Anda di halaman 1dari 12

TEORI DIALOGIS MIKHAIL BAKHTIN1

A. Sejarah dan Konsep Teori Dialogis Bakhtin (1895-1975)

Mikhail Mikhailovich Bakhtin adalah pemikir Rusia, tidak saja tertarik pada sastra, tetapi juga

pada semiotik (khususnya pemikiran semiotik Ferdinand de Saussure), etika, estetika, retorika, dan

kritisisme. Bakhtin memimpin lingkaran formalisme Rusia pada masa awal 1920-an, ia sangat

dipengaruhi oleh pemikir-pemikir formalis Rusia, seperti Roman Jacobson dan Yuri Lotman (Anwar,

2010:153).

Sebagai pemikir teori sosial sastra, Bakhtin berkecendrungan menyatukan teori sosial sastra

Marxisme dengan pandanga formalisme. Pandangan Marxis menempatkan sastra pada dimensi yang

tidak bias lepas dari perspektif ideologis dan superstruktur yang terkait dengan sistem produksi

ekonomi yang bersifat material. Marxis menempatkan sastra ke dalam dimensi sosial yang bersifat

ideologis yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat. Bakhtin menunjukan sisi “bermasalah” sastra

dalam perspektif marxis, karena hanya ditempatkan secara pasif dan secara total ideologinya

dipengaruhi oleh dinamika kelas sosial pada suatu masyarakat. Meskipun demikian, pengaruh sosial

pada karya sastra juga tidak dapat dipungkiri berperan penting (Anwar, 2010:153).

Bakhtin mempunyai dan memaparkan perspektif menarik tentang sastra dalam pandangan

formalisme, yang menempatkan sastra sebagai kostruksi bahasa yang bersifat dinamik. Konsep

Formalisme, yang menempatkan sastra sebagai institusi yang otonom dan terlepas dari faktor-faktor

eksternal, juga dipandang oleh Bakhtin mempunyai sisi “masalah” terhadap sastra. Oleh karena itu,

1 Tim Teaching, Rohanda, Khomisah, Nurlinah, Fadlilyani Ainusyamsi, Modul pembelajaran Sosiologi Sastra,
Prodi Bahasa dan Sastra Arab, UIN SGD Bandung, 2017
1
Formalisme dalam pandangan Bakhtin, justru membuat sastra harus dipahami secara tertutup,

abstrak, dan semua makna telah tersedia di dalam teks secara formal.

Bakhtin mencoba melakukan dialektika antara perspektif marxis dan formalisme. Ia mulai

dengan pandangan bahwa ideologi membutuhkan bahasa sebagai instrument untuk menyampaikan

doktrinnya, dan setiap kelas sosial mempunyai “bahasa” masing-masing. Oleh karena itu, maka

setiap wilayah ideologis mempunyai otonom “bahasa”-nya masing-masing, sehingga tidak mungkin

untuk memisahkan ideologi dari bahasa yang menjadi medium ideologi tersebut.

Berdasarkan keyakinan tersebut, Bakhtin berasumsi bahwa ideologi, seperti juga bahasa,

bersifat formal. Bakhtin cenderung menempatkan ideologi, yang oleh aliran marxis dianggap sebagai

sesuatu yang mempengaruhi dinamika sastra, justru sejajar dengan bahasa. Pada sisi lain, Bakhtin

menolak perspektif formalisme yang menempatkan bahasa sebagai sesuatu yang abstrak dan

otonom. Ia memandang bahasa adalah sebuah sistem tanda yang diproduksi secara sosial, sehingga

bahasa menjadi bagian dari realitas material dalam masyarakat. Lebih lanjut ia ingin menunjukan

bahwa bahasa adalah fenomena sosial, dan karya sastra tidak dipengaruhi oleh ideologi, melainkan

sebagai fenomena ideologi itu sendiri (Anwar, 2010:154).

Bahasa maupun ideologi merupakan dua aspek yang dipandang oleh Bakhtin sebagai aspek

“antropologis”. Bakhtin memandang manusia sebagai pengguna bahasa dan ideologi. Bahasa dan

ideologi adalah dua aspek yang menunjukan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari manusia

lainnya. Secara bersama, manusia dengan manusia lainnya akan mencoba untuk saling

menyampaikan pandangannya, gagasannya, merepresentasikan diri, memahami orang lain, maupun

menginternalisasi kesadaran orang lain dan kesadaran diri atas realitas. Ia kemudian sampai pada

asumsi dasar teoretik tentang “bahasa”, yang diagungkan oleh formalisme, dan “ideologi”, yang

diagungkan oleh marxis, sebagai sebuah fenomena “dialog”. Bakhtin bahkan meyakini bahwa segala

sesuatu di dalam hidup manusia berlangsung secara “dialogis.

