Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam
keberhasilan pembangunan di segala bidang. Hingga kini pendidikan masih
diyakini sebagai wadah dalam pembentukan sumber daya manusia yang
diinginkan. Melihat begitu pentingnya pendidikan dalam pembentukan sumber
daya manusia, maka peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang wajib
dilakukan secara berkesinambungan guna menjawab perubahan zaman.
Sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan.
Perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam
dunia pendidikan. Akibatnya pendidikan nasional semakin mengalami kemajuan,
pendidikan di madrasah-madrasah juga telah menunjukkan perkembangan yang
sangat pesat. Perkembangan itu terjadi karena terdorong adanya pembaharuan
tersebut.
Agar tujuan dari pendidikan nasional dapat tercapai, telah banyak upaya-
upaya yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu seperti peningkatan kualitas guru,
pembaharuan kurikulum, pengadaan buku-buku pelajaran serta usaha-usaha lain
yang berkaitan dengan kualitas pendidikan.
Proses pembelajaran merupakan bagian terpenting dari kegiatan
pendidikan. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses
membelajarkan subjek didik/pembelajar yang direncanakan atau di desain,
dilaksanakan dan di evaluasi secara sistematis agar subjek didik/pembelajar dapat
mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Untuk dapat menyampaikan materi pembelajaran yang menarik seorang
guru harus mampu memilih pendekatan dan metode pembelajaran yang sesuai
1
dengan materi dan tujuan pembelajaran yang ingin di capai. Metode

1
Komalasari, Pembelajaran Kontekstual ..., hal. 80

1
pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran
kepada siswa. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang
dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat
berlangsungnya pengajaran.2
Bila Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan ilmu yang berangkat dari
fenomena keseharian, maka pembelajaran akan terasa lebih bermakna apabila
peserta didik mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, tidak hanya sekedar
mengetahuinya. Agar pembelajaran IPS dapat dirasakan lebih bermakna, maka
perlu dipilihkan metode yang tepat supaya peserta didik dapat aktif saat
pembelajaran berlangsung . Salah satu metode yang dapat diterapkan yaitu metode
Role Playing (bermain peran).
Berdasarkan uraian diatas, penulis bermaksud untuk membuat makalah
mengenai penerapan metode Role Playing dalam proses belajar mengajar IPS MI/
SD.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana penerapan Metode Role Playing pada mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS MI/SD)

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui Bagaimana penerapan Metode Role Playing pada mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS MI/SD)

2
Hamdani, Strategi Belajar Menjagar, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), hal. 80

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Metode Role Playing (Bermain Peran)


Bermain peran terdiri dari dua kata, yaitu bermain dan peran. Bermain
adalah sebuah aktivitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa mencari
kemenangan, dalam hal ini disebut playing. Bermain juga dapat di artikan sebagai
sebuah aktivitas bermain yang di lakukan dalam rangka mencari kesenangan dan
kepuasan, namun ditandai dengan adanya kemenangan dan kekalahan, dalam hal
ini disebut dengan game. Sedangkan peran atau Role adalah cara seseorang
berperilaku dalam posisi dan situasi tertentu.3
Role Playing adalah suatu metode mengajar yang merupakan tindakan yang
dilakukan secara sadar oleh sekelompok siswa dalam memperagakan secara
singkat tentang materi pembelajaran dengan memerankan tokoh. Metode role
playing (bermain peran) adalah metode yang melibatkan interaksi antara dua
peserta didik atau lebih tentang suatu topik atau situasi. Peserta didik melakukan
peran masing-masing sesuai dengan tokoh yang ia lakoni. Mereka berinteraksi
sesama mereka melakukan peran terbuka.4
Metode Role Playing adalah cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui
pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan
penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau
benda mati.5
Dalam proses pembelajarannya, metode role playing mengutamakan pola
permainan dalam bentuk dramatisasi. Dramatisasi dilakukan oleh kelompok siswa
dengan mekanisme pelaksanaan yang diarahkan oleh guru untuk melaksanakan

3
Rinoto Rin, “Pengertian Metode Bermain Peran dalam Pembelajaran” dalam
http://modelpembelajaransd.blogspot.nl diakses 09 Mei 2015

