Anda di halaman 1dari 37

Pendahuluan

Batang otak merupakan suatu struktur yang secara anatomi kompak, secara fungsional bermacam-macam dan secara klinis penting. Batang Otak tersusun dari Mesensefalon, Pons, dan Medulla Oblongata. Batang otak berada di bagian paling kaudal otak dan terletak pada tulang tengkorak yang memanjang sampai ke tulang punggung atau sum-sum tulang belakang. 1

Batang Otak merupakan tempat keluarnya saraf kranialis (N.III-NXII). Batang Otak mengandung banyak jaras dan nuclei.Berfungsi sebagai pusat regulasi otonomik yang penting dalam proses vital tubuh, termasuk aktivitas sirkulasi jantung dan pernapasan. Bahkan suatu lesi tunggal yang relatif kecil pun hampir selalu merusak beberapa nukleus, pusat reflex, traktus atau jaras. Lesi seperti itu seringkali bersifat vaskular (misalnya perdarahan, iskemia oklusif), tetapi tumor , trauma, dan proses degeneratif atau demielinasi dapat juga merusak batang otak. 1

Karena rapatnya struktur batang otak, suatu lesi hampir selalu menimbulkan kerusakan sekaligus pada beberapa daerah sehingga lesi di batang otak menimbulkan sindroma yang khas untuk batang otak yaitu hemiplegia alternans, dimana terjadi kelumpuhan ekstremitas pada sisi kontralateral tipe UMN dan kelumpuhan nervus kranialis sisi ipsilateral tipe LMN. 1

Anatomi batang otak

Batang otak terletak paling kaudal dan secara keseluruhan terbagi menjadi medulla oblongata (biasanya hanya disebut medula), pons, dan otak tengah (atau mesensefalon). Medula merupakan kelanjutan medulla spinalis ke arah rostral, sedangkan mesensefalon terletak tepat di bawah diensefalon; pons merupakan bagian tengah batang otak. 1

Berikut adalah fungsi dari bagian-bagian yang mencakup batang otak, antara lain:

Mesensefalon yang berfungsi fungsi mengontrol otak besar dan otak kecil, berfungsi mengatur penglihatan seperti lensa mata, pupil mata dan kornea.Pons berfungsi untuk mengontrol apakah kita sedang terjaga atau tertidur. Medulla oblongata berfungsi untuk mengatur sirkulasi darah, denyut jantung, pernapasan dan pencernaan. 1

Gambar 1. Anatomi Otak Sumber: Rohkamm R. Color atlas of neurology. Germany: Gramlich; 2004 Batang otak

Gambar 1. Anatomi Otak Sumber: Rohkamm R. Color atlas of neurology. Germany: Gramlich; 2004

Batang otak mengandung banyak jaras serabut, termasuk semua jaras asendens dan desendens yang menghubungkan otak dengan perifer. Beberapa jaras ini menyilang garis tengah ketika melewati batang otak dan beberapa di antaranya membentuk sinaps sebelum melanjutkan perjalanan di sepanjang jarasnya. Terdapat banyak nuklei di batang otak yaitu:

  • 1. Nuklei nervus III nervus XII

  • 2. Nukleus ruber dan substansia nigra mesensefalon; nuklei pontis dan nuklei olivarius medulla yang berperan pada sirkuit regulasi motorik.

  • 3. Nuklei lamina quadrigemina mesensefali yang merupakan stasiun jaras visual dan auditorik. 1

Hampir seluruh batang otak diliputi jaringan difus neuron yang “tersusun padat” (formasio retikularis), yang mengandung pusat regulasi otonomik yang penting untuk fungsi tubuh vital, termasuk aktivasi jantung, sirkulasi dan respirasi. 1 Untuk mempertahankan kesadaran. Jaras desendens dari formasio retikularis memengaruhi aktivitas neuron motorik spinal.Karena batang otak mengandung berbagai macam nuclei dan jaras saraf pada ruang yang sangat padat, bahkan lesi yang kecil pada batang otak dapat menimbulkan berbagai tipe defisit neurologis secara simultan (seperti pada berbagai sindroma vascular batang-otak). 1

Hampir seluruh batang otak diliputi jaringan difus neuron yang “tersusun padat” (formasio retikularis), yang mengandung pusat

Gambar 2. Anatomi Batang Otak tampak ventral dan dorsal

Sumber:

Duus

P,

Baehr

M,

Frotscher

M.

Duus’ Topical Diagnosis in

Neurology: Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta.

2010

Gambar 3. Anatomi batang otak tampak lateral Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical

Gambar 3. Anatomi batang otak tampak lateral

Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology: Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta.

2010

Gambar 3. Anatomi batang otak tampak lateral Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical

Gambar 4. Perdarahan batang otak tampak basal

Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

Gambar 5. Perdarahan Batang Otak Tampak Lateral Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical

Gambar 5. Perdarahan Batang Otak Tampak Lateral

Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

Arteri vertebralis timbul dari arteri subklavia, dan ketika mereka melewati foramina costotransverse dari C6 ke C2. Mereka memasuki tengkorak melalui foramen magnum dan bergabung di persimpangan pontomedullary untuk membentuk arteri basilar. Setiap arteri vertebralis biasanya bercabang menjadi arteri cerebellar posterior inferior (PICA). Di bagian atas pons, arteri basilaris terbagi menjadi 2 arteri serebral posterior. 1

Gambar 5. Perdarahan Batang Otak Tampak Lateral Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical

Gambar 6. Distribusi arteri yang menyuplai darah di mesensefalon

Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

Arteri basilaris bercabang menjadi arteri cerebellar superior yang memasok bagian lateral pons dan otak tengah, serta permukaan superior dari otak kecil. Otak kecil dipasok oleh arteri circumflexan, PICA, arteri cerebellar anterior inferior dan superior cebelar arteri dari arteri basilar. Medula diperdarahi oleh Pica dan cabang kecil dari arteri vertebralis. Pons diperdarahi oleh cabang-cabang dari arteri basilaris. Arteri cereberal posterior memperdarahi otak tengah, talamus, dan korteks oksipital. 1

Arteri basilaris bercabang menjadi arteri cerebellar superior yang memasok bagian lateral pons dan otak tengah, serta

Gambar 7. Distribusi Arteri yang Menyuplai Darah di Pons

Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

Arteri basilaris bercabang menjadi arteri cerebellar superior yang memasok bagian lateral pons dan otak tengah, serta

