Anda di halaman 1dari 83

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN PADA KANTOR

PELAYANAN PAJAK PRATAMA CIBINONG

NADYA WIRATAMI NURRAKHMAWATI


8335145429

Laporan Praktik Kerja Lapangan ini ditulis untuk memenuhi salah satu
persyaratan mendapatkan Gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


KONSENTRASI PERPAJAKAN
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Koordinator Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

Dr. I Gusti Ketut Agung Ulupui, SE, M.Si, AK, CA

NIP. 1966123121993032003

Nama Tanda tangan Tanggal

Ketua Penguji

M. Yasser Arafat, SE, Akt, MM .......................... ...............

NIP. 197104132001121001

Penguji Ahli

Adam Zakaria, SE, Akt, M.Si, Ph.D .......................... ...............

NIP. 197504212008011010

Pembimbing

Marsellisa Nindito, SE, M.Sc, AK, CA ………………… .………..

NIP. 197506302005012001

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur praktikan panjatkan kepada Allah SWT, karena atas

rahmat dan karunia-Nya serta tidak lupa praktikan panjatkan kepada

junjungan Nabi besar Muhammad SAW atas segala kemuliaannya,

sehingga praktikan dapat melaksanakan serta menyelesaikan laporan

Praktik Kerja Lapangan yang dilaksanakan pada KPP Pratama Cibinong

dengan tepat waktu.

Laporan ini disusun berdasarkan hasil praktik yang telah

dilaksanakan pada tanggal 03 Juli 2017 sampai dengan 25 Agustus 2017

pada Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV (Waskon IV), Kantor

Pelayanan Pajak Pratama Cibinong dalam rangka memenuhi sebagian

persyaratan kelulusan guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

program studi S1 Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi,

Universitas Negeri Jakarta.

Laporan PKL mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi pada

KPP Pratama Cibinong dibuat dengan tujuan agar mahasiswa dapat

melaporkan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia kerja.

Selama melaksanakan dan menyusun laporan PKL, tidak lepas dari

bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Praktikan tentunya ingin

mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang terlibat, yaitu :

1. Allah SWT, atas petunjuk dan karunia-Nya yang telah diberikan

kepada saya selaku praktikan;

iii
2. Keluarga besar praktikan yang telah memberikan doa, serta

dukungan moril maupun materil kepada praktikan;

3. Ibu Dr. I Gusti Ketut Agung Ulupui, SE, M.Si, Ak.CA, selaku

Koordinator Program Studi S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Negeri Jakarta;

4. Ibu Marsellisa Nindito, SE, M.Sc, Ak.CA selaku Dosen Pembimbing

yang telah meluangkan waktu untuk membantu praktikan dalam

penulisan laporan PKL;

5. Seluruh dosen Universitas Negeri Jakarta yang telah banyak

membantu dan memberikan ilmu yang bermanfaat selama

praktikan duduk di bangku perkuliahan;

6. Seluruh karyawan KPP Pratama Cibinong, khususnya Seksi

Pengawasan dan Konsultasi IV (Waskon IV).

Praktikan menyadari bahwa laporan PKL ini tidak luput dari

kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun

sangat praktikan harapkan guna perbaikan di masa yang akan datang.

Semoga laporan PKL ini dapat bermanfaat dan memberikan dampak yang

positif bagi banyak orang.

Jakarta, 25 November 2017

Penulis

iv
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii


KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...........................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ vi
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang PKL ............................................................................................1
B. Maksud dan Tujuan PKL ....................................................................................3
C. Manfaat PKL .......................................................................................................4
D. Tempat KPP Pratama Cibinong ..........................................................................5
E. Jadwal Pelaksanaan PKL.....................................................................................6
BAB II TINJAUAN UMUM KPP PRATAMA CIBINONG
A. Sejarah KPP Pratama Cibinong ...........................................................................8
B. Struktur Organisasi KPP Pratama Cibinong .....................................................11
C. Kegiatan KPP Pratama Cibinong ......................................................................17
BAB III PELAKSANAAN PKL
A. Bidang Kerja......................................................................................................19
B. Pelaksanaan Kerja .............................................................................................20
C. Kendala yang Dihadapi .....................................................................................32
D. Cara Mengatasi Kendala ...................................................................................33
BAB IV KESIMPULAN
A. Kesimpulan ........................................................................................................36
B. Saran ..................................................................................................................37
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar II. Struktur Organisasi KPP Pratama Cibinong ........................................11

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat Permohonan Pelaksanaan PKL .............................................. 44

Lampiran 2 : Surat Perizinan Pelaksanaan PKL dari KPP Pratama Cibinong ..... 45

Lampiran 3 : Surat Keterangan Telah Melaksanakan PKL .................................. 46

Lampiran 4 : Daftar Hadir PKL ............................................................................ 47

Lampiran 5 : Laporan Kegiatan Harian ................................................................ 50

Lampiran 6 : Penilaian PKL.................................................................................. 56

Lampiran 7 : Rekapitulasi Laporan Keuangan Laba Rugi .................................... 57

Lampiran 8 : Rekapitulasi Laporan Keuangan Neraca ......................................... 59

Lampiran 9 : Rekapitulasi Pelaporan PPN Masa Wajib Pajak ............................. 61

Lampiran 10 : Analisis Vertikal Perhitungan Rasio dari Neraca .......................... 64

Lampiran 11 : Analisa Vertikal Contoh Potensi yang ada dari Wajib Pajak ........ 65

Lampiran 12 : Perhitungan STP Lembar Perhitungan .......................................... 67

Lampiran 13 : Perhitungan STP Nota Perhitungan ............................................... 69

Lampiran 14 : Penerbitan STP oleh Seksi Pelayanan ........................................... 71

Lampiran 15 : Aplikasi Untuk Pemetaan Tempat Tinggal Wajib Pajak

(Geotagging) ......................................................................................................... 73

Lampiran 16 : Hasil Perekaman Pemetaan Tempat Tinggal Wajib Pajak

(Geotagging) ......................................................................................................... 74

Lampiran 17 : Lembar Disposisi Surat Masuk ..................................................... 75

vii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang PKL


Indonesia memiliki peringkat ke-4 sebagai negara yang memiliki

jumlah penduduk terbanyak di dunia. Menurut CIA World Factbook,

penduduk di dunia sebanyak 7.323.187.457 jiwa dan rasio dari Indonesia

ialah 3,5 persen dari jumlah penduduk di dunia atau dengan jumlah

penduduk sebanyak 258.316.051 jiwa.

Salah satu permasalahan Indonesia ialah pengangguran, setiap

tahunnya permasalah ini tidak kunjung selesai dan masih menjadi masalah

utama dalam perekonomian yang ada. Menurut Badan Pusat Statistik

(BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per februari tahun 2017

sebesar 5,33 persen. Mengalami penurunan sebesar 0,28 persen dibanding

per agustus tahun 2016 dan turun sebesar 0,17 persen dibanding per

februari tahun 2016.

Menurut kepala badan Badan Pusat Statistik Suhariyanto,

berkurangnya jumlah pengangguran terjadi karena berbagai kebijakan

pemerintahan terkait kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dengan

menciptakan lapangan pekerjaan sehingga dapat menekan jumlah

pengangguran yang ada. Banyaknya warga Indonesia yang melakukan

wirausahawan juga salah satu faktor berkurangnya jumlah pengangguran

yang ada.

1
2

Dunia usaha di Indonesia semakin berkembang membuat banyaknya

perusahaan yang berdiri di berbagai sektor baik di skala nasional maupun

internasional. Dengan banyaknya perusahaan yang ada maka kebutuhan

atas sumber daya yang berkualitas serta memiliki keprofesionalan dan

keterampilan khusus sangat diperlukan oleh perusahaan.

