Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2017/2018

MODUL : Cooling Tower

PEMBIMBING : Anggi Regiana Agustin, S.ST, M.Sc

Praktikum : 30 Oktober 2017

Penyerahan (Laporan) : 6 November 2017

Oleh :

Kelompok/Kelas: 4/3C

Nama :

1. Farida Alhusna NIM. 151411074


2. Farkhiyah NIM. 151411075

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Menara pendingin merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk menurunkan suhu
aliran air dengan cara menyerap panas dari air dan mengemisikannya ke atmosfir. Menara
pendingin menggunakan penguapan dimana sebagian air diuapkan ke aliran udara yang
bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir. Menara pendingin mampu menurunkan suhu air
lebih dari peralatan-peralatan perpindahan panas yang lain yang hanya menggunakan udara
untuk membuang panas, seperti radiator mobil, dan oleh karena itu biayanya lebih efektif .
Pada unit pendingin yang berkapasitas besar, biasanya menggunakan kondensor dengan
pendingin air. Hal ini disebabkan karena faktor ekonomis. Untuk itu diperlukan alat bantu
sirkulasi air yang disebut menara pendingin. Alat ini berfungsi untuk mendinginkan air panas
yang berasal dari kondensat dan mensirkulasikannya kembali ke menara pendingin.
1.2 TUJUAN PRAKTIKUM
1) Menentukan efisiensi cooling tower
2) Mengetahui massa yang teruapkan
3) Mengevaluasi kinerja cooling tower melalui massa yang teruapkan dan efisiensi cooling
tower
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 COOLING TOWER

Cooling tower atau menara pendingin adalah suatu perangkat pendukung proses untuk
menurunkan suhu air pendingin dengan cara kontak air dengan udara. Fungsi cooling tower
adalah merubah cooling water panas menjadi cooling water dingin sehingga dapat digunakan
kembali dan tidak menjadi polusi lingkungan.

Gambar 1. Cara kerja menara pendingin


Semua mesin pendingin yang bekerja akan melepaskan kalor melalui kondensor, refrijeran
akan melepas kalornya kepada air pendingin sehingga air menjadi panas. Selanjutnya air panas ini
akan dipompakan ke menara pendingin. Menara pendingin secara garis besar berfungsi untuk
menyerap kalor dari air tersebut dan menyediakan sejumlah air yang relatif sejuk (dingin) untuk
dipergunakan kembali di suatu instalasi pendingin atau dengan kata lain menara Universitas
Sumatera Utara pendingin berfungsi untuk menurunkan suhu aliran air dengan cara mengekstraksi
panas dari air dan mengemisikannya ke atmosfer. Menara pendingin mampu menurunkan suhu air
lebih rendah dibandingkan dengan peralatan-peralatan yang hanya menggunakan udara untuk
membuang panas, seperti radiator dalam mobil, dan oleh karena itu biayanya lebih efektif dan
efisien energinya.
2.2 PRINSIP KERJA MESIN PENDINGIN
Prinsip kerja menara pendingin berdasarkan pada pelepasan kalor dan perpindahan kalor.
Dalam menara pendingin, perpindahan kalor berlangsung dari air ke udara. Menara pendingin
menggunakan penguapan dimana sebagian air diuapkan ke aliran udara yang bergerak dan
kemudian dibuang ke atmosfir. Sehingga air yang tersisa didinginkan secara signifikan.

Gambar 2. Skema menara pendingin


Prinsip kerja menara pendingin dapat dilihat pada gambar di atas. Air dari bak/basin
dipompa menuju heater untuk dipanaskan dan dialirkan ke menara pendingin. Air panas yang
keluar tersebut secara langsung melakukan kontak dengan udara sekitar yang bergerak secara
paksa karena pengaruh fan atau blower yang terpasang pada bagian atas menara pendingin, lalu
mengalir jatuh ke bahan pengisi. Sistem ini sangat efektif dalam proses pendinginan air karena
suhu kondensasinya sangat rendah mendekati suhu wet-bulb udara. Air yang sudah mengalami
penurunan suhu ditampung ke dalam bak/basin. Pada menara pendingin juga dipasang katup make
up water untuk menambah kapasitas air pendingin jika terjadi kehilangan air ketika proses
evaporative cooling tersebut sedang berlangsung.
2.3 KOMPONEN COOLING TOWER
Adapun konstruksi menara pendingin jenis aliran angin tarik (induced draft counterflow cooling
tower) adalah sebagai berikut.

