Anda di halaman 1dari 11

AL-ISLAM

KEMUHAMADIYAHAN

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN


ISLAM YANG BERWATAK
TAJDID DAN TAJRID

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 7
1. ABD RAHMAN
2. ARI FATRIA DARMA
3. ARSUWENDY RAMADHAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN


MUHAMMADIYAH PONTIANAK
TAHUN AJARAN 2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberi
kemudahan bagi kami sebagai penyusun untuk dapat menyelesaikan tugas ini tepat
pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas dari mata kuliah Sistem Sensori
Pencernaan, yang mana dengan tugas ini kami sebagai mahasiswa dapat mengetahui
lebih jauh dari materi yang diberikan dosen pembimbing.
Makalah yang berjudul tentang “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam yang
Berwatak Tajdid dan Tajrid”. Mengenai penjelasan lebih lanjut kami
memaparkannya dalam bagian tinjauan teori makalah ini. Dengan harapan makalah
ini dapat bermanfaat, maka kami sebagai penulis menggucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam penyelesaian makalah ini. Saran dan kritik yang membangun
dengan terbuka kami terima kasih untuk meningkatkan kualitas makalah ini.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari tajrid dan tajdid ?
2. Bagaimana model tajrid dan tajdid ?
3. Bagaimana model gerakan keagamaan muhammadiyah ?
4. Apa itu gerakan tajdid 100 tahun muhammadiyah ?

1.3. Tujuan
1. Kita dapat mengetahui dan memahami tentang tajrid dan tajdid.
2. Kita dapat mengetahui apa itu model tajrid dan tajdid.
3. Mampu menjelaskan dan memahaminya model gerakan keagamaan di
muhammadiyah.
BAB II

2.1.Pengertian Tajdid dan Tajrid


Tajdid
Istilah tajdid berasal dari bahasa Arab yaitu jaddada, yang berarti
memperbaharui atau menjadikan baru. Kata ini pula bentukan dari kata jadda, yajiddu,
jiddan/jiddatan, artinya sesuatu yang ternama, yang besar, nasib baik dan baru. Bisa
juga berarti membangkitkan, menjadikan, (muda, tangkas, kuat). Dapat pula berarti
memperbaharui, memperpanjang izin, dispensasi, kontrak. Dalam kamus Bahasa
Indonesia tajdid berarti pembaruan, modernisasi atau restorasi. Orang yang
melakukan pembaruan disebut mujaddid.
Prof.dr. Quraisy Shihab, mengartikan tajdid sebagai pencerahan dan
pembaruan. Tajdid dalam makna pencerahan mencakup penjelasan ulang dalam
bentuk kemasan yang lebih baik dan sesuai menyangkut ajaran-ajaran agama yang
pernah diungkap oleh para pendahulu. Adapun tajdid dalam arti pembaruan adalah
mempersembahkan sesuatu yang benar-benar baru yang belum pernah diungkap oleh
siapapun sebelumnya. Sedangkan istilah modernis (Inggris) atau modernisasi
(Indonesia) atau pembaruan, dalam Islam, diartikan sebagai upaya yang sungguh-
sungguh untuk melakukan re-interpretasi terhadap pemahaman, pemikiran dan
pendapat tentang masalah ke-Islaman yang dilakukan oleh pemikiran terdahulu untuk
disesuaikan dengan perkembangan zaman. Yang diperbaharui adalah hasil pemikiran
atau pendapat, dan bukan memperbarui atau mengubah apa yang terdapat dalam al-
Qur”an maupun al-Hadis. Dengan kata lain, yang diubah atau diperbarui adalah hasil
pemahaman terhadap al-Qur’an dan al-Hadis tersebut.
Lain halnya Nurcholis Madjid, mengatakan bahwa pengertian yang mudah
tentang modernisasi ialah pengertian yang identik, atau hampir identik dengan
pengertian rasionalisasi, yang berarti proses perombakan pola berfikir dan tata kerja
lama yang tidak rasional, dan menggantinya dengan pola berfikir dan tata kerja baru
yang akliah. Yang diperbaharui adalah hasil pemikiran atau pendapat, dan bukan
memperbarui atau mengubah apa yang terdapat dalam al-Qur”an maupun al-Hadis.
Dengan kata lain, yang diubah atau diperbarui adalah hasil pemahaman terhadap al-
Qur’an dan al-Hadis tersebut.