4
Martinis Yamin, Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran, (Jakarta: GP
Press Group, 2013), hal. 162

5
Hamdani, Strategi Belajar…, hal. 87

3
kegiatan yang telah di tentukan/direncanakan sebelumnya. Role playing lebih
menitik beratkan pada tujuan untuk mengingat atau menciptakan kembali
gambaran masa silam yang memungkinkan terjadi pada masa yang akan datang
atau peristiwa yang aktual dan bermakna bagi kehidupan sekarang.6
Esensi role playing adalah keterlibatan partisipan dan peneliti dalam situasi
permasalahan dan adanya keinginan untuk memunculkan resolusi damai serta
memahami apa yang dihasilkan dari keterlibatan langsung ini.7

Berikut pengertian Pole Playing menurut para ahli


 Menurut Gangel (1986) role playing adalah suatu metode mengajar
merupakan tindakan yang dilakukan secara sadar para pemain diskusi tentang
peran dalam kelompok.
 Menurut Blatner (2002), role playing adalah sebuah metode untuk
mengeksplorasi hal-hal yang menyangkut situasi social yang kompleks.
 Menurut Basri Syamsu, 2000,Role Playing sering kali dimaksudkan sebagai
suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah
berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain.
 Menurut Jill Hadfield, 1986, Role playing adalah sejenis permainan gerak
yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang
 Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’
peranperan yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di
dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar
peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun
kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/
alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih
menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan
pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.

6
Sri Anitah. dkk, Materi Pokok …, hal. 5.22

7
Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu Metodis
dan Paradigmatis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hal. 115

4
B. Sejarah lahirnya Metode Role Playing
Istilah "peran" berasal dari "Rolling" aktor script yang digunakan untuk
menggunakan lebih dari dua ribu tahun yang lalu di Yunani Kuno. Pada
waktunya, naskah menjadi bagian, dan aktor kemudian dikatakan memainkan
"peran" dari rolling tersebut, katakanlah, Othello atau Hamlet atau Ophelia atau
Desdemona.8
Tetapi juga dapat menciptakan sebuah peran, berimprovisasi kerja, dan
bahkan anak-anak yang melakukan hal ini sepanjang waktu di permainan
mereka. Ada semacam vitalitas yang menghadiri jenis kegiatan imajinatif, dan
seorang dokter muda di Wina sekitar tahun 1910 tertarik oleh sifat kreativitas
dan spontanitas. Sama seperti seniman modern menantang tradisi-tradisi lama,
jadi ada orang-orang yang melihat teater tradisional bertatahkan dengan bentuk
usang, emosional palsu dan mati. Dokter muda ini, Jacob L. Moreno (1889-
1974) berusaha untuk menghidupkan kembali teater dengan mengundang para
aktor berimprovisasi, dan awal "Theater of Spontanitas" pada tahun 1921
menjadi salah satu "improvisasi" kelompoknya.
Moreno menemukan bahwa aktivitas improvisasi dramatis adalah
terapi untuk aktor, dan mulai berpikir tentang penerapan pendekatan ini sebagai
individu. Setelah beremigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1925, Moreno
mengembangkan ide-ide ini menjadi sebuah metode yang disebutnya
"psikodrama." Selain menerapkannya untuk membantu kejiwaan pasien,
Moreno menemukan bahwa teknik-teknik dasar dapat dimodifikasi untuk
membantu kelompok-kelompok masalah sosial, dan disebut pendekatan ini
"sociodrama."
Moreno memiliki pikiran yang paling subur, dan merajut bersama-
sama banyak ide-ide yang terkait psikologi sosial dan dinamika kelompok. Dia
adalah salah satu pelopor kelompok psikoterapi dan bahkan terlibat dalam jenis

