Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Otak adalah organ yang luar biasa, bekerja mengkoordinasikan seluruh
yang terjadi di dalam tubuh kita, kepribadian, metabolisme, tekanan darah, emosi,
hormon, ingatan , bekerja melebihi komputer manapun didunia ini. Kelainan kecil
pada otak akan mempengaruhi aktifitas tubuh, karenanya kita harus selalu menjaga
nutrisinya dan menjaga kesehatannya dan mengembangkannya
Otak manusia mempunyai berat 2% dari berat badan orang dewasa (3 pon)
, menerima 20 % curah jantung dan memerlukan 20% pemakaian oksigen tubuh dan
sekitar 400 kilo kalori energi setiap harinya. Otak merupakan jaringan yang paling
banyak memakai energi dalam seluruh tubuh manusia dan terutama berasal dari
proses metabolisme oksidasi glukosa. Jaringan otak sangat rentan terhadap perubahan
oksigen dan glukosa darah, aliran darah berhenti 10 detik saja sudah dapat
menghilangkan kesadaran manusia. Berhenti dalam beberapa menit, merusak
permanen otak. Hipoglikemia yang berlangsung berkepanjangan juga merusak
jaringan otak.
Cairan tubuh (bahasa Inggris: interstitial fluid, tissue fluid, interstitium)
adalah cairan suspensi sel didalam tubuh makhluk multiselular seperti manusia atau
hewan yang memiliki fungsi fisiologis tertentu. Cairan tubuh merupakan komponen
penting bagi fluida ekstraselular, termasuk plasma darah dan fluida transelular.
Cairan tubuh dapat ditemukan pada spasi jaringan (bahasa Inggris: tissue space,
interstitial space). Rata-rata seseorang memerlukan sekitar 11 liter cairan tubuh untuk
nutrisi sel dan pembuangan residu jaringan tubuh. Kelebihan cairan tubuh
dikeluarkan melalui air seni. Kekurangan cairan tubuh menyebabkan seseorang
kehausan dan akhirnya dehidrasi. Contoh cairan tubuh adalah : darah dan plasma
darah, sitosol, cairan serebrospinal (CSS), cairan limfa, cairan pleura, dan cairan
amnion.

1
Pada makalah ini akan dibahas secara khusus pemeriksaan laboratorium
klinik terhadap specimen cairan otak atau Liquor Cerebro Spinalis (LCS).
Pemeriksaan LCS ini berperan penting dalam mendiagnosa adanya gangguan
terhadap selaput otak/ meningia. Pemeriksaan Terhadap LCS ini terbagi atas
pemeriksaan Makroskpis, Mikroskopis, dan Kimiawi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Untuk mengetahui cairan otak
2. Untuk mengetahui proses pembentukan otak
3. Untuk mengetahui cara pengambilan cairan serebrospinal
4. Untuk mengetahui cara penyimpanan dan pengiriman
5. Untuk mengetahui tahap pemeriksaan cairan otak

1.3 Tujuan Penulisan


1. Apa pengertian cairan otak ?
2. Bagaimana proses pembentukan cairan otak?
3. Bagaimana cara pengambilan cairan serebrospinal ?
4. Bagaimana cara penyimpanan dan pengiriman?
5. Bagaimana tahap pemeriksaan cairan otak ?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Cairan Otak


Cairan otak ialah cairan jernih, tak berwarna yang 70 % dibuat oleh plexus
choroideus di dalam ruang atau ventrikel otak melalui transport akitf dan ultrafiltrasi,
sedangkan 30% dibentuk pada tempat lain, termasuk pada ventrikel dan rongga
subarachnoid. Pada orang dewasa volume intrakranial kurang lebih 1700 ml,
volume otak sekitar 1400 ml, volume cairan serebrospinal 52-162 ml (rata-rata
104 ml) dan darah sekitar 150 ml. 80% dari jaringan otak terdiri dari cairan,
baik ekstra sel maupun intra sel.
Rata-rata cairan serebrospinal dibentuk sebanyak 0,35 ml/menit atau
500 ml/hari, sedangkan total volume cairan serebrospinal berkisar 75-150 ml
dalam sewaktu. Ini merupakan suatu kegiatan dinamis, berupa pembentukan,
sirkulasi dan absorpsi. Untuk mempertahankan jumlah cairan serebrospinal tetap
dalam sewaktu, maka cairan serebrospinal diganti 4-5 kali dalam sehari.
Liquour Cerebrospinalis adalah cairan otak yang diambil melalui lumbal
punksi, Cairan otak tidak boleh dipandang sama dengan cairan yang terjadi oleh
proses ultrafiltrasi saja dari plasma darah. Di samping filtrasi, faktor sekresi dari
plexus choriodeus turut berpengaruh. Karena itu cairan otak bukanlah transudat
belaka. Akan tetapi seperti transudat, susunan cairan otak juga selalu dipengaruhi
oleh konsentrasi beberapa macam zat dalam plasma darah.
Pengambilan cairan otak itu dilakukan dengan maksud diagnostik atau
untuk melakukan tindakan terapi. Kelainan dalam hasil pemeriksaan dapat memberi
petunjuk kearah suatu penyakit susunan saraf pusat, baik yang mendadak maupun
yang menahun dan berguna pula setelah terjadi trauma.

