Anda di halaman 1dari 7

ISSN: 2302-0733 Jurnal Teknosains Pangan Vol 1 No 1 Oktober 2012

Avaliable online at
www.ilmupangan.fp.uns.ac.id

Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan


Universitas Sebelas Maret

Jurnal Teknosains Pangan Vol 1 No 1 Oktober 2012

KARAKTERISASI BUBUR BAYI INSTAN BERBAHAN DASAR TEPUNG MILLET


(PANICUM SP) DAN TEPUNG KACANG HIJAU (PHASEOLUS RADIATUS) DENGAN
FLAVOR ALAMI PISANG AMBON (Musa paradisiaca var. Sapientum l.)

STUDY OF MILLET FLOUR (PANICUM SP) AND MUNG BEAN FLOUR (PHASEOLUS
RADIATUS) BASED INSTANT BABY PORRIDGE WITH AMBON BANANA (Musa paradisiaca var.
Sapientum l.) NATURAL FLAVOUR

Emma A. Husna*), Dian Rachmawanti Affandi *), Kawiji *), R. Baskoro Katri Anandito *)
*)
Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan, FP UNS, Surakarta

Received 25 September 2012 ; accepted 1 October 2012 ; published online 23 October 2012

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan tepung millet dan tepung kacang hijau untuk menghasilkan
bubur bayi yang dapat diterima melalui uji sensoris serta mempelajari sifat fisikokimianya (kelarutan, daya serap air, bulk density,
warna, dan proksimat). Kacang hijau ditambahkan untuk meningkatkan protein bubur bayi. Bubur bayi sampel kemudian
dibandingkan dengan bubur bayi kontrol yang terbuat dari 100% tepung millet. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Lengkap dengan satu faktor yaitu variasi perbandingan tepung millet dan tepung kacang hijau (50:50, 70:30, dan 90:10).
Hasil penelitian menunjukkan bubur bayi terbaik yaitu bubur bayi dengan variasi perbandingan tepung millet dan tepung
kacang hijau = 70:30. Penambahan tepung kacang hijau tidak mempengaruhi kelarutan, daya serap air, bulk density, dan warna
namun mempengaruhi sifat kimianya. Penambahan tepung kacang hijau menyebabkan penurunan kadar air dan karbohidrat namun
mengakibatkan kenaikan kadar abu, lemak, dan protein.

Kata kunci: bubur bayi, millet, kacang hijau, pisang ambon, karakterisasi

ABSTRACT

The purpose of this study was to obtain the best ratio of millet flour and mung bean flour to produce baby porridge which was
acceptable through sensoric analysis and to study the physicochemical characteristic (water solubility, water absorption, bulk
density, color, and proximate analysis). Mung bean was added to increase the protein content. Porridge samples then compared
with porridge control which was made from 100% millet flour. This research used Completely Randomized Design (CRD) with one
factor, which was ratio of millet flour and mung bean flour (50:50, 70:30, and 90:10).
The result showed the best baby porridge was the one with ratio of millet flour and mung bean flour = 70:30. The addition of
mung bean flour did not affect the water solubility, water absorption, bulk density, and color but affect the chemical characteristic.
The addition of mung bean flour caused the decrease of water and carbohydrate content but increase ash, fat, and protein content.

