Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIK “BIOADHESIF”

BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIK “BIOADHESIF” DISUSUN OLEH: KELOMPOK 5 B Annisa Nurul Az- Zahra

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 5 B

Annisa Nurul Az- Zahra

1111102000029

Faradhila Nur Saraswati

1111102000038

Silvia Aryani

1111102000039

Ririn Astri S

1111102000040

M. Saiful Amin

1111102000043

Fitri Rahmadhani

1111102000048

Evi Nurul Hidayati

1111102000131

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2014

1.1 Judul Praktikum “Bioadhesif”

BAB I PENDAHULUAN

1.2 Tujuan Praktikum Mahasiswa dapat menguji kemampuan bioadhesif sediaan obat yang mengandung suatu polimer tertentu.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Tablet

Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet dapat dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan Adapun syarat-syarat tablet, yaitu :

- Ukuran seragam : diameter tablet 1 ½-3 kali tebal tablet.

- Bobot seragam : penyimpangan rata-rata untuk tablet dengan berat 300 mg atau lebih, ialah 5-10%.

- Waktu hancur / disintegrasi tablet : harus hancur dalam air dalam waktu tidak lebih dari 15 menit pada suhu 36 º 38º C.

- Waktu hancur tablet bersalut gula atau bersalut selaput : harus hancur dalam air dalam waktu tidak lebih dari 60 menit.

- Waktu hancur tablet bersalut enteric : zat penyalut dilarutkan dulu dalam HCL 0,06 N selama 3 jam, kemudian tablet dimasukkan ke dalam dapar pH 6,8. Tablet harus hancur dalam waktu 60 menit pada suhu 36º - 38ºC.

Adapun metode pembuatan tablet terdiri dari tiga metode. Metode pertama adalah metode kempa langsung. Metode kempa langsung yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Prinsip metode kempa langsung yaitu mencampur zat aktif dengan eksipien yang memiliki aliran dan kompresibilitas yang baik kemudian dicetak. Metode ini digunakan untuk zat aktif yang memiliki sifat alir yang baik. Metode berikutnya adalah metode granulasi kering. Granulasi adalah proses pembesaran ukuran ketika partikel partikel dibentuk menjadi gumpalan (aglomerat) yang lebih besar, kuat secara fisik, sedangkan partikel partikel orisinil masih dapat diidentifikasi. Tujuan pembuatan granul adalah untuk memperoleh granul yang dapat mengalir bebas untuk pembuatan tablet.Granulasi kering dilakukan karena tidak stabil atau peka terhadap panas , lembab, atau juga tidak mungkin dikempa lansung menjadi

tablet karena zat aktif tidak dapat mengalir bebas, dan atau dosis efektif zat akif terlalu besar untuk di kempa langsung. Metode selanjutnya adalah metode granulasi basah. Granulasi basah adalah metode yang dilakukan dengan cara membasahi massa tablet menggunakan larutan pengikat sampai terdapat tingkat kebasahan tertentu, lalu digranulasi. Metode ini digunakan untuk zat aktif yang stabil terhadap pemanasan. Pembuatan granul merupakan salah satu proses dalam pembuatan tablet pada metode granulasi basah dan granulasi kering. Pembeda pada kedua metode ini adalah pada metode granulasi basah pembentukan jembatan kristalin oleh pengikat terjadi selama pengeringan dan struktur dibentuk dengan pengerasan pengikat dalam pengeringan. Pada metode granulasi kering, bongkahan (slugging) dan lempengan kompak, mengandalkan pembentukan ikatan interpartikulat. Terdapat beberapa macam sediaan tabet, diantaranya adalah tablet pada sediaan gastroretentif. Pada sediaan i ni terdapat tiga jenis tablet, yaitu floating tablet, swelling tablet dan tablet mukoadhesif. Tablet mukoadhesif adalah tablet yang dapat menempel pada lapisan mukus sehingga dapat menyediakan sistem penghantaran obat terkontrol.

2.2. Bahan Tambahan pada Tablet a. Pengisi

Bahan pengisi berfungsi untuk meningkatkan atau memperoleh massa agar mencukupi jumlh massa campuran sehingga mencukupi untuk dikompres atau dicetak. Jadi bahan pengisi berfungsi untuk menetapkan berat sediaan yang akan diproduksi. Selain itu bahan pengisi juga berfungsi memperbaiki laju alir massa sehingga mudah dikempa. Sifat bahan pengisi yang digunakan adalah inert, memiliki laju alir yang baik, stabil secara fisika dan kimia, bebas mikroba perusak dan patogen, mendukung bioavaibilitas, tersedia dalam perdagangan dan harga relatif murah. Contoh bahan pengisi yang dapat digunakan antara lain avicel. avicel merupakan nama dagang dari selulosa mikrokristal. Avicel dibuat dari hidrolisis terkontrol α-selulosa dengan larutan asam mineral encer. Sebagai bahan farmasi avicel digunakan untuk bahan pengisi tablet yang dibuat secara granulasi maupun cetak langsung, bahan penghancur tablet, adsorben dan bahan anti lekat. Avicel diketahui mempunyai sifat alir dan kompresibilitas yang sangat baik. Avicel sering dilakukan co-processing dengan karagenan, sodium karboksimetilselu- losa dan guar gum.

