Anda di halaman 1dari 6

PENGERTIAN PENELITIAN DAN PERANCANGAN

 PENELITIAN

Enam sekuens kegiatan dalam penelitian, mengadopsi dari buku Creswell (2011):

1. Identifikasi persoalan
2. Kajian pustaka
3. Spesifikasi tujuan penelitian
4. Pengumpulan data
5. Analisis data
6. Laporan dan evaluasi penelitian.

Enam tahapan tersebut dalam pelaksanaan penelitian dikerjakan secara berurutan, tidak dapat
dibalik. Kajian pustaka harus dikerjakan sebelum tujuan penelitian diputuskan. Kajian pustaka yang
komprehensif, akan membantu pengambilan keputusan tujuan penelitian yang tepat, menghindari
pengulangan penelitian yang telah dikerjakan oleh orang lain, menjamin kebaruan temuan penelitian
dan menjamin kontribusi penelitian pada pengembangan ilmu pengetahuan atau pemahaman terhadap
permasalahan yang sedang dihadapi.

Tujuan penelitian menggambarkan penelitian yang akan dikerjakan bersifat deskriptif (naratif,
fenomenologi, etnografi), eksploratif (grounded-theory, studi-kasus) atau eksplanatori (korelasional,
kuasi eksperimental, eksperimental), (Creswell, 2007, Groat & Wang, 2002). Rumusan dari tujuan
penelitian, memiliki implikasi langsung pada metode pengumpulan data, apakah akan bersifat open-
ended atau close-ended, kualitatif atau kuantitatif. Rumusan tujuan, jika tujuan dirumuskan dengan
baik, juga secara implisit menggambarkan pengetahuan yang akan diungkap atau teori yang akan
disusun, yang strukturnya tergantung pada metode analisis yang digunakan. Sehingga, secara praktis
dapat dipahami bahwa tujuan, pengumpulan data dan analisis data merupakan tahapan yang berurutan
yang sekuensnya tidak dapat ditukar-tempat.

Tahapan terakhir dari penelitian, yang juga merupakan maksud penelitian dikerjakan adalah
mendapatkan pengetahuan baru. Penelitian akan sia-sia jika setelah rangkaian kegiatan yang
dikerjakan, tidak didapatkan pengetahuan baru yang berkontribusi pada pengembangan ilmu
pengetahuan atau secara langsung meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan lokal yang ada
di lingkungan sekitar. Mendapatkan pengetahuan baru merupakan klimaks, dari enam tahapan
kegiatan penelitian yang sekuens-nya berurutan.

Ketiadaan salah satu dari enam kegiatan yang tersebut di atas, akan membuat rangkaian kegiatan
yang terjadi tidak dapat disebut penelitian. Penelitian selalu ditandai dengan keberadaan persoalan
yang spesifik. Tanpa kajian pustaka penelitian akan tidak berarti. Tanpa tujuan, apa yang dicapai tidak
akan jelas dan kontribusi pada pengetahuan akan kabur. Bukan penelitian jika rangkaian kegiatan
dikerjakan tanpa pengumpulan data. Data yang terkumpul akan percuma tanpa dianalisis. Tanpa
analisis pengetahuan baru tidak akan didapatkan, yang didapatkan mungkin hanyalah opini pribadi.
Yang terakhir, penelitian hanya dikatakan berhasil jika diperoleh pengetahuan baru.

Ciri-Khas Penelitian

Penelitian dikerjakan untuk mendapatkan pengetahuan baru tentang persoalan tertentu yang
spesifik. Satu penelitian tertentu tidak mungkin dapat mengungkap segala macam pengetahuan secara
utuh tentang permasalahan atau persoalan tertentu yang sedang dihadapi. Pengetahuan yang utuh
hanya dapat diperoleh melalui rangkaian kegiatan penelitian yang dikerjakan oleh peneliti tertentu
secara berkelanjutan atau oleh komunitas pengembangan keilmuan secara kolektif (banyak orang
tanpa kesepakatan formal) atau kolaboratif (bersama-sama dengan kesepakatan formal).

