Anda di halaman 1dari 53

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan objek dari analisis terhadap laporan

keuangan. Oleh karena itu, memahami latar belakang penyusunan dan

penyajian laporan keuangan merupakan langkah yang sangat penting

sebelum menganalisis laporan keuangan itu sendiri. Laporan keuangan ini

dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan

tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan.

Disamping itu, laporan keuangan dapat juga digunakan untuk memenuhi

tujuan-tujuan lain yaitu laporan kepada pihak-pihak luar. Laporan keuangan

menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang

diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik

ekonomi, yang merupakan unsur laporan keuangan. Unsur ini dapat

diklasifikasikan menjadi dua unsur yang berkaitan secara langsung dengan

pengukuran kondisi keuangan dan unsur yang berkaitan secara langsung

dengan pengukuran kinerja.

Dalam rangka menyusun dan menyajikan laporan keuangan khususnya

untuk kepentingan ekstern, manajemen harus mengacu pada kerangka dasar

penyusunan dan penyajian laporan keuangan, yang mencakup tujuan laporan

keuangan (termasuk asumsi dasar), karakteristik kualitatif laporan keuangan,

unsur-unsur yang membentuk laporan keuangan (definisi, pengakuan dan


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2

pengukuran) dan konsep modal serta pemeliharaan modal. Laporan

perubahan kondisi keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur laporan

laba-rugi dan berbagai perubahan dalam neraca.

Laporan keuangan dapat digunakan pada dasarnya adalah hasil dari

proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat sebagai media

komunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan

pihak-pihak yang berkepentingan, oleh karena itu akuntansi dinamakan

bahasa bisnis.

Bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap suatu perusahaan

tentu sangatlah penting untuk mengetahui kondisi dan perkembangan

keuangan perusahaan tersebut. Informasi ini bisa diperoleh melalui laporan

keuangan perusahaan yang bersangkutan, yang merupakan produk dari

sistem akuntansi sebagai realisasi fungsinya sebagai penyedia jasa informasi

keuangan yang relevan bagi pihak-pihak yang berkepentingan baik pihak

intern maupun pihak ekstern.

2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan

Kondisi Keuangan merupakan suatu potret yang menggambarkan

neraca pada suatu waktu tertentu (snapshot) keuangan perusahaan, yang

meliputi aset atau sumber daya (resources) perusahaan dan klaim atas aset

tersebut (meliputi hutang dan saham sendiri). Kondisi keuangan suatu

perusahaan dapat diketahui dari laporan keuangan yang terdiri dari neraca,

laporan rugi-laba, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas serta laporan-
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3

laporan keuangan lainnya. Dengan mengadakan analisa terhadap pos-pos

neraca, maka dapat diketahui gambaran tentang posisi keuangan. Sedangkan

analisa terhadap Laporan Rugi-Laba akan memberikan gambaran tentang

perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh suatu perusahaan.

Laporan keuangan merupakan alat uji dari suatu pekerjaan bagian

pembukuan suatu perusahaan, tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan

juga sebagai dasar untuk menentukan atau menilai posisi keuangan suatu

perusahaan. Dimana dengan hasil analisa tersebut pihak-pihak yang

berkepentingan dapat mengambil suatu keputusan. Dengan demikian,

laporan keuangan dapat memberikan suatu informasi tentang posisi

keuangan suatu perusahaan tersebut dalam periode akuntansi.

Untuk lebih mengetahui pentingnya arti laporan keuangan, berikut ini

Penulis mengutip dari beberapa sumber mengenai pengertian tentang

laporan keuangan menurut para ahli.

Pengertian Laporan Keuangan menurut S. Munawir dalam buku

“Analisis Laporan Keuangan” menyatakan bahwa:

“Laporan Keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses


akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk
berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu
perusahaan dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan data atau
aktivitas perusahaan tersebut.”

(2000:2)

Sedangkan pengertian Laporan Keuangan menurut Ikatan Akuntan

Indonesia dalam buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dalam

PSAK no. 2 tahun 2004 menyatakan bahwa:


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4

“Laporan Keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan


keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi
Neraca, Laporan Rugi-Laba, Laporan Perubahan Posisi
Keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya
sebagai Laporan Arus Kas atau Laporan Arus Dana), Catatan dan
laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian
integral dari laporan keuangan.”

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa laporan

keuangan adalah hasil dari proses pencatatan akuntansi yang ringkas dari

transaksi keuangan yang digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi

dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas

perusahaan tersebut.

2.1.2 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang dipublikasikan oleh suatu perusahaan

dipergunakan oleh berbagai pihak dan kepentingan, tetapi laporan keuangan

itu haruslah sama akan penyajian dan menurut ketentuan yang berlaku. Dari

berbagai kepentingan yang berbeda akan suatu laporan keuangan haruslah

memenuhi kebutuhan semua pihak yang berkepentingan sebagai

pertimbangan di dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Informasi keuangan akan bermanfaat apabila dapat memenuhi

kebutuhan setiap pemakai baik pihak ekstern maupun pihak intern. Seperti

yang dikemukakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dalam buku Standar

Akuntansi Keuangan (SAK) dalam PSAK no. 4 tahun 2004 bahwa

Karakteristik Laporan Keuangan adalah:


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5

“ 1. Dapat dipahami
2. Relevan
3. Materialitas
4. Keandalan
5. Dapat dibandingkan.”

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Dapat dipahami

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan

adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai.

2. Relevan

Agar bermanfaat, informasi keuangan harus relevan untuk memenuhi

kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Dikatakan

relevan, maksudnya adalah laporan keuangan tersebut dapat mempengaruhi

keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi

peristiwa masa lalu, masa kini dan masa depan, menegaskan atau

mengoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu.

3. Materialitas

Informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan

atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi

keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan keuangan.

Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai

dengan situasi khusus dari kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau

kesalahan dalam mencantumkan (misstatement) karenanya materialitas lebih

merupakan suatu ambang batas atau titik pemisah dari pada suatu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6

karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki agar informasi dipandang

berguna.

4. Keandalan

Agar bermanfaat, informasi juga harus andal (reliable). Informasi

mempunyai kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan,

kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian

yang tulus dan jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan

atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

5. Dapat dibandingkan

Para pemakai laporan keuangan harus dapat memperbandingkan

laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengindentifikasikan

kecenderungan (trend) posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Selain itu,

pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar

perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan

posisi keuangan secara relatif.

2.1.3 Komponen-Komponen Laporan Keuangan

Komponen Laporan keuangan yang lengkap menurut Ikatan Akuntan

Indonesia dalam buku Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (SAK)

dalm PSAK no. 2 tahun 2002 yang terdiri dari komponen-komponen

berikut ini:

“ 1. Neraca
2. Laporan Rugi-Laba
3. Laporan Perubahan Ekuitas
4. Laporan Arus Kas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7

5. Catatan atas Laporan Keuangan.”

Sedangkan komponen / jenis laporan keuangan menurut Sofyan Syafri

Harahap dalam buku ”Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan”

menyatakan :

”Jenis laporan keuangan terdiri dari jenis laporan keuangan


utama dan pendukung, seperti; Daftar Neraca, Perhitungan Laba
Rugi, Laporan Sumber dan Penggunaan Dana, Laporan Arus Kas,
Laporan Harga Pokok Produksi, Laporan Laba Ditahan, Laporan
Perubahan Modal, dan Laporan Kegiatan Keuangan.”

(2004:106)
1. Neraca

Neraca perusahaan disajikan sedemikian rupa yang menonjolkan

berbagai unsur posisi keuangan yang diperlukan bagi penyajian secara

wajar. Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty dalam buku “Analisa

Laporan Keuangan ; Konsep dan Aplikasi” mengemukakan pengertian

neraca sebagai berikut :

“Neraca adalah laporan keuangan yang menggambarkan

informasi mengenai posisi keuangan (aktiva, kewajiban, dan

ekuitas) perusahaan pada saat tertentu.”

(2002:18)

Berdasarkan Ikatan Akuntan Indonesia dalam buku Standar

Akuntansi Keuangan (SAK) no. 1.14 tahun 2006, Neraca minimal

mencakup pos-pos berikut :

“ a. Aktiva Berwujud
b. Aktiva Tidak Berwujud
c. Aktiva Keuangan
d. Investasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas
e.Persediaan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 8

f. Piutang usaha dan Piutang lainnya


g. Kas dan Setara Kas
h. Hutang usaha dan Hutang lainnya
i. Kewajiban yang diestimasi
j. Kewajiban Berbunga Jangka Panjang
k. Hak Minoritas
l. Modal Saham dan Pos Ekuitas lainnya.”

