Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM PLANKTON DAN TANAMAN AIR

Oleh
Ris Restu Pertiwi
1514111008
Krlompok IV

Asisten Dosen
Ussy Tri Anti
1414111078

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesuburan suatu perairan dapat diketahui antara lain dari jumlah dan
komposisi organisme plankton. Plankton adalah jasad atau organisme yang hidup
melayang dalam air, tidak bergerak atau bergerak sedikit dan selalu mengikuti
pergerakan atau arus air. Pergerakan plankton dipengaruhi oleh arus, hidupnya
melayang-layang dan gaya geraknya sangat kecil. Distribusi plankton cukup luas,
mulai dari muara sungai hingga samudra, mulai dari perairan tawar sampai asin,
bahkan dari perairan tropis hingga kutub. Mereka terdiri dari makhluk-makhluk
yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan
(fitoplankton). Fitoplankton mengandung pigmen klorofil maupun melaksanakan
proses fotosintesis dimana air dan karbondioksida dengan adanya sinar surya dan
garam-garam basa dapat menghasilkan senyawa organik. Sehingga phytoplankton
disebut sebagai produsen primer. Sebagai produsen primer phytoplankton
merupakan pangkal rantai makanan dan dasar yang mendukung kehidupan
seluruh organisme perairan lainnya.
Dalam mengidentifikasi suatu plankton diperairan kita harus teliti, seperti di
sungai karena arusnya yang deras dan tidak memungkinkan. Di daerah seperti itu
terdapat plankton yang berukuran kecil dan adapula yang berukuran besar,
berbeda dengan di laut yang kondisi perairannya yang memungkinkan untuk
banyak tumbuhnya plankton. Plankton merupakan makanan alami organisme
perairan, sebagai produsen utama di perairan adalah fitoplankton sedangkan
organisme konsumen adalah zooplankton, larva, ikan, udang, kepiting, dan
sebagainya.
Kelimpahan plankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter
lingkungan dan karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan plankton
akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-
perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi. Oleh karena itu
plankton merupakan organisme yang keberadaannya sangat diperlukan atau harus
ada didalam perairan karena plankton adalah bahan utama rantai makanan di
perairan. Sedangkan tumbuhan air berfungsi untuk tempat perlindungan,
pemijahan, bertelur, dan berkembang biak ikan atau mahluk hidup didalamnya.
Oleh karena itu tumbuhan air sangat diperlukan juga oleh mahuk hidup yang
berada pada perairan. Untuk itu dilakukannya kegiatan praktikum ini untuk
mengetahui bentuk, ukuran dan fungsi plankton itu sendiri bagi perairan.

1.2 Tujuan
Tujuan-tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui keanekaragaman plankton di perairan tawar dan laut
b. Mengetahui jenis-jenis tanaman air di perairan tawar dan laut
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Fitoplankton


Fitoplankton adalah tumbu-tumbuhan air yang mempunyai ukuran sangat
kecil dan hidup melayang di dalam air. Fitoplankton merupakan sekelompok dari
biota tumbuh-tumbuhan autotrof, mempunyai klorofil dan pigmen lainnya di
dalam selnya dan mampu untuk menyerap energi radiasi dan CO 2 untuk
melakukan fotosintesis. Biota tersebut mampu mensintesis bahan-bahan anorganik
untuk dirubah menjadi bahan organik (yang terpenting yaitu karbohidrat) (Zhong,
1989).
Fitoplankton merupakan plankton yang amat banyak ditemukan di perairan,
tetapi karena ukurannya mikroskopis maka sukar untuk mengetahui
kehadirannya. Konsentrasinya bisa mencapai ribuan hingga jutaan sel perliter air
laut. Sedangkan zooplankton terdiri dari banyak jenis hewan dan ukurannya lebih
besar dari fitoplankton. Hampir semua hewan laut memulai kehidupannya
sebagai plankton terutama pada masih berupa telur dan larva. Pada dasarnya di
perairan sekitar muara sungai atau lepas pantai keberadaan fitoplankton sangat
subur karena adanya upwelling (pengadukan) secara berkelanjutan antara unsur-
unsur hara dari daratan yang terbawa arus sungai dan unsur-unsur hara dari laut
(Nontji, 1993).
Fitoplankton mempunyai peranan sangat penting dalam ekosistem perairan,
sama pentingnya dengan peran tumbuh-tumbuhan hijau yang lebih tinggi
tingkatannya di ekosistem daratan. Fitoplankton adalah produsen utama (Primary
producer) zat-zat organik dalam ekosistem perairan. Seperti tumbuh-tumbuhan
hijau yang lain, fitoplankton membuat ikatan-ikatan organik kompleks dari bahan
organik sederhana melalui proses fotosintesa (Hutabarat dan Evans, 1986).
Fitoplankton atau plankton nabati adalah tumbuhan yang hidupnya
mengapung atau melayang di perairan. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak
dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2-200 mikro
m. Fitoplankton biasa berupa individu bersel tunggal. Fitoplankton mempunyai
fungsi penting di perairan karena bersifat autotrofik sehingga mampu
menghasilkan bahan makanannya sendiri (Sugianti, 2008).
Secara alami kepadatan fitoplankton dapat dikontrol oleh organisma yang
memakan fitoplankton seperti zooplankton; kompetisi antar sesama alga; dan bisa
punah akibat kehadiran parasit seperti: protozoa, kapang, bakteri atau virus
(Nutja, 1997).

