Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

“PENGUKURAN DASAR PADA BENDA PADAT”

Disusun oleh:
 Mesa Fahjrul. I (0651-12-435)
 Nurul Hanifah (0651-12-434)
 Shara Deianira (0651-12-449)

Tanggal Praktikum:
29 Oktober 2012
Asisten Dosen:
1. Dra. Trirakhma S, Msi
2. Rissa Ratimanjari S.Si
3. Noorlela
Rekan Kerja:
Gilang Putra Ditama
Luthfi
Salzir Isa Al-habsyi

LABORATORIUM FISIKA
PROGRAM STUDI ILMU KOMPUTER
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam fisika, pengukuran merupakan salah satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Aktivitas
mengukur menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam mempelajari
berbagai fenomena yang sedang dipelajari. Mengapa demikian?

Sebelumnya ada baiknya jika kita mengingat definisi pengukuran atau mengukur itu sendiri.
Mengukur adalah membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang telah disepakati.
Misalnya untuk mengukur panjang suatu kabel maka kita bisa menggunakan meteran. Dalam hal
ini besaran yang dibandingkan adalah panjang dari kabel tersebut. Sedangkan besaran
pembandingnya adalah meteran. Meteran merupakan alat ukur besaran panjang yang satuannya
telah disepakati. Dengan demikian jika nilai hasil perbandingan kedua besaran tersebut
menunjukkan bahwa panjang kabel itu ternyata 1,5 kali lebih panjang dari ukuran satu meteran
dapat dikatakan bahwa panjang kabel yang terukur adalah 1,5 meter.

Mengukur itu sangat penting untuk dilakukan. Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha untuk
mendefinisikan karakteristik suatu permasalahan secara kuantitatif. Dan jika dikaitkan dengan
proses penelitian atau sekedar pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan untuk
mencari data-data yang mendukungnya.

Dengan pengukuran ini kemudian akan diperoleh data-data numerik yang menunjukkan pola-
pola tertentu sebagai bentuk karakteristik dari fenomena atau permasalahan tersebut. Dengan
demikian, maka dapat dihasilkan suatu kesimpulan yang bersifat kualitatif berdasarkan pola-pola
yang dihasilkan oleh data-data kuantitatif tersebut.

Dengan salah satu argumentasi di atas, sudah dapat kita ketahui betapa penting dan
dibutuhkannya aktivitas pengukuran dalam fisika. Maka tidak ada alasan bagi para fisikawan
bahkan mahasiswa untuk mengabaikannya dalam setiap riset-riset mereka.

1.1 TUJUAN PERCOBAAN

Dengan dilakukannya percobaan pada praktikum ini diharapkan bahwa mahasiswa dapat dengan
mudah mempergunakan beberapa alat ukur. Dengan tidak hanya mengetahui namanya saja
namun juga mempergunakan dan merepresentasikan data-data yang terukur dalam sebuah format
laporan yang sesuai.

Sebagai ssatu hasil keluaran yang dapat dipresentasikan dengan baik merupakan tujuan
berikutnya dimana mahasiswa dapat menentukan volume dan massa jenis beberapa zat padat.
Hingga akhirnya presentasi format percobaan dapat diperbandingkan dengan teori-teori yang
terkait dengan percobaan apakah percobaan yang dilakukan dapat dipastikan sesuai atau bahkan
jauh melenceng dari teori yang ada.
1.2 DASAR TEORI

Besaran dan Satuan


Besaran dalam fisika diartikan sebagai sesuatu yang dapat diukur, serta memiliki nilai besaran
(besar) dan satuan. Sedangkan satuan adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai pembanding
dalam pengukuran. Satuan Internasional (SI) merupakan satuan hasil konferensi para ilmuwan di
Paris, yang membahas tentang berat dan ukuran. Berdasarkan satuannya besaran dibedakan
menjadi dua, yaitu besaran pokok dan besaran turunan.

1. Besaran Pokok
Besaran pokok adalah besaran yang digunakan sebagai dasar untuk menetapkan besaran yang
lain. Satuan besaran pokok disebut satuan pokok dan telah ditetapkan terlebih dahulu
berdasarkan kesepakatan para ilmuwan. Besaran pokok bersifat bebas, artinya tidak bergantung
pada besaran pokok yang lain.

Dimensi suatu besaran adalah cara besaran tersebut tersusun atas besaran-besaran pokoknya.
Pada sistem Satuan Internasional (SI), ada tujuh besaran pokok yang berdimensi, sedangkan dua
besaran pokok tambahan tidak berdimensi. Cara penulisan dimensi dari suatu besaran dinyatakan
dengan lambang huruf tertentu dan diberi tanda kurung persegi.