Dengan banyaknya lapangan pekerjaan yang ada saat ini membuat

perusahaan memilih sumber daya manusia yang berkualitas dan

profesional maka Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini merupakan salah satu

upaya kegiatan agar memenuhi kriteria yang diinginkan perusahaan-

perusahaan untuk memiliki SDM yang berkualitas dan profesional dengan

memberikan pelatihan kerja nyata yang ada dilapangan yang dilaksanakan

oleh mahasiswa.

Dengan melakukan hal ini, mahasiswa telah diharapkan dapat melatih

diri untuk menghadapi situasi kerja yang ada. Situasi kerja disini dituntut

untuk bersikap tekun, jujur, kreatif, disiplin serta terampil terhadap

pekerjaan yang akan dihadapi mereka nanti. Dan juga dengan adanya

kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa ketika mereka berada

dalam situasi kerja yang nyata karena teori yang diajarkan di kampus tidak

selamanya akan sama dengan kegiatan yang ada di lapangan.

Mahasiswa juga dapat mengetahui pekerjaan apa saja yang ada di

lapangan dan menjadikannya tolak ukur. Dengan alasan yang telah

dijelaskan, Universitas Negeri Jakarta khususnya Prodi Akuntansi Fakultas

Ekonomi memberikan program bagi para mahasiswa agar dapat secara


3

langsung masuk kedalam lingkungan kerja yang sesungguhnya di berbagai

macam perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Oleh karena itu, praktikan sebagai mahasiswa S1 Akuntansi FE UNJ

dituntut untuk menerapkan program PKL di Kantor Pelayanan Pajak

Pratama Cibinong. Pada instansi ini praktikan ditempatkan di Seksi

Pengawasan dan Konsultasi IV.

B. Maksud dan Tujuan PKL


Adanya program PKL yang diadakan oleh S1 Akuntansi FE UNJ

diharapkan mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang telah diajarkan di

universitas ke dalam dunia kerja serta mendapatkan ilmu dan pengalaman

yang baru dalam dunia kerja. Tujuan dari pelaksanaan program ini adalah

sebagai berikut:

1. Mengembangkan sebuah ilmu pengetahuan khususnya bidang

akuntansi yang telah diperoleh di bangku kuliah dan

menerapkannya di dunia kerja.

2. Untuk memenuhi syarat kelulusan mahasiswa yaitu melakukan

kegiatan PKL

3. Melatih mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang siap dalam

dunia kerja yang sesungguhnya serta melatih kedisplinan dan

tanggung jawab dalam sebuah pekerjaan

4. Mempelajari secara langsung sistem akuntansi yang digunakan

dalam sebuah instansi


4

5. Sebagai sarana pengenalan lingkungan kerja bagi mahasiswa

C. Manfaat PKL
Pelaksanaan PKL tentunya memiliki dampak yang baik bagi

praktikan, Universitas Negeri Jakarta maupun untuk instansi tempat

praktikan melaksanakan PKL. Manfaat antara lain :

1. Bagi Praktikan

a. Praktikan dapat mengembangkan dan mempraktikan ilmu

yang telah diperioleh di perkuliahan dan di dalam dunia kerja

b. Manambah wawasan praktikan terhadap dunia kerja

c. Menciptakan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang –

orang yang ada di dunia kerja

d. Melatih praktikan agar lebih siap dan bertanggung jawab

untuk menghadapi dunia kerja yang sebenarnya

2. Bagi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

a. Menciptakan hubungan yang baik antara Fakultas Ekonomi,

Universtas Negeri Jakarta dengan instansi tempat praktikan

melakukan PKL

b. Pihak Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta dapat

meningkatkan mutu lulusannya dari pengalaman PKL para

mahasiswanya
5

c. Membuka peluang kedepannya bagi mahasiswa Fakultas

Ekonomi Universitas Negeri Jakarta untuk melaksanakan

PKL di tempat yang sama

3. Bagi KPP Pratama Cibinong

a. Membangun kerja sama serta hubungan yang baik antara

instansi khususnya KPP Pratama Cibinong dengan

Universitas Negeri Jakarta

b. Meringakan tugas-tugas karyawan yang ada di instansi

tempat praktikan melakukan PKL

c. Bertukar ilmu antara mahasiswa PKL dengan karyawan

instansi

d. Melihat potensi yang dimiliki mahasiswa yang melaksanakan

PKL sehingga dapat melakukan perencanaan untuk

peningkatan sumber daya manusia

D. Tempat KPP Pratama Cibinong


Praktikan melaksanakan PKL di KPP Pratama Cibinong yang

merupakan instansi pemerintahan yang bertanggung jawab langsung

kepada Direktorat Jendral Pajak (DJP). Berikut merupakan informasi data

instansi tempat praktikan melakukan PKL :

Tempat : Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cibinong

Alamat : Jalan Aman No 1, Komplek Pemda Kab. Bogor

Cibinong, 16914
6

Telepon : (021)-8762985

Fax : (021)-8753883

Bagian : Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV

Alasan praktikan memilih KPP Pratama Cibinong sebagai tempat

pelaksanaan PKL karena praktikan tertarik pada pekerjaan yang berkaitan

dengan bidang perpajakan.

E. Jadwal Pelaksanaan PKL


PKL di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cibinong selama 40 hari,

yakni dari tanggal 03 Juli 2017 sampai dengan 25 Agustus 2017. Dalam

pelaksanaan PKL, terdapat tiga tahapan yang praktikan lakukan. Berikut

tahapannya:

1. Tahap Persiapan

Sebelum praktikan memilih instansi tersebut sebagai tempat

pelaksaan PKL, praktikan melakukan pencarian informasi

mengenai instansi yang menerima mahasiswa PKL. Praktikan

mengetahui bahwa KPP Pratama Cibinong menerima mahasiswa

PKL, sehingga praktikan mengajukan surat permohonan

pelaksanaan PKL ke KPP Pratama Cibinong. Sebelum surat

permohonan pelaksanaan PKL ke KPP Pratama Cibinong,

praktikan diharuskan membuat surat pengantar dari pihak

Universitas melalui Biro Administrasi Akademik dan

Kemahasiswaan (BAAK) Universitas Negeri Jakarta. Setelah surat


7

pengantar dari pihak universitas telah selesai dibuat. Kemudian

praktikan mengajukan surat permohonan tersebut untuk diserahkan

ke pihak KPP Pratama Cibinong dan surat permohonan tersebut

telah mendapat persetujuan oleh Kepala Subbagian Umum KPP

Pratama Cibinong untuk melaksanakan PKL selama 40 hari kerja.

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan PKL dilakukan pada tanggal 10 Juli 2017,

praktikan ditempatkan di Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV.

PKL dilaksanakan pada hari Senin sampai Jum’at dimulai pukul

07.30-16.00 WIB dengan waktu istirahat 12.00-13.00 WIB.

3. Tahap Pelaporan

Dalam menyusun laporan, praktikan mengumpulkan data-data

yang dibolehkan oleh pihak KPP Pratama Cibinong sebagai bukti

bahwa praktikan mengerjakan pekerjaan tersebut selama PKL.

Penyusunan laporan PKL disusun oleh praktikan dengan bantuan

dan bimbingan dari dosen pembimbing serta karyawan Seksi

Pengawasan dan Konsultasi IV KPP Pratama Cibinong.


BAB II
TINJAUAN UMUM KPP PRATAMA CIBINONG

A. Sejarah KPP Pratama Cibinong


Konsep administrasi perpajakan yang modern mengacu pada

pelayanan dan pengawasan. Perlunya struktur organisasi Direktorat Jendral

Pajak untuk diubah pada kantor pusat sebagai pembuat kebijakan maupun

di kantor operasional sebagai pelaksana implementasi dalam kebijakan.

Ada beberapa langkah dalam memudahkan para wajib pajak, kantor

pajak hanya terdiri menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu Kantor Pelayanan Pajak

(KPP), Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KPPBB), dan

Kantor Pemeriksaan dan Penyedikan (Karipka). Dengan adanya 3 (tiga)

jenis maka dilebur menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP). KPP memiliki

struktur yang berbasis fungsi dengan sistem administrasi yang modern

untuk dapat merealisasikan debirokratisasi pelayanan sekaligus

melaksanakan pengawasan terhadap wajib pajak secara lebih sistematis

berdasarkan analisis resiko unit vertikal yang ditetapkan oleh Direktorat

Jendral Pajak.

Sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan Nomor 132/PMK.01/2006

tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jendral

Pajak, KPP di Direktorat Jendral Pajak dibedakan berdasarkan segmentasi

wajib pajak, yaitu KPP Wajib Pajak Besar, KPP Madya, dan KPP Pratama.

Dengan adanya pembagian berdasarkan segmentasi seperti ini diharapkan

8
9

strategi dan pendekatan terhadap wajib pajak dapat disesuaikan dengan

karakteristik wajib pajak yang ditangani. Sehingga, hasil yang diperoleh

dapat lebih optimal.

Menurut laman yang dilansir dari Wikipedia.com. Sejak tahun 2002,

Kantor Pelayanan Pajak mengalami hal modernisasi dari segi sistem dan

juga struktur organisasi yang menjadikan instansi yang berorientasi pada

fungsi bukan lagi pada jenis pajak. Dengan adanya modernisasi ini,

merupakan penggabungan dari Kantor Pelayanan Pajak konvensional dan

Kantor Pemeriksaan dan juga Penyidikan Pajak. Pada tahun ini, telah

dibentuk 2 KPP Wajib Pajak Besar atau LTO (Large Tax Office). KPP ini

menangani 300 Wajib Pajak Badan terbesar di seluruh Indonesia dan

hanya mengadministrasikan jenis pajak PPH dan PPN. Pada tahun 2003

telah dibentuk 10 KPP khusus yang meliputi KPP BUMN, perusahaan

PMA, WP Badan dan Orang Asing dan Perusahaan Masuk Bursa.

Pada tahun 2004 dibentuk KPP Madya atau MTO (Medium Tax

Office). Lalu pada tahun 2006 sampai dengan 2008, dibentuk KPP

Pratama atau STO (Small Tax Office) yang menangani Wajib Pajak

terbanyak. Perbedaan utama antara KPP Madya dengan KPP Pratama ialah

pada KPP Pratama memiliki Seksi Ekstensifikasi, sehingga dapat

dikatakan bahwa KPP Pratama merupakan ujung tombak DJP untuk

menambah rasio perpajakan di Indonesia. Dengan terbentuknya KPP

Pratama untuk membantu DJP menambah rasio perpajakan, maka

terbentuklah KPP Pratama Cibinong.


10

Menurut data yang di peroleh dari KPP Pratama Cibinong, KPP

Pratama Cibinong sendiri merupakan hasil dari reorganisasi di lingkungan

Direktorat Kenderal Pajak yang terbentuk berdasarkan Peraturan Menteri

Keuangan Nomor 132/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Instansi Vertikal Direktorat Jenderl Pajak sebagaimana telah diubah

dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 55/PMK.01/2007, sesuai

dengan keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-112/PJ/2007

tanggal 9 Agustus 2007 tentang Penerapan Organisasi, Tata kerja, dan saat

mulai beroperasinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan Kantor

Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan di lingkungan Kantor

wilayah DJP Banten, Kantor Wilayah DJP Jawa Barat I dan Kantor

Wilayah DJP Jawa Barat II, mulai beroperasi tanggal 14 Agustus 2007.

Data yang ada dari KPP Pratama Cibinong menjelaskan bahwa Visi

dan Misi yang ada mengacu pada peraturan yang dibuat oleh Direktorat

Jendral Pajak. Visi dari KPP Pratama Cibinong adalah “Menjadi model

pelayanan masyarakat yang menyelenggarakan sistem dan manajemen

perpajakan kelas dunia yang dipercaya dan dibanggakan masyarakat” serta

Misi dari KPP Pratama Cibinong adalah “Menghimpunan penerimaan

Negara dari sektor pajak yang mampu memunjang kemandirian

pembiayaan pemerintah berdasarkan undang-undang perpajakan dengan

tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi”.


11

B. Struktur Organisasi KPP Pratama Cibinong


Dalam sebuah organisasi baik yang bersifat pemerintahan maupun

yang bersifat bukan pemerintahan, pasti memiliki sebuah struktur

organisasi yang menjelaskan tentang pembagian kerja serta menjelaskan

tentang fungsi dari masing-masing seksi yang terdapat didalam sebuah

organisasi. Berikut merupakan struktur organisasi dari KPP Pratama

Cibinong :

Gambar II. 1
Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cibinong

Sumber : KPP Pratama Cibinong, Tahun 2017

Sesuai data yang didapatkan dari KPP Pratama Cibinong. Penjelasan

perihal tugas masing-masing bagan dari struktur organisasi Kantor

Pelayanan Pajak Pratama Cibinong, sebagai berikut:

1. Kepala Kantor

Kepala kantor mempunyai tugas mengkoordinasikan,

mempunyai sikap intergrasi serta sinkornisasi dilingkungan KPP


12

Pratama. Tugas pokok kepala kantor wajib mengawasi

pelaksanaan tugas bawahan dan jika ada penyimpangan, kepala

kantor wajib mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai

peraturan perundang-undangan yang berlaku. Serta kepala kantor

wajib bertanggung jawab dan memberikan bimbingan serta

petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahan. Melakukan

pelaksanaan penyuluhan, pelayanan, dan pengawasan wajib pajak

di bidang pajak pengahasilan dan yang lainnya sesuai dengan

peraturan perundang-undangan lainnya.

2. Sub Bagian Umum

Sub Bagian Umum memiliki tugas mengurus kepegawaian,

keuangan, tata usaha, rumah tangga dan pengelolaan kinerja

pegawai. Melakukan pemantauan pengendalian intern,

pemantauan pengelolaan risiko, pemantauan terhadap kode etik

dan displin. Serta, menindak lanjuti hasil dari pengawasan dan

melakukan penyusunan rekomendasi perbaikan proses bisnis.

3. Seksi Pelayanan

Seksi pelayanan memiliki tugas membantu kepala kantor

dalam pengkoordinasian penetapan dan penerbitan hukum

perpajakan, melakukan pengadministrasian dokumen dan berkas

perpajakan, penerimaan dan pengolahan surat pemberitahuan dan

surat lainnya, serta melakukan pelaksanaan pendaftaran Wajib

Pajak. Seksi pelayanan juga bekerja sama dalam hal perpajakan,


13

pelaksanaan regrestrasi wajib pajak, dan bekerja sama perpajakan

sesuai ketentuan yang berlaku.

4. Seksi Pengelolahaan Data dan Informasi (PDI)

Seksi pengolahan data dan informasi memiliki tugas

mengumpulkan, mencari, melakukan pengelolaan data, dan

penyajian informasi perpajakan. Serta melakukan pengamatan

potensi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, urusan tata

usaha penerimaan perpajakan. Seksi pengolahan data dan

informasi juga melakukan pengalokasian Pajak Bumi dan

Bangunan, pelayanan dukungan teknis komputer, melakukan

pemantauan aplikasi e-SPT dan e-Filing, dan melakukan

pelaksanaan i-SISMIOP dan SIG, serta pengelolaan laporan

kinerja organisasi sesuai peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

5. Seksi Penagihan

Seksi penagihan memiliki tugas mengenai urusan

penatausahaan piutang pajak, penundaan dan angsuran tunggakan

pajak, melakukan pengusulan penghapusan piutang pajak,

membantu melakukan penyiapan surat teguran, surat kuasa, surat

perintah penyitaan dan menyiapkan dokumen-dokumen yang

berkaitan dengan penagihan.

6. Seksi Pemeriksaan
14

Seksi pemeriksaan memiliki tugas melakukan penyusunan

rencana pemeriksaan, melakukan pengawasan pelaksanaan dalam

aturan pemeriksaan, peneribitan, penyaluran surat perintah dalam

pemeriksaan pajak, seksi pemeriksaan juga melakukan

administrasi pemeriksaan perpaajakan lainnya serta pemeriksaan

oleh petugas pemeriksa pajak yang di perintahkan oleh kepala

kantor.