2.2 Pengertian Zooplankton


Zooplankton disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya
mengapung, atau melayang dalam laut. kemampuan renangnya sangat terbatas
hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya. Zooplankton
bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan
organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya, ia
sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi
makanannya. Jadi zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen bahan organik.
Ukurannya paling umum berkisar 0,2 – 2 mm, tetapi ada juga yang berukuran
besar misalnya ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih satu meter. Kelompok
yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod), eufausid (euphausid),
misid (mysid), amfipid (amphipod), kaetognat (chaetognath). Zooplankton dapat
dijumpai mulai dari perairan pantai, perairan estuaria didepan muara sampai ke
perairan di tengah samudra, dari perairan tropis hingga ke perairan kutub (Nontji,
2008).
Zooplankton merupakan kelompok organisme planktonis yang bersifat
hewani dan hidup melayang dalam air, dimana kemampuan renangnya terbatas,
sehingga mudah hanyut oleh oleh gerakan atau arus air. Zooplankton meskipun
terbatas mempunyai kemampuan bergerak dengan cara berenang (migrasi
vertikal). Pada siang hari zooplankton bermigrasi ke bawah menuju dasar
perairan. Migrasi dapat juga terjadi karena pemangsaan (grazing) yaitu mendekati
fitoplankton sebagai mangsa. (Sumich, 1999).
Zooplankton merupakan organisme penting dalam proses pemanfaatan dan
pemindahan energi karena merupakan penghubung antara produsen dengan
hewan-hewan pada tingkat tropik yang lebih tinggi. Dengan demikian populasi
yang tinggi dari zooplankton hanya mungkin dicapai bila jumlah fitoplankton
tinggi. Namun dalam kenyataannya tidak selalu benar dimana seringkali dijumpai
kandungan zooplankton yang rendah meskipun kandungan fitoplankton sangat
tinggi. Disebut pula plankton hewani, zooplankton bersifat heterotropik berarti tak
dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganic. Ukurannya
berkisar 0,2 – 2 mm (Taufik, 2009).
Zooplankton merupakan plankton berupa hewan. Beberapa jenis plankton
ada yang bersifat sebagai plankton untuk seluruh masa hidupnya, tetapi ada juga
yang bersifat sebagai plankton hanya untuk sebagian dari masa hidupnya.
Zooplankton tidak dapat memproduksi bahan-bahan organik dari bahan-bahan
anorganik, oleh karena itu mereka harus mendapat tambahan bahan-bahan organik
dari makanannya. Hal ini dapat diperoleh mereka baik secara langsung maupun
tidak langsung dari tumbuh-tumbuhan. Zooplankton yang bersifat herbivora akan
memakan fitiplankton secara langsung. Sedangkan golongan karnivora
memanfaatkan mereka dengan cara tidak langsung dengan memakan golongan
herbivora atau karnivora yang lain (Juwana, 2007).

2.3 Peranan Zooplankton Dan Fitoplankton Di Perairan


Fitoplankton dapat berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang
dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Fitoplankton menghuni hampir
setiap ruang dalam massa air yang dapat dicapai oleh sinar matahari (zone
eufotik), dan merupakan komponen flora yang paling besar peranannya sebagai
produsen primer di suatu perairan (Nontji, 1984).
Fitoplankton mempunyai fungsi penting di laut, karena bersifat autofrofik,
yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organik makanannya. Selain itu,
fitoplankton juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan
bahan organik karena mengandung organik. Karena kemampuannya ini
fitoplankton ini disebut sebagai produsen primer (Yusmawardani, 2006).
Fitoplankton yang berfungsi sebagai produsen awal ini merupakan umpan
(prey) bagi organisme pada tingkat trofik kedua, yakni zooplankton (plankton
hewani), sehingga kedudukan zooplankton bisa disebut sebagai konsumer pertama
atau produsen kedua (Wibisono, 2005).
Zooplankton memegang peranan penting dalam jaring jaring makanan di
perairan yaitu dengan memanfaatkan nutrient melalui proses fotosintesis
(Kaswadji, 2001).
Dalam hubungannya dengan rantai makanan, terbukti zooplankton
merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis , oleh karena itu kelimpahan
zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan perairan (Arinardi, 1997).

2.4 Pengertian Seagrass


Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang seluruh
proses kehidupan berlangsung di lingkungan perairan laut dangkal (Susetiono,
2004). Lamun merupakan satu satunya tumbuhan angiospermae atau tumbuhan
berbunga yang memiliki daun, batang, dan akar sejati yang telah beradaptasi
untuk hidup sepenuhnya di dalam air laut. Pola hidup lamun sering berupa
hamparan, maka dikenal juga istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan
vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu
jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Lamun umumnya membentuk
padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya
matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang
dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi
diperlukan untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta mengangkut hasil
metabolisme lamun ke luar daerah padang lamun (Den Hartog, 1970).
Lamun biasanya terdapat dalam julah yang melimpah dan sring membentk
padang lamun yang lebat dan luas di perairan tropik. Sifat-sifat lingkungan pantai,
terutama dekat estuari, cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan lamun.
Namun seperti halnya mangrove, lamun juga hidup di lingkungan yang sulit.
Pengaruh gelombang, sedimentasi, pemanasan air, pergantian pasang dan surut
dan curah hujan, semuanya harus di hadapi dengan gigih dengan penyesuaian-
penyesuaian secara morfologik dan faal. Penyesuaian secara morfologik dilakukan
dengan berbagai bentuk, misalnya daun yang seperti rumput, lentur dan sistem
akar dari rimpag yang meluas mampu berthan terhadap pengaruh ombak, pasut
dan perpindahan sedimen di habitat pantai yang dangkal. Lamun yang hidup di
periran yang sering terkena pemanasan yang intensif sehingga suhu air meninggi
lebih banyak berupa varietas yang berdaun kecil (Romimohtarto, 2001)
Jika dilihat dari pola zonasi lamun secara horisontal, maka dapat dikatakan
ekosistem lamun terletak di antara dua ekosistem bahari penting yaitu ekosistem
mangrove danekosistem terumbu karang. Dengan letak yang berdekatan dengan
dua ekosistem pantai tropik tersebut, ekosistem lamun tidak terisolasi atau berdiri
sendiri tetapi berinteraksidengan kedua ekosistem tersebut (Dahuri, 2001).

2.5 Peranan Seagrass


Lamun kadang-kadang membentuk suatu komunitas yang merupakan
habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat
memperlambat gerakan air. bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi
penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum
banyak dikenal baik pada kalangan akdemisi maupun masyarakat umum, jika
dibandingkan dengan ekosistem lain seperti ekosistem terumbu karang dan
ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem tersebut di kawasan pesisir
merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan fungsi ekologisnya (Bengen,
1999).
Lamun tumbuh bertahun-tahun, rimpangnya tumbuh memanjang dan
membentuk pasangan-pasangan daun dan akar baru. Kadang-kadang ia
membentuk komunitas yang lebat sehingga merupakan padang lamun (sea grass
bed) yang cukup luas. Padang lamun mempunyai produktifitas organik yang
sangat tinggi. Di situ terdapat macam-macam biota laut seperti Crustacea,
Molusca, cacing dan juga ikan. (Romimohtarto,1999).
Di samping sebagai tempat mencari makan dan memijah, padang lamun
juga dapat memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus dan gelombang
(sebagai peredam gelombang) sehingga perairan di sekitarnya tenang. Hal ini
menyebabkan substrat di bawah padang lamun menjadi lebih stabil. Oleh karena
itu, padang lamun disukai oleh organisme-organisme yang lain karena digunakan
sebagai tempat berlindung bagi larva-larva yang baru menetas dari arus maupun
berlindung dari sinar matahari (Soemaryam, 2001).
Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang
paling produktif. (Azkab, 1988).
Lamun memiliki tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan
dengan ekosistem lainnya yang ada dilaut dangkal seperti ekosistem terumbu
karang (Thayer et al, 1975).

