Anda di halaman 1dari 16

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Saluran Irigasi

By Admin2 On November 28, 2012 In Bangunan Air Tagged Bangunan Air

Saluran irigasi merupakan bagian dari bendung yang berfungsi menyalurkan air dari
bendung ke petak-petak sawah yang akan di aliri air. Berikut ini adalah pekerjaan irigasi
secara umum :

 Pekerjaan pokok adalah pembuatan saluran irigasi yang terdiri dari saluran induk,
saluran sekunder saluran sub sekunder dan bangunan pengatur air
 Lokasi pekerjaan sangat luas, karena panjang total saluran irigasi yang dibuat bisa
mencapai puluhan kilometer
 Pekerjaan dominan adalah pekerjaan tanah, berupa pekerjaan galian tanah,
pekerjaan timbunan tanah atau kombinasi keduanya yaitu pekerjaan cut and fill
 Pekerjaan akan padat peralatan berat dan sangat tergantung pada cuaca (musim
hujan/musim kemarau)
 Karena lokasi yang sangat luas, kemungkinan terjadi masalah sosial sangat besar

Urutan pelaksanaan pekerjaan irigasi


Pekerjaan persiapan
– Pembuatan temporary contractor’s fascilities, site office, ware house, work shop, open
storage, staff quarter, labor house
– Bagian pengukuran

 Pengukuran longitudinal section, untuk mencari trase saluran dan batas-batas


pembebasan tanah
 Pengukuran cross section, untuk mendesain elevasi saluran dan sebagai dasar
perhitungan perhitungan volume pekerjaan tanah

– Pekerjaan mobilisasi alat berat


– Pekerjaan tanah
– Pekerjaan concrete lining
– Pekerjaan struktur bangunan pengatur air
– Pekerjaan jalan inspeksi
– Pekerjaan pintu air
Hal-hal yang perlu diperhatikan

 Semaksimal mungkin menggunakan material galian untuk timbunan


 Sebelum timbunan dilaksanakan, stripping dahulu permukaan humus/top soil agar
tidak terjadi settlement
 Dikerjakan dahulu semua struktur di lokasi timbunan, sebelum timbunan
dilaksanakan, biasanya di lokasi timbunan terdapat drainage/box culvert
 Dibuat mass hauling diagram agar jarak rata hauling bisa ditentukan dan agar
kebutuhan jumlah dump truck bisa direncanakan
 Jika jarak hauling terlalu jauh (lebih dari 5 km), agar dipertimbangkan material
timbunan diambil dari borrow area terdekat

Pekerjaan tanah

 Pekerjaan stripping, membuang top soil yang jelek, agar timbunan tidak mengalami
penurunan
 Pekerjaan timbunan, menimbun lokasi-lokasi sepanjag saluran yang rendah dengan
tanah hasil galian atau dari borrow area
 Pekerjaan galian, menggali lokasi-lokasi sepanjang saluran yang terlalu tinggi dan
tanah hasil galian dibuang ke lokasi timbunan atau disposal area
 Pekerjaan galian saluran, menggali dan membentuk saluran irigasi, setelah
pekerjaan gali dan timbunmencapai rata datar meja
 Pekerjaan trimming slope, menggali atau menambah tepian tanggul timbunan agar
mencapai desain elevasi

Gambar metode galian


timbunan

Metode penggalian saluran sekunder

 Dipasang profil pada jarak setiap 25 meter, sehingga operator alat berat mempunyai
pedoman untuk penggalian saluran
 Dilakukan stock spare parts terutama yang bersifat fast moving, antara lain selang
hydraulics
 Diadakan pengecekan elevasi dan hasil kerja alat setiap jarak 5 meter, sehinga jika
terjadi kesalahan dapat langsung diperbaiki

Gambar pekerjaan galian


pada saluran sekunder

Gambar pekerjaan
galian saluran sekunder

Metode pelaksanaan pekerjaan lining concrete

 Dibuat mal dari kayu balok dengan tebal sama dengan ketebaan concrete lining (8
cm)
 Perataan permukaan dengan menggunakan pipa galvanis persegi, baru kemudian
dengan sendok semen
 Dibuat grup pekerja tersendiri, khusus untuk persiapan lahan cor, terutama untuk
trimming tanah
 Pengecoran dengan sistem papan catur

