Anda di halaman 1dari 12

PENYAKIT AUTOIMUN

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami


gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh yang sehat maupun yang dianggap asing.
Seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan
tubuh. Dari segi bahasa “auto” artinya diri sendiri dan “imun” artinya sistem pertahanan
tubuh, jadi pengertian autoimun adalah sistem pertahanan tubuh mengalami gangguan
sehingga menyerang sel-sel tubuhnya sendiri.
Sistem kekebalan tubuh adalah kumpulan sel-sel khusus dan zat kimia yang berfungsi
melawan agen penyebab infeksi seperti bakteri dan virus serta membersihkan sel-sel tubuh
yang tidak normal atau menyimpang misalnya pada kanker. Gangguan autoimun
dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu organ spesifik dan non-organ spesifik. Organ-
spesifik berarti satu organ tertentu yang terkena, sedangkan non-organ spesifik artinya sistem
imun menyerang beberapa organ atau sistem tubuh yang lebih luas.
Ada sekitar 80 gangguan autoimun yang berbeda mulai dari yang ringan sampai yang
berat, tergantung pada sistem tubuh mana yang diserang dan seberapa besar fungsinya bagi
tubuh, antara lain:
1. Diabetes Melitus tipe I
2. Lupus Eritematosus Sistemik
3. Psoriasis
4. Reumatoid Artritis
5. Penyakit Grave’s
I. Diabetes Melitus tipe I

Penderita diabetes mellitus tipe I yang pada umumnya ditemukan pada usia remaja
mengalami gangguan pada pancreas, dimana pankreas yang menghasilkan insulin tidak dapat
bekerja dengan baik karena fungsinya diganggu oleh sel autoimun. Dalam darah, insulin
bertugas mengontrol kadar gula darah karena membantu pengangkutan gula ke dalam sel
untuk diubah menjadi energi. Ada kekeliruan di mana sistem daya tahan tubuh malah justru
menyerang organ pankreas, yaitu bagian sel-selnya sehingga otomatis menghentikan produksi
insulin sehingga kadar gula darah meningkat. Hal tersebut menyebabkan tubuh membutuhkan
insulin dari luar (melalui suntikan), oleh karena itu diabetes mellitus tipe I disebut juga
diabetes remaja atau diabetes yang tergantung pada insulin (insulin dependent).
Ada banyak penyebab terjadinya diabetes mellitus tipe I, antara lain:
1. Faktor Genetik
Orang dengan faktor risiko diabetes telah memiliki gen atau keturunan untuk
terkena penyakit ini. Gen yang ada di dalam tubuh orang tersebut akan berkerja
saat dia tidak bisa mengontrol gula darahnya.
2. Kerusakan Pankreas
Saat gula darah tidak terkontrol, pankreas mulai kehilangan fungsinya. Hal itu
dikarenakan sel-sel di pankeras mulai rusak dan mengakibatkan pankreas tidak
bisa memproduksi insulin atau memproduksi sedikit insulin.
3. Insulin kualitas rendah atau tidak berfungsi
Insulin yang menurun akan menyebabkan gula darah tidak bisa diubah
menjadi glikogen. Glikogen ada di liver dan otot, jika glikogen tidak ada bisa
menyebabkan kadar gula di dalam darah meningkat tajam. Pankreas pun akan
memproduksi insulin lebih banyak, namun kualitas insulin yang dihasilkan
memiliki kualitas yang rendah.
Cara mengatasi diabetes mellitus tipe I adalah dengan pemberian suntikan insulin
sesuai dengan indikasi dan instruksi dari dokter anak yang menangani, namun selain
pengobatan ada hal-hal lain yang harus diperhatikan, yaitu pola makan, olahraga teratur dan
pantangan pada penyandang penyakit diabetes mellitus tipe I ini.
Banyak pantangan makanan yang tidak boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Diantaranya adalah sebagai berikut ini :
1. Nasi Putih
Nasi putih tidak boleh dionsumsi oleh penderita diabetes. Rasa manis dalam
nasi putih dihasilkan dari zat glukosa yang ada di dalamnya. Jika ingin mengkonsumsi
nasi putih sebaiknya harus ditanak sampai berkali-kali agar rasa manis dan kandungan
glukosanya hilang. Bagi yang ingin tetap makan nasi, nasi merah jauh lebih baik
daripada nasi putih.