Di antara sekian banyak persoalan di dalam perencanaan ataupun perancangan arsitektur,


penelitian memperdalam dan mengembangkan pemahaman terhadap permasalahan spesifik dari
persoalan tertentu. Penelitian tentang persoalan kekuatan struktur misalnya dapat fokus hanya pada
permasalahan kekuatan bambu sebagai material batang tarik, tidak membahas permasalahan yang
lain. Penelitian tentang tempat favorit, misalnya dapat fokus hanya pada pilihan tempat favorit
dewasa muda, karakteristik fisik tempat dan kegiatan-kegiatan yang terjadi dan tidak memperhatikan
misalnya persoalan keselamatan, keamanan, keberlanjutan dll dari tempat favorit, meskipun
persoalan-persoalan tersebut juga merupakan persoalan penting lain di dalam ranah pengetahuan
arsitektur. Penelitian fokus pada usaha untuk memahami karakteristik/pattern (dibantu analisis) dari
komponen tertentu dari pengetahuan arsitektur.
 PERANCANGAN

Enam sekuens tahapan kegiatan perancangan, mengadopsi dari Duerk (1993):

1. Identifikasi fakta
2. Memilih persoalan prioritas
3. Memutuskan tujuan
4. Menetapkan kriteria
5. Memilih konsep
6. Presentasi

Sewajarnya fakta (tapak, konteks dan pengguna) diidentifikasi dan dipahami dengan baik, di awal
rangkaian kegiatan perancangan. Karya perancangan selalu berada di tapak yang memiliki
karakteristik yang khas, dikelilingi konteks yang khas dan pengguna yang mungkin juga sangat
berbeda dengan karya perancangan lainnya. Perancangan tidak mungkin dimulai tanpa memahami
‘lokalitas’ fakta perancangan. Karena itu, identifikasi fakta merupakan kegiatan pertama yang
seharusnya dikerjakan oleh arsitek sebelum mulai berimajinasi ruang dan bentuk yang akan
dirancang.

Di antara beragam fakta tapak, konteks dan pengguna, sebagian dapat diperhatikan lebih cermat,
mengikuti persoalan (issue) yang diprioritaskan dalam perancangan. Jika persoalan hemat energi
menjadi prioritas, mungkin fakta koordinat lintang bujur dan iklim tapak perlu didata lebih cermat.
Jika persoalan keselarasan dengan lingkungan permukiman sekitar diprioritaskan, maka langgam
bangunan sekitar diamati, datanya dikumpulkan, misalnya menggunakan metode instrumented
observation, dan dianalisis dengan teliti, misalnya menggunakan content analysis (Krippendorff,
2004). Persoalan prioritas dapat dipilih sebelum, bersamaan ataupun sesudah identifikasi fakta, dan
dapat dipilih sebelum atau bersamaan dengan dengan pengambilan keputusan tujuan (hasil akhir ideal
yang ingin dicapai) perancangan.

Kriteria merupakan standar yang digunakan untuk menilai ketercapaian tujuan perancangan. Jika
tujuan yang ingin dicapai keselarasan dengan lingkungan permukiman sekitar, maka kriterianya
misalnya, tingkat kemiripan langgam kulit bangunan, kemiripan dimensi atau proporsi bangunan,
kemiripan konfigurasi ruang, dll. Kriteria ditetapkan setelah tujuan diputuskan. Selanjutnya pada
setiap kriteria perancangan, dapat dipilih beberapa konsep perancangan (cara arsitektural untuk
mencapai tujuan dan memenuhi kriteria perancangan). Misalnya untuk memenuhi kriteria kemiripan
langgam kulit bangunan, dipilih konsep langgam dinding yang memiliki tipologi bentuk yang mirip
dengan bangunan di lingkungan sekitar tetapi menggunakan warna analogic (warna-warna yang
berdekatan), dan bentuk, dimensi, proporsi bukaan yang sama persis tetapi dengan warna
komplementer (posisi pada diagram warna berlawanan). Konsep perancangan mengikuti kriteria, dan
kriteria ditetapkan berdasarkan tujuan.

