Anda di halaman 1dari 23

Laporan Kasus

FRAKTUR BASIS CRANII

OLEH:
Sari Fitrianingsih

PEMBIMBING
Dr. Aan Widhi Aningrum
Dr. Normayni Maya Sari

DISUSUN DALAM RANGKA TUGAS INTERNSHIP


RSUD ABDUL AZIZ MARABAHAN
KALIMANTAN SELATAN
2017
BAB I

1
PENDAHULUAN

Cedera kepala adalah penyebab utama kematian, dan kecacatan. Manfaat


dari tulang tengkorak untuk melindungi otak terhadap cedera. Selain dilindungi
oleh tulang, otak juga tertutup lapisan keras yang disebut meninges fibrosa, dan
juga terdapat cairan yang disebut cerebrospinal fuild (CSF). Trauma dapat
berpotensi menyebabkan fraktur tulang tengkorak, perdarahan di ruang sekitar
otak, memar pada jaringan otak, atau kerusakan saraf pada otak.
Fraktur basis Cranii/Basilar Skull Fracture (BSF) merupakan fraktur akibat
benturan langsung di sekitar dasar tulang tengkorak (oksiput, mastoid,
supraorbita), transmisi energy yang berasal dari benturan pada wajah atau
mandibula, atau efek “remote” dari benturan pada kepala (“tekanan gelombang”
yang dipropagasi dari titik benturan atau perubahan bentuk tengkorak).
Pasien dengan fraktur basis Cranii (fraktur pertrous os temporal) dijumpai
dengan otorrhea dan memar pada mastoids (battle sign). Penampakan fraktur
basis Cranii fossa anterior ditandai dengan adanya Rhinorrhea dan memar di
sekitar palpebra (raccoon eyes). Kehilangan kesadaran dan Glasgow Coma Scale
dapat bervariasi, tergantung pada kondisi patologis intrakranial. Untuk penegakan
diagnosis fraktur basis Cranii, diawali dengan pemeriksaan neurologis lengkap,
analisis laboratorium dasar, diagnostic untuk fraktur dengan pemeriksaan
radiologik.
Penanganan korban dengan cedera kepala diawali dengan memastikan
bahwa airway, breathing, circulation bebas dan aman. Banyak korban cedera
kepala disertai dengan multiple trauma dan penanganan pada pasien tersebut tidak
menempatkan penanganan kepala menjadi prioritas, resusisati awal dilakukan
secara menyeluruh.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
I. Definisi
Fraktur tulang tengkorak berarti bahwa telah ada kerusakan baik satu atau
lebih tulang pada tengkorak. Fragmen kecil dari tengkorak juga bisa pecah dan
menyebabkan kerusakan tambahan pada otak. Selain itu, energi yang dipakai
dalam benturan tengkorak bisa melukai jaringan otak. Fraktur tulang tengkorak
dapat diklasifikasikan dalam salah satu dari dua cara, baik dengan jenis cedera
yang diderita atau lokasi dari cederanya. Sebuah fraktur tengkorak basilar terjadi
di dasar tengkorak. Ini adalah cedera yang sangat jarang terjadi hanya dalam 4%
dari semua kasus fraktur. Fraktur ini pada dasarnya adalah fraktur linear, atau
retak garis lurus di dasar tengkorak. Patah tulang tengkorak basilar bisa sangat
berbahaya karena batang otak dapat terluka, yang antara lain mengirimkan pesan
dari otak ke sumsum tulang belakang. Jika otak atau batang otak terluka maka
kematian seringkali sangat mungkin terjadi.
Fraktur basis Cranii terjadi karena adanya trauma tumpul yang
menyebabkan kerusakan pada tulang dasar tengkorak. Ini sering dikaitkan dengan
perdarahan di sekitar mata (raccoon eyes) atau di belakang telinga (Battle sign).
Garis fraktur dapat meluas ke sinus wajah yang memungkinkan bakteri dari
hidung dan mulut untuk masuk keadalam dan kontak dengan otak, menyebabkan
infeksi yang potensial.

