Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

FARMAKOLOGI

INFEKSI HIV DAN AIDS

Oleh :

KELOMPOK VIII
DESMA YELLI 04001004
DESTRI WANTI 04001031
DERIT AFRITA 04001003
LIA RIVONA 04001013
YESI LIDIA SARI 04001025
YUNELVI AMRIANI 04001052
ZULMIWATI CANIAGO 04001053
KHOTIMAH 04001011

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes CERIA BUANA
LUBUK BASUNG
2007
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang ditentukan dengan judul

makalah Infeksi HIV Dan AIDS. Dimana makalah ini merupakan salah satu tugas

mata kuliah Farmakologi

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Dosen

Pembimbing dan teman - teman serta pegawai perpustakaan dan semua pihak

yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Disamping itu penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari

kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang

bersifat membangun dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata penulis berharap agar makalah ini dapat dijadikan sebagai

bahan bacaan dan bahan acuan dalam melakukan penelitian, baik bagi mahasiswa

STIKes pada khususnya dan mahasiswa keperawatan pada umumnya.

Lubuk Basung, Januari 2007

Kelompok VIII

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................i

DAFTAR ISI ........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................1

1.1 Latar Belakang ..............................................................................1

1.2 Tujuan Penulisan............................................................................2

1.3 Ruang Lingkup...............................................................................2

BAB II TINJAUAN TEORITIS ....................................................................3

2.1 Definisi...........................................................................................3

2.2 Etiologi...........................................................................................3

2.3 Epidemiologi..................................................................................4

2.4 Patofisologi ...................................................................................6

2.5 Manifestasi Klinis .........................................................................7

2.6 Penulisan dan Resiko AIDS ..........................................................7

2.6.1 Penularan HIV ...................................................................7

2.6.2 Resiko HIV ........................................................................8

2.7 Obat – Obat AIDS .........................................................................9

2.8 Proses Keperawatan ....................................................................11

2.8.1 Pengkajian .......................................................................11

2.8.2 Diagnosis .........................................................................12

2.8.3 Perencanaan ....................................................................12

2.8.4 Intervensi .........................................................................13

2.8.5 Evaluasi ...........................................................................13

ii
BAB III PENUTUP.........................................................................................14

3.1 Kesimpulan..................................................................................14

3.2 Saran.............................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Virus Human Immunodeficiency (HIV) adalah suatu retrovirus.

Retrovirus manusia pertama, HLTV-1 diisolasi pada tahun 1978 yang lainnya

adalah HTLV-2, HIV-1, penyebab acquered immudeficiency syndrome (AIDS)

yang telah dikenal dengan baik, dan HIV2. Karena netrovirus dapat menembus

inti dari sel penjamu, kemudian berintegrasi dengan DNA-nya dan bereplikasi

bersamaan dengan pembelahan sel, maka infeksi retrovirus berlangsung

seumur hidup pada orang yang terinfeksi. Sel – sel penjamu yang disukai oleh

retrovirus adalah limfosit tubuh manusia.

Retrovirus yang menimbulkan masalah besar dalam pelayanan

kesehatan adalah HIV. Sindroma primernya ditandai dengan ruam kulit,

demam, astralgia dengan atau tanpa meningitis dan ensefalitis. Tetapi infeksi

primernya dapat asimptomatik. Kebanyakan dari individu yang terinfeksi akan

membentuk antibodi yang dapat didefeksi dalam waktu 3 bulan, tetapi dapat

juga sampai 12 bulan/ lebih.

HIV disebarkan dengan kontak sexual, kontak dengan darah yang

terkontaminasi, transplasenta dan melalui air susu ibu. Dengan

menghancurkan limfosit T oleh terutama sel – sel jerus T4, HIV menekan

kekebalan terhadap penyakit – penyakit infeksi. HIV juga secara langsung

mempengaruhi SSP untuk menimbulkan polibeuropati, melopati, transversa

dan paling sering enselopati yang mengakibatkan demensia.