3
2.2 proses pembentukan cairan otak

Cairan otak dibentuk oleh plexus chroideus dan merupakan hasil filtrasi dari
plasma. Cairan ini serupa dengan plasma bedanya hanya elemen-elemen yang
terkandung didalamnya, umpamanya kadar Na, Ca HCO3, glukosa dalam jumlah yang
rendah dll. Perbedaan ini disebabkan adanya permobility yang selektif dan faktor-
faktor sekresi dari dinding plexus choroedeus. Disamping itu dikenal pula istilah
blood brain barrier dimana pada keadaan normal mencegah masuknya beberapa
bahan kedalam cairan otak misalnya bilirubin dan penicillin pada keadaan patologis
barrier ini rusak sehingga terdapat cairan otak yang patologis pula.
Fungsi cairan otak :
1. Pelindung otak dari goncangan
2. Mengatur volume otak dengan jalan mengatur produksi cairan otak
3. Sebagai alat transport zat-zat makanan dan sisi metabolism

Cara memperoleh cairan otak :


Cairan otak diperoleh dengan cara melakukan fungsi pada :
1. Daerah lumbal (L3 dan L4)
2. Sisterna magna
3. Ventrikel otak ( sesuai dengan indikasi).

4
2.3. Pengambilan Cairan Serebrospinal

Cairan otak biasanya diperoleh dengan melakukan punksi lumbal pada


lumbal III dan IV di cavum subarachnoidale, namun dapat pula pada suboccipital ke
dalam cisterna magma atau punksi ventrikel, yang dapat disesuaikan dengan indikasi
klinik. Seorang klinik yang ahli dapat memperkirakan pengambilan tersebut. Hasil
punksi lumbal dimasukkan dalam 3 tabung atau 3 syringe yang berbeda, antara lain :
1. Tabung I berisi 1 mL
Dibuang karena tidak dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan karena
mungkin mengandung darah pada saat penyedotan.
2. Tabung II berisi 7 mL
Digunakan untuk pemeriksaan serologi, bakteriologi dan kimia klinik.
3. Tabung III berisi 2 mL
Digunakan untuk pemeriksaan jumlah sel, Diff.count dan protein
kualitatif/kuantitatif.

Tata Cara yaitu :


1. Pasien dalam posisi miring pada salah satu sisi tubuh. Leher fleksi maksimal
(lutut di tarik ke arah dahi )
2. Tentukan daerah pungsi lumbal di antara L4 dan L5 yaitu dengan menentukan
garis potong sumbu kraniospinal ( kolumna verterbralis ) dan garis antara kedua
spina ishiadika anterior superior ( SIAS ) kiri dan kanan. Pungsi dapat pula di
lakukan anatara L4 dan L5 atau antara L2 dan L3 namun tidak boleh pada bayi.
3. Lakukan tindakan antisepsis pada kulit di sekitar daerah pungsi radius 10 cm
dengan larutan Povidon iodin di ikuti larutan alkohol 70% dan tutup dengan duk
steril di mana daerah pungsi lumbal di biarkan terbuka.
4. Tentukan kembali daerah pungsi dengan menekan ibu jari tangan yang telah
memakai sarung tangan steril selama 15 – 30 detik yang akan menandai titik
pungsi tersebut selama 1 menit.

5
5. Tusukan jarum spinal/stylet pada tempat yang telah di tentukan. Masukan jarum
perlahan-lahan menyusur tulang vertebra sebelah proksimal dengan mulut jarum
terbuka ke atas sampai menembus duramater. Jarak antara kulit dan ruang
subarakhnoi berbeda pada tiap anak tergantung umur dan keadaan gizi. Umumnya
1,5 – 2,5 cm pada bayi dan meningkat menjadi 5 cm pada umur 3 –5 tahun. Pada
remaja jaraknya 6 – 8 cm.
6. Lepaskan stylet perlahan-lahan dan cairan keluar. Untuk mendapatkan aliran
cairan yang lebih baik, jarum di putar hingga mulut jarum mengarah ke kranial.
Ambil cairan untuk pemeriksaan
7. Cabut jarum dan tutup lubang tusukan dengan plester.

2.4. Cara penyimpanan dan pengiriman

Specimen harus sudah tiba di laboratorium dalam waktu satu jam setelah
pengambilan, jika tidak memungkinkan specimen harus di simpan dalam lemari es
atau media transport. Daalam beberapa jam saja.
Pengiriman specimen harus secepat mungkin dengan menggunakan cooling
box (2-80c) kecuali jika waktu perjalanan kurang dari satu jam.

2.5. Tahap Periksaan

Pra Analitik, Analitik dan Pasca analitik


1. Menghadapi pasien/klien/customer
Dalam menghadapi pasien yang perlu diperhatikan adalah aspek dari
kepuasan pelanggan, mulai dari pasien datang sampai dikeluarkannya blanko
hasil pemeriksaan. Menurut Imam Hilman (2004), apabila pelanggan merasa
puas maka akan dapat meningkatkan keuntungan atau profit bagi perusahaan.
Demikian juga kepuasan pelanggan laboratorium akan dapat meningkatkan
keuntungan bagi laboratorium yang bersangkutan.