Keyword: baby porridge, millet, mung bean, ambon banana, characterization

*)
Corresponding author: d_affa@hotmail.com

68
ISSN: 2302-0733 Jurnal Teknosains Pangan Vol 1 No 1 Oktober 2012

PENDAHULUAN tepung millet sebagai sumber karbohidrat dan


Makanan Pendamping ASI merupakan makanan tepung daun kelor sebagai sumber protein. Bubur
yang diberikan kepada bayi saat usianya 6 bulan yang dihasilkan beraroma langu dan rasa khas
keatas. Ini dikarenakan pemberian ASI saja tidak seperti daun kering. Aroma dan rasa ini berasal dari
mencukupi kebutuhan gizi bayi. Selain itu, makanan tepung daun kelor. Karena itu pada penelitian ini,
pendamping ASI juga berfungsi sebagai pengenalan tepung daun kelor digantikan dengan tepung kacang
kepada bayi terhadap makanan keluarga. Makanan hijau sebagai sumber protein. Untuk mengurangi bau
pendamping ASI (MP-ASI) dapat berupa biskuit langu dari kacang hijau, ditambahkan pisang ambon.
bayi, bubur bayi, atau buah-buahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari
MP-ASI harus mengandung berbagai gizi yang formula perbandingan tepung millet dan tepung
dibutuhkan oleh bayi seperti sumber karbohidrat, kacang hijau terbaik dan mempelajari sifat sifat fisik
protein, lemak, vitamin, dan mineral. Sumber (kelarutan, daya serap air, bulk density, dan warna)
karbohidrat pada pembuatan MP-ASI biasanya serta sifat kimia (kadar air, kadar abu, lemak,
bersumber dari tepung beras. Untuk mengurangi protein, dan karbohidrat) dari formula terbaik
ketergantungan akan beras bisa digantikan dengan tersebut.
millet yang kemudian diproses menjadi tepung
millet. Menurut penelitian Prabowo (2010), tepung METODE PENELITIAN
millet dapat digunakan sebagai pengganti tepung Alat
terigu. Di Afrika, bubur millet biasa dikonsumsi Alat yang digunakan pada penelitian ini terdiri
karena mudah dicerna dan kandungan gizinya yang dari grinder/penepung, ayakan 80 dan 100 mesh,
tinggi. Oleh karena itu pada penelitian ini akan timbangan digital, blender, panci, loyang, oven,
dicoba menggunakan tepung millet sebagai sumber pengaduk, solet, alumunium foil, desikator,
karbohidrat untuk membuat MP-ASI yang berupa chromameter, tanur, tabung Kjeldahl, erlenmeyer,
bubur bayi. Sedangkan untuk sumber protein buret, dan soxhlet.
digunakan tepung kacang hijau. Kacang hijau
(Phaseolus aureus) mempunyai nilai gizi yang Bahan
tinggi dan dapat digunakan sebagai sumber vitamin Bahan yang digunakan pada penelitian ini
dan mineral (Candra, 2010). Menurut Astawan terdiri dari millet (ditepungkan) dan kacang hijau
(2009), pati pada kacang hijau memiliki daya cerna (ditepungkan) yang diperoleh dari pasar lokal
yang sangat tinggi yaitu 99,8% sehingga sangat baik Surakarta, pisang (dihaluskan), susu skim, gula
dijadikan bahan makanan bayi dan balita yang halus, minyak kedelai "Mazola" dan air.
sistem pencernaannya belum sesempurna orang
dewasa. Tahapan Penelitian
Asam amino pembatas adalah asam amino yang Pelaksanaan penelitian meliputi pembuatan
sangat kurang terkandung dalam suatu bahan tepung millet, tepung kacang hijau, puree pisang,
pangan. Asam amino pembatas pada kacang hijau dan pembuatan bubur bayi instan. Analisis yang
adalah metionin (Setyani dan Medikasari, 2008). dilakukan adalah analisis sensoris dengan
Sedangkan asam amino pembatas yang terdapat menggunakan pembanding berupa bubur bayi
pada serealia adalah lysin (Ferrel et al., 1968). Bila kontrol dan analisis fisikokimia dari bubur bayi
dua jenis protein yang memiliki jenis asam amino terbaik dengan menggunakan pembanding berupa
esensial pembatas yang berbeda dikonsumsi bubur bayi kontrol dan bubur bayi komersil.
bersama-sama, maka kekurangan asam amino dari Rancangan percobaan yang digunakan adalah
satu protein dapat ditutupi oleh asam amino sejenis rancangan acak lengkap satu faktor yaitu variasi
yang berlebihan dari protein lain. Dua protein konsentrasi tepung millet kuning dan tepung kacang
tersebut saling mendukung (complementary) hijau. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan
sehingga mutu gizi dari campuran bahan tersebut ANOVA dengan =5%. Apabila terdapat beda nyata
menjadi lebih tinggi (Winarno, 1984). Sehingga yang signifikan antar perlakuan, uji dilanjutkan
perpaduan tepung millet dan tepung kacang hijau dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT).
akan menghasilkan nilai gizi yang lebih tinggi.
Pada penelitian sebelumnya, MP-ASI yang
berupa bubur bayi telah dibuat dengan kombinasi
69
ISSN: 2302-0733 Jurnal Teknosains Pangan Vol 1 No 1 Oktober 2012