1
2

Kematian akibat virus HIV terjadi dalam waktu 10 bulan setelah

infeksi karena penyakit dapat menikmati masa latensi yang panjang bahkan

lebih dari 10 tahun, maka penyebarannya sering kali tidak jelas terlihat.

1.2 Tujuan Penulisan

a. Untuk dapat mengetahui defensi HIV

b. Untuk dapat mengetahui etiologi HIV

c. Untuk dapat mengetahui imunologi HIV

d. Untuk dapat mengetahui patofisiologi HIV

e. Untuk dapat mengetahui tentang manifestasi klinis

f. Untuk dapat mengetahui penularan HIV dan resiko

g. Untuk dapat mengetahui obat untuk AIDS

1.3 Ruang Lingkup

Dalam makalah ini kami membahas tentang HIV/ AIDS.


BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi

Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan kumpulan

gejala penyakit yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV).

Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia, dengan akibat

turunnya/ hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit

infeksi. (Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS 2003 – 2007)

HIV adalah suatu organisme kecil yang menyerang makhluk hidup

dengan berkembang biak.

AIDS adalah sekelompok penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan

seseorang dirusak oleh HIV (ancaman HIV dan kesehatan masyarakat –

Reuben Branch dan Jonathan Mermin, Mei 2003)

AIDS adalah bentuk spektrum imunologis dan klinis yang paling

ekstrrim dari infeksi oleh HIV -1, kasus AIDS mencerminkan adanya infeksi

HIV pada waktu jauh sebelumnya.

HIV adalah virus sitopatik dari femih rertrovirus. Virus ini

ditransmisikan melalui kontak seksual. Darah atau produk darah yang

terinfeksi, dan cairan tubuh tertentu, serta melalui perinatal (Price, Sylvia

Anderson dkk, Patofisiologi, Jakarta: EGC)

2.2 Etiologi

Human immunodeficiency virus dianggap sebagai virus penyebab

AIDS. Virus ini termasuk dalam family retrovirus. Nama retrovirus diberikan

pada jenis virus ini karena kemampuannya yang unik untuk mentransfer

3
4

informasi genetik mereka dari RNA ke DNA dengan menggunakan enzim

yang disebut dengan reverse transcriptase.

Bila dibandingkan dengan virus – virus yang lain, retrovirus sukar

berpindah dari satu penjamu ke penjamu lainnya. Ketidakmampuan untuk

berpindah ini mencerminkan lebilitas yang besar pada virion. Semua jenis

retrovirus dapat diinaktivasi dengan mudah oleh deterjen dalam kadar ringan,

pemanasan ringan, pengeringn serta cairan dengan Ph rendah, sedang atau

tinggi.

Oleh karena itu transmisi virus ini diperkirakan tidak dapat terjadi

melalui kontak fisik, kecuali bila terkena darah atau cairan tubuh lainnya

(seperti saat terjadinya hub. Sexual), walaupun dari ibu ke janin yang

dikandungnya kebanyakan infeksi retrovirus termasuk HIV didahului oleh

suatu periode laten yang berlangsung selama berbulan – bulan sampai

bertahun – tahun.

2.3 Epidemiologi

A. Statistik

Jumlah kasus AIDS telah miningkat secara cepat. Antara tanggal 5 Juni

1981 sampai dengan 31 Desember 1992:253.448 kasus AIDS (subtotal

penderita dewasa) remaja sebanyak 249.199 kasus, subtotal penderita

anak– anak sebanyak 4.249 kasus) telah tercatat terjadi di AS. Lebih dari

600.000 kasus terjadi di seluruh dunia. Jumlah ini diperkirakan akan terus

meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Organisasi kesehatan dunia

memperkirakan bahwa 8 – 10 juta orang dewasa dan 1 juta anak – anak

diseluruh dunia terinfeksi oleh HIV. Pada tahun 2000, kemungkinan 40

juta orang akan terinfeksi oleh HIV.


