Anda di halaman 1dari 7

HUBUNGAN KARAKTERISTIK DAN PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN SIKAP

MENDUKUNG PENERAPAN PROGRAM KESELAMATAN PASIEN


DI RSUD BANJARBARU

Nanda Wulandari1, Ratna Setyaningrum2, Musafaah3


1
Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran UNLAM
2
Bagian Kesehatan Keselamatan Kerja Fakultas Kedokteran UNLAM
3
Bagian Biostatistik Fakultas Kedokteran UNLAM

Abstrak

Latar Belakang: Angka kematian pasien di rumah sakit perlu mendapat perhatian terkait pelayanan
asuhan keperawatan yang merujuk pada konsep keselamatan pasien.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan dan karakteristik perawat dengan sikap mendukung
penerapan program keselamatan pasien di RSUD Banjarbaru.
Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi sebanyak 124
perawat dan sampel sebanyak 48 perawat.
Hasil: Diketahui ada hubungan tingkat pengetahuan responden dengan sikap mendukung penerapan
program p = 0,000, ada hubungan umur responden dengan sikap mendukung penerapan program p =
0,031, ada hubungan masa kerja responden dengan sikap mendukung penerapan program p = 0,000,
ada hubungan pelatihan dengan sikap mendukung penerapan program p = 0,000.
Kesimpulan: Pengetahuan dan karakteristik perawat (umur, masa kerja, dan pelatihan) memiliki
hubungan secara bermakna dengan penerapan sikap mendukung yang baik tentang program
keselamatan pasien.

Kata kunci: pengetahuan, karakteristik, sikap, keselamatan pasien, RSUD Banjarbaru

Abstract

Background: The mortality rate of patients in hospitals need attention related to nursing care which
refers to the concept of patient safety.
Objective: To investigate the relations between knowledge and attitude characteristics of nurses with
supporting the implementation of patient safety programs in Banjarbaru Hospital.
Methods: observational study with cross sectional approach. Using a sample of 24 nurses, from a
population of 124 nurses.
Results: Found a relation between the level of knowledge with an attitude to support the implementation
of the program p = 0.000. There is a relation between the age of respondents with an attitude to support
the implementation of the program p = 0.031. There is a relation between the period of employment of
the respondents with an attitude to support the implementation of the program p = 0.000. There is a
relation between training with an attitude to support the implementation of the program p = 0.000.
Conclusion: Knowledge and nurse characteristics (age, years of service, and training) have a significant
relation with the application of a good attitude about the program supports patient safety.

Keywords: knowledge, characteristics, attitude, patient safety, Banjarbaru hospital

PENDAHULUAN Angka kematian pasien di rumah


Menurut WHO tahun 2011 dalam sakit perlu mendapat perhatian dalam
Herwina ER tahun 2011 dilaporkan 23 kaitannya pelayanan asuhan keperawatan
kota di Amerika telah terjadi kesalahan yang merujuk pada konsep keselamatan
pengobatan, pemberian injeksi yang tidak pasien. Seorang tenaga keperawatan
aman dan tanpa alat yang steril profesional yang menjalankan pekerjaan
memberikan kontribusi 40% di seluruh berdasarkan ilmu sangat berperan dalam
dunia. Diperkirakan 1,3 juta kematian penanggulangan tingkat komplikasi
setiap tahun disebabkan oleh pemberian penyakit, terjadinya infeksi nosokomial
injeksi yang tidak aman (1). dan memperpendek hari rawat. Hal ini