II. Epidemiologi
Fraktur basis Cranii merupakan salah satu fraktur pada area kepala dan
leher yang sulit untuk dievaluasi dan diobatai. Fraktur ini didefinisikan sebagai
fraktur linear dasar tengkorak, dan biasanya frakturnya banyak pada wajah dan
meluas kedasar tengkorak. Sinus sphenoid, foramen magnum, os temporal dan
sphenoidal adalah daerah yang paling umum terjadi patahan.
Sekitar 2 juta cedera kepala yang terjadi di Amerika Serikat. Kasus ini
adalah salah satu penyebeb utama kecacatan dan kematian pada anak. Kecelakaan
kendaraan bermotor adalah penyebab utama dari trauma ini yang ada dinegara-
negara industri. Persentase cedera kepala dan leher yang terjadi adalah 1/3 dari
kecelakaan kendaraan bermotor, dengan 28% kasus fraktur ada pada kepala dan
leher

3
Fraktur basis Cranii terjadi sekitar 20-24% dari semua kasus cedera
kepala. Pada studi retrospective yang dilakukan oleh Behbahani dkk pada tahun
2013, mengatakan bahwa Dalam hal ini kejadian fraktur basis Cranii hanya
terdapat 2% dari seluruh kasus kejadian trauma. Dalam sebuah studi dari
Behbahani et al in 2013, sebuah studi retrospektif tentang trauma kepala. Mereka
menemukan bahwa dari 1060 pasien dengan trauma kepala. 965 pasien
mengalami fraktur tulang kepala dengan 220 diantaranya frakturnya berada pada
dasar tengkorak. Dari 220 fraktur ini diantaranya 78 fraktur os temporal, 47
orbital superior, 44 sphenoid, 30 os occipitalis, 21 ethmoidal, dan 2 clivus.

III. Anatomi

Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis Craniii. Tulang
tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu: Os frontal, Os Ethmoidal, Os
sphenoidal, Os occipital dan Os temporal, pada regio temporal strukturnya lebih
tipis, namun pada bagian ini dilindungi oleh otot-otot temporalis.
Basis Craniii memiliki bentuk yang tidak rata sehingga dapat melukai
bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi.
Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fossa yaitu : fossa Cranii anterior,
fossa Cranii media dan fossa Cranii posterior

4
Sekitar 70% fraktur basis Cranii berada pada daerah anterior, meskipun
kalvaria tengah adalah bagian terlemah dari basis Cranii namun hanya 20%
fraktur yang ditemukan dan sekitar 5% fraktur pada daerah posterior.
Fossa crania anterior : Melindungi lobus frontal cerebri, dibatasi di anterior oleh
permukaan dalam os frontale, batas superior adalah ala minor ossis spenoidalis.
Dasar fossa dibentuk oleh pars orbitalis ossis frontale di lateral dan oleh lamina
cribiformis os etmoidalis di media. Permukaan atas lamina cribiformis
menyokong bulbus olfaktorius, dan lubang-lubang halus pada lamini cribrosa
dilalui oleh nervus olfaktorius.
Pada fraktur fossa Cranii anterior, lamina cribrosa os etmoidalis dapat
cedera. Keadaan ini dapat menyebabkan robeknya meningeal yang menutupi
mukoperiostium. Pasien dapat mengalami epistaksis dan terjadi rhinnore atau
kebocoran CSF yang merembes ke dalam hidung. Fraktur yang mengenai pars
orbita os frontal mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva (raccoon eyes atau
periorbital ekimosis) yang merupakan salah satu tanda klinis dari fraktur basis
cranii fossa anterior
Fossa Cranii media : Terdiri dari bagian medial yang dibentuk oleh corpus os
sphenoidalis dan bagian lateral yang luas membentuk cekungan kanan dan kiri
yang menampung lobus temporalis cerebri. Di anterior dibatasi oleh ala minor os
sphenoidalis dan terdapat canalis opticus yang dilalui oleh n.opticus dan

5
a.oftalmica, sementara bagian posterior dibatasi oleh batas atas pars petrosa os
temporal. Dilateral terdapat pars squamous pars os temporal.
Fissura orbitalis superior, yang merupakan celah antara ala mayor dan
minor os sphenoidalis dilalui oleh n.lacrimalis, n.frontale, n.trochlearis,
n.occulomotorius dan n.abducens.
Fraktur pada basis cranii fossa media sering terjadi, karena daerah ini
merupakan tempat yang paling lemah dari basis Cranii. Secara anatomi kelemahan
ini disebabkan oleh banyaknya foramen dan canalis di daerah ini. Cavum timpani
dan sinus sphenoidalis merupakan daerah yang paling sering terkena cedera.
Bocornya CSF dan keluarnya darah dari canalis acusticus externus sering terjadi
(otorrhea). N. craniais VII dan VIII dapat cedera pada saat terjadi cedera pada pars
perrosus os temporal. N. cranialis III, IV dan VI dapat cedera bila dinding lateral
sinus cavernosus robek.
Fossa Cranii posterior melindungi otak otak belakang, yaitu cerebellum, pons
dan medulla oblongata. Di anterior fossa di batasi oleh pinggir superior pars
petrosa os temporal dan di posterior dibatasi oleh permukaan dalam pars
squamosa os occipital. Dasar fossa Cranii posterior dibentuk oleh pars basilaris,
condylaris, dan squamosa os occipital dan pars mastoiddeus os temporal.
Foramen magnum menempati daerah pusat dari dasar fossa dan dilalui
oleh medulla oblongata dengan meningens yang meliputinya, pars spinalis
assendens n. accessories dan kedua a.vertebralis.
Pada fraktur fossa Cranii posterior darah dapat merembes ke tengkuk di
bawah otot-otot postvertebralis. Beberapa hari kemudian, darah ditemukan dan
muncul di otot otot trigonu posterior, dekat prosesus mastoideus. Membrane
mukosa atap nasofaring dapat robek, dan darah mengalir keluar. Pada fraktur yang
mengenai foramen jugularis n.IX, X dan XI dapat ceder