2
Teori yang dibangun oleh Bakhtin itu, tidak hanya gabungan antara pandangan Marxisme dan

Formalisme saja, tetapi dibangun berdasarkan sebuah gagasan yang lebih mendasar yang berkaitan

dengan konsep filsafat antropologis khususnya mengenai otherness ‘orang lain’. Menurut konsep

tersebut, pada dasarnya manusia tidak dapat dipisahkan dari orang lain. Dikatakan demikian karena

manusia pada umumnya mengagumi dirinya dari sudut pandang orang lain, menusia memahami dan

memperhitungkan kesadaran lewat orang lain, dan manusia secara intens juga meramal dan

memahami kehidupannya di dataran kesadaran orang lain. Itulah seababnya, lahir sebuah anggapan

bahwa segala sesuatu di dalam hidup pada dasarnya merupakan dialog (Bakhtin dalam Todorov,

1984:94-97).

B. Epistemologi Teori Dialogis Bakhtin

Karya sastra bagi Bakhtin adalah teks penting yang dapat menangkap signifikasi-signifikasi

sosial. Karya sastra adalah objek penting yang dapat mengungkap fenomena kesadaran-kesadaran

dan makna-makna secara sosial. Karya sastra, sebagai teks, bukan sekedar objek tetapi juga terkait

secara langsung dengan subjek atau manusia lain (pengarang/sastrawan) sebagai penghasil teks.

Meneliti karya sastra sama dengan “berdialog” dengan manusia lain. Manurut Bakhtin, objek teks

sastra selalu berfungsi sebagai subjek yang harus ditempatkan sebagai sebuah media dialogis (tidak

dapat diposisikan sebagai benda atau artefak). Pemahaman tentang teks sastra sebagai objek selalu

terkait dengan posisi subjek pengarang dan masyarakat yang memberi signifikasi terhadap pengarang

itu (Bakhtin dalam Todorov, 1984).

Secara epistemologi, Bakhtin kemudian sampai pada asumsi metodologis bahwa mengkaji

sastra sebagai objek trans-linguistik (makna-makna tuturan-tuturan individual yang

terepresentasikan dalam wacana, bukan makna-makna yang tersembunyi pada fonem, morfem, atau

proposisi) harus berdasarkan kualitas “dialog” dalam bentuk jangkauan dan kombinasi tuturan yang

muncul dalam teks sastra. Bakhtin menunjukan dua jenis tuturan dalam karya sastra, yaitu: (1)

tuturan monologis yang bentuknya hanya “suara” pengarang saja, dan (2) tuturan dialogis yang
3
bentuknya kombinasi suara pengarang dan “suara-suara” manusia lain. Bakhtin menunjuk pada

genre novel sebagai varian karya sastra yang paling bersifat dialogis dan menunjukan kualitas

intertekstual yang paling kuat. Dalam novel, secara jelas tampak ruang-ruang dialogis yang

membentuk serangkaian peristiwa-peristiwa wacana yang kompleks. Dalam peristiwa wacana itulah

akan keluar suara-suara tuturan dari objek “manusia” sebagai penutur. Tetapi, bagi Bakhtin, bukan

manusianya yang membawa citra makna, melainkan bahasa dalam wacana yang dituturkan oleh

“manusia” dalam teks sastra itulah yang mengandung makna (Anwar, 2010:157).

Perspektif dialogis, secara metodologis dalam karya satra, menunjukan bahwa teks sastra

(khususnya novel) tidak sekedar merepresentasikan objek tetapi sekaligus juga merupakan subjek

yang memproduksi berbagai dialog. Inilah yang menurut Bakhtin membuat ilmu-ilmu sosial-

kemanusiaan menjadi berbeda dan spesifik, karena objek ilmunya sekaligus juga menjadi subjek.

Dalam penelitian sastra, posisi pembaca sebagai peneliti berada sejajar dengan posisi karya sastra

sebagai “subjek”. Makna karya sastra tidak dapat dijangkau jika diposisikan sebagai objek “mati” atau

artefak. Makna karya sastra hanya dapat dijangkau jika diposisikan sebagai subjek dan dikonstruksi

sebuah dialog. Analisis terhadap karya sastra, bagi Bakhtin, adalah sebuah aktifitas yang melibatkan

dua kesadaran subjek untuk mencapai pemahaman dialogis, yang berarti ada pertanyaan yang

diajukan, dan kemudian pertanyaan tersebut dijawab oleh subjek yang diteliti (Anwar, 2010: 157-

158).