7. Seksi Ekstensifikasi

Seksi ekstensifikasi memiliki tugas memberikan Nomor

Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada wajib pajak orang pribadi

yang berstatus pengurus, komisaris, pemegang saham, pemilik

dan pegawai. Seksi ekstensifikasi juga mempunyai tugas

melakukan pengamatan potensi perpajakan, melakukan pendataan

objek dan subjek pajak, melakukan pembentukan dan

pemutakhiran basis data nilai objek pajak, melakukan

penyuluhan, bimbingan dan pengawasan terhadap wajib pajak

baru.

8. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I (Waskon I)

Seksi pengawasan dan konsultasi I memiliki kewajiban untuk

melakukan proses penyelesaian permohonan para wajib pajak,

melakukan pengusulan pembetulan ketetapan pajak, melakukan

bimbingan dan konsultasi yang sifatnya teknis terhadap

perpajakan kepada wajib pajak, serta melakukan pengusulan


15

pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan jika benar wajib pajak

berhak mendapat pengurangan.

9. Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, III dan IV (Waskon II,III

dan IV)

Pada seksi pengawasan dan konsultasi II, III, dan IV.

Masing-masing memiliki tugas untuk melakukan sebuah

pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak,

melakukan penyusunan profil Wajib Pajak, melakukan analisis

kinerja pada Wajib Pajak, melakukan rekonsiliasi perpajakan atas

data yang dimiliki Wajib Pajak dalam rangka melakukan

intensifikasi dan himbauan kepada Wajib Pajak. Secara

keseluruhan, Seksi Waskon II, III, dan IV memiliki tugas yang

sama namun yang berbeda hanya pembagian terhadap wilayah

dari Wajib Pajaknya sendiri.

10. Kelompok Jabatan Fungsional

Dalam hal ini, kelompok jabatan fungsional memiliki tugas

untuk melakukan kegiatan yang sesuai dengan jabatan

fungsionalnya masing-masing yang telah diatur berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kelompok jabatan

fungsional terdiri dari beberapa jabatan fungsional yang telah

terbagi dalam berbagai kelompok sesuai bidang keahliannya

masing-masing. Jumlah jabatan fungsional yang ada ditentukan

berdasarkan kebutuhan dan beban kerja. Jenis dan jenjang jabatan


16

fungsional diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

11. Account Representative (AR)

Account Representative (AR) memiliki tugas untuk

melakukan penyusunan profil dari Wajib Pajaknya sendiri.

Memberikan Informasi perpajakan, melakukan analisis kinerja

terhadap Wajib Pajak, serta melakukan pengawasan kepatuhan

kewajiban perpajakan dari Wajib Pajak. Tugas dari Account

Representative (AR) diatur dalam PMK No. 55/PMK.01/2007

mengenai Tata Kerja dan Instansi Vertikal Direktorat Jendral

Pajak. Dalam peraturan ini, dijelaskan bahwa setiap KPP Pratama

rata-rata memiliki 20 AR dan dapat ditambah tergantung dari

jumlah besarnya Wajib Pajak dan lingkup kerja yang terdapat di

KPP Pratama tersebut. Biasanya, Account Representative di

tempatkan di Seksi Pengawasan dan Konsultasi I sampai IV.

Dalam peraturan yang ada, tugas lain dari AR adalah melakukan

tugas teknis, seperti :

a. Memberikan penjelasan perihal kegiatan administrasi

perpajakan yang merupakan kewajiban yang harus

dipenuhi oleh Wajib Pajak.

b. Melakukan konsultasi yang dibutuhkan Wajib Pajak.

c. Membuat surat-surat, seperti surat teguran, surat ucapan

terima kasih, surat pemberitahuan kepada Wajib Pajak dll.


17

d. Melakukan pemeriksaan Surat Pemberitahuan (SPT) yang

telah disampaikan oleh Wajib Pajak.

e. Melakukan disposisi terhadap surat-surat. Seperti surat

masuk dan surat keluar.

f. Menjelaskan dan memberikan aturan kepada Wajib Pajak

untuk menghitung pajak dan mengisi Surat Pemberitahuan

(SPT)

g. Membuat database Wajib Pajak.

C. Kegiatan KPP Pratama Cibinong


Menurut data yang di dapatkan dari KPP Pratama Cibinong. KPP

Pratama yang ada di Indonesia memiliki tugas yang sama disetiap

wilayahnya, berikut adalah tugas dari KPP Pratama Cibinong :

a. Melayani wajib pajak dengan baik. Seperti memberikan pelayanan

terhadap calon wajib pajak yang baru mau memulai membuat

NPWP, memberi pelayanan terhadap wajib pajak yang ingin

melaporkan SPT Masa, SPT Masa PPN serta SPT Tahunan.

b. Melakukan sebuah penyuluhan terkait peraturan perpajakan yang

baru, seperti yang sedang dilakukan KPP Pratama yang ada di

Indonesia mengenai “Pentingnya Pengetahuan Pajak Sejak Dini”.

c. Melakukan sebuah pengawasan terhadap wajib pajak pribadi

ataupun badan dalam melakukan kewajiban membayar pajaknya

serta memberikan pengawasan berupa konsultasi kepada wajib


18

pajak pribadi ataupun badan jika mengalami kesulitan dalam

melakukan administrasi perpajakan sesuai undang-undang

perpajakan yang berlaku.


BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

A. Bidang Kerja
Praktikan selama melakukan PKL di KPP Pratama Cibinong

ditempatkan Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV (Waskon IV). Pada

seksi ini dipimpin oleh Ibu Juli Witjaksananingtyas. Di dalam Seksi

Pengawasan dan Konsultasi IV (Waskon IV) berisikan staff yang dinamai

Account Representative (AR) yang anggotanya terdiri dari : Bapak

Muhammad, Bapak Surya Darmawan, Bapak Teguh Tofan, Bapak Fiky

Bachramsyah, Bapak Iskandar Widitya Yoga, Ibu Wahyu Limastuti, Ibu

Dewi Andirani, dan Ibu Chitra Perdania.

Selama melakukan PKL, praktikan dibimbing oleh Pak Yoga yang

menjabat sebagai Account Representative di Seksi Pengawasan dan

Konsultasi IV (Waskon IV) di KPP Pratama Cibinong. Waskon IV

menangani wilayah kerja di Kecamatan Babakan Madang dan Kecamatan

Gunung Sindur. Serta pada seksi ini mempunyai tugas-tugas sebagai

berikut :

1. Melakukan sebuah pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan

Wajib Pajak,

2. Melakukan penyusunan profil Wajib Pajak,

3. Melakukan analisis kinerja pada Wajib Pajak,

19
20

4. Melakukan rekonsiliasi perpajakan atas data yang dimiliki Wajib

Pajak

5. Melakukan intensifikasi dan himbauan kepada Wajib Pajak.

Waskon IV menangani wilayah kerja di Kecamatan Babakan Madang

dan Kecamatan Gunung Sindur. Selama praktikan melakukan PKL di KPP

Pratama Cibinong, praktikan melaksanakan tugas, sebagai berikut :

1. Membuat rekapitulasi Laporan Keuangan Wajib Pajak Badan

2. Membuat Data Untuk Analisa Vertikal

3. Membuat Lembar Perhitungan dan Nota Perhitungan Surat

Tagihan Pajak (STP)

4. Melakukan Pemetaan Tempat Tinggal Wajib Pajak Badan

(Geotagging)

5. Mengagendakan Surat Masuk

6. Mengagendakan Surat Keluar

B. Pelaksanaan Kerja
Tugas yang dikerjakan praktikan selama PKL berlangsung dapat di

deskripsikan sebagai berikut :

1) Membuat Rekapitulasi Laporan Keuangan Wajib Pajak

Rekapitulasi Laporan Keuangan merupakan hal yang dasar

yang nantinya akan digunakan untuk menganalisa Laporan

Keuangan vertikal dari wajib pajak. Laporan Keuangan yang


21

telah di-input di Ms. Excel akan dijadikan bahan untuk

menganalisis suatu perusahaan.

