Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

ANALISIS KASUS

Seorang wanita berumur 19 tahun, belum menikah dan tidak bekerja.


Dibawa ke rumah sakit oleh keluarga dengan kondisi pasien compos mentis
terganggu, dengan sebab utama sering mengurung diri. ± 3 minggu yang lalu, pasien
menjadi lebih pendiam dan sering melamun. Pasien mengurung diri di kamar dan
menangis sepanjang hari. Pasien sering marah-marah dan melempar barang di
sekitar pasien. Pasien sering menyakiti diri sendiri, seperti menggigit dan mencakar
tangan pasien. Nafsu makan pasien berkurang, pasien hanya makan dan minum
setelah dipaksa. Pasien masih dapat mengurus diri sendiri, seperti makan dan mandi.
Pasien tidak lagi membantu ibu pasien untuk mengurus rumah dan keluarga. Pasien
tampak lebih cepat lelah, sehingga lebih banyak tidur pada siang hari dan sulit tidur
pada malam hari. Perilaku pasien seperti ini baru pertama kali terjadi. Perilaku
pasien berubah semenjak calon suami pasien yang beragama Islam menolak untuk
menggunakan adat Hindu di acara pernikahan mereka.
± 1 minggu yang lalu, pasien semakin sering menangis dan marah-marah.
Pasien tidak keluar kamar dan menolak makan dan minum, sudah beberapa hari
pasien tidak makan, pasien tampak sangat lemas. Pasien tampak kecewa dan putus
asa, pasien sering mengatakan lebih baik mati, namun belum ada upaya untuk
bunuh diri. Pasien sudah tidak bisa mengurus diri sendiri. Pasien tidak terlihat
sering berbicara sendiri dan mudah curiga terhadap orang lain. Pasien tidak
mengatakan adanya bisikan-bisikan ataupun melihat sesuatu.
Saat dilakukan wawancara psikiatri, os mengatakan bahwa rencana
pernikahanannya akan segera terlaksana. Os dan calon suaminya akan segera
menikah setelah lebaran idul fitri ini. Berdasarkan autoanamnesis dan pemeriksaan
status mental, didapatkan gejala klinis bermakna berupa pasien sering menyendiri,
pikiran kosong, nafsu makan menurun, aktivitas psikomotor menurun, susah
memulai tidur dan jika terbangun susah untuk tidur kembali, sulit berkonsentrasi
sehingga pasien dapat disimpulkan mengalami gangguan jiwa. Pada pemeriksaan
status mental tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai realita, sehingga
didiagnosis gangguan jiwa non psikotik. Pada status internus tidak ditemukan
adanya kelainan dan pada pemeriksaan status neurologi juga tidak ditemukan
adanya kelainan, sehingga gangguan mental organik dapat disingkirkan dan
didiagnosis gangguan jiwa non psikotik non organik.
Dari autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan 3 gejala utama
depresi yang dialami sejak beberapa bulan ini berupa kehilangan minat dan
kegembiraan, mudah lelah, dan afek hipotimia, disertai gejala tambahan berupa sulit
berkonsentrasi, gagasan tentang putus asa untuk menikah, psikomotor menurun,
tidur terganggu dan jika terbangun sulit untuk tidur lagi, serta nafsu makan
berkurang sehingga berdasarkan PPDGJ III dapat ditegakkan diagnosis aksis I
sebagai Episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2) Diagnosis aksis II tidak
ada diagnosis. Aksis III tidak ada diagnosis. Aksis IV stressor berupa masalah
lingkungan sosial (gagal menikah). Aksis V GAF scale tertinggi GAF scale tertinggi
100-91, GAF scale saat MRS 50-61, GAF scale follow up 70-61.
Depresi merupakan salah satu gangguan mood. Pasien dengan mood terdepresi
(yaitu, depresi) merasakan hilangnya energi dan minat, perasan bersalah, sulit
berkonsentrasi, hilang nafsu makan, dan pikiran tentang kematian atau bunuh diri.
Gangguan depresi berat merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan
pada psikomotor, kemampuan kognitif, pembicaraan dan fungsi vegetatif.
Penyebab dari gangguan depresi terdiri dari faktor biologis, faktor genetika dan
faktor psikososial. Pada hipotesis timbulnya depresi dihubungkan dengan peran
beberapa neurotransmiter aminergik. Hipotesis tersebut menjadi dasar penggunaan
dan pengembangan obat-obat anti depresan.
Pada gangguan depresi yang sering terdapat pikiran-pikiran atau rancangan
bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit dengan pemberian
terapi psikoterapi dan obat anti depresan. Pemberian anti depresan diberikan melalui
tahapan-tahapan, yaitu dosis initial, titrasi, stabilisasi, maintenance dan dosis
tapering. Dimana dosis dan lama pemberiannya berbeda-beda. Pada kasus ini diberi
anti depresan Sertraline 50 mg 0-1-1. Kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi
adalah pengobatan yang paling efektif untuk gangguan depresi berat.