Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI DENGAN ORAL TRUSH

PADA BAYI“R” UMUR 7 BULAN 10 HARI


DI BPS WAYAN WITRI
KARANGPLOSO MAGUWOHARDJO

No. Register :-

Masuk RS tanggal / jam : 25 september 2011 / 09.00 WIB

Dirawat di ruang :-

I. PENGKAJIAN tanggal : 25-09-2011 jam : 09.00 WIB, oleh : Bidan/Ari

A. DATA SUBJEKTIF

1. Biodata

Identitas anak

Nama : an. R

Tanggal Lahir, jam / umur : 15 Februari 2011, 08.00 WIB / 7


bulan 10 hari

Jenis Kelamin : Laki-laki ü Perempuan

Anak ke :1

Identitas orang tua

Ibu Suami

Nama : Ny. M Tn. S

Umur : 21tahun 26 tahun

Agama : Islam Islam

Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia Jawa / Indonesia


Pendidikan : SMA SMA

Pekerjaan : IRT Wiraswasta

Alamat : Karangploso, Maguwoharjo

No. Telp :- -

2. Alasan masuk

Ibu mengatakan ingin memeriksakan bayinya

3. Keluhan utama

Ibu mengatakan anak rewel dan tidak mau menyusuidari 3 hari yang lalu.

4. Riwayat Obstetri

Persalinan
Hamil
Umur Jns BB
ke - Tanggal Penolong Komplikasi JK
kehamilan persalinan Lahir
1 15/02/2 aterm Normal Bidan tidak ada P 3100
011 gram

5. Riwayat Imunisasi

Jenis Pemberian Umur


BCG Tanggal : 15 Maret 2011 1 bulan
Hepatitis B I Tanggal : 15 Februari 2011 1 hari

II Tanggal : 15 April 2011 2 bulan

III Tanggal : 15 Mei 2011 3 bulan


Polio I Tanggal : 15 April 2011 2 bulan

II Tanggal : 15 Mei 2011 3 bulan

III Tanggal : 15 Juni 2011 4 bulan

IV Tanggal : 15 Juli 2011 5 bulan


DPT I Tanggal : 15 April 2011 2 bulan

II Tanggal : 15 Mei 2011 3 bulan

III Tanggal : 15 Juni 2011 4 bulan


Campak Tanggal :- -

6. Riwayat kesehatan

a. Penyakit yang pernah/sedang diderita ibu (menular, menurun, menahun)

Ibu mengatakan tidak pernah atau sedang menderita penyakit menular seperti
hepatitis, PMS, HIV/AIDS, menurun seperti hipertensi, DM, asma, ataupun
menahun seperti penyakit jantung.

b. Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga (menular, menurun,


menahun)

Ibu mengatakan keluarga tidak pernah atau sedang menderita penyakit


menular seperti hepatitis, PMS, HIV/AIDS, menurun seperti hipertensi, DM,
asma, ataupun menahun seperti penyakit jantung.

c. Kesehatan anak

Ibu mengatakan bayinya lahir normal dan tidak ada kelainan bawaan.
a. Kebutuhan sehari – hari

a. Pola nutrisi Makan Minum

Frekuensi : 3 x/hari 6 x/hari

Macam : Bubur tim ASI, susu formula

Porsi : 1 mangkok kecil 1x makan 3 gelas /hari

Keluhan : Tidak ada Tidak ada

Pantangan : Tidak ada Tidak ada

b. Pola eliminasi

BAB BAK

Frekuensi : 3 x/hari 7 x/hari

Warna : Kuning Kuning jernih

Konsistensi : lembek Lembek

Keluhan : tidak ada Tidak ada


c. Personal hygiene

Mandi : 2 x/hari

Keramas : 3 x/minggu

Ganti baju : 3 x/hari

d. Riwayat menyusui

Ibu mengatakan memberikan ASI ekslusif pada bayinya dan masih


menyusui bayinya hingga sekarang.

e. Pola Istirahat

Tidur Siang : 5 jam/hari keluhan : Tidak ada

Tidur Malam: 6 jam/hari keluhan: Sering menangis

B. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan umum

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Composmetis
Tanda vital sign :

Nadi : 100 x/menit Suhu : 362 oC

Pernafasan : 24 x/menit

Berat badan : 7,2 kg Panjang badan : 51 cm

Lingkar kepala : 46 cm Lingkar dada : 44 cm

LILA : 15 cm

2. Pemeriksaan fisik

Kepala : bentuk mesochepal, kulit kepala bersih, tidak ada benjolan.


