Anda di halaman 1dari 10

PERBANDINGAN DAN PENENTUAN WINDOW EFEKTIF PADA TIGA METODE PENENTU WAKTU TIBA

GEMPA UNTUK KEJADIAN GEMPA VULKANO TEKTONIK DI GUNUNG MERAPI

Fathia Lutfiananda1; Drs. Imam Suyanto, M.Si.1; Ir. Agus Budi Santoso, M.Sc.2
1
Universitas Gadjah Mada, 2BPPTKG

Intisari

Terdapat beberapa metode penentu waktu tiba gempa yang dapat digunakan pada data
rekaman seismik gunungapi Merapi. Beberapa metode tersebut adalah metode STA/LTA,
LTE/STE, dan MER. Ketiga metode tersebut memanfaatkan perhitungan nilai amplitudo dalam
suatu rentang waktu tertentu guna menentukan waktu tiba gempa dalam suatu rekaman.
Rentang waktu tersebut sering disebut sebagai window, dan menjadi salah satu hal yang
mempengaruhi keberhasilan metode dalam menentukan waktu tiba gempa. Oleh karena itu
perlu ditentukan rentang window efektif pada masing-masing metode.

Dari hasil uji coba pada 5 kejadian gempa Vulkano Tektonik di Gunung Merapi, maka
dapat disimpulkan bahwa rentang window efektif metode STA/LTA adalah antara 0.5 hingga 1.2
detik untuk STA dan 60 detik hingga 120 detik untuk LTA. Pada metode LTE/STE rentang
window efektifnya adalah 0.5 hingga 1.3 detik untuk LTE dan 0.05 hingga 0.25 detik untuk STE.
Pada metode MER memiliki rentang window efektif pada 1 hingga 1.05 detik. Dari ketiga
metode tersebut, metode MER memberikan respon paling stabil dan baik dibanding metode
STA/LTA dan LTE/STE dalam menentukan waktu tiba gempa.

Kata kunci : Waktu tiba gempa vulkanik, STA/LTA, LTE/STE, MER, Window efektif, Vulkano
Tektonik, Gunung Merapi

Pendahuluan hingga metode berbasis jaringan syaraf


tiruan. Metode penentuan waktu tiba
Besarnya jumlah data digital yang direkam, gempa yang umum dikembangkan adalah
maka analisis terhadap penentuan waktu dengan menghitung akumulasi nilai
tiba kejadian gempa juga akan amplitudo dalam rentang waktu tertentu
membutuhkan lebih banyak tenaga ahli yang sering disebut sebagai window. Lebar
untuk mengolahnya. Maka untuk window yang digunakan sering kali akan
memudahkan hal tersebut kini telah banyak sangat berpengaruh terhadap ketepatan
metode perhitungan yang dikembangkan metode dalam menentukan waktu tiba
guna menentukan dan menghitung waktu gempa, selain karena beberapa faktor
tiba suatu gempa dalam data rekaman lainnya. Penentuan waktu tiba gempa ini
seismik. Metode yang dikembangkan menjadi krusial ketepatannya karena akan
tersebut mulai dari yang sederhana dengan sangat mempengaruhi dalam perhitungan
menghitung nilai perbandingan amplitudo hiposenter gempa dan dalam upaya

