Anda di halaman 1dari 7

Syahruddin Mansyur, Peran Wilayah Negeri Larike pada Masa Kolonial

DAFTAR PUSTAKA Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. SKETSA ARKEOLOGI ISLAM DI MALUKU:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tema dan Implementasi Penelitian1
Effendi, Ivan dan Mansyur, Syahruddin. 2007. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Draft Awal Laporan Inventarisasi dan Balai Arkeologi Ambon. Tidak Terbit The Image of Archaeology of Islam in the Moluccas:
Identifikasi Benteng di Propinsi Maluku. Research Theme and Implementation
Proyek Kerjasama Dirjen Sejarah Suratminto, Lilie., 2008. Makna Sosio-Historis
dan Purbakala, Pusat Dokumentasi Batu Nisan VOC di Batavia. Jakarta: Wuri Handoko
Arsitektur Indonesia, Passchier Architects Wedatama Widya Sastra. Balai Arkeologi Ambon
& Consultan Netherlands, dan Balai Jl. Namalatu-Latuhalat, Nusaniwe, Ambon-97118
Arkeologi Ambon. Tim Penelitian, 2012. Laporan Penelitian wurhand@yahoo.co.id
Arkeologi: Menelusuri Jejak Niaga
Knaap, G. 2004. Kruidnagelen en Christenen de Cengkih Masa Kolonial di Pesisir Utara Abstrak
VOC en de bevolking van Ambon 1656- Pulau Ambon. Ambon: Balai Arkeologi Penelitian arkeologi Islam di Maluku, merupakan ranah penelitian yang memiliki beragam
1696. Leiden: Koninklijk Instituut voor Ambon lingkup dan cakupan kajiannya, karena memiliki dimensi yang luas, antara lain sosial,
ekonomi, politik, selain tentu saja religi dan ideologi. Namun luasnya cakupan dalam
Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV). perspektif horizontal, belum diimbangi oleh penggarapan penelitian yang mendalam
Wall, Victor Ido van de. 1928. de Nederlandsche (vertikal), sehingga penelitian arkeologi Islam, masih merupakan kepingan atau serpihan-
Pigafetta, Antonio., 1524. First Voyage Around Oudheden in de Molukken. Gravenhage: serpihan dalam sebuah mozaik hasil penelitian. Implementasi penelitian yang sudah
the World, terj. A. Robertson. Manila: Martinus Hijhoff. berjalan, baru terbatas menggarap isu-isu pada tataran permukaan, sehingga berbagai
Filipiniana Book Guide, 1969, hal. 1-108. hasil kesimpulan tentang peradaban Islam di Maluku., sementara ini baru menampilkan
perwajahan Islam yang general. Interpretasi dan kesimpulan yang selama ini dihasilkan,
lebih banyak bersandar oleh dukungan data dari lintas batas disiplin ilmu, yang
Pires, Tome., 1515. The Suma Oriental of Tome bagaimanapun merupakan kekuatan dari pendekatan arkeologi sejarah. Dari penelitian
Pires, terj. Armando Cortessao. London: arkeologi Islam yang sudah dilakukan, pendekatan lintas displin ilmu yakni sejarah dan
Hakluyt Society, 1944. etnografi, merupakan yang paling umum dilakukan, sementara pendekatan arkeologi sendiri
sifatnya masih sangat deskriptif dan belum digunakannya perangkat keras arkeologi,
Reid, Anthony., 2011. Asia Tenggara dalam misalnya memanfaatkan data eksavasi dan dating absolute untuk memastikan kapan
Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 2: Jaringan masyarakat mengkonversi Islam di Maluku. Dalam kurun beberapa tahun, meskipun masih
berupa serpihan, namun tampak upaya penelitian arkelogi Islam untuk menjangkau banyak
Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan dimensi dari data arkeologi Islam, misalnya yang berhubungan dengan tema Islamisasi dan
Pustaka Obor Indonesia. perdagangan, ekspansi Islam dalam konteks politik dan kultural serta dinamika relasional
Islam dan budaya lokal Maluku, serta perkembangan internal Islam itu sendiri dari awal
Rijoly, F., tanpa tahun. Sejarah Ambon dan Maluku hadirnya hingga persentuhannya dengan kolonialisme.
Selatan. Judul Asli: De Geschiedenis van
Ambon en de Zuid Molukken. Dr. H.J. de Kata Kunci : Implementasi, Arkeologi, Islam, Data, Maluku
Graaf. 1977.
Abstract
_________., tanpa tahun. Riwayat Hidup Islamic archaeological research in Maluku, is the realm of research that have diverse
Rumphius: dari Buku “De Generale scope and coverage of studies, because it has large dimensions, including social,
Lantbeschrijvinge” van Het Ambonsche economic, political, besides of course, religion and ideology. However, the wide scope
Gouvernement ofwel De Ambonsche of the horizontal perspective, has not been matched by the cultivation of deep research
(vertical), so the archaeological study of Islam, is still a piece or pieces in a mosaic
Lant-beschrijvinge Door G.E. Rumphius. of research results. Implementation research is already running, a new limited work
W. Buijze. on issues at the level of the surface, so that the various results of conclusions about
the Islamic civilization in the Moluccas, while this new show the general appearance
Roever, A.de. et.al. 2008. Grote Atlas van de of Islam. Interpretations and conclusions that have been produced, more lean by data
Verenigde Oost-Indische Compagnie from cross-border support disciplines, which, however, is the strength of the approach
deel 3: Indisvhe Archipel en Oceanie. of historical archeology. Of Islamic archaeological research that has been done, cross-
disciplinary approach to the science of history and ethnography, the most common, while
Zierikzee: Asia Maior the archaeological approach itself is very descriptive in nature and has not been used
hardware archeology, for example, utilize eksavation data and absolute dating community
Sahusilawane, Florence. 1996. Laporan Penelitian
Arkeologi Islam Maluku di Kecamatan 1 Naskah awal tulisan ini pernah disampaikan dalam Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (EHPA) yang
diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional pada September 2012 di Solo.