Rambut : Lurus, berwarna hitam, bersih.
Muka : Bentuk simetris, oval, tidak ada bekas luka
Telinga : Simetris, Bersih, pendengaran baik
Mata : Simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih.
Hidung : Bersih, tidak ada polip, tidak ada pergerakan cuping hidung

Mulut : ada lesi berwarna potih, membentuk plak-plak yang


menutupi sebagian besar lidah , kedua bibir, pipi bagian dalam
dan gusi.
Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, parotis, limfe
dan tidak ada pembesaran vena jugularis.

Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada wheezing

Payudara : simetris, puting susu tidak menonjol, tidak ada pembengkakan.

Ekstremitas Atas : simetris, jumlah jari normal, tidak polidaktili maupun


andaktili, gerakan aktif.

Abdomen : Tidak ada benjolan, tidak ada bekas luka.

Genetalia : bersih, uretra dan vagina berlubang, labia mayora menutupi labia
minora, kulit sekitar genetalia terdapat eritema.

Anus : bersih, tidak ada hemoroid, terdapat lubang anus.

Ekstremitas Bawah : simetris, jari lengkap, tidak sianosis, tidak polidaktili


maupun andaktili, gerakan aktif.

Punggung : normal, tidak lordosis, kiposis, maupun skoliosis.

Kulit : sawomatang, tidak ada bercak mongol, tidak ada tanda


lahir, kulit sekitar genetalia dan bokong terdapat eritema yang
cukup banyak.

Reflek

a. Menggenggam : baik

b. Morro : baik

c.

1. Pemeriksaan khusus

a. Pertumbuhan
Status gizi normal

BB lahir 3100 gram

BB sekarang 8,2 kg

b. Perkembangan

Personal sosial :

Bayi sudah bisa bermain tepuk tangan atau ci-luk-ba dengan orang-orang
disekitarnya.

Bahasa :

Bayi bisa mengucapkan ma..ma..., da....da....

Motorik kasar :

Bayi bisa merangkak, Bayi bisa duduk kepala tegak.

c. Pemeriksaan penunjang

Tidak Ada

d. Data penunjang

Tidak ada
II. INTERPRETASI DATA

A. Diagnosa Kebidanan

Seorang By “R” umur 7 bulan 10 hari dengan Oral Trush.

Data Subyektif : ibu mengatakan bayinyanya lahir tanggal 15 februari 2011

Ibu mengatakan bayinyanya berumur 7 bulan 10 hari

Ibu mengatakan anak rewel dan tidak mau menyusui.

Data Obyektif : KU : baik

Kesadaran : composmentis

Vital sign :

Nadi : 100 x/menit

Suhu : 362 oC

Pernafasan : 24 x/menit

Pemeriksaan Mulut : ada lesi berwarna resi, membentuk


plak-plak yang menutupi sebagian
besar lidah , kedua bibir dan gusi

B. Masalah

Ibu merasa khawatir karena tidak mau menyusu.

Data subjektif : ibu mengatakan bayinya sangat rewel semenjak 3 hari yang lalu
Data Objektif : Tidak ada

III. DIAGNOSA POTENSIAL

Diare, BB menurun, granulomatosa (lesi berbenjol kecil),

IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA

Tidak ada

V. PERENCANAAN

1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan bayinya.

2. Berikan KIE pada ibu cara mengatasi Oral Trush

3. Anjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene bayinya

4. Berikan bayi terapi dengan gentian violet 0,25% atau 1 ml suspensi nistatin.

5. Berikan bayi terapi mycostatin (oral mycoststin)

6. Berikan KIE pada ibu tentang pemenuhan kebutuhan nutrisi pada bayinya
7. Anjurkan ibu untuk datang kembali jika ada keluhan pada bayi.

VI. PELAKSANAAN tanggal/jam : 6 april 2012/09.00 WIB oleh : Bidan

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa bayinya mengalami oral Trush dan
ibu tidak perlu khawatir.

2. Memberikan konseling pada ibu apa itu Oral Trush yaitu infeksi yang terjadi
karena Pola pembersihan cenderung kurang. Orang tua jarang mencuci tangan
bila merawat atau meneteki bayinya. Selain itu, kebersihan botol atau puting
ketika menyusui jarang diperhatikan.Untuk perawatan mulut bayi, bersihkan
lebih dulu dengan jari yang dibungkus kain bersih yang telah dibasahi dengan
larutan garam.

3. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan tubuh bayinya agar tidak terjadi
infeksi atau iritasi lagi.Jaga kebersihan bayi dan peralatan yang digunakan. Cuci
tangan sebelum dan sesudah merawat bayi

4. Memberikan terapi Olesi mulut dengan gentian violet 0,25% atau 1 ml suspensi
nistatin. Cara menyiapkan gentian violet adalah 1 bagian gentian violet 1%
ditambah 3 bagian akuades. Misalnya 10 ml gentian violet 1% ditambah 30 ml
akuades. Sedangkan Cara menyiapkan suspensi nistatin adalah 2 tablet nistatin
(500.000 unit) disuspensi dalam 10 ml gliserin.

5. Memberikan mycostatin(oral mycoststin) kepada bayi 4x sehari atau tiap 6 jam


sebanyak 1 cc selama 1 minggu atau sampai menghilang.

6. Menjelaskan pada ibu nutrisi yang baik untuk bayi berumur 7 bulan yaitu ASI
ditambah dengan MP-ASI misalnya bubur nasi, nasi tim dan 1x makanan kecil
(biskuit).Apabila infeksi jamur pada mulut terasa sangat nyeri dan tidak mampu
untuk menyusui, berikan bayi asi perah selama menunggu penyembuhan.
7. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang jika bayi ada keluhan.

VII. EVALUASI Tanggal/jam : 6 april 2012/09.00 WIB oleh: Bidan

1. Ibu sudah mengerti dengan keadaan bayinya dan ibu tidak khawatir lagi.

2. Ibu tampak paham cara mengatasi Oral Trush dan bersedia melakukan semua
cara tersebut.

3. Ibu bersedia untuk menjaga kebersihan tubuh bayinya

4. Telah diberikan gentian violet 0,25% atau 1 ml suspensi nistatin pada ibu dan
cara pemakaiannya.

5. Telah diberikan mycostatin (oral mycoststin) pada ibu dan cara pemakaiannya.

6. Ibu paham tentang pemenuhan nutrisi bayinya dan bersedia menerapkannya.

7. Ibu bersedia kunjungan ulang jika ada keluhan pada bayinya.

KEMOTERAPI
Introduksi

a. Definisi

Kemoterapi adalah adalah pemberian obat anti kanker (sitostatika) yang


bertujuan untuk membunuh sel kanker.

Tujuan kemoterapi: dapat sebagai terapi kuratif, bagian dari terapi


paliatif atau sebagai radiosensitizer.

Strategi pemberiannya: dapat sebagai terapi ajuvan, konsolidasi,


induksi, intensifikasi, pemeliharaan, neoadjuvan, ataupun paliatif.

Cara pemberiannya: dapat secara oral, intra vena, intraarterial,


intraperitoneal, atau intrakavitas
b. Ruang lingkup

1 Mengetahui indikasi dan kontraindikasi pemberian kemoterapi (pada


tumor solid?)
2 Menentukan tujuan terapi
3 Memahami mekanisme dan cara kerja obat kemoterapi
4 Mampu mempersiapkan pemberian kemoterapi sesuai dengan syarat-
syarat yang berlaku
5 Mampu menilai respon pemberian kemoterapi
6 Mampu melakukan monitoring efek samping kemoterapi
7 Mampu menangani komplikasi/efek samping pemberian kemoterapi

c. Indikasi

Adjuvan: kanker stadium awal atau stadium lanjut lokal setelah


pembedahan

Neoadjuvan (induction chemotherapy): kanker stadium lanjut lokal

Paliatif: kanker stadium lanjut jauh

Sensitisizer: bersama-sama dengan radioterapi

d. Kontra indikasi

 Status performance yang jelek


 Komorbiditas yang berat

e. Pemeriksaan penunjang

Mandatory:

 Diagnosa keganasan harus sudah confirmed(tripple diagnostic) yang


terdiri dari: pemeriksaan fisik, imaging dan patologi atau sitologi.
 Penentuan stadium: foto toraks, USG abdomen, mamografi
kontralateral, bone scan dan lain-lain sesuai dengan jenis
kankernya
 Laboratorium dasar: DL, SGOT, SGPT, BUN, S.C
 Tinggi dan berat badan: mengukur luas permukaan tubuh.