1
penggambaran kondisi bawah permukaan
suatu gunungapi aktif. Metode penentuan
waktu tiba gempa yang menggunakan Dasar Teori
perhitungan akumulasi nilai amplitudo
dalam suatu rentang window tertentu Karakteristik Gempa Volcano Tectonic
diantaranya adalah metode STA/LTA yang Pada Gunung Merapi
pertama kali dikembangkan oleh Rex V. Hingga saat ini ada 5 jenis klasifikasi
Allen pada tahun 1978, metode LTE/STE gempa yang sering digunakan pada
yang diperkenalkan oleh Agus Budi Santoso pengamatan seismik Gunung Merapi
pada tahun 2014, metode Modified Energy (Ratdomopurbo, 1995; Ratdomopurbo dan
Ratio oleh Lejia Han dan Joe Wong pada Poupinet, 2000). Jenis klasifikasi tersebut
tahun 2010. Pengujian metode penentuan adalah :
waktu tiba gempa tersebut umumnya
1. Volcano Tectonic (VT)
dilakukan pada rekaman data mikroseismik
2. Low Frequency (LF)
ataupun rekaman data gempa tektonik,
3. Multiphase (MP)
masih sangat sedikit penelitian yang
4. Tremor
mengujikan aplikasi metode tersebut pada
5. Rockfall (Guguran)
rekaman data seismik yang berasal dari
Gempa Volcano Tectonic dicirikan
gunungapi. Selain itu, sering kali tidak
dengan waktu onset yang jelas dengan
dibahas secara lebih detail tentang lebar
rentang frekuensi yang lebar. Tipe gempa
window yang harus agar metode penentu
ini tampak mirip dengan gempa tektonik
waktu tiba tersebut dapat berfungsi dengan
pada umumnya dan berkorelasi dengan
baik.
pergerakan batuan yang menyusun
Tujuan Penelitian lingkungan sekitarnya, dan memiliki
Tujuan dilakukannya penelitian ini mekanisme double-couple (McNutt, 1996).
adalah : Hal yang membedakan VT dengan gempa
tektonik adalah kemunculan VT
1. Menguji metode STA/LTA, LTE/STE, dan berhubungan dengan aktivitas vulkanik,
MER pada rekaman seismik yang umumnya didahului dengan munculnya
terdapat kejadian gempa Volcano swarm dan tidak ada kejadian shock-
Tectonic (VT) yang berasal dari Gunung aftershock pada gempa VT (McNutt, 2000).
Merapi. Pada Gambar 3.1 ditampilkan contoh
2. Menentukan rentang window efektif waveform dari kejadian VT B pada stasiun
pada masing-masing metode Jurang Grawah dan Pasarbubar. Jurang
penentuan waktu tiba gempa yang Grawah merupakan stasiun seismometer
diujikan. broadband yang terletak di bagian utara
3. Membandingkan hasil perhitungan Gunung Merapi pada ketinggian sekitar
waktu tiba dari metode STA/LTA, 1900 mdpl dengan jarak dari puncak sekitar
LTE/STE, dan MER serta menentukan 2,4 km. Sedangkan Pasarbubar stasiun
metode penentuan waktu tiba gempa seismometer broadband terletak di
yang dapat diaplikasikan dengan baik ketinggian 2679 mdpl dengan arah sekitar
pada rekaman seismik yang terdapat N30°E. Dari Gambar 3.1 dapat diamati jika
kejadian gempa Volcano Tectonic (VT) amplitudo gempa VT bernilai lebih besar
yang berasal dari Gunung Merapi.
2
pada stasiun dekat puncak (Pasarbubar)
dibanding yang berada lebih jauh (Jurang ∑
Grawah). Peluruhan gempa VT juga terjadi (4)
cukup cepat. Durasi dari gempa VT
umumnya terjadi di atas 6 detik.

(5)

Metode LTE/STE (Budi-Santoso, 2014)

Pada tahun 2014, Budi Santoso


menggunakan pengembangan metode
STA/LTA untuk menentukan waktu tiba
Gambar 3.1 Rekaman gempa Volcano Tectonic A gempa yang kemudian digunakan dalam
pada stasiun Jurang Grawah (hitam) dan stasiun langkah analisis multiplet gempa pada
Pasarbubar (merah) pada komponen vertikal penelitiannya. Perhitungan pada metode
LTE/STE adalah dengan menggunakan hasil
Metode STA/LTA (Allen, 1978)
kuadrat amplitudo dari window panjang
Penggunaan metode rasio Short dibagi dengan window pendek. Persamaan
Term Average dengan Long Term Average guna menentukan nilai LTE dan STE
(STA/LTA) dipopulerkan oleh Rex V. Allen di ditunjukkan pada persamaan (6) dan (7)
tahun 1978. Algoritma dari STA/LTA
menjadi satu yang paling sederhana dan

mudah diaplikasikan. Persamaan yang (6)
menjadi dasar perhitungannya ditunjukkan
pada persamaan (3)