Gambar 8. Distribusi arteri yang menyuplai darah di medula oblongata

Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

Sindroma batang otak

Sindrom-sindrom tersebut terdiri dari manifestasi gangguan motorik dan sensibilitas, bahkan manifestasi gangguan sistem otonom juga bisa menjadi gejala tambahan. Kelumpuhan piramidalis akibat kelumpuhan batang otak, tidak peduli lokalisasinya mempunyai satu ciri khas, yaitu: kelumpuhan UMN kontralateral yang disertai oleh kelumpuhan saraf motorik atau defisit sensorik akibat kerusakan pada saraf otak sensorik pada sisi dan tingkat lesi. Kelumpuhan tersebut berupa hemiparesis. Hemiparesis yang diiringi oleh gangguan saraf tersebut dinamakan hemiparesis alternans. 1,2

Beberapa sindrom batang otak yaitu:

  • I. Sindrom Weber (Sindrom Pedunkulus Serebri) Sindrom Weber merupakan suatu kumpulan gejala klinis dan tanda yang meliputi kelumpuhan nervus okulomotorius (N.III) ipsilateral, hemiparesis spastik kontralateral, rigiditas parkinsonism kontralateral (substansia nigra), distaksia kontralateral (traktus kortikopontis) serta adanya defisit saraf kranialis yang kemungkinan disebabkan adanya gangguan pada persarafan supranuklear pada nervus VII, IX, X dan XII. 3 Sindrom ini dapat disebabkan oleh:

    • A. Penyumbatan pada pembuluh darah cabang samping yang berinduk pada ramus perforantes medialis arteria basilaris. Oklusi ramus interpendikularis arteri serebri posterior dan arteri khoroidalis posterior.

    • B. Insufisiensi perdarahan yang mengakibatkan lesi pada batang otak.

    • C. Lesi yang disebabkan oleh proses neoplasmatik sebagai akibat invasi dari thalamus atau serebelum. Lesi neoplasmatik sukar sekali memperlihatkan keseragaman oleh karena prosesnya berupa pinealoma, glioblastoma dan spongioblastoma dari serebelum. Penyebab yang jarang adalah tumor (glioma).

    • D. Lesi yang merusak bagian medial pedunkulus serebri.

    • E. Stroke (hemoragik atau infark) di pedunkulus serebri.

    • F. Hematoma epiduralis.

Gambar 9. Etiologi sindroma weber Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in

Gambar 9. Etiologi sindroma weber

Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

Gambar 9. Etiologi sindroma weber Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in

Gambar 10. Sindroma Weber

Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

Manifestasi klinis sindroma Weber dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 1. Kerusakan struktur batang otak dan efeknya.

KERUSAKAN STRUKTUR

EFEK

Substansia nigra

Kontralteral parkinsonism

Serabut kortikospinalis

Kontralateral hemiparesis

Traktus kortikobulbaris

Kerusakah pada otot-otot wajah bagian bawah yang kontralateral dan fungsi nervus hipoglosus (N.XII)

Serabut nervus okulomotorius (N.III)

Kelumpuhan

nervus

okulomotorius

ipsilateral. pupil terfiksasi dan berdilatasi

Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

Diagnosa Sindrom Weber dapat ditegakkan dengan melakukan anmnesis tentang riwayat penyakit, termasuk juga riwayat keluhan berapa lama keluhan sudah dirasakan dan apakah keluhan tersebut terjadi pada satu sisi atau dua sisi. Pemeriksaan saraf biasanya dapat dilakukan dan sangat membantu untuk menentukan adanya Sindrom Weber. Pemeriksaan nervus okulomotorius (nervus III) biasanya dilakukan bersama- sama dengan pemeriksaan nervus troklearis (nervus IV) dan nervus abdusen (nervus VI). 1,2

Gangguan total pada N. III ditandai oleh : M. Levator palpebrae lumpuh, sehingga mengakibatkan mata menjadi ptosis. Paralisis otot m. Rectus superior, m. Rectus internus, m. rektus inferior, dan m. Oblikus inferior. Kelumpuhan saraf parasimpatis yang mengakibatkan pupil melebar (midriasis) yang tidak bereaksi terhadap cahaya dan konvergensi. 4

Pemeriksaan tersebut terdiri atas:

  • A. Pemeriksaan celah kelopak mata Pasien diminta untuk memandang lurus ke depan, kemudian dinilai kedudukan kelopak mata terhadap pupil dan iris.

  • B. Pemeriksaan pupil, yang perlu diperiksa adalah:

    • 1. Ukuran: apakah normal diameternya, miosis, midriasis, pin-point pupil

    • 2. Bentuk: apakah normal, isokor, anisokor

    • 3. Posisi: apakah sentral atau eksentrik

    • 4. Refleks pupil

      • a. Refleks cahaya langsung cahaya diarahkan pada satu pupil; reaksi yang tampa adalah kontraksi pupil homolateral

      • b. Refleks cahaya tidak langsung cahaya diarahkan pada satu pupil; reaksi yang dilihat adalah

      • c. Refleks akomodasi-konvergensi Pasien diminta melihat jauh kemudian melihat ke tangan pemeriksan yang diletakkan 30cm di depan hidung pasien. Pada saat melihat tangan pemeriksa, kedua bola mata pasien bergerak secara konvergensi (kearah nasal) dan tampak pupil mengecil. Negatif pada kerusakan saraf simpatikus leher

  • C. Gerakan bola mata Dinilai dengan gerakan bola mata keenam arah yaitu lateral, medial, lateral atas, medial atas dan medial bawah untuk mengetahui fungsi otot-otot ekstrinsik bola mata, dengan cara: pasien menghadap ke depan dan bola mata digerakkan menurut perintah atau mengikuti arah objek di depan pasien. 4

  • II.

    Sindrom Benedickt Sindrom Benedickt merupakan sindrom neurologi paralisis nervus okulomotorius (N.III) karena trauma pada N.III dan nukleus ruber. Hal ini terjadi disebabkan tersumbatnya cabang-cabang interpedunkularis dari arteri basilaris atau serebralis posterior atau keduanya pada otak tengah. Ini digambarkan sebagai suatu kelumpuhan n. okulomorius ipsilateral yang disertai oleh tremor berirama atau ritmik pada tangan kanan atau kaki bagian kontralateral yang ditingkatkan oleh adanya gerakan mendadak atau tanpa disengaja, dan menghilang ketika istirahat. Yang merupakan akibat dari kerusakan pada nukleus ruber yang menuju keluar dari sisi yang berlawanan ada hemisfer serebelum. Bisa juga terdapat hiperestesia kontralateral. Selain itu, adanya gangguan sensasi raba, posisi, getar kontralateral serta diskriminasi dua titik (keterlibatan lemniskus medialis); hiperkinesia kontralateral (tremor, korea, atetosis) akibat keterlibatan pada nukleus ruber; rigiditas kontralateral (substansia nigra).Adanya lesi pada nukleus ruber dan nervus okulomotorius karena oklusi pada ramus

    interpedunkularis arteri basilaris atau arteri serebri posterior atau keduanya pada otak tengah, trauma atau tumor. Sindrom Benedickt terjadi bila salah satu cabang dari rami perforantes para medial arteri basilaris yang tersumbat maka infark akan ditemukan di daerah yang mencakup 2/3 bagian lateral pedunkulus serebri dan daerah nucleus ruber. Maka hemiparesis alternans yang ringan sekali saja disertai oleh hemiparesis ringan nervus III akan tetapi dilengkapi juga dengan adanya gerakan involunter pada lengan dan tungkai yang paretik ringan (di sisi kontralateral) itu. 1,2

    Tabel 2. Kerusakan struktur batang dan efek yang terjadi :

    Struktur yang terlibat

    Efek klinis

    Lemnikus medialis

    Gangguan sensasi raba, posisi dan getar kontralateral.