5

B. Karakteristik Demografi AIDS di AS

 Usia : 88 % dari semua penderita AIDS yang tercatat oleh

CDC berusia antara 20 sampai dengan 49 tahun.

 Jenis kelamin : hampir 90% penderita AIDS pada dewasa dan remaja

adalah pria. Dari penderita tersebut, 64 % adalah pria

homoseksual/ biseksual, dan 20% lainnya pecandu

obat dengan menggunakan injeksi yang heteroseksual.

Sedangkan sisanmya sebanyak 15 % mendapatkan

AIDS melalui cara transmisi yang lain.

Separuh dari pecandu obat bius dengan menggunakan

injeksi adalah wanita dan lebih dari 34% mempunyai

riwayat pernah melakukan hubunga seksual dengan

pria yang mempunyai resti untuk menderita AIDS/

dengan pria yang lahir dinegara dimana kontak

heteroseksual diyakini sebagai cara transmisi utama

infeksi HIV. Hampir 7% penderita AIDS pada wanita

pernah menerima transfusi darah. Sisanya sekitar 9%

mendapatkan AIDS dengan cara yang tidak diketahui.

 RAS : pada orang dewasa dan remaja 53% kasus AIDS terjadi

pada mereka yang berkulit putih, 29% terjadi pada

orang Afrika – Amerika, 17% terjadi pada hispanik dan

0,8% terjadi pada orang Asia/ Kep. Pasifik serta Indian

Amerika. Pada anak – anak 21% penderita AIDS

terjadi pada anak kulit putih, 54% terjadi ada anak


6

Afrika – Amerika, 24% terjadi pada anak Hispanik dan

0,7% terjadi pada anak Asia.

C. Penyebaran AIDS dan AS.

Diseluruh 50 negara bagian dan daerah AS telah tercatat paling sedikit ada

satu kasus AIDS. Didua negara bagian, California dan Newyork terhitung

ada 72,9 kasus per 100.000 populasi penduduk yang tercatat sampai

dengan bulan September 1992. di Florida terhitung ada 37,1 kasus per

100.000 populasi penduduk, Texas 16,9 kasus dan New Jersey: 26,4 kasus.

2.4 Patofisologi

Begitu memasuki peredaran darah, HIV akan memberikan dampak yang

buruk bagi sistem imun tubuh. HIV akan membunuh sel CD 4 dalam tempo

singkat sesudah infeksi. Gejala yang timbul mirip flu seperti lemas, demam,

sakit kepala dan nyeri otot, nafsu makan buruk, mual, kelenjar membengkak

dan bercak di kulit.tetapi sering jumlah CD 4 kemudian meningkat sehingga

gejala – gejala ini menghilang sesudah beberapa minggu. Bagi yang tertular

HIV menjadi bebas gejala selama berbulan – bulan/ bertahun – tahun, tetapi

dapat ditularkan tanpa disadari, yang disebut dengan “carrier HIV”

Pada sebagian kasus carrier HIV akan menunjukkan serangkaian gejala–

gejala yang dahulu disebut AIDS – related complex atau ARC, yakni

pembengkakan kelenjar getah bening yang menahun, lelah, demam dan

serangan diare serta merosotnya BB. Gejala ini belum menunjukkan gejala –

gejala yang khas AIDS sepenuhnya, tetapi sudah menjadi pertanda bahwa

kuman HIV telah dimulai beraksi dalam sistem imun tubuh.


7

Diperkirakan dalam 10 tahun/ lebih sejak tertular, HIV mulai

berkambangbiak dengan cepat. Dalam proses itu virus menghancurkan sel

tuan rumahnya dan berpindah ke sel – sel lain dalam sistem imun. Akhirnya

kemampuan tubuh untuk menghalau penyakit menjadi lumpuh sama sekali.

2.5 Manifestasi Klinis

a. Limfa denopati umum persisten (LUP) pada kelompok pria homoseksual

yang sehat.

b. Pneumonia pneumocystis carinii.

c. Histoplasmosis.

d. Toxoplasmosis sistem saraf pusat.

e. Meningitis kriptokokus.

f. Limfoma otak primer.

g. Demensia kompleks pada AIDS.

h. .infeksi akibat virus sitomegalo.

i. Kandidiasis oral dan esofagus.

