Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM PENGANTAR FISIOLOGI TANAMAN

TRANSPORT XYLEM

Ajeng Trimaya Hastari (J3G116004)

PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH

PROGRAM DIPLOMA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2017
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Transportasi tanaman adalah pemindahan hasil asimilasi dari daerah sumber ke
daerah pemanfaatan terjadinya melalui pembuluh tapis. Untuk mengangkut hasil fotosintesis
dari daun ke seluruh bagian tumbuhan serta mengangkut air dan garam mineral dari akar ke
daun, tumbuhan menggunakan jaringan pengangkut. Jaringan pengangkut tersebut terdiri dari
Xilem (pembuluh kayu) dan Floem (pembuluh tapis). Xilem disusun oleh trakeid, trakea,
pembuluh parenkim kayu, dan sklerenkim kayu atau serabut kayu. Xilem berfungsi untuk
mengangkut air dan garam mineral dan dari dalam tanah menuju ke daun. Lalu floem disusun
oleh sel ayakan atau tapis, pembuluh tapis, sel pengiring, sel parenkim kulit kayu, dan serabut
kulit kayu atau sel sklerenkim. Floem berfungsi untuk mengangkut zat-zat hasil fotosintesis
ke seluruh bagian tubuh. Xilem dan floem bersatu membentuk suatu ikatan pembuluh angkut
(Kusnadi 2012).
Kecepatan perjalanan zat-zat terlarut melalui pembuluh kayu atau xilem dipengaruhi
oleh kegiatan transpirasi, dan perjalanan transportasi dan fotosintesis. Pada waktu siang,
kecepatan transpirasi lebih besar dari pada waktu malam. Sebaliknya pengiriman karbohidrat
dari daun ke buah yang sedang berkembang berlangsung lebih cepat pada malam hari dari
pada di siang hari (Fitther dan Hay 1991). Jaringan pengangkut atau vaskular
tissue umumnya hanya terdapat pada tumbuhan tingkat tinggi, sedangkan pada tumbuhan
tingkat rendah pengangkutan air dan zat-zat makanan cukup dilangsungkan dari sel-sel lain,
hanya pada tumbuhan tingkat tinggi terutama yang hidup dan berkembang di daratan yang
organ serta alat-alat yang dipunyai adalah lebih besar dan kompleks dibandingkan tumbuhan
tingkat rendah (Tjitrosomo 1990).
Peran penting dari pembuluh angkut pada tanaman, air juga sangat berperan penting
dalam proses tranportasi mineral dan dalam keberlangsungan semua sistem kehidupan secara
umum. Air bagi tanaman mutlak diperlukan, tanpa air tidak akan ada pertumbuhan tanaman.
Status air dalam tubuh atau jaringan tanaman ditentukan oleh laju penyerapan air dan proses
kehilangan air melalui proses transpirasi. Penyerapan air yang tidak cukup oleh akar
tumbuhan akan menimbulakan defisit air dalam tumbuhan, termasuk sel-sel daun yang akan
mengakibatkan penurunan evaporasi air dari daun sehingga laju transpirasi menjadi rendah.
Air pada sistem tanaman akan bergerak dari sumber air di dalam tanah, ke perakaran dan
melewati jaringan xylem yang tersusun secara kontinyu mulai dari akar, batang dan daun. Air
dapat diserap tanaman melalui akar bersama-sama dengan unsur-unsur hara yang terlarut
didalamnya, kemudian diangkut kebagian atas tanaman, terutama daun, melului pembuluh
xylem. Pembuluh xylem pada akar, batang dan daun merupakan suatu system yang kontinyu,
berhubungan satu sama lain ( Lakitan 2004 ). Di samping itu, air adalah komponen utama
dalam proses fotosintesis, pengangkutan assimilasi hasil proses ini ke bagian-bagian tanaman
hanya dimungkinkan melalui gerakan air dalam tanaman. Dengan peranan tersebut di atas,
jumlah pemakaian air oleh tanaman akan berkorelasi posistif dengan produksi biomase
tanaman, hanya sebagian kecil dari air yang diserap akan menguap melalui stomata atau
melalui transpirasi (Dwidjoseputro 1984).
Tujuan
Tujuan dari percobaan ini mempelajari transportasi xylem dalam bunga potong untuk
memperpanjang masa hidup bunga serta fungsi dalm tanaman,mempelajari system pembuluh
angkut dalam tanaman dan mengetahui pengaruh pemberian gula pada tamana.