13
termasuk langkah menuju penerapan HASIL DAN PEMBAHASAN
program keselamatan pasien (2). A. Karakteristik dan Pengetahuan
Sikap perawat dalam mendukung Responden
penerapan program keselamatan pasien 1. Karakteristik responden
dipengaruhi oleh banyak hal. Selain dari Tabel 1. Distribusi frekuensi karakteristik
faktor pengetahuan dan karakteristik Karakter- Kategori f %
perawat (umur, jenis kelamin, dan masa istik
kerja) yang terkandung dalam karakteristik Jenis Pria 16 33.3
predisposisi dari faktor kepercayaan. Kelamin Wanita 32 66.7
Sikap juga dipengaruhi oleh karakteristik Total 48 100
pendukung dan kebutuhan. Pengetahuan Pendidik- DIII 39 81.2
an S1 9 18.8
dan karakteristik perawat merupakan
terakhir Total 48 100
fokus dalam penelitian ini karena
Masa Rendah (< 5 th) 17 35.4
merupakan faktor utama dalam diri Kerja Tinggi (≥ 5 th) 31 64.6
Menurut data Rekam Medik Rumah Total 48 100
Sakit Umum Daerah (RSUD) Banjarbaru Karakter- Kategori f %
pada Tahun 2011 saat survei istik
pendahuluan terjadi kematian pasien Umur 25-35 27 56.2
sebanyak 141 jiwa dengan kematian < 48 > 35 21 43.8
jam sebanyak 63 jiwa dan > 48 jam Total 48 100
sebanyak 78 jiwa. Hal ini menjadi Pelatihan Pernah 35 72.9
pertanyaan mengapa pasien yang berada Kesela- Belum pernah 13 27.1
di rumah sakit > 48 jam lebih tinggi matan Total 48 100
dibandingkan dengan pasien yang berada Pasien
di rumah sakit < 48 jam. Pada tabel 1 terlihat bahwa
frekuensi responden pada penelitian ini
METODE lebih besar pada wanita dengan frekuensi
Penelitian observasional analitik 32 orang (66,7%), berdasarkan studi
dengan pendekatan cross sectional. psikologi telah menemukan bahwa wanita
Instrumen yang digunakan adalah angket lebih bersedia untuk memenuhi wewenang
data pribadi untuk mengetahui data dalam pekerjaannya daripada pria (4).
tenaga keperawatan yang meliputi : nama, Responden memiliki frekuensi lebih besar
umur, jenis kelamin, status perkawinan, dengan memiliki pendidikan terakhir pada
masa kerja, tingkat pendidikan, sudah DIII sebanyak 39 orang (81,2%).
pernah atau belum pernah ikut sosialisasi Responden lebih banyak memiliki masa
keselamatan pasien, angket untuk faktor- kerja tinggi dengan frekuensi sebanyak 31
faktor internal perawat dimana terdapat 14 orang (64,6%), masa kerja dikaitkan
butir pernyataan tentang pengetahuan, dengan pengalaman seseorang dalam
dan angket tentang sikap mendukung bekerja dimana semakin tinggi masa kerja
penerapan program keselamatan pasien seseorang, maka penyesuaian dengan
(variabel terikat) 10 butir pernyataan. pekerjaannya akan semakin baik (5).
Populasi semua perawat RSUD Umur responden lebih besar pada
Banjarbaru yaitu sebesar 124 orang pemantapan kerja (25-35) sebanyak 27
perawat. Sampel menggunakan teknik orang (56,2%), menurut penelitian Riyadi
purposive sampling dan telah memenuhi tahun 2007 dalam Rosyidah dkk tahun
kriteria inklusi sebanyak 48 orang perawat 2008 bahwa usia perawat sangat
dengan menggunakan Tabel Isaac dan berhubungan dengan kinerja perawat
Michael (3). dalam memberikan pelayanan
Analisis menggunakan uji chi-square keperawatan (5). Rata-rata responden
dengan 95% CI, kemudian mengetahui telah mengikuti pelatihan tentang
besarnya kekuatan hubungan dengan keselamatan pasien di rumah sakit
melihat dari parameter nilai Odd Ratio sebanyak 35 orang (72,9%), Menurut
(OR). Notoatmodjo dalam Edy Sukiarko tahun
2007, pelatihan memiliki tujuan penting
untuk meningkatkan pengetahuan dan