HASIL DAN PEMBAHASAN larut suatu bahan dalam air. Begitu pula bubur F2
Sifat Sensoris Bubur Bayi Instan dan bubur kontrol yang memiliki nilai daya serap air
Hasil analisis sifat sensoris bubur bayi instan lebih kecil daripada bubur bayi komersil, memiliki
berbahan dasar tepung millet dan tepung kacang kelarutan yang kecil pula.
hijau dengan flavor alami pisang ambon dapat
c. Bulk Density/Densitas Kamba
dilihat pada Tabel 1. Pada Tabel 2 diketahui bahwa densitas kamba
Pada Tabel 1 terlihat bahwa tidak terdapat beda bubur bayi F2 yakni sebesar 0,71 g/mL tidak
nyata pada warna tiap sampel. Begitu pula dengan berbeda nyata dengan densitas kamba bubur bayi
aroma, flavor, dan tekstur. Bubur bayi instan sampel kontrol (0,69 g/mL). Namun, berbeda nyata dengan
sama baiknya dengan bubur bayi kontrol. Namun, bubur bayi komersil yang memiliki densitas kamba
secara keseluruhan, semakin sedikit penambahan sebesar 0,59 g/mL. Dari data tersebut dapat diartikan
kacang hijau semakin lebih baik daripada bubur bayi bahwa penambahan tepung kacang hijau tidak
kontrol. Meski demikian, bubur bayi F2 dipilih mempengaruhi densitas kamba bubur bayi yang
sebagai bubur bayi terbaik. Ini dikarenakan bubur dihasilkan. Gizi yang didapat dari bubur bayi yang
bayi F2 tidak berbeda nyata dengan bubur bayi F3 memiliki densitas kamba besar akan lebih banyak
dan bubur bayi F2 memiliki konsentrasi
daripada bubur bayi yang memiliki densitas kamba
penambahan kacang hijau yang lebih banyak kecil. Ini dikarenakan produk dengan kepadatan nilai
daripada bubur bayi F3 sehingga diharapkan bubur gizi tinggi menempati ruang yang sedikit dalam usus
bayi F2 memberikan nilai gizi yang lebih baik. bayi, sehingga semakin banyak zat gizi yang dapat
Sifat Fisik Bubur Bayi Instan diterima oleh bayi. Densitas kamba bubur bayi F2
Hasil analisis sifat fisik bubur bayi instan tidak berbeda nyata dengan bubur bayi kontrol
berbahan dasar tepung millet dan tepung kacang namun lebih bagus daripada bubur bayi komersil.
hijau dengan flavor alami pisang ambon dapat Densitas kamba makanan berbentuk bubuk berkisar
dilihat pada Tabel 2. antara 0,30 – 0,80 g/mL (Wiranatakusumah, 1992
dalam Dewi, 2011).
a. Kelarutan
Pada Tabel 2 diketahui bahwa kelarutan bubur d. Warna
bayi F2 (34,93%) tidak berbeda nyata dengan bubur Hasil analisa sifat fisik warna bubur bayi
kontrol (34,97%) namun berbeda nyata dengan berbahan dasar dasar tepung millet dan tepung
bubur bayi komersil (39,72%). Hal tersebut berarti kacang hijau dengan flavor alami pisang dapat
penambahan tepung kacang hijau tidak memberikan dilihat pada Tabel 3.
pengaruh yang signifikan terhadap kelarutan bubur Pada Tabel 3 terlihat bahwa penambahan
bayi. Kelarutan bubur bayi tidak diharapkan tepung kacang hijau tidak memberikan pengaruh
mendekati 100% karena dengan kelarutan sebesar yang nyata terhadap nilai L sampel kontrol namun
ini, produk akan larut sempurna didalam air memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
sehingga tidak baik untuk bayi karena fungsi dari bubur komersil. Nilai L bubur bayi menurun
makanan pendamping ASI adalah mengenalkan bayi signifikan dari 87,07 pada bubur bayi komersil
dengan makanan padat. menjadi 65,79 pada bubur bayi kontrol dan menjadi
62,45 pada bubur bayi F2, yang menunjukkan bahwa
b. Daya Serap Air
derajat kecerahannya menurun. Berdasarkan nilai L
Berdasarkan Tabel 2 diketahui daya serap air
diketahui bubur bayi F2 lebih gelap daripada bubur
bubur bayi F2 (2,43 g/g) tidak berbeda nyata dengan
bayi kontrol dilihat dari nilai L-nya yang lebih
bubur bayi kontrol (2,26 g/g) namun berbeda nyata
rendah. Hal ini diduga terjadi reaksi Maillard saat
dengan bubur bayi komersil (3,91 g/g). Ini berarti
pemanggangan karena kandungan protein yang
penambahan tepung kacang hijau tidak berpengaruh
terdapat pada tepung kacang hijau cukup tinggi
terhadap daya serap air bubur bayi yang dihasilkan.
yakni 20,15% (Astawan, 2009).
Daya serap air berbanding lurus dengan kelarutan.
Perbandingan nilai a dan b dapat
Ini terlihat pada daya serap air bubur bayi komersil 0 -1
diintrepretasikan dalam nilai Hue [tan (b/a)].
yang memiliki daya serap air terbesar, memiliki
Setelah dianalisa secara statistik, nilai 0Hue pada
kelarutan yang besar pula yakni 39,72%. Semakin
ketiga sampel berbeda secara nyata. Ini artinya
banyak air yang diserap oleh tiap gram bahan, makin

