Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

STRABISMUS (ESOTROPIA)

Pembimbing : dr. Hj. Riana Azmi, Sp.M

Oleh :

Nurul Dwi Hudatullah (2013730080)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MATA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEKARWANGI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Juling (strabismus) adalah suatu nama yang diberikan untuk
ketidaksejajaran mata yang biasanya persisten atau regular. Penderita
strabismus tidak hanya terlihat penampilannya yang jelek, gangguan visual
yang berhubungan dengan juling kadang-kadang menjadi beban yang sangat
besar. Juling tidak hanya suatu cacat, tapi sering suatu gangguan visual yang
berat.(1,2)
Esotropia merupakan juling ke dalam atau strabismus konvergen
manifes dimana sumbu penglihatan mengarah ke arah nasal. Esotropia akuisita
dapat terjadi pada usia 1-8 tahun dan tidak selalu respons dengan penggunaan
kacamata jauh. Esotropia akuisita biasanya muncul usia 2-5 tahun dan sering
dihubungkan dengan penyakit penyebabnya.(3,4)
Esotropia akuisita terjadi 10,4% Dari seluruh esotropia di dunia.
Adanya kelainan organik sering menimbulkan strabismus. Hasil penelitian
akhir-akhir ini menyatakan 11,52% pasien dengan strabismus ada kelainan di
segmen posterior matanya. Diagnosis yang banyak adalah Toxoplasma
khorioretinitis, morning glory anomaly, Toxocara retinopati, retinopati
premature, dan Coats disease.(4)
Esotropia diterapi dengan non bedah dan bedah. Pengobatan non bedah
hanya untuk memperbaiki kelainan refraksi dan mengatasi ambliopianya.
Pembedahan dilakukan apabila dengan pengobatan non bedah ambliopia
masih tersisa deviasi yang cukup besar.(5)

B. Batasan Masalah
Permasalahan dalam referat ini dibatasi pada definisi, epidemiologi,
etiologi, gejala klinis, klasifikasi, diagnosis, diagnosis banding dan
penatalaksanaan esotropia.

2
C. Tujuan Penulisan
Penulisan referat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman
tentang esotropia.

D. Metode Penulisan
Metode yang di pakai adalah tinjauan kepustakaan dengan merujuk
kepada beberapa literatur berupa buku teks, jurnal, dan makalah ilmiah.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi
Anatomi dan Fisiologi Otot penggerak Bola Mata
Kedudukan bola atau posisi mata diperlukan penentuan kedudukan pergerakan
bola mata, dan 9 posisi untuk diagnosis kelainan pergerakan mata. Dikenal
beberapa bentuk kedudukan bola mata ;
1. Posisi primer, mata melihat lururs ke depan
2. Posisi sekunder, mata melihat lurus ke atas, lurus ke bawah, ke kiri dan ke
kanan
3. Posisi tertier, mata melihat ke atas kanan, ke atas kiri, ke bawah kanan dan
ke bawah kiri.
Otot luar bola mata
Pergerakan kedua bola mata dimungkinkan oleh adanya 6 pasang otot mata luar.
Pergerakan bola mata ke segala arah ini bertujuan untuk memperluas lapang
pandangan, mendapatkan penglihatan foveal dan penglihatan binokular untuk jauh
dan dekat.
Otot-otot bola mata ini mengerakan bola mata pada 3 buah sumbu pergerakan,
yaitu sumbu antero-posterior, sumbu vertikal dan sumbu nasotemporal
(horizontal).
Fungsi masing-masing otot :
- Otot rektus medius, kontraksinya akan menghasilkan aduksi atau
menggulirnya bola mata ke arah nasal dan otot ini dipersarafi oleh saraf ke
III (saraf okulomotor).
- Otot rektus lateral, kontraksinya akan menghasilkan abduksi atau
menggulirnya bola mata ke arah temporal dan otot ini dipersarafi oleh
saraf ke VI (saraf abdusen).
- Otot rektus superior, kontraksinya akan menghasilkan elevasi, aduksi dan
intorsi bola mata dan otot ini dipersarafi oleh saraf ke III (saraf
okulomotor).