2. Berbagai Olahan Tepung
Banyak olahan dari tepung yang tidak boleh dikonsumsi. Hal itu dikarenakan
dalam tepung memiliki kadar glukosa dan karbohidrat yang tinggi. Karbohidrat pada
dasarnya tidak boleh dikonsumsi penderita diabetes, karena karbohidrat bisa memicu
gula darah naik dengan cepat. Olahan tepung yang tidak boleh dikonsumsi adalah
sebagai berikut : berbagai macam mie, kue manis, roti tawar, dan lain-lain.
3. Makanan Berminyak Dan Berlemak
Makanan dengan lemak jenuh tidak boleh dikonsumsi karena mengandung
lemak tinggi. Lemak tidak baik untuk penderita diabetes. Lemak bisa memperlambat
pankeras untuk memproduksi insulin. Akibatnya kadar insulin di dalam tubuh akan
terus menurun.
4. Junk food
Junk food tidak boleh dikonsumsi oleh penderita diabetes karena nutrisinya
tidak cukup bagi penderita diabetes. Selain itu junk food memiliki pengawet tinggi,
lemak jenuh dan kolesterol tinggi. Junk food juga bisa membuat orang mudah cepat
gemuk, orang yang gemuk memiliki risiko lebih besar untuk terkena diabetes. Orang
gemuk dan pola makan buruk bisa membuat kadar gula cepat naik.
5. Permen
Permen merupakan makanan yang tidak boleh dikonsumsi karena bisa
memicu gula darah menjadi naik. Berikut ini bahan dasar pembuat permen yang
membuat kadar gula menjadi naik.
6. Buah Tertentu
Buah mengandung glukosa alami yang bisa meningkatkan kadar gula di dalam
tubuh. Ada berbagai macam jenis buah yang tidak boleh dikonsumsi. Buah tersebut
adalah :
- Sirsak mengandung gula yang tinggi sehingga tidak boleh dikonsumsi penderita
diabetes.
- Pisang raja dan emas memiliki rasa manis yang dominan. Buah ini ternyata
memiliki kandungan gula dan kalori yang tinggi, sehingga terlalu banyak
mengkonsumsi makanan ini bisa menaikkan berat badan secara cepat. 100 gram
pisang emas atau sebanyak 4 buah pisang emas mengandung 130 kalori.
- Duku, Rambutan dan Anggur. Ketiga buah tersebut rasanya sangat manis. Namun
di dalam buah tersebut memiliki kandungan gula tinggi. Khusus anggur selain
kadar gulanya tinggi juga mengandung alkohol tinggi.
- Kurma memang manis, namun tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan karena
mengandung gula yang tinggi. Dalam kurma mengandung glikemik. Glikemik itu
adalah kandungan gula di atas glukosa murni. Batas glukosa adalah 100
sedangkan glikemik kurma adalah 103 sehingga kandungan glukosanya jauh lebih
tinggi.
- Durian memiliki kalori dan gas yang tinggi. Selain tidak baik untuk penderita
asam lambung, durian tidak baik untuk penderita diabetes.
- Semangka memiliki kandungan glukosa tinggi. Anda bisa merasakan dari rasa
manisnya yang dominan. Glikemik pada semangka adalah 100.
- Kismis dan buah-buahan yang dikeringkan tidak boleh dikonsumsi karena akan
menyebabkan lonjakan gula darah. Hal itu dikarenakan glikemik atau gula buah
bisa terkonsentrasi dengan gula darah, sehingga gula darah bisa langsung meresap
ke dalam tubuh.
- Manisan buah baik basah maupun kering memiliki kandungan gula yang tinggi.
II. Lupus Eritematosus Sistemik

Lupus adalah penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh
yang keliru sehingga mulai menyerang jaringan dan organ tubuh sendiri. Inflamasi akibat
lupus dapat menyerang berbagai bagian tubuh, misalnya: kulit, sendi, sel darah, paru-paru,
jantung, dan lain sebagainya. Gejalanya kerap mirip dengan penyakit lain sehingga sulit
untuk didiagnosis. Gejala lupus sangat beragam. Ada yang ringan dan ada yang bahkan
mengancam jiwa. Penyakit ini memang tidak menular, tapi bisa berbahaya dan bahkan
berpotensi mematikan. Gejala umumnya adalah ruam kulit, kelelahan, sakit dan
pembengkakan pada sendi.