Berdasarkan table bahwa dapat diketahui dimensi tertentu dari suatu benda, misalkan untuk
mengetahui Volume zat padat jika bentuknya beraturan, maka akan memiliki panjang, lebar,
tinggi, diameter dan sebagainya.

PENGUKURAN CARA STATIS

Untuk mengukur volume zat padat yang teratur bentuknya (kontinu) dapat pula dilakukan secara
tidak langsung dengan mengukur perubah (variabel) yang membangunnya.

Volume balok dapat juga dilakukan dengan cara mengukur panjang lebar dan tinggi dari balok
itu sehingga :
Vbalok = p x l x t
Dengan;
p = panjang balok
l = lebar balok
t = tinggi balok

Sedangkan volume silinder pejal dapat juga dilakukan dengan mengukur diameter dan panjang
silinder itu sehingga:

Vsilinder = ¼ π d2 .p

Dengan;
d = diameter silinder
p = panjang silinder

Dalam menentukan massa jenis suatu benda pada percobaan ini, akan menerapkan Hukum
Archimmides :
setiap benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida, akan mendapat gaya ke
atas sebesar beratfluida yang dipindahkan oleh benda itu.
Melalui pemahaman ini kita akan membandingkan harga massa jenis yang dihitung secara
konfensional (hitung massa dan volume) dan dengan menerapkan hukum Archimides.

PENGUKURAN CARA DINAMIS

Untuk mengukur benda dengan cara dinamis, maka benda harus dicari dahulu masa di udara dan
masa di air dengan menggunakan neraca teknis.

Massa jenis (rapat massa) suatu zat adalah massa tiap satuan volume atau dapat dirumuskan:

V = Mu – Ma
Dengan ;
Mu = Massa udara
Ma = Massa air

𝐌𝐮
ρ = 𝐌𝐮 – 𝐌𝐚

Dengan ;
ρ = massa jenis (g/cm3)
M = massa zat (g)
V = volume zat (cm3)

Jika massa dan volume dapat diketahui dengan cara menimbang zat itu dengan timbangan atau
neraca teknis sehingga besaran massa dapat diukur langsung dengan alat ukurnya. Untuk
mengukur langsung volume zat padat dapat dilakukan dengan memasukkan zat padat itu ke
dalam gelas ukur yang berisi zat cair. Apabila zat itu tenggelam seluruhnya maka perubahan
penunjukan volume itu dari zat padat tersebut.

Tetapi untuk mengukur volume zat padat besarannya tidak selalu dapat diukur langsung seperti
itu karena terdapat zat padat yang massa jenisnya lebih kecil dari zat cair sehingga kalau zat
padat tersebut dimasukkan ke dalam zat cair akan mengapung atau melayang ( tidak tenggelam
seluruhnya).
BAB II

ALAT DAN BAHAN

Sejak jaman dahulu orang telah melakukan pengukuran, seperti mengukur luas tanah, mengukur
massa badannya, dan mengukur selang waktu antara matahari terbit sampai tenggelam.
Mengukur merupakan yaitu proses membandingkan suatu besaran yang diukur dengan besaran
tertentu yang telah diketahui atau ditetapkan sebagai acuan. Pada pengukuran yang berbeda kita
mungkin membutuhkan alat/instrumen yang berbeda pula.

Misalnya, saat mengukur panjang jalan Anda menggunakan meteran, tetapi saat menimbang
berat badan Anda menggunakan neraca. Berikut akan Anda pelajari instrumen pengukur
panjang, massa, dan waktu.

Alat Pengukuran yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah

a. Jangka Sorong
Jangka sorong terdiri atas dua bagian, yaitu rahang tetap dan rahang geser. Skala panjang yang
terdapat pada rahang tetap merupakan skala utama, sedangkan skala pendek yang terdapat pada
rahang geser merupakan skala nonius atau vernier. Nama vernier diambilkan dari nama penemu
jangka sorong, yaitu Pierre Vernier, seorang ahli teknik berkebangsaan Prancis.
Skala utama pada jangka sorong memiliki skala dalam cm dan mm. Sedangkan skala nonius
pada jangka sorong memiliki panjang 9 mm dan di bagi dalam 10 skala, sehingga beda satu
skala nonius dengan satu skala pada skala utama adalah 0,1 mm atau 0,01 cm.

Jadi, skala terkecil pada jangka sorong adalah 0,1 mm atau 0,01 cm. Jangka sorong tepat
digunakan untuk mengukur diameter luar, diameter dalam, kedalaman tabung, dan panjang
benda sampai nilai 10 cm.

b. Mikrometer Sekrup
Mikrometer sekrup sering digunakan untuk mengukur tebal bendabenda tipis dan mengukur
diameter benda-benda bulat yang kecil seperti tebal kertas dan diameter kawat. Mikrometer
sekrup terdiri atas dua bagian, yaitu poros tetap dan poros ulir. Skala panjang yang terdapat pada
poros tetap merupakan skala utama, sedangkan skala panjang yang terdapat pada poros ulir
merupakan skala nonius.