    Nukleus ruber

    Hiperkinesia kontralateral (korea atetosis)

    Substansia nigra

    Akinesia (parkinsomnisme) kontralateral

    Radiks n. Okulomotorius

    Kelumpuhan n. okulomotorius ipsilateral dengan pupil yang berdilatasi dan terfiksasi

    interpedunkularis arteri basilaris atau arteri serebri posterior atau keduanya pada otak tengah, trauma atau tumor. Sindrom

    Gambar 11. Sindroma Benedikt

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Gambar 12. Letak lesi pada sindrom Benedict. Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical

    Gambar 12. Letak lesi pada sindrom Benedict. Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    III.

    Sindrom Foville-Millard Gubler (Sindrom basis pontis kaudalis) Hemiplegia alternans akibat lesi di pons adalah selamanya kelumpuhan UMN yang melibatkan belahan tubuh sisi kontralateral, yang berada dibawah tingkat lesi yang berkombinasi dengan kelumpuhan LMN pada otot-otot yang disarafi oleh nervus VI atau nervus VII. 2 Sindrom ini terjadi disebabkan oklusi ramus interpedunkularis arteri basilaris dan arteri serebri posterior. Sindrom Millard Gubler dan sindrom Foville termasuk juga ke dalam bagian dari sindrom hemiplegia alternans pons. Sindrom ini disebabkan akibat terbentuknya suatu lesi vaskuler yang bersifat unilateral. Selaras dengan pola percabangan arteri-arteri, maka lesi vaskular di pons dapat dibagi ke dalam: 2

    • A. Lesi paramedian akibat penyumbatan salah satu cabang dari rami perforantes medialis a. Basilaris

    • B. Lesi lateral, yang sesuai dengan kawasan perdarahan cabang sirkumferens yanpendek

    • C. Lesi di tegmentum bagian rostral pons akibat penyumbatan a. serebeli superior

    • D. Lesi di tegmentum bagian kaudal pons, yang seesuai dengan kawasan perdarahan sirkumferens yang panjang. 2

    12

    Gambar 13. letak lesi sindroma basis pontis kaudalis Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’

    Gambar 13. letak lesi sindroma basis pontis kaudalis

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Penyumbatan parsial terhadap salah satu cabang dari rami perforantes medialis arteri basilaris sering disusul oleh terjadinya lesi-lesi paramedian. Jika lesi paramedian itu bersifat unilateral dan luas adanya, maka jaras kortikobulbar atau kortikospinal berikut dengan inti-inti pes pontis serta serabut-serabut pontoserebelar akan terusak. Tegmentum pontis tidak terlibat dalam lesi tersebut. 2

    Manifestasi berupa penyumbatan parsial terhadap cabang dari rami perforantes medialis arteri basilaris seperti itu akan menimbulkan gejala berupa hemiplegia yang bersifat kontralateral, yang pada lengan bersifat lebih berat ketimbang pada tungkai. Jika lesi paramedian itu terjadi secara bilateral, maka kelumpuhan seperti yang telah diuraikan tadi akan terjadi pada kedua sisi bagian tubuh.Namun jika lesi paramedian terletak pada bagian kaudal pons, maka akar nervus abdusens juga akan ikut terlibat. Maka dari itu pada sisi lesi terdapat kelumpuhan LMN musculus rektus lateralis, yang membangkitkan strabismus konvergens ipsilateral dan kelumpuhan UMN yang melanda belahan tubuh kontralateral, yang mencakup lengan tungkai sisi kontralteral berikut dengan otot-otot yang disarafi oleh nervus VII, nervus IX, nervus X, nervus XI dan nervus XII sisi kontralateral. Gambaran penyakit inilah yang dikenal sebagai sindrom hemiplegi alternans nervus abdusens. 2

    Tabel 3. Pada sindrom Foville

    Struktur yang terlibat

    Efek klinis

    Lemnikus medialis

    Gangguan

    sensasi

    raba,

    posisi

    dan

    getar

    kontralateral.

     

    Lemnikus lateralis

    Tuli

    Nucleus n. Fasialis

    Kelumpuhan n. fasialis perifer ipsilateral

    Traktus spioitalamikus

    Analgesia dan termanestesia setengah tubuh kontralateral

    Traktus piramidalis

    Hemiplegia spastic kontralateral

    • N. abdusens

    Kelumpuhan n. abdusens perifer ipsilateral

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Tabel 4. Sindrom Millard- Gubler

    Struktur yang terlibat

    Efek klinis

    Traktus kortikospinalis

    Hemiplegia kontralateral

    • N. fasialis

    Kelumpuhan wajah ipsilateral

    • N. abdusens

    Kelumpuhan melirik ke lateral ipsilateral

    Sumber: Marjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Cetakan ke-15. Dian Rakyat, Jakarta. 2008

    Selain itu dapat juga terjadi suatu lesi unilateral di pes pontis yang meluas ke samping, sehingga melibatkan juga daerah yang dilalui n.fasialis.Sindrom hemiplegia alternans padamana pada sisi ipsilateral terdapat kelupuhan LMN, yang melanda otot- otot yang disarafi n.abdusens dan n.fasialis yang disebut sebagai Sindrom Millard

    Gubler.Jika serabut-serabut kortikobulbar untuk nukleus n.VI ikut terlibat dalam lesi, maka ‘deviation conjugee’ mengiringi sindrom Millard Gubler. Kelumpuhan bola mata yang konjugat itu dikenal juga sebagai Sindrom Foville, sehingga hemiplegia alternans nervus abdusens et fasialis yang disertai sindrom Foville itu disebut sebagai Sindrom Foville Millard Gubler. 2

    Gubler.Jika serabut-serabut kortikobulbar untuk nukleus n.VI ikut terlibat dalam lesi, maka ‘deviation conjugee’ mengiringi sindrom Millard

    Gambar 14. sindroma basis pontis kaudalis

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    IV.

