Anda di halaman 1dari 10

HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PETUGAS KESEHATAN TERHADAP

KEPATUHAN PASIEN MENJALANI PENGOBATANTB PARU DI PUSKESMAS


SUNGGAL MEDAN TAHUN 2014

Dermawanti¹, R. Kintoko Rochadi², Tukiman²

¹ AlumniMahasiswa Pendidikan Kesehatan dan Ilmu PerilakuFakultas Kesehatan Masyarakat USU


²Staff Pengajar Departemen Pendidikan Kesehatan dan Ilmu PerilakuFakultas
KesehatanMasyarakatUSU
Email : dermawatiwati@rocketmail.com

ABSTRACT
Interpersonal communication is communication between two people face to face, which
allows any other person reaction catch participants directly, either in verbal or nonverbal.
Interpersonal communication is only consistedof two people, such us the patient and nurse, the
husband and wife, teacher and student and etc. So that communicator can see the reaction given by
komunikan. But the real practice interpersonal communication is often overlooked because of time
belonging to the health worker. Treatment Compliance is a complete regularly and complete
treatment without interrupted for at least 6 months up to 8 months. With good interpersonal
communication built up between the health worker and the patients are expected to improve patient
medication adherence.This research is descriptive analytic study with the purpose of analyzing the
relations interpersonal communication health worker on the compliance of patients lived treatment
of Pulmonary Tuberkulosis. The population in this study were all patients with Pulmonary
Tuberculosis in Sunggal the Health Center and the number of samples is entire populations that as
many as 42 people.Data was obtained with the interview using questionnaire were analyzed using
Chi-square test at  = 0.05. The results showed the frequency of adherent patients as many as 28
people (66,7%)and non-adherentmany as 14 people (33.3%). The results of statistical tests shows
interpersonal communication variable aspects of openness, empathy, supportiveness and equality
effect to compliance of patients lived treatment of pulmonary Tuberculosis in Medan Sunggal the
Health Center. Pulmonary Tuberculosis.To the health worker advised that holds especially
Pulmonary Tuberculosis program in order to always provide motivation to patients to regularly
take medication at the health center.