72 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 73
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian

to ensure that when converting Islam in Maluku. Within a few years, though still in pieces, keagamaan Islam berlangsung di wilayah- degan dominasi isu-isu kolonialisme. Tema-
but it looks Islamic archaeological research efforts to reach out to many dimensions of wilayah penyebarannya. Kita belum dapat tema penelitian arkeologi Islam, tampaknya
Islamic archaeological data, such as those related to the theme of Islamization and trade, memastikan bagaimana Islam berlangsung tidak bisa berdiri sendiri sebagai satu kajian,
the expansion of Islam in the political and cultural context and relational dynamics of
Islam and local culture of Maluku, as well as internal development of Islam itself from di wilayah penyebarannya, mengingat melainkan turut bersinggungan dengan kajian
the beginning to the presence touch with colonialism. catatan sejarah yang ada, hampir-hampir arkeologi Kolonial. Mungkin saja, kondisi
tak menyentuh wilayah lain di luar empat serupa juga demikian adanya pada lokus
Keywords : Implementation, Archeology, Islamic, Data, Maluku kerajaan besar Islam di Maluku Utara. penelitian arkeologi Islam di luar wilayah
Fakta bahwa wilayah-wilayah Maluku. Namun ekskalasi dan mobilitas
PENDAHULUAN pengumpulan data, diperlukan pengetahuan seberang dengan ruang geogafis dan sosial kolonialisasi di Maluku yang tinggi, menjadi
Penelitian arkeologi, yang bertumpu atau sekurang-kurangnya mengerti yang kecil, namun turut menopang tumbuh problem spesifik tersendiri, wilayah kajian
pada budaya kebendaan, membantu kita apa yang disebut arkeologi dan atau dan berkembangnya eksistensi Islam di Islam di Maluku, yang membedakan dengan
menemukan informasi dari berbagai sejarah (Tjandrasasmitha, 2009 :110). wilayah Maluku. Dengan fakta yang akan wilayah lainnya di Nusantara. Hal ini
peninggalan budaya masa lampau baik Tjandrasasmitha, selanjutnya menjelaskan dipaparkan dalam buku ini, kita menjadi tahu tampaknya yang mengakibatkan dukungan
yang berbentuk artefaktual, maupun fitur- meskipun arkeologi maupun sejarah, terdapat bahwa berbicara tentang Islam di wilayah data sejarah tentang Islam di Maluku,
fitur bangunan monumental yang masih sedikit perbedaan definisi. Arkeologi dalam Kepulauan Maluku, bahkan mungkin di tergolong minim.
bisa kita saksikan saat ini, serta berbagai studinya lebih menitikberatkan kepada seluruh tanah Nusantara ini, kita tidak Sejarah Maluku modern,
makna simbolik di balik benda budaya itu. benda-benda atau artefak yang tidak perlu mungkin hanya cukup berbicara tentang sesungguhnya puncaknya ditandai sejak
Dalam konteks ini, termasuk dalam kategori ada tulisan, sedangkan sejarah dalam studinya wilayah-wilayah yang besar, namun wilayah- berdirinya kesultanan-kesultanan Islam.
pendekatan arkeologi sejarah (historical lebih mengutamakan data-data tertulis wilayah kecil di seberang lautan juga menjadi Informasi sejarah, khususnya tentang sejarah
archaeology), termasuk di dalamnya (arsip, dokumen). Tetapi keduanya baik fakta penting. Justu dari sini kita menjadi budaya Maluku, tanpa bermaksud menafikkan
Arkeologi Islam (Islamic Archaeology), arkeologi maupun sejarah tujuannya sama paham, bahwa Islam bukanlah agama teks sejarah, tampaknya berbagai informasi
yaitu arkeologi yang mempelajari masyarakat yakni untuk merekonstruksi kehidupan dan budaya yang hanya berkembang di sejarah baik yang ditulis dalam teks-teks utuh
Islam masa lampau melalui artefak, fitur dan masyarakat masa lampau. Sumber tinggalan daerah-derah pusat okupasi atau pusat-pusat dalam sebuah buku, maupun berbagai artikel
ekofak yang dihasilkan dari masyarakat masa arkeologis, dapat berupa artefak maupun peradaban, pusat–pusat kota, pusat-pusat lepas, lebih banyak menyodorkan informasi
lampau pada masa sejarah, yakni masa ketika fitur yang keduanya dapat mengandung pemerintahan, tetapi juga daerah-daerah tentang peristiwa-peristiwa yang parsial dan
sudah mengenal tulisan (Tjandrasasmitha, tulisan dan ada pula yang tidak. Benda atau terpencil, daerah seberang, daerah pinggiran, kurang memberi penekanan pada informasi
2009:109). Azyumardi Azra (2009) bangunan dari masa sejarah yang tidak dari pesisir hingga pedalaman. dalam konteks dinamika budaya yang lebih
mengatakan arkeologi merupakan salah mengandung tulisanpun, tetapi masuk dalam Demikianlah, dalam beberapa luas. Selain itu sejauh ini penulisan sejarah di
satu ilmu yang sangat dekat bahkan lengket kategori arkeologi sejarah dalam mencari tahun ini (setidaknya kurun waktu 5 tahun) Maluku, lebih banyak didominasi oleh teks-
dengan sejarah, karena tujuannya sama dan mengkajinya dapat menggunakan data penelitian arkelogi Islam di Maluku, masih teks sejarah yang umumnya bicara tentang
yakni mengungkap kehidupan manusia tekstual seperti arsip, dokumen-dokumen, didominasi penelitian arkeologi di wilayah eksistensi kekuasaan Islam, namun dalam
pada masa lalu. Perbedaan keduanya lebih naskah-naskah kuno tentang hikayat, babad, selatan Kepulauan Maluku, atau yang secara lanskap periode kolonial.
banyak pada penggunaan sumber, sejarah bahkan dongeng ataupun legenda karena administratif menjadi bagian wilayah Provinsi Sepanjang yang penulis cermati dari
lebih banyak bersandar pada sumber tertulis, mengandung kebenaran atau kenyataan (H.J Maluku. berbagai buku penulisan sejarah, Maluku,
sedangkan arkeologi pada sumber berupa de Graaf, 1956:55-73; Tjandrasasmitha, pada umumnya masih sangat terbatas dari
benda atau artefak yang antara lain melalui 2009:110). HASIL DAN PEMBAHASAN lingkup wilayah apa yang sekarang disebut
ekskavasi. Lebih lanjut dikatakannya, kajian Dalam berbagai literatur sejarah Arkeologi Islam dan Tema-Tema Penelitian sebagai Provinsi Maluku Utara dan itupun
sejarah Islam sebelum abad ke 15 M, sangat Maluku, kita akan banyak menemukan Penelitian Arkeologi Islam di Maluku, didominasi sejarah tentang kolonial (lihat
memerlukan dukungan bukti-bukti arkeologis. informasi menyangkut agenda Islamisasi, dihadapkan pada isu atau masalah penelitian, Amal 2009 dan 2010; juga Des Alwi, 2005,
Sejarah masuk dan berkembangnya Islam yang terus bertumbuh dan semakin mapan yang kompleks atau rumit. Hal ini mengingat Jaffar, 2009, dll). Padahal dalam konteks
di Indonesia, katakanlah abad 13-15 M, dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam potensi data yang minim di tengah berbagai geohistoris, baik wilayah (Provinsi) Maluku
masih menyisakan banyak pertanyaan yang di wilayah Maluku Utara. Meskipun dalam konfirmasi sejarah yang saling tumpah tindih Utara, maupun wilayah kepulauan bagian
memerlukan jawaban atas dasar berbagai porsi yang lebih kecil, kita juga perlu dan bersilang pendapat, akibat minimnya selatannya yakni wilayah yang sekarang
bukti, khususnya arkeologi. Oleh karena itu, memperoleh dan menemukan catatan sejarah tradisi penulisan sejarah di masyarakat Maluku menjadi wilayah dari Provinsi Maluku,
penggunaan data dan bukti arkeologi untuk tentang kegiatan penyebaran agama Islam ke pada umumnya. Selain itu proses sejarah yang merupakan satu kesatuan historis. Oleh
pengungkapan sejarah Islam Indonesia, wilayah-wilayah lainnya. Tapi sangat sedikit, berimpitan dan berjarak sangat dekat dengan karena itu memperbincangkan tentang sejarah
menjadi sangat penting. bahkan mungkin belum ada, tulisan yang periode Kolonial, mengakibatkan informasi kepulauan ini, semestinya menjejerkan,
Dalam proses pencarian dan secara khusus memberikan informasi perihal sejarah tentang Islamisasi, juga berimpitan mensejajarkan atau menyandingkan wilayah