IV. Patofisiologi
Fraktur basis cranii merupakan fraktur akibat benturan langsung pada
daerah-daerah dasar tulang tengkorak (oksiput, mastoid, supraorbita); transmisi
energy yang berasal dari benturan pada wajah atau mandibula, atau efek “remote”

6
dari benturan pada kepala (“gelombang tekanan” yang dipropagasi dari titik
benturan atau perubahan bentuk tengkorak).
Tipe dari fraktur basis cranii yang parah adalah jenis ring fracture, karena
area ini mengelilingi foramen magnum, apertura di dasar tengkorak di mana
spinal cord lewat. Ring fracture komplit biasanya segera berakibat fatal akibat
cedera batang otak. Ring fracture in komplit lebih sering dijumpai (Hooper et al.
1994). Kematian biasanya terjadi seketika karena cedera batang otak disertai
dengan avulsi dan laserasi dari pembuluh darah besar pada dasar tengkorak.
Fraktur basis Cranii telah dikaitkan dengan berbagai mekanisme termasuk
benturan dari arah mandibula atau wajah dan kubah tengkorak, atau akibat beban
inersia pada kepala (sering disebut cedera tipe whiplash). Terjadinya beban
inersia, misalnya, ketika dada pengendara sepeda motor berhenti secara mendadak
akibat mengalami benturan dengan sebuah objek misalnya pagar. Kepala
kemudian secara tiba tiba mengalami percepatan gerakan namun pada area
medulla oblongata mengalami tahanan oleh foramen magnum, beban inersia
tersebut kemudian meyebabkan ring fracture. Ring fracture juga dapat terjadi
akibat ruda paksa pada benturan tipe vertikal, arah benturan dari inferior
diteruskan ke superior (daya kompresi) atau ruda paksa dari arah superior
kemudian diteruskan ke arah occiput atau mandibula.
Huelke et al. (1988) menyelidiki sebuah pandangan umum bahwa fraktur
basis Cranii akibat hasil dari benturan area kubah kranial. Kasus benturan pada
area kubah non-kranial, yang terjadi dalam berbagai jenis kecelakaan kendaraan
bermotor, telah didokumentasikan. Para peneliti menemukan fraktur basis Cranii
juga bisa disebabkan oleh benturan pada area wajah saja.
Pada studi eksperimen berdasarkan pengujian mayat, Gott et al.(1983)
meneliti secara rinci tengkorak dari 146 subjek yang telah mengalami
benturan/ruda paksa pada area kepala. 45 kasus fraktur tengkorak diamati secara
rinci. Terdapat 22 BSF pada grup ini. Penyebab dari kasus tersebut disebabkan
oleh ruda paksa pada area frontal (5 kasus), daerah Temporo-parietal tengkorak (1
kasus), seluruh wajah (2 kasus) dan berbagai jenis ruda paksa kepala lainnya (14
kasus).