Keywords : Interpersonal Communication, Compliance

PENDAHULUAN berhasil disembuhkan, serta sebagai penyebab


Latar Belakang : kematian utama yang diakibatkan oleh
penyakit infeksi. (Depkes RI, 2002).
Tuberkulosis atau TB adalah penyakit Pada tahun 2006, terdapat sekitar 9,2
menular langsung yang disebabkan oleh juta kasus baru TB secara global.
kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Diperkirakan 1,7 juta orang (25/100.000)
Sebagian besar kuman TB menyerang paru, meninggal karena TB. Menurut data WHO
tetapi dapat juga mengenaiorgan tubuh tahun 2006, Indonesia menduduki peringkat
lainnya. Pada tahun 1993 World Health ke-3 penyumbang kasus TB terbesar di dunia
Organization (WHO) menyatakan TB sebagai setelah India dan China. TB di Indonesia
suatu problema kesehatan masyarakat yang bahkan telah menjadi penyebab kematian
sangat penting dan serius di seluruh dunia dan ketiga, setelah penyakit jantung dan saluran
merupakan penyakit yang menyebabkan pernafasan lainnya. Jumlah kasus baru sekitar
kedaruratan global (Global Emergency) 539.000 setiap tahunnya dan jumlah kematian
karena pada sebagian besar negara di dunia sekitar 101.000 per tahun (Depkes RI, 2007).
penyakit TB paru tidak terkendali, ini Risiko penularan setiap tahun ARTI
disebabkan banyaknya penderita yang tidak (Annual Risk of Tuberkulosis Infection) di
1
Indonesia dianggap cukup tinggi dan Kota Medan merupakan yang terbesar
bervariasi antara 1-3%. Pada daerah dengan jumlah penderita TB bila dibandingkan
ARTI(Annual Risk of Tuberkulosis Infection) dengan jumlah penduduk dari tiap Kab/Kota
sebesar 1% berarti setiap tahun diantara 1000 dengan jumlah penderita sebanyak 10.653
penduduk, 10 orang akan terinfeksi TB paru. orang yang positif setelah dilakukan
Sebagian besar dari orang yang terinfeksi pemeriksaan dan yang diobati sebanyak 1.960
tidak akanmenjadi penderita tuberkulosis, orang, dari jumlah yang diobati yang sembuh
hanya 10% dari yang terinfeksi yang akan sebanyak 790 orang atau sekitar 40,30%
menjadi penderita tuberculosis. Berdasarkan (Dinkes Kota Medan, 2011).
keterangan tersebut dapat diperkirakan bahwa Berdasarkan hasil survey awal pada
daerah dengan ARTI 1 %, maka diantara bulan November tahun 2013 yang dilakukan
100.000 penduduk rata-rata terjadi 100 peneliti di Puskesmas Sunggal jumlah
(seratus) penderita Tuberkulosis setiap tahun, penderita TB Paru 43 orang pada tahun 2011,
dimana 50 penderita adalah BTA positif. sedangkan pada tahun 2012 jumlah penderita
(Depkes RI, 2008). adalah sebanyak 41 orang dan tahun 2013
TB Paru merupakan penyakit menular, sebanyak 42 orang.Sedangkan cakupan
dimana kepatuhan yang rendah terhadap obat kesembuhan pengobatan TB pada tahun 2011
yang diberikan dokter dapat meningkatkan adalah 76,7 % dan tahun 2012 adalah 75,6 %.
risiko morbiditas, mortalitas dan resistensi Berdasarkan target program penanggulangan
obat baik pada pasien maupun pada TB Puskesmas Sunggal belum mencapai
masyarakat luas. Diagnosa yang tepat, target yaitu 85 % dari semua pasien TB Paru.
pemilihan obat serta pemberian obat yang Hasil penelitian Erawatyningsih (2009)
benar dari tenaga kesehatan ternyata belum bahwa keteraturan/kepatuhan berobat
cukup untuk menjamin keberhasilan suatu penderita TB paru ditentukan oleh perhatian
terapi jika tidak diikuti dengan kepatuhan tenaga kesehatan untuk memberikan
pasien dalam mengkonsumsi obatnya (Asti, penyuluhan, penjelasan kepada penderita,
2006). kalau perlu mengunjungi ke rumah serta
Faktor-faktor yang mempengaruhi tersedianya obat paket TB paru. Petugas
tingkat kepatuhan adalah pengetahuan, kesehatan perlu meningkatkan penyuluhan
motivasi minum obat dan KIE (Komunikasi, untuk meningkatkan pemahaman dan
Informasi dan Edukasi). Faktor penting memberikan motivasi bagi penderita agar
lainnya adalah tingkat pendidikan pasien, penderita dan keluarga dapat memahami
Pendidikan rendah mengakibatkan tentang penyakit TB paru, cara pencegahan
pengetahuan rendah. Besarnya angka dan akibat dari tidak teraturnya menjalankan
ketidakpatuhan berobat akan mengakibatkan pengobatan, sehingga dapat meningkatkan
tingginya angka kegagalan pengobatan kepatuhan penderita untuk datang berobat.
penderita TB paru dan menyebabkan makin Petugas harus memberikan penjelasan secara
banyak ditemukan penderita TB paru dengan rinci, berlaku simpatik dan ramah, serta
BTA yang resisten dengan pengobatan empati.
standar. Hal ini akan mempersulit Salah satu strategi untuk
pemberantasan penyakit TB paru di Indonesia meningkatkan ketaatan adalah memperbaiki
serta memperberat beban pemerintah. komunikasi antara dokter maupun perawat
(Aditama, 2004) dengan pasien. Kualitasin teraksi antara
Di Sumatera Utara, penderita TB petugas kesehatan dan pasien merupakan
menempati urutan ke tujuh nasional. Jumlah bagian yang penting dalam menentukan