Gambar 3. Komponen Cooling Tower


Konstruksi menara pendingin secara garis besar terdiri atas:
1. Kipas (fan) Kipas merupakan bagian terpenting dari sebuah menara pendingin karena
berfungsi untuk menarik udara dingin dan mensirkulasikan udara tersebut di dalam menara
untuk mendinginkan air. Jika kipas tidak berfungsi maka kinerja menara pendingin tidak akan
optimal. Kipas digerakkan oleh motor listrik yang dikopel langsung dengan poros kipas.
2. Kerangka pendukung menara (tower supporter) Kerangka pendukung menara berfungsi untuk
mendukung menara pendingin agar dapat berdiri kokoh dan tegak. Tower supporter terbuat
dari baja.
3. Rumah menara pendingin (casing) Rumah menara pendingin (casing) harus memiliki
ketahanan yang baik terhadap segala cuaca dan umur pakai (life time) yang lama. Casing
terbuat dari seng.
4. Pipa sprinkler Pipa sprinkler merupakan pipa yang berfungsi untuk mensirkulasikan air secara
merata pada menara pendingin, sehingga perpindahan kalor air dapat menjadi efektif dan
efisien. Pipa sprinkler dilengkapi dengan lubang-lubang kecil untuk menyalurkan air.
5. Penampung air (water basin) Water basin berfungsi sebagai pengumpul air sementara yang
jatuh dari filling material sebelum disirkulasikan kembali ke kondensor. Water basin terbuat
dari seng.
6. Lubang udara (inlet louver) Inlet louver berfungsi sebagai tempat masuknya udara melalui
lubanglubang yang ada. Melalui inlet louver akan terlihat kualitas dan kuantitas air yang akan
didistribusikan. Inlet louver terbuat dari seng.
7. Bahan Pengisi (filling material) Filling material merupakan bagian dari menara pendingin
yang berfungsi untuk mencampurkan air yang jatuh dengan udara yang bergerak naik. Air
masuk yang mempunyai suhu yang cukup tinggi (33℃ ) akan disemprotkan ke filling material.
Pada filling material inilah air yang mengalir turun ke water basin akan bertukar kalor dengan
udara segar dari atmosfer yang suhunya (28 ℃). Oleh sebab itu, filling material harus dapat
menimbulkan kontak yang baik antara air dan udara agar terjadi laju perpindahan kalor yang
baik. Filling material harus kuat, ringan dan tahan lapuk.
Filling material ini mempunyai peranan sebagai memecah air menjadi butiran-butiran tetes air
dengan maksud untuk memperluas permukaan pendinginan sehingga proses perpindahan
panas dapat dilakukan seefisien mungkin. Filling material ini umumnya terdiri dari 2 jenis
lapisan:
 1st level packing Merupakan Filling material lapisan atas yang mempunyai celah
sarang lebah lebih besar dimaksudkan untuk pendinginan tahap pertama. Fluida yang
akan didinginkan pertama kali dialirkan ke lamella ini.
 2nd level packing Merupakan Filling material yang lebih lembut untuk second stage
pendinginan. Pabrikan package menara pendingin umumnya merancang Filling
material pada stage ini lebih tebal sehigga dapat menampung kapasitas fluida yang
lebih banyak.
2.4 KINERJA MENARA PENDINGIN KINERJA
Menara pendingin dievaluasi untuk mengkaji tingkat approach dan range operasi terhadap
nilai rancangan, mengidentifikasi area terjadinya pemborosan energi, dan juga untuk mendapatkan
saran perbaikan.
Sebagai evaluasi kinerja, pemantauan dilaksanakan untuk mengukur parameter-parameter
signifikan berikut ini:
1. Temperatur udara wet bulb
2. Temperatur udara dry bulb
3. Temperatur air masuk menara pendingin
4. Temperatur air keluar menara pendingin
5. Temperatur udara keluar
6. Laju aliran air
7. Laju aliran udara.
Parameter terukur tersebut kemudian digunakan untuk menentukan kinerja menara
pendingin dalam beberapa cara, yaitu:
a. Range
Range merupakan perbedaan antara temperatur air masuk dan keluar menara
pendingin. Range yang tinggi berarti bahwa menara pendingin telah mampu
menurunkan temperatur air secara efektif dan kinerjanya baik. Rumusnya adalah
sebagai berikut.
Range (°C) = temperatur air masuk (°C) – temperatur air keluar (°C)
Range bukan ditentukan oleh menara pendingin, namun oleh proses yang dilayaninya.
Range pada suatu alat penukar kalor ditentukan seluruhnya oleh beban panas dan laju
sirkulasi air yang melalui penukar panas dan menuju ke air pendingin. Menara
pendingin biasanya dikhususkan untuk mendinginkan laju aliran tertentu dari satu
temperatur ke temperatur lainnya pada temperatur wet bulb tertentu.
b. Approach Approach adalah perbedaan antara temperatur air dingin keluar menara
pendingin dan temperatur wet bulb ambien. Semakin rendah approach semakin baik
kinerja menara pendingin. Walaupun range dan approach harus dipantau, akan tetapi,
approach merupakan indikator yang lebih baik untuk kinerja menara pendingin.
Approach (°C) = temperatur air keluar (°C) – temperatur wet bulb (°C)
Sebagaimana aturan yang umum, semakin dekat approach terhadap wet bulb, akan
semakin mahal menara pendinginnya karena meningkatnya ukuran. Ketika ukuran
menara harus dipilih, maka approach menjadi sangat penting, yang kemudian diikuti
oleh debit air dan udara, sehingga range dan wet bulb mungkin akan menjadi semakin
tidak signifikan.