14
keterampilan sebagai kriteria keberhasilan 1. Umur
program kesehatan secara keseluruhan Tabel 4. Hubungan umur dengan sikap
(6). Hubungan OR p value
2. Pengetahuan responden Umur dengan 4,84
Tabel 2. Distribusi frekuensi pengetahuan 0,031
sikap (1,33-17,67)
Pengetahuan Kategori f % Berdasarkan uji statistik dengan
Keselamatan baik 33 68.8 menggunakan chi square menunjukkan p
Pasien kurang 15 31.2 value = 0,031 (<0,05) maka dapat
Total 48 100 disimpulkan adanya hubungan yang
Pada tabel 2 terlihat bahwa bermakna atau signifikan antara umur
frekuensi pengetahuan responden pada responden dengan sikap mendukung
penelitian ini sudah baik tentang program keselamatan pasien. Korelasi OR
keselamatan pasien dengan frekuensi 33 yang diperoleh adalah sebesar 4,84 hal ini
orang (68,8%) sedangkan frekuensi pada diartikan responden dengan umur 25-35
responden yang memiliki pengetahuan tahun 4,84 kali memiliki sikap mendukung
kurang baik tentang keselamatan pasien yang baik dalam penerapan program
adalah 15 orang (31,2%). keselamatan pasien dibandingkan dengan
Menurut Azwar dalam Hartaty, responden dengan umur > 35 tahun.
Indirawaty dan Alias Tahun 2007 Menurut penelitian Riyadi tahun
pengetahuan dan sikap merupakan hal 2007 dalam Rosyidah dkk tahun 2008
yang sangat penting untuk membentuk bahwa usia perawat sangat berhubungan
suatu tindakan. Pengetahuan merupakan dengan kinerja perawat dalam
hasil dari tahu, dan hal ini terjadi setelah memberikan pelayanan keperawatan,
orang melakukan penginderaan terhadap karena semakin dewasa usia perawat,
suatu objek tertentu, individu mempunyai semakin banyak pula pengalaman yang
dorongan untuk mengerti, dengan dimilikinya. Selain itu, menurut
pengalamannya untuk memperoleh Suryabarata dalam Rosyidah dkk tahun
pengetahuan (7, 8). 2008 semakin bertambahnya umur
seseorang (sampai batas-batas umur
B. Gambaran Sikap Responden tertentu yang tidak dapat ditetapkan
Tabel 3. Distribusi frekuensi sikap karena sifatnya individual), maka variasi
Sikap Kategori f % kegiatan, perasaan, kebutuhan,
Mendukung baik 32 66.7 hubungan, dan sosialisasinya semakin
Penerapan kurang baik 16 33.3 bertambah (5).
K3 Total 48 100 2. Jenis kelamin
Pada tabel 3 terlihat bahwa Tabel 5. Hubungan jenis kelamin dengan
frekuensi responden pada penelitian ini sikap
terlihat sikap mendukung responden yang Hubungan p value
sudah baik tentang keselamatan pasien Jenis kelamin
0,941
dengan frequensi 32 orang (66,7%) dengan sikap
sedangkan frekuensi pada responden Berdasarkan uji statistik dengan
yang memiliki sikap kurang mendukung menggunakan chi square menunjukkan p
tentang keselamatan pasien adalah 16 value = 0,914 (> 0,05) maka dapat
orang (33,3%). Sikap merupakan reaksi disimpulkan tidak adanya hubungan yang
atau respon seseorang yang masih bermakna atau signifikan antara jenis
tertutup terhadap suatu stimulus atau kelamin responden dengan sikap
objek. Manifestasi sikap tidak dapat mendukung program keselamatan pasien.
langsung dilihat, tetapi hanya dapat Hasil ini sesuai dengan penelitian
ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang pernah dilakukan oleh Wandarti
yang tertutup (9). dalam Rosyidah dkk tahun 2007 dalam
penelitian mereka dikatakan bahwa jenis
C. Hubungan Karakteristik Individu kelamin pria dan wanita tidak ada
dan Pengetahuan dengan Sikap perbedaan yang berarti dalam hak dan
kewajiban. Berdasarkan penilitian sikap
mendukung penerapan keselamatan