Optional:

clearance creatinin,EKG ataupun ekokardiografi,asam urat, serum


elektrolit, tumor marker
Prosedur Pemberian

Prosedur pemberian kemoterapi sebenarnya adalah sama dengan pemberian


obat-obatan yang lain yaitu terdiri dari:

 Persiapan penderita
 Persiapan pemberian obat
 Penilaian respon
 Monitor efek samping dan penanganannya.

Persiapan penderita terdiri dari: persiapan penderita dan keluarga,


aspek onkologis dan aspek medis

Persiapan penderita:

8 Penjelasan tentang tujuan dan perlunya kemoterapi sehubungan


dengan penyakitnya
9 Penjelasan mengenai macam obatnya, jadwal pemberian dan persiapan
yang diperlukan setiap siklus obat kemoterapi diberikan
10 Penjelasan mengenai efek samping yang mungkin terjadi pada
penderita
11 (Penjelasan mengenai harga obat)
12 Informed consent

Aspek onkologis:

13 Diagnosa keganasan telah confirmed baik secara klinis (tumor


diukur dengan kaliper atau penggaris), radiologis dan patologis
(triple diagnostic), kalau memungkinkan diperiksakan juga tumor
marker
14 Tentukan stadium (klinis, imaging)
15 Tentukan tujuan terapi (neoadjuvant, adjuvant, terapeutik,
paliatif)
16 Tentukan regimen kombinasi kemoterapi, dosis dan prosedur
pemberiannya

Aspek medis:

17 Anamnesa yang cermat mengenai adanya komorbiditas yang mungkin ada


yang dapat mempengaruhi pemberian kemoterapi seperti usia, penyakit
jantung, hipertensi, diabetes, kelainan fungsi ginjal atau hati,
kehamilan dan lain-lain.
18 Pemeriksaan secara menyeluruh semua keadaan yang berhubungan
dengan penyakit tersebut di atas (klinis, imaging dan laboratorium).
Pemeriksaan laboratorium terdiri dari darah lengkap, fungsi hati,
fungsi ginjal, gula darah puasa dan 2 jam pp (sesuai indikasi),
pemeriksaan jantung (EKG) atau kalau perlu ekokardiografi. Bila
fasilitas ada, dapat diperiksakan tumor marker CEA, Ca15-3 yang akan
dipakai sebagai data dasar dan kelak dapat digunakan dalam follow
up terapi. Pada pemberian kemoterapi siklus berikutnya, bila tidak
ada kelainan pada pemeriksaan fisik cukup diperiksakan darah lengkap
saja. (HB, lekosit, trombosit, netrofil)
19 Penentuan status performance (Karnoffsky atau ECOG)

Pemberian Kemoterapi ( drug administration )

Keamanan penanganan obat onkologi merupakan hal yang penting yang harus
diperhatikan personel dokter, perawat, farmasis, penderita,
gudang/distribusi

1. Persiapan obat: (kemoterapi dan obat emergencydan extravasation


kit)

 Dosis: Bila tak ada ketentuan spesifik dari data tersebut dosis
ditentukan dengan menggunakan luas permukaan tubuh (body surface
area=BSA) yang diketahui dengan mengukur TB dan BB.
 Storagedan Stability: Baca petunjuk mengenai storage dan
stability masing-masing obat sehingga kondisi obat dalam keadaan
baik. Obat yang tidak mengandung preservasi setelah dibuka/dilarutkan
(oplos) harus segera dibuang dalam waktu 8-24 jam.
 Preparasi (pelarutan)

Pelarut untuk masing masing obat biasanya disebutkan dalam penjelasan


pemakaian masing masing obat. Kadang kadang ada pelarut yang
incompatible terhadap obat obat tertentu. Secara umum pelarut yang biasa
dipakai adalah: Dextrose 5% atau NaCL fisiologis Pelarutan/preparation
dilakukan dalam tempat tertentu dan dilakukan oleh petugas (dokter,
perawat) atau pharmacist yang terlatih.

2. Persiapan provider

– Memakai gaun yang khusus atau schort

– Memakai masker yang disposibel

– Memakai handschoen karet

– Memakai topi pelindung kepala

– Memakai kaca mata pelindung terhadap percikan obat, tanpa


menghalangi lapangan penglihatan.(kaca goggle)
– Well trained.

3. Persiapan peralatan dan cairan

– Jarum suntik yang halus, abbocath/surflo No 20/22

– Spuit disposabel 5 cc, 20 cc, 30 cc

– Infus set, pada obat golongan taxan telah dipakai infus set khusus

– Larutan Nacl 0,9% 100 cc, NaCl 0,9% 500 cc dan Aquadest 25 cc

– Syringe pump (kalau ada)

– Alas penyuntikan, untuk menghindari kontak obat dengan sprei tempat


tidur.