Selulosa mikrokristal dapat diperoleh secara komersial dari berbagai kualitas dan merek dagang. Salah satu produk selulosa mikrokristal di perdagangan dikenal dengan merek dagang Avicel. Ada beberapa macam jenis avicel, salah satunya avicel PH 102. Avicel PH 102® merupakan selulosa yang terdepolimerasi parsial berwarna putih, tidak berasa, tidak berbau, serbuk kristal yang terdiri atas partikel porous, tidak larut dalam asam encer dan sebagian pelarut organik. b. Pengikat Bahan pengikat merupakan eksipien yang digunakan dalam formulasi sediaan tablet yang memberikan gaya kohesif yang cukup pada serbuk antar partikel eksipien sehingga membentuk struktur tablet yang kompak dan kuat setelah pencetakan. Hampir sebagian ebsar binder adalah senyawa bermolekul besar yang dapat menarik air ke dalam ikatan polimernya. Bahan pengikat berperan penting dalam proses pembentukan granul dari partikel-partikel yang tidak homogen menjadi partikel-partikel sferis yang lebih besar dan lebih homogen. Dikenal dua jenis bahan pengikat menurut penggunaannya, antara lain bahan pengikat basah untuk granulasi basah dan bahan pengikat kering untuk granulasi kering dan cetak langsung. Bahan pengikat basah yaitu bahan pengikat yang dimasukan ke dalam massa tablet dalam bentuk arutan pekat dalam air atau dalam pelarut yang cocok. Dalam granulasi basah, bahan pengikat ditambahkan dalam bentuk larutan atau dicampur dengan bahan tablet dalam bentuk serbuk kering kemudian ditambahkan cairan pelarut. Pelarut yang biasa digunaan adalah air. Namun apabila bahan obat mudah terhidrolisis oleh air atau sensitif dengan kelembapan maka pelarut yang digunakan dapat diganti dengan alkohol, misalnya isopropil alkohol, etil alkohol, aseton maupun hidrokarbon terklorinasi. Conoth bahan pengikat pada granulais basah antara lain starch 1500, pragelatinasi pati jagung, gelatin, gom akasia, PVP, metil selulosa. Na CMC, etil selulosa, dan lain-lain. Sedangkan bahan pengikat kering adalah bahan yang ditambahkan ke dalam massa tablet dalam bentuk kering pada granulasi kering dan cetak langsung. Penggunaan bahan pengikat dalam granulasi kering dalam bentuk serbuk adalah untuk membentuk (tablet besar) sedangkan untuk tablet cetak langsung menghasilkan tablet yang diinginkan. Bahan pengikat kering yaitu bahan yang ditambahkan ke dalam massa tablet dalam bentuk kering. Beberapa bahan yang sering digunakan adalah avicel pH 101, avicel pH 102, atau starch 1500.

Diantara bahan pengikat yang sering digunakan baik pada bahan pengikat basah maupun bahan pengikat kering adalah starch atau amilum. Amilum merupakan salah satu eksipien yang paling banyak digunakan dalam industry farmasi karena memiliki sifat sebagai bahan pengikat dan bahan penghancur. Amilum merupakan polimer dengan rumus molekul (C 6 H 10 O 5 ) n , dimana nilai n dari 300 sampai 1000. Secara umum amilum terdiri dari 2 jenis dari dari polimer D-glukopiranosa yang dikenal sebagai amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan polimer linear dari glukopiranosil sedangkan amilopektin polimer bercabang, sebagaimana gambar 1 dibawah ini. Amilum mengandung kira-kira 30 % amilosa dan sifat-sifatnya ditentukan oleh ukuran dan jumlah masing-masing jenis molekul polimer yang terdapat pada material. Amilum secara luas digunakan pada industri farmasi dengan alasan mudah didapat, murah, putih dan inert. Amilum bisa berfungsi sebagai bahan pengisi, pengikat dan penghancur pada tablet dan kapsul. Fungsinya tergantung pada bagaimana amilum diinkorporasi ke dalam formulasi. Amilum akan berfungsi sebagai bahan penghancur apabila ditambahkan secara kering sebelum penambahan lubrikan. Amilum berfungsi sebagai bahan pengikat dan bahan penghancur apabila ditambahkan dalam bentuk pasta atau kering sebelum digranul dengan komponen yang lain. Telah dilaporkan bahwa amilum mengalami deformasi plasstik selama kompresi, tetapi sifat ini tergantung pada ukuran, distribusi ukuran dan bentuk partikel. Amilum juga berfungsi sebagai bahan penghancur karena granulnya mampu mengembang apabila kontak dengan air dan amilosa merupakan komponen yang memiliki sifat sebagai bahan penghancur karena kemampuannya untuk mengembang. Mekanisme kedua yang membuktikan aksi sebagai bahan penghancur amilum dalam tablet adalah aksi kapiler yang lebih dominan dari pengembangan. Mekanisme ketiga adalah berdasarkan pada gaya tolak antar partikel antara konstituen tablet apabila kontak dengan air dan bagian hidrofilik dari amilum. c. Bahan Penghancur (Disintegrant) Bahan penghancur adalah eksipien dalam pembuatan tablet yang berfungsi untuk memfasilitasi hancurnya tablet ketika terjadi kontak dengan cairan saluran cerna. Cara kerja disintegrant adalah dengan menarik air ke dalam tablet, mengembang , dan menyebabkan tablet pecah menjadi bagian-bagian kecil. Mekanisme kerja disintegrant dipengaruhi sifat biofarmasetika, stabilitas kimia dan fisika, serta pertimbangan penjualan tablet. Contoh bahan penghancur antara lain pati, pati 1500, pati terpregelatinasi, avicel, primogel, PVP dan lain sebagainya.