6
Apabila pelanggan puas terhadap pelayanan laboratorium, maka ada 3
hal yang dapat mendongkrak profit laboratorium tersebut, yaitu :
a. Pelanggan yang puas akan selalu loyal apabila pelanggan loyal maka
sewaktu-waktu mereka memerlukan pemeriksaan laboratorium akan
datang kembali ke laboratorium tersebut, yang pada akhirnya dapat
meningkatkan keuntungan bagi laboratorium tersebut.
b. Pemasaran menjadi efektif Pelanggan yang merasa puas terhadap
pelayanan laboratorium maka merupakan sarana promosi “word of
mouth”( dari mulut ke mulut) yang sangat efektif. Sehingga dapat
mengurangi biaya pemasaran (low cost), yang dapat meningkatkan
keuntungan laboratorium.
c. Laboratorium dapat memberikan pelayanan yang berkualitas
Sampai sekarang masih dipercaya orang bahwa harga sebanding dengan
kualitas, makin tinggi harganya maka dipersepsikan makin tinggi pula
kualitasnya.Pelanggan yang merasa puas terhadap pelayanan maka mereka
kurang memperhatikan tinggi rendahnya tarif laboratorium. Terbukti
bahwa banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri meskipun tarifnya
lebih mahal. Jadi untuk pelanggan tertentu kepuasan adalah segala-
galanya. Apabila laboratorium dapat memberikan kepuasan pelayanan
kepada pelanggannya maka laboratorium tersebut dapat memberikan tarif
yang lebih tinggi dan pada akhirnya meningkatkan keuntungan bagi
laboratorium.
Untuk itu dalam menghadapi pasien sebaiknya seorang petugas harus dengan
ramah, senyum, mengerti dengan keluhan pasien, komunikatif dan tidak membuat
pasien merasa takut tetapi memberi rasa aman serta menjelaskan maksud
pengambilan spesimen.
2. Pengambilan sampel/specimen
Hasil pemeriksaan laboratorium sangat tergantung pada persiapan
yang dilakukan oleh penderita sehingga hasil yang diperiksa laboratorium

7
mendekati nilai sesungguhnya (true value). Persiapan pasien meliputi faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi pemeriksaan, selain penyakitnya sendiri,
yang meliputi : puasa, posisi pasien, persiapan tempat pengambilan sampel,
variasi diurnal, aktivitas fisik dan obat-obatan.
Laboratorium harus mempertimbangkan bagaimana cara menangani
contoh uji/sampel melalui berbagai tahapan proses, mulai dari pengiriman ke
laboratorium, penerimaannya di laboratorium, penanganan pada saat
pengujian, perlindungan pada saat penyimpanan, retensi dan pembuangannya.
Laboratorium harus memiliki prosedur dan fasilitas bagi pengelolaan sampel
uji pada setiap tahapan yang tercantum guna menjamin tidak adanya
kerusakan pada sampel uji.Laboratorium harus memiliki suatu sistem dimana
suatu sampel uji diberikan pengenal khusus yang berlaku selama sampel
tersebut ada.Sistem tersebut akan menjamin bahwa sampel tersebut tidak
tertukar baik secara fisik atau dalam rekamannya. Pada saat sampel uji
diterima di laboratorium, kondisinya harus direkam, selain tanggal dan waktu
penerimaannya. Untuk laboratorium yang menerima sampel uji dalam
beberapa hari, kondisi sebenarnya dari sampel tersebut perlu direkam hanya
bila terdapat masalah dengan kondisi yang ada. Bila sampel uji memerlukan
kondisi penyimpanan tertentu, maka sampel tersebut harus dimonitor dengan
benar, dijaga dan direkam. Perlu adanya prosedur monitoring dan perekaman
untuk kondisi tersebut. Jika sampel uji perlu disimpan dengan aman, maka
laboratorium harus menyediakan prosedurnya.
Dalam penanganan spesimen perlu diperhatikan berbagai hal sehingga
bahan pemeriksaan memenuhi syarat untuk dapat diperiksa, antara lain:
 Antara permintaan pemeriksaan dan sampel tidak sesuai, harus diteliti
kembali.
 Antikoagulan yang dipakai tidak sesuai, atau jumlahnya sedikit/terlalu
banyak.

8
 Adanya hemolisis pada saat pengambilan/pemisahan serum.
 Spesimen keruh/lipemik, perlu ambil/pemisahan ulang.
 Pemisahan serum yang tidak sempurna, perlu memperhatikan
sentrifugasi.
 Volume darah/sampel yang sedikit/tidak memadai, sebaiknya jumlahnya
cukup.
 Seringkali spesimen bukan merupakan daerah yang “dicurigai”, misalnya
pada pemeriksaan faeces.
 Tempat pengiriman sampel tidak memenuhi syarat (seadanya).
 Waktu pengiriman sampel.
 Penyimpanan bahan pemeriksaan menyangkut suhu simpan.
 Usahakan menggunakan bahan/spesimen yang segar.
Spesimen yang telah diambil dari pasien hendaklah dilakukan langkah
sebagai berikut :
a. Pemberian identitas
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen merupakan hal
yang penting baik pada saat pengisian surat pengantar/formulir
permintaan pemeriksaan, pendaftaran, pengisian label wadah
spesimen. Pada surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan
laboratorium sebaiknya memuat secara lengkap :
1.) Tanggal permintaan
2.) Tanggal dan jam pengambilan specimen
3.) Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat/ruang)
termasuk rekam medik.
4.) Identitas pengirim (nama, alamat, nomor telepon)
5.) Nomor laboratorium
6.) Diagnosis.keterangan klinik.
7.) Obat-obatan yang telah diberikan dan lama pemberian.