4
- Otot rektus inferior, kontraksinya akan menghasilkan depresi pada
abduksi, ekstorsi dan pada abduksi, dan aduksi 23 derajat pada depresi.
Otot ini dipersarafi oleh saraf ke III.
- Otot oblik superior, kontraksinya akan menghasilkan depresi intorsi bila
berabduksi 39 derajat, depresi saat abduksi 51 derajat, dan bila sedang
depresi akan berabduksi. Otot ini yang dipersarafi saraf ke IV (saraf
troklear).
- Oblik inferior, dengan aksi primernya ekstorsi dalam abduksi sekunder
oblik inferior adalah elevasi dalan aduksi dan abduksi dalam elevasi. M.
Oblik inferior dipersarafi saraf ke III.
Demikian kesimpulan dapat diuraikan sebagai ;
- Rektus medius ; aksi aduksi
- Rektus lateralis ; aksi abduksi.
- Rektus superior ; aksi primer ; - elevasi dalam abduksi. Aksi sekunder ;
intorsi dalam aduksi dan aduksi dalam elevasi
- Rektus inferior, aksi primer ; - depresi pada abduksi. Aksi sekunder ;
ekstrosi pada aduksi dan aduksi pada depresi.
- Oblik superior, aksi primer ; - intorsi pada abduksi. Aksi sekunder ;
depresi dalam aduksi dan abduksi dalam depresi
- Oblik inferior, aksi primer ; - ekstorsi dalam abduksi. Aksi sekunder ;
elevasi dalam aduksi dan abduksi dalam elevasi.
Kedua sumbu penglihatan dipertahankan lurus dan sejajar dengan suatu
refleks. Bila refleks ini tidak dapat dipertahankan maka akan terdapat juling.
Juling adalah satu keadaan dimana kedudukan bola amata yang tidak normal.
Yang dimaksdu dengan sumbu penglihatan adalah garis yang menghubungkan
titik nodal dan fovea sentral dan garis yang menghubungkan titik fiksasi,
sentral pupil dan fovea sentral. Strabismus adalah suatu keadaan dimana
kedudukan kbola mata tidak kesatu arah. Pada strabismus sumbu bola mata
tidak berpotongan pada satu titik benda yang dilihat.
Faal penglihatan yang normal adalah apapbila bayangan benda
yang dilihat kedua mata dapat diterima dengan ketajaman yang sama dan
kemudian secara serentak dikirim ke susunan saraf pusat untuk diolah

5
menjadi sensasi penglihatan tunggall. Mata akan melakukan gerakan
konvergensi dan divergensi untuk dapat melihat bersama serentak pada
kedua mata. Pasien dengan juling akan mengeluh mata lelah atau
astenopia, penglihatan kurang pada satu mata, lihat ganda atau diplopia,
dan sering menututp sebelah mata.
Penyulit supresi dini yang terjadi adalah terjadinya ambliopia dan
fiksasi eksternal.

B. Definisi
Strabismus atau juling merupakan keadaan tidak sejajarnya kedudukan
kedua bola mata karena tidak normal penglihatan binokuler atau anomali kontrol
neuromuskuler gerakan okuler. Strabismus dapat horizontal, vertikal, torsional,
atau kombinasi Dari ketiganya.(1,2,5)
Esotropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata
dimana salah satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu
penglihatan lainnya menyimpang pada bidang horizontal ke arah medial.(2,5)
Esotropia adalah jenis strabismus yang paling sering ditemukan.
Strabismus ini dibagi menjadi dua tipe : paretik (akibat paresis atau paralysis satu
atau lebih otot ekstraokular) dan nonparetik (komitan). Esotropia nonparetik
adalah tipe tersering pada bayi dan anak. Tipe ini dapat akomodatif,
nonakomodatif, atau akomodatif parsial. Strabismus paretik jarang dijumpai pada
anak tetapi merupakan penyebab tersering kasus baru strabismus pada orang
dewasa. Esotropia akuisita pada orang dewasa umumnya paretik yang disebabkan
oleh kelemahan otot rektus lateral akibat cedera saraf kranial keenam.(4)

B. Epidemiologi
Esotropia akuisita dapat terjadi pada usia 1-8 tahun dan tidak selalu
respons dengan penggunaan kacamata jauh. Esotropia akuisita biasanya muncul
usia 2-5 tahun dan sering dihubungkan dengan penyakit penyebabnya.(3,4)
Esotropia akuisita terjadi 10,4% Dari seluruh esotropia di dunia. Adanya
kelainan organik sering menimbulkan strabismus. Hasil penelitian akhir-akhir ini
menyatakan 11,52% pasien dengan strabismus ada kelainan di segmen posterior

6
matanya. Diagnosis yang banyak adalah Toxoplasma khorioretinitis, morning
glory anomaly, Toxocara retinopati, retinopati premature, dan Coats disease.(4)

C. Etiologi
Penyebab Esotropia adalah(3,6) :
 Faktor refleks dekat, akomodatif esotropia
 Hipertoni rektus medius konginetal
 Hipotoni rektus lateralis akuisita
 Penurunan fungsi penglihatan satu mata pada bayi dan anak

