Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN KEBERADAAN PASANGAN HIDUP DENGAN

HARGA DIRI PADA LANSIA


1
Wan Ismalinda, 2Fathra Annis Nauli, 2Ari Pristiana Dewi

Email: wanismalinda@yahoo.com
085265675428

Abstract

The purpose of this research is to find out relationship between the presence of a spouse
with self-esteem in the elderly. This research used descriptive correlative with cross
sectional approach. Sample of this research taken using cluster sampling. This research’s
sample composed of 121 elderly who live in South Tangkerang-Bukit Raya, Pekanbaru.
Data were collected using Rosenberg self-esteem scale by Rosenberg (1995). Data then
analyzed using chi-square with significance level of α 0,05. The results showed both group
of the elderly who have a spouse 61 respondent (92.4%) and the elderly who do not have a
spouse 54 people (81.8%) have high self-esteem (p value 0,137 > α 0,05). In conclusion,
there is no relationship between the presence of a spouse with self-esteem in the elderly.
Based on this research suggested the family to support the elderly to improve self-esteem
for the elderly’s integrity.

Keywords : Elderly, precense of a spouse, self-esteem

PENDAHULUAN (Maryam, Ekasari, Rosidawati, Jubaedi &


Tahap terakhir dalam rentang Batubara, 2008).
kehidupan manusia adalah masa lanjut usia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),
(lansia), yang ditandai dengan berbagai melalui lembaga kependudukan dunia
perubahan fisik, psikis maupun sosial. Jika United Nation Population Fund (UNFPA)
perubahan-perubahan yang terjadi dalam mengatakan jumlah lansia tahun 2009 telah
kehidupan lansia tidak disikapi dengan mencapai jumlah 737 juta jiwa. Pada tahun
positif, maka akan berpotensi sebagai 2050 diproyeksikan bahwa jumlah
sumber stres dan lansia akan mengalami penduduk di atas usia 60 tahun mencapai
keputusasaan. Selain itu, hal lain yang dapat sekitar 2 miliar jiwa. Berdasarkan jumlah
mempengaruhi kehidupan lansia dimasa tersebut, sekitar dua pertiga tinggal di
tuanya adalah ada atau tidaknya pasangan negara-negara berkembang, termasuk
hidup. Indonesia (Ulfah, 2009), sedangkan di 11
Menurut WHO (World Health negara anggota WHO kawasan Asia
Organization), lansia adalah seseorang Tenggara yang berusia di atas 60 tahun
yang berusia dimulai dari 60 tahun keatas berjumlah 142 juta orang dan diperkirakan
(Mubarak, Santoso, Rozikin, & Patonah, akan terus meningkat hingga 3 kali lipat di
2006). Depkes RI mendifinisikan penuaan tahun 2050 (Atjehpost, 2012). Hal ini
adalah proses alami yang tidak dapat menandakan terjadi peningkatan jumlah
dihindari, berjalan terus menerus, lansia setiap tahunnya.
berkesinambungan, selanjutnya akan Jumlah penduduk lansia di
menyebabkan perubahan anatomis, Indonesia pada tahun 2012 mencapai 28
fisiologis, dan biokimia pada tubuh, juta jiwa atau sekitar delapan persen dari
sehingga akan mempengaruhi fungsi dan jumlah penduduk Indonesia. Pada tahun
kemampuan tubuh secara keseluruhan 2025 diperkirakan jumlah lansia
membengkak menjadi 40 jutaan dan pada Pemahaman terhadap makna hidup secara
tahun 2050 diperkirakan akan melonjak keseluruhan menyebabkan lansia berusaha
hingga mencapai 71,6 juta jiwa (Badan membimbing generasi berikutnya (anak dan
Pusat Statistik, 2012). Dengan cucu) berdasarkan sudut pandangnya.
meningkatnya jumlah lansia, maka Lansia yang tidak mencapai integritas diri
dibutuhkan perhatian khusus kepada lansia akan merasa putus asa dan menyesali masa
demi tercapainya kebahagiaan lansia lalunya karena tidak merasakan hidupnya
dimasa tuanya. bermakna. Perkembangan yang normal
Jumlah penduduk berusia 65 tahun pada lansia yaitu integritas diri, dimana
keatas di Provinsi Riau pada tahun 2011 perilaku lansia berupa: mempunyai harga
sekitar 146.247 jiwa (Depkes, 2012). Dinas diri tinggi, merasa disayang oleh keluarga,
Kesehatan (Dinkes) kota Pekanbaru tahun menilai kehidupannya berarti, memandang
2011 mengatakan jumlah populasi lansia sesuatu hal secara keseluruhan (tuntutan
pada tahun 2006 sebesar 20.876 orang, dan makna hidup), menerima nilai dan
jumlah lansia meningkat menjadi 48.320 keunikan orang lain, serta menerima
orang pada tahun 2008 dan kembali turun datangnya kematian.
pada tahun 2011 menjadi 22.830 orang Penyimpangan perkembangan yaitu
lansia (Dinkes, 2011). Peningkatan jumlah putus asa, dimana perilaku lansia berupa:
lansia juga terjadi di Provinsi Riau memandang rendah/menghina/mencela
khususnya Kota Pekanbaru dan penuaan orang lain, merasa kehidupannya selama ini
juga disertai dengan perubahan-perubahan tdak berati, merasakan kehilangan, masih
yang terjadi akibat proses dari menua. ingin berbuat banyak, tetapi takut tidak
Berbagai perubahan atau penurunan mempunyai waktu lagi (Keliat, Helena, &
fisik yang terjadi pada lansia akibat dari Farida, 2011). Lansia yang mampu melalui
proses menua, diantaranya adalah pada tahap perkembangannya secara baik akan
sistem panca indra seperti mata, telinga, mencapai integritas diri sedangkan lansia
hidung, syaraf perasa di lidah dan kulit. yang tidak mampu melalui tahap
Pada sistem gastrointestinal dan sistem perkembangannya denga baik akan
kardiovaskuler juga terjadi perubahan. Pada mengalami keputusasaan dimasa tuanya.