9
8.) Pemeriksaan laboratorium yang diminta.
9.) Jenis specimen
10.) Lokasi pengambilan specimen
11.) Volume specimen
12.) Pengawet yang digunakan
13.) Nama pengambil spesimen.
Label wadah spesimen yang akan dikirim atau diambil ke laboratorium harus
memuat :
1.) Tanggal pengambilan specimen
2.) Nama dan nomor pasien
3.) Jenis specimen

b. Pengolahan
Spesimen yang telah diambil dilakukan pengolahan untuk menghindari
kerusakan pada spesimen tersebut.Pengolahan spesimen berbeda-beda tergantung dari
jenis spesimennya masing-masing.
1. Penilaian Spesimen Yang Tidak Memenuhi Syarat
a. Spesimen diterima oleh petugas loket dan sampling.
b. Penilaian spesimen harus dilakukan sesuai dengan jenis pemeriksaan.
c. Penilaian spesimen harus segera dilakukan setelah menerima spesimen.
d. Petugas laboratorium wajib menolak dan mengembalikan spesimen yang tidak
memenuhi syarat pemeriksaan.
e. Spesimen yang ditolak diberitahukan lewat via aiphone ruangan atau yang
mengantar spesimen.
f. Spesimen untuk pemeriksaan PA yang diantar ke laboratorium berupa
jaringan biopsi dan operasi yang telah lebih 1 hari, tidak menggunakan
pengawet, ditempatkan suhu ruang ditolak untuk pemeriksaan rujukan.
Catatan :

10
1. Spesimen yang dinilai apabila spesimen tersebut diambil oleh petugas
selain petugas laboratorium dan juga spesimen yang berasal dari rujukan
laboratorium lain.
2. Spesimen yang dirujuk ke laboratorium lain harus memenuhi persyaratan
sebagaimana persyaratan laboratorium rujukan tersebut.

2. Pengiriman specimen (cairan otak)

Spesimen yang akan dikirim ke laboratorium lain, sebaiknya dikirim dalam


bentuk yang reatif stabil. Untuk itu perlu diperhatikan persyaratan pengiriman
spesimen antara lain :
a. an melampaui masa stabilitas spesimen.
b. Tidak terkena sinar matahari langsung
c. Kemasan harus memenuhi syarat keamanan kerja laboratorium termasuk
pemberian label yang bertuliskan “Bahan Pemeriksaan Infeksius” atau “Bahan
Pemeriksaan Berbahaya”.
d. Suhu pengiriman harus memenuhi syarat.
3. Pengolahan dan Penyimpanan specimen
Spesimen yang sudah diambil harus segera dikirim ke laboratorium untuk
diperiksa, karena stabilitas spesimen dapat berubah. Faktor-faktor yang
mempengaruhi stabilitas spesimen antara lain :
a. Terjadi kontaminasi oleh kuman dan bahan kimia.
b. Terjadi metabolisme oleh sel-sel hidup pada spesimen.
c. Terjadi penguapan.
d. Pengaruh suhu.
e. Terkena paparan sinar matahari.

Beberapa spesimen yang tidak langsung diperiksa dapat disimpan dengan


memperhatikan jenis pemeriksaan yang akan diperiksa. Persyaratan penyimpanan

11
beberapa spesimen untuk beberapa pemeriksaan laboratorium harus memperhatikan
jenis spesimen, antikoagulan/pengawet dan wadah serta stabilitasnya. Beberapa cara
penyimpanan spesimen :
a. Disimpan pada suhu kamar
b. Disimpan dalam lemari es suhu 2-8OC
c. Dibekukan suhu -20OC, -70OC atau -120OC
d. Dapat diberikan bahan pengawet
e. Penyimpanan spesimen darah sebaiknya dalam bentuk serum atau lisat.
(Ahmadlabrsas).

Alat dan Reagensia :


- Mikroskop
- Hemaocytometer: Bilik hitung Improved neubauer, kaca penutup, pipet thoma
leukosit
- Tissue
- Larutan Turk Pekat: Kristal Violet 0,1 gram, Asam asetat glacial 10 Ml dan
Aquadest 90 mL.