70
ISSN: 2302-0733 Jurnal Teknosains Pangan Vol 1 No 1 Oktober 2012

Tabel 1. Skor Kualitas Sensoris Bubur Bayi


Atribut Sensori
Bubur Bayi**
Warna* Aroma* Flavor* Tekstur* Overall*
F1 4,00a 4,00a 4,36 a
4,44a 4,44b
F2 4,24a 3,68a 4,28a 4,20a 4,08ab
F3 3,56a 3,40a 3,64 a
3,84a 3,56a
Notasi yang berbeda pada satu kolom menunjukan beda nyata pada α 5 %
* skor : 1=sangat lebih baik dari K; 2=Lebih baik dari K; 3=Agak lebih baik dari K; 4=Sama dengan K; 5=Agak lebih buruk dari K;
6=Lebih buruk dari K; 7=Sangat lebih buruk dari K ; K=kontrol
**Ket : F1=Tepung millet 50% + tepung kacang hijau 50%; F2=Tepung millet 70% + tepung kacang hijau 30%; F3=Tepung millet
90% + tepung kacang hijau 10%

Tabel 2. Kelarutan, Daya Serap Air dan Bulk Density Bubur Bayi Instan
Jenis Bubur Bayi Instan*
Sifat Fisik
K F2 BK
1. Kelarutan (%) 34,97 a
34,93a 39,72b
2. Daya Serap Air (g/g) 2,26a 2,43a 3,91b
3. Bulk Density (g/cm3) 0,69b 0,71b 0,59a
Notasi yang berbeda pada satu baris menunjukan beda nyata pada α 5 %
*Kode:K (kontrol)=Tepung millet 100%; F2=Tepung millet 70%+tepung kacang hijau 30%; BK=Bubur komersil

Tabel 3. Hasil Uji Warna Bubur Bayi Instan


Jenis Bubur Bayi**
Atribut Warna*
K F2 BK
L 65,79a 62,45a 87,07b
a 4,78b 6,75c -2,19a
b 22,57b 24,16c 18,00a
0
Hue 78,19b 74,55a 94,95c
Notasi yang berbeda pada satu baris menunjukan beda nyata pada α 5 %
*Keterangan:L=kecerahan; a=redness; b=yellowness; 0Hue=kecenderungan warna
**Kode:K (kontrol)=Tepung millet 100%; F2=Tepung millet 70%+tepung kacang hijau 30%; BK=Bubur komersil