TINJAUAN PUSTAKA
Sistem jaringan pembuluh padaumbuhan terdiri dari dua jaringan yaitu xilem dan
floem yang berfungsi transport air dan materi organik ke seluruh bagian tumbuhan dan
melakukan transport jarak jauh antara akar dan taruk (Iriawati 2009). Fungsi utama xylem
adalah mengangkut air serta zat-zat yang terlarut didalamnya. Floem berfungsi mengangkut
zat makanan hasil fotosintesis. Pada batang berkas xylem umumnya berasosiasi dengan floem
pada satu ikatan pembuluh. Kombinasi xylem dan floem membentuk sistem jaringan
pembuluh di seluruh tubuh tumbuhan, termasuk semua cabang batang dan akar.
Xilem, terdiri dari trakeid, trakea atau pembuluh kayu, parenkim xylem, dan serabut
atau serat xylem. Berdasarkan asal terbentuknya terbagi menjadi xylem primer dan xylem
sekunder. Xilem primer berasal dari prokambium sedangkan xilem sekunder berasal dari
kambium. Berdasarkan proses terbentuknya xilem primer dapat dibedakan menjadi
protoxylem dan metaxylem. Protoxilem adalah xylem primer yang pertama kali terbentuk
sedangkan metaxilem yang terbentuk kemudian.
Floem terdiri dari unsur tapis (sel tapis dan komponen pembuluh tapis), sel pengiring /
sel pengantar, parenkim dan serabut / serat floem. Berdasarkan asal terbentuknya terbagi
menjadi floem primer dan floem sekunder. Floem primer berasal dari prokambium sedangkan
floem sekunder berasal dari cambium. Berdasarkan proses terbentuknya floem primer terdiri
dari protofloem dan metafloem. Protofloem adalah floem primer yang pertama kali terbentuk
sedangkan metafloem terbentuk kemudian.
Air diserap tanaman melalui akar bersama-sama dengan unsur-unsur hara yang
terlarut di dalamnya, kemudian diangkut ke bagian atas tanaman, terutama daun, melalui
pembuluh xilem. Pembuluh xilem pada akar, batang, dan daun merupakan suatu sistem yang
kontinu, berhubungan satu sama lain. Untuk dapat diserap oleh tanaman, molekul-molekul air
harus berada pada permukaan akar. Dari permukaan akar ini air bersama-sama bahan-bahan
yang terlarut diangkut menuju pembuluh xilem.
Menurut Lakitan 2012, ada 4 teori yang menjelaskan tentang pengangkutan air di
dalam pembuluh xilem yaitu:
 Teori tekananan akar. Pada awalnya diperkirakan air naik ke bagian atas tanaman
karena adanya tekanan dari akar. Hal inidasarkan atas fakta bahwa jika batang
tanaman dipotong dan kemudian dihubungkan dengan selan manometer air raksa,
maka air di dalam selang akan terdorong ke atas oleh tekanan yang berasal dari akar.
Tetapi dari hasil pengukuran yang intensif pada berbagai jenis tanaman, maka
besarnya tekanan tersebut umumnya tidak lebih dari 0,1 Mpa (mega pascal). Selain itu
tekanan akar hanya teramati pada kondisi tanah yang berkecukupan air dan
kelembaban udara relatif tinggi, atau dengan kata lain pada saat laju transpirasi sengat
rendah.
 Teori kapilaritas. Kapilaritas merupakan gejala yang timbul akibat interaksi antara
permukaan benda padat dengan benda cair yang menyebabkan gangguan terhadap
bentuk permukaan cairan yang semula data. Didalam pipa yang kecil, hal ini
menyebabkan naiknya permukaan cairan. Hal ini disebabkan karena cairan ditarik
oleh dinding bagian dalam pipa oleh gaya adhesi. Secara visual hal ini terlihat dari
bentuk permukaan cairan (meniscus) di dalam pipa. Tinggi permukaan ciran yang di
dalam pipa kapiler sangat tergantung pada diameter pipa kapiler tersebut.
 Teori sel pemompa. Pada abad ke-19 diyakkini bahwa pergerakan vertikal air dari
akar ke daun adalah karena adanya peranan sel-sel khusus yang berfungsi
memompakan air ke atas. Sel-sel ini diperkirakan berada pada setiap interval jarak
tertentu dan pada possi yang berurutang secara suksesif. Setiap sel pemompa bertugas
memompkan air sampai pada posisi sel pemompa yang berada diatasnya. Hal ini
berlangsung secara kontinu dari akar sampa ke daun. Tetapi hasil kajian natomis yang
teliti gagal menemukan keberadaan sel-sel pemompa ini.
 Teori kohesi. Ada 3 elemen dasar dari teori kohesi untuk menjelaskan pergerakan
vertikal air dalam tubuh tumbuhan, yaitu tenaga pendorong (driving force), hidrasi
pada lintasan yang dilalui, dan gaya kohesi antara molekul air.