7
Saat memeriksa respon leher akibat beban daya regang aksia, Sances et al.
(1981) mengamati BSF tanpa kerusakan ligamen melalui analisa quo-statistic
didapatkan 1780N sementara dan 3780N tampak utuh pada area leher, kepala dan
tulang belakang. Beberapa peneliti mengamati complex kepala-leher terhadap
ruda paksa dari arah superior-inferior. Secara umum, menunjukkan bahwa lokasi
fraktur tengkorak hasil dari ruda paksa langsung. Ketika area kepala terlindungi,
leher menjadi wilayah yang paling rentan terhadap cedera pada tingkat kekuatan
di atas 4 kN (Alem et al 1984). Para peneliti menguji 19 cadaver dalam posisi
supine dan hanya mampu menghasilkan BSF tunggal. Fraktur basis Cranii
membutuhkan durasi yang rendah (3 ms), energi tinggi (33 J) ruda paksa dengan
kekuatan benturan dari 17 kN pada kecepatan ruda paksa 9 m /s.
Hopper et al. (1994) melakukan dua studi eksperimental pada mayat
bertujuan untuk memahami mekanisme biomekanik yang mengakibatkan fraktur
basis Cranii ketika kepala mandibula yang dikarenakan ruda paksa
Pada studi awal, cedera yang dapat ditoleransi oleh mandibula ketika
mengalami ruda paksa adalah pada area pertengahan simfisis atau area mentalis
(dagu). Enam dampak yang dinamis dengan jalur vertikal pada satu tes dilakukan
dengan menggunakan uji quasi-static. Suatu ruda paksa yang bervariasi diberikan
untuk menilai pengaruh yang terjadi. Ditemukan bahwa toleransi energi ruda
paksa untuk fraktur mandibula pada ke enam tes tersebut adalah 5270 + 930N.
Pada setiap tes, dijumpai fraktur mandibula secara klinis namun tidak
menghasilkan fraktur basis Cranii.
Studi kedua menilai toleransi fraktur basis Cranii ketika beban langsung
diberikan kearah Temporo-mandibula joint yang secara tidak langsung
menghasilkan pembebanan secara lokal sekitar foramen magnum. Kekuatan
puncak dan energi untuk setiap kegagalan ditentukan dalam setiap pengujian.
Beban rata rata pada setiap fraktur ditemukan dengan kekuatan energi 4300 +350
N. Peneliti dapat menghitung energi untuk fraktur pada tiga dari tes dengan rata-
rata 13,0 + 1.7 J. Cedera dihasilkan dengan cara ini konsisten dengan pengamatan
klinis fraktur basis cranii.
Peneliti menyimpulkan bahwa hasil penelitian ini mendukung hipotesis
bahwa ruda paksa pada mandibula saja biasanya hanya menyebabkan fraktur

8
mandibula. Selanjutnya, complete dan partial ring type BSF membutuhkan ruda
paksa temporo-mandibular yang secara tidak langsung menghasilkan pembebanan
pada daerah sekitar foramen magnum.

9
Jenis Fraktur Basis Cranii

10
Fraktur Temporal, dijumpai pada 75% dari semua fraktur basis Cranii.
Terdapat 3 suptipe dari fraktur temporal berupa longitudinal, transversal dan
mixed. Tipe transversal dari fraktur temporal dan type longitudinal fraktur
temporal ditunjukkan di bawah ini.
(A)Transverse temporal bone fracture and (B)Longitudinal temporal bone fracture
(courtesy of Adam Flanders, MD, Thomas Jefferson University, Philadelphia,
Pennsylvania)

A B

Fraktur longitudinal terjadi pada regio temporoparietal dan melibatkan


bagian squamousa pada os temporal, dinding superior dari canalis acusticus
externus dan tegmen timpani. Tipe fraktur ini dapat berjalan dari salah satu bagian
anterior atau posterior menuju cochlea dan labyrinthine capsule, berakhir pada
fossa Cranii media dekat foramen spinosum atau pada mastoid air cells. Fraktur
longitudinal merupakan yang paling umum dari tiga suptipe (70-90%). Fraktur
transversal dimulai dari foramen magnum dan memperpanjang melalui cochlea
dan labyrinth, berakhir pada fossa cranial media (5-30%). Fraktur mixed memiliki
unsur unsur dari kedua fraktur longitudinal dan transversal.
Namun sistem lain untuk klasifikasi fraktur os temporal telah diusulkan.
Sistem ini membagi fraktur os temporal kedalam petrous fraktur dan nonpetrous
fraktur, yang terakhir termasuk fraktur yang melibatkan mastoid air cells. Fraktur
tersebut tidak disertai dengan deficit nervus cranialis.

11
Fraktur condylar occipital (Posterior), adalah hasil dari trauma tumpul
energi tinggi dengan kompresi aksial, lateral bending, atau cedera rotational pada
pada ligamentum Alar. Fraktur tipe ini dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan
morfologi dan mekanisme cedera. Klasifikasi alternative membagi fraktur ini
menjadi displaced dan stable, yaitu, dengan dan tanpa cedera ligamen. Tipe I
fraktur sekunder akibat kompresi aksial yang mengakibatkan kombinasi dari
kondilus oksipital. Ini merupakan jenis cedera stabil. Tipe II fraktur yang
dihasilkan dari pukulan langsung meskipun fraktur basioccipital lebih luas, fraktur
tipe II diklasifikasikan sebagai fraktur yang stabil karena ligament alar dan
membrane tectorial tidak mengalami kerusakan. Tipe III adalah cedera avulsi
sebagai akibat rotasi paksa dan lateral bending. Hal ini berpotensi menjadi fraktur
tidak stabil.