Penyebab dari penyakit Lupus belum diketahui dengan pasti. Selain factor keturunan
(genetik) dan hormon, diketahui bahwa terdapat beberapa hal lain yang dapat menginduksi
SLE, diantaranya adalah virus (Epstain Barr), obat (contoh : Hydralazin dan Procainamid),
sinar UV, dan bahan kimia seperti hidrazyn yang terkandung dalam rokok, mercuri dan silica.
Meski masih belum dapat disembuhkan, odapus (orang dengan penyakit lupus) tetap
bisa mendapatkan pengobatan agar dapat hidup lebih lama seperti orang yang sehat.
Pengibatan ditujukan untuk menghilangkan gejala lupus yang ada. Pengobatan juga perlu
didukung perubahan pola hidup, pengendalian emosi, pemakaian obat secara tepat, dan
pengaturan gizi seimbang. Manifestasi yang terjadi dapat bervariasi untuk tiap pasien
sehingga terapi SLE dilakukan secara individual. Nutrisi, cairan, dan elektrolit yang adekuat
merupakan pengobatan suportif yang sangat dibutuhkan.
Terapi non farmakologi yang dapat diberikan antara lain pengaturan istirahat dan
olahraga ringan yang teratur dan seimbang, hindari merokok, terkait dengan kandungan
hydrazine dalam rokok dan dapat menjadi factor pencetus lupus serta menambah resiko,
pemberian asupan minyak ikan, menghindari paparan sinar matahari langsung. Cara yang
dapat dilakukan adalah dengan menggunakan payung, topi, hingga memakai sunscreen
maupun sunblok, menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan stress karena dapat memicu
terjadinya lupus.
Terapi farmakologi atau obat-obatan yang dapat diberikan pada pasien meliputi pemberian
OAINS, kortikosteroid, antimalaria, dan agen penekan imun. Pemilihan obat bergantung pada
organ-organ yang terkena oleh penyakit ini.
1. OAINS
Obat ini dipakai untuk mengatasi arthritis dan artralgia. Penggunaan obat anti
inflamasi non steroid atau OAINS pada pasien dengan gejala yang masih awal
merupakan pilihan yang logis.
2. Obat Antimalaria
Terapi antimalaria kadang-kadang dapat efektif apabila OAINS tidak dapat
mengendalikan gejala-gejala SLE. Biasanya anti malaria mula-mula diberikan dosis
tinggi untuk memperoleh keadaan remisi. Antimalaria dapat mengatasi beberapa
manifestasi klinis, seperti arthalgia, pleuritis, inflamasi pericardial, fatigu, dan
leukopenia. Hidroksikloroquin diketahui lebih aman dibandingkan dengan cloroquine
dan merupakan pilihan pertama dalam terapi SLE.
3. Kortikosteroid
Merupakan obat yang paling sering digunakan dalam terapi SLE. Beberapa
pertimbangan yang matang harus dilakukan sebelum memutuskan menggunakannya
terkait dengan resiko yang ditimbulkan, seperti kemungkinan terjadinya infeksi,
hipertensi, diabetes, obesitas, osteoporosis, dan beberapa penyakit psikiatris.
4. Obat Sitotoksik
Terapi penekan imun (siklofosfamid, azatioprin) dapat dilakukan untuk
menekan aktivitas autoimun SLE.
III. Psoriasis

Psoriasis adalah penyakit kulit kronik berulang yang khas berupa bercak-bercak
merah berbatas tegas, ditutupi oleh skuama yang tebal berlapis-lapis berwarna putih
mengkilap serta transparan. Pada psoriasis terjadi pergantian kulit ari yang dipercepat,
dimana proses pergantian kulit pada pasien psoriasis berlangsung secara cepat yaitu sekitar 2
sampai 4 hari, sedangkan pada orang normal berlangsung 3-4 minggu. Penyakit ini tidak
menyebabkan kematian, tidak menular, tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian
tubuh mana saja sehingga dapat menyebabkan gangguan kosmetik, menurunkan kualitas
hidup, gangguan psikologis (mental), sosial, dan finansial.
