Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masalah selalu muncul dalam bentuk dan tingkat kerumitan yang
bermacam-macam. Apabila ada ketidaksesuaian dalam suatu situasi antara
keadaan yang sebenarnya dengan tujuan, dan didalam situasi tersebut
mengandung suatu perintang bagi seseorang dalam mencapai tujuan, maka
akan menimbulkan permasalahan.
Masalah merupakan tantangan dalam menjalani hidup, terlebih di
zaman modern seperti ini, tantangan hidup akan semakin berat. Manusia
dituntut untuk mampu bertahan hidup ditengah-tengah krisis ekonomi,
moral maupun pendidikan. Dalam menjalani kehidupan seseorang
tidaklah luput dari suatu masalah. Setiap individu memiliki masalah yang
berbeda-beda begitu pula cara penyelesaiannya. Sebagian individu mampu
menyelesaikan masalahnya dengan baik sementara beberapa dari
individu tersebut terkadang tidak mampu untuk menyelesaikan masalah
yang sedang dihadapinya. Ketidakmampuan menyelesaikan masalah
menyebabkan timbulnya distres. Distres tersebut dapat menimbulkan
emosi negatif atau afek negatif. Misalnya sedih, kecewa, putus asa, depresi,
tidak berdaya, frustasi, marah, dendam dan emosi-emosi negatif lainnya.
Emosi berkaitan dengan perasaan yang dialami oleh seseorang.
Emosi muncul dari dalam diri seseorang yang sering
diungkapkan dengan berbagai ekspresi seperti sedih, gembira, kecewa,
bersemangat, marah, benci, dan cinta. Emosi yang diberikan kepada
perasaan tertentu mempengaruhi pola pikir mengenai perasaan itu dan
cara bertindak. Hal ini disebabkan karena emosi merupakan faktor
dominan yang mempengaruhi perilaku seseorang. Kesadaran dan
pengetahuan tentang emosi memungkinkan setiap individu untuk
mampu membangun hubungan yang baik untuk bersosialisasi dengan
lingkungan.
Banyak cara untuk seseorang menyalurkan emosinya. Penyaluran
emosi bisa dilakukan dengan cara positif bisa juga dengaan cara
negatif. Contoh penyaluran emosi dengan cara positif misalnya melakukan

1
2

aktivitas yang disukai sepeti olah raga, nonton film, pergi jalan-jalan
dengan teman, membaca buku atau kegiatan positif lainnya. Berbeda
dengan sebagian individu memilih untuk menyalurkan dengan cara
negatif misalnya mengkonsumsi narkoba, minum-minuman beralkohol
atau dengan cara menyakiti dirinya (self injury). Menurut Gratz dkk.
(dalam Hasking dkk, 2002: 5) self injury berfungsi untuk mengurangi emosi
negatif dan stress.
Ada orang yang masih dapat mengontrol dirinya sehingga emosi
yang dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda
kejasmanian. Hal ini berkaitan dengan pendapat yang dikemukakan oleh
Ekman dan Friesen yang dikenal dengan display rules. Menurut Ekman dan
Friesen (dalam Walgito, 2002: 161) adanya tiga rules, yaitu masking,
modulation dan simulation.
Masking adalah keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan
atau dapat menutupi emosi yang dialaminya. Misalnya orang yang
sangat sedih kerena kehilangan anggota keluarganya. Kesedihan tersebut
dapat diredam atau dapat ditutupi, dan tidak adanya gejala kejasmanian
yang tampaknya menyebabkan rasa sedih tersebut. Pada modulation
orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala
kejasmaniannya tetapi hanya dapat mengurangi saja. Jika misalnya
karena sedih ia menangis tetapi tangisannya tidak mencuat-cuat. Pada
simulation orang tidak mengalami suatu emosi, tetapi ia seolah-olah
mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian.
Seorang pelaku self injury mempunyai masking yang cukup bagus
karena mereka cenderung mempunyai kepribadian yang introvert.
Mereka mampu menutupiemosi negatif dari orang lain dengan cara
menyalurkannya kepada perilaku selfinjury tersebut. Jadi self injury
merupakan perilaku yang sifatnya rahasia.
Self Injury adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan individu
untuk mengatasi rasa sakit secara emosional dengan cara melukai
dirinya sendiri, dilakukan dengan sengaja tapi tidak dengan tujuan bunuh
diri. Self injury biasa dilakukan sebagai bentuk dari pelampiasan atau
penyaluran emosi yang terlalu menyakitkan untuk diungkapkan dengan
kata-kata. Hal ini sesuai dengan pendapat Grantz (dalam Kanan dkk,
3

2008: 68) perilaku self injury sering dilihat sebagai cara mengelola emosi
dimana seseorang tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan
yang terlalu menyakitkan. Jika self injury berlangsung terus-menerus maka
akan berubah menjadi percobaan untuk bunuh diri.
Self injury sebagian besar adalah fenomena remaja. Ada kesepakatan
luas bahwa usia rata-rata onset adalah 14-16 tahun, tetapi benar juga
bahwa individu dapat memulai perilaku self injuury di masa kecil dan masa
dewasa (Whitlock, 2009: 2). Sedangkan menurut Favazza & Conterio
(dalam Klonsky dan Jennifer, 2007: 1046) usia onset biasanya adalah sekitar
usia 13 atau 14 tahun. Setidaknya dua studi perguruan tinggi menunjukkan
bahwa sekitar seperempat dari mereka yang melaporkan self injury mulai di
tahun-tahun kuliah (Whitlock, 2009: 2).
Tindakan mengambil pisau kemudian digunakan untuk diiriskan pada
tubuh sendiri kemudian memperhatikan darah yang mengalir dari luka
tersebut mungkin merupakan tindakan yang tidak terbayang dapat dilakukan
oleh seseorang. Namun dalam kenyataannya beberapa orang
melakukannya. Tindakan ini sengaja dilakukan, tidak dengan tujuan bunuh
diri tetapi sebagai suatu cara untuk melampiaskan emosi-emosi yang terlalu
menyakitkan untuk diekspresikan dengan kata-kata oleh karena itu maka self
injury dibedakan dari bunuh diri walau keduanya sama-sama menyebabkan
luka fisik pada tubuh. Perilaku ini bertujuan untuk mencapai pembebasan
dari emosi yang tak tertahankan, perasaan bahwa dirinya tidak nyata, dan
mati rasa.
Saat ini, perilaku menyakiti diri sendiri ini sudah mulai dikenal secara
umum. Sebagai contoh pada tahun 2003, New York Times memuat resensi
film "In My Skin" yang menceritakan mengenai seorang wanita pekerja yang
terlibat dalam perilaku self injury. Self injury diperkenalkan pada kebudayaan
kita melalui media yang populer seperti surat kabar atau internet dan konsep
mengenai self injury ini sudah lebih dapat diterima secara umum. Oleh
sebab itu adalah penting untuk mengerti konsep perilaku ini berserta
tatalaksananya. Penelitian terdahulu menunjukan bahwa pemahaman
mengenai perilaku self injury di bidang kesehatan masih minim di mana hal
ini dapat menyebabkan penatalaksanaan yang tidak tepat terhadap pelaku.
4