sistem respirasi terjadi perubahan seperti Aspek sosial merupakan aspek yang
penurunan elastisitas paru serta penurunan mengalami perubahan cukup signifikan
kekuatan otot dada. Sistem endokrinologik pada masa lansia. Perubahan sosial yang
sekitar 50% lansia menunjukkan intoleransi terjadi dan dapat berpengaruh dalam
glukosa, dengan kadar gula puasa yang kesejahteraan sosial lansia pada masa
normal. Pada sistem imun, terjadi tuanya adalah keberadaan pasangan hidup.
penurunan fungsi imun. Pada lansia juga Keberadaan pasangan hidup didefinisikan
terjadi inkontinensia urin akibat dari sebagai ada atau tidaknya pasangan hidup
penurunan fungsi sistem urogenital. Pada (karena bercerai, meninggal, maupun tidak
sistem syaraf pusat dan otonom perubahan pernah menikah). Pasangan hidup memiliki
fungsionalnya akan mengakibatkan fungsi sebagai supporting dalam berbagai
penurunan memori jangka pendek, hal misalnya emosi, problem solving,
gangguan persepsi, terganggunya regulasi keuangan, maupun pengasuhan
suhu dan lain sebagainya (Martono & (Carstensen, Gilford, dalam Papalia, 2008).
Pranarka, 2009). Gangguan persepsi pada Selain itu juga muncul perubahan
lansia akan berdampak pada sikap lansia yang menyangkut kehidupan psikologis
yang menjadi lebih sensitif dan mudah lansia, seperti perasaan tersisih, tidak
tersinggung. dibutuhkan lagi, ketidakikhlasan menerima
Perkembangan psikososial lansia kenyataan baru, misalnya penyakit yang
adalah tercapainya integritas diri yang utuh. tidak kunjung sembuh atau kematian
pasangan (Hayati, 2010). Tidak adanya Yusna, Danardi, Suryo, & Czeresna, 2007).
pasangan hidup bisa terjadi karena Depresi merupakan akibat dari harga diri
kematian pasangan hidup, bercerai, ataupun rendah pada lansia yang menjadikan
tidak menikah (Indriana, Desiningrum & seorang lansia itu menarik diri dari
Kristiana, 2011). lingkungannya, putus asa, dan merasa tidak
Kondisi kehilangan pasangan hidup berdaya.
merupakan salah satu tantangan emosional Lansia yang tidak memiliki
terbesar yang mungkin dihadapi lansia. pasangan hidup mempengaruhi tingkat dan
Banyak lansia yang menjalani kehidupan aktivitas sosial serta persahabatan yang
masa tuanya secara mandiri tanpa adanya biasa dilakukan serta mempengaruhi pola
keluarga, namun tidak jarang juga mereka hidupnya yang mengalami perubahan.
hanya tinggal seorang diri karena pasangan Perubahan ini menimbulkan efek terhadap
hidupnya sudah meninggal. Bagi penyesuaian diri dan pola kehidupan dalam
pandangan masyarakat, lansia adalah orang keluarga. Untuk itu mereka diharapkan
yang lemah, tidak berguna lagi, dapat merasakan kebahagiaan dalam
menyusahkan, lamban, baik dalam berfikir menjalani kehidupan masa tuanya tanpa
maupun dalam bertindak. Jika keterasingan pasangan hidup. Akan tetapi banyak usia
terjadi pada lansia, maka ia akan semakin lanjut yang tidak siap menghadapi hari tua
menolak untuk berkomunikasi dengan mereka tanpa pasangan hidup mereka.
orang lain dan kadang-kadang terus muncul Mereka tidak merasakan kepuasan dan
perilaku regresi seperti menangis, kemaknaan hidup seperti yang diharapkan,
mengurung diri, mengumpulkan barang- bahkan banyak diantara mereka yang
barang tidak berguna serta merengek- merasa tidak bahagia, depresi ataupun juga
rengek dan menangis jika bertemu dengan kesepian (Mandasari, 2007). Seseorang
orang lain sehingga perilakunya seperti yang merasa kesepian memiliki
anak kecil, ia juga akan mengkonsepkan kemungkinan cukup besar untuk cenderung
dirinya sebagai orang yang tidak berguna memiliki afek negatif, karena ia merasa
lagi dan tidak diperhatikan. Hal ini akan dirinya diabaikan oleh orang lain, tidak
menjadikan konsep diri lansia berupa dipedulikan oleh orang lain, tidak bermakna
konsep diri negatif (Safitri, 2011). bagi orang lain (Gunarsa, 2009).
Orang pada usia 60 dan 70 tahun Lansia merasa tidak berguna, tidak
ada yang melakukan perceraian tetapi jauh berharga, merasa tidak dipedulikan
lebih jarang terjadi dari pada pasangan usia merupakan ciri-ciri yang mengarahkan
muda. Diperkirakan ada 50% wanita yang lansia pada harga diri yang maladaptif.
berusia 60 tahun dan 85% wanita berusia 85 Masalah-masalah harga diri meningkat pada
tahun adalah berstatus janda. Jumlah usia lansia karena adanya tantangan baru yang
pria menjadi duda belum diketahui salah satunya adalah kehilangan pasangan
dikarenakan banyak duda disetiap tahap (Stuart, 2009).