Adapun gambaran umum perhitungan neraca sebagai berikut :

PT.X
Neraca
Per 31 Desember 200X

AKTIVA
Aktiva Lancar :
 Kas xx
 Piutang Usaha xx
 Piutang Wesel xx
 Persekot Asuransi xx
Jumlah Aktiva Lancar xxx
Aktiva Tetap :
 Investasi dalam obligasi
Aktiva Tetap Berwujud xx
 Tanah xx
 Bangunan xx
 Akumulasi Penyusutan (xx)
xxx
Aktiva Tetap Tidak Berwujud :
 Merek Dagang xx
 Aktiva lain-lain xx
 Piutang Jangka Panjang xx
Jumlah Aktiva Lancar xxx
TOTAL AKTIVA xxx
PASIVA
Hutang Lancar
 Hutang Usaha xx
 Hutang Gaji xx
 Hutang Bunga xx
Jumlah Hutang Lancar xxx

Hutang Jangka Panjang :


 Hutang Bank xxx
Modal
 Modal Tn. A xx
 Modal Tn. B xx
 Modal Tn. C xx
xxx
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9

TOTAL PASIVA xxx

Sumber : Akuntansi Keuangan Dasar. Mardiasmo. 1993


Gambar 2.1 Neraca
2. Laporan Rugi-Laba

Pengertian Laporan Rugi-Laba menurut Henri Simamora dalam buku

“Analisis Laporan Keuangan Untuk Bisnis” adalah:

“Laporan Rugi-Laba adalah Laporan keuangan resmi yang


menerangkan kegiatan-kegiatan operasi (Pendapatan dan Biaya)
selama periode tertentu, biasanya satu bulan atau satu tahun.”
(2002:22)
Sedangkan pengertian laporan Rugi-Laba menurut Dwi Prastowo dan
Rifka Julianty dalam buku “Analisa Laporan Keuangan;Konsep
dan Aplikasi”sebagai berikut :
“Laporan Keuangan yang memberikan informasi mengenai
kemampuan (potensi) perusahaan dalam menghasilkan laba
(kinerja) selama periode tertentu.”
(2002 : 18)
Menurut Dwi Prastowo dan Rifka Julianty dalam buku “Analisa

Laporan Keuangan;Konsep dan Aplikasi” untuk dapat menggambarkan

informasi mengenai potensi perusahaan, dalam menghasilkan laba selama

periode tertentu, Laporan Rugi-Laba mempunyai dua unsur yaitu:

“a. Penghasilan (income)

b. Beban (expense).”

(2002 : 20)

Berdasarkan Ikatan Akuntan Indonesia dalam buku Standar

Akuntansi Keuangan (SAK) dalam PSAK no. 1.14 tahun 2006 laporan

rugi laba minimal mencakup pos-pos berikut :


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10

“a. Pendapatan
b. Piutang usaha
c. Beban pinjaman
d. Bagian dari laba atau rugi perusahaan afiliasi dan asosiasi
yang diperlakukan menggunakan metode ekuitas
e. Beban pajak
f. Laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan
g. Pos luar biasa
h. Hak minoritas
i. Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan.”

Adapun gambaran umum perhitungan laba rugi sebagai berikut :

PT. X
Laporan Laba Rugi
Periode 31 Desember 200X

Penjualan : xxx
Potongan Penjualan xxx
Retur Penjualan xxx
(xxx)
Penjualan Bersih xxx
Persediaan Barang Dagangan ( 1 Januari 200X)
Pembelian xxx
Biaya Angkut Pembelian xxx
xxx
Dikurangi :
Pembelian xxx
Retur Pembelian xxx (xxx)
xxx
Harga Pokok Barang yang Siap dijual xxx
Persediaan Barang Dagangan ( 31 Desember 200X) (xxx)
Harga Pokok Penjualan (xxx)
Laba Kotor atas Penjualan xxx
Biaya Usaha :
Biaya Iklan xxx
Biaya Angkut Penjualan xxx
Biaya Telepon dan Listrik xxx
Gaji Karyawan xxx
Biaya Pemeliharaan Gedung xxx
Biaya Bunga xxx
Biaya Suplies Toko xxx
Biaya Asuransi xxx
Biaya lain-lain xxx
(xxx)
LABA USAHA xxx

Sumber : Akuntansi Keuangan Dasar. Mardiasmo. 1993

Gambar 2.2 Laporan Rugi Laba


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 11

3. Laporan Perubahan Ekuitas

Berdasarkan Ikatan Akuntan Indonesia dalam buku Standar

Akuntansi Keuangan (SAK) dalam PSAK no. 1.18 tahun 2006,

Perusahaan harus menyajikan laporan keuangan ekuitas sebagai komponen

utama laporan keuangan, yang menunjukkan:

“1. Rugi atau Laba bersih periode yang bersangkutan


2. Setiap pos pendapatan dan beban, keuntungan atau kerugian
beserta jumlahnya yang berdasarkan PSAK terkait diakui
secara langsung dlam ekuitas.
3. Pengaruh kumulatif dari perubahan kebijakan akuntansi
4. Perbaikan terhadap kesalahan mendasar sebagaimana diatur
dalam PSAK terkait.
5. Transaksi modal dengan pemilik dan distribusi kepada
pemilik
6. Saldo akumulasi rugi dan laba pada awal dan akhir periode
serta perubahannya
7. Rekonsiliasi antara nilai tercatat dari masing-masing jenis
model saham, agio dan cadangan pada awal dan akhir
periode yang mengungkapkan secara terpisah setiap
perubahan.”

1. Laporan Arus Kas

Berdasarkan Ikatan Akuntan Indonesia dalam buku Standar

Akuntansi Keuangan (SAK) dalam PSAK no. 1.23 tahun 2006

pengertian laporan arus kas sebagai berikut :

“Laporan arus kas merupakan laporan keuangan dasar yang

berisi mengenai aliran kas masuk dan keluar perusahaan.”

Laporan kas ini merupakan pengganti dari laporan perubahan posisi

keuangan yang menyajikan informasi mengenai sumber dan penggunaan

dana perusahaan, dimana pengertian dana dapat didefinisikan sebagai modal


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 12

kerja (aktiva lancar dikurangi passiva lancar) ataupun dapat didefinisikan

sebagai kas. Laporan arus kas harus menyajikan kas selama periode tertentu

dan klasifikasi menurut klasifikasi operasi, investasi dan pendanaan.

Klasifikasi ini memberikan informasi yang memungkinkan para pengguna

laporan untuk menilai pengaruh aktivitas tersebut terhadap jumlah kas dan

setara kas. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk mengevaluasi

hubungan antara ketiga aktivitas tersebut.

5. Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap

pos dalam neraca, laporan rugi-laba dan laporan arus kas harus berkaitan

dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan.

Berdasarkan Ikatan Akuntan Indonesia dalam buku Standar Akuntansi

Keuangan (SAK) dalam PSAK no. 1.26 tahun 2006 catatan atas laporan

keuangan mengungkapkan:

“a. Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan


kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap
peristiwa dan transaksi yang penting.
b. Informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak
disajikan di neraca, laporan rugi-laba, laporan arus kas dan
laporan perubahan ekuitas.
c. Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan
keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara
wajar. “

2.1.4 Tujuan Laporan Keuangan

Bagi para analisis, laporan keuangan media yang paling penting untuk

menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan, laporan keuangan


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 13

menjadi bahan sarana informasi (screening) bagi analis dalam proses

pengambilan keputusan. Laporan keuangan dapat menggambarkan posisi

keuangan perusahaan, hasil usaha perusahaan dalam suatu periode dan arus

dana (kas)perusahaan dalam periode tertentu.

Tujuan Laporan Keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam

buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dalam PSAK no. 4 tahun

2004 adalah:

“Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,


kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pamakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi.”

Informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi

keuangan sangat diperlukan untuk dapat melakukan evaluasi atas

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas (dan setara kas), dan

waktu serta kepastian dari hasil tersebut. Posisi keuangan perusahaan

dipengaruhi oleh sumber daya yang dikendalikan, struktur keuangan,

likuiditas dan solvabilitas serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan

lingkungan.

Menurut Sofyan Syafri Harahap dalam buku “Analisis Kritis Atas

Laporan Keuangan” menggambarkan tujuan laporan keuangan dengan

membaginya menjadi dua antara lain:

“1. Tujuan Umum

2. Tujuan Khusus.”

(2001 : 133)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 14

Adapun penjelasan dari kutipan diatas akan diuraikan dibawah ini:

1. Tujuan umum, menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha dan

perubahan posisi keuangan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi

yang diterima.

2. Tujuan khusus, memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban,

kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban, serta

informasi lainnya yang relevan.

Laporan keuangan yang disusun untuk memenuhi tujuan-tujuan

tersebut memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Meskipun

demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang

mungkin dibutuhkan pemakai dalam proses pengambilan keputusan

ekonomi mereka. Selain untuk tujuan-tujuan tersebut, laporan keuangan juga

menunjukkan apa yang telah dilakukan oleh manajemen (stewardship) atau

menggambarkan pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang

dipercayakan kepadanya.

2.1.5 Pemakai Laporan Keuangan

Para pemakai laporan keuangan ini menggunakan laporan keuangan

untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda. Berdasarkan

Ikatan Akuntan Indonesia dalam buku Standar Akuntansi Keuangan

(SAK) dalam PSAK no. 2 tahun 2002 para Pemakai Laporan Keuangan

adalah:
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 15

“ a. Investor
b. Kreditur (pemberi pinjaman)
c. Pemasok dan kreditur lainnya
d. Shareholders (para pemegang saham)
e. Pelanggan
f. Pemerintah
g. Karyawan
h. Masyarakat.”