D. Gejala Klinis
a. Gejala Subjektif : mata juling ke dalam, bisa satu mata, bisa dua mata
bergantian(6)
b. Gejala objektif : posisi bola mata menyimpang ke arah nasal(6)

Gambar 1. Gambar Esotropia4


E. Klasifikasi
Esotropia nonakomodatif
a. Esotropia infantilis (kongenital)
"Bawaan" berarti dari lahir dan, menggunakan definisi yang ketat,
sebagian besar bayi dilahirkan dengan mata yang tidak selaras saat lahir.
Hanya 23% bayi dilahirkan dengan mata lurus. Pada kebanyakan kasus, satu
mata atau yang lain benar-benar berubah ke luar selama periode neonatal.
Dalam tiga bulan pertama mata secara bertahap datang ke penyelarasan

7
konsisten lebih sebagai koordinasi dari dua mata bersama sebagai sebuah tim
berkembang.
Hal ini umum bagi bayi untuk tampil seolah-olah mereka telah
esotropia, atau berbelok ke dalam mata, karena jembatan hidung belum
sepenuhnya dikembangkan. Ini penampilan palsu atau simulasi dari balik batin
dikenal sebagai epicanthus. Selama bayi tumbuh, dan jembatan menyempit
sehingga sclera terlihat di sisi dalam, mata akan tampak lebih normal.(4,7)
Esotropia bawaan yang benar adalah berbalik ke dalam dengan jumlah
yang besar, dan terjadi pada anak-anak dengan jumlah sedikit, tetapi bayi tidak
akan tumbuh dari giliran ini. Esotropia kongenital biasanya muncul antara usia
2 dan 4 bulan(4,7)
Hampir separuh dari semua kasus esotropia termasuk dalam kelompok
ini. Pada sebagian besar kasus, penyebabnya tidak jelas. Deviasi konvergen
telah bermanifestasi pada usia 6 bulan. Deviasinya bersifat comitant, yakni
sudut deviasi kira-kira sama dalam semua arahpandangan dan biasanya tidak
dipengaruhi akomodasi. Dengan demikian, penyebab tidak berkaitan dengan
kesalahan refraksi atau bergantung pada paresis otot ekstraokular. Sebagian
besar kasus mungkin disebabkan oleh gangguan kontrol persarafan, yang
mengenai jalur supranukleus untuk konvergensi dan divergensi serta
hubungan sarafnya ke fasikulus longitudinal medialis. Sebagian kecil kasus
disebabkan oleh variasi anatomik misalanya anomali insersi otot-otot yang
bekerja horizontal, ligamentum penahan abnormal atau berbagai kelainan fasia
lainya(2).
Juga terdapat banyak bukti bahwa strabismus dapat diturunkan secara
genetis. Esoforia dan esotropia sering diwariskan sebagai sifat dominan
autosom. Saudara kandung mungkin mengalami deviasi mata yang sama.
Sering terdapat unsur akomodatif pada esotropia comitant, yakni koreksi
kesalahan refraksi hiperopik berkurang tetapi tidak menghilangkan semua
deviasi(2).
Deviasi itu sendiri sering besar (≥40o) dan biasanya comitant. Abduksi
mungkin terbatas, tetapi dapat terjadi. Setelah usia 18 bulan, dapat diamati ada
deviasi vertikal. Yakni, kerja berlebihan otot-otot oblikus atau disosiasi