Di Indonesia, Self injury atau melukai diri sendiri saat ini marak dilakukan
oleh kalangan remaja. Hal ini dikarenakan oleh emosi mereka yang masih
tidak stabil (sedang dalam tahap pencarian jati diril). Kemudian dapat juga
disebabkan karena mengalami depresi akibat tekanan-tekanan yang diterima
dari lingkungan sekitarnya. Tekanan-tekanan itu terjadi kerena berbagai
perubahan yang terjadi terus menerus dalam berbagai hal terutama di
bidang pemerintahan. Sehingga dari segi ekonomi, kesehatan, politik,
maupun akademik terjadi perubahan yang tidak terhindarkan. Dalam sekian
banyak perubahan, warga merupakan pihak yang tak begitu diuntungkan
karena terombang-ambing dalam setiap perubahan yang terjadi. Terutama
para remaja.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang maka dapat di rumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Apakah yang di maksud dengan self injury?
2. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya self injury pada kalangan
remaja?
3. Bagaimana penatalaksanaan medis terhadap pasien self injury?
C. TUJUAN
1. Mengetahui apakah yang di maksud dengan self injury
2. Megetahui faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya self injury pada
kalangan remaja
3. Mengetahui bagaimana persepsi masyarakat tentang self injury
4. Mengetahui bagaiman cara mencegah perilaku self injury
5. Mengetahui bagaimana penatalaksanaan medis terhadap pasien self
injury
D. MANFAAT
1. Manfaat teoritis
Manfaat teoritis dari makalah ini yaitu dapat menambah pengetahuan
dan pemahaman terhadap permasalahan yang diteliti serta dapat
digunakan sebagai karya ilmiah dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
2. Manfaat praktis
Manfaat praktis dari makalah ini adalah dapat memberikan jawaban
terhadap permasalahan yang diteliti yaitu menjelaskan tentang
5

gambaran self injury. Selain itu, penelitian ini dapat memberi


pengetahuan dan informasi terkait self injury bagi remaja dan orang tua
serta masukan bagi para penelitian berikutnya khususnya dalam bidang
antropologi kesehatan.
6

BAB II
LANDASAN TEORI
DSM(Diagnostic & Statistical Manual of Mental Dissorder) IV dan
PPDGJ(Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa) III
menyebutkan bahwa self injury merupakan salah satu gejala yang dapat ditemui
pada gangguan kepribadian tipe ambang dan kadang-kadang juga dikaitkan
dengan beberapa gangguan jiwa lainnya (misalnya : gangguan depresi, manik,
bipolar, dan cemas). Self injury berkaitan dengan riwayat trauma dan kekerasan
di masa lalu, gangguan makan, atau biasanya dapat ditemui pada seseorang
dengan ciri kepribadian tertentu seperti memiliki kepercayaan diri yang rendah
atau memiliki perfeksionisme yang tinggi. Terdapat korelasi statistik yang positif
antara self injury dan riwayat kekerasan emosional.
Mengiris atau menggores dan membakar kulit adalah bentuk-bentuk self
injury yang paling umum. Biasanya mereka menggunakan silet, pisau, pecahan
kaca, atau alat-alat tajam lainnya-bahkan tutup botol atau kartu kredit. Keluarga
pelaku atau orang-orang di sekitar mereka yang mencoba menghalangi dengan
menyingkirkan benda-benda tajam sering kali terkejut karena mereka sangat
kreatif dan dapat mengubah benda apapun menjadi senjata dalam
sekejap.Tangan dan kaki adalah sasaran utama, begitu juga dada, perut, paha
dan alat kelamin. Kadang-kadang mereka menorehkan kata-kata di kulit mereka-
misalnya gendut dan jelek-untuk memproyeksikan perasaan mereka akan diri
mereka sendiri.
Banyak dari pelaku self injury memiliki pola rutin yang mereka rencanakan
dan lakukan secara teratur. Banyak juga yang melakukan tindakan-tindakan ini
secara acak, saat mereka memiliki perasaan-perasaan sulit. Mereka
menyembunyikan silet di laci, tas, lemari mereka agar selalu tersedia bila
dorongan untuk menyakiti dirinya timbul, jika mereka tidak memiliki barang-
barang yang dapat dijadikan senjata mereka biasanya kemudian memukul
tembok atau membenturkan kepala ke lantai.
Para pelaku self injury memiliki berbagai pandangan tentang perilaku
mereka. Kebanyakan setuju bahwa perilaku itu merusak, tetapi mereka merasa
tidak bisa berhenti karena rasa nyaman yang diperolehnya. Beberapa dari
mereka merasa bangga akan "prestasi" dan nilai seni yang mereka yakini

6
7

terpancar dari luka-luka mereka. Sedangkan di lain pihak beberapa dari mereka
merasa sangat malu akan bekas-bekas luka mereka dan berharap mereka dapat
menghilangkan bekas-bekas yang ada pada tubuh mereka.
Hal yang harus dikhawatirkan adalah bahwa banyak remaja yang saat ini
melakukan self injury akibat menganggapnya sebagai suatu perilaku yang luar
biasa dan unik, dan perilaku ini menyebar di kalangan remaja seperti gangguan
pola makan. Penelitian saat ini belum bisa menunjukan bahwa efek penyebaran
secara sosial ini benar adanya namun Yates(2004) menyatakan bahwa terdapat
bukti-bukti yang menunjukan bahwa seseorang melakukan self injury karena
mempelajarinya dari orang lain. Meskipun bukti-bukti yang pasti saat ini
menunjukan bahwa kebanyakan pelaku menemukan pola perilaku ini secara
tidak sengaja. Sebagai contoh, Conterio dan Favazza (1989) menemukan bahwa
91% pelaku melakukannya setelah mengetahuinya dari orang lain atau
membacanya di salah satu media sebelum memutuskan untuk terlibat dalam
perilaku ini.
A. Pengertian Self injury
Self injury adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan individu untuk
mengatasi rasa sakit secara emosional dengan cara melukai diri sendiri,
dilakukan dengan sengaja tapi tidak dengan tujuan bunuh diri, self injury
biasa dilakukan sebagai bentuk dari pelampiasan emosi yang terlalu
menyakitkan untuk diungkapkan dengan kata-kata (www.selfinjury.com).
The International Society for Study self injury mendefinisikan self injury
sebagai perilaku melukai diri sendiri dengan disengaja yang mengakibatkan
kerusakan langsung pada tubuh, untuk tujuan bukan sanksi sosial dan tanpa
maksud bunuh diri. (dalam Whitlock dkk, 2009: 1)
Menurut Mazelis (2008: 1) self injury adalah sengaja melukai tubuh
sendiri sebagai cara mengatasi masalah emosi dan stres. Orang-orang
melukai diri tidak untuk menciptakan rasa sakit fisik, tapi untuk
menenangkan rasa sakit emosional yang mendalam.
Berdasarkan beberapa pengertian yang sudah dikemukakan tersebut
dapat diambil kesimpulan bahwa self injury adalah perilaku melukai diri
sendiri secara sengaja dengan tujuan mengatasi masalah emosi tanpa
maksud untuk bunuh diri.
8

Self injury dapat berupa mengiris, menggores kulit atau membakarnya,


melukai atau mememarkan tubuh lewat kecelakaan yang sudah
direncanakan sebelumnya. Dalam kasus-kasus yang lebih ekstrim mereka
bahkan mematahkan tulang-tulang mereka sendiri, memakan barang-barang
yang berbahaya, mengamputasi tubuh mereka sendiri, atau menyuntikkan
racun ke dalam tubuh.
B. Jenis-jenis Self injury
Self injury terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain sebagai berikut:
(Caperton, 2004: 5)
1) Major self-mutilatin
Major self-mutilation didefinisikan sebagai melakukan kerusakan
permanen pada organ utama, seperti memotong kaki atau mencukil
mata. Self injury jenis ini biasanya dilakukan oleh individu yang
mengalami tahap psikosis. Stereotypic melukai diri kurang parah tapi
jauh lebih berulang.
2) Stereotipic self-injury
Stereotypic self injury tidak begitu parah tapi jauh lebih berulang.
Jenis self injury ini biasanya melibatkan perilaku berulang seperti
membenturkan kepala ke lantai secara berulang kali. Individu yang
terlibat dalam jenis self injury ini sering menderita gangguan saraf
seperti Autisme atau Sindrom Tourette.
3) Superficial self-mutilatin
Superficial self-mutilation dijelaskan oleh sebagai jenis yang paling
umum dari self injury. Contoh perilaku superficial self-mutilation adalah
menarik rambut sendiri dengan sangat kuat, menyayat kulit dengan
benda tajam, membakar bagian tubuh, membanting tubuhnya sendiri,
dan membenturkan kepala.
C. Bentuk-bentuk Self injury
Self injury dalam istilah lain dikenal sebagai Self Harm, bentuk paling umum
dari self injury adalah membuat irisan dangkal pada lengan atau tungkai.
Menurut Whitlock, dkk. (2006: 117) bentuk-bentuk self injury antara lain:
a. Menggores, menggaruk atau mencubit yang dapat menimbulkan tanda
pada kulit dan menyebabkan kulit berdarah
9