15
pasien antara pria dan wanita tidak 4. Tingkat pendidikan
perbedaan namun pada tabel silang Tabel 7. Hubungan pendidikan terakhir
terlihat bahwa wanita lebih besar memiliki dengan sikap
kesempatan bersikap mendukung baik Hubungan p value
daripada pria. Jenis kelamin seorang Pendidikan terakhir
pegawai disinyalir memiliki kontribusi yang 1.000
dengan sikap
cukup berarti dalam mempengaruhi Berdasarkan uji statistik dengan
produktivitas kerja. menggunakan chi square menunjukkan p
Studi psikologis telah menemukan value = 1,000 (p > 0,05) maka dapat
bahwa wanita lebih bersedia untuk disimpulkan tidak adanya hubungan yang
memenuhi wewenang, dan pria lebih bermakna atau signifikan antara
agresif dan lebih besar kemungkinannya pendidikan terkahir responden dengan
daripada wanita dalam memiliki sikap mendukung program keselamatan
pengharapan untuk sukses, sehingga pasien.
dapat mempengaruhi produktivitas kerja Hasil penelitian ini sama dengan
diantara keduanya (5). hasil penelitian yang dilakukan oleh
3. Masa kerja Rosyidah dkk pada tahun 2008 bahwa
Tabel 6. Hubungan masa kerja dengan tidak ada perbedaan kinerja oleh tingkat
sikap pendidikan seoarang perawat. Selain itu
Hubungan OR p value penelitian Ernawati pada tahun 2006 juga
Masa dengan 0,015 mengatakan bahwa tingkat pendidikan
0,000
sikap (0,002-0,099) tidak mempengaruhi kinerja perawat
Berdasarkan uji statistik dengan dalam memberikan asuhan keperawatan
menggunakan chi square menunjukkan p (5).
value = 0,000 (p<0,05) maka dapat Menurut Manulang dalam Rosyidah
disimpulkan adanya hubungan yang dkk pada tahun 2008, kemahiran bekerja
bermakna atau signifikan antara masa tergantung pada tingkat pendidikan,
kerja responden dengan sikap mendukung pengetahuan, dan pengalaman
program keselamatan pasien. Korelasi OR seseorang. Pendidikan untuk perawat
yang diperoleh adalah sebesar 0,015 hal profesional minimal DIII keperawatan. Jika
ini diartikan responden dengan masa kerja dilihat dari perawat yang melaksanakan
≥ 5 tahun 0,015 kali memiliki sikap keselamatan pasien di rumah sakit sudah
mendukung yang baik dalam penerapan memenuhi standar seorang perawat
program keselamatan pasien professional, akan tetapi pada
dibandingkan dengan responden dengan kenyataanya tingkat pendidikan tidak
masa kerja < 5 tahun. mempengaruhi profesionalisme perawat
Hasil penelitian ini didukung dengan (5).
penelitian yang dilakukan Wandarti dalam 5. Pelatihan
Rosyidah dkk tahun 2007 bahwa masa Tabel 8. Hubungan pelatihan dengan sikap
kerja biasanya dikaitkan dengan waktu Hubungan OR p value
mulai bekerja, dimana pengalaman kerja Pelatihan 0,086
juga ikut menentukan kinerja seseorang. 0,000
dengan sikap (0,029-0,253)
Semakin lama masa kerja maka Berdasarkan uji statistik dengan
kecakapan akan lebih baik karena sudah menggunakan chi square menunjukkan p
menyesuaikan diri dengan pekerjaanya value = 0,000 (p < 0,05) maka dapat
(5). disimpulkan adanya hubungan yang
Lama kerja biasanya dikaitkan bermakna atau signifikan antara pernah
dengan waktu mulai bekerja dengan umur tidaknya responden mengikuti pelatihan
pada saat ini, masa kerja berkaitan erat tentang keselamatan pasien dengan sikap
dengan pengalaman-pengalaman yang mendukung program keselamatan pasien.
didapat selama dalam menjalankan tugas, Korelasi OR yang diperoleh adalah
karyawan yang berpengalaman dipandang sebesar 0,086 hal ini diartikan responden
lebih mampu dalam melaksanakan tugas yang pernah mengikuti pelatihan tentang
(10). keselamatan pasien 0,086 kali memiliki
sikap mendukung yang baik dalam