2.6 Klasifikasi Lamun yang ditemukan


Jenis lamun yang ditemukan di Pantai Ketapang yaitu Cymodocea serrulata
Menurut den Hartog (1970), klasifikasi lamun tersebut adalah:

Kingdom : Plantae
Phylum : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Order : Potamogetonales
Family : Cymodoceaceae
Genus : Cymodocea
Species : Cymodocea serrulata
Cymodocea serrulata terdapat di daerah intertidal, umumnya dijumpai di
daerah intertidal didekat hutan mangrove. Ciri – ciri morfologi dari Cymodocea
serrulata adalah tepi daun bergerigi / seperti gergaji, akar tiap nodus banyak dan
bercabang, tulang daun sejajar, lebar daun dari samping ke samping + 1 cm, jarak
antar nodus + 2 cm, jumlah tulang daun pada sehelai daun antara 13 – 17 buah,
tiap nodus hanya ada satu tegakan dan satu tegakan terdiri dari 2 – 3 helai daun
(Moriaty, 1989).

2.7 Pengertian Seaweed


Istilah rumput laut sudah dikenal dalam perdagangan. Istilah ini merupakan
terjemahan dari kata “sea weed” (bahasa inggris). Pemberian nama terhadap alga
laut bentuk ini sebenarnya kurang tepat, karena apabila ditinjau secara botanis,
tumbuhan ini tidak tergolong rumput (graminae), tetapi akan lebih tepat bila kita
menggunalkan istilah alga laut benthik-benthik, atau alga benthik saja (Aslan,
1991).
Rumput laut yang dalam bahasa Inggris disebut “Seaweed” adalah alga
makro yang bersifat bentik dan termasuk tumbuhan tingkat rendah (Thallophyta).
Tumbuhan tersebut mempunyai sistem morfologi dan reproduksi tersendiri yang
umumnya berbeda dengan tumbuhan tingkat tinggi (tumbuhan berbunga) yang
biasa hidup di darat (Atmadja, 1996).
Rumput laut yang dalam bahasa inggrisnya disebut “sea weeds” adalah alga
makro yang bersifat bentik dan termasuk tanaman tidak berbunga, sehingga
merupakan tanaman tingkat rendah (Thallophyta) atau sederhana (Sadhori, 1992)
Rumput laut merupakan ganggang yang hidup di laut dan tergolong dalam
divisio thallophyta. Keseluruhan dari tanaman ini merupakan batang yang dikenal
dengan sebutan thallus, bentuk thallus rumput laut ada bermacam-macam ada
yang bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong, rambut dan lain
sebagainya. Thallus ini ada yang tersusun hanya oleh satu sel (uniseluler) atau
banyak sel (multiseluler) (Soegiarto et al, 1978).
Seaweed dalam dunia perdagangan dikenal sebagai rumput laut, namun
sebenarnya dalam dunia ilmu pengetahuan diartikan sebagai alga (ganggang) yang
berasal dari bahasa latin yaitu algor yang berarti dingin. Ganggang laut adalah
tanaman tingkat rendah yang tidak memiliki perbedaan susunan kerangka seperti
akar, batang, dan daun. Meskipun wujudnya tampak seperti ada perbedaan, tetapi
sesungguhnya merupakan bentuk thallus belaka. Bentuk thallus ganggang laut
bermacam-macam, ada yang bulat seperti tabung, kantung, rambut, dan
sebagainya (Barus, 2003).

2.8 Peranan Seaweed


Rumput laut berperan sebagai sumber energi bagi lingkungan perairan di
sekitarnya. Kemampuan rumput laut melakukan fotosintesis telah menjadikannya
sumber energi bagi berbagai jenis biota yang mengkonsumsinya, seperti ikan,
udang, bulu babi yang kemudian menjadikan rantai makanan komplek, sehingga
terjadi pengalihan energi dari tingkat tropik yang lebih rendah ke tingkat tropik
yang lebih tinggi (Effendi, 2003).
Rumput laut untuk reproduksi dan sebagai lingkungan pendukung bagi biota
lain. Di wilayah perairan pantai, rumput laut menjadi tempat hidup sekaligus
perlindungan bagi biota yang memasuki masa tahapan stadio juvenil. Rumput laut
dengan unsur haranya dapat mencukupi kebutuhan nutrisi bagi biota pada stadio
juvenil. Di samping itu, rumput laut juga melindungi biota dari hewan predator
dengan daun-daunnya yang rimbun (Sutomo, 2006).
Di dalam ekosistem pantai, terjadi mekanisme hubungan dimana rumput
laut memberikan sumbangan berupa bahan organik bagi perairan. Rumput laut
yang mati diuraikan menjadi partikel-partikel detritus, dimana partikel-partikel
detritus ini menjadi sumber makanan bagi berbagai macam hewan laut (Kordi,
2009).
Rumput laut memiliki kandungan karbohidrat, protein, sedikit lemak, dan
abu yang sebagian besar merupakan senyawa garam natrium dan kalium. Rumput
laut juga mengandung vitamin- vitamin, seperti vitamin A, B1, B2, B6, B12, C,
D, E dan K; betakaroten; serta mineral, seperti kalium, kalsium, fosfor, natrium,
zat besi, dan yodium. Beberapa jenis rumput laut mengandung lebih banyak
vitamin dan mineral penting, seperti kalsium dan zat besi bila dibandingkan
dengan sayuran dan buah-buahan (Anggadiredja, 2006).
Rumput laut berperan sebagai indikator pencemaran, apabila terjadi
pencemaran di perairan laut, maka pertumbuhan rumput laut akan menurun
demikian juga dengan jumlahnya. Namun, apabila kondisi perairan mulai
membaik, maka pertumbuhan dan jumlahnya akan meningkat kembali, sehingga
rumput laut dapat digunakan sebagai indikator dalam pencemaran pantai (Amran,
2009).

