Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak lokal maupun global
secara mendadak dan akut berlangsung lebih dari 24 jam akibat gangguan aliran
darah otak, stroke terjadi apabila aliran darah ke otak terganggu yang
mengakibatkan pasokan darah ke otak berkurang atau berhenti sama sekali. Pada
pasien stroke dapat terjadi spastisitas otot dimana sekumpulan otot mengalami
kontraksi secara terus menerus yang dapat menyebabkan kekakuan dan
mempengaruhi pergerakan normal pasien untuk beraktifitas sehingga pasien tidak
dapat beradaptasi dengan baik.
Dalam sebuah penelitian Swedia, prevalensi spastisitas yang diamati dari
satu tahun setelah stroke yang pertama kali adalah 17% dan disabling spasticity
sebesar 4%. Sedangkan angka kejadian spastisitas pada pasien stroke di Indonesia
belum diketahui dengan pasti, tetapi menurut penelitian yang dilakukan oleh
Hardianti (2012) 17 pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Daya Kota Makassar
didapatkan laki-laki (70.6%), lebih besar daripada perempuan (29.4%). Angka
kejadian spastisitas pada stroke menurut sebuah studi cedera otak di Inggris
diperkirakan bahwa 16% dari penderita stroke yang pertama kali dan 18% dari
pasien setelah cedera otak traumatis yang masing-masing memerlukan pengobatan
spastisitas.
Rhines dan Magoun mengatakan timbulnya spastisitas merupakan akibat
dari ketidakseimbangan antara pusat fasilitasi dan pusat inhibisi di otak bagian
tengah serta formasio retikularis batang otak, dengan konsekuensi terjadinya
ketidakseimbangan antara alfa dengan gamma motor neuron. Beberapa bentuk
peningkatan tonus otot dapat disebabkan karena kerusakan yang mengenai jaras
kortikospinalis, pemutusan impuls supresor ke area inhibisi retikuler dibatang otak
bagian bawah, penguatan rangsang dari area fasilitasi atau eksitasi retikuler di
otak bagian tengah dan batang otak.

1
Terdapat beberapa terapi untuk mengatasi spastisitas pada pasien stroke
seperti terapi panas superficial yang berguna untuk melenturkan otot atau sendi
dengan kedalaman panatrasi sampai permukaan kulit. Terapi latihan yang
merupakan upaya pengobatan dalam pelaksanaan latihan fisioterapi menggunakan
gerakan tubuh, baik secara aktif maupun pasif dan dapat dibagi mejadi beberapa
kategori yaitu ROM exercise, stretching, joint mobilization, resistance exercise,
aerobic exercise, aquatic exercise.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil penialain spastisitas pada
pasien stroke sebelum dan sesudah di terapi radiasi inframerah dan terapi latihan.
Perbaikan nilai tersebut diharapkan mampu memberikan informasi bahwa terapi
radiasi inframerah dan terapi latihan dapat dijadikan salah satu alternatif terapi
untuk spastisitas pada pasien stroke.
Oleh sebab pentingnya hasil penelitian ini, maka penelaah tertarik untuk
menelaah jurnal ini guna mengetahui apakah jurnal ini layak atau tidak untuk
dijadikan bahan rujukan.

1. 2 Rumusan Masalah
Apakah karya tulis ilmiah yang berjudul “Penilaian Spastisitas pada Pasien
Stroke Sebelum dan Sesudah Dilakukan Fisioterapi dengan Terapi Radiasi
Inframerah dan Terapi Latihan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang”
telah memenuhi kriteria validity, importancy dan applicability?

1. 3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui kriteria validity, importancy dan applicability dalam suatu
karya tulis ilmiah.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Menganalisis kriteria validity, importancy, dan applicability dalam
karya tulis ilmiah berjudul “Penilaian Spastisitas pada Pasien Stroke
Sebelum dan Sesudah Dilakukan Fisioterapi dengan Terapi Radiasi

2
Inframerah dan Terapi Latihan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang”.
2. Menganalisis kelayakan karya tulis ilmiah “Penilaian Spastisitas pada
Pasien Stroke Sebelum dan Sesudah Dilakukan Fisioterapi dengan
Terapi Radiasi Inframerah dan Terapi Latihan di RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang”.

1.4 Manfaat
1. Mengetahui bagaimana menilai karya tulis ilmiah yang baik berdasarkan
kriteria validity, importancy dan applicability
2. Mengetahui kriteria karya tulis ilmiah yang dapat dijadikan sebagai bahan
rujukan.