Gambar pekerjaan lining


concrete

Metode penggalian saluran sub sekunder

 Dipasang profil pada jarak setiap 25 meter, sehingga operator alat berat mempunyai
pedoman untuk menggali saluran
 Bentuk bucket excavator diubah/disesuaikan dengan bentuk dan ukuran saluran
(bentuk trapesium). Agar galian bisa presisi dan tidak banyak pekerjaan trimming
slope.
Gambar
penggalian saluran sub sekunder
KONSTRUKSI BANGUNAN AIR, TANPA KATEGORI
METODE PELAKSANAAN KONTRUKSI BENDUNG
Posted on 23 April 2016
Sebuah bendung memiliki fungsi, yaitu untuk meninggikan muka air sungai dan
mengalirkan sebagian aliran air sungai yang ada ke arah tepi kanan dan tepi kiri
sungai untuk mengalirkannya ke dalam saluran melalui sebuah bangunan
pengambilan jaringan irigasi. Bendung juga dapat didefinisikan sebagai bangunan
air yang dibangun secara melintang sungai, sedemikian rupa agar permukaan air
sungai di sekitarnya naik sampai ketinggian tertentu, sehingga air sungai tadi
dapat dialirkan melalui pintu sadap ke saluran saluran pembagi kemudian hingga
ke lahan-lahan pertanian.

Suatu konstruksi sebuah bendung dapat dibuat dari urugan tanah, pasangan batu kali, dan
bronjong atau beton. Sebuah bendung konstruksinya dibuat melintang sungai dan fungsi
utamanya adalah untuk membendung aliran sungai dan menaikkan level atau tingkat muka air di
bagian hulu.

Syarat-syarat konstruksi bendung harus memenuhi beberapa faktor, yaitu

 Bendung harus stabil dan mampu menahan tekanan air pada waktu banjir;
 Pembuatan bendung harus memperhitungkan kekuatan daya dukung tanah di bawahnya;
 Bendung harus dapat menahan bocoran (seepage) yang disebabkan oleh aliran air sungai
dan aliran air yang meresap ke dalam tanah;
 Tinggi ambang bendung harus dapat memenuhi tinggi muka air minimum yang
diperlukan untuk seluruh daerah irigasi;
 Bentuk peluap harus diperhitungkan, sehingga air dapat membawa pasir, kerikil dan batu-
batu dari sebelah hulu dan tidak menimbulkan kerusakan pada tubuh bendung.

Pemilihan lokasi pembangunan bendung harus didasarkan atas beberapa faktor, yaitu

 Keadaan Topografi
 Dalam hal ini semua rencana daerah irigasi dapat terairi, sehingga harus dilihat elevasi
sawah tertinggi yang akan diari;
 Bila elevasi sawah tertinggi yang akan diairi telah diketahui maka elevasi mercu bendung
dapat ditetapkan;
 Dari kedua hal di atas, lokasi bendung dilihat dari segi topografi dapat diseleksi.
 Keadaan Hidrologi

Dalam pembuatan bendung, yang patut diperhitungkan juga adalah faktor – faktor hidrologinya,
karena menentukan lebar dan panjang bendung serta tinggi bendung tergantung pada debit
rencana. Faktor – faktor yang diperhitungkan, yaitu masalah banjir rencana, perhitungan debit
rencana, curah hujan efektif, distribusi curah hujan, unit hidrograf, dan banjir di site atau
bendung.

 Kondisi Topografi

Dilihat dari lokasi, bendung harus memperhatikan beberapa aspek, yaitu

 Ketinggian bendung tidak terlalu tinggi.


 Trase saluran induk terletak di tempat yang baik.
 Kondisi Hidraulik dan Morfologi
 Pola aliran sungai meliputi kecepatan dan arahnya pada waktu debit banjir;
 Kedalaman dan lebar muka air pada waktu debit banjir;
 Tinggi muka air pada debit banjir rencana;
 Potensi dan distribusi angkutan sedimen.
 Kondisi Tanah Pondasi

Bendung harus ditempatkan di lokasi dimana tanah pondasinya cukup baik sehingga bangunan
akan stabil. Faktor lain yang harus dipertimbangkan pula yaitu potensi kegempaan dan potensi
gerusan karena arus dan sebagainya.