penderita TB Paru di Sumatera Utara pada derajat kepatuhan. Meningkatkan interaksi
tahun 2010 sebanyak 104.992 orang setelah petugas kesehatan dengan pasien adalah suatu
dilakukan pemeriksaan dan yang diobati hal penting untuk memberikan umpan balik
sebanyak 13.744 orang, dari jumlah yang pada pasien setelah memperoleh informasi
diobati jumlah pasien yang sembuh sebanyak tentang diagnosis. Pasien membutuhkan
9.390 orang atau sekitar 68,32% (Dinkes penjelasan tentang kondisinya saat ini, apa
Prov. Sumatera Utara, 2011). penyebabnya dan apa yang dapat mereka
2
lakukan dengan kondisi seperti itu. Untuk TUJUAN PENELITIAN
meningkatkan interaksi tenaga kesehatan Tujuan Umum
dengan pasien, diperlukan suatu komunikasi
yang baik oleh tenaga kesehatan. Dengan Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan
komunikasi, seorang tenaga kesehatan dapat menganalisis Bagaimana Hubungan
memberikan informasi yang lengkap guna Komunikasi Interpersonal Petugas Kesehatan
meningkatkan pengetahuan pasien, sehingga Terhadap Kepatuhan Pasien menjalani
diharapkan lebih dapat meningkatkan Pengobatan TB Paru di Puskesmas Sunggal
kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi Medan Tahun 2014.
(Niven, 2002).
Menurut Murwani (2009) komunikasi Tujuan Khusus
menjadi penting karena: 1) merupakan sarana
terbina hubungan yang baik antara pasien dan 1. Mengetahui hubungan komunikasi
tenaga kesehatan, 2) dapat melihat perubahan interpersonal dari aspekketerbukaan
perilaku yang terjadi pada individu atau petugas kesehatan terhadap kepatuhan
pasien, 3) dapat sebagai kunci keberhasilan menjalani pengobatan TB paru
tindakan kesehatan yang telah dilakukan, 4) 2. Mengetahui hubungan komunikasi
dapat sebagai tolak ukur kepuasan pasien, dan interpersonal dari aspek empati petugas
5) dapat sebagai tolak ukur komplain kesehatanterhadap kepatuhan menjalani
(keluhan) tindakan dan rehabilitasi. pengobatan TB paru
Menurut Nazar (2013) kepatuhan 3. Mengetahui hubungan komunikasi
berobat penderita Tuberkulosis paru interpersonal dari aspeksikap mendukung
dipengaruhi oleh komunikasi petugas petugas kesehatan terhadap kepatuhan
kesehatan, isi informasi dan teknik menjalani pengobatan TB paru
komunikasi, akan tetapi diketahui bahwa 4. Mengetahui hubungan komunikasi
variabel yang paling dominan berpengaruh interpersonal dari aspeksikap positif
terhadap kepatuhan berobat yaitu isi petugas kesehatan terhadap kepatuhan
informasi. menjalani pengobatan TB paru
Berdasarkan latar belakang diatas, 5. Mengetahui hubungan komunikasi
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian interpersonal dari aspek kesetaraan
dengan judul “Hubungan Komunikasi petugas kesehatan terhadap kepatuhan
Interpersonal Petugas Kesehatan Terhadap menjalani pengobatan TB paru
Kepatuhan Pasien Menjalani Pengobatan TB
Paru di Puskesmas Sunggal Medan Tahun MANFAAT PENELITIAN
2014”.
1. Bagi Puskesmas Sunggal Medan, sebagai
RUMUSAN MASALAH informasi mengenai masalah yang
berkaitan dengan Hubungan Komunikasi
Permasalahan dalam penelitian ini Petugas Kesehatan Terhadap Kepatuhan
adalah ketidakpatuhan pasien dalam Pasien dalam Pengobatan TB Paru di
menjalankan pengobatan TB Paru. Puskesmas Sunggal Medan
Berdasarkan data Puskesmas Sunggal Tahun 2. Bagi penderita, sebagai acuan dalam
2012 dari 41 orang penderita TB Paru, 4 rangka peningkatan Kepatuhan Pasien
orang pasien pengobatan lengkap dan satu Menjalani Pengobatan serta memberikan
orang tidak tuntas. Hal ini diduga karena motivasi kepada penderita TB Paru.
komunikasi petugas yang masih kurang 3. Secara teoritis dapat mendukung
kepada pasien sehingga peneliti ingin pengembangan ilmu pendidikan
mengetahui “Bagaimana Hubungan kesehatan dan ilmu perilaku, serta dapat
Komunikasi Interpersonal Petugas Kesehatan dimanfaatkan sebagai acuan ilmiah untuk
Terhadap Kepatuhan Pasien menjalani pengembangan ilmu kesehatan khususnya
Pengobatan TB Paru di Puskesmas Sunggal tentang TB Paru.
Medan Tahun 2014”
3
4. Sebagai bahan masukan untuk penelitian Jawaban selalu, skornya :2
selanjutnya baik dengan variabel yang Jawaban kadang-kadang skornya :1
sama maupun berbeda serta tempat yang Jawaban tidak skornya :0
berbeda pula.
2. Empati petugas kesehatan
METODE PENELITIAN Jumlah pernyataan sebanyak 7 dimana
jawaban memiliki nilai total tertinggi adalah
Penelitian ini merupakan penelitian 14 dan terendah adalah 0. Empati petugas
survey bersifat analitik untuk menganalisis dapat diukur dengan skoring terhadap
hubungan komunikasi interpersonal terhadap kuesioner yang telah diberi bobot dimana
kepatuhan pasien menjalani pengobatan TB nilai tertingginya adalah 2 dengan kriteria
Paru di Puskesmas Sunggal Medan dengan jawaban :
pendekatan cross sectional. Jawaban selalu, skornya :2
Jawaban kadang-kadang skornya :1
ASPEK PENGUKURAN Jawaban tidak skornya :0