3
BAB II
DESKRIPSI JURNAL

2.1 Judul
Jurnal ini berjudul “Penilaian Spastisitas pada Pasien Stroke Sebelum dan
Sesudah Dilakukan Fisioterapi dengan Terapi Radiasi Inframerah dan Terapi
Latihan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang”.

2.2 Penulis
Penulis jurnal ini yakni Muhammad Adam Mudzakir S.Ked, dr. Jalalin, Sp.
KFR, dr. Indri Seta Septadina, M.Kes. Penulis tersebut berasal dari Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya Universitas Sriwijaya/ RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang.

2.3 Publikasi
Jurnal ini belum dipublikasikan oleh Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya.

2.4 Penelaah
Penelaah jurnal ini adalah Suci Larasati, S.Ked, mahasiswa program
Keprofesian Dokter Umum di Universitas Sriwijaya dan sedang berada pada
bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat-Ilmu Kedokteran Komunitas
Universitas Sriwijaya.

2.5 Tanggal Telaah


Jurnal tersebut ditelaah dari tanggal 21-26 November 2017.

2.6 Uraian Deskripsi


2.6.1 Tujuan Utama
Untuk mengetahui hasil penilaian spastisitas pada pasien stroke
sebelum dan sesudah dilakukan fisioterapi dengan terapi Radiasi Inframerah

4
dan terapi Latihan menggunakan parameter MAS (Modified Ashworth
Scale).
2.6.2 Tujuan Tambahan
1. Untuk mengetahui distribusi sosiodemografi pasien stroke dengan
spastisitas berdasarkan usia, jenis kelamin, IMT, dan konsumsi
rokok
2. Untuk mengetahui hasil penilaian spastisitas lengan pada pasien
stroke sebelum dan sesudah dilakukan fisioterapi dengan terapi
Radiasi Inframerah dan terapi Latihan menggunakan parameter
MAS (Modified Ashworth Scale)
3. Untuk mengetahui hasil penilaian spastisitas paha pada pasien
stroke sebelum dan sesudah dilakukan fisioterapi dengan terapi
Radiasi Inframerah dan terapi Latihan menggunakan parameter
MAS (Modified Ashworth Scale)

2.6.3 Hasil Utama


Hasil menunjukkan bahwa 14 orang responden mengalami
penurunan derajat spastisitas setelah mendapatkan terapi radiasi inframerah
dan terapi latihan. Hasil uji Wilcoxon pada lengan diperoleh nilai
signifikansinya p = 0.000 dan hasil uji wilcoxon pada paha diperoleh bahwa
nilai signifikansinya p = 0.001, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
perubahan rerata nilai Modified Ashworth Scale yang bermakna pada pasien
stroke dengan spastisitas setelah diterapi menggunakan terapi radiasi
inframerah dan terapi latihan.

2.6.4 Hasil Tambahan


Spastisitas pada stroke lebih banyak terjadi pada laki-laki (78.6%),
dan lebih sering pada kelompok usia lebih dari 40 tahun (85.7%), lebih
banyak pada kelompok yang memiliki IMT berlebih dan lebih banyak pada
kelompok yang memiliki riwayat konsumsi rokok.Nilai rata-rata spastisitas
pada lengan pasien stroke dengan spastisitas sebelum mendapatkan terapi

5
radiasi inframerah dan terapi latihan didapat menggunakan Modified
Ashworth Scale adalah 3.00±0.426 dan sesudah terapi didapatkan nilai rata-
rata 2.00±0.475. Nilai rata-rata spastisitas pada paha pasien stroke dengan
spastisitas sebelum mendapatkan terapi radiasi inframerah dan terapi latihan
didapat menggunakan Modified Ashworth Scale adalah 4.00±0.426 dan
sesudah terapi didapatkan nilai rata-rata 3.00±0.469.

2.6.5 Kesimpulan Penelitian


Berdasarkan jurnal dalam penelitian tersebut, dapat disimpulkan
bahwa terdapat penurunan derajat spastisitas pada pasien stroke setelah
mendapatkan terapi radiasi inframerah dan terapi latihan.

6
BAB III
TELAAH KARYA TULIS ILMIAH

3.1 Validitas Seleksi


Komponen Validitas Seleksi
1. Kriteria seleksi
2. Metode Alokasi Subjek
3. Concealment
4. Angka drop out
5. Jenis analisis
Uraian Validitas Seleksi
1. Kriteria seleksi
Populasi target dalam penelitian ini adalah penderita stroke dengan gejala
spastisitas. Populasi terjangkau penelitian ini adalah seluruh pasien stroke rawat
inap dengan gejala spastisitas di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang pada tanggal 1-11 Februari 2016. Sampel
diambil dengan menggunakan metode consecutive sampling dan didapatkan 14
orang pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi penelitin ini
adalah pasien rawat inap yang didiagnosis stroke dengan gejala spastisitas yang
berobat di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang.

