Anda di halaman 1dari 19

TUGAS KELOMPOK

CARACTER BUILDING
PENILAIAN OTENTIK DALAM KONTEKS PENILAIAN KARAKTER

DOSEN PEMBIMBING : VINA NOVITA,SST, M. Kes

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 7 :


VITRI MAYA SARI BANGUN
SUSI SUSANTI
ROLY
PITRIANI
NENI HASNITA
YETTI OKTAVIANI
WINDA ARBAINI
RINA DESHERYANI

PROGRAM STUDI D IV KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
TRI MANDIRI SAKTI BENGKULU
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas penyertaannya penulis dapat
mennyelesaikan tugas dari dosen Mata Kuliah Caracter Building dengan judul Penilaian
Otentik Dalam Konteks Penilaian Karakter.
Dalam pembuatan tugas ini masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan dalam
penyajiannya. Untuk itu, kritikan dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi
penyempurnaan tugas ini.
Terima kasih juga kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan tugas ini. Akhirnya, kami juga berharap tugas ini dapat berguna dan

bermanfaat bagi kita semua.

Bengkulu, November 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 1

C. Tujuan penulisan 1

D. Manfaat penulisan 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Penilaian Otentik 3


B. Pengukuran Kepribadian 5
C. Strategi Pengembangan Penilaian Karakter Berbasis Penilaian Otentik 9
D. Mengembangkan Model Penilaian Karakter Berbasis Penilaian Otentik 13

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 15

B. Saran 15

DAFTAR PUSTAKA iii


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pendidikan adalah proses pemanusiaan manusia, itu dapat dikatakan bahwa
tuntutan pendidikan adalah terbentuknya kompetensi pada peserta didik (terlepas dari
apakah kurikulum yang sekarang tetap digunakan atau diganti, tetapi pembentukan
kompetensi adalah merupakan suatu keharusan). Untuk itu, perlu dilakukan
pembenahan dalam praktik pembelajaran di sekolah, termasuk praktek penilaiannya.
Dalam proses pembelajaran di Sekolah, siswa tidak hanya dinilai dari
kecerdasan saja tetapi dalam aktivitas yang dilakukan oleh siswa juga. Salah satu
penilaian aktivitas siswa ialah penilaian otentik. Dalam hal ini guru mampu
mengetahui karakter dan kemampuan siswa dalam berbagai hal dalam lingkup
pembelajaran.
Penilaian otentik merupakan hal yang perlu diketahui oleh guru dan guru
harus mampu mengidentifikasi setiap aktivitas yang dilakukan siswa, karena penilaian
otentik pada dasarnya mempunyai tujuan atau maksud untuk perkembangan siswa.
Guru juga harus membuat data yang berisikan penilain otentik siswa. Selain itu, Guru
diharapkan mengetahui strategi atau cara pengembangan penilaian karakter dan
mengembangakan model penilaian karakter yang berbasisi penilaian otentik.

B. Rumusan masalah
1. Mengetahui konsep dasar penilaian otentik
2. Mengetahui bisakah karakter anak diukur/dinilai
3. Mengetahui strategi pengembangan penilaian karakter berbasis penilaian otentik
4. Mengetahui bagaimana cara mengembangkan model karakter berbasis penilaian
C. Tujuan penulisan
1. Tahu konsep dasar penilaian otentik
2. Tahu bagaimana cara karakter anak diukur/dinilai
3. Tahu strategi pengembangan penilaian karakter berbasis penilaian otentik
4. Tahu bagaimana cara mengembangkan model karakter berbasis penilaian
D. Manfaat penulisan
Makalah ini diharapkan menjadi informasi awal bagi pembaca, sehingga pembaca
mengerti dan memahami penilaian otentik dalam konteks penilaian karakter
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Penilaian Otentik