8
deviasi vertikal. Mungkin dijumpai nistagmus, mansfestasi maupun laten.
Kesalahan refraksi yang paling sering dijumpai adalah hipertropia sedang(2).
Mata yang tampak lurus adalah mata yang digunakan untuk
melakukan fiksasi. Hampir selalu, mata tersebut adalah mata yang memiliki
penglihatan yang lebih baik atau kesalahan refraksi yang lebih rendah (atau
keduanya). Apabila terdapat anisometropia, mungkin juga terdapat ambliopia.
Apabila dalam waktu yang berlaianan mata yang digunakan untuk fiksasi
berbeda-beda, pasien dikatakan memperlihatkan fiksasi berselang seling
spontan; dalam hal ini, penglihatan kedua mata mungkin samaatau hampi
sama. Pada sebagian kasus, preferensi mata ditentukan oleh arah pandangan.
Misalnya, pada esotropia skala besar, terdapat kecenderungan pasien
menggunakan mata kanan sewaktu memandang ke kiri dan mata kiri untuk
memandang ke kanan (fiksasi silang)(2)
Esotropia infantilis diterapi secara bedah. Terapi awal non bedah dapat
diindikasikan untuk memastikan hasil terbaik yang dapat dicapai. Perlu
ditekankan bahwa amblioplia harus diterapi secara penuh sebelum dilakukan
tindakan bedah. Pada kesalahan refraksi hipertropik 3 D atau lebih harus
dicoba penggunaan kacamata untuk menentukan apakah penurunan
akomodasi menimbulkan efek positif terhadap deviasi. Sebagai alternatif
untuk penggunaan kacamata, dapat digunakan miotika(2).
Tindakan bedah biasanya diindikasikan setelah terapi medis dan terapi
ambliopia dilakukan. Setelah dicapai perbaikan terukur, tindakan bedah harus
segera dilakukan karena terdapat banyak bukti bahwa semakin cepat mata
disejajarkan hasil sensorik yang diperoleh akan lebih baik. Banyak prosedur
yang telah dianjurkan, tetapi 2 yang paling populer, yakni(2):
1. Pelemahan otot rektus medialis
2. Reseksi otot rektus medialis dan reseksi otot lateralis mata yang sama
b. Esotropia nonakomodatif yang didapat
Jenis esotropia ini timbul pada anak, biasanya setelah usia 2 tahun.
Hanya sedikit atau tidak terdapat faktor akomodatif. Sudut strabismus sering
lebih kecil daripada yang terdapat pada esotropia infantilis tetapi dapat
meningkat seiring dengan waktu. Di luar hal itu, temuan klinis sama seperti

9
yang terdapat pada esotropia konginetal. Terapi adalah tindakan bedah dan
mengikuti petunjuk yang samaseperti untuk esotropia konginetal2.
Esotropia akomodatif
Esotropia akomodatif terjadi apabila terdapat mekanisme akomodasi
fisiologik normal disertai respon konvergensi berlebihan tetapi divergensi
fusional yang relatif inufisiensi untuk menahan mata tetap lurus. Tetapi dua
mekanisme patologik yang bekerja, bersama-sama atau tersendiri(2) :
1. Hiperopia yang cukup tinggi, yang memerlukan banyak
akomodasi(dan dengan demikian konvergensi) untuk memperjelas
bayangan sehingga timbul esotropia
2. Rasio KA/A yang tinggi, yang disertai hiperopia ringan sampai sedang
a. Esotropia akomodatif hiperopia
Esotropia akomodatif akibat hiperopia biasanya mulai timbul
pada usia 2-3 bulan tetapi dapat muncul lebih dini atau lambat. Sebelum
terapi, deviasi bervariasi. Kacamata disertai refraksi sikloplegik penuh
memungkinkan mata sejajar.
b. Esotropia akomodatif akiabat rasio KA/A yang tinggi
Pada esotropia akomodatif akibat rasio konvergensi akomodatif
terhadap akomodasi (rasio KA/A) yang tinggi, deviasi lebih besar pada
penglihatan dekat daripada penglihatan jauh. Kesalahan refraksinya
adalah hiperopia. Terapi adalah kacamata dengan refraksi siklopegik
penuh ditambah bifokal atau miotik untuk menghilangkan deviasi
berlebihan pada penglihatan dekat(2).

Esotropia Akomodasi Parsial


Dapat terjadi suatu mekanisme campuran , sebagian
ketidakseimbangan otot dan sebagian ketidakseimbangan
akomodasi/konvergensi. Walaupun terapi akomodasi menurunkan sudut
deviasi, namu esotropianya sendiri tidak menghilang. Tindakan bedah
dilakukan untuk komponen nonakomodatif deviasi dengan pilihan
posedur bedah seperti dijelaskan untuk esoropia infantilis(2).