(3) ∑
dimana adalah nilai threshold
yaitu suatu nilai yang menyatakan event (7)
dinyatakan terjadi.

Jika merupakan waktu pada


Dari persamaan (6) dan (7), terlihat
rekaman seismogram, dan adalah lebar
jika penanda waktu untuk STE berada di
nomor poin window pendek, sedang
akhir windownya, sedang untuk LTE berada
adalah nomor poin lebar window panjang
di tengah window. LTE akan menentukan
dengan penentuan > . Maka
waktu onset lebih dulu, dimana STE masih
persamaan dari STA dan LTA pada suatu
berada di bagian background noise. Hal ini
waktu index menjadi seperti persamaan
akan membuat nilai rasio LTE/STE
(4) dan (5)
meningkat. Saat STE mencapai bagian onset
event, maka nilai rasio LTE/STE akan turun
secara drastis, saat itulah waktu tiba gempa

3
ditentukan. Untuk mendeteksi kejadian window yang mencakup 40 sampling yang
penurunan nilai rasio LTE/STE yang drastis, diaplikasikan pada kedua window namun
dimana hal ini berhubungan dengan waktu tidak ada keterangan sampling per second
tiba event, maka ditentukan nilai maksimal yang digunakan pada data rekaman yang
dari hasil absolut pada diferensial LTE/STE. diuji Lejia Han dan kawan-kawan.

Metode Modified Energy Ratio (Han, dkk., Metode Penelitian


2010)
Modified Energy Ratio (MER) adalah Tahapan penelitian secara rinci ditunjukkan
salah satu metode penentu waktu tiba pada Gambar 4.1.
gempa yang memanfaatkan dua window
berukuran sama yang bergerak secara
berurutan. Metode ini diperkenalkan oleh
Lejia Han dan beberapa peneliti lain guna
menentukan waktu tiba pada rekaman data
gempa mikro. Metode ini diklaim bekerja
lebih efektif dan cepat. Dengan
menggunakan xi merupakan waktu pada
rekaman seismogram dan index waktu
bernilai = 1, 2, … N. Dan dengan memisalkan
lebar nomor poin pada window energi
sebagai serta adalah amplitudo
pada rekaman seismik. Maka rasio energi
pada window awal dan window akhir pada Gambar 4.2 Diagram alir penelitian
waktu index i ditunjukkan pada persamaan Tabel 4.1 Kejadian gempa VT di Gunung
(8) Merapi yang digunakan sebagai data uji.

Waktu tiba Tipe


No Tanggal
(8) manual Gempa
∑ ⁄∑
1 19 Juli 2013 05:06:23,730 VT A
Selanjutnya nilai Modified Energy
Ratio (MER) dapat ditentukan melalui 2 07 Mei 2014 15:33:38,720 VT A
persamaan (9)
26 Agustus VT B
3 07:09:02,110
( ) (9) 2014
Dimana waktu tiba gempa
26 Agustus VT A
ditentukan dengan nilai puncak hasil 4 11:25:41,290
2014
perhitungan pada persamaan (9). Pada
metode Modified Energy Ratio ini durasi 26 Agustus VT A
dari window yang digunakan juga akan 5 12:40:32,170
2014
sangat berpengaruh pada keberhasilan
penentuan waktu tiba event. Pada
penelitiannya Lejia Han menggunakan lebar