 Biaya Pelaksanaan

Biaya pelaksanaan pembangunan bendung juga menjadi salah satu faktor penentu pemilihan
lokasi pembangunan bendung. Dari beberapa alternatif lokasi ditinjau pula dari segi biaya yang
paling murah dan pelaksanaan yang tidak terlalu sulit.

Berikut ini adalah metode pembuatan bendung :

1. Pembuatan bendungan dimulai dengan pembuatan diversion channel (saluran pengalihan)


yang dibangun di sebelah kanan sungai
2. Pekerjaan dimulai dengan dengan mengerjakan diversion work dengan menggali tanah
dan pembuatan tanggul untuk mengalihkan aliran sungai. Setelah sungai dialihkan lokasi
bendung dapat dikeringkan melalui proses dewatering.

Gambar pengalihan aliran sungai

3. Selanjutnya pekerjaan bendung dilanjutkan dengan pekerjaan galian tanah dengan


excavator dan hasil galian diangkut dengan dump truck untuk dibuang ke disposal area
atau disimpan sebagai stock untuk material timbunan sesuai dengan jenis dan spesifikasi
tanah.

Gambar pekerjaan galian tanah


4. Bila galian menemui lapisan tanah keras, dilakukan pekerjaan galian batu

5. Dipilih metode drilling and blasting, yaitu pada permukaan batuan dibuat pola blasting.
Kemudian dibuat lubang dengan rock drill (cradler rock driller) atau canal drilling

untuk diisi sejumlah bahan peledak (dynamit) dan detonator sebagai pemicunya

Gambar pekerjaan pada tanah keras

6. Setelah peledakan, hasil galian dikumpulkan dengan excavator dan diangkut dump truck
ke disposal area
7. Galian batuan dengan blasting (peledakan)biasanya sulit untuk membentuk dasar galian
yang rapi sesuai rock line excavation yang ada dalam shop drawing
8. Selanjutnya digunakan giant breaker yang dipasangkan pada excavator untuk membentuk
dan merapikan galian batuan
9. Sebelum pekerjaan beton fondasi bendung dimulai, pekerjaan yang harus dilakukan
adalah finising permukaan batuan dengan membersihkan semua loose material dan
menutup permukaan dengan splash grouting.
10. Splash grouting adalah campuran semen pasir dan air yang disiramkan ke permukaan
batuan

Gambar pekerjaan splash grouting

11. Tahap selanjutnya adalah pekerjaan beton (concrete) untuk fondasi, tubuh bendung,
kolam olakan (stilling basin) dan piers serta column
12. Di permukaan bendung yang terjadi pergesekan dengan air sungai dimana diasumsikan
terdapat batuan lepas, ranting dan pohon, oleh karena itu perlu dilapisi dengan steel fibre
concrete
13. Pada bendung gerak dibuat bangunan hoist room yaitu tempat mesin penggerak pintu,
dipasang berupa katrol (hoist) elektrik untuk menaikkan dan menurunkan pintu

Gambar hoist room bendung gerak

14. Setelah bagian utama terlaksana, diikuti bangunan lantai apron dan lantai stilling basin
yang diikuti pekerjaan backfill dengan material terseleksi (selected embankment)
15. Jembatan pelayanan dibuat terpisah di fabrikasi karena menggunakan precast prestressed
concrete, yang dilaunching dengan metode launching trus
16. Pekerjaan sipil utama yang paling berat adalah pembuatan pier dan hoist deck, karena
perlu ketelitian dan akurasi yang tinggi agar interfacing dengan pekerjaan pintu (hydro
mechanical) tidak banyak menemui kesulitan
17. Dalam penentuan penggunaan perancah bekisting di lantai hoist room perlu penanganan
khusus karena pada ketinggian 28 m, harus melakukan pekerjaan beton dengan beban
ratusan ton dan lendutan yang cukup besar