Penilaian otentik (authentic assessment) didefinisikan sebagai seperangkat tugas
yang dikemas dalam konteks yang bermakna bagi siswa sehingga memungkinkan siswa
membuat hubungan antara pengalaman nyata dengan ide-ide yang dipelajarinya di
sekolah. Dalam prosesnya penilaian otentik berfokus pada kemampuan pemecahan
masalah yang memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi dan berfokus pada tahapan
belajar yang lebih kompleks. Penilaian ini tidak hanya berkenaan dengan kemampuan
siswa menjawab pertanyaan bagaimana layaknya penilaian tradisional. Penilaian otentik
dikembangkan untuk menemukan apa yang siswa tahu dan apa yang siswa bisa lakukan
dengan pengetahuannya tersebut. Berdasarkan sudut pandang ini, penilaian otentik
adalah penilaian yang berkenaan dengan pemahaman dan implementasinya.
Dalam definisi yang lebih terfokus, Nurgiyantoro (2011: 4) menyatakan bahwa
pada hakikatnya penilaian otentik merupakan kegiatan penilaian yang dilakukan tidak
semata-mata untuk menilai hasil belajar siswa, melainkan juga berbagai faktor yang lain,
antara lain kegiatan pembelajaran itu sendiri.
Penilaian otentik sering pula disebut sebagai penilaian alternatif (Ntko, 2004).
Dikatakan demikian karena penilaian menggunakan beragam teknik penilaian yang
bukan hanya tes melainkan beragam teknik penilaian nontes seperti penilaian proyek,
produk, performa, dan penilaian porofolio. Dalam pandangan O'Malley dan Pierce
(1996: 4) penilaian otentik merupakan penilaian yang menekankan pada pengukuran
performa nyata yang ditunjukkan melalui perilaku aktif siswa.
Menurut Mueller (Nurgiyantro, 2011) dan Morgan, et al. (2004) penilaian otentik
adalah penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks dunia "nyata" yang
memerlukan berbagai macaam pendekatan untuk memecahkan masalah yang
memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam
pemecahan. Dengan kata lain, penilaian otentik mengukur, memonitor, dan menilai
semua aspek hasil belajar (yang tercakup dalam domain kogntif, afektif, dan
psikomotor), baik yang nampak sebagai hasil akhir dari suatu proses pembelajaran
maupun berupa perubahan dan perkembangan aktifitas, dan perolehan belajar selama
proses pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas.
perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu
diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran
dengan benar. Jika data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa
mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru akan segera bisa mengambil tindakan
yang tepat untuk siswa tersebut, sehigga siswa terbebas dari kemacetan belajar. Penilaian
ini tidak dilakukan di akhir periode saja (akhir semester), tetapi dilakukan bersamaan
dengan kegiatan pembelajaran. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu
diperlukan di sepanjang proses pembelajaran.
Penilaian otentik merupakan sebuah bentuk penilaian yang mengukur kinerja nyata
yang dimiliki oleh peserta didik. Kinerja yang dimaksud adalah aktivitas yang diperoleh
peserta didik selama proses pembelajaran. Berdasarkan pemahaman ini penilaian otentik
pada prinsipnya mengukur aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik selama
pembelajaran berlangsung.
Berkatan dengan pendidikan karakter, pendidikan karakter bertujuan agar peserta
didik mampu menjadi orang yang berkarakter mulia. Usaha pengembangan karakter ini
harus dilakukan secara berkesinambungan dalam proses pembelajaran. Penilaian otentik
pada dasarnya digunakan untuk mengkreasikan berbagai aktivitas belajar yang
bermuatan karakter dan sekaligus mengukur keberhasilan aktivitas tersebut serta
mengukur kemunculan karakter pada diri siswa.

Tujuan pendidikan karakter disekolah antara lain:

1. Meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengintegrasian nilai-nilai utama berbasis


pendidikan karakter dan budaya ke dalam kegiatan pembelajaran, penelitian dan
publikasi ilmiah, serta sosialisasi dengan masyarakat.
2. Mengimplementasikan pendidikan karakter dan budaya dalam kepemimpinan dan
pengelolaan sekolah.
3. Mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan ekstrakurikuler dan
pengembangan budaya dalam kegiatan keseharian di lingkungan sekolah.