Dalam membuat rekapitulasi Laporan Keuangan akan diinput

dalam sebuah Ms. Excel. Data yang di butuhkan dalam

melakukan rekapitulasi Laporan Keuangan ialah akun-akun yang

ada di Laporan Keuangan seperti kas, hutang lancar dari

perusahaan tersebut, total hutang, total harta, modal dll.

Praktikan membuat rekapitulasi dari Laporan Keuangan Laba

Rugi, Laporan Keuangan Neraca, dan membuar rekapitulasi

pelaporan PPN masa dari Wajib Pajak. Rekapitulasi yang dibuat

ini akan di analisa dan lihat apakah ada potensi Wajib Pajak

kurang melakukan pembayaran pajak.

Dalam hal ini, praktikan melakukan peng-input-an akun-akun

yang dibutuhkan di dalam Laporan Keuangan kedalam Ms. Excel.

Laporan Keungan Wajib Pajaknya telah disediakan oleh

pembimbing karna hal ini bersifat rahasia. Laporan Keuangan

Wajib Pajak yang dipakai berasal dari sistem yang dimiliki oleh

KPP Pratama sendiri, yaitu Sistem Pelaporan Tahunan. Dalam

sistem ini, Wajib Pajak setiap tahunnya melaporkan Laporan

Keuangannya.

Dari membuat rekapitulasi Laporan Keuangan input yang ada

berupa data-data dari Laporan Keuangan, sedangkan output yang

dihasilkan berupa Ms. Excel yang berisikan hasil rekapan


22

tersebut. Untuk rekapitulasi Laporan Keuangan Laba Rugi dapat

dilihat di lampiran 7, untuk rekapitulasi Laporan Keuangan

Neraca dapat dilihat di lampiran 8, sedangkan untuk rekapitulasi

pelaporan PPN masa Wajib Pajak dapat dilihat di lampiran 9

2) Membuat Data Untuk Analisa Vertikal

Analisa vertikal dari Laporan Keuangan merupakan cara dari

Account Representative dalam melihat kinerja dari perusahaan

atau usaha dari Wajib Pajak tersebut. Dasar dari pengerjaan

analisa vertikal ini ialah data yang telah di rekapitulasi dalam

tugas sebelumnya.

Dalam hal ini, praktikan melakukan perhitungan Cash Ratio

(CAR), Current Ratio (CUR), Debt to Assist Ratio (DAR) dan

Debt to Equity Ratio (DER) di Ms. Excel berdasarkan hasil

rekapitulasi Laporan Keuangan yang telah dikerjakan. Hasil dari

perhitungan ialah presentase. Presentase inilah yang akan

memulai pengerjaan analisa vertikalnya. Perhitungan tersebut

dapat dilihat di Lampiran 10.

Untuk mengerjakan analisa vertikal ini dibutuhkan paling

sedikit ialah dua tahun dari Laporan Keuangan Wajib Pajak,

karna proses pengerjaan analisa vertikal ini ialah membandingkan

hasil presentase perhitungan yang telah dilakukan, lalu Account

Representative dari Seksi ini akan melihat apakah ada potensi

kurang bayar pajak atau melihat apakah ada hal-hal ganjil yang
23

ada di perusahan Wajib Pajak tersebut. Dari hasil rekapitulasi

yang dikerjakan oleh praktikan akan di lihat potensinya, dalam

hal ini contoh potensinya dapat dilihat di lampiran 11.

Jika ada hal-hal ganjil di dalam Laporan Keuangan Wajib

Pajak tersebut, maka Account Representative mengirimkan surat

klarifikasi ke Wajib Pajak yang bersangkutan, dan Wajib Pajak

harus menjawab surat klarifikasi tersebut dengan mengirimkan

surat kembali berupa surat jawaban ke KPP Pratama Cibinong.

Jika Wajib Pajak yang bersangkutan tidak memberikan surat

balasan, maka Account Representative menindaklanjutnya dengan

datang langsung ke alamat Wajib Pajak tersebut untuk

memastikan bahwa alamat yang tertera sudah benar serta

memastikan bahwa Wajib Pajak telah menerima surat klarifikasi

yang dikirim oleh pihak KPP Pratama Cibinong.

Wajib Pajak yang tidak bisa menjelaskan hal-hal ganjil

tersebut, diminta melakukan pembetulan terhadap Laporan

Keuangan, jika Wajib Pajak tidak melakukan pembetulan

terhadap laporan keuangannya, maka Account representative

membuat surat usulan untuk dilakukannya pemeriksaan kepada

Seksi Pemeriksaan.

Dalam menganalisa laporan keuangan input yang ada

merupakan data-data yang ada di dalam laporan keuangan,

sedangkan output yang dihasilkan berupa surat himbauan atau


24

surat klarifikasi yang diterbitkan oleh Seksi Pengawasan dan

Konsultasi IV (Waskon IV).

3) Membuat Lembar Perhitungan dan Nota Perhitungan Surat

Tagihan Pajak (STP)

Surat Tagihan Pajak (STP) timbul karena wajib pajak

melakukan keterlambatan penyetoran maupun pelaporan, jadi

memiliki sanksi-sanksi atas keterlambatan tersebut. Untuk sanksi

dari keterlambatan penyetoran pajak maka akan dikenakan sanksi

telat bayar dan bunga, sedangkan untuk sanksi dari keterlambatan

pelaporan pajak maka akan dikenakan sanksi berupa denda.

Praktikan melakukan pengisian lembar perhitungan di format

yang telah disediakan oleh Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV

(Waskon IV) untuk Wajib Pajak yang telat melakukan pelaporan

atau penyetoran. Dalam lembar perhitungan praktikan melakukan

pengisian:

1. Identitas Wajib Pajak.

2. Data SPT Masa. Dalam bagian ini, biasanya berisikan

keterangan tentang Wajib Pajak apakah melakukan

keterlambatan penyetoran dan pelaporan pajak dan

berapa denda yang harus dibayarkan oleh Wajib Pajak.

Jika Wajib Pajak melakukan keterlambatan dalam hal

penyetoran maka denda yang biasa di kenakan sekitar

Rp. 100.000 perbulan atau tergantung jenis pajaknya.


25

3. Perhitungan Denda dan Bunga. Denda yang tertera di

bagian Data SPT Masa diberi penjelasan berapa bulan

Wajib Pajak tersebut tidak melakukan pelaporan atau

penyetoran. Serta, dalam perhitungan bunga praktikan

dibantu oleh pembimbing dan untuk menghitung bunga

yang harus dibayarkan oleh Wajib Pajak berupa Jumlah

bulan dari Masa SPT tersebut sampai diterbitkannya

STP x 2% (sesuai jenis pajaknya) x Pajak yang harusnya

dibayarkan. Misalnya, Wajib Pajak yang terlambat

melakukan penyetoran pada bulan Mei, namun sampai

dikeluarkannya STP pada bulan Oktober, penyetoran

bulan Mei tersebut tidak dibayarkan maka jumlah bulan

yang mesti dibayarkan Wajib Pajak ialah lima bulan.

4. Kesimpulan. Pada bagian ini di beri penjelasan tentang

Pajak yang kurang bayar oleh Wajib Pajak serta jumlah

sanksi bunga dan denda yang harus dibayar oleh Wajib

Pajak. Dalam bagian ini, di tandatangani oleh Kepala

Seksi dan Account Representative yang menanganinya.