Para pemakai laporan keuangan diatas dapat lebih dijelaskan sebagai

berikut:

a. Investor

Para investor berkepentingan terhadap resiko yang melekat dan hasil

pengembangan dari investasi yang dilakukannya. Investor ini membutuhkan

informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan

atau menjual investasi tersebut. Selain itu, mereka juga tertarik pada

informasi yang memungkinkan melakukan penilaian terhadap kemampuan

perusahaan dalam membayar deviden.

b. Kreditur (pemberi pinjaman)

Para kreditur tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan

mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar

pada saat jatuh tempo.

c. Pemasok dan kreditur usaha lainnya

Pemasok dan kreditur usaha lainnya tertarik dengan informasi yang

memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang

akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditur usaha berkepentingan pada

perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek dibanding kreditor.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 16

d. Pemegang Saham (Shareholders)

Para pemegang saham berkepentingan dengan informasi mengenai

kemajuan perusahaan, pembagian keuntungan yang akan diperoleh dan

penambahan modal untuk bussiness plan berikutnya.

e. Pelanggan

Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai

kelangsungan hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam

perjanjian jangka panjang dengan atau bergantung pada perusahaan.

f. Pemerintah

Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah kekuasaannya

berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan oleh karenanya

berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Selain itu, mereka juga

membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan

kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan

nasional dan statistik lainnya.

g. Karyawan

Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakilinya tertarik pada

informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga

tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka melakukan penilaian

atas kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun

dan kesempatan kerja.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 17

h. Masyarakat

Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara,

seperti pemberian kontribusi pada perekonomian nasional, termasuk jumlah

orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada para penanam modal

domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan

menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir

kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.

Dapat disimpulkan bahwa para pemakai laporan keuangan memiliki

kepentingannya masing-masing terhadap laporan keuangan suatu

perusahaan. Pada umumnya laporan keuangan digunakan untuk mengetahui

kondisi keuangan perusahaan tersebut selama periode yang bersangkutan

sehingga para pemakai laporan keuangan dapat mengambil keputusan

terhadap rencana selanjutnya.

2.1.6 Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan

Agar laporan keuangan lebih bermanfaat bagi pihak-pihak tertentu

yang berkepentingan maka harus dilakukan analisis dan interprestasi terlebih

dahulu. Interprestasi laporan keuangan adalah menghubungkan angka-angka

yang terdapat dalam laporan keuangan, termasuk hasil analisisnya dengan

keputusan usaha yang akan diambil. Dari hubungan ini dapat dilakukan

penilaian terhadap perusahaan yang bersangkutan, sehingga dapat ditarik

kesimpulan untuk pengambilan keputusan.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 18

Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan menurut Sofyan Syafri

Harahap dalam buku “Analisis Laporan Keuangan” adalah:

“a. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan


atau kejadian yang telah lewat. Karenanya, laporan
keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber
informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.
b. Laporan keuangan bersifat umum, disajikan untuk semua
pemakai dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi
kebutuhan pihak tertentu saja, misalnya untuk pajak, bank
dan lain-lain. Proses penyusunan laporan keuangan tidak
dapat luput dari penggunaan taksiran dan berbagai
pertimbangan.
c. Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material,
demikian pula penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu
fakta atau pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal
itu dianggap tidak material atau tidak menimbulkan
pengaruh yang material terhadap kelayakan laporan
keuangan.
d. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi
ketidakpastian bila terdapat beberapa kemungkinan
kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos,
maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba
bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.
1. Laporan keuangan lebih menekankan pada
makna ekonomis suatu peristiwa atau transaksi daripada
bentuk hukumnya (substance over form).
2. Laporan keuangan disusun dengan
menggunakan istilah-istilah teknis, dan pemakai laporan
diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan
sifat dari informasi yang dilaporkan.
3. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi
yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam
pengukuran sumber-sumber ekonomis dan kesuksesan
suatu perusahaan.
4. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang
tidak dapat di kualitatifkan umumnya diabaikan.”

(2001:24)

Dapat disimpulkan bahwa sifat laporan keuangan adalah historis,

umum dan konservatif sedangkan keterbatasan laporan keuangan

disesuaikan dengan cara penggunaan laporan keuangan itu sendiri.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 19

2.2 Biaya

2.2.1 Pengertian Biaya

Biaya merupakan salah satu unsur terpenting dalam proses produksi,

sebab apabila suatu perusahaan mampu mengendalikan biaya-biaya yang

terjadi maka akan tercipta satu kondisi yang efisien sehingga mampu

meningkatkan daya saing perusahaan tersebut.

Biaya dapat dipandang sebagai suatu nilai tukar yang dikeluarkan atau

suatu pengorbanan sumber daya yang dilakukan untuk mendapatkan

manfaat di masa datang. Pengorbanan tersebut dapat berupa uang atau

materi lainnya yang setara nilainya kalau diukur dengan uang. Dalam

pengertian yang lebih luas, terdapat dua istilah biaya, yaitu biaya sebagai

cost dan biaya sebagai expense. Biaya (cost) adalah apabila biaya tersebut

belum digunakan untuk menghasilkan produk atau jasa atau belum habis

digunakan. Sedangkan biaya (expenses) jika biaya tersebut habis digunakan

untuk memproduksi suatu produk atau jasa yang menghasilkan pendapatan

di masa yang akan datang.

Menurut Mulyadi dalam buku “Akuntansi Biaya”, definisi biaya

dalam arti luas adalah:

“Biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi,

yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau

kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.”

(2000:8)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 20

Ada empat unsur pokok dalam definisi biaya tersebut diatas, yaitu:

1. Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi,

2. Diukur dalam satuan uang,

3. Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi,

4. Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Menurut Ardiyos dalam Kamus Besar Akuntansi, definisi biaya

adalah sebagai berikut :

“Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur oleh


satuan uang yang telah terjadi atau mungkin terjadi dalam
mencapai suatu tujuan. Dalam pengertian akuntansi, cost berarti
pengeluaran-pengeluaran atau kewajiban-kewajiban yang timbul
dalam hal memproduksi suatu barang atau jasa.”

(2000:94)

Sedangkan menurut Aliminsyah dan Padji dalam Kamus Istilah

Akuntansi, definisi biaya adalah sebagai berikut:

“Biaya (expense) adalah penurunan dalam modal (hak kekayaan)

pemilik, biasanya melalui pengeluaran uang aktiva, yang terjadi

sehubungan dengan usaha untuk menghasilkan pendapatan.”

(2003:177)

Berdasarkan dari pengertian-pengertian biaya di atas dapat

disimpulkan bahwa biaya merupakan pengeluaran sumber ekonomi dalam

bentuk uang atau materi lainnya yang digunakan dalam rangka untuk

memenuhi tujuan tertentu.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 21

2.2.2 Pengklasifikasian Biaya

Untuk menyajikan informasi biaya yang akurat dan tepat bagi

manajemen dalam mengelola perusahaan atau divisi secara efektif, maka

biaya perlu dikelompokkan sesuai dengan tujuan informasi tersebut

digunakan, sehingga dalam pengelompokkan biaya dapat digunakan suatu

konsep ” Different Cost Different Purposes ” artinya berbeda biaya berbeda

tujuan.

Klasifikasi biaya atau penggolongan biaya adalah suatu proses

pengelompokkan biaya secara sistematis atas keseluruhan elemen biaya

yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk

dapat memberikan informasi yang lebih ringkas dan penting.

Menurut Bastian Bustami dan Nurlela dalam buku “Akuntansi

Biaya Teori Dan Aplikasi”, klasifikasi biaya yang umum digunakan adalah

biaya hubungannya dengan:

”1. Produk.
2. Volume Produksi.
3. Departemen dan Pusat Biaya.
4. Periode Akuntansi.
5. Pengambilan Keputusan.”
(2006:9)

Adapun penjelasan dari klasifikasi di atas adalah sebagai berikut:

1. Biaya dalam hubungan dengan Produk

Biaya dalam hubungan dengan produk dapat dikelompokkan menjadi

Biaya Produksi dan Non Produksi.

a.Biaya Produksi adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi

yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 22

overhead pabrik. Biaya produksi ini disebut juga dengan biaya produk

yaitu biaya-biaya yang dapat dihubungkan dengan suatu produk,

dimana biaya ini merupakan bagian dari persediaan. Secara garis besar

biaya produksi di bagi menjadi: biaya bahan baku langsung, biaya

tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

Dua dari tiga unsur utama biaya produksi dapat digolongkan secara

terminologi biaya sebagai berikut :

 Biaya utama

Biaya utama adalah gabungan antara biaya bahan baku langsung

dan biaya tenaga kerja langsung.

 Biaya konversi

Biaya konversi adalah biaya yang digunakan untuk merubah bahan

baku langsung menjadi produk selesai. Biaya ini merupakan

gabungna antara biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead

pabrik.

b. Biaya Non Produksi adalah biaya yang tidak berhubungan dengan

proses produksi. Biaya non produksi ini disebut dengan biaya

komersial atau biaya operasi. Biaya komersial atau biaya operasi ini

juga digolongkan sebagai biaya periode yaitu biaya-biaya yang dapat

dihubungkan dengan interval waktu. Biaya non produksi ini dapat

dikelompokkan menjadi elemen :


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 23

 Beban pemasaran

Beban pemasaran atau biaya penjualan adalah biaya yang

dikeluarkan apabila produk selesai dan siap dipasarkan ketangan

konsumen. Contoh beban iklan, promosi, sampel barang gratis,

biaya alat tulis, dan hiburan.