Dalam penilaian pun, peserta didik sangat memerlukan perlakuan individual. Mereka
penting dinilai dari kegiatan dan hasil belajarnya berdasarkan kemampuan dirinya.
Karena setiap peserta didik mempunyai perbedaan satu sama lain. Perbedaan itu bisa
dilihat dari latar belakang social dan ekonomi keluarganya, minat, harapan, motivasi,
kemampuan, perasaan, kreatifitas, dan penampilan dalam kegiatan belajar. Untuk hal
penilaian ini guru harus benar-benar adil dan otentik.

Beberapa pembaharuan yang tampak pada penilaian otentik adalah sebagai berikut:

1. Melibatkan siswa dalam tugas yang penting, menarik, bermanfaat, dan relevan dengan
kehidupan nyata siswa.
2. Tampak dan terasa sebagai kegiatan belajar bukan tes tradisional.
3. Melibatkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi dan mencakup pengetahuan yang luas.
4. Menyadarkan siswa tentang apa yang harus dikerjakannya.
5. Merupakan alat penilaian dengan latar standar, bukan alat penilaian yang
distandarisasikan.
6. Berpusat pada siswa, bukan berpusat pada guru.
7. Dapat menilai siswa yang berbeda kemampuan, gaya belajar, dan latar belakang
kulturalnya.