Tajrid
Istilah tajrid berasal dari bahasa Arab berarti pengosongan, pengungsian,
pengupasan, Pelepasan atau pengambil alihan (Atabik Ali, 1999:410). Sedangkan
tajrid dalam bahasa Indonesia berarti pemurnian. Istilah ini, tidak se populer ketika
menyebut istilah tajdid, sekalipun yang dimaksudkan adalah memurnikan hal-hal
yang bersifat husus. Dalam ibadah kita tajrid, hanya ikut Nabi saw. dan tidak ada
pembaruan. Sedang dalam muamalah kita tajdid, yakni melakukan modernisasi dan
pembaruan.

2.2 Model-model Tajrid dan Tajdid Muhammadiyah

1. Model-model Tajrid Muhammadiyah

Dalam bidang kepercayaan dan ibadah, muatannya menjadi khurafat dan bid’ah.
Khurafat adalah kepercayaan tanpa pedoman yang sah dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Hanya
ikut-ikutan orang tua atau nenek moyang. Sedangkan bid’ah biasanya muncul karena ingin
memperbanyak ritual tetapi pengetahuan Islamnya kurang luas, sehingga yang dilakukan
adalah bukan dari ajaran Islam. Misalnya selamatan dengan kenduri dan tahlil dengan
menggunakan lafal Islam.

Masyarakat Jawa pada umumnya menggunakan upacara selamatan, dalam berbagai


peristiwa, seperti kelahiran, khitan, perkawinan, kematian, pindah rumah, panen, ganti nama,
dan sejenisnya. Namun, diantara macam-macam selamatan yang paling menonjol adalah
selamatan kematian yaitu terdiri dari tiga hari, empat puluh hari, seratus hari, dan kahul.
Selamatan ini selalu diringi dengan membaca tahlil sebagai cara mengirim do’a kepada si
mayit.

Bentuk khurafat lain yang biasa dilakukan orang Jawa adalah penghormatan kuburan
orang-orang suci, sambil meminta do’a restu, jimat, benda-benda pusaka dianggap
mempunyai kekuatan ghaib yang mampu melindungi..

2. Model-model tajdid dalam Muhammadiyah

Pertama; kongkrit dan produktif, yaitu melalui amal usaha yang didirikan, hasilnya
kongkrit dapat dirasakan dan dimanfaatkan oleh umat Islam, bangsa Indonesia dan umat
manusia di seluruh dunia. Suburnya amal saleh di lingkungan aktivis Muhammadiyah
ditujukan kepada komunitas Muhammadiyah, bangsa dan kepada seluruh umat manusia di
dunia dalam rangka rahmatan lil alamin.

Kedua; tajdid Muhammadiyah bersifat terbuka. Maksud dari keterbukaan tersebut,


Muhammadiyah mampu mengantisipasi perubahan dan kemajuan di sekitar kita. Dari sekian
amal usahanya, rumah sakitnya misalnya, dapat dimasuki dan dimanfaatkan oleh siapapun.
Sekolah sampai kampusnya boleh dimasuki dan dimanfaatkan oleh siapa saja. Kalau
Muhammadiyah mendirikan lembaga ekonomi dan usaha atau jasa, maka yang menjadi
nasabah, partner dan komsumennya pun bisa siapa saja yang membutuhkan.

Ketiga; tajdid Muhammadiyah sangat fungsional dan selaras dengan cita-cita


Muhammadiyah untuk menjadikan Islam itu, sebagai agama yang berkemajuan, juga Islam
yang berkebajikan yang senantiasa hadir sebagai pemecah masalah-masalah (problem solv),
temasuk masalah kesehatan,pendidikan, dan masalah sosial ekonomi.