2.6 Penulisan dan Resiko AIDS

2.6.1 Penularan HIV

HIV ditularkan melalui darah, hubungan sexual,transfusi dengan

darah tercemar, transplantasi dengan organ atau jaringan yang terinfeksi,

menggunakan jarum suntik bekas HIV dapat pula ditularkan dari ibu

keanaknya sewaktu kehamilan, persalinan mauun sewaktu menyusukan.

Penularan HIV melalui hubungan seks lebih sering terjadi dari pria

ke wanita karena kuman HIV lebih banyak ditemui di dalam cairan semen

dari pada cairan vagina. Dan mani yang tercemar HIV dapat tinggal di
8

dalam vagina beberapa hari setelah hubungan seks, sehinggga memberi

kesempatan yang lebih besar untuk dapat menularkan.

Pada awal tahun 1980 an HIV menyebar dengan cepat dikalangan

penderita hemofilia yang telah menerima transfusi darah tercemar HIV.

Penderita hemifilia tidak mempunyai faktor pembeku di dalam darahnya.

Mereka dapat mengalami pendarahan terus menerus apabila luka, dan

transfusi darah sangat diperlukan untuk mengganti jumlah darah yang

hilang.

2.6.2 Resiko HIV

Faktor – faktor untuk infeksi AIDS.

a. Penyalahgunaan obat suntikan IV

b. Prostitusi.

c. Hubungan seksual dengan pasangan yang telah diketahui

menderita infeksi, homosexual, pemakai atau mantan pemakai obat –

obat IV, atau penderita hemofilia.

d. Tinggal dilingkungan masyarakat/ daerah yang tinggi

prevelensinya, mis: Afrika Tengah.

e. Homoseksualitas atau biseksualitas.

f. Infeksi dengan DNS lainnya.

g. Pasangan seksual ganda.

h. Lesi – lesi genital.

i. Perilaku seksual traumatik.

Kelompok masyarakat yang beresiko terkena epidemi AIDS.


9

1) Pria Gay

Di AS, AIDS menghantam komunitas pria gay dan terjadi terutama

karena adanya hubungan seks per anal.

2) Pemakai obat suntik.

Pemakai jarum suntik mencakup satu dari empat penderita AIDS di

AS. Obat yang paling sering digunakan adalah heroin dan kokain.

3) Bayi yang dilahirkan oleh wanita yang memakai obat suntik.

Di New York, misalnya mayoritas anak – anak yang lahir dengan

terinfeksi HIV mempunyai ibu yang menggunakan obat suntik liar.

4) Pekerja seks.

Pekerja seks yang menyalahgunakan obat atau yang melakukan

kegiatan seks tanpa alat pelindung dengan tamu atau orang yang

menyuntik obat menempuh resiko tinggi.

2.7 Obat – Obat AIDS

Belum ada pengobatan untuk infeksi HIV. Tiga obat anti virus telah

dikembangkan untuk pengobatan orang – orang yang terinfeksi HIV:

A. Zidovudine (retrovir, asidotimidin, AZT) : mengurangi replikasi virus,

memulihkan imunosupresi secara parsial dan menunda terjadinya atau

kekambuhan dari komplikasi.

Individu diobati jika jumlah limfosit tempat mereka turun di bawah

500/m3, okbat ini lebih baik ditoleransi pada klien yang lebih sehat.

Dosis : dewasa (200 mg zidovudine setiap 4 jam selama satu bulan diikuti

100 mg setiap 4 jam)


10

B. Dideoksisitidin (ddC) dan dideoksiinosin (ddI): aktif melawan HIV dan

nampaknya kurang menimbulkan supresi sumsum tulang dibandingkan

dengan zidovudine. Dideoksisitidin dapat menimbulkan neuropati perifer

atau pankreatitis.