 Biaya administrasi

Biaya administrasi adalah biaya yang dikeluarkan dalam hubungan

dengan kegiatan penentu kebijakan, pengarahan, pengawasan

kegiatan perusahaan secara keseluruhan agar dapat berjalan dengan

efektif dan efisien. Contohnya adalah gaji administrasi kantor,

sewa kantor, penysutan kantor, biaya piutang tak tertagih, dan

biaya lain-lain.

 Beban keuangan

Beban keuangan adalah biaya yang muncul dalam melaksanakan

fungsi-fungsi keuangan. Contohnya beban bunga.

2. Biaya dalam Hubungan dengan Volume Produksi

Biaya dalam hubungannya dengan volume atau perilaku biaya dapat

dikelompokkan menjadi elemen :

a. Biaya Variabel, yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah

sebanding dengan perubahan volume produksi dalam rentang relevan,

tetapi secara per unit tetap. Contohnya perlengkapan, bahan bakar,

kerusakan bahan, upah lembur, biaya komunikasi, dan biaya

pengangkutan dalam pabrik.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 24

b. Biaya Semi, yaitu biaya di dalamnya mengandung unsur tetap dan

mengandung unsur variabel. Biaya ini dapat dikelompokkan dalam dua

elemen biaya yaitu :

 Biaya semivariabel adalah biaya yang didalamnya

mengandung unsur biaya tetap dan memperlihatkan karakter tetap

dan variabel. Contohnya biaya listrik, bensin, telepon dan air,

perlengkapan, biaya hiburan dan pemeliharaan.

 Biaya Semi tetap adalah biaya yang berubah dan volume

secara bertahap. Contohnya gaji penyedia.

c. Biaya Tetap, yaitu biaya yang jumlah totalnya bersifat tetap dalam

kisar volume kegiatan tertentu, tetapi secar per unit berubah.

Contohnya adalah gaji direktur produksi, pajak properti, sewa, dan

pemeliharaan dan perbaikan gedung.

3. Biaya dalam Hubungan dengan Departemen Produksi

Perusahaan dapat dikelompokkan menjadi segmen-segmen dengan

berbagai nama seperti ; departemen, kelompok biaya, pusat biaya, unuit

kerja atau kerja yang dapat digunakan dalam mengelompokkan biaya

menjadi biaya langsung departemen dan biaya tidak langsung departemen.

a. Biaya langsung departemen

Biaya lansung departemen adalah biaya yang dapat ditelusuri secara

langsung ke departemen bersangkutan. Contoh gaji mandor pabrik

yang digunakan oleh departemen bersangkutan merupakan biaya

langsung bagi departemen.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 25

b. Biaya tidak langsung departemen

Biaya tidak langsung departemen adalah biaya yang tidak dapat

ditelusuri secara langsung ke departemen bersangkutan. Contohnya

biaya penyusutan dan biaya asuransi.

4. Biaya dalam hubungan dengan Periode Waktu

Dalam hubungannya dengan waktu biaya dapat dikelompokkan

menjadi biaya pengeluaran modal dan dalam jangka waktu yang panjang

dan dilaporkan sebagai aktiva.

a.Biaya pengeluaran modal adalah biaya yang dikeluarkan untuk

memberikan manfaat dimasa depan dan dalam jangka waktu yang

panjang dan dilaporkan sebagai aktiva. Contohnya pembelian mesin

dan peralatan.

b. Biaya pengeluaran pendapatan adalah biaya yang memberikan

manfaat untuk periode sekarang dan dilaporkan sebagai beban.

5. Biaya dalam Hubungan dengan Pengambilan Keputusan

Biaya dalam rangka pengambilan keputusan dapat dikelompokkan

menjadi biaya relevan dan biaya tidak relevan.

a. Biaya relevan adalah biaya masa akan datang yang berbeda

dalam beberapa alternatif yang berbeda. Biya relevan ini terdiri dari

biaya diferensial, biaya kesempatan, biayatersamar, biaya nyata, dan

biaya yang dapat dilacak.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 26

b. Biaya tidak relevan adalah biaya yang dikeluarkan tetapi tidak

mempengaruhi keputusan apapun. Biaya tidak relevan ini dapat

dikelompokkan menjadi biaya masa lalu dan biaya terbenam.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa biaya perlu dicatat dan

diklasifikasikan agar data biaya dapat menghasilkan informasi yang

berguna sesuai dengan tujuan dan kebutuhan para penggunanya.

2.2.3 Penentuan Biaya

Perusahaan atau organisasi harus dapat menentukan biaya agar dapat

dilakukan strategi efisiensi biaya, sehingga dapat menghasilkan suatu

produk atau jasa pelayanan yang baik. Menurut Mardiasmo dalam bukunya

“Akuntansi Sektor Publik”, Proses penentuan biaya meliputi lima

aktivitas, yaitu sebagai berikut :

“ 1. Cost Finding
2. Cost Recording
3. Cost Analyzing
4. Strategic Cost Reduction
5. Cost Reporting.”
(2002:39)

Berikut ini penjelasan dari proses penentuan biaya tersebut di atas

adalah sebagai berikut:

1. Cost Finding

Merupakan suatu proses pengakumulasian data mengenai biaya yang

diperlukan untuk menghasilkan suatu produk atau jasa pelayanan.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 27

2. Cost Recording

Meliputi kegiatan pencatatan data kedalam sistem akuntansi

organisasi.

3. Cost Analyzing

Mengidentifikasikan jenis dan perilaku biaya, perubahan biaya, dan

volume kegiatan. Manajemen organisasi harus dapat mentukan pemicu

biaya agar dapat dilakukan strategi efisiensi biaya.

4. Strategic Cost Reduction

Strategi ini bertujuan agar dapat tercapai value for mone.

5. Cost Reporting

Pemberian informasi biaya secara lengkap kepada pemimpin dalam

bentuk internal report yang kemudian di agregasikan ke dalam suatu

laporan yang akan disampaikan kepada pihak eksternal.

2.3 Pemeliharaan

2.3.1 Pengertian Pemeliharaan

Pemeliharaan merupakan kegiatan yang harus dilakukan untuk

menentukan tingkat kelangsungan operasional perusahaan dan dimaksudkan

agar fasilitas atau peralatan yang dimiliki perusahaan tetap dalam kondisi

yang baik. Dengan adanya pemeliharaan diharapkan dapat meningkatkan

pendapatan operasional perusahaan.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 28

Menurut Agus Ahyari dalam bukunya yang berjudul “Manajemen

Perencanaan Sistem Produksi” mendefinisikan beban pemeliharaan

sebagai berikut :

“Pemeliharaan adalah kegiatan dalam memelihara sarana dan


fasilitas produksi yang terus menerus untuk menunjang
kelancaran pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan yang
bersangkutan.”

(2000:95)

Sedangkan pemeliharaan menurut Sukanto Reksohadiprojo dalam

bukunya “ Manajemen Produksi Dan Operasi” adalah sebagai berikut :

“Pemeliharaan adalah setiap aktivitas yang dirancang sedemikan

rupa sehingga sarana dan aktiva lain dalam kondisi yang dapat

menunjang tujuan organisasi.”

(2000:345)

Dari kedua pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

pemeliharaan merupakan kegiatan dalam memelihara sarana dan aktiva

lain secara terus menerus dalam pelaksanaan proses produksi suatu

perusahaan.

Menurut Fandy Tjiptono dalam bukunya yang berjudul “Total

Quality Management”, pemeliharaan adalah sebagai berikut :

“Pemeliharaan berarti memperbaiki kemampuan yang telah ada

sebelumnya.”

(2000:311)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 29

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan

adalah upaya yang dilakukan perusahaan untuk menjaga atau memperbaiki

peralatan produksi agar tetap dalam kondisi yang menunjang tujuan

perusahaan.

2.3.2 Perencanaan Pemeliharaan

Pemeliharaan alat-alat produksi tanpa perencanaan yang baik akan

mengakibatkan pemeliharaan yang dilakukan menjadi tidak efisien atau

hasil pemeliharaan kurang memadai, sehingga akan mengganggu proses

produksi. Oleh karena itu didalam kegiatan pemeliharaan yang dilakukan

sebaiknya ditelusuri perencanaannya terlebih dahulu.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan perencanaan

pemeliharaan adalah sebagai berikut :

1. Data teknis dari perusahaan pembuat alat-alat produksi.

2. Skedul proses produksi.

3. Kemudahan suku cadang.

Adapun penjelasan dari penyusunan perencanaan pemeliharaan adalah

sebagai berikut :

1. Data teknis dari perusahaan

Dengan adanya petunjuk teknis alat-alat produksi yang dikeluarkan

oleh perusahaan pembuat alat-alat produksi, perusahaan akan dapat

mengetahui cara melakukan pemeliharaan dan perbaikan alat-alat produksi

tersebut. Berdasarkan petunjuk teknis yang ada, perusahaan akan dapat


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 30

memperkirakan hal-hal apa saja yang harus dikerjakan, serta kapan

pekerjaan pemeliharaan harus dilaksanakan.