Penyebab psoriasis belum diketahui secara pasti. Namun, penyakit ini diduga terkait
dengan gangguan autoimun, yaitu sistem kekebalan tubuh yang keliru menyerang sel-sel kulit
yang sehat. Faktor keturunan juga dianggap berperan dalam munculnya psoriasis. Di samping
itu, ada sejumlah faktor pencetus yang diduga bisa memicu penyakit ini. Di antaranya adalah
infeksi tenggorokan, stress, obesitas, mengidap HIV/AIDS, cedera pada kulit, serta akibat
penggunaan obat-obatan tertentu.
Langkah penyembuhan psoriasis belum tersedia hingga saat ini. Penanganan psoriasis
umumnya bertujuan untuk menghambat pertumbuhan sel-sel kulit, mengurangi gejala,
memperbaiki tekstur kulit yang terserang. Metode pengobatan psoriasis sangat beragam dan
ditentukan berdasarkan jenis serta tingkat keparahannya. Beberapa langkah yang umumnya
dianjurkan adalah sebagai berikut:
- Pelembap dan Pelindung Kulit
Emolien merupakan obat untuk melembutkan dan melembapkan kulit.
Obat-obatan yang biasanya berupa salep atau krim ini bekerja dengan mengurangi
inflamasi dan kecepatan produksi sel kulit. Emolien digunakan untuk mengatasi
psoriasis tingkat ringan sampai menengah. Penggunaan obat oles ini juga dapat
dikombinasikan dengan sampo untuk menangani psoriasis di kulit kepala.
- Kortikosteroid
Obat ini bekerja dengan cara mengurangi inflamasi kulit. Penggunaannya
yang berlebihan dapat mengakibatkan penipisan kulit. Karena itu, kortikosteroid
hanya boleh digunakan dengan resep dokter.
- Vitamin D
Vitamin D yang biasanya digunakan. Krim ini dapat dipakai bersamaan
atau menggantikan kortikosteroid oles. Fungsinya adalah untuk menghambat
regenerasi kulit dan mengurangi inflamasi.
- Obat Minum
Penggunaan obat-obatan ini hanya dianjurkan apabila metode pengobatan lain
tidak efektif untuk menangani psoriasis dengan tingkat keparahan yang tinggi dengan
resep dan anjuran dari dokter. Beberapa jenis obat-obatan yang bisa dikonsumsi
meliputi: methotrexate, ciclosporin, acitretin, dan lain-lain.
IV. Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis atau artritis reumatoid adalah peradangan kronis pada sendi yang
menyebabkan rasa sakit, bengkak dan kaku pada persendian (misalnya sendi kaki dan
tangan). Seiring waktu, peradangan ini bisa menghancurkan jaringan persendian dan bentuk
tulang. Efek dari kondisi ini akan membatasi aktivitas keseharian, seperti sulit untuk berjalan
dan menggunakan tangan. Walau bagian tubuh yang paling sering terkena dampak
rheumatoid arthritis adalah pada bagian kaki dan tangan, penyakit ini juga bisa menjangkiti
bagian tubuh lainnya, seperti mata, paru-paru, pembuluh darah, dan kulit.
Tanda-tanda penyakit rheumatoid arthritis pada masing-masing orang berbeda dan
bisa berubah seiring waktu, namun gejala yang sering timbul pada persendian adalah rasa
kaku, kemerahan, bengkak, terasa hangat, dan nyeri. Rheumatoid arthritis harus segera
ditangani karena jika penyakit bertambah parah, gejala bisa menyebar ke bagian tubuh
lainnya dan menyebabkan persendian bergeser atau bahkan berubah bentuk.
Rheumatoid arthritis disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang keliru menyerang
diri sendiri dan masih belum diketahui pemicunya. Sistem kekebalan tubuh yang normal
seharusnya membuat antibodi yang gunanya untuk menyerang virus dan bakteri. Tapi sistem
kekebalan tubuh pada penderita rheumatoid arthritis justru mengirim antibodi ke lapisan
persendian untuk menyerang jaringan di sekeliling sendi dan menyebabkan radang serta rasa
sakit. Pada jaringan sendi, rheumatoid arthritis menyebabkan kerusakan di sekitar tendon,
ligamen, dan tulang.
Walau pemicu terjadinya rheumatoid arthritis masih belum diketahui, namun ada
beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena rheumatoid arthritis, antara lain:
- Usia: kebanyakan penderita rheumatoid arthritis berusia 40 tahun ke atas, tapi bisa
juga menjangkiti orang pada usia berapa pun.