74 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 75
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian

Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Maluku Beberapa tema penting yang perlu puncak pertumbuhan kota permukiman Gorom dan Seram Laut di bagian timur pulau
dalam porsi yang sama. Memang, tak dapat dikaji lebih lanjut adalah sebagai berikut : islam memungkinkan berkembangnya Seram, bahkan mencapai kepulauan Raja
dipungkiri, dalam historiografi lokal, Islam 1. Perkotaan dan pemukiman. Tema ini literasi yang meliput berbagai aspek Empa, Irian. Peranan Ternate dan Tidore
mula-mula berkembang di wilayah yang adalah bagian dari menyajikan dan apakah sejarah pemerintahan, masyarakat, sebagai bandar jalur sutera dengan sendirinya
sekarang disebut sebagai wilayah Maluku menjelaskan aspek morphologi kota, dan yang tentunya menonjol islamologi terkait dengan ekspansi itu (Leirizza, 1979).
Utara, yang berpusat di empat Kerajaan atau artinya menelusuri mengapa bentuk kota terutama berkaitan dengan perkembangan Meskipun kerajaan-kerajaan Islam di wilayah
kesultanan Islam yang disebut Moluko Kie seperti yang terlihat. Dalam penelitian ini aliaran islam dan penyebarannya. Maluku bagian selatan, budaya masyarakat
Raha (Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan. tidak hanya aspek arkeologi dan sejarah Untuk aspek penelitian ini di wilayah dengan corak Islam cukup berkembang,
Sementara itu, penelitian arkeologi Islam tetapi juga termasuk rekonstruksi kota Maluku, masih sebatas melihatnya namun perkembangannya menjadi daerah
sendiri, khususnya di wilayah Maluku dalam konteks lingkungannya, kota disini dalam perbandingan antropologis atau Kesultanan seperti halnya di wilayah Maluku
Utara juga masih sangat minim, ditambah sebagai tempat tinggal dimana terjadi etnografis, melihat tradisi-tradisi Islam Utara tidak terwujud dan ketika pada masa
lagi dukungan data arkeologi Kolonial artikulasi antara penduduk kota (dalam yang berlangsung yang mencirikan hegemoni kolonial kerajaan-kerajaan ini
yang masih dapat kita saksikan juga lebih pengertian luas) dengan lingkungan karakteristik tertentu, sementara mengalami kemunduran dan kalah dalam
dominan. Sehingga tampaknya penelitian fisiknya, atau dalam mengelola dukungan arkeologis masih sangat peperangan dan politik (Putuhena, 2001:58).
arkeologi Islam di Maluku maupun di Maluku lingkungan. Seberapa jauh perubahan minim. Berdasakan hal demikian, penelitian tentang
Utara, masih berupa serpihan-serpihan yang dengan situasi aktual merupakan satu perkembangan Islam diarahkan ke wilayah-
publikasinyapun masih dalam skala kecil. pembahasan. Untuk tema perkotaan dan Merujuk pembagian tematis wilayah yang disebut dalam sejarah lokal
Dari hasil penelitian arkeologi Islam, pemukiman, membutuhkan instrument penelitian arkeologi Islam seperti yang sebagai vazal dari kerajaan Ternate dan
tampak bahwa penelitian baru mencapai data dan metode yang lebih luas, serta disebutkan oleh Wibisono (2009), tampaknya Tidore. Penelitian yang sudah dilakukan
tema-tema general masalah pengaruh Islam, membtuhkan waktu yang lebih lama. beberapa diantaranya memiliki level yang antara lain di wilayah bekas Kerajaan Iha dan
meskipun dari sini kita bisa memperoleh Tentu saja hal ini perlu dipikirkan dari sama, meskipun pada substansinya lebih Siri Sori Islam di Pulau Saparua, Kerajaan
informasi sejarah budaya Islam yang lebih aspek manajemen penelitian, termasuk menitikberatkan pada kajian yang lebih Hatuhaha di Pulau Haruku dan terkahir
kaya. Sesunguhnya masih banyak pekerjaan persiapan, pendanaan, dan instrumen general. Di Balai Arkeologi Ambon, tema- kerajaan Hoamoal di Pulau Seram. Selain itu
rumah untuk mengungkap lebih bayak lagi penelitian yang dibutuhkan. tema penelitian sejauh ini baru mencakup juga telah dilakukan penelitian di wilayah-
cakupan penjelasan. Dalam hal ini beberapa 2. Dari aspek teknologi, misalnyanya beberapa tema umum, yakni : wilayah lain yang diantaranya juga daerah
cakupan penjelasan yang tematis menyangkut teknologi rancang bangun (arsitektur), perkembangan dari vasal kerajaan-kerajaan
perkembangan budaya Islam sebagaimana masih perlu penelitian dan kajian lebih a. Penyebaran, Pengaruh dan Perkembangan Islam itu sendiri. Namun seluruh penelitian
Wibisono (2009) uraikan sebagai berikut: dalam lagi, tidak hanya menyangkut Islamisasi yang sudah dilakuakn bisa dikatakan baru
a. Perkotaan dan permukiman bangunan peribadatan juga bangunan Untuk aspek tema ini, wilayah pada tahap penjajakan awal, sehingga hasil
b. Teknologi dan craftmenship : masa Islam lainnya, apakah istana, penelitian lebih difokuskan ke wilayah- kajian masih sebatas menelusuri jejak-jejak
c. Institusional rumah tinggal dan sebagainya, serta wilayah yang disebut dalam teks sejarah peradaban Islam di permukaan tanah dan
d. Perniagaan : memperluasan bahasannya mencakup lokal, sebagai wilayah vazal dari Kesultanan menghimpun data berdasarkan sumber lisan.
e. Religi, literasi, dan kesenian: unsur pengaruh antar arsitektur Islam dan Ternate dan Tidore. Perkembangan Islam, Dalam kategori tematis seperti yang
f. Masyarakat dalam keseharian : pengaruh lokal. juga berhubungan dengan penyebaran Islam disebutkan sebelumnya, mungkin kajian
g. Islam dan tradisi: 3. Institusional : bagian yang penting adalah dari wilayah pusat peradaban Islam dalam hal ini merupakan penjabaran dari aspek atau
melihat pengaruh Islam sebagai bagian ini terutama Ternate dan Tidore ke wilayah tema berkaitan dengan perkembangan
Dari hasil penelitian yang sudah dari organisasi sosial dari masyarakat Kepulauan Maluku lainnya, terutama di institusional Islam. Kajian ini yang paling
dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon, yang kompleks. Pada tataran paling wilayah Maluku Tengah. Perkembangan umum dan mewarnai hampir setiap usulan
secara tematis mungkin baru menguraikan tinggi terdapat sistem birokrasi yang lanjut, Ternate dan Tidore bersaing penelitian. Namun dukungan data yang
beberapa hal dari tema yang sudah diuraikan atas nama kerajaan bertindak mewakili memperoleh legitimasi politik sebagai minim, dengan pendekatan metodologi yang
diatas antara lain soal perniagaan. Dari institusi dalam hal, seperti kegiatan wilayah pusat kekuasaan Islam, sehingga kurang memadai, baru menghasilkan kajian
paparan evaluasi ini sudah dijelaskan soal politik, sosial, perekonomian untuk masing-masing kerajaan tersebut bersaing yang deskriptif. Terutama soal kronologi,
perkembangan agenda niaga sepanjang pengelolaan dan kelangsungan hidup untuk melebarkan sayap kekuasaannya. belum diperoleh pertanggalan pasti sejak
perjalanan pengaruh dan perluasan Islam. kerajaan seperti pajak. Sebagian besar Ternate berekspansi ke wilayah Seram Barat kapan masyarakat mengkonversi Islam.
Selain itu hasil penelitian juga sudah dari sub-tema ini di peroleh dari data yakni jazirah Hoamoal, di situ terdapat Soal kronologi, sejauh ini baru sebatas
menghasilkan penjelasan menyangkut budaya sejarah, yang adakalanya dapat di dukung Kerajaan Hoamoal dan ke wilayah Pulau mengelaborasi berbagai data sekunder,
Islam dan tradisi, meskipun masih perlu data arkeologi, seperti pembagian spatial. Ambon, sementara Tidore berkespansi ke berupa informasi kesejarahan terutama
diperluas lagi. 4. Religi, literasi, dan kesenian: dalam wilayah pesisir utara Pulau Seram, Kepulauam dengan berdirinya institusi Islam dalam