Alat pengukuran dalam penelitian ini 3. Sikap mendukung petugas kesehatan


menggunakan kuesioner untuk memperoleh Jumlah pernyataan sebanyak 7 dimana
data-data mengenai hubungan komunikasi jawaban memiliki nilai total tertinggia dalah
interpersonal petugas TB Paru terhadap 14 dan terendah adalah 0. Sikap mendukung
kepatuhan menjalani pengobatan TB di petugas dapat diukur dengan skoring terhadap
Puskesmas Sunggal Medan tahun 2014. kuesioner yang telah diberi bobot dimana
Aspek pengukuran dalam penelitian nilai tertingginya adalah 2 dengan kriteria
ini dengan didasarkan pada jawaban jawaban :
responden terhadap pernyataan kuesioner Jawaban selalu, skornya :2
yang disesuaikan dengan skor, dengan Jawaban kadang-kadang skornya :1
menggunakan skala likert. Adapaun nilai Jawaban tidak skornya :0
yang dikumpulkan dari total skor. Selanjutnya
dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu : 4. Sikap positif petugaskesehatan
a. Kategori baik adalah apabila responden Jumlah pernyataan sebanyak 7 dimana
menjawab pertanyaan dengan benar. jawaban memiliki nilai total tertinggi adalah
Jumlah skor nilai yang diperoleh ≥ 76%- 14 dan terendah adalah 0. Sikap positif
100% dari total skor. petugas dapat diukur dengan skoring terhadap
b. Kategori cukup adalah apabila responden kuesioner yang telah diberi bobot dimana
menjawab pertanyaan dengan benar. nilai tertingginya adalah 2 dengan kriteria
Jumlah skor nilai yang diperoleh 56%-75% jawaban :
dari total skor. Jawaban selalu, skornya :2
c. Kategori kurang adalah apabila responden Jawaban kadang-kadang skornya :1
menjawab pertanyaan dengan benar. Jawaban tidak skornya :0
Jumlah skor nilai yang diperoleh< 56%
dari total skor. (Arikunto, 2010). 5. Kesetaraan petugas kesehatan
Jumlah pernyataan sebanyak 7 dimana
1. Keterbukaan petugas kesehatan jawaban memiliki nilai total tertinggia dalah
Jumlah pernyataan sebanyak 5 dimana 14 dan terendah adalah 0. Kesetaraan petugas
jawaban memiliki nilai total tertinggi adalah dengan pasien dapat diukur dengan skoring
10 dan terendah adalah 0. Keterbukaan terhadap kuesioner yang telah diberi bobot
petugas dapat diukur dengan skoring terhadap dimana nilai tertingginya adalah 2 dengan
kuesioner yang telah diberi bobot dimana kriteria jawaban :
nilai tertingginya adalah 2 dengan kriteria Jawaban selalu, skornya :2
jawaban : Jawaban kadang-kadang skornya :1
Jawaban tidakskornya :0