Jenis-jenis pemeriksaan

1. Pemeriksaan Makroskopik
a. Pemeriksaan tentang kekeruhan
Untuk melihat adanya kekeruhan maka cairan oatak dibandingkan
dengan yang berisi aquadest, dalam keadaan normal cairan otak jernih.
Keadaan patologis dapat terjadi sebagai berikut:
1) Opalescent : seperti kabut halus, gris hitam pada dasar tabung masih
dapat dilihat.
2) Keruh : garis hitam pada dasar tabung tidak tampak lagi [ada keadaan ini
jumlah sel umumnya lebih besar 500 sel/mm3

12
Keadaan ini bisa disbabkan oleh perdarahan, sel-sel radang, dan kuman,
leukositosis tidak selalu disertai kekeruhan misalnya pada meningitis tuberculosa,
meningitis syphili catabes dorsalis dan polio myelitis pada keadaan ini cairan otak
masih jernih.

b. Pemeriksaan tentang pH
Cairan otak dalam keadaan normal pH bereaksi sedikit alkalis

c. Pemeriksaan tentang Berat Jenis


Dalam keadaan normal Berat Jenis cairan otak sekitar 1.003-1.008
d. Pemeriksaan tentang warna
Dalam keadaan normal cairan otak tidak berwarna, dalam keadaan patologis
cairan otak berwarna :
1) Kekuning-kuningan
Warna ini dapat disebaakan derivat hemoglobin dari perdarahan yang
telah lama terjadi ( minimum 6 jam maximum 1-1,5 minggu), brasal dari
bilirubin darah bila intensitas ikterus hebat. Cairan otak xanthocrome
karena kadar protein yang sangat tinggi atau pendarahan dapat membeku.
2) Merah
Warna merah disebakan oleh karena:
Pendarahan artifisialyang merupakan komplikasi dari punksi Pendarahan
sub arachnoidal
3) Coklat
Warna coklat disebabkan perdarahan yang lama disertai dengan adanya
hemolisis , maka LC akan berwarna coklat.

4) Keabu-abuan
Warna keabu-abuan ini disebabkan oleh adanya leukosit dalam jumlah
besar
e. Pemeriksaan tentang pellicle ( bekuan halus)
Pada cairan otak yang normal pellicle / bekuan halus dapat
diperlihatkan. Bila cairan otak dibiarkan pada suhu kamar pada 24 jam. Pada
meningitis purulenta, pellicle akan cepat terbentuk besar dan kasar dalam
waktu beberapa menit sampai 1 menit sampai 1 jam.

13
2. Pemeriksaan mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopi diarahkan kepada jumlah dan jenis sel dalam cairan
otak dan kepada adanya bakteri serta jenis secara bakterioskopik.
a. Menghitung jumlah sel
Pemeriksaan ini di lakukan sebaik-baiknya setengah jam setelah
mendapat liquor karna leukosit sangat cepat rusak. Selain itu penyebaran sel
dalam cairan itu cepat menjadi serbaneka (teristimewa dalam cairan keruh)
dan tidak dapat lagi di jadikan homogen dengan mengocok.
Tabung ketigalah yang baik dipakai untuk menghitung jumlah sel
karena merupakan sampel yang paling murni. Jika terdapat darah dalam cairan
otak, penetapan jumlah sel (leukosit ) tidak mungkin teliti lagi dan banyak
orang menggap usaha itu tanpa arti. Dalam keadaan normal di dapat 0-5 sel/µl
cairan otak, karenaitu dipakai pengenceran dan kamar hitung yang berlainai
dari pada cara menghitung leukosit dalam darah.
Kamar hitung yang sering dan sebaiknya dipakai ialah menurut fuchs-
Rosenthal, tinggi kamar hitung itu 0,2 mm dan luasnya 16 mm 2 . Larutan
pengencer ialah larutan turk pekat : methylviolet (gentianviolet) 200 mg,
asam asetat glacial 4 ml, aquadest 100 ml. Saring sebelum dipakai.

Cara kerja :

1.) Kocoklah dulu cairan otak yang akan di periksa.


2.) Isaplah lebih dulu larutan turk pekat sampai garis tanda 1 dalam pipet leukosit.
3.) Kemudian isap lah cairan otak sampai garis 11
4.) Kocoklah pipat benar-benar, buanglah 3 tetes dari pipet dan kemidian isilah
kamar hitung fuchs-rosenthal dan biarkan kamar hitung itu mendatar selama 5
menit.
5.) Hitunglah semua sel yang dilihat dalam seluruh bidang yang dibagi dengan
memakai lensa objektif 10 x.
b. Menghitung jenis sel
Meskipun dalam cairan otak ada lebih dari dua jenis sel, namun dalam
praktek sehari –hari hanya dibuat perbedaan antar sel yang berinti (hanya
limfosit) dan polinuklear (segmen).

14
Cara kerja :
1.) Cairan yang jernih atau yang agak keruh saja, harus dipusing terlebih dahulu
dengan kecepatan sedang, umpamanya 1500-2000 rpm selama 10 menit.
2.) Cairan yang dibuat dan sedimen dipakai untuk membuat sediaan apus yang
dibiarkan kering pada hawa udara. Jangan memakai panas untuk merekat
sediaan it.
3.) Buanglah hitung jenis sel.