b. Membanting atau memukulkan objek kediri sendiri sehingga


menimbulkan luka memar atau berdarah
c. Mencabik-cabik kulit
d. Mengukir kata-kata atau bentuk-bentuk tertentu di permukaan kulit
e. Menyuluti atau membakar kulit dengan rokok, api ataupun air panas
f. Menarik rambut secara paksa dengan jumlah yang banyak.
Menurut Kanan dan Finger (2005: 3) bentuk-bentuk self injury yang bisa
dilakukan yaitu:
a. Menggores bagian tubuh tertentu
b. Membakar bagian tubuh tertentu dengan rokok
c. Memukul diri sendiri, memukul tembok atau benda keras yang lain
d. Membuat tubuh menjadi luka memar atau patah tulang
e. Membenturkan kepala
f. Menarik rambut
g. Menghantamkan tubuh terhadap suatu objek
h. Mencubit
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
bentuk-bentuk self injury yang dikemukakan oleh Kanan dan Finger telah
terwakili oleh bentuk self injury yang dikemukakan oleh Whitlock. Bentuk-
bentuk self injury tersebut antara lain: menggores tubuh, membakar tubuh,
mencubit, menarik rambut, dan memukul objek tertentu ke diri sendiri atau
sebaliknya.
D. Karakteristik Pelaku Self injury
Karakteristik pelaku self injury antara lain sebagai berikut:
(www.selfinjury.com)
a. Kesulitan mengendalikan impuls diberbagi area yang terlihat dalam
gangguan makan atau aksi terhadap zat-zat adiktif
b. Pernah menderita penyakit kronis sewaktu kecil atau cacat
c. Sangat tidak menyukai dirinya sendiri
d. Hypersensitive terhadap penolakan
e. Memiliki kemarahan yang kronis terhadap diri sendiri
f. Bertendensi menekan kemarahan
g. Memiliki perasaan agresif yang tinggi
10

h. Umumnya depresi atau stress berat


i. Mengidap kecemasan kronis
j. Sering mengalami iritabilitas
k. Bertendensi untuk menghindar
l. Tidak bisa mengontrol diri untuk bertahan hidup
m. Kurangnya kemampuan untuk menjaga atau membentuk hubungan yang
stabil
n. Takut akan perubahan
o. Tidak ada kemauan untuk mengurus diri sendiri dengan baik
p. Memiliki self esteem yang rendah
q. Masa kecil penuh trauma
r. Pola pemikiran yang kaku
Sedangkan Menurut Knigge (1999: 2) karakteristik umum pelaku self injury
adalah sebagai berikut:
a. Sangat tidak menyukai diri mereka sendiri
b. Sangat peka terhadap penolakan
c. Terus-menerus marah pada diri mereka sendiri
d. Cenderung untuk menekan kemarahan
e. Memiliki tingkat agresif yang tinggi, yang mereka setuju sangat kuat dan
sering menekan atau mengarahkan pada diri
f. Kurangnya impuls kontrol
g. Cenderung bertindak sesuai dengan suasana hati mereka saat itu
h. Cenderung tidak merencanakan masa depan
i. Mengalami depresi dan self destructive
j. Tidak henti-hentinya menderita kecemasan
k. Cenderung ke arah cepat marah
l. Tidak merasa diri mereka mampu mengatasi masalah, tidak memiliki
kemampuan untuk mengatasi masalah.
Penjelasan karakteristik pelaku self injury di atas, dapat diambil
kesimpulan bahwa pelaku self injury mempunyai karakteristik umum yaitu:
sangat tidak menyukai diri mereka sendiri, sangat peka terhadap penolakan,
terus-menerus marah pada diri mereka sendiri, cenderung untuk menekan
11

kemarahan, memiliki tingkat agresif yang tinggi, umumnya depresi atau


stress berat, mengidap kecemasan kronis
E. KARAKTERISTIK PSIKOLOGIS
Ada karakteristik-karakteristik psikologis pada mereka yang melakukan
self injury. Berikut ini adalah beberapa karakteistik yang menonjol disimpulkan
dari berbagai riset. Karakteristik-karakteristik ini tidak berdiri sendiri-sendiri,
tetapi saling bertautan dan dimanifestasikan bersama.
 Emosionalitas Negatif
Orang yang terlibat dalam perilaku self injury mengalami emosi-emosi
negatif yang lebih sering dan lebih intens dalam kehidupan sehari-hari.
Para pelaku ditemukakan menunjukkan skor tinggi pada pengukuran
untuk temperamen negatif, disregulasi emosi, depresi, dan anxietas.
Pengalaman yang intens dalam emosi-emosi negatif merupakan alasan
utama bagi mereka, dan sehingga dengan menyakiti diri sendiri dirasakan
oleh subyek dapat meringankan atau mengurangi beban distres
emosional (Klonsky, 2007, dalam Klonsky & Muehlenkamp, 2007; Walsh,
2007).
Self injury juga secara luas dikonseptualisasikan sebagai problem
dalam mengontrol impuls-impuls (Svirko & Hawton, 2007; Taylor,
Peterson, & Fischer, 2012). Impulsivitas juga berasosiasi dengan
gangguan makan (eating disorders), khususnya bulimia nervosa dan
anorexia nervosa. Kendati terdapat evidensi bahwa impulsivitas terlibat di
dalam asosiasi antara gangguan makan, meningkatnya impulsivitas
sendiri tidak dapat menjelaskan adanya asosiasi ini.
Favazza dan Siemeon (1995, dalam Svirko & Hawton, 2007)
membagi Self injury ke dalam dua kategori, yakni Self injury impulsif dan
Self injury kompulsif. Self injury impulsif (misalnya, menyayat, membakar,
memukul, membenturkan anggota badan) sifatnya episodik dan
menghasilkan kepuasan, ego-syntonic, dan sering dipicu oleh kejadian-
kejadian eksternal, dan tidak banyak perlawanan oleh si individu. Self
injury kompulsif (mencabuti rambut, mencakar, menggigiti kuku) sifatnya
habitual dan repetitif, disertai dengan perlawanan terhadap dorongan-
dorongan ego-dystonic. Self injury impulsif secara signifikan berkorelasi
dengan kesukaan untuk mencari hal-hal baru (noverlty-seeking), suatu
12