2.9 Plankton Air Laut dan Air Tawar


Organisme perairan pada tingkat (trophic) pertama berfungsi sebagai
produsen atau penyedia energi disebut sebagai plankton. Plankton adalah suatu
golongan jasad hidup akuatik berukuran mikroskopik, biasanya berenang atau
tersuspensi dalam air, tidak bergerak atau hanya bergerak sedikit untuk
melawan/mengikuti arus. Dibedakan menjadi dua golongan, yakni golongan
tumbuhan/ fitoplankton (plankton nabati) yang umumnya mempunyai klorofil dan
golongan hewan/ zooplankton (plankton hewani) (Wibisono, 2005).
Fitoplankton merupakan algae yang tergolong autotrof, dimana dengan
energi sinar dan klorofil, serta menyerap karbon dioksida dan senyawa nutrien
anorganik organisme ini mampu mensintesa senyawa organik yang kompleks
melalui proses fotosintesis. Algae autotrof melimpah di daerah eutrofik (zona
fotik). Zona ini adalah mulai dari permukaan sampai ke kedalaman tertentu,
dimana intensitas sinar matahari masih memungkinkan pembentukan bahan
organik oleh tumbuhan melalui fotosintesis tadi (Agus, 2011).
Zooplankton disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya
mengapung, atau melayang dalam laut. kemampuan renangnya sangat terbatas
hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya. Zooplankton
bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan
organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya, ia
sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi
makanannya. Jadi zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen bahan organik.
Ukurannya paling umum berkisar 0,2 – 2 mm, tetapi ada juga yang berukuran
besar misalnya ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih satu meter. Kelompok
yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod), eufausid (euphausid),
misid (mysid), amfipid (amphipod), kaetognat (chaetognath). Zooplankton dapat
dijumpai mulai dari perairan pantai, perairan estuaria didepan muara sampai ke
perairan di tengah samudra, dari perairan tropis hingga ke perairan kutub (Nontji,
2008).
Zooplankton memiliki peranan yang sangat penting di lautan, dimana
zooplankton merupakan kunci tingkatan trofik terendah (fitoplankton) ke
tingkatan trofik tertinggi (sumberdaya ikan) dalam rantai makanan di lautan.
Atmosfer dan lautan saling berinteraksi, artinya perubahan yang terjadi pada
atmosfer (iklim) akan berpengaruh pada proses-proses yang terjadi di lautan dan
sebaliknya. Perubahan karakteristik massa air laut yang disebabkan pengaruh
iklim seperti perubahan lapisan homogen (mixed layer) akan berpengaruh pada
dinamika biota laut khususnya zooplankton. Sebaliknya, zooplankton memiliki
peranan penting dalam menyeimbangkan iklim dimana zooplankton merupakan
kunci pembawa karbon dioksida ke laut dalam karena mereka dapat berenang 500
meter ke atas dan bawah (migrasi vertikal) dalam sehari. Seperti yang kita ketahui
bahwasannya karbon dioksida merupakan senyawa yang menyebabkan
pemanasan global. Aliran massa air yang melalui Perairan Indonesia atau disebut
Arus Lintas Indonesia (Arlindo) merupakan aliran yang menghubungkan dua
massa air yang memiliki karakteristik berbeda. Arlindo berperan sebagai bagian
yang tak terpisahkan dari sirkulasi termohalin dan fenomena iklim dunia (Frank,
2007).
Berdasarkan habitat hidupnya, dibedakan antara haliplankton, yaitu
plankton yang hidup di habitat laut dan limnoplankton, yaitu plankton yang hidup
di habitat air tawar, berdasarkan ukuran tubuhnya, yaitu makroplankton dengan
ukuran tubuh >500 µm (untuk haliplankton, >2 mm), mikroplankton dengan
ukuran tubuh 20–200 µm (untuk haliplankton, 5 –500 µm), nanoplanktondengan
ukuran tubuh 2-20 µm (untuk haliplankton, 10-50 µm) dan ultraplankton dengan
ukuran tubuh < 2 µm (untuk haliplankton, < 10 µm). Selain itu terdapat kelompok
megaplankton yang mempunyai ukuran tubuh yang sangat besar seperti kelompok
medusa (Cyanea arctica) yang mempunyai diameter 4 tubuh 2 m dan panjang
tentakel lebih dari 30 m. Kelompok ini merupakan kelompok plankton yang
sangat jarang ditemukan dan umumnya hidup pada habitat laut. Plankton yang
hidup di air tawar adalah limnoplankton. Limnofitoplankton merupakan
fitoplankton air tawar yang hidup di perairan danau (Barus, 2004).
2.10 Tanaman Air
Lamun merupakan satu satunya tumbuhan Angiospermae atau tumbuhan
berbunga yang memiliki daun, batang, dan akar sejati yang telah beradaptasi
untuk hidup sepenuhnya di dalam air laut. Pola hidup lamun sering berupa
hamparan, maka dikenal juga istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan
vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu
jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Lamun umumnya membentuk
padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya
matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang
dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi
diperlukan untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta lamun ke luar
daerah padang lamun (Hendra, 2011).
Lamun mempunyai beberapa fungsi ekologis yang sangat potensial berupa
perlindungan bagi invertebrata dan ikan kecil. Daun-daun lamun yang padat dan
saling berdekatan dapat meredam gerak arus, gelombang dan arus materi organik
yang memungkinkan padang lamun merupakan kawasan lebih tenang dengan
produktifitas tertinggi di lingkungan pantai di samping terumbu karang.
Melambatnya pola arus dalam padang lamun memberi kondisi alami yang sangat
di senangi oleh ikan-ikan kecil dan invertebrata kecil seperti beberapa jenis udang,
kuda laut, bivalve, gastropoda dan echinodermata. Hal terpenting lainnya adalah
daun-daun lamun berasosiasi dengan alga kecil yang dikenal dengan epiphyte
yang merupakan sumber makanan terpenting bagi hewan-hewan kecil tadi.
Epiphyte ini dapat tumbuh sangat subur dengan melekat pada permukaan daun
lamun dan sangat di senangi oleh udang-udang kecil dan beberapa jenis ikan-ikan
kecil. Disamping itu padang lamun juga dapat melindungi hewan-hewan kecil tadi
dari serangan predator. Sangat khas memang pola kehidupan hewan-hewan kecil
ini di padang lamun yang tidak jarang memberikan konstribusi besar bagi
kelangsungan ikan dan udang ekonomis penting (Effendi, 2003).
Tumbuhan lamun terdiri dari akar rhizome dan daun . Rhizome merupakan
batang yang terpendam dan merayap secara mendatar dan berbuku-buku. Pada
buku-buku tersebut tumbuh batang pendek yang tegak ke atas, berdaun dan
berbunga. Pada buku tumbuh pula akar. Lamun memiliki daun-daun tipis yang
memanjang seperti pita yang mempunyai saluran-saluran air. Bentuk daun seperti
ini dapat memaksimalkan difusi gas dan nutrien antara daun dan air, juga
memaksimalkan proses fotosintesis di permukaan daun (Philips dan Menez,
1988).
Seaweed dalam dunia perdagangan dikenal sebagai rumput laut, namun
sebenarnya dalam dunia ilmu pengetahuan diartikan sebagai alga (ganggang) yang
berasal dari bahasa latin yaitu algor yang berarti dingin. Ganggang laut adalah
tanaman tingkat rendah yang tidak memiliki perbedaan susnan kerangka seperti
akar, batang, dan daun. Meskipun wujudnya tampak seperti ada perbedaan, tetapi
sesungguhnya merupakan bentuk thallus belaka. Bentuk thallus ganggang laut
bermacam–macam, ada yang bulat seperti tabung, kantung, rambut, dan
sebagainya (Odum, 1971).
Rumput laut yang dalam bahasa Inggris disebut “Seaweed” adalah alga
makro yang bersifat bentik dan termasuk tumbuhan tingkat rendah (Thallophyta).
Tumbuhan tersebut mempunyai sistem morfologi dan reproduksi tersendiri yang
umumnya berbeda dengan tumbuhan tingkat tinggi (tumbuhan berbunga) yang
biasa hidup di darat (Atmadja, 1996).
III. METODELOGI