B. PENGUKURAN KEPRIBADIAN
Sifat kepribadian biasa diukur melalui angka rata-rata pelaporan dari (self-report)
kuesioner kepribadian (untuk sifat khusus) atau penelusuran kepribadian seutuhnya
(personality inventory, serangkaian instrumen yang menyingkap sejumlah sifat). Ada
beberapa macam cara untuk mengukur atau menyelidiki kepribadian. Berikut ini adalah
beberapa diantaranya:
a. Observasi Direct
Observasi direct berbeda dengan observasi biasa. Observasi direk mempunyai sasaran
yang khusus , sedangkan observasi biasa mengamati seluruh tingkah laku subjek.
Observasi direk memilih situasi tertentu, yaitu saat dapat diperkirakan munculnya
indikator dari ciri-ciri yang hendak diteliti, sedangkan observasi biasa mungkin tidak
merencanakan untuk memilih waktu.
Observasi direct diadakan dalam situasi terkontrol, dapat diulang atau dapat dibuat
replikasinya. Misalnya, pada saat berpidato, sibuk bekerja, dan sebagainya.Ada tiga
tipe metode dalam observasi direk yaitu:
1) Time Sampling Method
Dalam time sampling method, tiap-tiap subjek diselidiki pada periode waktu
tertentu. Hal yang diobservasi mungkin sekadar muncul tidaknya respons, atau
aspek tertentu.
2) Incident Sampling Method
Dalam incident sampling method, sampling dipilih dari berbagai tingkah laku
dalam berbagai situasi. Laporan observasinya mungkin berupa catatan-catatan
dari Ibu tentang anaknya, khusus pada waktu menangis, pada waktu mogok
makan, dan sebgainya. Dalam pencatatan tersebut hal-hal yang menjadi perhatian
adalah tentang intensitasnya, lamanya, juga tentang efek-efek berikut setelah
respons.
3) Metode Buku Harian Terkontrol
Metode ini dilakukan dengan cara mencatat dalam buku harian tentang tingkah
laku yang khusus hendak diselidiki oleh yang bersangkutan sendiri. Misalnya
mengadakan observasi sendiri pada waktu sedang marah. Syarat penggunaan
metode ini, antara lain, bahwa peneliti adalah orang dewasa yang cukup inteligen
dan lebih jauh lagi adalah benar-benar ada pengabdian pada perkembangan ilmu
pengetahuan.
b. Wawancara (Interview)
Menilai kepribadian dengan wawancara (interview) berarti mengadakan tatap muka
dan berbicara dari hati ke hati dengan orang yang dinilai. Dalam psikologi
kepribadian, orang mulai mengembangkan dua jenis wawancara, yakni:
1) Stress interview
Stress interview digunakan untuk mengetahui sejauh mana seseorang dapat
bertahan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu emosinya dan juga untuk
mengetahui seberapa lama seseorang dapat kembali menyeimbangkan emosinya
setelah tekanan-tekanan ditiadakan. Interviewer ditugaskan untuk mengerjakan
sesuatu yang mudah, kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang lebih sukar.
2) Exhaustive Interview
Exhaustive Interview merupakan cara interview yang berlangsung sangat lama;
diselenggarakn non-stop. Cara ini biasa digunakan untuk meneliti para tersangka
dibidang kriminal dan sebagai pemeriksaan taraf ketiga.
c. Tes proyektif
Cara lain untuk mengatur atau menilai kepribadian adalah dengan menggunakan tes
proyektif. Orang yang dinilai akan memprediksikan dirinya melalui gambar atau hal-
hal lain yang dilakukannya. Tes proyektif pada dasarnya memberi peluang kepada
testee (orang yang dites) untuk memberikan makna atau arti atas hal yang disajikan;
tidak ada pemaknaan yang dianggap benar atau salah.
Jika kepada subjek diberikan tugas yang menurut penggunaan imajinasi, kita dapat
menganalisis hasil fantasinya untuk mengukur cara dia merasa dan berpikir. Jika
melakukan kegiatan yang bebas, orang cenderung menunjukkan dirinya,
memantulkan (proyeksi) kepribadiannya untuk melakukan tugas yang kreatif. Jenis
yang termasuk tes proyektif adalah:
1) Tes Rorschach
Tes yang dikembangkan oleh seorang dkter psikiatrik Swiss, Hermann
Rorschach, pada tahun 1920-an, terdiri atas sepuluh kartu yang masing-masing
menampilkan bercak tintan yang agak kompleks. Sebagian bercak itu berwarna;
sebagian lagi hitam putih. Kartu-kartu tersebut diperlihatkan kepada mereka yang
mengalami percobaan dalam urutan yang sama. Mereka ditugaskan untuk
menceritakan hal apa yang dilihatnya tergambar dalam noda-noda tinta itu.
Meskipun noda-noda itu secara objektif sama bagi semua peserta, jawaban yang
mereka berikan berbeda satu sama lain. Ini menunjukkan bahwa mereka yang
mengalami percobaan itu memproyeksikan sesuatu dalam noda-noda itu. Analisis
dari sifat jawaban yang diberikan peserta itu memberikan petunjuk mengenai
susunan kepribadiannya.
2) Tes Apersepsi Tematik (Thematic Apperception Test/TAT)
Tes apersepsi tematik atau Thematic Apperception Test (TAT), dikembangkan di
Harvard University oleh Hendry Murray pada tahun 1930-an. TAT
mempergunakan suatu seri gambar-gambar. Sebagian adalah reproduksi lukisan-
lukisan, sebagian lagi kelihatan sebagai ilustrasi buku atau majalah. Para peserta
diminta mengarang sebuah cerita mengena tiap-tiap gambar yang diperlihatkan
kepadanya. Mereka diminta membuat sebuah cerita mengenai latar belakang dari
kejadian yang menghasilkan adegan pada setiap gambar, mengenai pikiran dan
perasaan yang dialami oleh orang-orang didalam gambar itu, dan bagaimana
episode itu akan berakhir. Dalam menganalisis respon terhadap kartu TAT, ahli
psikologi melihat tema yang berulang yang bisa mengungkapkan kebutuhan,
motif, atau karakteristik cara seseorang melakukan hubungan antarpribadinya.