16
penerapan program keselamatan pasien jawabnya atau berkaitan dengan
dibandingkan dengan responden yang pekerjaan menjadi lebih baik dan efektif.
belum pernah mengikuti pelatihan tentang Hal ini tentu akan berpengaruh positif
keselamatan pasien. terhadap kinerja karyawan yang
Menurut Notoatmodjo dalam Edy bersangkutan (10).
Sukiarko tahun 2007, pelatihan memiliki Pelatihan merupakan bagian dari
tujuan penting untuk meningkatkan pendidikan. Pelatihan bersifat spesifik,
pengetahuan dan keterampilan sebagai praktis dan segera. Spesifik berarti
kriteria keberhasilan program kesehatan pelatihan berhubungan dengan bidang
secara keseluruhan. Menurut Depkes pekerjaan yang dilakukan. Praktis dan
dalam Edy Sukiarko tahun 2007 segera berarti yang sudah dilatihkan dapat
menyatakan bahwa tujuan pelatihan dipraktekkan. Umumnya pelatihan
merupakan upaya peningkatan dimaksudkan untuk memperbaiki
sumberdaya manusia termasuk penguasaan berbagai ketrampilan kerja
sumberdaya manusia tenaga kesehatan, dalam waktu yang relatif singkat. Suatu
kader posyandu, agar pengetahuan dan pelatihan berupaya menyiapkan para
keterampilannya meningkat (6). karyawan untuk melakukan pekerjaan
Seluruh petugas kesehatan adalah yang dihadapi (10).
pendidik kesehatan (health edicator). 6. Pengetahuan
Petugas kesehatan adalah menjadi tokoh Tabel 9. Hubungan pengetahuan
panutan di bidang kesehatan di tengah- dengan sikap
tengah masyarakat. Oleh sebab itu, Hubungan OR p value
petugas kesehatan harus mempunyai Pelatihan 65
sikap dan perilaku positif, sikap dan 0,000
dengan sikap (9,68-436)
perilaku petugas kesehatan dan petugas- Berdasarkan uji statistik dengan
petugas lain merupakan pendorong atau menggunakan chi square menunjukkan p
penguat perilaku sehat masyarakat. Untuk value = 0,000 (< 0,05) maka dapat
mencapai hal tersebut petugas kesehatan disimpulkan adanya hubungan yang
dan para petugas lain harus memperoleh bermakna atau signifikan antara tingkat
pendidikan dan pelatihan khusus tentang pengetahuan responden tentang
kesehatan atau pendidikan kesehatan dan keselamatan pasien dengan sikap
ilmu perilaku (11). mendukung program keselamatan pasien.
Menurut Samsudin dalam Endang Korelasi OR yang diperoleh adalah
Surani tahun 2008 yang menyatakan sebesar 65 hal ini diartikan responden
bahwa pelatihan merupakan serangkaian dengan tingkat pengetahuan yang baik
aktivitas yang dirancang untuk tentang keselamatan pasien 65 kali
meningkatkan pengetahuan, kemampuan, memiliki sikap mendukung yang baik
ketrampilan, sikap dan kinerja sumber dalam penerapan program keselamatan
daya manusia. Aktivitas ini mengajarkan pasien dibandingkan dengan tingkat
keahlian baru, memperbaiki keahlian yang pengetahuan kurang baik tentang
ada, dan mempengaruhi sikap dan keselamatan pasien.
tanggung jawab para karyawan. Menurut Walgito tahun 2003 dalam
Perkembangan organisasi atau penelitian Fadhila Arbi Dyah Kusumastuti
perusahaan terkait erat dengan kualitas tahun 2010 faktor yang mempengaruhi
sumber daya manusia. Apabila sumber pembentukan sikap adalah faktor
daya manusia kualitasnya rendah, pengetahuan. Menurut Azwar dalam
stagnasi organisasi atau perusahaan Hartaty, Indirawaty, dan Alias Tahun 2007
kemungkinan besar akan terjadi (10). pengetahuan dan sikap merupakan hal
Gomes dalam Endang Surani tahun yang sangat penting untuk membentuk
2008 mengemukakan definisi pelatihan suatu tindakan. Pengetahuan merupakan
adalah suatu kegiatan pembelajaran hasil dari tahu, dan hal ini terjadi setelah
dalam upaya meningkatkan pengetahuan orang melakukan penginderaan terhadap
dan ketrampilan untuk memperbaiki suatu objek tertentu, individu mempunyai
kinerja pekerja pekerjaan pada suatu dorongan untuk mengerti, dengan
pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung pengalamannya untuk memperoleh