2. Metode Alokasi Subjek


Metode alokasi subjek yang digunakan dalam penelitian adalah
consecutive sampling. Pada consecutive sampling, semua subjek yang datang
dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah
subjek yang diperlukan terpenuhi.

3. Concealment
Dalam penelitian ini tidak tertulis mengenai concealment karena tidak
menggunakan metode randomisasi sampel.

7
4. Angka drop out
Angka drop out yang rendah menunjukkan nilai validitas seleksi yang
tinggi. Dalam jurnal ini, tidak ada angka drop out karena sampel diambil
seluruhnya sampai jumlah subjek yang diperlukan terpenuhi.

5. Jenis analisis
Penelitian ini menggunakan jenis analisis per protocol atau disebut juga
sebagai on treatment analysis (OTA) karena pada penelitian ini subjek
penelitian mengikuti protocol penelitian secara penuh.
Kesimpulan Validitas Seleksi
Penelitian ini mempunyai validitas seleksi yang baik dari aspek metode
alokasi subjek, angka drop out yang rendah dan jenis analisis on treatment
analysis (OTA).

3.2 Validitas Pengontrolan Perancu


Komponen Validitas Pengontrolan Perancu
1. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara restriksi
2. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara randomisasi
3. Analisis terhadap komparabilitas baseline data
4. Pengontrolan perancu pada saat analisis (bila diperlukan)
Uraian Validitas Pengontrolan Perancu
1. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara restriksi
Pada penelitian ini dilakukan pengontrolan perancu dengan cara restriksi
menggunakan kriteria inklusinya yaitu penderita stroke dengan spastisitas yang
memenuhi kriteria dan menandatangani persetujuan (informed consent) setelah
penjelasan diikutsertakan dalam penelitian ini dan kriteria eksklusinya adalah
pasien stroke dengan spastisitas yang tidak mengikuti protokol penelitian
sampai penelitian selesai (tidak mengikuti terapi sebanyak 6 kali). Namun perlu
dijelaskan kriteria eksklusi lain yang dapat menjadi faktor bias penelitian ini
seperti penggunaan obat antagonist dopamin yang dapat menyebabkan

8
kekakuan/rigiditas, serta pasien yang pernah didiagnosis parkinson dimana
kadar dopaminnya menurun.

2. Pengontrolan perancu pada tahap desain dengan cara randomisasi


Pengendalian perancu secara randomisasi dan saat analisis tidak
dilakukan.

3. Komparabilitas Baseline Data


Dilakukan baseline data secara univariat. Tidak didapatkan adanya
ketidakseimbangan baseline data yang dapat menjadi variabel perancu dalam
penelitian

4. Pengontrolan perancu pada saat analisis.


Pada penelitian ini pengontrolan variabel perancu pada tahap analisis
tidak dilakukan.
Kesimpulan Validitas Pengontrolan Perancu
Penelitian ini mempunyai validitas pengontrolan perancu yang kurang
baik karena penelitian ini memiliki variabel perancu yang dapat menyebabkan
kemungkinan bias pada penelitian, namun tidak ada penjelasan mengenai
kriteria eksklusi yang dapat menyingkirkan variabel perancu.

3.3 Validitas Informasi


Komponen Validitas Informasi
1. Blinding (penyamaran).
2. Komponen pengukuran variabel penelitian (kualifikasi pengukur, kualifikasi
alat ukur, kualifikasi cara pengukuran, kualifikasi tempat pengukuran).
Uraian Validitas Informasi
1. Blinding
Pada penelitian ini tidak dilakukan blinding (penyamaran).