Jika prosedur pemakaian alat-alat produksi yang digunakan

dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka alat-alat produksi akan dapat

dipergunakan secara efisien dan mempunyai umur ekonomis yang memadai.

2. Skedul proses produksi

Apabila didalam penyusunan perencanaan pemeliharaan tidak

mempertimbangkan skedul proses produksi, maka jadwal pemeliharaan akan

mengganggu jadwal proses produksi. Jika perusahaan ingin mengadakan

pemeliharaan yang baik, maka skedul proses produksi harus

dipertimbangkan dalam penyusunan perencanaan pemeliharaan.

3. Kemudahan suku cadang

Salah satu hal yang penting dalam pemeliharaan adalah penggantian

suku cadang yang sudah habis pakai atau tidak layak lagi untuk dipakai.

Waktu penggantian suku cadang dapat diperkirakan sesuai dengan petunjuk

teknis yang ada. Sehubungan dengan hal tersebut, maka kemudahan untuk

mencari suku cadang akan dapat mengganggu jalannya pemeliharaan.

2.3.3 Jenis-Jenis Pemeliharaan

Biaya pemeliharaan sangat berguna dalam pencapaian proses produksi

yang efektif dan efisien, karena jika perusahaan terlanjur menghasilkan

produk berkualitas rendah atau cacat maka tidak mustahil diperlukan biaya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 31

yang lebih besar. Biaya-biaya dapat dikelompokkan kedalam beberapa jenis

sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai oleh jenis-jenis tersebut.

Menurut Supriyono dalam bukunya “Akuntansi Manajemen” jenis-

jenis pemeliharaan dapat dipisahkan menjadi tiga macam, yaitu sebagai

berikut :

“ 1. Pemeliharaan Pencegahan
2. Pemeliharaan Perbaikan
3. Pemeliharaan Penyempurnaan. “
(2002 : 75)

Adapun uraian dari ketiga jenis pemeliharaan tersebut adalah sebagai

berikut :

1. Pemeliharaan Pencegahan

Pemeliharaan pencegahan adalah pemeliharaan yang dilakukan

sebelum dilakukannya proses produksi. Pemeliharaan ini bertujuan agar alat-

alat produksi dapat berjalan dengan normal. Termasuk dalam pemeliharaan

pencegahan ini adalah bagaimana cara penggunaan alat-alat produksi, serta

menjaga kebersihan dari alat-alat produksi tersebut. Disamping cara-cara

penggunaan pemeliharaan pencegahan ini juga meliputi penggantian minyak

pelumas dan penggantian suku cadang. Penggantian seperti ini memang

bertujuan untuk mencegah jangan sampai proses produksi menjadi

terganggu. Dengan adanya pemeliharaan pencegahan ini, maka diharapkan

alat-alat produksi selalu dalam keadaan baik.

2. Pemeliharaan Perbaikan

Pemeliharaan perbaikan merupakan pemeliharaan yang harus

dilakukan karena adanya kerusakan alat-alat produksi yang digunakan


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 32

dalam proses produksi, sehingga proses produksi menjadi terganggu,

misalnya keterlambatan proses dan penurunan kualitas produk.

Pemeliharaan perbaikan ini bertujuan untuk mengadakan perbaikan

terhadap alat-alat produksi yang dapat mengembalikan kedalam keadaan

yang normal. Pada umumnya pemeliharaan perbaikan ini akan dilakukan

apabila terdapat gangguan jalannya proses produksi. Keterlambatan

didalam perbaikan akan merusak skedul proses produksi perusahaan.

3. Pemeliharaan Penyempurnaan

Pemeliharaan penyempurnaan adalah pemeliharaan bersifat perbaikan

atau pembenahan kekurangan-kekurangan fungsi alat-alat produksi. Dalam

hal ini proses produksi sudah berjalan, namun masih dapat diupayakan agar

jalannya proses produksi dapat menjadi lebih baik lagi. Misalnya perbaikan

untuk mengurangi konsumsi energi yang dipakai.

Jika dilihat dari kapan pemeliharaan tersebut harus dilaksanakan, maka

jenis pemeliharan ini berkaitan dengan skedul proses produksi. Adapun

jenisnya yang dikemukakan oleh Sofyan Assauri dalam bukunya

“Manajemen Produksi Dan Operasi” adalah sebagai berikut :

“ a. Pemeliharan Rutin
b. Pemeliharaan Berkala
c. Pemeliharaan Tidak Terjadwal .”
(2004:96)

Adapun uraian dari jenis-jenis pemeliharaan tersebut adalah sebagai

berikut :

1) Pemeliharaan Rutin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 33

Pemeliharaan rutin adalah pemeliharaan yang harus dilakukan setiap

saat misalnya kebersihan alat-alat produksi yang dioperasikan dengan

baik sesuai dengan petunjuk yang ada, serta dapat digunakan dalam

keadaan yang bersih dan dapat menunjang pelaksanaan proses

produksi dan dapat menjaga produksi.

2) Pemeliharaan Berkala

Pemeliharaan berkala merupakan pemeliharaan yang tidak perlu

dilakukan setiap saat, namun harus selalu dilaksanakan setiap jangka

waktu tertentu, misalnya dilakukan setiap seminggu sekali, setiap

sebulan sekali, dan seterusnya. Meskipun pemeliharaan ini tidak

dilaksanakan setiap hari, namun apabila tidak dilaksanakan maka besar

kemungkinan fungsi alat-alat produksi menjadi terganggu. Contoh

pemeliharaan berkala ini adalah pengecekan mesin, penggatian suku

cadang setelah lamanya pemakaian tertentu.

3) Pemeliharaan Tidak Terjadwal

Disamping adanya pemelihraan rutin dan berkala yang pada umumnya

dapat direncanakan dengan baik, ada juga pemeliharaan tidak

terjadwal. Pemeliharaan ini adalah mengembalikan fungsi teknis dari

alat-alat produksi dengan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Oleh

karena itu alat-alat produksi pada umumnya baru diketahui pada saat

proses produksi berjalan, maka pemeliharaan ini tidak dapat

direncanakan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 34

Kegiatan pemeliharaan (maintenance) yang dilakukan dalam suatu

perusahaan pabrik dapat dibedakan atas dua macam,yaitu Preventive

Mintenance dan Corretive atau Breakdown Maintenance. Adapun

uraian mengenai Preventive Mintenance dan Corretive atau

Breakdown Maintenance adalah sebagai berikut :

a. Preventive Mintenance

Preventive Mintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan

perawatan yng dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan-

kerusakan yang tidak terduga dan menemukan kondisi atau

keadaan yang dapat menyebabkan fasilitas atau peralatan

mengalami kerusakan pada waktu digunakan.

Preventive Mintenance ini sangat penting karena kegunaannya

yang sangat efektif didalam menghadapi fasilitas yang termasuk

dalam golongan “Critical Unit”. Sebuah fasilitas atau peralatan

akan termasu golongan “Critical Unit” apabila :

a) Kerusakan fasilitas atau peralatan tersebut akan

membahayakan kesehatan atau keselamatan para pekerja.

b) Kerusakan fasilitas ini akan mempengaruhi kualitas dari

produk atau jasa yang dihasilkan.

c) Kerusakan fasilitas tersebut akan menyebabkan kemacetan

seluruh kegiatan operasional.

d) Modal yang ditanamkan dalam fasilitas tersebut atau harga

dari fasilitas ini adalah cukup besar atau mahal.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 35

Apabila Preventive Mintenance dilaksanakan pada fasilitas atau

peralatan yang termasuk dalam “Critical Unit”, maka tugas-tugas

maintenance dapatlah dilakukan dengan suatu perencanaan yang

intensif untuk unit yang bersangkutan.

b. Corretive atau Breakdown Maintenance

Dengan Corretive atau Breakdown Maintenance dimaksudkan

adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan

setelah terjadinya suatu kerusakan atau kelainan pada fasilitas atau

peralatan, sehinnga dapat berfungsi dengan baik. Kegiatan

Corretive atau Breakdown Maintenance yang dilakukan sering

disebut dengan kegiatan perbaikan atau reparasi. Perbaikan yang

dilakukan karena adanya kerusakan yang dapat terjadi akibat tidak

dilakukannya Preventive Mintenance, tetapi sampai pada suatu

waktu tertentu, fasilitas atau peralatan tersebut tetap rusak. Jadi

dalam hal ini kegiatan maintenance sifatnya hanya menunggu

sampai kerusakan terjadi dahulu baru kemudian diperbaiki atau

dibetulkan. Maksud dari tindakan perbaikan ini adalah agar

fasilitas atau peralatan tersebut dapat dipergunakan kembali dalam

kegiatan operasional perusahaan, sehingga operasi dapat berjalan

lancar kembali.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 36

2.3.4 Manfaat Dan Tujuan Pemeliharaan

Salah satu maksud utama kegiatan pemeliharaan adalah untuk

memelihara kemampuan sistem pengoperasian pada tingkat yang lebih baik

dan tetap memaksimumkan laba atau meminimumkan biaya.