10
Esotropia paretik (Incomitant) Kelumpuhan Abducens
Pada strabismus incomitant, selalu terdapat satu atau lebih otot
ekstraokular yang paretik. Pada kasus esotropia incomitant, paresis
biasanya mengenai satu atau kedua otot rectus lateralis, biasanya akibat
kelumpuhan saraf abducens. Kasus-kasus ini sering dijumpai pada orang
dewasa yang mengidap hipertensi sistemik atau diabetes, tetapi
kelumpuhan saraf abducens kadang-kadang dapat merupakan tanda awal
suatu tumor atau peradangan yang mengenai susunan saraf pusat. Karena
itu, tanda-tanda neurologik terkait sangat penting diperhatikan. Trauma
kepala adalah penyebab lain kelumpuhan abducens yang terjadi(2).
Esotropia incomitan juga dijumpai pada bayi dan anak, tetapi
jauh lebih jarang dibandingkan esotropia comitant. Kasus-kasus ini
terjadi akibat cedera persalinan yang mengenai otot secara langsung,
akibat cedera pada saraf, atau tang lebih jarang, akibat anomali
konginetal otot rektus lateralis atau perlekatan fasianya(2)
Apabila otot rektus lateralis mengalami paralisis total, mata tidak
dapat berabduksi melewati garis tengah. Gambaran khas esotropia lebih
besar pada jarak jauh daripada jarak dekat dan lebih besar pada sisi yang
terkena. Paresis otot rektus lateralis kanan menyebabkan esotropia yang
menjadi lebih besar sewaktu memandang ke kanan dan, apabila
paresisnya ringan sedikit atau tidak terjadi deviasi sewaktu memandang
ke kiri(2).
Apabila dalam 6-8 minggu setelah onset paresis tidak terdapat
tanda-tanda perbaikan, dapat diberikan suntikan toksin botulinum tipe A
ke dalam otot rektus medialis antagonis yang mungkin bermanfaat atau
bahkan menyembuhkan pada kasus-kasus ringan. Pada kasus yang lebih
parah, penyuntikan akan memperkecil kemungkinan kontraktur otot
antagonis. Apabila tidak timbul perbaikan setelah 6 bulan, perlu
dilakukan tindakan bedah. Apabila sedikit atau tidak terdapat kontraktur
otot rektus medialis, diindikasikan tindakan rersesi otot tersebut disertai
reseksi besar otot rektus lateralis yang paresis. Untuk paralisis abduksi
total, insersi otot rektus inferior dan superior dapat diubah ke insersi otot

11
rektus lateralis, dan otot rektus medialis dapat diresesi atau dilumpuhkan
sementara dengan toksin Bottulinum A. Penggunaan jahitan yang dapat
disesuaikan memungkinkan bedah resesi otot dilakukan secara halus
sehingga diperoleh daerah penglihatan binokular tunggal terluas.
Abduksi otot yang paretik akan selalu terbatas(2).

F. Diagnosis
 Anamnesis
Pertanyaan yang lengkap dan cermat tentang riwayat sakit sangat
membantu dalam menentukan, diagnosis, prognosis dan pengobatan
strabismus. Dalam hal ini perlu ditanyakan(5) :

a. Riwayat keluarga : biasanya strabismus diturunkan secara autosomal


dominan.

b. Umur pada saat timbulnya strabismus : karena makin awal timbulnya


strabismus makin jelek prognosisnya.

c. Timbulnya strabismus : mendadak, bertahap, atau berhubungan dengan


penyakit sistemik.

d. Jenis deviasi : bagaimana pasien menyadari strabismusnya? Bagaimana


penglihatan dekatnya? Kapan matanya terasa lelah? Apakah pasien
menutup matanya jika terkena sinar matahari? Apakah matanya selalu
dalam keadaan lurus setiap saat? Apakah derajat deviasinya tetap setiap
saat?

e. Fiksasi : apakah selalu berdeviasi satu mata atau bergantian?


 Inspeksi
Dengan inspeksi sudah dapat ditentukan apakah strabismusnya konstan atau
hilang timbul (intermitten), berganti-ganti (alternan) atau menetap
(nonalternan),dan berubah-ubah (variable) atau tetap (konstan). Harus
diperhatikan pula ptosis terkait dan posisi kepala yang abnormal. Derajat
fiksasi masing-masing secara terpisah atau bersama-sama. Adanya nistagmus
menunjukkan bahwa fiksasinya buruk dan tajam penglihatannya menurun.(5)

12
 Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan
Tajam penglihatannya harus diperiksa walaupun secara kasar untuk
membandingkan tajam penglihatan kedua mata. Kedua mata diperiksa sendiri-
sendiri, karena dengan uji binokular tidak akan bisa diketahui kekaburan pada
satu mata. Untuk anak-anak yang masih sangat muda, yang bisa dilakukan
kadang-kadang hanya berusaha agar mata bisa memfiksasi atau mengikuti
sasaran (target). Sasaran dibuat sekecil mungkin disesuaikan dengan usia,
perhatian, dan tingkat kecerdasannya. Jika dengan menutup satu mata anak
tersebut melawan, sedang dengan menutup mata yang lain tidak melawan,
maka mata yang penglihatannya jelek adalah yang ditutup tanpa perlawanan.
Pada uji titik (dot test), anak yang diperiksa disuruh menaruhkan jari-jarinya
pada sebuah titik yang ukurannya telah dikalibrasi. Ini adalah uji kuantitatif
paling awal yang dikerjakan secara berkala (dimulai pada umur 2-2 ½ tahun).
Pada umur 2 ½ - 3 tahun anak sudah mampu mengenali dan mengerjakan uji
gambar-gambar kecil (kartu Allen). Umumnya anak umur 3 tahun sudah bisa
melakukan permainan “E” (E-game) yaitu dengan kata snellen konvensional
dengan huruf E yang kakinya ke segala arah dan sianak menunjukkan arah kaki
huruf E tersebut dengan jari telunjuknya.(5)
Tajam penglihatan dan kemampuan visual bayi lainnya dapat ditentukan
dengan metode melihat apa yang disukai anak (preferential looking method),
yang didasarkan pada kebiasaan bayi yang lebih menyukai melihat lapangan
yang telah dipola (diberi corak) atau melihat lapangan yang seragam.
 Pemeriksaan Kelainan Refraksi
Memeriksa kelainan refraksi dengan retinoskop memakai sikloplegik adalah
sangat penting. Obat baku yang digunakan agar sikloplegia sempurna adalah
atropine. Bisa diberikan dalam bentuk tetes mata atau salep mata 0,5 % atau 1
% beberapa kali sehari selama beberapa hari. Pemberian atropine pada anak-
anak usia sekolah sangat tidak disukai karena sikloplegianya berlangsung lama
sampai 2 minggu sehingga mengganggu pelajaran sekolah. Pada semua umur
bisa digunakan homatropin 5 % atau siklopentolat 1 atau 2 % dan hasilnya
baik.(5,7)
 Menentukan Besar Sudut Deviasi