C. Landasan dalam Teori Dialogis Bakhtin


a. Polyphonic
Istilah polyphonic diadopsi dari istilah bidang musik yang berarti bermacam-macam bunyi,

terdiri atas berbagai macam instrument yang dikombinasiakan secara bersama-sama (Kennedy, 1980:

500). Dalam karya sastra, istilah polyphonic digunakan untuk menggambarkan konteks “suara” tokoh

yang merepresentasikan variasi posisi ideologis yang digunakan secara bersama-sama dalam sebuah

dialog (Makaryk, 1993:610).


Dalam teori ideologis, konsep polyphonic digunakan untuk mengacu pluralitas suara (voice)

atau kesadaran (consciousness) yang terdapat dalam novel, sehingga novel yang mengandung
4
peluralitas suara ini disebut novel polifonik. Novel polyphonic mengandung pluralitas suara dan

kesadaran yang bebas dan penuh makna, dan dalam genre sastra polyphonic suara-suara tokoh

(hero) lebih bebas, di mana, ia memiliki kemampuan menyejajarkan diri dengan pengarang, tidak

sependapat, bahkan bertentangan dengan pengarang (Bakhtin, 1973:4).


Suara-suara dalam novel ditandai dialog antartokohnya, karena melalui dialog antartokoh

tersebut dapat diidentifikasi suara-suara lain. Dalam proses dialog, tokoh-tokoh yang berdialog tidak

hanya menyampaikan suara pribadinya, melainkan juga menyampaikan rangkuman suara-suara lain

yang berasal dari dalog-dialog sebelumnya. Hal ini mencerminkian bahwa di balik dialog yang

dilakukan tokoh-tokoh juga terdapat suara-suara lain, dialog-dialog yang lain yang menyebabkan

karya sastra memiliki muatan bermacam-macam suara (polyphonic) (Adinda, 2009:17).


Tokoh-tokoh dalam novel polyphonic tidak menjadi objek suatu pengarang, akan tetapi

menjadi subjek bagi dirinya sendiri. Kesadaran pengarang sendiri menjadi kesadaran asing, tetapi

pada saat yang sama kesadaran tersebut tidak terobjektivikasi suara pengarang atau suara tokoh-

tokoh lain, tidak lantas tertutup, dan tidak menjadi kesadaran pengarang. Suara tokoh tidak

tersubordinasi dalam objektivikasi sebagai salah satu karakteristiknya, juga bukan penyambung suara

pengarang (Bakhtin, 1973: 4).


Dalam karya sastra, istilah polyphonic yang diadopsi dari khasanah musik itu digunakan

untuk mendeskripsikan otoritas dan kebebasan tokoh dalam menyampaikan “suara”-nya yang bebas

dari pengaruh pengarang maupun tokoh lain. Kata-kata yang ada dalam karya sastra tidak hanya

menyempaikan pesan bermakna, tetapi juga mengindikasikan keterkaitan dengan teks-teks lain.

Kata-kata dalam karya sastra disusupi oleh suara-suara lain sehingga karya sastra dianggap sebagai

refleksi berbagai kesadaran, ide, dan pemikiran yang multivoice.


Bakhtin mengumpamakan novel polifonik seperti sebuah “pasar” yang terbuka akan

hadirnya subjek-subjek untuk bernegosiasi secara tidak teratur. Pasar terkesan kacau dan tidak

teratur, tetapi sesungguhnya menangkap suasana poliponik karena mengakomodasi berbagai jenis

komoditas, kepentingan, dan kemampuan orang-orang dan saling berdialog untuk sebuah kesatuan

tujuan kehidupan. Bagi Bakhtin, novel poliponik (menyerupai pasar) menghimpun berbagai kualitas

genre dan unsur-unsur asing yang terangkum sebagai sebuah kesatuan artistik (Anwar, 2010:163).