4
6. Kepatuhan pasien Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat
Jumlah pernyataan sebanyak 3 dimana karakteristik Responden menurut Jenis
nilai total tertinggi adalah 3 dan terendah Kelamin, yang paling banyak adalah Laki-laki
adalah 0. Kepatuhan pasien dapat diukur sebanyak 26 orang (61,9%) dan
dengan menggunakan skala Guttman karena perempuansebanyak 16 orang (38,1%).
peneliti menginginkan tipe jawaban tegas, Karakteristik Responden menurut
seperti jawaban benar - salah, ya - tidak, yang umur yang paling banyak adalah umur20-29
diberi bobot : tahun dan 30-39 tahun sebanyak 11 orang
Ya : Skor 1 (26,2%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas
Tidak : Skor 0 penderita TB Paru berusia produktif yaitu 20-
Selanjutnya dikategorikan menjadi 2 39 tahun. Karakteristik responden menurut
kategoriyaitu : pendidikan yang paling banyak adalah
a. Patuh jika ketiga pernyataan dijawab “Ya” Pendidikan menengah sebanyak 21 orang
b. Tidak patuh jika salah satu dari pernyataan (50,0%). Dapat disimpulkan bahwa
dijawab “Tidak” pendidikan responden tergolong cukup karena
telah menyeleseaikan tingkat pendidikan
HASIL DAN PEMBAHASAN menengah. Karakteristik responden
berdasarkan pekerjaan yang paling banyak
Adapun karakteristik ibu meliputi adalah Wiraswasta sebanyak 16 orang
umur dan pekerjaan dapat dilihat pada tabel (38,1%) dan yang paling sedikit adalah PNS
dibawah ini: sebanyak 3orang (7,1%).
Tabel 1. Distribusi Frekuensi
Berdasarkan Karakteristik Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kategori
Responden di Puskesmas Sunggal Berdasarkan Variabel
Medan Tahun 2014 Kepatuhan Pasien Menjalani
No Karakteristik f % Pengobatan TB Paru di
Responden Puskesmas Sunggal Tahun 2014
1 Jenis Kelamin No Tingkat Kepatuhan Jumlah (n) %
Laki-laki 26 61,9 1 Patuh 28 66,7
Perempuan 16 38,1 2 Tidak Patuh 14 33,3
Jumlah 42 100,0 Jumlah 42 100,0
2 Umur (Tahun)
<20 3 7,1 Berdasarkan tabel 2 diketahui
20-29 11 26,2 distribusi kategori berdasarkan variabel
30-39 11 26,2 Kepatuhan pasien menjalani pengobatan TB
40-49 10 23,2 Paru di Puskesmas Sunggal Medan Tahun
>50 7 16,3 2014 kategori patuh 28 orang (66,7%) dan
Jumlah 42 100,0 kategori tidak patuh 14 orang (33,3%).
3 Pendidikan Menurut asumsi peneliti salah satu
Dasar 10 23,8 strategi untuk meningkatkan ketaatan adalah
Menengah 21 50,0 memperbaiki komunikasi antara petugas
Tinggi 11 26,2 kesehatan dengan pasien dari aspek
Jumlah 42 100,0 keterbukaan, empati, sikap mendukung dan
4 Pekerjaan kesetaraan. Sehingga terbina hubungan saling
PNS 3 7,1 mendukung yang secara tidak langsung dapat
PegawaiSwasta 5 11,9 menciptakan penerimaan informasi yang yang
Buruh 7 16,7 positif bagi pengobatan pasien TB Paru.
Petani 11 26,2 Beberapa penelitian eksperimental
Wiraswasta 16 38,1 memperlihatkan bahwa petugas kesehatan
Jumlah 42 100,0 mempunyai peran yang cukup berpengaruh
terhadap perilaku pasien. Kontak pasien
dengan petugas kesehatan di Puskesmas
5
sebagian besar dengan perawat. Salah satu yang dirasakan pasien sehingga mendorong
peran kolaboratif dari perawat adalah pasien untuk patuh mengikuti pengobatan.
membantu menyiapkan pasien untuk taat pada Hasil penelitian ini relevan dengan
program pengobatan yang telah diberikan pendapat Suryani (2006) yang menyatakan
oleh dokter, dalam hal tersebut peran bahwa perawat yang enggan berkomunikasi
komunikasi interpersonal sangat penting dengan menunjukkan raut wajah yang tegang
dalam menjalin saling percaya di antara akan berdampak serius bagi klien. Klien akan
petugas dan pasien. Salah satu hal yang merasa tidak nyaman bahkan terancam
terpenting dengan tidak berhasilnya dengan sikap perawat atau tenaga kesehatan
komunikasi petugas dan pasien adalah lainnya yang tertutup. Kondisi ini tentunya
berkaitan dengan penerimaan informasi yang akan sangat berpengaruh terhadap proses
kurang adekuat. Pada banyak kasus penyembuhan pasien.
diharapkan penerimaan komunikasi akan
berdampak pada bentuk kepatuhan (Maramis, Tabel 4. Hubungan Empati Petugas