Skala utama mikrometer sekrup mempunyai skala dalam mm, sedangkan skala noniusnya
terbagi dalam 50 bagian. Satu bagian pada skala nonius mempunyai nilai 1/50 × 0,5 mm atau
0,01 mm.
Jadi, mikrometer sekrup mempunyai tingkat ketelitian paling tinggi dari kedua alat yang telah
disebutkan sebelumnya, yaitu 0,01 mm.

c. Neraca Teknis
Massa benda menyatakan banyaknya zat yang terdapat dalam suatu benda. Massa tiap benda
selalu sama dimana pun benda tersebut berada. Satuan SI untuk massa adalah kilogram (kg).
Alat untuk mengukur massa disebut neraca. Ada beberapa jenis neraca, antara lain, neraca
ohauss, neraca lengan, neraca langkan, neraca pasar, neraca tekan, neraca badan, dan neraca
elektronik. Setiap neraca memiliki spesifikasi penggunaan yang berbeda-beda. Jenis neraca yang
umum ada adalah neraca tiga lengan dan empat lengan.

Pada neraca tiga lengan, lengan paling depan memuat angka satuan dan sepersepuluhan, lengan
tengah memuat angka puluhan, dan lengan paling belakang memuat angka ratusan.

Selain beberapa alat ukur diatas pada praktikum kali ini juga dipergunakan bejana gelas untuk
mengukur volume dengan teorema Archimedes, Thermometer untuk mengukur suhu ruangan
dan Barometer digunakan untuk mengetahuui tekanan dalam ruangan.

Dan benda yang diukur berupa satu buah balok tembaga, satu buah besi silinder dan sebuah
kunci.
BAB III

METODE PERCOBAAN

Percobaan I (Mencari Volume dan Massa Balok)

Kubus yang diukur adalah balok kuningan. Teknik yang digunakan adalah dengan mengukur
rusuk-rusuk kubus tersebut menggunakan jangka sorong dan milimeter sekrup. Masing-masing
pengukuran rusuk tiap kubus diulang 3 kali. Sedangkan untuk pengukuran massa, percobaan
yang dilakukan hanya 1 kali.

Percobaan II (Mencari Volume dan Massa Besi Silinder)

Silinder yang diukur adalah silinder besi. Teknik yang digunakan adalah dengan mengukur
tinggi menggunakan jangka sorong dan diameter menggunakan micrometer skrup. Masing-
masing pengukuran tinggi dan diameter dilakukan 3 kali. Sedangkan pengukuran massa,
dilakukan percobaan sebanyak satu kali saja.

Percobaan III (Mencari Volume dan Massa sebuah kunci)

Kunci yang digunakan adalah sebuah kunci pintu, dapat diprediksikan sebelumnya bahwa kunci
terbuat dari bahan campuran tembaga dan timah. Pengukuran volume dilakukan dengan
menggunakan bejana gelas dan cairan. Dan untuk mengetahui massa dilakukan dengan
menggunakan neraca.
BAB IV

HASIL PENGAMATAN

Berdasarkan pengamatan dan percobaan yang telah dilakukan pada hari Senin 29 Oktober 2012,
maka didapatkan dilaporkan hasilnya sebagai berikut :

Keadaan ruangan P (cm) Hg Temperature (0C) C (%)


Sebelum percobaan 75,55 260 74%
Sesudah percobaan 75,50 270 71%

 Statis

Table Pengamatan Balok Kuningan , m = 66,5 gram

No P(cm) L (cm) T (cm) V (cm3) 𝝆 (g/cm3)


1 4,1 1,91 0,972 7,60 8,75
2 4,1 1,91 0,973 7,61 8,73
3 4,1 1,92 0,971 7,64 8,70
𝑥 4,1 1,91 0,972 7,65 8,72
∆𝑥

Table Pengamatan Tabung Besi , m=62,1 gram

No D(cm) T (cm) V (cm3) 𝝆 (g/cm3)


1 1,581 4,2 8,24 7,53
2 1,580 4,2 8,23 7,54
3 1,581 4,2 8,24 7,53
𝑥 1,580 4,2 8,23 7,53
∆𝑥

 Dinamis

Table Pengamatan Kunci dan Tabung

No. Benda Mu (g) Ma (g) V (cm3) 𝝆 (g/cm3)


1. Kunci 11,900 10,100 1,8 6,61
2. Tabung 62,200 54,250 7,95 7,82
BAB V

PEMBAHASAN

Berdasarkan Percobaan pertama yang dilakukan pada balok kuningan didapatkan data ukuran
Panjang, lebar dan tinggi, serta massa benda.
Sehingga dapat diperhitungkan sebagai berikut :