76 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 77
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian

hal ini kronologi Islam, lebih di dasarkan didukung oleh data pustaka, menyangkut karena itu kajian-kajian etnoarkeologi dari umumnya. Identifikasi arkeologi memang
pada berdirinya kelembagaan Islam, atau kronologi dan perkembangan Islam, hasil studi kasus yang spesifik, diharapkan dapat masih sulit untuk melacak, kecuali hanya
Islam secara resmi menjadi agama kerajaan, penelitian diantaranya disandarkan pula menjadi bahan penarikan kesimpulan dari bersumber dari data-data tentang tradisi dan
yakni pada abad ke 15 M. Data artefaktual, pada tipologi arsitektur masjid, yang dalam wilayah-wilayah lain secara general. tipologi makam kuno, dengan kuantitas data
diantaranya keramik asing mungkin dapat beberapa aspek dapat menggambarkan Hasil Penelitian dalam Konteks Dimensi yang minim. Selebihnya data yang paling
mengkonfirmasi bagaimana perkembangan perkembangan Islam, karena pada periode Data Arkeologi Islam mendukung, justrtu dari data etnografi,
Islam di wilayah penelitian, terutama tertentu berkembang bentuk arsitektur Dari beberapa tema penelitian yang diantra tradisi-tradisi ritual Islam yang masih
menyangkut aktifitas niaga, mengingat yang umum di Nusantara (bahasan ini menjadi ranah kajian arkeologi islam di berlangsung, peringatan hari-hari besar Islam.
perkembangan Islam, tampaknya sulit akan diuraikan lebih lanjut pada subbab Maluku, sebagaimana yang telah diuraikan Namun ada pula data yang tanpa diduga,
dilepaskan dari soal perdagangan. Kronologi berikutnya). diatas, namun fakta di lapangan, kajian menjadi menyodorkan informasi tentang pemaknaan
keramik asing, setidaknya dapat memerikan lebih berkembang, berdasarkan ‘pembacaan’ konteks ruang, assosiasi bangunan masjid dan
assumsi atas kronologi perkembangan b. Religi Islam dan Dinamika Budaya Lokal terhadap data arkeologi yang ditemukan, bangunan rumah adat baeleo. Dimana dari segi
niaga dan perkembangan Islam itu sendiri, Te m a a t a u i s u - i s u p e n e l i t i a n dengan tentu saja dukungan data sejarah keletakannya,menjadi semacam pesan yang
mengingat perdagangan juga melibatkan menyangkut persentuhan religi Islam dan dan etnografi. Dengan demikian beberapa dibuat oleh masyarakat pada masa lalu, bahwa
pedagang-pedagang muslim. Soal kronologi, budaya lokal juga merupakan salah satu isu tema yang belum tergarap, berdasarkan masjid berhadapan dengan baeleo, sebagai
data yang valid soal pertanggalan masyarakat yang menarik untuk dikembangkan. Studi pengembangan kajian terhadap perolehan simbol bahwa agama tidak bisa dipisahkan
mengkonversi islam, misialnya hasil dating ini tentu saja melibatkan ilmu-ilmu lain data, tema yang dimaksud, meskipun masih dari adat. Masjid sebagai simbol agama dan
di Banda Neira oleh Peter Lape (2000). terutama antropologi karena pendekatan bersifat tinjauan awal, sudah coba dijelaskan. baileu sebagai simbol adat dibangun dalam
Hasil penelitian menyebutkan kemungkinan data yang digunakan, salah satunya etnografi konteks ruang yang sama, saling berassosiasi
masyarakat Banda telah mengkonversi Islam sebagai data pendukung utama. Tema ini a. Budaya Islam dan Sinkretisme dan keduanya memiliki makna yang saling
sejak abad 13 M, dua abad setengah lebih cepat berkaitan dengan tema Islam dan tradisi, Salah satu kajian arkeologi Islam yang mengisi. Bahkan isu yang cukup aktual
dari yang disebutkan oleh data sejarah yang dimana di banyak tempat di Nusantara, dapat diangkat dari hasil penelitian adalah dalam studi arkeologi-antropologi, yang perlu
mengatakan Islamisasi di Banda pada bad 15 termasuk di wilayah Maluku, hidup dan yang berhubungan dengan Islam dan tradisi dikembangkan di masa mendatang adalah
M, data ini didukung oleh metodologi tentang masih bertahannya tradisi lokal masyarakat lokal. Meskipun data arkeologi masih minim, soal kontinuitas religi prasejarah yang begitu
pola pemukiman masyarakat masa lampau, cukup mewarnai dinamika masyarakat dalam menyodorkan informasi tentang keterkaitan mengakar dan kemungkinan berpengaruh
berdasarkan data pendukung artefaktual dan menjalankan religi Islam. Masyarakat Maluku antara religi Islam dan tradisi lokal, namun terhadap munculnya sinkretisme Islam, di
ekofak, misalnya tulang binatang, khususnya yang dikenal kental melanjutkan tradisi, di interpretasi dapat diperluas dengan dukungan wilayah Maluku.
tulang babi (lihat Lape, 2000). Dari contoh satu sisi menjadi salah satu peradaban Islam data etnografi selama penelitian yang telah
itu, ke depan penelitian arkeologi Islam sejak pungkasan abad 15, dengan hadirnya berlangsung. Kajian ini tampaknya menjadi b. Proses dan Kronologi Islamisasi : Dimensi
di Balai Arkeologi Ambon semestinya kerajaan-kerajaan Islam. Penelitian arkeologi, isu penelitian yang cukup aktual, mengingat Politik dan Kultural
juga menggunakan dating absolute serta masih dipusatkan di wilayah-wilayah yang tradisi lokal Maluku yang dikenal kuat. Tema penelitian arkeologi sejarah
melalui pendekatan metodologi dan data selama ini dianggap sebagai wilayah sayap Hadirnya pengaruh Islam, tidak serta merta Islam yang paling general adalah menyangkut
disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. perluasan kekuasaan Islam. meningkat budaya lokal yang telah mengakar perkembangan pengaruh dan penyebaran
untuk lebih memastikan tentang kronologi Namun kajian-kajian tentang tema jauh sebelum Islam hadir di tanah Maluku. Islam, sebagaimana yang telah dtuliskan
masyarakat mengkonversi Islam. Hal ini demikian, masih bersifat lokalitas, yakni pada Dari gambaran data arkeologi dan etnografi, sebelumnya. Namun untuk kasus Maluku,
sejalan pendapat Azyumardi Azra (2009) lokus-lokus tertentu di wilayah Kepulauan tampaknya dapat diidentifikasi adanya masalah penyebaran Islam, merupakan
yang mengatakan lebih lanjut bahwa kajian Maluku, belum dapat menjadi gambaran bentuk-bentuk permanensi lokal. Islam fenomena yang kompleks, karena proses
sejarah Islam sebelum abad ke 15 M, sangat umum di setiap wilayah. Oleh karenanya pada beberapa aspek berkesinambungan ekspansi dengan mobilitas tinggi, dan
memerlukan dukungan bukti-bukti arkeologis. perhatian, perluasan dan pengembangan dengan anasir budaya dari etnis tertentu bersangkut paut dengan keterlibatan pihak
Sejarah masuk dan berkembangnya Islam kajian mutlak menjadi penting. Namun (permanensi etnologis) yang telah muncul kolonial. Tampaknya, di wilayah Maluku-
di Indonesia, katakanlah abad 13-15 M, banyak pula di beberapa tempat dukungan jauh sebelum Islam itu sendiri diterima Maluku Utara soal persaingan dan ekspansi
masih menyisakan banyak pertanyaan yang data akeologi yang minim, diantaranya masyarakat (Ambary, 1991, 1998; Mahmud, kekuasaan yang seiring dengan agenda
memerlukan jawaban atas dasar berbagai karena berbagai bentuk transformasi budaya 2001). Islamisasi, dipertajam lagi oleh kekuatan
bukti, khususnya arkeologi. Oleh karena itu, masyarakat kekinian, mengakibatkan Di beberapa wilayah ini tradisi hegemoni Kolonial sangat mempengaruhi
penggunaan data dan bukti arkeologi untuk penarikan kesimpulan atau analisis sudah Islam, yang kental sebagai kelanjutan tumbuh dan berkembangnya budaya Islam,
pengungkapan sejarah Islam Indonesia, sulit dilakukan, meskipun dari tradisi lisan dari budaya pra Islam, dianggap masih sekaligus menjadi pemicu atas faktor
menjadi sangat penting!. masih ditemukan informasi yang serupa. Oleh tumbuh subur dan mewarnai keseharian perbedaan karakteristik budaya Islam yang
Dari salah satu kajian hasil penelitian, keberislaman masyarakat Maluku pada berlangsung. Mungkin tidak ada hubungan