    Sindrom basis pontis bagian tengah

    Sindrom ini muncul akibat dari oklusi ramus sirkumferensialis longus arteri basilaris dan arteri serebelaris superior.Gambaran klinis adalah hemianestesi semua modalitas sensorik ipsilateral, paralisis flasid otot pengunyah ipsilateral, hemiataksia, intention termor, adiadokokinesi, disatria sereblar dan hemiparesis spastik kontralateral. 1

    Tabel 4. Manifestasi klinis sindorma basis pontis bagian tengah

    Struktur yang terlibat

    Efek klinis

    Radiks n. Trigeminus

    Hemianestesia semua modalitas sensorik ipsilateral

    Paralisis flaksid otot pengunyah ipsilateral

    Pedunkulus serebelaris medial

    Hemiataksia dan asinergia ipsilateral

    Traktus kortikospinalis

    Hemiparesis spastik kontralateral

    Nuclei pontis Diktaksia ipsilateral
    Nuclei pontis
    Diktaksia ipsilateral

    Gambar 16. Sindroma basis pontis bagian tengah

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Gambar 15. Letak lesi pada sindroma basis pontis bagian tengah Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher

    Gambar 15. Letak lesi pada sindroma basis pontis bagian tengah

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    • V. Sindrom tegmentum pontis kaudale

    Sindrom

    ini

    terjadi

    disebabkan

    oleh

    oklusi

    cabang

    sirkumferensialis longus dan brevis). 1

    arteri

    basilaris

    (ramus

    Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah kelumpuhan nuclear abdusen dan fasialis ipsilateral, nistagmus (fasikulus longitudinalis medialis), paresis tatapan kearah sisi lesi; hemiataksia dan asinergia ipsilateral (pedunkulus serebralis medialis); analgesia dan termanestesia kontralateral (traktus spinotalamikus lateralis); hipestesia dan gangguan sensasi posisi dan getar sisi kontralateral (lemniskus medialis); mioritmia palatum dan faring ipsilateral (traktus tegmentalis sentralis). 1,2

    Gambar 17. Letak lesi sindrom tegmentum pontis kaudale Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’

    Gambar 17. Letak lesi sindrom tegmentum pontis kaudale

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Gambar 17. Letak lesi sindrom tegmentum pontis kaudale Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’

    Gambar 18. Sindrom tegmentum pontis kaudale

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Tabel 5. Kerusakan struktur batang dan efek yang terjadi:

    Kerusakan struktur

    Efek

    Fasikulus longitudinalis medialis

    Nistagmus, paresis gaze ke sisi kiri

    Pedunkulus serebelaris medial

    Hemiataksia, intension tremor, adiadokokinesi, disatria serebral

    Nukleus n. Fasialis

    Kelumpuhan n. VII perifer ipsilateral

    Nukleus vestibularis

    Nistagmus, vertigo rotatoris

    Jaras simpatis sentral

    Sindrom horner, hipohidrosis, vasodilatasi ipsilateral

    N. abdusen

    Kelumpuhan n. VI perifer ipsilateral

    Traktus tegmentalis sentralis

    Mioritmia palatum dan faring

    VI.

    Sindrom tegmentum pontis orale

    Sindrom ini terjadi disebabkan oklusi ramus sirkumferensialis longus arteri basilaris dan arteri serebelaris superior. 1

    Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah hilangnya sensasi wajah ipsilateral (gangguan semua serabut nervus trigeminus) dan paralisis otot-otot pengunyah (nucleus motorius nervus trigeminus), hemiataksia, intention tremor, adiadokokinesia (pedunkulus serebelaris superior); gangguan semua modalitas sensorik kontralateral. 1,2

    Tabel 5. Kerusakan struktur batang dan efek yang terjadi: Kerusakan struktur Efek Fasikulus longitudinalis medialis Nistagmus,

    Gambar 19. Sindrom tegmentum pontis orale

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Gambar 20. Letak lesi sindrom tegmentum pontis orale Tabel 6. Kerusakan struktur batang dan efek yang

    Gambar 20. Letak lesi sindrom tegmentum pontis orale

    Tabel 6. Kerusakan struktur batang dan efek yang terjadi:

    Kerusakan struktur

    Efek

    Pedunkulus serebelaris superior

    Hemiataksia, Intention tremor, Adiadokokinesi, Disarteria serebelar

    Nukleus prinsipalis sensorik n. Trigeminus

    Gangguan sensasi epikritik wajah ipsilateral

    Nukleus

    traktus

    spinalis

    n.

    Analgesia dan termanestesia wajah ipsilateral

    Trigeminus

    Nucleus motorik n . trigeminus

    Paralisis flaksid (nuklear) otot-otot pengunyah ipsislateral

    Traktus tegmentalis sentralis

    Mioritmia palatum dan faring

    Traktus tektospinalis

    Hilangnya reflex kedip

    Traktus spinotalamikus lateral

    Analgesia dan termanestesia separuh tubuh kontralateral

    Lemnikus lateralis

    Tuli

    Lemnikus medialis

    Gangguan sensasi raba, kontralateral. Ataksia

    getar, dan posisi separuh tubuh

    Traktus kortikonuklearis (serabut yang keluar)

    Kelumpuhan n. fasialis, n. glosofaringeus, n. vagus, n. hipoglosus

    VII.

    Sindrom Wallenberg (Sindrom Medularis Dorsolateralis)

    Sindrom wallenberg disebut juga sebagai sindrom meduler lateral, yaitu merupakan suatu penyakit dimana terdapat defisit gejala neurologis karena cedera pada bagian lateral medula di otak yang mengakibatkan iskemia dan nekrosis jaringan. Biasanya pada penderita akan tampak gejala seperti mual, muntah dan vertigo yaitu akibat dari keterlibatan sistem vestibuler. 1,2

    VII. Sindrom Wallenberg (Sindrom Medularis Dorsolateralis) Sindrom wallenberg disebut juga sebagai sindrom meduler lateral, yaitu merupakan

    Gambar 21. Letak lesi pada sindroma wallenberg

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Gejala dan tanda klinis yang muncul pada sindrom ini tergantung pada tempat lesi yang terkena. Gejala klinis pada sindroma Wallenberg terbentuk karena adanya trombosis yang membentuk plak ateromatosa di bagian a. Vertebralis. Hanya sekitar 25 % sindroma ini yang berasal benar-benar oklusi dari arteri cerebeli posterior inferior. 2

    Orang yang mengalami kesulitan dalam hal menelan (disfagfia) yang dihasilkan dari keterlibatan nucleus ambigus, serta bicara cadel (dysarthria) dan kualitas vokal teratur

    (disfonia). Kerusakan pada tulang belakang nukleus trigeminus menyebakan tidak adanya rasa sakit pada sisi ipsilateral dari wajah, serta tidak terdapat refleks kornea. 1,2