d. Inventori Kepribadian
Inventori kepribadian adalah kuesioner yang mendorong individu untuk melaporkan
reaksi atau perasaannya dalam situasi tertentu. Kuesioner ini mirip wawancara
terstruktur dan ia menanyakan pertanyaan yang sama untuk setiap orang, dan jawaban
biasanya diberikan dalam bentuk yang mudah dinilai, seringkali dengan bantuan
komputer. Menurut Atkinson dan kawan-kawan, investori kepribadian mungkin
dirancang untuk menilai dimensi tunggal kepribadian (misalnya, tingkat kecemasan)
atau beberapa sifat kepribadian secara keseluruhan. Investori kepribadian yang
terkenal dan banyak digunakan untuk menilai kepribadian seseorang ialah: Minnesota
Multiphasic Personality Inventory (MMPI), Rorced-Choice Inventories, dan Humm-
Wadsworth Temperament Scale (H-W Temperament Scale).
1) Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI)
MMPI terdiri atas kira-kira 550 pernyataan tentag sikap, reaksi emosional, gejala
fisik dan psikologis, serta pengalaman masa lalu. Subjek menjawab tiap
pertanyaan dengan menjawab “benar”, “salah”, atau “tidak dapat mengatakan”.
Pada prinsipnya, jawaban mendapat nilai menurut kesesuaiannya dengan jawaban
yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki berbagai macam masalah
psikologi. MMPI dikembangkan guna membantu klinis dalam mendiagnosis
gangguan kepribadian. Para perancang tes tidak menentukan sifat mengukurnya,
tetapi memberikan ratusn pertanyaan tes untuk mengelompokkan individu. Tiap
kelompok diketahui berbeda dari normalnya menurut kriteria tertentu. Kelompok
kriteria terdiri atas individu yang telah dirawat dengan diagnosis gangguan
paranoid. Kelompok kontrol terdiri atas orang yang belum pernah didiagnosis
menderita masalah psikiatrik, tetapi mirip dengn kelompok kriteria dalah hal usia,
jenis kelamin, status sosioekonomi, dan variabel penting lain.
2) Rorced-Choice Inventories
Rorced-Choice Inventories atau Inventori Pilihan-Paksa termasuk klasifikasi tes
yang volunter. Suatu tes dikatakan volunter bila subjek dapat memilih pilihan
yang lebih disukai, dan tahu bahwa semua pilihan itu benar, tidak ada yang salah
(Muhadjir,1992). Subjek, dalam hal ini, diminta memilih pilihan yang lebih
disukai, lebih sesuai, lebih cocok dengan minatnya, sikapnya, atau pandangan
hidupnya.
3) Humm-Wadsworth Temperament Scale (H-W Temperament Scale
H-W Temperament Scale dikembangkan dari teori kepribadian Rosanoff
(Muhadjir, 1992). Menurut teori ini, kepribadian memiliki enam komponen, yang
lebih banyak bertolak dari keragaman abnomal, yaitu:
1) Schizoid Autistik, mempunyai tendensi tak konsisten, berpikirnya lebih
mengarah pada khayalan.
2) Schizoid Paranoid, mempunyai tendensi tak konsisten, dengan angan bahwa
dirinya penting.
3) Cycloid Manik, emosinya tidak stabil dengan semangat berkobar.
4) Cycloid Depress, emosinya tak stabil dengan retardasi dan pesimisme.
5) Hysteroid, ketunaan watak berbatasan dengan tendensi kriminal.
6) Epileptoid, dengan antusiasme dan aspirasi yang bergerak terus.