78 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 79
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian

sebab akibat atau kausalitas antara agenda dan Bacan,Ternate menjadi pusat untuk bangun pada masa Islam, tampaknya dapat menyebutnya sebagai piramida. Ternyata
ekspansi kekuasaan Islam, dengan corak memimpin aliansi empat kerjaan tersebut didentifikasi dari kajian atas arsitektur masjid di Nusantara, atap tumpang pada masjid
Islam yang dilahirkan oleh karena Islamisasi (Ambary, 1998:153-154). kuno di Maluku. Mekipun belum diajukannya merupakan contoh arsitektur masjid di banyak
berjalan seiring dengan agenda kekuasaan penelitian khusus untuk mengidentifikasi tempat di Nusantara sebut saja Aceh, Demak,
dan politik. Namun, ada hal-hal yang menjadi Tampaknya historiografi Islam arsitektur masjid kuno, namun dalam Banten, Kudus dan Ternate (Kees, 2009:52).
petunjuk, bahwa wilayah-wilayah seberang, di Maluku, mula-mula dikenal setelah penelitian yang general menyangkut tema Ciri spesifik lainnya adalah adanya ‘tiang
secara kebetulan menunjukkan corak munculnya Kerajaan Hitu. Hitu dianggap penyebaran dan pengaruh Islam, dimensi alif’ dipuncak atap tumpang atau atap yang
atau karakteristik Islam yang dipengaruhi sebagai Kerajaan Islam terbesar di Provinsi data monumental masjid kuno, menjadi paling atas yang disebut sebagai mustaka atau
oleh perkembangan Islam dibawah pusat Maluku, berdiri pada posisi strategis di bagian yang otomatis dijangkau, mengingat memolo. De Graaf dan Pijper mengatakan
kekuasaan Islam Maluku Utara. bagian utara Pulau Ambon, yang secara di beberapa wilayah penelitian, masih dapat prototipe masjid ditemukan dimana-mana,
Islamisasi di wilayah Maluku, tidak geografis memudahkan penyebaran Islam dijumpai masjid kuno yang masih bertahan dari Aceh hingga Ambon. Karakteristiknya
bisa dilepaskan dari sejarah Islamisasi di ke wilayah lainnya yakni ke wilayah Pulau hingga sekarang. Dari studi kasus kajian sama, yakni yang utama adalah arsitektur
wilayah Maluku Utara. Banyak penulisan Seram, Haruku dan Saparua. Data yang masjid kuno di Negeri Rohomoni, Pulau atap. Masjid-masjid itu memiliki atap
sejarah Maluku berisi pula berbagai diperoleh dari penelitian Sahusilawane (1996) Haruku misalnya, dapat ditarik generalisasi tumpang tiga sampai lima tingkat, makin ke
penjelasan menyangkut sejarah penyebaran masih sebatas mendeksripsikan data koleksi bahwa kemungkinan tipologi dan karakteristik atas makin kecil (Kees, 2009:580).
Islam di wilayah ini. Banyak kajian penduduk dan beberapa makam kuno Raja- arsitektur masjid kuno di Maluku pada Dari sekian banyak tulisan menyangkut
menjelaskan tentang sejarah islamisasi di raja Hitu, dan masih terbatas pada lokasi umumnya. Hal ini masih membutuhkan pengaruh arsitektur masjid kuno di Nusantara,
wilayah Maluku meliputi, proses penyebaran yang kini disebut sebagai Negeri Hitu Lama. perluasan kajian untuk kasus masjid kuno pada umumnya bersandar pada kesimpulan
Islam, negara penyebar, proses penerimaan Pelacakan bukti-bukti arkeologi dengan lainnya di wilayah lokus berbeda. Namun bahwa arsitektur masjid kuno, secara
hingga perkembangannya. Meski demikian, jangkauan wilayah yang lebih luas perlu banyaknya masjid kuno, yang kini banyak tipologis, merujuk pada arsitektur masjid
hingga saat ini, teori tentang jalur Islamisasi direncakan secara matang, dengan jangkauan mengalami perubahan, tampaknya sementara yang banyak dipengaruhi unsur budaya
di Kepulauan Maluku (Provinsi Maluku penelitian dan pendalaman terhadap data, ini tipologi masjid kuno di Pulau Haruku Hindu-Jawa, maupun budaya Jawa. Namun
dan Maluku Utara) masih terus dalam serta pengumpulan, deskrprispi berbagai dan Kaitetu Maluku Tengah bisa mewakili dalam beberapa tipe, terdapat karakteristik
proses kajian. Beberapa pendapat yang data baik survei, dan terutama pula ekskavasi secara umum tipologi arsitektur masjid kuno yang berbeda, dan untuk wilayah Maluku,