Diketahui, Tabel Perhitungan dan massa benda = 66,5 gram

Volume = pxlxt Massa Jenis = massa / volume

Percobaan 1 = 4,1 x 1,91x 0,972 = 66,5 / 7,60


= 7,60 cm3 = 8,75 gr/cm3

Percobaan 2 = 4,1 x 1,91 x 0,973 = 66,5 / 7,61


= 7,61 cm3 = 8,73

Percobaan 3 = 4,1 x 1,91 x 0,972 = 66,5 / 7,64


= 7,64 cm3 = 8,70

Dari hasil perhitungan didapatkan rata-rata data sebesar 8,72 gr/cm3

Sehingga nilai ketelitian dapat diperhitungkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
x lit – x perc
ketelitian = 1 − │ │ x 100%
x lit
8,6−8,72
=1−│ │x 100 %
8,6
= 1 − 0,01 x 100 %
= 0,99 x 100 %
= 99 %
Percobaan dan perhitungan mendekati kepada data standar massa jenis kuningan yaitu sebesar
99%
Berdasarkan Percobaan kedua yang dilakukan pada besi silinder didapatkan data ukuran
Panjang, diameter, serta massa benda.

Sehingga dapat diperhitungkan sebagai berikut :

Diketahui, Tabel Perhitungan dan massa benda adalah 62,1 gram

Volume = ¼ π d2 .p Massa Jenis =


massa/volume
Percobaan 1 = ¼ x 3,14 x (1,581)2 x 4,2 = 62,1 / 8,24
= 8,24 cm3 = 7,53

Percobaan 2 = ¼ x 3,14 x (1,580)2 x 4,2 = 62,1 / 8,23


= 8,23 cm3 = 7,54

Percobaan 3 = ¼ x 3,14 x (1,581)2 x 4,2 = 62,1 / 8,24


= 8,24 cm3 = 7,53

Dari hasil perhitungan didapatkan rata-rata data sebesar 7,53 g/cm3

Sehingga nilai ketelitian dapat diperhitungkan dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
x lit – x perc
ketelitian = 1 − │ │ x 100%
x lit
7,8−7,53
=1−│ │x 100 %
7,8
= 1 − 0,03 x 100 %
= 0,97x 100 %
= 97 %

Percobaan dan perhitungan mendekati kepada data standar massa jenis besi yaitu sebesar 97%.
Berdasarkan Percobaan ketiga yang dilakukan pada benda kunci dan tabung didapatkan data
ukuran volume, massa udara dan massa air.

Sehingga dapat diperhitungkan sebagai berikut :

Vkunci = Mu – Ma
= 11,9 – 10,1
= 1,8 gram

Mu
𝜌kunci = Mu − Ma
11,9
= 11,9 – 10,1
11,9
=
1,8
= 6,61 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3

Vtabung = Mu – Ma
=62,2 –54,25
= 7,95 gram

Mu
𝜌tabung = Mu − Ma
62,2
= 62,2 –54,25
62,2
= 7,95
= 7,82 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3

Massa Jenis Kunci Tidak Sebanding dengan Massa Jenis benda seperti Besi Kuningan 8,6 dan
Besi 7.8
Hal ini disebabkan karena kunci terbuat dari bahan campuran.
BAB VI

KESIMPULAN

Mengukur itu sangat penting untuk dilakukan. Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha untuk
mendefinisikan karakteristik suatu permasalahan secara kuantitatif. Dan jika dikaitkan dengan
proses penelitian atau sekedar pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan untuk
mencari data-data yang mendukungnya.
Pengukuran harus dilakukan dengan kecermatan yang tinggi dan dilakukan dengan alat yang
sesuai agar hasil pengukuran meminimalisirkan kesalahan.
Hasil Pengukuran harus dituangkan dalam bentuk tabel dengan baik agar tidak perlu dilakukan
pengukuran ulang yang mengaibatkan lamanya proses perhitungan data kembali.
Percobaan pada balok kuningan menghasilkan ketelitian hampir mencapai 100 % atau sebesar
99% dan besi silinder sebesar 97%. Namun pada pengukuran secara langsung pada kunci
didapatkan data sebesar 6,61 gram/cm3 dimana masa jenis kunci lebih kecil dari massa jenis
standar untuk kuningan dan besi. Dapat diperkirakan bahwa kunci terbuat dari bahan campuran
logam yang memiliki massa jenis lebih rendah dari besi dan kuningan.
DAFTAR PUSTAKA

Buku Penuntun Praktikum Fisika Dasar, Laboratorium Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Pakuan

http://muhammadnuruddin071644036.blogspot.com/2010/10/massa-jenis-zat-padat-bentuk-
teratur.html

http://seilandra.blogspot.com/2011/01/laporan-praktikum-pengukuran-dasar-pada_26.html