3.1 Waktu Dan Tempat


Praktikum ini di laksanakan di dua lokasi yang berbeda, yaitu di Sungai Kali
Akar dan Pantai Ketapang. Pengamatan di sungai Kali Akar dilakukan pada hari
Minggu tanggal 2 Oktober 2016. Sedangkan pengamatan di Pantai Ketapang
dilakukan pada hari Jumat-Minggu tanggal 21-23 Oktober 2016.

3.2 Alat Dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah plankton net, pipet tetes,
botol sampel, objek glass, ember 10 liter, cover glass, kalkulator (yang memiliki
log) dan mikroskop, sedangkan bahan yang digunakan adalah aquades, formalin
4%, buku identifikasi dan sampel plankton.

3.3 Metode Sampling


3.3.1 Metode Sampling Sungai
Metode sampling yang dilakukan di sungai adalah sebagai berikut :
1. Ditentukan lokasi pengambilan sampel.
2. Diambil sampel air sebanyak 50 liter menggunakan ember.
3. Dituangkan air kedalam planktonet.
4. Dibilas planktonet dengan air agar plankton turun ke botol penampung.
5. Dipindahkan air yang berada dibotol penampung ke dalam botol film dan
diberi formalin 4%.
6. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 titik sebanyak 3 kali pengulangan.
3.3.2 Metode Sampling Laut
Metode sampling yang dilalukan di laut adalah sebagai berikut :
1. Ditentukan 3 titik pengambilan sampel.
2. Diambil sampel air sebanyak 50 liter menggunakan ember.
3. Semua sampel air disaring ke dalam planktonet.
4. Planktonet diangkat untuk membersihkan jala, dan siram dengan aquades atau
air mengalir agar plankton jatuh ke dalam botol penampung.
5. Dipindahkan sampel yang ada pada botol ke penampung ke dalam botol film.
6. Sampel yang didapatkan diberi formalin 4%.

3.4 Analisis Laboratorium Data


3.4.1 Metode Identifikasi
Metode identifikasi yang dilakukan pada plankton adalah:
1. Disediakan sampel yang akan diidentifikasi.
2. Diambil 1 tetes sampel yang akan diidentifikasi.
3. Diteteskan pada preparat yang telah disediakan.
4. Diamati sampel tersebut dibawah mikroskop.
5. Digambar dan ditulis jumlah yang terlihat pada mikroskop.
6. Identifikasi plankton tersebut menggunakan buku identifikasi.

Metode identifikasi yang digunakan pada tanaman air adalah:


1. Diamati tanaman air yang telah diambil sampelnya.
2. Dicari morfologi dari tanaman air tersebut.
3. Diidentifikasi tanaman air sesuai morfologi yang dimiliki.

3.4.2 Kelimpahan Plankton


Rumus yang digunakan untuk menghitung kelimpahan plankton adalah
sebagai berikut:
𝑽𝒕 𝟏
N = n 𝒙 𝑽𝒐 𝒙 𝑽𝒔

Keterangan:
N : Jumlah sel/ liter
N : Jumlah sel yang diamati
V1 : Volume air yang tersaring (ml)
Vo : Volume air yang diamati pada Sedgwick-Rafter (ml)
Vs : Volume air yang disaring
S : Luas cover glass (mm)
P : Luas amatan (mm)

3.4.3 Indeks Keanekaragaman


Rumus yang digunakan untuk menghitung keanekaragaman plankton adalah
sebagai berikut:
H' = -∑ (ni/N) ln (ni/N)

Keterangan:
H' = Indeks keanekaragaman
ni = Jumlah individu/spesies
N = Jumlah individu keseluruhan
H' < 2,3026 : kenaekaragaman kecil dan kestabilan komunitas rendah
2,3026 < H' < 6,9078 : keanekaragaman dan kestabilan komunitas sedang
H' > 6,9078 : keanekaragaman tinggi dan kestabilan komunitas tinggi

3.4.4 Indeks Keseragaman


Untuk menghitung keseragaman, maka digunakan rumus sebagai berikut:

𝐇′
E = 𝐇′ 𝐦𝐚𝐱

H' max = ln s

Keterangan:
S = Jumlah seluruh spesies
H' max = Keanekaragaman maksimum
E = indeks keseragaman
Indeks keseragaman berkisar antara 0 sampai 1. Semakin kecil nilai keseragaman
(mendekati nol) menunjukkan penyebaran jumlah individu tidak sama. Jika nilai
keseragaman semakin besar (mendekati 1) maka akan menunjukkan keseragaman.