9
2. Komponen pengukuran variabel penelitian (kualifikasi pengukur, kualifikasi
alat ukur, kualifikasi cara pengukuran, kualifikasi tempat pengukuran).
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Variabel
dependen dalam penelitian ini adalah spastisitas pada stroke. Variabel
independen dalam penelitian ini adalah terapi radiasi inframerah dan terapi
latihan. Sebelum diberi terapi, dilakukan pengukuran derajat spastisitas dengan
menggunakan Modified Ashworth Scale seblum diterapi, kemudian responden
diberi terapi radiasi inframerah yang dilanjutkan dengan terapi latihan.
Masing-masing terapi dilakukan selama 10-15 menit dan diberikan sebanyak 6
kali terapi dalam waktu 2 minggu. Selanjutnya dilakukan evaluasi kembali
derajat spastisitas dengan menggunakan Modified Ashworth Scale. Hasil
pengukuran dicatat dan dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon, karena
uji ini digunakan untuk menganalisis hasil pengamatan yang berpasangan dari
dua data apakah berbeda atau tidak.
Kesimpulan Validitas Informasi
Penelitian ini mempunyai validitas informasi yang cukup baik karena telah
menyertakan komponen pengukuran variabel penelitian pada jurnal ini.

3.4 Validitas Analisis


Komponen Validitas Analisis
1. Analisis terhadap baseline data
2. Analisis dan interpretasi terhadap hasil utama dan hasil tambahan
3. Bila dilakukan analisis interim, jelas stopping rule-nya
4. Dilakukan analisis lanjutan bila baseline data tidak sama.
Uraian Validitas Analisis
1. Analisis terhadap baseline data
Pada penelitian ini peneliti telah melakukan baseline data. Metode untuk
membandingkan baseline data dan interpretasi yang dilakukan peneliti terhadap
baseline data sudah tepat.

10
2. Analisis dan interpretasi terhadap hasil utama dan hasil tambahan
Penelitian ini merupakan penelitian observasional. Data yang telah
didapat akan disajikan dalam bentuk tabel dan dipaparkan secara deskriptif,
sedangkan secara analitik dengan menganalisis hasil penilaian spastisitas pada
pasien stroke sebelum dan sesudah dilakukan fisioterapi dengan terapi Radiasi
Inframerah dan terapi Latihan menggunakan parameter MAS (Modified
Ashworth Scale )
Hasil penelitian mengenai penurunan derajat spastisitas pasien stroke
setelah dilakukan terapi latihan dan radiasi inframerah didapatkan 14 orang
responden mengalami penurunan derajat spastisitas setelah mendapatkan terapi
radiasi inframerah dan terapi latihan. Hasil uji Wilcoxon pada lengan diperoleh
nilai signifikansinya p = 0.000 dan hasil uji wilcoxon pada paha diperoleh
bahwa nilai signifikansinya p = 0.001. Nilai rata-rata spastisitas pada lengan
pasien stroke dengan spastisitas sebelum mendapatkan terapi radiasi inframerah
dan terapi latihan didapat menggunakan Modified Ashworth Scale adalah
3.00±0.426 dan sesudah terapi didapatkan nilai rata-rata 2.00±0.475. Nilai rata-
rata spastisitas pada paha pasien stroke dengan spastisitas sebelum
mendapatkan terapi radiasi inframerah dan terapi latihan didapat menggunakan
Modified Ashworth Scale adalah 4.00±0.426 dan sesudah terapi didapatkan nilai
rata-rata 3.00±0.469. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan rerata
nilai Modified Ashworth Scale yang bermakna pada pasien stroke dengan
spastisitas setelah diterapi menggunakan terapi radiasi inframerah dan terapi
latihan. Data tersebut dianalisis menggunakan uji statistik yaitu uji Wilcoxon,
uji ini merupakan pilihan yang tepat untuk menganalisis apakah ada perbedaan
antara dua data dari hasil pengamatan yang berpasangan.
Berdasarkan sosiodemografinya peneliti mengambil data jenis kelamin,
usia, IMT, dan riwayat merokok. Data ini dipaparkan secara deskriptif. Hasil
penelitian menunjukan data karakteristik sosiodemografik sebagian besar
subjek adalah kelompok usia diatas 45 tahun, 11 orang (78,6%), dominan pria
dibandingkan wanita dengan jumlah secara berturut-turut 11 (78,6%) dan 3
(21,4%). Sebagian besar subjek adalah yang memiliki IMT berlebih dan

11
merokok.

3. Analisis interim
Pada penelitian ini tidak dilakukan analisis interim

4. Analisis lanjutan bila baseline data tidak sama.


Pada penelitian ini tidak dilakukan analisis lanjutan
Kesimpulan Validitas Analisis
Pengunaan metode penelitian, analisis data dan intepretasi penelitian ini
baik. Sehingga validitas analisis penelitian ini baik.