13
A. Uji Penutupan(5)
- Uji tutup mata
Uji ini sering dipergunakan untuk mengetahui adanya tropia atau foria.
Uji pemeriksaan ini dilakukan untutk pemeriksaan jauh dan dekat, dan
dilakukan dengan menyuruh mata berfiksasi pada satu obyek. Bila telah
terjadi fiksasi kedua mata maka kiri ditutup dengan lempeng penutup. di
dalam keadaan ini mungkin akan terjadi :
3. Mata kanan bergerak berarti mata tersebut mempunyai kejulingan yang
manifes. Bila mata kanan bergerak ke nasal berarti mata kanan juling
keluar atau eksotropia. Bila mata kanan bergerak ke temporal berarti
mata kanan juling ke dalam atau esotropia.
4. Mata kanan bergoyang yang berarti mata tersebut mungkin ambliopia
atau tidak dapat berfiksasi.
5. Mata kanan tidak bergerak sama sekali, yang berarti bahwa mata kanan
berkedudukan normal, lurus atau telah berfiksasi.
- Uji membuka menutup
Uji ini sama dengan uji tutup mata, dimana yang dilihat adalah mata
yang ditutup. Mata yang ditutup dan diganggu fusinya sehingga mata yang
berbakat menjadi juling akan menggulir. Bila mata tersebut ditutup dan
dibuka akan terlihat pergerakan mata tersebut. Pada keadaan ini berarti
mata ini mengalami foria atau juling atau berubah kedudukan bila mata
ditutup.
- Uji penutupan berselang seling
Bila satu mata ditutup dan kemudian mata yang lain maka bila kedua
mata berfiksasi normal maka mata yang dibuka tidak bergerak. Bila terjadi
pergerakan bola mata yang baru dibuka berarti terdapat foria atau tropia.



14

B. Uji Objektif
Uji prisma dan uji tutup bersifat objektif, karena tidak diperlukan
laporan –laporan pengamatan sensorik dari pasien. Namun diperlukan
kerjasama dan tajam penglihatan yang utuh. Uji batang Maddox bersifat
subjektif, Karena nilai akhir pelaporan berdasarkan laporan pengamatan
sensorik pasien.
Pada kasus dimana pasien dalam keadaan bingung atau tidak
kooperatif, mungkin tidak respon terhadap uji ini. Cara-cara penentuan
klinis posisi mata yang tidak memerlukan pengamatan sensorik pasien (uji
objektif) jauh kurang akurat, walaupun kadang-kadang masih bermanfaat.
Terdapat dua metode yang sering digunakan yang bergantung pada
pengamatan posisi reflek cahaya oleh kornea, yakni (5):

1. Metode Hirschberg
Pasien disuruh melihat sumber cahaya pada jarak 33 cm kemudian lihat
pantulan cahaya pada kedua kornea mata.
1) Bila letaknya ditengah berarti tidak ada deviasi
2) Bila letaknya dipinggir pupil maka deviasinya 15 º
3) Bila letaknya dipertengahan antara pupil dan limbus maka
deviasinya 30 º
4) Bila letaknya dilimbus maka deviasinya 45 º

2. Metode Refleksi Prisma (modifikasi uji krimsky)


Penderita memfiksasi pada cahaya dengan jarak sembarangan. Prisma
ditaruh didepan mata sedang deviasi. Kekuatan prisma yang diperlukan
agar refleksi kornea pada mata yang juling berada ditengah-tengah
pupil menunjukkan besarnya sudut deviasi.
 Duksi (rotasi monokular)
Satu mata ditutup dan mata yang lain mengikuti cahaya yang digerakkan
kesegala arah pandangan, sehingga adanya kelemahan rotasi dapat diketahui.