C. Strategi Pengembangan Penilaian Karakter Berbasis Penilaian Otentik


Ada beberapa langkah yang harus dilakukan ketika akan mengembangkan
penilaian karakter berbasis penilaian otentik. Mueller (Nurgiantoro,2011) dan Newmann,
et.al. (1995) mengemukakan 4 langkah untuk mengembangkan penilaian otentik, yaitu
yang meliputi : penentuan standar, penentuan tugas autentik, pembuatan kriteria,
pembuatan rubrik. Keempat langkah pengembangan penilaian otentik akan dijelaskan
sebagai berikut.
1. Penentuan standar
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam mengembangkan penilaian otentik
adalah menetapkan standar yang akan diukur. Standar yang dimaksudkan adalah
sebuah pernyataan tentang apa yang harus diketahui atau dapat dilakukan pembelajar
selama dan setelah proses pembelajran berlangsung. Dalam pandangan Mueller
(Nurgiyantoro, 2011) standar harus dibedakan dengan goal yang berarti tujuan umum
dan objektif berarti tujuan khusus. Standar memiliki ciri utama yaitu standar dapat
diobservasi dan diukur ketercapaiannya. Dalam konteks kurikulum Indonesia, standar
dimaksud meliputi standar kompetensi lulusan dan kompetensi dasar. Standar
kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan dan keterampilan, sedang kompetensi dasar adalah kompetensi atau
standar minimal yang harus tercapai atau dikuasai oleh siswa dalam proses
pembelajaran.
2. Penentuan Tugas Otentik
Dalam pandangan Mueller (Nurgianoro, 2011) tugas otentik adalah tugas yang secara
nyata dibebankan kepada siswa untuk mengukur pencapaian kompetensi yang
dibelajarkan, baik ketika kegiatan pembelajaran masih berlangsung atau ketika sudah
berakhir.
3. Pembuatan kriteria
Kriteria merupakan indikator-idikator yang menspesifikasi tugas otentik yang
akan dinilai sehingga mejadi jelas keterukurannya. Mueller (Nurgiyantoro, 2011)
menyatakan bahwa kriteria merupakan pernyataan yang menggambarkan tingkat
capaian dan bukti-bukti nyata capaian hasil belajar subjek belajar dengan kualitas
tertentu yang diinginkan. Dalam konteks penilaian otentik kriteria harus telah
dirumuskan guru sebelum pelaksanaan pembelajaran, disampaikan, dan disepakati
bersama dengan siswa.
Brookhart (2013:3) menyatakan kriteria yang baik harus memiliki karakteristik
anatara lain:
a. memadai artinya mampu menggambarkan standar yang akan dicapai secara jelas
b. terdefinisikan secara pasti sehingga mudah dipahami
c. dapat diamati dan diukur
d. menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara satu kriteria dengan kriteria lain
e. lengkap artinya seluruh kriteria harus mampu menggambarkan hasil belajar yang
diukur
f. harus dapat dibuat deskripsi yang menunjukkan perkembangan kualitas yang
dicapai siswa.
4. Pembuatan Rubrik
Rubrik merupakan alat skala yang digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya
capaian siswa. Sebuah rubrik biasanya berbentuk tabel yang memuat minimalnya tiga
komponen pokok yakni kriteria (termasuk di dalamnya subkriteria), skor capaian dan
deskriptor pada masing-masing kriteria tersebut.
Budimansyah, dkk (2010)menyatakan bahwa dalam konteks mikro pada satuan
pendidikan, maka program pendidikan karakter perlu dikembangkan dengan
mendasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Berkelanjutan mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai
karakter bangsa merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik
masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan.
b. Melalui semua subjek pembelajaran, pengembangan diri dan budaya satuan
pendidikan mensyaratkan bahwa proses pengembangan nilai-nilai karakter
dilakukan melalui kegiatan kurikuler setiap mata pelajaran/mata kuliah,
kokurikuler dan ekstra kurikuler. Pembinaan karakter melalui kegiatan kurikuler
mata pelajaran/mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama
harus sampai melahirkan dampak instruksional (instructional effect) dan dampak
pengiring (nurturant effect), sedangkan bagi mata pelajaran/mata kuliah lain cukup
melahirkan dampak pengiring.
c. Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan (value is neither caught nor taught, it is
learned) (Hermann, 1972) mengandung makna bahwa materi nilai-nilai dan
karakter bangsa bukanlah bahan ajar biasa. Tidak semata-mata dapat ditangkap
sendiri atau diajarkan, tetapi lebih jauh diinternalisasi melalui proses belajar.
Artinya, nilai-nilai tersebut tidak dijadikan pokok bahasan yang dikemukakan
seperti halnya ketika mengajarkan suatu konsep, teori, prosedur, atau pun fakta
seperti dalam mata pelajaran tertentu.
d. Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Prinsip
ini menyatakan bahwa proses pendidikan karakter dilakukan oleh peserta didik
bukan oleh guru. Guru menerapkan prinsip “tut wuri handayani” dalam setiap
perilaku yang ditunjukkan peserta didik. Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses
pendidikan dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang dan
tidak indoktrinatif. Sekolah dapat memperkokoh prinsip-prinsip tersebut agar
sejajar dengan visi, misi, tujuan, dan strategi sekolah. Visi yang perlu diusung
misalnya, “Menjadi sekolah terkemuka dalam pengembangan dan implementasi
pendidikan karakter”. Misi yang dapat dilakukan antara lain:
1) Menyelenggarakan kegiatan yang mengembangkan kepribadian dan kecerdasan.
Mengembangkan pembelajaran berbasis karakter di sekolah.
2) Mendukung kegiatan penelitian, pelatihan, dan publikasi ilmiah yang berfokus
pada tema-tema pendidikan karakter dan budaya di sekolah.
3) Mengimplementasikan budaya akademik, humanis, dan religius di sekolah.
Adapun program yang dapat dilakukan untuk pendidikan karakter di sekolah antara lain:

a. Mengembangkan model pembelajaran berbasis pendidikan karakter di tingkat sekolah.


b. Melaksanakan sosialisasi, diskusi, dan lokakarya tentang pendidikan karakter dan
pembinaan budaya sekolah.
c. Menyelenggarakan kegiatan penelitian dan publikasi ilmiah yang berfokus pada tema
karakter dan pembudayaan melalui berbagai tulisan di media cetak, wawancara, dialog,
dan gelar wicara di media elektronik.
d. Menyelenggarakan kegiatan penelitian tentang pendidikan karakter.
e. Menyelenggarakan pelatihan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang
mendukung.
f. Menjalin kerja sama dengan institusi lain yang mendukung tercapainya visi dan misi.
g. Mendorong kegiatan pendidikan karakter di dalam kegiatan ekstrakurikuler dalam
sekolah.
h. Mendukung pembudayaan organisasi sekolah dengan pola kepemimpinan yang religius,
demokratis, adil, visioner, dan memberdayakan bawahan.
i. Memberikan layanan konsultasi tentang implementasi pendidikan karakter dalam
pembelajaran dan pembudayaan sekolah.

Budimansyah, dkk (2010)menyatakan bahwa dalam konteks mikro pada satuan pendidikan,
maka program pendidikan karakter perlu dikembangkan dengan mendasarkan pada prinsip-
prinsip sebagai berikut:

a. Berkelanjutan mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai karakter


bangsa merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik masuk sampai
selesai dari suatu satuan pendidikan.
b. Melalui semua subjek pembelajaran, pengembangan diri dan budaya satuan pendidikan
mensyaratkan bahwa proses pengembangan nilai-nilai karakter dilakukan melalui
kegiatan kurikuler setiap mata pelajaran/mata kuliah, kokurikuler dan ekstra kurikuler.
Pembinaan karakter melalui kegiatan kurikuler mata pelajaran/mata kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama harus sampai melahirkan dampak
instruksional (instructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect), sedangkan
bagi mata pelajaran/mata kuliah lain cukup melahirkan dampak pengiring.
c. Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan (value is neither caught nor taught, it is
learned) (Hermann, 1972) mengandung makna bahwa materi nilai-nilai dan karakter
bangsa bukanlah bahan ajar biasa. Tidak semata-mata dapat ditangkap sendiri atau
diajarkan, tetapi lebih jauh diinternalisasi melalui proses belajar. Artinya, nilai-nilai
tersebut tidak dijadikan pokok bahasan yang dikemukakan seperti halnya ketika
mengajarkan suatu konsep, teori, prosedur, atau pun fakta seperti dalam mata pelajaran
tertentu.
d. Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan. Prinsip ini
menyatakan bahwa proses pendidikan karakter dilakukan oleh peserta didik bukan oleh
guru. Guru menerapkan prinsip “tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang
ditunjukkan peserta didik. Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses pendidikan
dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang dan tidak indoktrinatif.
Sekolah dapat memperkokoh prinsip-prinsip tersebut agar sejajar dengan visi, misi,
tujuan, dan strategi sekolah. Visi yang perlu diusung misalnya, “Menjadi sekolah
terkemuka dalam pengembangan dan implementasi pendidikan karakter”. Misi yang
dapat dilakukan antara lain:

1) Menyelenggarakan kegiatan yang mengembangkan kepribadian dan kecerdasan.


Mengembangkan pembelajaran berbasis karakter di sekolah.
2) Mendukung kegiatan penelitian, pelatihan, dan publikasi ilmiah yang berfokus pada
tema-tema pendidikan karakter dan budaya di sekolah.
3) Mengimplementasikan budaya akademik, humanis, dan religius di sekolah.