kualitas personal (trait) yang diyakini bertautan dengan impulsivitas. Self


injury kompulsif berkorelasi dengan penghindaran sakit (harm avoidance),
suatu kualitas pribadi yang bersinggungan dengan karakteristik-
karakteristik obssesif-kompulsif (Svirko & Hawton, 2007).
 Defisit Dalam Ketrampilan Emosi (Emotion Skills)
Di samping adanya peningkatan emosi negatif, mereka juga
mengalami kesulitan-kesulitan dalam mengelola pengalaman, kesadaran,
dan ekspresi emosi. Contohnya, studi oleh Gratz et al., 2002, dan studi
lainnya oleh Zlotnick et al., 1996, yang dikutip oleh Klonsky dan
Muehlenkamp, menemukakan bahwa subyek Self injury lebih mudah
mengalami periode-periode disosiasif, di mana sepanjang periode ini
pengalaman emosi mengalami hambatan. Subyek sering
mendeskripsikan pengalaman emosional mereka seperti “merasa tidak
ada apa-apa” atau “merasa tidak nyata” selama episode disosiatif. Selain
itu subyek cenderung mengalami aleksithimia (kesulitan dalam
mengidentifikasikan atau memahami emosi-emosi mereka sendiri), serta
kurang sadar atau waspada akan emosi mereka. Ciri lainnya adalah
kesulitan untuk mengekspresikan emosi dibandingkan orang yang tidak
melakukan Self injury.
 Derogasi-Diri (Self-Derogation)
Subyek yang terlibat dalam perilaku Self injury sering melakukan
derogasi-diri. Yang dimasudkan dengan karakteristik ini adalah
pengalaman emosional yang intens untuk mengkritik, mengecam,
menghukum, membenci, atau marah terhadap diri sendiri. Temuan oleh
Ross dan Heath (2003, dalam Mangnall dan Yurkovich, 2008)
menyimpulkan bahwa individu yang melukai-diri memperlihatkan derajat
yang lebih besar untuk rasa kebencian disertai kehendak menghukum
yang diarahkan ke luar diri (extrapunitive) dan rasa kebencian yang
diarahkan untuk menghukum diri (intrapunitive). Contoh dari yang
pertama adalah sikap sinis, membenci, atau mudah menjadi marah,
sedangkan contoh yang kedua adalah meragukan diri-sendiri, rasa
bersalah, dan mengecam diri-sendiri. Tendensi untuk menjadi mudah
marah atau gusar, dan pada saat yang bersamaan mengalami kebencian-
13

diri serta rasa bersalah bisa berakibat pada menjadikan diri sendiri
sebagai target dari perasaan-perasaan negatif ini.
F. Faktor-faktor Penyebab Self injury
Para peneliti dan teoresi telah lama berspekulasi tentang mengapa
orang melukai diri sendiri. Walau ada kesamaan perilaku self injury,
motivasi di baliknya bisa sangat berbeda-beda. Tetapi masing-masing
fungsi atau motivasi tidak musti bersifat ekslusif.
 Regulasi Afek
Ada beberapa definisi regulasi afek, dan satu definisi
dikemukakan di sini untuk pembahasan kita. Menurut Gratz (2007)
regulasi afek atau emosi merupakan sebuah konstruk yang berdimensi
jamak yang mencakup (a) kesadaran, pemahaman, dan penerimaan
emosi, (b) abilitas untuk berbuat yang terarah pada tujuan, dan untuk
mengekang perilaku-perilaku impulsif, ketika mengalami emosi-emosi
negatif, (c) kelenturan dalam menggunakan strategi situasional untk
memodulasi intensitas dan/atau durasi respons-respons emosinal, dan
(d) kesediaan untuk mengalami emosi-emosi negatif sebagai bagian
dari aktivitas pemaknaan dalam kehidupan.
Regulasi afek nampaknya menjadi fungsi yang paling menonjol
dalam tindakan Self injury. Self injury paling sering menjadi suatu
strategi untuk meringankan emosi negatif yang menegangkan dan
membebani (Gratz, 2007; Klonsky, 2007; Polk & Liss, 2009). Self injury
cenderung didahului oleh emosi-emosi seperti kemarahan,
kecemasan, kesedihan, frustasi, depresi, rasa bersalah dan rasa malu
dan selanjutnya diikuti oleh perasaan lega dan tenang setelah self
injury dilakukan (Walsh, 2007. Namun mereka berpendapat bahwa
individu yang masih melakukan self injury sebagai cara untuk
meregulasi afek negatif akan berpeluang besar untuk mengulang-
ulang perilaku ini dalam perkembangan selanjutnya.
 Menginginkan Sensasi
Aktivitas-aktivitas yang penuh resiko seperti skydiving atau bungee
jumping merupakan aktivitas yang memberika sensasi yang luar biasa
bagi pelakunya. Sensasi semacam inilah yang juga ingin dialami oleh
pelaku self injury, sebagai mana dikemukakan oleh Klonsky dan
14

Muehlenkamp (2007). Fungsi ini lebih sedikit diteliti dari pada fungsi-
fungsi lainnya, walaupun aktivitas olahraga semacam ini semakin
banyak digemari orang.
 Penghukuman-Diri
Motivasi yang berkaitan dengan penghukuman-diri atau dengan
kemarahan yang diarahkan pada diri sendiri banyak diungkapkan oleh
pelaku self injury. Pola ini konsisten dengan temuan Klonsky ataupun
peneliti lainnya mengenai derogasi-diri dan harga-diri rendah pada
individu yang melakukan self injury. Bersinggungan dengan apa yang
telah dikatakan di atas tentang regulasi afek, inidividu-individu ini
merasakan self injury sebagai sesuatu yang wajar dan memberikan
kelegaan dan pelepasan ketika mengalami distres. Oleh karena itu,
fungsi penghukuman-diri ini juga merupakan alasan yang paling umum
diungkapkan oleh pelaku self injury (Polk & Liss, 2009).
Luka sayatan, luka bakar atau benturan, dan juga purging (dalam
kasus gangguan makan) dan olahraga di luar batas dilaporkan oleh
pasien sebagai satu bentuk penghukuman-diri (Svirko & Hawton,
2007).
 Perlawanan terhadap Disosiasi (Anti-disosiasi)
Perasaan bahwa diri ini tidak ada atau tidak ada yang dirasakan
bisa menjadi beban pengalaman yang menakutkan. Dalam episode
disoasiatif seperti ini, ketakutan diputuskan dari sumbernya oleh
pelaku dengan cara melukai diri sendiri. Luka atau rasa sakit fisik yang
dimunculkan oleh perbuatan ini bisa menolong si subyek untuk
memperoleh kembali rasa dirinya (sense of self). Ada perasaan yang
lain yang ingin dirasakan daripada perasaan kosong dan tidak real
(Polk & Liss, 2009). Untuk alasan ini, Klonsky menggunakan istilah
feeling generation untuk mengacu pada fungsi antidisosiasi dari self
injury.
Secara umum disosiasi merujuk pada semacam akses yang
terpisah atau paralel ke kesadaran di mana dua atau lebih proses atau
konten mental tidak berasosiasi satu sama lain atau tidak terintergrasi.
Sebagai konsekuensinya, kesadaran individu mengenai emosi atau
pikirannya mengalami kemunduran dan dihindari. Relasi yang kuat
15

antara self injury dan disosiasi telah ditemukan dalam banyak studi
(Klonsky & Muehlenkamp, 2007; Svirko & Hawton, 2007). Self injury
digunakan sebagai cara untuk menimbulkan sensasi fisik dan untuk
mengakhiri pengalaman disosiatif. Salah satu alasan yang
diungkapkan oleh subyek adalah self injury membuat mereka
merasakan sesuatu daripada tidak ada yang dirasakan dan dengan
demikian mereka merasa diri mereka real (back to a sense of
realness).
 Perlawanan Terhadap Bunuh-Diri (Antisuicide)
Oleh beberapa ahli, self injury dikarakterisasikan sebagai cara
untuk menahan atau melawan dorongan untuk percobaan bunuh-diri.
Sensasi dan rasa sakit sebagai akibat dari self injury dirasakan oleh
individu untuk mencegah godaan dan ideasi untuk bunuh-diri. Fungsi
ini lalu mirip dengan regulasi afek karena self injury bisa memperkecil
beban emosi-emosi negatif yang kuat yang bisa mengarahkan individu
untuk menjadi suisidal (Polk & Liss, 2009).
 Pengaruh dan Batas-Batas (Boundaries) Antarpribadi
Walaupun sebagian dari konsekuensi self injury menghasilkan
penguatan negatif (yakni, berkurangnya ketegangan sebagai
konsekuensi dari self injury), sebagian lain dari konsekuensi dapat
memperbesar rasa sakit emosional pada pelaku. Beberapa contoh dari
konsekuensi terakhir ini adalah rasa malu, bersalah, menyesal, dan
rasa terisolasi atau kesepian dari relasi sosial (Gratz, 2007;
Muehlenkamp, Brausch, Quigley, & Whitlock, 2013).
Agresivitas juga membedakan individu self injury dari individu non-
self injury. Dengan kata lain, individu dengan tingkat agresi
interpersonal yang lebih tinggi memperlihatkan peluang yang lebih
besar untuk menjadi pelaku daripada mereka yang kurang agresif.
Namun subyek self injury dengan tingkat agresi interpersonal yang
lebih tinggi tidak harus diartikan bahwa mereka akan terus bertahan
dengan perilaku ini dibandingkan dengan non-self injury.
Studi oleh Pierro dkk., (2012) mencoba untuk melihat ciri-ciri
kualitas (traits) kepribadian, relasi keluarga, dan episode malatritmen
dalam hubungannya dengan terjadinya self injury dan tingkat
16