Setelah praktikan mengisi lembar perhitungan, lalu praktikan

mengisi nota perhitungan formatnya telah di sediakan Seksi

Pengawasan dan Konsultasi IV (Waskon IV). Nota perhitungan

ini berisikan sebuah format yang harus diisi seperti identitas dari

Wajib Pajak, mengisi PPh terhutang dari Wajib Pajak, mengisi


26

jumlah pajak yang tidak dibayarkan oleh Wajib Pajak, mengisi

sanksi denda dan bunga yang harus dibayarkan oleh Wajib Pajak

dan total PPh yang harus dibayarkan oleh Wajib Pajak. Setalah

nota perhitungan diisi lalu akan diberi paraf oleh yang

menghitung (praktikan) dan yang menelitti (Account

Representative yang menanganinya).

Setelah praktikan membuat nota perhitungan, praktikan

memberikan nota perhitungan tersebut ke Seksi Pelayanan untuk

diterbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) untuk wajib pajak yang

bersangkutan. Kemudian Surat Tagihan Pajak (STP) diserahkan

kepada Seksi Penagihan karena Seksi Penagihan yang

bertanggung jawab terhadap penagihan Surat Tagihan Pajak

(STP) wajib pajak.

Dalam pengisian lembar perhitungan dan nota perhitungan

untuk Surat Tagihan Pajak (STP) memakai input berupa data-data

penyetoran dan pelaporan dari wajib pajak, sedangkan output

yang dihasilkan berupa Surat Tagihan Pajak (STP). Format

lembar perhitungan dan nota perhitungan dapat dilihat di lampiran

12 dan lampiran 13. Serta untuk format penerbitan STP dalam

dilihat di lampiran 14.

4) Melakukan Pemetaan Tempat Tinggal Wajib Pajak (Geotagging)

Pemetaan tempat tinggal wajib pajak merupakan kebijakan

baru yang diberikan oleh Direktorat Jendral Pajak (DJP) untuk


27

merekam data lokasi dan data deskriptif dari wajib pajak orang

pribadi atau wajib pajak badan. Pemetaan yang dilakukan

seharusnya merupak tugas dari Seksi Ekstensifikasi, karena hal

ini merupakan hubungan yang terjadi di luar KPP Pratama

Cibinong.

Pemetaan ini memiliki target untuk menyelesaikan

perekaman di wilayah kerja KPP Pratama Cibinong di akhir

tahun. Dengan adanya kebijakan tersebut, Kepala Kantor

membuat kebijakan baru untuk membagi-bagi wilayah kerja dari

KPP Pratama Cibinong ke setiap Seksi untuk melakukan

perekaman pemetaan wilayah dari wajib pajak. Langkah-langkah

yang praktikan lakukan dalam pemetaan tempat tinggal dari wajib

pajak, sebagai berikut :

1. Menginput data yang telah tersedia ke dalam Ms. Excel

dan mengubah format Ms. Excel tersebut ke CSV agar

bisa dimasukan ke imacros.

2. Memakai sistem yang dimiliki oleh Direktorat Jendral

Pajak (DJP) yaitu mapping.pajak.go.id.

3. Membuka maps.google.com untuk mengetahui lintang

wilayah yang ingin dilakukan perekaman pemetaan

tempat tinggal dari wajib pajak.

4. Memasukkan lintang dari wilayah tersebut di

mapping.pajak.go.id.
28

5. melakukan pemetaan tempat tinggal wajib pajak dari

data yang telah tersedia.

Dengan adanya pemetaan ini akan memudahkan Account

Representative untuk melakukan visit ke wajib pajak yang belum

membayarkan tunggakan pajaknya. Untuk melakukan geotagging

ini dilaksanakan atas wajib pajak pribadi atau wajib pajak badan

yang sudah ataupun belum mempunyai NPWP. Sehingga akan

menambah daftar subjek pajak untuk terdaftar sebagai wajib

pajak.

Setiap satu kartu keluarga yang anggotanya memiliki banyak

NPWP maka geotagging dilakukan berkali-kali sesuai jumlah

anggota yang memiliki NPWP. Dalam melakukan geotagging,

memprioritaskan lokasi yang memiliki potensi penerimaan pajak

seperti sentra perdagangan, kawasan industri dll.

Dalam geotagging ini, input yang ada berupa data-data yang

diperoleh dari Kantor Wilayah Jawa Barat III. Sedangkan output

yang dihasilkan berupa perekaman tempat tinggal wajib pajak

yang tersimpan didalam sistem dari Direktorat Jendral Pajak

(DJP) yang akan menimbulkan potensi pajak dan akan digunakan

jika Account Representative ingin melakukan visit ke wajib pajak

tersebut. Tampilan aplikasi yang digunakan untuk melakukan

geotagging ini dapat dilihat di dalam lampiran 15. Serta, hasil

perekaman geotagging dapat dilihat di lampiran 16.


29

5) Mengagendakan Surat Masuk

Surat masuk menurut Wursanto 1991 adalah semua jenis

surat yang diterima dari dalam instansi tersebut, diterima melalui

pos ataupun diterima dari kurir dengan menggunakan buku

pengiriman. Sama halnya dengan pengertian surat masuk yang di

jelaskan di atas, Surat masuk di KPP Pratama Cibinong adalah

surat perihal antar seksi atau internal dari KPP Pratama Cibinong.

Surat masuk bisa didapatkan dari instansi lain (antar KPP

Pratama) serta bisa di dapatkan antar seksi (nota dinas).

Dalam hal ini, praktikan melakukan semua langkah untuk

menatausahakan surat masuk. Langkah-langkahnya seperti

berikut :

1. Melakukan penomeran agenda ke dalam catatan yang

telah disiapkan oleh Seksi Pengawasan dan Konsultasi

IV (Waskon IV).

2. Melakukan pencatat nama pengirim dari surat masuk

tersebut.

3. Melakukan pencatatan tentang perihal surat masuk

tersebut dikirim.

4. Melakukan pencatatan tanggal dari surat masuk yang

telah dikirimkan.

5. Membuat lembar disposisinya serta melakukan

pencatatan terhadap nomor disposisi surat masuk


30

tersebut dan kemudian menyampaikan kepada Kepala

Pimpinan dari Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV

(Waskon IV).

6. Jika ada surat yang tidak ditindaklanjuti akan disimpan

ke dalam file arsip di Seksi Pengawasan dan Konsultasi

IV (Waskon IV).

Mengagendakan surat masuk memiliki input berupa Surat

Masuk dari antar Seksi atau antar Instansi lain (antar KPP

Pratama). Sedangkan output dari Mengagendakan surat masuk

ialah lembar disposisi surat masuk. Lembar disposisi dapat dilihat

di lampiran 17.

6) Mengagendakan Surat Keluar

Surat keluar menurut Warsanto 1991 adalah komunikasi yang

dilakukan secara tertulis yang diterima oleh suatu badan yang

berasal dari luar badan tersebut. Surat keluar menurut KPP

Pratama Cibinong ialah surat yang ditulis dengan tujuan

dikirimkan ke instansi yang berada di luar KPP Pratama.

Surat keluar memiliki dua sifat, yaitu bersifat internal dan

bersifat eksternal. Surat yang bersifat internal surat yang

dikirimkan ke pihak-pihak yang masih berada di lingkungan KPP

Pratama misal surat mutasi lain yang dikirim ke Kantor Wilayah

yang ada.
31

Sedangkan surat keluar yang bersifat eksternal merupakan

surat yang dikirimkan untuk wajib pajak atau tempat lain.

Contohnya, Surat jawaban guna membalas surat kiriman yang

diberikan oleh wajib pajak atau Surat Tagihan Pajak (STP) yang

ditujukan untuk wajib pajak yang tidak melakukan kewajibannya.

Dalam hal ini, praktikan melakukan langkah-langkah dalam

penatausahaan surat keluar, langkah-langkahnya sebagai berikut :

1. Melakukan penomeran agenda ke dalam catatan yang

telah disiapkan oleh Seksi Pengawasan dan Konsultasi

IV (Waskon IV).

2. Melakukan pencatat nama pengirim dari surat keluar

tersebut.

3. Melakukan pencatatan tentang perihal surat keluar

tersebut dikirim.