4
Hasil Dan Pembahasan

Penentuan Waktu Tiba dan Window Efektif


pada metode STA/LTA
Pada metode STA/LTA diujikan 35
variasi lebar window untuk STA dan LTA
pada masing-masing sampel event.
Threshold yang digunakan adalah 4, dari
hasil uji coba di beberapa event VT
sebelumnya. Pada beberapa window LTA Gambar 5.3 Contoh perhitungan STA/LTA yang
yang berukuran kecil, keberadaan event tidak mencapai threshold pada event 1
tidak mampu dikenali dan ditentukan waktu
tibanya karena nilai rerata absolut
amplitudo dalam rentang window LTA
tersebut terlalu besar saat memasuki onset
gempa VT. Sebagai contoh pada variasi
window STA 50 dengan LTA 1000 nomor
data pada event 1, waktu tiba tidak dapat
terdeteksi akibat nilai LTA yang tinggi
sehingga hasil perbandingannya dengan
STA menjadi kecil dan tidak mencapai
threshold. Hal tersebut juga terulang pada Gambar 5.2 Langkah perhitungan pada metode STA/LTA
window 105/6000 untuk event 1
event 2 dengan variasi window yang sama.
Hasil perbandingan STA dan LTA untuk 50 Selanjutnya hasil penentuan waktu tiba
dan 1000 nomor data tersebut dapat paling baik pada masing-masing event
diamati pada Gambar 5.1. dengan menggunakan beberapa variasi
window yang berbeda, dapat dilihat pada
Pada event 1, variasi window yang
tabel 5.1 dengan juga menampilkan nilai
memberikan nilai delta t0 paling kecil
delta t0 yang dihasilkan.
adalah pada window STA 105 dengan LTA
6000 serta variasi window STA 100 dan LTA
6500, masing-masing memberikan nilai
delta t0 0 detik, atau tepat seperti waktu
tiba manual. Langkah perhitungan dari
metode STA/LTA untuk window STA 105
dan LTA 6000 nomor data di event 1 dapat
dilihat pada Gambar 5.2.

5
Tabel 5.2 Hasil penentuan waktu tiba pada masing-masing event dapat diamati
terbaik dengan variasi window pada pada Tabel 5.2
metode STA/LTA
Pada penggunaan metode LTE/STE
Variasi rentang window efektif untuk LTE adalah
Window dari 50 hingga 130 nomor data atau setara
Delta
(nomor Waktu tiba Waktu tiba
Event
manual metode
t dengan 0,5 hingga 1,3 detik. Sedangkan
data)
(detik) untuk rentang window efektif STE adalah
STA LTA dari 5 hingga 25 nomor data atau setara
dengan 0,05 hingga 0,25 detik. Dapat
105 6000 05:06:23,730 05:06:23,730 0
diamati pada Tabel 5.2 jika pada seluruh
1
100 6500 05:06:23,730 05:06:23,730 0 hasil penentuan waktu tiba terbaik
menunjukkan nilai delta t0 negatif yang
2 50 12000 15:33:38,720 15:33:38,910 0,19 artinya penentuan waktu tiba dari metode
dalam rentang window efektif selalu lebih
110 6000 07:09:02,110 07:09:02,120 0,01
cepat dari pada waktu tiba manual.
3 115 6000 07:09:02,110 07:09:02,120 0,01
Tabel 5.3 Hasil penentuan waktu tiba
120 6000 07:09:02,110 07:09:02,120 0,01 terbaik dengan variasi window pada
metode LTE/STE
4 75 6000 11:25:41,290 11:25:41,290 0
Variasi
5 110 6000 12:40:32,170 12:40:32,170 0 Window
Delta
(nomor Waktu tiba Waktu tiba
Event t
Penentuan Waktu Tiba dan Window Efektif data) manual metode
(detik)
pada metode LTE/STE
LTE STE
Pada metode LTE/STE telah diujikan
48 variasi lebar window untuk LTE dan STE 1 70 5 05:06:23,730 05:06:23,710 -0,02
pada masing-masing event. Berbeda dengan
metode STA/LTA, metode LTE/STE tidak 2 70 10 15:33:38,720 15:33:38,690 -0,03
menggunakan syarat threshold, maka setiap
90 25 07:09:02,110 07:09:02,000 -0,11
variasi window dapat beroperasi karena
hanya menentukan nilai puncak dari hasil 100 25 07:09:02,110 07:09:02,000 -0,11
absolut diferensial nilai LTE/STE. Hasil
terbaik dari penentuan waktu tiba dengan 3 110 25 07:09:02,110 07:09:02,000 -0,11

