Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

FARMAKOLOGI
AIDS

Disusun Oleh :

Kelompok VIII

LINDA NOVILIA : 03001014


RIA ELVINA : 030010
WILDA NINGSIH : 030010

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES CERIA BUANA
LUBUK BASUNG
2005
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena

limpahan rahmad dan karunia Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang

bertujuan memnuhi tugas seminar pada mata kuliah farmakologi pada program

pendidikan ilmu keperawatan STIKES Ceria Buana dengan judul “AIDS”

Dalam penyusunan makalah ini, tidak lupa kami mengucapkan terima

kasih kepada dosen mata kuliah farmakologi yang telah banayak memberikan

masukan dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari makalah ini, jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami

mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kasempurnaan makalah ini

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita

semua.

Desember 2005
Penulis

Kelompok VIII

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................1

1.1 Latar Belakang....................................................................................1

1.2 Tujuan Penulisan.................................................................................1

1.3 Ruang Lingkup.....................................................................................

BAB II TINJAUAN TEORITIS.........................................................................3

2.1 Definisi AIDS ....................................................................................3

2.2 Etiologi ..............................................................................................3

2.3 Patogenesis ........................................................................................3

2.4 Manifestasi Klinis ..............................................................................4

2.5 Obat – Obat pada AIDS......................................................................8

BAB III PENUTUP...............................................................................................9

3.1 Kesimpulan........................................................................................9

3.2 Saran..................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................10

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.I Latar Belakang

Penyakit Aids (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan

gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap

yang disebabkan oleh infeksi human immunodeficiency virus.

Penyakit ini dicirikan dengan timbulnya berbagai penyakit infeksi

bakteri, jamur, parasit dan virus yang bersifat oportunitik atau keganasan

seperti sarkoma kapiler dan limfoma primer di otak.

HIV masuk ke tubuh manusia terutama melalui darah, semen dan sekret

vagina, serta transmisi dari ibu ke anak virus ini tidak ditransmisikan melalui

kontak biasa. Virus memasuki tubuh dan terutama menginfeksi sel yang

mempunyai molekul CD4. CD4 adalah receptor pada limfosik T4 yang menjadi

target sel utama HIV. Limfosit T4 merupakan kelompok besar molekul CD4

1.2 Tujuan Penulisan

a. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran secara umum tentang pengobatan AIDS

b. Tujuan Khusus

 Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui definisi AIDS

 Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui etiologi AIDS.

 Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui patogenesis AIDS.

 Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui manifestasi klinik.

1
 Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui obat yang

diberikan.

 Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui indikasi.

 Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui obat.

 Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui reaksi merugikan.

 Agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui dosis.

1.3 Ruang Lingkup

Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah pengobatan pada

kasus AIDS.

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi AIDS

AIDS adalah bentuk spektrum immunologis dan klinis yang paling

ekstrim dari infeksi oleh HIV – 1. HIV yang dulu disebabkan sebagai HTLV –

III (human T cell lymphotropic virus tipe 1) atau LAV (lymphadenopathy

virus) adalah virus sitopatik dan family retero virus karena retro virus dapat

menembus dari sel penjamu, kemudian berintraksi dengan DNAnya dan

beraplikasikan bersamaan dengan pembelahan sel, maka infeksi retrivirus

berlangsung seumur hidup pada orang yang terinfeksi, sel penjamu yang

disukai oleh retro virus dalam limfosit tubuh manusia.

Sindrom ini mengakibatkan disfungsi limfosit T4 yang mengakibatkan

penurunan imunitas humoral dan seluler.

AIDS juga stadium akhir dari serangkaian abnormalitas kekebalan dan

klinis yang dikenal sebagai spektrum infeksi HIV.

2.2 Etiologi

HIV merupakan retro virus penyebab penyakit defisiensi imun atau

infeksi human immunodevic virus (HIV)

2.3 Patogenesis

HIV masuk tubuh manusia terutama melalui darah, semen dan sekret

vagina serta transmisi dari ibu ke anak.