d.

Bahan Pelincir (Lubrikan)

Bahan yang berfungsi untuk mengurangi friksi antara permukaan dinding/ tepi tablet dengan dinding die (ruang cetak) selama kompresi dan ejeksi. Fungsi lubrikan adaah Mengurangi gesekan antara dinding tablet dengan dinding die pada saat tablet akan ditekan ke luar. Pelincir b=dibagi menjadi dua, yaitu pelincir larut air dan pelincir tidak larut air. Contoh pelincir larut air diantaranya carbowax 4000, natrium lauril sulfat, magnesium lauril sulfat, natrium oleat, dan lain-lain. Adapun contoh pelincir tidak larut ai diantaranya magnesium stearat, kalsium stearat, natrium stearat, asam stearat, talc, wax dan lain sebagainya.

e. Bahan Antilekat (Anti-Adherent) Antilengket bertujuan untuk mengurangi melengket atau adhesi bubuk dan granul pada permukaan punch atau inding Die. Beberapa contoh senyawa yang dapat digolongkan sebagai anti-adherent antara lain: talc, pati jagung, Cab-O-sil. f. Bahan Pelicin (Glidan) Pelicin ditujukan untuk memacu aliran serbuk/granul dengan mengurangi gesekan di antara partikel-partikel. Bahan pelicin antara lain Talc pada konsentrasi 5%, tepung jagung 5-10%, atau koloid silica seperti siloid/aerosol dalam konsentrasi 0.25-3%.

2.3. Mukus dan Biooadhesif Bioadhesif adalah keadaan dimana dua bahan, salah satunyabersifat biologis dan salingmelekat untuk waktu yang lebih lama karena forsa interfasial. Bioadhesif juga dapat didefinisikaan sebagai kemampuan suatu bahan (hasil sintesis atau produk biologi) teradhesi pada suatu jaringan biologi untuk periode waktu yang lebih lama. DI dalam sistem biologi, bioadhesif dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu adhesi dari suatu sel normal terhadap sel patologi dan adhesi suatu bahan adhesi terhadap suatu substrat biologis.

Sedangkan sistem mukoadhesif adalah terikatnya suatu sistem pembwawa obat pada suatu jaringan epitel atau berupa lapisan penutup mukus yang terdapat pada jaringan. Jika katerikatan tersebut pada permukaan mukus, fenomena ini dikenal dengan mukoadhesif. Mukoadhesif dapat pula berupa interaksi antara suatu permukaan musin dengan suatu polimer sintetis atau polimer alam. Sediaan mukoadhesif ini memanfaatkan sifat bioadhesif dari berbagai polimer larut air yang menunjukan sifat adhesif [ada waktu terjadi hidrasi kemudian akan menghantarkan obat mencapai sasaran tertentu untuk waktu yang lebih lama dibandingkan sediaan konvensional.

Oleh karena lapisan mukosa terdapat pada berbagai bagian tubuh, maka sistem penghantaran obat mukoadhesif ini dapat dimanfaatkan untuk mengenbangkan sediaan bukal, sublingual, vaginal, rektal, nasal, okular serta gastrointestinal. Prinsip penghantaran obat dengan sistem mukoadhesif ini adalah memperpanjang waktu tinggal obat pada organ tubuh yang memunyai lapisan mukosa. Sediaan mukoadhesif yang menempel di lambung akan dapat meningkatkan kontak yang lebih baik antara sediaan dengan jaringan tempat terjadinya absorpsi sehingga konsentrasi obat terabsorpsi lebih banyak dan diharapkan akan terjadi aliran obat yang tinggi melalui jaringan tersebut sehingga dapat meningkatkan bioavaibilitas obat yang sukar larut, mudah terurai pada pH alkali serta memiliki lokasi absorpsi dilambung dan usus bagian atas. Bentuk sediaan mukoadhesif dapat berupa granul, pellet,tablet matriks, kapsul dan mikrokapsul. Sediaan ini ditahan lambung menurut mekanisme pelekatan pada permukaan sel epitel atau pada mukus dalam jangkawaktu yang lama. Penggunaan formulasi mukoadhesif oral dapat dicapai dengan meningkatkan lamanya wakt tinggal obat dalam saluran cerna. Akan tetapi beberapa faktor fisiologi dapat membatasi penggunaan sistem pemberian ini, diantaranya adalah:

- Absorpsi obat di saluran cerna dipengaruhi motilitas lambung dan usus. Motilitas lambung yang kuat akan menjadi satu gaya yang dapat melepaskan adhesif

- Kecepatan penggantian musin baik pada keadaan lambung kosong maupun penuh dapat membatasi waktu tinggal sediaan mukoadhesif karena jika mukus lepas dari membran, polimer bioadhesif tidak dapat menempel lebih lama.