15
Kelemahan seperti ini bisa karena paralisis otot atau karena kelainan mekanik
anatomik.
 Versi (gerakan Konjugasi Okular)
Uji untuk Versi dikerjakan dengan mata mengikuti gerakan cahaya pada
jarak 33 cm dalam 9 posisi diagnosis primer – lurus kedepan; sekunder –
kekanan, kekiri keatas dan kebawah; dan tersier – keatas dan kekanan, kebawah
dan kekanan, keatas dan kekiri, dan kebawah dan kekiri. Rotasi satu mata yang
nyata dan relative terhadap mata yang lainnya dinyatakan sebagai kerja-lebih
(overreaction) dan kerja –kurang (underreaction). Konsensus : pada posisi tersier
otot-otot obliq dianggap bekerja-lebih atau bekerja-kurang berkaitan dengan otot-
otot rektus pasangannya. Fiksasi pada lapangan kerja otot paretik menyebabkan
kerja-lebih otot pasangannya, karena diperlukan rangsangan yang lebih besar
untuk berkontraksi. Sebaliknya, fiksasi oleh mata yang normal akan
menyebabkan kerja-kurang pada otot yang paretik.
 Pemeriksaan Sensorik
1) Uji stereopsis
Digunakan kaca sasaran Polaroid untuk memilahkan rangsangan. Sasaran
yang dipantau secara monokular hampir-hampir tidak bisa dilihat
kedalamannya. Stereogram titik-titik acak (random stereogram) tidak
memiliki petunjuk kedalaman bila dilihat monocular. Lapangan titik-titik
secara acak (A field of random dots) terlihat oleh mata masing-masing tetapi
hubungan titik ke titik yang sesuai antara 2 sasaran adalah sedemikian rupa
sehingga bila ada stereopsis akan tampak suatu bentuk yang terlihat
stereoskopis(5).
2) Uji supresi
Adanya supresi bisa ditunjukkan dengan uji 4 titik Worth. Gagang pencoba
dengan 4 lensa merah didepan satu mata dan lensa hijau didepan mata yang
lain. Ditunjukkan senter dengan bulatan-bulatan merah, hijau dan putih.
Bulatan-bulatan berwarna ini adalah tanda untuk persepsi mata masing-
masing dan bulatan putih yang bisa dilihat kedua mata dapat menunjukkan
adanya diplopia. Pemilahan bulatan-bulatan dan jaraknya Dari mata,

16
menentukan luasnya retina yang diperiksa. Daerah fovea dan daerah perifer
dapat diperiksa dengan jarak dekat atau jauh(5).
3) Uji kelainan Korespondensi retina
Kelainan korespondensi retina dapat ditentukan dengan dua cara(5) :
1. Dengan menunjukkan bahwa salah satu fovea tidak tegak lurus
didepannya
2. Dengan menunjukkan bahwa titik retina perifer pada satu mata dan fovea
mata lainnya mempunyai arah yang bersamaan.
4) Uji kaca beralur Bagolini
Uji ini merupakan uji metode yang kedua. Kaca bening dengan alur-
alur halus yang arahnya berbeda tiap-tiap mata ditempatkan didepan mata.
Kondisi uji sedapat mungkin mendekati penglihatan normal. Terlihat sebuah
titik sumber cahaya dan seberkas sinar tegak lurus pada arah alur. Jika unsur
retina perifer mata yang berdeviasi menunjuk berkas cahaya melalui titik
sumber cahaya maka berarti ada kelainan korespondensi retina(5).

G. Diagnosis Banding
Pseudosetropia karena epikantus yang lebar(4)

H. Penatalaksanaan
Tujuan utama pengobatannya adalah mengembalikan efek sensorik yang
hilang karena strabismus (ambliopia, supresi, dan hilangnya stereopsis), dan
mempertahankan mata yang telah membaik dan telah diluruskan baik secara
bedah maupun non bedah. Pada orang dewasa dengan strabismus akuisita,
tujuannya adalah mengurangi deviasi dan memperbaiki penglihatan binokular
tunggal.
 Pengobatan non-bedah
a. Terapi oklusi : mata yang sehat ditutup dan diharuskan melihat dengan
mata yang ambliop
b. Kacamata : perangkat optik terpenting dalam pengobatan strabismus adalah
kacamata yang tepat. Bayangan yang jelas di retina karena pemakaian
kacamata memungkinkan mekanisme fusi bekerja sampai maksimal. Jika