3.4.5 Indeks Dominansi


Indeks dominansi dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
D = ∑ (ni/N)2

Keterangan:
D = Indeks dominansi Simpson
ni = Jumlah individu tiap spesies
N = Jumlah individu seluruh spesies
Indeks dominansi berikisar antara 0 sampai 1. Semakin kecil nilai indeks
dominansi maka menunjukkan tidak ada spesies yang mendominasi dan semakin
besar indeks dominansi maka menunjukkan adanya spesies tertentu.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari praktikum ini diperoleh hasill sebagai berikut:
4.1.1 Ekosistem Tawar
a. Plankton
Tabel 1. Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton Pada Stasiun 1, 2,3
Sungai Kali Akar
S1/T1 S2/T2 S3/T3
Kelas Spesies
Sel/L Sel/L Sel/L
Fitoplankton Diatom Ephitemia zebra 20
Bacillariophyceae Navicula sp. 20
Gomphonema
40 40
olivaceum
Achantes brevipes 20
Cocconeis sp. 20
Cyanophyceae Spirulina sp. 100 160 60
Euglenoidea Euglena viridis 20
Total 180 200 120

Tabel 2. Indeks Divertasi Plankton di Stasiun 1, 2, 3 Sungai Kali Akar


Substasiun H' E D
Fitoplankton S1 1,651 0,83 0,386
S2 0,741 0,465 0,66
S3 1,439 0,902 0,383
b. Tumbuhan Air
Pada praktikum di Sungai Kali Akar tidak didapatkan tanaman air disekitarnya.

4.1.2 Ekosistem Laut


a. Plankton
Tabel 3. Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton Pada Stasiun 1, 2, 3 di
Pantai Ketapang
S1/T1 S2/T2 S3/T3
Kelas Spesies
Sel/L Sel/L Sel/L
Cresies acicula 20
Eukrohna bathy-
20
pelagicai
Gomphonema
Diatom 240
Fitoplankton olivaceum
Diatom Miracia efferata 20
Diatom Navicula sp. 40 40 40
Diatom Oikopleura dioica 40
Diatom Spirulina sp. 20 20
Total 80 300 120

Tabel 4. Indeks Divertasi Plankton di Stasiun 1, 2, 3 di Pantai Ketapang


Sustasiun H’ E D
Fitoplankton S1 1,245 0,77 0,375
S2 2,181 1,36 0,660
S3 0,889 0,446 0,269

b. Tumbuhan Air
Menurut den Hartog (1970), klasifikasi lamun yang ditemukan di Pantai
Ketapang yaitu sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Order : Potamogetonales
Family : Cymodoceaceae
Genus : Cymodocea
Species : Cymodocea serrulata
Cymodocea serrulata memiliki morfologi bentuk daun seperti garis lurus
dengan panjang 6-15 cm dan lebar 2-4 mm, lurus tidak menyempit sampai ujung
daun dengan ujung daun membulat dan halus (El Shafai, 2011).
Cymodoceae serrulata memiliki kelebihan yaitu kemampuan regenerasi
yang cepat dan kemampuan yang baik dalam menetralisir hempasan gelombang
laut karena memiliki daun yang lebar dan panjang serta rhizom yang kuat
(Hilman, 2011).