metode LTE/STE terjadi pada variasi 120 25 07:09:02,110 07:09:02,000 -0,11


window LTE 70 dan STE 5 nomor data pada
event 1 dengan delta t0 -0,02 detik. Agar 130 25 07:09:02,110 07:09:02,000 -0,11
lebih mudah diamati langkah perhitungan
4 50 5 11:25:41,290 11:25:41,170 -0,12
metode LTE/STE juga ditampilkan pada
Gambar 5.3 dan 5.4 untuk contoh event 1 5 110 25 12:40:32,170 12:40:32,030 -0,14
dengan menggunakan window LTE 70 dan
STE 5 nomor data. Selanjutnya hasil Pada event 3 ditunjukkan beberapa variasi
penentuan waktu tiba terbaik dengan window LTE yang sama dengan nilai window
variasi window LTE dan STE yang digunakan STE yang tetap menunjukkan hasil

6
penentuan waktu tiba yang sama, artinya jauh dari waktu tiba manual. Pada Tabel 5.3
nilai hasil absolut diferensial dari variasi ditampilkan hasil variasi window dengan
window tersebut mencapai puncak pada penentuan waktu tiba terbaik pada masing-
nomor data yang sama walau hasil masing event.
perbandingan LTE/STE mungkin mencapai
nilai yang berbeda. Rentang ketidaktepatan Tabel 5.4 Hasil penentuan waktu tiba
penentuan waktu tiba dari metode LTE/STE terbaik dengan variasi window pada
adalah dari 0,02 hingga 0,14 detik. metode MER
Akumulasi ketidaktepatan penentuan waktu Variasi
tiba dari metode LTE/STE adalah 0,42 detik. Window Delta
Waktu tiba Waktu tiba
Event MER t
manual metode
(nomor (detik)
data)

1 100 05:06:23,730 05:06:23,740 0,01

2 100 15:33:38,720 15:33:38,750 0,03

3 100 07:09:02,110 07:09:02,140 0,03

4 105 11:25:41,290 11:25:41,270 -0,02


Gambar 5.3 Langkah perhitungan LTE, STE, dan hasil
LTE/STE untuk event 1, window LTE 70 dan STE 5 nomor 100 12:40:32,170 12:40:32,120 -0,05
data 5
105 12:40:32,170 12:40:32,120 -0,05

Hasil penentuan waktu tiba terbaik


ditunjukkan pada variasi lebar window MER
100 nomor data atau setara 1 detik pada
event 1 dengan delta t0 0.01 detik.
Sedangkan langkah perhitungan pada
metode MER pada event 1 dengan lebar
window MER 100 nomor data dapat diamati
pada Gambar 5.5 dan 5.6. Dari Tabel 5.3,
terlihat jika window efektif untuk metode
Gambar 5.4 Langkah perhitungan diff LTE/STE, abs diff
LTE/STE, dan plot hasil penentuan waktu tiba LTE/STE
MER berkisar dari 100 hingga 105 nomor
untuk event 1, window LTE 70 dan STE 5 nomor data data, atau setara dengan 1 hingga 1,05
detik. Rentang ketidaktepatan hasil
Penentuan Waktu Tiba dan Window Efektif penentuan waktu tiba dengan metode MER
pada metode MER berkisar dari 0,01 detik hingga 0,05 detik,
Pada metode penentuan waktu tiba dengan beberapa hasil delta t0 bernilai
MER telah diujikan 12 variasi window MER. positif dan lainnya negatif. Akumulasi
Hanya diujikan sedikit variasi window ketidaktepatan penentuan waktu tiba pada
karena pada ukuran window yang labih metode MER untuk 5 sampel event VT
besar dari 500 nomor data atau setara adalah 0,14 detik.
dengan 5 detik, menunjukkan hasil
penentuan waktu tiba yang sudah terlalu