17
ada hipermetropia tinggi dan esotropia, maka esotropianya mungkin karena
hipermetropia tersebut (esotropia akomodatif refraktif).
c. Obat farmakologik
1. Sikloplegik – Sikloplegik melumpuhkan otot siliar dengan cara
menghalangi kerja asetilkolin ditempat hubungan neuromuskular dan
dengan demikian mencegah akomodasi. Sikloplegik yang digunakan
adalah tetes mata atau salep mata atropin biasanya dengan konsentrasi
0,5% (anak) dan 1% (dewasa).(4)
2. Miotik – Miotik digunakan untuk mengurangi konvergensi yang
berlebihan pada esotropia dekat, yang dikenal sebagai rasio konvergensi
akomodatif dan akomodasi (rasio KA/A) yang tinggi. Obat yang biasa
digunakan adalah ekotiofat iodine (Phospholine iodide) atau isoflurat
(Floropryl), yang keduanya membuat asetikolinesterase pada hubungan
neuromuskular menjadi tidak aktif, dan karenanya meninggikan efek
impuls saraf.(5)
3. Toksin Botulinum – Suntikan toksin Botulinum A ke dalam otot
3ekstraokular menyebabkan paralisis otot tersebut yang kedalaman dan
lamanya tergantung dosisnya.
 Pengobatan Bedah
Memilih otot yang perlu dikoreksi : tergantung pengukuran deviasi pada
berbagai arah pandangan. Biasanya yang diukur adalah jauh dan dekat pada
posisi primer, arah pandangan sekunder untuk jauh, dan arah pandangan
tersier untuk dekat, serta pandangan lateral ke kedua sisi untuk dekat(4).
Reseksi dan resesi – Cara yang paling sederhana adalah memperkuat
dan memperlemah. Memperkuat otot dilakukan dengan cara yang disebut
reseksi. Otot dilepaskan dari mata, ditarik sepanjang ukuran tertentu dan
kelebihan panjang otot dipotong dan ujungnya dijahit kembali pada bola mata,
biasanya pada insersi asal. Resesi adalah cara melemahkan otot yang baku.
Otot dilepaskan dari bola mata, dibebaskan dari perlekatan-perlekatan fasial,
dan dibiarkan menjadi retraksi. Kemudian dijahit kembali pada bola mata
dibelakang insersi asal pada jarak yang telah ditentukan.(4)

18
BAB III

3.1 Kesimpulan
1. Esotropia adalah suatu penyimpangan sumbu penglihatan yang nyata dimana
salah satu sumbu penglihatan menuju titik fiksasi sedangkan sumbu penglihatan
lainnya menyimpang pada bidang horizontal ke arah medial.
2. Penyebab Esotropia adalah faktor refleks dekat, akomodatif esotropia, hipertoni
rektus medius kongenetal, hipotoni rektus lateralis akuisita, penurunan fungsi
penglihatan satu mata pada bayi dan anak
3. Gejala klinis esotropia adalah posisi bola mata menyimpang ke arah nasal.
4. Diagnosis dapat ditegakan dengan anamnesa, inspeksi, pemeriksaan ketajaman
penglihatan, pemeriksaan kelainan refraksi, mengukur sudut deviasi.
5. Diagnosis banding yaitu Pseudosetropia.
6. Penatalaksanaan esotropia yaitu pengobatan non bedah dan bedah.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Dharma S, Safwan. Juling dan hubungannya dengan berbagai macam


gangguan penglihatan pada anak. Dalam : The 4th Sumatera
Ophthalmology Meeting. Padang, 4-7 Januari 2006

2. Vaughan D, Asbury T. 1992. Oftalmologi Umum. Jilid 2. Edisi II.


Yogyakarta: Widya Medika

3. Ilyas S, Mailangkay, Hilaman T dkk. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga.


Jakarta : Sangung Seto, 2009.

4. Pascotto A. Acquired esotropia. E-Medicine. Internet file :


http://www.emedicine.com/OPH/topic 145.htm
5. Rusdianto. Diagnosis dan manajemen mikrostrabismus. The 4th Sumatera
Ophthalmology Meeting. Padang, 4-7 Januari 2006
6. Hamidah, Djiwatmo, Indriaswati L. Pedoman Diagnosis dan Terapi.
Surabaya: SMF Ilmu Penyakit Mata RSUD Dr Soetomo, 2006

7. American Academy of Ophtalmology, Pediatric Ophtalmology and


Strabismus. Section 6. San Fransisco: American Academy of
Ophtalmology, 2008.

20