4. Penyuntikan

– Teliti protokol kemoterapi yang akan diberikan.

– Cek apakah informed consent sudah ada.

– Pilih vena yang paling distal dan lurus ( biasanya meta carpal
bagian dorsal) dan kontralateral dari kankernya. Dipastikan tidak
terjadi ekstravasasi dengan memasang infus dan drip cepat.

– Setelah penyuntikan selesai, alat-alat atau botol bekas obat


sitostatika dimasukkan dalam kantong plastik dan diikat serta
dimasukkan dalam sampah medis khusus.

– Buat catatan pada rekaman medik penderita, catat semua tindakan.

Penilaian Respon atau Treatment Outcome:

Penilaian respon kemoterapi meliputi:

20 Penilaian respon obyektif


21 Penilaian respon subyektif
22 (Survival)

Penilaian respon obyektif terdiri dari:

23 Ukuran tumor
24 Tumor marker
25 Objective qualitative: perubahan gejala klinis misal pada tumor
otak → gejala neurologis

Respon dapat dinilai menggunakan petunjuk dari buku who handbook for
reporting results of cancer treatment

Measurable disease:

 Complete response : tumor menghilang yang ditentukan oleh 2


orang observer < 4 minggu
 Partial response : ukuran total tumor mengecil > 50% yang
ditentukan oleh 2 observer < 4 minggu dan tidak ditemukan adanya
lesi yang baru.
 No Change : ukuran total tumor mengecil < 50 % atau ditemukan
peningkatan ukuran tumor > 25%
 Progressive disease : didapatkan peningkatan > 25% ukuran tumor
atau adanya lesi baru

Pada pemberian neoadjuvant chemotherapy, setiap akan memberikan


kemoterapi siklus berikutnya dilakukan pengukuran tumor primernya dan
setelah pemberian siklus ke 3, dilakukan penilaian respon terapi dan
operabilitasnya. Bila didapatkan respon parsial dan menjadi operable,
maka dilanjutkan dengan operasi. Bila respon terapi menunjukkan no
change atau tidak operabel, maka dilanjutkan dengan radioterapi atau
kombinasi kemoterapinya ditingkatkan menjadi second line chemotherapy.

Penilaian respon subyektif :

Status performance : Karnoffsky, ECOG

Monitor Efek Samping Obat ( follow up efek toksik)

 Selama kemoterapi:

– reaksi alergi: ringan,sedang, berat

– ekstravasasi obat

– mual, muntah

 Paska kemoterapi dini: mual, muntah, dehidrasi, stomatitis,


hematologis (anemi, lekopeni, trombositopeni) dan lain-lain.
 Late effect: hematologis (anemi, lekopeni, trombositopeni),
cardiotoxicity, neurotoxicity, nephrotoxicity, alopecia
 Pemeriksaan DL ± 1 minggu paska kemoterapi untuk mengetahui
adanya efek samping hematologi (neutropeni, lekopeni, anemi) dan
memberikan terapi yang sesuai agar saat kemoterapi berikutnya dapat
sesuai dengan jadwal.

Penanganan efek samping

Prinsip penanganan efek samping adalah:

26 Antisipasi dan prevensi


27 Monitor efek samping yang berhubungan dengan dosis
28 Early treatmentdari efek samping

Efek samping yang sering memerlukan intervensi adalah efek samping


hematologis.

Anemi dapat diberikan human recombinant erythropoietin atau transfusi


PRC, netropeni diberikan GcSF sedang trombositopeni diberikan TC. Pada
severe netropeni atau febrile neutropenia penderita dirawat di ruang
isolasi dengan memberikan tambahan antibiotika profilaksis dan anti
jamur

Teknik pemberian kemoterapi

Persiapan alat-alat kesehatan, obat kemoterapi dan obat-obat emergency

29 Persiapan provider
30 Pemberian di awali premedikasi dengan injeksi deksametason 10-20
mg/iv (berperan sebagai antiemetik) , cimetidin 300 mg/ranitidin 50
mg dan ondansetron 8mg/tropisetron 5 mg/granisetron 3 mg.

Obat-obat kemoterapi dimasukkan sesuai dengan jenis keganasan dan


protokol pemberiannya.