c. Bakterioskopi
Diantara kuman yang paling sering didapat dalam getah otak ialah M.
Tuberculosis, meningococci, pneumococci, streptococci dan H. Influenzae.
Dengan mengadakan pemeriksaan bakterioskopi, sering sudah dapat diperoleh
petunjuk ke arah etiologi radang ; sebaiknya disamping itu diusahakan biakan
dan percobaan hewan pula. Yang diperlukan untuk bakterioskopi ialah
pulasan menurut gram dan menurut ziehl-neelsen atau kinyoun, pulasan itu
dikerjakan dengan memakai sedimen sebagai bahan pemeriksaan.
Pulasan terhadap batang tahan asam baik sekali dilakukan dengan
bekuan halus atau dengan selaput permukaan. Tidak terdapatnya batang tahan
asam dalam bahan itu tidak mengesampingkan kemungkinan meningitis
tuberculosa.
3. Pemeriksaan Kimia
Diantara banyak macam pemeriksaan kimia yang dapat dilakukan atas cairan
otak, ada beberapa macam yang sering dikehendaki, yaitu pemeriksaan terhadap
kadar protein ,glukosa dan cholorida. Selain itu,meskipun bukan bersifat
penetapan kimia sebenar-benarnya sering dikendaki juga test-test koloid.
a. Protein
Pemeriksaan terhadat protein dalam cairan otak ialah yang paling
penting diantara pemeriksaan kimia. Usaha mengetahui jumlahnya dapat
dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Jiak ada darah dalam cairan otak,
hasil pemeriksaan ini ( dengan cara maupun juga ) tidak ada artinya lagi
1.) Test busa
Percobaan ini merupakan test kasar terhadap kadar protein yang sangat
meningkat. Kalau cairan otak normal dikocok kuat-kuat, maka busa yang terjadi
hanya sedikit saja dan menghilang setelah ditenangkan selama 1-2 menit. Kalau
kadar protein sangat meninggi, lebih banyak busa terbentuk dan busa itu juga

15
belum lenyap selama 5 menit. Test ini hanya memberi kesan saja tentang kadar
protein dalam cairan otak.

2.) Test Pandy


Reagens pandy, yaitu larutan jenuh fenol dalam air ( penolum
liquefactum 10 ml : aqua dest 90 ml; simpan beberapa hari dalam lemari peneram
dengan sering dikocok-kocok) bereaksi dengan globulin dan dengan albumin.

Cara kerja:
· Sediakanlah 1 ml reagens pandy dalam tabung serologi yang kecil bergaris tengah
7 mm.Tambahkan 1 tetes cairan otak tanpa sedimen.Segeralah baca hasil tes itu
dengan melihat kepada derajat kekeruhan yang terjadi.
Test pandy ini mudah dapat dilakukan pada waktu melakukan fungsi dan
memang sering dijalakan demikian sebagai bedside test. Itulah sebabnya maka test
Pandy masih juga dipertahankan dalam penuntun ini, meskipun pada waktu ini
dikenal test-test terhadap protein yang lebih spesifik dan lebih bermanfaat bagi klinik.
Dalam keadaan normal tidak akan terjadi kekeruhan atau kekeruhan yang
sangat ringan berupa kabut halus. Semakin tinggi kadar protein, semakin keruh hasil
reaksi ini yang selalu harus segera dinilai setalah pencampuran liquor dengan
reagens. Tak ada kekeruhan atau kekeruhan yang sangat halus berupa kabut
menandakan hasil reaksi yang negatif. Kekeruhan yang lebih berat berarti test Pandy
ini menjadi lebih positif.

3.) Test Nonne


Percobaan ini yang juga dikenal seperti test Nonne-Apelt atau test Ross-
Jones, memggunakan larutan jenuh amoniumsulfat sebagai reagens. ( amonium
sulfat 80 g: aquadest 100 ml; saring sebelum memakainya ). Test seperti dilakukan
dibawah ini terutama menguji kadar globulin dalam cairan otak.

Cara kerja :

· Taruhlah ½ -1 ml reagens Nonne dalam tabung kecil yang bergaris kira-kira 7


mm. Dengan berhati-hati masukan sama banyak cairan otak kedalam tabung itu,
sehinggga kedua macam cairan tinggi terpisah menyusun dua lapisan.
Tengakanlah selama 3 menit, kemudian selidiki perbatasan kedua cairan
tersebut. Seperti juga test Pandy, test Nonne sering dilkukan seperti badside test pada
waktu mengambil cairan otak dengan pungsi. Sebenarnya test Nonne ini sudah usang,
dalam laboratorium klinik modern ia sudah kehilangan tempatnya. Dalam keadaan

16
normal hasil test ini negatif, artinya: tidak terjadi kekeruhan pada perbatasan.
Semakin tinggi kadar globulin semakin tebal cincin keruh yang terjadi. Laporkan
hasil test ini sebagai negatif atau positif saja.
Test Nonne memakai lebih banyak bahan dari test Pandy, tetapi lebih bermakna
dari test Pandy karena dalam keadaan normal test ini berhasil negatif: sama sekali
tidak ada kekeruhan pada batas cairan.

4.) Penetapan Protein Kountitatif


Kadar protein dapat di ukur secara kuantitatif dengan bermacam-macam cara
yang menggunakan dasar fotokolorimeter atau turbidimeter. Cara fotokolorimeter
mengukur absorbansi larutan setelah membuat warna dengan reaksi biuret atau
mengukur warna hasil reaksi warna dengan tirosin atau triptofan. Pada
turbidimeter diukur kekeruhan yang timbul akibat reaksi antara protein
sulfosalisilat atau reagens lain yang mengendapkannya.