5
Dialog pada novel poliponik adalah sebuah dialog yang tidak pernah selesai. Karya sastra

poliponik ditandai dengan akhir yang tidak selesai, dan tidak ada dialog yang menutup peristiwa

sebagai sebuah kesimpulan yang selesai (Anwar, 2010:164).


b. Carnaval

Bakhtin (1973: 101) menyatakan bahwa prilaku karnaval yang memunculkan sastra polifonik

setidaknya dapat dipahami melalui empat kategori berikut. Pertama, adanya pertunjukan indah

tanpa panggung, tanpa ada pembagaian peran sebagai pemain atau penonton. Dalam pertunjukan

tersebut setiap orang dapat bergabung dan menjadi peserta aktif. Pertunjukan karnaval tidak

terkontemplasi, bahkan tidak dimainkan dan di dalamnya peserta hidup sesuai dengan hukum-

hukum yang berlaku di dalam kehidupan karnivalistik (kehidupan yang tidak biasa). Semua hukum

atau larangan yang menentukan tatanan kehidupan normal ditangguhkan; sistem hierarki dan semua

bentuk ketakutan, rasa malu, kesalehan, dan etika ditunda; dan jarak antarorang pun ditiadakan.

Dengan demikian, dalam suatu pertunjukan karnaval terjadi kontak bebas, apa saja dimungkinkan.

Kedua, di dalam pertunjukan separuh drama itu berkembang modus baru hubungan

atarmanusia yang berbeda dengan hubungan manusia dalam kehidupan normal (non-karnival). Dari

sini, akan muncul eksistensi, yaitu perilaku yang terbatas dari segala otoritas dan hierarki. Secara

organik perilaku eksentrik berkaitan dengan kategori kontak-kontak familier; dan melalui prilaku

eksentrik itu sisi sifat manusia yang munkin tersembunyi akan dapat diungkap.

Ketiga, segala perilaku familier (nilai, pemikiran, fenomena, benda-benda, dan sejenisnya)

yang terisolasi oleh perilaku hierarkis dibawa masuk ke dalam suatu kontak dan kombinasi-kombinasi

karnivalistik. Carnaval membawa mereka secara bersama-sama, menyatukan dan untuk

menggabungkan dua oposisi berpasangan (suci-profan, dan sebagainya). Keempat, dari berbagai

kontak dan kombinasi karnivalistik tersebut akhirnya terjadi semacam profanasi (penghujatan

karnivalistik) yang berfungsi menerangi atau memperjelas simbol-simbol otoritas yang ada.

6
Dalam karya sastra, khususnya novel, unsur-unsur yang mencerminkan perilaku carnaval

tersebut antara lain terdapat (melekat) di dalam komposisi (struktur) dan situasi-situasi plot (Bakhtin,

1973:101-102). Sealain itu, unsur-unsur (perilaku carnaval) itu juga menentukan familiaritas posisi

pengarang dalam kaitannya dengan para tokoh, dan semua itu, akhirnya berpengaruh juga pada gaya

verbal karya itu sendiri. Bahkan menurut Bakhtin (1973:108), berbagai unsur karnivalistik itulah yang

memberikan konteks dan dasar bagi karya sastra. Oleh sebab itu, sangat masuk akal apabila peristiwa

“karnivalisasi kesusastraan” menjadi bagian dari tradisi sastra yang terus bertahan hidup hingga

zaman modern (sekarang). Hanya saja, sesuai dengan berbagai perubahan yang terus terjadi di

dalam suatu kehidupan, peristiwa karnivalisasi kesusastraan di zaman modern itu tentu juga

memahami berbagai perubahan bentuk dan makna (Bakhtin, 1973:108, 112).

Contoh Penerapan Teori

Judul

Suara-Suara yang Terbungkam:

Kajian Dialogis Bakhtin atas Novel Olenka Karya Budi Darma

l. Latar Belakang Masalah

Das Sein: adanya suara yang terbungkam atau terjadinya dialog yang monolog dalam novel

polifonik.

Das Sollen: dalam novel polifonik terjadi dialogis sebagai karakteristik dari novel polifonik.

Masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah suara-suara yang terbungkam dalam novel

Olenka sebagai novel yang multi karnavalisasi.

ll. Rumusan Masalah

7
1. Karnavalisasi dalam novel Olenka.
2. Tingkat kepolifonikan novel Olenka.
3. Kadialogis novel Olenka.

Permasalahan, dari uraian masalah dan rumusan masalah di atas, secara keseluruhan adalah karya

sastra, yang meliputi struktur bahasa dan latar penciptaan ideologi dalam novel Olenka.

lll. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Teoretis

Hasil penelitian ini diharapakan dapat melengkapi penelitian-penelitian sastra yang telah

dilakukan sebelumnya, baik yang terfokus pada pemeknaan karya sastra maupun penelitian-

penelitian yang lain, khususnya penelitian-penelitian yang menggunakan teori dialogis.