- Adanya penyakit yang dapat merubah sifat-sifat fisikokimia mukus.

Meskipun demikian semua permasalahan dapat dihindari dengan menggunakan polimer yang sesuai atau dengan menggabungkan bahan-bahan tertentu pada bentuk sediaan. Selain faktor fisiologis di atas, terdapat faktor lain yang mempengaruhi sistem mukoadhesi, diantaranya :

- Faktor-faktor yang terkait polymer: berat molekul, konsentrasi polimer aktif, fleksibilitas rantai polimer, konfirmasi spacial; pengembangan

- Faktor-faktor yang terkait lingkungan: pH polimer-antarmuka substrat, kekuatan terapan, awal waktu kontak. Mukus merupakan sekret jernih dan kental serta melekat,membentuk lapisan tipis, berbentuk gel kontinyu yang menutupi dan beradhesi pada permukaan epitel mukosa. Tebalmukus bervariasi antara 50-450 umdengan komposisi sangat bervariasi tergantung spesies dan lokasi, anatomi dan keadaan normal/patologi organisme. Secara

umum komposisinya terdiri dari air 95 %, glikoprotein dan lemak 0,5-5,0%, garam-garam mineral 1% dan protein bebas 0,5-1 %. Komponen utama mukus yang bertanggung jawab pada viskositas serta sifat adhesi dan kohesinyaadalah glikoprotein, suatu protein berbobot molekul tinggi yang memiliki unit oligosakharida( rata-rata 8-10residumonosakharida dari 5 jenis monosakharida, sepertiL-fukosa, Dgalaktosa, N-asetil-D-glukosamin,N-asetil-D galaktosamin dan asamsialat ( gambar 1).

galaktosamin dan asamsialat ( gambar 1). Mekanisme pelekatan sediaan mukoadhesif pada musin diawali

Mekanisme pelekatan sediaan mukoadhesif pada musin diawali dengan adanya kontak antara sediaan dan mukus, dilanjutkan dengan adanya interpenetrasi polimer ke dalam mukus (gambar 2). Ada dua ikatankimia yang terjadipada bioadhesi,yaitu pertama ikatan kovalen, ikatan ini tidak diinginkan pada bioadhesi karena sangat kuat kekuatannya, yang kedua adalah ikatan yang disebabkan karena gaya tarik-menarik antara gugus molekul yang berbeda, sepertigaya elektrostatik, vander Waals , ikatan hidrogendan hidrofob.

elektrostatik, vander Waals , ikatan hidrogendan hidrofob. Sediaan mukoadhesif dapat dibuat menggunakan polimer alam

Sediaan mukoadhesif dapat dibuat menggunakan polimer alam dan sintesis. Polimer alam yang prospektif untuk diteliti adalah karboksi metil selulosa, gom arab dan natrium alginat, sedang polimer sintesis adalah poliakrilat dan turunan selulosa, seperti Carbopol 934P, 940P, 1342, polikarbofil, hidroksipropilselulosa, hidroksipropil metilselulosa dan hidroksietilselulosa. Untuk mendapatkan sediaan mukoadhesif

diperlukan jenis dan jumlah polimer mukoadhesif yang sesuai. Pada penelitian digunakan polimer yang memiliki daya bioadhesif dan mudah diperoleh serta murah harganya, yaitu karboksimetilselulosa atau gom arab/natrium alginat denganMetolose 90SH-1500 (Metolose K-15) dan Metolose 90SH-100.000 (MetoloseK-100).

2.4. Uji Bioadhesif In Vitro Tahapan dalam uji bioadhesif in vitro tablet mukoadhesif adalah jaringan lambung dibuka sepanjang lengkung kecil dan dicuci dalam 10 ml cairan lambung buatan. Usus halus dipotong secara lateral dan di cuci dalam 10 ml cairan usus buatan. Kemudian jaringan lambung ukuran kira-kira 2 x 2 cm atau jaringan usus halus sepanjang 6 cm dilekatkan pada penyokong teflon kemudian ditempatkan pada sel silendris. Setelah itu sejumlah granul ditempatkan merata di atas mukosa lambung dan usus, granul dibiarkan kontak dengan mukus selama 20 menit, kemudian sel silendris diatur pada posisi kemiringan 45 o Berikutnya jaringan mukosa lambung dan usus dielusi dengan cairan lambung dan cairan usus buatan selama 5 menit dengan kecepatan alir 22 ml/menit, dan jumlah granul yang masih melekat pada jaringan lambung dihitung. Pengujain ini dilakukan sebanyak dua kali pengulangan. Kemudian dihitung jumlah adhesi dengan rumus sbb :

Na = (N / No) x 100 Keterangan : Na = jumlah adesi No = jumlah total partikel yang digunakan N = jumlah partikel yang lekat pada substrat