keseriusnya. Dari aspek kepribadian, terdapat korelasi positif antara


kondisi-kondisi cemas, depresif, agresif, dan impulsif dengan self
injury. Temuan ini juga banyak dijumpai kemiripannya dengan riset-
riset lainnya, termasuk yang dikaji dalam tulisan ini. Dalam hal relasi
keluarga, kualitas hubungan dengan ibu muncul sebagai aspek yang
paling penting untuk terjadinya self injury. Hubungan yang baik dengan
ibu menurunkan peluang terjadinya self injury. Di kalangan partisipan
dengan self injury, kualitas relasi dengan ayah dan ibu berkorelasi
dengan tingkat keseriusan (severity) self injury. Partisipan melukai diri
lebih sering apabila relasi dengan ayah memburuk dan bila mereka
lebih mengidentifikasi diri dengan ayah.
Jadi, motivasi-motivasi interpersonal untuk self injury bisa
mencakup kehendak/hasrat untuk berkomunikasi, menekan orang lain,
bersaing dengan pelaku self injury lainnya, menyelesaikan konflik, dan
membangun keintiman. Oleh karena itu penting bagi klinisian untuk
mempertimbangakn fungsi-fungsi intrapersonal dan interpersonal
semacam ini.
Jikalau individu dipandang sebagai sebuah sistem yang kompleks,
bertumbuh-kembang dalam interaksi dengan lingkungannya dan terdiri
dari sejumlah subsistem yang berinteraksi dengan individu, maka
mudah diperkirakan bahwa problem-problem penyesuaian yang
berbeda-beda akan berpengaruh satu terhadap yang lain dengan
aneka ragam cara selama masa perkembangan individu. Misalnya,
apabila self injury cenderung berkembang dalam individu dengan
keretanan emosional ketika mereka diperhadapkan dengan suatu
trauma, maka problem dengan kerentanan emosional akan menjadi
sebuah faktor resiko bagi berkembangnya self injury. Sebaliknya, jika
tindakan self injury mengarah pada reaksi-reaksi negatif dari orangtua,
guru dan teman sebaya sedemikian rupa yang mengusik relasi
interpersonal, atau menuju pada anxietas, kemarahan, rasa malu, rasa
bersalah, dan penyesalan atas perilaku desktruktif-diri pada si individu,
maka self injury akan menjadi faktor resiko untuk berkembangnya
problem-problem emosional dan interpersonal (Lund, Wangby-Lund &
Bjarehed, 2011).
17

Sedangkan menurut Linehan (1993: 65), ia mengatakan bahwa faktor


penyebab self injury adalah faktor keluarga dan lingkungan pergaulan
yang tidak sehat dimana pelaku tinggal, diantaranya:
a. Tumbuh didalam keluarga yang kacaubalau
b. Kurang kasih sayang ataupun kurang perhatian
c. Pernah mengalami kekerasan dalam keluarga
d. Adanya komunikasi yang kurang baik di dalam keluarga
e. Mengekspresikan pengalaman pribadi tidak ditanggapi dengan baik
dan sering dihukum atau diremehkan
f. Mengekspresikan perasaan yang menyakitkan ditanggapi dengan
acuh tak acuh.
Menurut Martinson (1999: 1) faktor penyebab dilakukannya self injury
antara lain:
a. Faktor keluarga
Kurangnya peran model pada masa kecil dalam mengekspresikan
emosi serta kurangnya komunikasi antar anggota keluarga.
b. Faktor pengaruh biomikia
Pelaku self injury memiliki masalah yang spesifik dalam sistem
serotogenik otak yang menyebabkan meningkatnya impulsivitas dan
agresivitas.
c. Faktor psikologis
Pelaku self injury merasakan adanya kekuatan emosi yang tidak
nyaman dan tidak mampu untuk mengatasinya.
d. Faktor kepribadian
Tipe kepribadian introvert memiliki kecenderungan self injury lebih
besar dibandingkan tipe kepribadian ekstrovert saat sedang
menghadapi masalah. Pola perilaku self injury sangat bergantung
pada mood seseorang. Selain itu adanya harga diri yang rendah, pola
pemikiran yang kaku dan sulitnya mengkomunikasikan perasaan
menjadi faktor penunjang bagi seseorang untuk melakukan self injury.
Sutton (2005: 155) menambahkan faktor penyebab self injury adalah
karena faktor-faktor psikologis yaitu merasa tidak kuat menahan emosi
dan merasa terjebak, stress, self esteem yang rendah, tidak sanggup
mengekspresikan ataupun mengungkapkan perasaan, merasa hampa
18

atau kosong, adanya perasaan tertekan didalam batin yang tidak dapat
ditolerir setelah kehilangan orang yang disayangi, ingin mendapat
perhatian lagi dari orang yang disayangi, merasa putus asa, tidak
sanggup menghadapi realita, tidak berguna, hidup terasa sulit, frustrasi
dan depresi.
Berdasarkan penjelasan yang ada diatas maka peneliti
menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
munculnya self injury dapat dikelompokan menjadi dua faktor, yaitu:
a. Faktor keluarga, yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu
yaitu yang berasal dari lingkungan keluarga, seperti tumbuh didalam
keluarga yang kacau, kurang kasih, pernah mengalami kekerasan,
adanya komunikasi yang kurang baik dan tidak dianggap
keberadaannya atau diremehkan.
b. Faktor individu, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri
individu, seperti pengaruh biokimia, faktor psikologis dan faktor
kepribadian.
G. DIAGNOSIS PSIKIATRIK
 Borderline Personality Disorder
Di dalam DSM edisi 4, revisi teks (2000), self injury muncul hanya
sekali sebagai suatu simptom dari borderline personality disorder
(BPD). Hubungan antara self injury dan gangguan kepribadian ini
tidaklah mengherankan oleh karena emosionalitas negatif dan
disregulasi emosi merupakan karakteristik utama untuk keduanya.
Oleh karena itu terdapat bukti yang kuat bahwa subyek dengan self
injury memperlihatkan lebih banyak simptom-simptom yang ada pada
BPD.
self injury sebagai satu kriterion untuk borderline personality
disorder di dalam DSM-IV dinilai oleh Wilkinson dan Goodyer (2011)
sebagai tidak tepat untuk beberapa alasan. Pertama, banyak klinisian
percaya bahwa diagnosis gangguan kepribadian selayaknya tidak
diberikan untuk anak dan remaja oleh karena kepribadian mereka
masih berkembang. Kedua, self injury sering ditemukan pada pasien
dengan gangguan psikiatrik, termasuk depresi, PTSD, anxietas,
conduct disorder, dan substance misuse disorder. Ketiga, self injury
19