3
3 cara penularan HIV :

1. Hubungan seksual baik secara vaginal, oral maupun anal dengan seorang

pengidap sekitar 80% - 90% kasus.

2. Kontak langsung dengan darah, produk darah atau jarum suntik, yang

mengandung HIV.

3. Transmisi secara vertikal dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya

melalui plasenta.

Pencegahan penularan

1. Penyuluhan untuk mempertahankan perilaku tidak berisiko.

2. Penggunaan kondom untuk mencegah penularan melalui hubungan seks.

3. Dikalangan pengguna narkotika suntikan adalah dengan pendekatan harm

reduction yaitu upaya untuk mengurangi penularan penyakit melalui jarum

suntik dengan cara membagikan jarum suntik steril serta mengajarkan

prinsip – prinsip sterilisasi.

2.4 Manifestasi Klinis

AIDS dapat menyebabkan manifestasi klinis yang sangat bervariasi

diantaranya :

1. Keganasan.

 Sarkoma kaposi.

 Limfoma burkitt.

 Limfoma imunoblastik.

 Limfoma primer pada otak.

 Kanker leher rahim invasif.

4
 Ensefalo pati yang berhubungan dengan infeksi HIV.

 Sindrom kelelahan karena infeksi HIV.

 Penurunan imunitas yang hebat (CD4 < 200/mm2 )

2. Infeksi opurtunistik

 Kondidosis pada bronkus, trakea, atau paru.

 Kondidosis pada esofagus.

 Koksidiodomikosis diseminata atau okstrapulmoner.

 Kriptokokosis ekstra pulmoner.

 Kriptosporidiosis pada usus bersifat kronis (lebih dari 1 bulan)

 Infeksi cytomegalovirus (selain herpes, limpa atau kelenjar limfa)

Cytomegalovirusretinitis (disertai kehilangan virus)

 Herpes simpleks (ulkus kronis lebih dari 1 bulan, bronkitis,

pneumonitis, atau esof agitis)

 Histoplas mosis (diseminata atau ekstrapulmoner)

 Isosporiasis pada usus bersifat kronis (lebih dari 1 bulan)

 Mycobacterium avium complex atau M. Kansasii diseminata atau

ekstrapulmoner.

 Mycobacterium (spesies lain atau tidak dapat ditentukan) diseminata

atau ekstrapulmoner.

 Mycobacterium tuber culosis (pada paru atau ekstrapulmoner)

 Pneumocystis carinii pneumonia.

 Penumonia rekurens.

 Leukoen sefalopati multifokal progresif.


 Salmonella septikemia rekurens

5
 Toksoplasmosis pada otak.

Perjalanan penyakit AIDS (HIV) dibagi dalam tahap – tahap

berdasarkan kedaan klinis dan jumlah CD4 :

1. Infeksi retroviral akut.

Gambaran klinis : demam, pembesaran kelenjar, hepatos plenomegali,

nyeri tenggorokan, mialgia, rash seperti morbili, ulkus peptimukokutan,

diare, leukopenia dan limfosit atipik dan sebagai pasien mengalami

gangguan neurologi, sindrom ini biasanya sembuh sendiri tanpa

pengobatan.

2. Masa asintomatik.

Pada masa ini pasien tidak mengalami gejala tetapi dapat terjadi

limfadenopati umum. Penurunan jumlah CD4 terjadi bertahan disebut juga

masa jendela (window period)

3. Masa gejala dini.

Pada masa ini jumlah CD4 berkisar antara 100 – 300 gejala yang timbul

atau akibat infeksi pneumonia bakteral, kandidosis vagina, sariawan,

herpeszoster, leukoplakia, ITP dan TBC masa ini dulu disebut AIDS

related complex (ARC)

4. Masa gejala lanjut.

Jumlah CD4 dibawah 200. Penurunan daya tahan tubuh yang lanjut ini

menyebabkan risiko tinggi terjadinya infeksi oportunistik berat/

keganasan.