Menurut literatur lain, dilakukan menggunakan mukosa lambung dan usus tikus putih. Lambung dan usus dicuci dengan larutan natrium klorida fisiologis kemudian masing-masing direndam dalam cairan lambung dan cairan usus buatan. Jaringan lambung dibuka, dipotong kira-kira 1 x1cm dan jaringan usus dibelah dan dipotongkira- kira 4 cm. Jaringan lambung dilekatkan pada penyokong teflon dengan bantuan lem akrilat. Sejumlah tertentu granul diletakkan diatas jaringan tersebut, dibiarkan berkontak selama 20 menit kemudian ditempatkan padasel silindris dengan kemiringan 45°. Granul yang telah melekat pada jaringan lambung dielusi dengan cairan lambung buatan selama10 menit dengan kecepatan 2ml/menit.Untuk granul yang melekatdi usus dielusi dengan cairan usus buatan selama10 menit dengan kecepatan 22ml/menit. Granul yang melekat dihitung setiap 5 menit.

BAB III METODOLOGI KERJA

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

3.1.1 Waktu

3.1.2 Tempat : Laboratorium PBB dan PDR, Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

: Kamis, 23 Oktober 2014

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Bahan

- Jaringan Mukosa Usus

- Dapar Fosfat

- Granul ( dengan eksipien amilum dan avicel)

3.2.2 Alat

- Penyokong Aluminium

- Kaca Arloji

- Spatula

- Sel Silindris

- Pinset

- Gunting Bedah

- Perlengkapan Infus

- Kertas Saring

3.3 Prosedur Kerja - Pembuatan cairan usus (Dapar Fosfat)

KH 2 PO 4 ditimbang sebanyak 6,804 g

NaOH ditimbang sebanyak 2 gram

ditimbang sebanyak 6,804 g NaOH ditimbang sebanyak 2 gram dilarutkan dalam 50 ml aquades Larutan kemudian

dilarutkan dalam 50

ml aquades

Larutan kemudian dicampur dengan KH 2 PO 4 dalam labu ukur

kemudian dicampur dengan KH 2 PO 4 dalam labu ukur Genapkan hingga 500 ml. 250 ml

Genapkan hingga 500 ml.

250 ml aquades

dilarutkan dalam4 dalam labu ukur Genapkan hingga 500 ml. 250 ml aquades Larutan dimasukkan ke labu ukur

ukur Genapkan hingga 500 ml. 250 ml aquades dilarutkan dalam Larutan dimasukkan ke labu ukur 500
ukur Genapkan hingga 500 ml. 250 ml aquades dilarutkan dalam Larutan dimasukkan ke labu ukur 500

Larutan dimasukkan ke labu ukur 500 mlukur Genapkan hingga 500 ml. 250 ml aquades dilarutkan dalam larutan NaOH yang telah dibuat, diambil

dilarutkan dalam Larutan dimasukkan ke labu ukur 500 ml larutan NaOH yang telah dibuat, diambil 19,55

larutan NaOH yang telah dibuat, diambil 19,55 ml.hingga 500 ml. 250 ml aquades dilarutkan dalam Larutan dimasukkan ke labu ukur 500 ml Dilarutkan

dimasukkan ke labu ukur 500 ml larutan NaOH yang telah dibuat, diambil 19,55 ml. Dilarutkan dalam
dimasukkan ke labu ukur 500 ml larutan NaOH yang telah dibuat, diambil 19,55 ml. Dilarutkan dalam

Dilarutkan dalam 97,75 ml aquadesml aquades dilarutkan dalam Larutan dimasukkan ke labu ukur 500 ml larutan NaOH yang telah dibuat,

- Pembuatan cairan lambung (HCl fisiologis)

HCl pekat ditimbang

sebanyak 8,291 ml

KCl pekat ditimbang sebanyak 3,725 ml

sebanyak 8,291 ml KCl pekat ditimbang sebanyak 3,725 ml dilarutkan dalam 250 ml aquades Campuran larutan

dilarutkan dalam 250 ml aquades

Campuran larutan

kemudian digenapkan hingga 1000 ml

labu ukur 500 ml

dilarutkan dalamkemudian digenapkan hingga 1000 ml labu ukur 500 ml 500 ml Genapkan hingga larutan HCl pekat

digenapkan hingga 1000 ml labu ukur 500 ml dilarutkan dalam 500 ml Genapkan hingga larutan HCl

500 ml

Genapkan hinggahingga 1000 ml labu ukur 500 ml dilarutkan dalam 500 ml larutan HCl pekat yang telah

ml labu ukur 500 ml dilarutkan dalam 500 ml Genapkan hingga larutan HCl pekat yang telah

larutan HCl pekat yang telah dibuat, diambil 425 ml.ml labu ukur 500 ml dilarutkan dalam 500 ml Genapkan hingga Dicampurkan yang telah dibuat hingga

hingga larutan HCl pekat yang telah dibuat, diambil 425 ml. Dicampurkan yang telah dibuat hingga homogen