Cara-cara kuantitatif ini mudah dijalankan dan jauh lebih bermakna dari pada
hanya melakukan test Pandy atau Nonne saja. Kalau cairan otak tercampur darah
hasil penetapan inipun akan menjadi tanpa arti. Batas-batas normal kadar protein
dipengaruhi oleh tempat mengabil cairan otak; semakin kranial, semakin kurang
kadian lubar protein. Kadar protein dalam cairan otak dalam ventriculi; 55-15 mg/dl;
dalam cisterna magna 10-25 mg/dl dan dari bagian lumbal 15-40 mg/dl.

Dalam keadaan normal terutama albumin yang ada dalam cairan otak, pada
keadaan patologik globulin-globulin juga akan muncul beserta fibrinogen.
Laboratorium klinik modern selayaknya dapat memisah-misahkan fraksi-fraksi itu
dengan elektroforesis dan dengan imunoelektroforesis. Untuk melakukan
elektroforesis dan dengan memakai cellulose acetat sebagai media pendukung, perlu
terlebih dahulu melakukan pemekatan dari protein-protein dengan cara dianalisis.
Dalam cairan otak normal didapat fraksi-fraksi protein sbb: prealbumin 4,6; 1,3%,
albumin 49,5; alfa-1-globulin 6,7; 2,1%; alfa-2-globulin 8,3; 2,1%; beta-globulin 8,2;
2,7 %. Perubahan dalam konsentrasi fraksi-fraksi protein dapat dihubungkan dengan
kelainan neurologis tertentu.

Pada banyak keadaan abnormal kadar protein total mengikat kadar protein
yang sangat tinggi ( 200- 1000 mg/dl) didapat pada meningitis purulate, pada
perdarahan subarachnoidal dan jika ada satu penyumbatan (block). Hampir semua
macam penyakit organik pada susunan saraf pusat disertai meningginya kadar protein

17
: dearajat meningkatnya sesuai dengan breatnya lesi. Kombinasi kadar protein tinggi,
xanthochromi dan pleiositosis limpositik dikenal dengan nama sindroma froin.

b. Glukosa
Penetapan glukosa harus dikerjakan dengan cair otak segar karena sel-
sel dan mikroorganismus akan mengurangi jumlhnya. Penetapan biasanya
mengunakan 0,1 ml cairan, tetapi ada juga yang memakai lebih banyak
tergantung cara penetapan.
Normal 50-80 mg/dl glukosa atau kira-kira setengah dari kadar dalam
plasma. Kadar glukosa dalamm liquor sangat dipengaruhi oleh kadar glukosa
dalam plasma, maka itu sebainya setelah melakukan penetapan kadar glukosa
darah disamping kadar dalam liquor untuk dapat menafsirkan hasil penetapan.
Pada hipoglikemia kadar glukoisa merendah dan pada hiperglikemia
meningkat.

Indikasi terutama pada penetapan glukosa dalam cairan otak ialah


persangkaan meningitis. Pada meningitis kadar bakterial menurun. Kadar yang
normal yang mendampingi pleisitosis mengarah kepada peradangan nonbakterial.
Juga pada meningitis purulenta kadar glukosa turun, mungkin hingga menjadi nol.
Kadar glukosa biasanya tidak berubah pada encephalitis, tumor otak dan
neurosyphilis. Pemakaian cairan celup seperti diterangkan pada bab uirinalisis untuk
penetapan kadar glukosa dalam cairan otak tidak dianjurkan.

c. Chlorida
Seperti juga kadar glukosa, kadar chorida dalam cairan otak turut naik
turun dengan kadar chorida dalam plasma darah, maka dari itu penetapan
chorida serum disamping chorida liquor membawa manfaatnya. Dalam
keadaan normal terdapat 720-750 mg chorida per dl ( disebut sebagai NaCL )
dalam cairan otak. Bandingkanlah nilai normal dalam plasma darah : 550-620
mg/dl sebagai NaCL. Penetapan kadar chlorida berguana dala diagnosa
meningitis : pada meningitis acuta kadar itu akan merendah hingga kurang
dari 680 mg/dl.
Pada meningitis cubertulosa didapat penyusutan yang sangat besar,
biasanya sampai kurang dari 600 mg/dl. Peradangan setempat, peradangan
non-bakterial, tumor otak, encephalitis dan neurosyphilis tidak disertai
perubahan dalam kadar chlorida. Pendapat: cairan otak jernih dengan tekanan
meninggi, pleiositosis, kadar protein meninggi, kadar glukosa dan chlorida

18
kedua-duanya merendah merngarahkan persangkaan kepada meningitis
tuberculosa.

Interprestasi Hasil Pemeriksaan Cairan Otak (Liquor Cerebro Spinalis)