Efek samping lainnya adalah ruam kulit, mukositis, antralgia, insomnia,

rasa kecap yang berubah, depresi SSP, konstipasi, stomatitis, alopesia,

diare, sakit kepala dan pusing efek sampingnya berkaitan dengan dosis

dan nampaknya sebagian besar bersifat reversibel dan untuk mengevaluasi

efektifitas tubuh/ secara bergantian.

Dideoksiinosin: menimbulkan neruropati, pankreatitis, diare dan

enselopati. Obat – obat ini memberikan harapan jika diberikan bentuk

kombinasi. Karena kemampuan virus untuk bermutasi, maka regimen

pengobatan mungkin sangat berbeda untuk masing – masing individu.

Pembubaran infeksi oportunistik yang sering pada infeksi HIV dan AIDS.

Infeksi Obat
A. Meningitis kriptokokal Amfoterisin B: 0,4 – 0,6 mg/kg/hari IV
atau flukonazol 200 – 400 mg/hari PO

B. Histoplasmosis. Amfoterisin B : 2 – 2,5 g dosis total


atau itrakonazol 200 mg PO b.i.d

C. Tuber kulosis Isomazid (INH) + rifampin +


pirazinamid x 2 bulan atau INH +
rifampin + streptomisin x 2 bulan.

D. Retinitis sitomegalovirus. Gansiklavir 5 mg/kg/hari b.i.d x 21 hari


atau foskarnet 90 – 120 mg/kg IV setiap
8 jam x 14 hari.

E. Pneumonia streptokokal. Penisilin atau eritromisin, sefalospain.


Trimetroprim 15 mg/kg/hari/hari +
sulfametoksazol 75 – 100 mg/kg/hari
atau IV x 21 hari dalam dosis 3 – 4 kali
sehari atau pentamidin 4 mg/kg/hari IV
11

atau IM x 21 hari.
F. Infeksi pneumocystis carinii Pirimetamin 25 – 27 mg/hari po + asam
folat 5 – 15 minggu/hari PO +
G. Ensefalitis toksoplasma. sulfadiazin 4 – 89 hari x 6 minggu.
H. Kondidiasis, esofagitis. Ketokonazol 200 mg PO b.i.d atau t.i.d
Flukonazol 200 – 400 mg PO Q.d
Amfoterisin B 0,3 – 0,5 mg/kg IV q.d +
flusitosis 100 mg/kg/hari x 5 – 7 hari.

2.8 Proses Keperawatan

2.8.1 Pengkajian

 Sebelum mengumpulkan data fisik lakukan anamnesa untuk mencari

kemungkinan dx. Perawatan tanyakan dahulu masalah yang umum

sehingga tercipta hubungan saling percaya.

 Anamnesia meliputi:

- Keluhan utama.

- Penggambaran tentang perjalanan penyakit termasuk pengobatan

sendiri yang sudah dilakukan.

- Tinjauan tentang riwayat kesehatan secara umum.

- Tinjauan tentang kebiasaan dan gaya hidup.

- Aanya alergi.

 Pemeriksaan fisik

- Infeksi dan palpasi: dari genitalia dan tempat – tempat inokulasi

lain – lain.

- Uji laboratorium : permeriksaan mikroba dengan sedian basah,

pembiakan PAP simear, hitung darah lengkap, serologi sifilis dan

antibodi virus herpes simpleks.


12

2.8.2 Diagnosis

Infeksi HIV dapat diperiksa dengan suatu tes yang disebut ELISA

(enzyme linked immunosorbent assay). ELISA mendeteksi adanya

antibodi terhadap HIV di dalam aliran darah. Seseorang mulai membentuk

antibodi terhadap infeksi HIV lama sebelum menunjukkan gejala – gejala

dan bertahun – tahun sebelum sampai pada tahap AIDS.

Tes antibodi tidak secara langsung menunjukkan terdapatnya virus,

seuatu hasil tes yang positif (seropositif): menandakan bahwa orang telah

tertular HIV dan bahwa imun tubuhnya telah menghasilkan antibodi

terhadap infeksi tersebut.