17
pengetahuan. Sikap seseorang terhadap mendapatkan pelatihan diharapkan dapat
suatu objek menunjukkan pengetahuan mempraktikkan ilmu yang telah didapat
tersebut mengenai objek yang dalam melaksanakan SOP yang berlaku
bersangkutan (7, 8). sehingga dapat meningkatkan mutu
pelayanan RSUD Banjarbaru serta dapat
PENUTUP meningkatkan image rumah sakit;
A. Kesimpulan penelitian selanjutnya diharapkan benar-
Dapat disimpulkan bahwa sebagian benar mengatur waktu yang tepat agar
besar responden adalah wanita (66,7%), tidak mengganggu waktu kerja para
tingkat pendidikan DIII (81,2%), masa perawat yang menjadi responden
kerja ≥ 5 tahun (64,6%), umur 25-35 tahun penelitian, salah satunya dengan
(56,2%), dan pernah mengikuti pelatihan memperkecil responden dan melakukan
tentang keselamatan pasien (72,9%); penelitian dengan teknik wawancara
Sebagian besar responden memiliki terstruktur dengan konsep penelitian
pengetahuan baik tentang keselamatan kualitatif.
pasien (68,8%); sikap mendukung yang
baik dalam penerapan program DAFTAR PUSTAKA
keselamatan pasien di rumah sakit 1. Herwina ER. Rekomendasi
(66,7%); Terdapat hubungan pengetahuan keperawatan bagian sistem informasi
dengan sikap mendukung penerapan antisipasi medical error sebagai
program keselamatan pasien; terdapat upaya patient safety. Tesis. Jakarta:
hubungan umur, masa kerja, pelatihan Universitas Indonesia, 2011.
dengan sikap mendukung penerapan 2. Lestari T. Konteks lingkungan dalam
program keselamatan pasien, tidak implementasi patient safety. Buletin
adanya hubungan jenis kelamin, IHQN 2006; 2(4): 1-2.
pendidikan terakhir dengan sikap 3. Sugiyono. Metode penelitian
mendukung penerapan program kuantitatif, kulitatif, dan R&D.
keselamatan pasien; Berdasarkan nilai OR Bandung: Alfabeta, 2011.
diketahui kekuatan hubungan umur 4. Pasaribu F. Hubungan karakteristik
dengan sikap mendukung sebesar 4,84, pegawai dengan produktivitas kerja.
kekuatan masa kerja dengan sikap Jurnal Ichsan Gorontalo 2007; 2(1):
mendukung sebesar 0,015, kekuatan 629.
hubungan pelatihan dengan sikap 5. Rosyidah, Haryono, dan Oktafiani R.
mendukung sebesar 0,086, kekuatan Hubungan karakteristik perawat
hubungan pengetahuan dengan sikap dengan kinerja perawat dalam
mendukung sebesar 65. menangani ODHA di RS PKU
Muahmmadiyah Yogyakarta. Jurnal
B. Saran Kesehatan Masyarakat 2008; 2(3):
Beberapa saran yang dapat diajukan 181-191.
adalah: Kepada RSUD Banjarbaru yang 6. Sukiarko E. Pengaruh pelatihan
berperan dalam melaksanakan kegiatan dengan metode belajar berdasarkan
pelatihan terkait keselamatan pasien agar masalah terhadap pengetahuan dan
dapat memberikan kegiatan pelatihan keterampilan kader gizi dalam
secara terjadwal dan berkesinambungan kegiatan posyandu. Tesis. Semarang:
sehingga semua perawat yang berkerja di Universitas Diponegoro, 2007.
RSUD Banjarbaru mendapat pelatihan 7. Kusumastuti FAD. Hubungan antara
secara merata; kepada bagian promosi pengetahuan dengan sikap seksual
kesehatan rumah sakit (PKRS) dapat pranikah remaja. Skripsi. Surakarta:
menyediakan media-media promosi terkait Universitas Sebelas Maret, 2010.
keselamatan pasien yang dengan mudah 8. Hartaty, Indirawaty, dan Alias.
dapat di baca para tenaga medis di rumah Hubungan pengetahuan dan sikap ibu
sakit dalam mengingatkan tenaga medis balita dengan kunjungan ke posyandu
dalam bekerja sehingga sesuai dengan di Kelurahan Bara-Baranya Selatan
SOP yang telah ditetapkan; perawat Wilayah Kerja Puskesmas Bara-Bara
RSUD Banjarbaru yang telah

18
Makassar. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional 2007; 2(4): 142.
9. Primadani, Faridah, dan Suprayogi D.
Hubungan pengetahuan dan sikap
masyarakat dengan tindakan
pencegahan penularan penyakit
tuberkulosis di Desa Rejoagung
Kecamatan Sumber Wringin
Kabupaten Bondowoso. Jurnal Info
Kesehatan STIKES Insan Unggul
Surabaya 2009; 17-18.
10. Surani E. Analisis karakteristik
individu dan faktor intrinsik yang
berhubungan dengan kinerja bidan
pelaksana poliklinik kesehatan desa
dalam pelayanan kesehatan dasar di
Kabupaten Kendal tahun 2007. Tesis.
Semarang: Universitas Diponegoro,
2008.
11. Notoatmodjo S. Ilmu kesehatan
masyarakat prinsip-prinsip dasar.
Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

19