Jika berbicara tentang manfaat, maka ada lima manfaat yang dapat

dipetik dari adanya kegiatan pemeliharaan (maintenance) ini adalah sebagai

berikut :

1. Fasilitas yang ada didalam perusahaan yang bersangkutan akan

dapat dipergunakan dalam jangka waktu yang relatif lebih panjang.

2. Pelaksanaan operasional didalam perusahaan yang bersangkutan

akan berjalan dengan lancar.

3. Dapat menghindarkan atau setidak-tidaknya dapat menekan

seminimal mungkin terjadinya kerusakan-kerusakan berat dari fasilitas

perusahaan yang dipergunakan selama kegiatan operasional.

4. Dapat menekan biaya pemeliharaan seminimal mungkin karena

dapat menghindarkan kerusakan fasilitas yang lebih parah.

5. Perencanaan biaya pemeliharaan dapat disusun secara lebih baik

dan koordinasi antar bagian yang terkait dapat berjalan lebih baik.

Menurut Johns dan Harding dalam bukunya “Manajemen Operasi”

yang diterjemahkan oleh Kunto Wibisono menyatakan bahwa :

“Tujuan pemeliharaan fasilitas adalah mendukung keunggulan


bersaing yang diinginkan perusahaan dalam konteks untuk
menyediakan tingkat layanan yang optimal dikaitkan dengan
ketersediaan biaya fasilitas total.”
(2001:157)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 37

2.4 Biaya Pemeliharaan

2.4.1 Pengertian BiayaPemeliharaan

Biaya pemeliharaan harus dialokasikan oleh perusahaan untuk

mencegah adanya kerusakan-kerusakan yang lebih besar pada alat-alat

produksi. Dengan adanya pemeliharaan yang baik dan rutin, akan tercipta

alat-alat produksi yang normal dan sesuai dengan standar, sehingga proses

produksi dapat berjalan sesuai dengan standar yang diinginkan.

Menurut Zaki Baridwan dalam bukunya yang berjudul “Intermediate

Accounting”, mendefinisikan biaya pemeliharaan sebagai berikut :

“Biaya pemeliharaan adalah biaya yang dikeluarkan untuk

memelihara atau menjaga agar aktiva tetap dalam kondisi yang

baik.”

(2000:291)

Sedangkan biaya pemeliharaan menurut Mulyadi dalam bukunya

“Akuntansi Biaya” adalah sebagai berikut :

“Biaya Pemeliharaan dan reparasi adalah biaya-biaya yang


berupa biaya suku cadang (spareparts) dan biaya bahan habis
pakai (factory supplies) dengan cara perolehan jasa dari pihak luar
perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan
gedung, bangunan, mesin-mesin dan peralatan, kendaraan,
perkakas laboratorium, dan aktiva tetap lain yang digunakan
untuk keperluan pabrik.”
(2000:345)

Dari kedua pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

biaya pemeliharaan merupakan pengeluaran biaya untuk memelihara aktiva

tetap perusahaan agar dalam kondisi yang baik sehingga operasi perusahaan

berjalan lancar. Biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memelihara


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 38

dan menjaga sarana dan fasilitas lainnya. Biaya-biaya tersebut dapat berupa

biaya suku cadang (spareparts) dan biaya bahan habis pakai (factory

supplies) dengan cara perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk

keperluan perbaikan dan pemeliharaan gedung, bangunan, mesin-mesin dan

peralatan, kendaraan, perkakas laboratorium, dan aktiva tetap lain yang

digunakan untuk keperluan pabrik agar terdapat keadaan operasi produksi

yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan perusahaan.

Menurut PT. PLN (Persero) dalam bukunya yang berjudul “Acuan

Hukum Pemberlakuan Tarif Dasar Listrik”, biaya pemeliharaan adalah

sebagai berikut :

“Biaya Pemeliharaan adalah biaya yang dikeluarkan oleh PT.


PLN untuk memelihara pembangkit, jaringan dan gedung-gedung
serta aktiva tetap PLN lainnya yang digunakan dalam operasi
penyediaan tenaga listrik yamg meliputi biaya pemakaian
material dan jasa borongan.”

(2003:132)

Berdasarkan pengertian diatas bahwa biaya pemeliharaan merupakan

biaya yang dikeluarkan oleh PT. PLN untuk memelihara pembangkit,

jaringan dan gedung-gedung serta aktiva tetap PLN lainnya yang digunakan

dalam operasi penyediaan tenaga listrik yamg meliputi biaya pemakaian

material dan jasa borongan. Biaya pemakaian material meliputi pemakaian

transformator, switchgear dan jaringan, kabel, alat ukur pembatas dan

kontrol, menara dan tiang, dan kwh meter. Sedangkan jasa borongan

meliputi upah tenaga kerja, termasuk didalamnya sewa diesel, dan

pembelian tenaga listrik.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 39

2.4.2 Perlakuan Akuntansi Biaya Pemeliharaan

Biaya pemeliharaan dalam akuntansi diperlakukan sesuai dengan

alokasi biaya pemeliharaan tersebut. Adapun perlakuan akuntansinya adalah

sebagai berikut :

1. Biaya pemeliharaan fasilitas produksi

Biaya pemeliharaan fasilitas produksi adalah biaya yang dikeluarkan

oleh perusahaan dengan tujuan untuk memperbaiki, memelihara alat-alat

produksi serta fasilitas lain yang berhubungan dengan proses produksi.

Biaya ini bisa merupakan pembelian barang habis pakai atau jasa-jasa pihak

luar yang ditujukan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan fasilitas

produksi, karena biaya ini merupakan biaya yang berhubungan dengan

proses produksi walaupun tidak secara langsung, maka biaya ini

diperlakukan sebagai biaya overhead pabrik.

2. Biaya pemeliharaan untuk fasilitas non pabrik

Biaya pemeliharaan untuk fasilitas non pabrik merupakan biaya-biaya

yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menjaga keekonomian masa yang

akan datang. Biaya ini dikeluarkan untuk mempertahankan standar kinerja

semua atas suatu aktiva non produksi. Pemeliharaan ini masuk klasifikasi

pengeluaran pendapatan dan harus dibebankan pada periode terjadinya serta

harus dialokasikan pada masing-masing departemen penerima kegiatan

pemeliharaan tersebut.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 40

3. Pengeluaran untuk perbaikan suatu aktiva tetap

Memperpanjang masa manfaat atau kemungkinan besar memberi

manfaat keekonomian dimasa yang akan datang (menambah manfaat pada

beberapa periode mendatang), untuk fasilitas produksi maupun non

produksi. Pengeluaran ini termasuk klasifikasi pengeluaran modal dan

perlakuan untuk pengeluaran tersebut adalah dikapitalisasi pada aktiva tetap

(menambah harga perolehan aktiva tetap).

2.6 Aktiva Tetap

2.6.1 Pengertian Aktiva Tetap

Hampir semua perusahaan bisnis maupun dagang dari segala macam

ukuran menggunakan harta-harta yang bersifat tahan lama dalam operasinya.

Peranan Aktiva tetap ini sangat besar sebagai salah satu alat bantu yang

dipakai dalam operasi perusahaan adalah untuk memperlancar aktivitas

perusahaan. Aktiva tetap ini dibeli atau dibangun tidak untuk dijual kembali

melainkan dipakai dalam operasi perusahaan sehari-hari dan mempunyai

umur ekonomis atau masa manfaat lebih dari satu tahun.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam bukunya Standar

Akuntansi Keuangan (SAK) dalam PSAK no. 16.2 tahun 2004

menyatakan bahwa:

“Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam


bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang
digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk
dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai
masa manfaat lebih dari satu tahun.”
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 41

Menurut Mulyadi dalam bukunya Sistem Akuntansi, menyatakan

bahwa:

“Aktiva tetap adalah kekayaan perusahaan yang memiliki wujud,


mempunyai manfaat lebih dari satu tahun, dan diperoleh
perusahaan untuk melaksanakan kegiatan perusahaan, bukan
untuk dijual kembali.”
(2002:591)

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan

bahwa suatu aktiva tetap dapat dikatakan sebagai aktiva tetap, apabila

memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Aktiva tetap diperoleh dengan tujuan untuk dipergunakan dalam

operasi perusahaan yang tidak dimaksudkan untuk dijual kembali.

2. Aktiva tetap mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

3. Pengeluaran dana untuk memperoleh aktiva tetap adalah dalam

jumlah yang relatif besar, dimana besar kecilnya tergantung dari

kebijakan kapitalisasi pada tiap perusahaan.

Menurut Kusnadi, Siti Maria & Riri 1 dalam bukunya “Akuntansi

Keuangan”, aktiva tetap adalah sebagai berikut :

“Aktiva tetap adalah semua benda yang dimiliki oleh perusahaan


yang memiliki nilai guna ekonomis serta mempunyai umur
ekonomi atau masa manfaat lebih dari satu tahun dan diakui serta
diukur berdasarkan prinsip akun yang diterima umum.”

(2001:270)

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa aktiva tetap

merupakan semua benda yang dimiliki oleh perusahaan yang memiliki nilai

guna ekonomis serta mempunyai umur ekonomi atau masa manfaat lebih
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 42

dari satu tahun dan diakui serta diukur berdasarkan prinsip akun yang

diterima umum.