8
Wikipedia, “Ilmu Sosial” dalam http://id.m.wikipedia.org/wiki/ilmu_sosial,
diakses 30 Maret 2014

5
filsafat, menekankan perlunya menghargai pentingnya kreativitas dalam hidup.
(Dalam hal ini, pendekatan yang berhubungan dengan psikoterapis besar
lainnya, Otto Rank.) Dan sebagai psikolog sosial, namun latar belakangnya
merajut bersama dengan drama, ia mengembangkan konsep peran. Ada
beberapa orang lain dalam sosiologi dan antropologi juga berpikir tentang
peran, tapi Moreno menambahkan dimensi metodologi aktual yang
memungkinkan orang untuk merefleksikan cara mereka memainkan berbagai
peranan dalam hidup mereka.
Salah satu aspek dari permainan peran itu adalah diagnosis atau
penilaian - sebuah ujian bagaimana seseorang akan bertindak ketika
ditempatkan dalam khayalan atau berpura-pura dalam situasi problematis.
Menariknya, komando tinggi Jerman menggunakan metode ini dalam rangka
reformasi korps perwira mereka. Tujuannya adalah untuk melihat kemampuan
asli bukan tradisi lama yang menggunakan berpendidikan tinggi sebagai putra
bangsawan - terlalu banyak di antaranya yang jauh dari para pemimpin sejati.
Namun mengerikan dan tujuan-tujuan politik tentara ini kemudian bertugas, hal
itu berfungsi untuk membantu menciptakan organisasi yang sangat efektif.9
Pada akhir 1940-an Role Playing yang mulai diakui telah menjadi
bagian dari bisnis, komunitas, dan bentuk-bentuk lain dari bidang asl
tumbuhnya, apa yang menjadi pengembangan organisasi. Pada tahun 1970-an
secara luas digunakan sebagai bagian dari terapi perilaku untuk pernyataan
pelatihan dan pelatihan keterampilan sosial. Telah dikenal sebagai metode
dalam pendidikan sejak akhir 1940-an, tapi ada cukup banyak masalah dengan
penggunaan yang belum sepenuhnya "teruji."

9
Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui
Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), hal.8

6
C. Fungsi Metode Role Playing
Role Playing berfungsi untuk :10
(1) Mengeksplorasi perasaan siswa,
(2) mentransfer dan mewujudkan pandangan mengenai perilaku, nilai, dan
persepsi siswa,
(3) mengembangkan skill pemecahan masalah dan tingkah laku, dan
(4)
mengeksplorasi materi pelajaran dengan cara yang berbeda.18

D. Langkah-langkah Metode Role Playing


Langkah-langkah yang harus dilakukan guru dalam pembelajaran
menggunakan metode role playing yaitu sebagai berikut:11
1) Bila role playing baru ditetapkan dalam pengajaran, maka hendaknya guru
menerangkannya terlebih dahulu teknik pelaksanaannya, dan menentukan
diantara siswa yang tepat untuk memerankan lakon tertentu.
2) Menerapkan situasi dan masalah yang akan dimainkan dan perlu juga di
ceritakan jalannya peristiwa dan latar belakang cerita yang akan di pentaskan
tersebut.
3) Pengaturan adegan dan kesiapan mental dapat dilakukan sedemikian rupa.
4) Setelah role playing itu dalam puncak klimas, maka guru dapat menghentikan
jalannya drama.
5) Guru dan siswa dapat memberikan komentar, kesimpulan atau berupa catatan
jalannya role playing untuk perbaikan-perbaikan selanjutnya.

Secara umum langkah langlah yang dilakukan dalam pembelajaran dengan


metode role playing antara lain;
1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.

10
Nurhayani, “Metode Role Playing” dalam http://nurhay13.blogspot.com diakses
11 Mei
2015
11
Nurhayani, “Metode Role Playing” dalam http://nurhay13.blogspot.com diakses
11 Mei
2015

7
2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa
hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar..
3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang atau lebih
4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang
sudah dipersiapkan.
6. Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario
yang sedang diperagakan.
7. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja
untuk membahas/memberi penilaian atas penampilan masing-masing
kelompok.
8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
9. Guru memberikan kesimpulan secara umum.
10. Evaluasi.
11. Penutup.

Sebelum menerapkan metode pembelajaran role playing ini guru tentu harus
mempersiapkan skenario yang akan di perankan siswa. Contoh skenario yang dapat
dipakai untuk pembelajaran dengan metode role playing pada materi aritmatika
sosial ini adalah :
Tokoh:
1. Pak Rian sebagai pembeli dari toko grosir.
2. Bu Rian, istri pak Rian yang membantu pak Rian berjualan di toko.
3. Bu Ade sebagai karyawan toko gorsir “SERBA ADA”.
4. Yayu sebagai pembeli pertama.
5. Evi sebagai pembeli terakhir.
Suatu hari pak Rian pergi ke toko grosir ‘SERBA ADA untuk membeli 20 potong
busana muslim.
Pak Rian : “Selamat siang Bu”
Bu Ade : “Selamat siang Bapak, ada yang bisa saya Bantu?
Pak Rian : “Apa ada busana muslim model baru Bu”

