Anda di halaman 1dari 13

PENGUKURAN DIAMETER POHON

(Laporan Praktikum Biometrika Hutan)

Oleh
Yoshua Gdemakarti P.
1314151054

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diameter adalah sebuah dimensi dasar dari sebuah lingkaran. Diameter batang

didefinisikan sebagai panjang garis antara dua buah titik pada lingkaran di

sekeliling batang yang melalui titik pusat (sumbu) batang.

Diameter batang adalah dimensi pohon yang paling mudah diperoleh/diukur

terutama pada pohon bagian bawah. Tetapi oleh karena bentuk batang yang pada

umumnya semakin mengecil ke ujung atas (taper), maka dari sebuah pohon akan

dapat diperoleh tak hingga banyaknya nilai diameter batang sesuai banyaknya titik

dari pangkal batang hingga ke ujung batang. Oleh karena itulah perlu ditetapkan

letak pengukuran diameter batang yang akan menjadi ciri karakteristik sebuah

pohon. Atas dasar itu ditetapkanlah diameter setinggi dada atau DBH (diameter at

breast height) sebagai standar pengukuran diameter batang. Sekurangnya ada tiga

alasan mengapa diameter diukur pada ketinggian setinggi dada, : (1) alasan

kepraktisan dan kenyamanan saat mengukur, yaitu pengukuran mudah dilakukan

tanpa harus membungkuk atau berjingkat ; (2) pada kebanyakan jenis pohon

ketinggian setinggi dada bebas dari pengaruh banir ; (3) dbh pada umumnya

memiliki hubungan yang cukup erat dengan peubah-peubah (dimensi) pohon

lainnya.
Pengukuran merupakan hal yang paling penting dilakukan, karena dapat

mengetahui atau menduga potensi suatu tegakan ataupun suatu komunitas

tertentu. Dalam memperoleh data pengukuran, jenis dan cara penggunaan alat

merupakan faktor penentu utama yang mempengaruhi keotentikan data yang

diperoleh. Semakin bagus alat yang dipergunakan maka semakin baik pula hasil

pengukuran yang akan didapat. Demikian pula halnya dengan kemampuan

pengamat dalam pengukuran, semakin baik dalam penggunaan suatu alat maka

semakin baik pula data yang dikumpulkan.

1.2.Tujuan praktikum

Adapun tujuan prakitikum dari praktikum ini adalah sebagai berikut .

1. Mahasiswa mampu menggunakan alat pengukur diameter pohon.

2. Mahasiswa mengetahui diameter pohon yang diukur.

3. Mahasiswa mengetahui perbandingan data diameter dan pengukuran

diameter pohon
II. TINJAUAN PUSTAKA

Diameter batang adalah dimensi pohon yang paling mudah diperoleh/diukur

terutama pada pohon bagian bawah. Tetapi oleh karena bentuk batang yang pada

umumnya semakin mengecil ke ujung atas (taper), maka dari sebuah pohon akan

dapat diperoleh tak hingga banyaknya nilai diameter batang sesuai banyaknya

titik dari pangkal batang hingga ke ujung batang. Oleh karena itulah perlu

ditetapkan letak pengukuran diameter batang yang akan menjadi ciri karakteristik

sebuah pohon. Atas dasar itu ditetapkanlah diameter setinggi dada

atau dbh (diameter at breast height) sebagai standar pengukuran diameter

batang.Sekurangnya ada tiga alasan mengapa diameter diukur pada ketinggian

setinggi dada, : (1) alasan kepraktisan dan kenyamanan saat mengukur, yaitu

pengukuran mudah dilakukan tanpa harus membungkuk atau berjingkat ; (2)

pada kebanyakan jenis pohon ketinggian setinggi dada bebas dari pengaruh banir

; (3) dbh pada umumnya memiliki hubungan yang cukup erat dengan peubah-

peubah (dimensi) pohon lainnya.

Pengukuran merupakan hal yang paling penting dilakukan, karena dapat

mengetahui atau menduga potensi suatu tegakan ataupun suatu komunitas

tertentu. Dalam memperoleh data pengukuran, jenis dan cara penggunaan alat

merupakan faktor penentu utama yang mempengaruhi keotentikan data yang


diperoleh. Semakin bagus alat yang dipergunakan maka semakin baik pula hasil

pengukuran yang akan didapat. Demikian pula halnya dengan kemampuan

pengamat dalam pengukuran, semakin baik dalam penggunaan suatu alat maka

semakin baik pula data yang dikumpulkan.