mengemukakan teori masuknya Islam di sangat penting, di samping berbagai bentuk di seluruh wilayah Maluku. Aspek teknologi memiliki beberapa karakteristik yang khas
wilayah ini diantaranya oleh Mailoa (1977), hasil karya literasi baik alquran kuno maupun ini, didalamnya juga terkait berbagai makna Maluku dan berbeda dengan wilayah lainnya
bahwa Islam berkembang di Maluku Utara naskah kuno lainnya juga perlu dikaji lagi. simbolik, nilai-nilai budaya yang harus di Nusantara. Pada dasarnya, arsitektur masjid
diduga berasal dari Malaka, Kalimantan, atau Kita belum akan memberi kesimpulan diperluas dan diperdalam lagi kajian dan kuno di Maluku, dapat diidentifikasi untuk
Jawa. Prodjokusumo (1991), mengemukakan yang pasti, tentang sejak kapan Islamisasi analisisnya, antara lain soal konsep arsitektur menghasilkan kesimpulan tentang bagaimana
bahwa Banjar dan Giri atau Gresik cukup berlangsung. Fakta yang lebih jelas, baik berdasdarkan cara pandang Islam maupun pengaruh Islam di Maluku, dan dari mana
besar pengaruhnya dalam sosialisasi Islam dari informasi yang dihasilkan oleh data konsep lokal, integrasi nilai budaya Islam dan pengaruh itu muncul. Dengan demikian, maka
di Maluku Utara, sebelum terjadi arus balik, arkeologi maupun sejarah, tampaknya lokal yang juga telah coba diuraikan dalam pengaruh Islam di Maluku, berdasarkan jejak-
yakni penyebaran Islam dari Maluku ke lebih mengarahkan bahwa perkembangan perluasan kajian dari penelitian yang sudah jejak arkeologi Islam yang ditinggalkan dan
arah barat yakni Buton dan daerah lain di Islam mengalami puncaknya ketika dilakukan. masih dapat disaksikan hingga saat ini, dapat
Sulawesi Selatan (Mailoa dan Prodjokusumo munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Bicara tentang perkembangan memberikan informasi berharga bahwa Islam
dalam Ambary; 1998:153). Meski demikian, Islam yang berkembang menjadi daerah- pengaruh Islam, maka tak bisa dilepaskan di Maluku, kemungkinan berasal dari banyak
penting dicatat, Islam dianggap masuk daerah kesultanan sebagai pusat kekuasaan dengan perkembangan arsitektur masjid, sumber, tidak menutup kemungkinan pusat
ke wilayah Maluku pada sekitar abad 14, sekaligus peradaban Islam, pada kisaran karena masjid merupakan ikon utama kekuasaan Ternate dan Tidore, Jawa bahkan
seperti yang terkandung dalam tradisi lisan Abad 15 M. Masih diperlukan berbagai perkembangan Islam itu sendiri. Awal kemungkinan berhubungan pula dengan
yang menyebutkan Raja Ternate XII akrab rangkaian penelitian untuk memperoleh mula dan perkembangan rancang bangun sumber langsung dari Arab, Persia maupun
dengan pedagang Islam (Ambary, 1996:6). sumber atau data-data primer untuk menjawab masjid, bisa menjadi petunjuk tentang India (Gujarat). Yang jelas, baik Arab, Persia,
Berdasarkan hal tersebut Ambary (1998), berbagai pertanyaan penelitian menyangkut bagaimana proses awal Islamisasi hingga Gujarat (India), China, Sumatra dan Jawa,
mengemukakan kemungkinan lain bahwa Islamisasi, dan berbagai fenomena budaya perkembangannya kemudian. Menurut seluruhnya kemungkinan berjasa sebagai
Islam masuk melalui jalan Cina Selatan yang mengikut. De Graaf dan Pijper, bentuk atap tumpang agen-agen penyebaran Islam di Maluku
dan tidak melalui Selat Malaka. Pada abad tiga atau bahkan lima susun dari masjid, baik melalui perantara niaga maupun dalam
15, Ternate merupakan pusat kekuatan c. Perkembangan Islam dalam Perwajahan mulai muncul di akhir abad 16 M, sebuah praktek-praktek misi penyebaran Islam secara
utama penghasil rempah-rempah. Diantara Arsitektur Masjid Kuno di Maluku bentuk yang khas yang disebutnya sebagai langsung.
kerajaan besar lainnya, seperti Tidore, Jailolo Aspek teknologi dalam rancang superstruktur segitiga atau adapula yang

80 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 81
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian

d. Perkembangan Tata Kota Islam : Studi yang dalam konteks sejarah merupakan perkembangan Islam itu sendiri baik secara DAFTAR PUSTAKA
Kasus Kota Ternate pusat pemerintahan Islam, demikian pula eksternal maupun internal hingga soal
Dalam penelitian mutakhir, telah dengan aspek atau tema menyangkut praktek-praktek religi Islam dalam keseharian Alwi, Des, 2005 Sejarah Maluku: Banda Neira,
teknologi rancang bangun, sistem birokrasi Ternate, Tidore dan Ambon. Jakarta. Dian
dilakukan sebuah penelitian awal untuk masyarakat yang dibungkus dengan berbagai Rakyat
mengidentifikasi morphologi kota Ternate. dan pemerintahan, serta perkembangan tradisi yang masih melekat.
Dalam artikel ini, diuraikan secara ringkas struktur sosial masyarakat dan juga apakah Dalam prakteknya isu-isu strategis Amal, Adnan M. 2009, Portugis dan Spanyol di
beberapa intisari dari kajian tentang tata bentuk kota juga bisa menggambarkan Maluku. Jakarta. Komunitas Bambu.
penelitian dan tema-tema penelitian yang
kota Islam Ternate. Penelitian tentang tata perkembangan struktur pemerintahan.
menarik yang diancangkan untuk mengungkap
kota adalah salah satu domain penting dalam sejarah budaya masyarakat, di lapangan tidak _____________,2010. Kepulauan Rempah-
arkeologi yang selama ini masih dianggap PENUTUP rempah Perjalalanan Sejarah Maluku
Secara umum, penelitian arkeologi dapat berjalan optimal. Berbagai kondisi Utara 1250-1950. Jakarta. Kepustakaan
studi yang sangat terbatas. Penelitian ini
Islam di Maluku berupaya menjangkau sosial di masyarakat, soal kebiasaan atau Populer Gramedia
dengan mengambil setting Kota Ternate pada
periode Islam hingga Kolonial, merupakan cakupan tematis dalam melihat perkembangan tradisi hingga persepsi masyarakat dalam
sebuah penelitian awal untuk melihat bentuk budaya Islam di Maluku. Meski demikian memandang data arkoelogi, menjadi kendala Ambary, Hasan Muarif, 1986 Unsur Tradisi Pra
luasnya cakupana tema penelitian arkeologi tersendiri bagi peneliti untuk melakukan Islam Pada Sistem Pemakaman Islam di
dan dinamika kota Ternate pada masa lampau.
Islam, baru menjangkau berbagai dimensi penelitian. Banyak kasus soal tabu dan Indonesia. Pertemuan Ilmiah Arkeologi
Ternate, adalah sebuah kota klasik yang IV Jakarta. Depdikbud.
berkembang pada masa pengaruh Islam, data arkeologis yang bisa menjelaskan hal-hal yang bersifat primordial, terkadang
wilayah ini menjadi pusat pemerintahan tentang sejarah budaya Islam, dan itupun menjadi sandungan tersendiri untuk dapat ______________, 1991 Makam-Makam
Islam Kesultanan Ternate. Tipikal kota klasik masih bersifat kajian awal dan pendekatan mendeskripsikan data arkeologi, sehingga Kesultanan dan Para Wali Penyebar
di Asia Tenggara, salah satu karakteristik yang general. Banyaknya kategori data analisis dan kajian tidak optimal. Islam di Pulau Jawa. Aspek-Aspek
menonjol adalah konsepsi kosmologi, yakni arkeologi yang belum dicapai adalah soalan Arkeologi Indonesia. Pusat Penelitian
Meski demikian, berbagai data
harmonisasi antara manusia dalam ruang yang harus dipikirkan sebagai bagian Artkeologi Nasional. Jakarta
arkeologi, diharapkan menjadi stimulus
dan lingkungannya. Sebagai kota kuno dari upaya pengembangan, perluasan dan
pendalaman kajian. Terutama soal kronologi, penting untuk membangun integrasi dan _____________1998 Menemukan Peradaban
Islam, Ternate telah berkembang sejak harmonisasi sosial. Berbagai event publikasi,
pengaruh Islam hingga kini. Wajah kota adalah masalah yang paling penting yang Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta:
perlu dijelaskan dalam penelitian-penelitian misalnya pameran, penyuluhan dan seminar Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
dengan berbagai elemennya menandai sebuah
kemajuan peradaban yang dibalut oleh mendatang. Penjelasan kronologi yang banyak diapresiasi masyarakat, terutama Logos. Wacana Ilmu.Jakarta.
konsepsi tentang pendirian kota sebagaimana relative, terutama bersumber dari data sejarah, data arkoelogi yang memberikan pencerahan
dan kalaupun muncul data arkeologi yang tentang integrasi sosial dan pemupukan Dijk, Van Kees, 2009 Perubahan Kontur Masjid
kota Islam lainnya. dalam Peter J.M Nas dan Martien de
Dalam konsep kota Islam, pusat kota ditemukan untuk menjelaskan kronologi, jatidiri atau identitas. Yang justru harus Vletter (editor) Masa Lalu dalam Masa
dapat disebut sebagai pusat orientasi, biasanya sifatnya relatif dan lebih banyak disandarkan diperhatikan adalah bahwa secara internal, Kini Arsitektur di Indonesia. Jakarta.
dimanifestasikan dengan suatu wilayah yang pada kronologi Islamisasi pada masa Islam instansi penelitian secara organisatoris dan Gramedia Pustaka Utama
homogen atau sakral. Dalam hal ini Kota diterima secara kelembagaan, sebagai agama manajemen, perlu banyak berbenah, agar
Ternate, dengan pusatnya ditandai oleh rakyat atau agama kerajaan yang secara berbagai target penelitian mencapai hasil Handinoto, 2010 Arsitektur dan Kota-Kota di
kedaton Sultan, sebagai pusat pemerintahan, resmi diakui dalam struktur sosial dan Jawa pada Masa Kolonial. Yogyakarta.
optimal, dan hasil penelitian benar-benar
berikut komponen pengikut lainnya seperti pemerintahan pada masa kerajaan atau Graha Ilmu.
mampu diaktualisasikan dalam membangun
alun-alun dan masjid, selain sebagai pusat kesultanan Islam. Sementara berdasarkan
tradisi tutur, bahwa Islam telah hadir jauh integrasi kebangsaan, serta memberikan Guillot, C dan H. Chmabert-Loir, 2007 Ziarah dan
pemerintahan, dianggap pula sebagai pusat pencerahan tentang identitas kebangsaan,
sebelum yang disebutkan dalam literatur Wali di Dunia Islam. Jakarta. Komunitas
kebudayaan. Sebagai pusat pemerintahan,
sejarah, inilah yang masih memerlukan yang lahir dari kemajemukan namun Bambu
dimana raja atau Sultan tinggal, maka kraton
dianggap sebagai miniatur dari makrokosmos pembuktian arkeologis, melalui ekskavasi terintegrasi dan saling mengisi di dalamnya.
Dalam pelaksanaan penelitian, Lape, P. V. 2000a Contact and Conflict in the
(Handinoto, 2010:219). Wilayah keraton, dan pertanggalan mutlak, selain tentu saja
Banda Islands, Eastern Indonesia, 11th–
bisanya selalu dianggap sebagai suatu yang metodologi yang sesuai untuk menjelaskan perlunya pembinaan terstruktur dan 17th Centuries. Ph.D. Dissertasi. Brown
homogen (sakral) yang teratur atau harus hal tersebut. sistematis terhadap para peneliti di wilayah University.
diatur. Bangunan kedaton Ternate berorientasi Selain itu dimensi data arkeologi yang kerja Unit Pelaksana Tugas (UPT) melalui
ke arah Timur atau ke arah laut. penting, yang dapat menjelaskan diimensi mekanisme monitoring dan evaluasi, agar Lape, P.V 2000b Political dynamics and religious
Tema dan kajian penelitian perlu politik dan kultural islam, juga masih dapat diamati perkembangan penelitian di change in the late pre-colonial Banda
diperluas lagi, hal-hal yang belum dikaji tetap menjadi isu atau masalah penelitian daerah, kendala yang dihadapi serta solusi- Islands, Eastern Indonesia. World
menyangkut tata kota dan pola pemukiman yang aktual, hal ini karena menjangkau Archaeology 32(1
solusi untuk menghasilkan penelitian yang
dalam masa pengaruh islam, perlu dikaji lebih beberapa cakupan tematis, baik berhubungan
lebih berkualitas. Lapian, Andrian B, 2001. Ternate Sekitar
dalam, terutama di wilayah lokus penelitian dengan struktur pemerintaan dan kekuasaan
***** Pertengahan Abad Ke-16. Dalam M.J.
Islam, ekspansi atau proses perluasan Islam,