bisa saja hadir dan menjadi suatu problem bagi individu yang tidak
memenuhi kriteria diagnostik untuk suatu gangguan mental atau
gangguan kepribadian. Keempat, asumsi mengenai BPD bisa
mengarah pada bias di dalam persepsi klinisian mengenai seorang
remaja yang tengah mengalami gangguan mental. Ada resiko kalau
kita sekedar menerjemahkan informasi mengenai tritmen yang
sebenarnya diperoleh dari populasi usia dan klinis yang berbeda.
 Gangguan-Gangguan Depresif dan Anxietas
Simptom-simptom depresif dan anxietas juga berasosiasi secara
signifikan dengan self injury (Pierro, dkk., 2012). Seperti halnya
dengan borderline personality disorder, depresi dan anxietas ditandai
oleh emosionalitas negatif dan disregulasi emosi. Semakin tinggi
tingkat depresi dan anxietas maka semakin sering tindak self injury
terjadi. Menurut Klonsky, anxietas, dan bukan depresi, mempunyai
relasi lebih kuat dengan self injury. Spekulasi ini didasarkan pada
kenyataan bahwa anxietas lebih bersangkutan dengan emotional
arousal ataupun tekanan emosional yang acapkali mengarah pada self
injury.
Studi oleh Andover, Pepper, Ryabchenko, Orrico dan Gibb (2005,
dalam Mangnall & Yurkovich, 2008) mencoba meneliti perbedaan
antara anxietas dan depresi di kalangan pelaku self injury dengan
bentuk sayatan dan bentuk-bentuk yang lain. Temuan studi ini
menunjukkan bahwa pelaku self injury secara signifikan memiliki lebih
banyak simptom-simptom depresi dan anxietas dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Apabila dibedakan menurut bentuk self injury-nya,
mereka yang menyayat diri menunjukkan secara signifikan tingkat
anxietas lebih daripada benuk-bentuk self injury lainnya, tetapi
keduanya mempunyai tingkat depresi yang sama.
Sebuah survei yang melibatkan siswa-siswa kelas 6, 9 dan 12
dengan jumlah total 136.549 siswa (jumlah siswa putra dan putri
hampir seimbang) untuk melihat problem-problem kesehatan mental,
faktor-faktor resiko potensial dan faktor-faktor protektif dilakukan oleh
Taliaferro, Muehlenkamp, Borowsky, McMorris dan Kugler (2012) di
Minnesota. Hasil survei ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang
20

secara konsisten yang membedakan pelaku self injury dan bukan


pelaku untuk kedua jenis jender adalah adanya masalah kesehatan
mental, simptom-simptom depresif, ketiadaan-harapan (hopelessness),
physical abuse, hubungan dangkal dengan orangtua, minggat dari
rumah, dan perilaku diet maladaptif. Khususnya untuk kelompok putra,
di samping faktor-faktor di atas, sejumlah faktor pembeda lainnya
adalah tindak kekerasan, sedangkan untuk kelompok putri, sexual
abuse, relasi yang dangkal dengan orang dewasa (bukan orangtua),
dan merokok. Faktor-faktor resiko yang memperbesar peluang self
injury dan percobaan bunuh-diri adalah problem kesehatan mental,
simptom-simptom depresif, ketiadaan-harapan, sexual abuse dan
minggat dari rumah.
 Substance Abuse
Self injury dan substance abuse sama-sama mengandung
tindakan yang merugikan atau menyakiti diri secara fisiologis, dan oleh
karena itu perbuatan keduanya dilatar-belakani oleh proses-proses
psikologis yang mirip. Joiner( 2005, dalam Klonsky & Muehlenkamp,
2007) berteori bahwa penggunaan zat-zat berbahaya berperan dalam
menciptakan habituasi (pembiasaan) dalam individu untuk melakukan
kekerasan yang ditimbulkan oleh diri sendiri. Memang ada temuan
bahwa inidividu dengan subtance disorders lebih banyak melakukan
self injury daripada bukan pengguna zat terlarang.
Temuan bahwa self injury mempunyai kualitas adiktif juga
didukung oleh sejumlah studi lainnya. Misalnya Crowe dan Bunclarck
(200, dalam Mangnall & Yurkovich, 2007) melihat bahwa self injury
yang repetitif sering disertai juga dengan adiksi lainnya seperti alkohol
dan obat-obat terlarang (drugs).
 Childhood Abuse
Relasi antara self injury dan child abuse sedikit lebih problematik.
Ada sekalangan profesional dalam kesehatan mental yang
berpendirian kuat bahwa pelaku self injury pernah mengalami abuse
pada masa kecil, khususnya yang berkonotasi seksual. Bagi kalangan
ini, self injury adalah semacam pengulangan kembali tindak abuse
yang pernah terjadi pada diri subyek. Namun sejumlah riset yang lebih
21

baru menyimpulkan bahwa child sexual abuse dapat


dikonseptualisasikan sebagai sebuah faktor resiko (proxy risk factor)
untuk self injury. Dengan kata lain, child sexual abuse dan self injury
bisa berhubungan karena keduanya berkorelasi dengan faktor-faktor
resiko psikologis yang sama. Jadi, walau child abuse bisa memainkan
peranan penting untuk self injury, namun banyak dari mereka yang
pernah mengalami abuse tidak mengembangkan self injury, dan
sebaliknya juga bahwa mereka yang melakukan self injury belum
pernah mengalami abuse.
Dalam ranah abuse ini, temuan oleh Pierro dkk. (2012) terhadap
267 partisipan non-klinis (188 wanita dan 79 pria; rentang usia 16-19
tahun) di Italia menarik untuk disebutkan di sini. Temuan lain dari studi
mereka juga disampaikan pada bagian lain dalam artikel ini. Pierro
dkk., ingin melihat hubungan antara self injury dengan malatritmen
(maltreatment) berupa physical neglect, sexual abuse, dan physical
abuse. Mereka menemukan bahwa sexual abuse berasosiasi dengan
adanya self injury dan frekuensinya, physical abuse hanya dengan
adanya self injury dan physical neglect dengan keseriusan (severity)
self injury. Dengan kata lain, partisipan dengan latar belakang sexual
abuse lebih cenderung daripada populasi “normal” untuk melakukan
self injury dan lebih banyak melakukan self injury daripada kelompok
partisipan dengan jenis abuse lainnya. Partisipan dengan physical
abuse cenderung untuk melakukan paling tidak sekali self injury dalam
hidupnya dan jenis abuse ini tidak memprediksikan severitas self
injury. Berlawanan dengan physical abuse, adanya physical neglect
tidak memperbesar peluang terjadinya self injury namun
mempresiksikan severitas self injury di kalangan pelaku self injury.
 Bunuh-diri (Suicide)
Perilaku suisidal berbeda dari self injury dari segi fenomenologi,
karakteristik, dan intensinya, walaupun mereka memiliki kesamaan
dalam sejumlah faktor-faktor resiko psikologis. Individu dengan self
injury tidak selalu beresiko untuk bunuh-diri oleh karena banyak pula di
antara mereka yang tidak pernah melakukan percobaan bunuh-diri
atau bahkan tidak berpikiran untuk itu (suicidal thoughts). Tetapi
22