V. Manifestasi klinis
Pasien dengan fraktur pertrous os temporal dijumpai dengan otorrhea dan
memar pada mastoids (battle sign). Presentasi dengan fraktur basis Cranii fossa
anterior adalah dengan rhinorrhea dan memar di sekitar palpebra (raccoon eyes).
Kehilangan kesadaran dan Glasgow Coma Scale dapat bervariasi, tergantung pada
kondisi patologis intrakranial.
Fraktur longitudinal os temporal berakibat pada terganggunya tulang
pendengaran dan ketulian konduktif yang lebih besar dari 30 dB yang berlangsung
lebih dari 6-7 minggu. tuli sementara yang akan baik kembali dalam waktu kurang
dari 3 minggu disebabkan karena hemotympanum dan edema mukosa di fossa
tympany. Facial palsy, nystagmus, dan facial numbness adalah akibat sekunder
dari keterlibatan nervus cranialis V, VI, VII.
Fraktur tranversal os temporal melibatkan saraf cranialis VIII dan labirin,
sehingga menyebabkan nystagmus, ataksia, dan kehilangan pendengaran
permanen (permanent neural hearing loss).
Fraktur condylar os oksipital adalah cedera yang sangat langka dan
serius12. Sebagian besar pasien dengan fraktur condylar os oksipital, terutama
dengan tipe III, berada dalam keadaan koma dan terkait cedera tulang belakang

12
servikalis. Pasien ini juga memperlihatkan cedera lower cranial nerve dan
hemiplegia atau guadriplegia.
Sindrom Vernet atau sindrom foramen jugularis adalah keterlibatan nervus
cranialis IX, X, dan XI akibat fraktur. Pasien tampak dengan kesulitan fungsi
fonasi dan aspirasi dan paralysis ipsilateral dari pita suara, palatum mole (curtain
sign), superior pharyngeal constrictor, sternocleidomastoid, dan trapezius. Collet-
Sicard sindrom adalah fraktur condylar os oksipital dengan keterlibatan nervus
cranial IX, X, XI, dan XII.

VI. Penananganan
Penanganan umum dari trauma kepala sendiri, meliputi:
Penatalaksanaan :
1. Pengendalian Tekanan IntraCraniial
Manitol efektif untuk mengurangi edem serebral dan TIK. Selain karena efek
osmotik , manitol juga dapat mengurangi TIK dengan meningkatkan arus
microcirculatory otak dan pengiriman oksigen. Efek pemberian bolus manitol
tampaknya sama selama rentang 0,25 sampai 1,0 g / kg
2. Mengontrol tekanan perfusi otak
Tekanan perfusi otak harus dipertahankan antara 60 dan 70 mmHg , baik dengan
mengurangi TIK atau dengan meninggikan MAP . Rehidrasi secara adekuat dan
mendukung kardiovaskular dengan vasopressors dan inotropik untuk
meningkatkan MAP dan mempertahankan tekanan perfusi otak > 70 mmHg.
3. Mengontrol hematokrit
Aliran darah otak dipengaruhi oleh hematokrit. Viskositas darah meningkat
sebanding dengan semakin meningkatnya hematokrit dan tingkat optimal sekitar
35%. Aliran darah otak berkurang jika hematokrit meningkat lebih dari 50% dan
meningkat dengan tingkat hematokrit di bawah 30.
4. Obat obatan
Pemberian rutin obat sedasi, analgesik dan agen yang memblokir neuromuscular.
Propofol telah menjadi obat sedative pilihan. Fentanil dan morfin sering
diberikan untuk membatasi nyeri , memfasilitasi ventilasi mekanis dan
mempotensiasi efek sedasi. Obat yang memblokir neuromuscular mencegah