Tabel 4. Deskripsi Warna Berdasarkan 0Hue


Nilai 0Hue Deskripsi Warna
18 – 54 Merah
54 – 90 Merah Kekuningan
90 – 126 Kuning
126 – 162 Hijau Kekuningan
162 – 198 Hijau
198 – 234 Hijau Kebiruan
234 – 270 Biru
270 – 306 Ungu Kebiruan
306 – 342 Ungu
342 – 18 Ungu Kemerahan
Sumber : Hutchings (1999) dalam Anita (2009)

penambahan tepung kacang hijau mempengaruhi dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4 maka
nilai 0Hue bubur bayi.Deskripsi nilai 0Hue dapat warna bubur bayi kontrol dan F2 dapat
71
ISSN: 2302-0733 Jurnal Teknosains Pangan Vol 1 No 1 Oktober 2012

dikategorikan sebagai merah kekuningan. tepung kacang hijau menyebabkan kadar abu bubur
Sedangkan bubur bayi komersil dikategorikan bayi makin tinggi. Ini dikarenakan kadar abu tepung
sebagai warna kuning. Bubur bayi komersil kacang hijau, yakni 2,07% (%wb) (Astawan, 2009),
cenderung berwarna kuning karena dari nilai b yang lebih tinggi daripada kadar abu tepung millet yakni
bernilai positif yang menunjukkan warna kuning 1,80% (%wb) (Prabowo, 2010).
lebih dominan daripada nilai a yang bernilai negatif Berdasarkan SNI 01-7111.1-2005, kadar abu
yang menunjukkan warna hijau. Bubur bayi kontrol pada bubur bayi instan yakni tidak lebih dari 3,5 gr
dan bubur bayi F2 cenderung berwarna merah per seratus gram bahan. Hasil penelitian terhadap
kekuningan karena nilai a yang positif yang bubur bayi instan berbahan dasar tepung millet dan
menunjukkan warna merah dan nilai b yang juga tepung kacang hijau dengan flavor alami pisang
bernilai positif yang menunjukkan warna kuning. menunjukkan kadar abu bubur bayi F2 adalah
sebesar 1,73% (%wb) maka bubur bayi ini sesuai
Sifat Kimia Bubur Bayi Instan
dengan standar SNI.
Sifat kimia bubur bayi instan berbahan dasar
tepung millet dan tepung kacang hijau dengan flavor
c. Kadar Lemak
alami pisang yang meliputi kadar air, lemak, padatan Pada Tabel 5 diketahui kadar lemak dari ketiga
terlaru, serat kasar, dan beta karoten dapat dilihat sampel menunjukkan beda nyata yang artinya
pada Tabel 5. penambahan tepung kacang hijau mempengaruhi
kandungan lemak sampel. Bubur bayi F2 memiliki
a. Kadar Air
kandungan lemak yang tinggi. Bahkan lebih tinggi
Pada Tabel 5 diketahui kadar air bubur bayi
daripada bubur bayi komersil. Namun kandungan
kontrol dan bubur komersil tidak berbeda secara
lemak tepung kacang hijau yakni 0,80 gr/100 gr
signifikan namun berbeda nyata dengan kadar air
bahan (Astawan, 2009) lebih kecil daripada tepung