    Pada traktus spinotalamikus terjadi kerusakan, yang mengakibatkan hilangnya rasa sakit dan sensasi suhu ke sisi berlawanan dari tubuh. Kerusakan pada otak kecil atau cerebellum pedunculus rendah dapat menyebabkan ataksia. Kerusakan pada serat hypothalamospinal menganggu sistem saraf simpatik relay dan memberikan gejala analog dengan sindrom Horner.Nistagmus dan vertigo yang dapat mengakibatkan jatuh, disebabkan dari keterlibatan daerah inti Deiter’s dan inti vestibuler yang lainnya. Onset yang biasanya terjadi bersifat akut. Mioclonus palatal dapat terjadi karena gangguan dari saluran tegmental pusat. 1,2,5

    ( disfonia ). Kerusakan pada tulang belakang nukleus trigeminus menyebakan tidak adanya rasa sakit pada sisi

    Gambar 22. Sindrom Wallenberg

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Tabel 8. Struktur batang otak yang terlibat pada Sindroma Wallenberg:

    Struktur yang terlibat

    Efek klinis

    Nucleus vestibularis inferior

    Nistagmus dan kecenderungan jatuh ke sisi ipsilateral.

    Nucleus dorsalis n. Vagus

    Takikardia dan dispnea

    Pedunkulus serebelaris inferior

    Ataksia dan asinergia ipsilateral

    Nucleus traktus solitaries

    Ageusia (kehilangan rasa)

    Nucleus ambigus

    Paresis palatum, laring dan faring ipsilateral; suara

    serak

    Nucleus n. Kokhlearis

    Tuli

    Nucleus

    traktus

    spinalis

    n.

    Analgesi dan termanestesia wajah ipsilateral; reflex

    Trigeminus

    kornea menghilang

    Jaras simpatis sentral

    Sindrom

    Horner;

    hipohidrosis;

    vasodilator

    wajah

    ipsilateral

    Traktus spinoserebelaris anterior

    Ataksia; hipotonia ipsilateral

    Traktus spinotalamikus lateralis

    Analgesi dan teranestesi setengah tubuh kontralateral

    Traktus tegmentalis sentralis

    Mioritma palatum dan faring

    Formasio retikularis

    Cegukan (singultus)

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    VIII.

    Sindrom Dejerin (Sindrom medularis medialis)

    Sindrom Dejerin ini terjadi akibat oklusi ramus paramedianus arteria vertebralis atau arteria basilaris, umumnya bilateral. 1,3

    VIII. Sindrom Dejerin (Sindrom medularis medialis) Sindrom Dejerin ini terjadi akibat oklusi ramus paramedianus arteria vertebralis

    Gambar 23. Sindrom Dejerin

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    VIII. Sindrom Dejerin (Sindrom medularis medialis) Sindrom Dejerin ini terjadi akibat oklusi ramus paramedianus arteria vertebralis

    Gambar 24. Letak lesi sindrom dejerin

    Sumber: Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology:

    Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010

    Tabel 9. Kerusakan struktur batang dan efek yang terjadi:

    Struktur yang terlibat

    Efek klinis

    Fasikulus longitudinalis

    Nistagmus

    Lemnikus medialis

    Gangguan sensasi raba, getar, dan posisi kontralateral

    Oliva

    Mioritmia palatum dan posisi kontralateral

    Nervus hipoglosus (nervus XII)

    Kelumpuhan flasid nervus XII dengan hemiatrofi lidah

    Traktus piramidalis

    Hemiplagia kontralateral (bukan spastik) tetapi terdapat refleks Babinski

    Diagnosis banding sindroma batang otak

    • I. Sindrom Horner Sindrom Horner adalah suatu sindrom disebabkan oleh kerusakan pada sistem saraf simpatik yang terdiri dari trias klasik berupa miosis (akibat hilangnya fungsi m. dilator pupil, sehingga menyebabkan efek konstriksi m. sfingter pupil menjadi dominan), ptosis parsial, enoftalmus (akibat hilangnya fungsi m. orbitalis) dan tidak ada keringat pada sisi wajah yang sakit (anhidrosis). Pada sisi wajah yang sakit juga akan timbul warna kemerahan akibat vasodilatasi pembuluh darah. 6 Terdapat tiga jenis penyebab sindrom Horner yang masing-masing tergantung pada jalurnya (sentral, preganglion atau postganglion) yang berhubungan dengan bagian tubuh dalam jalurnya. Karena saraf simpatis mengontrol tiap sisi, tanda dan gejala sindrom Horner biasanya terjadi hanya pada satu sisi wajah. Lesi sentral dapat disebabkan oleh oklusi atau penutupan dari arteri cerebellar posteroinferior (PICA) di bagian bawah batang otak, transient ischemic attack (gangguan singkat suplai darah ke otak) atau karena tumor otak. Lesi preganglionik pula dapat disebabkan oleh adanya kanker di apeks paru-paru (Pancoast Tumor), sindrom saraf frenikus, hipertiroid, osteoarthritis di tulang leher dengan taji tulang (spurs), cedera tulang belakang dan trauma leher (Whiplash injury). Lesi postganglionic dapat disebabkan oleh patah cluster headache tulang tengkorak atau infeksi pada telinga tengah. 6

    Pusat siliospinalis merupakan area nuclear tempat munculnya persarafan simpatis

    yang terletak di kornu lateralis medulla spinalis C8 hingga T2. Persarafan simpatis pada mata terdiri dari 3 neuron. Serabut neuron yang pertama turun dari sisi ipsilateral hipotalamus melewati batang otak dan korda servikal menuju ke T1/T2. Serabut ini bersinaps pada serabut simpatis sisi ipsilateral preganglionik, lalu keluar dari korda menuju ke rangkaian simpatis sebagai neuron yang kedua pada ganglion servikal superior. Neuron ketiga berjalan bersama dengan arteri karotid interna ke dalam orbita dan mempersarafi mepersarafi m. dilator pupilae, m. tarsalis superior dan inferior, dan m.

    orbitalis

    Ada juga serabut simpatis lain yang mempersarafi kelenjar keringat dan

    .. pembuluh darah setengah sisi wajah ipsilateral. 6

    Gejala-gejala miosis, ptosis dan anhidrosis merupakan manifestasi blokade aktivitas simpatik dikenal sebagai sindroma Horner. 6

    • A. Ptosis Ptosis adalah menurunnya palpebra superior, akibat pertumbuhan yang tidak baik atau paralisa dari muskulus levator palpebra. Ada bermacam-macam derajat ptosis. Bila hebat dan mengganggu penglihatan oleh karena palpebra superior menutupi pupil, maka ia mencoba menaikkan palpebra tersebut dengan memaksa muskulus occipitofrontalis berkontraksi, sehingga di dahi timbul berkerut-kerut dan alisnya terangkat. Kalau lebih hebat lagi, untuk dapat mengatasinya, supaya penglihatan tercapai sebaik-baiknya maka penderita akan menjatuhkan kepalanya ke belakang. Tanda-tanda ini adalah karakteristik untuk ptosis. Pada ptosis didapat pula garis lipatan kulit yang berbentuk seperti huruf S pada palpebranya.