13
peningkatan TIK yang dihasilkan oleh batuk dan penegangan pada
endotrachealtube.
5. Pengaturan suhu
Demam dapat memperberat defisit neurologis yang ada dan dapat memperburuk
kondisi pasien. Metabolisme otak akan oksigen meningkat sebesar 6-9 % untuk
setiap kenaikan derajat Celcius. Tiap fase akut cedera kepala , hipertermia harus
diterapi karena akan memperburuk iskemik otak.
6. Mengontrol bangkitan
Bangkitan terjadi terutama di mereka yang telah menderita hematoma ,
menembus cedera, termasuk patah tulang tengkorak dengan penetrasi dural ,
adanya tanda fokal neurologis dan sepsis. Antikonvulsan harus diberikan apabila
terjadi bangkitan.
7. Kontrol cairan
NaCl 0,9% , dengan osmolaritas 308 mosm / l, telah menjadi kristaloid pilihan
dalam manajemen dari cedera otak. Resusitasi dengan 0,9 % saline membutuhkan
4 kali volume darah yang hilang untuk memulihkan parameter hemodinamik . 8.
posisi kepala
Menaikkan posisi kepala dengan sudut 15-300 dapat menurunkan TIK dan
meningkatkan venous return ke jantung.
9. merujuk ke dokter bedah saraf
Rujukan ke seorang ahli bedah saraf:
• GCS kurang dari atau sama dengan setelah resusitasi awal
• Disorientasi yang berlangsung lebih 4 jam
• penurunan skor GCS terutama respon motoric
• tanda-tanda neurologis fokal progresif
• kejang tanpa pemulihan penuh
• cedera penetrasi
• kebocoran cairan serebrospinal(4)

Prognosis
Pada frakur basis Cranii fossa anterior dan media, prognosis baik selama tanda
tanda vital dan status neurologis dievaluasi secara teratur dan dilakukan tindakan
sedini mungkin apabila ditemukan deficit neurologis serta diberikan profilaksis

14
antibiotic untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, sedangkan pada fraktur
basis Cranii posterior, prognosis buruk dikarenakan fraktur pada fossa posterior
dapat mengakibatkan kompresi batang otak.

15
BAB III
STATUS PASIEN

3.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. Z
Umur : 24 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Kuripan
Tanggal masuk : April 2017
Tanggal keluar : April 2017

3.2 Anamnesis
Alloanamnesis

Keluhan Utama
Tidak sadarkan diri setelah kecelakaan lalu lintas

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien post kecelakaan lalu lintas tunggal, menabrak pohon kemudian tidak
sadarkan diri dan terus menerus mengeluarkan darah dari telinga, hidung dan
mulut. Pasien dibawa oleh temannya dan belum ada keluarga yang
mendampingi

Riwayat Penyakit Dahulu


-

Riwayat Penyakit Keluarga


-

3.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : tampak sakit berat
Kesadaran : GCS 1-1-1
Tanda-tanda vital
Frekuensi nadi : 120x/menit
Frekuensi nafas : 14x/menit
Suhu : 38oC

16
Status generalisata
Kepala
Bentuk : Normochepali
Rambut : hitam, tidak mudah dicabut
Mata : tampak racoon eyes, refleks cahaya (-/-)
Hidung : mengeluarkan darah
Mulut : sulit dievaluasi karena pasien terus mengeluarkan darah