usia yang menikah lagi dibandingkan Penelitian yang dilakukan oleh
wanita dan jumlah presentase duda jauh Djadji (2008) yang berjudul pengaruh
lebih sedikit. Penyesuaian terhadap dukungan sosial terhadap kesepian pada
kematian pasangan atau perceraian sangat lansia yang sudah tidak memiliki pasangan
sulit bagi pria maupun wanita pada usia hidup (sebuah studi pada Panti Werdha),
lanjut, karena pada masa ini semua bentuk dukungan sosial dalam penelitian ini
penyesuaian sulit dilakukan (Hurlock, terdiri dari empat bentuk yaitu appraisal
2004). support, belonging support, tengible
Janda dan duda lebih rentan untuk support dan self-esteem support
mengalami depresi dibanding pasien mengatakan bahwa terdapat hubungan
geriatri dengan status menikah (Dewi, signifikan anatara dukungan sosial terhadap
kesepian pada lansia. Hubungan signifikan 3 orang lansia yang berstatus janda, 2 orang
juga ditemukan pada masing-masing bentuk diantaranya cenderung memiliki harga diri
dukungan sosial appraisal support, ke arah yang negatif, seperti merasa tidak
belonging support, tengible support dan berharga, merasa tidak mampu lagi, merasa
self-esteem support dengan kesepian pada sering dibicarakan oleh orang lain, jarang
lansia. mengikuti kegiatan sekitar dan merasa
Penelitian yang dilakukan oleh kesepian. Sedangkan 1 orang lansia yang
Koodaee dan Nasiri (2012) yang berjudul berstatus janda masih merasa dirinya
compare self esteem and sosial support berharga dan berarti didalam keluarganya
among ageing mengatakan bahwa ada meskipun ia sudah tua dan sudah lama
perbedaan yang signifikan antara harga diri menjanda. Lansia juga mengatakan ia selalu
dan dukungan sosial pada kedua kelompok diperhatikan oleh keluarganya, hal itu yang
lansia yang tinggal di rumah dan mereka membuat ia merasa dihargai dan tidak
yang tinggal di pusat-pusat asrama. Dapat kesepian.
disimpulkan bahwa lansia yang hidup Berdasarkan beberapa fenomena
dirumah dengan keluarga lebih memiliki dan penelitian terkait yang telah dipaparkan
harga diri yang positif dibanding lansia sebelumnya, peneliti tertarik untuk
yang tinggal di pusat-pusat asrama. melakukan penelitian kepada lansia yang
Berdasarkan studi pendahuluan yang berjudul “Hubungan antara keberadaan
dilakukan peneliti pada tanggal 19 Februari pasangan hidup dengan harga diri pada
2013 di Puskesmas Harapan Raya, hasil lansia.”
wawancara dengan salah satu pegawai di
poli usila mengatakan bahwa terdapat 16 METODE
posbindu di wilayah kerja Puskesmas Penelitian yang dilakukan adalah
Harapan Raya, 3 diantaranya terdapat di penelitian kuantitatif. Peneliti menggunakan
Kelurahan Tangkerang Selatan. 2 dari 3 desain penelitian deskriptif korelasi dengan
posbindu yang terdapat di Kelurahan pendekatan cross sectional study, yaitu
Tangkerang Selatan kurang aktif sedangkan jenis penelitian yang menekankan waktu
1 diantaranya aktif dalam kegiatan pengukuran atau observasi data variabel
posbindu. Dari data yang diberikan, independen dan dependen hanya satu kali
Kelurahan Tangkerang Selatan memiliki pada satu saat (Nursalam & Efendi, 2008).
jumlah lansia terbanyak ke 3 diwilayah Penelitian ini mengidentifikasi hubungan
Kerja Puskesmas Harapan Raya yaitu keberadaan pasangan hidup dengan harga
sebanyak 1410 orang. Sekitar 40% lansia diri pada lansia.
berstatus tidak memiliki pasangan Populasi penelitian adalah setiap
(janda/duda, bercerai & tidak menikah). subjek yang memenuhi kriteria yang telah
Hasil wawancara yang dilakukan ditetapkan (Nursalam, 2005). Populasi
dengan 5 orang lansia di Kelurahan dalam penelitian ini adalah seluruh lansia
Tangkerang Selatan, 2 berstatus menikah, 2 yang berstatus memiliki pasangan dan yang
orang berstatus janda, dan 1 orang berstatus tidak memiliki pasangan hidup di
janda karena bercerai. Dari hasil wawancara Kelurahan Tangkerang Selatan Kecamatan
didapatkan bahwa lansia yang berstatus Bukit Raya Pekanbaru dengan total
menikah cenderung kearah harga diri yang populasi adalah 1410 orang (Puskesmas
rendah yaitu tidak aktif dilingkungan Harapan Raya, 2011).