Gambar urutan pekerjaan tubuh bendung

Gambar pemasangan pilar movable weir dan masangan king shore hoist deck

18. Pelaksanaan bendung gerak dan bendung tetap merupakan lintasan kritis . Sedangkan
pekerjaan apron, stilling basin dan fishway merupakan pekerjaan tidak kritis tetapi dapat
dilaksanakan paralel dengan pekerjaan bendung sesuai kapasitas penyediaan beton per
hari
19. Untuk pembuatan pier dan kolom beton digunakan climbing formwork dengan dua tipe,
yaitu untuk lengkung dipakai bekisting baja dan untuk yang lurus digunakan bekisting
kayu dan plywood

Gambar pembuatan pier dan kolom beton

20. Pada tahap pelaksanaan pengecoranbeton untuk pier terdapat dua jenis beton yang harus
dilaksanaan bersama untuk menghindari sambungan dingin (cold joint) yaitu antara beton
biasa dan beton campuran berton campuran steel fibre
21. Agar kedua jenis beton tidak tercampur, digunakan kawat ayam yang ditahan dengan besi
beton atau wire mesh
22. Pengecorannya dilakukan secara bergantian dalam waktu yang relatif bersamaan antara
steel fibre concrete dan beton biasa
23. Dilanjutkan dengan pengecoran bagian-bagian pada dan elevasi di atasnya sesuai dengan
ketinggian climbing formwork
24. Untuk dinding bangunan hoist room yang awalnya adalah beton biasa, dilakukan inovasi
menjadi kolom dan balok rangka baja dengan dinding precast prestressed panel (hollow
core wall) untuk dinding maupun plat atap.

Sumber: http://nawwanahmadzulfian.blogspot.co.id/2013/06/metode-pelaksanaan-kontruksi-
bendungan_4.html
DIPOSKAN PADAKONSTRUKSI BANGUNAN AIR, TANPA KATEGORI
Bendungan
Posted on 23 April 2016

1. 1. Pengertian Bendungan

Bendungan (dam) adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk,
danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga digunakan untuk mengalirkan air ke
sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air.
Gambar Topologi Bendungan

2. Bagian-bagian bendungan

Bendungan terdiri dari beberapa komponen, yaitu :

1. Badan bendungan (body of dams)

Adalah tubuh bendungan yang berfungsi sebagai penghalang air. Bendungan umumnya memiliki
tujuan untuk menahan air, sedangkan struktur lain seperti pintu air atau tanggul digunakan untuk
mengelola atau mencegah aliran air ke dalam daerah tanah yang spesifik. Kekuatan air
memberikan listrik yang disimpan dalam pompa air dan ini dimanfaatkan untuk menyediakan
listrik bagi jutaan konsumen.

1. Pondasi (foundation)

Adalah bagian dari bendungan yang berfungsi untuk menjaga kokohnya bendungan.

1. Pintu air (gates)

Digunakan untuk mengatur, membuka dan menutup aliran air di saluran baik yang terbuka
maupun tertutup. Bagian yang penting dari pintu air adalah :

1. Daun pintu (gate leaf)

Adalah bagian dari pintu air yang menahan tekanan air dan dapat digerakkan untuk membuka ,
mengatur dan menutup aliran air.

1. Rangka pengatur arah gerakan (guide frame)

Adalah alur dari baja atau besi yang dipasang masuk ke dalam beton yang digunakan untuk
menjaga agar gerakan dari daun pintu sesuai dengan yang direncanakan.

1. Angker (anchorage)
Adalah baja atau besi yang ditanam di dalam beton dan digunakan untuk menahan rangka
pengatur arah gerakan agar dapat memindahkan muatan dari pintu air ke dalam konstruksi beton.

1. Hoist

Adalah alat untuk menggerakkan daun pintu air agar dapat dibuka dan ditutup dengan mudah.

1. Bangunan pelimpah (spill way)

Adalah bangunan beserta intalasinya untuk mengalirkan air banjir yang masuk ke dalam waduk
agar tidak membahayakan keamanan bendungan. Bagian-bagian penting daribangunan pelimpah
:

1) Saluran pengarah dan pengatur aliran (controle structures)

Digunakan untuk mengarahkan dan mengatur aliran air agar kecepatan alirannya kecil tetapi
debit airnya besar.