Leher
dbn

Thorax
Tidak dievaluasi

Abdomen
Tidak dievaluasi

Ekstremitas
Tidak didapatkan cedera lain

3.4 Diagnosa Kerja


Fraktur basis cranii

3.5 Diagnosa Banding


 Fraktur Basis Cranii
 Epidural Hematom

3.6 Penatalaksanaan
a. Medikamentosa
 Oksigen 6 liter/menit
 Injeksi Ceftriaxone 1 gram
 Suction
b. Edukasi
 Keluarga belum datang, sehingga dilakukan penjelasan mengenai kondisi
pasien terhadap teman-teman pasien yang mendampingi, tepat enam jam
di IGD pasien meninggal dunia.
Daftar pustaka:
1. Haryono Y. Rinorea cairan serebrospinal. USU. Departemen THT-KL FK
USU. 2006
2. Nadeau K. Neurologic injury(chapter 29) in Jones and barlett learning.com.
2004
3. Bamberger D. Diagnosis, initial management and prevention of meningitis,
University of Missouri–Kansas City School of Medicine, Kansas City, Missouri.
4. Pillai P, Sharma R,MacKenzie R, Reilly EF, Beery PR, Thomas, Papadimos ,
Stawicki SPA. raumatic tension pneumocephalus: Two cases and comprehensive
review of literature. OPUS 12 Scientist 2010;4(1):6-11
Gejala Klinis
Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis Craniii.
Khusus di regio temporal, kalvaria tipis tetapi dilapisi oleh otot temporalis.
Basis Craniii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak
saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. Lantai dasar rongga
tengkorak dibagi atas 3 fossa yaitu: fossa anterior tempat lobus frontalis, fossa
media tempat lobus temporalis dan fossa posterior adalah ruang untuk bagian
bawah batang otak dan otak kecil (serebelum).
Fraktur basis Craniii adalah suatu fraktur linier yang terjadi pada dasar
tulang tengkorak, fraktur ini seringkali disertai dengan robekan pada
durameter yang merekat erat pada dasar tengkorak. Fraktur basis Craniii
berdasarkan letak anatomi di bagi menjadi fraktur fossa anterior, fraktur fossa
media dan fraktur fossa posterior. Secara anatomi ada perbedaan struktur di
daerah basis Craniii dan tulang kalvaria. Durameter daerah basis Cranii lebih
tipis dibandingkan daerah kalfaria dan durameter daerah basis melekat lebih
erat pada tulang dibandingkan daerah kalfaria. Sehingga bila terjadi fraktur
daerah basis dapat menyebabkan robekan durameter. Hal ini dapat
menyebabkan kebocoran cairan cerebrospinal yang menimbulkan resiko
terjadinya infeksi selaput otak (meningitis). Tanda/gejala klinis fraktur tulang
tengkorak antara lain:
1. Ekimosis periorbital (raccoon eyes sign) ditemukan jika frakturnya pada
bagian basis Craniii fossa anterior.
2. Ekimosis retroaurikuler (Battle sign), kebocoran cairan serebro spinal
(CSS) dari hidung (rhinorrhea) dan telinga (otorrhea) dimana keluarnya
cairan otak melalui telinga menunjukan terjadi fraktur pada petrous
pyramid yang merusak kanal auditory eksternal dan merobek membrane
timpani mengakibatkan bocornya cairan otak atau darah terkumpul
disamping membrane timpani tidak robek tanda ini ditemukan jika
frakturnya pada bagian basis Craniii fossa media.
3. Kondisi ini juga dapat menyebabkan lesi/gangguan nervus Craniialis VII
dan VIII (parase otot wajah dan kehilangan pendengaran), yang dapat
timbul segera atau beberapa hari setelah trauma.(BTLS,
http://www.psychologymania.com/2012/09/klasifikasi-cedera-kepala.html,

Pemeriksaan penunjang
Adapun pemeriksaan penunjamg untuk fraktur basis Craniii antara lain:
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah rutin, fungsi
2. Pemeriksaan radiologi
a. Foto rontgen
b. CT-scan dengan teknik “bone window” untuk memperjelas garis
frakturnya.
c. MRI (Magnetic Resonance Angiography)
d. Pemeriksaan arteriografi