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, maka muhammadiyah berhadapan dengan


tantangan cultural. Suatu hal tak perlu ditanyakan lagi , bahwa tantangan itu berasal dari
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang pesat yang banyak membawa
perubahan, boleh dikata dalam semua lapangan kehidupan.
2.3. Model Gerakan Keagamaan Muhammadiyah

Muhammadiyah dikenal sebagai Gerakan Dakah Islam, Amar Ma’ruf Nahi Munkar
(memerintahkan kebajikan/kebaikan dan mencegah kemungkaran atau apa saja yang
diingkari dan ditolak oleh islam). Penegasan seperti ini jelas menggambarkan komitmen
Muhammadiyah terhadap Surat Al-Imran ayat 104, suatu ayat yang menjadi factor utama
yang melatar belakangi berdirinya perjuangan Muhammadiyah. Berdasarkan ayat tersebut
Muhammadiyah meletakkan khittah atau strategi dasar perjuanganny yaitu Dakwah
(menyeru, mengajak) Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar dengan masyarakat sebagai
medan/kancah perjuangannya.

Muhammadiyah berkiprah ditengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan


membangun berbagai amal usaha yang benar-benar dapat menyentuh hajat orang banyak
semacam berbagai ragam lembaga pendidikan dari sejak Taman Kanak-kanak, hingga
Perguruan Tinggi, membangun sekian banyak Rumah Sakit, Panti Asuhan, dsb. Seluruh amal
usaha diadakan dengan niat dan tujuan yang tunggal, yaitu dijadikan sarana dan wahana
dakwah islam sebagaimana yang diajrkan oleh Al-Quran dan As-sunnah Shahihah.

Tujuan dakwah Islamiyah secara proporsional meliputi tiga sasaran yaitu:

1. Agar supaya umat manusia menyembah kepada Allah, tidak mempersyarikatkan-Nya


dengan sesuatu, dan tidak menyembah Tuhan selain Allah semata-mata.
2. Agar supaya umat manusia bersedia menerima islam sebagai agamanya, memurnikan
keyakinan, hanya mengakui Allah sebagai Tuhannya, membersihkan jiwanya dari
penyakit nifaq dan selalu menjaga amal perbuatannya agar tidak bertentangan dengan
ajaran agama yang diianutnya.
3. Dakwah islamiyah ditujukan untuk mengubah sistem pemerintahan ke dalam
pemerintahan islam.

Dalam matan kepribadian Muhammadiyah dinyatakan bahwa “maksud” Gerakan Dakwah


Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang ditujukan kepada dua bidang yaitu Perseorangan dan
masyarakat.

1. Perseorangan yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu :


a) Orang yang sudah islam (Umua Ija;bah)
b) Orang yang belum islam (Umat Dakwah)
2. Masyarakat

Pada kategori ini sifat dakwah yang digerakkan muhammadiyah berbeda-beda


disesuaikan dengan karakter, situasi dan kondisi masing-masing.

a) Sifat Dakwah kepada orang yang sudah Islam (Umat Ijabah)

Sifat dakwah yang ditujukan kepada orang yang sudah islam bukan lagi
bersifat ajakan untuk menerima islam sebagai keyakinan, akan tetapi bersifat Tajdid
dalam arti pemurnian. Artinya bahwa tajdid yang dikenakan pada golongan ini adalah
bersifat menata kembali amal keagamaan mereka sedemikian bersih dan murninya.
Sebagaiman yang diajarkan oleh Allah dan Rsul-rasul-Nya. Tajdid terhadap amal
keberagamaan umat Ijamah meiputi beberapa bidang, yaitu :
1. Akidah

Akidah yaitu ajaran yang berhubungan dengan kepercayaan keyakinan hidup. Pada
bidang ini tekanan Tajdid yang perlu mendapat perhatian cukup serius adalah dalam bidang
ajaran tauhid, seperti 3 bentuk penyakit yang ditegaskan dalam Matan yaitu Syirik, Bid’ah,
Khurafat. Contohnya adalah : memakai kalung/benang penangkal bala (syirik), masih
mempercayai faham animisme dan dinamisme (khurafat).

2. Akhlaq

Tajdid dalam bidang Akhlaq adalah berupa mendidikkan dan mendayakan sikap
hidup yang mulia dan terpuji dan bersamaan dengan hal tersebut menuntunkan untuk
melepaskan diri dari sikap dan kebiasaan hidup yang tercela dan menjijikan. Dalam matan
keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah dinyatakan bahwa Muhammadiyah bekerja
untuk tegaknya nilai-nilai akhlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Quran
dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia.