4.2 Pembahasan
Pada praktikum plankton dan tanaman air ini dilakukan pengambilan
sampel di perairan tawar dan laut. Pengambilan sampel di perairan tawar
dilakukan di Sungai Kali Akar dan di perairan laut dilakukan di Pantai Ketapang.
Pada pengamatan sungai Kali Akar, diperoleh beranekaragam jenis
plankton pada setiap stasiunnya. Pada stasiun yang pertama diperoleh jenis
plankton Ephitemia zebra, Navicula sp, Gomphonema olivaceum dan Spirulina sp
dengan masing-masing kelimpahan 20 sel/L, 20 sel/L, 40 sel/L dan 100 sel/L.
Pada stasiun kedua diperoleh tiga jenis yaitu Achantes brevipes, Spirulina sp dan
Euglena viridis dengan kelimpahan masing-masing 20 sel/L, 160 sel/L dan 20
sel/L. Pada stasiun ketiga diperoleh tiga jenis yaitu Gomphonema olivaceum,
Cocconeis sp, Spirulina sp dengan kelimpahan masing-masing 40 sel/L, 20 sel/L
dan 60 sel/L. Pada pengamatan plankton yang dilakukan di laut diperoleh jenis
plankton pada stasiun pertama yaitu Miracia efferata, Navicula sp dan Spirulina
sp dengan kelimpahan 80/L. Pada stasiun kedua diperoleh tiga jenis yaitu
Gomphonema olivaceum , Navicula sp dan Spirulina sp dengan kelimpahan
300/L. Pada stasiun ketiga diperoleh empat spesies yaitu Cresies acicula,
Eukrohna bathy- pelagicai, Navicula sp dan Oikopleura dioica dengan
kelimpahan 120/L. Perbedaan kelimpahan jenis plankton dapat dikarenakan oleh
kondisi perairan. Berdasarkan hasil tersebut, jenis plankton yang tertinggi adalah
kelompok Diatom. Jenis yang paling banyak ditemukan dari kelas ini adalah
Gomphonema olivaceum dengan kelimpahan plankton 240 sel/L. Fitoplankton
yang sering ditemukan di laut adalah kelompok Diatom, Dinoflagelata dan
Bacillariae yang memiliki kemampuan untuk berfotosintesis dan sebagai produsen
primer dalam perairan (Nontji, 2008),
Komposisi jenis fitoplankton yang ditemukan selama pengamatan
didominasi oleh kelas Bacillariophyceae (diatom). Hal ini disebabkan karena
kelas Bacillariophyceae mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan
sekitarnya dibandingkan dengan kelas lainnya. Kelas Bacillariophyceae lebih
mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ada, kelas ini bersifat
kosmopolitan serta mempunyai toleransi dan daya adaptasi yang tinggi (Arinardi
et al., (1997). Pergerakan dan kecepatan arus yang berbeda arah ini menyebabkan
perubahan fluktuasi kelimpahan diatom, karena adanya arus tersebut membawa
plankton yang akan terdistribusi dan dapat menumpuk pada suatu tempat tertentu.
Perubahan kepadatan air laut dimungkinkan berpengaruh terhadap densitas
plankton secara keseluruhan, karena kondisi kandungan air laut merupakan faktor
yang mempengaruhi biologis plankton (Brotowidjoyo, 1995).
Kelimpahan jenis plankton di laut akan mengkibatkan indeks diversitas
yang beragam pula. Indeks keanekaragaman yang diperoleh di sungai pada stasiun
satu yaitu 1,651 yang berarti bahwa keanekaragaman plankton pada stasiun
tersebut kecil dan memiliki kestabilan komunitas yang rendah. Pada stasiun dua
diperoleh hasil indeks keanekaragaman sebesar 0,741 maka keanekaragaman kecil
dan kestabilan komunitas plankton rendah. Pada stasiun ketiga diperoleh hasil
indeks keanekaragaman sebesar 1,439. Ketiga stasiun tersebut dapat diartikan
bahwa memiliki keanekaragaman yang kecil dan kestabilan komunitas yang
rendah. Dari ketiga stasiun tersebut menunjukkkan keanekaragaman kecil dan
kestabilan komunitas yang rendah karena H’<2,3026. Sedangkan indeks
keanekaragaman plankton yang diperoleh di laut pada stasiun satu yaitu sebesar
1,245. Pada stasiun kedua diperoleh indeks keanekaragaman sebesar 2,181 dan
pada stasiun ketiga diperoleh hasil indeks keanekaragaman yaitu sebesar 0,889.
Pada ketiga stasiun tersebut dapat dikatakan memiliki keanekaragaman kecil da
kestabilan komunitas yang rendah. Hal ini sesuai dengan literatur yang
mengatakan bahwa nilai keragaman H’ < 1 menunjukkan stabilitas biota dalam
perairan tidak stabil, jika H’ berkisar antara 1-3 menunjukkan kondisi stabilitas
biota yang sedang, sedangkan nilai H’>3 menunjukkan stabilitas biota dalam
perairan dalam kondisi stabil (Stirn, 1981).
Berbeda dengan nilai keanekaragaman, indeks keseragaman yang
diperoleh di sungai pada stasiun pertama bernilai 0,83 yang berarti populasi
tersebut menunjukkan keseragaman individu. Pada stasiun kedua diperoleh nilai
keseragaman sebesar 0,46 yang berarti populasi plankton menunjukkan
keseragaman, dan pada stasiun ketiga diperoleh nilai keseragaman sebesar 0,90
dan tidak menunjukkan keseragaman populasi di suatu perairan tersebut.
Sedangkan nilai keseragaman yang diperoleh di laut, pada stasiun pertama
bernilai 0,77 yang berarti populasi tersebur menunjukkan keseragaman individu.
Pada stasiun kedua diperoleh nilai indeks keseragaman sebesar 1,36 yang berarti
populasi plankton menunjukkan keseragaman. Pada stasiun ketiga diperoleh nilai
indeks keseragaman sebesar 0,44 yang berarti populasi tersebut menjunjukan
tidak adanya keseragaman individu Hal ini sesuai dengan literature yang
mengatakan bahwa indeks keseragaman E > 0.75 tergolong bernilai tinggi
sedangkan jika mendekati nol maka keseragaman antar spesies di dalam
komunitas tergolong rendah. Indeks keseragaman mendekati 1 menunjukkan
bahwa keseragaman antar spesies merata atau sama (Pirzan dan Pong-Masak,
2008).
Indeks dominansi yang diperoleh di sungai pada stasiun pertama yaitu
0,38, pada stasiun kedua sebesar 0,66, dan pada stasiun ketiga indeks dominansi
sebesar 0,38. Sedangkan indeks dominasi yang diperoleh di laut pada stasiun satu
yaitu sebesar 0,37, pada stasiun kedua diperoleh sebesar 0,66 dan pada stasiun
ketiga diperoleh sebesar 0,27. Pada ketiga stasiun yang di sungai maupun yang di
laut, populasi plankton tidak mendominasi di perairan tersebut. Hal ini sesuai
dengan literatur yang mengatakan bahwa nilai D mendekati 1 dapat diartikan
terdapat biota yang mendominasi dan dapat dijadikan indikator pencemaran
ataupun kerusakan lingkungan perairan sedangkan jika nilai D sama dengan nol
maka tidak terdapat spesies ekstrim yang mendominasi spesies lain (Wardana,
2006).
Tumbuhan akuatik juga disebut tumbuhan hidrophytic atau hydrophytes
adalah tumbuhan yang telah disesuaikan untuk tinggal di air atau pada lingkungan
perairan. Karena hidup pada atau di bawah air permukaan memerlukan banyak
adaptasi khusus, tumbuhan air hanya dapat tumbuh dalam air atau selamanya
jenuh tanah (Putrawan, 2008).
Tanaman air yang ditemukan di Pantai Ketapang yaitu jenis lamun
Cymodoceae rotundata yang memiliki rhizome yang halus dengan diameter 1-2
mm dan panjang antar ruas 1-4 cm. Tunas muncul pada setiap node rhizome,
terdapat 2-5 daun pada setiap tunas. Buah pada Cymodoceae rotundata berbulu
tanpa tangkai, berada dalam seludang daun. Buah berbentuk setengah lingkaran
dan agak keras, bagian bawah berlekuk dengan 3-4 geligi runcing (Kordi, 2009).
Hal ini sesuai dengan literature bahwa Cymodocea rotundata lebih menyukai
substrat dasar berpasir, sedikit lumpur, dan patahan karang (Hulopi, 2007).
V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini yaitu:
1. Jenis plankton yang paling banyak ditemukan di Kali Akar yaitu
Spirulina sp dan jenis plankton yang paling banyak ditemukan di Pantai
Ketapang yaitu Gomphonema olivaceum.
2. Jenis lamun yang ditemukan yaitu. Cymodoceae serrulata.