c. Efektivitas pendinginan
Efektivitas pendinginan merupakan perbandingan antara range dan range ideal.
Semakin tinggi perbandingan ini, maka semakin tinggi efektivitas pendinginan suatu
menara pendingin.
Gambar 4. Blok Diagram Kerja Cooling Tower

Akumulasi Enthalpi pada cooling tower= Entalphi input - entalphi output - laju kalor total

qi= qsensibel,i+qlaten,i
2.5 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERJA COOLING WATER
Beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap cooling water adalah sebagai berikut:
1) Make Up Air Pendingin
Sebagai make up adalah filter water. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar karena filter
water membawa beberapa komponen yang dapat mengakibatkan timbulnya deposit maupun
korosif.
2) Lingkungan Sekitar
Karena sebagai media pendingin dari air pendingin di cooling water adalah udara yang diambil
dari sekitarnya, maka tidak lepas dari kotoran atau benda asing lainnya yang dibawa udara
masuk kesistem air pendingin, akibatnya terkontaminasi.
3) Proses yang terkait
Yang dimaksud proses terkait adalah bentuk atau macam fluida yang didinginkan, Hal ini
biasanya terjadi karena kebocoran dari peralatan. Misalnya Heat Exchanger untuk pelumas gas
ammoniak atau gas sintesa apabila terjadi kebocoran akan mengakibatkan kontaminasi air
pendingin.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 ALAT DAN BAHAN
 Alat
 Satu unit peralatan cooling tower
 Termometer bola basah bola kering 1 buah
 Termometer alkohol 1 buah
 Gelas ukur 500 mL 1 buah
 Bahan
Air proses dalam suhu panas dari penggunaan praktikum di Laboratorium Pilot Plant.
3.2 PROSEDUR KERJA

Mengukur laju alir air masuk


cooling tower

Mengukur laju alir air keluar


cooling tower

Mengukur laju alir udara di sekitar


peralatan cooling tower

Mengukur suhu air masuk dan


keluar cooling tower

Mengukur suhu bola basah dan bola


kering (udara)

Pengukuran dilakukan pada saat


awal, setelah 30 menit ,setelah 60
menit dan setelah 90 menit
3.3 KESELAMATAN KERJA
1. Memakai jas lab dan sepatu tertutup
2. Memakai topi/helm pengaman
3. Hati-hati saat mengukur suhu menggunakan thermometer
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. DATA PENAMPUNG COOLING WATER
 Diameter = 1,63 m
 Kedalaman Penampung = 0,3 m
 Daya Cooling Tower = 2 HP
= 1.4914 kW
4.2. DATA PENGAMATAN
Laju Alir Laju Alir Suhu Suhu
Waktu Suhu Air (℃)
Air (Kg/s) Udara (m/s) Bola Basah (℃) Bola Kering(℃)
(menit)
Masuk Keluar Masuk Keluar Masuk Keluar Masuk Keluar Masuk Keluar
0 2,00 1,66 1,97 1,97 22 22 25 26 24 22
30 2,22 1,74 1,62 2,05 25 22 29 26 25 22.5
60 2,40 1,80 1,68 1,88 23 22 29 24 25 22.5
90 2,20 1,74 2,1 1,93 24 22 26 25 25 22.75