3. Ibadah

Tajdid dalam bidang ibadah terhadap orang yang sudah islam adalah menuntunkan
ibadah sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah saw tanpa tambahan/perubahan dari
manusia (bid’ah) serta menghilangkan kebiasaan berniat Taqliq/membeo.

4. Muamalat Duniawiyat

Tajdid dalam bidang Muamalat Duniawiyat ini adalah dalam bentuk membimbingkan,
menuntunkan kepada mereka agar dalam berkiprah ditengah-tengah masyarakat dengan
berbagai kegiatannya mereka selalu berpedoman kepada qaidah-qaidah yang telah digariskan
oleh ajaran agama.

b) Sifat dakwah kepada orang yang belum islam

Dakwah islam kepada orang yang belum islam adalah merupakan ajakan,
seruan dan panggilan yang bersifat menggembirakan, menyenangkan atau tabsyir.
Adapun tujuan utamanya adalahagar mereka bisa mengerti, memahami ajaran Islam,
dan kemudian mau menerima Islam sebagai agamanya, dilakukan dengan
menunjukkan Mahasinul-Islam (keindahan islam) dengan keterangan-keterangan dan
tingkah laku (contoh teladan) serta tanpa paksaan. Dakwah terhadap orang yang
belum islam hendaknya lebih dikedepankan Islam dari sisi yang menggembirakan,
yang ringan-ringan, yang dapat menimbulkan kesan bahwa sesungguhnya beragama
islam itu ternyata mudah dan menggembirakan, bukan menambah beban dan tidak
akan menimbulkan kesusahan dan kesulitan.

Ketika Muhammadiyah berdiri tahun l912, seluruh dunia Muslim masih


berada di bawah penjajahan. Belum banyak yang merdeka secara politis dari
cengkeraman imperalisme dan kolonialisme Barat. Di tengah-tengah kesulitan seperti
itu Muhammadiyah berdiri dengan membawa optimisme baru. Kata-kata atau slogan
“Islam yang berkemajoean” amat didengung-dengungkan saat itu. Mungkin belum
disebut Islam “modern” atau ”reformis” seperti yang dinisbahkan dan disematkan
orang dan para pengamat pada paroh kedua abad ke-20. Namun dalam perjalanan
waktu selanjutnya, identitas gerakan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari arti
penting dari Dakwah dan Tajdid. Kata kunci Dakwah terkait dengan mengemban dan
mengamalkan Risalah Islam, mengajak ke kebaikan (al-Khair) dan melaksanakan
amar ma’ruf dan nahi mungkar. Sedangkan sistem tata kelolanya, usaha dakwah
dalam artian luas tersebut memerlukan Tajdid, baik yang bersifat pemurnian maupun
pembaharuan (Haidar Nashir, 2006: 54).

2.4. Gerakan Tajdid 100 Tahun Muhammadiyah

Sebagai produk pemikiran dan gerakan Islam Muhammadiyah itu, maka muncullah
apa yang disebut Himpunan Putusan Tarjih (HPT), Putusan Muktamar Muhammadiyah,
Pembaharuan Strategi Da'wah Muhammadiyah, Pembaharuan Diklitbang manajemen
Muhammadiyah, dan pemantapan keyakinan warga Muhammadiyah.

Pemikiran-pemikiran yang menjadi alat pendewasaan Muhammadiyah dalam segala


bentuk usahanya diwujudkan dalam penerapan amal usaha, program dan kegiatan yang
meliputi :

1. Menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman,


meningkatkan pengamalan, serta menyebarluaskan ajaran Islam dalam berbagai aspek
kehidupan.

2. Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran Islam dalam berbagai aspek


kehidupan untuk mendapatkan kemurnian dan kebenarannya.

3. Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infak, wakaf, shadaqah, hibah, dan
amal shalih lainnya.

4. Meningkatkan harkat, martabat, dan kualitas sumberdaya manusia agar


berkemampuan tinggi serta berakhlaq mulia.

5. Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan, mengembangkan


ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta meningkatkan penelitian.

6. Memajukan perekonomian dan kewirausahaan ke arah perbaikan hidup yang


berkualitas

7. Meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

8. Memelihara, mengembangkan, dan mendayagunakan sumberdaya alam dan


lingkungan untuk kesejahteraan.

9. Mengembangkan komunikasi, ukhuwah, dan kerjasama dalam berbagai bidang dan


kalangan masyarakat dalam dan luar negeri.