bubur bayi F2. Ini artinya penambahan tepung
millet yakni 2,58 gr/100 gr bahan (Prabowo, 2010).
kacang hijau memberikan pengaruh terhadap kadar
Meskipun demikian, kacang hijau memiliki
air sampel. Bubur bayi F2 memiliki kadar air
antioksidan berupa tokoferol atau vitamin E
terkecil. Kadar air yang terlalu kecil menghasilkan
(Manullang dan Yuhlanny, 1996) yang tidak dimiliki
bubur bayi yang bersifat higroskopis. Oleh karena
oleh millet sehingga diduga mampu melindungi
itu diharapkan lebih berhati-hati dalam penyimpanan
lemak dari oksidasi yang menyebabkan kandungan
dan pada pengembangan produk bubur bayi
lemak bubur bayi dengan penambahan tepung
berikutnya diusahakan agar kadar airnya sama
kacang hijau lebih tinggi daripada bubur kontrol.
dengan bubur bayi komersil.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan
224/Menkes/SK/II/2007 kandungan lemak untuk
224/Menkes/SK/II/2007 tentang Spesifikasi Teknis
makanan bubuk instan pendamping ASI sebesar 10-
Makanan Pendamping Air Susu Ibu dan SNI 01-
15 gr/100 gr bahan. Sedangkan menurut SNI 01-
7111.1-2005 mengenai Makanan Pendamping Air
7111.1-2005 kandungan lemak pada bubur instan
Susu Ibu menyebutkan bahwa kadar air bubur bayi
tidak kurang dari 6 gr/100 gr bahan. Hasil pengujian
instan tidak lebih dari 4%. Hasil penelitian terhadap
kimia kandungan lemak bubur bayi instan berbahan
bubur bayi instan berbahan dasar tepung millet dan
dasar tepung millet dan tepung kacang hijau dengan
tepung kacang hijau dengan flavor alami pisang
flavor alami pisang berdasarkan wet basis sebesar
menunjukkan kadar air bubur sebesar 1,96% untuk
3,57 gr per 100 gr bahan untuk sampel. Bila
sampel F2. Dari hasil tersebut diketahui bahwa
dibandingkan dengan standar kandungan lemak
bubur bayi F2 dengan proporsi tepung millet 70%
makanan pendamping ASI berdasarkan keputusan
dan tepung kacang hijau 30% sesuai dengan standar
menteri kesehatan dan SNI maka kandungan lemak
yang ditentukan.
bubur bayi berbahan dasar tepung millet dan tepung
b. Kadar Abu kacang hijau masih perlu ditingkatkan lagi.
Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa kadar abu
pada ketiga sampel diperoleh hasil yang berbeda d. Kadar Protein
Pada Tabel 5 diketahui bahwa penambahan
nyata yang artinya penambahan tepung kacang hijau
tepung kacang hijau mempengaruhi kadar protein
mempengaruhi kadar abu sampel. Penambahan
bubur bayi yang dihasilkan. Bubur bayi F2 dengan
72
ISSN: 2302-0733 Jurnal Teknosains Pangan Vol 1 No 1 Oktober 2012