2006). Terhadap Kepatuhan Pasien
Menjalani Pengobatan TB Paru
Tabel 3. Hubungan Keterbukaan Petugas di Puskesmas Sunggal Tahun
Terhadap Kepatuhan Pasien 2014
Menjalani Pengobatan TB di Kat. Kategori Kepatuhan p.
Puskesmas Sunggal Tahun 2014 Empati Tidak Patuh Jumlah
Kategori Kepatuhan p. Patuh
Kat. n % n % N %
Tidak Patuh Jumlah
Keter Baik 8 61,5 5 38,5 13 100
Patuh
bukaan Cukup 5 17,9 23 82,1 28 100 0.008
n % n % N %
Kurang 1 100 - - 1 100
Baik 9 33.3 18 66.7 27 100
Jumlah 14 33.3 28 66.7 42 100
Cukup - - 10 100 10 100 0.001
Kurang 5 100 - - 5 100
Jumlah 14 33.3 28 66.7 42 100 Berdasarkan hasil penelitian diketahui
dari 13 orang yang menyatakan empati
Berdasarkan hasil penilitian diketahui petugas baik 8 orang (61,5%) Tidak Patuh
dari 27 orang yang menyatakan keterbukaan dan 5 orang (38,5%) Patuh menjalani
baik 18 orang (66,7%) Patuh dan 9 orang pengobatan TB Paru. Sedangkan dari 28
(33,3%) Tidak Patuh menjalani pengobatan orang yang menyatakan empati petugas cukup
TB Paru. Sedangkan dari 10 orang yang diketahui 23 orang (82,1%) Patuh dan 5 orang
menyatakan keterbukaan cukup diketahui (17,9%) tidak patuh menjalani pengobatan Tb
semua (100%) Patuh menjalani pengobatan Paru. Dari 1 orang yang menyatakan empati
Tb Paru. Dari 5 orang yang menyatakan Petugas Kurang diketahui 1 orang (100,0%,)
keterbukaan Petugas Kurang diketahui semua Tidak Patuh menjalani pengobatan TB Paru.
(100,0%,) tidak patuh menjalani pengobatan Hasil uji Chi-square menunjukkan hasil uji
TB Paru. yang signifikans (p. < 0,05) p=0,008. Hal ini
Hasil uji Chi-square menunjukkan berarti ada hubungan yang bermakna antara
hasil uji yang signifikans (p. < 0,05) p=0,001. empati petugas terhadap kepatuhan pasien
Hal ini berarti tidak ada hubungan menjalani pengobatan TB Paru.
keterbukaan petugas terhadap kepatuhan Menurut asumsi peneliti empati
pasien menjalani pengobatan TB Paru. berpengaruh terhadap kepatuhan Karena
Menurut asumsi peneliti penilaian dalam komunikasi yang efektif akan
responden terhadap keterbukaan petugas menimbulkan sikap penerimaan dan
tercermin dari sikapnya yang terbuka, ramah pengertian terhadap perasaan orang lain
dan mau mendengarkan keluhan dan memberi secara tepat serta meningkatkan efektivitas
konsultasi kepada pasien dan menciptakan komunikasi yang menyebabkan timbulnya
komunikasi yang menyenangkan bagi pasien kesepahaman antar petugas dan pasien
menjadi salah satu faktor penyebab kepuasan sehingga dapat mendorong kepatuhan pasien
dalam menjalani pengobatan TB Paru.
6
Hal ini sejalan dengan penelitian Menurut asumsi peneliti, sikap
Supranto (2001) menyatakan pentingnya mendukung petugas member pengaruh
dimensi empati dalam memberikan pelayanan terhadap kepatuhan pasien dimana pasien
yang bermutu salah satu cara utama mendapat dukungan motivasi dari petugas
memberikan jasa pelayanan yang berkualitas untuk selalu tepat waktu mengambil obat
lebih tinggi dari pesaing secara konsisten. kepuskesmas dan selalu memperhatikan
Adanya pengaruh dimensi empati dalam perkembangan kesehatan pasien, sehingga
komunikasi interpersonalterhadap kepatuhan pasien merasa diperhatikan oleh petugas dan
dapat dijelaskan bahwa empati memberikan menerima semua anjuran petugas selama
sumbangan guna terciptanya hubungan yang pengobatan.
saling mempercayai antar petugas penyuluh. Hal ini sejalan dengan pernyataan
Empati dalam komunikasi akan menimbulkan Rahmat (2007) yang mengutip Devito yang
sikap penerimaan dan pengertian terhadap menyatakan sikap sportif adalah sikap yang
perasaan orang lain secara tepat, serta mengurangi sikap defensif dalam komunikasi.
meningkatkan efektivitas dari komunikasi Orang bersikap defensif bila ia tidak
yang menyebabkan timbulnya kesepahaman menerima, tidak empati. Orang defensif akan
antar petugas sehingga dapat memperlancar lebih banyak melindungi diri dari ancaman
hubungan kerja dan meningkatkan kepatuhan yang ditanggapinya dalam berkomunikasi dari
pasien dalam menjalani pengobatan. pada memahami pesan orang lain.