4.3. PENGOLAHAN DATA


1. Volume PenampungCooling Water
1
=4 x 3,14 x (1,63 m)2 x 0,3 m= 0,626 m3 = 626 L

2. Efisiensi Cooling Tower


𝑇𝑤𝑖𝑛−𝑇𝑤𝑜𝑢𝑡
Efisiensi = × 100%
𝑇𝑤𝑖𝑛−𝑇𝑤𝑏

Contoh:
Perhitungan efisiensi cooling tower pada waktu 30 menit
𝑇𝑤𝑖𝑛−𝑇𝑤𝑜𝑢𝑡 (24−22)
Efisiensi = × 100% = (24−22) × 100 % = 100 %
𝑇𝑤𝑖𝑛−𝑇𝑤𝑏
Suhu Bola Kelembaban Udara
Suhu Air (℃)
Basah (Kg/Kg udara kering)
Waktu Efisiensi
Masuk Keluar (℃)
Masuk Keluar (%)
(Twin) (Twout) (Twb)
0 24 22 22 0,0171 0,0167 100
30 25 22.5 22 0,0204 0,0167 83.3
60 25 22.5 22 0,0170 0,0175 83.3
90 25 22.75 22 0,020 0,0165 75

GRAFIK EFISIENSI
120

100

80
EFISIENSI

60

40

20

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
WAKTU
3. Laju Alir Massa yang Teruapkan
Waktu Laju Massa Air
(menit) Masuk (kg/s) Keluar (kg/s)
0 2,00 1,66
30 2,22 1,74
60 2,40 1,80
90 2,20 1,74

𝟐,𝟎𝟎+𝟐,𝟐𝟐+𝟐,𝟒𝟎+𝟐,𝟐𝟎𝒌𝒈
 Laju massa air masuk = = 2,205 kg/s
𝟒𝒔
𝟏,𝟔𝟔+𝟏,𝟕𝟒+𝟏,𝟖𝟎+𝟏,𝟕𝟒 𝒌𝒈
 Laju massa air keluar = = 1,735 kg/s
𝟒𝒔

 Akumulasi massa = (Laju alir masuk-laju alir keluar-laju yang teruapkan)kg/s


 0 = ( 2,205– 1,735– Laju yang teruapkan) kg/s
 Laju alir massa yang teruapkan = 0,47 kg/s
4.4 PEMBAHASAN
Farida Alhusna Mardaningrum (151411074)
Farkhiyah (151411075)

Cooling tower merupakan suatu perangkat pendukung proses yang berfungsi untuk
membuang panas yang diserap akibat sirkulasi air sistem pendingin yang digunakan sebagai air
proses dengan cara mengontakan air dengan udara. Cooling tower dikategorikan sebagai pendingin
evaporatif yang digunakan untuk mendinginkan air atau media kerja lainnya sampai bertemperatur
mendekati temperatur bola basah udara sekitar. Praktikum cooling tower bertujuan untuk
mengevaluasi kinerja cooling tower yang dapat diketahui melalui massa yang teruapkan dan
efisiensi cooling tower.