2.6.2 Klasifikasi Aktiva Tetap

Aktiva tetap yang dimiliki perusahaan sangat beragam, sehingga untuk

membedakannya diperlukan pengklasifikasian yang cermat, agar tidak

tercampur dengan aktiva lain.

Aktiva tetap yang digunakan dalam operasi perusahaan ada dua jenis,

yaitu aktiva tetap berwujud (Tangible Assets) dan aktiva tetap tidak

berwujud (Intangible Assets).

Menurut Earl K. Stice, James D. Stice, K. Fred Skousen dalam buku

“Intermediate Accounting” yang diterjemahkan oleh Safrida R.P dan

Ahmad Maulana dalam bukunya “Akuntansi Intermediate”, menyatakan

bahwa :

“Aktiva tetap yang terdiri dari;


1. Aktiva tetap berwujud (Tangible Assets)
Yang termasuk dalam aktiva tetap berwujud, diantaranya:
 Tanah, yaitu harta yang digunakan untuk tujuan usaha.
 Bangunan, bangunan yang digunakan untuk menempatkan
operasi perusahaan.
 Peralatan, aktiva yang dipergunakan dalam proses produksi
atau penyediaan jasa. Contohnya antara lain mobil, truk, mesin,
furnitur.
2. Aktiva tetap tak berwujud (Intangible Assets).
Yang termasuk dalam aktiva tetap tak berwujud, diantaranya:
 Paten
 Merek Dagang
 Hak Cipta
 Hak Waralaba
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 43

 Daftar Pelanggan
 Goodwill .”

(2005:6)

Beberapa jenis aktiva tetap tak berwujud, dijelaskan sebagai berikut:

 Paten, yaitu suatu hak eksklusif yang diberikan oleh pemerintah

suatu Negara yang memungkinkan seorang penemu/ pencipta untuk

mengendalikan produksi, penjualan, atau penggunaan dari suatu

temuan/ciptaannya.

 Merek Dagang, yaitu suatu hak eksklusif yang diberikan oleh

pemerintah suatu Negara yang mengizinkan suatu simbol, label dan

rancangan khusus. Masa berlaku sahnya tidak terbatas.

 Hak Cipta, yaitu suatu hak eksklusif yang diberikan oleh

pemerintah suatu Negara yang mengizinkan seorang pengarang untuk

menjual, memberi izin, atau mengendalikan pekerjaannya.

 Hak Waralaba, yaitu suatu hak eksklusif atau keistimewaan yang

diterima suatu perusahaan atau individu untuk menjalankan fungsi-

fungsi tertentu atau menjual produk atau jasa tertentu.

 Daftar Pelanggan, yaitu suatu daftar atau database yang berisi

informasi tentang pelanggan seperti nama, alamat, pembelian

sebelumnya dan lainnya.

 Goodwill, yaitu sumber daya, faktor dan kondisi tak berwujud lain

yang memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan laba di atas laba

normal dengan aktiva yang dapat diidentifikasikan. Goodwill dicatat

hanya jika suatu entitas usaha diakuisisi melalui pembelian


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 44

2.6.3 Perolehan Aktiva Tetap

Ketika suatu aktiva dibeli secara tunai, maka perolehannya hanya

dicatat pada jumlah kas yang dibayar, termasuk semua pengeluaran yang

berhubungan dengan pembelian dan persiapan aktiva untuk penggunaan

yang direncanakan. Tetapi, aktiva juga dapat dibeli dengan berbagai

perjanjian lain, yang sebagian diantaranya memiliki masalah khusus

mengenai harga perolehan yang akan dicatat.

Menurut Earl K. Stice, James D. Stice, K. Fred Skousen dalam buku

“Intermediate Accounting” yang diterjemahkan oleh Safrida R.P dan

Ahmad Maulana dalam bukunya “Akuntansi Intermediate”, menyatakan

bahwa;

“Perolehan aktiva tetap selain dengan transaksi kas, diantaranya:


1. Pembelian secara paket
2. Pembayaran yang ditangguhkan
3. Sewa guna usaha
4. Pertukaran aktiva non moneter
5. Perolehan dengan penerbitan surat berharga
6. Kontruksi sendiri
7. Perolehan melalui sumbangan atau penemuan
8. Akuisisi suatu perusahaan secara keseluruhan.”
(2005:10)

Beberapa perolehan aktiva tetap berdasarkan kutipan di atas dapat

dijelaskan sebagai berikut:

1. Pembelian secara Paket

Dalam beberapa pembelian, sejumlah aktiva dapat dibeli dalam suatu

pembelian secara paket. Alokasi harga perolehan dalam pembelian secara

paket ini, beberapa aktiva dalam kelompok tersebut dapat disusutkan,

sementara yang lainnya tidak. Aktiva yang disusutkan mungkin memiliki


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 45

masa manfaat yang berbeda-beda. Beban penyusutan periodik dapat secara

signifikan dipengaruhi oleh proporsi harga pembelian yang dialokasikan

pada aktiva dengan masa manfaat yang relatif panjang.

2. Pembayaran yang Ditangguhkan

Perolehan real estate atau properti lainnya terkadang berupa

pembayaran yang ditangguhkan untuk semua atau sebagian dari harga

pembelian. Apabila tidak ada nilai yang ditentukan untuk suatu properti atau

jasa, dan tidak ada suatu tingkat bunga yang ditetapkan pada suatu kontrak,

maka suatu tingkat bunga perkiraan harus digunakan. Tingkat bunga

perkiraan adalah estimasi tentang tingkat bunga yang harus dibayar oleh

perusahaan peminjam atas suatu pinjaman berdasarkan tingkat kelayakan

kreditnya atau tingkat bunga pasar yang berlaku.

3. Sewa Guna Usaha

Adalah suatu kontrak dimana satu pihak (penyewa) diberikan hak

untuk menggunakan aktiva yang dimiliki oleh pihak lain, yaitu pihak yang

menyewakan untuk suatu periode waktu tertentu dan untuk suatu biaya

periodik tertentu.

4. Pertukaran Aktiva Non Moneter

Dalam beberapa kasus, suatu perusahaan memperoleh suatu aktiva

baru dengan cara menukarnya dengan aktiva non moneter yang ada.

Umumnya, aktiva yang baru harus dinilai pada nilai pasar wajarnya atau

pada nilai pasar wajar dari aktiva yang diserahkan. Jika aktiva non moneter

yang diserahkan untuk memperoleh aktiva baru adalah properti atau


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 46

peralatan, maka penjualan suatu properti terjadi bersamaan dengan

perolehan tersebut. Apabila pertukaran aktiva non moneter terjadi, maka

penggunaan nilai pasar wajar akan menyebabkan adanya keuntungan atau

kerugian dari pelepasan aktiva non moneter tersebut.

5. Perolehan dengan Penerbitan Efek

Suatu perusahaan dapat memperoleh properti tertentu dengan cara

menerbitkan obligasi atau saham. Jika nilai pasar dari efek tersebut dapat

ditentukan, maka nilai tersebut akan digunakan sebagai nilai aktiva. Jika

tidak ada nilai pasar dari efek tersebut, maka digunakan nilai pasar wajar

dari aktiva yang diperoleh. Jika suatu efek tidak memiliki nilai pasar, maka

penilaian oleh suatu otoritas yang independen atas aktiva yang diperoleh

mungkin diperlukan untuk mendapatkan nilai pasar wajar yang objektif.

6. Kontruksi Sendiri

Kadang kala bangunan atau peralatan dibangun atau dibuat sendiri

oleh perusahaan untuk digunakan sendiri. Hal ini mungkin dilakukan untuk

menghemat biaya, untuk menggunakan fasilitas yang menganggur atau

untuk mendapatkan kualitas bangunan yang lebih baik. Seperti halnya aktiva

yang dibeli, aktiva ini dicatat pada harga perolehannya, termasuk semua

pengeluaran yang terjadi untuk membuat aktiva dan mempersiapkan aktiva

tersebut untuk digunakan sesuai dengan rencana.

7. Perolehan Melalui Sumbangan atau Penemuan

Ketika aktiva diperoleh melalui sumbangan, tidak ada biaya yang

dapat digunakan sebagai dasar perhitungannya. Meskipun ada pengeluaran


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 47

tertentu yang harus dikeluarkan secara insidental untuk mendapatkan hadiah

tersebut, tetapi pengeluaran tersebut biasanya jauh lebih kecil dibandingkan

dengan nilai aktiva tersebut. Dalam hal ini, biaya tentu saja tidak dapat

dijadikan sebagai dasar penilaian. Properti yang diperoleh melalui donasi

harus diperkirakan nilainya dan dicatat sesuai dengan harga pasar wajarnya.

Sumbangan diakui sebagai pendapatan atau keuntungan pada saat diterima.

8. Akuisisi Suatu Perusahaan Secara Keseluruhan

Dari pada membeli aktiva tertentu dari perusahaan lain, seperti dalam

pembelian secara paket, kadang kala perusahaan membeli perusahaan lain

tersebut secara keseluruhan. Hal ini disebut dengan penggabungan usaha.

Prosedur-prosedur akuntansi untuk penggabungan usaha sama dengan

prosedur yang digunakan dalam pembelian secara paket. Perbedaan

utamanya adalah bahwa dalam suatu penggabungan usaha, jumlah nilai

wajar dari aktiva yang dapat diidentifikasi biasanya lebih sedikit

dibandingkan dengan jumlah total yang dibayarkan untuk membeli

perusahaan.