Dari keseluruhan teori tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa teori yang mampu
untuk menjelaskan pergerakan vertikal air di dalam pembuluh xilem adalah teori kohesi yang
didasarkan atas tiga konsep yakni adanya perbedaan potensi air antara tanah dan atmosfir
sebagai tenaga pendorong, adanya tenaga hidrasi dinding pembuluh xilem yang mampu
mempertahankan molekul air terhadap gaya gravitasi, dan adanya gaya kohesi antara molekul
air yang menjaga keutuhan kolom air di dalam pembuluh xilem.
METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum dilaksanakan pada hari selasa tanggal 03 Oktober 2017 di laboratorium CA


BIO 1 Cilibende IPB pada pukul 07.00-11.00 WIB.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah gelas plastic beserta
tutupnya sebanyak 9 buah,gelas ukur dan timbangan digital.Bahan yang digunakan adalah
bunga potong krisan warna putih dan kuning serta bunga potong sedap malam,air dan larutan
gula.

Metode Kerja
Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan. Timbang gula sebanyak 4 gram untuk
membuat larutan sukrosa 2% dan timbang gula sebanyak 10 gram untuk larutan sukrosa 5%.
Campurkan ke dalam 200ml air dalam gelas pelastik, lalu diaduk sampai larut dan setelah itu
larutan gula ditutup dengan tutup botol plastik. Potong bunga krisan ± 40cm dan daun pada
tanaman krisan disisakan lima helai, kemudian dimasukan ke dalam larutan percobaan yaitu
kontrol, gula 2% dan gula 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Tabel 1 Pengamatan Bunga Krisan Kuning (KK) 0 Sukrosa(kontrol)
Tingkat Kemekaran Tingkat
Kel Perlakuan
0% 25% 50% 75% 100% kelayuaan
1 KK0 2,2 1,8 1,8 0,6 0,2 1,6
2 KK0 - - 0,6 0,3 0,43
3 KK0 0,57 0,43 1,57 1 2,43 -
4 KK0 2.43 1.71 1.00 1.07 1.57 2.43
5 KK0 1,5 2 1,5 1,3 4
6 KK0 0,7 3,2 3 2,7 1,2 0,0
Rata-rata 1.48 1.83 1.58 1.16 1.64 2.02

Tabel 2 Pengamatan Bunga Krisan Kuning(KK) 2% Sukrosa


Tingkat Kemekaran Tingkat
Kel Perlakuan
0% 25% 50% 75% 100% kelayuaan
1 KK20% - 1,6 1,4 0,4 0,8 2,4
2 KK20% - - 0,3 0,6 0,28
3 KK20% 1,29 0,57 0,57 1,71 4 -
4 KK20% 0.64 0.57 2.00 0.50 0.50 0.64
5 KK20% 1,5 1,3 1 1 3
6 KK20% - 1,2 2,8 0,4 1,1 1
Rata-rata 1.14 1.05 1.35 0.77 1.61 1.35

Tabel 3 Pengamatan Bunga Krisan Kuning(KK) 5% Sukrosa


Tingkat Kemekaran Tingkat
Kel Perlakuan
0% 25% 50% 75% 100% kelayuaan
1 KK50% 0,8 0,8 0,2 1 0.6 2
2 KK50% - - 0,75 0,57 1,64
3 KK50% 0,14 0,43 0,29 1,43 3,86 0
4 KK50% 3.57 0.86 1.79 1.00 2.36 3.57
5 KK50% 1,5 1 1,5 1,6 4
6 KK50% 0,4 1,2 2 1,7 0,8 1
Rata-rata 1.28 0.86 1.09 1.22 2.21 1.64

Tabel 4 Bunga Sedap Malam (SM) 0% Sukrosa (Kontrol)

Tingkat Kemekaran Tingkat


Kel Perlakuan
0% 25% 50% 75% 100% kelayuaan
1 SM0 19,8 2,5 1 1 2,8 16,4
2 SM0 - 0,57 1,23 0,72 2,4
3 SM0 33 2 1,86 1,43 11,14 -
4 SM0 17.86 2.71 0.79 1.21 1.29 17.86
5 SM0 24,1 4,6 2,6 2,1 3,6
6 SM0 26,1 0,5 0,4 0 1,8 6,5
Rata-rata 24.17 2.15 1.31 1.08 3.84 13.59