Namun demikian terhadap sedikitnya satu pengecualian. Semua bayi

yang dilahirkan oleh ibu penyandang HIV, pada permulaan akan

menunjukkan tes positif terhadap antibodi HIV, sekalipun hanya sepertiga

diantaranya yang sesungguhnya terinfeksi.

Jal ini karena antibodi pada darah ibunya dapat menyeberang lewat

plasenta ke dalam daah bayi, walaupun virusnya sendiri tidak turut.

Sedangkan suatu tes yang negatif = seronegatif: menunjukkan bahwa tidak

ada ditemukan antibodi.

2.8.3 Perencanaan

Tujuan jangka pendek adalah agar klien mentaati regimen pengobatn

dan menghindari timbulnya reaksi yang merugikan.

Tujuan jangka panjang agar klien kemebali untuk melakukan

kunjungan berikutnya dan menghindari dari pemajanan PHS lebih jauh.


13

2.8.4 Intervensi

Klien perlu untuk memahami tindakan – tindakan yang dilakukan

selama valuasi dan bagaimana cara pemakaian obat yang diberikan. Efek

samping dan reaksi yang merugikan yang memerlukan pananganan segera

juga harus ditinjau.

 Intervensi spesifik meliputi perlunya dukungan sewaktu klien

menyadari fakta bahwa infeksi yang dideritanya adalah tertular melalui

hubungan seksual.

 Klien perlu memberitahukan pasangan - pasangan sexualnya sehingga

mereka dapat dievaluasi dan diobati.

 Idealnya kontak seksual dihindari selama pengobatan, setidaknya

kondom harus dipakai sampai keduanya sembuh dari infeksi.

 Individu dijadwalkan untuk melakukan kunjungan selanjutnya dari 4

hari sampai 4 minggu, tergantung pada tipe infeksi dan pengobatan.

 Individu yang menderita PHS diberikan konsultasi tentang

pemeriksaan HIV.

2.8.5 Evaluasi

 Intervensi dikatakan berhasil apabila infeksi individu telah sembuh

pada evaluasi ulangan, atau dalam hal infeksi virus, individu

mengalami keadaan dimana penyakit virus tidak aktif lagi.

 Satu hasil yang penting untiuk dievaluasi adalah bahwa infeksi tidak

ditularkan ke individu lain. Hasil yang lain adalah bahwa individu

mampu menghindari hubungan sexual dengan banyak individu,

hub.sexual tanpa menggunakan kondom, dan tingkah laku sexual yang

traumatik.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

HIV disebarkan dengan kontak seksual,kontak dengan darah yang

terkontaminasi,tranplasenta dan melalui ASI. Dengan menghancurkan limfosit

T oleh terutama terhadap penyakit-penyakit infeksi.HIV juga secara langsung

mempengaruhi SSP untuk menimbulkan polineuropati,mielopati tranversa dan

paling sering ensefalopati yang mengakibatkan demensia.

Kelompok masyarakat yang beresiko terkena epidemi AIDS yaitu pria

gay,pemakai obat suntik, bayi yang dilahirkan wanita yang memakai obat

suntik dan pekerja seks.dan hampir 90% penderita AIDS pada dewasa dan

remaja adalah pria dan 20% lainnya adalah pecandu obat dengan

menggunakan injeksi

3.2 Saran

Setelah pembaca memahami makalah ini kelompok berharap dapat

menambah pengetahuan yang berhubungan dengan askep pada infeksi HIV

dan AIDS semoga dapat berguna bagi mahasiswa STIKes

14
DAFTAR PUSTAKA

Muma, Richard. D, (1997), HIV: Manual Untuk Tenaga Kesehatan, Jakarta:


EGC

Kee, Joyce, L, dkk, (1996), Farmakologi, Jakarta: EGC

Granich, Reuben (2003), Ancaman HIV dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta

Price, Sylvia Anderson, (1994), Patofisiologi, Jakarta: EGC

15