Pada praktikum ini, air yang masuk pada cooling tower merupakan air proses yang berasal
dari laboratorium pilot plant. Air proses digunakan untuk pertukaran panas dalam heat exchanger,
falling film evaporator dan alat alat lainnya. Pada prinsipnya , aliran air pendingin yang digunakan
untuk mendinginkan suatu alat akan menyebabkan air pendingin tersebut naik temperaturnya
sehingga ketika memasuki cooling tower terjadi perpindahan panas melalui kontak langsung
antara air yang mempunyai suhu lebih tinggi ke udara yang mempunyai suhu lebih rendah. Air
akan memberikan panas laten dan panas sensible ke udara sehingga suhu air akan menjadi turun.
Udara yang digunakan sebagai media pendingin pada cooling tower yang berada dilaboratorium
merupakan udara yang berada di lingkungan. Air yang didinginkan mengalir dari atas melalui pipa
dan kemudian dipancarkan ke bawah lewat penghambur (sprayfitting) dan sistem distribusi air.
Proses pendinginan terjadi dengan perpindahan panas dari air ke udara selama aliran menuju
kolam. Uap panas di tarik ke atas dan dilepas ke udara lingkungan, setelah air mengalami proses
penurunan temperatur maka akan jatuh ke dalam kolam yang terdapat pada bagian bawah menara
pendingin.

Pengamatan pada cooling tower dilakukan selama 90 menit dan dilakukan pengambilan
data setiap 30 menit sekali. Efisiensi pada cooling tower dapat dilihat dengan kemampuan cooling
tower untuk menurunkan temperature air masuk sampai dengan temperature bola basah atau 1°
diatas suhu bola basah. Pada praktikum diperoleh bahwa efisiensi dari cooling tower pada menit
ke 0 adalah 100%, hal ini dikarenakan pada waktu tersebut dialiran masuk suhunya rendah sekitar
24℃ dan di aliran keluar nilainya sama dengan temperature bola basah yaitu 22℃ . Suhu dialiran
masuk cooling tower rendah karena pada menit ke 0 belum semua alat dinyalakan , sehingga air
pendingin yang masuk ke cooling tower temperaturnya rendah. Efisiensi penurunan panas semakin
berkurang dengan berjalannya waktu , hal ini disebabkan oleh air pendingin yang digunakan dalam
proses perpindahan pada alat yang berada di lab temperaturnya naik. Efisiensi pada menit ke 30
dan 60 adalah 83,3% dan pada menit ke 90 adalah 75%. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa
efisiensi bernilai cukup tinggi, menunjukan bahwa cooling tower bekerja dengan baik dilihat dari
kemampuan mampu mendinginkan suhu dialiran masuk. Suhu masuk masih berkisar diantara suhu
ruang karena tidak semua air dari proses dimasukan ke cooling tower.

Massa air yang teruapkan pada cooling tower, dapat dilihat dari aliran air masuk dan aliran
air keluar. Dari praktikum diperoleh bahwa laju massa air masuk rata-rata sebesar 2,205 kg/s
sedangkan laju massa air keluar rata-rata sebesar 1,735 kg/s. Dari nilai tersebut dapat diketahui
bahwa laju yang teruapkan sebesar 0,47 kg/s. Laju yang teruapkan menunjukan nilai massa air
yang teruapkan akibat berpindah ke udara karena perbedaan temperature. Dari nilai efisiensi dan
massa yang teruapkan dapat diperoleh bahwa kinerja cooling tower yang berada di laboratorium
pilot plant masih bekerja dengan baik dengan efisiensi yang cukup tinggi dan massa yang
teruapkan cukup besar.

4.4 SIMPULAN

 Efisiensi cooling tower

Waktu Efisiensi
(%)

0 100
30 83.3
60 83.3
90 75
 Massa yang teruapkan sebesar 0,47 Kg/s
 Dari nilai efisiensi dan massa yang teruapkan dapat diperoleh bahwa kinerja cooling tower
yang berada di laboratorium pilot plant masih bekerja dengan baik dengan efisiensi yang
cukup tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

Handoyo, Yopi. 2015. Analisis Perfoma Cooling Tower LCT 400 pada P.T XYZ Tambun
Bekasi. Bekasi : Universitas Islam 45 Bekasi.

Herlambang. 2014. Cooling Tower. Semarang : Univesitas Diponegoro

Pratama, Anggara Yudha dkk. 2012. Sistem Air Pendingin (Cooling Water). Semarang :
Universitas Diponegoro.

Pratiwi, Nimas dkk. 2014. Analisa Kerja Cooling Tower Induced Draft Tipe LBC W-300
terhadap Pengaruh Temperature Lingkungan. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.

Putra, Raden Suhardi. 2015. Analisa Perhitungan Beban Cooling Tower pada Fluida di Mesin
Injeksi Plastik. Jakarta : Universitas Mercu Buana.