Tabel 5 Bunga Sedap Malam (SM) 2% sukrosa

Tingkat Kemekaran Tingkat


Kel Perlakuan
0% 25% 50% 75% 100% kelayuaan
1 SM20% 20,6 1,4 0,4 2,2 1 22,6
2 SM20% - 0,72 1.11 0,84 2,15
3 SM20% 31,43 2,43 1,71 1,71 4,57 -
4 SM20% 13.93 0.14 0.36 0.50 2.86 13.93
5 SM20% 22 0,8 1 2 6
6 SM20% 25,3 0,4 0,5 0,2 1,8 6,2
Rata-rata 22.65 0.98 0.85 1.24 3.06 14.24

Tabel 6 Bunga Sedap Malam(SM) 5% sukrosa

Tingkat Kemekaran Tingkat


Kel Perlakuan
0% 25% 50% 75% 100% kelayuaan
1 SM50% 22,2 1 1,4 3 2 15,8
2 SM50% - 0,52 1,25 0,56 1,97
3 SM50% 28,86 1,57 2,71 2,71 6 -
4 SM50% 14.00 0.07 0.57 0.86 1.21 14.00
5 SM50% 8,6 1,6 1,3 0,6 1,2
6 SM50% 26,3 0,8 0,3 1,4 3,7 7
Rata-rata 19.99 0.93 1.26 1.52 2.68 12.27

Tabel 7 Bunga Krisan Putih(KP) 0 sukrosa (kontrol)

Tingkat Kemekaran Tingkat


Kel Perlakuan
0% 25% 50% 75% 100% kelayuaan
1 KP0 1,8 0,8 2,2 1,2 0,4 1
2 KP0 - - 0,16 0,16 1
3 KP0 1 1 1,57 1,29 3,85 -
4 KP0 2.93 0.86 1.93 1.36 1.86 0.86
5 KP0 2,1 1,5 4,5 4,8 2,6
6 KP0 - 1 0,7 0,5 3,8 0,4
Rata-rata 1.96 1.03 1.84 1.55 2.25 0.75

Tabel 8 Bunga Krisan Putih(KP) 2% sukrosa

Tingkat Kemekaran Tingkat


Kel Perlakuan
0% 25% 50% 75% 100% kelayuaan
1 KP20% 1,6 0,6 0,4 2 1,8 1,4
2 KP20% - - - 1,3 1,3
3 KP20% - 2,43 0,86 2 2,86 -
4 KP20% 0.93 0.07 0.64 0.93 5.64 0.07
5 KP20% 3,6 2,6 2,5 2,8 4,8
6 KP20% - 1,2 0,8 1,1 2,2 0,2
Rata-rata 2.04 1.38 1.04 1.69 3.10 0.14

Tabel 9 Bunga Krisan Putih(KP) 5% sukrosa

Tingkat Kemekaran Tingkat


Kel Perlakuan
0% 25% 50% 75% 100% kelayuaan
1 KP50% - 0,6 1,6 - 1,4 2
2 KP50% - - - 1 1,83
3 KP50% 0,86 0,43 1,57 2,14 2,29 -
4 KP50% 3.07 0.86 1.00 0.57 2.79 0.86
5 KP50% 2,8 3,5 1,5 2,3 3,8
6 KP50% 0,5 0,7 1,1 1,1 4,4 -
Rata-rata 1.81 1.22 1.35 1.42 2.75 1.43

Pembahasan
Untuk tingkat kemekarannya berbeda-beda dari setiap bunga, bunga krisan putih
tingkat kemekaran tertinggi terdapat di 100% baik diperlakuan kontrol, larutan gula 2%,
maupun larutan gula 5%. Untuk bunga krisan kuning dengan perlakuan kontrol tingkat
kemekaran berada di 25%, sedangakan perlakuan larutan gula 2% dan laruran gula 5%
terdapat di 100%. Untuk sedap malam tingkat kemekaran tertinggi terdapat di 0% atau pada
saat dipotong baik di perlakuan kontrol, larutan gula 2% dan larutan gula 5%.

Dari grafik yang dihasilkan oleh tanaman krisan kuning menunjukkan bahwa tingkat
kelayuan terendah terdapat pada perlakuan larutan gula2%, sedangkan tingkat kelayuan
tertinggi terdapat diperlakuan kontrol dan perlakuan larutan gula 5% terdapat diantaranya,

Tingkat Kelayuan Tanaman Krisan


Kuning
2.5

1.5

0.5

0
0% Larutan gula 2% Larutan gula 5 %

Gambar 1 Grafik Tingkat Kelayuan Tanaman Krisan Kuning


Dari hasil grafik data kelas tanaman krisan putih didapatkan hasil bahwa tingkat
kelayuan yang paling rendah terjadi diperlakuan larutan gula 2%, sedangkan tingkat kelayuan
tertinggi terjadi diperlakuan larutan gula 5% dan perlakuan kontrol tingkat kelayuannya
berada di tengah-tengah dengan hasil 0,75.