2. Tujuan Praktis

Memberiakn gambaran kepada pembaca mengenai pentingnya sikap kritis terhadap

berbagai permasalahan dalam kehidupan. Dengan sikap kritis tersebut diharapkan pembaca

lebih menyadari proses atau konsep dialog yang terbangun dalam sebuah karya sastra (novel

polifonik), yang kaya akan karnavalisasi.

IV. Tinjauan Pustaka

Sejauh pengetahuan dan jangkauan peneliti, terdapat dua hasil penelitian terhadap novel

Olenka yaitu; (1) skripsi Indriati, Struktur Novel Olenka: sebuah Tinjauan Intertekstual (1991, Fakultas

Sastra UGM). Dalam skripsi tersebut Indriati membahas aspek alur, penokohan, teknik penceritaan,

dab pusat pengisahan. Setelah unsure-unsur tersebut dibahas, ia berkesimpulan bahwa novel Olenka

berhubungan dengan novel Anak Perawan di Sarang Penyamun karya Sultan Takdir Alisjahbana

sebagai hipogramnya; (2) tesis Indraningsih, Eksistensi Manusia dalam Rafilus dan Olenka karya Budi

Darma: sebuah kajian Semiotika (1996, Program Pascasarjana UGM). Dalam tesisnya tersebut,

Indraningsih berkesimpulan bahwa Olenka mengedepankan (a) kebebasan manusia berdasarkan

8
pilihan-pilihan dan tindakan-tindakan, (b) hubungan antarmanusia bukan sebagai subjek-objek,

melainkan sama-sama sebagai subjek yang saling menghapus eksistensi orang lain, (c) anak sebagai

pernyataan eksistensi, dan (4) kehadiran Tuhan sebagai tempat mengadu manusia.

V. Landasan Teori

Kerangka teori yang digunakan adalah dialogis Bakhtin sebagaimana yang sudah di

kemukakan sebelumnya.

VI. Metode Penelitian

1. Metode Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dari sumber data, yaitu novel Olenka sebagai sumber utama. Data diambil

menggunakan lembar pengambilan data yang disesuaikan dengan tujuan penelitian yang

dititik beratkan suara-suara yang terbungkam dalam proses dialogis. Setelah terkumpulkan

data diseleksi dan diklasifikasi sesuai dengan konteks keberadaanya.

2. Metode Analisis Data

Metode analisis data menggunkan sistem rendom sampling, yaitu data dipilih secara acak

dari lembar pengumpulan data, dianalisis sesuai dengan klasifikasi dan fungsinya, kemudian

hasil analisis disajikan dalam bentuk uraian yang relatif lengkap dan rinci.

VII. Hasil Analisis

Dari pembahasan seluruh unsur yang mencerminkan prilaku karnaval dapat dinyatakan bahwa

novel Olenka terkarnavalisasi, baik secara eksternal maupun internal. Secara eksternal, karnavalisasi

Olenkan tampak pada bentuk, yaitu pada susunan bagian-bagian (bab-bab) yang “tidak biasa” (luar
9
biasa). Ada bagian yang berupa bangunan dunia fiksi (bagian l-V), dan adapula bagian yang bukan

dunia fiksi (bagian Vl-Vll). Dunia fiksi dan dunia nonfiksi digabungkan menjadi satu sehingga novel

Olenka tampak bagaikan sebuah “drama” yang di dalamnya pengarang dan pembaca-dapat secara

bebas-ikut terlibat dalam dialog. Sementara itu, secara internal karnavalisasi Olenka tampak pada

sikap dan perilaku tokoh (Fanton Drummond, Olenka, Wahye Danton, dan Mary Carson) yang

“bermain” di dalam suatu lokasi atau latar yang karnivalisasi, lokasi yang terbuka, bersifat umum,

tanpa batas, dan menunjukan simbol milik semua orang (apartemen, stasiun, terminal, jalanan, klab

malam, rumah sakit, dan sejenisnya). Di lokasi karnival itulah tokoh-tokoh, terutama Fanton

Drummond, berpetualang, menjalin hubungan (skandal) dengan Olenka dan Mary Carson,

berperilaku eksentrik, bertanya pada diri sendiri, bermimpi, berkonfrontasi dengan tokoh-tokoh lain,

bertanya tentang “kematian”, dan akhirnya menderita (muak terhadap dirinya sendiri). Di samping

itu, karnavalisasi internal juga tampak pada adanya berbagai “teks” atau “wacana” atau “genre” lain

seperti novel, cerpen, puisi, syair, lagu, film, buku, kitab suci, gambar, berita, aktikel, dan iklan yang

“terhimpun” di dalamnya.