Tabel 5. Hasil Uji Kimia Bubur Bayi


Jenis Bubur Bayi*
Parameter
K F2 BK
1. Kadar Air
%wb 3,32b 1,96a 3,39b
2. Kadar Abu
%wb 1,54 1,73 2,03
%db 1,59a 1,76b 2,09c
3. Lemak
%wb 2,99 3,57 2,49
%db 3,09b 3,64c 2,59a
4. Protein
%wb 8,54 11,05 9,08
%db 8,84a 11,27c 9,39b
5. Karbohidrat
%wb 83,61 81,69 83,00
%db 86,47b 83,33a 85,92b
Notasi yang berbeda pada satu baris menunjukan beda nyata pada α 5 %
*Kode:K (kontrol)=Tepung millet 100%; F2=Tepung millet 70%+tepung kacang hijau 30%; BK=Bubur komersil

proporsi tepung millet 70% dan tepung kacang hijau dikarenakan kandungan protein bubur bayi F2 yang
30% memiliki kandungan protein yang lebih tinggi tinggi.
daripada bubur bayi komersil. Ini karena kacang- Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
kacangan merupakan sumber protein dengan 224/Menkes/SK/II/2007 kandungan karbohidrat
kandungan protein berkisar antara 20-35%. Tepung untuk bubuk instan makanan pendamping ASI
kacang hijau mengandung protein sebesar 20,15 gr adalah sebesar 35 gr dalam 100 gr bahan. Namun
per 100 gr bahan (Astawan, 2009). Sedangkan sampel bubur bayi instan berbahan dasar tepung
tepung millet mengandung protein sebesar 11,29 gr millet dan tepung kacang hijau memiliki kandungan
per 100 gr bahan (Prabowo, 2010). karbohidrat (%wb) yang melebihi standar yakni
Menurut SNI 01-7111.1-2005 kandungan 81,69% bubur bayi F2. Sehingga perlu dilakukan
protein pada bubur instan tidak kurang dari 8 gr/100 penambahan bahan lain untuk meningkatkan
gr bahan. Bubur bayi instan berbahan dasar tepung kandungan gizi yang lain.
millet dan tepung kacang hijau memiliki kandungan
protein (%wb) sebesar 8,54% untuk sampel kontrol
KESIMPULAN
dengan bahan dasar 100% tepung millet; 11,05%
untuk sampel F2 dengan proporsi tepung millet 70% Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian
dan tepung kacang hijau 30%; serta 9,08% untuk ini adalah :
sampel bubur bayi komersil. Dari data tersebut maka 1. Bubur bayi berbahan dasar tepung millet dan
semua sampel sudah sesuai dengan standar yang tepung kacang hijau dengan flavor alami pisang
ditetapkan. terbaik berdasarkan uji sensoris yakni bubur bayi
dengan formulasi bahan baku 70% tepung millet
e. Kadar Karbohidrat dan 30% tepung kacang hijau.
Pada Tabel 5 diketahui kandungan karbohidrat 2. Berdasarkan sifat fisik, bubur bayi formula
bubur bayi F2 menunjukkan beda nyata terhadap terbaik memiliki kelarutan, daya serap air, dan
bubur bayi kontrol dan bubur bayi komersil. Ini bulk density/densitas kamba yang sama baiknya
artinya penambahan tepung kacang hijau dengan bubur bayi kontrol serta memiliki warna
mempengaruhi kandungan karbohidrat bubur bayi yang cenderung merah kekuningan. Berdasarkan
yang dihasilkan. Sedangkan kandungan bubur bayi sifat kimia, bubur bayi formula terbaik memiliki
kontrol sama dengan bubur bayi komersil. kadar air, kadar abu, dan kandungan protein yang
Kandungan karbohidrat bubur bayi F2 yang rendah sesuai dengan SNI.

73
ISSN: 2302-0733 Jurnal Teknosains Pangan Vol 1 No 1 Oktober 2012

DAFTAR PUSTAKA Acetylasi Asam Asetat untuk Produk Pangan.


Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Ahira, Anne. 2009. Standar Kebutuhan Bayi.
Semarang.
http://www.anneahira.com/perawatan-bayi/gizi-
Manullang, Monang dan Yuhlanny D. Suratno. 1996.
bayi.htm. Diakses pada hari Kamis tanggal 12
PENGARUH GERMINASI TERHADAP
januari 2012.
KANDUNGAN TOKOFEROL DARI KACANG
Amirullah, Tendi Chrisyanto. 2008. Fortifikasi
KEDELAI (Glycine max),KACANG TANAH
Tepung Ikan Tenggiri (Scomberomorus sp.) dan
(Arachis hypogaea) DAN KACANG HIJAU
Tepung Ikan Swangi (Priacanthus tayenus)
(Vigna radiata). Bul. Tek. Dan Industri Pangan,
dalam Pembuatan Bubur Bayi Instan. Skripsi.
Vol VII no 1.
IPB. Bogor.
Nurdjannah dan Hoerudin. 2008. Pengaruh
Anggrahini, Sri. 2009. Pengaruh Lama
Perendaman dalam Asam Organik dan Metoda
Pengecambahan Terhadap Kandungan A-
Pengeringan Terhadap Mutu Lada Hijau
Tokoferol dan Senyawa Proksimat Kecambah
Kering. Bul.Littro. Vol. XIX No. 2.
Kacang Hijau (Phaseolus Radiatus L.).
Prabowo, Bimo. 2010. Kajian Sifat Fisikokimia
http://patpijogja.wordpress.com/2009/08/27/pen
Tepung Millet Kuning dan Tepung Millet Merah.
garuh-lama-pengecambahan-terhadap-
Universitas Sebelas Maret Surakarta. Skripsi.
kandungan-a-tokoferol-dan-senyawa-proksimat-
Purwani, E.Y. B.A.S. Santosa. K.D. Meihira. D.S.
kecambah-kacang-hijau-phaseolus-radiatus-l-
Damardjati. 2012. Beberapa Sifat Biskuit dari
oleh-sri-anggrahini-staf-pengajar-fakultas-
Campuran Tepung Beras Kaya Protein dan
teknologi-pertanian-ugm/. Diakses pada hari
Tepung Kacang Hijau untuk Makanan
Selasa tanggal 29 November 2011.
Tambahan Bayi Usia di Bawah Dua Tahun.
Astawan, Made. 2009. Sehat dengan Hidangan
Agritech Vol. 16 No.2, halaman 2.
Kacang dan Biji-bijian. Penebar Swadaya.
Setyani, Sri dan Medikasari. 2008. STUDI
Bogor.
PEMBUATAN SUSU JAGUNG MANIS
Candra, Asep. 2010. Sebelas Resep Kacang Hijau
KACANG HIJAU : EFEK FORMULASI
Untuk Kesembuhan.
JAGUNG MANIS DAN KACANG HIJAU
http://health.kompas.com/read/2010/10/28/1510
TERHADAP NILAI GIZI. Seminar Nasional
181/11.Resep.Kacang.Hijau.Untuk.Kesembuhan.
Sains dan Teknologi-II. Universitas Lampung.
Diakses pada hari Selasa tanggal 24 Januari
Soenardi. 1999. Mengenal Makanan Bayi Makanan
2012.
Pendamping ASI. http://www.balita-
Ferrel et al. 1968. Determination of Free Lysine and
anda.indoglobal.com. Dalam penelitian Saloko
Methionine in Amino Acid-Fortified Wheat.
et al. 2009. Formulasi Tepung Pisang Kepok
AOCS-AACC Joint Meeting. Washington D.C.
dan Tepung Kacang Hijau Terhadap Mutu MP-
Francis, F.J. 1985. Blueberries as A Colorant
ASI Lokal. Prosiding Seminar Nasional FTP
Ingredient in Food Products. Dalam Cai Y &
UNUD.
Corke H. Amaranthus Betacyanin Pigments
Soraya, Noni. 2007. Sehat & Cantik Berkat Teh
Applied in Model Food System. J. Food Sci.,
Hijau. Penebar Swadaya. Depok.
64:869-873.
Triyulianti, E., J. Jacjha dan Jayusmar. 2001.
Hutchings JB. 1994. Food Colour and Appearance.
Pengaruh suhu dan tekanan pengempaan
Glasgow : Blackie Academic and Professional.
terhadap sifat fisik wafer ransum dari limbah
Dalam skripsi Anita, Sri. 2009. Studi Sifat
pertanian sumber serat dan leguminose untuk
Fisiko-Kimia, Sifat Fungsional Karbohidrat,
ternak ruminansia. Media Peternakan 24(3) :
dan Aktivitas Antioksidan Tepung Kecambah
76-81. Dalam penelitian Retnani, Yuli., S.A
Kacang Komak (Lablab purpureus (L.) sweet).
Aisyah, L. Herawati dan A. Saenab. 2010. Uji
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Kadar Air dan Daya Serap Air Biskuit Limbah
Kainuma K, Odat T, Cuzuki S. 1967. Study of Starch
Tanaman Jagung dan Rumput Lapang Selama
Phosphates Monoesters. J. Technol, Soc. Starch
Penyimpanan. Seminar Nasional Teknologi
14:24-28. Dalam penelitian Artiani, Pungky
Peternakan dan Veteriner.
Ayu dan Avrelina, Yohanita Ratna. 2009.
Winarno, F. G. 1984. Kimia Pangan dan Gizi.
Modifikasi Cassava Starch dengan Proses
Gramedia. Jakarta.
74