sekitar, tidak mengetahui apa saja kegiatan- Sampel yang peneliti gunakan
kegiatan dilingkungan sekitar, enggan dalam penelitian ini adalah sampel yang
untuk berinteraksi dengan lingkungan diambil dengan salah satu teknik cluster
sekitar dan merasa minder dengan tetangga sampling. Pengambilan sampel
sekitar. Kemudian hasil wawancara dengan berkelompok ini dilakukan apabila populasi
tersebar secara luas sehingga tidak N = jumlah populasi
memungkinkan untuk membuat daftar n = besar sampel
seluruh populasi. Pengelompokan dapat
berupa wilayah (desa, kelurahan, Tabel 1
kecamatan, dan seterusnya). Proporsional Sampel dari Tiap-Tiap RW
Menghitung besar sampel untuk
metode cluster adalah dengan RW Proporsional Jumlah
menggunakan rumus untuk sampel acak 396 X 121
RW 01 34
1410
sederhana dan mengalikan hasil
493 X 121
perhitungannya dengan efek desain (design RW 05 42
1410
effect). Efek desain merupakan 521 X 121
RW 10 45
perbandingan (rasio) antara varians yang 1410
diperoleh pada pengambilan sampel secara Total 121
kompleks (seperti sampel cluster) dengan
varians yang diperoleh jika pengambilan Kriteria inklusi merupakan
sampel diambil secara acak sederhana. karakteristik umum subjek penelitian dari
Besar efek desain dapat diperoleh dari hasil suatu populasi target yang terjangkau yang
survei yang pernah dilakukan (Ariawan, akan diteliti. Pertimbangan ilmiah harus
1998). Efek desain memang sangat variasi menjadi pedoman dalam menentukan
mulai dari 1 sampai 6 (Shackman, 2001). kriteria inklusi (Nursalam, 2009). Kriteria
Efek desain yang digunakan peneliti yaitu inklusi pada penelitian ini adalah:
1.3 sehingga jumlah sampel dalam 1) Bersedia menjadi responden;
penelitian ini adalah 93 x 1.3 = 121 2) Lansia dengan usia dimulai 60 tahun
responden (Shackman, 2001). sampai dengan 60 tahun keatas;
Menurut Wood dan Habber (2006), 3) Lansia yang mampu berkomunikasi
untuk penentuan besar sampel pada teknik dengan baik;
cluster sampling, jika populasi 500 atau 4) Lansia yang mampu membaca dan
lebih, pengambilan sampel yaitu 25% dari menulis;
area atau wilayah yang diteliti. Peneliti 5) Lansia yang dalam kondisi sehat;
menggunakan perhitungan untuk Peneliti menggunakan alat
menentukan jumlah RW yang akan diteliti, pengumpulan data berupa kuesioner yang
dengan cara 25% dikalikan dengan jumlah mengacu pada kerangka konsep penelitian
RW yang dalam hal ini berjumlah 12 RW dan dibuat oleh peneliti berdasarkan teori-
sehingga didapat tiga RW. teori yang ada. Kuesioner terdiri dari 2
Hasil yang didapat dari perhitungan bagian, pertama berisi pertanyaan tentang
di atas adalah tiga RW, tiga RW yang akan data demografi responden (data umum)
diteliti ini ditentukan lagi secara random dengan pertanyaan sebanyak 5 pertanyaan
dari RW yang ada. Sistem random tersebut terdiri dari jenis kelamin, usia, agama,
dilakukan dengan membuat angka 1 - 12, status pendidikan, status perkawinan. Status
kemudian digulung dan dimasukkan dalam perkawinan terdiri dari pilihan menikah,
sebuah gelas, lalu diambil 3 kertas yang tidak menikah, janda atau duda dimana
berisi masing-masing satu RW. pertanyaan ini yang akan menentukan
Pengambilan sampel dari setiap RW responden memiliki pasangan atau tidak.
ditentukan dengan menggunkan rumus: Bagian kedua pertanyaan untuk
mengukur harga diri, peneliti menggunakan
instrumen yang dikembangkan oleh
Keterangan : Ronsenberg (1965) yaitu Ronsenberg Self
fi = sampling fraction cluster Esteem Scale, yaitu sebuah instrumen baku
N1 = banyaknya jumlah lansia di RW untuk mengukur tingkat harga diri dengan
skala likert. Instrumen ini berisi 10 item Tabel 3
pertanyaan. Responden diminta untuk Distribusi responden menurut umur di
menjawab: Sangat Setuju, Setuju, Tidak Kelurahan Tangkerang Selatan, RW 01,
Setuju dan Sangat Tidak Setuju. Skoring RW 05, dan RW 10 Kecamatan Bukit Raya
ditentukan berdasarkan ketentuan Kota Pekanbaru (n=121)
berikut: untuk pertanyaan nomor 1, 3, 4, 7,
dan 10, nilai jawaban Sangat Setuju=3, No. Usia n %
Setuju=2, Tidak Setuju=1, Sangat Tidak 1. 60 – 74 tahun 108 89,3
Setuju=0, sedangkan untuk pertanyaan 2. 75 – 90 tahun 13 10,7
nomor 2, 5, 6, 8, dan 9, nilai jawaban Total 121 100
Sangat Setuju=0, Setuju=1, Tidak Setuju=2,
Sangat Tidak Setuju=3. Hasil ukur skor 15 Berdasarkan tabel 3 diketahui
– 30 adalah dalam rentang (harga diri bahwa dari 121 responden lansia yang
tinggi), sedangkan hasil skor dibawah 15 diteliti, karakteristik berdasarkan usia
mengidentifikasikan adanya harga diri mayoritaas responden yaitu kelompok usia
rendah. lanjut “elderly” (60-74 tahun) dengan
Analisis ini digunakan untuk jumlah 108 orang responden (89,1%).
melihat hubungan antara data kategorik
dengan kategorik yaitu pada variabel Tabel 4
keberadaan pasangan hidup dengan harga Distribusi responden menurut agama di
diri lansia. Uji statistik yang digunakan Kelurahan Tangkerang Selatan, RW 01,
adalah uji Chi-Square. Data diolah dengan RW 05, dan RW 10 Kecamatan Bukit Raya
menggunakan perangkat lunak komputer. P Kota Pekanbaru (n=121)
> 0,05, berarti Ho gagal ditolak. Hal
No Agama n %
tersebut dapat diartikan bahwa tidak
1. Islam 118 97,5
terdapat hubungan yang bermakna antara 2. Katolik 1 0,8
variabel yang diuji. 3. Kristen protestan 2 1,7
Total 121 100
HASIL
Tabel 2 Berdasarkan tabel 4 diketahui
Distribusi responden menurut jenis kelamin bahwa dari 121 responden lansia yang
di Kelurahan Tangkerang Selatan, RW 01, diteliti, karakteristik berdasarkan agama
RW 05, dan RW 10 Kecamatan Bukit Raya mayoritas responden yaitu agama islam
Kota Pekanbaru (n=121) dengan jumlah 118 orang responden
No Jenis Kelamin n %
(97,5%).