2.7 Aktiva Tetap Berwujud

2.7.1 Pengertian Aktiva Tetap Berwujud

Aktiva tetap berwujud merupakan harta yang dimiliki perusahaan yang

mempunyai peranan penting untuk menunjang kegiatan operasional

perusahaan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 48

Menurut Zaki Baridwan dalam bukunya “Intermedite Accounting”,

pengertian aktiva tetap berwujud adalah sebagai berikut :

“Aktiva tetap berwujud adalah aktiva berwujud yang sifatnya


relatif permanen, yang digunakan dalam kegiatan normal
perusahaan, dimana aktiva yang bersangkutan dapat digunakan
dalam jangka waktu yang relatif cukup lama atau lebih dari satu
periode akuntansi.”
(2001:271)

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam bukunya Standar

Akuntansi Keuangan (SAK) dalam PSAK no. 16.2 tahun 2002

menyatakan bahwa:

“ Aktiva tetap Berwujud (Tongible Asset) adalah aktiva berwujud


yang berumur panjang (lebih dari satu tahun periode akuntansi)
yang sifatnya permanen yang digunakan dalam kegiatan operasi
perusahaan dan yang dibeli bukan untuk dijual lagi dalam operasi
normal perusahaan.”

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

aktiva tetap berwujud merupakan aktiva berwujud yang berumur panjang

(lebih dari satu tahun periode akuntansi) yang sifatnya permanen yang

digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan dan yang dibeli bukan untuk

dijual lagi dalam operasi normal perusahaan.

2.7.2 Kapitalisasi Aktiva Tetap Berwujud

Aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan banyak sekali jumlahnya

dan mempunyai nilai yang sangat besar, guna menghindari pengeluaran-

pengeluaran bagi aktiva yang nilainya relatif besar dan kurang efisien serta

penatausahaan aktiva yang memakan waktu dan biaya lebih dari perolehan

aktiva tetap tersebut, maka diperlukan kebijakan kapitalisasi, yaitu kebijakan


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 49

yang menetapkan jumlah atau batas minimum dimana suatu pengeluaran

aktiva dapat dikapitalisasi atau disesuaikan dengan kebutuhan yang ada pada

perusahaan.

Dengan adanya kebijakan kapitalisasi ini, maka kesulitan perusahaan

dapat dikurangi terutama dalam membedakan antara pengeluaran modal

dengan pengeluaran pendapatan serta dalam menentukan beban penyusutan.

Berikut ini pengertian tentang pengeluaran modal dan pengeluaran

pendapatan.

1. Pengeluaran modal (Capital Expenditure) adalah pengeluaran yang

berasal dari modal dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode

akuntansi.

2. Pengeluaran pendapatan (Revenue Expenditure) adalah pengeluaran

yang masa manfaatnya hanya untuk satu periode akuntansi dan biasanya

dicatat sebagai biaya.

Dasar pertimbangan dalam pencatatan pengeluaran-pengeluaran untuk

aktiva tetap adalah berapa lama manfaat pengeluaran tersebut dapat

dirasakan, selain pertimbangan masa manfaat, kadangkala untuk masalah

kepraktisan, dilakukan penyimpangan yaitu:

a. Pengeluaran itu relatif kecil.

b. Manfaat di masa yang akan datang tidak begitu berarti.

c. Sulit untuk mengukur masa manfaat di masa yang akan

datang.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 50

Seringkali pihak yang berwenang dalam perusahaan memutuskan

kebijakan akuntansi yang berisi bahwa pengeluaran-pengeluaran sampai

jumlah tertentu dianggap sebagai pengeluaran pendapatan dan pengeluaran

di atas jumlah tertentu dianggap sebagai pengeluaran modal apabila

pengeluaran tersebut jelas-jelas memberikan manfaat untuk periode yang

akan datang.

2.7.3 Penilaian Aktiva Tetap Berwujud

Dalam hubungannya dengan penilaian aktiva tetap berwujud, Prinsip

Akuntansi Indonesia menyatakan bahwa Aktiva tetap dinyatakan sebesar

nilai buku yaitu harga perolehan aktiva tetap tersebut dikurangi dengan

akumulasi penyusutannya.

Yang dimaksud dengan harga perolehan aktiva tetap adalah jumlah

uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh aktiva

tetap. Jika aktiva tetap diperoleh dari pertukaran maka harga pasar aktiva

yang diserahkan tidak diketahui, maka harga pasar yang diterima dicatat

sebagai hasil perolehan aktiva tetap.

Sesudah harga perolehan dan dalam masa penggunaan maka untuk

aktiva yang umurnya tidak terbatas seperti tanah, dilaporkan dalam neraca

sebesar harga perolehannya, sedangkan untuk aktiva tetap yang umurnya

terbatas dicantumkan dalam neraca sebesar harga perolehan dikurangi

dengan akumulasi depresiasi/deplesi. Harga perolehan dikurangi akumulasi

depresiasi/deplesi disebut nilai buku.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 51

2.8 Nilai Buku

2.8.1 Pengertian Nilai Buku

Aktiva tetap dinilai sebesar nilai bukunya, yaitu harga perolehan

dikurangi dengan akumulasi penyusutan. Tetapi, apabila manfaat ekonomi

dari suatu aktiva tetap tidak lagi sebesar nilai bukunya, maka aktiva tersebut

harus dinyatakan sebesar jumlah yang sepadan dengan nilai manfaat

ekonomi yang tersisa.

Menurut Soemarso S.R dalam bukunya yang berjudul “ Akuntansi

Akuntansi Suatu Pengantar“, pengertian nilai buku adalah :

“Nilai buku atau disebut juga aktiva tetap neto adalah jumlah
neto yang dihitung berdasarkan harga perolehan aktiva tetap
dengan akumulasi penyusutan.’

(2000:39)
Sedangkan menurut Michell Suharli dalam bukunya yang berjudul

“Akuntansi Untuk Bisnis Jasa dan Dagang“, pengertian nilai buku

adalah:

“Nilai buku (book value) atau jumlah tercatat (carrying value)

adalah harga perolehan suatu aktiva tetap yang dikurangi dengan

akumulasi penyusutannya.”

(2002:264)

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

nilai buku atau aktiva tetap neto merupakan jumlah neto yang dihitung

berdasarkan harga perolehan aktiva tetap dengan akumulasi penyusutannya.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 52

Aktiva tetap dinilai sebesar nilai bukunya, yaitu harga perolehan dikurangi

dengan akumulasi penyusutan.

2.9 Pengaruh Biaya Pemeliharaan Terhadap Nilai Aktiva Tetap

Berwujud

Biaya pemeliharaan yang terlalu besar daripada yang diperlukan akan

memberikan beban tetap yang besar bagi perusahaan, jika terlalu kecil maka

akan mengakibatkan kondisi aktiva tetap menurun, sehingga berakibatkan

tingkat operasi berada dibawah tingkat operasi yang diinginkan. Akibat dari

besarnya pemakaian aktiva tetap tersebut akan berdampak terhadap biaya

pemeliharaan menjadi lebih besar melebihi yang diperlukan dan akan

memberikan beban tetap serta merubah penilaian terhadap aktiva tetap.

Biaya pemeliharaan tersebut meliputi total pemakaian material dan

jasa borongan. Biaya pemakaian material meliputi pemakaian transformator,

switchgear dan jaringan, kabel, alat ukur pembatas dan kontrol, menara dan

tiang, dan kwh meter. Sedangkan jasa borongan meliputi upah tenaga kerja,

termasuk didalamnya sewa diesel, dan pembelian tenaga listrik.

Biaya pemeliharaan merupakan pengeluaran-pengeluaran untuk

menjaga agar aktiva tetap dapat melangsungkan kegiatan produksinya,

bukan untuk menambah produktivitas dan unsur dari aktiva tersebut namun

lebih untuk mempertahankan agar aktiva tetap dapat bekerja secara optimal.

Adanya biaya pemeliharaan yang besar dapat memberikan kegiatan

pemeliharaan terhadap aktiva tetap berwujud secara rutin, sehingga akan

meningkatkan kapasitas atau mutu produksi dari aktiva tetap dan dapat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 53

memperpanjang masa manfaat dan menambah nilai suatu aktiva tetap yang

digunakan. Begitupula sebaliknya, jika biaya pemeliharaan yang dikeluarkan

kecil maka akan menghambat kegiatan pemeliharaan, sehingga

mengakibatkan keusangan atau kerusakan pada aktiva tetap berwujud dan

masa manfaat aktiva tetap dan nilai buku aktiva tetap pun menurun.

Dari uraian diatas dapat kita lihat adanya hubungan antara biaya

pemeliharaan dengan nilai buku aktiva tetap berwujud. Hal ini juga

diperkuat oleh Erhans dan Junaedi Yusuf dalam bukunya Akuntansi

Berdasarkan Prinsip Akuntansi Indonesia sebagai berikut :

“Biaya yang berhubungan dengan pemeliharaan dan reparasi


aktiva tetap yang memperpanjang masa manfaat dan mengurangi
akumulasi penyusutannya akan meningkatkan nilai buku aktiva
tetap tersebut.”

(2001:120)