Sekuens tujuan, kriteria dan konsep tidak dapat ditukar-tempat. Seharusnya tujuan tidak dicari-cari
atau dipas-paskan dengan konsep yang terbayangkan sejak awal. Seandainya konsep datang lebih
dulu daripada tujuan dan kriteria, kemungkinan sang arsitek ‘nyontek’ solusi desain yang telah
dirancang oleh orang lain, hanya copy-paste yang pernah dilihat di media atau di lapangan. Arsitek
peniru yang seperti ini tidak akan menjadi arsitek besar. Seandainya tujuan lebih dulu diputuskan, lalu
kriteria dirumuskan, dan kemudian konsep dipikirkan, mungkin konsep-konsep yang tak
terbayangkan sebelumnya akan bermunculan, karena kemunculan konsep dipandu oleh tujuan dan
kriteria bukan oleh imajinasi hasil melihat karya orang lain.

Enam tahapan kegiatan perancangan seperti di atas sangat masuk akal dan mudah untuk dipahami.
Enam tahapan tersebut mengorganisasikan dan menata kegiatan perancangan mengikuti sekuens
waktu. Yang lebih dulu dan menjadi sebab didahulukan. Yang datang kemudian dan menjadi akibat
dikerjakan kemudian. Hubungan sebab-akibat antar kegiatan tertata dengan benar. Penataan seperti
ini, dapat diperkirakan akan menghasilkan proses perancangan yang efisien (hemat waktu, tenaga dan
biaya) dan efekftif (memberikan hasil seperti klien puas, reputasi baik, bagi mahasiswa lulus tugas
akhir dst).

Ciri-Khas Perancangan

Perancangan dikerjakan untuk mendapatkan perwujudan karya arsitektur dalam berbagai skala, seperti
bangunan, lanskap, kota, kawasan dst. Di dalam perancangan, tapak dan konteks direspon, kebutuhan
pengguna diwadahi, komponen yang tangible(atap, dinding, lantai, kolom, pondasi dll) dan
yang untangible (ruang) dirangkai menjadi satu. Perancangan merupakan kegiatan merangkai
berbagai macam komponen pengetahuan/persoalan menjadi satu keutuhan. Karena itu, perancangan
disebut juga sebagai kegiatan sintesis (merangkai).
PERBEDAAN PENELITIAN DAN PERANCANGAN

Penelitian merupakan kegiatan pengembangan pengetahuan tentang persoalan spesifik


tertentu. Fenomena tertentu diurai menjadi persoalan-persoalan kecil, karakteristik persoalan tersebut
diidentifikasi, ciri-khas yang dimiliki dan pattern (ilmu) yang tersembunyi di dalamnya diungkap
menggunakan metode-metode analisis. Analisis (mengurai) merupakan core kegiatan penelitian.
Sebaliknya, perancangan merupakan kegiatan merangkai berbagai persoalan menjadi satu kesatuan
yang utuh. Berbagai persoalan dipahami dan dirangkai menjadi satu kesatuan ruang dan bentuk.
Sintesis (merangkai) merupakan core kegiatan perancangan.

Kegiatan penelitian dan perancangan memiliki karakter yang berbeda. Penelitian berusaha memahami
persoalan tertentu, perancangan menerapkan pemahaman semua persoalan, yang terkait perancangan.
Penelitian cenderung bersifat dekomposisi, konvergen, fokus, rasional dan ilmiah, sehingga prosedur
pengerjaannya harus benar (valid) dan dapat dipercaya (reliable). Perancangan cenderung bersifat
rekomposisi, divergen, keutuhan, intuitif dan tidak harus ilmiah, sehingga prosedur pengerjaannya
tidak baku dan tidak harus (tidak perlu) valid. Akurasi analisis sangat penting dalam penelitian.
Kreativitas sintesis sangat penting dalam perancangan, karena alternatif dan variasi kemungkinan
kombinasi/rangkaian berbagai persoalan tidak terbatas (infinite).
PUSTAKA
1. Creswell, J.W. (2011). Educational Research, Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative
and Qualitative Research. Boston: Pearson Education Inc.

2. Creswell, J.W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design Choosing among Five Approaches,
2nd edition. Thousand Oaks: Sage Publications Inc.

3. Duerk, D.P. (1993). Architectural Programming, Information Management for Design. New York:
Van Nostrand Reinhold.

4. Groat, L. & Wang, D. (2002). Architectural Research Methods. New York: John Wiley& Sons. Inc.

5. Krippendorff, K.H. (2004). Content Analysis: And Introduction to Its Methodology. Thousand
Oaks: Sage Publications, Inc