1. Laki-laki 41 33,9
2. Perempuan 80 66,1 Tabel 5
Total 121 100 Distribusi responden menurut satus
pendidikan di Kelurahan Tangkerang
Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa Selatan, RW 01, RW 05, dan RW 10
dari 121 responden lansia yang diteliti, Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru
karakteristik berdasarkan jenis kelamin (n=121)
responden sebagian besar yaitu perempuan
No Status Pendidikan n %
dengan jumlah 80 orang responden
1. SD 48 39,7
(66,1%).
2. SMP 24 19,8
3. SMA 35 28,9
4. Perguruan tinggi 14 11,6
Total 121 100
Berdasarkan tabel 5 diketahui yaitu harga diri rendah dengan jumlah 15
bahwa dari 121 responden lansia yang orang responden (12,4%).
diteliti, karakteristik berdasarkan status
pendidikan terakhir responden yang Tabel 8
terbanyak yaitu SD dengan jumlah 48 orang Hubungan keberadaan pasangan hidup
responden (39,7%) dan status pendidikan dengan harga diri pada lansia (n=121)
terakhir yang paling sedikit yaitu perguruan
tinggi dengan jumlah 14 orang responden
(11,6%).

Tabel 6
Distribusi responden menurut status
perkawinan di Kelurahan Tangkerang
Selatan , RW 01, RW 05, dan RW 10 Tabel 8 menggambarkan hubungan
Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru antara keberadaan pasangan hidup dengan
(n=121) harga diri pada lansia. Hasil analisis
hubungan keberadaan pasangan hidup
No Status Perkawinan n %
dengan harga diri pada lansia, diperoleh
1. Menikah 66 54,5
bahwa mayoritas responden memiliki
2. Janda 45 37,2
pasangan hidup mempunyai harga diri
3. Duda 10 8,3
tinggi sebanyak 61 orang responden
Total 121 100
(92,4%) sedangkan yang tidak memiliki
pasangan hidup mempunyai harga diri
Berdasarkan tabel 6 diketahui tinggi sebanyak 45 orang responden
bahwa lansia dengan status perkawinan (81,8%).
sebagian besar yaitu berpasangan (menikah) Berdasarkan hasil uji Chi-square
berjumlah 66 orang responden (54,4%). diperoleh p value = 0,137 > α (0,05), berarti
Sedangkan yang paling sedikit yaitu Ho gagal ditolak sehingga dapat
berstatus tidak berpasangan (duda) disimpulkan tidak ada hubungan antara
sebanyak 10 orang responden (8,3%). keberadaan pasangan hidup dengan harga
diri pada lansia. Dari hasil analisis lanjut
Tabel 7 menunjukkan peluang lansia yang
Distribusi responden menurut harga diri mempunyai pasangan hidup mempunyai
lansia di di Kelurahan Tangkerang Selatan, harga diri tinggi sebanyak 2,71 kali
RW 01, RW 05, dan RW 10 Kecamatan dibandingkan lansia yang tidak memiliki
Bukit Raya Kota Pekanbaru (n=121) pasangan hidup (OR: 2,711; CI
0.867;8.481).
No Harga diri n %
1. Harga diri tinggi 106 87,6
2. Harga diri rendah 15 12,4
PEMBAHASAN
Total 121 100
1. Karakteristik responden
a. Jenis kelamin
Berdasarkan tabel 7 diketahui Berdasarkan hasil penelitian yang
bahwa dari 121 responden lansia yang dilakukan terhadap 121 orang responden,
diteliti, karakteristik responden berdasarkan diperoleh mayoritas responden berjenis
harga diri mayoritas lansia memiliki harga kelamin perempuan yaitu berjumlah 80
diri tinggi dengan jumlah 106 orang orang (66,1%). Hal ini dikarenakan yang
responden (87,6%), dan yang paling sedikit paling sering ditemui adalah lansia
perempuan dibandingkan lansia laki-laki
dan sejalan dengan data sensus badan pusat
statistik tahun 2000 menunjukkan bahwa berbagai perubahan dalam kehidupannya
jumlah penduduk lansia sebanyak seperti kehilangan pasangan hidup.
15.054.877 jiwa dengan jumlah lansia Menurut Stuart (2009) masalah-
wanita 52,42% dan pria 47,58% (Badan masalah harga diri meningkat pada lansia
Pusat Statistik, 2010). karena adanya tantangan baru dimana salah
Penelitian yang dilakukan oleh satunya kehilangan pasangan hidup.
Mandasari (2007) yang berjudul perbedaan Pandangan yang negatif terhadap dirinya
loneliness pada pria dan wanita usia lanjut akan menyebabkan penurunan harga diri
setelah mengalami kematian pasangan pada lansia.
hidup didapatkan bahwa setelah mengalami c. Agama
kematian pasangan hidup, masing-masing Berdasarkan agama yang dianut
lansia memiliki tingkat loneliness yang responden, dalam penelitian ini didapatkan
berbeda-beda, dimana wanita setelah hasil bahwa sebagian besar responden
mengalami kematian pasangan hidupnya beragama Islam berjumlah 118 orang
cenderung memilki tingkat loneliness yang responden (97,5%). Ini sejalan dengan
tinggi dibandingkan dengan pria hal ini mayoritas penduduk Indonesia adalah
disebabkan karena karakteristik wanita beragama islam. Perubahan-perubahan fisik
lebih mungkin mengakui dirinya kesepian yang terjadi pada lansia dapat menyebabkan
dan lebih membutuhkan teman untuk perubahan pada kondisi jiwanya seperti
berbagi pikiran dan pengalaman lansia yang merasanya dirinya tidak dapat
dibandingkan pria. Pria lebih banyak mengerjakan berbagai aktivitas sebaik pada
mengingkari kesepian yang dialaminya. saat muda dulu. Hal ini berkaitan erat
Salah satu alasan untuk hal tersebut adalah dengan komitmen dalam keagamaannya.