Dicampurkan

yang telah dibuat hingga homogen

dengan larutan KClml Genapkan hingga larutan HCl pekat yang telah dibuat, diambil 425 ml. Dicampurkan yang telah dibuat

- Uji Bioadhesif In Vitro pada Jaringan Mukosa Usus

Isolasi jaringan mukosa usus dari Tikus Putih

Dilekatkan pada aluminium penyokong

usus dari Tikus Putih Dilekatkan pada aluminium penyokong Granul (45 buah granul) ditempelkan di atas jaringan

Granul (45 buah granul) ditempelkan di atas jaringan

Jumlah granul yang melekat dihitung selama 10 menit

jaringan Jumlah granul yang melekat dihitung selama 10 menit lakukan juga dengan perlakukan yang sama pada

lakukan juga dengan perlakukan yang sama pada kontrol negatif (kertas saring dengan granul 45 buah)

dibersihkan

Jaringan mukosanegatif (kertas saring dengan granul 45 buah) dibersihkan Jaringan dipotong ± 4 cm Tempelan granul pada

saring dengan granul 45 buah) dibersihkan Jaringan mukosa Jaringan dipotong ± 4 cm Tempelan granul pada
saring dengan granul 45 buah) dibersihkan Jaringan mukosa Jaringan dipotong ± 4 cm Tempelan granul pada

Jaringan dipotong ± 4 cm ± 4 cm

dibersihkan Jaringan mukosa Jaringan dipotong ± 4 cm Tempelan granul pada jaringan di penyokong alumunium

Tempelan granul pada jaringan di penyokong alumunium ditempatkan dalam sel silindris dengan kemiringan 45 0 0

ditempatkan dalam sel silindris dengan kemiringan 45 0 Dielusi dengan cairan usus (dapar fosfat) pada suhu

Dielusi dengan cairan

usus (dapar fosfat) pada

suhu 37 ± 0,5 0 C dengan kecepatan aliran 22 ml/menit. ± 0,5 0 C dengan kecepatan aliran 22 ml/menit.

- Uji Bioadhesif In Vitro pada Jaringan Mukosa Lambung

Isolasi jaringan mukosa lambung dari Tikus Putih

Dilekatkan pada aluminium penyokong

lambung dari Tikus Putih Dilekatkan pada aluminium penyokong Granul (20 buah granul) ditempelkan di atas jaringan

Granul (20 buah granul)

ditempelkan di atas

jaringan

Jumlah granul yang

melekat dihitung selama

10 menit

Jumlah granul yang melekat dihitung selama 10 menit lakukan juga dengan perlakukan yang sama pada kontrol

lakukan juga dengan perlakukan yang sama pada kontrol negatif (kertas saring dengan granul 20 buah)

dibersihkan

Jaringan mukosanegatif (kertas saring dengan granul 20 buah) dibersihkan cm Jaringan dipotong ± 1x1 Tempelan granul pada

saring dengan granul 20 buah) dibersihkan Jaringan mukosa cm Jaringan dipotong ± 1x1 Tempelan granul pada

cm

Jaringan dipotong ± 1x1 ± 1x1

dibersihkan Jaringan mukosa cm Jaringan dipotong ± 1x1 Tempelan granul pada jaringan di penyokong alumunium

Tempelan granul pada jaringan di penyokong alumunium ditempatkan dalam sel silindris dengan kemiringan 45 0 0

ditempatkan dalam sel silindris dengan kemiringan 45 0 Dielusi dengan cairan lambung (HCl fisiologis) pada suhu
ditempatkan dalam sel silindris dengan kemiringan 45 0 Dielusi dengan cairan lambung (HCl fisiologis) pada suhu

Dielusi dengan cairan lambung (HCl fisiologis) pada suhu 37 ± 0,5 0 C dengan kecepatan aliran 22 ml/menit. ± 0,5 0 C dengan kecepatan aliran 22 ml/menit.

BAB 1V HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

a. Dalam mukosa usus :

Jumlah granul yang diletakkan : 45 Jumlah granul tersisa : 45

%

bioadhesif : 45

45 100% = 100%

b. Dalam mukosa lambung :

Jumlah granul yang diletakkan : 20 Jumlah granul tersisa : 20%

bioadhesif : 20

20 100% = 100%

c. Kontrol negatif dengan kertas saring :

Percobaan 1 :

Jumlah granul yang diletakkan : 45 Jumlah granul tersisa : 0%

bioadhesif : 45

0

100% = 0%

Percobaan 2 :