5.2 Saran
Agar plankton teridentifikasi dengan baik, sebaiknya penyaringan dengan
menggunakan planktonet harus benar-benar air disaring sebanyak 50 liter agar
lebih optimal, kemudian pemberian formalin atau lugol diberikan secara akurat,
dan pada sampel plankton harus disimpan dengan baik agar terhindar dari
kerusakan.
DAFTAR PUSTAKA

Agus, H. 2011. Oceanographic Characters And Plankton Resources Of


Indonesia. Jakarta: Graha Ilmu.
Amran, I. 2009. Pengantar Diklat Planktonologi. Jakarta: UI Press.
Anggadiredja, T. Dkk. 2006. Rumput Laut. Jakarta : Penerbit Penebar Swadaya.
Aslan, Laode. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Yogyakarta: Kanisius.
Atmadja WS. 1996. Pengenalan Jenis Algae Merah. Di dalam: Pengenalan Jenis-
Jenis Rumput Laut Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan.
Azkab, M.H. 1988. Pertumbuhan dan Produksi Lamun, Enhalus acoroides di
Rataan Terumbu di Pari Pulau Seribu. P3O-LIPI, Teluk Jakarta: Biologi,
Budidaya, Osenografi, Geologi dan Perairan. Jakarta: Balai Penelitian
Biologi Laut, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Oseanologi-LIPI.
Barus, T. A. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Daratan.
Medan: USU press.
Bengen, D. G. 1999. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat
Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor: Instititut Pertanian Bogor.
Brotowidjoyo, M.D., D. Tribawono, dan E. Mulbyantoro. 1995. Pengantar
lingkungan perairan dan budidaya air. Yogyakarta: Liberty.
Dahuri,R. 2001. Keanekaragaman Hayati Laut, Aset Pembangunan Berkelanjutan
Indonesia. Jakarta : PT GramediaPustaka Utama.
Den Hartog, C. 1970. The Seagrasses Of The World. Amsterdam: North Holland.
Effendi, H. 2003. Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumberdaya dan
lingkungan perairan. Yogyakarta: Kanisius.
El Syafei. 2011. Biologi laut. Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: Gramedia.
Frank, H. H. 2007. Plankton Culture Manual. Six Edition. New York: Inside.
Hatabarat dan Evans. 1986. Pengantar Oceanografi. Jakarta: UI press.
Hendra, H. 2011. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan. Semarang:
Universitas Diponegoro.
Hilman, Iman dan Ratna Suharti. 2011. Pengelolaan Ekosistem Lamun. Materi
Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Jakarta: Pusat Penyuluhan KP-
BPSDMKP.
Hulopi, M. 2007. Struktur Komunitas Lamun Pada Perairan Pantai Suli Desa
Suli Kecamatan Salahutu. Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan, Triton.
Volume 4, Nomor 2.
I Ma De Putrawan. 2008. Konsep-Konsep Ekologi Dalam Berbagai Aktivitas
Lingkungan. Yogyakarta: Alfabetta.
Juwana, S. 2007. Dinamika Pospulasi. Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta.
Kaswadji, R. 2001. Keterkaitan Ekosistem Di Dalam Wilayah Pesisir. Sebagian
bahan kuliah SPL.727 (Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut). Bogor:
Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB.
Kordi, K dan M. Ghufran. 2009. Ekosistem Lamun (Seagress). Jakarta: Bina
Rupa.
Moriaty, D. J W. and P. I. Boon. 1989. Interactive of Seagrasses with Sediment
and Water in Larkum. A W. D, A. J McComb and S. A. Sepherd (eds).
Biologi of Seagrasses. Amsterdam: Elsevier.
Nontji, 2008. Plankton Laut. Jakarta: Penebar Swadaya.
Nontji, A. 1994. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.
Nontji, A.1993. Laut Nusantara. Jakarta : Djambatan.
Nutja, M. 1997. Taksonomi Tumbuhan Rendah. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.
Odum, E, P. 1971. Fundamental of Ecology. 3rd edition. Philadelphia: W.B
Saunders Company.
Phillips, R.C. dan E.G. Menez, 1988. Seagrasses. Washington D.C: Smithsonion
Institution Press.
Pirzan dan P.R. Pong-Masak. 2008. Hubungan keragaman fitoplankton dengan
kualitas air di perairan Bauluang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Biodiversitas, 9(3):217-221.
Romimohtarto dan Jawana. 2001. Biologi Laut. Jakarta: Djambatan.
Romimohtarto, K dan Juwana, S. 1999. Biologi Laut-Ilmu Pengetahuan tentang
Biota Laut. Jakarta: P3O-LIPI.
Sadhori, T.M. 1992. Pengelolaan Sumber Daya Air: Konsep dan Penerapannya.
Edisi Pertama. Malang: Bayumedia Publishing.
Soegiarto. 1979. Budidaya Rumput laut. Jakarta: Djambatan.
Soemaryam. 2001. Susunan dan Macam Ekosistem. Jakarta: Djambatan.
Stirn, J. 1981. Manual methods in aquatic environment research. Part 8. Rome:
Ecological Assasement of Polution Effect, FAO.
Sugianti. 2008. Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Plankton. Malang: Universitas Brawijaya.
Sumich, J.L., 1999. An Introduction to the Biology of Marine Life. 7th Edition.
WBC. McGrow-Hill. Inc.
Sutomo. 2006. Rumput Laut. Jakarta: Pita Merah.
Taufik, A. 2009. Pengaruh Beberapa Jenis Pakan Terhadap Pertumbuhan
Diaphanosoma sp. Skripsi. Semarang: Universitas Dipenogoro.
Thayet, K. 1975. Community based management di wilayah pesisir. Pelatihan
Perencanaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu. Pusat Kajian Pesisir dan
Lautan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Toha, H. 2007. Kelimpahan Plankton di Ekosistem Perairan Teluk Gilimanuk,
Taman Nasional, Bali Barat. MAKARA, SAINS, Vol 11(1): 44-48.
Wardana, W. 2006. Metoda prakiraan dampak dan pengelolaannya pada
komponen biota akuatik. Modul pelatihan penyusun analisis dampak
lingkungan. Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan.
Universitas Indonesia. Jakarta.
Wibisono, M.S, 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarta: Grasindo.
Yusmawardani. 2006. Jenis-Jenis Plankton. Surabaya: Erlangga.
Zhong, Huang Giang. 1989. A Biology of Algae. Beijing Publishing Co. China :
LTD.
LAMPIRAN