6.1 Kesimpulan

Pada praktikum modul ini mengenai peta kerja dilakukan berdasarkan


prinsip-prinsip pengetahuan gerakan dan ekonomi gerakan yang
diperkenalkan oleh Frank. B Gilbret. Ada 17 gerakan dasar dalam
perancangan kerja agar kegiatan yang dilakukan lebih efekif dan efisien.
Dengan adanya 17 gerakan dasar maka proses perakitan terhadap Tamiya
Assy dapat lebih dioptimalkan. Hasil analisis dan pembahasan terhadap
Tamiya Assy, sebagai berikut :
 Operation Process Chart

Gambar 8. Operation Process Chart


(sumber: Pengolahan Data)

 Assembling Process Chart

Gambar 9. Assembling Process Chart

(sumber: Pengolahan Data)

22
 Peta Proses Regu Kerja

Gambar 10. Peta Proses Regu Kerja


(sumber: Pengolahan Data)

 Peta Tangan Kanan dan Peta Tangan Kiri

Gambar 11. Peta Tangan Kanan dan Peta Tangan Kiri

(sumber: Pengolahan Data)

 Peta Aliran Proses

Gambar 12. Peta Aliran Proses

(sumber: Pengolahan Data)

23
6.2 Saran

Pada praktikum modul ini mengenai peta kerja terdapat beberapa kendala untuk
menyelesaikan peta-peta kerja, seperti berikut :

1. Diupayakan agar pembagian modul praktikum dibagikan lebih awal


2. Praktikum yang dilakukan mengenai peta kerja dilakukan setelah teori
disampaikan, sehingga kami tidak terlambat dan kurang memahami
bagaimana cara pembuatan peta proses.
3. Mohon agar lebih jelas menyampaikan materi agar tidak kesulitan dalam
pembuatan peta proses

24
DAFTAR PUSTAKA

(http://adi.bogorlab.com/)
(http://arifamrizal.wordpress.com/2008/03/04/motion-and-time-study/)
https://fariedpradhana.wordpress.com/2012/04/24/peta-peta-kerja/

25
LAMPIRAN

26