    • B. Miosis Miosis adalah suatu keadaan dimana garis tengah pupil kurang dari 2 mm. Dimana ukuran normal garis tengah pupil tersebut adalah antara 4 5 mm pada penerangan sedang. Pupil sangat peka terhadap rangsangan cahaya dengan persarafan afferent nervus kranialis II sedangkan efferentnya nervus kranialis III. Sehingga mengecil bila cahaya datang (miosis) dam membesar bila tidak ada atau sangat sedikit sekali cahaya (remang-remang), keadaan ini disebut dengan midriasis yaitu diameter pupil lebih dari 5 mm.

    • C. Anhidrosis Anhidrosis merupakan suatu gejala karena kuman lues menyerang sistem persarafan, sehingga produksi minyak terhambat atau kurangnya produksi minyak

    disebabkan oleh proses yang abnormal oleh kuman lues tersebut. Pada penyakit- penyakit darah dan hipertensi juga terdapat sindrom Horner yang mencerminkan terputusnya serabut-serabut simpatetik servikal. Pada lesi vaskuler parsial dapat terjadi bahwa kombinasi hemiparastesia parsilaris dan hemiataksia ipsilateral saja yang ditemukan. Bila juga terjadi bahwa sindroma tersebut timbul bersama dengan sindrom Horner.

    Pemeriksaan tulang belakang servikal tidak boleh dilupakan pada setiap penderita yang mengemukakan keluhan bahwa kuduk, bahu dan lengan sakit. Adanya Sindroma Horner harus dihubungkan dengan proses patologik di leher dan fosa supraklavikularis. Penelitian terhadap gerakan leher, kepala, lengan dan tangan adalah penting untuk menentukan adanya nyeri pada persendian atau selaputnya. Nyeri yang disebabkan oleh proses patologik setempat

    dapat ditunjuk oleh penderita dengan tepat sebagai “pegal atau linu”, sering kali tidak dapat

    dilokalisasikan oleh penderita dengan tepat. Dalam hal ini sindroma Horner melengkapi gambaran penyakit tersebut bersamaan dengan parastesia, paresis serta anhidrosis pada lengan.

    Letak lesi penyebab sindroma Horner perlu ditentukan, sebab lesi distal terhadap gangion servikal superior biasanya 98% jinak, sedangkan lesi proksimal terhadapnya 50%

    ganas. Pada arak yang sering terjadi adalah congenital horner’s syndrome yang sering

    disebabkan karena trauma lahir, atau adanya nerutoblastoma yang tumbuh pada jaras simpatetik. Pada lesi yang kongenital dapat terjadi dengan heterochromia iris. 6

    Gambar 25. Horner’s syndrome Sumber: http://www.physio-pedia.com/images/1/1c/Horners_patho.jpg 28

    Gambar 25. Horner’s syndrome

    Sumber: http://www.physio-pedia.com/images/1/1c/Horners_patho.jpg

    II.

    Sindrom Sinus Kavernosus Sindroma sinus kavernosus merupakan suatu sindroma dengan tanda atau gejala seperti oftalmoplegi, chemosis, proptosis, sindroma horner atau hilangnya sensorik dari trigeminal. Sindrom Sinus Kavernosus muncul akibat gangguan saraf pada N. II, III, IV. 7

    Penyebab sindroma sinus kavernosus dapat beraneka ragam, yaitu

    • A. Traumatik

    • B. Vaskular. Penyebab vaskular antara lain aneurisma arteri carotis intrakavernosus, aneurisma arteri cerebral posterior, fistel carotis-kavernosus dan thrombosis carotis- kavernosus. Infeksi dapat disebabkan oleh bacterial, viral (herpes zoster), jamur (mucomycosis), TBC dan sebagainya.

    • C. Infeksi

    • D. Neoplasma. Tumor yang dapat menimbulkan sindroma sinus kavernosus antara lain tumor primer intrakranial, tumor primer cranial dan metastasis.

    • E. Idiopatik. Penyebab yang idiopatik adalah sindroma TolosaHunt, sarkoidosis atau granulomastosis Wegener.

    II. Sindrom Sinus Kavernosus Sindroma sinus kavernosus merupakan suatu sindroma dengan tanda atau gejala seperti oftalmoplegi,

    Gambar 26. Anatomi sinus kavernosus Sumber: http://medicalart-work.co.uk/images/cavernous-sinus.jpg

    Gambaran klinis lesi pada sinus kavernosus memiliki karakteristik gejala yaitu :

    • A. Kelumpuhan nervus III, IV, VI unilateral dan terisolir

    • B. Pola kombinasi oftalmolplgia

    • C. Oftalmoplegia disertai nyeri

    • D. Proptosis (exophthalmus mengarah ke fistel hubungan langsung karotis- kavernosus)

    • E. Bruit okular dan cranial

    • F. Kongesti konjungtiva; arterilisasi dari vena konjungtiva

    • G. Hipertensi okuler

    • H. Edema optic disc atau kabur; perdarahan retina

    • I. Hilangnya sensasi cabang pertama atau kedua saraf trigeminus dengan kombinasi.

    • J. Pupil bisa terganggu atau tidak atau tampak tidak terganggu dengan keterlibatan okulosimpatis dan parasimpatis konkomitan/bersamaan. Berbagai derajat nyeri bisa ditemukan.

    Sinus kavernosus adalah suatu trabekula sinus vena yang berlokasi antara selubung dari duramater dan bersebelahan dengan sela tursika. Sinus ini merupakan muara dari vena orbital superior dan inferior dan mengalir ke sinus petrosus superior dan inferior. Sinus ini terdiri daripada arteri karotis, pleksus simpatisnya, saraf kranialis ke III, ke IV dan ke VI. Cabang menuju ke mata dan maksila dari n. trigeminus melintasi sinus ini juga. Saraf-saraf ini hanya melewati dinding sinus sedangkan arteri karotis melewati sinus itu sendiri. 7

    Diagnosis ditegakkan selain gejala klinis dan pemeriksaan neurooftalmologi juga diperlukan pemeriksaan penunjang seperti foto kepala, foto orbita, foto daerah sella- parasella, CT scan, MRI dan angiografi. 7

    Kebanyakan lesi penyebab sindroma sinus kavernosus dapat disembuhkan. Pada metastasis kanker prognosis tergantung dari spesifik jenis tumor.