Diagnosis Banding
1. Perdarahan epidural
Merupakan gejala sisa yang serius akibat cedera kepala yang
menyebabkan angka mortalitas sekitar 50%. Hematoma epidural paling
sering terjadi di daerah parietotemporal akibat robekan arteria meningea
media. Hematoma epidural di daerah frontal dan oksipital sering tidak
dicurigai dan member tanda-tanda setempat yang tidak jelas. Bila
hematoma tidak disertai dengan cedera otak lainnya, pengobatan dini
biasanya dapat menyembuhkan penderita dengan sedikit atau tanpa deficit
neurologik.
Gejala dan tanda yang tampak bervariasi, tetapi penderita hematom
epidural yang khas memiliki riwayat cedera kepala dengan periode tidak
sadar dalam waktu pendek, diikuti oleh periode lusid. Hematoma yang
meluas didaerah temporal menyebabkan tertekannya lobus temporalis otak
kea rah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus
(unkus dan sebagian dari girus hipokampus) mengalami herniasi dibawah
tepi tentorium. Keadaan ini menyebabkan timbulnya tanda-tanda
neurologik.
Tekanan herniasi unkus pada sirkulasi arteria ke formasio
retikularis medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran, ditempat
ini juga terdapat nuclei saraf cranial III (okulomotorius). Tekanan pada
saraf ini menyebabkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata. Tekanan
pada jaras kortikospinalis ascendens pada area ini menyebabkan
kelemahan respon motorik kontralateral (yaitu, berlawanan dengan tempat
hematoma, reflex hiperaktif dan tanda babinski positif. Dengan
meluasnya, seluruh isi otak akan terdorong kearah yang berlawanan
sehingga terjadi peningkatan ICP, termasuk kekakuan deserebrasi dan
gangguan tanda vital dan fungsi pernapasan.
Diagnosis perdarah epidural ditegakkan dengan gejala dan tanda
klinis, serta arteriogram karotis, echoensefalogram, serta CT-scan.
Pengobatan dengan evakuasi bedah hematoma dan mengatasi perdarahan
arteria meningea media yang terkoyak. Intervensi bedah harus dilakukan
dini sebelum penekanan pada jaringan otak menimbulkan kerusakan otak.
2. Perdarahan subdural
Hematoma subdural berasal dari vena yang terjadi akibat rupturnya
vena dalam ruangan subdural. Hematoma subdural dibedakan menjadi 3
berdasarkan gejala dan pronosisnya:
a. Hematoma subdural akut
Hematoma subdural akut menimbulkan gejala neurologic yang
penting dan serius dalam 24 sampai 48 jam setelah cedera. Hematoma
subdural akut terjadi pada pasien yang konsumi obat antikoagulan
secara terus menerusyang tampaknya mengalami trauma kepala minor.
Cedera ini biasanya terjadi pada pasien dengan kecelakaan bermotor.
Defisit neurologik progresif disebabkan oleh tekanan pada jaringan
otak dan herniasi batang otak kedalam foramen magnum, yang
menimbulkan tekanan pada batang otak.hal ini dapat menyebabkan
henti napas, hilang control denyut nadi, dan tekanan darah. Diagnosis
ditegakkan dengan arteriogram karotis dan echoensefalogram dan CT-
Scan perlu diperhatikan keadaan neurologic yang memburuk.
Pengobatan terutama dengan pengangkatan hematoma, dekompresi
dengan mengangkat tempat-tempat pada tengkorak dan bagian-bagian
lobus frontalis atau lobus temporalis (bila perlu), serta melepaskan
kompresi dura. Bahkan diagnosis dan pembedahan dini sekalipun,
angka mortalitas berkisar 60% yang disebabkan karena trauma berat.
b. Hematoma subdural subakut
Hematoma subdural subakut menyebabkan defisit neurologik
bermakna dalam waktu 48 jam tetapi kurang dari 2 minggu setelah
cedera dan disebabkan karena perdarahan vena kedalam ruang
subdural. Riwayat klinis yang khas adanya ketidaksadaran dan setelah
beberapa waktu tertentu akan memburuk, tingkat kesadaran semakin
menurun sejalan dengan peningkatan ICP akibat timbunan hematoma,
pasien akan sulit berespon terhadap rangsang verbal dan nyeri.
Pengobatan subdural subakut adalah dengan mengangkat bekuan darah
dengan berbagai cara dan dilakukan eksplorasi bedah (bila
diindikasikan).
c. Hematoma subdural kronis
Trauma pertama merobek salah satu vena yang melewati ruang
subdural sehingga perdarahan lambat kedalam ruang subdural dalam 7
sampai 10 hari setelah perdarahn, darah dikelilingi oleh membrane
fibrosa. Terjadi kerusakan sel darah dalam hematoma sehingga
terbentuk perbedaan tekanan osmotik yang menyebabkan tertariknya
cairan kedalam hematoma sehingga ukuran hematoma semakin
membesar. Biasanya penderitanya mengalami tanda yang sangat khas
yang dimulai dari tingkat kesadaran apati, letargi, berkurangnya
perhatian, dan menurunnya kemampuan untuk menggunakan
kecakapan kognitif yang lebih tinggi. Hemianopsia, hemiparesis, dan
kelainan pupil ditemukan pada kurang dari 50% kasus. Bila terdapat
afasia pada umumnya tipe anomik.
Diagnosis paling baik ditegakkan dengan arteriografi dan CT-Scan.
Pengobatan yang baik untuk penderita dengan gangguan neurologic
yang progresif dengan pembedahan karena dapat menyebabkan
terjadinya herniasi unkus dan kematian.

3. Cedera otak akibat trauma ringan (konkusio)


Cedera yang terjadi pada saat bermain maupun pada saat
berolahraga, gejala dan tanda bervariasi sesuai tingkat keparahan cedera,
tidak terdapat gejala neurologis yang khas, sebagian pasien sembuh tanpa
gejala, tetapi beberapa pasien dapat mengalami sindrom pascakonkusioI .
disfungsi kognitif, pusing menetap, sakit kepala, gangguan tidur, gangguan
bicara, dan masalah tingkah laku merupakan ciri khas dari sindrom ini,
dapat menetap selama beberapa hari, minggu, atau lebih lama setelah
konkusio.
(Sylvia A.price &Loraine m.wilson. patofisiologi konsep klinis
proses2 penyakit vol.2 edisi 6,EGC2005.)