apabila sampel klinis (inpatients) dan sampel nonklinis dibandingkan,


persentasi sampel klinis lebih besar (70%) menunjukkan bahwa
individu dengan self injury melaporkan percobaan bunuh-diri,
sekurang-kurangnya sekali mencoba, dibandingkan dengan sampel
nonklinis (50%) (Klonsky & Muehlenkamp, 2007).
Habituasi terhadap rasa sakit fisik dalam interaksi dengan
sejumlah variabel lainnya telah dihipotesiskan sebagai meningkatkan
resiko percobaan bunuh-diri dan self injury (Taylor, Peterson, &
Fischer, 2012). Model teoretik ini menerangkan bahwa individu dengan
resiko tinggi untuk percobaan bunuh-diri atau self injury melalui
karakteristik pribadi (traits) yang negatif akan berkemungkinan lebih
besar untuk terlibat dalam self injury jikalau mereka sudah terbiasa
dengan rasa sakit. Bila memang demikian halnya, model ini bisa
menjelaskan mengapa tidak ada perbedaan dalam hal variabel ini
antara inidividu yang masih melakukan self injury dan mereka yang
memiliki riwayat self injury.
Jacobson, Muehlenkamp, Miller dan Turner (2008) melakukan
studi atas 227 partisipan outpatient, dengan usia berkisar antara 12
hingga 19 tahun (M = 15.08 tahun, SD = 1.72 tahun) yang terlibat
dalam berbagai bentuk self injury. Kemudian partisipan dibagi ke
dalam empat kelompok: PDM tanpa sengaja, self injury nonsuisidal,
percobaan bunuh diri, dan percobaan bunuh-diri disertai self injury.
Temuan studi ini menyimpulkan bahwa partisipan yang terlibat dalam
self injury, apapun bentuknya, cenderung memiliki karakteristik-
karakteristik yang ada pada borderline personality disorder daripada
mereka yang tidak terlibat dalam self injury. Dari aspek tingkat ideasi
suisidal, tidak dijumpai perbedaan antara kelompok pertama dan
kedua. Temuan ini menguatkan pandangan mengenai pentingnya
membedakan self injury yang suisidal dan self injury nonsuisidal.
23

BAB III
PEMBAHASAN
Self injury merupakan kelainan psikologis yang marak terjadi pada remaja-
remaja masa kini. Secara literal self injury diartikan sebagai suatu kegiatan untuk
melukai diri sendiri. Hal ini umumnya di sebabkan oleh keadaan mental mereka
yang belum stabil (labil) serta tekanan-tekanan yang didapat remaja dalam dosis
yang berlebihan, sehingga menyebabkan depresi.
Masalah bukan berakar dari hal rumit seperti stress yang diderita para
karyawan perusahaan, stress yang mereka dapat tak lain berasal dari keadaan
rumah, masalah keluarga, dan masalah sekolah. Tak pelik memang, tapi umur-
umur remaja adalah umur dimana mereka masih mencari jati diri dan mereka
akan akan sangat mudah kehilangan arah karena stress. Ketika remaja sudah
kehilangan kontrol, mereka mencari cara pembebasan dengan cara melakukan
self injury, walaupun pembebasan tersebut bersifat sementara.
Saat melakukan self injury, remaja dapat dalam keadaan kalap atau
kehilangan pikiran atas dirinya sendiri. Secara sadar mereka melukai bagian
tubuh yang dapat dijangkau (biasanya kaki atau tangan) hingga mengeluarkan
darah. Rasa sakit dari rusaknya epidermis dan luka yang terbentuk tersamarkan
oleh kepuasan dan kelegaan saat melihat darah keluar. Mereka merasakan
kenikmatan tersendiri saat perasaan depresi, kecewa, marah yang mereka
rasakan tergantikan dengan perih yang menyegarkan. Sayangnya seseorang
yang telah mencoba melakukan self injury memiliki kecenderungan untuk
mengulanginya dengan peningkatan pada tekanan yang diberikan dan
kerusakan fisik yang ditimbulkan.
Remaja pelaku self injury tidak hanya melukai bagian tubuh dengan benda
tajam, tapi juga cara apapun yang membuat diri terluka. Seperti meninju,
memukul, mencakar diri sendiri, menggigit tangan, lengan, bibir, atau lidah,
menggaruk kulit hingga berdarah, mengutak-atik luka yang sedang dalam proses
penyembuhan, membuat memar tubuh dalam kecelakaan yang disengaja,
membakar atau menyulut api pada diri sendiri dalam bentuk tak membahayakan,
dan menusuk diri sendiri dengan benda tajam (kecil maupun besar). Beberapa
kasus bahkan berada dalam taraf membahayakan seperti mematahkan tulang,

23
24

mencungkil mata, menelan bahan kimia maupun benda kecil yang membuat
pelaku tersedak, dan meracuni diri sendiri secara berulang.
Walaupun begitu perilaku seperti ini juga dijumpai dalam lingkup masyarakat
'sehat'. Seperti menggigiti kuku, memencet jerawat, menggaruk bekas gigitan
nyamuk hingga berdarah. Bahkan orang yang melakukan diet ketat hingga
mengakibatkan pingsan karena kelaparan juga merupakan pelaku self injury.
Jika kegiatan ini sudah memasuki taraf berbahaya dan butuh perhatian khusus.
Kesalahan persepsi lazim dijumpai dalam masyarakat luas, beranggapan
bahwa pelaku self injury di kalangan remaja dilakukan dengan tujuan mencari
perhatian semata. Sedangkan secara naluriah dan fakta-fakta yang tersaji di
lingkungan, remaja lebih memilih untuk menyembunyikan luka gores, lebam,
maupun parut yang mereka buat dari perhatian masyarakat. Para remaja yang
melukai kepala mereka menutupnya dengan topi atau hoodie (baju bertudung),
baju berlengan panjang seperti kemeja atau turtle-neck (menyembunyikan luka di
leher) untuk luka pada badan, dan celana panjang untuk luka pada kaki. Jikalau
luka-luka itu terlihat dan mereka ditanyai bagaimana mereka memperoleh luka
itu, mereka akan mengelak dan memilih untuk menjawabnya sebagai sekedar
kecelakaan tidak disengaja.
Secara literal self injury bukan "penyakit" mental melainkan hanya kelainan
psikologis karena kelainan pola pikir. Remaja yang mengalami hal ini tidak perlu
dimasukkan ke dalam panti rehabiilitasi untuk masalah ini, walau tidak ada
garansi bahwa pelaku dapat menghentikan kegiatan ini secara total. Tapi remaja
dapat dituntun untuk mengurangi kegiatan ini yang pada dasarnya dilakukan
karena perasaan nikmat dan kebiasaan dengan support lingkungan, keluarga,
teman, dan pihak sekolah secara batin maupun raga.
A. Kasus dan Pembahasan
Nama/Inisial : Yg
Kode : A
Umur : 22 tahun
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Jl. Raya Bantarkawung 127 RT 4/ II Bantarkawung
Brebes Jawa Tengah
Jenis Kelamin : Perempuan
25