82 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 83
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon
Wuri Handoko, Sketsa Arkeologi Islam di Maluku: Tema dan Implementasi Penelitian

Abdulrahman, et.al. Ternate: Bandar Wibisono, Sonny, 2009 Evaluasi Penelitian TINGGALAN ARKEOLOGI MASA KOLONIAL
Jalur Sutera. LInTas (Lembaga Informasi Kajian Arkeologi Pengaruh Islam di DI WILAYAH KEPULAUAN MALUKU:
dan Transformasi Sosial). Ternate. Nusantara. Evaluasi Hasil Penelitian Sebuah Evaluasi Hasil Penelitian1
(EHPA). Denpasar. Bali. Pusat Penelitian
_____________, 2010 Wilayah Maluku dalam dan Pengembangan Arkeologi Nasional
Konteks Perdagangan Internasional Masa Archaeological Remains of Colonial Period In The Maluku Islands:
Lampau dan Globalisasi. Makalah dalam Research Review
Seminar Nasional Sail Banda 2010.
Ambon 2 Agustus 2010. Balai Arkeologi Syahruddin Mansyur
Ambon BALAI ARKEOLOGI AMBON
Leirissa, RZ, 1980 Maluku Tengah dalam Abad
hitam_putih07@yahoo.com
Ke-19, Prisma No. 8 Agustus Tahun IX
Abstrak
____________, 2001. Jalur Sutera: Integrasi Balai Arkeologi Ambon dengan wilayah kerja meliputi Provinsi Maluku dan
Laut-Darat dan Ternate sebagai Bandar Maluku Utara (selanjutnya disebut wilayah Kepulauan Maluku) telah menetapkan
di Jalur Sutera. Dalam M.J. Abdulrahman, tema penelitian yang sesuai dengan kondisi wilayah kerjanya. Salah satu tema yang
et.al. Ternate: Bandar Jalur Sutera, dikembangkan dalam pelaksanaan penelitian arkeologi di Balai Arkeologi Ambon
adalah tema Pengaruh Kolonial di Nusantara. Hal ini, tentu saja tidak lepas dari
Ternate: LinTas (Lembaga Informasi dan sejarah kebudayaan yang pernah ada dan berkembang di wilayah Kepuluan Maluku.
Transformasi Sosial) Seperti diketahui bahwa sejarah kedatangan bangsa asing terutama bangsa Eropa di
nusantara diawali oleh faktor ekonomi yaitu perdagangan rempah-rempah, dimana
Mahmud, Irfan 2001 Determinasi Budaya Islami wilayah Kepulauan Maluku merupakan pusat produksi dua jenis rempah-rempah yaitu
di Wilayah Pinggiran Kekuasaan Bugis. cengkeh dan pala. Dalam konteks inilah, penelitian arkeologi yang dilaksanakan oleh
WalannaE. Jurnal Arkeologi Sulawesi Balai Arkeologi Ambon melalui tema Pengaruh Kolonial berupaya untuk mengkaji
Selatan dan Tenggara. Vol IV No 6 Juni. lebih jauh berbagai aspek yang terkait dengan masa penguasaan bangsa Eropa di
Balai Arkeologi Makassar. wilayah Kepulauan Maluku. Makalah ini akan merangkum berbagai hasil penelitian
arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Ambon sejak didirikan pada tahun
Putuhena, Shaleh 2001 Proses perluasan agama 1995 hingga saat ini. Selanjutnya, akan dipaparkan ruang lingkup penjelasan yang
Islam di Maluku Utara. Dalam M.J. tercakup dalam berbagai hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Makalah ini juga
berupaya melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek terkait dengan tema pengaruh
Abdulrahman, et.al. Ternate: Bandar kolonial khususnya di wilayah Kepulauan Maluku.
Jalur Sutera, Ternate: LinTas (Lembaga
Informasi dan Transformasi Sosial). Kata Kunci: Tinggalan Arkeologi, Kolonial, Penelitian, Evaluasi
Ricklefs, M.C 2008 Sejarah Indonesia
Modern 1200-2004. Jakarta. PT Serambi Abstract
Ilmu Semesta. Archaeological Institute of Ambon with work areas include Maluku and North Maluku
(hereinafter referred to as the Moluccas Islands) has set the theme of the research in
Sahusilawane, 1996 Laporan Hasil Penelitian accordance with the conditions of their working area. One of the themes developed
Arkeologi Islam di Kecamatan Leihitu in the implementation of archaeological research at the Institute of Archaeology of
Kabupaten Maluku Tengah. Ambon. Balai Colonial Influence Ambon is a theme in the archipelago. It is, of course, can not
Arkeologi Ambon. be separated from the cultural history that ever existed and flourished in the area
of Moluccas Islands. As it is known that the history of the arrival of foreigners,
Sutiyono, 2010 Benturan Budaya Islam: Puritan especially Europeans in the archipelago preceded by economic factors, namely the
dan Sinkretis. Jakarta. Penerbit Kompas spice trade, which is the center of the Maluku Islands of production of two types of
spices are cloves and nutmeg. In this context, archaeological research carried out
Spradley, James P, 1997 Metode Etnografi. by the Archaeological Institute of Ambon through the Colonial Influence theme seeks
Terjemahan oleh Misbah Zulfa Elizabeth. to further examine various aspects linked to the control of European nations in the
PT Tiara Wacana Yogya. Yogyakarta Moluccas Islands. This paper will summarize the results of archaeological research
Kediri 23-28 juli 2002. Ikatan Ahli carried out by the Archaeological Institute of Ambon since its inception in 1995 until
Arkeologi Indonesia today. Furthermore, an explanation will be presented scope covered by the various
studies that have been conducted. This paper also attempts to evaluate the various
Tjandrasasmitha, Uka 2009 Arkeologi Islam aspects related to the theme of colonial influence, especially in the Maluku Islands.
Nusantara. Jakarta. Kepustakaan Populer
Gramedia (KPG). Keywords: Archaeological remains, Colonial, Research, Evaluation

1 Naskah awal tulisan ini pernah disampaikan dalam Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (EHPA) yang
diselenggarakan oleh Balai Arkeologi Ambon pada Januari 2012 di Ambon.

84 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 Kapata Arkeologi Vol. 8 Nomor 2 / November 2012 85
Balai Arkeologi Ambon Balai Arkeologi Ambon