- Jenis kelamin: pria lebih jarang terkena penyakit ini dibandingkan wanita.
- Genetika: walau kecil, mempunyai anggota keluarga yang menderita rheumatoid
arthritis meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit ini juga.
- Merokok: merokok dapat memicu berbagai macam penyakit dan kebiasaan buruk
ini bisa meningkatkan risiko terkena rheumatoid arthritis.
- Obesitas: seseorang dengan berat badan lebih memiliki risiko tinggi terserang
rheumatoid arthritis, khususnya wanita berusia dibawah 55 tahun.
- Lingkungan: walau belum sepenuhnya terbukti, faktor lingkungan dapat
menyebabkan seseorang terserang rheumatoid arthritis karena berkaitan dengan
kekuatan daya tahan tubuh.
Penderita rheumatoid arthritis hanya bisa melakukan perawatan karena hingga saat ini
masih belum ada obat yang dapat menyembuhkan rheumatoid arthritis sepenuhnya.
Perawatan bisa membantu mengurangi gejala peradangan di persendian, mencegah atau
memperlambat kerusakan persendian, mengurangi tingkat disabilitas, dan membuat penderita
rheumatoid arthritis bisa tetap hidup aktif. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah
mengonsumsi obat, perawatan pendukung dan operasi, serta mengubah gaya hidup.
Ada beberapa cara perawatan dan pengobatan yang bisa dilakukan untuk menekan
perkembangan penyakit ini. Pada awalnya, dokter akan meresepkan obat dengan efek
samping paling sedikit dan setelah itu, jika tidak efektif, obat dengan efek samping lebih
berat akan ditambahkan. Dokter akan menyesuaikan dosis dengan kondisi pasien.
Obat pereda sakit seperti parasetamol atau kodein digunakan untuk meredakan rasa
sakit. Selain itu, obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) juga bisa digunakan. Obat pereda
sakit tidak dapat mencegah perkembangan rheumatoid arthritis, tapi dapat membantu
meredakan rasa sakit dan peradangan di persendian. Obat OAINS yang biasa digunakan
adalah naproxen, ibuprofen, dan diclofenac.
Steroid atau kortikosteroid merupakan obat sintetis yang menyerupai sebuah hormon
yang dihasilkan tubuh secara alami, yaitu kortisol. Obat ini bisa berbentuk tablet, salep, atau
cairan suntik yang bisa disuntikkan langsung ke otot atau persendian yang sakit. Steroid
digunakan untuk meredakan nyeri jangka pendek karena jika digunakan secara jangka
panjang bisa menimbulkan efek samping yang serius. Efek samping tersebut bisa berupa
mudah memar, kulit menjadi lebih tipis, osteoporosis, lemah otot, dan bertambahnya berat
badan. Obat ini perlu dikonsumsi di bawah pengawasan dokter.
Operasi dilakukan untuk memperbaiki kelainan bentuk, kerusakan persendian,
membantu mengembalikan kemampuan untuk menggunakan persendian, dan meredakan rasa
sakit. Penderita rheumatoid arthritis juga disarankan untuk menjalani diet yang sehat serta
berolahraga secara teratur untuk memperkuat otot yang mendukung persendian, membantu
pergerakan sendi, dan meredakan stres. Bagi orang yang mengalami kelebihan berat badan,
olahraga juga bisa membantu menurunkan berat badan dan meringankan tekanan pada tulang
dan sendi.
Selain itu, terapi pendukung seperti pijat, akupuntur, osteopati dan chiropatic dapat
dilakukan untuk meredakan gejala, walau hanya untuk jangka pendek. Sangat disarankan
untuk konsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum melakukan terapi pendukung ini
untuk menghindari komplikasi. Sendi akan terasa lebih kaku dan otot menjadi lebih lemah
jika tidak digerakkan, tapi aktivitas yang dilakukan harus seimbang dan tepat. Hindari
olahraga yang membutuhkan kontak fisik secara langsung dan disarankan untuk melakukan
olahraga yang tidak terlalu menekan persendian, seperti berjalan, berenang, dan bersepeda.
V. Penyakit Grave’s

Graves adalah salah satu jenis gangguan pada sistem imun tubuh yang menjadi
penyebab umum kondisi hipertiroidisme, yaitu berlebihannya produksi hormon tiroid.