Sementara itu, diamati dari sisi dialog antartokoh dan posisi pengarang, dapat dirangkum

beberapa hal berikut. Terlihat bahwa di dalam novel Olenka tokoh satu dapat berhubungan dengan

tokoh lain. Akan tetapi, hubungan itu tidak terjalin melalui peristiwa, situasi, atau dialog-dialog

langsung, tetapi terjalin melalui kesadaran. Artinya, tokoh satu dapat masuk ke dalam kesadaran

tokoh lain, khususnya hubungan antara tokoh Fanton dan Olenka, Fanton dan Wayne, Fanton dan

Mary, serta Olenka dan Wayne. Oleh karena itu, walaupun di dalam novel ini muncul kesan adanya

kesulitan hubungan antarmanusia, tokoh-tokoh itu dapat hadir bersama, berdialog bersama, untuk

membahas masalah atau objek (tertentu) secara bersama-sama.

Hanya saja, karena tokoh-tokoh tersebut secara dominan digambarkan hanya melalui satu

mulut (suara), yaitu mulut “saya” (narrator, Fanton), akhirnya semua tokoh terobjektivikasi oleh

“saya”. Itulah sebabnya, hubungan dialogis atau relasi yang tidak saling meniadakan (hubungan

10
demokratis) yang terjalin di anatara mereka menjadi lenyap. Barulah hubungan dialogis dapat terjalin

kembali ketika pengarang bergabung dengan tokoh. Meskipun “saya” identik dengan pengarang, di

akhir cerita (bagain V) pengarang mencoba membuat jarak tertentu dengan tokoh sehingga

keduanya tidak saling mengojektivikasi, tetapi saling menghargai dan mempertahankan diri.

Dari pembahasan terhadap proses representasi gagasan (ideologi) diperoleh pula hal yang

sama. Di dalam novel Olenka gagasan pengarang tidak berfungsi mendialogisasi pemikiran atau

gagasan lain, tetapi juga memonologisasi, membungkam, dan melenyapkan gagasan lain. Dalam

novel ini sesungguhnya pengarang telah mencoba mengajukan sesuatu yang mengarah kepada upaya

demokratisasi (kebebasan berpendapat, kemerdekaan berfikir), yakni dengan cara mengedepankan

berbagai gagasan dan pemikiran lain, tetapi kenyataan menunjukan bahwa betapa sulit demokrasi itu

ditegakan. Oleh sebab itu, akhirnya Olenka seolah hanya merepresentasikan objek (gagasan), tetapi

tidak sekaligus menjadi objek representasi.

VIII. Kesimpulan

Dari seluruh pembahasan secara dialogis terhadap relasi berbagai komponen di dalam Olenka,

akhirnya, sekali lagi, dapat dikatakan bahwa berbagai unsur karnaval yang mengkarnivalisasi novel

ternyata tidak menjamin dirinya sebagai novel yang sepenuhnya polifonik dan dialogis. Kepolifonikan

dan kedialogisan Olenka hanya terbatas pada bagian tertentu, yaitu bagian l sampai dengan V; dan

jika dilihat secara keseluruhan (bagian l sampai dengan Vll), novel tersebut termasuk ke dalam

kategori novel monofonik dan atau monologik, novel yang hanya menyuarakan satu suara, yakni

suara pengarang. Mengapa terjadi demikian, karena suara-suara lain, baik darai tokoh maupun dari

pembaca, semuanya “dibungkam” oleh suara pengarang.

Daftar Acuan
11
Anwar, Ahyar. 2010. Teori Sosial Sastra. Yogyakarta: Ombak.

Bakhtin, Mikhail. 1973. Problems of Dostoevsky’s Poetics. Translated by R.W. Rotsel. USA: Ardis.

Indraningsih. 1996. Eksistensi Manusia dalam Rafilus dan Olenka, karya Budi Darma: Sebuah Kajian
Semiotik. Tesis Perogram Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Indriati, Sri. 1991. Struktur Novel Olenka: Sebuah Tinjauan Intertekstual. Skripsi Fakultas Sastra
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Todorov, Tzvetan. 1984. Mikhail Bakhtin: The Dialogical Priciple. Translaterd by Wlad Godzich.
Manchester: Manchester University Press.

12