10. Memelihara keutuhan bangsa serta berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara

11. Membina dan meningkatkan kualitas serta kuantitas anggota sebagai pelaku
gerakan.
12. Mengembangkan sarana, prasarana, dan sumber dana untuk mensukseskan
gerakan.

13. Mengupayakan penegakan hukum, keadilan, dan kebenaran serta meningkatkan


pembelaan terhadap masyarakat.

14. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan Muhammadiyah

Sehingga secara garis besar, perwujudan pemikiran-pemikiran tersebut dapat


dikelompokkan menjadi beberapa amal usaha, antara lain yaitu : da'wah amar ma'ruf nahi
munkar, amal usaha bidang pendidikan, amal usaha bidang sosial, amal usaha bidang
kesehatan, dan lain-lain.

Dalam da'wahnya, Muhammadiyah selalu menekankan amar ma'ruf nahi munkar


(menyeru kepada perbuatan yang benar lagi baik dan mencegah segala bentuk kemungkaran)
di lingkungan masyarakat, beraqidah dan mengajak kepada aqidah Islam, dan bersumber
pada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Untuk menyamakan gerak langkah dalam
da'wah, para da'i Muhammadiyah berpedoman pada putusan tarjih sebagai hasil proses
analisis dalam menetapkan hukum dengan menetapkan dalil yang lebih kuat (rajih), lebih
tepat analogi dan lebih kuat mashlahatnya. Putusan tarjih itu dihasilkan oleh Majelis Tarjih
yaitu lembaga ijtihad jama‘i (organisatoris) di lingkungan Muhammadiyah yang anggotanya
terdiri dari orang-orang yang memiliki kompetensi ushuliyyah dan ilmiah dalam bidangnya
masing-masing.

4. Beberapa Hasil Yang Dicapai Muhammadiyah di Bidang Pendidikan, Kesehatan


dan Soaial

Gerak langkah organisasi Muhammadiyah dalam amal usahanya telah banyak


dirasakan oleh berbagai kalangan. Hal ini diakui, terutama oleh pemerintah, sangat membantu
pemberdayaan dan kondisi masyarakat luas saat ini. Dalam bidang pendidikan misalnya,
hingga tahun 2000 ormas Islam Muhammadiyah telah memiliki 3.979 taman kanak-kanak, 33
taman pendidikan Alquran, 6 sekolah luar biasa, 940 sekolah dasar, 1.332 madrasah
diniyah/ibtidaiyah, 2.143 sekolah lanjutan tingkat pertama (SMP dan MTs), 979 sekolah
lanjutan tingkat atas (SMA, MA, SMK), 101 sekolah kejuruan, 13 mualimin/mualimat, 3
sekolah menengah farmasi, serta 64 pondok pesantren. Dalam bidang pendidikan tinggi,
hingga tahun ini Muhammadiyah memiliki 36 universitas, 72 sekolah tinggi, 54 akademi, dan
4 politeknik (Data Cahgemawang, 2009). Nama-nama seperti Bustanul Athfal/TK
Muhammadiyah, SD Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah, SMK
Muhammadiyah, dan Universitas Muhammadiyah bermunculan di berbagai daerah.

Dalam amal usaha bidang kesehatan, Muhammadiyah telah dan terus


mengembangkan layanan kesehatan masyarakat, sebagai bentuk kepedulian. Balai-balai
pengobatan seperti rumah sakit PKU (Pembina Kesejahteraan Umat) Muhammadiyah, yang
pada masa berdirinya Muhammadiyah bernama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemat), kini
mulai meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya. Berdasarkan buku Profil dan Direktori
Amal Usaha Muhammadiyah & ‘Aisyiyah Bidang Kesehatan pada tahun 1997, sebagai
berikut:
1. Rumah sakit berjumlah 34

2. Rumah bersalin berjumllah 85

3. Balai Kesehatan Ibu dan Anak berjumlah 50

4. Balai Kesehatan Masyarakat berjumlah 11

5. Balai Pengobatan berjumlah 84

6. Apotek dan KB berjumlah 4

7. Institusi Pendidikan berjumlah 54

Pada tahun 2009 diperkiran jumlah fisik balai pengobatan Muhammaiyah lebih
banyak lagi seiring dengan makin berkembangnya usaha-usaha yang diselenggarakan oleh
persyarikatan Muhammadiyah.