Penyakit Graves paling banyak dialami oleh perempuan sebelum usia 40 tahun, meski bisa
juga menyerang siapa saja pada usia berapa pun.
Hormon tiroid memiliki peranan dalam berbagai sistem yang ada di dalam tubuh
manusia sehingga gejala dari penyakit ini dapat turut memengaruhi keberlangsungan
kesehatan tubuh dalam cakupan luas. Beberapa gejala umum penyakit Graves, yaitu:
hiperaktivitas, tremor ringan pada tangan atau jari, palpitasi jantung (jantung berdebar-debar),
lebih banyak berkeringat, kehilangan berat badan tanpa kehilangan napsu makan, rambut
rontok, insomnia, sensitif atau tidak tahan terhadap udara panas, kulit menjadi lebih lebih
lembap, biduran dan gatal-gatal, perubahan pada siklus menstruasi, gelisah, dan lain-lain.
Penyakit Graves disebabkan oleh terganggunya fungsi sistem imun tubuh. Pada
kondisi ini, antibodi yang diproduksi oleh tubuh yang seharusnya ditujukan kepada virus atau
benda asing lain sebagai pemicu penyakit, malah justru menyerang reseptor yang terdapat
pada sel dalam kelenjar tiroid di leher. Antibodi ini kemudian mengganggu proses produksi
hormon tiroid sehingga jumlahnya menjadi berlebihan dan menyebabkan hipertiroidisme.
Beberapa faktor risiko juga dapat memicu penyakit Graves, antara lain:
- Jenis kelamin: dibandingkan pria, wanita memiliki faktor risiko yang lebih tinggi
untuk terserang penyakit. Penyakit ini cenderung dialami oleh orang-orang yang
berusia di bawah 40 tahun.
- Sejarah penyakit Graves di dalam riwayat Beberapa gen yang diturunkan di dalam
keluarga yang memiliki sejarah penyakit ini menyebabkan anggota keluarga
tersebut menjadi lebih rentan terkena penyakit Graves.
- Gangguan sistem kekebalan tubuh lain. Beberapa jenis gangguan lain pada sistem
kekebalan tubuh dapat menjadi pemicu penyakit ini, yaitu diabetes tipe 1 dan
artritis reumatoid (rheumatoid arthritis).
- Stres secara emosional atau fisik. Peristiwa atau sakit yang menyebabkan stres
dapat turut memicu penyakit Graves pada orang dengan gen yang rentan terhadap
penyakit ini.
- Merokok dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh, terutama bagi seorang
perokok yang mengidap penyakit Graves akan memiliki risiko yang tinggi,
termasuk risiko terkena penyakit Graves ophthalmopathy.
- Trauma yang dialami oleh kelenjar tiroid, misalnya akibat prosedur operasi.
- Terapi antiretroviral (HAART) untuk pengobatan HIV
Tujuan utama dari pengobatan penyakit Graves adalah untuk mengurangi kelebihan
produksi hormon tiroid dan dampaknya bagi tubuh. Tindakan pengobatan ini meliputi:
- Obat-obatan antitiroid.
- Obat-obatan penghambat beta: obat-obatan ini akan menghalangi dan mengurangi
efek dari berlebihannya hormon tiroid pada tubuh, antara lain detak jantung tidak
beraturan, gelisah, tremor, keringat berlebihan, dan diare.
- Terapi yodium radioaktif: untuk menghancurkan sel tiroid yang terlalu aktif dan
mengecilkan kelenjar tiroid yang mana dengan demikian akan mengurangi gejala
secara bertahap.
- Pembedahan: dengan cara mengangkat sebagian atau seluruh tiroid pasien.
Beberapa langkah pengobatan lain yang bisa dilakukan di rumah agar kesehatan fisik dan
mental tetap terjaga, yaitu:
- Menjaga pola makan.
Hormon tiroid memiliki peranan yang penting dalam proses metabolisme tubuh.
Seseorang dengan kondisi hormon tiroid yang normal atau membaik akan
mengalami kenaikan berat badan sebagai penandanya. Diskusikan bersama dokter
Anda mengenai pilihan menu makanan dengan kandungan nutrisi yang baik bagi
tubuh.
- Latihan fisik dapat membantu mengurangi risiko rapuhnya tulang atau
osteoporosis.
- Mengurangi stres sebanyak mungkin dapat mengurangi efek gejala maupun
penyakit Graves itu sendiri.