Jumlah granul yang diletakkan : 20 Jumlah granul tersisa : 0%

100% = 0%

bioadhesif : 20

0

4.2 PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini, dilakukan uji kemampuan bioadhesif granul yang mengandung suatu polimer. Untuk menguji sistem bioadhesif ini dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode uji bioadhesif dan metode wash off. Uji wash off bertujuan untuk melihat kemampuan granul melekat pada mukosa lambung dan usus sedangkan uji bioadesif bertujuan untuk melihat seberapa cepat granul dapat melekat pada mukosa lambung dan usus. Namun, pada praktikum kami hanya dilakukan pengujian metode uji bioadhesif. Dimana, dilakukan terhadap lapisan mukosa usus dan lambung dari tikus. Bioadesif ini merupakan fenomena menarik melekatnya polimer sintetik atau alam pada jaringan biologis. Adhesi dapat terjadi pada lapisal sel epitel atau lapisan mukosa yang disebut mukoadesif. Bentuk sediaan mukoadhesif biasanya berupa granul, pellet, tablet matriks, kapsul dan mikrokapsul. Sediaan mukoadhesif ditahan di mukosa menurut mekanisme pelekatan pada sel epitel atau pada mukus dalam jangka waktu yang lama. Mukus merupakan secret jernih dan kental serta melekat, membentuk lapisan tipus berbentuk gel kontinyu yang menutupi dan beradhesi pada permukaan epitel mukosa. Tebal mukus bervariasai antara 50-450 dengan komposisi yang bervariasi tergantung spesies, lokasi organ, anatomi dan keadaan fisiologis. Komponen utama mukus yang bertanggung jawab pada viskositas serta sifat adhesi dan kohesinya adalah glikoprotein berbobot molekul tinggi. Secara teoritis, mekanisme pelekatan sediaan mukoadhesif pada mukosa diawali dengan adanya kontak antara sediaan dan mukus, dilanjutkan dengan adanya interpenetrasi polimer ke dalam mukus. Ada dua ikatan kimia yang terjadi pada bioadhesi, yaitu ikatan kovalen, ikatan ini tidak diinginkan pada bioadhesi karena sangat kuat, yang kedua adalah ikatan yang disebabkan karena gaya tarik-menarik antara gugus molekul yang berbeda, seperti gaya elektrostatik, Van der Waals, ikatan hidrogen dan hidrofob. Percobaan yang kami lakukan adalah dengan menggunakan bagian lambung dan usus. Organ usus dan lambung ini diambil dari tikus jantan. Bagian organ yang telah diambil dicuci dengan menggunakan NaCl fisiologis. Setelah dicuci kemudian bagian organ tersebut dipotong 1 cm untuk lambung dan 4 cm untuk usus dan diletakan diatas plat alumunium. Di atas lalu potongan organ tersebut ditaruh granul uji dan dibiarkan berkontak selama 10 menit. Selain dilekatkan di organ lambung dan usus, granul juga dilekatkan pada kertas saring yang juga diletakan pada plat alumunium sebagai pembanding (kontrol negatif). Setelah itu diplat alumunium lalu diletakan kedalam sel silindris dengan kemiringan 45 o . Granul yang telah melekat pada jaringan dan kertas saring lalu dielusi dengan cairan dapar HCl untuk jaringan

lambung dan cairan dapar fosfat untuk jaringan usus dengan kecepatan 22ml/menit pada suhu

37 o ± 0,05 o C.

kecepatan 22ml/menit pada suhu 37 o ± 0,05 o C. Melihat dari hasil praktikum, polimer yang

Melihat dari hasil praktikum, polimer yang digunakan dalam pembuatan granul cukup dapat melekat pada mukosa. Polimer yang digunakan dalam praktikum yaitu amilum dan avicel. Polimer yang dapat berikatan dengan lapisan mukosa yaitu polimer yang mengandung kelompok ikatan hidrogen. Kebanyakan polimer alam dan material farmasi menunjukan kemampuan bioadhesif. Polimer tersebut yaitu kitosan, karbomer, amilum, asam polimetakrilat, HPMC, hidroksi propil selulosa dan Na CMC. Untuk mendapaatkan sediaan mukoadhesif diperlukan jenis dan jumlah polimer mukoadhesif yang sesuai. Sediaan mukoadhesif dapat dibuat menggunakan polimer alam dan sintesis. Polimer alam yang dapat digunakan antara lain karboksimetilselulosa, gom arab, dan natrium alginat. Sedangkan polimer sintetis yaitu poliakrilat, dan turunan selulosa seperti carbopol, polikarbofil, hidroksipropil selulosa, hidroksipropil metilselulosa dan hidroksietilselulosa. Pada uji bioadhesif yang dilakukan granul melekat 100% pada mukosa lambung dan usus. Hal ini menunjukan bahwa polimer dapat menempel pada mukosa lambung dan usus dan tidak melekat pada kontrol negatif. Penempelan pada mukosa mungkin disebabkan karena adanya gaya tolak menolak di antara muatan ion sejenis. Dengan adanya ikatan hidrogen antara polimer dan mukus maka akan memperkuat pelekatan dan penetrasi ke dalam celah mukus jaringan. Ikatan hidrogen ini tidak terbentuk antara granul dan kertas saring karena kertas saring tidak memiliki gugus yang dapat membentuk ikatan hidrogen.

Pada praktikum ini, tablet yang digunakan bukan merupakan tablet mukoadhesif, melainkan tablet konvensional. Pada tablet ini digunakan amilum sebagai pengikat (binder). Tetapi, karena konsentrasi amilum yang digunakan cukup besar, sementara amilum menurut literatur dapat bersifat bioadhesif, maka cukup membuat granul tersebut tertahan (menempel) pada mukosa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa polimer yang digunakan dalam praktikum ini cukup memenuhi syarat polimer untuk mukoadhesif.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN Adapun kesimpulan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

Pada praktikum pengujian sistem bioadhesif hanya dilakukan pengujian dengan metode uji bioadhesif.