Seorang mahasiswa berinisial Yg melakukan tindakan self injury karena


ia pernah di kecewakan oleh mantan kekasihnya. Keadaan keluarganya pun
bukanlah keluarga yang ideal. Ibu adalah sosok yang keras, ia sangat
otoriter dalam mendidik anaknya. Lain halnya dengan ibu, ayah lebih
bersikap pasif dalam keluarga. Ayah sangat pendiam dan terkesan tidak
memperdulikan Yg, sehingga Yg tidak merasakan kasih sayang dari seorang
ayah. Ayah Yg hanya mencukupi kebutuhan secara materi semata. Karakter
orang tua yang seperti ini membuat Yg merasa tidak nyaman.
Kendati demikian, pada saat Yg berada di rumah ia merupakan anak
yang penurut terhadap orang tua. Di mata orangtuanya, ia adalah anak yang
kelem, dan rajin beribadah. Ia pun selalu mendapatkan prestasi yang
memuaskan saat berada di bangku pendidikan. Pada saat ada hal tidak
mengenakkan yang ia terima di rumah, ia hanya bisa melampiaskan dengan
diam dan menangis.
Hal ini membuat Yg mempiaskan emosi dan perasaannya pada saat ia
berada di cost-an di tempatnya kuliah. Yaitu dengan cara melukai dirinya
sendiri. Bahkan ia pernah meminum alkohol untuk menghilangkan masalah
yang ia alami. Di lingkungan tempat tinggalnya sekarang, Yg termasuk orang
yang pendiam dan jarang bersosialisasi dengan penghuni cost lainnya. Ia
hanya berteman akrab dengan dua orang teman sekelasnya yang juga satu
cost degannya.
Perilaku self injury timbul dengan sendirinya tidak ada sesuatu hal lain
yang menginspirasi Yg untuk melakukan perilaku self injury tersebut. Hal ini
berarti tidak ada suatu hal atau pihak lain yang menjadi pendorong eksternal
Yg dalam melakukan perilaku self injury. Dorongan dari dalam lebih dominan
dibanding dorongan dari luar, namun masih saling berhubungan satu sama
lain. Namun faktor keluarga menjadi salah satu penyebab yang berhubungan
dengan perilaku self injury-nya tersebut yaitu kurangnya kasih sayang dari
orang tua terutama ayah dan pola komunikasi keluarga yang kurang baik.
Perilaku self injury tersebut bisa menimbulkan dampak bagi diri sendiri
atau berhubungan dengan orang disekitar subjek pelakunya. Dampak
perilaku self injury tersebut bisa bersifat positif atau negatif bagi pelakunya.
Kepuasan diri yang dirasakan akibat perilaku self injury dan self injury yang
berpengaruh terhadap interaksi sosial dengan orang-orang di sekitar Yg.
26

B. Self Injury di Masyarakat Indonesia


Self injury merupakan salah satu gejala dari gangguan kepribadian tipe
ambang dan beberapa gangguan jiwa lainnya (misalnya : gangguan depresi,
manik, bipolar, dan cemas). Self injury berkaitan dengan riwayat trauma dan
kekerasan di masa lalu. Para pelaku self injury tidak bisa berhenti umumnya
karena rasa nyaman yang diperolehnya kemungkinan akibat pengeluaran
endorfin di otak saat perilaku ini berlangsung dan menyebabkan tendensi
untuk melakukannya secara berulang. Terdapat kesalahan konsepsi di mana
masyarakat umum sering menganggap bahwa tindakan ini dilakukan untuk
mencari perhatian semata. Kita tetap dapat melihat perilaku self injury dalam
kelompok masyarakat yang 'sehat' namun dalam bentuk yang jauh lebih
ringan.
Tidak ada angka statistik yang akurat mengenai self injury hingga saat ini
terutama di Indonesia. Namun dapat dipastikan bahwa self injury merupakan
fenomena "gunung es" di mana jumlah pelaku yang sebenarnya jauh lebih
banyak dibanding yang tercatat.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan self injury di antaranya adalah
penderita gangguan jiwa, penyalahgunaan zat, kekerasan di masa kanak,
kehilangan objek yang dicintai, konflik dengan orang yang dicintai. Faktor
lainnya yang juga mempengaruhi di antaranya adalah perang, kemiskinan,
dan kesulitan mencari pekerjaan.
Motif dari self injury umumnya pribadi. Penilaian motif self injury dalam
dunia medis biasanya ditentukan berdasarkan prekusor yang berhubungan
dengan insidensi, keadaan, dan informasi dari pasien. Pelaku self injury
melakukan perbuatan tersebut untuk mengontrol tubuh dan pikirannya,
mengekspresikan perasaannya, mengkomunikasikan kebutuhannya,
membuat luka yang dapat terlihat dan dapat dirawat, untuk memurnikan diri,
mengulang trauma dengan tujuan memecahkannya.
Luka-luka fisik yang terdapat pada tubuh seorang pelaku self injury dapat
mencegah pelaku untuk mencari pertolongan baik itu ke rumah sakit ataupun
pusat perawatan kesehatan lainnya. Sering kali pelaku baru datang ke unit
gawat darurat ketika luka-luka tersebut sudah sangat berat dan
membutuhkan perawatan medis seperti penjahitan atau reparasi tulang.
Namun dalam kenyataannya pelaku medis tidak memberikan pertolongan
27

sebagaimana yang seharusnya diberikan dan hal ini dapat menyebabkan


pelaku enggan datang ke fasilitas kesehatan. Diperlukan pendidikan lebih
lanjut bagi kalangan medis untuk menangani kasus-kasus self injury.
Terapi terbaik bagi seorang pelaku self injury adalah menemukan
mekanisme coping yang lebih baik dari pada menyakiti dirinya sendiri.
Modul terapi yang digunakan bervariasi tergantung dari diagnosa kelainan
jiwa yang dialami orang tersebut dan kebutuhan masing-masing sebagai
individu.
28

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka diperoleh beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
Self injury adalah perilaku yang dengan sengaja melukai tubuh sendiri
sebagai cara mengatasi masalah emosi dan stres. Seorang pelaku self injury
mempunyai perasaan emosi negatif yaitu cemas, marah dan sedih yang
cenderung di tekan oleh pelakunya. Orang-orang melukai diri tidak untuk
menciptakan rasa sakit fisik, tapi untuk menenangkan rasa sakit emosional
yang mendalam. Biasanya dilakukan secara berulang-ulang dam periode
yang tidak bisa ditentukan. Self injury dilakukan apabila pelaku merasa
sangat terbebani dengan masalahnya, seperti masalah keluarga, masalah
akademik dan sosial, maupun masalah asmara. Pola asuh orang tua yang
keras dan otoriter juga dapat memicu self injury.
B. Saran
1) Bagi pelaku self injury
Pengembangan kepribadian hendaknya dilakukan oleh pelaku self injury.
Hal yang bisa dilakukan pelaku untuk menghindari terjadinya self injury
yaitu menghindari situasi sendiri dan membangun relasi dengan
lingkungan. Hendaknya pelaku self injury segera meminta bantuan
minimal pada orang terdekat untuk mengatasi perilaku abnormal tersebut
agar tidak berkembang kearah percobaan bunuh diri.
2) Bagi Mahasiswa
Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang berpendidikan
dan mempunyai wawasan yang luas sehingga mahasiswa dinilai mampu
mengatasi semua permasalahan dan mampu menyikapinya dengan
bijak. Perilaku coping mahasiswa hendaknya tidak dilakukan dengan
cara yang negatif yaitu self injury sebagai coping maladaptif yang
merupakan perilaku yang abnormal.
3) Bagi Peneliti
Saat ini terdapat kecenderungan semakin meningkatnya jumlah remaja
dan dewasa muda yang melakukan self injury sehingga topik ini harus

28
29

dipahami dengan lebih baik. Sehingga perlu dilaksanakan penelitian-


penelitian selanjutnya tentang perilaku self injury karena di Indonesia
masih sangat jarang dilakukan penelitian tentang hal ini.
30

DAFTAR PUSTAKA
Kanan, Linda M and Jennifer Finger. 2005. Self Injury: Awareness and

Strategies for School Mental Healt Provider. Artikel. Online at.

www.docstoc.com. [accessed 19/06/2016, 08.24.36 am].

Latipun, Moeljono N. 2007. Kesehatan Mental (Konsep dan Penerapan)

Edisi Keempat. Malang: UMM Press.

Maidah, Destiana. 2013. Self Injury Pada Mahasiswa (Studi Kasus Pada

Mahasiswa Pelaku Self Injury). Skripsi. Fakultas Psikologi.

Universitas Negeri Semarang. Diambil tanggal 18 Juni 2016

Shine, Rumah. 2012. Mengenal Perilaku Self-Injury (Melukai Diri Sendiri). Artikel.

Online at. http://www.kompasiana.com/rumahshine/mengenal-

perilaku-self-injury-melukai-diri-sendiri_5510b990813311aa39bc6b9f.

[accessed 17/06/2016, 04.18.52 pm]