1. Ensefalitis
Tekanan : Meningkat

Protein : Agak meningkat

Gambaran Makroskopis : Jernih

Glukosa : Normal

Sel : Limfosit atau normal

Pewarnaan Gram : Negatif

Pewarnaan tahan asam : Negatif

Kultur bakteri : Negatif

Kultur mikrobakteri : Negatif

Kultur virus : pada 30% atau kurang

Klorida : Normal

2. Meningitis bakterialis
Tekanan : Meningkat

Protein : Tinggi

Gambaran Makroskopis : Keruh

Glukosa : Sangat rendah

Sel : Neutrofil

Pewarnaan Gram : Positif pada 90%

Pewarnaan tahan asam : Negatif

Kultur bakteri : Positif pada 90%

19
Kultur mikrobakteri : Negatif

Kultur virus : Negatif

Klorida : Rendah

3. Meningitis virus

Tekanan : Meningkat

Protein : Agak menigkat

Gambaran Makroskopis : Jernih

Glukosa : Normal

Sel : Limfosit

Pewarnaan Gram : Negatif

Pewarnaan tahan asam : Negatif

Kultur bakteri : Negatif

Kultur mikrobakteri : Negatif

Kultur virus : Positif pada 70 %

Klorida : Normal

4. Meningitis TB
Tekanan : Meningkat
Protein : Sangat tinggi
Gambaran Makroskopis : Jernih
Glukosa : Rendah
Sel : Pleositosis
Pewarnaan Gram : Negatif
Pewarnaan tahan asam : Jarang positif
Kultur bakteri : Negatif
Kultur mikrobakteri : Positif
Kultur virus : Negatif
Klorida : Sangat rendah

20
5. Abses otak
Tekanan : Dapat sangat tinggi
Protein : Meningkat
Gambaran Makroskopis : Jernih
Glukosa : Normal
Sel : Pleositosis
Pewarnaan Gram : Kadang-kadang positif
Pewarnaan tahan asam : Negatif
Kultur bakteri : Kadang-kadang positif
Kultur mikrobakteri : Negatif
Kultur virus : Negatif
Klorida : Normal / rendah

6. Uji pandy (pemeriksaan protein)


Negatif : Tidak ada kekeruhan (15-45mg%)
[+] 1 : Terjadi opalescent (50-100mg%)
[+] 2 : Cairan keruh (100-300mg%)
[+] 3 : Keruh (300-500mg%)
[+] 4 : Keruh seperti susu (>500mg%)

7. Uji none (pemeriksaan protein)


Negatif : Tidak terbentuk cincin diantara 2 lapisan
Positif : Terbentuk cincin diantara 2 lapisan

8. Test busa (pemeriksaan protein)


Normal : hilang dala 1-2 menit
Abnormal : hilang > 5 meni

Sumber Kesalahan :

1. Wadah sampel yang tidak steril menyebabkan sampel terkontaminasi oleh


kuman- kuman sehingga memberikan hasil positif palsu.

2. Penundandaan pemeriksaan sampel tanpa ad perlakuan tertentu menyebakan


berbagai sel cepat lisis, glukosa cepat rusak sehingga memberikan hasil negatif
palsu.

21
3. Penyimpanan sampel di dalam lemari es yang menyebabkan bakteri yang tidak
tahan pada suhu redah, sehingga memerikan hasil negatif palsu.
4. cairan serebrospinal yang purulen, dalam waktu 24 jam setelah pemberian
antibiotik seringkali sudah tidak mengandung bakteri penyebab, misalkan
Haemophilus influenzae, sehingga ,e,berikan hasil yang negatif palsu.
5. Cedera pembulu darah yang diakibat karena tindakan lumbal fungsi
menyebabkan terdapatnya darah pada sampel sehingga memberikan hasil
pemeriksaan yang positif.

22
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Cairan otak ialah cairan jernih, tak berwarna yang 70 % dibuat oleh plexus
choroideus di dalam ruang atau ventrikel otak melalui transport akitf dan ultrafiltrasi,
sedangkan 30% dibentuk pada tempat lain, termasuk pada ventrikel dan rongga
subarachnoid. Pada orang dewasa volume intrakranial kurang lebih 1700 ml,
volume otak sekitar 1400 ml, volume cairan serebrospinal 52-162 ml (rata-rata
104 ml) dan darah sekitar 150 ml. 80% dari jaringan otak terdiri dari cairan,
baik ekstra sel maupun intra sel.
Cairan otak dibentuk oleh plexus chroideus dan merupakan hasil filtrasi dari
plasma. Cairan ini serupa dengan plasma bedanya hanya elemen-elemen yang
terkandung didalamnya, umpamanya kadar Na, Ca HCO3, glukosa dalam jumlah yang
rendah dll.
Cairan otak diperoleh dengan cara melakukan fungsi pada : Daerah lumbal (L3
dan L4), Sisterna magna dan Ventrikel otak ( sesuai dengan indikasi)
Cairan otak biasanya diperoleh dengan melakukan punksi lumbal pada lumbal
III dan IV di cavum subarachnoidale, namun dapat pula pada suboccipital ke dalam
cisterna magma atau punksi ventrikel, yang dapat disesuaikan dengan indikasi klinik.
Specimen harus sudah tiba di laboratorium dalam waktu satu jam setelah
pengambilan, jika tidak memungkinkan specimen harus di simpan dalam lemari es
atau media transport. Daalam beberapa jam saja. Pengiriman specimen harus secepat
mungkin dengan menggunakan cooling box (2-80c) kecuali jika waktu perjalanan
kurang dari satu jam.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun
agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi, atas perhatiannya
penulis ucapkan terimakasih.

23
DAFTAR PUSTAKA
file:///D:/hasri/Makalah%20Cairan%20otak%20~%20Yazhid%20Blog.htm.
file:///D:/hasri/Nilu%20Kumala%20Dewi%20%20Makalah%20Cairan%20Serebros
inal.htm.

24