    Pengobatan tergantung pada lokasi dan penyebab lesi.

    • A. Tumor metastase: radioterapi.

    • B. Tumor 30ntibioti: agonis dopamine, reseksi tumor.

    • C. Meningioma: radioterapi, gamma knife treatment.

    • D. Aneurisma sinus kavernosus: balon oklusi.

    • E. Thrombosis sinus kavernosus: 30antibiotic dosis tinggi. 7

    III. Bell’s Palsy Bell’s palsy adalah suatu gangguan neurologis yang disebabkan oleh kerusakan saraf fasialis, yang menyebabkan kelemahan atau paralisis satu sisi wajah. Paralisis ini menyebabkan asimetri wajah serta menggangu fungsi normal, seperti menutup mata dan makan. 8 Penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga terjadi pembengkakkan pada saraf wajah sebagai reaksi terhadap infeksi virus, penekanan atau berkurangnya aliran darah. Penyebab infeksi yang tersering adalah virus herpes simpleks-tipe 1. Penyebab lain antara lain: 8

    • A. Infeksi virus lain.

    • B. Neoplasma : setelah pengangkatan tumor otak (neuroma akustik) atau tumor lain.

    • C. Trauma : fraktur basal tengkorak, luka di telinga tengah, dan menyelam.

    • D. Neurologis: sindrom Gullain-Barre.

    • E. Metabolik : kehamilan, diabete mellitus, hipertiroidisme, dan hipertensi.

    • F. Toksik : alcohol, talidomid, tetanus, dan karbon monoksida.

    Gejala pada Bells palsy meliputi

    • A. Gejala pada sisi wajah ipsilateral

      • 1. Kelemahan otot wajah ipsilateral

      • 2. Kerutan dahi menghilang ipsilateral

      • 3. Tampak seperti orang letih

      • 4. Tidak mampu atau sulit mengedipkan mata

      • 5. Hidung terasa kaku

      • 6. Sulit berbicara

      • 7. Sulit makan dan minum

      • 8. Sensitif terhadap suara (hiperakusis)

      • 9. Salivasi yang berlebih atau berkurang

        • 10. Pembengkakan wajah

        • 11. Berkurang atau hilangnya rasa kecap

        • 12. Nyeri di dalam atau di sekitar telinga

        • 13. Air liur sering keluar

  • B. Gejala pada mata ipsilateral

    • 1. Sulit atau tidak mampu menutup mata ipsilateral

    • 2. Air mata berkurang

    • 3. Alis mata jatuh

    • 4. Kelopak mata bawah jatuh

    • 5. Sensitif terhadap cahay

  • C. Residual

    • 1. Mata terlihat lebih kecil

    • 2. Kedipan mata jarang atau tidak sempurna

    • 3. Senyum yang asimetris

  • 4.

    Spasme hemifasial pascaparalitik

    • 5. Otot hipertonik

    • 6. Sinkinesia

    • 7. Berkeringat saat makan atau saat beraktivitas

    • 8. Otot menjadi lebih flasid bila lelah

    • 9. Otot menjadi kaku saat letih atau kedinginan

    Pada inspeksi terlihat pendataran dahi dan lipatan nasolabial pada sisi yang terkena. Ketika pasien diminta menaikkan alis mata, sisi dahi yang lumpuh terlihat datar. Ketika pasien diminta tersneyum, wajah menjadi menyimpang dan terdapat lateralisasi ke issi yang berlawanan dari yang lumpuh. Pada saat berusaha untuk menutup mata, bola mata seolah bergulir ke atas pada sisi yang lumpuh. Hal ini disebut fenomena bell dan merupakan hal yang normal pada saat menutup mata. 8

    4. Spasme hemifasial pascaparalitik 5. Otot hipertonik 6. Sinkinesia 7. Berkeringat saat makan atau saat beraktivitas

    Gambar 27. Gambaran wajah penderita Bell’s Palsy

    Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_vr_z6b1Mjwc/Sqvk9-

    iVxEI/AAAAAAAAAC0/Y5bvLLg3_2I/s400/diagrams.GIF

    Pemeriksaan yang teliti pada kepala, telinga, mata, hidung, dan tenggorokan harus dilakukan pada pasien dengan kelumpuhan wajah. Pada telinga luar harus dilihat adanya vesikel, infeksi atau trauma, penurunan sensibilitas rasa nyeri di daerah auricular posterior. Pasien dengan paralisis otot stapedius mengalami hiperakusis. 8

    Pengobatan

    • A. Terapi umum Untuk menghilangkan penekanan dapat diberikan prednisone dan antiviral sesegera mungkin. Window of opportunity untuk memulai pengobatan adalah 7 hari sejak awitan. Prednison dapat diberikan jika muncul tanda-tanda radang. Istirahat merupakan bagian dari terapi yang sangat penting.Pemakaian kacamata dengan lensa berwarna atau kaca mata hitam kadang-kadang diperlukan untuk menjaga mata tetap lembab saat bekerja.

    Pemijatan wajah boleh dilakukan. Untuk rasa nyeri atau tidak nyaman, kompres hangat akan membantu. Obat yang dapat menghilangkan nyeri ini diantaranya gabapentin. 7

    • B. Antiviral Pemberian antiviral seperti famsiklovir dan asiklovir sering diserapkan sebagai obat antiviral. Saat ini dapat digunakan antiviral baru seperti valasiklovir yang bekerja cepat.

    • C. Vitamin B. Vitamin B penting dalam fungsi sistem saraf.

    • D. Perawatan mata. Pemberian air mata buatan, lubrikan dan pelindung mata.

    Tabel 9. Perbandingan Sindrom Batang Otak

    Sindrom

    Letak lesi

    Penyebab

    Gejala

    Sindrom Weber

    Mesensefalon

    Oklusi ramus interpedukularis arteri

    Kelumpuhan N. III ipsilateral

     

    serebri posterior dan

    Hemiparesis spastik

    arteri khoroidalis posterior

    kontralateral Rigiditas

     

    parkinsonisme kontralateral Distaksia kontralateral

    Defisit saraf kranialis kemungkinan akibat gangguan persarafan supranuklear pada n. VII, IX, X dan XII

    Sindrom Benedikt

    Mesensefalon

    Oklusi ramus interpedukularis arteri basilaris dan arteri serebri posterior

    Kelumpuhan n. III ipsilateral dengan midrasis

     

    Gangguan sensasi raba, posisi, dan getar kontralateral

    Gangguan diskriminasi dua titik

    Rigiditas kontralateral

    Sindrom Foville

    Pons

    Oklusi ramus

    Kelumpuhan nervus

    Millard-Gubler

    sirkumferensialis arteri basilaris, tumor, abses

    VI (perifer) dan n. VII (nuklear) ipsilateral

     