D. Mengembangkan Model Penilaian Karakter Berbasis Penilaian Otentik

Mengembangkan Model Penilaian Karakter Berbasis Penilaian Otentik Mengacu pada


pendapat Budimansyah, dkk (2010), model pendidikan karakter dilakukan melalui tiga
modus yaitu :

1. Melalui penguatan Pendidikan Kewarganegaraan dalam kapasitasnya sebagai mata


pelajaran yang menjadi menu wajib bagi seluruh siswa yang diberikan pada masa-
masa awal siswa belajar di sekolah. Model yang pertama ini diarakan untuk
meningkatkan kualitas pembelajarn dengan menggunakan inovasi pembelajaran
untuk membina karakter siswa.
2. Mengoptimalkan Layanan Bimbingan Konseling kepada para siswa baik dari dalam
maupun dari luar jam pembelajaran yang diarahakan untuk mendorong siswa agar
mampu menyelesaikan masalah dirinya sendiri sehingga tumbuh kesadaran akan
segala potensi yang dimilikinya. Melalui berbagai pendekatan, game, strategi, dan
potensi-potensi yang dimiliki siswa dapat berkembang secara optimal, sehingga
siswa memiliki kepercayaan diri untuk berkembang.
3. Menyelenggarakan penelitian, pengamatan, sosialisasi, study tour atau perkemahan
yang merupakan menu wajib pada masa-masa akhir siswa menimba ilmu.
Pendidikan karakter melalui semua yang disebutkan diatas dapat mengarahkan siswa
untuk memantapkan berbagai karakter baik yang telah dibina di sekolah melalui
proses belajar sambil menjalani (learning by doing) dalam kehidupan masyarakat.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penilaian otentik (authentic assessment) didefinisikan sebagai seperangkat tugas


yang dikemas dalam konteks yang bermakna bagi siswa sehingga memungkinkan siswa
membuat hubungan antara pengalaman nyata dengan ide-ide yang dipelajarinya di
sekolah. Dalam prosesnya penilaian otentik berfokus pada kemampuan pemecahan
masalah yang memerlukan kemampuan berpikir tigkat tinggi dan berfokus pada tahapan
belajar yang lebih kompleks. Penilaian ii tidak hanya berkenaan dengan kemampuan
siswa menjawab pertanyaan bagaimana layaknya penilaian tradisional. Penilaian otentik
dikembangkan untuk menemukan apa yang siswa tahu dan apa yang siswa bisa lakukan
dengan pengetahuannya tersebut. Berdasarkan sudut pandang ini, penilaian otentik
adalah penilaian yang berkenaan dengan pemahaman dan implementasinya.

Sifat kepribadian biasa diukur melalui angka rata-rata pelaporan dari (self-
report)kuesioner kepribadian (untuk sifat khusus) atau penelusuran kepribadian
seutuhnya (personality inventory, serangkaian instrumen yang menyingkap sejumlah
sifat).

Strategi mengembangkan penilaian otentik dilakukan dengan: penentuan standar,


penentuan tugas autentik, pembuatan kriteria, pembuatan rubrik.

B. Saran

Diharapkan kepada mahasiswa dapat mempelajari dan memahami tentang penyakit pre-
eklampsia dan Eklampsia.

Dalam penyusunan makalah kami menyadari bahwa makalah ini sangatlah kurang dari
kesempurnaan, maka dari itu kami mengaharapkan kritik dan saran yang membangun
agar dalam penyusunan makalah selanjutnya dapat lebih baik
DAFTAR PUSTAKA

Aspsikologi.(2010). blogspot. www//http. Pengukur nilai kepribadian.co.id


diakses tanggal 7 November 2017

Burhanuddin.A.(2015).Wordpress. www//http. Penilaian otentik dalam penilaian karakter.co.id


diakses tanggal 5 November 2017

Watun.I. (2015).blogspot. www//http. Konsep dasar penilaian otentik.co.id

diakses tanggal 5 November 2017