8
Bu Ade :”oh ada Bapak, Bapak mau yang harga berapa?”
Pak Rian memilih beberapa odel baju. Akhirnya setelah sekian lama
memilih, pak Rian menemukan model busana yang diinginkan.
Pak Rian :”Saya pilih yang model ini saja bu, berapa harganya?”
Bu Ade :”Oh kalau itu, memang model yang paling digemari remaja-remaja
muslim akhir-akhir ini Bapak.bagus sekali pilihan bapak. Kalau
model yang ini satu kemasan terdiri dari ukuran M, L dan XL. Setiap
kemasannya kami beri harga Rp 120.000,00. Nanti ada beberapa
pilihan warna Bapak. Bapak mau ambil berapa kemasan?”
Pak Rian : “Ehm, kalu begitu saya ambil 10 kemasan”
Bu Ade :”Oh iya bapak, warna apa saja bapak?”
Bu Ade :”Warna merahnya 2, warna putihnya 3, warna hijaunya 2, warna
ungunya 1, dan warna jingganya 2”
Setelah menunggu beberapa saat,Bu Ade datang membawa barang yang dibeli pak
Rian dan nota pembelian pak Rian.
Bu Ade :”Ini bapak barangnya, dan ini nota pembeliannya”
Pak Rian :”jadi semuanya Rp. 1.200.000,00 Bu ya?, ini uangnya.”
Setelah pak Rian membayar busana yang dibelinya, pak Rian langsung pulang ke
tokonya dan menata busana yang baru saja dibelinya di etalase. Selang beberapa
menit, seorang pembeli datang ingin membeli busana muslim itu.
Pembeli 1 :”Berapa harga busana muslim ini, Pak?”
Pak Rian :”Kalau yang itu Rp. 65.000,00, Mbak”
Pembeli 1 :”Apa tidak boleh kurang, Pak?”
Bu Rian :”Mbak nawarnya berapa?”
Pembeli 1 :”Rp 50.000,00 boleh?”
Pak Rian :”Ya dinaikkan lagi to Mbak”
Pembeli 1 :”Pasnya berapa sih Bu?”
Bu Rian :”Ya sudah, saya kasihkan Rp 60.000,00 saja buat mbak, gimana?”
Pembeli 1 :” Tidak bisa kurang lagi ya Bu?”
Pak Rian :”Kan sudah dikurangi sama ibunya, pasnya ya segitu mbak, gimana
mbak, kalau jadi saya bungkuskan, saya beri bonus tas plastic

9
nanti.”
Pembeli 1 :”Ya sudah pak, saya jadi beli”
Akhirnya pembeli 1 membeli busana tersebut dengan harga Rp. 60.000,00.
Bu Rian :”Alhamdulillah ya Bapak, busana yang kita beli dengan harga Rp
40.000,00 dapat kita jual dengan harga Rp. 60.000,00”
Pak Rian :”Iya Bu, kita untung Rp. 20.000,00”
Akhirnya setelah beberapa hari, sisa dagangan busana muslim model baru pak
Rian tinggal satu potong. Selang beberapa menit sebelum pak Rian hendak
menutup tokonya, penjual yang terakhir datang.
Pak Rian :”Mau cari apa Mbak?”
Yayu :”Bapak, ada model busana muslim yang biasa digunakan artis
Syahrini itu lo pak?”
Pak Rian :”Oh yang ini, kebetulan sekali Mbak tinggal satu ini. Model ini
banyak yang cari. Wah kebetulan ukurannya sesuai dengan ukuran
badannya Mbak. Bagaimana Mbak, mau diambil?”
Yayu :”Ukurannya sih cocok Pak, tapi warnanya kok merah sih Pak, apa
tidak ada yang lain?”
Pak Rian :”Kan Bapak tadi sudah bilang, tinggal satu-satunya ini Mbak”
Yayu :”Berapa Pak harganya?”
Pak Rian :”Rp. 65.000,00 saja kok Mbak”
Yayu :”Boleh kurang kan Pak?”
Pak Rian :”Boleh, Mbak nawar berapa?”
Yayu :”Rp. 30.000,00 ya Pak?”
Pak Rian :”Waduh ya dinaikkan to Mbak, masa harga Rp. 65.000,00 Mbak
tawar Rp.30.000,00?”
Yayu :”Kalau ada warna yang lain saya mau Pak menaikkan agak banyak,
tapi yang ini saya agak tidak suka warnanya. Begini saja Pak, saya
tawar Rp.35.000,00. Bagaimana? Kalau tidak boleh ya sudah.”
Pak Rian :”Ya sudah Mbak, saya kasihkan Rp.35.000,00, lagian saya juga sudah
mau tutup.”
Yayu :”terima kasih pak, ini uangnya 35.000,00”