Tabel 5. Hubungan Sikap Mendukung Tabel 6. Hubungan Sikap Positif Petugas


Petugas Terhadap Kepatuhan Terhadap Kepatuhan Pasien
Pasien Menjalani Pengobatan TB Menjalani Pengobatan TB Paru
Paru di Puskesmas Sunggal di Puskesmas Sunggal Tahun
Tahun 2014 2014
Kat. Kategori Kepatuhan p. Kat. Kategori Kepatuhan p.
Sikap Tidak Patuh Jumlah Sikap Tidak Patuh Jumlah
Mendkg Patuh Positif Patuh
n % n % N % n % n % N %
Baik 8 61,5 5 38,5 13 100 Baik 10 40,0 15 60,0 25 100
Cukup 3 12,0 22 88,0 25 100 0.002 Cukup 3 23,1 10 76,9 13 100 0.538
Kurang 3 75,0 1 25,0 4 100 Kurang 1 25,0 3 75,0 4 100
Jumlah 14 33.3 28 66.7 42 100 Jumlah 14 33.3 28 66.7 42 100

Berdasarkan hasil penelitian diketahui Berdasarkan hasil penelitian diketahui


dari 13 orang yang menyatakan sikap dari 25 orang yang menyatakan sikap positif
mendukung petugas baik 8 orang (61,5%) petugas baik, 15 orang (60,0%) Patuh dan 10
Tidak Patuh dan 5 orang (38,5%) Patuh orang (40.0%) Tidak Patuh menjalani
menjalani pengobatan TB Paru. Sedangkan pengobatan TB Paru. Sedangkan dari 13
dari 25 orang yang menyatakan sikap orang yang menyatakan sikap Positif petugas
mendukung petugas cukup diketahui 22 orang cukup, diketahui 10 orang (76,9%) Patuh dan
(88,0%) Patuh dan 3 orang (12,0%) tidak 3 orang (23,1%) tidak patuh menjalani
patuh menjalani pengobatan TB Paru. Dari 4 pengobatan Tb Paru. Dari 4 orang yang
orang yang menyatakan sikap mendukung menyatakan sikap positif Petugas Kurang,
Petugas Kurang diketahui 3 orang (75,0%,) diketahui 3 orang (75,0%) Patuh dan 1 orang
Tidak Patuh dan 1 orang (25.0%) Patuh (25,0%,) Tidak Patuh menjalani pengobatan
menjalani pengobatan TB Paru. Hasil uji Chi- TB Paru.
square menunjukkan hasil uji yang Hasil uji Chi-square menunjukkan
signifikans (p. < 0,05) p=0,002. Hal ini berarti hasil uji yang tidak signifikans (p. > 0,05)
ada hubungan sikap mendukung petugas p=0,538. Hal ini berarti tidak ada hubungan
terhadap kepatuhan pasien menjalani sikap positif petugas terhadap kepatuhan
pengobatan TB Paru. pasien menjalani pengobatan TB Paru.
7
Menurut asumsi peneliti kemauan dan 5 orang (38.5%) Patuh menjalani
responden untuk sikap positif agar pengobatan TB Paru. Sedangkan dari 24
komunikasi berlangsung efektif yang orang yang menyatakan kesetaraan petugas
diwujudkan dengan sabar dalam melayani cukup, diketahui 22 orang (91.7%) Patuh dan
pasien, petugas memperhatikan 2 orang (8.3%) tidak patuh menjalani
perkembangan kesehatan pasien, petugas pengobatan Tb Paru. Dari 5 orang yang
memberi informasi pengobatan yang lengkap menyatakan kesetaraan Petugas Kurang,
kepada pasien sehingga pasien benar-benar diketahui 4 orang (80,0%) Tidak Patuh dan 1
memahami keadaan penyakitnya dan orang (25,0%,) Patuh menjalani pengobatan
bagaimana proses pengobatannya. Sikap TB Paru.
positif tidak terlalu berpengaruh terhadap Hasil uji Chi-square menunjukkan
kepatuhan karena sikap positif ini belum bisa hasil uji yang signifikans (p. < 0,05) p=0,000.
dinilai kebenarannya tanpa tindakan nyata Hal ini berarti ada hubungan yang signifikan
yang diberikan kepada pasien. antara kesetaraan petugas terhadap kepatuhan
Menurut Rahmat (2005), menyatakan pasien menjalani pengobatan TB Paru.
bahwa sukses komunikasi antar pribadi Menurut asumsi peneliti kemauan
banyak tergantung pada kualitas pandangan responden untuk menciptakan kesetaraan
dan perasaan diri, positif atau negatif. dengan upaya mewujudkan suasana saling
Pandangan dan perasaan tentang diri yang menghargai satu sama lain, demokratis, dan
positif, akan lahir pola perilaku komunikasi tidak membeda-medakan status sosial selama
antarpribadi yang positif pula. berkomunikasi ternyata memberi pengaruh
Sugiyo (2005), mengartikan bahwa yang bermakna terhadap kepatuhan pasien
rasa positif adalah adanya kecenderungan menjalanai pengobatan.
bertindak pada diri komunikator untuk Menurut Hidayat (2012) dapat
memberikan penilaian yang positif pada diri disimpulkan bahwa kesetaraan dalam
komunikan. Komunikasi antar pribadi akan komunikasi yang efektif adalah penting dalam
efektif jika seseorang mempunyai rasa positif meningkatkan kepatuhan. Menurut Effendi
terhadap dirinya dan dikomunikasikan kepada (2003) orang yang berkomunikasi dalam
orang lain, akan membuat orang lain juga suasana ketidaksetaraan akan menimbulkan
memiliki rasa positif, merasa lebih baik dan ketidak mengertian dalam komunikasi,
mempunyai keberanian untuk lebih selanjutnya akan menyebabkan pesan yang
berpartisipasi dalam setiap kesempatan disampaikan kepada mereka diabaikan.
sehingga bermanfaat untuk mengefektifkan
kerjasama (Thoha, 2007). KESIMPULAN DAN SARAN