Diameter pohon merupakan salah satu parameter pohon yang mudah untuk

diukur. Dengan pengukuran diameter kita dapat mengetahui potensi tegakan suatu

komunitas hutan. Besarnya diameter pohon dipengaruhi kualitas tempat tumbuh

dan usia dari pohon tersebut. Semakin subur tempat tumbuh maka pertumbuhan

pohon akan semakin baik, hal ini ditunjukkan dengan besarnya ukuran diameter

pohon tersebut. Demikian pula pengaruh usia pohon dengan ukuran diameter

pohon, semakin tua umur pohon maka diameternya akan lebih besar.

Dalam praktek pengukuran dbh, ketinggian setinggi dada ternyata terdapat

perbedaan di antara beberapa negara :

1. Negara dengan pengukuran sistem metrik, dbh = 1,30 m di atas permukaan

tanah (dat).

2. USA dan Kanada, dbh = 4 ft 6 in = 1,37 m dat.

3. Inggeris dan beberapa Negara persemakmuran (pengukuransistem British),

dbh = 4 ft 3 in = 1,29 m dat.

4. Jepang, dbh = 4 ft 1,2 in = 1,25 m dat.

Selain untuk keperluan pendugaan dimensi pohon lainnya, diameter setinggi dada

(dbh) biasanya diukur sebagai dasar untuk keperluan perhitungan lebih lanjut,

misalnya untuk menentukan luas bidang dasar, dan volume. Luas bidang dasar

pohon (B =lbds) adalah luas penampang lintang batang, sehingga dapat

dinyatakan sebagai : B = ¼pD² ; di mana D = dbh. Selanjutnya perkalian antara


luas bidang dasar pohon dengan tinggi pohonnya (H) kemudian dikalikan lagi

dengan nilai factor bentuk (f), makaa kan diperoleh volume (V) batang pohon

tersebut, yang dapat diformulasikan sebagai : V = B.H.f.

Dari hasil penelitian dengan menggunakan empa tjenispohon (red maple, yellow

poplar, red oak dan white oak) di West Virginia, USA, Wiant (1988)

menunjukkan bahwa untuk keempat jenis pohon tersebut, ternyata dbh bukanlah

merupakan ukuran diameter terbaik di dalam menduga dimensi volume. Hal itu

ditunjukkan oleh besarnya koefisien determinasi tertinggi hubungan antara

diameter dengan volume diperoleh pada saat diameter pada bagian batang yang

lebih tinggi dibanding dbh. Hasil penelitian tersebut, tampaknya mengilhami

pengembangan metode perhitungan/pendugaan volume pohon baik pohon berdiri

maupun yang sudah ditebang (rebah), dari yang semula selalu tetap

menggunakan dbh sebagai salah satu dimensi dasarnya menjadi diameter bagian

lain yang letaknya pada batang bervariasi sesuai karakteristik dari masing-masing

batang atau pohon tersebut. Hal ini akan di bahas lebih lanjut pada bagian

tentang volume ( Muhidin, 1997).


III. METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pita meter, tally sheet, alat

tulis, dan kalkulator.Bahan-bahan yang digunakan yaitu 10 sampel pohon.

3.2 Metode Praktikum

Hal-hal yang harus dilakukan dalam paktikum ini adalah sebagai berikut.

1. Menentukan lokasi pengambilan data pengukuran diameter pohon

masing-masing minimal 1 pohon.

2. Mengukur diameter pohonsetinggi dada (dbh).

3. Memasukkan data pengukuran diameter pohon kedalam tally sheet.

4. Membuat denah lokasi.

5. Membuat laporansementara dan laporan akhir.


IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Dari praktikum yang telahdilakukan, di dapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 1.Hasil pengukuran diameter pohon

Keliling Diameter
No NamaPohon NamaIlmiah
(cm) (cm)
1 Wareng Gmelina arborea 83 26,44
2 Daun kupu-kupu Bauhinia purpurea 61 19,43
3 Sengon laut Parasianthes falcataria 254 80,90
Enterobium
4 Sengon buto 195 62,10
cyclocarpum
5 Mahoni daun lebar Swietinia macrophylla 69 21,98
6 Mahoni daun kecil Swietinia mahagoni 67 21.34
Pterospermum
7 Bayur 75 23,89
javanicum
Peltophorum
8 Saga 95 30.25
pterocarpum
9 Cempaka Michelina champaca 99 31,53
10 Kerai Payung Filicium decipiens 158 50.32

4.2 Pembahasan

Untuk mengukur panjang ataupun keliling pada suatu objek digunakanlah alat

bantu yang dinamakan pita meter.Dan alat yang digunakan dalam praktikum iini

untuk mengukur keliling pohon digunakan pitamoeter dengan satuan mm dan cm.
Kelebihan dari alat ini adalah pitameter sangat mudah digunakan dan cukup

praktis dalam penggunaannya dan kelemahannya adalah ketika pohon yang diukur

itu mempunyai bentuk yang tidak silindris dan membuat pengukuran menjadi

tidak akurat.