Percobaan dilakukan dengan menggunakan organ lambung dan usus tikus jantan.

Pada uji bioadhesif yang dilakukan, granul melekat 100% pada mukosa lambung dan usus. Hasil ini menunjukan bahwa polimer dapat menempel pada mukosa lambung dan usus dan tidak melekat pada kontrol negatif. Hal ini disebabkan gaya tolak menolak di antara muatan ion sejenis. Dengan adanya ikatan hidrogen antara polimer dan mukus maka akan memperkuat pelekatan dan penetrasi ke dalam celah mukus jaringan

Pada kontrol negatif (kertas saring) granul tidak ada yang menempel pada kertas saring. Hal ini disebabkan tidak adanya gaya tolak menolak di antara muatan ion sejenis pada kertas saring.

Amilum yang digunakan dalam pembuatan granul cukup memenuhi syarat polimer untuk mukoadhesif.

5.2 SARAN Adapun saran pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

Praktikan diharapkan lebih aktif lagi agar efisiensi waktu dapat tercapai. Semua praktikan dapat terlibat dalam praktikum ini sehingga situasi praktikum akan menjadi lebih kondusif.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Effionora. 2012. Eksipien dalam Sediaan Farmasi. Jakarta: Dian Rakyat.

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hong wen. John Willey and sons. 2010Oral Controlled Release Formulation Design and Drug Delivery: Theory to Practice. Indrawati, Teti dkk. 2005. Uji Daya Lekat Mukoadhesif Secara In Vitro beberapa Eksipien Polimer Tunggal dan Kombinasinya pada Lambung dan Usus Tikus. Journal Matematika dan Sains Vol.10 No.2. Indrawati, Teti et al. 2005. Uji Daya Lekat Mukoadhesif secara In Vitro beberapa Eksipien Polimer Tunggal dan Kombinasinya pada Lambung dan Usus Tikus. Jurnal Matematika dan Sains Vol 10 No 2. Juni 2005. Hal 45-61 Rowe, R.C., Sheskey, P.J. and Quinn M., E. 2003. Handbook of Pharmaceutical Excipients

Fourth Edition

Lexi-Comp: American Pharmaceutical Association, Inc.

Swabrick, J (ed), 2007, Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, third edition, Informa Healthcare, USA, Inc.

LAMPIRAN

Pembutan Dapar Fosfat

1.

Penimbangan KH 2 PO 4

2.

Penimbangan NaOH

1. Penimbangan KH 2 PO 4 2. Penimbangan NaOH 3. Pelarutan KH 2 PO 4 4.
1. Penimbangan KH 2 PO 4 2. Penimbangan NaOH 3. Pelarutan KH 2 PO 4 4.

3.

Pelarutan KH 2 PO 4

4.

Pelarutan NaOH

1. Penimbangan KH 2 PO 4 2. Penimbangan NaOH 3. Pelarutan KH 2 PO 4 4.
1. Penimbangan KH 2 PO 4 2. Penimbangan NaOH 3. Pelarutan KH 2 PO 4 4.

Uji Bioadhesif pada jaringan mukosa usus

1.

Proses pembiusan tikus dengan eter

2.

Proses

pembedahan

tikus

untuk

diisolasi ususnya

 
pembedahan tikus untuk diisolasi ususnya   3. usus penyokong aluminium Pelekatan Mukosa pada
pembedahan tikus untuk diisolasi ususnya   3. usus penyokong aluminium Pelekatan Mukosa pada

3.

usus penyokong aluminium

Pelekatan

Mukosa

pada

4.

Penempelan granul (45 buah) pada mukosa usus dan kertas saring (kontrol -)

 
   
 
   

5.

6.

Hasil setelah dielusi

 

Proses elusi dengan larutan Dapar Fosfat selama 10 menit

Proses elusi dengan larutan Dapar Fosfat selama 10 menit
  Proses elusi dengan larutan Dapar Fosfat selama 10 menit

Uji Bioadhesif pada Jaringan Mukosa Lambung

1.

Proses

pembiusan

tikus

dengan

2.

Proses Pembedahan Tikus untuk

eter

diisolasi Jaringan mukosa lambung

diisolasi Jaringan mukosa lambung

diisolasi Jaringan mukosa lambung

3.

Proses

pembersihan

jaringan

4.

Pelekatan

Mukosa

usus

pada

mukosa lambung

 

penyokong aluminium

 
   
 
   

5.

Penempelan granul (20 buah) pada jaringan mukos lambung

Penempelan granul (20 buah) pada jaringan mukos lambung

6.

Proses elusi dengan larutan HHCl fisiologis selama 10 menit

mukos lambung 6. Proses elusi dengan larutan HHCl fisiologis selama 10 menit 7. Hasil setelah dielusi

7.

Hasil setelah dielusi

 
mukos lambung 6. Proses elusi dengan larutan HHCl fisiologis selama 10 menit 7. Hasil setelah dielusi