7
Tabel 5.5 Hasil perbandingan window pada
ketiga metode
Rentang
Penentuan
window Penentuan
t0 paling
Metode efektif t0 paling
mendekati
(nomor jauh
tepat
data)

Event 1;
delta t0 : 0
Gambar 5.4 Langkah perhitungan MER window kanan, s; window
kiri, dan hasil bagi MER kanan/kiri pada event 1 dengan STA/LTA :
lebar window MER 100 nomor data 105/6000
dan
100/6500
Event 2;
STA : 50 - delta t0 :
Event 4;
120; LTA : 0,19 s;
STA/LTA delta t0 : 0
6000 - window
s; window
12000 STA/LTA :
STA/LTA :
50/12000
75/6000

Event 5;
delta t0 : 0
s; window
Gambar 5.3 Perhitungan persamaan MER dan hasil
STA/LTA :
penentuan waktu tiba gempa pada potongan sinyal pada
event 1 dengan lebar window MER 100 nomor data 110/6000

Perbandingan Hasil Penentuan Waktu Tiba Event 1; Event 5;


delta t0 : - delta t0 : -
Gempa dan Penentuan Window Efektif LTE : 50 -
0,02 s; 0,14 s;
Dari hasil uji coba pada ketiga metode LTE/STE 130; STE :
window window
menggunakan beberapa variasi window 5 - 25
LTE/STE: LTE/STE:
yang telah dilakukan dapat dirangkum 70/5 110/25
dalam Tabel 5.4 dan Tabel 5.5 berikut ini.
Event 5;
Event 1;
delta t0 : -
delta t0 :
MER : 100 - 0,05 s;
MER 0,01 s;
105 window
window
MER : 100
MER : 100
dan 105

8
Tabel 5.6 Hasil Perhitungan error 4. Metode MER memberikan hasil
penentuan waktu tiba pada ketiga metode akumulasi error paling kecil dengan
nilai 0.14 detik untuk 5 event VT yang
Rentang Rerata diuji.
Akumulasi error
error error
Metode penentuan t0
penentuan
pada 5 event VT
penentuan 5. Metode MER memberikan respon hasil
t0 t0 penentuan waktu tiba yang paling stabil
0 detik -
dibanding metode STA/LTA dan
STA/LTA 0,2 detik 0,04 detik metode LTE/STE.
0,19 detik
Saran
0,02 detik –
LTE/STE
0,14 detik
0,42 detik 0,084 detik Setelah melakukan tahapan
penelitian ini, dapat diberikan saran guna
0,01 detik - penelitian selanjutnya, diantaranya adalah
MER 0,14 detik 0,028 detik sebagai berikut :
0,05 detik