pria yang kesepian kurang dapat diterima Jika lansia dengan komitmen beragama
dan lebih sering ditolak secara sosial. yang sangat kuat maka cenderung
Menurut jenis kelamin, pria dianggap mempunyai harga diri yang paling tinggi
kurang pantas mengekspresikan emosinya, (Papalia, Olds, & Feldman, 2009).
dan pria yang menyatakan dirinya kesepian Menurut Fowler (1981, dalam
yang berarti menyimpang dari harapan Kozier, 2004) menyatakan bahwa kesehatan
tersebut. spritual dapat ada, baik pada orang yang
b. Usia beragama maupun orang yang tidak
Berdasarkan hasil penelitian beragama. Kesehatan spiritual memberikan
didapatkan bahwa mayoritas usia responden makna hidup, memberikan kekuatan pada
yaitu kelompok usia lanjut”elderly” (60-74 saat individu mengalami kesulitan dalam
tahun) sebanyak 108 responden (89,3%). kehidupannya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan jumlah d. Status Pendidikan
penduduk Indonesia pada tahun 2009 Berdasarkan pendidikan, dalam
diamana jumlah lansia terbanyak berada penelitian ini didapatkan hasil bahwa
pada rentang 60-74 tahun (U.S. Cencus responden sebagian besar responden
Bereau, International Data Base (2009, berstatus pendidikan terakhir SD yaitu
dalam Putri, Zulfitri & Karim, 2012). Masa berjumlah 48 orang responden (39,7%).
usia lanjut merupakan merupakan masa Menurut hasil Susenas Juli 2009
dimana terjadi berbagai perubahan dan memperlihatkan pendidikan penduduk
penyesuaian terhadap situasi yang lansia yang relatif masih rendah, yaitu
diadapinya, antara lain terjadinya sindrom tidak/belum pernah sekolah dan tidak tamat
lepas jabatan dan kesedihan yang SD. Penduduk lansia yang tamat SD hanya
berkepanjangan (Hernawati, 2006). sebesar 23,01 % (Komisi Nasional lanjut
Kesedihan pada lansia bisa terjadi karena usia, 2010). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar
responden yang diteliti memiliki pendidikan ditemui lebih banyak lansia yang berstatus
yang rendah. Menurut Notoatmodjo (2005), menikah.
menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat Janda dan duda lebih rentan untuk
pendidikan seseorang toleransi dan mengalami depresi dibanding pasien
pengontrolannya terhadap stessor akan geriatri dengan status menikah (Dewi, dkk.,
semakin membaik dan begitu juga 2007). Depresi merupakan akibat dari harga
sebaliknya. Dapat disimpulkan dari diri rendah pada lansia yang menjadikan
penelitian yang dilakukan, status seorang lansia itu menarik diri dari
pendidikan responden dalam kategori lingkungannya, putus asa, dan merasa tidak
rendah sehingga kemungkinan toleransi dan berdaya.
pengontrolannya terhadap stessor akan Perubahan sosial yang terjadi dan
tidak baik juga. Tetapi yang didapatkan dapat berpengaruh dalam kesejahteraan
sebagian besar responden memiliki harga sosial lansia pada masa tuanya adalah
diri yang tinggi yang menandakan keberadaan pasangan hidup. Keberadaan
pengontrolan terhadap stressor atau masalah pasangan hidup didefinisikan sebagai ada
cukup baik. atau tidaknya pasangan hidup (karena
Tingkat pendidikan juga merupakan bercerai, meninggal, maupun tidak pernah
hal terpenting dalam menghadapi masalah. menikah). Pasangan hidup memiliki fungsi
Semakin tinggi pendidikan seseorang, sebagai supporting dalam berbagai hal
semakin banyak pengalaman hidup yang misalnya emosi, problem solving,
dilaluinya, sehingga akan lebih siap dalam keuangan, maupun pengasuhan
menghadapi masalah yang terjadi. (Carstensen, Gilford, dalam Papalia, 2008).
Umumnya, lansia yang memiliki tingkat Dengan demikian keberadaan pasangan
pendidikan lebih tinggi masih dapat hidup berpengaruh terhadap diri lansia.
produktif (Tamher & Noorkasiani, 2009).
Menurut Miller (2004) mengatakan 2. Harga diri lansia
bahwa respons lansia terhadap perubahan Berdasarkan hasil penelitian yang
atau penurunan kondisi yang terjadi, sangat didapatkan, harga diri lansia yang terbanyak
dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman yaitu harga diri tinggi dengan jumlah 106
hidup, bagaimana lansia memberi arti orang responden (87,6%), dan yang paling
terhadap perubahan, sumber sosial, dan sedikit yaitu harga diri rendah dengan
pola koping yang digunakan lansia (dalam jumlah 15 orang responden (12,4%).
Zulfitri, 2011). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
e. Status perkawinan sebagian besar lansia memiliki harga diri
Berdasarkan status perkawinan, yang tinggi.
dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa Menurut Stuart (2009) masalah-
responden yang berstatus menikah lebih masalah harga diri meningkat pada lansia
banyak dari pada berstatus janda/duda karena adanya tantangan baru akibat
dengan jumlah 66 orang responden pensiun, kehilangan pasangan, dan
(54,5%). Menurut komisi nasional lanjut ketidakmampuan fisik. Pandangan negatif
usia (2010), mengatakan bahwa pada tahun dan adanya stigmatisasi pada lansia juga
2009 jumlah presentase lansia yang dapat menyebabkan penurunan harga diri.