2) Saluran pengangkut debit air (saluran peluncur, chute, discharge carrier, flood way)
Makin tinggi bendungan, makin besar perbedaan antara permukaan air tertinggi di dalam waduk
dengan permukaan air sungai di sebelah hilir bendungan. Apabila kemiringan saluran
pengangkut debit air dibuat kecil, maka ukurannya akan sangat panjang dan berakibat bangunan
menjadi mahal. Oleh karena itu, kemiringannya terpaksa dibuat besar, dengan sendirinya
disesuaikan dengan keadaan topografi setempat.

3) Bangunan peredam energy (energy dissipator)

Digunakan untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi energi air agar tidak
merusak tebing, jembatan, jalan, bangunan dan instalasi lain di sebelah hilir bangunan pelimpah.

1. Kanal (canal)

Digunakan untuk menampung limpahan air ketika curah hujan tinggi.

1. Reservoir

Digunakan untuk menampung/menerima limpahan air dari bendungan.

1. Stilling basin

Memiliki fungsi yang sama dengan energy dissipater.

1. Katup (kelep, valves)


Fungsinya sama dengan pintu air biasa, hanya dapat menahan tekanan yang lebih tinggi (pipa air,
pipa pesat dan terowongan tekan). Merupakan alat untuk membuka, mengatur dan menutup
aliran air dengan cara memutar, menggerakkan kea rah melintang atau memenjang di dalam
saluran airnya.

1. Drainage gallery

Digunakan sebagai alat pembangkit listrik pada bendungan.

3. Tipe Bendungan

Bendungan juga dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :

1. Berdasarkan ukuran

1) Bendungan besar (large dams)

Menurut ICOLD definisi dari bendungan adalah :

 Bendungan yang tingginya lebih dari 15m, diukur dari bagian terbawah pondasi
sampai ke puncak bendungan.
 Bendungan yang tingginya antara 10m dan 15m dapat pula disebut dengan bendungan
besar asal memenuhi salah satu atau lebih kriteria sebagai berikut :

1. Panjang puncak bendungan tidak kurang dari 500m.


2. Kapasitas waduk yang terbentuk tidak kurang dari 1 juta m³.
3. Debit banjir maksimal yang diperhitungkan tidak kurang dari 2000 m³/detik.
4. Bendungan menghadapi kesulitan – kesulitan khusus pada pondasinya (had specially
ifficult foundation problems).
5. Bendungan di desain tidak seperti biasanya (unusual design).

2) Bendungan kecil (small dams, weir, bendung)

Semua bendungan yang tidak memenuhi syarat sebagai bendungan besar di sebut bendungan
kecil.

1. Berdasarkan tujuan pembangunannya

1) Bendungan dengan tujuan tunggal (single purpose dams)

Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu tujuan saja.

2) Bendungan serbaguna (multipurpose dams)


Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi beberapa tujuan.

1. Berdasarkan penggunaannya

1) Bendungan untuk membuat waduk (storage dams)

Adalah bendungan yang dibangun untuk membentuk waduk guna menyimpan air pada waktu
kelebihan agar dapat dipakai pada waktu diperlukan.

2) Bendungan penangkap/pembelok air (diversion dams)

Adalah bendungan yang dibangun agar permukaan airnya lebih tinggi sehingga dapat mengalir
masuk kedalam saluran air atau terowongan air.

3) Bendungan untuk memperlamabat jalannya air (detension dams)

Adalah bendungan yang dibangun untuk memperlamabat aliran air sehingga dapat mencegah
terjadinya banjir besar. Masih dapat dibagi lagi menjadi 2, yaitu :

 Untuk menyimpan air sementara dan dialirkan ke dalam saluran air bagian hilir.
 Untuk menyimpan air selama mungkin agar dapat meresap di daerah sekitarnya.

1. Berdasarkan konstruksinya

1) Bendungan urugan (fill dams, embankment dams)

Menurut ICOLD definisinya adalah bendungan yang dibangun dari hasil penggalian bahan
(material) tanpa tambahan bahan lain yang bersifat campuran secara kimia, jadi betul-betul
bahan pembentuk bendungan asli. Bendungan ini masih dapat dibagi menjadi :

 Bendungan urugan serbasama (homogeneous dams)

Adalah bendungan urugan yang lapisannya sama.

 Bendungan urugan berlapis-lapis (zone dams, rockfill dams)

Adalah bendungan urugan yang terdiri atas beberapa lapisan , yaitu lapisan kedap air (water tight
layer), lapisan batu (rock zones, shell), lapisan batu teratur (rip-rap) dan lapisan pengering (filter
zones).

 Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka (impermeable face rockfill
dams, dekced rockfill dams)
Adalah bendungan urugan batu berlapis-lapis yang lapisan kedap airnya diletakkan di sebelah
hulu bendungan. Lapisan kedap air yang biasa digunakan adalah aspal dan beton bertulang.

1) Bendungan beton (concrete dams)

Adalah bendungan yang dibuat dari konstruksi beton baik dengan tulangan maupun tidak. Ini
masih dapat dibagi lagi menjadi :

 Bendungan beton berdasar berat sendiri (concrete gravity dams) Adalah bendungan beton
yang didesain untuk menahan beban dan gaya yang bekerja padanya hanya dengan berat
sendiri saja.
 Bendungan beton dengan penyangga (concerete butress dams)

Adalah bendungan beton yang mempunyai penyangga untuk menyalurkan gaya-gaya yang
bekerja padanya. Banyak dipakai apabila sungainya sangat lebar sedangkan keadaan geologiya
baik.

 Bendungan beton berbentuk lengkung (beton berbentuk busur atau concerete arch dams)
Adalah bendungan beton yang di desain untuk menyalurkan gaya-gaya yang bekerja
padaya lewat abutmen kiri dan abutmen kanan bendungan.

 Bendungan beton kombinasi (combination concerete dams, mixed type concerete dams)
Adalah merupakan kombinasi anatara lebih dari satu tipe bendungan.

3) Bendungan lainnya

Biasanya hanya untuk bendungan kecil misalnya : bendungan kayu (timber dams), bendungan
besi (steel dams), bendungan pasangan bata (brick dams), bendungan pasangan batu (masonry
dams).

1. Berdasarkan fungsinya

1) Bendungan pengelak pendahuluan (primary cofferdam, dike)

Adalah bendungan yang pertama-tama dibangun di sungai pada waktu debit air rendah agar
lokasi rencana bendungan pengelak menjadi kering yang memungkinkan pembangunannya
secara teknis.

2) Bendungan pengelak (cofferdam)

Adalah bendungan yang dibangun sesudah selesainya bendungan pengelak pendahuluan


sehingga lokasi rencana bendungan utama menjadi kering yang memungkinkan
pembangunannya secara teknis.
3) Bendungan utama (main dam)

Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu atau lebih tujuan tertentu.

4) Bendungan sisi ( high level dam )

Adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi kiri dan sisi kanan bendungan utama yang tinggi
puncaknya juga sama. Ini dipakai untuk membuat proyek seoptimal-optimalnya, artinya dengan
menambah tinggi pada bendungan utama diperoleh hasil yang sebesar-besarnya biarpun harus
menaikkan sebelah sisi kiri dan atau sisi kanan.

5) Bendungan di tempat rendah (saddle dam)

Adalah bendungan yang terletak di tepi waduk yang jauh dari bendungan utama yang dibangun
untuk mencegah keluarnya air dari waduk sehingga air waduk tidak mengalir ke daerah
sekitarnya.

6) Tanggul ( dyke, levee)

Adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi kiri dan atau kanan bendungan utama dan di
tempat yang jauh dari bendungan utama yang tinngi maksimalnya hanya 5 m dengan panjang
puncaknya maksimal 5 kali tingginya.

7) Bendungan limbah industri (industrial waste dam)

Adalah bendungan yang terdiri atas timbunan secara bertahap untuk menahan limbah yang
berasal dari industri.

8) Bendungan pertambangan (mine tailing dam, tailing dam)

Adalah bendungan yang terdiri atas timbunan secara bertahap untuk menahan hasil galian
pertambangan dan bahan pembuatnya pun berasal dari hasil galian pertambangan juga.

1. Berdasarkan jalannya air

1) Bendungan untuk dilewati air (overflow dams)

Adalah bendungan yang dibangun untuk untuk dilewati air misalnya pada bangunan pelimpah
(spillway).

2) Bendungan untuk menahan air (non overflow dams)


Adalah bendungan yang sama sekali tidak boleh di lewati air.
Kedua tipe ini biasanya dibangun berbatasan dan dibuat dari beton, pasangan batu atau pasangan
bata.