6
Pengobatan AIDS dapat dibagi dalam :

1. Pengobatan supertif.

Tujuan pengobatan ini adalah ini adalah untuk meningkatkan keadaan

umum pasien. Pengobatan ini terdiri atas pemberian gizi yang sesuai, obat

sistomik. Serta vitamin. Disamping itu perlu diupayakan dukungan

psikososial agar pasien dapat melakukan aktivitas seperti semula.

2. Pengobatan infeksi opurtunistik.

Pola infeksi opotunistik biasanya sesuai dengan pola mikroba yang ada di

lingkungan pasien, yang sering dijumpai adalah infeksi jamur,

tuberkulosis, toksoplasma, herpes dan sitomegalovirus. Sebagaian infeksi

opurtunistik memerlukan pengobatan pemeliharaan seperti PCP

memerlukan terapi kotrimoksasol dan sitomegolavirus memerlukan terapi

gansiklo vir, foskarmet.

Pengobatan kanker yang terkait AIDS yaitu limfoma malignum, sarkorna

kaposi dan karsinoma serviks invasif disesuaikan dengan standar terapi

penyakit kanker.

3. Obat antiretroviral.

Obat ini bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan HIV dalam

tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi obat antiretroviral dapat

menurunkan secara tajam viral load di darah, bahkan juga dikelenjar limfe.

Obat ini diberikan dalam bentuk kombinasi golongan RTI (reverse

transcriptase inhibitor) dan PI (protease inhibitor)

7
2.5 Obat – Obat yang Digunakan Untuk Penyakit AIDS

1. Zidovudine : retrovirus, asidotimin, azt.

 Efek samping : anemia, mual, muntah, sakit kepala, letih,

insomnia, agitasi, pruritus, serangan kejang,

miositis hepatitis dan reaksi distonik.

 Sediaan : D : 500 – 600 mg/ hari, 100mg/ 4 jam

 KO : supresi sum – sum tulang

 I: mengurangi replikasi virus, memulihkan

imunosupresi secara parsial dan menunda

terjadinya kekambuhan dan komplikasi.

2. Didekoksisitidin (DDC) dan dideoksiinosin (DDI)

 Efek samping : ruam kulit, mukositis, artralgia, insomnia, rasa

kecap yang berubah, depresi SSP, konstifasi, stomatitis, alopesia, diare,

sakit kepala dan pusing .

 Sediaan : D : 2 x 100mg/12 jam atau 2 x 125 mg

 KO : dapat menimbulkan neuropati ferifer atau

pangkreatitis, deare dan ensefalotiti.

8
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

AIDS merupakan stadium akhir dari serangkaian abnormalitas

kekebalan dan klinis yang dikenal sebagai spektrum infeksi HIV. HIV masuk

ketubuh manusia melalui darah semen dan sekret vagina serta transmisi dari

ibu ke anak.

Tanda pada orang yang terkena AIDS berat badan menurun, demam

berkepanjangan, penurunan kesadaran, batuk menetap lebih dari 1 bulan,

infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.

3.2 Saran

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan dari

proses keperawatan khususnya dan umumnya pada masyarakat umum.

Pengobatan pada pasien dengan AIDS harus segera dilaksanakan dan

pada pria dan wanita disarankan agar tidak melakukan hubungan seksual yang

bebas.

9
DAFTAR PUSTAKA

Muma, Richard. D. 1994. HIV . Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta : EGC

Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke 3 Jilid ke 2. Media


Aesculatius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Price, Sylvia. A. 1995. Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta : EGC

Tjokronegoro, Arjatmo. Prof. DR. Ph. D SP, 2001. Ilmu Penyakit Dalam.

Penerbit: FK – UI Jakarta

Gale, Danielle, Rn. Ms. 1996. rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Penrbit

Buku Kedokteran Jakarta : EGC

10