berstatus menikah sebanyak 59,24% Dua faktor negatif lainnya yang berpotensi
sedangkan yang bercerai mati sebanyak mempengaruhi secara negatif terhadap
37,57%. Ini mendakan jumlah lansia yang harga diri lansia adalah menurunnya
berstatus menikah lebih banyak dari pada interaksi sosial dan hilangnya fungsi
lansia yang berstatus bercerai mati. Hal ini kontrol terhadap lingkungan.
sejalan dengan hasil penelitian yang Seorang lansia dengan harga diri
rendah merasa dirinya tidak punya
kemampuan, tidak nyaman dan tidak keluarga, teman, rekan kerja, dan organisasi
berharga, semua ini dimanifestasikan dalam komunitas.
bentuk antara lain kehilangan berat badan, Seseorang yang merasa kesepian
kehilangan nafsu makan, makan berlebihan, memiliki kemungkinan cukup besar untuk
konstipasi atau diare, gangguan tidur, tubuh cenderung memiliki afek negatif, karena ia
tidak terawat, menarik dari aktivitas baru, merasa dirinya diabaikan oleh orang lain,
penurunan libido, sedih dan cemas, tidak dipedulikan oleh orang lain, tidak
perasaan terisolasi, lebih suka sebagai bermakna bagi orang lain (Gunarsa, 2009).
pendengar dari pada berpartisipasi aktif, Lansia merasa tidak berguna, tidak
sensitif terhadap kritikan orang lain, berharga, merasa tidak dipedulikan
mengeluh nyeri dan pusing, merasa tidak merupakan ciri-ciri yang mengarahkan
tidak dapat melakukan hal-hal yang berarti, lansia pada harga diri yang maladaptif
merasa selalu salah dan gagal (Stuart & (rendah). Masalah-masalah harga diri
Sundeen, 1995). meningkat pada lansia karena adanya
tantangan baru yang salah satunya adalah
3. Hubungan keberadaan pasangan kehilangan pasangan (Stuart, 2009).
hidup dengan harga diri pada lansia Hasil penelitian yang didapatkan
Hasil analisa hubungan keberadaan bahwa lansia yang mempunyai pasangan
pasangan hidup dengan harga diri pada hidup maupun tidak memiliki pasangan
lansia dengan menggunakan ujia chi-square hidup sebagian besar mempunyai harga diri
menunjukkan p value sebesar 0,137 dimana yang tinggi. Ini dikarenakan sebagian besar
p value > 0.05. hal ini berarti Ho gagal dari responden yang ditemui tidak memiliki
ditolak dan dapat disimpulkan tidak ada pasangan hidup tinggal bersama
hubungan keberadaan pasangan hidup keluarganya dan masih aktif mengikuti
dengan harga diri pada lansia. kegiatan-kegiatan seusianya sehingga lansia
Penelitian yang dilakukan oleh tidak terlalu lama merasa kesepian karena
Indriana (2011) yang berjudul religiositas, ditinggal oleh pasangannya. Kesepian yang
keberadaan pasangan dan kesejahteraan dirasakan lansia jika terjadi terus menerus
sosial (Social Well Being) pada lansia akan menjadikan seorang lansia memiliki
binaan PMI cabang Semarang menyatakan harga diri yang negatif (rendah). Hal ini
bahwa keberadaan pasangan berkorelasi merupakan salah satu faktor yang
negatif atau tidak ada hubungan dengan mempengaruhi tidak adanya hubungan
kesejahteraan sosial lansia. Hal ini antara ada atau tidaknya pasangan hidup
kemungkinan terjadi karena ketiadaan dengan harga diri lansia. Dengan adanya
pasangan hidup menjadikan lansia yang dukungan sosial yang baik akan menjadikan
bersangkutan menjadikan aktivitas dan lansia merasa tidak kesepian dan merasa
bidang sosial sebagai kompesasi dari disayangi.
kejadian tersebut sehingga secara sosial Kesimpulan dari hasil penelitian
berada pada kondisi sejahtera. didapatkan bahwa lansia yang memiliki
Menurut penelitian yang dilakukan pasangan hidup maupun yang tidak
oleh Hayati (2009), mengatakan bahwa ada memiliki pasangan hidup sebagian besar
pengaruh antara dukungan sosial dengan mempunyai harga diri yang tinggi. Karena
kesepian pada lansia. Dukungan sosial harga diri tidak hanya ditentukan oleh ada
dapat berasal dari berbagai sumber seperti atau tidaknya pasangan hidup tetapi juga
pasangan hidup (suami atau istri), keluarga, bisa karena faktor lain seperti dari
teman, rekan kerja, dan organisasi dukungan sosial dari keluarga, lingkungan,
komunitas. Dapat disimpulkan bahwa teman dan juga organisasi komunitas.
dukungan sosial bukan hanya dari pasangan
hidup (suami atau istri) tetapi juga dari
KESIMPULAN DAN SARAN Dosen Departemen Jiwa Komunitas
Hasil penelitian terkait harga diri, Program Studi Ilmu Keperawatan
lansia yang memiliki pasangan hidup Universitas Riau
mayoritas mempunyai harga diri yang
positif yaitu sebanyak 61 orang responden DAFTAR PUSTAKA
(92,4%), dan yang tidak memiliki pasangan
hidup juga lebih banyak mempunyai harga Atjehpost (2012). WHO: Jumlah lansia di
diri tinggi yaitu sebanyak 45 orang dunia semakin meningkat. Diperoleh
responden (81,8%). Hasil uji chi-square tanggal 01 November 2012 dari
diperoleh tidak ada hubungan antara http://atjehpost.com/read/2012/09/1
keberadaan pasangan hidup dengan harga 0/20567/0/51/WHO-Jumlah-Lansia-
diri pada lansia (p value: 0,137). di-Dunia-Semakin-Meningkat.