3.5 Validitas Interna Kausal


Komponen Validitas Interna Kausal
Validitas ini bersumber dari tujuh kriteria hubungan sebab-akibat menurut
Austin Bradforrd Hills:
1. Temporality
2. Spesifikasi
3. Kekuatan hubungan
4. Dosis respon
5. Konsistensi Internal
6. Konsistensi Eksternal
7. Biological plausibility
Uraian Validitas Interna Kausal
1. Temporality/ temporal relationship/ kronologi waktu
Pada penelitian uji klinis, temporality sudah pasti terpenuhi, karena
faktor terikat yaitu fisioterapi terapi latihan dan radiasi inframerah dilakukan
sebelum penilaian perubahan spastisitas.

2. Spesifikasi
Pada penelitian uji klinis, spesifikasi terpenuhi apabila baseline data

12
penelitian setara. Pada penelitian ini tidak terlalu dijelaskan faktor kausal lain
yang dapat menjadi faktor perancu terhadap variabel penelitian ini.

3. Kekuatan hubungan/ asosiasi


Pada jurnal ini tidak dipaparkan ukuran kekuatan penilaian hubungan.

4. Dosis respons
Apabila masing-masing terapi dilakukan selama 10-15 menit dan
diberikan sebanyak 6 kali terapi dalam waktu 2 minggu. dianggap sebagai dosis
respon, maka penelitian ini membuktikan tidak adanya dosis respon.

5. Konsistensi internal
Pada jurnal ini dapat disimpulkan bahwa penelitian ini konsisten dan
sesuai dengan hasilnya.

6. Konsistensi eksternal
Kriteria konsistensi eksternal terpenuhi apabila hasil penelitian sama
dengan hasil penelitian lainnya. Penurunan spastisitas dengan fisioterapi terapi
latihan dan radiasi inframerah hasilnya sama dengan penelitian sebelumnya.
Pada penelitian yang dilakukan Nastiti (2015) pada pasus Post Stroke
Hemiparese Desktra yang mendapatkan terapi radiasi inframerah dan terapi
latihan sebanyak 6 kali, didapatkan hasil berupa penurunan spastisitas,
perbaikan pola jalan dan peningkatan kemampuan fungsional. Sementara terapi
latihan bertujuan agar gerakan persendian baik secara aktif dan pasif,
mengurangi spastisitas sehingga memungkinkan gerakan yang normal, dan
memperkuat otot yang lemah.

7. Biologcal plausibility
Pada jurnal ini tidak dipaparkan penjelasan ilmiah mengenai bagaimana
terapi latihan dan radiasi inframerah dapat menyebabkan penurunan spastisitas
pasien stroke.

13
Kesimpulan Validitas Interna Kausal
Aspek validitas interna kausal kurang baik karena biological plausibility
tidak terpenuhi dalam jurnal ini.

3.6 Validitas Eksterna


Komponen Validitas Eksterna
Validitas Eksterna 1
- Besar sampel
- Participation rate
Validitas Eksterna 2
- Validitas eksterna 1
- Logika akademis untuk generalisasi penelitian
Uraian Validitas Eksterna
Validitas eksterna I penelitian ini cukup baik. Besar sampel pada
penelitian ini adalah sebanyak 14 orang dengan cara pengambilan sampel
consecutive sampling, pengambilan sampel dilakukan dalam rentang waktu 1-
11 Februari 2016. Dengan menggunakan consecutive sampling maka sudah
pasti besar sampel minimal tepenuhi. Karena besar sampel yang dianalisis
memenuhi besar sampel minimal, maka participation rate dianggap 100%.
Hasil penelitian ini dapat digeneralisasikan kepada populasi terjangkau, yaitu
pasien stroke rawat inap dengan gejala spastisitas di Instalasi Rehabilitasi
Medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada tanggal 1-11 Februari
2016.
Validitas eksterna II jurnal ini cukup baik sebab hasil dari penelitian
jurnal ini dapat digeneralisasikan pada populasi target yaitu pasien yang
didiagnosis stroke dengan spastisitas, serta desain penelitian pada penelitian
yang tepat dan dapat digeneralisasikan pada populasi.

Kesimpulan Validitas Eksterna


Validitas eksterna pada penelitian ini baik.