10
Akhirnya busana muslim model baru tersebut terjual habis. Di rumah pak
katiin bercerita kepada istrinya mengenai pembeli terakhir.
Pak Rian :”Bu, maaf ya, busana terakhir terjual hanya Rp.35.000,00”
Bu Rian :” Ya sudahlah Pak, tidak apa-apa, meskipun begitu, uang yang kita
dapat dari penjualan busana muslim itu saja sudah mencapai Rp.
1.635.000,00, kita sudah punya kelebihan dari biaya yang kita
keluarkan untuk membeli busana itu.”
Dalam skenario diatas selain hanya siswa diajak bermain peran tapi ia juga
dapat mengerti dan faham mengenai materi aritmatika sosial. Untuk mengatasi hal-
hal sepeti banyaknya waktu terbuang ataupun kekurangan waktu, maka seorang
guru harus dapat menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dengan
sebaik mungkin. Misalnya:

E. Manfaat Metode Role Playing


Manfaat yang dapat diambil dari penerapan metode Role Playing yaitu:12
1) Role playing dapat memberikan semacam hidden practice, dimana murid tanpa
sadar menggunakan ungkapan-ungkapan atau istilah-istilah baku dan
normative terhadap materi yang telah dan sedang mereka pelajari.
2) Role playing melibatkan jumlah murid yang cukup banyak.
3) Role playing dapat memberikan kepada murid kesenangan karena role playing
pada dasarnya adalah permainan. Dengan bermain murid akan merasa senang
karena bermain adalah dunia murid.

F. Kelebihan Metode Role Playing


Metode role playing melibatkan seluruh siswa dimana siswa dapat
berpartisipasi dan mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya

12

Intang, “Metode Pembelajaran Role Playing (Bermain Peran)”


dalam
http://pendidikanuntukindonesiaku.blogspot.com diakses 11 Mei 2015

11
dalam bekerja sama. Selain itu kelebihan dari metode role playing diantaranya
adalah:
1) Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2) Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam
jangka waktu dan situasi yang berbeda.
3) Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada
waktu melakukan permainan
4) Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

G. Kelemahan Metode Role Playing


Disamping memiliki kelebihan, metode role playing juga memiliki
kelemahan, diantaranya adalah:13
1) Bermain peran memakan waktu yang banyak
2) Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik
khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak di tugasi dengan baik. Siswa
perlu mengenal dengan baik apa yang akan di perankannya.
3) Bermain peran tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak
mendukung.
4) Jika siswa tidak di siapkan dengan baik, ada kemungkinan tidak akan
melakukan dengan sungguh-sungguh.
5) Tidak semua materi pelajaran dapat di sajikan dengan metode ini

H. Efektifitas dari metode bermain peran (role Playing)


Salah satu model pembelajaran yang dipandang kondusif dapat
meningkatkan efektifitas pembelajaran adalah metode pembelajaran Role
Playing. Melalui kegiatan role playing, pebelajar mencoba mengekspresikan
hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya, bekerja sama
dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama pelajar dapat
mengeksplorasi perasaan, sikap , nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah.

13
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), hal. 81

12
I. Kemungkinan-kemungkinan dari penggunaan metode Role Playing
Secara umum metode pembelajaran bermain peran/sosiodrama (Role
Playing) dapat digunakan apabila :14
a) Pelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan
perasaan seseorang
b) Pelajaran dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial
dan rasa tanggung jawab dalam memikul amanah yang telah dipercayakan
c) Jika mengharapkan partisipasi kolektif dalam mengambil suatu keputusan
d) Apabila dimaksudkan untuk mendapatkan ketrampilan tertentu sehingga
diharapkan siswa mendapatkan bekal pengalaman yang berharga, setelah
mereka terjun dalam masyarakat kelak
e) Dapat menghilangkan malu, dimana bagi siswa yang tadinya mempunyai
sifat malu dan takut dalam berhadapan dengan sesamanya dan masyarakat
dapat berangsur-angsur hilang, menjadi terbiasa dan terbuka untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya
f) Untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa
sehingga amat berguna bagi kehidupan dan masa depannya kelak, terutama
yang berbakat bermain drama, lakon film dan sebagainya.
g) Untuk meningkatkan kemampuan penalaran peserta didik secara lebih kritis
dan detail dalam pemecahan masalah.
h) Untuk meningkatkan pemahaman konsep dari materi yang diajarkan.