Tingkat Kelayuan Tanaman Krisan


Putih
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0% Larutan gula 2% Larutan gula 5 %

Gambar 2 Grafik Tingkat Kelayuan Tanaman Krisan Putih


Grafik yang dihasilkan tanaman sedap malam menunjukkan bahwa di perlakuan
larutan gula 2% tingkat kelayuannya yang paling tinggi dengan 14,24, sedangkan perlakuan
larutan gula 5% menempati posisi ketiga dengan 12,27, dan perlakuan kontrol berada di
tengahnya dengan 13,59.

Tingkat Kelayuan Tanaman Sedap


Malam
14.5
14
13.5
13
12.5
12
11.5
11
0% Larutan gula 2% Larutan gula 5 %

Gambar 3 Grafik Tingkat Kelayuan Tanaman Sedap Malam

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasilnya sangat
beragam dan terdapat perbedaan. Dari kedua tanaman krisan tingkat kelayuan terendah
beraga di perlakuan larutan gula 2%, jika konsentrasi larutan gula terlalu tinggi akan merusak
bunga terutama bagian petal dan daun pelindung telinga. Hal ini diduga karena penggunaan
konsentrasi larutan sukrosa yang tinggi dari lingkungan yang terbentuk di luar sel adalah
hipertonik, dan hipotonik pada bagian dalam sel sehingga terjadi peristiwa plasmolisis.
Sejalan dengan pendapat Yuniati (2008) bahwa faktor tinggi atau rendahnya konsentrasi
dalam menggunakan media pengawet merupakan hal yang sangat penting dalam
mempertahankan kesegaran bunga potong karena pada konsentrasi yang tinggi dapat
menyebabkan efek plasmolisis, sehingga proses kelayuan dapat berjalan lebih cepat.
Berbeda halnya dengan tanaman sedap malam, tingkat kelayuan yang paling tinggi
terdapat pada perlakuan larutan gula 2% berbanding terbalik dengan dua tanaman krisan.
Tetapi jika konsentrasi larutan gula 5%, tanaman sedap malam menjadi lebih awet karena
tingkat kelayuannya sangat rendah.
KESIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
 Pada perlakuan kontrol membuat bunga krisan dan sedap malam tetap terlihat segar.
 Perlakuan larutan sukrosa 2% membuat tanaman bunga sedap malam mengalami
tingkat kelayuan yang tinggi.
 Perlakuan larutan sukrosa 5% membuat tanaman bunga sedap malam dan larutan
sukrosa 2% membuat tanaman bunga krisan mengalami tingkat kelayuan yang
rendah.

Saran
Saran untuk materi transport xylem perlu di lakukan penelitian yang lebih mendalam
dan teliti supaya mengetahui kepastian dari hasil data-data yang didapat dan juga lebih
akurat, sehingga tidak didapat data yang rancu. Lalu pengamatan dilakukan secara rutin
setiap hari selama 6 HST agar dapat terpantaunya kondisi tanaman sebagai objek penelitian.
Dalam pelaksanaan penelitian mahasisa/mahasiswi harus lebih teliti dan cermat, dan
diperlukan uji ulang terhadap hasil penelitian.
Kritik dan saran dari dosen dan asisten dosen serta pembaca sangat saya butuhkan
untuk kesempurnaan laporan praktikum ini.

DAFTAR PUSTAKA

Feryanto, Indra. 2011. Panduan Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Fakultas Pertanian


Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung. (JURNAL)
Lakitan, B. 1996. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. CV Rajawali, Jakarta.
Sumadi dan M. Aditya. 1989. Biologi Sel. Graha Ilmu, Jakarta.
Tania, Meta. 2013. LAPORAN FISTUM JARINGAN TRANSPORT
AIRhttp://laveniaovi.wordpress.com/2013/01/08/laporan-fistum-jaringan-transport-air/.
Yuniati E. 2008. Pengaruh konsentrasi larutan sukrosa dan waktu perendaman terhadap
kesegaran bunga sedap malam potong (Polianthes tuberosa L.), Jurnal Biocelebes, Vol.
2 No. 1, FMIPA UNTAD , Palu.

LAMPIRAN