Adapun Muhammadiyah sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial, telah


mendirikan lembaga amal usaha sosial dalam bentuk panti sosial Muhammadiyah, sebagai
wujud kepedulian persyarikatan Muhammadiyah dalam menghadapi permasalahan
kemiskinan, pembodohan dan meningkatnya jumlah anak yatim piatu dan anak terlantar.
Dalam hal ini Muhammdiyah terinspirasi dan berpijak pada QS Al-Ma'un. Panti sosial
Muhammadiyah sebagai lembaga pelayanan di masyarakat, memiliki perangkat dan sistem
serta mekanisme pelayanan yang diharapkan akan lebih menjamin efektifitas pelayanan.

Selanjutnya dalam bidang kesejahteraan sosial ini, hingga tahun 2000


Muhammadiyah telah memiliki 228 panti asuhan yatim, 18 panti jompo, 22 balai kesehatan
sosial, 161 santunan keluarga, 5 panti wreda/manula, 13 santunan wreda/manula, 1 panti
cacat netra, 38 santunan kematian, serta 15 BPKM (Balai Pendidikan Dan Keterampilan
Muhammadiyah).

Forum Panti Sosial Muhammadiyah-Aisyiyah (Forpama) yang dibentuk untuk


Periode 2007 s.d 2010, sejak diberikan tanggungjawab, terus melakukan berbagai macam
terobosan dan langkah-langkah strategis untuk menjadikan panti sosial Muhammadiyah-
Aisyiyah sebagai lembaga profesionalisme, prima dalam kualitas pelayanan dan memiliki
keteguhan komitmen dalam pembinaan anak-anak asuh panti sosial Muhammadiyah-
Aisyiyah yang berjumlah lebih dari 22.000 anak se-Indonesia dari 351 kelembagaan Panti
Sosial Muhammadiyah-Aisyiyah (Direktori Forpama, 2008). Dengan demikian anak asuh
Panti Sosial Muhammadiyah-‘Aisyiyah menjadi labor kader utama guna membangun sumber
daya insani yang berkualitas di Persyarikatan Muhammadiyah. Demikian pula hasil-hasil
amal usaha yang lain yang telah dicapai oleh persyarikatan Muhammadiyah, seperti bidang
tarjih, ekonomi, dll.

BAB III
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Tajdid mengandung pengertian purifikasi dan reformasi yaitu pembaruan dalam
pemahaman dan pengalaman ajaran islam kea rah keaslian dan kemurniaanya sesuai dengan
al-Qur’an dan as-sunnah. Kedua, mengandung pengertian modernisasi atau dinamisasi
(pengembangan) dalam pemahaman dan pengalaman ajaran islam sejalan dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembaruan masyarakat.

Tajrid adalah menelusuri suatu hadist kesumber asalnya yaitu kitab-kitab jami, sunan,
dan musnad kemudian jika diperlukan menyebutkan kualitas hadist tersebut apakah sohih,
hasan, atau doif. Dalam melaksanakan tajrid ada lima cara yang dapat dijadikan pedoman
yaitu:

1. Tajrid menurut lafaz pertama manan hadist.


2. Tajrid menurut lafaz-lafaz yang terdapat dalam matan.
3. Tajrid menurut rawi pertama.
4. Tajrid menurut tema hadist.
5. Tajrid menurut status hadist.

Warga Muhammadiyah memerlukan pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai


isi dan metodologi tentang apa, kenapa, dan bagaimana caranya harus kembali kepada Al-
Qur’an dan As-sunnah (yang muqbullah). Jika muhammadiyah telah meneguhkan dirinya
sebagai Gerakan Islam, maka Islam yang seperti apa yang diyakini, dipahami, dan diamalkan
oleh Muhammadiyah. Pokok-pokok pikiran tentang islam sebagaimana terkandung dalam al-
Masail al-Khamsah, matan keyakinan, dan cita-cita hidup muhammadiyah, pedoman hidup
islami warga muhammadiyah dan sebagainya merupakan materi awal dan pokok untuk
kepentingan perumusan dan penyusunan risalah islam tersebut.