14
3.7 Importancy
Komponen Importancy
1. Perbandingan effek size yang diperoleh dengan effek size yang diharapkan
oleh pembaca.
2. Outcome kategorik: nilai relative risk (RR), relative risk reduction (RRR),
absolute risk reduction (ARR), number needed to treat (NNT), dan cost
analysis
Uraian Importancy
Pada penelitian ini tidak dipaparkan mengenai effek size sehingga tidak dapat
dinilai effek size, RR, RRR, ARR, NNT, dan cost analysis. Namun berdasarkan
penelitian sebelumnya, menurut pembaca effek size yang diharapkan adalah
penurunan nilai rata-rata Modified Ashworth Scale setelah 6 kali latihan yaitu
sebesar ±1. Dari penelitian ini, diperoleh penurunan rata-rata nilai Modified
Ashworth Scale pada lengan pasien stroke dengan spastisitas sebelum
mendapatkan terapi radiasi inframerah dan terapi latihan didapat menggunakan
Modified Ashworth Scale adalah 3.00±0.426 dan sesudah terapi didapatkan nilai
rata-rata 2.00±0.475, sedangkan rata-rata spastisitas pada paha pasien stroke
dengan spastisitas sebelum mendapatkan terapi radiasi inframerah dan terapi
latihan didapat menggunakan Modified Ashworth Scale adalah 4.00±0.426 dan
sesudah terapi didapatkan nilai rata-rata 3.00±0.469. Dengan demikian, secara
klinis dan secara statistik penurunan derajat spastisitas pasien stroke
menggunakan Modified Ashworth Scale dalam penelitian ini diperoleh nilai
yang bemakna. Effek size yang diharapkan untuk penelitian ini telah tercapai,
maka penelitian ini dianggap penting.
Kesimpulan Importancy
Penelitian ini cukup memiliki aspek importancy karena penting bagi
peneliti dan pembaca

3.8 Applicability
Komponen Applicability

15
1. Transportability
2. Kemampuan pelayanan, ekonomi, dan sosial budaya
Uraian Applicability
1. Transportability
Hasil penelitian ini telah dihubungkan sesuai dengan teori–teori yang
ada penurunan derajat spastisitas pasien stroke setelah dilakukan terapi latihan
dan radiasi infremerah, walaupun jurnal ini tidak menjelaskan mekanismenya
secara ilmiah, namun hasil penelitian ini dapat diterapkan di seluruh wilayah di
Indonesia.
2. Kemampuan pelayanan, ekonomi, dan sosial budaya
Metode penelitian ini mampu diterapkan di daerah lain mengingat
metode penelitian ini mudah untuk dilakukan sebab tidak menghabiskan banyak
biaya dan waktu, hanya membutuhkan alat pemeriksaan khusus yaitu MAS
(Modified Ashworth Scale) dan serta tidak bergantung pada keadaan sosial
budaya.
Kesimpulan Applicability
Hasil penelitian utama mampu untuk diterapkan.

BAB IV
PENUTUP

16
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan karya tulis ilmiah tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Fakta = Hasil Penelitian + (Kesalahan Seleksi + Kesalahan Informasi +
Kesalahan Perancu + Kesalahan Analisis + Kesalahan Kausal +
Kesalahan Validitas Eksterna)

Karena,
Kesalahan seleksi = 0 (valid)
Kesalahan informasi = 0 (valid)
Kesalahan perancu ≠ 0 (tidak valid)
Kesalahan analisis = 0 (valid)
Kesalahan interna kausal ≠ 0 (tidak valid)
Kesalahan validitas eksterna = 0 (valid)

Maka,
Fakta = Hasil Penelitian + (0+0+kesalahan perancu+0+kesalahan interna
kausal+0)
Fakta = Hasil Penelitian + kesalahan perancu +kesalahan interna kausal

Dengan demikian, hasil penelitian tidak menggambarkan fakta yang


sebenarnya karena masih terdapat kesalahan perancu dan kesalahan interna
kausal. Dari segi importancy dan applicability, penelitian ini penting dan dapat
diaplikasikan. Penelitian ini belum dapat dipublikasikan dalam jurnal ilmiah
setelah dilakukan perbaikan.

4.2 Saran
Penelitian ini perlu dilakukan perbaikan terutama mengenai validitas
perancu dan validitas interna kausal, agar hasil penelitian ini dapat dijadikan
evidence-based medicine (EBM) atau diterbitkan dalam jurnal kedokteran.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Dahlan, M. S. 2010. Membaca dan Menelaah Jurnal Uji Klinis Seri Evidence
Based Medicine 6. Salemba Medika, Jakarta.
2. Sugiyno. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung, Jawa Barat.
3. Tjekyan, R.M. Suryadi. 2013. Pengantar Epidemiologi. Unsri Press:
Palembang.
4. Nastiti, Iridian. 2015. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Post Stroke
Hemiparese Desktra. Tugas Akhir Program Studi Diploma III Fisioterapi
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

18