    Hemiplagia

     

    kontralateral

     

    Analgesia

    Termanestesia

     Gangguan sensasi raba, posisi, serta getar sisi kontralateral Sindrom tegmentum pontis kaudale Pons Oklusi cabang
     

    Gangguan sensasi raba, posisi, serta getar sisi kontralateral

    Sindrom tegmentum pontis kaudale

    Pons

    Oklusi cabang arteri basilaris (ramus sirkumferensialis longus dan brevis)

    Kelumpuhan nuklear N. VI dan n. VII ipsilateral

     

    Nistagmus

    Paresis melirik ke lateral ipsilateral

    Hemiataksia dan asinergia ipsilateral

    Hipestesia dan gangguan sensasi posisi dan getar sisi kontralateral

    Mioritmia palatum dan faring ipsilateral

    Sindrom tegmentum pontis orale

    Pons

    Oklusi ramus sirkumferensialis longus arteri basilaris dan arteri

    Hilangnya sensasi wajah ipsilateral

     

    serebelaris superior

    Paralisis otot-otot pengunyah

     

    Hemiataksia

    Intention tremor Adiadokokinesia

    Gangguan semua modalitas sensorik kontralateral

    Sindrom basis

    Pons

    Oklusi ramus

    Paresis flasid otot-otot

    pontis bagian

    sirkuferensialis brevis

    pengunyah ipsilateral

    tengah

    dan ramus paramedianus arteri basilaris

    Hipestesia, analgesia, dan termanestesia wajah

     

    Hemiataksia dan asinergia ipsilateral

    Hemiparesis spastic kontralateral

    Sindrom

    Medulla

    Oklusia atau emboli di

    Vertigo

    Wallenberg

    oblongata

    teritori arteri serebeli inferior posterior atau

    Nistagmus

     

    arteri vertebralis

    Nausea

     

    Muntah

     

    Disartria Disfonia Singultus (cegukan)

     

    Sindrom Dejerine

    Medulla

    Oklusia ramus

    Kelumpuhan flasid N.

    oblogata

    paramedianus arteri vertebralis atau arteri

    XII ipsilateral

     

    basilaris

    Hemiplagia kontralateral dan tanda babinski

    Hipestesia kolumna posterior kontralateral

    Nistagmus

    Sindrom Horner

    Sistem saraf

    Kerusakan dari sistem

    Miosis

    simpatis

    saraf simpatis

    Ptosis

     

    Anhidrosis

    Enoftalmus

    Sindrom Sinus

    Sinus

    Gangguan pada N III, IV,

    VI

    Oftalmoplegia

    Kavernosus

    karvenosus

     

    Eksoftalmus

    Sindrom Horner

    Chemosis

    Hilang sensori dari trigeminal

    Bell’s palsy

    Nervus fasialis

     

    Kerusakan saraf fasialis

    Paralisis satu sisi wajah menyebabkan simetri wajah serta gangguan fungsi menutup mata dan makan.

    Kesimpulan

    Batang otak terletak paling kaudal, terbagi menjadi medulla oblongata, pons dan mesensefalon. Secara anatomi batang otak termasuk struktur yang kompleks dengan fungsi yang beragam dan penting secara klinis, sehingga jika terdapat lesi, tunggal dan sekecil apapun, lesi itu hampir selalu merusak beberapa nukleus, pusat refleks, traktus ataupun jaras yang terletak di batang otak. Lesi tersebut seringkali bersifat vascular degeneratif atau demielinasi dapat juga merusak batang otak. Kumpulan dari gejala-gejala yang khas dan bersifat alternans pada batang otak tersebut membentuk suatu sindroma yang kemudian dikenal dengan sebutan sindrom batang otak.

    Sindroma batang otak merupakan sekumpulan gejala yang ditandai dengan terganggunya satu atau beberapa fungsi dari saraf kranial maupun jejas saraf simpatis baik melalui proses mekanik berupa invasi maupun trauma ataupun akibat adanya suatu gangguan vaskularisasi. Kelumpuhan piramidalis akibat lesi di batang otak merupakan gejala bagian dari sindroma batang otak yang dapat diperinci dalam: Sindroma mesensefalon (sindrom Weber, sindrom Benedict, sindrom Claude). Sindrom pons (sindrom foville, sindrom Raymond-Cestan, sindrom Millard-Gubler). Sindrom medulla oblongata (sindrom Pra- Olivar, sindrom retro-Olivar, sindrom Lateralis/Wallenberg). Kelumpuhan piramidalis akibat kelumpuhan di batang otak, tidak peduli lokalisasinya, mempunyai satu ciri yang khas, yaitu:

    kelumpuhan UMN kontralateral yang disertai oleh kelumpuhan saraf otak motorik atau defisit sensorik akibat kerusakan pada saraf otak sensorik pada sisi dan tingkat lesi. Kelumpuhan tersebut berupa hemiparesis. Dan hemiparesis yang diiringi gangguan saraf otak tersebut dinamakan hemiparesis alternans

    Dengan mengetahui berbagai sindrom tersebut diharapkan bagi seorang klinisi untuk membantu menentukan letak lesi yang terjadi berdasarkan gejala-gejala klinis yang tampak. Prognosis dari berbagai sindrom tersebut sangat tergantung dari penyebab yang mendasari gangguan tersebut sehingga dalam penatalaksanaanya juga didasarkan pada gangguan atau lesi primer yang menyebabkan fungsi sebagian atau beberapa saraf kranial tersebut.

    Daftar pustaka

    • 1. Duus P, Baehr M, Frotscher M. Duus’ Topical Diagnosis in Neurology: Anatomy, Physiology, Signs, Symptoms. Ed 4 th . EGC, Jakarta. 2010; p198 212.

    • 2. Marjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Cetakan ke-15. Dian Rakyat, Jakarta. 2008 ; 31-156.

    • 3. Barker. A Roger, Chiccetti Francecsa, Neal. J Michael. Neuroanatomy and neuroscience At a Glance. 4th Ed. Willey-Blackwell Publication. 2012; p20-21.

    • 4. Lumbantobing, M S. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik Dan Mental. Badan Penerbit FKUI. Jakarta; 2013. H21-86.

    • 5. Joyce L, Anisa B, Katia C. Crash Course: Neurology. United Kingdom.2002;186-187.

    • 6. Sindroma Horner. 2014. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/279394- overview, pada tanggal 16 febuari2015.

    • 7. Adriani D. Sindroma Sinus Kavernosus. Departemen Neurologi FKUI. Jakarta; 2008. h14.

    • 8. Dewanto G, Suwono W.J, Riyanto B et all. Diagnosis & Tatalaksana Penyakit Saraf : Bell’s Palsy. Cetakan I. EGC, Jakarta. 2009 : h137-41.