Diameter pohon merupakan panjang garis antara dua titik pada garislingkaran

yang melalui titik pusat. Cara menghitung diameter pohon adalah mencari

keliling batang pohon yang akan kita ukur setinggi 1,3 m (setinggi dada) dan

kemudian setelah keliling batang pohon telah diketahui, kita dapat menentukan

diameter pohon tersebut dengan rumus d = k/π.

Kegunaan dari data diameter sendiri adalah untuk menghitung luas bidang dasar

dan volume pohon, sebagai penduga dimensi pohon, pengaturan penebangan

pohon dengan batas diameter tertentu, mengetahui struktur tegakan.

Pada praktikum kali ini mengambil sampel pohon di Arboretum beringin,

Universitas Lampung dengan 10 jenis pohon yaitu Wareng (Gmelina arborea),

Daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), Sengon laut (Parasianthes falcataria),

Sengon buto (Enterobium cyclocarpum), Mahoni daun lebar (Swietinia

macrophylla), Mahoni daun kecil (Swietinia mahagoni), Bayur (Pterospermum

javanicum), Saga (Peltophorum pterocarpum), Cempaka (Michelina champaca),

dan Kerai payung (Filicium decipiens).

Dari data pengukuran diameter pohon yang telahdilakukan, didapatkan hasil

diameter di Arboretum beringin, Universitas Lampung. Diameter pohon-pohon

yang telah diukur adalah antara 20-81 cm. Dan dari hasil tersebut dapat dilihat
bahwa dari setiap jenis pohon mempunyai diameter yang berbeda, hal itu dapat

dipengaruhi dari berbagai faktor, baik dari dalam pohon itu sendiri maupun faktor

dari luar.

Pengukuran diameter pohon digunakan untuk mengetahui besar jari-jari pohon

dan dapat juga digunakan sebagai bahan perbandingan besar antara pohon satu

dengan pohon lainnya. Kendala dalam praktikum ini adalah adanya lekukan-

lekukan atau bentuk batang yang ridak silindris pada pohon sehingga menyulitkan

dalam menentukan keliling pohon tersebut dan kendala selanjutnya adalah untuk

menentukan jenis-jenis pohon tersebut.


V.KESIMPULAN

Dari pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Salah satu alat untuk menghitung diameter pohon adalah pita meter,

dengan cara mencari kelilingnya terlebih dahulu kemudian dibagi dengan

3,14.

2. Dari pengukuran yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa diameter setiap

jenis pohon berbeda-beda.

3. Perbedaan setiap diameter pohon dipengaruhi oleh faktor eksternal dan

internal dalam pohon itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Bustomi, S. 1995. Penggunaan Centroid Volume dalam Menduga Volume Kayu

Bulat Pinus, Pinus merkusii Jungh. Et de Vries. Thesis pada Program

Pascasarjana IPB. Bogor. (unpublished).

Muhidin. 1997. Analyzing Some Formulae of Log Volume Estimation on Log of

Meranti. Post Graduate Thesis. Faculty of Forestry and Ecological

Sciences. Georg-August-University Gottingen. Germany. (unpublished)

Paterrson, D.W., H.V. WIANT, Jr., and G.B. WOOD. 1993. Log Volume

Estimations. The Centroid Method and Standard Formulas.J. of Forestry.

91(8): 39-41.

Philip,M.S.1994. Measuring Trees and Forests.Second Edition. CAB

International.

Wiant. 1988. Estimating Standing Tree Volume of Some Commercial Trees of the

Tropical Rain Forest in Indonesia. In : Modern Methods of Estimating

Tree and Log Volume (Edited by Wood and Wiant). West Virginia

University Publications Services. Morgantown. USA.Bustomi, S. 1995.

Penggunaan Centroid Volume dalamMenduga Volume KayuBulatPinus,

PinusmerkusiiJungh. Et de Vries. Thesis pada Program Pascasarjana

IPB. Bogor. (unpublished).


LAMPIRAN