Tabel 7. Hubungan Kesetaraan Petugas Kesimpulan


Terhadap Kepatuhan Pasien Berdasarkan karakteristik responden
Menjalani Pengobatan TB Paru Mayoritas responden berjenis kelamin laki-
di Puskesmas Sunggal Tahun laki sebanyak 26 orang (61,9%), Mayoritas
2014 responden berumur 20-29 tahun dan 30-39
Kat. Kategori Kepatuhan p. tahun atau dalam usia produktif sebanyak 11
Kese- Tidak Patuh Jumlah orang (26,2%), Mayoritas tingkat pendidikan
taraan Patuh responden adalah pendidikan menengah
n % n % N % sebanyak 21 orang (50,0%) dan Mayoritas
Baik 8 61,5 5 38,5 13 100 pekerjaan responden adalah wiraswasta
Cukup 2 8,3 22 91,7 24 100 0.000 sebanyak 16 orang (38,1%).
Kurang 4 80,0 1 20,0 5 100 Berdasarkan tingkat kepatuhan responden
Jumlah 14 33.3 28 66.7 42 100 mayoritas responden patuh menjalani
pengobatan TB Paru sebanyak 28 orang
Berdasarkan hasil penelitian diketahui (66,7%). Berdasarkan hasil uji chi square
dari 13 orang yang menyatakan kesetaraan terdapat hubungan yang bermakna antara
petugas baik, 8 orang (61,5%) Tidak Patuh variabel keterbukaan, empati, sikap
8
mendukung dan kesetaraan terhadap DAFTAR PUSTAKA
Kepatuhan Pasien menjalani pengobatan TB
Paru di Puskesmas Sunggal Medan Tahun Aditama, T. Y, 2002. Tuberkulosis:
2014. Diagnosis, Terapi dan
Masalahnya, Yayasan IDI, Jakarta.
Saran
Kepada petugas Puskesmas khususnya Asti, T., 2006. Kepatuhan Pasien; Faktor
yang memegang program TB Paru agar lebih Penting Dalam Keberhasilan
ramah dalam melayani pasien,selalu memberi Terapi, Vol. 7, No.5, INFOPOM,
motivasi kepada pasien untuk teratur Badan POM RI, Jakarta.
mengambil obat ke Puskesmas, menjelaskan
pengobatan yang tidak tuntas akan Arikunto, S, 2010. Prosedur Penelitian;
memperberat sakit yang diderita pasien serta Suatu Pendekatan Praktek, edisi
proses penyembuhannya akan lama dan selalu revisi 5, Rineka Cipta, Jakarta.
memperhatikan perkembangan kesehatan
pasien, serta tidak membeda-bedakan pasien. Depkes R.I, 2008. Pedoman Nasional
Bagi Kepada Kepala Puskes Penanggulangan Tuberkulosis,
masmemberikan honor tambahan bagi edisi 2, Cetakan Kedua, Direktorat
petugas TB Paru sehingga dapat Jenderal PelayananMedik, Jakarta.
meningkatkan pelayanannya dalambentuk
memberikan komunikasi interpersonal dan ___________, 2007. Pedoman Penyakit
efektif demi Medan Tahun 2014. Tuberkulosis dan
Bagi Kepala Dinas agar kedepanya Penanggulangannya, Edisi 2,
melakukan fokus terhadap aspek-aspek yang Direktorat Jenderal Pelayanan
di perlukan bagi seorang petugas TB Paru Medik, Jakarta.
seperti Komunukasi Interpersonal dan
memberikan Pelatihan Khusus Bagi Petugas ___________, 2002. Pedoman Penyakit
TB di Puskesmas demi meningkatkan Tuberkulosis dan
Pemberantasan TB di Indonesia. Penanggulangannya, Cetakan
Bagi petugas Puskesmas supaya kedelapan, Direktorat Jenderal
menjelaskan kepada pasien yang masih tetap Pelayanan Medik, Jakarta.
BTA positif untuk mencegah penuran TB
Paru kepada orang lain dan keluarga dekat Dinkes SUMUT, 2011. Profil Kesehatan
dengan cara menutup mulut saat bersin atau Provinsi Sumatera Utara Tahun
batuk, memisahkan peralatan makan di 2010, Medan.
rumah, menjaga kebersihan rumah dan selalu
membuka jendela pintu setiap hari. Dinkes Kota Medan, 2011. Profil Kesehatan
Kota Medan Tahun 2010, Medan.

Erawatyningsih, dkk, 2009. Faktor-Faktor


Yang Mempengaruhi
Ketidakpatuhan Berobat Pada
Penderita Tuberkulosis Paru di
Wilayah Kerja Puskesmas Dompu
Barat Kecamatan Woja
Kabupaten Dompu Provinsi NTB,
Volume 25 No. 3, Berita Kedokteran
Masyarakat.

9
Maramis, W. F, 2006. Ilmu Perilaku dalam
Pelayanan Kesehatan, Airlangga
University Press, Surabaya.

Murwani, I, 2009. Komunikasi Terapeutik


Panduan Bagi Perawat, Fitramaya,
Yogyakarta.

Nazar,T.G, 2013. Pengaruh Komunikasi


Terapeutik (sikap perawat, isi
informasi, dan teknik komunikasi)
Terhadap Kepatuhan Berobat
Penderita Tuberkulosis Paru
Rawat Jalan di RSUD Sidikalang
Kabupaten Dairi, Tesis, Paska
Sarjana USU, Medan.

Niven N, 2002. Psikologi Kesehatan;


Pengantar Untuk Perawat &
Profesional Kesehatan Lain, EGC,
Jakarta.

Rahmat, Jalaluddin, 2007. Psikologi


Komunikasi, Bandung, PT. Remaja
Rosdakarya.

Rahmat, Jalaluddin, 2005. Psikologi


Komunikasi, Bandung, PT. Remaja
Rosdakarya.

Sugiyono. 2005. Komunikasi Antarpribadi.


Semarang : UNNES Press.

10