4. Melakukan pencatatan tanggal dari surat masuk yang

telah dikirimkan.

5. Membuat lembar disposisinya serta melakukan

pencatatan terhadap nomor disposisi surat keluar

tersebut.

6. Kemudian mengirimkan surat keluar tersebut melalui pos

atau diantarkan secara langsung oleh praktikan.


32

Mengagendakan surat keluar memiliki input berupa surat

keluar, serta output dari menagendakan surat keluar ialah

pencatatan nomor dan tanggal pada surat keluar.

C. Kendala yang Dihadapi


Selama kegiatan PKL, praktikan dapat menyelesaikan tugas yang

telah diberikan oleh pengawas di KPP Pratama Cibinong. Tetapi ada

beberapa kendala yang dihadapi oleh praktikan selama kegiatan PKL.

Kendala-kendala ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang harus di

selesaikan oleh praktikan demi efektivitas kerja praktikan selama masa

PKL. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh prkatikan selama masa

PKL antara lain:

1. Lokasi KPP Pratama Cibinong yang jauh dari tempat tinggal

praktikan. Sehingga membuat praktikan kesulitan menjangkau

lokasi tempat PKL praktikan.

2. Selama melaksanakan kegiatan PKL, praktikan tidak

mendapatkan meja tersendiri serta tidak adanya komputer.

Keterbatasan dari ruang kerja dan fasilitas merupakan kendala

bagi praktikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

3. Sedikitnya pekerjaan yang boleh dikerjakan sendiri oleh praktikan

atau mahasiswi PKL lainnya, terkadang di waktu lain praktikan

tidak melakukan kerja apapun.


33

4. Untuk tugas pemetaan lokasi tempat tinggal wajib pajak

(Geotagging) dibutuhkan akses internet, namun ruangan yang

praktikan tempati tidak memiliki jaungkauan internet sehingga

pekerjaan praktikan jadi terhambat.

5. Praktikan diberikan tanggung jawab tidak boleh ada kesalahan

sedikit pun dalam mengerjakan suatu tugas. Apabila terjadi

kesalahan, akan berdampak pada pekerjaan maupun pihak terkait

lainnya.

D. Cara Mengatasi Kendala


Setelah praktikan menjabarkan berbagai kendala yang telah dihadapi

praktikan selama melaksanakan PKL. Praktikan mencoba mencari solusi

bagaimana praktikan bisa mengatasi kendala-kendala yang dapt

mempengaruhi kinerja praktikan. Solusi-solusi inilah yang dilakukan

praktikan untuk mengatasi segala kendala yang ada, hal ini dilakukan demi

kelancaran dan kenyamanan selama melaksanakan kegiatan PKL antara

lain:

1. Dengan lokasi KPP Pratama Cibinong yang jauh dari rumah

praktikan dan jalur yang ditempuh merupakan jalur yang ramai

maka membuat praktikan berangkat dari rumah lebih awal agar

tidak terlambat masuk kantor, serta agar praktikan tidak terburu-

buru dan tidak mempengaruhi kinerja praktikan dalam

mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.


34

2. Dengan adanya keterbatasan ruangan dan meja, maka praktikan

ditempatkan di ruang Aula yang ada di KPP Pratama Cibinong.

Jika ruangan Aula akan dipakai, maka praktikan akan pindah

sementara ke mushola di KPP Pratama Cibinong dan

mengerjakan tugas yang diberikan di dalam mushola. Tidak

adanya komputer di ruangan kerja praktikan, membuat praktikan

bertanya kepada pembimbing untuk meminjam laptop kantor

yang sedang tidak digunakan oleh pegawai lain.

3. Sedikitnya pekerjaan yang praktikan kerjakan, membuat

praktikan bertanya kepada pegawai di Seksi Pengawasan dan

Konsultasi IV (Waskon IV) agar dapat membantu tugas pegawai

lainnya dan mengerjakan tugas tersebut.

4. Tidak adanya jangkauan internet di ruangan Aula, membuat

praktikan bertanya kepada pembimbing untuk meminjam modem

portable. Jika jaringan yang ada di modem portable sedang tidak

bagus, praktikan memakai internet handphone praktikan untuk

mengerjakan tugas tersebut.

5. Dengan adanya tanggung jawab yang diberikan oleh praktikan,

membuat praktikan mengerjakan tugas tersebut dengan teliti,

cermat dan berhati-hati agar tidak terjadi keselahan dalam

penginputan data dan perhitungan data. Praktikan selalu bertanya

kepada pembimbing dalam pengerjaan tugas tersebut agar


35

praktikan dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan baik dan

benar.
BAB IV
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Praktikan sebagai mahasiswi jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi

Universitas Negeri Jakarta, mendapat banyak pengetahuan dan

pengalaman secara nyata dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh

dari bangku perkuliahan dalam melaksanakan PKL. Dengan adanya

kegiatan PKL di perguruan tinggi, mendukung keselarasan antara

kemampuan dengan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat.

Program PKL ini merupakan sarana bagi praktikan sebagai calon

sarjana untuk mengenal dunia kerja secara nyata sekaligus mengenal

lingkungan dan kondisi kerja yang sebenernya yang nantinya akan dijalani

oleh praktikan setelah lulus kuliah. Berdasarkan uraian laporan PKL

diatas, maka dapat menarik beberapa kesimpulan diantaranya :

1. Praktikan dapat mengetahui bahwa semua Wajib Pajak Badan

yang memiliki potensi pajak akan dianalisis Laporan

Keuangannya oleh Account Represntative melalui kegiatan

Analisis Verikal serta mengetahui tahap-tahap melakukan tugas

Analisis Vertikal.

2. Praktikan juga mengerti bagaimana alur dikeluarkannya Surat

Tagihan Pajak (STP) kepada wajib pajak. Serta dapat memahami

36
37

dengan baik cara alur sistem perpajakan negara sebagai bagian

dari akuntansi.

3. Praktikan mengetahui bahwa sekarang ada program melakukan

pemetaan tempat tinggal Wajib Pajak (geotagging) untuk

memudahkan pegawai dari KPP Pratama Cibinong melakukan

tugas ke lapangan atau visit ke Wajib Pajak serta dapat melihat

potensi pajak yang ada dari program tersebut.

4. Praktikan dapat mengetahui tata cara bagaimana surat masuk dapat

diterima atau ditolak oleh Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV

dan mengetahui membuat lembar disposisi dari surat masuk.

5. Praktikan mengetahui alur dari surat yang akan keluar dari Seksi

Pengawasan dan Konsultasi IV.

B. Saran
Setelah mengetahui secara langsung kegiatan yang dilakukan oleh

pegawai KPP Pratama Cibinong, serta praktikan menyadari adanya

kekurangan dalam pelakasanaan program PKL ini. Maka praktikan ingin

memberikan saran atau masukan guna meningkatkan dan memperbaiki

kinerja, serta menjadi acuan untuk meminimalisir kekurangan dari

pelaksanaan PKL. Semoga adanya saran yang diberikan oleh praktikan

dapat bermanfaat bagi Instansi, Fakultas dan mahasiswa lainnya yang akan

melaksanakan program PKL. Adapun saran yang praktikan berikan,

sebagai berikut :
38

1. Bagi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

a. Sebelum mahasiswa menjalani kegiatan PKL, mahasiswa

sebaiknya diberikan pengarahan mengenai PKL secara lengkap

dan jelas seperti bidang kerja apa saja yang bisa sebaiknya

mahasiswa ajukan untuk kegiatan PKL, perusahaan atau

instansi apa saja yang bisa mahasiswa jadikan untuk tempat

PKL. Hal ini karena tidak semua perusahaan atau instansi serta

tidak semua bidang kerja di perusahaan dapat dijadikan

kegiatan PKL oleh Mahasiswa.

b. Sebaiknya, mahasiswa diberikan informasi tentang dosen

pembimbing sebelum mahasiswa melaksanakan PKL.

c. Menjalin hubungan antara pihak fakultas dengan perusahaan

atau instansi pemerintah lainnya agar dapat mempermudah

mahasiswa mendapatkan tempat untuk melaksanakan kegiatan

PKL.