1. Dapat dilakukan pengujian metode


dan penggunaan variasi window
Kesimpulan pada sampel data yang lebih banyak
lagi dan menggunakan tipe gempa
Dari penelitian ini dapat diperoleh
vulkanik yang berbeda.
beberapa kesimpulan yaitu :
2. Perlu dilakukan pengujian lebih
1. Metode penentuan waktu tiba gempa lanjut untuk nilai threshold yang
STA/LTA memberikan hasil paling baik digunakan untuk tipe gempa
pada aplikasi window STA 50 hingga lainnya.
120 nomor data atau setara 0,5 hingga DAFTAR PUSTAKA
1,2 detik. Sedangkan untuk window LTA Allen, R.V., 1978, Automatic Earthquake
adalah antara 6000 hingga 12000 Recognition and Timing from Signal
nomor data atau setara 60 detik hingga Traces, Bulletin Seismology Society
120 detik. of America, Vol. 68, No. 5 pp. 1521-
2. Metode penentuan waktu tiba gempa 1532.
LTE/STE memberikan hasil paling baik Badan Geologi, 2011, Pemantauan
pada aplikasi window LTE 50 hingga 130 Gunungapi di Indonesia, Kementrian
nomor data atau setara 0,5 hingga 1,3 Energi dan Sumber Daya Mineral,
detik. Sedangkan untuk window STE Bandung.
adalah antara 5 hingga 25 nomor data
atau setara 0,05 hingga 0,25 detik. BPPTKG, 2014. Diakses pada
http://merapi.bgl.esdm.go.id/inform
3. Metode penentuan waktu tiba gempa asi_merapi.php tanggal 28
MER memberikan hasil paling baik pada November 2015 pukul 15.30 WIB.
aplikasi window MER antara 100 hingga
105 nomor data atau setara 1 hingga Budi-Santoso, A., 2014, The Seismic Activity
1,05 detik. Associated with the Large 2010
Eruption of Merapi Volcano, Java :

9
Source Location, Velocity Variation http://g7.fisika.ui.ac.id/index.php/2-
and Forecasting, Dessertation, uncategorised/38-pencuplikan-
I’Institut des Sciences de la Terre, sinyal-seismik tanggal 25 November
Universite de Savoie, Paris. 2015 pukul 20.30 WIB.

Han, L., Wong, J., dan Bancroft, J.C., 2010, Trnkoczy, A., 1999, Understanding and
Time Picking on Noisy Parameter of STA/LTA Trigger
Microseismograms, CREWES, Algorithm, Information Sheet, New
University of Calgary. Manual of Seismological
Observatory Practice,
McNutt, S.R., 1996. Seismic Monitoring and GeoForschungsZentrum Postdam,
Eruption Forecasting of Volcanoes: A Germany.
Review of the State-of-the-Art and
Case History, In: Scarpa and Tilling Wasserman, J., 2011, Volcano Seismology,
(eds.), Monitoring and Mitigation of Bormann, P., New Manual of
Volcano Hazards, Springer, Berlin Seismological Observatory Practice,
Heidelberg New York, 99-146. GeoForschungsZentrum Postdam,
Germany.
McNutt, S.R., 2000. Volcanic seismicity, In:
Sigurdsson H. (ed.) Ecyclopedia of Wegler, U., dan Luhr, B.-G., 2001. Scattering
volcanoes, Academic Press, San behavior at Merapi volcano (Java)
Diego, 1015-1119. revealed from an active seismic
experiment, Geophys. J. Int., 145,
Ratdomopurbo, A. dan Poupinet G., 1995, 579-592.
Monitoring a Temporal Change of
Seismic Velocity in a Volcano :
Application to the 1992 Eruption of
Mt. Merapi (Indonesia), Geophysics
Research Letter 22, pp. 775-778.

Ratdomopurbo, A., dan Poupinet, G.. 2000.


An Overview of the Seismicity of
Merapi Volcano (Java, Indonesia)
1983-1992. Journal Volcanology and
Geothermal Research , Special Issue
Merapi Volcano. 100 : 1-4, 479-502

Rosmiyatin dan Basid, A., 2012. Penentuan


Sebaran Hiposenter Gunungapi
Merapi Beradasarkan Data Gempa
Vulkanik Tahun 2006, Jurnal
Neutrino, Vol.4 no.2, 188-200.

Supriyanto, 2015. Pencuplikan Sinyal


Seismik dan Efek Aliasing. Diakses
pada

10