J. Factor-faktor yang mempengaruhi penggunaan/penarapan metode Role


Playing
 Factor Penghambat Metode Role Playing15
1. Segi waktu

14
Djamarah dan Zain, Strategi Belajar…, hal. 82
15
Nurhayani, “Metode Role Playing” dalam http://nurhay13.blogspot.com diakses
11 Mei
2015

13
Waktu yang dibutuhkan dalam pembelajarn apresiasi drama dengan strategi
ini lebih lama dibandingkan dengan pembelajaran lainnya. Apalagi bagi
siswa yang masih awam tentang bermain peran/ drama. Mereka
membutuhkan waktu untuk menghafalkan dialog-dialog teks drama yang
akan diperankan;
2. Materi/ bahan
Materi yang dibutuhkan dalam pembelajaran ini masih sangat terbatas. Di
perpustakaan sekolah buku-buku, majalah, yang ada hubungannya dengan
pembelajaran apresiasi drama masih sedikit. Hal ini sangat menghambat
kelancaran proses pembelajaran apresiasi drama;
3. Guru,
Kurangnya pengetahuan guru tentang drama, sehingga pembelajaran drama
menjadi tidak menarik. Bahkan cenderung terkesan diabaikan, hanya
sekedar teori. Sedangkan pelaksanaan/ praktek bermain drama masih
sangat kurang;
4. Siswa,
Siswa kurang memahami tentang bermain drama. Kurangnya keberanian
dalam memerankan seorang tokoh. Mereka masih cenderung menghafalkan
saja,sehingga penjiwaannya kurang.
 Factor Pendorong Metode Role Playing
o Siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan
yang akan didramakan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi
cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya.
Dengan demikian, daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama.
o Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu main drama
para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan
waktu yang tersedia.
o Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan
muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah. Jika seni drama mereka
dibina dengan baik kemungkinan besar mereka akan menjadi pemain yang
baik kelak.

14
o Kerja sama antarpemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-
baiknya.
o Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab
dengan sesamanya.
o Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah
dipahami orang lain.

15
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Role play adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui


pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan
penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup ataupun
sebagai benda mati.
Bermain peran (role playing) banyak melibatkan siswa untuk beraktivitas
dalam pembelajaran dan akan menciptakan suasana yang menggembirakan
sehingga siswa senang dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Dengan
demikian kesan yang didapatkan siswa tentang materi yang sedang dipelajari akan
lebih kuat, yang ada pada akhirnya dapat meningkatkan pemahaman dan hasil
belajar siswa.
Metode role playing memiliki kelibihan dan kekurangan,untuk itu dalam
pembelajaran sebaiknya memadukan berbagai macam metote pembelajaran yang
lain sesuai dengan meteri yang menjadi pokok pembahasan belajar mengajar.

B. Saran
Penulisan makalah ini tentunya jauh dari sempurna untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga dapat menjadi
referensi penulis dalam memperbaiki malakah ini.Atas kritik dan sarannya penulis
ucapkan terima kasih.

16
DAFTAR RUJUKAN

Anitah, Sri. dkk. 2011. Materi Pokok Strategi Pembelajaran SD. Jakarta:
Universitas Terbuka
Arifin, Zainal. 2011. Evaluasi Pembelajaran (Prinsip, Teknik, dan
Prosedur). Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Arikunto, Suharsimi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakaarta: PT Bumi
Aksara
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 1997. Strategi Belajar
Mengajar.Jakarta: PT Rineka Cipta
Ekawarna. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: GP Press, 2009
Fathurrohman, Pupuh dan Sutikno, Sobry. 2009. Strategi Belajar Mengajar
Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami. Bandung:
PT Refika Aditama
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Menjagar. Bandung: Pustaka Setia
Hardini, Isriani dan Puspitasari, Dewi. 2012. Strategi Pembelajaran
Terpadu: Teori, Konsep & Implementasi. Yogyakarta: Familia
Huda, Miftahul. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-isu
Metodis dan Paradigmatis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Imron, Ali. 2012. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah. Jakarta: PT
Bumi Aksara
Intang. “Metode Pembelajaran Role Playing (Bermain Peran)”
dalam
http://pendidikanuntukindonesiaku.blogspot.com diakses 11 Mei
2017

17