2. Bagi Instansi-KPP Pratama Cibinong

a. Praktikan mengharapkan KPP Pratama Cibinong dapat lebih

memberikan pengarahan terhadap praktikan mengenai bagian

apa yang akan diterima oleh pratikan sesuai dengan bidang

studi atau konsentrasi yang diambil oleh praktikan di bangku

perkuliaha, sehingga praktikan dapat memberikan kontribusi

dan mengembangkan ilmu yang telah di dapatkan di bangku

perkuliahan.
39

b. Sebaiknya KPP Pratama Cibinong memberikan panduan

khusus atau pedoman kepada praktikan tentang Sub Bagian

yang sedang praktikan tempati, sehingga praktikan dapat

memahami tugas-tugas dari Sub Bagian yang praktikan

tempati agar dapat berkontribusi dalam pengerjaan tugas-tugas

dari Sub Bagian tersebut.

c. Diharapkan KPP Pratama Cibinong dapat memberikan

kepercayaan dan kesempatan lebih banyak kepada mahasiswa

PKL untuk mengerjakan tugas-tugas yang lebih kompleks

dibawah bimbingan pegawai dari Sub Bagian yang praktikan

tempati.

d. Diharapkan KPP Pratama Cibinong, mengkomunikasikan

kepada mahasiswa yang ingin PKL di KPP Pratama Cibinong

jika kouta mahasiswa PKL sudah terpenuhi, agar tidak

terjadinya kelebihan kouta dalam pelaksanaan PKL di kantor

tersebut.

3. Bagi Mahasiswa

a. Mahasiswa sebaiknya lebih mengedepankan kedisplinan kerja

serta motivasi dalam bekerja agar nantinya menjadi mahasiswa

yang memiliki etos kerja yang baik dan profesionalisme dalam

segala bidang.
40

b. Mahasiswa harus lebih komunikatif dalam menjalankan

pekerjaan agar jika terjadi kesalahan dalam pengerjaan tugas

dapat segera diselesaikan.

c. Mahasiswa harus proaktif dalam menjalankan pekerjaan,

memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, serta mampu

beradaptasi dengan cepat pada lingkungan yang baru sehingga

dapat berkontribusi dalam pencapaian dari visi misi

perusahaan atau instansi dan juga mengembangkan

pengetahuan dan kemampuan diri sendiri dari kegiatan PKL

agar dapat bermanfaat untuk dunia kerja nyata nantinya.

d. Ketika kegiatan PKL telah selesai dilaksanakan, diharapkan

mahasiswa dapat menjalin hubungan yang baik dengan semua

karyawan agar memudahkan mahasiswa dalam pengerjaan

laporan serta membuka kesempatan untuk kerja sama antara

pihak instansi dengan universitas.

e. jika mahasiswa memilih tempat melaksanakan PKL, sebaiknya

memilih perusahaan atau instansi yang belum pernah ada

mahasiswa UNJ lainnya yang melakukan praktik kerja di

tempat tersebut, agar mahasiswa mendapatkan pengalaman dan

pengetahuan baru serta dapat menjalin hubungan dengan

fakultas serta mengangkat citra fakultas atau universitas di

kalangan luas.
41

f. Jika mahasiswa ingin melakukan pendaftaran PKL di instansi

tertentu, sebaiknya memberikan surat keterangan ingin

melaksanakan PKL dengan secepat mungkin, agar tidak

didahului oleh mahasiswa PKL dari Universitas lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Hajat, Nurahma. Pedoman Penulisan Praktek Kerja Lapangan. Fakultas Ekonomi

Universitas Negeri Jakarta. 2012.

https://www.bps.go.id/Brs/view/id/1376 (di akses pada tanggal 25 Oktober 2017

pukul 19.00 WIB)

https://solosoloku.com/2017/02/inilah-10-negara-dengan-jumlah-penduduk-

terbanyak-di-dunia.html (di akses pada tanggal 25 Oktober 2017 pukul 20.00

WIB)

https://m.tempo.co/read/news/2017/08/24/088902732/ihsg-naik-0-07-poin-berkat-

sentimen-positif-dalam-negeri (di akses pada tanggal 25 Oktober 2017 pukul

20.30 WIB)

https://www.online-pajak.com/id/peraturan-menteri-keuangan-132pmk012006 (di

akses pada tanggal 28 Oktober 2017 pukul 13.00 WIB)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/51332/Chapter%20II.pdf;j

sessionid=7F49584FB024867A2F7A0D19BB7AFDFA?sequence=3 (di akses

pada tanggal 30 oktober 2017 19.00 WIB)

https://id.wikipedia.org/wiki/Kantor_Pelayanan_Pajak (di akses pada tanggal 28

Oktober 2017 pukul 10.00 WIB )

42
LAMPIRAN-LAMPIRAN

43
44

Lampiran 1 : Surat Permohonan Pelaksanaan PKL


45

Lampiran 2 : Surat Perizinan Pelaksanaan PKL dari KPP Pratama


Cibinong
46

Lampiran 3 : Surat Keterangan Telah Melaksanakan PKL


47

Lampiran 4 : Daftar Hadir PKL


48
49
50

Lampiran 5 : Laporan Kegiatan Harian


51
52
53
54
55
56

Lampiran 6 : Penilaian PKL


57

Lampiran 7 : Rekapitulasi Laporan Keuangan Laba Rugi


58

Sumber : Hasil screenshot dari data yang ada di Seksi Waskon IV KPP Pratama Cibinong, Tahun
pengambilan 2017
59

Lampiran 8 : Rekapitulasi Laporan Keuangan Neraca


60

Sumber : Hasil screenshot dari data yang ada di Seksi Waskon IV KPP Pratama Cibinong, Tahun
pengambilan 2017
61

Lampiran 9 : Rekapitulasi Pelaporan PPN Masa Wajib Pajak


62
63

Sumber : Hasil screenshot dari data yang ada di Seksi Waskon IV KPP Pratama Cibinong, Tahun
pengambilan 2017
64

Lampiran 10 : Analisis Vertikal Perhitungan Rasio dari Neraca

Sumber : Hasil screenshot dari data yang ada di Seksi Waskon IV KPP Pratama Cibinong, Tahun
pengambilan 2017
65

Lampiran 11 : Analisa Vertikal Contoh Potensi yang ada dari Wajib Pajak
66

Sumber : Hasil screenshot dari data yang ada di Seksi Waskon IV KPP Pratama Cibinong, Tahun
pengambilan 2017
67

Lampiran 12 : Perhitungan STP Lembar Perhitungan


68

Sumber : Data di peroleh dari KPP Pratama Cibinong Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV

(Waskon IV). Tahun pengambilan, tahun 2017


69

Lampiran 13 : Perhitungan STP Nota Perhitungan


70

Sumber : Data di peroleh dari KPP Pratama Cibinong Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV

(Waskon IV). Tahun pengambilan, tahun 2017


71

Lampiran 14 : Penerbitan STP oleh Seksi Pelayanan


72

Sumber : http://www.pajak.go.id/ (Di akses pada tanggal 25 November 2017, pukul 11.00 WIB)
73

Lampiran 15 : Aplikasi Untuk Pemetaan Tempat Tinggal Wajib Pajak

(Geotagging)

Sumber : Hasil screenshot dari aplikasi Geotagging (mapping.pajak.go.id) tahun pengambilan

2017
74

Lampiran 16 : Hasil Perekaman Pemetaan Tempat Tinggal Wajib Pajak


(Geotagging)

Sumber : Hasil screenshot dari aplikasi Geotagging (mapping.pajak.go.id) tahun pengambilan

2017
75

Lampiran 17 : Lembar Disposisi Surat Masuk


76

Sumber : Hasil screenshot dari data Seksi Waskon IV KPP Pratama Cibinong, Tahun pengambilan
2017