Peneliti berharap kepada berbagai Badan Pusat Statistik. (2007). Jumlah
pihak untuk menindaklanjuti penelitian ini penduduk di dunia. Jakarta : BPS.
antara lain: _________________. (2012). Jumlah
1. Bagi masyarakat dan keluarga penduduk di dunia. Jakarta : BPS.
Diharapkan bagi masyarakat dan Depkes. (2012). Profil Data Kesehatan
keluarga lansia dapat tetap memberikan Indonesia Tahun 2011. Diperoleh
perhatian yang lebih serta dukungan tanggal 4 Februari 2013 dari
pada lansia sehingga lansia mempunyai http://www.depkes.go.id/downloads/
harga diri tinggi untuk tercapainya PROFIL_DATA_KESEHATAN_I
kesejahteraan dan integritas diri yang NDONESIA_TAHUN_2011.pdf.
baik dimasa tuanya. Dewi, Suzy Yusna., Danardi., Dharmono,
2. Bagi institusi pendidikan bidang Suryo., Heriawan, Czeresna. (2007)
kesehatan ; Cermin dunia kedokteran. 34(3):
Diharapkan bagi institusi pendidikan 134-9. Faktor Risiko yang Berperan
dibidang kesehatan khususnya terhadap Terjadinya Depresi pada
keperawatan gerontik, agar dapat terus Pasien Geriatri yang Dirawat di RS
mengembangkan penelitian tentang Dr. Cipto Mangunkusumo. [Versi
aspek psikologis pada lansia yang Elektronik]. Diakses pada 24
mengalami berbagai perubahan termasuk Februari 2013 dari:
keberadaan pasangan hidup. http://www.kalbe.co.id/cdk
3. Bagi penelitian selanjutnya Dinas Kesehatan Kota. (2011). Data
Diharapkan dapat melakukan Statistik Lansia. Pekanbaru : Dinkes
penelitian lebih mendalam pada lansia kota.
yang kehilangan pasangan hidup secara Gunarsa, S.D. (2009). Dari Anak sampai
metode kualitatif agar dapat menggali Usia Lanjut: Bunga Rampai
perasaan lansia secara mendalam Psikologi Perkembangan. Jakarta:
sehingga diharapkan dapat dijadikan Gunung Mulia.
sebagai acuan teori di masa yang akan Hurlock, E. (2004). Psikologi
datang. Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Indriana, Y., Desiningrum, D.R., Kristiana,
1. Wan Ismalinda, S.Kep Mahasiswa I.F. (2011). Religiolitas, keberadaan
Program Studi Ilmu Keperawatan pasangan dan kesejahteraan sosial
Universitas Riau (social well being) pada lansia
2. Ns. Fathra Annis Nauli, M.Kep., binaan PMI cabang Semarang.
Sp.Kep.J Diperoleh pada 14 November 2012
Ns. Ari Pristiana Dewi, M.Kep dari
http://www.ejournal.undip.ac.id/ind
ex.php/psikologi/article/download/2 Papalia, D.E., Olds, S.W & Feldman, R.D
900/2583. (2008). Human development (9th ed).
Keliat, B.A., Helena, N., Farida, P (2011). New York: Mc Graw Hill.
Manajemen keperawatan Papalia, D.E., Olds, S.W & Feldman, R.D
psikososial & kader kesehatan jiwa (ed.). (2009). Human development:
CMHN (Intermediate Course). perkembangan manusia. (Vol. 2).
Jakarta: EGC. Jakarta: Salemba Humanika.
Kozier, B et al. (2004). Fundamental of Rosenberg (1965). Rosenberg self esteem
Nursing Concepts, Process, and scale. Diperoleh tanggal 27 Maret
Practice (7th Canadian ed). New 2013 dari:
Jersey: Prentice Hall Inc. http://www.selfesteem2go.com/rose
Mandasari (2007). Perbedaan loneliness nberg-self-esteem-scale.html.
pada pria dan wanita usia lanjut Shackman, G. (2001). Sample size and
setelah mengalami kematian design effect. Paper Presented At The
pasangan hidup. Diperoleh pada American Statistical Association,
tanggal 12 November 2012 dari Albany.
http://www.gunadarma.ac.id/library/ Stuart, G.W & Sundeen, S.J. (1995).
articles/graduate/psychology/2007/ Principle & Practice of psychiatric
Artikel_10502248.pdf . nursing. USA: Mosby.
Maryam, R.S., Ekasari, M., Fatma., Stuart, G.W. (2009). Principles and
Rosidawati., Jubaedi, A., & prantice of psychiatric nursing. (9th
Batubara, Irwan. (2008). Mengenal ed). S. Louis Missouri: Mosby Inc.,
Usia Lanjut dan Perawatannya. an affiliate of Elsevier Inc.
Jakarta : Salemba Medika. Ulfah, N. (2009). Penduduk lansia akan
Mubarak, W. I., Santoso, B. A., Rozikin, membludak di 2040: detik Health.
K., & Patonah, S. (2006). Buku ajar Diperoleh tanggal 19 November
ilmu keperawatan komunitas 2: 2009 dari
Teori dan aplikasi dalam praktik http://health.detik.com/read/2009/08
dengan pendekatan asuhan /31/113827/1192987/763/penduduk-
keperawatan komunitas, gerontik lansia-akan-membludak-di-2040.
dan keluarga. Jakarta: Sagung Seto. Zulfitri, R. (2011). Konsep diri dan gaya
Notoatmodjo, S. (2005). Metodologi hidup lansia yang mengalami
penelitian kesehatan. Jakarta: penyakit kronis di panti sosial
Rineka Cipta. Tresna Werdha (PSTW) Khusnul
Nursalam. (2009). Konsep dan penerapan Khotimah Pekanbaru. Diperoleh
metodologi penelitian ilmu tanggal 21 Juni 2013 dari
keperawatan. Jakarta: Salemba http://ejournal.unri.ac.id/index.php/J
Medika. NI/article/view/636.